Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH

KONSEP NUTRISI PADA LANSIA

Kelompok 4
1. Laras Dwi C (S16099)
2. Mahendra Adi W (S16100)
3. Lisa Ari Rusmilah (S16101)
4. Meigo Anggit R (S16102)
5. Mila Nur Kamila (S16105)
6. Muhammad Hafid E (S16106)
7. Nilam Dwi Adelia (S16109)
8. Novita Indriyani S (S16110)
9. Nurul Widiyawati (S16111)

PRODI SARJANA KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN 2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gizi memegang peranan penting dalam kesehatan usia lanjut. Masalah
kekurangan gizi sering di alami oleh usia lanjut sebagai akibat dari
menurunnya nafsu makan karena penyakit yang di deritanya. Selain masalah
kekurangan gizi,masalah obesitas(kegemukan)juga sering dialami oleh usia
lanjut. Obesitas pada usia lanjut berdampak pada peningkatan resiko penyakit
kardiovaskuler,diabetes mellitus dan hipertensi. Asupan gizi sangat diperlukan
bagi usia lanjut untuk mempertahankan kualitas hidupnya. Sementara untuk
usia lanjut yang sakit,asupan gizi diperlukan untuk proses penyembuhan dan
mencegah agar tidak terjadi komplikasi.0 (Mery E. Beck,2011:155)
Dalam kehidupan ini manusia tidak dapat terhindar dari proses penuaan
yang berlaku dalam kehidupan dirinya. Pada usia lanjut terjadi penurunan
fungsi sel otak,yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka
pendekj,melambatnya proses informasi kesulitan mengenal benda-benda
gangguan dalam penyusunan rencana yang dapat mengakibatkan kesulitan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang disebut amnesia atau pikun. Gejala
pertama pelupa,perubahan kepribadian,penurunan kemampuan untuk sehari-
hari dan perilaku yang berulang-ulang dapat juga disertai delusit palanoid atau
perilaku antisosial lainnya.( Mery E. Beck,2011:156)

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep gizi pada lansia?
2. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi gizi pada lansia?
3. Apa saja permasalahan gizi pada lansia?
4. Bagaimanakah penilaian status gizi pada lansia?
5. Bagaimanakah pedoman gizi seimbang untuk lansia?

2
C. Tujuan
1. Mengetahui konsep gizi pada lansia
2. Mengetahui faktor yang mempengaruhi gizi pada lansia
3. Mengetahui permasalahan gizi pada lansia
4. Mengetahui penilaian status gizi pada lansia
5. Mengetahui pedoman gizi seimbang untuk lansia

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Gizi Pada Lansia


Gizi sangat dibutuhkan bagi usia lanjut untuk mempertahankan kualitas
hidupnya. Bagi lanjut usia yang mengalami gangguan gizi diperlukan untuk
penyembuhan dan mencegah agar tidak terjadi komplikasi pada penyakit yang
dideritanya.Gizi merupakan unsur penting bagi kesehatan tubuh dan gizi yang
baik (Darmojo, 2011).
Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan
kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan
tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan
kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses
beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang
dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh
sehingga dapat memperpanjang usia. Kebutuhan kalori pada lansia berkurang
karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah
kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan
istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal.
Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok
besar, yaitu :
1. Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :
a. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung,
gandum, ubi, roti, singkong dll, selain itu dalam bentuk gula seperti gula,
sirup, madu dll.
b. Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan,
mentega, margarine, susu dan hasil olahannya.
2. Kelompok zat pembangun Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang
banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti
daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan dan olahannya.

4
3. Kelompok zat pengatur Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak
mengandung vitamin dan mineral, seperti buah-buahan dan sayuran.

B. Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi Lansia


1. . Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau
ompong.
2. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita
rasa manis, asin, asam, dan pahit.
3. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
5. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan
konstipasi.
6. Penyerapan makanan di usus menurun.

C. Permasalahan Gizi Pada Lansia


1. Gizi Berlebih
Banyak terjadi di negara bagian barat dan kota besar. Berat badan berlebih
dapat diakibatkan karena kebiasaan makan yang banyak saat muda dan pada
lansia kalori yang digunakan berkurang karena aktivitas fisiknya berkurang
kegemukan adalah salah satu penyebab terjadinya berbagai penyakit seperti
jantung, darah tinggi dan kencing manis.
2. Gizi Kurang
Terjadinya kekurangan gizi disebabkan oleh masalah sosial ekonomi dan
gangguan penyakit. Berat badan yang kurang dari normal dapat disebabkan
karena rendahnya konsumsi kalori dalam tubuh, dan bila kekurangan protein
dapat menyebabkan kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki. Hal tersebut
mengakibatkan kerontokan rambut, penurunan daya tahan tubuh, dan mudah
terkena infeksi.

