Anda di halaman 1dari 16

BUKTI DAN PETUNJUK EVOLUSI

MAKALAH
Ditulis untuk memenuhi matakuliah Evolusi
yang dibimbing oleh Siti Imroatul Maslikah, S.Si., M.Si.
disajikan pada Kamis, 13 September 2018

Oleh:
Ely Kristiani (160342601708)
Ratna Suryaningtya Sari (150342606547)
Siti Rayhanah (150342605454)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI BIOLOGI
September 2018
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Evolusi adalah proses perubahan pada seluruh bentuk kehidupan dari satu
generasi ke generasi selanjutnya yang berlangsung lama (Arbi, 2012; Gould, 2002)
Evolusi makhluk hidup merupakan teori yang dipelajari sejak jaman Romawi dan
Yunani kuno meskipun secara ilmiah teori ini dikemukakan oleh Darwin pada tahun
1859. Secara garis besar teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup yang ada di
dunia sampai dengan saat ini merupakan hasil perkembangan dari makhluk hidup
yang telah ada sebelumnya baik berkaitan dengan struktur maupun fungsi, secara
turun temurun dari generasi ke generasi atau dengan kata lain berlangsung dalam
waktu yang amat Panjang (Henuhili dkk., 2012).
Biologi evolusioner mempelajari bagaimana evolusi ini terjadi. Pada setiap
generasi, organisme mewarisi sifat-sifat yang dimiliki oleh orang tuanya melalui gen.
Perubahan (yang disebut mutasi) pada gen ini akan menghasilkan sifat baru pada
keturunan suatu organisme. Pada populasi suatu organisme, beberapa sifat akan
menjadi lebih umum, manakala yang lainnya akan menghilang. Sifat-sifat yang
membantu keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme akan lebih
berkemungkinan berakumulasi dalam suatu populasi daripada sifat-sifat yang tidak
menguntungkan. Proses ini disebut sebagai seleksi alam. Penghasilkan jumlah
keturunan yang lebih banyak daripada jumlah orang tua beserta keterwarisan sifat-
sifat ini merupakan fakta tambahan mengenai kehidupan yang mendukung dasar-
dasar ilmiah seleksi alam (Gould, 2002)
Evolusi sampai saat ini masih menjadi perdebatan di berbagai kalangan.
Pangkal teori evolusi adalah pengamatan fakta dan bukti berupa fosil yang umumnya
tidak utuh dengan jumlah yang sangat sedikit yang kemudian direkonstruksi. Proses
rekonstruksi harus dibantu dengan penentuan umur geologis, yang kemudian diikuti
penentuan kedudukan taksonomik dari individu hasil rekonstruksi itu (Prastiwi,
2009).
Rumusan Masalah
1. Apa saja bukti dan petunjuk Evolusi?
2. Bagaimana Analisis fosil dan keragaman hayati sebagai bukti evolusi?
Tujuan
1. Untuk mengetahui apa saja bukti dan petunjuk evolusi
2. Untuk mengetahui bagaimana analisis fosil dan keragaman hayati sebagai
bukti evolusi.
BAB II
PEMBAHASAN

