Anda di halaman 1dari 18

PERKEMBANGAN TEORI EVOLUSI

MAKALAH
untuk memenuhi tugas Matakuliah Evolusi
yang dibina oleh Ibu Siti Imroatul Maslikah, M.Si

Oleh:

Kelompok 2 Offering H

Achmad Makin Amin (150342604504)


Chomisatut Thoyibah (150342604725)
Yasinta Swastika Ayu (150342607572)

UIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PEGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Evolusi pada kajian ilmu biologi merupakan suatu perubahan pada sifat-sifat
terwariskan pada populasi organisme yang diwariskan kepada keturunan makhluk
hidup tersebut dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme
bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru yang diperoleh
dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar populasi maupun
spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru
juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, hal tersebut dapat meningkatkan
variasi antar organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan
ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Berbagai perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga
proses utama yaitu variasi, reproduksi, dan seleksi.
Evolusi dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu seleksi alam dan
hanyutan genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses dimana sifat terwaris
yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme
menjadi lebih umum dalam suatu populasi dan sifat yang merugikan menjadi
lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang
menguntungkan lebih berpeluang besar melakukan reproduksi, sehingga lebih
banyak individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang
menguntungkan ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi
perubahan kecil dari sifat terwariskan yang terjadi secara terus menerus dan acak
melalui seleksi alam. Sementara itu, hanyutan genetik merupakan sebuah proses
bebas yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi.
Hanyutan genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan
ketika suatu individu bertahan hidup dan mampu melakukan reproduksi.
Walaupun perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan genetik dan seleksi alam
sangat kecil, perubahan ini akan terakumulasi dan menyebabkan perubahan
yang substansial pada suatu organisme. Proses ini akan mencapai puncaknya
dengan menghasilkan spesies baru. Pada konsep tersebut, kemiripan antar
organisme yang satu dengan organisme yang lain menyugestikan bahwa semua

1
2

spesies yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama, dengan melalui
proses divergen yang terjadi secara perlahan dan pada akhirnya terakumulasi
membentuk banyak spesies yang berbeda-beda. Namun, selama ini para ahli
masih saling memperdebatkan akan kejadian evolusi. Modern ini, teori evolusi
sudah sangat berkembang dibanding dengan beberapa era sebelumnya. Secara
lebih rinci materi mngenai perkembangan teori evolusi akan dibahas dalam
makalah berikut ini.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini, sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan teori evolusi ?
2. Bagaimana menurut para ahli mengenai perkembangan teori evolusi ?

C. Tujuan
Tujuan dalam makalah ini, sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian teori evolusi.
2. Untuk mengetahui perkembangan teori evolusi menurut para ahli
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Evolusi Menurut Para Ahli


Evolusi berasal dari bahasa latin yaitu Evolvo yang artinya membentang.
Evolusi mempunyai arti suatu proses perubahan atau perkembangan secara
bertahap dan perlahan-lahan. Evolusi, sebagai cabang dari ilmu Biologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang perubahan yang terjadi secara
berangsur-angsur menuju kesesuaian dengan waktu dan tempat. Kajian evolusi
menurut ilmu pengetahuan didasarkan atas data keragaman dan keseragaman
makhluk hidup dalam tingkat komunitas, dan kemudian dalam perkembangan
berikutnya didukung oleh data-data penemuan fosil, sehingga tidak pernah dapat
menerangkan dengan lengkap apa yang pernah terjadi pada masa lampau. Hal
inilah yang kemudian oleh para penentang paham evolusi digunakan sebagai dasar
penolakan mereka (Henuhili et al, 2012).
Evolusi biologis membahas bagaimana perubahan spesies dari tingkat rendah
sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Kajian evolusi untuk melihat asal usul
makhluk hidup selama ini dilakukan melalui pendekatan biologi konvensional.
Bukti ilmiah evolusi dengan pendekatan ini berasal dari aspek biologi, meliputi
fosil dan homologi struktur. Riset pada bidang paleontologi yang mempelajari
fosil mendukung gagasan bahwa semua organisme berkerabat. Fosil memberikan
bukti bahwa perubahan yang berakumulasi pada organisme dalam periode waktu
yang lama telah mengakibatkan keanekaragaman bentukbentuk kehidupan seperti
yang kita lihat sekarang. Fosil sendiri menyingkap struktur organisme dan
hubungan antara spesies sekarang dengan spesies yang telah punah. Namun
evolusi makhluk hidup dari sudut pandang evolusi biologis masih banyak yang
diperdebatkan. Hal ini karena bukti-bukti evolusi yang ditemukan tidak cukup
memberikan penjelasan tentang evolusi makhluk hidup (Nusantari, 2013).
Evolusi sebagai suatu teori telah mengalami perkembangan yang amat pesat.
Perkembangan teori evolusi tidak lepas dari perkembangan bidang-bidang ilmu

3
4

yang lain terkait dengan genetika, biokimia, biologi molekuler, fisiologi, ontogeni,
filogeni, struktur perkembangan dan banyak lainnya.