5
3. Kekurangan Vitamin
Kurang mengkonsumsi buah, sayur serta protein dapat mengakibatkan kulit
kering, lesu, tidak semangat, kurang nafsu makan, serta penurunan
penglihatan.

D. PENILAIAN STATUS GIZI LANSIA


Beberapa Indeks Antropometri pada Lansia Serta Cara Perhitungannya:
Indeks Antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks
antropometri merupakan rasio dari suatu pengukuran terhadap satu atau lebih
pengukuran. Untuk mengkaji status gizi secara akurat, beberapa pengukuran
secara spesifik juga diperlukan dan pengukuran ini mencakup Umur, BB (Berat
Badan), TB (tinggi badan), Lingkar Kepala, BMI atau IMT (Indeks Masa
Tubuh),Berat Badan Relatif (BBR), dan Rasio Pinggang Panggul (LPP),
Lingkaran Perut, Lipatan Trisep, LLA dan LOLA.
Untuk pengukuran anthropometri pada lansia digunakan pengukuran yaitu :
1. Umur (Tahun)
2. BB (BeratBadan)
3. TB (tinggi badan)
Jika seorang lansia masih sehat dan dapat berdiri tegak maka pengukuran
tinggi badan dapat dilakukan dengan mikrotoise. Namun apabila seorang lansia
tersebut sudah tidak dapat berdiri tegak diperlukan alat untuk mengukur tinggi
badan yaitu tinggi lutut dan panjang depa :
1. Pengukuran tinggi badan dengan tinggi lutut
Tinggi lutut erat kaitannya dengan tinggi badan, sehingga data tinggi badan
didapatkan dari tinggi lutut bagi orang tidak dapat berdiri atau lansia. Pada
lansia digunakan tinggi lutut karena pada lansia terjadi penurunan masa
tulang (bungkuk) sukar untuk mendapatkan data tinggi badan akurat.

6
Data tinggi badan lansia dapat menggunakan formula atau nomogram bagi
orang yang berusia >59 tahun.
Formula (Gibson, RS; 1993)
Pria = (2.02 x tinggi lutut (cm)) – (0.04 x umur (tahun)) + 64.19

Wanita = (1.83 x tinggi lutut (cm)) – (0.24 x umur (tahun)) + 84.88

2. Pengukuran tinggi badan dengan panjang depa


Panjang depa relative kurang dipengaruhi oleh pertambahan usia. Pada
kelompok lansia terlihat adanya penurunan nilai panjang depa yang lebih
lambat dibandingkan dengan penurunan tinggi badan sehingga dapat
disimpulkan bahwa panjang depa cenderung tidak banyak berubah sejalan
penambahan usia. Panjang depa direkomendasikan sebagai parameter
prediksi tinggi badan, tetapi tidak seluruh populasi memiliki hubungan 1:1
antara panjang depa dan tinggi badan.
Formula:
Pria = 118,24 + (0,28 x Panjang Depa) – (0,07 x Umur) cm

Wanita = 63,18 + (0,63 x Panjang Depa) – (0,17 x Umur) cm

3. BMI atau IMT (Indeks Masa Tubuh)


Body Mass Index (BMI) atau dalam bahasa Indonesia disebut Indeks Masa
Tubuh (IMT) adalah sebuah ukuran “berat terhadap tinggi” badan
yang umum digunakan untuk menggolongkan orang dewasa ke dalam
kategori Underweight (kekurangan berat badan), Overweight
(kelebihan berat badan) dan Obesitas (kegemukan).