Bukti dan Petunjuk Evolusi


Bukti ilmiah evolusi berasal dari banyak aspek biologi, terjadinya proses
evolusi ditunjukkan dengan berbagai bukti diantaranya yaitu fosil ,perbandingan
anatomi, perbandingan embriologi, perbandingan Fisiologi serta sampai petunjuk
secara kimia (persamaan molekuler DNA antar spesies) (Arbi,2012)
Perbandingan Anatomi
Pendekatan untuk menginterpretasi bukti-bukti paleontologi adalah anatomi
perbandingan. Para ahli anatomi perbandingan mencoba menemukan persamaan-
persamaan dan perbedaan-perbedaan antara struktur dasar (fundamental structure)
organisme hidup. Mereka mempelajari bentuk-bentuk struktur dasar setiap kelompok
organisme. Sebagai contoh, semua hewan vertebrata memiliki struktur dasar yang
sama, yakni: suatu kerangka utama penyanggah tengkorak dan tulang belakang;
tulang rusuk yang melindungi jantung dan paru-paru, tertancap pada tulang belakang;
sepasang organ tambahan; dan sistem peredaran darah, pernafasan atau respirasi,
pencernaan, pengeluaran yang sama. Menurut Widodo, Lestari, U., Amin, M., (2003),
semua kesamaan tersebut menunjukkan bahwa organ tersebut berasal dari struktur
yang sama yang dikenal dengan istilah homolog. Sedangkan apabila suatu organ
memiliki Kesamaan fungsi namun berbeda asalnya disebut dengan analog.
Homologi adalah struktur dasar sama yang diturunkan secara genetik dari
nenek moyang yang umum tetapi kemudian memiliki fungsi yang berbeda. Suatu
contoh homologi yang baik adalah tulang lengan depan vertebrata (Gambar 1).
Semua vertebrata seperti burung, ikan paus, dan manusia mempunyai struktur dasar
tulang lengan depan yang sama kemudian melewati proses perubahan (evolusi) dari
nenek moyang yang umum, kemudian menampilkan fungsi yang berbeda (Frida,
2006).
Gambar 1. Struktur Homologi pada beberapa vertebrata (Ridley, 1996)
Analogi adalah menunjukkan fungsi yang sama, tetapi mempunyai struktur
dasar yang berbeda. Misalnya sayap burung dengan sayap serangga mempunyai
fungsi yang sama tetapi struktur dasarnya berbeda. Burung mempunyai kerangka
tulang sayap sedangkan serangga mempunyai sayap yang tersusun dari lapisan kitin
yang keras, tetapi keduanya berfungsi untuk terbang (Frida, 2006).

Gambar 2. Struktur Analogi pada sayap (Ridley, 1996)


Perbandingan Embriologi
Pada beberapa kasus, perbandingan anatomi struktur embrio dari dua atau
lebih spesies dapat memberikan bukti nenek moyang bersama yang tidak dapat
terlihat pada bentuk struktur dewasa. Seiring dengan berkembangnya embrio,
homologi tersebut akan menghilang dan strukturnya akan memiliki fungsi yang
berbeda. Salah satu dasar klasifikasi kelompok vertebrata (termasuk pula manusia)
adalah keberadaan ekor (Weichert, Presch, William,1975).Karena kemiripan
morfologi yang ada pada embrio spesies yang berbeda semasa perkembangannya,
pernah diasumsikan bahwa organisme mengulangi sejarah evolusi spesies tersebut
pada tahap embrio. Diperkirakan bahwa embrio manusia menjalani tahap amfibi dan
kemudian reptil sebelum menyelesaikan perkembangan mamalia. Pengulangan
tersebut, sering disebut teori rekapitulasi, tidaklah memiliki dasar-dasar ilmiah. Apa
yang sebenarnya terjadi adalah tahap awal perkembangan embrio sekelompok
organisme yang berkerabat adalah mirip satu sama lainnya Pada tahap perkembangan
embrio yang paling awal, semua vertebrata tampak sangat mirip, namun ia sama
sekali tidak mirip dengan spesies leluhur terdahulu. Seiring dengan berlanjutnya
perkembangan embrio, beberapa organ spesifik muncul dari bentuk dasar ini
(Miller,1997; Frida,2006).
Informasi dari perbandingan pertumbuhan dapat dicontohkan dari adanya
celah insang pada embrio vertebrata. Celah-celah insang pada ikan dewasa akan
tumbuh menjadi insang, sedangkan pada reptilia, aves, dan mamalia dewasa tidak
tumbuh insang kecuali pada beberapa amphibia (Widodo, Lestari, U., Amin, M.,
2003). Hal ini dapat dijelaskan dengan gambar sketsa perbandingan embrio yang
menunjukkan adanya homologi

