Anda di halaman 1dari 251

Spesifikasi Teknis

BAB I
DATA PROYEK

Pasal 1 : Nama pekerjaan: BELANJA PENYUSUNAN DOKUMEN DED DAN


PERENCANAAN PENATAAN KAWASAN GANG TENGAH KOTA BLANGKEJEREN

Pasal 2 : Tempat dan lokasi: KABUPATEN GAYO LUES

Pasal 3 : Pekerjaan yang harus dikerjakan dan diselesaikan oleh Penyedia Jasa sesuai
gambar rencana sebagai berikut :
- Gedung Pertokoan
- Rumah Toko
- Tugu
- Landscape

Pasal 4 : Item-Item Pekerjaan yang harus dikerjakan dan diselesaikan oleh Penyedia Jasa
sesuai gambar rencana dan Dokumen kontrak.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 1


Spesifikasi Teknis

BAB II
KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN

Pasal 1 : Penanggung Jawab Pelaksanaan ( Penyedia Jasa )


1. Berdasarkan Kontrak Kerja yang dibuat oleh Pengguna Jasa dengan
Penyedia Jasa Konstruksi, maka Penyedia Jasa untuk proyek seperti yang
disebutkan dalam BAB I diatas adalah Perusahaan seperti yang disebutkan
dalam Kontrak Kerja.

2. Penyedia Jasa harus menyelesaikan pekerjaan secara seluruhnya sesuai


dengan ketentuan-ketentuan di dalam Dokumen Kontrak.

3. Tugas dan kegiatan Penyedia Jasa adalah seperti yang disebutkan dalam
Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor :
332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus 2002 Tentang Penyedia Jasa
Konstruksi atau menurut perubahannya jika ada kecuali ditentukan lain oleh
Pengguna Jasa dalam Kontrak Kerja Fisik.

4. Penyedia Jasa harus mengajukan struktur organisasi pelaksana lapangan


proyek kepada Pengguna Jasa yang didalamnya tercantum beberapa tenaga
ahli Penyedia Jasa dengan posisi minimal seperti berikut atau sesuai yang
diajukan:
1. Project manager;
2. Site Manager;
3. Quality Konsultan Pengawas;
4. Arsitek;
5. Supervisor Lapangan;
6. Surveyor;
7. Draftman;
8. Administrasi Proyek; dan
9. Operator Computer.

5. Jumlah personil atau tenaga ahli yang ditempatkan harus sesuai dengan
bobot pekerjaan yang ditangani dan disetujui oleh Konsultan Pengawas dan
Pengguna Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 2


Spesifikasi Teknis

6. Semua tenaga ahli yang namanya tercantum dalam struktur organisasi


lapangan proyek yang diajukan oleh Penyedia Jasa harus berada dilokasi
pekerjaan minimal selama jam kerja.

7. Penggantian tenaga ahli oleh Penyedia Jasa selama proses pelaksanaan


pekerjaan harus diketahui dan disetujui oleh Konsultan Pengawas.

8. Project Manager harus mengajukan ijin tertulis kepada Pengguna Jasa dan
diketahui oleh Konsultan Pengawas jika hendak meninggalkan lokasi
pekerjaan dalam jangka waktu lebih dari 3 hari.

9. Konsultan Pengawas berhak mengajukan permohonan kepada Pengguna


Jasa untuk penggantian tenaga ahli Penyedia Jasa yang berada dilokasi
pekerjaan jika tenaga ahli tersebut dinilai menghambat pekerjaan dan tidak
mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

10. Tenaga ahli yang ditempatkan dilokasi pekerjaan oleh Penyedia Jasa harus
mampu memberikan keputusan yang bersifat teknis dan administratif di
lokasi pekerjaan.

Pasal 2 : Sub Pelaksana Pekerjaan / Sub Kontraktor


1. Penunjukan Sub Pelaksana pekerjaan/ Sub Kontraktor hanyalah dapat
dilakukan dengan sepengetahuan dan rekomendasi tertulis dari Konsultan
Pengawas serta mendapat persetujuan dari Pengguna Jasa.

2. Apabila hasil pekerjaan Sub Pelaksana tidak memenuhi semua persyaratan


di dalam Kontrak Kerja ataupun tidak memenuhi target prestasi yang harus
dicapai pada suatu tahap pekerjaan, maka Konsultan Pengawas berhak
menginstruksikan kepada Penyedia Jasa untuk menganti Sub Pelaksana
pekerjaan tersebut dengan yang lain.

3. Penyedia Jasa tidak dibenarkan untuk meninggalkan kewajibannya dengan


cara menyerahkan Kontrak Kerja sebagian atau seluruhnya kepada pihak
lain (Sub Pelaksana Pekerjaan) tanpa seijin atau persetujuan Pengguna Jasa.

4. Apabila tidak disebutkan dalam Kontrak Kerja, maka Penyedia Jasa tidak
dibenarkan untuk men-sub-kan sebagian pekerjaan yang menjadi
kewajibannya tanpa persetujuan Pengguna Jasa dan Konsultan Pengawas.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 3


Spesifikasi Teknis

5. Dalam hal sudah mendapat persetujuan Pengguna Jasa dan Konsultan


Pengawas, maka Penyedia Jasa tetap bertanggung jawab penuh atas segala
kelalaian dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Sub Kontraktor,
sehingga kesalahan dan kelalaian tersebut merupakan kesalahan dan
kelalaian Penyedia Jasa sendiri.

6. Sub Kontraktor adalah pihak-pihak yang mempunyai Kontrak Kerja langsung


dengan Penyedia Jasa, yaitu dalam menyediakan dan mengerjakan bagian-
bagian pekerjaan khusus sesuai dengan keahliannya.

7. Penyedia Jasa tetap bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil pekerjaan


Sub Kontraktor.

Pasal 3 : Gambar Pelaksanaan (Shop Drawing)


1. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri harus membuat Gambar Pelaksanaan
(Shop Drawing) untuk pekerjaan-pekerjaan yang memerlukannya, terutama
untuk pekerjaan-pekerjaan yang Gambar Detailnya tidak dijelaskan dalam
Gambar Rencana.

2. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan Shop Drawing ditentukan oleh


Konsultan Pengawas dalam masa konstruksi.

3. Penyedia Jasa tidak dibenarkan melakukan pekerjaan sebelum Shop


Drawing yang menjadi kewajibannya disetujui oleh Konsultan Pengawas.

4. Shop Drawing tidak boleh merubah/merevisi Gambar Rencana kecuali atas


persetujuan Konsultan Perencana.

5. Shop Drawing tidak boleh merubah, memperbesar dan memperkecil


kuantitas maupun kualitas pekerjaan.

Pasal 4 : Gambar Lapangan Dan Dokumen Lapangan


1. Penyedia Jasa harus menyediakan satu set Gambar Rencana/ Gambar Revisi
dalam format kertas A3, satu set Shop Drawing, satu set Spesifikasi Teknis
dan satu set Bill of Quantity dilokasi pekerjaan pada setiap kantor lapangan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 4


Spesifikasi Teknis

2. Gambar Rencana, Gambar Revisi, Shop Drawing, Spesifikasi Teknis, dan Bill
of Quantity ditempatkan pada tempat yang baik dan dalam kedaan yang
rapi.

Pasal 5 : Buku Instruksi Dan Buku Tamu


1. Penyedia Jasa harus menyediakan satu buah Buku Instruksi dan Buku Tamu
di lokasi pekerjaan pada setiap kantor lapangan dan ditempatkan pada
tempat yang baik.

2. Buku Instruksi berisikan instruksi-instruksi di lokasi pekerjaan yang


dikeluarkan oleh Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa untuk
dilaksanakan oleh Penyedia Jasa yang berhubungan dengan pelaksanaan
pekerjaan.

3. Buku Instruksi harus mencantumkan tanggal instruksi, waktu instruksi,


nama dan jabatan yang memberi instruksi, dan tanda tangan yang memberi
instruksi.

4. Instruksi Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa yang berada dalam Buku
Instruksi harus diketahui dan ditanda tangani oleh Penyedia Jasa minimal
Supervisor Lapangan untuk dilaksanakan.

5. Penyedia Jasa juga harus menyediakan buku tamu di kantor lapangan yang
diletakan pada tempat yang baik. Semua tamu yang berkunjung ke lokasi
pekerjaan harus terdata dan mengisi buku tamu yang telah disediakan oleh
Penyedia Jasa.

Pasal 6 : Gambar Hasil Pelaksanaan (As Built Drawing)


1. Kontraktor dengan biaya sendiri harus membuat Gambar Hasil Pelaksanaan
(As Built Drawing) yang sesuai dengan hasil pelaksanaan pekerjaan di
lapangan sebelum serah terima tahap pertama dilakukan.

2. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan As Built Drawing adalah pekerjaan


Struktur, Arsitektur, Mekanikal, Elektrikal, Site Plan, Landscaping dan
pekerjaan-pekerjaan lain yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas.

3. As Built Drawing yang dibuat oleh Penyedia Jasa harus diperiksa oleh
Konsultan Pengawas, Konsultan Perencana dan Pengguna Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 5


Spesifikasi Teknis

3. Penyedia Jasa diwajibkan menyerahkan 5 set As Built Drawing yang telah


disetujui kepada Konsultan Pengawas, Pengguna Jasa dan Konsultan
Perencana kepada Pengguna Jasa.

4. Satu set As Built Drawing yang telah disetujui harus disimpan di tempat
yang baik pada bangunan oleh Pengguna Jasa atau pengguna bangunan.

Pasal 7 : Rencana Waktu Pelaksanaan


1. Penyedia Jasa harus mengajukan rencana waktu penyelesaian pekerjaan
(time schedule) keseluruhan kepada Konsultan Pengawas dan Pengguna
Jasa sebelum dimulainya pelaksanaan pekerjaan kecuali ditentukan lain
dalam Kontrak Kerja.

2. Penyedia Jasa harus menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan rencana waktu


penyelesaian pekerjaan keseluruhan yang telah disetujui oleh Konsultan
Pengawas dan Pengguna Jasa kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.

3. Penyedia Jasa harus menyerahkan rencana waktu penyelesaian pekerjaan


keseluruhan yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas dan Pengguna
Jasa.

4. Penyedia Jasa juga harus mengajukan rencana waktu penyelesaian


pekerjaan mingguan pada tahap pelaksanaan pekerjaan kepada Konsultan
Pengawas dan diketahui oleh Pengguna Jasa.

5. Konsultan Pengawas berhak untuk tidak menyetujui rencana penyelesaian


pekerjaan mingguan yang diajukan oleh Penyedia Jasa dengan memberikan
alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara teknis.

6. Keterlambatan Penyedia Jasa dalam menyelesaikan pekerjaan karena


kesalahan dalam menyusun waktu penyelesaian pekerjaan sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.

7. Keterlambatan Penyedia Jasa dalam menyelesaikan pekerjaan karena faktor


cuaca seperti hujan yang lebih dari 1 hari kerja dan dibuktikan dengan
catatan cuaca dalam Laporan Harian yang disetujui oleh Konsultan
Pengawas harus diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan
pekerjaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 6


Spesifikasi Teknis

8. Keterlambatan Penyedia Jasa dalam menyelesaikan pekerjaan karena


faktor-faktor non teknis yang lebih dari 3 hari kerja dan diketahui oleh
Konsultan Pengawas seperti permasalahan dengan tanah/lahan pekerjaan
sehingga Penyedia Jasan tidak bisa memasuki dan memulai pekerjaan,
ganguan keamanan dari masyarakat setempat harus diperhitungkan untuk
penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.

9. Keterlambatan Penyedia Jasa dalam menyelesaikan pekerjaan karena


permasalahan yang berhubungan dengan Spesifikasi Teknis, Gambar
Desain, Bill of Quantity dan Kontrak Kerja di mana tidak ada keputusan yang
pasti dari Konsultan Pengawas, Konsultan Perencana dan Pengguna Jasa
lebih dari 3 hari kerja harus diperhitungkan untuk penambahan waktu
pelaksanaan pekerjaan.

10. Keterlambatan Penyedia Jasa dalam menyelesaikan pekerjaan yang


disebabkan oleh hal-hal selain seperti yang disebutkan dalam poin 6, poin 7
dan poin 8 tidak boleh diperhitungkan untuk penambahan waktu
pelaksanaan kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja dengan
persetujuan Konsultan Manajemen dan Pengguna Jasa.

11. Lamanya penambahan waktu atau jumlah hari kerja tambahan yang
diberikan kepada Penyedia Jasa karena alasan-alasan seperti yang
disebutkan pada poin 6, poin 7 dan poin 8 adalah menurut keputusan
Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa.

Pasal 8 : Request For Work / Izin Kerja


1. Penyedia Jasa harus mengajukan permohonan penggunaan semua material
bangunan (Request for Work) sebelum material bangunan tersebut dipakai
dan dimasukan kelokasi pekerjaan.

2. Request for Work yang diajukan Penyedia Jasa harus disertai dengan contoh
material dan disetujui oleh Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa.

3. Persetujuan Request for Work yang diajukan oleh Penyedia Jasa dianggap
sah dan diakui apabila disetujui minimal oleh Konsultan Pengawas.

4. Penyedia Jasa harus menyediakan dan menyerahkan satu set contoh


material yang telah disetujui kepada Konsultan Pengawas.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 7


Spesifikasi Teknis

5. Material bangunan yang tidak disetujui oleh Konsultan Pengawas,


Konsultan Perencana, dan Pengguna Jasa tidak boleh dipakai sebagai
material bangunan dan harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.

6. Penyedia Jasa juga harus mengajukan permohonan permintaan pekerjaan


(Request for Work)untuk pekerjaan yang akan dikerjakan.

7. Request for Work yang diajukan oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas.

8. Penyedia Jasa tidak dibenarkan melakukan pekerjaan tanpa Request for


Work atau jika Request for Work yang diajukan belum disetujui oleh
Konsultan Pengawas.

9. Item-item pekerjaan yang memerlukan Request for Work ditentukan oleh


Konsultan Pengawas.

Pasal 9 : Metode Pelaksanaan


1. Penyedia Jasa harus mengajukan Metode Pelaksanaan terhadap pekerjaan
Pembesian Plat Lantai, Pengecoran Plat Lantai, Eriction Konstruksi Baja dan
Eriction Konstruksi Kuda-Kuda serta pekerjaan-pekerjaan lain yang
memerlukanya.

2. Metode Pelaksanaan yang diajukan oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas.

3. Penyedia Jasa tidak dibenarkan melakukan pekerjaan jika Metode


Pelaksanaan yang diajukan belum disetujui oleh Konsultan Pengawas.

4. Item-item pekerjaan yang memerlukan Metode Pelaksanaan ditentukan


oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 10 : Rencana Material Dan Peralatan


1. Penyedia Jasa harus mengajukan rencana material dan peralatan mingguan
yang akan digunakan untuk penyelesaian pekerjaan setiap minggu kepada
Konsultan Pengawas.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 8


Spesifikasi Teknis

2. Semua material dan peralatan sesuai dengan rencana material dan


peralatan mingguan yang diajukan oleh Penyedia Jasa harus berada di lokasi
pekerjaan.

3. Konsultan Pengawas berhak untuk tidak menyetujui rencana material dan


peralatan mingguan yang diajukan oleh Penyedia Jasa dengan memberikan
alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara teknis.

Pasal 11 : Rencana Tenaga Kerja


1. Penyedia Jasa harus mengajukan rencana penggunaan tenaga kerja
mingguan yang akan digunakan untuk penyelesaian pekerjaan setiap
minggu kepada Konsultan Pengawas.

2. Semua tenaga kerja sesuai dengan rencana tenaga kerja mingguan yang
diajukan oleh Penyedia Jasa harus berada dilokasi pekerjaan.

3. Konsultan Pengawas berhak untuk tidak menyetujui rencana penggunaan


tenaga kerja mingguan yang diajukan oleh Penyedia Jasa dengan
memberikan alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara
teknis.

Pasal 12 : Pekerjaan Di Luar Jam Kerja


1. Pekerjaan-pekerjaan di luar jam kerja normal yang dilakukan oleh Penyedia
Jasa dengan alasan mempercepat proses penyelesaian pekerjaan harus
diketahui oleh Konsultan Pengawas.

2. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh personil Konsultan Pengawas


untuk pekerjaan diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh Penyedia Jasa
sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.

3. Penyedia Jasa bertanggung jawab penuh terhadap kualitas pekerjaan yang


dilakukan di luar jam kerja normal atau pada malam hari.

Pasal 13 : Laporan Pelaksanaan


1. Penyedia Jasa wajib membuat laporan harian, laporan mingguan, dan
laporan bulanan kepada Pengguna Jasa tentang kemajuan pelaksanaan
pekerjaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 9


Spesifikasi Teknis

2. Format laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan yang dibuat
oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

3. Konsultan Pengawas berhak untuk melakukan pemeriksaan langsung ke


lapangan akan kebenaran data yang ada dalam laporan harian, laporan
mingguan, dan laporan bulanan yang dibuat oleh Penyedia Jasa.

4. Laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan dibuat dalam


rangkap 4 (empat). Salah satu tembusan laporan harian, laporan mingguan,
dan laporan bulanan harus berada pada lokasi pekerjaan. Masing-masing
Laporan harian, laporan mingguan dan bulanan harus diserahkan kepada
Konsultan Pengawas, Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa.

Pasal 14 : Surat Menyurat Dan Komunikasi


1. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang
berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya administratif
harus melalui dan ditujukan kepada Konsultan Pengawas juga diketahui
oleh Pengguna Jasa.

2. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang


berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya teknis harus
melalui dan ditujukan kepada Konsultan Pengawas juga diketahui oleh
Pengguna Jasa.

3. Surat menyurat atau perizinan yang berhubungan dengan Instansi lain di


luar proyek tidak perlu melalui dan diketahui oleh Konsultan Pengawas.
Penyedia Jasa tetap wajib memberikan informasi tentang hal tersebut
kepada Konsultan Pengawas.

Pasal 15 : Rapat Koordinasi Dan Rapat Lapangan (Site Meeting)


1. Rapat koordinasi diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali setiap
minggu, dipimpin oleh Pengguna Jasa atau Konsultan Pengawas.

2. Penyedia Jasa wajib hadir dalam rapat koordinasi dengan diwakili minimal
oleh Site Manager atau Supervisor Lapangan.

3. Konsumsi rapat koordinasi tersebut disiapkan oleh Penyedia Jasa kecuali


ditentukan lain oleh Pengguna Jasa

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 10


Spesifikasi Teknis

4. Rapat lapangan (site meeting) diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu)


kali setiap minggu, dipimpin oleh Pengguna Jasa atau Konsultan Pengawas.

5. Penyedia Jasa wajib hadir dalam rapat lapangan dengan diwakili minimal
oleh Supervisor lapangan.

6. Konsumsi rapat lapangan tersebut disiapkan oleh Penyedia Jasa kecuali


ditentukan lain oleh Pengguna Jasa.

Pasal 16 : Wewenang Pengguna Jasa (Pemberi Tugas) Memasuki Lokasi Pekerjaan


1. Pengguna Jasa (Pemberi Tugas) dan para wakilnya mempunyai wewenang
untuk memasuki lokasi pekerjaan dan bengkel kerja atau tempat-tempat
lain di mana Penyedia Jasa melaksanakan pekerjaan untuk Kontrak.

2. Jika pekerjaan dilakukan pada tempat-tempat lain yang dilakukan oleh Sub
Penyedia Jasa menurut ketentuan dalam Sub Pelaksanaan, maka Penyedia
Jasa harus memberikan jaminan agar supaya Pengguna Jasa dan para
wakilnya mempunyai wewenang untuk memasuki bengkel kerja dan
tempat-tempat lain kepunyaan Sub Pelaksana pekerjaan.

3. Pengguna Jasa atau Staf Ahli (Enggineer) berhak memberikan instruksi


langsung di lapangan kepada Penyedia Jasa dan Konsultan Pengawas
untuk suatu perbaikan atau perubahan jika dalam proses pelaksanaan
pekerjaan ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Gambar Rencana,
Spesifikasi Teknis, Bill of Quantity dan Kontrak Kerja.

4. Pengguna Jasa atau Staf Ahli (Konsultan Pengawas) berhak memerintahkan


Konsultan Pengawas secara tertulis untuk menghentikan proses
pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia Jasa sementara waktu
jika ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Gambar Rencana,
Spesifikasi Teknis, Bill of Quantity dan Kontrak Kerja.

5. Penyedia Jasa harus menjamin dan bertangung jawab penuh akan


keselamatan Pengguna Jasa dan para wakilnya selama berada dilokasi
pekerjaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 11


Spesifikasi Teknis

Pasal 17 : Progress Payment


1. Pembayaran dilakukan dengan system Unit Price dan Monthly Certificate
(MC), artinya tagihan Penyedia Jasa dibayar berdasarkan Progress Realisasi
Pekerjaan yang telah diselesaikan dilapangan.

2. Progress Payment Penyedia Jasa diajukan kepada Pengguna Jasa dan


diperiksa kebenaran realisasi pekerjaan di lapangannya oleh Konsultan
Pengawas.

3. Progress Payment Penyedia Jasa baru dapat dibayar oleh Pengguna Jasa jika
telah disetujui secara tertulis oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 18 : Kesalahan Pekerjaan Dan Pekerjaan Cacat


1. Penyedia Jasa harus memperbaiki dengan biaya sendiri semua kesalahan
pekerjaan dan cacat pekerjaan baik pada tahap pelaksanaan maupun pada
saat sebelum Serah Terima Tahap Pertama (PHO) dan pekerjaan dinyatakan
selesai 100%.

2. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan adalah hasil pemeriksaan


bersama antara Penyedia Jasa, Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa
sebelum Serah Terima Tahap Pertama (PHO) dan pekerjaan dinyatakan
selesai 100%.

3. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan dari hasil pemeriksaan oleh


Penyedia Jasa, Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa dicantumkan dalam
sebuah Daftar Pekerjaan Cacat yang ditandatangani oleh ketiga pihak
tersebut.

4. Konsultan Manajemen atau Pengguna Jasa harus membuat Berita Acara


Hasil Pemeriksaan Pekerjaan untuk ditandatangani oleh Penyedia Jasa dan
Pengguna Jasa.

5. Semua kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan yang ada dalam Daftar
Pekerjaan Cacat menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa memperbaikinya
dengan biaya sendiri.

6. Kesalahan-kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia


Jasa dikarenakan kurang memahami Gambar dan kurangnya kontrol

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 12


Spesifikasi Teknis

terhadap pekerja sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa untuk


memperbaiki dengan biaya sendiri.

7. Kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia Jasa karena
lemahnya pengawasan dan kontrol oleh Konsultan Pengawas tetap menjadi
tanggung jawab Penyedia Jasa untuk memperbaikinya.

8. Kerusakan dan cacat pada bangunan akibat pemakaian atau sebab-sebab


lain tanpa ada unsur-unsur kesengajaan yang dapat dibuktikan dalam masa
pemeliharaan bangunan tetap menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa untuk
memperbaikinya dengan biaya sendiri kecuali ditentukan lain dalam
Kontrak Kerja.

9. Konsultan Pengawas berhak setiap saat memerintahkan Penyedia Jasa


untuk memperbaiki kesalahan pekerjaan atau pekerjaan cacat pada masa
pelaksanaan.

10. Hasil perbaikan terhadap kesalahan pekerjaan dan pekerjaan cacat harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 19 : Buku Petunjuk Penggunaan Bangunan (Operation Hand-Book)


1. Penyedia Jasa bersama dengan Konsultan Pengawas harus membuat Buku
Petunjuk Penggunaan atau sistem operasi (Operation Hand-Book) sebelum
masa Serah Terima Pertama untuk semua peralatan yang ada dalam
bangunan seperti:
a. Instalasi Listrik;
b. Instalasi Air Bersih dan Air Kotor;
c. Instalasi pendingin Ruangan; dan
d. Instalasi Pemadam Kebakaran.

2. Operation Hand-Book harus diserahkan kepada Pengguna Jasa dan


pengguna bangunan dengan memberikan penjelasan yang diperlukan.

3. Operation Hand-Book harus disimpan dengan baik dalam bangunan pada


tempat yang ditentukan oleh Pengguna Jasa atau pengguna bangunan.

Pasal 20 : Petunjuk Bangunan Dan Nama Ruangan


1. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri bersama dengan Konsultan Perencana,
Konsultan Pengawas, Pengguna Jasa dan Pemilik Bangunan/ Pengguna

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 13


Spesifikasi Teknis

Bangunan harus membuat petunjuk dan Nama semua ruangan berdasarkan


fungsinya masing-masing sebelum masa Serah Terima Pertama (PHO).

2. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri bersama dengan Konsultan Perencana,


Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa juga harus membuat Petunjuk
Pintu Masuk Utama dan Pintu Keluar Utama untuk semua bangunan dari
material yang dapat dilihat dengan mudah pada siang hari maupun malam
hari.

3. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri bersama dengan Konsultan Perencana,


Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa harus membuat Duplikat Denah
Bangunan ukuran 100 x 60 cm untuk masing-masing lantai dan ditempatkan
pada daerah sekitar tangga atau ruang tunggu.

Pasal 21 : Penyelesaian Dan Serah Terima Pekerjaan


1. Setelah pekerjaan dianggap terlaksana 100% berdasarkan Progress 100%
yang diajukan oleh Penyedia Jasa dan telah disetujui oleh Konsultan
Pengawas dan Pengguna Jasa, maka pihak Konsultan Pengawas, Penyedia
Jasa dan Pengguna Jasa bersama-sama menandatangani Berita Acara Serah
Terima Pertama (PHO) kecuali ditentukan lain oleh Pengguna Jasa.

2. Sebelum Berita Acara Serah Terima Pertama ditandatangani berdasarkan


klaim Progress 100% yang diajukan Penyedia Jasa, maka Konsultan
Pengawas, Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa bersama-sama melakukan
Pemeriksaan Lapangan.

3. Pekerjaan-pekerjaan cacat, tidak sempurna dan tidak sesuai kualitas


maupun kuantitas terutama dari segi fungsi bangunan yang ditemukan
dalam Pemeriksaan Lapangan adalah menjadi kewajiban Penyedia Jasa
memperbaikinya sebelum Serah Terima Pertama ditandatangani dan hal ini
harus dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan dalam bentuk Daftar
Pekerjaan Cacat.

4. Penyedia Jasa juga harus menyerahkan As-built Drawing dan Buku Petunjuk
Penggunaan Bangunan (Hand Book) yang telah disetujui oleh Konsultan
Perencana, Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa sebelum Berita Acara
Serah Terima Pertama ditandatangani.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 14


Spesifikasi Teknis

5. Konsultan Pengawas akan mengeluarkan rekomendasi tertulis akan realisasi


perbaikan dari semua item dalam Daftar Pekerjaan Cacat dan As-built
Drawing yang telah selesai dilaksanakan oleh Penyedia Jasa untuk
keperluan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Pertama (PHO)

6. Setelah masa pemeliharaan dilampaui dan sesudah semua perbaikan-


perbaikan dilaksanakan dengan baik, Konsultan Pengawas akan
mengeluarkan rekomendasi tertulis mengenai selesainya pekerjaan dan
perbaikan yang berarti Serah Terima Kedua (PHO) kedua dari pihak
Penyedia Jasa kepada Pengguna Jasa.

Pasal 22 : Pemanfaatan Bangunan Oleh Pemilik/Pengguna Bangunan


1. Pemanfaatan dan penggunaan bangunan oleh Pemilik Bangunan hanya
boleh dilakukan setelah Berita Acara Serah Terima antara Pengguna Jasa
(Pemberi Tugas) dengan Pemilik Bangunan ditandatangani.

2. Pemilik Bangunan tidak boleh menempati, menggunakan bangunan dan


memanfaatkan semua fasilitas yang ada dalam bangunan selama bangunan
masih dalam proses Serah Terima antara Penyedia Jasa dengan Pengguna
Jasa.

3. Pemanfaatan bangunan oleh siapapun sebelum Serah Terima antara


Pengguna Jasa dan Pemilik Bangunan ditandatangani, harus dengan
persetujuan Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa.

4. Penyedia Jasa bertanggung jawab penuh terhadap perbaikan dengan biaya


sendiri semua cacat dan kerusakan yang timbul akibat penggunaan
bangunan oleh Pemilik Bangunan yang telah disetujuinya bersama dengan
Pengguna Jasa.

Pasal 23 : Penanggung Jawab Manajemen Konstruksi


1. Berdasarkan Kontrak Kerja yang dibuat oleh Pengguna Jasa dengan
Penyedia Jasa Konsultasi, maka Konsultan Pengawas untuk proyek seperti
yang disebutkan dalam BAB I di atas adalah Perusahaan seperti yang
disebutkan dalam Kontrak Kerja Konsultan Pengawas

2. Tugas dan kegiatan Konsultan Pengawas adalah seperti yang disebutkan


dalam Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor:
332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus 2002 Tentang Penyedia Jasa

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 15


Spesifikasi Teknis

Konsultan Pengawas atau menurut perubahannya jika ada kecuali


ditentukan lain oleh Pengguna Jasa dalam Kontrak Kerja Konsultan
Pengawas.

3. Konsultan Pengawas harus mengajukan struktur organisasi lapangan proyek


kepada Konsultan Perencana dan Pengguna Jasa di mana di dalamnya
tercantum beberapa tenaga ahli Konsultan.

4. Semua tenaga ahli yang namanya tercantum dalam struktur organisasi


lapangan proyek yang diajukan oleh Konsultan Pengawas harus berada di
lokasi pekerjaan minimal selama jam kerja.

5. Konsultan Pengawas harus menyerahkan Struktur Organisasi lapangan


proyek yang telah disetujui oleh Pengguna Jasa kepada Penyedia Jasa.

6. Penggantian tenaga ahli oleh Konsultan Pengawas selama proses


pelaksanaan pekerjaan harus diketahui dan disetujui oleh Konsultan
Pelaksana dan Pengguna Jasa.

7. Leader harus mengajukan ijin tertulis kepada Pengguna Jasa jika hendak
meninggalkan lokasi pekerjaan dalam jangka waktu lebih dari 3 hari.

8. Penyedia Jasa berhak mengajukan kepada Konsultan Pengawas dan


Pengguna Jasa untuk penggantian tenaga ahli Konsultan Pengawas yang
berada di lokasi pekerjaan jika tenaga ahli tersebut dinilai menghambat
pekerjaan dan tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

9. Tenaga ahli yang ditempatkan di lokasi pekerjaan oleh Konsultan Pengawas


harus mampu memberikan keputusan yang bersifat teknis di lokasi
pekerjaan.
10. Konsultan Pengawas harus membuat laporan mingguan dan laporan
bulanan dan diketahui oleh Pengguna Jasa atas segala hal yang menyangkut
pelaksanaan pekerjaan oleh Penyedia Jasa.

11. Bentuk, format, dan isi laporan Konsultan Pengawas adalah berdasarkan
hasil diskusi dan konsultasi dengan Pengguna Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 16


Spesifikasi Teknis

Pasal 24 : Instruksi Konsultan Pengawas


1. Penyedia Jasa harus mematuhi dan melaksanakan semua instruksi atau
perintah yang dikeluarkan oleh Konsultan Pengawas yang berhubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan.

2. Semua instruksi yang dikeluarkan oleh Konsultan Pengawas harus dalam


bentuk tulisan.

3. Instruksi Konsultan Pengawas dalam bentuk lisan dibenarkan dan harus


diikuti oleh Penyedia Jasa selama disertai oleh alasan-alasan yang jelas dan
sesuai dengan Spesifikasi Teknis.

4. Instruksi dari Konsultan Pengawas dapat berupa hal-hal seperti disebutkan


dibawah ini :
1. Teguran atas sesuatu cara pelaksanaan yang salah sehingga
membahayakan bagi konstruksi, atau pekerjaan finishing yang kurang
baik atau hal-hal lain yang menyimpang dari Spesifikasi Teknis dan
Gambar Rencana.
2. Perintah untuk menyingkirkan material/ bahan bangunan yang tidak
sesuai dengan Spesifikasi Teknis.
3. Perintah untuk menggantikan Pelaksana lapangan dari Penyedia Jasa
yang dianggap kurang mampu.
4. Perintah untuk melakukan penambahan tenaga kerja dengan alasan
untuk mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan.
5. Perintah untuk melakukan perubahan-perubahan pada metode
pelaksanaan Penyedia Jasa yang dianggap tidak tepat sehingga dapat
mengurangi kualitas dan memperlambat proses penyelesaian
pekerjaan.
6. Dan lain–lain instruksi, teguran atau perintah yang dianggap perlu.

Pasal 25 : Perubahan-Perubahan Disain Dan Perbedaan-Perbedaan


1. Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas dengan persetujuan
Pengguna Jasa berhak mengadakan perubahan-perubahan pada Gambar
Rencana, Spesifikasi Teknis dan Bill of Quantity yang wajib dilaksanakan
oleh Penyedia Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 17


Spesifikasi Teknis

2. Penyedia Jasa dengan alasan apapun tidak boleh melakukan perubahan


pada Gambar Rencana, Spesifikasi Teknis dan Bill of Quantity tanpa
persetujuan Konsultan Pengawas atau Konsultan Perencana.

3. Perubahan-perubahan akan Gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis harus


disampaikan secara tertulis kepada Penyedia Jasa untuk dilaksanakan.

4. Perubahan-perubahan pada Gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis yang


dilakukan oleh Konsultan Pengawas, Konsultan Perencana, dan Pengguna
Jasa secara lisan atau tidak tertulis tidak wajib untuk dilaksanakan oleh
Penyedia Jasa. Resiko karena melaksanakan Instruksi tidak tertulis
sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.

5. Perubahan-perubahan akan Gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis tidak


boleh menambah biaya pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan dari
biaya pelaksanaan yang ada dalam Kontrak Kerja kecuali ditentukan lain
dalam Kontrak Kerja atau oleh Pengguna Jasa.

6. Perhitungan kuantitas/ volume pekerjaan dan biaya karena perubahan


Gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis dilakukan oleh Konsultan Perencana
diketahui oleh Konsultan Pengawas dan disetujui oleh Pengguna Jasa.

7. Penyedia Jasa berhak memeriksa hasil perhitungan akan kuantitas/ volume


pekerjaan dan biaya yang dilakukan oleh Konsultan Perencana.

8. Jika dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan ketidaksesuaian antara


Gambar Rencana, Spesifikasi Teknis, dan Bill of Quantity, Penyedia Jasa
tidak dibenarkan mengambil keputusan secara sepihak, tetapi harus
melaporkannya kepada Konsultan Pengawas untuk tindakan selanjutnya.

9. Konsultan Pengawas dengan persetujuan Konsultan Perencana dan


Pengguna Jasa berhak menentukan acuan mana yang harus dipegang bila
terjadi perbedaan antara Gambar Rencana, Spesifikasi Teknis, dan Bill of
Quantity kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.

10. Kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja atau oleh Konsultan Pengawas,
jika terjadi perbedaan antara Gambar Rencana, Spesifikasi Teknis dan Bill of
Quantity maka urutan acuan yang harus dipegang ditentukan seperti
berikut:

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 18


Spesifikasi Teknis

1. Kontrak Kerja;
2. Bill of Quantity;
3. Gambar Rencana serta Gambar Revisi; dan
4. Spesifikasi Teknis.

Pasal 26 : Struktur Organisasi Proyek


1. Struktur Organisasi Proyek dibuat oleh Konsultan Pengawas dengan
persetujuan Pengguna Jasa.

2. Struktur Organisasi Proyek harus dapat menjelaskan secara umum


hubungan antara semua pihak yang terlibat dalam proyek.

3. Struktur Organisasi Proyek adalah pedoman administratif yang harus diikuti


oleh semua pihak yang terlibat dalam proyek.

4. Perubahan-perubahan pada Struktur Organisasi Proyek harus segera


diberitahukan secara tertulis kepada semua pihak yang terlibat dalam
proyek.

5. Struktur Organisai Proyek dibuat dalam format kertas A3 dan diletakan


pada posisi yang mudah dilihat dan dibaca pada Direksi Keet (Kantor
Konsultan Pengawas) dan Kantor Penyedia Jasa.

Pasal 27 : Ketentuan Lain


1. Spesifikasi Teknis ini adalah ketentuan yang mengikat bagi Penyedia Jasa
dan merupakan bagian dari Kontrak Kerja yang harus dipatuhi dan
dilaksanakan.

2. Semua aturan dan persyaratan yang terdapat dalam Spesifikasi Teknis harus
dipatuhi dan dilaksanakan oleh Penyedia Jasa walaupun hal tersebut tidak
disebutkan dalam Gambar Rencana dan Bill of Quantity kecuali ditentukan
lain dalam Kontrak Kerja atau oleh Konsultan Pengawas dengan Persetujuan
Pengguna Jasa.

3. Jika terjadi perbedaan antara aturan yang terdapat dalam Spesifikasi Teknis
dan aturan dalam Kontrak Kerja maka aturan yang menjadi acuan adalah
aturan yang terdapat dalam Kontrak Kerja.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 19


Spesifikasi Teknis

4. Hal-hal yang belum ditentukan dalam Spesifikasi Teknis ini akan ditentukan
kemudian oleh Konsultan Pengawas bersama dengan Konsultan Perencana
dengan persetujuan Pengguna Jasa dalam proses pelaksanaan pekerjaan
dan menjadi satu ketentuan yang mengikat serta wajib diikuti oleh
Penyedia Jasa.

5. Hal-hal yang ditentukan kemudian oleh Konsultan Pengawas tersebut harus


tetap mengacu pada Kontrak Kerja yang telah ada.

6. Konsultan Pengawas bersama Konsultan Perencana dengan persetujuan


Pengguna Jasa dapat mengubah sebagian besar atau sebagian kecil aturan
yang terdapat dalam Spesifikasi Teknis dan Penyedia Jasa wajib mengikuti
aturan perubahan tersebut.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 20


Spesifikasi Teknis

BAB III
PEKERJAAN PERSIAPAN

Pasal 1 : Papan Nama Proyek


1. Penyedia Jasa harus membuat dan memasang Papan Nama Proyek yang
memuat tentang identitas proyek.

2. Papan nama proyek mengunakan ukuran minimal 150 cm x 250 cm kecuali


ditentukan lain oleh Pengguna Jasa.

3. Papan nama proyek rangka dan kakinya terbuat dari kayu dengan kualitas
terbaik sehingga sanggup bertahan minimal sampai selesainya pengerjaan
proyek. Latar papan nama dapat berupa papan kayu tebal minimal 2 cm
atau multiplek dengan tebal minimal 12 mm. Penggunaan bahan dan
material lain harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas.

4. Papan nama proyek berlatar belakang putih dengan tulisan warna hitam,
kecuali untuk logo atau simbul dapat dipakai warna yang bervariasi.

5. Papan nama proyek harus mencantumkan Instansi Penyandang Dana,


Instansi Pemilik Bangunan, Penyedia Jasa, Konsultan Perencana dan
Konsultan Pengawas.

6. Papan juga harus mencantumkan besar anggaran pelaksanaan proyek,


waktu mulai proyek, dan waktu penyelesaian proyek.

Pasal 2 : Kantor Lapangan Konsultan Pengawas (Direksi Keet)


1. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri harus membuat kantor Konsultan
Pengawas (Direksi Keet) untuk keperluan operasional Konsultan Pengawas.

2. Pemanfaatan bangunan lama untuk keperluan Kantor Konsultan Pengawas


(Direksi Keet) harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas.

3. Direksi Keet mempunyai ukuran minimal 30 m2.

4. Direksi Keet tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan
lama.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 21


Spesifikasi Teknis

5. Direksi Keet minimal harus mempunyai 2 unit jendela dan 1 unit pintu
dengan penerangan yang cukup dan sirkulasi udara yang baik.

6. Lantai Direksi Keet minimal dari perkerasan beton dengan campuran 1 Sm :


2 Ps : 3 Kr dengan permukaan yang rata dan diperhalus dengan acian beton.

7. Jika Direksi Keet harus dibuat dalam bentuk bangunan panggung maka
lantai Direksi Keet harus dibuat dari papan ukuran 2.5/25 cm dengan jarak
balok-balok lantai ukuran 5/10 cm minimal 50 cm dari kayu dengan kelas II.

8. Dinding Direksi Keet minimal papan ukuran 2/20 cm dengan rangka dinding
kayu ukuran 5/10 cm dari kayu kelas II. Dinding dapat juga dibuat dari
bahan multiplek tebal 6 mm.

9. Atap Direksi Keet dari bahan seng BJLS 0,20 mm.

10. Penggantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan
di atas harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas.

11. Direksi Keet harus dilengkapi minimal dengan :


a. Meja Kerja : 3 Buah
b. Kursi Kerja : 6 buah
c. Papan Tulis : 1 Buah
d. Rak Arsip : 1 Buah
e. Meja Rapat : 1 Buah
f. Kursi Rapat : 6 Buah
g. Air Minum

12. Posisi dan letak Direksi Keet ditentukan bersama antara Penyedia Jasa
dengan Konsultan Pengawas. Letak Direksi Keet tidak boleh berada terlalu
dekat dengan posisi bangunan yang sedang dikerjakan.

Pasal 3 : Kantor Lapangan Penyedia Jasa


1. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri harus membuat Kantor Lapangan untuk
keperluan operasional pelaksanaan pekerjaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 22


Spesifikasi Teknis

2. Pemanfaatan bangunan lama untuk keperluan Kantor Lapangan harus


dengan persetujuan Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa.

3. Kantor Lapangan mempunyai ukuran minimal 30 m2.

4. Kantor Lapangan tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan
lama.

5. Kantor Lapangan minimal harus mempunyai 2 unit jendela dan 1 unit pintu
dengan penerangan yang cukup dan sirkulasi udara yang baik.

6. Lantai Kantor Lapangan minimal dari perkerasan beton dengan campuran 1


Sm : 2 Ps : 3 Kr dengan permukaan yang rata dan diperhalus dengan acian
beton.

7. Jika Kantor Lapangan harus dibuat dalam bentuk bangunan panggung maka
lantai Kantor Lapangan harus dibuat dari papan ukuran 2.5/25 cm dengan
jarak balok-balok lantai ukuran 5/10 cm minimal 50 cm dari kayu dengan
kelas II.

8. Dinding Kantor Lapangan minimal papan ukuran 2/20 cm dengan rangka


dinding kayu ukuran 5/10 cm dari kayu kelas II.

9. Atap Kantor Lapangan dari bahan seng BJLS 0,20 mm.

10. Penggantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan
diatas harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas.

11. Kantor Lapangan harus dilengkapi minimal dengan :


a. Meja Kerja : 3 Buah
b. Kursi Kerja : 6 buah
c. Papan Tulis : 1 Buah
d. Rak Arsip : 1 Buah
e. Meja Rapat : 1 Buah
f. Kursi Rapat : 6 Buah
g. Air Minum
h. Komputer PC dan printer A3 : 1 Unit

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 23


Spesifikasi Teknis

12. Posisi dan letak Kantor Lapangan ditentukan bersama antara Penyedia Jasa
dengan Konsultan Pengawas. Letak Kantor Lapangan tidak boleh berada
terlalu dekat dengan posisi bangunan yang sedang dikerjakan.