B. Perkembangan Teori Evolusi Menurut Para Ahli


Teori evolusi berkembang sejalan dengan perubahan zaman dalam arus
globalisasi dan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Adapun perkembangan
teori evolusi sesuai dengan kurun waktu akan diuraikan pada materi berikut ini :
1. Masa teori Fixisme
Teori Darwin secara universal dikaitkan dengan evolusi, namun terdapat
banyak gagasan evolusi mendahului Darwin selama berabad-abad. Pada abad ke
18 atau sebelumnya para ilmuwan saat itu beranggapan bahwa suatu jenis
organisme adalah tetap dan tidak mengalami perubahan.
a. Plato (428-348 SM)
Ia membayangkan seorang pencipta yang menciptakan dunia dari
kehancuran dan kemudian menciptakan dewa-dewa yang lalu membuat
manusia laki-laki. Wanita dan hewan timbul dari reinkarnasi jiwa laki-laki.
Makin cacad jiwa itu makin rendah reinkarnasinya.
b. Aristoteles (384 –322 SM)
Aristoteles (384 –322 SM) melihat banyak bukti kedekatan alam di
antara organisme. Menurutnya, telah terjadi proses penyempurnaan di bumi
oleh kekuatan supernatural. Kekuatan yang membimbing penyempurnaan
sehingga terdapat beraneka ragam makhluk hidup (Widodo et al.,2003). Hal
ini membuatnya mengatur semua organisme tersebut dalam “skala alam atau
scale of nature” yang diperluas dari organisme sederhana hingga yang
paling rumit (Solomon, et al., 2008).
Aristoteles menggambarkan bahwa pada awalnya organisme tidak
sempurna tetapi "bergerak menuju keadaan yang lebih sempurna." Beberapa
sejarawan ilmiah telah menafsirkan ide ini sebagai pelopor teori evolusi,
tetapi Aristoteles tidak menjelaskan sifat "gerakan menuju kesempurnaan"
tersebut dan tidak mengusulkan proses alami yang terjadi sehingga
mendorong proses evolusi (Solomon, et al., 2008). Aristoteles tidak
mengungkapkan tentang adanya hubungan satu kelompok dengan kelompok
5

lainnya atau dengan kata lain pada masa itu tidak pernah dipersoalkan
mengenai hubungan kekerabatan antara satu organisme dengan organisme
yang lain. Penganut teori ini adalah A.V. Leewenhoek, Plato, Linnaeus, dan
masih banyak lagi (Widodo et al.,2003).
c. Carolus Linnaeus (1707-1778 M)
Pada masa itu, teori evolusi lebih dipengaruhi dengan agama yang
berhubungan dengan penciptaan Tuhan. Pada Kitab Perjanjian Lama yang
berisi penciptaan, dikuatkan ide bahwa setiap spesies telah diciptakan atau
dirancang satu per satu dan bersifat permanen. Pada awal tahun 1700-an,
biologi di Eropa dan Amerika didominasi oleh teologi alami (natural
theology), yaitu suatu filosofi yang dikhususkan pada penemuan rencana
Sang Pencipta dengan mempelajari alam. Para pengikut teologi alami
melihat adaptasi organisme sebagai bukti Sang Pencipta telah merancang
masing-masing dan setiap spesies untuk suatu tujuan tertentu. Tujuan
utama teologi alami adalah untuk mengelompokkan spesies yang
memperlihatkan tahapan skala kehidupan yang telah diciptakan oleh Tuhan
(Campbell, et al., 2008).
Pada masa tersebut muncul ilmuwan Carolus Linneaus yang saat
ini dikenal sebagai Bapak Taksonomi. Carolus Linnaeus (1707-1778)
adalah seorang dokter dan ahli botani Swedia yang berusaha
mengklasifikasikan keanekaragaman hidup dalam kata-katanya, "untuk
kemuliaan dan keagungan Tuhan”. Linnaeus mengembangkan binomial,
sistem penamaan spesies ( seperti Homo sapiens untuk manusia) yang
masih digunakan sampai hari ini. Berbeda dengan hierarki linear scala
naturae, Linnaeus mengadopsi sistem klasifikasi bertingkat,
mengelompokkan spesies yang sama ke dalam kategori yang semakin
umum. Misalnya, spesies serupa dikelompokkan dalam genus yang sama,
genera yang sama (jamak genus) dikelompokkan dalam keluarga yang
sama, dan seterusnya (Campbell, et al., 2008).
d. Georges Cuvier (1769 – 1832 M)
Jauh sebelum masa Darwin, fosil telah ditemukan tertanam di
bebatuan. Beberapa di antaranya berhubungan dengan bagian-bagian
6