Gambar 3. Perkembangan embrio vertebrata. Semua vertebrata memiliki celah-celah


insang pada stadium embrional (Widodo, Lestari, U., Amin, M., 2003).
Biologi Molekuler
Setiap organisme hidup (terkecuali virus RNA) mengandung molekul DNA
yang membawa informasi genetik. Gen adalah untaian DNA yang membawa
informasi dan memengaruhi sifat dan ciri organisme. Gen menentukan penampilan
umum suatu individu dan secara terbatas memengaruhi perilakunya. Jika dua
organisme berkerabat dekat, DNA-nya akan sangat mirip (Kennedy, Donald .1998)
Di sisi lain, dua organisme yang berkerabat jauh akan memiliki perbedaan
DNA yang lebih besar Sebagai contoh, dua orang bersaudara memiliki hubungan
yang lebih dekat dan DNA yang lebih mirip daripada dua orang sepupu. Kemiripan
pada DNA biasanya menentukan hubungan antar spesies sama seperti ia
menunjukkan hubungan antar individu. Sebagai contoh, perbandingan DNA gorila,
simpanse, dan manusia menunjukkan 96% kemiripan DNA antara manusia dengan
simpanse. Perbandingan ini mengindikasikan bahwa manusia dan simpanse lebih
berkerabat dekat terhadap satu sama lainnya daripada terhadap gorilla (Carrol et al,
2000; Lovgren .2005)
Kekerabatan antara berbagai jenis makhluk hidup dapat diuji secara biokimia.
Salah satu percobaan biokimia yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat
kekerabatan berbagai organisme adalah uji presipitin oleh Natael. Dasar percobaan
ini adalah adanya presipitin atau endapan pada suatu reaksi antigen-antibodi. Banyak
sedikitnya endapan yang terbentuk dapat digunakan untuk menentukan jauh dekatnya
kekerabatan antara suatu organisme yang satu dengan organisme yang lainnya
(Yusuf,2006).
Percobaan tersebut adalah sebagai berikut: kelinci disuntik dengan serum
manusia berulang kali. Selang beberapa waktu kemudian, serum kelinci diambil dan
dianalisis. Ternyata telah mengandung zat anti ini terbentuk karena adanya antigen
yang masuk, yaitu serum darah manusia. Serum kelinci yang telah mengandung zat
anti disuntikkan ke dalam berbagai jenis makhluk hidup, berturut-turut manusia,
gorila, orang hutan, babon, kucing, anjing, banteng, dan lain-lain. Selang beberapa
waktu, darah manusia dan hewan-hewan yang disuntik dengan serum kelinci
dianalisis ternyata mengandung presipitin yang berbeda-beda kadarnya. Banyaknya
endapan ditentukan oleh jauh dekatnya kerabat antara kelinci dengan makhluk-
makhluk tersebut. Semakin jauh kekerabatannya maka semakin banyak presipitinnya
(Yusuf,2006).
Tabel 1. Kecenderungan biokimia mengenai evolusi

Sumber: Yusuf (2006)