Pasal 4 : Toilet / WC Dan Kamar Mandi Lapangan


1. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri harus membuat Kamar Mandi dan WC
untuk keperluan Staf Penyedia Jasa, Staf Konsultan Pengawas, dan para
pekerja dan buruh

2. Pemanfaatan Bangunan Lama atau Kamar Mandi dan WC lama yang telah
ada dilokasi pekerjaan harus disetujui oleh Konsultan Pengawas dan
Pengguna Jasa.

3. Kamar Mandi dan WC mempunyai ukuran minimal 9 m2

4. Toilet/WC staf Penyedia Jasa dan staf Konsultan Pengawas harus dibuat
terpisah dengan Toilet/WC serta Kamar Mandi pekerja

5. Kamar Mandi dan WC tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran
bangunan lama

6. Lantai Kamar Mandi dan WC minimal dari perkerasan beton dengan


campuran 1 Sm : 2 Ps : 3 Kr dengan permukaan yang rata dan diperhalus
dengan acian beton
7. Dinding Kamar Mandi dan WC 1 meter dari lantai dibuat dari pasangan batu
bata dan diplaster sedangkan bagian atasnya boleh dibuat dari dinding papan
ukuran 2/20 cm dengan rangka dinding kayu ukuran 5/10 cm dari kayu kelas
II

8. Atap Kamar Mandi dan WC dari bahan seng BJLS 0,20 mm.

9. Penggantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan
diatas harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas

10. Kamar Mandi dan WC harus dilengkapi dengan Kloset jongkok, kran air, bak
tampungan air, dan saluran pembuangan air kotor. Kamar Mandi dan WC
juga harus dilengkapi dengan Septictank dan saluran resapan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 24


Spesifikasi Teknis

11. Posisi dan letak Kamar Mandi dan WC ditentukan bersama antara Konraktor
Pelaksana dengan Konsultan Pengawas. Letak Kantor Lapangan tidak boleh
berada terlalu dengan dekat dengan posisi bangunan yang sedang dikerjakan

Pasal 5 : Gudang Penyimpanan Material


1. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri harus membuat Gudang penyimpanan
material untuk melindungi material yang tidak segera dipakai

2. Pemanfaatan bangunan lama dilokasi pekerjaan untuk keperluan Gudang


Penyimpanan Material harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas dan
Pengguna Jasa

3. Gudang Penyimpanan Material mempunyai ukuran minimal 60 m2

4. Gudang Penyimpanan Material tidak boleh dibuat dari material hasil


bongkaran bangunan lama

5. Lantai Gudang Penyimpanan Material minimal dari perkerasan beton dengan


campuran 1 Sm : 2 Ps : 3 Kr dengan permukaan yang rata dan diperhalus
dengan acian beton

6. Untuk tempat penyimpanan material semen lantainya harus dibuat benar-


benar terlindung dari rembesan air

7. Jika Gudang Penyimpanan Material harus dibuat dalam bentuk bangunan


panggung maka lantai Gudang Penyimpanan Material dibuat dari papan
ukuran 2.5/25 cm dengan jarak balok-balok lantai ukuran 5/10 cm minimal 50
cm dari kayu dengan kelas II

8. Dinding Gudang Penyimpanan Material minimal papan ukuran 2/20 cm


dengan rangka dinding kayu ukuran 5/10 cm dari kayu kelas II. Dinding dapat
juga dibuat dari bahan multiplek tebal 6 mm

9. Atap Gudang Penyimpanan Material dari bahan seng BJLS 0,20 mm

10. Penggantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan
diatas harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 25


Spesifikasi Teknis

11. Posisi dan letak Gudang Penyimpanan Material ditentukan bersama antara
Konraktor Pelaksana dengan Konsultan Pengawas, Letak Gudang
Penyimpanan Material tidak boleh berada terlalu dekat dengan posisi
bangunan yang sedang dikerjakan

12. Gudang Penyimpanan Material sebaiknya tidak diletakkan didalam lokasi


pekerjaan kecuali dalam keadaan memaksa dan sulit mencari lokasi lain

Pasal 6 : Barak Pekerja


1. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri harus membuat Barak Pekerja untuk
keperluan pekerja yang menginap dilokasi pekerjaan.

2. Pemanfaatan bangunan lama yang ada dilokasi pekerjaan untuk keperluan


Barak Kerja harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas dan Pengguna
Jasa.

3. Barak Pekerja harus sanggup menampung semua pekerja yang menginap


dilokasi pekerjaan atau minimal berukuran 50 m2.

4. Pada Barak Pekerja harus disediakan juga dapur untuk keperluan kosumsi
sehari-hari para pekerja.

5. Barak Pekerja tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan
lama.

6. Lantai Barak Pekerja minimal dari perkerasan beton dengan campuran 1 Sm :


2 Ps : 3 Kr dengan permukaan yang rata dan diperhalus dengan acian beton.

7. Jika Barak Pekerja harus dibuat dalam bentuk bangunan panggung maka
lantai Gudang Penyimpanan Material dibuat dari papan ukuran 2.5/25 cm
dengan jarak balok-balok lantai ukuran 5/10 cm minimal 50 cm dari kayu
dengan kelas II.

8. Dinding Barak Pekerja minimal papan ukuran 2/20 cm dengan rangka


dinding kayu ukuran 5/10 cm dari kayu kelas II. Dinding dapat juga dibuat dari
bahan multiplek tebal 6 mm.

9. Atap Barak Pekerja dari bahan seng BJLS 0,20 mm

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 26


Spesifikasi Teknis

10. Penggantian bahan dan material berbeda dari seperti yang telah disebutkan
diatas harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas

11. Posisi dan letak Barak Pekerja ditentukan bersama antara Konraktor
Pelaksana dengan Konsultan Pengawas

12. Barak Pekerja tidak boleh diletakkan didalam lokasi pekerjaan.

Pasal 7 : Bengkel Kerja / Pabrikasi


1. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri harus membuat Bengkel Kerja atau
tempat Pabrikasi terutama untuk pekerjaan yang berhubungan dengan kayu
dan baja profil dan baja tulangan

2. Pemanfaatan bangunan lama yang telah ada dilokasi pekerjaan untuk


keperluan Bengkel Kerja harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas
dan Pengguna Jasa

3. Ukuran minimal Bengkel Kerja pekerjaan untuk masing-masing pekerjaan


pabrikasi adalah 40 m2

4. Bengkel Kerja tidak boleh dibuat dari material hasil bongkaran bangunan
lama

5. Bangunan Bengkel Kerja dapat dibuat dari konstruksi kayu.

6. Atap Bengkel Kerja dari bahan seng BJLS 0,20 mm.

7. Bengkel Kerja tidak boleh ditempatkan dalam lokasi pekerjaan kecuali


ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 8 : Instalasi Air Bersih Dan Instalasi Listrik Sementara


1. Penyedia Jasa atas biaya sendiri harus menyediakan Instalasi air bersih dan
Instalasi listrik sementara selama berlangsungnya masa pelaksanaan
pekerjaan untuk keperluan operasional dan keperluan pekerjaan-pekerjaan
konstruksi

2. Kontraktor tidak dibenarkan menggunakan Instalasi Listrik dan Instalsi Air


Bersih dan Sumber Air Bersih yang telah ada dilokasi pekerjaan tanpa
persetujuan Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 27


Spesifikasi Teknis

Pasal 9 : Keselamatan Kerja dan P3K


1. Penyedia Jasa harus menyediakan perlengkapan keamanan kerja untuk
semua pekerja yang berada dalam lokasi pekerjaan dan tamu yang
berkunjung kelokasi pekerjaan.
2. Perlengkapan keamanan kerja dapat berupa alat-alat seperti berikut ini :
1. Helm Pelindung Kepala;
2. Sepatu untuk melindungi kaki;
3. Pemadam Kebakaran; dan
4. Kotak P3K untuk pertolongan pertama pada kecelakaan kerja.
3. Jika terjadi kecelakaan kerja di lokasi pekerjaan yang berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan maka Penyedia Jasa diwajibkan mengambil segala
tindakan guna kepentingan si korban.
4. Semua biaya yang diperlukan untuk perawatan dan pengobatan korban
kecelakaan dilokasi pekerjaan menjadi tanggungan Penyedia Jasa.
5. Yang dimaksud dengan korban dilokasi pekerjaan yang menjadi tanggung
jawab Penyedia Jasa adalah :
a. Personil atau semua tenaga kerja Penyedia Jasa;
b. Personil Konsultan Pengawas ;
c. Personil Konsultan Perencana;
d. Pengguna Jasa dan para wakilnya;
e. Tamu yang berkunjung kelokasi pekerjaan; dan
f. Orang yang berada dalam lokasi pekerjaan dengan ijin dan sepengetahuan
Penyedia Jasa.

Pasal 11 : Penjaga Keamanan Lokasi Pekerjaan


1. Penyedia Jasa dengan biaya sendiri harus menyediakan tempat/pos penjaga
keamanan lokasi pekerjaan beserta minimal 2 orang penjaga keamanan yang
bekerja selama 24 jam.

2. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan bentuk dan dimensinya


ditentukan oleh Penyedia Jasa.

3. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan tidak boleh berada di


dalam lokasi pekerjaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 28


Spesifikasi Teknis

BAB IV
PEKERJAAN AWAL

Pasal 1 : Pembersihan Lapangan


1. Penyedia Jasa harus membersihkan lokasi pekerjaan dari segala sesuatu yang
dapat menggangu pelaksanaan pekerjaan seperti bangunan lama, hasil
bongkaran bangunan lama, pepohonan, semak belukar, dan tanah humus.

2. Penyedia Jasa harus melakukan pengupasan terhadap tanah humus setebal


minimal 30 cm sebelum dilakukan pekerjaan konstruksi.

3. Yang dimaksud dengan Muka Tanah Dasar pada Gambar Rencana adalah
muka tanah yang telah bersih dari pepohonan, semak belukar, dan lapisan
tanah humus atau muka tanah timbun yang telah dipadatkan kecuali
diitentukan lain dalam Gambar Rencana.

4. Hasil bongkaran bangunan lama dan pengupasan tanah humus tidak boleh
dipakai sebagai material timbunan atau diolah kembali untuk dipakai sebagai
material bangunan.

5. Material yang dihasilkan dari bongkaran bangunan lama dan pengupasan


lapisan humus harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan dan dibuang sejauh
mungkin dari lokasi pekerjaan atau ketempat yang tidak menggangu
lingkungan hidup.

6. Hasil bongkaran bangunan lama dan pengelupasan lapisan humus tidak boleh
berada dilokasi pekerjaan lebih dari 3 (tiga) hari.

Pasal 2 : Pembongkaran Konstruksi Bangunan Lama


1. Penyedia Jasa harus membongkar Konstruksi Bangunan Lama atau sisa
bangunan lama sesuai dengan Gambar Rencana atau Bill of Quantity

2. Sebelum melakukan pekerjaan pembongkaran Penyedia Jasa harus membuat


permohonan tertulis kepada Konsultan Pengawas dan diketahui Konsultan
Pengawas serta Pengguna Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 29


Spesifikasi Teknis

3. Dalam melakukan pembongkaran bangunan lama Penyedia Jasa harus


menjamin untuk tidak merusak bangunan disekitar lokasi pekerjaan dan
bangunan-bangunan yang oleh Pengguna Jasa tidak diijinkan untuk
dibongkar.

4. Kerusakan-kerusakan bangunan lama dan bangunan disekitar lokasi


pekerjaan akibat aktifitas pembongkaran bangunan oleh Penyedia Jasa
menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa apabila ada tuntutan ganti rugi oleh
pemilik bangunan.
5. Hasil Bongkaran bangunan lama adalah milik Pengguna Jasa atau pemilik
bangunan. Penyedia Jasa bertanggung jawab penuh terhadap keamanan,
kehilangan dan pemanfaatan hasil bongkaran bangunan lama oleh pihak-
pihak ketiga tanpa seizin Pengguna Jasa atau pemilik bangunan.

6. Hasil bongkaran bangunan lama tidak boleh dimanfaatkan kembali oleh


Penyedia Jasa untuk material bangunan didalam lokasi maupun diluar lokasi
proyek tanpa seizin Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa.

Pasal 3 : Penentuan Letak Bangunan (Setting Out)


1. Penyedia Jasa harus melakukan Seetting Out atau pengukuran kembali akan
kebenaran posisi bangunan yang akan dibangun seperti yang telah ada dalam
Lay Out bangunan pada Gambar Rencana.

2. Pekerjaan Setting Out yang dilakukan oleh Penyedia Jasa harus diketahui dan
didampingi oleh Konsultan Pengawas, Konsultan Perencana, Pengguna Jasa
dan Pemilik Bangunan

3. Pekerjaan Setting Out tidak boleh dilakukan secara manual tetapi harus
menggunakan alat ukur seperti Theodolit dan Waterpas

4. Hasil pekerjaan Setting Out harus menghasilkan satu ketetapan bersama


yang pasti akan elevasi tanah, elevasi bangunan, posisi penempatan
bangunan dan batas-batas lahan kerja. Ketetapan akan elevasi dan posisi
bangunan harus direalisasikan dilapangan dengan memasang patok-patok
sementara dari kayu ukuran 5/7 cm yang ditanam minimal 30 cm dalam
tanah dan ujungnya ditandai dengan cat minyak

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 30


Spesifikasi Teknis

5. Hasil pekerjaan Seetting Out tidak boleh berbeda dengan Lay Out bangunan
yang ada dalam Gambar Rencana kecuali dengan alasan-alasan kondisi lahan
existing yang berubah dan alasan-alasan teknis yang disetujui oleh Konsultan
Perencana atau Konsultan Pengawas

6. Perubahan-perubahan posisi bangunan karena alasan keterbatasan lahan


atau berubahanya kondisi existing lahan harus disetujui oleh Konsultan
Perencana, Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa.

7. Penyedia Jasa harus membuat gambar hasil pekerjaan Seeting Out dan
disetujui oleh Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa.

Pasal 4 : Pagar Proyek Sementara Lokasi Pekerjaan


1. Penyedia Jasa harus melindungi lokasi pekerjaan selama berlangsungnya
pekerjaan konstruksi dari ganguan luar.

2. Bentuk perlindungan tersebut dapat berupa Pagar Seng BJLS 0,20 mm


dengan rangka kayu setinggi 2 meter dari muka tanah dan dicat dengan rapi.
3. Pagar Pelindung lokasi pekerjaan harus segera dibuat setelah hasil pekerjaan
Setting Out disetujui oleh Konsultan Pengawas, Konsultan Perencana dan
Pengguna Jasa.

Pasal 5 : Pemasangan Bouwplank


1. Penyedia Jasa harus melakukan pemasangan Bouwplank sebagai acuan tetap
pada semua bangunan yang akan dikerjakan termasuk septictank dan Ground
Resevoir

2. Jarak pemasangan bouwplank dari struktur terluar bangunan yang akan


dibangun minimal 1 m dan maksimal 2 m

3. Bouwplank dibuat dari tiang-tiang kayu ukuran 5/7 cm yang ditanam dalam
tanah minimal 40 cm dan dengan jarak maksimal setiap tiang adalah 2 meter.
Untuk keperluan acuan elevasi dipakai papan kayu 2,5/25 cm atau kayu
ukuran 2,5/7 cm yang dipaku pada tiang-tiang kayu 5/7 cm

4. Bouwplank harus mempunyai posisi dan elevasi yang tetap terhadap


bangunan yang akan dibangun dan tidak boleh berubah posisi dan elevasinya
sebelum struktur bangunan yang paling rendah seperti pondasi dan sloof
selesai dikerjakan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 31


Spesifikasi Teknis

5. Posisi penempatan bouwplank harus sesuai dengan hasil pekerjaan Seeting


Out

6. Hasil pekerjaan pemasangan bouwplank harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 32


Spesifikasi Teknis

BAB V
ISU – ISU LINGKUNGAN

Pasal 1 : Sanitasi
1. Penyedia Jasa Wajib menyediakan toilet sementara untuk para pekerjanya
di lapangan

2. Penyedia Jasa bertanggung jawab terhadap pengosongan dan pembersihan


toilet dan lumpurnya yang diindetifikasikan dan diusulkan oleh Dinas
Kebersihan Dan Pertamanan Kota/Kabupaten.

3. Penyedia Jasa harus membongkar toilet sementara tersebut setelah proses


pembangunan dan konstruksi selesai dan membersihkan lahannya sesuai
kebutuhan.

Pasal 2 : Limbah Cair


1. Penyedia Jasa harus menyediakan lokasi yang aman untuk menyimpan
limbah padat (solid waste)

2. Penyedia Jasa harus membersihkan lokasi kerja dan sekitarnya dari bahan
buangan yang ditinggalkan selama proses konstruksi, termasuk
membersihkan kertas plastik, kertas bekas semen, plastik pengikat dan kayu
bekas pelindung barang, minimal sekali dalam 2 minggu dan sebelum serah
terima ke pemilik rumah ke lokasi pembuangan resmi yang terdekat.

3. Penyedia Jasa harus membersihkan lokasi kerja dan sekitarnya dari bahan
buangan lain yang ditinggalkan oleh staf Kontraktor selama proses
konstruksi.

4. Penyedia Jasa harus bertangung jawab dalam mengatur pengangkutan dan


buangan akhir dari limbah padat tidak beracun pada tempat pembuangan
akhir yang sudah ditunjuk oleh pemerintah kota/kabupaten.

5. Penyedia Jasa harus bertanggung jawab untuk menyimpan limbah


berbahaya pada tempat yang aman, pada lokasi kerja.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 33


Spesifikasi Teknis

6. Penyedia Jasa harus bertanggung jawab terhadap pembuangan akhir


limbah berbahaya, terutama berhubungan dengan pemerintah
kota/kabupaten, Dinas Kebersihan dan Pertamanan.

7. Penyedia Jasa harus bertanggung jawab atas pemisahan benda-benda tak


berguna dari lokasi kerja, setelah pekerjaan selesai.

Pasal 3 : Air Bersih


1. Penyedia Jasa harus menyediakan kebutuhan air bersih untuk proses
konstruksi.

2. Penyedia Jasa harus menjamin bahwa penyedian air untuk kebutuhan


sanitasi tersedia dalam jumlah yang mencukupi dalam gedung kerja.

3. Penyedia Jasa harus bertangung jawab untuk menjamin bahwa aliran air
dari lokasi pekerjaan konstruksi tidak mencemari lingkungan sekitar.

Pasal 4 : Polusi Udara


1. Penyedia Jasa harus melakukan langkah pengukuran yang memadai, seperti
penyemprotan air ke lokasi kerja dan jalan, minimasi pencemaran dari
debu.

2. Penyedia Jasa harus menjamin bahwa kenderaan dan peralatan proyek


dipelihara dengan baik, mengikuti standard emisi.

Pasal 5 : Polusi Suara


1. Penyedia Jasa harus mengatur jam kerja sehingga kemungkinan bising yang
ditimbulkan tidak menggangu masyarakat setempat, antara jam 5 sore s/d
8 pagi.

3. Penyedia Jasa harus melakukan koordinasi dengan Geuchik/Kepala


Desa setempat bilamana ada perubahan waktu kerja.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 34


Spesifikasi Teknis

BAB VI
PEKERJAAN QUALITY KONTROL

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pekerjaan Quality Kontrol atau Pemeriksaan Kualitas meliputi semua
percobaan-percobaan dan pengujian-pengujian terhadap material
bangunan serta pemeriksaan-pemeriksaan terhadap hasil kerja Penyedia
Jasa

2. Yang dimaksud dengan Pekerjaan Quality Kontrol atau Pemeriksaan Kualitas


dalam Proyek ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan oleh Penyedia
Jasa berikut ini :
a. Pemeriksaan dan Pembuatan Job Mix Disain Beton;
b. Pemeriksaan Kualitas Material Beton;
c. Pemeriksaan Dan Uji Job Mix Formula;
d. Pemeriksaan Mutu Beton;
e. Pemeriksaan Kuat Tarik Baja Tulangan;
f. Pemeriksaan Kualitas Material Baja Profil & Alat Sambung;
g. Pemeriksaan Kepadatan dan Sifat-Sifat Fisik Material Timbunan yaitu
Sand Cone dan tes CBR;
h. Pengujian Daya Dukung Pondasi dengan PDA Test;
i. Pemeriksaaan-Pemeriksaan Lain yang disyaratkan dan diminta oleh
Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Pengguna Jasa.

4. Semua material bangunan harus diperiksa dan dibuktikan kualitasnya


dengan biaya sendiri oleh Kontarktor Pelaksana dengan cara-cara yang
disetujui oleh Konsultan Pengawas

5. Semua pekerjaan Quality Kontrol yang dilakukan oleh Penyedia Jasa harus
diketahui, dihadiri dan disetujui oleh Konsultan Pengawas, Konsultan
Perencana serta Pengguna Jasa.

6. Komponen-Komponen bangunan/struktur yang gagal dalam pemeriksaan


kualitas berdasarkan laporan Laboratorium dan Konsultan Pengawas, maka
komponen-komponen bangunan/struktur tersebut dengan biaya sendiri
harus dibongkar oleh Penyedia Jasa dan digantikan dengan yang baru.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 35


Spesifikasi Teknis

Pasal 2 : Biaya Quality Kontrol


1. Semua biaya yang harus dikeluarkan untuk pekerjaan Quality Kontrol
seperti yang disebutkan dalam Pasal 1 adalah menjadi tanggungan dan
dibebankan kepada Penyedia Jasa walaupun tidak disebutkan dalam Bill of
Quantity.

2. Biaya Penginapan, Transportasi dan Konsumsi Konsultan Pengawas,


Konsultan Perencana dan Pengguna Jasa yang turut hadir dalam Pekerjaan
Quality Kontrol menjadi tanggungan dan dibebankan kepada Penyedia Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 36


Spesifikasi Teknis

BAB VII
PEKERJAAN TANAH DAN PASIR

Pasal 1 : Tanah Timbun


1. Bahan untuk urugan tersebut menggunakan material bekas galian atau
dengan mendatangkan dari lokasi lain dan harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
 Jenis tanah harus bergradasi baik dan bebas dari tanah organis,
kotoran dan batuan yang berukuran lebih besar dari 100 mm. Tanah
urug harus mempunyai Liquid Limit (LL) 30 persen atau kurang, Indeks
Plastis (PI) 15 persen atau kurang, dan tidak lebih dari 20 persen
melampaui saringan No. 200. kecuali ditentukan lain oleh KP.

- Konsultan Pengawas berhak menolak material yang tidak memenuhi


persyaratan tersebut diatas.

2. Pelaksanaan pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis dengan tebal


maksimum tiap-tiap lapisan 20 cm tanah lepas dan dipadatkan sampai
mencapai Kepadatan Maksimum pada Kadar Air Optimum, dan mencapai
peil permukaan tanah yang direncanakan. Test Kepadatan Optimum harus
mengikuti ASTM.D-1557.

3. Pada lokasi yang diurug harus diberi patok-patok, ketinggian sesuai dengan
ketinggian rencana. Untuk daerah-daerah dengan ketinggian tertentu,
dibuat patok dengan warna tertentu pula.

4. Pada daerah yang basah/ada genangan air, Kontraktor harus membuat


saluran-saluran sementara untuk mengeringkan lokasi-lokasi tersebut,
misalnya dengan bantuan pompa air.

5. Lokasi yang akan diurug harus bebas dari lumpur atau kotoran, sampah dan
sebagainya.

6. Pemadatan harus dilakukan dengan menggunakan kadar air yang sesuai


dengan yang diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium. Pemadatan
urugan dilakukan dengan memakai alat pemadat yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas .

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 37


Spesifikasi Teknis

7. Jika urugan sangat tebal, maka pengurugan dan pemadatan harus dilakukan
secara berlapis, dengan ketebalan lepas tidak lebih dari 20 cm. Selanjutnya
derajat kepadatan harus memenuhi persyaratan seperti tercantum dalam
gambar rencana. Jika tidak tercantum dalam gambar rencana, maka
pemadatan harus dilakukan sampai mencapai derajat kepadatan minimal
98 %.

8. Toleransi pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian dan


pengurugan adalah ± 50 mm terhadap kerataan yang ditentukan. Agar hasil
pemadatan yang sudah disetujui dapat tetap terjaga, maka Kontraktor
wajib membuat sistem drainase sedemikian, sehingga daerah yang sudah
dipadatkan aman terhadap air. Sistem drainase yang akan digunakan harus
mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas.

9. Untuk mencapai kepadatan yang optimal, bahan harus ditest


dilaboratorium, untuk mendapatkan nilai Standard Proctor/Kepadatan
Maksimum pada Kadar Air Optimum. Laboratorium yang memeriksa harus
laboratorium yang disetujui oleh Konsultan Pengawas

10. Untuk bahan yang sama, setiap lapis tanah yang sudah dipadatkan harus
ditest juga dilapangan, yaitu 1 (satu) test untuk tiap 500 m2, yaitu dengan
sistim "Field Density Test". Jika urugan cukup tebal maka dengan hasil
kepadatannya harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
 Untuk lapisan yang letaknya lebih dalam dari 50 cm dari permukaan
rencana, kepadatannya harus mencapai minimal 95 % .
 Untuk lapisan 50 cm dari permukaan rencana, kepadatannya 98 % dari
Standard Proctor.

11. Hasil test dilapangan harus tertulis dan diketahui oleh Konsultan Pengawas.
Semua hasil-hasil pekerjaan harus diperiksa kembali terhadap patok-patok
referensi untuk mengetahui sampai dimana kedudukan permukaan tanah
tersebut.

12. Bagian permukaan yang telah dinyatakan padat harus dipertahankan, dijaga
dan dilindungi agar jangan sampai rusak akibat pengaruh luar misalnya
basah oleh air hujan, panas matahari dan sebagainya. Perlindungan dapat
dilakukan dengan dengan menutupi permukaan dengan plastik.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 38


Spesifikasi Teknis

Pekerjaan pemadatan dianggap cukup, setelah hasil test memenuhi syarat


dan mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas

13. Gumpalan-gumpalan tanah harus digemburkan dan bahan tersebut harus


dicampur dengan cara menggaruk atau cara sejenisnya sehingga diperoleh
lapisan yang kepadatannya sama.

14. Setiap lapisan harus dikerjakan sesuai dengan kepadatan yang dibutuhkan
dan diperiksa melalui pengujian lapangan yang memadai, sebelum dimulai
dengan lapisan berikutnya.
Bilamana bahan tersebut tidak mencapai kepadatan yang dikehendaki,
lapisan tersebut harus diulangi kembali pekerjaannya atau diganti, dengan
cara-cara pelaksanaan yang telah ditentukan, guna mendapatkan
kepadatan yang dibutuhkan.
Jadwal pengujian harus diajukan oleh Kontraktor kepada Konsultan
Pengawas/Konsultan Perancang.

15. Penentuan kepadatan dilapangan dapat dipergunakan salah satu dari


cara/prosedur dibawah ini :
 "Density of soil inplace by sand-cone method" AASHTO.T.191.
 "Density of soil inplace by driven cylinder method " AASHTO.T.204.
 "Density of soil inplace by the rubber ballon method" AASHTO.T.205.

Atau cara-cara lain yang harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu


dari Konsultan Pengawas.
Kontraktor harus mengajukan cara pengujian yang akan digunakan kepada
Konsultan Pengawas.

16. Setelah pemadatan selesai, sisa urugan tanah harus dipindahkan ketempat
tertentu yang disetujui oleh Konsultan Pengawas

17. Jika hasil laboratorium belum memenuhi persyaratan maka Kontraktor


wajib untuk melakukan pemadatan kembali, sehingga hasilnya memenuhi
syarat. Semua biaya yang timbul menjadi tanggung jawab Kontraktor.

Pasal 2 : Pasir Urug


1. Pasir Urug hanya dipergunakan untuk urugan bawah lantai bangunan,
timbunan, pasir alas pondasi batu gunung serta alas pekerjaan lantai kerja
beton ( Line Concrete ) Pondasi Plat Lantai Beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 39


Spesifikasi Teknis

2. Pasir Urug tidak untuk digunakan pada pekerjaan beton struktural dan
beton non struktural.

3. Pasir Urug terdiri dari butiran-butiran yang keras dan bersifat kekal.

4. Pasir urug harus berasal dari pasir sungai dan bukan pasir laut.

5. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 10 % dari berat keringnya.

6. Pasir urug harus dipadatkan dengan alat pemadat Stemper hingga


mencapai kepadatan yang disetujui oleh Konsultan Pengawas atau jenuh
air sebelum dilakukan pekerjaan lain diatasnya.

7. Hasil pemadatan tanah harus disetujui oleh Konsultan Pengawas

Pasal 3 : Galian Pipa Air Dan Instalasi Listrik


1. Yang dimaksud dengan galian pipa adalah semua pekerjaan yang
berhubungan dengan Instalasi Air Kotor, Instalasi Air Bersih, Instalasi
Limbah Kimia dan Instalasi Listrik Bawah Tanah.

2. Bentuk dan kedalaman galian harus sesuai dengan Gambar Rencana atau
menurut petunjuk Konsultan Pengawas.

3. Kedalaman galian pipa air bersih dan air kotor minimal 50 cm dari muka
tanah dasar atau muka tanah timbun kecuali ditentukan lain dalam Gambar
Rencana dan Bill of Quantity. Khusus untuk galian Instalasi Listrik harus
dibuat minimal 80 cm dari muka tanah dasar atau muka tanah timbun.

4. Galian pipa tidak boleh menggangu struktur dan konstruksi bangunan lain
yang ada disekitarnya.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 40


Spesifikasi Teknis

BAB VIII
PEKERJAAN PONDASI SUMURAN

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera
pada gambar sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Ruang Workshop
c. Mesjid
d. Asrama Laki-Laki
e. Asrama Perempuan

Pasal 2 : Pasir Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila
lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton
adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.

7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat
merusak beton.

8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 41


Spesifikasi Teknis

Pasal 3 : Kerikil Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila
lebih dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6


mm.
7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.

8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural


atau beton dengan mutu dibawah K-250.

10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 3 : Semen Portland


1. Terdaftar dalam merk dagang.

2. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan
beton struktural maupun beton non struktural.

3. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.

4. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 42


Spesifikasi Teknis

5. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen
Portland Type I.

6. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk


bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 4 : Air
1. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.

2. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat
merusak beton.

3. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan
dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas sebelum digunakan.

Pasal 5 : Tulangan Beton


2. Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas

3. Besi tulangan yang digunakan menggunakan Besi ulir diameter 19 mm.

4. Semua Besi tulangan mempunyai tegangan tarik/luluh besi minimal 3900


kg/cm2 atau 390 MPa.

5. Kebenaran akan tegangan tarik/luluh besi tulangan harus dibuktikan


dengan percobaan/uji tarik pada Laboratorium Beton minimal untuk 3
benda uji.

6. Besi tulangan mempunyai bentuk dan penampang yang sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai Gambar Rencana.

7. Besi ulir yang telah sekali dibengkokkan tidak boleh dibengkokkan lagi
dalam arah yang berlawanan.

8. Besi tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari


hubungan langsung dengan tanah dan terlindung dari air hujan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 43


Spesifikasi Teknis

9. Semua peraturan tentang besi tulangan di Indonesia untuk bangunan


gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 6 : Rancangan Campuran Beton (Job Mix Disain)


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton struktural dengan
mutu K-250 Penyedia Jasa harus membuat Rancangan Campuran Beton
(Job Mix Disain).

2. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang
diperoleh dari pengujian benda uji kubus umur 28 hari minimal 20 benda
uji.

3. Mutu beton untuk masing-masing komponen struktur adalah seperti yang


dijelaskan dalam Gambar Rencana dan Bill of Quantity.

4. Job Mix Disain adalah hasil pekerjaan ahli beton pada Laboratorium Beton
yang diakui oleh Pemerintah.

3. Material Pasir dan Batu Pecah yang dipakai untuk Job Mix Disain haruslah
material yang akan dipakai nantinya pada pelaksanaan dilapangan dan
material tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup dilokasi pekerjaan
sampai volume pekerjaan beton selesai dikerjakan.

4. Penggantian material dengan material selain material dalam Laporan Job


Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton tidak dibenarkan.

5. Penggantian material dengan material selain material dalam Laporan Job


Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton mengharuskan
Penyedia Jasa untuk membuat Job Mix Disain baru.

6. Laporan Job Mix Disain untuk masing-masing mutu beton minimal harus
mencantumkan :
a. Laporan hasil penelitian Pasir Beton;
b. Laporan hasil penelitian Batu Pecah;
c. Komposisi Pasir Beton;
d. Komposisi Batu Pecah;.
e. Komposisi Air Beton;
f. Komposisi Zat Additive jika digunakan;
g. Nilai Slump Rencana; dan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 44


Spesifikasi Teknis

h. Nilai Faktor Air semen.

7. Job Mix Disain yang dibuat oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas sebelum dilaksanakan.

8. Semua aturan yang disyaratkan dalam Job Mix Disain dan telah disetujui
oleh Konsultan Pengawas harus diikuti dan dilaksanakan oleh Penyedia
Jasa.

Pasal 7 : Rencana Campuran Lapangan (Job Mix Formula)


1. Berdasarkan Job Mix Disain yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas,
Penyedia Jasa harus membuat Rencana Campuran Lapangan (Job Mix
Formula) beton struktural dengan mutu K-250.

2. Job Mix Formula tidak boleh berbeda dengan Job Mix Disain terutama dari
segi komposisi material beton.

3. Hasil perhitungan Job Mix Formula harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

4. Penyedia Jasa harus membuat media standar berupa bak-bak dari kayu
atau timba-timba plastik yang dipakai untuk mentakar komposisi material
berdasarkan perhitungan Job Mix Formula.

5. Pentakaran komposisi material campuran beton dengan bak-bak standar


dilokasi pekerjaan tidak boleh mengurangi dan berbeda dengan komposisi
material beton yang ada dalam Job Mix Disain.

6. Penyedia Jasa harus melakukan pengujian hasil perhitungan Job Mix


Formula dengan media benda uji kubus beton ukuran 20x20x20 cm minimal
5 benda uji.

7. Hasil pengujian Job Mix Formula di Laboratorium Beton yang menghasilkan


mutu beton yang tidak sesuai dengan mutu beton pada Job Mix Disain
mengharuskan Penyedia Jasa melakukan perhitungan ulang akan Job Mix
formula atau merubah Job Mix Disain.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 45


Spesifikasi Teknis

8. Tidak tercapainya mutu beton seperti yang diinginkan karena kesalahan


dalam perhitungan Job Mix Formula sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa.

Pasal 8 : Perakitan Tulangan


1. Perakitan tulangan balok dan kolom dapat dilakukan di bengkel kerja oleh
Penyedia Jasa atau langsung pada lokasi konstruksi.

2. Khusus untuk Pondasi Plat Lantai Beton perakitan tulangan harus dilakukan
langsung lokasi konstruksi atau Bekisting.

3. Dimensi, model, bengkokan, jarak dan panjang penyaluran tulangan harus


sesuai dengan Gambar Rencana dan Shop Drawing, standar Peraturan
Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI 2847:2013.

4. Penyedia Jasa harus menyediakan Shop Drawing dan daftar bengkokan,


dimensi, model, dan panjang penyaluran tulangan pada bengkel kerja untuk
menghindari kesalahan dalam pekerjaan perakitan tulangan.

5. Tulangan balok dan kolom yang telah selesai dirakit jika tidak langsung
dipasang harus diletakan ditempat yang terlindungi dari hujan dan tidak
boleh bersentuhan langsung dengan tanah.

6. Untuk tulangan plat lantai dan plat dack dirakit langsung diatas bekisting
yang telebih dahulu telah selesai dikerjakan.

7. Semua tulangan utama balok dan kolom harus terikat dengan baik oleh
sengkang dengan alat ikat kawat beton.

8. Jaring tulangan plat harus terikat dengan baik satu dengan yang lain dengan
alat ikat kawat beton.

9. Tulangan yang telah selesai dirakit tidak boleh dibiarkan lebih dari 3 hari
dalam bekisting.

Pasal 9 : Sambungan Antar Tulangan


1. Sambungan antara tulangan Pile cap dengan tulangan tiang pancang ,
ditentukan lain dalam Gambar Rencana dan harus sesuai dengan syarat-

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 46


Spesifikasi Teknis

syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI
2847:2013.

2. Sambungan Utama antara Tulangan Pile Cap dengan Tulangan Utama Tiang
Pancang harus sesuai dengan gambar rencana.

3. Titik-titik sambungan tulangan lewatan pada plat lantai tidak boleh dibuat
pada posisi satu garis lurus. Sambungan harus dibuat selang-seling atau zig-
zag antara batang yang disambung dengan batang yang tidak disambung.

4. Panjang sambungan lewatan jika tidak ditentukan lain dalam Gambar


Rencana, Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI 2847:2013 harus
diambil minimal 40 kali diameter batang yang disambung.

5. Sambungan-sambungan harus dibuat antara sesama tulangan utama. Tidak


dibenarkan dengan alasan apapun menggunakan tulangan extra (tulangan
tambahan) untuk menyambung tulangan utama dengan tulangan utama
lain kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK
SNI 2847:2013.

6. Penjangkaran tulangan atau kait-kait pada posisi pemutusan tulangan jika


tidak ditentukan lain dalam Gambar Rencana maka harus sesuai dengan
syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan
SK SNI 2847:2013.

7. Sambungan-sambungan pada kondisi pembeban tarik dan lentur pada


komponen balok, plat lantai dan plat dack ujung-ujung sambungan harus
dibuat kait (hook) kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia
(PBI) dan SK SNI 2847:2013.

8. Sambungan tulangan kolom harus dilakukan pada posisi permukaan sloof


dan plat lantai atau pada posisi tengah bentang kolom. Penyambungan
pada posisi selain pada posisi tersebut dengan alasan apapun tidak
dibenarkan.

Pasal 10 : Acuan/ Bekisting


1. Bahan utama bekisting adalah multiplek 9 mm yang diperkuat oleh balok-
balok kayu 5/7 cm atau 5/10 cm dari kayu kelas kuat III

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 47


Spesifikasi Teknis

2. Penggunaan papan kayu sebagai bekisting dengan alasan apapun tidak


diperbolehkan

3. Penggantian material bekisting dengan material selain yang disebutkan


pada point 1 harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas

4. Penyedia Jasa harus mengajukan Shop Drawing untuk bentuk konstruksi


bekisting balok, kolom, plat lantai, dan plat atap serta konstruksi lain yang
dianggap perlu oleh Konsultan Pengawas

5. Penggunaan bekisting system bongkar pasang dari bahan besi harus


disetujui oleh Konsultan Pengawas

6. Permukaan bekisting harus dilumuri atau dioleskan dengan cairan Residu


atau cairan Ter supaya hasil campuran beton tidak menempel pada
bekisting waktu akan dibuka sehingga dapat menghasilkan permukaan
beton yang rapi

7. Bentuk bekisting harus menghasilkan konstruksi akhir sesuai rencana.

8. Bekisting harus kokoh dan rapat sehingga pada waktu diisi dengan
campuran beton tidak bocor atau berubah bentuknya.

9. Hasil pekerjaan bekisting harus diperiksa kembali kebenaran elevasi,


kelurusannya terhadap arah vertikal oleh Penyedia Jasa dengan alat
Theodolit dan Waterpass. Pemeriksaan secara manual tidak dibenarkan.

10. Hasil pekerjaan bekisting harus disetujui oleh Konsultan Pengawas


sebelum dilakukan pekerjaan pengecoran beton.

11. Bekisting yang telah dicor beton tidak boleh dibuka kurang dari 28 hari
terhitung sejak waktu pengecoran kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Pengawas karena alasan penggunaan zat additive yang dapat mempercepat
proses pengerasan beton atau alasan-alasan teknis yang dapat
dipertanggung jawabkan .

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 48


Spesifikasi Teknis

12. Pekerjaan membuka bekisting tidak boleh merusak permukaan beton jika
hal ini terjadi Penyedia Jasa harus memperbaikinya dengan pekerjaan acian
beton.

13. Perbaikan permukaan beton yang rusak akibat kesalahan pembukaan


bekisting atau sebab lain harus disetujui oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 11 : Pengecoran Beton ( Casting Concrete )


1. Sebelum memulai pekerjaan pengecoran Penyedia Jasa harus memastikan
Acuan/bekisting telah selesai 100% dan telah disetujui oleh Konsultan
Pengawas

2. Pengecoran beton structural mutu K-250 hanya boleh dilakukan oleh


Penyedia Jasa jika Job Mix Disain, Job Mix Formula, Perakitan Tulangan,
Bekisting, Request Pekerjaan dan hal-hal lain yang diperlukan dan
berhubungan dengan pekerjaan pengecoran sudah disetujui oleh Konsultan
Pengawas

3. Sedapat mungkin untuk melakukan sekali pengecoran untuk setiap bagian


konstruksi sehingga dapat menghindari sambungan-sambungan beton.

4. Pengecoran dalam kondisi cuaca hujan tidak dibenarkan kecuali Penyedia


Jasa menjamin bahwa bekisting dan hasil pengecoran tidak berhubungan
langsung dengan air hujan.

5. Pengecoran beton harus dilakukan dengan Concrete Mixer (molen) dan


tidak diperbolehkan melakukan pengecoran dengan cara pengadukan
manual kecuali untuk beton-beton dengan mutu dibawah K-125 atau
nonstruktural.

6. Urutan pemasukan material beton dimulai dengan Batu Pecah Beton, Pasir
Beton, Semen, Air, dan Zat Additive (jika ada). Urutan ini bisa dirubah
dengan persetujuan Konsultan Pengawas.
7. Lama pengadukan material beton dalam Concrete Mixer minimal 1,5 menit
kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas.

8. Hasil pengadukan beton dalam Concrete Mixer apabila diputuskan oleh


Konsultan supervise sudah cukup langsung dituang dalam wadah yang
sebelumnya telah disiapkan oleh Kontrator Pelaksana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 49


Spesifikasi Teknis

9. Beton segar hasil pengadukan molen dapat diangkut dengan kereta dorong
oleh pekerja kelokasi bekisting untuk dituang.

10. Beton segar harus segera dituang kedalam bekisting dan tidak boleh
dibiarkan lebih dari 10 menit berada dalam wadah kereta sorong atau bak
tampungan beton. Penggunaan zat additive seperti Super Plasticizer juga
tidak membolehkan beton segar terlalu lama dalam wadah tampungan
kecuali disetujui oleh Konsultan Pengawas.

11. Beton segar yang telah dituangkan harus dipadatkan dengan Concrete
Vibrator sampai mencapai kepadatan optimum.

12. Tinggi jatuh penuangan beton untuk bekisting kolom minimal 1,5 meter.

13. Penuangan beton dalam balok, plat lantai, plat atap, dan kolom tidak boleh
menciptakam sangkar kerikil atau penumpukan kerikil pada posisi tententu
pada saat bekisting dibuka.