spesies yang dikenal dan fosil terdapat spesies yang tidak dikenal. Fosil
yang ditemukan dalam konteks yang tak terduga misalnya, invertebrata
laut yang terkadang ditemukan di bebatuan tinggi di pegunungan.
Leonardo da Vinci (1452–1519) adalah yang pertama menafsirkan temuan-
temuan ini sebagai sisa-sisa binatang yang sudah ada pada zaman
sebelumnya tetapi telah punah (Solomon, et al., 2008).
Paleontologi yakni ilmu tentang fosil, telah dikembangkan oleh ahli
anatomi Perancis Georges Cuvier (1769 - 1832). Cuvier menyadari bahwa
sejarah kehidupan terekam dalam strata yang mengandung fosil, maka ia
mencoba mendokumentasikan suksesi spesies-spesies yang terjadi di
Lembah Paris. Cuvier mencatat bahwa setiap stratum ditandai dengan
suatu kelompok spesies fosil yang unik, dan semakin dalam (semakin tua)
stratum, maka semakin berbeda flora (kehidupan tumbuhan) dan fauna
(kehidupan hewan) dari kehidupan modern. Bahkan Cuvier menduga
bahwa kepunahan merupakan peristiwa yang umum terjadi dalam sejarah
kehidupan. Dari stratum ke stratum, spesies baru muncul dan spesies lama
menghilang (Campbell, et al., 2008).
Cuvier merupakan penentang kuat penganut evolusi pada masanya.
Sebagai gantinya, ia mendukung paham katatrofisme, dan berasumsi
bahwa setiap batas di antara strata berhubungan dengan suatu masa
terjadinya bencana alam, seperti banjir, kekeringan, dan kemarau hebat
yang memusnahkan banyak spesies yang hidup di sana pada masa itu.
Cuvier mengemukakan bahwa bencana alam periodik ini umumnya hanya
terbatas pada suatu wilayah geografi lokal, dan daerah yang mengalami
kerusakan atau bencana akan dihuni kembali oleh spesies yang berpindah
dari daerah lain.
2. Masa teori J.B. Lamarck
Selama abad ke-18, beberapa naturalis (termasuk kakek Darwin, Erasmus
Darwin) menyarankan bahwa kehidupan berevolusi ketika lingkungan berubah.
Tetapi hanya satu pendahulu Charles Darwin yang mengusulkan mekanisme
bagaimana kehidupan berubah seiring waktu yaitu ahli biologi Prancis Jean
Baptiste de Lamarck (Campbell, et al., 2008). Ahli biologi Prancis Jean Baptiste
7

de Lamarck (1744 - 1829) adalah ilmuwan pertama yang mengusulkan bahwa


organisme mengalami perubahan seiring waktu sebagai hasil dari beberapa
fenomena alam tanpa campur tangan Ilahi. Menurut Lamarck, perubahan
lingkungan menyebabkan organisme mengubah perilakunya, dengan demikian
beberapa organ atau bagian tubuh akan bertambah dan yang lainnya berkurang.
Selama beberapa generasi, organ atau bagian tubuh yang diberikan akan
bertambah besar jika sering digunakan, atau menyusut dan mungkin hilang jika
digunakan jarang digunakan. Hipotesisnya mengharuskan organisme menurunkan
sifat-sifat yang diperoleh selama hidup untuk keturunannya (Solomon, et al.,
2008).
Lamarck berpendapat bahwa leher panjang jerapah berkembang ketika
nenek moyang jerapah berleher pendek meregangkan lehernya untuk meraih
daun-daun pohon yang lebih tinggi. Keturunannya akan mewarisi leher yang lebih
panjang. Proses ini terjadi berulang-ulang pada banyak generasi, sehingga
menghasilkan jerapah modern yang memiliki leher panjang. Lamarck juga
berpikir bahwa semua organisme memiliki kemampuan vital yang mendorong
mereka untuk berubah menuju kompleksitas yang lebih besar dan "kesempurnaan"
dari waktu ke waktu. Mekanisme evolusi yang diusulkan Lamarck sangat berbeda
dari mekanisme yang dikemukakan oleh Darwin. Namun, hipotesis Lamarck tetap
merupakan penjelasan yang masuk akal untuk evolusi sampai dasar hereditas
Mendel ditemukan kembali pada awal abad ke-20. Pada saat itu, ide Lamarck
sebagian besar tidak diakui (Solomon, et al., 2008).
3. Teori Evolusi pada Masa Darwin
Pada periode ini, Darwin dan Wallace bekerja secara terpisah. Darwin
bekerja di daerah Eropa dan Amerika Selatan, sedangkan Wallace bekerja di
Kepulauan Nusantara. Pada akhirnya masing-masing mengemukakan bahwa
dalam dunia kehidupan berlaku seleksi alam (hukum rimba); siapa yang kuat
dialah yang menang. Menurut teori ini, suatu organisme sangat berankea ragam
dan alam akan melakukan seleksi, sesuai dengan keadaan ada masa lalu itu.
Individu yang sesuai dengan keadaan alam atau dapat menyesuaikan diri sajalah
yang akan dapat bertahan, sedangkan yang tidak sesuai akan mati (Waluyo,2005).
8