Fosil
Fosil (bahasa Latin: fossa yang berarti "menggali keluar dari dalam tanah")
adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral.
Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera tertutup sedimen
(Palmer, T. J., and Wilson, MA ,1988). Riset pada bidang paleontologi yang
mempelajari fosil mendukung gagasan bahwa semua organisme berkerabat. Fosil
memberikan bukti bahwa perubahan yang berakumulasi pada organisme dalam
periode waktu yang lama telah mengakibatkan keanekaragaman bentuk-bentuk
kehidupan yang kita lihat sekarang. Fosil sendiri menyingkap struktur organisme dan
hubungan antara spesies sekarang dengan spesies yang telah punah, mengizinkan
para ahli paleontologi membangun pohon silsilah seluruh bentuk kehidupan di bumi
(Tattersall, Ian ,1995)
Sejumlah besar fosil telah ditemukan dan diidentifikasikan. Fosil-fosil ini
berperan sebagai catatan kronologis evolusi. Catatan fosil memberikan contoh-contoh
spesies transisi yang menghubungkan bentuk kehidupan yang lalu dengan bentuk
kehidupan sekarang. Salah satu contoh fosil transisi tersebut adalah Archaeopteryx,
organisme kuno yang memiliki karakteristik reptil (gigi kerucut dan tulang ekor yang
panjang) namun juga memiliki karakteristik burung (bulu burung dan tulang furkula).
Implikasi penemuan seperti ini adalah bahwa reptil dan burung memiliki nenek
moyang bersama (Gould, 1995)
Cara Penentuan Umur Fosil
Ada beberapa cara untuk menentukan usia fosil diantaranya (Frida, 2006):
1. Stratigrafi
Mengukur kedalaman fosil terkubur. Dengan memperhatikan lapisan batuan
endapan ilmuwan dapat memperkirakan jumlah watu yang telah lewat sejak lapisan
yang mengandung fosil terbentuk. Secara umum semakin dalam batuan dan fosil
berada, semakin tua usia fosil.
2. Pengamatan fluktuasi medan magnet bumi
Tiap lapisan medan magnet berbeda seiring waktu, medan magnet bumi terus
bergeser.
3. Perhitungan radioisotop dari batuan beku sekita fosil
Batuan-batuan beku memiliki sedikit unsur radioaktif tapi masih mampu
dideteksi oleh alat yang sangat peka. dan radioaktif selalu meluruh seiring waktu.
Sebagai contoh uranium-235 yang meluruh menjadi separuhnya dalam 700 juta tahun
menjadi Timbal-207. Dengan membandingkan jumlah unsur uranium-235 dan
timbal-207 dalam batuan tersebut, usian batuan beku tersebut dapat ditentukan.
Penentuan usia radioisotop tidak dapat dipakai langsung pada fosil karena mahluk
hidup tidak memuat unsur radioaktif. Untuk menentukan usia fosil, lapisan leleh
(batuan gunung berapi) dibawah fosil (sebelum fosil ada) dan diatasnya (setelah
makhluk mati) yang diperiksa.
4. Memakai fosil penunjuk
Dengan petunjuk fosil yang ditemukan perdampingan dengan fosil yang dicari
dan fosil penunjuk sudah diketahui perkiraan usianya.
Penentuan Umur fosil dengan C-14
Setiap mahluk hidup (manusia, binatang dan tumbuhan) dan benda mati di
Bumi ini mengandung karbon-14. Tumbuhan menyerap karbon-14 dari udara selama
membuat makanan, yaitu fotosintesis dan binatang herbivore atau pemakan
tumbuhanm memperoleh bahan tersebut. Kalau suatu tumbuhan atau binatang mati,
simpanan karbon-14-nya kian berkurang karena, seperti semua unsur radioaktif,
karbon-14 melapuk dan kehilangan separuh massanya dalam rentang waktu 5.730
tahun, satu periode yang disebut umur paro. Jika jumlah karbon-14 dalam sekerat
tulang antelope modern dibandingkan dengan jumlah karbon-14 pada fosil antelope,
dan dengan menghitung pelapukan karbon-14, para peneliti dapat menghitung dengan
tepat kapan antelope purba itu mati. Semakin tua sebuah fosil, semakin sedikit
karbon-14 yang dikandungnya (Widodo, 2009).
Usia fosil bisa ditentukan dengan metode peluruhan radioaktif. Unsur yang
sering digunakan untuk kegiatan ini adalah atom karbon-14 (C-14). Setiap mahluk
hidup (manusia, binatang dan tumbuhan) dan benda mati di Bumi ini mengandung
karbon-14. C-14 mempunyai waktu paruh 5.730 tahun, maksudnya jika dalam tubuh
mahluk hidup terdapat 1000 atom C-14, 5.730 tahun setelah mahluk hidup itu mati,
jumlah atom C-14 akan berkurang setengahnya menjadi 500. 5.730 tahun berikutnya
atau 11.460 tahun kemudian jumlahnya tersisa 250 dan seterusnya. Dengan mengukur
jumlah C-14 yang terkandung pada fosil, umur fosil bisa ditentukan. Untuk rekaman
sepanjang sejarah, metode ini cukup baik dengan penyimpangan akurasi sekitar
beberapa ratus tahun. Untuk penentuan usia fosil zaman prasejarah, digunakan unsur
lain seperti rubidium-87 yang waktu paruhnya 50 juta tahun atau samaryum-147 yang
mempunyai waktu paruh selama 100 juta tahun(Widodo, 2009).
Penentuan umur dengan menggunakan radiokarbon bergantung pada
pembentukan karbon-14 di bagian atas atmosfer menurut reaksi berikut ini:

Menurut persamaan reaksi ini, terjadi konversi nitrogen biasa menjadi karbon-14
yang bersifat radioaktif oleh neutron berenergi tinggi (yang dihasilkan oleh radiasi
kosmis). Karbon-14 memiliki waktu-paruh 5.730 tahun, atau, dengan kata lain, 1,0
gram karbon-14 akan berdekomposisi menjadi tepat 0,5 gram dalam 5.730 tahun.
Karbon-14 meluruh dengan membebaskan partikel beta menurut persamaan berikut.

Atom-atom karbon tunggal yang dihasilkan di atmosfer bagian atas ini


bersifat sangat reaktif dan segera bergabung dengan oksigen untuk membentuk
karbon dioksida yang digunakan oleh tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan selanjutnya
dimakan oleh hewan, sehingga masuklah karbon-14 ke dalam rantai makanan.
Penentuan umur dilakukan dengan mengasumsikan bahwa persentase karbon-14 di
atmosfer adalah konstan dan bahwa radiokarbon dalam semua organisme hidup
berada dalam kesetimbangan dengan atmosfer. Jika asumsi-asumsi ini tepat,
persentase karbon-14 dalam organisme hidup akan sama dengan persentase karbon-
14 di atmosfer. Ketika tumbuhan dan hewan mati, kesetimbangan dengan atmosfer
juga berhenti, dan karbon-14 dalam tubuh organisme mulai meluruh. Jumlah karbon-
14 yang tersisa dapat digunakan untuk memperkirakan umur dari tumbuhan dan
hewan yang telah mati tersebut. Yang diperlukan untuk perkiraan umur tersebut
hanyalah pengukuran rasio dan ini dapat dilakukan dengan mudah
menggunakan spektrometri massa.
Permasalahan dari metode ini adalah proporsi karbon-14 dalam keseluruhan
karbon dioksida di atmosfer tidaklah konstan tetapi bervariasi sedikit dari waktu ke
waktu karena tidak konstannya produksi radiokarbon di atmosfer dari tahun ke tahun.
Laju produksi radiokarbon ini dipengaruhi oleh perubahan ventilasi lautan (misalnya,
permukaan laut yang lebih hangat melepaskan lebih banyak karbon dioksida yang
terlarut di dalamnya), atau oleh variasi geomagnetik (neutron memiliki momen
magnetik dan akan dipengaruhi oleh perubahan siklis medan magnetik bumi). Faktor
lain, seperti adanya supernova (ledakan bintang di akhir usianya), dapat
menyebabkan perubahan fluks sinar kosmis (radiasi gamma). Sinar kosmis, ketika
berinteraksi dengan atom-atom di bagian atas atmosfer, menghasilkan neutron dan
proton, dan neutron yang dihasilkan kemudian dapat bereaksi dengan nitrogen untuk
membentuk karbon-14. Adanya variasi level karbon-14 di atmosfer berarti bahwa
kalibrasi diperlukan dalam hal penentuan umur. Kalibrasi ini dilakukan dengan
memanfaatkan objek lain yang telah diketahui umurnya, sehingga dapat dilakukan
koreksi terhadap rasio hasil pengukuran pada objek yang akan ditentukan
umurnya. Dengan demikian, pengaruh berubah-ubahnya laju produksi karbon-14
dapat dihilangkan. Cara elegan untuk melakukan kalibrasi ini adalah dengan
membandingkan umur yang ditentukan oleh hasil pengukuran karbon-14 dengan usia
pepohonan. Usia pepohonan ditentukan dengan menghitung cincin pertumbuhan
tahunan pada pohon-pohon yang berusia sangat tua, seperti sequoia dan jenis pinus
tertentu (beberapa jenis pinus jerman berusia 10.000 tahun). Penentuan umur dengan