14. Jika terjadi sangkar kerikil Penyedia Jasa harus memperbaiki bagian itu
dengan mempergunakan beton campuran zat kimia khusu untuk
sambungan (joint) seperti Produk SIKA dengan persetujuan Konsultan
Pengawas.

15. Pengecoran beton tidak boleh dilakukan langsung diatas tanah Penyedia
Jasa harus membuat lantai kerja dari campuran 1 Sm : 3 Ps : 6 Kr sehingga
air semen tidak meresap dalam tanah dan bentuk penampang beton sesuai
dengan yang direncanakan.

16. Antara pengecoran pertama dengan pengecoran kedua untuk konstruksi


yang sama tidak boleh lebih dari 1 hari.

Pasal 12 : Beton Ready Mix (Beton Siap Curah)


1. Penggunaan beton Ready Mix oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas.

2. Penyedia Jasa tetap diwajibkan untuk menyerahkan Job Mix Disain kepada
Konsultan Pengawas terhadap semua mutu beton structural yang
menggunakan Beton Ready Mix.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 50


Spesifikasi Teknis

3. Job Mix Disain harus disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum


digunakan.

4. Kualitas beton yang dihasilkan oleh Batching Plant tetap menjadi tanggung
jawab Penyedia Jasa.

Pasal 13 : Pembongkaran Bekisting/Mal Beton


1. Bekisting tidak boleh dibuka/dibongkar dan dibebani jika beton dalam
bekisting belum berumur 28 hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Pengawas.

2. Walaupun ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas bekisting beton tetap


tidak boleh dibuka dan dibebani sebelum berumur minimal 21 hari.

3. Pembukaan dan pembebanan Bekisting beton kurang dari 14 hari karena


alasan adanya pemakaian Zat Additive yang dapat mempercepat
pengerasan beton harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 14 : Perawatan Beton (Curing)


1. Penyedia Jasa harus melakukan perawatan dan pemeliharaan terhadap
beton yang telah selesai dituang dalam bekisting.

2. Perawatan dapat berupa menutup permukaan beton dengan karung goni


kemudian menyiram air secara rutin kepermukaan beton sampai beton
berumur 28 hari. Penggunaan metode lain untuk perawatan beton harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas.

3. Perawatan harus terus menerus dilakukan minimal sampai beton berumur


28 hari atau sampai beton siap untuk dibebani menurut keputusan
Konsultan Pengawas.

Pasal 15 : Quality Control


1. Slump Test
a. Pemeriksaan kekentalan beton (kosistensi) harus dilakukan setiap beton
dituangkan dari Concrete Mixer atau minimal setiap 3 m3 pekerjaan beton
pada setiap mutu beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 51


Spesifikasi Teknis

b. Pemeriksaan kekentalan beton dilakukan dengan metode Slump Test


dimana nilai slump yang diperoleh harus sesuai dengan nilai slump rencana
yang ada pada Job Mix Disain.

2. Benda Uji Beton


a. Penyedia Jasa harus mengambil benda uji beton dalam bentuk kubus dan
slinder standar. Ukuran kubus adalah 20x 20x20 cm dan ukuran silinder
tinggi 30 cm dan diameter 15 cm.

b. Benda uji beton harus diambil minimal 20 benda uji untuk setiap mutu
beton yang berbeda atau minimal satu benda uji setiap 3 m3 beton dalam
satu kali pengecoran.

c. Pengambilan benda uji harus dilakukan secara acak dan selang seling antara
satu campuran dengan campuran yang lain untuk mutu beton yang sama.

d. Benda uji beton harus dirawat dalam bak dan terendam dalam air sampai
berumur 28 hari.

e. Pada benda uji beton harus dicantumkan mutu beton, nama benda uji, dan
tanggal pengambilan benda uji yang tidak mudah hilang dan luntur.

3. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton


a. Penyedia Jasa harus melakukan pemeriksaan terhadap kuat tekan beton
yang telah selesai mereka kerjakan minimal sebelum pekerjaan pengecoran
melebihi 50% dari total pekerjaan pengecoran.

b. Tujuan pemeriksaan kuat tekan beton adalah untuk mendapatkan Mutu


Beton hasil pelaksanaan pekerjaan pengecoran lapangan.

c. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang
diperoleh dari hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus ukuran 20 x 20
x 20 cm umur 28 hari dengan minimal 20 benda uji.

d. Pemeriksaan kuat tekan beton dilakukan di Laboratorium Beton dengan


minimal 20 benda uji kubus atau silinder untuk setiap mutu beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 52


Spesifikasi Teknis

e. Pemeriksaan kuat tekan beton pada Laboratorium Beton oleh Penyedia Jasa
harus didampingi oleh Konsultan Pengawas. Pemeriksaan kuat tekan beton
tanpa didampingi oleh Konsultan Pengawas hasilnya dianggap tidak sah.

f. Semua biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan pemeriksaan kuat tekan


beton ini dibebankan kepada Penyedia Jasa.

g. Mutu Beton hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus yang kurang dari
95% dari Mutu Beton Rencana dianggap gagal dan beton yang telah selesai
dikerjakan dilapangan harus dibongkar kecuali diputuskan lain oleh
Konsultan Perencana dengan disertakan Rekomendasi Ahli beton.

h. Penyedia Jasa tidak diperbolehkan melanjutkan pekerjaan pengecoran


beton jika hasil pemeriksaan kuat tekan beton menghasilkan kuat tekan
yang berbeda dengan kuat tekan beton rencana.

i. Perencanaan ulang untuk Job Mix Disain harus dilakukan oleh Penyedia Jasa
untuk beton yang gagal dalam uji kuat tekan jika dalam pemeriksaan oleh
Konsultan Pengawas bersama dengan Penyedia Jasa kegagalan kuat tekan
disebabkan oleh kesalahan dalam perencanaan campuran dan bukan
karena kesalahan pada tahap pelaksanaan.

j. Pemeriksaan kuat tekan beton selain dengan uji tekan pada laboratorium
beton harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

k. Laporan hasil pemeriksaan Mutu Beton harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

4. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton Dengan Cara Lain


a. Jika pemeriksaan Kuat Tekan Beton dengan cara Uji Tekan Kubus Beton
hasilnya meragukan dan tidak disetujui oleh Konsultan Perencana,
Konsultan Pengawas atau Pengguna Jasa, maka cara pemeriksaan mutu
beton dengan uji langsung pada konstruksi beton harus dilakukan.

b. Pemeriksaan mutu beton dengan uji langsung ke konstruksi beton jika tidak
ditentukan khusus oleh Konsultan Perencana maka harus dilakukan dengan
salah satu metode seperti dibawah ini :
- Metode Core Drill.
- Metode Hammer Test.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 53


Spesifikasi Teknis

c. Konsultan Perencana berhak menentukan metode mana yang akan dipakai


untuk pemeriksaan kuat tekan beton langsung ke konstruksi beton.

d. Posisi dan lokasi pengujian untuk masing-masing komponen struktur


ditentukan oleh Konsultan Perencana atau Konsultan Pengawas .

e. Jumlah titik pengujian jika tidak ditentukan oleh Konsultan Perencana,


maka harus diambil minimal 10 titk untuk masing-masing komponen
struktur dan masing-masing mutu beton.

f. Data Kuat Tekan yang diperoleh dari hasil uji langsung kuat tekan pada
konstruksi beton harus dikalkulasi kembali oleh Kontarktor Pelaksana untk
memperoleh Kuat Tekan karakteristik Beton (mutu beton).
g. Kuat Tekan Beton Karakteristik yang diperoleh dari uji langsung ke
konstruksi beton adalah hasil final yang harus diakui oleh Konsultan
Perencana, Konsultan Pengawas, Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa.

Pasal 16 : Lain - Lain


1. Persyaratan pekerjaan beton dari Pasal 1 sampai dengan Pasal 16 berlaku
untuk semua item pekerjaan beton structural (K-250) yang ada dalam
Proyek ini.

2. Hal-hal yang belum ditentukan dan diperlukan penjelasannya dalam proses


pelaksanaan pekerjaan ditentukan kemudian oleh Konsultan Perencana
bersama dengan Konsultan Pengawas dalam proses pelaksanaan pekerjaan
dengan persetujuan Pengguna Jasa.

3. Hal-hal yang ditentukan kemudian tersebut menjadi satu ketentuan yang


mengikat dan wajib untuk dilaksanakan oleh Penyedia Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 54


Spesifikasi Teknis

BAB IX
PEKERJAAN PONDASI TAPAK

Pasal 1 : Ruang Lingkup


2. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera
pada gambar sebagai berikut :
a. Gedung Utama
b. Ruang Workshop
c. Mesjid
d. Asrama Laki-Laki
e. Asrama Perempuan
f. Gapura
g. Rumah Dinas Type 80
h. Rumah Dinas Type 60
i. Tempat Wudhuk

Pasal 2 : Pasir Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila
lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton
adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.

7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat
merusak beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 55


Spesifikasi Teknis

8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 3 : Kerikil Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.

3. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila
lebih dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

7. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

8. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6


mm.
7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.

8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural


atau beton dengan mutu dibawah K-250.

10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 4 : Semen Portland


1. Terdaftar dalam merk dagang.

2. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan
beton struktural maupun beton non struktural.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 56


Spesifikasi Teknis

3. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.

4. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.

5. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen
Portland Type I.

6. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk


bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 5 : Air
1. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.

2. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat
merusak beton.

3. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan
dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas sebelum digunakan.

Pasal 6 : Tulangan Tapak


1. Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas

2. Besi tulangan yang digunakan yaitu menggunakan besi sebagai berikut;

a. Besi Utama menggunakan besi diameter 22 mm


b. Begel menggunakan besi ulir besi diameter 12 mm jarak 150 mm
c. Angkur menggunakan besi diameter 10 jarak 1000 mm

3. Semua Besi tulangan mempunyai tegangan tarik/luluh besi minimal 3900


kg/cm2 atau 390 MPa.

4. Kebenaran akan tegangan tarik/luluh besi tulangan harus dibuktikan


dengan percobaan/uji tarik pada Laboratorium Beton minimal untuk 3
benda uji.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 57


Spesifikasi Teknis

5. Besi tulangan mempunyai bentuk dan penampang yang sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai Gambar Rencana.

6. Besi ulir yang telah sekali dibengkokkan tidak boleh dibengkokkan lagi
dalam arah yang berlawanan.

7. Besi tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari


hubungan langsung dengan tanah dan terlindung dari air hujan.

8. Semua peraturan tentang besi tulangan di Indonesia untuk bangunan


gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 7 : Rancangan Campuran Beton (Job Mix Disain)


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton struktural dengan
mutu K-250 Penyedia Jasa harus membuat Rancangan Campuran Beton
(Job Mix Disain).

2. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik


yang diperoleh dari pengujian benda uji kubus umur 28 hari minimal 20
benda uji.

3. Dibawah didasari dengan pasir pasang setebal 10 cm dan dipadatkan,


sebagai lantai kerja K-100. Diatas pasir, dipasang aanstamping terdiri
dari batu kali dan pasir pasang (pasangan batu kosong).

4. Mutu beton untuk masing-masing komponen struktur adalah seperti


yang dijelaskan dalam Gambar Rencana dan Bill of Quantity.

5. Job Mix Disain adalah hasil pekerjaan ahli beton pada Laboratorium
Beton yang diakui oleh Pemerintah.

6. Material Pasir dan Batu Pecah yang dipakai untuk Job Mix Disain
haruslah material yang akan dipakai nantinya pada pelaksanaan
dilapangan dan material tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup
dilokasi pekerjaan sampai volume pekerjaan beton selesai dikerjakan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 58


Spesifikasi Teknis

7. Penggantian material dengan material selain material dalam Laporan Job


Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton tidak dibenarkan.

8. Penggantian material dengan material selain material dalam Laporan Job


Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton mengharuskan
Penyedia Jasa untuk membuat Job Mix Disain baru.

9. Job Mix Disain yang dibuat oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas sebelum dilaksanakan.

10.Semua aturan yang disyaratkan dalam Job Mix Disain dan telah disetujui
oleh Konsultan Pengawas harus diikuti dan dilaksanakan oleh Penyedia
Jasa.

Pasal 8 : Rencana Campuran Lapangan (Job Mix Formula)


1. Berdasarkan Job Mix Disain yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas,
Penyedia Jasa harus membuat Rencana Campuran Lapangan (Job Mix
Formula) beton struktural dengan mutu K-250.

2. Job Mix Formula tidak boleh berbeda dengan Job Mix Disain terutama dari
segi komposisi material beton.

3. Hasil perhitungan Job Mix Formula harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

4. Penyedia Jasa harus membuat media standar berupa bak-bak dari kayu
atau timba-timba plastik yang dipakai untuk mentakar komposisi material
berdasarkan perhitungan Job Mix Formula.

5. Pentakaran komposisi material campuran beton dengan bak-bak standar


dilokasi pekerjaan tidak boleh mengurangi dan berbeda dengan komposisi
material beton yang ada dalam Job Mix Disain.

6. Penyedia Jasa harus melakukan pengujian hasil perhitungan Job Mix


Formula dengan media benda uji kubus beton ukuran 20x20x20 cm minimal
5 benda uji.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 59


Spesifikasi Teknis

7. Hasil pengujian Job Mix Formula di Laboratorium Beton yang menghasilkan


mutu beton yang tidak sesuai dengan mutu beton pada Job Mix Disain
mengharuskan Penyedia Jasa melakukan perhitungan ulang akan Job Mix
formula atau merubah Job Mix Disain.

8. Tidak tercapainya mutu beton seperti yang diinginkan karena kesalahan


dalam perhitungan Job Mix Formula sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa.

Pasal 9 : Perakitan Tulangan


1. Perakitan tulangan balok dan kolom dapat dilakukan di bengkel kerja oleh
Penyedia Jasa atau langsung pada lokasi konstruksi.

2. Khusus untuk Pondasi Plat Lantai Beton perakitan tulangan harus dilakukan
langsung lokasi konstruksi atau Bekisting.

3. Dimensi, model, bengkokan, jarak dan panjang penyaluran tulangan harus


sesuai dengan Gambar Rencana dan Shop Drawing, standar Peraturan
Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI 2847:2013.

4. Penyedia Jasa harus menyediakan Shop Drawing dan daftar bengkokan,


dimensi, model, dan panjang penyaluran tulangan pada bengkel kerja untuk
menghindari kesalahan dalam pekerjaan perakitan tulangan.

5. Tulangan balok dan kolom yang telah selesai dirakit jika tidak langsung
dipasang harus diletakan ditempat yang terlindungi dari hujan dan tidak
boleh bersentuhan langsung dengan tanah.

6. Untuk tulangan plat lantai dan plat dack dirakit langsung diatas bekisting
yang telebih dahulu telah selesai dikerjakan.

7. Semua tulangan utama balok dan kolom harus terikat dengan baik oleh
sengkang dengan alat ikat kawat beton.

8. Jaring tulangan plat harus terikat dengan baik satu dengan yang lain dengan
alat ikat kawat beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 60


Spesifikasi Teknis

9. Tulangan yang telah selesai dirakit tidak boleh dibiarkan lebih dari 3 hari
dalam bekisting.

Pasal 10 : Sambungan Antar Tulangan


1. Sambungan antara tulangan, ditentukan lain dalam Gambar Rencana dan
harus sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton
Indonesia (PBI) dan SK SNI 2847:2013.

2. Titik-titik sambungan tulangan lewatan pada plat lantai tidak boleh dibuat
pada posisi satu garis lurus. Sambungan harus dibuat selang-seling atau zig-
zag antara batang yang disambung dengan batang yang tidak disambung.

3. Panjang sambungan lewatan jika tidak ditentukan lain dalam Gambar


Rencana, Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI 2847:2013 harus
diambil minimal 40 kali diameter batang yang disambung.

4. Sambungan-sambungan harus dibuat antara sesama tulangan utama. Tidak


dibenarkan dengan alasan apapun menggunakan tulangan extra (tulangan
tambahan) untuk menyambung tulangan utama dengan tulangan utama
lain kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK
SNI 2847:2013.

5. Penjangkaran tulangan atau kait-kait pada posisi pemutusan tulangan jika


tidak ditentukan lain dalam Gambar Rencana maka harus sesuai dengan
syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan
SK SNI 2847:2013.

6. Sambungan-sambungan pada kondisi pembeban tarik dan lentur pada


komponen balok, plat lantai dan plat dack ujung-ujung sambungan harus
dibuat kait (hook) kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia
(PBI) dan SK SNI 2847:2013.

7. Sambungan tulangan kolom harus dilakukan pada posisi permukaan sloof


dan plat lantai atau pada posisi tengah bentang kolom. Penyambungan
pada posisi selain pada posisi tersebut dengan alasan apapun tidak
dibenarkan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 61


Spesifikasi Teknis

Pasal 11 : Acuan/ Bekisting


1. Bahan utama bekisting adalah multiplek 9 mm yang diperkuat oleh balok-
balok kayu 5/7 cm atau 5/10 cm dari kayu kelas kuat III

2. Penggunaan papan kayu sebagai bekisting dengan alasan apapun tidak


diperbolehkan

3. Penggantian material bekisting dengan material selain yang disebutkan


pada point 1 harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas

4. Penyedia Jasa harus mengajukan Shop Drawing untuk bentuk konstruksi


bekisting balok, kolom, plat lantai, dan plat atap serta konstruksi lain yang
dianggap perlu oleh Konsultan Pengawas

5. Penggunaan bekisting system bongkar pasang dari bahan besi harus


disetujui oleh Konsultan Pengawas

6. Permukaan bekisting harus dilumuri atau dioleskan dengan cairan Residu


atau cairan Ter supaya hasil campuran beton tidak menempel pada
bekisting waktu akan dibuka sehingga dapat menghasilkan permukaan
beton yang rapi

7. Bentuk bekisting harus menghasilkan konstruksi akhir sesuai rencana.

8. Bekisting harus kokoh dan rapat sehingga pada waktu diisi dengan
campuran beton tidak bocor atau berubah bentuknya.

9. Hasil pekerjaan bekisting harus diperiksa kembali kebenaran elevasi,


kelurusannya terhadap arah vertikal oleh Penyedia Jasa dengan alat
Theodolit dan Waterpass. Pemeriksaan secara manual tidak dibenarkan.

10. Hasil pekerjaan bekisting harus disetujui oleh Konsultan Pengawas


sebelum dilakukan pekerjaan pengecoran beton.

11. Bekisting yang telah dicor beton tidak boleh dibuka kurang dari 28 hari
terhitung sejak waktu pengecoran kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Pengawas karena alasan penggunaan zat additive yang dapat mempercepat
proses pengerasan beton atau alasan-alasan teknis yang dapat
dipertanggung jawabkan .

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 62


Spesifikasi Teknis

12. Pekerjaan membuka bekisting tidak boleh merusak permukaan beton jika
hal ini terjadi Penyedia Jasa harus memperbaikinya dengan pekerjaan acian
beton.

13. Perbaikan permukaan beton yang rusak akibat kesalahan pembukaan


bekisting atau sebab lain harus disetujui oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 12 : Pengecoran Beton ( Casting Concrete )


1. Sebelum memulai pekerjaan pengecoran Penyedia Jasa harus memastikan
Acuan/bekisting telah selesai 100% dan telah disetujui oleh Konsultan
Pengawas

2. Pengecoran beton structural mutu K-250 hanya boleh dilakukan oleh


Penyedia Jasa jika Job Mix Disain, Job Mix Formula, Perakitan Tulangan,
Bekisting, Request Pekerjaan dan hal-hal lain yang diperlukan dan
berhubungan dengan pekerjaan pengecoran sudah disetujui oleh Konsultan
Pengawas

3. Sedapat mungkin untuk melakukan sekali pengecoran untuk setiap bagian


konstruksi sehingga dapat menghindari sambungan-sambungan beton.

4. Pengecoran dalam kondisi cuaca hujan tidak dibenarkan kecuali Penyedia


Jasa menjamin bahwa bekisting dan hasil pengecoran tidak berhubungan
langsung dengan air hujan.

5. Pengecoran beton harus dilakukan dengan Concrete Mixer (molen) dan


tidak diperbolehkan melakukan pengecoran dengan cara pengadukan
manual kecuali untuk beton-beton dengan mutu dibawah K-125 atau
nonstruktural.

6. Urutan pemasukan material beton dimulai dengan Batu Pecah Beton, Pasir
Beton, Semen, Air, dan Zat Additive (jika ada). Urutan ini bisa dirubah
dengan persetujuan Konsultan Pengawas.
7. Lama pengadukan material beton dalam Concrete Mixer minimal 1,5 menit
kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 63


Spesifikasi Teknis

8. Hasil pengadukan beton dalam Concrete Mixer apabila diputuskan oleh


Konsultan supervise sudah cukup langsung dituang dalam wadah yang
sebelumnya telah disiapkan oleh Kontrator Pelaksana.

9. Beton segar hasil pengadukan molen dapat diangkut dengan kereta dorong
oleh pekerja kelokasi bekisting untuk dituang.

10. Beton segar harus segera dituang kedalam bekisting dan tidak boleh
dibiarkan lebih dari 10 menit berada dalam wadah kereta sorong atau bak
tampungan beton. Penggunaan zat additive seperti Super Plasticizer juga
tidak membolehkan beton segar terlalu lama dalam wadah tampungan
kecuali disetujui oleh Konsultan Pengawas.

11. Beton segar yang telah dituangkan harus dipadatkan dengan Concrete
Vibrator sampai mencapai kepadatan optimum.

12. Tinggi jatuh penuangan beton untuk bekisting kolom minimal 1,5 meter.

13. Penuangan beton dalam balok, plat lantai, plat atap, dan kolom tidak boleh
menciptakam sangkar kerikil atau penumpukan kerikil pada posisi tententu
pada saat bekisting dibuka.

14. Jika terjadi sangkar kerikil Penyedia Jasa harus memperbaiki bagian itu
dengan mempergunakan beton campuran zat kimia khusu untuk
sambungan (joint) seperti Produk SIKA dengan persetujuan Konsultan
Pengawas.

15. Pengecoran beton tidak boleh dilakukan langsung diatas tanah Penyedia
Jasa harus membuat lantai kerja dari campuran 1 Sm : 3 Ps : 6 Kr sehingga
air semen tidak meresap dalam tanah dan bentuk penampang beton sesuai
dengan yang direncanakan.

16. Antara pengecoran pertama dengan pengecoran kedua untuk konstruksi


yang sama tidak boleh lebih dari 1 hari.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 64


Spesifikasi Teknis

Pasal 13 : Beton Ready Mix (Beton Siap Curah)


1. Penggunaan beton Ready Mix oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas.

2. Penyedia Jasa tetap diwajibkan untuk menyerahkan Job Mix Disain kepada
Konsultan Pengawas terhadap semua mutu beton structural yang
menggunakan Beton Ready Mix.

3. Job Mix Disain harus disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum


digunakan.

4. Kualitas beton yang dihasilkan oleh Batching Plant tetap menjadi tanggung
jawab Penyedia Jasa.

Pasal 14 : Pembongkaran Bekisting/Mal Beton


3. Bekisting tidak boleh dibuka/dibongkar dan dibebani jika beton dalam
bekisting belum berumur 28 hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Pengawas.

4. Walaupun ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas bekisting beton tetap


tidak boleh dibuka dan dibebani sebelum berumur minimal 21 hari.

5. Pembukaan dan pembebanan Bekisting beton kurang dari 14 hari karena


alasan adanya pemakaian Zat Additive yang dapat mempercepat
pengerasan beton harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 15 : Perawatan Beton (Curing)


1. Penyedia Jasa harus melakukan perawatan dan pemeliharaan terhadap
beton yang telah selesai dituang dalam bekisting.

2. Perawatan dapat berupa menutup permukaan beton dengan karung goni


kemudian menyiram air secara rutin kepermukaan beton sampai beton
berumur 28 hari. Penggunaan metode lain untuk perawatan beton harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas.

3. Perawatan harus terus menerus dilakukan minimal sampai beton berumur


28 hari atau sampai beton siap untuk dibebani menurut keputusan
Konsultan Pengawas.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 65


Spesifikasi Teknis

Pasal 16 : Quality Control


1. Slump Test
j. Pemeriksaan kekentalan beton (kosistensi) harus dilakukan setiap beton
dituangkan dari Concrete Mixer atau minimal setiap 3 m3 pekerjaan beton
pada setiap mutu beton.

c. Pemeriksaan kekentalan beton dilakukan dengan metode Slump Test


dimana nilai slump yang diperoleh harus sesuai dengan nilai slump rencana
yang ada pada Job Mix Disain.

2. Benda Uji Beton


a. Penyedia Jasa harus mengambil benda uji beton dalam bentuk kubus dan
slinder standar. Ukuran kubus adalah 20x 20x20 cm dan ukuran silinder
tinggi 30 cm dan diameter 15 cm.

b. Benda uji beton harus diambil minimal 20 benda uji untuk setiap mutu
beton yang berbeda atau minimal satu benda uji setiap 3 m3 beton dalam
satu kali pengecoran.

c. Pengambilan benda uji harus dilakukan secara acak dan selang seling antara
satu campuran dengan campuran yang lain untuk mutu beton yang sama.

d. Benda uji beton harus dirawat dalam bak dan terendam dalam air sampai
berumur 28 hari.

e. Pada benda uji beton harus dicantumkan mutu beton, nama benda uji, dan
tanggal pengambilan benda uji yang tidak mudah hilang dan luntur.

3. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton


a. Penyedia Jasa harus melakukan pemeriksaan terhadap kuat tekan beton
yang telah selesai mereka kerjakan minimal sebelum pekerjaan pengecoran
melebihi 50% dari total pekerjaan pengecoran.

b. Tujuan pemeriksaan kuat tekan beton adalah untuk mendapatkan Mutu


Beton hasil pelaksanaan pekerjaan pengecoran lapangan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 66


Spesifikasi Teknis

c. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang
diperoleh dari hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus ukuran 20 x 20
x 20 cm umur 28 hari dengan minimal 20 benda uji.

d. Pemeriksaan kuat tekan beton dilakukan di Laboratorium Beton dengan


minimal 20 benda uji kubus atau silinder untuk setiap mutu beton.

e. Pemeriksaan kuat tekan beton pada Laboratorium Beton oleh Penyedia Jasa
harus didampingi oleh Konsultan Pengawas. Pemeriksaan kuat tekan beton
tanpa didampingi oleh Konsultan Pengawas hasilnya dianggap tidak sah.

f. Semua biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan pemeriksaan kuat tekan


beton ini dibebankan kepada Penyedia Jasa.

g. Mutu Beton hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus yang kurang dari
95% dari Mutu Beton Rencana dianggap gagal dan beton yang telah selesai
dikerjakan dilapangan harus dibongkar kecuali diputuskan lain oleh
Konsultan Perencana dengan disertakan Rekomendasi Ahli beton.

h. Penyedia Jasa tidak diperbolehkan melanjutkan pekerjaan pengecoran


beton jika hasil pemeriksaan kuat tekan beton menghasilkan kuat tekan
yang berbeda dengan kuat tekan beton rencana.

i. Perencanaan ulang untuk Job Mix Disain harus dilakukan oleh Penyedia Jasa
untuk beton yang gagal dalam uji kuat tekan jika dalam pemeriksaan oleh
Konsultan Pengawas bersama dengan Penyedia Jasa kegagalan kuat tekan
disebabkan oleh kesalahan dalam perencanaan campuran dan bukan
karena kesalahan pada tahap pelaksanaan.

j. Pemeriksaan kuat tekan beton selain dengan uji tekan pada laboratorium
beton harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

k. Laporan hasil pemeriksaan Mutu Beton harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

4. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton Dengan Cara Lain


a. Jika pemeriksaan Kuat Tekan Beton dengan cara Uji Tekan Kubus Beton
hasilnya meragukan dan tidak disetujui oleh Konsultan Perencana,

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 67


Spesifikasi Teknis

Konsultan Pengawas atau Pengguna Jasa, maka cara pemeriksaan mutu


beton dengan uji langsung pada konstruksi beton harus dilakukan.

b. Pemeriksaan mutu beton dengan uji langsung ke konstruksi beton jika tidak
ditentukan khusus oleh Konsultan Perencana maka harus dilakukan dengan
salah satu metode seperti dibawah ini :
- Metode Core Drill.
- Metode Hammer Test.

c. Konsultan Perencana berhak menentukan metode mana yang akan dipakai


untuk pemeriksaan kuat tekan beton langsung ke konstruksi beton.

d. Posisi dan lokasi pengujian untuk masing-masing komponen struktur


ditentukan oleh Konsultan Perencana atau Konsultan Pengawas .

e. Jumlah titik pengujian jika tidak ditentukan oleh Konsultan Perencana,


maka harus diambil minimal 10 titk untuk masing-masing komponen
struktur dan masing-masing mutu beton.

f. Data Kuat Tekan yang diperoleh dari hasil uji langsung kuat tekan pada
konstruksi beton harus dikalkulasi kembali oleh Kontarktor Pelaksana untk
memperoleh Kuat Tekan karakteristik Beton (mutu beton).

g. Kuat Tekan Beton Karakteristik yang diperoleh dari uji langsung ke


konstruksi beton adalah hasil final yang harus diakui oleh Konsultan
Perencana, Konsultan Pengawas, Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa.

Pasal 17 : Lain - Lain


1. Persyaratan pekerjaan beton dari Pasal 1 sampai dengan Pasal 16 berlaku
untuk semua item pekerjaan beton structural (K-250) yang ada dalam
Proyek ini.

2. Hal-hal yang belum ditentukan dan diperlukan penjelasannya dalam proses


pelaksanaan pekerjaan ditentukan kemudian oleh Konsultan Perencana
bersama dengan Konsultan Pengawas dalam proses pelaksanaan pekerjaan
dengan persetujuan Pengguna Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 68


Spesifikasi Teknis

1. Hal-hal yang ditentukan kemudian tersebut menjadi satu ketentuan yang


mengikat dan wajib untuk dilaksanakan oleh Penyedia Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 69


Spesifikasi Teknis

BAB X
PEKERJAAN PONDASI BATU GUNUNG

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera
pada gambar sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Ruang Workshop
c. Pagar keliling
d. Mesjid
e. Kantin
f. Asrama Laki-Laki
g. Asrama Perempuan
h. Pos Jaga
i. Rumah Dinas Type 80
j. Rumah Dinas Type 60
k. Tempat Wudhuk
l. Kios 3 in 1

Pasal 2 : Pasir Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila
lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton
adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.

7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat
merusak beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 70


Spesifikasi Teknis

8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 3 : Kerikil Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila
lebih dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6


mm.
7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.

8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural


atau beton dengan mutu dibawah K-250.

10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 4 : Semen Portland


1. Terdaftar dalam merk dagang.

2. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan
beton struktural maupun beton non struktural.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 71


Spesifikasi Teknis

3. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.

4. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.

5. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen
Portland Type I.

6. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk


bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 5 : Air
1. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.

2. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat
merusak beton.

3. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan
dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas sebelum digunakan.

Pasal 6 : Batu Gunung


Batu harus keras, bersih dan semacam batu yang tahan lama dan disetujui oleh
Direksi atau Batu yang rapuh atau batu endapan tidak diperkenankan
dipergunakan.Jika tidak ditentukan ukurannya di dalam gambar rencana, batu
harus mempunyaiketebalan tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang dari
11/2 kali tebalnya danpanjangnya tidak kurang dari 11/2 kali lebarnya. Setiap
batu harus baik bentuknyadan bebas dari penyusutan dan berkurangnya
kekuatan batu.

Pasal 7 : Mutu Beton


Mutu beton yang digunakan yaitu K-250 atau sesuai dengan gambar rencana

Pasal 8 : Pedoman Pelaksanaan


1. Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat syarat ini, maka
sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-
SNI-T-15-1919-03.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 72


Spesifikasi Teknis

2. Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas


apabila ada perbedaan yang didapat didalam gambar konstruksi dan gambar
arsitektur.
3. Sebelum Pondasi Dipasang terlebih dahulu diadakan pengukuran-pengukuran
dari as ke as pondasi sesuai gambar rencana dan diminta persetujuan dari
konsultan Pengawas.
4. Didasar Pondasi diurug dengan pasir pasang setebal sesuai gambar rencana
dan dipadatkan. Sebagai lantai kerja diatas pasir dipasang pasangan batu
kosong terdiri dari batu kali/batu belah dengan pasir pasang dengan
ketebalan dan ukuran sesuai gambar kerja, kemudian dipadatkan dengan cara
menyiram air diatasnya sehingga pasir akan mengisi rongga-rongga batu kali.
5. Kemudian batu gunung disusun dengan rapi dan dicor dengan campuran
semen, pasir beton dan air.
6. Pada sela rongga antara batu gunung harus dipadatkan dengan campuran
semen, pasir beton dan air sehingga tak ada celah antara rongga batu
gunung.
7. Selesai dilakukan pelaksanaan Kontraktor Pelaksana meminta pada konsultan
pengawas agar memeriksa pekerjaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 73


Spesifikasi Teknis

BAB XI
PEKERJAAN BETON BERTULANG

Pasal 1 : Umum
1. Beton bertulang digunakan pada beberapa item pekerjaan seperti
balok,kolom,plat lantai,plat bordes dan plat tangga yang terdapat pada
bangunan-bangunan berikut ini :
a. Gedung Kantor Utama
b. Ruang Workshop
c. Pagar Keliling
d. Mesjid
e. Kantin
f. Asrama Laki-laki
g. Asrama Perempuan
h. Pos Jaga
i. Gapura
j. Rumah Dinas Type 80
k. Rumah Dinas Type 60
l. Tempat Wudhuk
m. Kios 3 in 1

Pasal 2 : Pasir Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila
lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton
adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 74


Spesifikasi Teknis

7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat
merusak beton.

8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 3 : Kerikil Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.

3. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila
lebih dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

7. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

8. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6


mm.
7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.

8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural


atau beton dengan mutu dibawah K-250.

10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 4 : Batu Pecah

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 75


Spesifikasi Teknis

1. Batu pecah adalah hasil produksi mesin pemecah batu (Stone Cruser) dan
bukan hasil pekerjaan manual (manusia).

2. Batu pecah berasal dari batuan kali.

3. Terdiri dari butiran yang keras dan bersifat kekal.

4. Tingkat ketahanan terhadap keausan butiran minimal 95%.

5. Jumlah butiran Lonjong dan Pipih minimal 5%.

6. Tidak boleh mengandung lumpur dan zat-zat yang dapat merusak beton
seperti zat alkali.

7. Ukuran butiran terkecil minimal 1 cm dan ukuran butiran terbesar maksimal


3 cm.

8. Butiran batu pecah dalam setiap meter kubiknya tidak boleh seragam tetapi
merupakan campuran antara butiran 1 cm sampai butiran 3 cm.

9. Batu pecah yang akan dipakai untuk material campuran beton harus melalui
proses pemeriksaan di Laboratorium beton.

10. Batu pecah hanya dan harus dipakai pada campuran beton struktural atau
beton dengan mutu K-250.

Pasal 5 : Semen Portland


1. Terdaftar dalam merk dagang.

2. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan
beton struktural maupun beton non struktural.

3. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.

4. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.

5. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen
Portland Type I.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 76


Spesifikasi Teknis

6. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk


bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 6 : Air
1. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.

2. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat
merusak beton.

3. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan
dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas sebelum digunakan.

Pasal 7 : Zat Additive


1. Pemakaian zat additive pada campuran beton untuk segala alasan yang
berhubungan kemudahan dalam pengerjaan beton atau Workability harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas

2. Penggunaan zat additive dalam campuran beton harus melalui proses


penelitian dan percobaan dilaboratorium beton dengan biaya sendiri dari
Penyedia Jasa.

3. Penyedia Jasa harus menunjukan standar, aturan, dan syarat yang berlaku
secara umum mengenai zat additive yang akan dipakai.

4. Kerusakan dan kegagalan struktur akibat penggunaan zat additive yang


dapat dibuktikan secara teknis sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa.

Pasal 8 : Tulangan Beton


1. Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas
2. Baja tulangan diatas diameter 12 mm atau lebih adalah Baja Ulir.

3. Baja tulangan sengkang/begel atau dibawah diameter 12 mm adalah baja


polos.

4. Untuk tulangan beton

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 77


Spesifikasi Teknis

5. Semua Besi tulangan ulir mempunyai tegangan tarik/luluh besi minimal


3200 kg/cm2 atau 320 MPa, sedangkan besi tulangan polos mempunyai
tegangan tarik/luluh besi minimal 2400 kg/cm2 atau 240 MPa.

6. Kebenaran akan tegangan tarik/luluh besi tulangan harus dibuktikan


dengan percobaan/uji tarik pada Laboratorium Beton minimal untuk 3
benda uji.

7. Besi tulangan mempunyai bentuk dan penampang yang sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai Gambar Rencana.

8. Besi ulir yang telah sekali dibengkokkan tidak boleh dibengkokkan lagi
dalam arah yang berlawanan.

9. Besi tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari


hubungan langsung dengan tanah dan terlindung dari air hujan.

10. Semua peraturan tentang besi tulangan di Indonesia untuk bangunan


gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 10 : Rancangan Campuran Beton (Job Mix Disain)


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton struktural dengan
mutu K-250 Penyedia Jasa harus membuat Rancangan Campuran Beton
(Job Mix Disain).

2. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang
diperoleh dari pengujian benda uji kubus umur 28 hari minimal 20 benda
uji.

3. Mutu beton untuk masing-masing komponen struktur adalah seperti yang


dijelaskan dalam Gambar Rencana dan Bill of Quantity.

4. Job Mix Disain adalah hasil pekerjaan ahli beton pada Laboratorium Beton
yang diakui oleh Pemerintah.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 78


Spesifikasi Teknis

6. Material Pasir dan Batu Pecah yang dipakai untuk Job Mix Disain haruslah
material yang akan dipakai nantinya pada pelaksanaan dilapangan dan
material tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup dilokasi pekerjaan
sampai volume pekerjaan beton selesai dikerjakan.

7. Penggantian material dengan material selain material dalam Laporan Job


Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton tidak dibenarkan.

8. Penggantian material dengan material selain material dalam Laporan Job


Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton mengharuskan
Penyedia Jasa untuk membuat Job Mix Disain baru.

9. Laporan Job Mix Disain untuk masing-masing mutu beton minimal harus
mencantumkan :
a. Laporan hasil penelitian Pasir Beton;
b. Laporan hasil penelitian Batu Pecah;
c. Komposisi Pasir Beton;
d. Komposisi Batu Pecah;.
e. Komposisi Air Beton;
f. Komposisi Zat Additive jika digunakan;
g. Nilai Slump Rencana; dan
h. Nilai Faktor Air semen.

10. Job Mix Disain yang dibuat oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas sebelum dilaksanakan.

11. Semua aturan yang disyaratkan dalam Job Mix Disain dan telah disetujui
oleh Konsultan Pengawas harus diikuti dan dilaksanakan oleh Penyedia Jasa

Pasal 11 : Rencana Campuran Lapangan (Job Mix Formula)


1. Berdasarkan Job Mix Disain yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas,
Penyedia Jasa harus membuat Rencana Campuran Lapangan (Job Mix
Formula) beton struktural dengan mutu K-250.

2. Job Mix Formula tidak boleh berbeda dengan Job Mix Disain terutama dari
segi komposisi material beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 79


Spesifikasi Teknis

3. Hasil perhitungan Job Mix Formula harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

4. Penyedia Jasa harus membuat media standar berupa bak-bak dari kayu
atau timba-timba plastik yang dipakai untuk mentakar komposisi material
berdasarkan perhitungan Job Mix Formula.

5. Pentakaran komposisi material campuran beton dengan bak-bak standar


dilokasi pekerjaan tidak boleh mengurangi dan berbeda dengan komposisi
material beton yang ada dalam Job Mix Disain.

6. Penyedia Jasa harus melakukan pengujian hasil perhitungan Job Mix


Formula dengan media benda uji kubus beton ukuran 20x20x20 cm minimal
5 benda uji.

7. Hasil pengujian Job Mix Formula di Laboratorium Beton yang menghasilkan


mutu beton yang tidak sesuai dengan mutu beton pada Job Mix Disain
mengharuskan Penyedia Jasa melakukan perhitungan ulang akan Job Mix
formula atau merubah Job Mix Disain.

8. Tidak tercapainya mutu beton seperti yang diinginkan karena kesalahan


dalam perhitungan Job Mix Formula sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa.

Pasal 12 : Perakitan Tulangan


1. Perakitan tulangan dapat dilakukan di bengkel kerja oleh Penyedia Jasa atau
langsung pada lokasi konstruksi.

2. Khusus untuk Pondasi Plat Lantai Beton dan Plat Daag perakitan tulangan
harus dilakukan langsung lokasi konstruksi atau Bekisting.

3. Dimensi, model, bengkokan, jarak dan panjang penyaluran tulangan harus


sesuai dengan Gambar Rencana dan Shop Drawing, standar Peraturan
Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI 2847:2013.

4. Penyedia Jasa harus menyediakan Shop Drawing dan daftar bengkokan,


dimensi, model, dan panjang penyaluran tulangan pada bengkel kerja untuk
menghindari kesalahan dalam pekerjaan perakitan tulangan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 80


Spesifikasi Teknis

5. Tulangan balok dan kolom yang telah selesai dirakit jika tidak langsung
dipasang harus diletakan ditempat yang terlindungi dari hujan dan tidak
boleh bersentuhan langsung dengan tanah.

6. Untuk tulangan plat lantai dan plat dack dirakit langsung diatas bekisting
yang telebih dahulu telah selesai dikerjakan.

7. Semua tulangan utama balok dan kolom harus terikat dengan baik oleh
sengkang dengan alat ikat kawat beton.

8. Jaring tulangan plat harus terikat dengan baik satu dengan yang lain dengan
alat ikat kawat beton.

9. Tulangan yang telah selesai dirakit tidak boleh dibiarkan lebih dari 3 hari
dalam bekisting.

Pasal 13 : Sambungan Antar Tulangan


1. Sambungan antar tulangan, penjangkaran tulangan dan panjang penyaluran
tulangan pada kondisi pembeban lentur, beban tarik, beban tekan, jika
tidak ditentukan lain dalam Gambar Rencana maka harus sesuai dengan
syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan
SK SNI 2847:2013.

2. Titik-titik sambungan tulangan lewatan pada plat lantai tidak boleh dibuat
pada posisi satu garis lurus. Sambungan harus dibuat selang-seling atau zig-
zag antara batang yang disambung dengan batang yang tidak disambung.

3. Panjang sambungan lewatan jika tidak ditentukan lain dalam Gambar


Rencana, Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI 2847:2013 harus
diambil minimal 40 kali diameter batang yang disambung.

4. Sambungan-sambungan harus dibuat antara sesama tulangan utama. Tidak


dibenarkan dengan alasan apapun menggunakan tulangan extra (tulangan
tambahan) untuk menyambung tulangan utama dengan tulangan utama
lain kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK
SNI 2847:2013.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 81


Spesifikasi Teknis

5. Penjangkaran tulangan atau kait-kait pada posisi pemutusan tulangan jika


tidak ditentukan lain dalam Gambar Rencana maka harus sesuai dengan
syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan
SK SNI 2847:2013.

