Anda di halaman 1dari 7

ASAS PRINSIP KEWARISAN ISLAM

.TUJUAN
 Menunaikan perintah al-Qur’an
 Memberikan kamaslahatan bagi kehidupan keluarga.
 Melangsungkan keutuhan kehidupan keluarga
 Melakukan proses peralihan dan perolehan hak secara benar dan bertanggung jawab
 Menghindarkan konflik keluarga.
 Memperkuat ukhuwwah

NILAI
nilai hukum mkewarisan islam adalah ‘ilahiyah’ atau tauhid/ nilai ini mengandung abstrak
dan universal, yaitu segala tindakan manusia dan segala bentuk objek atau harta yang ada di
dunia ini, semuanya dalam kendali/kekuasaan allah swt. karena nilai harus pula terimplentasi
dlm sistem kewarisan islam ke dalam asas/prinsip.

PRINSIP KEWARISAN ISLAM


1. PRINSIP IJBARI :
Peralihan harta benda seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya yang
masih hidup berlaku dengan sendirinya. Pelaksanaannya atas kehendak Allah bukan karena
kehendak pewaris dan ahli warisnya. Pelaksanaannya juga tidak memberatkan ahli warisnya.

Andaikata harta warisan tidak mencukupi untuk menutupi sangkutannya, maka tidak ada
kewajiban ahliwaris untuk menutupi utang-utangnya itu, cukup dibayarkan sebatas harta
benda yang ditinggalkannya. Kalaupun ahli waris akan melunasi hutang-hutangnya bukanlah
karena perintah hukum, tetapi hanya karena atas dasar etika dan moral mulia dari Ahli
Warisnya.

Berbeda dengan KUHP, peralihan harta dari pewaris bergantung pada kehendak AW yang
bersangkutan. AW dimungkinkan bisa menolak menerima kewarisan dan menolak pula segala
konsekuensinya. Demikian pula terhadap wasiat, hanya diperkenankan maksimal 1/3 dari
seluruh hartanya.
2. PRINSIP INDIVIDUAL
Warisan dapat dibagi-bagikan kepada ahliwarisnya untuk dimiliki secara perorangan. AW
berhak atas bagian dari warisan tanpa terikat dengan ahli waris lainnya. Dasarnya Surat an-
Nisa : 7, bahwa setiap ahli waris laki-laki dan perempuan berhak menerima warisan dari
orang tua maupun kerabatnya.
Makna berhak atas warisan tidak berarti warisan harus dibagi-bagikan apapun bentuknya,
tetapi bisa saja tidak dibagi-bagikan sepanjang itu atas kehendak bersama para ahliwarisnya,
misalnya ahli waris tidak berada di tempat, atau masih anak-anak.
Tertundanya pembagian warisan itu tidak menghilangkan hak masing-masing ahli waris
sesuai bagiannya masing-masing. Yang terlarang dalam al-Quran (an-Nisa ayat 2) adalah
mencampurkan harta anak yatim dengan harta yang tidak baik atau menukarnya dengan harta
yang tidak seimbang, dan larangan memakan harta anak yatim bersama hartanya.
Prinsip individual ini terdapat perbedaan mendasar dengan sistem kew adat yang mengenal
kewarisan kolektif yang tidak dibagi kepada seluruh AW melainkan dimiliki bersama, yaitu
harta pusaka, tanah ulayat.

3. PRINSIP BILATERAL
Kedudukan yang sama antara antara AW laki-laki dan perempuan keduanya dapat menerima
warisan baik dari garis kekerabatan laki-laki maupun dari gariskekerabatan perempuan. Jenis
kelamin bukanlah halangan kewarisan dalam waris Islam. Dasarnya dalam al-Qur’an surat
an-Nisa ayat 7, 11, 12, dan 176m khusunya pada ayat 7. Dapat ditegaskan bahwa prinsip
bilateral berlaku baik garis ke atas maupun ke samping.