Teori evolusi menurut Darwin yakni seleksi alam, diumumkan pertama


kali pada bulan Juli 1858 dalam suatu pertemuan kelompok Linnean Society.
Wawasan itu diumumkan dalam bentuk suatu ringkasan makalah tertulis dibaca
secara bersama-sama dengan makalah yang ditulis oleh Alfred Russel Wallace.
Wawasan dalam makalah Wallace ternyataa sama dengan yang ada dalam
ringkasan makalah Darwin dan sama-sama bersifat orisinil. Pertimbangan
kelompok ‘Linnaen Society” kemudian menerima wawasan tersebut sebagai
wawasan Darwin (Waluyo,2005).
Selama 20 tahun Darwin mengumpulkan data lapangan yang kemudian
disusun dalam suatu deretan fakta yang sangat banyak. Data-data diambil dari
perjalanannya dari Kepulauan Galapagos. Fakta tersebut menunjukkan jelas
bahwa sesungguhnya evolusi terjadi di lingkungan makhluk hidup, dan atas dasar
fakta tersebutlah, Darwin merumuskan wawasannya tentang seleksi alam
(Waluyo,2005). Darwin membrikan bukti bahwa, spesies masa kini muncul dari
suksesi nenek moyang. Darwin menyebutkan sejarah evolusi kehidupan sebagai
“Descent with modification” (Keturunan hasil modifikasi). Keturunan ini menyear
ke berbagai habitat lebih dari jutaan tahun, keturunan ini mengumpulkan berbagai
macam modifikasi atau adaptasi, yang sesuai dengan cara hidup mereka di
lingkungan tertentu. Melalui pemikiran ini, mekanisme menghasilkan keturunan
ini adalah melalui seleksi alam (Reece et al,2009). Makna wawasan Darwin
sekarang ini lebih dikenal dengan Teori Seleksi Alam Darwin. Seluruh wawasan
Darwin secara lengkap dalam karya momentalnya, “On The Origin of Species by
Means of Natural Selection, or The Preservation of Foward Races” yang terbit
pada bulan November 1859 (Waluyo,2005).
Menurut Darwin, dalam bukunya “The Origin of Species” disebutkan
bahwa prinsip dari seleksi alam merupakan hasil yang disimpulkan dari variasi
yang diwariskan, perkembangbiakan dan pergulatan untuk tetap hidup
(Howard,1991). Disebutkan dalam “The Origin of Species” bahwa, “Tiap
makhluk, yang selama kehidupan alaminya akan menghasilkan beberapa telur
atau benih, pasti mengalamai kepunahan sepanjang beberapa masa dalam
hidupnya. Bila tidak, berdasarkan prinsip pembesaran jumlah menurut deret ukur,
jumlahnya dengan cepat menjadi begitu besar tanpa terkendali sehingga
9