6. Sambungan-sambungan pada kondisi pembeban tarik dan lentur pada


komponen balok, plat lantai dan plat dack ujung-ujung sambungan harus
dibuat kait (hook) kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia
(PBI) dan SK SNI 2847:2013.

7. Sambungan tulangan kolom harus dilakukan pada posisi permukaan sloof


dan plat lantai atau pada posisi tengah bentang kolom. Penyambungan
pada posisi selain pada posisi tersebut dengan alasan apapun tidak
dibenarkan.

Pasal 14 : Acuan/ Bekisting


1. Bahan utama bekisting adalah multiplek 9 mm yang diperkuat oleh balok-
balok kayu 5/7 cm atau 5/10 cm dari kayu kelas kuat III

2. Penggunaan papan kayu sebagai bekisting dengan alasan apapun tidak


diperbolehkan

3. Penggantian material bekisting dengan material selain yang disebutkan


pada point 1 harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas

4. Penyedia Jasa harus mengajukan Shop Drawing untuk bentuk konstruksi


bekisting balok, kolom, plat lantai, dan plat atap serta konstruksi lain yang
dianggap perlu oleh Konsultan Pengawas
5. Penggunaan bekisting system bongkar pasang dari bahan besi harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas

6. Permukaan bekisting harus dilumuri atau dioleskan dengan cairan Residu


atau cairan Ter supaya hasil campuran beton tidak menempel pada
bekisting waktu akan dibuka sehingga dapat menghasilkan permukaan
beton yang rapi

7. Bentuk bekisting harus menghasilkan konstruksi akhir sesuai rencana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 82


Spesifikasi Teknis

8. Bekisting harus kokoh dan rapat sehingga pada waktu diisi dengan
campuran beton tidak bocor atau berubah bentuknya.

9. Hasil pekerjaan bekisting harus diperiksa kembali kebenaran elevasi,


kelurusannya terhadap arah vertikal oleh Penyedia Jasa dengan alat
Theodolit dan Waterpass. Pemeriksaan secara manual tidak dibenarkan.

10. Hasil pekerjaan bekisting harus disetujui oleh Konsultan Pengawas


sebelum dilakukan pekerjaan pengecoran beton.

11. Bekisting yang telah dicor beton tidak boleh dibuka kurang dari 28 hari
terhitung sejak waktu pengecoran kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Pengawas karena alasan penggunaan zat additive yang dapat mempercepat
proses pengerasan beton atau alasan-alasan teknis yang dapat
dipertanggung jawabkan .

12. Pekerjaan membuka bekisting tidak boleh merusak permukaan beton jika
hal ini terjadi Penyedia Jasa harus memperbaikinya dengan pekerjaan acian
beton.

13. Perbaikan permukaan beton yang rusak akibat kesalahan pembukaan


bekisting atau sebab lain harus disetujui oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 16 : Lantai Kerja Beton ( Line Concrete )


1. Untuk komponen struktur beton yang berhubungan langsung dengan tanah
atau pasir urug, pada lapisan dasarnya harus memakai Lantai Kerja Beton
(Line Concrete) dengan tebal minimal 5 cm atau sesuai Gambar Rencana.
2. Lantai Kerja Beton dibuat dari beton mutu K-250.

3. Hasil pekerjaan Lantai Kerja Beton harus benar-benar elevasi , hal ini harus
dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.

Pasal 17 : Pengecoran Beton ( Casting Concrete )

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 83


Spesifikasi Teknis

1. Sebelum memulai pekerjaan pengecoran Penyedia Jasa harus memastikan


Acuan/bekisting telah selesai 100% dan telah disetujui oleh Konsultan
Pengawas

2. Pengecoran beton structural mutu K-250 hanya boleh dilakukan oleh


Penyedia Jasa jika Job Mix Disain, Job Mix Formula, Perakitan Tulangan,
Bekisting, Request Pekerjaan dan hal-hal lain yang diperlukan dan
berhubungan dengan pekerjaan pengecoran sudah disetujui oleh Konsultan
Pengawas

3. Sedapat mungkin untuk melakukan sekali pengecoran untuk setiap bagian


konstruksi sehingga dapat menghindari sambungan-sambungan beton.

4. Pengecoran dalam kondisi cuaca hujan tidak dibenarkan kecuali Penyedia


Jasa menjamin bahwa bekisting dan hasil pengecoran tidak berhubungan
langsung dengan air hujan.

5. Pengecoran beton harus dilakukan dengan Concrete Mixer (molen) dan


tidak diperbolehkan melakukan pengecoran dengan cara pengadukan
manual kecuali untuk beton-beton dengan mutu dibawah K-125 atau
nonstruktural.

6. Urutan pemasukan material beton dimulai dengan Batu Pecah Beton, Pasir
Beton, Semen, Air, dan Zat Additive (jika ada). Urutan ini bisa dirubah
dengan persetujuan Konsultan Pengawas.
7. Lama pengadukan material beton dalam Concrete Mixer minimal 1,5 menit
kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas.

8. Hasil pengadukan beton dalam Concrete Mixer apabila diputuskan oleh


Konsultan supervise sudah cukup langsung dituang dalam wadah yang
sebelumnya telah disiapkan oleh Kontrator Pelaksana.

9. Beton segar hasil pengadukan molen dapat diangkut dengan kereta dorong
oleh pekerja kelokasi bekisting untuk dituang.

10. Beton segar harus segera dituang kedalam bekisting dan tidak boleh
dibiarkan lebih dari 10 menit berada dalam wadah kereta sorong atau bak
tampungan beton. Penggunaan zat additive seperti Super Plasticizer juga

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 84


Spesifikasi Teknis

tidak membolehkan beton segar terlalu lama dalam wadah tampungan


kecuali disetujui oleh Konsultan Pengawas.

11. Beton segar yang telah dituangkan harus dipadatkan dengan Concrete
Vibrator sampai mencapai kepadatan optimum.

12. Tinggi jatuh penuangan beton untuk bekisting kolom minimal 1,5 meter.

13. Penuangan beton dalam balok, plat lantai, plat atap, dan kolom tidak boleh
menciptakam sangkar kerikil atau penumpukan kerikil pada posisi tententu
pada saat bekisting dibuka.

14. Jika terjadi sangkar kerikil Penyedia Jasa harus memperbaiki bagian itu
dengan mempergunakan beton campuran zat kimia khusu untuk
sambungan (joint) seperti Produk SIKA dengan persetujuan Konsultan
Pengawas.

15. Pengecoran beton tidak boleh dilakukan langsung diatas tanah Penyedia
Jasa harus membuat lantai kerja dari campuran 1 Sm : 3 Ps : 6 Kr sehingga
air semen tidak meresap dalam tanah dan bentuk penampang beton sesuai
dengan yang direncanakan.

16. Antara pengecoran pertama dengan pengecoran kedua untuk konstruksi


yang sama tidak boleh lebih dari 1 hari.

Pasal 18 : Beton Ready Mix (Beton Siap Curah)


1. Penggunaan beton Ready Mix oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas.

2. Penyedia Jasa tetap diwajibkan untuk menyerahkan Job Mix Disain kepada
Konsultan Pengawas terhadap semua mutu beton structural yang
menggunakan Beton Ready Mix.

3. Job Mix Disain harus disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum


digunakan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 85


Spesifikasi Teknis

4. Kualitas beton yang dihasilkan oleh Batching Plant tetap menjadi tanggung
jawab Penyedia Jasa.

Pasal 19 : Pembongkaran Bekisting/Mal Beton


1. Bekisting tidak boleh dibuka/dibongkar dan dibebani jika beton dalam
bekisting belum berumur 28 hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Pengawas.

2. Walaupun ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas bekisting beton tetap


tidak boleh dibuka dan dibebani sebelum berumur minimal 21 hari.

3. Pembukaan dan pembebanan Bekisting beton kurang dari 14 hari karena


alasan adanya pemakaian Zat Additive yang dapat mempercepat
pengerasan beton harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 20 : Perawatan Beton (Curing)


1. Penyedia Jasa harus melakukan perawatan dan pemeliharaan terhadap
beton yang telah selesai dituang dalam bekisting.

2. Perawatan dapat berupa menutup permukaan beton dengan karung goni


kemudian menyiram air secara rutin kepermukaan beton sampai beton
berumur 28 hari. Penggunaan metode lain untuk perawatan beton harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas.

3. Perawatan harus terus menerus dilakukan minimal sampai beton berumur


28 hari atau sampai beton siap untuk dibebani menurut keputusan
Konsultan Pengawas.
Pasal 21 : Quality Control
1. Slump Test
m. Pemeriksaan kekentalan beton (kosistensi) harus dilakukan setiap beton
dituangkan dari Concrete Mixer atau minimal setiap 3 m3 pekerjaan beton
pada setiap mutu beton.

d. Pemeriksaan kekentalan beton dilakukan dengan metode Slump Test


dimana nilai slump yang diperoleh harus sesuai dengan nilai slump rencana
yang ada pada Job Mix Disain.

2. Benda Uji Beton

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 86


Spesifikasi Teknis

a. Penyedia Jasa harus mengambil benda uji beton dalam bentuk kubus dan
slinder standar. Ukuran kubus adalah 20x 20x20 cm dan ukuran silinder
tinggi 30 cm dan diameter 15 cm.

b. Benda uji beton harus diambil minimal 20 benda uji untuk setiap mutu
beton yang berbeda atau minimal satu benda uji setiap 3 m3 beton dalam
satu kali pengecoran.

c. Pengambilan benda uji harus dilakukan secara acak dan selang seling antara
satu campuran dengan campuran yang lain untuk mutu beton yang sama.

d. Benda uji beton harus dirawat dalam bak dan terendam dalam air sampai
berumur 28 hari.

e. Pada benda uji beton harus dicantumkan mutu beton, nama benda uji, dan
tanggal pengambilan benda uji yang tidak mudah hilang dan luntur.

3. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton


a. Penyedia Jasa harus melakukan pemeriksaan terhadap kuat tekan beton
yang telah selesai mereka kerjakan minimal sebelum pekerjaan pengecoran
melebihi 50% dari total pekerjaan pengecoran.

b. Tujuan pemeriksaan kuat tekan beton adalah untuk mendapatkan Mutu


Beton hasil pelaksanaan pekerjaan pengecoran lapangan.

c. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang
diperoleh dari hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus ukuran 20 x 20
x 20 cm umur 28 hari dengan minimal 20 benda uji.

d. Pemeriksaan kuat tekan beton dilakukan di Laboratorium Beton dengan


minimal 20 benda uji kubus atau silinder untuk setiap mutu beton.

e. Pemeriksaan kuat tekan beton pada Laboratorium Beton oleh Penyedia Jasa
harus didampingi oleh Konsultan Pengawas. Pemeriksaan kuat tekan beton
tanpa didampingi oleh Konsultan Pengawas hasilnya dianggap tidak sah.

f. Semua biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan pemeriksaan kuat tekan


beton ini dibebankan kepada Penyedia Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 87


Spesifikasi Teknis

g. Mutu Beton hasil pemeriksaan kuat tekan benda uji kubus yang kurang dari
95% dari Mutu Beton Rencana dianggap gagal dan beton yang telah selesai
dikerjakan dilapangan harus dibongkar kecuali diputuskan lain oleh
Konsultan Perencana dengan disertakan Rekomendasi Ahli beton.

h. Penyedia Jasa tidak diperbolehkan melanjutkan pekerjaan pengecoran


beton jika hasil pemeriksaan kuat tekan beton menghasilkan kuat tekan
yang berbeda dengan kuat tekan beton rencana.

i. Perencanaan ulang untuk Job Mix Disain harus dilakukan oleh Penyedia Jasa
untuk beton yang gagal dalam uji kuat tekan jika dalam pemeriksaan oleh
Konsultan Pengawas bersama dengan Penyedia Jasa kegagalan kuat tekan
disebabkan oleh kesalahan dalam perencanaan campuran dan bukan
karena kesalahan pada tahap pelaksanaan.

j. Pemeriksaan kuat tekan beton selain dengan uji tekan pada laboratorium
beton harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

k. Laporan hasil pemeriksaan Mutu Beton harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

4. Pemeriksaan Kuat Tekan Beton Dengan Cara Lain


a. Jika pemeriksaan Kuat Tekan Beton dengan cara Uji Tekan Kubus Beton
hasilnya meragukan dan tidak disetujui oleh Konsultan Perencana,
Konsultan Pengawas atau Pengguna Jasa, maka cara pemeriksaan mutu
beton dengan uji langsung pada konstruksi beton harus dilakukan.

b. Pemeriksaan mutu beton dengan uji langsung ke konstruksi beton jika tidak
ditentukan khusus oleh Konsultan Perencana maka harus dilakukan dengan
salah satu metode seperti dibawah ini :
- Metode Core Drill.
- Metode Hammer Test.

c. Konsultan Perencana berhak menentukan metode mana yang akan dipakai


untuk pemeriksaan kuat tekan beton langsung ke konstruksi beton.

d. Posisi dan lokasi pengujian untuk masing-masing komponen struktur


ditentukan oleh Konsultan Perencana atau Konsultan Pengawas .

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 88


Spesifikasi Teknis

e. Jumlah titik pengujian jika tidak ditentukan oleh Konsultan Perencana,


maka harus diambil minimal 10 titk untuk masing-masing komponen
struktur dan masing-masing mutu beton.

f. Data Kuat Tekan yang diperoleh dari hasil uji langsung kuat tekan pada
konstruksi beton harus dikalkulasi kembali oleh Kontarktor Pelaksana untk
memperoleh Kuat Tekan karakteristik Beton (mutu beton).

g. Kuat Tekan Beton Karakteristik yang diperoleh dari uji langsung ke


konstruksi beton adalah hasil final yang harus diakui oleh Konsultan
Perencana, Konsultan Pengawas, Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa.

Pasal 22 : Instalasi Dalam Konstruksi Beton


1. Instalasi air bersih, instalasi air kotor, dan instalasi listrik sebaiknya tidak
ditanam atau diletakan dalam konstruksi beton kecuali ditentukan lain
dalam Gambar Rencana atau oleh Konsultan Pengawas.

2. Pipa-pipa instalasi dari bahan aluminium tidak boleh ditanam dalam


konstruksi beton untuk alasan apapun.

3. Pipa-pipa PVC atau besi yang ditanam dalam kolom beton diameternya
tidak boleh melebihi 1/3 (sepertiga) dari dimensi terkecil kolom.

4. Pipa-pipa PVC atau besi dengan diameter berapapun tidak boleh ditanam
dalam komponen balok beton.

4. Pembongkaran sebagian kecil atau sebagian besar konstruksi beton untuk


keperluan instalasi air bersih, instalasi air kotor, dan instalasi listrik harus
dengan persetujuan Konsultan Pengawas.

5. Pembongkaran konstruksi beton pada daerah joint balok dan kolom serta
pada posisi tumpuan balok untuk keperluan instalasi air dan instalasi listrik
tidak diperbolehkan untuk alasan apapun kecuali ditentukan lain oleh
Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas dengan disertakan
Rekomendasi Ahli Beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 89


Spesifikasi Teknis

Pasal 23 : Sambungan Antar Beton


1. Penyambungan-penyambungan antara beton lama dengan beton baru
sebaiknya dihindari pada konstruksi beton kecuali sambungan antar kolom
tiap lantai.

2. Jika penyambungan terpaksa dilakukan permukaan beton lama harus


dibersihkan dan dikasarkan sebelum disambung dengan beton baru.

3. Penyambungan pada posisi tengah kolom dan tengah bentang balok tidak
diperbolehkan.

4. Untuk sambungan pada balok dan plat lantai harus dilakukan pada posisi 80
cm dari tumpuan sedangkan untuk kolom harus disambung pada posisi
tumpuan kedua dan selanjutnya (lantai 2 dan berikutnya).

5. Bentuk akhir dari konstruksi beton lama (plat lantai dan balok) harus dibuat
sedemikian rupa sehingga ketika disambung beton baru akan menumpu
pada beton lama.

6. Penyambungan pada kondisi beton lama yang sudah berumur lebih dari 3
hari harus dilakukan dengan Bonding Agent dan hal ini harus dengan
persetujuan Konsultan Pengawas.

6. Penggunaan zat-zat kimia untuk memperkuat sambungan harus dengan


persetujuan Konsultan Pengawas.

Pasal 24 : Lain - Lain


1. Persyaratan pekerjaan beton dari Pasal 1 sampai dengan Pasal 22 berlaku
untuk semua item pekerjaan beton structural (K-250) yang ada dalam
Proyek ini.

2. Hal-hal yang belum ditentukan dan diperlukan penjelasannya dalam proses


pelaksanaan pekerjaan ditentukan kemudian oleh Konsultan Perencana
bersama dengan Konsultan Pengawas dalam proses pelaksanaan pekerjaan
dengan persetujuan Pengguna Jasa.

3. Hal-hal yang ditentukan kemudian tersebut menjadi satu ketentuan yang


mengikat dan wajib untuk dilaksanakan oleh Penyedia Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 90


Spesifikasi Teknis

Pasal 25 : Pekerjaan Water-Proofing.


1. Lingkup Perkerjaan
Yang termasuk pekerjaan ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan - bahan,
peralatan dan alat alat bantu lainnya termasuk pengangkutan yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam
gambar serta petunjuk Direksi Lapangan. Pekerjaan ini dilaksanakan antara
lain pada :
a. Pelat Lantai Dak Atap.
b. Pelat lantai KM/WC
c. Dinding dan lantai Ground Reservoir
d. Sambungan pelat beton dengan pipa air dan luifel.

2. Bahan - Bahan
Spesifikasi bahan.
Bahan waterproofing dari jenis sheet non woven polyester yang memenuhi
persyaratan - persyaratan sebagai berikut :
- Nama Produk : Sintopol ex Copernit Itali
Axter force 4000 line ex. France
Proofex Torchseal ex. Fosroc
Palladien Ex. Bituline Greece
- Ketebalan : 3 mm.
- Berat Nominal : 4 kg / m2.
- Packaging : Rolls 10 x 1 m.
- Non Woven Polyster :  180 Gr/m2.
- Ketahanan Sobekan : Memanjang min. 150 N
Melintang min. 170 N
- Ketahanan tarik : Memanjang min. 850 N
Melintang min. 600 N
- Ketahanan Panas : > 150o C.
- Ultimite elongation : Memanjang min. 40 N
Melintang min. 45 N
Contoh – Contoh
- Pemborong wajib mengajukan contoh bahan, brosur lengkap dan
jaminan dari pabrik dan Jaminan pelaksanaan pekerjaan minimal selama
5 ( lima) tahun.
- Pemborong wajib mengajukan contoh bahan minimal 2 (dua) produk
setaraf dari berbagai merk (kecuali ditentukan lain oleh perencana),
brosur lengkap dan jaminan dari pabrik untuk mendapatkan
persetujuan Direksi Lapangan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 91


Spesifikasi Teknis

- Bila produk yang telah ditentukan diatas tidak tersedia dipasaran, maka
Kontraktor harus menunjukan surat keterangan dari Supliyer/agen
tunggal bahwa material tersebut tidak tersedia yang disampaikan
kepada MK dan Perencana.
- Keputusan jenis bahan, warna, tekstur dan produk akan diambil oleh
Direksi MK dan akan diinformasikan kepada pemborong selama tidak
lebih dari 7 (tujuh) hari kelender setelah penyerahan contoh - contoh
bahan tersebut.

3. Pelaksanaan
a. Umum
- Semua bahan sebelum dikerjakan harus ditunjukan kepada Direksi
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuannya, lengkap
dengan ketentuan/persyaratan dari pabrik yang bersangkutan. Bahan
- bahan yang tidak disetujui harus diganti atas tanggungan
Pemborong.
- Apabila dianggap perlu diadakan penukaran/penggantian, maka
bahan - bahan pengganti harus disetujui Konsultan Pengawas
berdasarkan contoh yang diajukan Pemborong.
- Sebelum pekerjaan dimulai di atas suatu permukaan, permukaan
harus bersih, pengerjaannya harus sudah disetujui Direksi Konsultan
Pengawas serta peil - peil dan ukuran sesuai dengan gambar.
- Cara-cara pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti petunjuk dan
ketentuan dari pabrik yang bersangkutan dan atas petunjuk Direksi
Lapangan.
- Apabila ada kelainan dalam hal apapun pada gambar, spesifikasi dan
lainnya, Pemborong harus segera melaporkannya kepada Direksi
Lapangan.
- Pemborong tidak dibenarkan memulai suatu pekerjaan pada suatu
tempat apabila ada kelainan/perbedaan ditempat itu, sebelum
kelainan tersebut diselesaikan.
- Pemborong harus memperhatikan serta menjaga pekerjaan yang
berhubungan dengan pekerjaan lain, jika terjadi kerusakan akibat
kelalaiannya, maka Pemborong tersebut harus mengganti tanpa biaya
tambahan.

b. Cara Pelaksanaan
- Pelaksanaan pemasangan harus dikerjakan oleh ahli yang
berpengalaman (ahli dari pihak Supplier) yang dibuktikan dengan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 92


Spesifikasi Teknis

Company Profile dan daftar proyek-proyek yang pernah dilaksanakan


dan terlebih dahulu harus mengajukan "Metoda Pelaksanaan" sesuai
dengan spesifikasi dari pabriknya untuk mendapatkan persetujuan
Direksi Lapangan.
- Bekas lubang atau keropos harus di Grouting.
- Permukaan beton harus rata dan bersih, serta kemiringan ke
pembuangan air minimum 1 %.
- Pada sudut 900 dibuat 450 dengan adukan.
- Umur beton telah memenuhi persyaratan atau minimal 28 hari.
- Pemasangan pada vertikal harus naik 20 cm dan pada vertikal
tersebut harus dibuat tali air 2 x 1.5 cm untuk tempat pemberhentian
waterproofing tersebut. Floor Drain tidak berubah dan harus lebih
rendah dari permukaan waterproofing.
- Bila ada kebel - kabel yang menembus pada plat beton tersebut, maka
terlebih dahulu dipasang pipa paralon/pipa besi dan di sekelilingnya
harus di grouting.
- Setelah selesai pemasangan waterproofing harus segera discreeding 5
cm + kawat ayam khusus untuk lantai 1(satu) dan atap
- Pemasangan pada dinding km/wc naik 30 cm dari lantai keramik dan
dibuatkan tali air 2 x 1.5 cm untuk tempat pemberhentian
waterproofing.
- Tiap - tiap sambungan (overlap) 7.5 cm, harus dilas agar kekuatan
sambungan tersebut cukup kuat.
- Water Pproofing tidak diijinkan dipaku atau dibobok.

c. Pengujian Mutu Perkerjaan


- Pemborong wajib melakukan percobaan/pengetesan hasil pekerjaan
atas biaya Pemborong seperti dengan cara memberi siraman di atas
permukaan yang telah diberi lapisan kedap air.
- Pekerjaan percobaan dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan
dari Direksi Lapangan.
- Pada waktu penyerahan, Pemborong harus memberikan jaminan atas
semua pekerjaan perlindungan terhadap kemungkinan bocor, pecah
dan cacat lainnya sebagai akibat dari kegagalan dari pekerjaan atau
bahan yang digunakan, selama 10 (sepuluh) tahun termasuk
mengganti dan memperbaiki segala jenis kerusakan yang terjadi.
- Bila ada pekerjaan yang harus dibongkar atau diperbaiki akan menjadi
tanggungan Pemborong.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 93


Spesifikasi Teknis

Pasal 26 : Pekerjaan Water-Stop.


1. Lingkup Perkerjaan
Yang termasuk pekerjaan ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan - bahan,
peralatan dan alat alat bantu lainnya termasuk pengangkutan yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam
gambar serta petunjuk Direksi Lapangan. Pekerjaan ini dilaksanakan antara
lain pada :
a. Sambungan lantai dan dinding Septic-Tank.
b. Sambungan lantai dan dinding Ground Reservoir.
c. Tempat – tempat lain disetiap pemberhentian beton kedap air.

2. Bahan – Bahan
Bila tidak ditentukan lain, maka pekerjaan pengecoran beton yang tidak
menerus dan harus kedap air dipakai bahan Water Stop dari setara Polyvinnyl
Chloride yang tahan terhadap bahan kimia, alkali, minyak dan acids.
Persyaratan bahan tersebut adalah :
a. Nama Bahan : PVC Waterstop
b. Type : WSA 250
c. Tebal : 6 mm
d. Lebar : 25 Cm
e. Warna : Biru
f. Kemasan : 25 m/Roll

3. Persyaratan Pelaksanaan
Pemasangan Water Stop harus mengikuti petunjuk dari pabriknya. Water Stop
dipasang disetiap pemberhentian pekerjaan pengecoran beton kedap air
sesuai dengan gambar kerja atau usulan dari Pemborong yang sudah disetujui
Konsultan Pengawas. Khusus untuk pengecoran Reservoir dan Septic-Tank dan
sebagainya dimana tempat tersebut tidak boleh bocor, maka ditempat
tersebut dipasang Water Stop.

Pasal 27 : Pekerjaan Anti-Rayap.


1. Lingkup Pelaksanaan
Lingkup pekerjaan dalam pasal ini meliputi :
a. Penyelidikan tanah lokasi pekerjaan terhadap kondisi rayap.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 94


Spesifikasi Teknis

b. Penyelidikan bahan kimia anti rayap beserta peralatan untuk pekerjaan


pelapisan bahan tersebut.
c. Pelaksanaan pelapisan atau penyemprotan tahan kimia anti rayap
tersebut pada dinding dan dasar lobang galian pondasi dan keliling
pondasi bore pile, tanah dasar di bawah lantai permukaan bagian bagian
bangunan satu dan lain hal sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dari
pabrik yang memproduksi bahan anti rayap tersebut.
d. Kontraktor wajib meminta petunjuk Konsultan Pengawas mengenai
bagian-bagian yang akan diberi bahan anti rayap tersebut.

2. Persyaratan bahan
a. Termitisida yang digunakan setara Demon TC (soil water base).
b. Bahan yang dimaksud adalah bahan kimia untuk mencegah naiknya rayap
kebagian bangunan dan mengamankan tanah bangunan yang
kemungkinan menjadi tempat bersarangnya rayap, melalui tanah dan
bagian-bagian dasar bangunan yang telah diberi lapisan pelindung anti
rayap sebelumnya.

c. Bahan yang digunakan harus betul-batul memiliki konsentrasi/formulasi


yang dipersyaratkan oleh Departemen Kesehatan RI atau instansi lain
yang berwenang untuk itu.

d. Sebelum Kontraktor/Sub Kontraktor menyediakan bahan-bahan untuk


pekerjaan ini hendaknya agar memperlihatkan dulu contoh kepada
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan Persetujuannya.

e. Semua bahan-bahan anti rayap yang didatangkan ke lapangan pekerjaan


harus/masih dalam keadaan disegel.

f. Jika kualitas bahan yang akan dipakai tidak sesuai dengan contoh dapat
berakibat perintah penggantian/penukaran bahan termaksud atas biaya
Kontraktor.

g. Pekerjaan anti rayap harus dilaksanakan oleh Supplier/bidang usaha yang


bergerak dalam pest control.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 95


Spesifikasi Teknis

3. Syarat-syarat pelaksanaan
a. Pencampuran bahan hendaknya dilakukan di lapangan agar dapat
diketahui formulasi pemakaiannya oleh Konsultan Pengawas /ahli yang
ditunjuk untuk itu.

b. Pelaksanaan pelapisan dilakukan bertahap sebagai berikut


- Pada tanah galian sebelum dipasang pondasi.
- Pada bagian-bagian jenis pekerjaan bangunan yang akan menyentuh
tanah urugan seperti : permukaan pondasi, bawah permukaan plat
lantai, permukaan bawah tangga dan lain-lain setelah pekerjaan sub
struktur selesai.
- Pada bagian tanah sebelum dilakukan pengurungan pasir urug.
- Pada bagian atas pasir urug sebelum ditutup dengan lapisan bahan
penutup lantai.

c. Sebelum melakukan pelaksanaan Kontraktor harus meminta petunjuk


Konsultan Pengawas terlebih dahulu.
- Jumlah bahan yang dipakai (volume per satuan luas) untuk tiap
tahapan pelapisan dan bagian bangunan harus sesuai dengan yang
dipersyaratkan dan mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas

d. Jaminan/garansi
Kontraktor harus memberikan jaminan/garansi mengenai 2 (dua) hal
- Bahan yang digunakan betul-betul memiliki konsentrasi, formulasi
serta perbandingan yang dipersyaratkan.
- Sekurang-kurangnya 5 tahun setelah saat pelapisan bahan ini
Kontraktor harus menjamin kegunaan dari perlindungan bahan ini
terhadap rayap.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 96


Spesifikasi Teknis

BAB XII
PEKERJAAN LANTAI BETON COR

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera
pada gambar sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Ruang Workshop
c. Mesjid
d. Kantin
e. Asrama Laki-Laki
f. Asrama Perempuan
g. Pos jaga
h. Rumah Dinas Type 80
i. Rumah Dinas Type 60
j. Tempat Wudhuk
k. Kios 3 in 1

Pasal 2 : Pasir Urug Bawah Lantai.


1. Sebelum pekerjaan lantai dilakukan pekerjaan timbunan tanah dalam
ruangan harus sudah selesai 100%.

2. Diatas timbunan tanah dilakukan pekerjaan lapisan pasir urug setebal


minimal 10 cm kecuali ditentukan lain dalam Gambar Rencana.

3. Pasir urug yang dipakai harus benar-benar mempunyai susunan butiran


yang seragam.

4. Lapisan pasir urug harus dipadatkan sampai mencapai kepadatan yang


diinginkan dengan alat Stemper atau alat pemadat mekanik lain. Tidak
dibenarkan melakukan pemadatan secara manual.

5. Hasil pekerjaan lapisan pasir urug harus benar-benar rata dan elevasi hal ini
harus dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.

Pasal 3 : Pasir Pasang / Pasir Halus

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 97


Spesifikasi Teknis

1. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir dengan ukuran butiran halus dan tidak
lagi memerlukan proses penyaringan/ayakan jika hendak digunakan.

2. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang dipakai untuk keperluan


Pasangan Batu Gunung, Pasangan Batu Bata, Pasangan Keramik, dan
Plasteran Dinding.

3. Pasir Pasang tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat
kering, apabila pasir pasang tersebut mengandung Lumpur lebih dari 5%
maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

4. Pasir Pasang/Pasir Halus harus mempunyai butiran yang tajam dan keras.

5. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari

6. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang berasal dari Sungai dan bukan
Pasir yang berasal dari laut.

Pasal 4 : Beton Cor Bawah Lantai


1. Beton cor bawah lantai dibuat dari campuran beton mutu K-250 dengan
ketebalan minimal 10 cm atau sesuai dengan Gambar Rencana.

2. Beton cor bawah lantai dikerjakan pada posisi lantai 1 atau pada posisi
dimana dibawah lantai tidak terdapat komponen plat beton.

3. Hasil pekerjaan beton cor bawah lantai harus benar-benar elevasi dan hal
ini harus dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.

4. Hasil pekerjaan pengecoran beton bawah lantai harus disetujui oleh


Konsultan Pengawas

Pasal 5 : Penutup Lantai

1. Penyedia Jasa harus memperlihat contoh warna, corak, motif, ukuran dan
Brosur Granit dan keramik untuk minimal dua merk yang berbeda kepada
Konsultan Pengawas untuk disetujui.

2. Ukuran granit sesuai dengan Gambar Rencana dan Bill of Quantity.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 98


Spesifikasi Teknis

Jenis : Granit
 Ukuran : 60 x 60 cm dan 40 x 40 cm, atau ukuran sesuai petunjuk
dalam gambar
 Produksi : Keramik untuk lantai, yang digunakan adalah Produk
setara Roman,Platinum
 Ketebalan : Minimum 10 mm atau sesuai dlm gambar.
 Warna : akan ditentukan kemudian
3. Ukuran keramik Lantai adalah sesuai dengan Gambar Rencana dan Bill of
Quantity.
Jenis : Keramik
 Ukuran : 60 x 60 cm, atau ukuran sesuai petunjuk dalam gambar
 Produksi : Keramik untuk lantai, yang digunakan adalah Produk setara
Roman,Platinum
 Ketebalan : Minimum 10 mm atau sesuai dlm gambar.
 Warna : akan ditentukan kemudian

4. Ukuran keramik Lantai adalah sesuai dengan Gambar Rencana dan Bill of
Quantity.
Jenis : Keramik
 Ukuran : 40 x 40 cm, atau ukuran sesuai petunjuk dalam gambar
 Produksi : Keramik untuk lantai, yang digunakan adalah Produk setara
Roman,Platinum
 Ketebalan : Minimum 10 mm atau sesuai dlm gambar.
 Warna : akan ditentukan kemudian

5. Untuk Lantai 1 granit dan keramik lantai dipasang langsung diatas beton
cor bawah lantai dengan memakai spesi campuran 1 Pc : 2 Ps setebal
minimal 2,5 cm.

6. Pasir yang dipakai untuk pasangan granit dan keramik adalah Pasir
Pasang/Pasir Halus.

7. Pemasangan granit dan keramik harus sesuai dan mengikuti Gambar Pola
Lantai yang ada dalam Gambar Rencana.

8. Warna dan Motif granit dan keramik Lantai dapat diganti dan dirubah pada
masa pelaksanaan konstruksi oleh Konsultan Perencana dan Pengguna Jasa.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 99


Spesifikasi Teknis

9. Granit dan keramik lantai harus mempunyai tebal minimal 5 mm.

10. Bentuk dan dimensi granit dan keramik lantai harus benar-benar siku serta
standar untuk semua ukuran yang sama.

11. Potongan-potongan granit dan keramik yang terpasak dilakukan karena


mengikuti pola lantai harus sama dimensinya sepanjang bidang lantai yang
memerlukan potongan. Potongan-potongan tersebut harus sama dengan
dimensi pada gambar pola lantai.

12. Celah-celah/Nat yang terbentuk antar granit dan keramik akibat


pemasangan granit dan keramik dan sebagai tempat isian perekat antar
granit dan keramik dalam bidang tebalnya adalah maksimal 3 mm.

13. Elevasi hasil pemasangan granit dan keramik lantai Toilet dan Kamar Mandi
harus lebih rendah dari lantai ruang lain kecuali ditentukan lain dalam
Gambar Rencana.

14. Hasil pemasangan granit dan keramik lantai harus benar-benar rata, tidak
bergelombang, dan tidak melengkung keatas. Elevasi lantai granit dan
keramik hasil pemasangan harus diperiksa kedatarannya dengan pekerjaan
waterpassing.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 100


Spesifikasi Teknis

BAB XIII
PEKERJAAN DINDING DAN PASANGAN

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera
pada gambar sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Ruang Workshop
c. Pagar keliling
d. Mesjid
e. Kantin
f. Asrama Laki-laki
g. Asrama Perempuan
h. Pos Jaga
i. Rumah Dinas Type 80
j. Rumah Dinas Type 60
k. Tempat Wudhuk
l. Kios 3 in 1

Pasal 2 : Batu Bata


1. Batu bata harus mempunyai dimensi dan ukuran yang standar sesuai
Peraturan Bahan Bangunan yang berlaku.

2. Batu bata mempunyai dimensi seperti berikut : lebar 5 cm, panjang 20 cm,
dan tebal 5 cm kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Bahan Bangunan.

3. Batu bata adalah dari hasil pembakaran yang sempurna dari pabrik batu
bata dimana kondisinya tidak rapuh dan tidak mudah hancur ketika
diangkut dan diturunkan pada lokasi pekerjaan.

4. Batu bata bentuknya harus sempurna tidak melengkung dan permukaanya


benar-benar rata untuk semua sisinya.

5. Batu bata mempunyai Kuat Tekan minimal 30 kg/cm2.

6. Perubahan-perubahan pada dimensi dan ukuran batu bata karena


mengikuti dimensi dan ukuran yang berlaku pada daerah tertentu harus
disetujui oleh Konsultan supervise.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 101


Spesifikasi Teknis

7. Toleransi hanya diperbolehkan untuk dimensi dan bukan untuk kualitas.

Pasal 3 : Pasir Pasang / Pasir Halus


1. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir dengan ukuran butiran halus dan
tidak lagi memerlukan proses penyaringan/ayakan jika hendak digunakan.

2. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang dipakai untuk keperluan


Pasangan Batu Gunung, Pasangan Batu Bata, Pasangan Keramik, dan
Plasteran Dinding.

3. Pasir Pasang tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat
kering, apabila pasir pasang tersebut mengandung Lumpur lebih dari 5%
maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

4. Pasir Pasang/Pasir Halus harus mempunyai butiran yang tajam dan keras.

5. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari

6. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang berasal dari Sungai dan bukan
Pasir yang berasal dari laut.

Pasal 4 : Pasangan Dinding Batu Bata Campuran 1 Pc : 2 Ps


1. Pasangan batu bata campuran 1 Pc : 2 Ps dikerjakan hanya pada dinding-
dinding yang langsung berhubungan dengan air seperti dinding Toilet dan
Kamar Mandi serta bak air.

2. Perekat atau spesi yang dipakai adalah dari campuran 1 Pc : 2 Ps dengan


ketebalan maksimal 1,5 cm dan minimal 1 cm.

3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Batu bata harus disiram terlebih dahulu dengan air sebelum dipasang.

5. Batu bata harus dipasang dengan posisi lapis demi lapis saling bersilangan
dan tidak satu garis sambungan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 102


Spesifikasi Teknis

6. Untuk dinding selain kamar mandi dan tempat whuduk tinggi pasangan
batu bata ½ bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps minimal 40 cm.

7. Untuk dinding kamar mandi dan tempat whuduk tinggi pasangan batu bata
dengan campuran 1 Pc : 2 Ps minimal 180 cm.

8. Pasangan batu bata ½ bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps harus kedap air


(trasram).

9. Pasangan batu bata tidak boleh melengkung dalam arah vertikal dan dalam
arah horizontal.

10. Setiap tinggi 30 cm pemasangan bata harus disediakan benang-benang


untuk ketepatan elevasi dan kedataran permukaan.

11. Hasil pemasangan batu bata ½ bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps harus


disetujui oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 5 : Pasangan Dinding Batu Bata Campuran 1 Pc : 4 Ps

1. Pasangan batu bata campuran 1 Pc : 4 Ps dikerjakan pada semua dinding


kecuali dinding-dinding yang langsung berhubungan dengan air.

2. Perekat atau spesi yang dipakai adalah dari campuran 1 Pc : 4 Ps dengan


ketebalan maksimal 1,5 cm dan minimal 1 cm.

3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Batu bata harus disiram terlebih dahulu dengan air sebelum dipasang.

5. Batu bata harus dipasang dengan posisi lapis demi lapis saling bersilangan
dan tidak satu garis sambungan.

6. Pasangan batu bata tidak boleh melengkung dalam arah vertikal dan dalam
arah horizontal.

7. Setiap tinggi 30 cm pemasangan bata harus disediakan benang-benang


untuk ketepatan elevasi dan kedataran permukaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 103


Spesifikasi Teknis

8. Hasil pemasangan batu bata dengan campuran 1 Pc : 4 Ps harus disetujui


oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 6 : Dinding Partisi Alumunium dan Kaca


1. Ruang Lingkup pemasangan dinding Partisi yaitu Pemasangan Dinding
partisi Alumunium dan Kaca

2. Alumunium yang digunakan setara YKK 4 “ dan Kaca dengan ketebalan 5


mm

3. Kontraktor pelaksana harus memberikan brosur – brosur produk


Alumunium dan Kaca kepada Konsultan pengawas.

4. Pemasangan dan Ukuran alumunium yang dipakai dilapangan pada saat


pengerjaan harus sesuai yang tertera di gambar kerja.

5. Sealant untuk kaca pada rangka aluminium harus menggunakan bahan


sejenis silicon sealant yaitu “Silicon Glazing Sealant”

6. Semua frame baik untuk dinding kaca dikerjakan secara fabrikasi dengan
teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi lapangan agar hasilnya dapat
dipertanggung jawabkan.

7. Pemotongan aluminium hendaknya dijauhkan dari bahan besi untuk


menghindarkan penempelan debu besi pada permukaan. Disarankan untuk
mengerjakannya pada tempat yang aman dengan hati-hati tanpa
menyebabkan kerusakan pada permukaannya.

8. Pengelasan dibenarkan menggunakan non-actived gas (argon) dari arah


bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata.

9. Pensekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti
karat / stainless steel, sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap
sambungan harus kedap air dan memenuhi syarat kebutuhan terhadap
tekanan air sebesar 1000 kg/cm2

10. Celah antara kaca dan sistem kusen aluminium harus ditutup oleh sealant
yang sudah disetujui Konsultan Pengawas.
KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 104
Spesifikasi Teknis

11. Sekeliling tepi alumunium yang terlihat berbatasan dengan dinding agar
diberi sealant supaya kedap air dan suara.

12. Dipasang dengan cara pemasangan sesuai dengan spesifikasi dari


produsen atau yang disetujui Konsultan Pengawas.

13. Semua bahan terpasang sesuai dengan yang dipersyaratkan dan yang telah
disetujui Konsultan Pengawas.

14. Semua sistem dan mekanismenya harus berfungsi dengan sempurna.

15. Kaca harus diteliti dengan seksama, setelah terpasang tidak boleh
bergetar; apabila masih terjadi getaran, maka profil rubber seal pemegang
kaca harus diganti atas biaya Kontraktor.

16. Setelah pemasangan, kotor akibat noda-noda pada permukaan dapat


dibersihkan dengan “Volatile Oil”.

17. Bila Dinding partisi ternoda oleh semen, adukan dan bahan lainnya, bahan
pelindung harus segera digunakan. Bahan aluminium yang terkena
bercak noda tersebut dapat dicuci dengan air bersih, sebelum kering
sapukan dengan kain yang halus kemudian baru diberikan bahan pelindung.

18. Setelah pemasangan instalasi pada pintu dan dinding kaca luar bangunan,
maka sekeliling kaca yang berhubungan langsung dengan permukaan
dinding perlu diberi lapisan vinyl tape untuk mencegah korosi selama masa
pembangunan.

Pasal 7: Plesteran Campuran 1 Pc : 2 Ps


1. Sebelum dilakukan plesteran terlebih dahulu permukaan hasil pemasangan
bata harus disiram dengan air dengan merata.

2. Plesteran dari campuran 1 Pc : 2 Ps .

3. Pasir yang dipakai adalah pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Tebal plesteran dinding minimal 1,5 cm.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 105


Spesifikasi Teknis

5. Plesteran campuran 1 Pc : 2 Ps dilakukan pada pasangan Hollow block atau


dinding bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps.

6. Plesteran harus menghasilkan permukaan yang rata untuk semua bidang


dinding yang diplester.

7. Plesteran tidak boleh meninggalkan sambungan-sambungan antara


plesteran lama dengan plesteran baru yang tidak rata.