4. PRINSIP KEWARISAN HANYA KARENA KEMATIAN


Peralihan harta warisan seseorang kepada yang lain dengan sebutan kewarisan, berlaku
setelah yang pemiliknya meninggal dunia. Tidak ada pewarisan sepanjang masih hidup.
Segala bentuk peralihan harta pemilik semasa masih hidup tidak termasuk dalam hukum
kewarisan Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Waris Islam hanya mengenal satu bentuk kewarisan hanyalah melalui kematian. Dalam
KUHP dikenal kewarisan secara ab intestato yang tidak juga mengenal kewarisan secara
wasiat yg dibuat pewaris se masa masih hidup. Hal relevan dengan prinsip ijbari dimana
seseorang dapat bertindak bebas atas harta kekayaannya semasa masih hidup, tidak lagi
setelah meninggal dunia.
Kata warasa menunjukkan bahwa proses kewarisan berlaku setelah kematian (fi’il
maadhi). Prinsip kematian ini agak berbeda dalam kew adat, kewarisan dapat dimulai sejak
pewaris masih hidup
Professor Soepomo mengaskan bahwa : Hukum adat waris memuat peraturan-peraturan
yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang
yg tidak berwujud (immateriele goeden) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada
keturunannya. Proses itu telah dimulai dalam waktu orang tua masih hidup.
Dalam kewarisan adat dengan adanya proses mencar atau mentas dari seorang anak
terhadap orang tuanya untuk meniti kehidupan mandiri, biasanya orang tua memberkalinya
dengan harta benda milik orang tuanya.
Dalam adat jawa waris adalah mengoperkan harta benda keluarga kepada keturunan baik
kepada laki-laki maupun perempuan.

SEBAB-SEBAB KEWARISAN
1. Karena hubungan kekeluargaan
2. Karena perkawinan
3. Karena Wala’ (memerdekakan hamba, konteks tempo dulu).

RUKUN KEWARISAN ISLAM


1. Pewaris (muwarist)
2. Ahli Waris
3. Warisan (irst, mirats, maurust, turats, dan tirkah)

SYARAT-SYARAT KEWARISAN ISLAM


1. Meninggal dunianya pewaris
2. Hidupnya ahli waris
3. Mengetahui status kewarisan

PENGHALANG KEWARISAN
1. Rencana Pembunuhan
HR Ahmad : Barang siapa membunuh seorang korban, maka ia tdk dapat mewarisinya,
walaupun si korban tidak memiliki AW selain dirinya, dan walaupun korban itu bapaknya
maupun anaknya. Maka bagi pembunuh tidak berhak mewarisinya. Lain halnya kaum
khawarij bukanlah halangan kewarisan.
Kaidah fikih :
Barang siapa yang ingin mempercepat mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka ia
diberi sanksi tidak boleh mendapatkannya. Pembunuhan tanpa kesengajaan, ulama berbeda
pandangan, Imam Syafii menegaskan segala jenis pembunuhan penghalang kewarisan karena
keumuman hadis itu.

Imam Hanafi : pembunuhan langsung atau sengaja penghalang kewarisan sedangkan


pembunuhan tidak langsung atau tanpa kesengajaan tidak menghalangi kewarisan.

2. Berlainan agama
Hadis : Orang Islam tidak dapat mewarisi harta orang kafir, dan orang kafir tidak dapat
mewarisi harta orang Islam (muttafaq alaih). Perbedaan mazhab bukanlah menjadi halangan
kewarisan.

3. Perbudakan
Hamba tidak memiliki kecakapan bertindak, karenanya ia pun bagian harta kekayaan yang
dapat diwariskan.
Surat an-Nahl ayat 75 : Allah telah membuat perumpamaan, yakni seorang budak yang tidak
dapat bertindak terhadap sesuatu apapun…..’
Saat perbudakan tidak aktual lagi dibicarakan karena zaman telah berubah.

4. Berlainan negara :
Faktor ini meskipun para ulama fikih terdahulu sepakat sebagai penghalang kewarisan
relevan ketika itu krn sering terjadi peperangan antar suku/wilayah, dan jauhnya jarak tempuh
dengan alat sederhana.
Saat ini perlu reinterpretasi ulang karena halangan-halangan yang disebutkan itu tidak aktual
lagi saat ini, hubungan antgar negara baik, teknolgi sudah canggih, islam juga universal.

WARIS DALAM KHI Inpres No. 1/ 1991 (10 Juni 1991)


Hukum Kewarisan adalah hukum yang mengatur ttg (1) pemindahan hak pemilikan harta
peninggalan (tirkah) pewaris, (2) menentukan siapa-siapa yg berhak menjadi ahli waris (3)
dan berapa bagian masing-masing (Pasal 171 (a).