lingkungan atau bumi tidak sanggup menanggungnya. Oleh karena lebih


banyaknya individu yang dihasilkan dibandingkan dengan yang dapat bertahan
hidup, dalam tiap kasus akan terjadi pergulatan untuk tetap bertahan hidup. Dalam
spesies yang sama, satu individu bergulat melawan individu yang lain, atau
melawan kondisi fisik kehidupan”.
Menurut Howard (1991) bagaimana seleksi alam menurut Dawrin mampu
menjelaskan mekanisme perubahan evolusi dijelaskan dalam tiga hal,
1. Seleksi alam merupakan suatu proses dimana tiap generasi dari orgaisme
dapat terkena dampak lingkungan yang seletif. Ada beberapa anggotanya
yang musnah atau gagal menghasilkan keturunan, namun ada pula yang
berhasil. Individu-individu yang mampu menghasilkan keturunan tidaklah
dipilih secara acak dari dalam populasi, karena tekanan- tekanan selektif
yang menimpa masing-masing individiu berbeda-beda besarnya. Jika
kondisi lingkungan untuk generasi yang satu dan generasi berikutnya tidak
begitu berbeda, misalnya dalam perubahan iklim secara perlahan
berkembang menjadi suatu zaman es baru, individu yang terbaik
cenderung mengatasu perubahan itu dengan melakukan perkembangbiakan
secara lebih baik dibandingkan dengan saudaranya yang kurang tahan
terhadap perubahan lingkungan. Tepat seperti struktur geografis sebuah
lembah yang diubah oleh erosi air dalam proses geologis, demikian pula
susunan populasi organisme diubah oleh erosi seleksi alam yang
berlangsung secara terus-menerus.
2. Seleksi alam dan adaptasi berhubungan seperti dua sisi keping mata uang.
Suatu organisme dikatakan mampu beradaptasi pada kondisi hidupnya
apabila organisme itu berhasil melewati halangan dari generasi ke
generasi. Dalam hipotesis mengenai zaman es, keadaan bulu tebal akan
mendorong keberhasilan reproduksi atau kemampuan bertahan hidup pada
suhu udara yang dingin terus menerus. Namun, dilihat dari sudut seleksi
alam, konsep adaptasi sangant bergantung pada tekanan-tekanan
lingkungan yang menimpa organisme. Bulu tebal merupakan adaptasi
ditengah-tengah zaman es, namun akan merugikan apabila zaman es tiba-
tiba berakhir. Makna “adaptasi” yang demikian merupakan kondisi statis
10

yang dikemukakan teolog alam, sedangkan seleksi alam menurut Darwin


merupakan adaptasi untuk setiap generasi ke generasi selanjutnya.
Menurut Reece et al (2009) seleksi alam adalah hasil dari faktor
lingkungan yang bermacam-macam dari satu tempat ke tempat lain dan
dari waktu ke waktu.
3. Seleksi alam merupakan suatu proses yang beroperasi pada suatu populasi
organisme. Bagi individu-individu dalam populasi, masalah yang ada
adalah berhasil atau gagal dalam melakukan reproduksi. Mereka inilah
yang akan menjadi proses terjadinya seleksi. Oleh karena itu, tidak
mungkin mengataan bahwa suatu individu mengalami evolusi. Evolusi
merupakan perubahan susunan rata-rata suatu populasi individu-individu
ketika suatu generasi menggantikan generasi terdahulu.
Dasar-dasar Darwinisme
a. Kecenderungan Makhluk Hidup Berkembang Biak atau Fertilitas Makhluk
Hidup yang Tinggi
Ketika fertilitas atau tingkat kesuburan makhluk hidup tinggi, maka
apabila tidak ada hambatan perkembangbiakan suatu jenis makhluk
hidup, dalam waktu singkat dunia tidak dapat menampungnya. Contoh :
1. Dalam waktu sekitar 5 bulan, sepasang lalat rumah akan
mempunyai keturunan: 191.010.000.000.000.000.000 (dalam
beberapa generasi), bila seluruh telur menetas dan tidak ada
yang mati.
2. Bila 1 bakteri dapat menjadi 2 dalam tempo 20 menit, maka
dalam beberapa tahun saja dunia akan penuh dengan bakteri.
3. Pada siput laut tanpa cangkang jenis tertentu, yang betina
dapat menghasilkan 500.000.000 telur dalam 1 musim. Jka
semua telur tumbuh menjadi hewan dewasa, maka setelah
beberapa generasi, seluruhnya akan mempunyai volume yang
lebih besar.
b. Jumlah Individu Hampir Tidak berubah
Sekalipun fertilitas makhluk hidup tinggi, tetapi kenyataanya jumlah
individu tidak melonak secara tidak terkendali. Ada beberapa faktor yang
11