8. Lama antara plesteran lama dengan plesteran baru tidak boleh lebih dari
satu hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas .

9. Hasil pekerjaan plesteran harus benar-benar halus permukaannya sehingga


ketika dilakukan pekerjaan cat dinding tidak menimbulkan bekas.

10. Hasil pekerjaan plesteran harus disetujui oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 8: Plesteran Campuran 1 Pc : 4 Ps


1. Sebelum dilakukan plesteran terlebih dahulu permukaan hasil pemasangan
bata harus disiram dengan air dengan merata.

2. Plesteran dari campuran 1 Pc : 4 Ps .

3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Tebal plesteran dinding minimal 1,5 cm.

5. Plesteran campuran 1 Pc : 4 Ps dilakukan pada pasangan dinding bata


dengan campuran 1 Pc : 4 Ps.

6. Plesteran harus menghasilkan permukaan yang rata untuk semua bidang


dinding yang diplester.

7. Plesteran tidak boleh meninggalkan sambungan-sambungan antara


plesteran lama dengan plesteran baru yang tidak rata.

8. Lama antara plesteran lama dengan plesteran baru tidak boleh lebih dari
satu hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas .

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 106


Spesifikasi Teknis

9. Hasil pekerjaan plesteran harus benar-benar halus permukaannya sehingga


ketika dilakukan pekerjaan cat dinding tidak menimbulkan bekas.

10. Hasil pekerjaan plesteran harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 9: Ornament GRC

1. Pekerjaan meliputi pemasangan GRC bermotif sesuai dengan gambar


rencana.

2. GRC bermotif harus sesuai yang telah ditentukan oleh gambar.

3. Ketebalan dan ukuran GRC mengikuti yang telah ditentukan oleh gambar
rencana.

4. Warna GRC dapat ditentukan pada saat pengerjaan.

5. Accessories (baut pengikat, plat kait, lengkap dengan ring karet), sealant
dan lain-lain harus mengikuti spesifikasi yang ditentukan pabrik.

6. Kontraktor wajib memberikan contoh bahan untuk disetujui dengan disertai


keterangan tertulis mengenai spesifikasi bahan, detail bentuk, ukuran serta
petunjuk cara pemasangan.

7. Bila Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas menganggap perlu, maka


Pemberi Tugas berhak meminta kepada Kontraktor agar dalam pelaksanaan
pekerjaan ini harus diawasi oleh tenaga ahli / supervisi khusus dari pabrik
pembuat dengan dan atas biaya tanggungan Kontraktor.

8. Kontraktor harus memeriksa dengan teliti dan seksama serta memastikan


bahwa permukaan atas semua bagian sudah satu bidang.Hal ini harus
diperhatikan sungguh-sungguh oleh Kontraktor karena penyetelan dan
pengganjalan tidak tepat akan mengakibatkan gangguan pengikatan,
terutama jika jarak penyangga kecil.

9. Untuk mendapatkan kekuatan pengikatan maksimal apabila dipergunakan


plat kait, jarak perletakan pertama maupun terakhir dari plat kait terhadap
ujung / tepi lembaran harus memenuhi persyaratan pabrik.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 107


Spesifikasi Teknis

10. Lakukan pemeriksaan setempat terhadap penyetelan plat kait untuk


mencegah pergeseran. Untuk memperbaiki kelurusan, lembaran dapat
distel 2 mm. dengan menarik plat kait menjauhi atau menekan ke arah
lembaran pada saat mengikatkan plat kait tersebut. Untuk mencegah
plat kait menggeser ke bawah, harus dipergunakan pengikat positif yaitu
sekrup atau baut pada plat kait tersebut.

11. Arah pemasangan lembaran dari bawah ke atas kemudian dilanjutkan


pemasangan ke samping dengan arah tetap dari bawah ke atas dan
seterusnya.

12. Kontraktor harus teliti dan rapi sehingga lembaran setelah terpasang rapi
dan lurus, garis-garis rusuk lembaran sejajar, lurus, tidak bergelombang ke
arah horizontal maupun vertikal, menghasilkan penampilan yang baik.

Pasal 12 : Pemasangan Kaca Tempered


1. Pemasangan Kaca tempered mengikuti gambar kerja

2. Pemasangan Dinding Partisi Kaca depan harus dilakukan oleh tenaga yang
ahli dalam pemasangan.

3. Kaca yang digunakan yaitu kaca tempered dengan ketebalan 12 mm

4. Merk kaca tempered yaitu setara ASAHIMAS dengan tipe PANASAP.

5. Rangka Kaca menggunakan Pipa Galvanis diameter 3 inchi.

6. Pemasangan Rangka mengikuti gambar rencana

7. Setiap penyambungan rangka dilakukan dengan menggunakan las listrik.

8. Kotoran dan bekas penyambungan dilakukan perataan dan pembersihan


dengan menggunakan mesin.

9. Rangka kaca dilapisi dengan Zat pelapis anti korosi agar bias bertahan
dengan lama.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 108


Spesifikasi Teknis

10. Pemasangan Fitting spider pada setiap titik-titik tiang rangka sesuai gambar
rencana.

11. Fitting spider ini terbuat dari bahan stainless stell dengan SUS 304 atau
lebih tinggi. Hal ini dimaksudkan agar fitting spider tersebut dapat menjadi
bahan yang cukup kuat untuk menopang kaca.

12. Sambungan antara Fitting dengan rangka menggunakan pipa galvanis yang
sama dengan ekor fitting.

13. Sambungan dilas dengan kuat dan diratakan dengan menggunakan mesin

14. Ekor Fitting Hanger Spider dipasang pada sambungan yang telah dipasang.

15. Kepala fitting hanger spider dipasang perekat yang kuat pada rengnya agar
kaca tempered yang dipasang dapat bertahan dari goncangan.

16. Lembaran kaca dipasang pada titik-titik yang telah ditentukan dan
mengikuti fitting yang telah terpasang.

17. Kontraktor harus teliti dan rapi sehingga lembaran setelah terpasang rapi
dan lurus.

18. Pada saat pemasangan, celah-celah lembaran kaca diberi penyangga


sementara yang seukuran agar lembaran kaca dapat tersusun dengan rapi
dan sejajar.

19. Kaca harus diteliti dengan seksama, setelah terpasang apabila masih
terjadi kesalahan pemasangan, maka pemasangan ulang harus dilakukan
atas biaya Kontraktor sendiri.

20. Sekeliling tepi kaca yang terlihat berbatasan dengan dinding dan lembaran
kaca lainnya agar diberi sealant supaya kedap air dan suara.

21. Noda dan kotoran yang menempel pada kaca dan lainnya harus dibersihkan
dengan menggunakan air atau zat pembersih lainnya.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 109


Spesifikasi Teknis

Pasal 11 : Pemasangan Relief GRC

13. Pekerjaan meliputi pemasangan relief GRC tanpa motif dan GRC bermotif
sesuai dengan gambar rencana.

14. GRC bermotif harus sesuai yang telah ditentukan oleh gambar.

15. Ketebalan dan ukuran GRC mengikuti yang telah ditentukan oleh gambar
rencana.

16. Warna GRC dapat ditentukan pada saat pengerjaan.

17. Accessories (baut pengikat, plat kait, lengkap dengan ring karet), sealant
dan lain-lain harus mengikuti spesifikasi yang ditentukan pabrik.

18. Kontraktor wajib memberikan contoh bahan untuk disetujui dengan disertai
keterangan tertulis mengenai spesifikasi bahan, detail bentuk, ukuran serta
petunjuk cara pemasangan.

19. Bila Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas menganggap perlu, maka


Pemberi Tugas berhak meminta kepada Kontraktor agar dalam pelaksanaan
pekerjaan ini harus diawasi oleh tenaga ahli / supervisi khusus dari pabrik
pembuat dengan dan atas biaya tanggungan Kontraktor.

20. Kontraktor harus memeriksa dengan teliti dan seksama serta memastikan
bahwa permukaan atas semua bagian sudah satu bidang.Hal ini harus
diperhatikan sungguh-sungguh oleh Kontraktor karena penyetelan dan
pengganjalan tidak tepat akan mengakibatkan gangguan pengikatan,
terutama jika jarak penyangga kecil.

21. Untuk mendapatkan kekuatan pengikatan maksimal apabila dipergunakan


plat kait, jarak perletakan pertama maupun terakhir dari plat kait terhadap
ujung / tepi lembaran harus memenuhi persyaratan pabrik.

22. Lakukan pemeriksaan setempat terhadap penyetelan plat kait untuk


mencegah pergeseran. Untuk memperbaiki kelurusan, lembaran dapat
distel 2 mm. dengan menarik plat kait menjauhi atau menekan ke arah
lembaran pada saat mengikatkan plat kait tersebut. Untuk mencegah

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 110


Spesifikasi Teknis

plat kait menggeser ke bawah, harus dipergunakan pengikat positif yaitu


sekrup atau baut pada plat kait tersebut.

23. Arah pemasangan lembaran dari bawah ke atas kemudian dilanjutkan


pemasangan ke samping dengan arah tetap dari bawah ke atas dan
seterusnya.

24. Kontraktor harus teliti dan rapi sehingga lembaran setelah terpasang rapi
dan lurus, garis-garis rusuk lembaran sejajar, lurus, tidak bergelombang ke
arah horizontal maupun vertikal, menghasilkan penampilan yang baik.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 111


Spesifikasi Teknis

BAB XIV
PEKERJAAN KOZEN, PINTU, JENDELA DAN VENTILASI ALUMINIUM

Pasal 1 : Referensi
1. America Architectural Manufacturers Association ( AAMA ).
a. AAMA 501 = Method of test for Metal Curtain Wall
b. AAMA 101 = Voluntary specification for aluminium and Polly
(vinyl chloride) (PVC) Prime Window and glass door.

2. American Society for Testing and Materials (ASTM)


a. ASTM E 330 = Test Method for Structural Performance of Exterior
Windows, Curtain Wall, and Doors by Uniform
Static Air Pressure Difference.
b. ASTM E 283 = Test Method for rate of Air Leakage Through
Exterior Windows, Curtain Walls, and Doors.
c. ASTM E 331 = Test Method for Water Penetration of Exterior
Windows, Curtain Wall, and Doors by Uniform
Static Air Pressure Difference.
d. ASTM E 1233 = Standard Test Method for Structural Performance
of Exterior Windows, Curtain Walls and Doors by
Cyclic Static air Pressure Differensial.
e. ASTM E 547 = Standar Test Method for Water Penetration of
Exterior Window, Curtain Walls and Doors by Cylclic
Static Air Pressure.

3. Japanese Industrial Standard (JIS)


a. JIS H4100 = Aluminium and Aluminium Alloy Extruded Shape
b. JIS H8602 = Combined Coating of Anodic Oxide and Organic
Coating’s on Aluminium and Aluminium alloys.
c. JASS 14 = Japanese Architectural Standard Spescification for
Curtain Wall
d. JIS A.4706 = Japanese Industrial Standard for Aluminium and
Steel Window.

4. Singapore Standard (SS)


a. SS 212-98 = Aluminium Alloy Window.
b. SS 381-97 = Aluminium Curtain Wall.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 112


Spesifikasi Teknis

5. Standard Nasional Indonesia (SNI)


a. SNI-03-0573-1989 = Syarat Umum Jendela Aluminium Paduan

Pasal 2 : Deskripsi Sistem


1. Umum

Pekerjaan jendela aluminium untuk eksterior dan interior termasuk


pekerjaan yang berkaitan, sperti : angkur yang ditanam, struktur penguat
dan komponen pelengkap yang lainnya menggunakan merek setara YKK

2. Kriteria Perencanaan
a. Faktor Keamanan
Kecuali disebutkan lain, bagian-bagian aluminium termasuk ketahan
kaca, memenuhi faktor keamanan tidak kurang dari 1,5 x maksimum
tekanan angin yang disyaratkan.

b. Modifikasi
Dapat dimungkinkan tanpa merubah profil atau merubah penampilan,
kekuatan atau tahan dari material dan harus tetap memenuhi kriteria
perencanaan.

c. Pergerakan Karena Temperatur


Akibat pemuaian dari material yang berhubungan tidak boleh
menimbulkan suara maupun terjadi patahan atau sambungan yang
terbuka, kaca pecah, sealant yang tidak merekat, dan hal-hal lain.
Sambungan kedap air harus mampu menampung pergerakan ini.

3. Persyaratan Bahan
 Bahan :
Dari bahan alumunium framing system setara YKK 4 Inchi.

 Bentuk profil :
Sesuai shop drawing yang disetujui oleh Konsultan Pengawas. Untuk kusen
jendela dan Curtain Wall luar dibuat dengan sistem frameless.

 Warna profil :

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 113


Spesifikasi Teknis

Ditentukan kemudian (contoh warna diajukan Kontraktor).

 Ukuran profil :
Untuk kusen ukuran 100 x 50 x 2 mm.

Pasal 3 : Tekanan Angin


Tekanan angin (Design Wind Load) ditentukan oleh perletakan, bentuk dan
ketinggian bangunan, bila tidak ditentukan maka tekanan angin minimum yang
harus di penuhi adalah sebesar 850 Pa dengan factor keamanan sbb ;
1. Positif : 1x
2. Negatif : 1,5 x

Pasal 4 : Persyaratan Struktur


1. Defleksi
a. AAMA = Yang diijinkan maksimum L/175 atau 2 cm
b. JIS = Defleksi yang diijinkan maksimum L/150 atau 2 cm.
c. SII = yang diijinkan maksimum L/175 untuk double dan
L/125 untuk single glazed.
d. SS = Yang diijinkan maksimum L/175 untuk double glazed
dan L/125 untuk single glazed.

2. Beban Hidup
Pada bagian-bagian yang menerima beban hidup terutama pada waktu
perawatan, seperti : meja (stool) dan cladding diharuskan disediakan
penguat dan angkur dengan kemampuan 62 kg dengan beban terpusat,
horizontal dan tanpa terjadi kerusakan.

Pasal 5 : Kebocoran Udara


1. ASTM E 283 = Kebocoran udara tidak melebihi 2 ft3 / min setiap ft
unit panjang penampang bidang bukaan pada 1,57 lb
/ ft2 tekanan differensial.

2. SS 212 = Untuk jendela hidup besarnya kebocoran udara tidak


boleh melebihi 10 m3/h/m pada 20% dari tekanan
angina (Design Wind Load) atau 200 Pa. Kondisi ini
berlaku untuk gedung non air conditioning sedangkan
untuk gedung air conditioning kebocoran udara
maksimum mengikuti grafik A & B.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 114


Spesifikasi Teknis

Pasal 6 : Kekedapan Udara


Faktor pengurangan kebisingan suara (Sound Transmission) sebesar 22,5 dB
pada frekwensi 124 – 4000 Hz (hanya berlaku untuk produk-produk khusus).

1. Angkur & Angkur Tanam


Bagian yang berhubungan dengan aluminium dilapisi Galvanisasi s/d 18
micron. Bagian lain diberi lapisan anti karat, Zinc Chromate, Type Alkyd.

2. Billet Yang Dipakai


Dari billet utama (primery) dengan standard A-6063 S-T5 dengan komponen
(%) :
Mg : 0.45 – 0.9
Si : 0.2 – 0.6
Ti : 0.1 max
Mn : 0.1 max
Zn : 0.1 max
Fe : 0.35 max
Cu : 0.1 max
Cr : 0.1 max
Aluminium : Sisanya

3. Kaca
a. Untuk Pintu Otomatis,Pintu Geser dan Pintu Jendela menggunakan Kaca
tebal minimal 12 mm (tempered) Pabrikasi. Sedangkan kaca pada bagian
yang lain menggunakan Kaca tebal minimal 5 mm Pabrikasi

a. Back – UP Material
1. Bahan : polyurenthane Foam
2. Sifat material : Tidak menyerap air
3. Kepadatan : 65 – 96 kg/m3
4. Ukuran Penampang : 25% - 50 -% lebih besar dari celah yang
terjadi
b. Gasket
1. Bahan : PVC, Neoprene, Santoprene, EPDM
2. Kepadatan : Tahan terhadap perubahan cuaca
3. Kekerasan : 60 – 80 Durometer.
4. Jenis bahan : Extrusion

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 115


Spesifikasi Teknis

c. Setting Block Untuk Kaca


1. Bahan : EPDM
2. Kekerasan : 80 – 90 Durometer

d. Sealant Dinding
1. Single Komponen
2. Type : Silicon Sealant

e. Screw
1. Bahan : Stainless Steel

f. Angkur & Angkur Tanam


Bagian yang berhubungan dengan aluminium dilapisi Galvanisasi s/d 18
micron. Bagian lain diberi lapisan anti karat, Zinc Chromate, Type Alkyd.
g. Joint Sealer
Sambungan antara profil horizontal dengan vertical diberi sealer yang
berserat guna menutup celah sambungan profil tersebut, sehingga
mencegah kebocoran udara, air dan suara.
Bahan = Butyl Sheet.

Pasal 7 : Pelapisan Perwarnaan Aluminium

Sistem Pelapisan
1. Anodise yang dilengkapi dengan lapisan resin transparan (glossy).
1.1. Warna (glossy) : Bronze (YB-1C), Black (YK-1C), silver
(YS-1C) atau sesuai catalog warna dari
YKK alumico Indonesia.

1.2. Warna (Non Glossy) : Bronze (YB-1n), Balck (YK-1N), Silver


(YS-1N) atau sesuai catalog warna dari YKK Alumico Indonesia

Sifat-sifat teknis :
a. Lapisan Anodic Oxide Film : 10 μm
b. Lapisan Resin Film : 12 μm
c. Tahan alkali (1% Na OH) tidak terjadi perubahan setelah 96 jam.
d. Tahan Asam (5% H2SO4) tidak terjadi perubahan setelah 96 jam.
e. Tahan Karat (40g / 1 NaCl, 026 g / 1 CnC12 PH3), tidak terjadi
perubahab setelah 96 jam.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 116


Spesifikasi Teknis

f. Tahan air panas (100 C), tidak terjadi perubahan setelah 5 jam.
g. Terhadap Air Semen (PC), tidak terjadi perubahan setelah 96 jam.

2. Anodisasi tanpa lapisan resin transparan (DOF).


Warna : Bronze (YB-1), Black (YK-1), silver (YS-1) atau sesuai
katalog warna dari YKK alumico Indonesia.

Sifat-sifat teknis :
a. Lapiasan Anodic Oxide Film : minimum 18 μm
b. Tahan alkali (1% Na OH) tidak terjadi perubahan setelah 48 jam.
c. Tahan Asam (5% H2SO4) tidak terjadi perubahan setelah 48 jam.
d. Tahan Karat (40 g / 1 NaCl, 026 g / 1 CnC12 PH3), tidak terjadi
perubahab setelah 48 jam.
e. Tahan air panas (100 C), tidak terjadi perubahan setelah 5 jam.
f. Terhadap Air Semen (PC), tidak terjadi perubahan setelah 5 jam.
g. Terhadap air semen (PC), tidak terjadi perubahan setelah 24 jam.

Pasal 8 : Warna Aluminium


Warna kozen serta rangka daun pintu dan jendela serta ventilasi kecuali
ditentukan lain oleh Konsultan Perencana dan Pengguna Jasa pada masa
pelaksanaan adalah seperti berikut :
a. Kozen : Ditentukan kemudian
b. Frame Daun Pintu : Ditentukan kemudian
c. Daun Pintu KM/WC : Ditentukan kemudian
c. Frame Daun Jendela : Ditentukan kemudian
d. Frame Daun Ventilasi : Ditentukan kemudian

Pasal 9 : Data Pelengkap


a. Gambar Kerja (Shop Drawing)
Penyedia Jasa harus membuat Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing)
dan disetujui oleh Konsultan Pengawas jika dalam Gambar Rencana tidak
diberikan oleh Konsultan Perencana, yang menjelaskan
a. Tipe dan tampak setiap jenis jendela dan pintu aluminium / curtain
wall.
b. Detail sambungan baik exterior maupun interior.
c. Detail pemasangan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 117


Spesifikasi Teknis

d. Detail pertemuan aluminium dengan komponen-komponen lain yang


berhubungan.
e. Kelengkapan ukuran-ukuran.

b. Perhitungan struktur sesuai dengan criteria design yang ada (kalau


diperlukan).

Pasal 10 : Pintu Utama


1. Pintu Utama menggunakan Pintu otomatis Kaca Tempered 12 mm merk
setara Dorma.
2. Automatic Sensor menggunakan merk setara Dorma dengan spesifikasi
sebagai berikut:
- Loading Weight : 150kgs (150kgs x 2)
- Spesification/size : DW = 800 - 1300 mm x 2
- Open range : W=2300 - 4200 mm
- Speed in open/close : 700 mm/sec close/open can be adjusted
- Micro-controller : Super compact design in controller block with 8 digital
- Driving belt : 7.5M with teeth (with 15 mm)
- Hole opening time : 0.1-10 seconds
- Slow speed : 3-5 cm/sec/leaf (adjustable)
- Safety protection : Automatic open when meels obstacle/open or close
- Averag consume voltage : 100 W
- Motor Starting power 200 watt
- Temperature range : - 20 degree C to 50 degree
- Manual opening Force : below 4.5 kgs
- Power active : AC 110V - AC 220V 50/60Hz

Pasal 12 : Fabrikasi Dan Assembling


1. Semua jenis jendela dan pintu aluminium difabrikasi di Work Shop/ Pabrik.

2. Semua sambungan dikerjakan dengan mesin sehingga rapi, kokoh dan


dengan bentuk sambungan yang sesuai standard toleransi. Untuk
sambungan yang tahan air harus diberi sealant dari bagian yang tidak
terlihat mata.

3. Perakitan jendela maupun pintu aluminium dilaksanakan di Work


Shop/Pabrik sehingga selain kwalitas perakitan sesuai standard yang
disyaratkan juga mempercepat proses pemasangan di lapangan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 118


Spesifikasi Teknis

1. Proses fabrikasi dan assembling harus berdasarkan data di Shop Drawing


yang sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas .

2. Hardware yang dipasang mennggunakan back plate.

Pasal 13 : Pengiriman dan Penyimpanan Di Site


1. Semua profil dilapisi PVC plastic atau polythilene film.

2. Pengiriman barang-barang harus hati-hati dan tidak boleh terjadi


kerusakan.

3. Setiap unit pintu, jendela maupun curtain wall yang dikirim ke lapangan
harus ada tanda / bukti sudah diperiksa kwalitasnya oleh QC pabrik.

3. Material yang disimpan di lapangan (site) harus diatur sedemikian rupa agar
tidak terjadi kerusakan / cacat.

Pasal 14 : Pemasangan Pada Struktur Bangunan


1. Semua unit aluminium harus terpasang dengan hubungan siku-siku, tegak
lurus dan mengikuti patokan (bench mark) dari Penyedia Jasa.

2. Sebelum diadakan pemasangan maka perlu adanya pengukuran di lapangan


dan koordinasi dengan pekerjaan lain, sehingga ukuran lubang (opening)
sesuai dengan Shop Drawing.

3. Untuk Pintu otomatis dan Pintu Geser pemasangan dilakukan oleh Penyedia
Barang atau oleh tenaga yang ahli.

4. Semua jenis pintu harus diperiksa dengan seksama, apabila terjadi


kesalahan pada saat pemasangan, maka Kontraktor Pelaksanan harus
menggantikan dengan biaya sendiri.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 119


Spesifikasi Teknis

BAB XV
PEKERJAAN PLAFOND PVC dan MULTIPLEKS

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera
pada gambar sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Ruang Workshop
c. Mesjid
d. Rumah Dinas Type 80
e. Rumah Dinas Type 60
f. Kios 3 in 1

Pasal 2 : Material Plafond


1. Material utama plafond (Mesjid) adalah PVC dan multipleks 4 mm (Rumah
Dinas) dengan ukuran panel standard sesuai dengan gambar rencana.

2. Merk PVC yang digunakan yaitu setara Shunda Plafond

3. Pada setiap lembaran PVC harus dicantumkan merk dagang, ukuran lembar
dan ketebalan lembaran.

4. Penyedia Jasa harus mengajukan contoh material untuk disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

5. Material plafond yang didatangkan ke lokasi pekerjaan tidak boleh dalam


keadaan cacat dan rusak.

Pasal 3 : Alat Sambung


1. Alat Sambung Plafond untuk rangka adalah sekrup lapisan anti karat atau
galvanis.

2. Alat Sambung Plafond untuk rangka dari Metal atau Baja Ringan adalah
Paku Sekrup dengan lapisan anti karat atau galvanis.

3. Jarak maksimum antara sekrup tidak boleh lebih dari 200 mm pada sisi
papan dan tidak lebih dari 300 mm pada bagian tengah papan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 120


Spesifikasi Teknis

4. Penyedia Jasa harus mengajukan contoh material untuk disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

Pasal 4 : Rangka Furing Plafond UPVC


1. Rangka plafond PVC adalah Metal Furing dari jenis ZINCALUME atau
GALVANIS .

2. Ukuran dan dimensi rangka adalah sesuai dengan standard yang ditetapkan
pleh Pabrik.

3. Penyedia Jasa harus mengajukan contoh material untuk disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

4. Penyedia Jasa juga harus menyerahkan Garansi Resmi dari Pabrik yang
minimal menjelaskan tentang daya tahan dan kekuatan material.

5. Cara pemasangan harus mengikuti petunjuk-petunjuk yang dianjurkan oleh


Pabrik.

6. Pabrik melalui Penyedia Jasa harus menempatkan tenaga ahli khusus di


lokasi pekerjaan untuk mengawasi pekerjaan pemasangan yang dilakukan
oleh Penyedia Jasa.

7. Pemasangan rangka plafond dan rangka dinding partisi harus sesuai dengan
Gambar Pola pemasangan rangka dalam Gambar Rencana.

8. Rangka plafond harus dijangkarkan dengan baik pada dinding, ring balok
dan konstruksi kuda-kuda.

9. Rangka dinding partisi harus dijangkarkan dengan baik pada kolom dan
konstruksi kuda-kuda.

10. Hasil pemasangan rangka plafond harus benar-benar rata dan elevasi
dengan permukaan lantai.

11. Harus ada koordinasi yang baik antara pekerja pemasangan rangka plafond
dan rangka dinding partisi dengan pekerja Instalasi Listrik.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 121


Spesifikasi Teknis

Pasal 5 : List Profil Plafond


1. List Profil Plafond pada pinggir-pinggir pemasangan material plafond PVC
adalah dari material PVC.

2. Model dan bentuk List Profil Plafond harus sesuai dengan model dan bentuk
yang ada dalam Gambar Rencana.

3. Penyedia Jasa harus mengajukan contoh material untuk disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

Pasal 6 : Pemasangan Plafond


1. Pemasangan Plafond baru boleh dilakukan jika pekerjaan rangka plafond
sudah mencapai 100 %.

2. Pemasangan Plafond PVC dilakukan langsung pada rangka plafond dengan


alat sambung paku Sekrup.

3. Jika diperlukan oleh Konsultan Pengawas maka Penyedia Jasa harus


membuat Shop Drawing untuk pekerjaan pemasangan material plafond.

4. Cara pemasangan harus mengikuti denah plafond yang ada dalam Gambar
Rencana.

5. Pasang list telebih dahulu pada salah satu dinding. Gunakan gerinda atau
gergaji untuk memotong bagian sudut list.

6. Pasang plafon mulai dari pinggir. Jika memang harus dipotong, gunakan
cutter untuk memotongnya dan gunakan siku agar hasil potongan bersudut
90 derajat.

7. Tempelkan plafon menggunakan sekrup pada bagian pinggir.

8. Tahap selanjutnya adalah pemasangan lis dan finishing, yaitu melakukan


pemeriksaan dan perapian pada setiap bagian plafon yang masih terlihat
belum rapi.

9. Hasil pemasangan plafond harus menghasilkan permukaan akhir yang rata


dan tidak melendut.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 122


Spesifikasi Teknis

10. Antara lembaran plafond PVC yang satu dengan lembaran plafond PVC
lainnya harus tedapat celah sebesar 3 mm untuk keperluan pemuaian dan
susut.

11. Pada posisi pinggir pemasangan lembaran plafond PVC dengan balok lantai,
ring balok dan dinding harus tedapat celah sebesar 3 mm untuk keperluan
pemuaian dan susut.

12. Harus ada koordinasi yang baik antara pekerjaan plafond dengan pekerjaan
instalasi listrik, instalsi AC, instalasi air bersih dan instalasi air kotor
sehingga plafond yang telah dipasang tidak dibongkar kembali.

13. Tidak dibenarkan mengerjakan Instalasi Listrik, Instalasi AC, Instalasi Air
Bersih dan Instalasi Air Kotor setelah pekerjaan pemasangan plafond selesai
kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas.

14. Plafond yang telah selesai dipasang kalau terpaksa dibongkar karena alasan-
alasan yang disetujui oleh Konsultan Pengawas tidak boleh dibongkar
sembarangan tetapi harus dibongkar perlembar standarnya pada posisi
penjangkaranya pada rangka plafond.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 123


Spesifikasi Teknis

BAB XVI
PEKERJAAN PLAFOND

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera
pada gambar sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Kantin
c. Asrama laki-laki
d. Asrama Perempuan
e. Pos jaga
f. Rumah Dinas Type 80
g. Rumah Dinas Type 60

Pasal 1 : Material Plafond


1. Material utama plafond adalah palfond papan kayu 2/20 dengan gambar
rencana.

2. Penyedia Jasa harus mengajukan contoh material untuk disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

3. Material plafond yang didatangkan ke lokasi pekerjaan tidak boleh dalam


keadaan cacat dan rusak.

Pasal 2 : Alat Sambung


1. Alat Sambung Plafond untuk rangka adalah paku kayu yang sesuai.

2. Jarak maksimum antara paku tidak boleh lebih dari 200 mm pada sisi papan
dan tidak lebih dari 300 mm pada bagian tengah papan.

3. Penyedia Jasa harus mengajukan contoh material untuk disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

Pasal 3 : Rangka Plafond


1. Rangka plafond PVC adalah kayu 5/5 sedangkan pada asrama menggunakan
rangka baja.

2. Ukuran dan dimensi rangka adalah sesuai dengan standard yang ditetapkan
oleh gambar rencana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 124


Spesifikasi Teknis

3. Penyedia Jasa harus mengajukan contoh material untuk disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

4. Pemasangan rangka plafond dan rangka dinding harus sesuai dengan


Gambar Pola pemasangan rangka dalam Gambar Rencana.

5. Rangka plafond harus dijangkarkan dengan baik pada dinding, ring balok
dan konstruksi kuda-kuda.

6. Rangka dinding partisi harus dijangkarkan dengan baik pada kolom dan
konstruksi kuda-kuda.

7. Hasil pemasangan rangka plafond harus benar-benar rata dan elevasi


dengan permukaan lantai.

8. Harus ada koordinasi yang baik antara pekerja pemasangan rangka plafond
dan rangka dinding partisi dengan pekerja Instalasi Listrik.

Pasal 4 : List Profil Plafond


1. List Profil Plafond pada pinggir-pinggir pemasangan material plafond PVC
adalah dari list profil kayu 5/7.

2. Model dan bentuk List Profil Plafond harus sesuai dengan model dan bentuk
yang ada dalam Gambar Rencana.

3. Penyedia Jasa harus mengajukan contoh material untuk disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

Pasal 5 : Pemasangan Plafond


1. Pemasangan Plafond baru boleh dilakukan jika pekerjaan rangka plafond
sudah mencapai 100 %.

2. Pemasangan Plafond dilakukan langsung pada rangka plafond dengan alat


sambung paku Sekrup.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 125


Spesifikasi Teknis

3. Jika diperlukan oleh Konsultan Pengawas maka Penyedia Jasa harus


membuat Shop Drawing untuk pekerjaan pemasangan material plafond.

4. Cara pemasangan harus mengikuti denah plafond yang ada dalam Gambar
Rencana.

5. Pasang list telebih dahulu pada salah satu dinding. Gunakan gerinda atau
gergaji untuk memotong bagian sudut list.

6. Tempelkan plafon menggunakan paku pada bagian pinggir.

7. Tahap selanjutnya adalah pemasangan lis dan finishing, yaitu melakukan


pemeriksaan dan perapian pada setiap bagian plafon yang masih terlihat
belum rapi.

8. Hasil pemasangan plafond harus menghasilkan permukaan akhir yang rata


dan tidak melendut.

9. Antara lembaran plafond yang satu dengan lembaran plafond lainnya harus
tedapat celah sebesar 3 mm untuk keperluan pemuaian dan susut.

10. Pada posisi pinggir pemasangan lembaran plafond dengan balok lantai, ring
balok dan dinding harus tedapat celah sebesar 3 mm untuk keperluan
pemuaian dan susut.

11. Harus ada koordinasi yang baik antara pekerjaan plafond dengan pekerjaan
instalasi listrik, instalsi AC, instalasi air bersih dan instalasi air kotor
sehingga plafond yang telah dipasang tidak dibongkar kembali.

12. Tidak dibenarkan mengerjakan Instalasi Listrik, Instalasi AC, Instalasi Air
Bersih dan Instalasi Air Kotor setelah pekerjaan pemasangan plafond selesai
kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas.

13. Plafond yang telah selesai dipasang kalau terpaksa dibongkar karena alasan-
alasan yang disetujui oleh Konsultan Pengawas tidak boleh dibongkar
sembarangan tetapi harus dibongkar perlembar standarnya pada posisi
penjangkaranya pada rangka plafond.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 126


Spesifikasi Teknis

BAB XVII
PEKERJAAN KONSTRUKSI BAJA

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pekerjaan ini meliputi keseluruhan pekerjaan Konstruksi Baja seperti yang
tercantum pada gambar pada setiap bangunan gedung dan lainnya.

2. Pekerjaan ini termasuk penyedian tenaga kerja, peralatan baja dan alat-alat
bantu lainnya yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik.

3. Hasil pemasangan kontruksi baja harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 2 : Bahan-bahan
1. Semua material untuk kontruksi baja harus menggunakan baja yang baru
dan merupakan “Hot Rolled structural steel” dan memenuhi mutu baja
yang sesuai dengan SNI 1729 – 2015 tentang Bangunan Gedung Baja
Struktural.

2. Semua pekerjaan baja harus disimopan rapi dan diletakkan diata alas
papan.

3. Semua pekerjaan baja yang telah selesai dipabrikasi harus dibersikan dari
karat dengan mechanical wire brush dan kemudian dicat dengan cat primer
yang anti karat sesuai dengan SNI 03-2408-1991 F tentang Tata Cara
Pengecatan Logam.

4. Baja-baja yang digunakan pada pekerjaan ini yaitu :

a. Gedung Kantor Utama


- Kaki Kuda-Kuda Baja Siku Double L pada Atap
- Gording CNP
- Rangka Plafond Baja Furing
b. Gedung Teori Sekretaris
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 127


Spesifikasi Teknis

c. Gedung Sekretaris
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
d. Gedung Simulasi Sekretaris
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
e. Gedung Laboratorium Komputer
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
f. Gedung Laboratorium Bahasa
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
g. Gedung Mesin Produksi
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Rangka atap baja Kanopi (Modifikasi) (WF 300x150x8x13)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 128


Spesifikasi Teknis

- Baut / Mor M16


- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
h. Gedung Welding (Las)
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Rangka atap baja Kanopi (Modifikasi) (WF 300x150x8x13)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
i. Gedung Plumbing
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (150x150x7x10 mm) Balok Latai BLT2 15/15 (Elv + 3.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Latai BLT1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Rangka atap baja Kanopi (Modifikasi) (WF 300x150x8x13)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
j. Gedung Instalasi Listrik
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (150x150x7x10 mm) Balok Latai BLT2 15/15 (Elv + 3.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Latai BLT1 35/15 (Elv + 5.00)

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 129


Spesifikasi Teknis

- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)


- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
k. Gedung Instalasi Industri
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (150x150x7x10 mm) Balok Latai BLT2 15/15 (Elv + 3.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Latai BLT1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
l. Gedung Pendingin
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Latai BLT1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 130


Spesifikasi Teknis

m. Gedung Mekatronika
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Latai BLT1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
n. Gedung Jaringan Komputer dan Teknisi PC
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 175.175.7,5.11)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
o. Gedung Workshop Operator
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (150x150x7x10 mm) Balok Latai BLT2 15/15 (Elv + 3.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Latai BLT1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 175.175.7,5.11)
- Rangka atap baja Kanopi (Modifikasi) (WF 300x150x8x13)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 131


Spesifikasi Teknis

- Baut / Mor M16


- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
p. Gedung Ruang CNC
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Rangka atap baja Kanopi (Modifikasi) (WF 300x150x8x13)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
q. Gedung Ruang Praktek Finishing
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Rangka atap baja Kanopi (Modifikasi) (WF 300x150x8x13)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
r. Gudang Bahan
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (150x150x7x10 mm) Balok Latai BLT2 15/15 (Elv + 3.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Rangka atap baja Kanopi (Modifikasi) (WF 300x150x8x13)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 132


Spesifikasi Teknis

- Baut / Mor M16


- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
s. Gedung Workshop Otomotif Mobil
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (150x150x7x10 mm) Balok Latai BLT2 15/15 (Elv + 3.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Latai BLT1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Rangka atap baja Kanopi (Modifikasi) (WF 300x150x8x13)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
t. Gedung Workshop Otomotif Motor
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K2 10/10
- Baja (150x150x7x10 mm) Balok Latai BLT2 15/15 (Elv + 3.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Latai BLT1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (350x150x9x15 mm) Balok Lantai BL1 35/15 (Elv + 5.00)
- Baja (100x50x4.5x6.8 mm) Balok Lantai BL2 10/5 (Elv + 5.00)
- Baja (300x150x4.10x18.5 mm) Ring Balok 30/15 (Elv + 8.50)
- Balok Baja (IWF 150.75.5,5.9,5) pada Tangga
- Rangka atap baja (IWF 300x150x11.5x22)
- Rangka atap baja Kanopi (Modifikasi) (WF 300x150x8x13)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
u. Mesjid
- Baja (400x200x8x13 mm) Kolom K1 40/20
- Baja (100x100x6x8 mm) Kolom K3 13/13

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 133


Spesifikasi Teknis

- Baja (100x100x6x8 mm) Balok Latai 10/17


- Baja (300x150x6,5x9 mm) Balok Baja
- Rangka atap baja (IWF 175.175.7,5.11)
- Gording Canal C 100.50.20.1,6
- Baut / Mor M16
- Plat Buhul dan Plat Sambungan t = 10 mm
- Ikatan Gording D12
- Rangka Plafon Baja Furing
v. Asrama
- Rangka Atap Baja Ringan
- Rangka Plafond Baja Furing
w. Rumah Dinas Type 80 dan Type 60
- Rangka Atap Baja Ringan
- Rangka Plafond Baja Furing
x. Pustaka
- Rangka Atap Baja Ringan
- Rangka Plafond Baja Furing
y. Rumah Ginset
- Kolom Baja Induk (Baja IWF 200 x 100 x 5,5 x 8)
- Ring Balok R1 (Baja IWF 200 x 100 x 5,5 x 8)
- Pintu Plat Baja Buka 2 (2 x 2,5 m)
- Pintu Buka 1 plat baja (0,8 x 2,1)
z. Kios 3 In 1
- Rangka Atap Baja Ringan
- Rangka Plafond Baja Furing

Pasal 3 : Syarat Pelaksanaan


1. Semua konstruksi baja yang telah dipabrikasi agar diberi kode dengan jelas
sesuai bagian masing-masing agar dapat dipasang dengan mudah

2. Pengelasan harus dilaksanakan sesuai Aws atau AISC spesification, baru


dapat dilaksanakan dengan seijin pemberi tugas.

3. Permukaan yang akan dilas harus dibersikan dari karat dan bekas potongan
api yang kasar dengan menggunakan gerinda dan diratakan.

4. Lubang-lubang baut harus benar-benar tepat dan sesuai dengan diameter


yang digunakan pada gambar rencana.
KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 134
Spesifikasi Teknis

5. Pemasangan dan pengencangan baut harus dikerjakan sedemikian rupa


sehingga tidak menimbulkan momen torsi yang berlebihan pada baut yang
akan mengurangi kekuatan baut itu sendiri.
6. Sebelum erection dimulai, pelaksana harus memeriksa kembali kedudukan-
kedukan angker baja dan memberitahukan kepada pemberi tugas metode
dan urutan pelaksanaan erektion.
7. Perhatian khusu dalam pemasangan angker-angker untuk kolom dimana
jarak-jarak atau kedudukan angker harus tetap dan akurat untuk mencegah
ketidakcocokan dalam erection, untuk ini harus dijaga agar selama
pengecoran angker-angker tersebut tidak bergeser.
8. Pelaksana harus bertanggung jawab pada pekerjanya, maka untuk itu harus
menyediakan ikat pinggang, helm penyelamat, sarung tangan dan
pemadam kebakaran.
9. Kegagalan dalam erection ini menjadi tanggung jawab pelaksana
sepenuhnya, oleh sebab itu pelaksana diminta untuk memberi perhatian
khusus pada masalah erection ini.
10. Semua pelat-pelat atau elemn yang rusak setelah pabrikasi, tidak akan
diperbolehkan dipakai untuk erection.

11. Penyedia Jasa dengan lampiran Shop Drawing dan Gambar Erection
Konstruksi Baja megajukan Request For Work untuk pekerjaan Erection.

12. Konsultan Pengawas membuat Daftar Chek List kesiapan Penyedia Jasa
untuk pekerjaan Erection konstruksi baja terutama yang berhubungan
dengan Material, Tenaga Kerja dan Kesiapan Peralatan.

13. Konsultan Pengawas tidak boleh meninggalkan lokasi pekerjaan Erection


baja selama pekerjaan tersebut belum selesai dikerjakan.

14. Konsultan Pengawas harus memastikan bahwa Penyedia Jasa bekerja sesuai
dengan Shop Drawing Erection Baja dan Gambar Rencana.

15. Konsultan Pengawas harus membuat Daftar Chek List hasil pekerjaan
Erection Baja oleh Penyedia Jasa yang didalamnya diinformasikan
kesesuaian dan ketidaksesuaian pekerjaan Erection Baja yang telah
dilaksanakan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 135


Spesifikasi Teknis

16. Konsultan Pengawas harus mengeluarkan surat perintah pembongkaran


dan pemasangan kembali konstruksi jika ditemukan hasil Erection tidak
sesuai dengan Shop Drawing dan Gambar Rencana.