radiokarbon memberikan hasil yang akurat selama objek yang akan ditentukan
umurnya masih berada dalam kisaran 10.000 tahun yang telah dikalibrasi. Pada
dasarnya, dimungkinkan untuk menentukan umur objek sampai dengan 50.000 tahun,
tetapi dalam prakteknya, untuk umur yang lebih tua daripada 10.000 tahun, tidak ada
metode kalibrasi yang dapat digunakan, sampai baru-baru ini setelah ditemukannya
suatu metode baru. Sebelum itu, kesalahan (error) dalam menentukan umur
diperkirakan bisa mencapai ± 3000 tahun.
Metode kalibrasi terbaru tersebut dilakukan oleh Kitagawa dari International
Center for Japanese Studies dan van der Plicht di University of Goningen,
Netherlands. Mereka menganalisis lebih dari 250 contoh fosil yang diambil dari
deposit sedimen yang terbentuk lapisan demi lapisannya setiap tahun di Danau
Suigetsu di Jepang. Menghitung jumlah lapisan sedimen analog dengan menghitung
cincin pertumbuhan tahunan pada pepohonan. Data yang diperoleh dari sedimen-
sedimen berusia muda sangat cocok dengan data yang diperoleh dari cincin
pepohonan. Dengan menggunakan pengukuran dari banyak percobaan berbeda, kedua
peneliti ini mampu memplot kurva kalibrasi yang membandingkan antara umur yang
disimpulkan dari pengukuran proporsi karbon-14 dengan umur yang disimpulkan dari
sumber-sumber lain. Secara umum, umur sebenarnya (actual age) dari sebuah objek
sedikit lebih kecil daripada umur yang diperoleh dengan metode karbon-14.
Perbedaan ini biasanya dapat diabaikan untuk periode yang tercatat dari sejarah
manusia, tetapi bisa berarti diperlukannya koreksi yang signifikan untuk periode-
periode sebelumnya. Kalibrasi ini hasilnya sama dengan hasil dari usaha kalibrasi lain
yang menggunakan data lebih sedikit, selain itu juga memberi hasil yang sama
dengan metode radioisotop lainnya (yang menggunakan uranium dan thorium) dalam
suatu penelitian untuk mengestimasi umur karang laut.
Diperluasnya kalibrasi karbon-14 ini memiliki arti penting dalam upaya
memastikan akurasi penentuan umur bahan organik, dan juga, lebih dari itu,
memungkinkan kita untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang
variasi lautan dan iklim planet bumi dihubungkan dengan zaman es terakhir, tentang
medan magnetik bumi, dan tentang fluktuasi dalam produksi radioisotop di atmosfer.
Cara mengidentifikasi fosil tersebut ialah mengambil sempel dari mahluk
tersebut kemudian dilakukan dengan pencacahan untuk mengetahui jumlah atom
yang ada di mahluk tersebut yaitu dengan mengetahui jumlah atomnya maka dapat
menentukan waktu paruh dari unsur itu Rumus untuk menghitung berapa tua sebuah
sampel dengan penanggalan carbon-14 adalah :
t = [ ln (Nf/No) / (-0.693)] x t1/2
dimana ln adalah logaritma natural, Nf/No adalah persentase carbon-14 dalam sampel
dibandingkan dengan jumlahnya dalam jaringan hidup, dan t1/2 adalah waktu paruh
carbon 14 (5.730 tahun). Jadi, bila menemukan fosil dengan 10 persen carbon-14
dibandingkan sampel hidup, maka fosil itu akan berusia:
t = [ ln (0,10) / (-0,693)] x 5.730 tahun
t = [ (-2,303) / (-0,693)] x 5.730 tahun
t = [ 3,323] x 5.730 tahun