membatasi dan mengatur pertambahan jumlah individu suatu jenis


(spesies) di suatu tempat. Salah satu faktor tersebut adalah jumlah
makanan yang tersedia. Faktor-faktor pembatas dan yang mengatur
jumlah individu itulah yang menyebabkan individu-individu yang
berhasil tetap hidup, tidak banyak jumlahnya, sekalipun banyak turunan
yang dihasilkan (Waluyo,2005).
c. Adanya Struggle for Existence “Perjuangan untuk hidup”.
Supaya tetap bertahan dihup, setiap individu makhluk hidup harus
berjuang. Pada umumnya perjuangan untuk hidup terjadi karena adanya :
1. Persaingan : baik persaingan antar individu se-spesies maupun
berlainan spesies.
2. Pemangsaan : termasuk pula parasitisme
3. Perjuangan terhadap lingkungan yang tidak hidup, seperti iklim,
suhu dan sebagainya (Waluyo,2005).
d. Keanekaragaman dan Hereditas atau Adanya Variasi dan Faktor-faktor
yang menentukannya
Makhluk hidup, baik tumbuhan dan hewan sangat beranekaragam.
Keanekaragaman tersebut antara lain , berkenaan dengan struktu, tingkah
aku maupun aktivitas keanekaragaman itu mulai terlihat dari tingkat
antara filum, antar kelas sampai dengan antar individu sejenis, bahkan
dari indivdu sepasang induk. Tidak sedikiti ciri yang menyebabkan
keanekaragaman tersebut diturunkan kepada generasi turunan; dalam hal
ini dari generasi selalu terdapat keragaman, bahkan karena berbagai
sebab, keanekaragaman itu samkin bertambah luas (Waluyo,2005).
Adanya keanekaragaman itulah yang menyebabkan keberhasilan
“perjuangan untuk hidup” tidak sama anatara individu satu dengan
individu lainnya. Itulah asalanya sehingga, banyak individu pada
generasi turunan tidak terlalu melonjak sekalipun individu turunan yang
dihasilkannya sebenenarnya banyak (Waluyo,2005).
e. Adanya “Survival of the Fittest” (Seleksi Alam)
Tingkat keberhasilan “perjuangan untuk hidup” yang tidak sama antar
individu, kenyataan itu disebabkan ada individu yang lebih sesuai dengan
12

yang lainnya. Individu yang lebih sesuai inilah , yang leboh berhasul
dalam “perjuangan untuk hidup”. Indvidu yang berhasil inilah yang
mempunyai peluang lebih besar untuk melanjutkan keturunan, dan
sekaligus mewariskan ciri-cirinya pada generasi turunan. Sebaliknya,
individu yang kurang berhasil, lama kelaam akan tersisi dari generasi e
generasi. Charles Darwin mengartikan seluruh proses tersebut di atas
sebagai adanya seleksi alam di lingkungan makhluk hidup. Dari generasi
ke generasi peristiwa seleksi alam ini menyebabkan sebagaian individu
menjadi semakin adaptif, sedangkan yang lainnya akan tersisih. Dalam
hubungannya dengan ini, Herbert Spencer memperkenalkan istitlah “
yang tetap hidup lestar adalah yang paling sesuai”.
f. Lingkungan yang terus berubah
Dari waktu ke waktu, komponen atau faktor-faktor lingkungan terus
berubah. Misalnya, iklim, perubahan geografis atau fluktuasi tersedianya
makanan. Dalam situasi yang demikian, makhluk hidup harus terus-
menerus mengadakan penyesuaian melalui “Struggle for existence” yang
tiada hentinya. Dengan kata lain, peristiwa seleksi alam berlangsung
tiada hentinya. Dan sebagai akibatnya pada generasi tertentu,a kan
muncul individu atau kelompok yang memiliki ciri-ciri semakin adaptif,
serta spesifik bagi situasu lingkungan yang melingkupinya
(Waluyo,2005).
4. Masa teori genetika
Jawaban yang benar tentang timbulnya keanekaragaman baru diketahui
setelah enam tahun, yaitu oleh seorang ahli dalam bidang genetika J. G. Mendel
mengemukan teori genetika yang menyangkut adanya sejumlah sifat yang dikode
oleh satu macam gen. Teori genetika dapat menerangkan bagaimana persamaan
dan variasi diturunkan dan juga dapat menjelaskan dari masa keanekaragaman
tersebut timbul. Hasil eksperimen terhadap berbagai varietas Pisum sativum
(ercis). Pembastaran dua induk tumbuhan yang berbeda varietasnya dapat
menghasilkan ciri-ciri baru pada keturunannya. Peristiwa pembastaran atau
hibridisasi dapat dipandang sebagai suatu petunjuk evolusi. Tumbuhan berwarna
merah dikawinkan dengan tumbuhan berwarna putih menghasilkan tumbuhan
13