17. Penyedia Jasa tidak boleh melanjutkan pekerjaan yang lain diatas pekerjaan
Konstruksi Baja sebelum pekerjaan Erection Konstruksi Baja dinyatakan
selesai 100 % oleh Konsultan Pengawas melalui Surat dan Tabel Chek List
Pekerjaan Erection Konstruksi Baja.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 136


Spesifikasi Teknis

BAB XVIII
PEKERJAAN CAT

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera
pada gambar sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Mesjid
c. Pagar Keliling
d. Asrama Laki-laki
e. Asrama Wanita
f. Kantin
g. Pos jaga
h. Gapura
i. Rumah Dinas Type 80
j. Rumah Dinas Type 60
k. Tempat Wudhuk
l. Kios 3 in 1

Pasal 1 : Referensi
1. Seluruh Pekerjaan Cat harus sesuai dengan standard-standard sebagai
berikut :
a. Petunjuk-petunjuk yang diajukan oleh pabrik pembuat.
b. NI-3 1970
c. NI-4

Pasal 2 : Persyaratan Material


1. Cat dasar dan cat akhir yang akan dipakai adalah buatan pabrik dari kualitas
terbaik.

2. Cat harus dalam bungkus dan kemasan asli dimana tercantum merk dagang,
spesifikasi, dan aturan pakai.

3. Cat yang dipakai adalah dari Merk DULUX Standar ICI atau merk lain yang
setara dengannya baik dari segi harga dan kualitas.

4. Penyedia Jasa harus memperlihatkan contoh material cat minimal dari dua
merk yang berbeda untuk disetujui oleh Konsultan Perencana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 137


Spesifikasi Teknis

5. Jenis cat, warna dan type yang akan dipakai pada semua posisi bangunan
kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Perencana dan Pengguna Jasa dalam
masa pelaksanaan atau dalam Gambar Rencana adalah seperti dalam tabel
berikut ini :

Tabel 2.1.a Penempatan Jenis Dan Warna Cat

No. Konstruksi Merek Type Warna

Setara
Ditentukan
1. Plamur Tembok Dulux/ Wallfiler
Kemudian
Jotun
Setara
Alkali Resisting Ditentukan
2. Cat Dasar Tembok Dulux/
Prime Sealer Kemudian
Jotun
Setara
Ditentukan
3. Dinding Dalam Dulux/ Ambiance
Kemudian
Jotun
Setara
Wheathershield Ditentukan
4. Dinding Luar Dulux/
Power Flexx Kemudian
Jotun
Setara
Permukaan Beton Ditentukan
5. Dulux/ Ambiance
Dalam Kemudian
Jotun
Setara
Wheathershield Ditentukan
6. Permukaan Beton Luar Dulux/
Power Flexx Kemudian
Jotun

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 138


Spesifikasi Teknis

6. Jenis, Warna dan Type Cat dapat diganti oleh Konsultan Perencana dengan
persetujuan Pengguna Jasa dalam masa pelaksanaan.

7. Untuk kemudahan pelaksanaan penempatan warna cat pada semua


bangunan dilapangan Konsultan Perencana harus menyediakan Gambar
Disain Berwarna tampak luar dan dalam bangunan dengan posisi-posisi
penempatan warna cat.

8. Jika terjadi perbedaan antara pemakaian warna dan spesifikasi cat yang ada
dalam Spesifikasi Teknis (tabel point 5) dengan yang ada dalam Gambar
Rencana maka acuan yang dipakai adalah menurut keputusan Konsultan
Perencana.

9. Perubahan-perubahan warna cat dari seperti yang telah ditentukan dalam


tabel point 5 yang dilakukan oleh Pengguna Jasa harus disertai keterangan
tertulis dan diketahui oleh Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana.

10. Perubahan-perubahan warna cat yang tidak disertai keterangan tertulis


adalah kesalahan Penyedia Jasa dan dengan biaya sendiri Penyedia Jasa
harus menggantinya dengan warna cat seperti yang telah ditentukan dalam
tabel point 5, termasuk biaya yang harus dikeluarkan untuk pengelupasan
dan pembersihan apabila pekerjaan pengecatan telah terlanjur selesai
dikerjakan.

Pasal 3 : Pelaksanaan
1. Penyedia Jasa harus membersihkan permukaan dinding pasangan bata,
Partisi, GRC dan beton, kotoran dan lumut. Hasil pekerjaan pembersihan ini
harus disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum pekerjaan pengecatan
dimulai.

2. Kontraktor harus memastikan permukaan dinding bata dan permukaan


beton benar-benar kering sebelum dilakukan pekerjaan pengecatan.
3. Semua pekerjaan pengecatan dilakukan dengan cara manual oleh tukang
ahli. Pengecatan dengan alat seperti Kompresor harus dengan persetujuan
Konsultan Pengawas tanpa adanya penambahan biaya pelaksanaan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 139


Spesifikasi Teknis

4. Dinding dan permukaan beton serta GRC Board harus didempul atau
diplamur terlebih dahulu sebelum dilakukan pekerjaan cat dasar.

5. Dinding yang telah diplamur harus digosok sampai rapi dan rata
permukaanya dengan kertas amplas.

6. Urutan pekerjaan cat adalah seperti berikut ini kecuali ditentukan lain
dalam Bill of Quantity atau Konsultan Pengawas :

a. Cat Tembok Exterior : 1 Kali Plamur Tembok, 1 Kali Cat Dasar, dan
2 Kali Cat Warna type Weather Shield

b. Cat Tembok Interior : 1 Kali Plamur Tembok, 1 Kali Cat Dasar, dan
2 Kali Cat Warna.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 140


Spesifikasi Teknis

BAB XIX
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

A. PEKERJAAN ELEKTRIKAL
Pasal 1 : Umum
1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera pada
gambar sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Mesjid
c. Kantin
d. Asrama Laki-laki
e. Asrama Perempuan
f. Rumah Dinas Type 80
g. Rumah Dinas Type 60
h. Pos Jaga
i. Gapura
j. Kios 3 In 1
2. Persyaratan ini merupakan bagian dari pernyataan teknis ini. Apabila ada
klausul lain dari persyaratan ini yang dituliskan kembali, berarti menuntut
perhatian khusus pada klausul-klausul yang ada atau menghilangkan klausul-
klausul tersebut atau bukan berarti menghilangkan klausul-klausul lainnya dari
syarat-syarat umum.

3. Gambar-gambar dan spesifikasi perencanaan ini merupakan satu kesatuan dan


tidak dapat dipisah-pisahkan. Apabila ada sesuatu bagian pekerjaan atau
bahan atau peralatan yang diperlukan agar instalasi ini dapat bekerja dengan
baik dan hanya dinyatakan dalam salah satu gambar perencanaan atau
spesifikasi perencanaan saja. Penyedia Jasa harus tetap melaksanakannya
sesuai dengan standard teknis yang berlaku.

Pasal 2 : Gambar-Gambar
1. Gambar-gambar perencana tidak dimaksudkan untuk menunjukkan semua
accessories dan fixture secara terperinci. Semua bagian diatas walaupun tidak
digambarkan atau disebutkan secara spesifik harus disediakan dan dipasang
oleh Penyedia Jasa sehingga sistem dapat bekerja dengan baik.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 141


Spesifikasi Teknis

2. Gambar-gambar instalasi menunjukkan secara umum tata letak dari peralatan


instalasi. Sedang pemasangan harus dikerjakan dengan memperhatikan kondisi
dari proyek. Gambar-gambar Arsitektur dan struktur/Sipil harus dipakai sebagai
referensi untuk Penyedia Jasa dan detail ”finishing” dari proyek.

4. Sebelum pekerjaan dimulai, Penyedia Jasa harus mengajukan gambar-gambar


kerja dan detail (Shop drawing) yang harus diajukan kepada Konsultan
Pengawas untuk mendapatkan persetujuan. Setiap shop drawing yang diajukan
Penyedia Jasa untuk disetujui Konsultan Pengawas dianggap bahwa Penyedia
Jasa telah mempelajari situasi dan telah berkonsultasi dengan pekerjaan
instalasi lainnya.

Pasal 3 : Daftar Bahan Dan Contoh


1. Penyedia Jasa harus menyerahkan contoh bahan-bahan yang akan dipasang
kepada Konsultan Pengawas. Semua biaya yang berkenaan dengan penyerahan
dan pengembalian contoh-contoh ini adalah menjadi tanggungan Penyedia Jasa
.

2. Bahan-bahan yang digunakan adalah sesuai dengan yang dimaksud di dalam


spesifikasi teknis ini dan harus dalam keadaan baru. Pekerjaan haruslah
dilakukan oleh tenaga kerja yang ahli dibidangnya masing-masing.

3. Penyedia Jasa diwajibkan untuk mengecek kembali atas segala ukuran/


kapasitas peralatan (equipment) yang akan dipasang. Apabila terdapat keragu-
raguan, Penyedia Jasa, harus segera menghubungi Pengawas untuk
berkonsultasi.

4. Pengambilan ukuran atau pemilihan kapasitas equipment, yang sebelumnya


tidak dikonsultasikan dengan Konsultan Pengawas, apabila terjadi kekeliruan
maka hal tersebut menjadi beban tanggung jawab Penyedia Jasa. Untuk itu
pemeliharaan equipment dan material harus mendapatkan persetujuan dari
Konsultan Pengawas .

Pasal 4 : Commision Dan Testing


1. Penyedia Jasa pekerjaan instalasi ini harus melakukan semua testing dan
pengukuran-pengukuran yang dianggap perlu untuk memeriksa/mengetahui

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 142


Spesifikasi Teknis

apakah seluruh instalasi yang dilaksanakan dapat berfungsi dengan baik dan
telah memenuhi persyaratan persyaratan yang berlaku.

2. Semua tenaga, bahan dan perlengkapan yang diperlukan dalam kegiatan testing
tersebut merupakan tanggung jawab Penyedia Jasa . Hal ini termasuk pula
peralatan khusus yang diperlukan untuk testing dari sistem ini seperti yang
dianjurkan oleh pabrik, juga harus disediakan oleh Penyedia Jasa .

Pasal 5 : Peralatan yang disebut Dengan Merk Dan Penggantinya


1. Bahan-bahan, perlengkapan, peralatan, accessories dan lain-lain yang disebut
dalam gambar rencana maupun dalam rencana anggaran biaya dan
dipersyaratkan dengan nama , maka Penyedia Jasa wajib menyediakan sesuai
dengan peralatan/merk tersebut diatas.

2. Penggantian dapat dilakukan dengan persetujuan dan ketentuan-ketentuan dari


Konsultan Pengawas.

Pasal 6 : Contoh
1. Kontraktor harus menyerahkan contoh/brosur dari bahan-bahan/material yang
akan dipasang disini untuk dimintakan persetujuan Konsultan Pengawas. Semua
biaya berkenaan dengan penyerahan dan pengambilan contoh-contoh ini
menjadi tanggungan Penyedia Jasa.

Pasal 7 : Pekerjaan Listrik


1. Pekerjaan listrik yang termasuk pekerjaan instalasi ini adalah seluruh sistem
listrik secara lengkap, sehingga instalasi ini dapat bekerja dengan sempuma dan
aman.

2. Pekerjaan tersebut harus dapat menjamin bahwa pada saat penyerahan


pertama (serah terima pekerjaan pertama), instalasi pekerjaan tersebut sudah
dapat dipergunakan pemilik.

B. PERSYARATAN TEKNIK KHUSUS SISTEM ELEKTRIKAL


Pasal 1 : Umum
1. Pekerjaan sistem elektrikal meliputi pengadaan semua bahan, peralatan dan
tenaga kerja, pemasangan, pengujian perbaikan selama masa pemeliharaan,
sehingga seluruh sistem elektrikal dapat beroperasi dengan baik dan benar.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 143


Spesifikasi Teknis

Pasal 2 : Lingkup Pekerjaan


 Lingkup pekerjaan sistem elektrikal :
1. Pengadaan dan pemasangan dan penyambungan instalasi kabel utama
dari panel distribusi menuju ke setiap ruang, lengkap dengan seluruh
instalasinya termasuk armature , saklar dan stop kontak.

2. Pengadaan, pemasangan dan penyambungan berbagai type dan ukuran


kabel tegangan rendah sesuai dengan gambar rencana.

3. Pengadaan, pemasangan dan penyambungan panel-panel tegangan


rendah dan panel kapasitor sesuai dengan gambar rencana.

4. Pekerjaan instalasi penerangan dan stop kontak, meliputi:


a. Pengadaan dan pemasangan berbagai jenis armatur lampu dan jenis
lampu sesuai gambar rencana.
b. Pengadaan dan pemasangan berbagai jenis stop kontak biasa, stop
kontak daya.
c. Pengadaan dan pemasangan berbagai jenis saklar, grid switch dan
saklar tunggal dan Double.
d. Pengadaan, pemasangan dan penyambungan pipa instalasi pelindung
kabel serta berbagai accessories lainnya seperti : box untuk saklar
dan stop kontak, junction box, fleksibel conduit, bends/elbows,
socket dan lain-lain.
e. Pengadaan, pemasangan dan penyambungan kabel instalasi
penerangan dan stop kontak.

Pasal 3 : Standar-Standar
Sebagai dasar perencanaan mengikuti standard dan peraturan yang berlaku :
a. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) edisi tahun 2000.
b. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tahun 1978 tentang Peraturan Instalasi
Listrik (PIL) dan tentang Syarat-syarat Penyambungan Listrik (SPL).
c. Standard Industri Indonesia (SII) dan Standard Nasional Indonesia (SNI).
d. Standard PLN dalam wilayah daerah setempat.
e. Keputusan Dirjen Cipta Karya DPU dan SNI tentang standard penerangan
buatan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 144


Spesifikasi Teknis

f. Petunjuk pengajuan rencana instalasi dan pelengkapan bangunan.


g. Standard negara lain yang berlaku di Indonesia seperti : IEC, VDE, DIN, NEMA,
JIS, NFPA, dan lain-lain.

Pasal 4 : Pekerjaan Terkait


Referensi bagi pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan pekerjaan ini adalah :
a. Penerangan dan stop kontak
b. Sistem Pembumian
c. Daftar merk/produk material

Pasal 5 : Persyaratan Bahan Dan Material


a. Umum

1. Semua material yang di supply dan dipasang oleh Penyedia Jasa harus
baru dan material tersebut harus cocok untuk dipasang di daerah tropis.

2. Material-material haruslah dari produk dengan kualitas baik dan dari


produksi yang terbaru. Untuk material-material yang disebut dibawah ini,
maka Pemilik harus menjamin bahwa barang tersebut adalah baik dan
baru dengan jalan menunjukkan surat order pengiriman dari
dealer/agen/pabrik.
a. Peralatan panel : Meteran
b. Peralatan lampu : Armature, bola lampu, ballast, dan kapasitor .
c. Peralatan instalasi : Stop kontak, saklar, junction box, dan lain-lain.
d. Kabel.

b. Daftar Material

1. Untuk semua material yang ditawarkan, maka Penyedia Jasa wajib


mengisi daftar material yang menyebutkan : merk, type, kelas lengkap
dengan brosur/katalog yang dilampirkan pada waktu tender.

2. Produk yang digunakan yaitu setara Panasonic

3. Tabel daftar material ini diutamakan untuk komponen-komponen yang


berupa barang-barang produksi.

c. Penyebutan Merk/Produk Pabrik

1. Apabila pada spesifikasi teknis ini atau pada gambar disebutkan beberapa
merk tertentu atau kelas mutu (quality performance) dari material atau
KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 145
Spesifikasi Teknis

komponen tertentu terutama untuk material-material listrik utama, maka


Penyedia Jasa wajib melakukan didalam penawarannya material yang
dalam taraf mutu/pabrik yang disebutkan itu.

2. Apabila nanti selama proyek berjalan terjadi, bahwa material yang


disebutkan pada tabel material tidak dapat diadakan oleh Penyedia Jasa,
yang diakibatkan oleh sesuatu alasan yang kuat dan dapat diterima
Pengguna Jasa, Pengawas dan Perencana, maka dapat dipikirkan
penggantian merk/type dengan suatu sanksi tertentu kepada Penyedia
Jasa.

Pasal 6 : Instalasi Dan Pemasangan Kabel

a. Bahan
1. Semua kabel yang dipergunakan untuk instalasi listrik harus memenuhi
peraturan PUIL 2000/LMK. Semua kabel/ kawat harus baru dan harus jelas
ditandai dengan ukurannya, jenis kabelnya, nomor dan jenis pintalannya.

2. Semua kawat dengan penampang 6 mm2 keatas haruslah terbuat secara


disiplin (stranded). Instalasi ini tidak boleh memakai kabel dengan
penampang lebih kecil 2,5 mm2 kecuali untuk pemakaian remote control.

3. Semua kabel NYY yang ditanam didalam perkerasan (tembok, jalan, beton)
harus berada di dalam conduit Galvanis yang disesuaikan dengan
ukurannya.

b. Pemasangan Kabel dalam Tanah (Grounding)

1. Kabel tegangan rendah harus ditanam minimal sedalam 80 cm.

2. Kabel yang ditanam langsung dalam tanah harus dilindungi dengan batas
merah, dan diberi pasir, ditanam minimal sedalam 80 cm.

3. Untuk yang lewat jalan raya ditanam sedalam 100 cm dan dilapisi pipa
Galvanized.

4. Kabel-kabel yang menyeberang jalur selokan, dilindungi dengan pipa


galvanized atau pipa beton yang dilapisi dengan pipa PVC type AW, kabel
harus berjarak tidak kurang dari 30 cm dari pipa gas, air dan lain-lain.

5. Galian untuk menempatkan kabel yang dipasang dalam tanah harus


KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 146
Spesifikasi Teknis

bersih dari bahan-bahan yang dapat merusak isolasi kabel, seperti : batu,
abu, kotoran bahan kimia dan lain sebagainya. Alas galian (lubang) dilapisi
dengan pasir kali setebal 10 cm. Kemudian kabel diletakkan, diatasnya
diberi bata dan akhimya ditutup dengan tanah urug.

6. Penyambungan kabel dalam tanah tidak diperkenankan secara langsung,


harus mempergunakan peralatan khusus untuk penyambungan kabel
dalam tanah.

7. Penanaman dan penyambungan kabel harus diberikan marking yang jelas


pada jalur-jalur penanaman kabelnya. Agar memudahkan didalam
pengoperasian, pengurutan kabel dan menghindari kecelakaan akibat
tergali/tercangkul.

C. PENERANGAN DAN KOTAK KONTAK


Pasal 1 : Lampu Dan Armature nya
Lampu dan armature nya harus sesuai dengan yang dimaksudkan, seperti yang
dilukiskan dalam gambar-gambar elektrikal. Semua armature harus mempunyai
terminal pentanahan (grounding).

Pasal 2 : Kabel Instalasi


1. Pada umumnya kabel instalasi penerangan dan instalasi Kotak kontak harus
kabel inti tembaga dengan insulasi PVC, satu inti atau lebih (NYA, NYM, NYY)

2. Kabel harus mempunyai penampang minimal dari 2,5 mm2 kode wama insulasi
kabel harus mengikuti ketentuan PUIL 2000 sebagai berikut:
a. Fasa R : merah
b. Fasa S : kuning
c. Fasa T : hitam
d. Netral : biru
e. Grounding : hijau/kuning

B. INSTALASI ANTI PETIR


Pasal 1 : Spesifikasi
1. Merk yang digunakan setara Viking V6 sesuai dengan gambar rencana.

2. Ujung tongkat penangkap petir dipasang dalam jarak minimal 5 m atau


sesuai dengan Gambar Rencana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 147


Spesifikasi Teknis

3. Penangkal Petir disambung menggunakan socket ukuran 40 x 20 mm dan


disangga dengan Pipa Galvanis diameter 40 mm dengan ketinggian sesuai
dilapangan
4. Instalasi kabel penangkal petir menggunakan NYA 1 x 70 mm sesuai gambar
rencana dan joint ke area grounding

5. Saluran untuk down conductor dipasang pada klem penyangga seperti


gambar rancangan pelaksanaan antara satu dengan yang lain.

6. Pada tempat dimana dipasang pipa pertanahan (ground rod) ditancapkan,


harus dibuatkan bak control dengan ukuran sesuai dengan rancangan
Penyedia Jasa, bak control harus dibuat diluar lantai bangunan.

7. Kemudian saluran BC 70 mm yang ditancapkan bak control tersebut harus


diberi tutup.

8. Kabel BC kemudian dihubungkan dengan batang Root diamater 5/8 inci


dengan menggunakan Baut mur dan scun kabel 70 mm.

9. Saluran BC untuk seluruh system pertanahan ini tidak diperbolehkan ada


sambungan pada tempat yang tidak semestinya.

10. Besarnya tahanan sebar elektroda tanah tersebut tidak lebih dari 12 m (< 5
ohm) yang sesuai dengan gambar rencana.

C. INSTALASI AIR CONDITIONING

Pasal 1 : Umum
1. Air Conditioning yang digunakan yaitu jenis yang menempel di dinding dan
pada Plafond atau Ceiling yang diletakkan pada Gedung Kantor Utama.
2. Pemasangan Exhaust Fan pada setiap ruangan sesuai dengan gambar
rencana yang diletakkan pada Gedung Kantor Utama.
3. Kontraktor Pelaksana harus menunjukkan Brosur tehadap spesifikasi AC dan
Exhaust Fan yang akan digunakan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 148


Spesifikasi Teknis

4. Merk yang digunakan adalah sebagai berikut ;

a. AC dinding : Setara Daikin,Panasonic Kapasitas 0,5 PK,1 PK,


2 PK dan 2,5 PK
b. AC Ceiling : Setara Daikin Model Freon Type Cassete
Kapasitas 18 PK
c. Exhaust Fan : Setara Daikin,Panasonic

3. Untuk Pemasangan AC pada bagian dinding dan pada plafond atau ceiling
harus menggunakan tenaga yang ahli.

4. Apabila terjadi kesalahan dan kerusakan pada AC pada saat pengerjaan,


harus menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana dan harus diganti atau
diperbaiki secepatnya.

5. Posisi penempatan Instalasi Air Conditiner harus mengikuti yang ada dalam
gambar rencana.

6. Pemasangan exhaust fan pada tempat-tempat yang telah ditentukan sesuai


dengan gambar rencana.

7. Setelah terjadi pemasangan, untuk bagian-bagian dinding dan plafond yang


terjadi kerusakan pada saat pemasangan. Harus diperbaiki kembali dan
dirapikan seperti semula.

8. Dilakukan pengetesan Air Conditioner dan Exhaust Fan serta diperiksa oleh
Konsultan Pengawas, apabila terjadi kesalahan pada saat pengetesan
menjadi tanggung jawab oleh Kontraktor Pelaksana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 149


Spesifikasi Teknis

BAB XX
PEKERJAAN MEKANIKAL

PEKERJAAN PLUMBING
Pasal 1 : Ruang Lingkup
1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada bagian-bagian bangunan yang tertera pada
gambar sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Ruang Workshop
c. Mesjid
d. Kantin
e. Asrama Laki-laki
f. Asrama perempuan
g. Rumah Dinas Type 80
h. Rumah Dinas Type 60
i. Tempat Wudhuk
j. Kios 3 In 2
Pasal 2 : Umum
a. Lingkup Pekerjaan
Spesifikasi ini melingkupi kebutuhan untuk pelaksanaan pekerjaan,
sebagaimana yang ditunjukan pada Gambar Rencana yang terdiri dari, tetapi
tidak terbatas pada :
1. Pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi air bersih, air kotor, dan air
bekas sesuai Gambar Rencana dan spesifikasi
2. Pengadaan dan pemasangan peralatan-peralatan bantu bagi seluruh
peralatan Plumbing.
3. Pengetesan dan pengujian dari seluruh instalasi plumbing yang terpasang
kecuali sanitary.
4. Mengadakan masa pemeliharaan selama waktu yang ditentukan oleh
Pengguna Jasa.
5. Pembuatan Shop Drawing bagi instalasi yang akan dipasang dan pembuatan
As Built Drawing bagi instalasi yang telah terpasang.

b. Koordinasi
1. Adalah bukan tujuan dari spesifikasi ini, ataupun gambar rencana untuk
menunjukan secara detail berbagai item pekerjaan dari peralatan-peralatan
dan penyambungan-penyambungan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 150


Spesifikasi Teknis

2. Gambar-gambar rencana menunjukan tata letak secara umum dari


peralatan, pemipaan cabinet dan lain-lain.
3. Penyedia Jasa harus memodifikasi tata letak tersebut sebagaimana yang
dibutuhkan untuk mendapatkan pemasangan-pemasangan yang sempurna
sesuai dengan rencana pekerjaan Arsitek dari peralatan-peralatan tersebut.
Modifikasi yang dibuat oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh Konsultan
Pengawas.
4. Setiap pekerjaan yang disebutkan dalam spesifikasi ini, tapi tidak ditunjukan
dalam Gambar Rencana atau sebaliknya, harus dilengkapi dan dipasang
seperti pekerjaan lain yang disebut oleh spesifikasi teknis dan ditunjukan
dalam Gambar Rencana.

c. Kualifikasi Pekerjaan
1. Untuk pemasangan dan pengetesan pekerjaan ini harus dilakukan oleh
pekerja dan supervisor yang benar-benar ahli dan berpengalaman.
2. Konsultan pengawas dapat menolak atau menunda pelaksanaan suatu
pekerjaan, bila dinilai bahwa Penyedia Jasa tersebut tidak trampil/tidak
berpengalaman.

d. Pengajuan -Pengajuan
Pada saat pelaksanaan pekerjaan Penyedia Jasa harus mengajukan :
1. Material list dari seluruh item peralatan yang akan dipasang.
2. Shop Drawing yang menunjukan secara detail pekerjaan-
pekerjaan/pemasangan peralatan dan pemipaan, penyambungan dengan
pekerjaan-pekerjaan lain atau pekerjaan-pekerjaan yang sulit dilaksanakan.
Ataupun perubahan-perubahan atau modifikasi yang diusulkan terhadap
Gambar Rencana.
3. Prosedur pemasangan yang dikeluarkan oleh pabrik (jika ada) dari
peralatan-peralatan yang akan dipasang.
4. Contoh-contoh material (brosur-brosur untuk peralatan-peralatan yang
besar) dari material/peralatan yang akan dipasang.

e. Review
1. Konsultan Pengawas akan memeriksa (mereview) pengajuan-pengajuan
dari pemborong dan memberi komentar atas hal itu.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 151


Spesifikasi Teknis

2. Penyedia Jasa harus memodifikasi/merevisi pengajuan sesuai dengan


komentar, sampai didapat persetujuan dari Konsultan MK.

f. Gambar Instalasi Terpasang dan Petunjuk Operasi


1. Apabila pekerjaan telah selesai dilaksanakan dan setelah serah terima
pertama Penyedia Jasa wajib menyerahkan gambar-gambar instalasi
terpasang sebanyak 3 set cetak biru dan 1 set transparent, serta 1 set CD.
2. Pemborong juga berkewajiban untuk menyerahkan 3 set petunjuk operasi
dan maintenance dari system yang dipasang dalam bentuk buku dan CD.

g. Bagian Yang berhubungan


Bagian yang berhubungan dengan pekerjaan ini adalah Pemipaan.

Pasal 2 : System
a. Air Bersih
Air bersih yang didapatkan berasal dari PDAM .

b. Air Bekas/Air Kotor


Pada dasarnya air buangan yang berasal dari toilet seperti floor drain, lavatory
(air bekas) dipisah dengan air kotor yang berasal dari WC dan Urinoir (air kotor).
Untuk keperluan ini digunakan 2 (dua) pipa. Air buangan dialirkan ke saluran
luar, dan air kotor padat dialirkan ke Septictank.

c. Air Hujan
Air hujan yang berasal dari talang-talang gantung disalurkan dengan pipa-pipa
PVC diameter 3” ke saluran sekeliling bangunan kemudian disalurkan kesaluran-
saluran utama yang berada pada pinggir Site atau jalan raya.

Pasal 3 : Garansi
1. Penyedia Jasa bertanggung jawab atas pencegahan bahan/peralatan untuk
instalasi ini dari pencurian atau kerusakan. Bahan/peralatan yang hilang atau
rusak harus diganti oleh pemborong tanpa biaya tambahan.
2. Penyedia Jasa harus menggunakan tenaga-tenaga yang ahli dalam bidangnya
(skill Labour) agar dapat memberikan hasil kerja terbaik dan rapi. Sebelum
suatu pipa tertutup (oleh dinding, langit-langit dan lain-lain) harus diuji dan
disetujui oleh Konsultan Pengawas dan wakilnya yang ditunjuk.
3. Penyedia Jasa harus memberikan garansi tertulis kepada Konsultan Pengawas,
bahwa seluruh instalasi penyediaan dan distribusi air bersih, instalasi pemadam

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 152


Spesifikasi Teknis

kebakaran, instalasi buangan air kotor dan instalasi limbah kimia akan bekerja
dengan memuaskan, dan bahwa Penyedia Jasa akan menanggung semua biaya
atas kerusakan-kerusakan/penggantian yang perlu selama Jangka Waktu 1
Tahun.
4. Sebelum pemasangan instalasi plumbing, fixture-fixture dan peralatan lain,
Penyedia Jasa harus menyerahkan contoh barang-barang yang akan dipasang
dan atau brosur-brosurya untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan
Pengawas.

Pasal 4 : Test Commissioning


1. Seluruh sistem plumbing yang telah terpasang harus dilakukan test
commissioning sebagaimana mestinya supaya sistem berjalan sempurna
dengan yang diharapkan.
2. Biaya test commissioning oleh Penyedia Jasa.

PERKERJAAN PEMIPAAN
Pasal 1 : Umum
a. Ruang Lingkup
1. Spesifikasi ini merupakan persyaratan minimal untuk seluruh pekerjaan
pemipaan pada pekerjaan mekanikal.

b.Standard dan Code


1. Standard dan peraturan yang berlaku dalam pekerjaan ini antara lain adalah
:
- ASTM : American Society of Testing Material.
- ANSI : American National Standard Institute.
- BS : Birmingham Standard.
- JIS : Japan Industrial Standard.
- SII : Standard Industri Indonesia.

Pasal 2 : Persyaratan Material


a. Galvanized Iron Pipe (GIP)
1. Pipa yang dilapisi seng besi ini digunakan untuk :
Pipa supply air bersih pada pekerjaan Plumbing

2. Standard ranting yang digunakan adalah :


BS 1387 tahun 1967 kelas medium.

b.Poly Vinyl Chloride (PVC)

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 153


Spesifikasi Teknis

1. Pipa ini digunakan untuk :


a. Pipa air kotor dari WC dan Urinoir.
b. Pipa air buangan floor drain, lavatory

2. Pipa drain dari system tata udara.


a. Pipa vent pada plumbing system.
b. Pipa air hujan.

3. Standard Ranting yang digunakan.


a. PVC ASTM D2665 kelas 10 kg.

Pasal 3 : Persyaratan pemasangan


a. Pipa GIP
1. Untuk pipa diameter 50 mm (2”) kebawah digunakan sambungan ulir,
sedang pipa dengan diameter 65 mm (2.1/2”) ke atas digunakan
sambungan las atau flauge.

2. Pada penyambungan pipa dengan menngunakan flens perlu dilengkapi


dengan ring type gasket untuk menjamin kekuatan sambungan dan
terhadap kebocoran.

3. Semua pipa baik yang tampak atau yang ditanam diharuskan diberi lapisan
pelindung cat menie. Pipa yang ditanam ditanah diharuskan dilapisi lagi
dengan Bituminuos sheet 2 mm.

4. Khusus untuk pipa yang ditanam dalam tanah perlu memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
a. Pipa ditanam sedalam 60 cm dari permukaan tanah dan pada
sambungan pipa diberi dudukan dari beton untuk menghindari
lendutan bila terkena beban mekanis.
b. Disekeliling pipa harus diisi dengan pasir dengan ketebalan 15 cm
kemudian diurug dengan tanah & dipadatkan.

5. Untuk pipa yang tidak berada dalam tanah baik yang terikat maupun tidak,
harus diberi lapisan finishing cat dengan warna .

6. Pipa-pipa diharuskan di test terhadap kebocoran. Pengetesan wajib


diketahui dan disetujui Konsultan Pengawas.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 154


Spesifikasi Teknis

7. Pengetesan yang gagal harus diulang dan biaya pengetesan serta peralatan
yang diperlukan di tanggung Penyedia Jasa.

8. Instalasi pipa harus dilengkapi dengan penggantung pipa, support dengan


jarak tertentu dan memenuhi syarat, sebagaimana yang ditunjukan dalam
Gambar Rencana.

9. Kedalaman pipa yang ditanam didalam tanah harus diperhitungkan


terhadap jalur yang memotong jalan. Pipa yang memotong jalan harus
ditanam sampai suatu kedalaman minimla 1,20 m dari permukaan jalan.

b.Pipa PVC
1. System sambungan yang dipakai adalah :
a. Sambungan lem (perekat) untuk 80 mm (3”) ke bawah.
b. Digunakan sambungan las PVC atau rubber ring joint (dengan ring dari
karet).

2. Galian pipa-pipa dalam tanah harus dibuat dengan kedalaman, kemiringan


dan elevasi yang tepat.

3. Dasar lubang galian harus cukup stabil dan rata sehingga seluruh panjang
pipa terletak/tertumpu dengan baik.

4. Pipa yang ditanam dalam tanah harus diberi lapisan pasir kurang lebih 10
cm disekelilingnya. Pasir adalah pasir urug yang bebas dari batu.

5. Selama pemasangan berkala, Penyedia Jasa harus menutup (Dop) setiap


ujung pipa yang terbuka untuk mencegah masuknya tanah, debu, kotoran
dan lain-lain.

6. Semua sambungan/cabang dari pipa pembuangan air kotor (sanitair) harus


dibuat dengan cabang Y, pipa mendatar untuk air kotor dan air hujan
mempunyai kemiringan minimal 1% dan maksimal 2%.

7. Pipa-pipa pembuangan air hujan dan bangunan disambungkan kesaluran


utama diluar bangunan dengan bak kontrol (junction box) dari beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 155


Spesifikasi Teknis

8. Sleeves untuk mempunyai ukuran yang cukup dengan ketebalan minimal


0,2 cm dan memberikan kelonggaran kira-kira 1 cm masing-masing sisi
diluar pipa atau joint.

9. Sleeves untuk dinding dibuat dari pipa baja.

10. Semua pipa harus diikatkan/ditetapkan dengan kuat pada penggantung


atau angker yang dipergunakan harus cukup kokoh (rigid).

11. Pipa-pipa tersebut harus ditumpu untuk menjaga agar tidak berubah
tempatnya, inklinasinya harus tetap, untuk mencegah timbulnya getaran,
dan harus sedemikian rupa sehingga masih memungkinkan konstruksi dan
expansi pipa oleh perubahan temperatur.

12. Pipa horizontal harus digantung dengan penggantung yang dapat diatur
(adjustable) dengan jarak antara tidak lebih dari 3 meter.

13. Penyedia Jasa harus mengajukan Konstruksi dari penggantung untuk


disetujui oleh Konsultan Pengawas. Penggantung terbuat dari kawat, rantai,
strap ataupun perforated strip tidak boleh digunakan.

14. Penggantung atau penumpu pipa harus disekrupkan (terikat) pada


konstruksi bangunan dengan insert yang dipasang pada waktu pengecoran
beton atau penembokan, atau dengan baut tembok (Ramset Bolt).

15. Pipa vertikal harus ditumpu dengan klem (Clamp atau Collar) U-Bolt.

16. Penggantung/penumpu pipa dan peralatan-peralatan logam lainnya yang


akan tertutup oleh tembok atau bagian bangunan lainnya harus dilapisi
terlebih dahulu dengan cat menie atau cat penahan karat.

Pasal 4 : Pengujian/Pengetesan
a. Pengujian Pipa GIP
Pipa GIP diuji dengan tekanan sebesar 1,5 kali tekanan kerja dan dibiarkan
dalam kondisi ini selama paling kurang 12 jam tanpa mengalami penurunan
tekanan. Segala kerusakan akibat pengetesan ini menjadi beban Penyedia Jasa.

b.Pengujian Pipa PVC

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 156


Spesifikasi Teknis

1. Seluruh system pembuangan air harus mempunyai lubang-lubang yang


dapat ditutup (plugged) agar seluruh system tersebut dapat diisi dengan air
sampai lubang “vent” tertinggi.

2. Sistem tersebut harus dapat menahan air yang diisikan seperti tersebut
diatas, minimal selama 1 (satu) jam dan penurunan air selama waktu
tersebut tidak lebih dari 10 cm.

3. Apabila dan pada waktu Konsultan Pengawas menginginkan pengujian lain


disamping pengujian diatas, Penyedia Jasa harus melakukan dan menjadi
tanggung jawab Penyedia Jasa.

Pasal 5 : Merk Yang Digunakan


1. GIP & Black Steel : setara Bakrie, Teso, PPI
2. PVC : setara Pralon, Rucika, Polyunggul, Vinilon/Sinar Lucky,
AW United

PEKERJAAN SANITAIR
Pasal 1 : Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan sanitary meliputi semua pekerjaan yang berhubungan dengan peralatan:
 Kloset Duduk;
 Pemasangan Kran Air;
 Pemasangan Pipa Air Bersih, Air Kotor;
 Pemasangan Floor Drain; dan
 Lain-Lain.

Pasal 2 : Material
1. Merk material ditentukan seperti berikut ini atau yang setara dengannya:
 Kloset Duduk : Setara TOTO
 Wastafel : Setara TOTO
 Floor Drain : Setara TOTO
 Paper Holder : Setara TOTO
 Urinoir : Setara TOTO
 Handler Difabel : Stainless Steel

2. Kontraktor harus mengajukan contoh material dan brosur minimal


dua merk yang berbeda untuk disetujui oleh Konsultan Pengawas.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 157


Spesifikasi Teknis

IPAL (INSTALASI PEMBUANGAN AIR LIMBAH)


Pasal 1 : Ruang Lingkup
Pembangunan IPAL ini melingkupi pembuatan instalasi pembuangan air kotor
meliputi;
a. Bak Inlet
b. Bak Equalisasi
c. Settler
d. Anaerobic Bafle Reactor
e. Bak Outlet
f. Bak kontrol
g. Manhole Diameter 60 inchi Plat Baja.

Pasal 2 : Persyaratan
1. IPAL hanya diperuntukan untuk tampungan limbah padat yang berasal dari
Kloset pada bangunan KM/WC

2. Keseluruhan Konstruksi IPAL dan Penempatan mengikuti gambar rencana.

3. Dibawah Plat beton cor tebal 20 cm dibuat pasir urug dan lantai kerja 1 : 3 : 5

4. Pada Kontruksi IPAL memakai beton bertulang dengan detail sebagai berikut;

a. Kolom K1 (20 x 20 cm) memakai besi utama 6 buah besi diameter 12 mm


dan begel besi diameter 10 mm jarak 150 mm
b. Kolom K2 (15 x 15 cm) memakai besi utama 4 buah besi diameter 12 mm
dan begel besi diameter 10 mm jarak 150 mm
c. Balok B1 (15 x 20 cm) memakai besi utama 6 buah besi diameter 12 mm
dan begel besi diameter 10 mm jarak 150 mm
d. Balok B2 (15 x 25 cm) memakai besi utama 6 buah besi diameter 12 mm
dan begel besi diameter 10 mm jarak 150 mm
e. Balok Penyangga penutup beton IPAL B3 (15 x 25 cm) memakai besi
utama 5 buah besi diameter 12 mm dan begel besi diameter 10 mm jarak
150 mm
f. Plat Beton Cor besi utama memakai besi diameter 10 mm dan begel
memakai diameter 6 mm jarak 100 mm

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 158


Spesifikasi Teknis

5. Pada bagian atas permukaan septictank harus diberi lubang control ukuran 60 x
60 cm untuk keperluan penyedotan limbah dan pipa pelepas hawa dari galvanis
diameter 2” yang dicat dengan baik agar tidak berkarat.

6. Kedalaman, dimensi dan posisi – posisi IPAL sesuai dengan gambar rencana
kecuali ditentukan lain oleh konsultan Pengawas dengan persetujuan konsultan
perencana karena alasan seperti keterbatasan lahan penempatan dan alasan
teknis lainnya.

7. Tidak boleh mendirikan dan membangun bangunan lain diatas Septictank tanpa
persetujuan konsultan Pengawas dan konsultan perencana.

8. Hasil pembuangan air limbah disalurkan pada saluran menuju drainase umum.

9. Penyedia Jasa harus menjamin bahwa bangunan septictank benar-benar kedap


air dan hal ini harus dibuktikan dengan Test Rendam Air selama 24 jam.

10. Jika air dalam septictank berkurang setelah 24 jam maka dipastikan bahwa ada
kebocoran pada bangunan tersebut dan Penyedia Jasa dengan biaya sendiri
berkewajiban untuk memperbaikinya.

PEKERJAAN SEPTICTANK DAN RESAPAN


Pasal 1 : Ruang Lingkup
Pekerjaan Septictank dan Resapan mengunakan bentuk sumuran sesuai gambar
rencana.

Pasal 2 : Pasir Beton


4. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

5. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila
lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

6. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

10. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 159


Spesifikasi Teknis

11. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

12. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton
adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.

13. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat
merusak beton.

14. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

15. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 3 : Kerikil Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.

4. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila
lebih dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

9. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

10. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6
mm.
7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.

8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural


atau beton dengan mutu dibawah K-250.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 160


Spesifikasi Teknis

10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 4 : Batu Pecah


1. Batu pecah adalah hasil produksi mesin pemecah batu (Stone Cruser) dan
bukan hasil pekerjaan manual (manusia).

2. Batu pecah berasal dari batuan kali.

3. Terdiri dari butiran yang keras dan bersifat kekal.

4. Tingkat ketahanan terhadap keausan butiran minimal 95%.

5. Jumlah butiran Lonjong dan Pipih minimal 5%.

6. Tidak boleh mengandung lumpur dan zat-zat yang dapat merusak beton
seperti zat alkali.

7. Ukuran butiran terkecil minimal 1 cm dan ukuran butiran terbesar maksimal


3 cm.

8. Butiran batu pecah dalam setiap meter kubiknya tidak boleh seragam tetapi
merupakan campuran antara butiran 1 cm sampai butiran 3 cm.

9. Batu pecah yang akan dipakai untuk material campuran beton harus melalui
proses pemeriksaan di Laboratorium beton.

10. Batu pecah hanya dan harus dipakai pada campuran beton struktural atau
beton dengan mutu K-250.

Pasal 5 : Semen Portland


7. Terdaftar dalam merk dagang.

8. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan
beton struktural maupun beton non struktural.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 161


Spesifikasi Teknis

9. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.

10. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.

11. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen
Portland Type I.

12. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk


bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 6 : Air
4. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.

5. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat
merusak beton.

6. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan
dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas sebelum digunakan.
Pasal 7 : Tulangan Beton
1. Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas
2. Baja tulangan diatas diameter 12 mm atau lebih adalah Baja Ulir.

3. Baja tulangan sengkang/begel atau dibawah diameter 12 mm adalah baja


polos.

4. Untuk tulangan beton

5. Semua Besi tulangan ulir mempunyai tegangan tarik/luluh besi minimal


3200 kg/cm2 atau 320 MPa, sedangkan besi tulangan polos mempunyai
tegangan tarik/luluh besi minimal 2400 kg/cm2 atau 240 MPa.

6. Kebenaran akan tegangan tarik/luluh besi tulangan harus dibuktikan


dengan percobaan/uji tarik pada Laboratorium Beton minimal untuk 3
benda uji.