7
Rumus atau cara menghitung BMI yaitu dengan membagi berat badan
dalam kilogram dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter (kg/m²).
Nilai BMI yang didapat tidak tergantung pada umur dan jenis
kelamin. Keterbatasan BMI adalah tidak dapat digunakan bagi:
a. Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan
b. Wanita hamil
c. Atlet
BMI dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang
dapat terkena resiko penyakit tertentu yang disebabkan karena berat
badannya.
4. Lingkaran Perut
Pengukuran lingkaran perut (waist circumference) kini menjadi metode
paling populer kedua (sesudah IMT) untuk menentukan status gizi. Cara
pengukuran lingkaran perut ini dapat membedakan obesitas menjadi jenis
perifer (obesitas tipe gynoid), abdominal (obesitas tipe android), dan
obesitas tipe ovid. Berikut adalah penjelasannya:
a. Gynoid (Bentuk Peer)
Lemak disimpan disekitar pinggul dan bokong. Tipe ini cenderung
dimiliki oleh wanita. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid
umumnya kecil, kecuali resiko terhadap penyakit arthitis dan varises
vena (varicoseveins).
b. Apple Shape (Android)
Biasanya terdapat pada pria, dimana lemak tertumpuk di sekitar perut.
Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe
Gynoid, karena sel-sel lemak di sekitar perut lebih siap
melepaskanlemaknya ke dalam pembuluh darah dibandingkan dengan sel
-sel lemak di tempat lain. Lemak yang masuk ke dalam pembuluh darah
dapat menyebabkan penyempitan arteri (hipertensi), diabetes, penyakit
gallbladder, stroke, dan jenis kanker tertentu misalnya kanker payudara
dan endometrium.

8
Melihat hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang pria kurus
dengan perut gendut lebih beresiko dibandingkan dengan pria yang lebih
gemuk dengan perut lebih kecil. Untuk diagnosis obesitas abdominal
(tipe Android), lingkaran perut bagi wanita Asia adalah ≥ 80 cm dan bagi
pria Asia adalah ≥ 90cm (bagi wanita Kaukasian ≥ 35 inci dan pria
Kaukasian ≥ 40 inci).
c. Ovid (Bentuk Kotak Buah)
Ciri dari tipe ini adalah “besar di seluruh bagian badan". Tipe Ovid
umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetic.

E. PEDOMAN UMUM GIZI SEIMBANG U NTUK LANSIA


1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam,
yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan
hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering
dengan porsi yang kecil. Contoh menu : Pagi : Bubur ayam Jam 10.00 : Roti
Siang : Nasi, pindang telur, sup, papaya Jam 16.00 : Nagasari Malam : Nasi,
sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, dan pisang.
3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat
memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang
terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan
terjadinya darah tinggi.
4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang
berlemak seperti santan, mentega dll.
5. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu
diperhatikanhal-hal sebagai berikut :
a. Makanlah makanan yang mudah dicerna
b. Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan
c. Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik,
makanan harus lunak/lembek atau dicincang
d. Makan dalam porsi kecil tetapi sering

9
e. Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya
diberikan
b. Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan
sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu
makan.
c. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur,
daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
d. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus,
direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng

10
BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
lanjut usia adalah seseoramg yang telah memasuki usia 60 ke atas. Lansia
merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir
dari fase kehidupannya.Didalam makanan alami yang kita makan mengandung
dua kelompok,yaitu zat gizi dan zat non gizi. Zat gizi terdiri dari
karbohidrat,lemak,protein,air,mineral,vitamin dan serat makanan.sedangkan
pada zat non gizi terdiri atas enzim : sintesase,hydrolase;bahan menyerupai
vitamin :kartinin,glutation;dan pigmen:klorofil,flavonoid,.zat gizi esensial
harus dimakan karena tidak dapat disintesis oleh tubuh dan bila kekurangan
dapat menimbulkan gejala defisiensi
Perubahan fisiologis pada lanjut usia berkaitan dengan kebutuhan zat gizi
Menurut (Darmojo,2010) adapun perubahan fisiologis sebagai berikut;
komposisi tubuh, gigi dan mulut, indera pengecap dan pencium,
gastrointesternal dan hematologi.

B. Saran
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan para pembaca lebih mengetahui
mengenai konsep gizi yang tepat pada lansia.

11
DAFTAR PUSTAKA

Boedhi, Darmojo, R. (2011).Buku Ajar Geriatic (IlmuKesehatanLanjutUsia)


edisike –4.Jakarta :BalaiPenerbit FKUI

Oenzil,fadil.2012.Gizi meningkatkan kualitas manula.Jakarta:EGC

Beck,mary.2011.Ilmu gizi dan diet.Yogyakarta:Penerbit ANDI

Pranaka, Kris. 2010. Buku Ajar Boedhi Darmojo Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
Lanjut). Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia

Marmi.2013.Gizi dalam kesehatan reproduksi.Yogyakarta:Pustaka pelajar

Fatmah. 2010. Gizi Usia Lanjut. Jakarta : Erlangga

12