Harta Warisan Adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan
untuk keperluan pewaris (1) selama sakit sampai meninggalnya (2) biaya pengurusan
jenazah, (3) pembayaran hutang, (4) pemberian untuk kerabat.
 INDIKATOR AHLI WARIS
1. Dipandang beragama Islam : KTP, Pengakuan dan amalan atau kesaksian.
2. Bayi yang baru lahir atau anak yang belum dewasa beragama menurut ayahnya atau
lingkungannya. (Psl 172)

 TERHALANG PUTUSAN HAKIM


1. Dipersalahkan membunuh atau percobaan pembunuhan atau penganiayaan berat terhadap
ahli waris.
2. Dipersalahkan memfitnah atau mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan
kejahatan yg diancam hukuman 5 tahun atau lebih berat.

 KELOMPOK AHLI WARIS


1. Hubungan Darah :
Pihak Laki-laki : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.
Pihak Perempuan : ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan nenek.

2. Hubungan perkawinan : duda atau janda.


Jika semua ahli waris tsb ada, maka berhak mewaris : anak, ayah, ibu, janda/duda.

 KEWAJIBAN AHLI WARIS


1. Mengurus dan pemakanan jenazah
2. Menyelesaikan hutang, biaya pengobatan dan perawatan, dan menagih hutang.
3. Menyelesaikan wasiat pewaris.
4. Membagi harta warisan ke semua ahli waris
“Kewajiban AW atas hutang sebatas pada jumlah nilai peninggalan pewaris”.
 BESARNYA BAGIAN
BAGIAN ANAK :
- Anak perempuan tunggal : ½
- Bila anak perempuan dua atau lebih : 2/3
- Anak Pr bersama anak lk : 2 : 1

BAGIAN AYAH :
- Ayah bila pewaris tdk ada anak : 1/3
- Ayah bila pewaris punya anak : 1/6

BAGIAN IBU :
- Ibu, bila P punya anak atau 2 sdr atau lebih : 1/6
- Ibu, bila P tdk ada anak atau 2 sdr atau lebih : 1/3
- Ibu mendapt 1/3 bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda/duda bila bersama-sama
dengan ayah.

BAGIAN DUDA :
- Duda bila P tidak meninggalkan anak : ½
- Bila P meninggalkan anak, Duda : ¼

BAGIAN JANDA :
- Jika P tidak punya anak, Si Janda : ¼
- Jika P punya anak, SI Janda : 1/8

- JIKA P TIDAK MENINGGALKAN ANAK DAN AYAH, MAKA SDR LK DAN SDR PR
SEIBU : 1/6
- JIKA MEREKA ITU DUA ATAU LEBIH : 1/3
- JIKA P TIDAK MENINGGALKAN AYAH DAN ANAK TAPI PUNYA SATU SDR PR
KANDUNG ATAU SEAYAH : ½
- BILA SDR PR TSB BERSAMA DGN SDR PR KANDUNG ATAU SEAYAH DUA
ORANG ATAU LEBIH, MEREKA SECARA BERSAMA-SAMA MENDAPAT : 2/3
- BILA SDR PR TSB BERSAMA SDR LK KANDUNG ATAU SEAYAH, MAKA BAGIAN
SDR LK ADALAH 2:1 DENGAN SDR PR-NYA.
- PARA AHLI WARIS DAPAT BERSEPAKAT SECARA DAMAI DALAM PEMBAGIAN
WARISAN, SETELAH MENYADARI BAGIANNYA MASING-MASING.
- AHLI WARIS YANG BELUM DEWASA DAPAT DIANGKAT WALI OLEH HAKIM
ATAS USUL KELUARGANYA.

 PENGGANTIAN TEMPAT
AHLI WARIS MENINGGAL LEBIH DAHULU DARI PEWARIS DAPAT
DIGANTIKAN OLEH ANAKNYA, KECUALI LIHAT PASAL 173. BAGIAN
PENGGANTI TIDAK MELEBIHI BAGIAN YANG DIGANTIKANNYA. ANAK
DI LUAR NIKAH HANYA PUNYA HUBUNGAN KEWARISAN DENGAN IBU
DAN KELUARGA IBUNYA.