7. Besi tulangan mempunyai bentuk dan penampang yang sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai Gambar Rencana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 162


Spesifikasi Teknis

8. Besi ulir yang telah sekali dibengkokkan tidak boleh dibengkokkan lagi
dalam arah yang berlawanan.

9. Besi tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari


hubungan langsung dengan tanah dan terlindung dari air hujan.

10. Semua peraturan tentang besi tulangan di Indonesia untuk bangunan


gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 9 : Rancangan Campuran Beton (Job Mix Disain)


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton struktural dengan
mutu K-250 Penyedia Jasa harus membuat Rancangan Campuran Beton
(Job Mix Disain).

2. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan Karakteristik yang
diperoleh dari pengujian benda uji kubus umur 28 hari minimal 20 benda
uji.

3. Mutu beton untuk masing-masing komponen struktur adalah seperti yang


dijelaskan dalam Gambar Rencana dan Bill of Quantity.

4. Job Mix Disain adalah hasil pekerjaan ahli beton pada Laboratorium Beton
yang diakui oleh Pemerintah.

6. Material Pasir dan Batu Pecah yang dipakai untuk Job Mix Disain haruslah
material yang akan dipakai nantinya pada pelaksanaan dilapangan dan
material tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup dilokasi pekerjaan
sampai volume pekerjaan beton selesai dikerjakan.

7. Penggantian material dengan material selain material dalam Laporan Job


Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton tidak dibenarkan.

8. Penggantian material dengan material selain material dalam Laporan Job


Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton mengharuskan
Penyedia Jasa untuk membuat Job Mix Disain baru.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 163


Spesifikasi Teknis

9. Laporan Job Mix Disain untuk masing-masing mutu beton minimal harus
mencantumkan :
i. Laporan hasil penelitian Pasir Beton;
j. Laporan hasil penelitian Batu Pecah;
k. Komposisi Pasir Beton;
l. Komposisi Batu Pecah;.
m. Komposisi Air Beton;
n. Komposisi Zat Additive jika digunakan;
o. Nilai Slump Rencana; dan
p. Nilai Faktor Air semen.

10. Job Mix Disain yang dibuat oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas sebelum dilaksanakan.

11. Semua aturan yang disyaratkan dalam Job Mix Disain dan telah disetujui
oleh Konsultan Pengawas harus diikuti dan dilaksanakan oleh Penyedia Jasa

Pasal 10 : Rencana Campuran Lapangan (Job Mix Formula)


1. Berdasarkan Job Mix Disain yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas,
Penyedia Jasa harus membuat Rencana Campuran Lapangan (Job Mix
Formula) beton struktural dengan mutu K-250.

2. Job Mix Formula tidak boleh berbeda dengan Job Mix Disain terutama dari
segi komposisi material beton.

3. Hasil perhitungan Job Mix Formula harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

4. Penyedia Jasa harus membuat media standar berupa bak-bak dari kayu
atau timba-timba plastik yang dipakai untuk mentakar komposisi material
berdasarkan perhitungan Job Mix Formula.

5. Pentakaran komposisi material campuran beton dengan bak-bak standar


dilokasi pekerjaan tidak boleh mengurangi dan berbeda dengan komposisi
material beton yang ada dalam Job Mix Disain.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 164


Spesifikasi Teknis

6. Penyedia Jasa harus melakukan pengujian hasil perhitungan Job Mix


Formula dengan media benda uji kubus beton ukuran 20x20x20 cm minimal
5 benda uji.

7. Hasil pengujian Job Mix Formula di Laboratorium Beton yang menghasilkan


mutu beton yang tidak sesuai dengan mutu beton pada Job Mix Disain
mengharuskan Penyedia Jasa melakukan perhitungan ulang akan Job Mix
formula atau merubah Job Mix Disain.

8. Tidak tercapainya mutu beton seperti yang diinginkan karena kesalahan


dalam perhitungan Job Mix Formula sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa.

Pasal 11 : Perakitan Tulangan


1. Perakitan tulangan dapat dilakukan di bengkel kerja oleh Penyedia Jasa atau
langsung pada lokasi konstruksi.

2. Khusus untuk Pondasi Plat Lantai Beton dan Plat Daag perakitan tulangan
harus dilakukan langsung lokasi konstruksi atau Bekisting.

3. Dimensi, model, bengkokan, jarak dan panjang penyaluran tulangan harus


sesuai dengan Gambar Rencana dan Shop Drawing, standar Peraturan
Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI 2847:2013.

4. Penyedia Jasa harus menyediakan Shop Drawing dan daftar bengkokan,


dimensi, model, dan panjang penyaluran tulangan pada bengkel kerja untuk
menghindari kesalahan dalam pekerjaan perakitan tulangan.

5. Tulangan balok dan kolom yang telah selesai dirakit jika tidak langsung
dipasang harus diletakan ditempat yang terlindungi dari hujan dan tidak
boleh bersentuhan langsung dengan tanah.

6. Untuk tulangan plat lantai dan plat dack dirakit langsung diatas bekisting
yang telebih dahulu telah selesai dikerjakan.

7. Semua tulangan utama balok dan kolom harus terikat dengan baik oleh
sengkang dengan alat ikat kawat beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 165


Spesifikasi Teknis

8. Jaring tulangan plat harus terikat dengan baik satu dengan yang lain dengan
alat ikat kawat beton.

9. Tulangan yang telah selesai dirakit tidak boleh dibiarkan lebih dari 3 hari
dalam bekisting.

Pasal 12 : Sambungan Antar Tulangan


1. Sambungan antar tulangan, penjangkaran tulangan dan panjang penyaluran
tulangan pada kondisi pembeban lentur, beban tarik, beban tekan, jika
tidak ditentukan lain dalam Gambar Rencana maka harus sesuai dengan
syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan
SK SNI 2847:2013.

2. Titik-titik sambungan tulangan lewatan pada plat lantai tidak boleh dibuat
pada posisi satu garis lurus. Sambungan harus dibuat selang-seling atau zig-
zag antara batang yang disambung dengan batang yang tidak disambung.

3. Panjang sambungan lewatan jika tidak ditentukan lain dalam Gambar


Rencana, Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK SNI 2847:2013 harus
diambil minimal 40 kali diameter batang yang disambung.

4. Sambungan-sambungan harus dibuat antara sesama tulangan utama. Tidak


dibenarkan dengan alasan apapun menggunakan tulangan extra (tulangan
tambahan) untuk menyambung tulangan utama dengan tulangan utama
lain kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan SK
SNI 2847:2013.

5. Penjangkaran tulangan atau kait-kait pada posisi pemutusan tulangan jika


tidak ditentukan lain dalam Gambar Rencana maka harus sesuai dengan
syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan
SK SNI 2847:2013.

6. Sambungan-sambungan pada kondisi pembeban tarik dan lentur pada


komponen balok, plat lantai dan plat dack ujung-ujung sambungan harus
dibuat kait (hook) kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Beton Indonesia
(PBI) dan SK SNI 2847:2013.

7. Sambungan tulangan kolom harus dilakukan pada posisi permukaan sloof


dan plat lantai atau pada posisi tengah bentang kolom. Penyambungan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 166


Spesifikasi Teknis

pada posisi selain pada posisi tersebut dengan alasan apapun tidak
dibenarkan.

Pasal 13 : Acuan/ Bekisting


1. Bahan utama bekisting adalah multiplek 9 mm yang diperkuat oleh balok-
balok kayu 5/7 cm atau 5/10 cm dari kayu kelas kuat III

2. Penggunaan papan kayu sebagai bekisting dengan alasan apapun tidak


diperbolehkan

3. Penggantian material bekisting dengan material selain yang disebutkan


pada point 1 harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas

4. Penyedia Jasa harus mengajukan Shop Drawing untuk bentuk konstruksi


bekisting balok, kolom, plat lantai, dan plat atap serta konstruksi lain yang
dianggap perlu oleh Konsultan Pengawas
5. Penggunaan bekisting system bongkar pasang dari bahan besi harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas

6. Permukaan bekisting harus dilumuri atau dioleskan dengan cairan Residu


atau cairan Ter supaya hasil campuran beton tidak menempel pada
bekisting waktu akan dibuka sehingga dapat menghasilkan permukaan
beton yang rapi

7. Bentuk bekisting harus menghasilkan konstruksi akhir sesuai rencana.

8. Bekisting harus kokoh dan rapat sehingga pada waktu diisi dengan
campuran beton tidak bocor atau berubah bentuknya.

9. Hasil pekerjaan bekisting harus diperiksa kembali kebenaran elevasi,


kelurusannya terhadap arah vertikal oleh Penyedia Jasa dengan alat
Theodolit dan Waterpass. Pemeriksaan secara manual tidak dibenarkan.

10. Hasil pekerjaan bekisting harus disetujui oleh Konsultan Pengawas


sebelum dilakukan pekerjaan pengecoran beton.

11. Bekisting yang telah dicor beton tidak boleh dibuka kurang dari 28 hari
terhitung sejak waktu pengecoran kecuali ditentukan lain oleh Konsultan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 167


Spesifikasi Teknis

Pengawas karena alasan penggunaan zat additive yang dapat mempercepat


proses pengerasan beton atau alasan-alasan teknis yang dapat
dipertanggung jawabkan .

12. Pekerjaan membuka bekisting tidak boleh merusak permukaan beton jika
hal ini terjadi Penyedia Jasa harus memperbaikinya dengan pekerjaan acian
beton.

13. Perbaikan permukaan beton yang rusak akibat kesalahan pembukaan


bekisting atau sebab lain harus disetujui oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 14 : Lantai Kerja Beton ( Line Concrete )


1. Untuk komponen struktur beton yang berhubungan langsung dengan tanah
atau pasir urug, pada lapisan dasarnya harus memakai Lantai Kerja Beton
(Line Concrete) dengan tebal minimal 5 cm atau sesuai Gambar Rencana.
2. Lantai Kerja Beton dibuat dari beton mutu K-100.

7. Hasil pekerjaan Lantai Kerja Beton harus benar-benar elevasi , hal ini harus
dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.

Pasal 15 : Pengecoran Beton ( Casting Concrete )


1. Sebelum memulai pekerjaan pengecoran Penyedia Jasa harus memastikan
Acuan/bekisting telah selesai 100% dan telah disetujui oleh Konsultan
Pengawas

2. Pengecoran beton structural mutu K-250 hanya boleh dilakukan oleh


Penyedia Jasa jika Job Mix Disain, Job Mix Formula, Perakitan Tulangan,
Bekisting, Request Pekerjaan dan hal-hal lain yang diperlukan dan
berhubungan dengan pekerjaan pengecoran sudah disetujui oleh Konsultan
Pengawas

3. Sedapat mungkin untuk melakukan sekali pengecoran untuk setiap bagian


konstruksi sehingga dapat menghindari sambungan-sambungan beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 168


Spesifikasi Teknis

4. Pengecoran dalam kondisi cuaca hujan tidak dibenarkan kecuali Penyedia


Jasa menjamin bahwa bekisting dan hasil pengecoran tidak berhubungan
langsung dengan air hujan.

5. Pengecoran beton harus dilakukan dengan Concrete Mixer (molen) dan


tidak diperbolehkan melakukan pengecoran dengan cara pengadukan
manual kecuali untuk beton-beton dengan mutu dibawah K-125 atau
nonstruktural.

6. Urutan pemasukan material beton dimulai dengan Batu Pecah Beton, Pasir
Beton, Semen, Air, dan Zat Additive (jika ada). Urutan ini bisa dirubah
dengan persetujuan Konsultan Pengawas.
7. Lama pengadukan material beton dalam Concrete Mixer minimal 1,5 menit
kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas.

8. Hasil pengadukan beton dalam Concrete Mixer apabila diputuskan oleh


Konsultan supervise sudah cukup langsung dituang dalam wadah yang
sebelumnya telah disiapkan oleh Kontrator Pelaksana.

9. Beton segar hasil pengadukan molen dapat diangkut dengan kereta dorong
oleh pekerja kelokasi bekisting untuk dituang.

10. Beton segar harus segera dituang kedalam bekisting dan tidak boleh
dibiarkan lebih dari 10 menit berada dalam wadah kereta sorong atau bak
tampungan beton. Penggunaan zat additive seperti Super Plasticizer juga
tidak membolehkan beton segar terlalu lama dalam wadah tampungan
kecuali disetujui oleh Konsultan Pengawas.

11. Beton segar yang telah dituangkan harus dipadatkan dengan Concrete
Vibrator sampai mencapai kepadatan optimum.

12. Tinggi jatuh penuangan beton untuk bekisting kolom minimal 1,5 meter.

13. Penuangan beton dalam balok, plat lantai, plat atap, dan kolom tidak boleh
menciptakam sangkar kerikil atau penumpukan kerikil pada posisi tententu
pada saat bekisting dibuka.

14. Jika terjadi sangkar kerikil Penyedia Jasa harus memperbaiki bagian itu
dengan mempergunakan beton campuran zat kimia khusu untuk

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 169


Spesifikasi Teknis

sambungan (joint) seperti Produk SIKA dengan persetujuan Konsultan


Pengawas.

15. Pengecoran beton tidak boleh dilakukan langsung diatas tanah Penyedia
Jasa harus membuat lantai kerja dari campuran 1 Sm : 3 Ps : 6 Kr sehingga
air semen tidak meresap dalam tanah dan bentuk penampang beton sesuai
dengan yang direncanakan.

16. Antara pengecoran pertama dengan pengecoran kedua untuk konstruksi


yang sama tidak boleh lebih dari 1 hari.

Pasal 15 : Beton Ready Mix (Beton Siap Curah)


1. Penggunaan beton Ready Mix oleh Penyedia Jasa harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas.

2. Penyedia Jasa tetap diwajibkan untuk menyerahkan Job Mix Disain kepada
Konsultan Pengawas terhadap semua mutu beton structural yang
menggunakan Beton Ready Mix.

3. Job Mix Disain harus disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum


digunakan.

4. Kualitas beton yang dihasilkan oleh Batching Plant tetap menjadi tanggung
jawab Penyedia Jasa.

Pasal 16 : Pembongkaran Bekisting/Mal Beton


1. Bekisting tidak boleh dibuka/dibongkar dan dibebani jika beton dalam
bekisting belum berumur 28 hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Pengawas.

2. Walaupun ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas bekisting beton tetap


tidak boleh dibuka dan dibebani sebelum berumur minimal 21 hari.

3. Pembukaan dan pembebanan Bekisting beton kurang dari 14 hari karena


alasan adanya pemakaian Zat Additive yang dapat mempercepat
pengerasan beton harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 170


Spesifikasi Teknis

Pasal 17 : Perawatan Beton (Curing)


4. Penyedia Jasa harus melakukan perawatan dan pemeliharaan terhadap
beton yang telah selesai dituang dalam bekisting.

5. Perawatan dapat berupa menutup permukaan beton dengan karung goni


kemudian menyiram air secara rutin kepermukaan beton sampai beton
berumur 28 hari. Penggunaan metode lain untuk perawatan beton harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas.

6. Perawatan harus terus menerus dilakukan minimal sampai beton berumur


28 hari atau sampai beton siap untuk dibebani menurut keputusan
Konsultan Pengawas.

KERAMIK DINDING DAN LANTAI WC


Pasal 1 : Ruang Lingkup

1. Pemasangan keramik pada seluruh dinding dan lantai wc menurut gambar rencana.
2. Ukuran keramik dinding adalah sesuai dengan Gambar Rencana dan Bill of Quantity.
Jenis : Keramik
 Ukuran : 30 x 30 cm, atau ukuran sesuai petunjuk dalam gambar
 Produksi : Keramik untuk Dinding, yang digunakan adalah Produk setara
Roman,Platinum
 Ketebalan : Minimum 10 mm atau sesuai dlm gambar.
 Warna : akan ditentukan kemudian
3. Ukuran keramik Lantai adalah sesuai dengan Gambar Rencana dan Bill of Quantity.
Jenis : Keramik
 Ukuran : 25 x 25 cm, atau ukuran sesuai petunjuk dalam gambar
 Produksi : Keramik untuk lantai, yang digunakan adalah Produk setara
Roman,Platinum Ketebalan : Minimum 10 mm atau sesuai dlm gambar.
 Warna : akan ditentukan kemudian

4. Ukuran keramik Lantai adalah sesuai dengan Gambar Rencana dan Bill of Quantity.
Jenis : Keramik
 Ukuran : 20 x 25 cm, atau ukuran sesuai petunjuk dalam gambar
 Produksi : Keramik untuk lantai, yang digunakan adalah Produk setara
Roman,Platinum Ketebalan : Minimum 10 mm atau sesuai dlm gambar.
 Warna : akan ditentukan kemudian
5. Ukuran keramik Lantai adalah sesuai dengan Gambar Rencana dan Bill of Quantity.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 171


Spesifikasi Teknis

Jenis : Keramik
 Ukuran : 20 x 30 cm, atau ukuran sesuai petunjuk dalam gambar
 Produksi : Keramik untuk lantai, yang digunakan adalah Produk setara
Roman,Platinum Ketebalan : Minimum 10 mm atau sesuai dlm gambar.
 Warna : akan ditentukan kemudian

6. Ukuran keramik Lantai adalah sesuai dengan Gambar Rencana dan Bill of Quantity.
Jenis : Keramik
 Ukuran : 20 x 20 cm, atau ukuran sesuai petunjuk dalam gambar
 Produksi : Keramik untuk lantai, yang digunakan adalah Produk setara
Roman,Platinum Ketebalan : Minimum 10 mm atau sesuai dlm gambar.
 Warna : akan ditentukan kemudian

4. Untuk Lantai 1 keramik dipasang langsung diatas beton cor bawah lantai dengan
memakai spesi campuran 1 Pc : 2 Ps setebal minimal 2,5 cm.

5. Pasir yang dipakai untuk pasangan granit dan keramik adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.

6. Pemasangan keramik harus sesuai dan mengikuti Gambar Pola Lantai yang ada dalam
Gambar Rencana.

7. Warna dan Motif keramik Lantai dapat diganti dan dirubah pada masa pelaksanaan
konstruksi oleh Konsultan Perencana dan Pengguna Jasa.

8. Keramik lantai dan dinding harus mempunyai tebal minimal 5 mm.

9. Bentuk dan dimensi keramik lantai dan dinding harus benar-benar siku serta standar
untuk semua ukuran yang sama.

10. Potongan-potongan keramik yang terpasak dilakukan karena mengikuti pola lantai
harus sama dimensinya sepanjang bidang yang memerlukan potongan. Potongan-
potongan tersebut harus sama dengan dimensi pada gambar pola lantai.

11. Celah-celah/Nat yang terbentuk antar keramik akibat pemasangan keramik dan
sebagai tempat isian perekat antar keramik dalam bidang tebalnya adalah maksimal 3
mm.

12. Elevasi hasil pemasangan keramik

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 172


Spesifikasi Teknis

13. lantai dan dinding Toilet dan Kamar Mandi harus lebih rendah dari lantai ruang lain
kecuali ditentukan lain dalam Gambar Rencana.

14. Hasil pemasangan keramik harus benar-benar rata, tidak bergelombang, dan tidak
melengkung keatas. Elevasi lantai dan dinding keramik hasil pemasangan harus
diperiksa kedatarannya dengan pekerjaan waterpassing.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 173


Spesifikasi Teknis

BAB XXI
PEKERJAAN MEKANIKAL PEMADAM KEBAKARAN

Pasal 1 : UMUM
1. Lingkup Pekerjaan

a. Pekerjaan yang dimaksud ialah mengenai pelaksanaan pekerjaan :


Pengadaan, pemasangan dan penyetelan INSTALASI FIRE FIGHTING
yang terdiri dari : Instalasi-instalasi fire hydrant & fire extinguiser,
Sprinkler System.
b. Membuat gambar instalasi terpasang secara lengkap.
c. Melatih operator yang ditunjuk oleh pemberi tugas tentang instalasi
yang dipasang. Pemborong diwajibkan pula menyerahkan Dokumen
cara operasi maupun pemeliharaan dari sistem tersebut.
d. Melaksanakan masa pemeliharaan, Pemborong harus
menyediakan tenaga yang cakap untuk pemeliharaan terhadap
instalasi yang telah dipasangnya selama 6 (enam) bulan dihitung
dari masa penyerahan instalasi. Pemborong harus bersedia datang
sewaktu-waktu jika terjadi masalah atau kerusakan serta
memperbaikinya segera.
e. Garansi
Pemborong harus memberikan garansi dari pabrik selama paling
kurang satu tahun untuk pompa-pompa.

2. Pengiriman

a. Tata cara pelaksanaan yang tercantum dalam peraturan yang


syah berlaku di Republik Indonesia ini harus betul-betul ditaati antara
lain Dinas Pemadam kebakaran Pemerintah setempat. Peraturan-
peraturan Depnaker, LPC, NFPA kecuali bila dibatalkan oleh Rencana
Kerja dan Syarat.

b. Pemborong diharuskan :
- Mengirimkan contoh bahan yang akan digunakan.
- Menyerahkan brosur dan Gambar Detail peralatan yang
akan digunakan sebelum dilakukan pemesanan untuk disetujui
MK.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 174


Spesifikasi Teknis

- Menyediakan peralatan yang baik untuk pelaksanaan seperti water


pas, water pump, pipe cutters, pipe dan tube threaders, meteran,
meggertest dan lain-lain. Viset dan Fastening Tools.

c. Apabila MK meragukan kualitas bahan atau alat tertentu, maka


bahan tersebut akan dikirimkan ke laboratorium penyelidikan bahan,
atas biaya Pemborong dan alat dimaksud harus segera diganti
bila tidak memenuhi syarat.

d. Bahan yang dinyatakan tidak baik oleh Pemberi Tugas/MK lapangan


maka Pemborong harus menyingkirkan bahan tersebut keluar
lapangan dalam jangka waktu 3 (tiga) hari.

3. Pelaksanaan Pekerjaan

a. Sebelum melaksanakan pekerjaan instalasi, Pemborong diwajibkan


mengetahui lintasan dan posisidari instalasi listrik, ground sistem, air
dan sanitasi yang ada hubungannya dengan pekerjaan fire protection
ini.

b. Jika didalam melaksanakan pekerjaan ada salah satu bagian instalasi


yang sukar dilaksanakan, Pemborong wajib membuat laporan tertulis
dan hal tersebut segera dibicarakan dengan MK/pengawas.

c. Pekerjaan bisa dianggap selesai dan diterima apabila telah


dilakukan test dan dinyatakan baik secara tertulis oleh MK.

d. Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan baik oleh orang-orang


yang ahli. Untuk pelaksanaan khusus Pemborong harus memberikan
surat pernyataaan yang membuktikan bahwa pelaksanaannya memang
mempunyai pengalaman dan kecakapan tersebut.

e. Semua barang dan peralatan yang dipergunakan untuk instalasi


harus baru dan memenuhi persyaratan yang ditentukan. Jika barang
dan peralatan tersebut tidak ditentukan dalam rencana kerja &

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 175


Spesifikasi Teknis

syarat maka barang- barang tersebut harus barang-barang yang


normal dipakai.

f. Mengikuti ketentuan pekerjaan instalasi plambing.

g. Selama pekerjaan berlangsung Pemborong harus


mengembalikan pada keadaan semula, Misalnya harus terjadi
pembobokan dinding, lantai dan sebagainya. Pembobokan ini baru
dilaksanakan setelah mendapat izin tertulis dari MK/pengawas.

Pasal 2 : SISTEM
System pemadam kebakaraan disini pada dasarnya terbagi menjadi 3 bagian
yaitu :
• Fire Hydrant System
• Fire Extinguisher System
• Sprinkler System

1. Fire Hydrant System

Air cadangan bagi kebakaran terdapat pada Ground Water Tank. Dari tanki
ini air dihisap oleh Hydrant/Sprinkler pump untuk selanjutnya didistribusi ke
setiap fire hose cabinet dan jaringan pipa sprinkler.
Pompa bekerja secara automatic berdasarkan turunnya tekanan dan
berhenti secara manual.
Keseluruhan instalasi pompa terdiri dari 3 buah pompa yaitu : Pompa
Kebakaran Listrik, Pompa Kebakaran Diesel dan Pompa Jockey (Pacu).

2. Fire Extinguisher

a. Uraian Umum
Untuk keperluan pencegahan kebakaran secara umum selain
penyediaan hydrant dan Sprinkler harus disediakan pula tabung-
tabung fire extinguisher.
Gambar-gambar menunjukkan letak dari fire extingui-sher, secara
garis besar dimana area yang harus diproteksi dengan fire
extinguisher.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 176


Spesifikasi Teknis

b. Standard

Standard yang dipakai harus sesuai dengan peraturan- peraturan yang


dikeluarkan oleh Dinas Kebakaran Daerah setempat dan NFPA 10, 13, 14
&20. Sistem secara keseluruhan harus sesuai dengan peraturan tersebut.

c. Peralatan dan Checking

Peralatan dan pemeriksaan meliputi :


- Jenis portable lengkap dengan hose nozzle, dipasang tergantung
pada dinding setinggi 1,2 m dari finish floor.

- Harus di test kemampuan otomatis pada keadaan darurat.

- Memiliki Plat Nama dengan data-data : jenis media, klasifikasi


pemadaman, penggunaan, masa berlaku dan pengisian kembali.

d. Peralatan Fire Extinguisher

Bahan yang dipakai untuk keperluan ini ialah serbuk kimia multipurpose
dry chemical (ABC fire), (BC fire) dan BCF serta CO2, dengan
spesifikasi yaitu Serbuk kimia kering multipurpose dry chemical
(NH4H2PO4), untuk koridor, lobby & Stores :

• Kapasitas = 3 kg.
• Berat kotor = 4,2 kg.
• Tabung = iron steel.
• Test press = 20 kg/cm².
• Braket = mild steel plated, diinstalasikan pada dinding.

3. Fire Hydrant & Sprinkler

a. Uraian Umum

Gambar instalasi fire hydrant menunjukkan letak dari fire hose dan
instalasi pipingnya secara garis besar, fire hose dapat memproteksi area

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 177


Spesifikasi Teknis

800 m².Sprinkler System Type Wet Pipe Riser dengan 1 (satu) unit Alarm
Check Valve yang melayani setiap 1.000 kepala Sprinkler.

b. Standard

Standard yang dipakai harus sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan


oleh Dinas kebakaran Pemerintah setempat, NFPA dan LPM.

c. Persyaratan Peralatan & Material


Referensi yang harus diperhatikan adalah pekerjaan-pekerjaan yang
terkait yaitu :

⇒ Bagian : Pemipaan
⇒ Bagian : Isolasi dan Pengecatan
⇒ Bagian : Pompa
⇒ Bagian : Katub & Valves

d. Hydrant Box (Indoor)

⇒ Indoor type cabinet meliputi :

Bahan : Steel plat dicat merah lengkap


dengan tulisan petunjuk, lubang
pipa diameter 65 mm, dan 40
mm.
Ukuran : 125 x 80 x 18 cm
Hose rack : Cast iron dilapisi bronze.
Hose : Panjang 30 m, diameter 1 1/2"
(40 mm),bahan linen/kanvas
Hose nozzle/plated. : diameter 40 mm (1 1/2") bahan
brass chroom jenis smooth bore.
Angle valve/ Landing valve : diameter 40 & 65 mm valve
dengan coupling yang sesuai
dengan standard dinas pemadam
kebakaran.

Hydrant box termasuk penempatan fire alarm (push button, fire lamp,
alarm dan lain-lain).

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 178


Spesifikasi Teknis

e. Hydrant Box (Outdoor)

Bahan dan standard yang sama dengan indoor hydrant,


dengan persyaratan tambahan khusus diinstalasikan untuk
luar bangunan.
Diameter Hose : 2 1/2" (65 mm) panjang 2x20 m lengkap
dengan hose nozzle.

f. Pillar Hydrant

Type : two way (100 x 65 x 65)


Bahan : Cast iron

e. Siamese/Fire Bridge Connection

Type : siamese (two way type)


Ukuran : 100 x 65 x 65.

f. Sprinkler Head
Sprinkler type pendant dan wall type dengan Rating 67 °C dan
gelas warna merah tua.

g. Alarm Check Valve


Alarm Check Valves type Wet Riser, lengkap dengan Water
Motor Alarm.

Pasal 3 : Pengecekan
1. Test Instalasi
a Setelah selesai pemasangan instalasi pipa (sebelum memasang sprinkler
head) seluruh sistem distribusi air untuk pemadam kebakaran harus di uji
dengan tekanan hidrostatik sebesar 1.5 kali tekanan kerjanya (working
pressure) dan dibiarkan dalam kondisi ini selama paling kurang 2 (dua) jam
tanpa mengalami kebocoran.
b Apabila sesuatu bagian dari instalasi akan tertutup oleh konstruksi
bangunan lain (ceiling) maka bagian dari instalasi tersebut harus diuji dengan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 179


Spesifikasi Teknis

cara yang sama seperti diatas setelah ditutup dengan kontruksi bangunan
tersebut (ceiling).

2. Hydrant Pump

System kerja : automatic, manual.


Terdiri dari 3 buah pompa : jockey pump dan electric pump, diesel
pump.

a. Fungsi jockey/pump.
Untuk menstabilkan tekanan air didalam instalasi pipa, akibat perubahan
suhu udara atau keadaan lain.

b. Fungsi electric pump.


Pompa utama, untuk mengatasi kebakaran, sumber daya dari PLN.

c. Pompa-pompa secara otomatis tidak bekerja apabila air didalam reservoir


dalam keadaan minimal (kosong).

3. Prosedur Pengecekan

a. Sebelum perlengkapan hydrant dicoba, maka terlebih dahulu pipa instalasi


hydrant ditest dulu mengenai kebocorannya.Dengan cara mengisi air ke
instalasi dengan pompa (motor pompa atau pompa tangan). Sampai tekanan
yang diharuskan minimal 1½ kg/cm² dan tidak ada penurunan selama 2 jam.

b. Kalau pipa instalasi hydrant sudah dalam keadaan baik tidak bocor maka
pengecekan equipment lainnya dapat dilaksanakan.

c. Pengecekan pompa.

• Diperiksa koupling dan poros pompa dengan electro motor, dalam


keadaan satu garis atau tidak.
• Kedudukanpompa pada engine mounting/base harus water pass dan
baut-bautnya harus terpasang kuat.
• Oli sebagai bahan pelumas untuk pompa harus telah terisi.
• Secara mekanik impeller (baling-baling) pompa harus dapat diputar
dengan ringan dengan tangan.
• Power yang masuk ke terminal pompa dari panel pompa dicheck

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 180


Spesifikasi Teknis

• Phase to phase dengan tegangan 220/380 volt.


• Setelah itu pompa dialirkan tegangan dan dilihat putaran baling-baling
dari pompa. Arah putaran harus clock wise (searah jarum jam).
• Pengecheckan RPM, pompa dijalanan semua kran-kran
ditutup.Amper setiap phase dicheck/diukur. RPM yang diharuskan
untuk pompa ini harus sesuai dengan spesifikasi.Kran-kran dibuka
perlahan-lahan dan dicheck ampernya. Dan amper akan naik sampai
titik maksimal (full capasity sesuai besar kilo watt dari pada electro
motor).
• Sudah diketahui besar amper, pengecekan pompa pada pressure
gauge pada masing-masing pompa dan di hydrofor.
• Jockey pump.
Posisi kran dibuka air dibuang, maka secara otomatis tekanan air akan
berkurang, dan jockey pump bekerja, dan pada tekanan tertentu
pompa akan berhenti.

• Electric pump.
Posisi kran pada hydrant dibuka, tekanan drop, electric pump akan
bekerja.
• Test Sprinkler.
Pengetesan sprinkler dapat dilakukan setelah seluruh instalasi
pemipaan sprinkler telah terpasang dengan baik lengkap dengan
seluruh accessories. Hal yang perlu dilakukan adalah :

◊ Pengetesan pipa dengan tekanan, harus dilakukan setelah


selesai pemasangan unit-unit sprinkler head. Hal ini untuk
menghindari terjadinya kebocoran pada sambungan pipa dengan
sprinkler head.

◊ Pengetesan sprinkler dilakukan pada titik yang terjauh dengan


cara memanasi/membakar sprinkler, hingga mencapai
temperatur bakarnya (67°C).

◊ Pada saat pengetesan, kondisi didalam pipa harus penuh dengan


air (wet pipe system) dan seluruh valve dalam keadaan terbuka,
kecuali drain valve yang ada diarea flow switch. Dan pada saat
sprinkler head yang dibakar itu pecah, maka air harus mengalir
sampai dititik sprinkler head yang pecah tersebut.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 181


Spesifikasi Teknis

◊ Drain valve yang ada di pipa pengetesan harus dibuka sehingga


air tersebut mengalir ke pipa tegak drain.

d. Dalam pengetesan ini bila menggunakan sistem otomatis, maka


selector untuk panel, di switch pada posisi otomatis.

e. Sedangkan untuk sistem manual, selector switch berada pada posisi


manual menghidupkan dan mematikan dengan cara menekan push button.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 182


Spesifikasi Teknis

BAB XXII
PEKERJAAN ALUCUBON

Pasal 1 : UMUM
1. Lingkup Pekerjaan
Penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan, pengangkutan dan pelayanan
yang diperlukan untuk melaksanakan membuat konstruksi rangka dan
pemasangan panel composit sesuai ketentuan perencanaan, dan
pemasangannya di lapangan seperti dibawah ini
a. Asrama Laki-laki
b. Asrama Perempuan
Semua pekerjaan dan tukang yang bekerja untuk melakukan pekerjaan
harus ahli dan yang berpengalaman serta professional.
Pemborong harus mempersiapkan dan membuat gambar kerja yang
lengkap, daftar material, dan sambungan dari komponen-komponen,
yang sebelum dilaksanakan harus diperiksa dan disetujui oleh pengawas.
Pekerjaan panel composit harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
yang tertera pada gambar kerja, dan dilaksanakan untuk pemasangan
curtain wall.

2. Referensi
a. Semua bahan yang disebutkan pada bab ini harus dikerjakan sesuai
dengan standard dan spesifikasi dari pabrik.
b. Bahan komposit harus dalam keadaan rata.
c. Bahan-bahan yang digunakan untuk pengerjaan curtain wall harus
memenuhi standar-standar antara lain :
· (AA) The Aluminium Association
· (ASTM) E84 American Standart for Testing Materials
· ISO9001 Quality Management System Certification

Pasal 2 : PERSYARATAN BAHAN


1. Aluminium composit
· Setara Seven
· Warna mengikuti gambar kerja atau ditentukan kemudian
· Tebal 4 mm
- Ukuran sesuai gambar rencana
· Sound insulation : 0 – 3 dB : PVdF coating

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 183


Spesifikasi Teknis

2. Rangka ACP menggunakan Besi Hollow 40/40

Pasal 3 : PELAKSANAAN
1. Pemasangan dilakukan oleh tenaga ahli yang khusus dalam pekerjaan ini
dengan menunjukkan surat keterangan referensi pekerjaan-pekerjaan yang
pernah dikerjakan kepada Direksi Lapangan untuk mendapatkan
persetujuan
2. Aluminium Composite panel yang digunakan untuk seluruh proyek harus
dari satu macam saja.
3. Pelaksanaan pemasangan harus lengkap dengan peralatan bantu untuk
mempermudah serta mempercepat pemasangan dengan hasil pemasangan
yang akurat , teliti dan tepat pada posisinya.
4. Untuk pemasangan rangka, pasang dahulu besi siku nya dengan posisi
seperti pada gambar kerja sebagai dasar rangka panel.
5. Untuk mengikat besi siku dengan dinding, digunakan dinabolt ø 10mm yang
sebelumnya sudah di bor. Jarak antar dinabolt bisa dilihat pada gambar
kerja.
6. Setelah itu, pasang rangka besi hollow untuk landasan panel composit di
setelah rangka besi siku.
7. Posisi dan jarak rangka besi hollow di sesuaikan dengan gambar kerja.
8. Lalu, untuk mengikat rangka aluminium dengan besi siku, digunakan
dinabolt ø10mm yang sebelumnya di bor dahulu.
9. Rangka-rangka untuk panel composit harus diperiksa dengan teliti, harus
tegak lurus, dan terpasang pada posisinya.
10. Setelah semua rangka sudah benar pemasangan maupun posisinya, siapkan
panel composit yang sudah diukur dan dipotong sesuai ukuran pada gambar
kerja.
11. Sebelum dipasang harus di perhatikan ketelitian, juga ukurannya agar tidak
terjadi kesalahan.
12. Metode pemasangannya yaitu tepi panel composit di tekuk tepiannya 2 x
lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar kerja, sebagai tempat menempelnya
panel dengan rangka Besi Hollow.
13. Untuk penyambungannya menggunakan rivet pada sisi depan rangka
aluminium.
14. Untuk pengisi celah antar sambungan panel agar padat, di beri selang ø ½
Inch sepanjang celah tadi.
15. Setelah itu, celah tadi di tutup dengan sealant dengan rapat dan jangan
sampai air bisa masuk.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 184


Spesifikasi Teknis

16. Untuk pemasangan curtain wall, rangka profil aluminium horizontal dan
vertical dipasang setelah rangka besi siku.
17. Setelah itu dipasang pada rangka – rangka yang sudah disediakan.
18. Setelah itu, sambungan pada celah-celah diberi sealant.
19. Pembersihan panel dan curtain wall setelah pekerjaan selesai dapat
dilaksanakan dengan air dan spons atau sikat lembut. Apabila pengotoran
lebih berat bisa ditambahkan deterjen netral.
20. Kontraktor harus melindungi pekerjaan yang telah selesai dari hal-hal yang
dapat menimbulkan kerusakan. Bila hal itu terjadi, Kontraktor harus
memperbaiki tanpa biaya tambahan.
21. Hasil pemasangan pekerjaan Aluminium Composite Panel harus merupakan
hasil pekerjaan yang rapih dan tidak bergelombang.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 185


Spesifikasi Teknis

BAB XXIII
PEKERJAAN PENUTUP ATAP

Pasal 1 : Umum
1. Meliputi seluruh pekerjaan penutup atap pada gedung dan lainnya sesuai
gambar rencana sebagai berikut :
a. Gedung Kantor Utama
b. Ruang Workshop
c. Kantin
d. Rumah Dinas Type 80
e. Rumah Dinas Type 60
f. Kios 3 in 1

Pasal 2 : Bahan
1. Bahan yang digunakan yaitu
a. Atap Spandeks
- Tebal 3 mm
- Warna ditentukan kemudian
b. Atap Seng metal
- Tebal 0.35 mm
- Warna ditentukan kemudian
c. Kaca Tempered setara Asahimas
- Tebal 12 mm
- Ukuran sesuai gambar

2. Rabung Atap Spandeks dan rabung atap seng metal 0.35 mm


3. Bahan pengikat dan pengait seperti Baut,Mur dan perekat lainnya.

Pasal 3 : Pedoman Pelaksanaan

1. Sebelum dipasang, bahan yang digunakan harus diperiksa agar tidak terjadi
cacat fisik.
2. Untuk pemasangan atap spandeks pada kontruksi baja menggunakan
ukuran yang sesuai dengan gambar rencana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 186


Spesifikasi Teknis

3. Tandai lembaran penutup atap dengan spidol kemudian dipotong dengan


gergaji yang ujungnya diminyaki, atau lebih baik jika menggunakan gergaji
mesin
4. Potong ukuran perlembar yang akan dipasang sesuai petunjuk gambar
5. Mulai memasan lembaran dari sisi yang terjauh dari arah terpaan angin
sesuai gambar kerja
6. Gunakan hanya baut yang mempunyai berkepala pengaman agar tidak
terjadi kerusakan pada lembaran penutup atap.
7. Periksa apakah sisi dan ujung lembaran sudah benar.Gunakan benang
penggaris agar pemasangan tetap rata
8. Baut dipasang disetiap gelombang lembaran pada rangka dudukan dan
pada ujung-ujung pertemuan dua sisi lembaran yang saling bertumpuk,
serta pada salah satu sisi pertemuan vertical.
9. Mulai Pasang bubungan pada bagian atap yang terjauh dari terpaan angin
dan buat tumpukan yang sesuai gambar.Gunakan benang pengaris agar rata
dan pasang baut berkepala pengaman pada setiap gelombang atau sisi yang
berada diatas penopang.
10. Pasang Papan pembatas jurai atap/rangka penyesuai pertemuan, kemudian
luruskan dengan salah satu unit jurai yang telah dibentuk.kedalaman
vertical jurai atap ditentukan oleh gambar.
11. Ukuran Kaca yang dipasang harus sesuai gambar kerja.
12. Pemasangan dilakukan oleh tukang yang ahli.
13. Segala kerusakan dan kesalahan pengerjaan pada penutup atap ditanggung
oleh Kontraktor Pelaksana

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 187


Spesifikasi Teknis

BAB XXIV
PEKERJAAN RUMAH GENSET

Pasal 1 : Umum
1. Meliputi seluruh pekerjaan rumah genset, genset dan lainnya sesuai gambar
rencana.

Pasal 2 : Pasir Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila
lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton
adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.

7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat
merusak beton.

8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 3 : Kerikil Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 188


Spesifikasi Teknis

5. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila
lebih dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

9. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

10. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6
mm.
11. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.

12. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

13. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural
atau beton dengan mutu dibawah K-250.

14. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 4 : Semen Portland


1. Terdaftar dalam merk dagang.

2. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan
beton struktural maupun beton non struktural.

3. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.

4. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.

5. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen
Portland Type I.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 189


Spesifikasi Teknis

6. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk


bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 5 : Air
1. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.

2. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat
merusak beton.

3. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan
dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas sebelum digunakan.

Pasal 6 : Tulangan Beton


1. Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas

2. Besi tulangan yang digunakan yaitu menggunakan besi sebagai berikut;

a. Besi utama 4 Buah besi dia. 14 mm dan Begel besi dia. 8 mm jarak 125
b. Besi Penampang besi dia. 14 mm jarak 150 dan besi dia. 12 mm jarak
150 mm

3. Semua Besi tulangan mempunyai tegangan tarik/luluh besi minimal 3900


kg/cm2 atau 390 MPa.

4. Kebenaran akan tegangan tarik/luluh besi tulangan harus dibuktikan


dengan percobaan/uji tarik pada Laboratorium Beton minimal untuk 3
benda uji.

5. Besi tulangan mempunyai bentuk dan penampang yang sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai Gambar Rencana.

6. Besi ulir yang telah sekali dibengkokkan tidak boleh dibengkokkan lagi
dalam arah yang berlawanan.

7. Besi tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari


hubungan langsung dengan tanah dan terlindung dari air hujan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 190


Spesifikasi Teknis

8. Semua peraturan tentang besi tulangan di Indonesia untuk bangunan


gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 6 : Batu Gunung


Batu harus keras, bersih dan semacam batu yang tahan lama dan disetujui oleh
Direksi atau Batu yang rapuh atau batu endapan tidak diperkenankan
dipergunakan.Jika tidak ditentukan ukurannya di dalam gambar rencana, batu
harus mempunyaiketebalan tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang dari
11/2 kali tebalnya danpanjangnya tidak kurang dari 11/2 kali lebarnya. Setiap
batu harus baik bentuknyadan bebas dari penyusutan dan berkurangnya
kekuatan batu.