berbunga merah dan ungu. Apa yang dikemukakan Darwin mengenai adanya
variabilitas, menjadi penting dengan bantuan genetika. Didalam ilmu genetika
menunjukkan adanya variasi genetik yang mempunyai arti penting dalam
menjelaskan evolusi. Sebab variasi genetik inilah yang menjelaskan timbulnya
ciri-ciri baru yang bisa diwariskan pada generasi berikutnya (inhereted
characterics). Tetapi pekerjaan Mendel inipun baru mendapatkan pengakuan pada
permulaan abad ke 20 dan disadari kegunaannya untuk menerangkan teori lain
(Widodo et al., 2003).
De Vries mengemukakan bahwa evolusi disebabkan adanya mutasi pada
makhluk hidup. De Vries melengkapi gagsannya dengan hasil pengamatan
terhadap tumbuhan Oenothera lamarckiana, yang ternyata dari hasil
perkawinannya menghasilkan keturunan yang mengalami mutasi dan
menghasilkan spesies baru. Pada beberapa spesies baru ini dijumpai perubahan
kromosom yaitu triploid, tetraploid, dan aneuploidi. Sebagian spesies baru
menunjukkan susunan gen-gen resesif yang homozigot (Widodo et al., 2003).
Morgan seorang pemenang hadiah nobel menunjukkan adanya mutasi pada
Drosophila. Mutan Droshopila tersebut memiliki kelainan yang merugikan
makhluk hidup tersebut, misalnya cacat pada sayap, mata, warna tubuh, bahkan
beberapa mutasi bersifat letal. Mutasi mungkin terjadi dalam proses replikasi
kromosom dan gen-gen, saat pembentukan sel-sel baru dari sel induk sehingga
dapat dimengerti bahwa kemungkinan gen-gen pada sel anak tidak seluruhnya
identik dengan sel induk. Dari hasil penelitian ini dapat diterima pendapat bahwa
mutasi yang memiliki nilai terhadap kejadian evolusi adalah mutasi gen dan
mutasi-mutasi kromosom. Selain itu mutasi tersebut adalah mutasi yang
menguntungkan dan mengakibatkan keturunan memiliki ciri-ciri yang lebih baik
sehingga lolos dari seleksi alam. Sehingga walaupun jumlah makhluk hidup yang
mengalami mutasi yang menguntungkan sedikit, nantinya akan berlipat ganda
jumlahnya dalam generasi berikutnya (Widodo et al., 2003).
5. Masa Neo-Darwinian
Pandangan yang mengatakan peristiwa seleksi alam bukanlah sebab utama
evolusi organik, tetapi hanya berperan sebagai faktor yang menentukan arah
perubahan tersebut dan juga merupakan faktor penuntun, adalah hasil
14

pengembangan dan penyempurnaan Teori Seleksi Alam Darwin yang dikenal


sebagai Non Darwinisme. Pada periode ini, para ahli menemukan bahwa ilmu
genetika sangat perlu dalam menerangkan proses evolusi.
Ilmuwan yang bernama Johansen (1909) menunjukkan bahwa peristiwa
seleksi alam tidak akan berpengaruh terhadap populasi pada berbagai generasi
turunan populasi tidak akan berubah karena peristiwa seleksi alam. Beberapa ahli
genetika berpendapat bahwa justru peristiwa mutasi dapat digunakan untuk
menjelaskan peristiwa evolusi. Jadi peristiwa seleksi alam bukan merupakan
penyebab evolusi, namun hanya sebagai faktor yang mengukuhkan varian-varian
yang sesuai dan bukan merupakan faktor yang menjadi sebab timbulnya varia-
varian baru (Widodo et al., 2003).
Darwin yang mengetahui bahwa variasi benar-benar ada, namun pada saat
tersebut tidak ada yang mengetahui variasi genetik. Variasi sekarang dihubungkan
dengan kejadian yang terjadi selama meiosis, rekombinasi dari gamet, dan mutasi.
Mutasi tidak dapat diprediksi dan biasanya merugikan. Selain itu mutasi yang
terjadi dapat bermanfaat dan menciptakan adaptasi yang lebih baik. Mutasi yang
tidak menguntungkan akan segera tumbang dan tentunya yang baik akan menjadi
awal dari evolusi (Widodo et al., 2003).
Hal yang penting adalah bagaimana mutasi memberikan dampak pada
gene pool dari populasi daripada memberikan dampak pada anggota tunggal.
Variasi dari anggota populasi berdasarkan pada gen yang mereka warisi dari gene
pool dari suatu populasi. Proporsi yang besar dari gen mutan pada pool akan
menyebabkan lebih banyak variasi pada populasi daripada frekuensi yang rendah
dari gen mutan. Darwin melihat bahwa jumlah keturunan yang diproduksi lebih
besar daripada yang dapat bertahan hidup adalah benar. Sekarang telah diketahui
bahwa spesies memiliki mekanisme untuk membatasi jumlah mereka (Henihili, et
al.,2012).
6. Masa Evolusi Modern
Pada masa ini para ilmuwan mulai berpikir untuk mengadakan pendekatan
molekuler, fisiologis, perkembangan dan banyak pendekatan lainya terhadap teori
evolusi. Penggunaan pendekatan ini misalnya dilakukan dengan cara
15