t = 19.041 tahun
Karena waktu paruh carbon-14 5.730 tahun, hanya sah untuk penentuan usia
benda hingga 60.000 tahun. Walau demikian, prinsip carbon-14 berlaku pada isotop
lainnya pula. Potassium-40 adalah unsur radioaktif lainnya yang alami ditemukan
dalam tubuh dan memiliki waktu paruh 1,3 miliar tahun. Radioisotop lainnya yang
berguna untuk penanggalan radioaktif termasuk Uranium-235 (waktu paruh = 704
juta tahun), Uranium-238 (Waktu paruh = 4,5 miliar tahun), Thorium-232 (waktu
paruh = 14 miliar tahun) dan Rubidium-87 (waktu paruh = 49 miliar tahun).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan:
1. Bukti dan petunjuk evolusi diantaranya berasal dari fosil, perbandingan
anatomi, perbandingan embriologi, perbandingan Fisiologi serta sampai
petunjuk secara kimia (persamaan molekuler DNA antar spesies).
2. Analisisis bukti dan petunjuk evolusi disini diantaranya penentuan umur fosil
dengan cara Stratigrafi, pengamatan fluktuasi medan magnet bumi,
perhitungan radioisotop dari batuan beku di sekitar fosil, memakai fosil
penunjuk, dan dengan perhitungan C-14 dan unsur radioaktif lainnya pada
fosil yang ditemukan.
Saran
Akan lebih baik apabila materi ini dikaji lebih lanjut lagi dilain waktu.
DAFTAR RUJUKAN
Arbi U.Y. 2012. Sejarah dan Bukti Evolusi pada Gatropoda. Osean Jurnal. UPT
Loka Konservasi Biota Laut LIPI. Vol. XXXVII.NO.2 41-52. ISSN 0216-1877
Carroll, SB; Grenier, J; Weatherbee, SD. 2000. From DNA to Diversity: Molecular
Genetics and the Evolution of Animal Design (edisi ke-2nd Edition), Oxford:
Blackwell
Frida, Maryati. 2006. Bahan Ajar Evolusi. Gorontalo: Universitas Gorontalo.
Gould, Stephen J.2002. The Structure of Evolutionary Theory. Harvard University
Press. hlm. 1433. ISBN 0674006135, 9780674006133
Gould, S. J. 1995. Dinosaur in a Haystack. New York: Harmony Books,
ISBN 0517703939
Kennedy, Donald .1998. "Teaching about evolution and the nature of science".
Evolution and the nature of science. The National Academy of Science.
Lovgren, S .2005. "Chimps, Humans 96 Percent the Same, Gene Study Finds".
National Geographic News. National Geographic.
Henuhili, V. 2012. Diktat Kuliah Evolusi. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi
FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Miller, K .1997. Haeckel and his Embryos. Evolution Resources
Palmer, T. J., and Wilson, M. A.1988. Parasitism of Ordovician bryozoans and the
origin of pseudoborings. Palaeontology 31, 939–949
Prastiwi, M.S. 2009. Implikasi Evaluasi Proses Kuliah Evolusi Manusia pada Domain
Afektif Mahasiswa. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan
Penerapan MIPA, Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei
2009.
Ridley Mark,1996. Evolution. 2nd Ed. Blackwell Science. Atlanta, Georgia.
Tattersall, Ian .1995, The Fossil Trail: How We Know What We Think We Know
About Human Evolution, New York: Oxford University Press,
ISBN 0195061012
Weichert, Charles; Presch, William .1975. Elements of Chordate Anatomy, New
York: McGraw-Hill,ISBN 0070690081
Widodo, Lestari, U., Amin, M. 2009. Evolusi. FMIPA UM