membandingkan protein darah dari spesies yang berbeda dengan cara


kromatografi atau elektroforesis.
Konsep evolusi tidak hanya dikembangkan dengan ilmu genetika namun
juga tinjauan tentang struktur DNA. Saat ini telaah tentang DNA mengungkapkan
bahwa ada mekanisme perubahan pada tingkat molekul DNA, sehingga membawa
pemahaman yang lebih baik pada proses perubahan organisasi makhluk hidup.
Selain itu juga ditemukan adanya gen yang tidak banyak berubah selama proses
evolusi. Sehingga dapat dilakukan perbandingan DNA untuk menentukan derajat
persamaan antara speises yang berbeda. Dengan demikian dapatlah ditentukan
bahwa suatu makhluk hidup memiliki kekerabatan dekat atau jauh terhadap
makhluk hidup lainnya. Pendekatn molekuler telah dilakukan pada tahun 1987
oleh para ilmuan dari Universitas California di Berkeley, yang mengemukakan
hasil analisis DNA mitokondria menunjukkan bahwa DNA mitokondria manusia
primitif terdapat di Afrika (Widodo et al., 2003).
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Evolusi adalah suatu perubahan secara bertahap dalam waktu yang lama
akibat seleksi alam terhadap variasi gen dalam suatu individu hingga
menghasilkan perkembangan spesies baru. Spesies baru yang terbentuk
mengalami perkembangan dari sederhana menuju kompleks.
2. Teori evolusi mengalami perkembangan yang sangat pesat mengikuti
perkembangan teknologi yang mendukung. Teori evolusi yang pada
awalnya berdasarkan ilmu teologi alam lalu berubah menjadi teori yang
bersifat rasional dengan banyak hipotesis yang dikemukan untuk teori
tersebut, misalnya pada teori evolusi leher jerapah oleh Lamarck.
Kemudian teori tersebut dibantah oleh teori yang lebih rasional yaitu
teori evolusi menurut Darwin tentang paruh burung Finch. Namun teori
tersebut akhirnya dibantah oleh teori Genetika yang disampaikan oleh
Mendel. Pada masa Neo-Darwin , banyak ilmuwan yang berpendapat
bahwa seleksi alam tidak menimbulkan perubahan terhadap populasi,
tetapi mutasi dapat menjadi salah satu sebab terjadinya evolusi.
Perubahan-perubahan teori evolusi sampai saat ini masih terus
berkembang karena semakin banyak bukti yang ditemukan untuk
perkembangan teori tersebut.
B. Saran

Saran untuk pemakalah selanjutnya, lebih banyak membaca referensi-


referensi mengenai evolusi. Karena makalah yang kami sajikan masih
banyak kekurangannya, dan apabila ada kesalahan tulis kami selaku
pemakalah mohon maaf.

16
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., Reece, J.B., Urry, L.A., Cain, M. L., Wasserman, S.A.,
Minorsky, P.V. & Jackson, R.B. 2008. Biology Eighth Edition. San
Fransisco: Pearson Benjamin Cummings.
Henihili, V. et al. 2012. Evolusi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Howard, J. 1991. Darwin: Pencetus Teori Evolusi. Jakarta: PT Pustaka Utama
Grafiti
Nusantari, E. 2013. Kesalahan Memahami Mutasi Terhadap Penolakan Teori
Evolusi dan Mempersiapkan Pembelajaran Evolusi Masa Depan. Jurnal
Penelitian Kependidikan Tahun 2013 Nomor 1.
Solomon, E.P., Berg, L.R., & Martin, D.W. 2008. Biology 8th Edition. USA:
Thomson Higher Education
Waluyo, L. 2005. Evolusi Organik. Malang: UMM Press.
Widodo, Lestari, U., & Amin, M. 2003. Bahan Ajar Evolusi. Malang: Universitas
Negeri Malang.

17