Pasal 7 : Batu Bata


1. Batu bata harus mempunyai dimensi dan ukuran yang standar sesuai
Peraturan Bahan Bangunan yang berlaku.

2. Batu bata mempunyai dimensi seperti berikut : lebar 5 cm, panjang 20 cm,
dan tebal 5 cm kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Bahan Bangunan.

3. Batu bata adalah dari hasil pembakaran yang sempurna dari pabrik batu
bata dimana kondisinya tidak rapuh dan tidak mudah hancur ketika
diangkut dan diturunkan pada lokasi pekerjaan.

4. Batu bata bentuknya harus sempurna tidak melengkung dan permukaanya


benar-benar rata untuk semua sisinya.

5. Batu bata mempunyai Kuat Tekan minimal 30 kg/cm2.

6. Perubahan-perubahan pada dimensi dan ukuran batu bata karena


mengikuti dimensi dan ukuran yang berlaku pada daerah tertentu harus
disetujui oleh Konsultan supervise.

7. Toleransi hanya diperbolehkan untuk dimensi dan bukan untuk kualitas.

Pasal 8 : Mutu Beton


Mutu beton yang digunakan yaitu K-250 atau sesuai dengan gambar rencana

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 191


Spesifikasi Teknis

Pasal 9 : Pasangan Dinding Batu BataBata Campuran 1 Pc : 2 Ps


1. Pasangan batu bata bata campuran 1 Pc : 2 Ps dikerjakan hanya pada
dinding-dinding yang langsung berhubungan dengan air seperti dinding
Toilet dan Kamar Mandi serta bak air.

2. Perekat atau spesi yang dipakai adalah dari campuran 1 Pc : 2 Ps dengan


ketebalan maksimal 1,5 cm dan minimal 1 cm.

3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Batu bata harus disiram terlebih dahulu dengan air sebelum dipasang.

5. Batu bata harus dipasang dengan posisi lapis demi lapis saling bersilangan
dan tidak satu garis sambungan.

6. Untuk dinding selain kamar mandi dan tempat whuduk tinggi pasangan
batu bata ½ bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps minimal 40 cm.

7. Untuk dinding kamar mandi dan tempat whuduk tinggi pasangan batu bata
½ bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps minimal 180 cm.

8. Pasangan batu bata ½ bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps harus kedap air


(trasram).

9. Pasangan batu bata tidak boleh melengkung dalam arah vertikal dan dalam
arah horizontal.

10. Setiap tinggi 30 cm pemasangan bata harus disediakan benang-benang


untuk ketepatan elevasi dan kedataran permukaan.

11. Hasil pemasangan batu bata ½ bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps harus


disetujui oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 10 : Pasangan Dinding Batu Bata Bata Campuran 1 Pc : 4 Ps

1. Pasangan batu bata bata campuran 1 Pc : 4 Ps dikerjakan pada semua


dinding kecuali dinding-dinding yang langsung berhubungan dengan air.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 192


Spesifikasi Teknis

2. Perekat atau spesi yang dipakai adalah dari campuran 1 Pc : 4 Ps dengan


ketebalan maksimal 1,5 cm dan minimal 1 cm.

3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Batu bata harus disiram terlebih dahulu dengan air sebelum dipasang.

5. Batu bata harus dipasang dengan posisi lapis demi lapis saling bersilangan
dan tidak satu garis sambungan.

6. Pasangan batu bata tidak boleh melengkung dalam arah vertikal dan dalam
arah horizontal.

7. Setiap tinggi 30 cm pemasangan bata harus disediakan benang-benang


untuk ketepatan elevasi dan kedataran permukaan.

8. Hasil pemasangan batu bata dengan campuran 1 Pc : 4 Ps harus disetujui


oleh Konsultan Pengawas .

Pasal 11 : Plesteran Aci


1. Sebelum dilakukan plesteran terlebih dahulu permukaan hasil pemasangan
bata harus disiram dengan air dengan merata.

2. Plester yang digunakan Plesteran ACI

3. Pasir yang dipakai adalah pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Tebal plesteran dinding minimal 1,5 cm.

5. Setelah diplester kasar, kemudian permukaan diplester dengan plester Aci


(halus) yang terdiri campuran semen dan air.

6. Plesteran harus menghasilkan permukaan yang rata untuk semua bidang


dinding yang diplester.

7. Plesteran tidak boleh meninggalkan sambungan-sambungan antara


plesteran lama dengan plesteran baru yang tidak rata.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 193


Spesifikasi Teknis

8. Lama antara plesteran lama dengan plesteran baru tidak boleh lebih dari
satu hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas .

9. Hasil pekerjaan plesteran harus benar-benar halus permukaannya sehingga


ketika dilakukan pekerjaan cat dinding tidak menimbulkan bekas.

10. Hasil pekerjaan plesteran harus disetujui oleh Konsultan Pengawas


.

Pasal 12 : Pintu Folding Gate


1. Kontraktor pelaksana harus memberikan brosur folding gate kepada
Konsultan pengawas dan Owner agar bisa ditentukan
2. Bahan dan aksesoris yang digunakan setara YKK 4 Inchi.

3. Ukuran Folding gate sesuai dengan ukuran gambar rencana.

4. Pemasangan dilakukan oleh tenaga yang ahli.

5. Warna Folding gate ditentukan pada saat pabrikasi.

6. Apabila terjadi kesalahan, maka kontraktor pelaksana harus bertanggung


jawab dan diperbaiki secepatnya.

Pasal 13 : Genset

1. Genset yang digunakan adalah Mesin Diesel berdaya 400 KVA


a. Merk Mesin Setara Cumming
b. Ukuran Rangka 4500 x 1700 x 2050 mm
c. Silinder 6 buah.
d. Merk Rangka Silent Type setara Highlander.

2. Genset diletakkan di base genset dengan rapi dan aman.

3. Kabel-kabel yang terhubung harus dibuat seaman dan seefisien mungkin


dan jauh dari jangkauan orang.

4. Kabel-kabel yang terhubung harus diperiksa dan disetujui oleh konsultan


penga

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 194


Spesifikasi Teknis

BAB XXV
PEKERJAAN HOLLOW

Pasal 1 : Umum
1. Meliputi seluruh pekerjaan pemasangan hollow pada pagar keliling

Pasal 2 : Persyaratan Bahan


1. Besi Hollow Uk. 50 x 50 x 1 mm
2. Pintu Sorong Rangka Hollow

Pasal 3 : Pelaksanaan
1. Sebelum pabrikasi/pembuatan, Pemborong atau bawahan Pemborong harus
menyerahkan 2 (dua) set Gambar Kerja (Shop Drawing) dan daftar baut-baut
sambungan untuk diteliti oleh Direksi/ Pengawas Lapangan. Jika ada refisi,
satau set akan dikembalikan untuk diperbaiki. Setelah koreksi akhir,
Pemborong harus menyerahkan kembali 2 set gambar lengkap dengan
material bill yang mencakup semua perubahan yang ada.
2. Gambar pabrikan harus secara jelas menyatakan hal-hal sebagai berikut :
(a) Semua dimensi Lay out dalam system matrik.
(b) Unit ukuran yang dipakai untuk bentuk struktur dan berat per unit.
(c) Tipe dan lokasi sambungan-sambungan.
(d) Dimensi bagian-bagian konstruksi, berat dan detail kontruksi.
3. Untuk pengiriman ke lokasi proyek, Pemborong harus sudah mengadakan
survey tentang pola pengangkutan yang digunakan.
4. Pemasangan bagian-bagian konstruksi harus sesuai dengan gambar rencana
dan bukan petunjuk pemasangan.
5. Bagian-bagian yang telah dipasang selancutnya dilakukan pelapisan dengan
menggunakan cat menie besi agar terhindar dari korosi terhadap air dan
cuaca.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 195


Spesifikasi Teknis

BAB XXIX
PEKERJAAN AKSES JALAN LINGKUNGAN

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Lingkup pekerjaan ini terdiri dari penyediaan semua peralatan, tenaga
kerja, alat-alat perlengkapan dan pelaksanaan semua pekerjaan aspal, dan
pekerjaan lain yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan aspal
sesuai dengan ketentuan dan persyaratan dalam kontrak.

2. Pesyaratan yang disebutkan berikut ini akan berlaku secara umum dan
meliputi semua pekerjaan aspal kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan yang
disyaratkan secara khusus.

Pasal 2 : Umum
1. Pembatasan Cuaca.
Aspal hotmix akan dipasang hanya dibawah kondisi cuaca kering dan
bilamana permukaan pekerjaan dalam keadaan kering juga.

2. Pengendalian Lalu Lintas.


a. Pengendalian lalu lintas akan dilaksanakan oleh kontraktor yang sesuai
dengan syarat-syarat umum kontrak dan disetujui oleh Konsultan
Pengawas , serta dilakukan tindakan-tindakan pencegahan untuk
memberi petunjuk dan mengendalikan lalu lintas selama pelaksanaan
pekerjaan.

b. Menempatkan rambu-rambu untuk keamanan kerja seperti cone


fibregalass, pita pengaman dan bendera tanda-tanda yang
ditempatkan pada lokasi kerja dan pada jalur lalu lintas kendaraan
pada posisi strategis yang mudah dilihat serta menempatkan petugas
pengatur lalu lintas.

c. Harus dibuat penyediaan untuk pekerjaan yang harus dilaksanakan


dengan separuh lebar perkerasan, kecuali disediakan satu pengalihan
lapangan yang sesuai sehingga disetujui oleh Konsultan Pengawas.

d. Tidak ada lalu lintas yang akan diizinkan melintas di atas permukaan
jalan yang baru selesai sampai lapis permukaan aspal hotmix
dipadatkan sepenuhnya sampai sesuai pesyaratan dan dapat diterima
oleh Konsultan pengawas. Kecepatan lalu lintas di atas permukaan
yang barus diaspal harus dibatasi sampai 15 km/jam untuk waktu
KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 196
Spesifikasi Teknis

paling sedikit selama 48 jam sesudah penyelesaian. Kontraktor harus


bertanggungjawab untuk semua akibat dari lalu lintas yang diizinkan
lewat, sementara pekerjaan lapangan sedang berlangsung.

3. Pekerjaan penyempurnaan.
Lapis permukaan dari aspal hotmix harus diselesaikan sesuai dengan
persyaratan spesifikasi dan mendapat persetujuan Pengawas Lapangan.
Luas permukaan yang tidak memenuhi dengan persyaratan dan yang
dianggap tidak distujui oleh Pengawas Lapangan harus diperbaiki dengan
cara menyingkirkan dan mengganti, menambah lapisan tambahan dan atau
cara lain yang dipandang perlu oleh Pengawas Lapangan.

Pasal 3 : Persyaratan bahan.


1. Agregat
a. Agregat Kasar atau Agregat B
Agregat kasar terdiri dari batu atau kerikil pecah atau campuran yang
sesuai dari batu pecah dengan kerikil alami yang bersih. Gradasi
agregat kasar harus sesuai dengan tabel berikut :

Ukuran Saringan (mm) Persentasi Lolos Atas berat


19,0 100
12,5 30 – 100
9,5 0 – 55
4,75 0 – 10
0,075 0–1

b. Agregat halus atau Agregat A


Agregat halus terdiri dari pasir alam atau batu tersaring dalam
kombinasi yang cocok, dan harus bersih dari gumpalan lempung dan
benda-benda lain yang harus dibuang. Gradasi agregat halus harus
sesuai dengan tabel berikut :

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 197


Spesifikasi Teknis

Ukuran Saringan (mm) Persentasi Lolos Atas berat


9,5 100
4,75 90 – 100
2,36 80 – 100
0,6 25 – 100
0,075 3 – 11

2. Timbunan
1. Timbunan biasa, adalah timbunan atau urugan yang digunakan untuk
pencapaian elevasi akhir subgrade yang disyaratkan dalam gambar
perencanaan tanpa maksud khusus lainnya. Timbunan biasa ini juga
digunakan untuk penggantian material existing subgrade yang tidak
memenuhi syarat. Bahan timbunan biasa harus memenuhi
persyaratan-persyaratan sebagai berikut :

 Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus


terdiri dari tanah yang disetujui oleh Pengawas yang memenuhi
syarat untuk digunakan dalam pekerjaan permanen.

 Bahan yang dipilih tidak termasuk tanah yang plastisitasnya


tinggi, yang diklasifikasi sebagai A-7-6 dari persyaratan AASHTO
M 145 atau sebagai CH dalam sistim klasifikasi “Unified atau
Casagrande”. Sebagai tambahan, urugan ini harus memiliki CBR
yang tak kurang dari 6 %, bila diuji dengan AASHTO T 193.

 Tanah yang pengembangannya tinggi yang memiliki nilai aktif


lebih besar dari 1,25 bila diuji dengan AASHTO T 258, tidak boleh
digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai aktif diukur sebagai
perbandingan antara Indeks Plastisitas (PI) – (AASHTO T 90) dan
presentase ukuran lempung (AASHTO T 88).

2. Timbunan pilihan, adalah timbunan atau urugan yang digunakan untuk


pencapaian elevasi akhir subgrade yang disyaratkan dalam gambar
perencanaan dengan maksud khusus lainnya, misalnya untuk
mengurangi tebal lapisan pondasi bawah, untuk memperkecil gaya
lateral tekanan tanah dibelakang dinding penahan tanah talud jalan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 198


Spesifikasi Teknis

Bahan timbunan pilihan harus memenuhi persyaratan-persyaratan


sebagai berikut :

 Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai “Timbunan


Pilihan” bila digunakan pada lokasi atau untuk maksud yang
telah ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh Pengawas.
 Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai “Timbunan
Pilihan” bila digunakan pada lokasi atau untuk maksud yang
telah ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh Pengawas.

3. Lapis Pengikat Aspal


1. Aspal emulsi (RS), atau diencerkan dengan air perbandingan 1:1
2. AC pen 60/70 atau 80/100 diencerkan dengan minyak tanah 25 – 30
pph.

4. Laston Lapis Antara (AC-BC)


a. Laston sebagai lapisan antara, dikenal dengan nama AC-BC (Asphalt
Concrete-Binder Course), dengan tebal nominal minimum adalah 6 cm
atau sesuai gambar rencana.

Pasal 4 : Pelaksanaan Pekerjaan.

1. Peralatan Pelaksanaan
a. Jenis peralatan dan methoda operasi harus sesuai dengan daftar
peralatan dan instalasi produksi yang telah disetujui dan menurut
petunjuk lebih lanjut Pengawas Lapangan. Pada umumnya peralatan
yang harus dipilih untuk penyebaran dan penyelesaian harus paver
(perata) bertenaga mesin yang mampu bekerja sampai garis dan
ketinggian yang diperlukan dengan penyediaan untuk pemanasan,
screeding dan sambungan perata campuran aspal hotmix. Akan tetapi
dimana satu paver (perata) tidak dapat diperoleh dan tergantung
kepada instruksi Pengawas Lapangan, pemasangan dan penyebaran
dapat dilakukan dengan tenaga kerja, menggunakan garukan, sekop
dan gerobak dorong.

b. Jenis peralatan berikut ini akn dipilih untuk penyebaran, pemadatan


dan penyelesaian.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 199


Spesifikasi Teknis

 Alat Pengangkutan
Sejumlah truk angkutan yang cukup harus disediakan untuk
mengangkut campuran aspal yang sesuai dengan program
pekerjaan yang telah disetujui.Truk-truk tersebut harus dilengkapi
dengan dasar logam rata ketat, dibersihkan dan yang sebelumnya
dilapisi minyak bakar.

 Alat Penyebaran dan Penyelesaian.


Bilamana diminta demikian didalam daftar penawaran dan daftar
unit produksi, peralatan untuk penyebaran dan penyelesaian
harus satu paver betenaga mesin sendiri yang mampu bekerja
sampai ke garis, tingkat dari penampang melintang yang
diperlukan dan dapat memenuhi persyaratan-persyaratan
terhadap volume dan penampilan kualitas.

 Peralatan Pemadatan.
- Mesin gilas roda baja(mesin gilas roda 3 atau tandem 6 – 8
ton)
- Sebuah mesin gilas dan bertekanan dengan ban dipompa
mencapai tekanan 8,5 kg/cm2 dan dengan penyediaan untuk
ballast dari 1500 kg – 2500 kg muatan per roda.

 Peralatan untuk menyemprot lapis aspal resap pelekat atau lapis


aspal pelekat
Sebuah distributor/penyemprot aspal bertekanan harus
disediakan dengan penyediaan untuk pemanasan aspal.

2. Pelaksanaan Lapangan.
a. Penyiapan Lokasi.
 Sebelum dilapisi dengan tack/prime coat bagian yang diperbaiki
harus terlebih dahulu dibersihkan dengan kompresor sehingga
bebas dari debu dan kotoran yang lepas.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 200


Spesifikasi Teknis

b. Timbunan tanah dasar


 Timbunanbiasa atau timbunan pilihan dipadatkan berdasarkan
STA pada gambar rencana dengan ketebalan variasi sesuai
ketebalan timbunan pada gambar rencana.
 Timbunan harus dipadatkan dengan mesin gilas hingga mencapai
ketebalan sesuai gambar rencana.

c. Agregat B dan Agregat A.


 Agregat B disebarkan diatas muka tanah atau diatas timbunan
sesuai STA yang terdapat pada gambar rencana.

 Agregat B disebarkan dan diratakan dengan mesin perata


kemudian disiram dan dipadatkan hingga mencapai ketebalan
yang sesuai pada masing-masing STA pada gambar rencana.

 Agregat B harus diperiksa dan disetujui oleh Konsultan Pengawas.


Apabila kepadatan Agregat B kurang, maka Kontraktor harus
menambahkan dan dipadatkan kembali.

 Agregat A disebarkan diatas agregat B sesuai yang terdapat pada


gambar rencana.

 Agregat A disebarkan dan diratakan dengan mesin perata


kemudian disiram dan dipadatkan hingga mencapai ketebalan
yang sesuai pada masing-masing STA pada gambar rencana.

 Agregat A harus diperiksa dan disetujui oleh Konsultan Pengawas.


Apabila kepadatan Agregat A kurang, maka Kontraktor harus
menambahkan dan dipadatkan kembali.

d. Lapisan Resap Pengikat (Aspal cair)


 Area yang dilapisi prime coat agar diberi tanda agar tidak keluar
jalur saat penyemprotan.

 Lapisan resap pengikat atau prime coat disebarkan merata diatas


agregat A dengan alat penyemprot.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 201


Spesifikasi Teknis

 Lapisan aspal berikutnya dihampar setelah prime coat meresap


sepenuhnya.

 Pekerjaan prime coat harus disetujui dan diperiksa oleh konsutan


Pemgawas.

e. Laston Lapis Antara (AC-BC)


 Laston Lapis Antara (AC-BC) menggunakan aspal campuran yang
sesuai dengan ketentuan berlaku.

 Pemasangan rambu-rambu peringatan pada saat pengerjaan


Laston Lapis Antara agar tidak ada kendaraan atau orang yang
melintas pada saat pengerjaan karena aspek keamanan dan
kenyaman pada saat pengerjaan.

 Agregat dan aspal dicampur dan dipanaskan dengan dengan AMP


untuk dimuat langsung ke dalam Dump Truck dan diangkut ke
lokasi pekerjaan.

 Aspal dibawa dengan menggunakan mesin asphalt finisher


kemudian disebarkan secara hati-hati dengan menggunakan
tenaga manusia.

 Lebar jalan yang diaspal sesuai dengan gambar rencana.

 Aspal dipadatkan dengan mesin gilas roda baja sesuai ketebalan


pada gambar rencana.

 Pekerjaan penyebaran dan pemadatan harus diperiksa dan


disetujui Konsultan Pengawas pada saat pengerjaan

3. Penyelesaian
a. Alat berat seperti mesin gilas tidak diizinkan diatas permukaan aspal
yang telah selesai dipadatkan sampai permukaan dingin dan matang.

b. Permukaan aspal sesudah pemadatan harus halus dan rata kepada


punggung lapangan dan tingkat yang ditetapkan di dalam toleransi
yang ditentukan. Setiap campuran yang menjadi lepas-lepas dan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 202


Spesifikasi Teknis

hancur, bercampur dengan kotoran atau yang telah menjadi tidak


sempurna dalam setiap arah, harus dipadatkan segera untuk
menyesuaikan dengan luas disekitarnya dan setiap luas yang
menunjukkan kelebihan atau kekurangan bahan aspal atas instruksi
Konsultan Pengawas akan disingkirkan dan diganti. Semua tempat
tinggi, sambungan tinggi, bagian yang amblas dan rongga-rongga
udara harus diselesaikan sebagaimana diminta oleh Konsultan
Pengawas.

c. Sementara permukaan tersebut sedang dipadatkan dan diselesaikan,


kontraktor harus memperbaiki pinggiran-pinggiran dalam garis secara
rapih. Setiap bahan-bahan yang berlebih harus dipotong lurus setelah
penggilasan final, dan dibuang oleh kontraktor sehingga disetujui oleh
Konsultan Pengawas.

Pasal 5 : Pekerjaan Lain – Lain


1. Dalam pelaksanaan pekerjaan agar tidak merusak bangunan yang ada,
kontraktor bertanggungjawab terhadap keamanan dari setiap fasilitas yang
digunakan, kerusakan yang terjadi akibat pelaksanaan pekerjaan yang
dilakukan kontraktor menjadi tanggungjawab kontraktor.

2. Kontraktor wajib memperbaiki dan merapikan kembali apabila ada


kekurangan dari pekerjaan dan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang
bersifat penyempurnaan hasil pekerjaan.

3. Seluruh sisa bahan pekerjaan harus dibersihkan dan diangkut ke luar lokasi
kerja.

4. Seluruh biaya atas pelaksaaan pekerjaan ini menjadi tanggungjawab


kontraktor sepenuhnya. Konsultan Pengawas menerima pekerjaan ini
dalam keadaan siap untuk dipergunakan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 203


Spesifikasi Teknis

BAB XXVI
PEKERJAAN PONDASI TALUD

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Pada pekerjaan ini dilakukan pada pasangan talud
Pasal 2 : Pasir Beton
1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila
lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton
adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.

7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat
merusak beton.

8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 3 : Pasir Pasang / Pasir Halus


1. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir dengan ukuran butiran halus dan
tidak lagi memerlukan proses penyaringan/ayakan jika hendak
digunakan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 204


Spesifikasi Teknis

2. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang dipakai untuk keperluan


Pasangan Batu Gunung, Pasangan Batu Bata, Pasangan Keramik, dan
Plasteran Dinding.

3. Pasir Pasang tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat
kering, apabila pasir pasang tersebut mengandung Lumpur lebih dari 5%
maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

4. Pasir Pasang/Pasir Halus harus mempunyai butiran yang tajam dan keras.

5. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari

6. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang berasal dari Sungai dan bukan
Pasir yang berasal dari laut.

Pasal 4 : Kerikil Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.

6. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila
lebih dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

11. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

12. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6
mm.
7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.

8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural


atau beton dengan mutu dibawah K-250.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 205


Spesifikasi Teknis

10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 5 : Semen Portland


7. Terdaftar dalam merk dagang.

8. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan
beton struktural maupun beton non struktural.

9. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.

10. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.

11. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen
Portland Type I.

12. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk


bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 6 : Air
4. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.

5. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat
merusak beton.

6. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan
dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas sebelum digunakan.

Pasal 7 : Batu Gunung


Batu harus keras, bersih dan semacam batu yang tahan lama dan disetujui oleh
Direksi atau Batu yang rapuh atau batu endapan tidak diperkenankan
dipergunakan.Jika tidak ditentukan ukurannya di dalam gambar rencana, batu
harus mempunyaiketebalan tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang dari
11/2 kali tebalnya danpanjangnya tidak kurang dari 11/2 kali lebarnya. Setiap
batu harus baik bentuknyadan bebas dari penyusutan dan berkurangnya
kekuatan batu.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 206


Spesifikasi Teknis

Pasal 8 : Mutu Beton


Mutu beton yang digunakan yaitu K-175 atau sesuai dengan gambar rencana

Pasal 9: Plesteran Campuran 1 Pc : 4 Ps


1. Sebelum dilakukan plesteran terlebih dahulu permukaan hasil pemasangan
bata harus disiram dengan air dengan merata.

2. Plesteran dari campuran 1 Pc : 4 Ps .

3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Tebal plesteran dinding minimal 1,5 cm.

5. Plesteran campuran 1 Pc : 4 Ps dilakukan pada pasangan dinding bata


dengan campuran 1 Pc : 4 Ps.

6. Plesteran harus menghasilkan permukaan yang rata untuk semua bidang


dinding yang diplester.

7. Plesteran tidak boleh meninggalkan sambungan-sambungan antara


plesteran lama dengan plesteran baru yang tidak rata.

8. Lama antara plesteran lama dengan plesteran baru tidak boleh lebih dari
satu hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas .

9. Hasil pekerjaan plesteran harus benar-benar halus permukaannya sehingga


ketika dilakukan pekerjaan cat dinding tidak menimbulkan bekas.

10. Hasil pekerjaan plesteran harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 10 : Pedoman Pelaksanaan


1. Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat syarat ini, maka
sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-
SNI-T-15-1919-03.
2. Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas
apabila ada perbedaan yang didapat didalam gambar konstruksi dan gambar
arsitektur.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 207


Spesifikasi Teknis

3. Sebelum Pondasi Dipasang terlebih dahulu diadakan pengukuran-pengukuran


dari as ke as pondasi sesuai gambar rencana dan diminta persetujuan dari
konsultan Pengawas.
4. Didasar Pondasi diurug dengan pasir pasang setebal sesuai gambar rencana
dan dipadatkan. Sebagai lantai kerja diatas pasir dipasang pasangan batu
kosong terdiri dari batu kali/batu belah dengan pasir pasang dengan
ketebalan dan ukuran sesuai gambar kerja, kemudian dipadatkan dengan cara
menyiram air diatasnya sehingga pasir akan mengisi rongga-rongga batu kali.
5. Kemudian batu gunung disusun dengan rapi dan dicor dengan campuran
semen, pasir beton dan air.
6. Pada sela rongga antara batu gunung harus dipadatkan dengan campuran
semen, pasir beton dan air sehingga tak ada celah antara rongga batu
gunung.
7. Selanjutnya talud diplester menggunakan campuaran Plesteran 1 Pc : 4 Ps.

8. Selesai dilakukan pelaksanaan Kontraktor Pelaksana meminta pada konsultan


pengawas agar memeriksa pekerjaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 208


Spesifikasi Teknis

BAB XXVII
PEKERJAAN SHEET PILE

Pasal 1 : Ruang Lingkup


Pada pekerjaan ini dilakukan pada Pengadaan sheet pile hingga pemancangan
dan pekerjaan lainnya yang berhubungan.

Pasal 2 : Sheet Pile


1. Pekerjaan turap beton sesuai W-450 dengan spesifikasi Teknis Mutu Beton K-
700, kubus umur 28 Hari, semen tipe I, Desain prestressed.
2. Dipasang sesuai dengan gambar rencana dengan menggunakan alat berat
Pile Diver + Hammer.
3. Sebelum memulai pemancangan jenis matrial tersebut harus mendapat
persetujuan direksi teknis.
4. Elevasi yang telah ditentukan oleh Direksi atau yang tertera dalam gambar.

Pasal 3 : Pasir Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering, apabila
lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal pasir beton
adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.

7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat
merusak beton.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 209


Spesifikasi Teknis

8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 4 : Kerikil Beton


1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat kekal.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering, apabila
lebih dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan dengan


penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai untuk
campuran material beton.

6. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal adalah 6


mm.
7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak beton.

8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui proses
penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non Struktural


atau beton dengan mutu dibawah K-250.

10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil Beton dalam
Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 5 : Batu Pecah


1. Batu pecah adalah hasil produksi mesin pemecah batu (Stone Cruser) dan
bukan hasil pekerjaan manual (manusia).

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 210


Spesifikasi Teknis

2. Batu pecah berasal dari batuan kali.

3. Terdiri dari butiran yang keras dan bersifat kekal.

4. Tingkat ketahanan terhadap keausan butiran minimal 95%.

5. Jumlah butiran Lonjong dan Pipih minimal 5%.

6. Tidak boleh mengandung lumpur dan zat-zat yang dapat merusak beton
seperti zat alkali.

7. Ukuran butiran terkecil minimal 1 cm dan ukuran butiran terbesar maksimal


3 cm.

8. Butiran batu pecah dalam setiap meter kubiknya tidak boleh seragam tetapi
merupakan campuran antara butiran 1 cm sampai butiran 3 cm.

9. Batu pecah yang akan dipakai untuk material campuran beton harus melalui
proses pemeriksaan di Laboratorium beton.

10. Batu pecah hanya dan harus dipakai pada campuran beton struktural atau
beton dengan mutu K-250.

Pasal 7 : Semen Portland


1. Terdaftar dalam merk dagang.

2. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua pekerjaan
beton struktural maupun beton non struktural.

3. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.

4. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.

5. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah Semen
Portland Type I.

6. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia untuk


bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 211


Spesifikasi Teknis

Pasal 8 : Air
1. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan tidak berasa.

2. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang dapat
merusak beton.

3. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang didatangkan
dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas sebelum digunakan.

Pasal 9 : Tulangan Beton


1. Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas
2. Baja tulangan diatas diameter 12 mm atau lebih adalah Baja Ulir.

3. Baja tulangan sengkang/begel atau dibawah diameter 12 mm adalah baja


polos.

4. Untuk tulangan beton

5. Semua Besi tulangan ulir mempunyai tegangan tarik/luluh besi minimal


3200 kg/cm2 atau 320 MPa, sedangkan besi tulangan polos mempunyai
tegangan tarik/luluh besi minimal 2400 kg/cm2 atau 240 MPa.

6. Kebenaran akan tegangan tarik/luluh besi tulangan harus dibuktikan


dengan percobaan/uji tarik pada Laboratorium Beton minimal untuk 3
benda uji.

7. Besi tulangan mempunyai bentuk dan penampang yang sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai Gambar Rencana.

8. Besi ulir yang telah sekali dibengkokkan tidak boleh dibengkokkan lagi
dalam arah yang berlawanan.

9. Besi tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari


hubungan langsung dengan tanah dan terlindung dari air hujan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 212


Spesifikasi Teknis

10. Semua peraturan tentang besi tulangan di Indonesia untuk bangunan


gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 10 : Timbunan Di Belakang Sheet Pile


1. Timbunan Biasa
a. Pekerjaan timbunan harus dipadatkan sehingga mencapai
elevasi yang telah ditentukan oleh Direksi atau yang tertera
dalam gambar. Volume timbunan yang dibayar untuk
pekerjaan timbunan adalah menurut harga satuan per m3
timbunan tanah.
b. Bahan timbunan harus diambil dari hasil galian ( borrow
area ) sesuai dengan petunjuk Direksi atau yang telah
disetujui oleh pihak Direksi.

Pasal 10 : Cara Pelaksanaan


1. Lakukan perhitungan analisis untuk mengecek kedalaman sheet pile yang
tertanam berdasarkan type sheet pile yang dipakai dan data tanah hasil soil
investigation. (Cek Perhitungan).
2. Pengukuran area pemancangan sheet pile dengan menggunakan
theodolite.
3. Lakukan penumpukkan sheet pile sedekat mungkin dengan lokasi
pemancangan sehingga dapat dijangkau langsung oleh Crawler Crane,
sehingga penggunaan Crane service dapat diminimalkan.
4. Untuk mendapatkan hasil pemancangan yang lurus dapat dilakukan dengan
pemasangan Guide Wall terlebih dahulu
5. Lakukan pemancangan sheet pile sesuai urutan yang telah ditentukan
dengan menggunakan Crawler Crane 35 ,Vibrator Roller,Molen,Excavator
dan Alat Bantu Lainnya.
6. Pastikan pemancangan pertama tegak lurus, karena akan berpengaruh
terhadap ketegakan sheet pile berikutnya. Pemancangan hanya sampai
elevasi + 1.00 m’ di atas level rencana, karena connecting antar sheet pile
dapat mengakibatkan sheet pile yang telah terpancang amblas sewaktu
pemancangan sheet pile sebelahnya.
7. Setelah 10~15 sheet pile pemancangan dapat dilanjutkan sampai elevasi
rencana dan pemancangan dapat dilanjutkan sesuai urutan yang sama.
8. Hal yang harus mendapat perhatian Kecenderungan sheet pile selalu miring
ke arah pemancangan (membentuk kipas) akibat getaran vibro &
pemancangan tidak tegak lurus, hal ini dapat diatasi dengan alat bantu
katrol untuk menarik sheet pile menjadi lurus setelah selesai pemancangan.
KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 213
Spesifikasi Teknis

9. Jika berdasarkan perhitungan konstruksi sheet pile free standing tidak


mampu menahan geser dan guling akibat tekanan tanah aktif dapat
ditambah dengan walling beam + anchor.
10. Pembobokan Kepala Sheet Pile Beton Setelah proses pemancangan Sheet
Pile Beton W 450, pasti ada tiang pancang yang tersisa diatas elevasi
rencana, hal ini karena karakteristik tanah setiap titik berbeda-beda,
sehingga pencapaian tiang pancang ke dalam tanah keras ikut berbeda juga.
Untuk menyetarakan tiang pancang tersebut dengan gambar bestek, maka
satu-satunya cara adalah dengan cara penghancuran tiang pancang
menggunakan palu (hammer).

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 214


Spesifikasi Teknis

BAB XXVIII
PEKERJAAN LANDSCAPE

Pasal 1 : Lingkup Pekerjaan.


1. Meliputi Pekerjaan saluran beton bertulang,pemasangan lampu jalan,lampu
taman, tiang bendera,pemasangan paving block, pemasangan kansteen dan
penanaman tanaman pada seluruh area landsacpe yang sesuai dengan
gambar rencana.

Pasal 2 : Galian Tanah Biasa


1. Bentuk galian dilaksanakan sesuai dengan ukuran yang tertera dalam
gambar. Apabila ditempat galian ditemukan pipa pipa pembuangan, kabel
listrik, telepon atau lainnya yang masih berfungsi, maka Kontraktor
secepatnya memberitahukan kepada Konsultan Pengawas atau kepada
instansi yang berwenang untuk mendapat petunjuk seperlunya.

2. Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kerusakan yang


diakibatkan pekerjaan galian tersebut.

3. Apabila pada waktu penggalian ditemukan benda-benda purbakala, maka


Kontraktor wajib melaporkannya kepada Pemerintah Daerah setempat.

4. Galian diluar bangunan untuk mendapatkan tinggi lantai yang disyaratkan


dalam gambar. Penggalian tanah ini dimaksudkan untuk mendapatkan
kontur tanah yang disyaratkan dalam Site Plan.

5. Bila ternyata penggalian melebihi volume yang telah ditentukan dalam


gambar, maka Kontraktor harus mengisi kelebihan galian tersebut dengan
pasir urug.

Pasal 3 : Urugan Tanah Kembali.


1. Bila ternyata penggalian melebihi volume yang telah ditentukan dalam
gambar, maka Kontraktor harus mengisi kelebihan galian tersebut dengan
pasir urug.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 215


Spesifikasi Teknis

2. Pengurugan dengan tanah timbunan dibawah lantai dilakukan lapis demi


lapis hingga ketebalan 10 cm dibawah lantai, ditumbuk hingga padat.
Lapisan lapisan urugan untuk ditumbuk ini dibuat maksimal 10 cm, dan
ditumbuk 5 kali tiap bidang tumbukan pada tiap-tiap lapis tersebut.

3. Dibawah pondasi, dan dibawah saluran air diurug dengan pasir pasangan
setebal 10 cm dan dipadatkan.

Pasal 4 : Pasir Urug


1. Pasir Urug hanya dipergunakan untuk urugan bawah lantai bangunan,
timbunan, pasir alas pondasi batu gunung serta alas pekerjaan lantai kerja
beton ( Line Concrete ) Pondasi Plat Lantai Beton.

2. Pasir Urug tidak untuk digunakan pada pekerjaan beton struktural dan
beton non struktural.

3. Pasir Urug terdiri dari butiran-butiran yang keras dan bersifat kekal.

4. Pasir urug harus berasal dari pasir sungai dan bukan pasir laut.

5. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 10 % dari berat keringnya.

6. Pasir urug harus dipadatkan dengan alat pemadat Stemper hingga


mencapai kepadatan yang disetujui oleh Konsultan Pengawas atau jenuh
air sebelum dilakukan pekerjaan lain diatasnya.

7. Hasil pemadatan tanah harus disetujui oleh Konsultan Pengawas

Pasal 5 : Pasir Alas

1. Pasir Alas terdiri dari butiran kasar, tajam, berurutan maksimal 9.5 mm,
bersih dari lumpur dan kotoran, kadar airnya kurang dari 10%, serta bersifat
gembur.

2. Pasir alas dipergunakan dibawah pondasi tapak pada pekerjaan lampu


jalan, lampu taman dan tiang bendera.

3. Pasir alas juga digunakan pada pekerjaan pemasangan Paving Block.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 216


Spesifikasi Teknis

Pasal 6 : Lantai Kerja Beton ( Line Concrete )


1. Untuk komponen struktur beton yang berhubungan langsung dengan tanah
atau pasir urug, pada lapisan dasarnya harus memakai Lantai Kerja Beton
(Line Concrete) dengan tebal minimal 5 cm atau sesuai Gambar Rencana.

2. Lantai Kerja Beton dibuat dari beton mutu K-250.

3. Hasil pekerjaan Lantai Kerja Beton harus benar-benar elevasi , hal ini harus
dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.

4. Lantai kerja juga dipasang dibawah pekerjaan kansteen

Pasal 7 : Timbunan Tanah.

1. Timbunan biasa, adalah timbunan atau urugan yang digunakan untuk


pencapaian elevasi akhir subgrade yang disyaratkan dalam gambar
perencanaan tanpa maksud khusus lainnya. Timbunan biasa ini juga
digunakan untuk penggantian material existing subgrade yang tidak
memenuhi syarat. Bahan timbunan biasa harus memenuhi persyaratan-
persyaratan sebagai berikut :

 Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus


terdiri dari tanah yang disetujui oleh Pengawas yang memenuhi
syarat untuk digunakan dalam pekerjaan permanen.

 Bahan yang dipilih tidak termasuk tanah yang plastisitasnya


tinggi, yang diklasifikasi sebagai A-7-6 dari persyaratan AASHTO
M 145 atau sebagai CH dalam sistim klasifikasi “Unified atau
Casagrande”. Sebagai tambahan, urugan ini harus memiliki CBR
yang tak kurang dari 6 %, bila diuji dengan AASHTO T 193.

 Tanah yang pengembangannya tinggi yang memiliki nilai aktif


lebih besar dari 1,25 bila diuji dengan AASHTO T 258, tidak boleh
digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai aktif diukur sebagai
perbandingan antara Indeks Plastisitas (PI) – (AASHTO T 90) dan
presentase ukuran lempung (AASHTO T 88).

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 217


Spesifikasi Teknis

2. Timbunan pilihan, adalah timbunan atau urugan yang digunakan untuk


pencapaian elevasi akhir subgrade yang disyaratkan dalam gambar
perencanaan dengan maksud khusus lainnya, misalnya untuk mengurangi
tebal lapisan pondasi bawah, untuk memperkecil gaya lateral tekanan tanah
dibelakang dinding penahan tanah talud jalan. Bahan timbunan pilihan
harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :

 Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai “Timbunan


Pilihan” bila digunakan pada lokasi atau untuk maksud yang
telah ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh Pengawas.
 Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai “Timbunan
Pilihan” bila digunakan pada lokasi atau untuk maksud yang
telah ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh Pengawas.

Pasal 8 : Tulangan Beton


1. Bebas dari karatan. Toleransi terhadap karatan pada baja tulangan
ditentukan oleh Konsultan Pengawas

2. Besi tulangan yang digunakan adalah sebagai berikut

a. Besi Utama pada beton bertulang saluran yaitu besi diameter 10 mm


jarak 15 cm
b. Besi pada pondasi tapak lampu jalan
Besi utama 16 buah dia. 14 mm dan dia. 12 mm jarak 15 cm
Begel besi dia. 10 mm jarak 10 cm
c. Besi pada pondasi tapak lampu taman.
Besi utama besi dia. 12 mm jarak 15 cm dan besi 4 buah besi dia. 12 mm
Begel besi dia. 8 mm jarak 15 cm.
d. Besi pada pondasi tapak tiang bendera.
Besi utama 8 buah besi dia. 12 mm dan besi dia. 12 mm jarak 15 cm
Begel besi dia. 8 mm jarak 12 cm.

3. Semua Besi tulangan mempunyai tegangan tarik/luluh besi minimal 3900


kg/cm2 atau 390 MPa.

4. Kebenaran akan tegangan tarik/luluh besi tulangan harus dibuktikan


dengan percobaan/uji tarik pada Laboratorium Beton minimal untuk 3
benda uji.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 218


Spesifikasi Teknis

5. Besi tulangan mempunyai bentuk dan penampang yang sesuai dengan yang
dibutuhkan atau sesuai Gambar Rencana.

6. Besi ulir yang telah sekali dibengkokkan tidak boleh dibengkokkan lagi
dalam arah yang berlawanan.

7. Besi tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga terlindung dari


hubungan langsung dengan tanah dan terlindung dari air hujan.

8. Semua peraturan tentang besi tulangan di Indonesia untuk bangunan


gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 9 : Mutu Beton

1. Mutu beton yang digunakan yaitu Beton K-250.

Pasal 10 : Paving Block


1. Subgrade atau lapisan tanah paling dasar harus diratakan terlebih dahulu,
sehingga mempunyai profil dengan kemiringan sama dengan yang kita
perlukan untuk kemiringan Drainage (Water run off) yaitu minimal 1,5 %.
Subgrade atau lapisan tanah dasar tersebut harus kita padatkan dengan
kepadatan minimal 90 % MDD (Modified Max Dry Density) sebelum
pekerjaan subbase dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis yang kita
butuhkan. Ini sangat penting untuk kekuatan landasan area Paving Block
nantinya.

2. Pekerjaan lapisan subbase harus disesuaikan dengan gambar dan spesifikasi


teknis yang kita butuhkan. Profil lapisan permukaan dario subbase juga
harus mempunyai minimal kemiringan 2 %, dua arah melintang kekiri dan
kekanan. Kemiringan ini sangat penting untuk jangka panjang kestabilan
paving kita.

3. Motif paving block yang dipasang sesuai dengan yang ada pada gambar
rencana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 219


Spesifikasi Teknis

4. Abu batu/pasir alas seperti yang dipersyaratkan segera digelar diatas


lapisan base. Kemudian diratakan dengan jidar kayu sehingga mencapai
kerataan yang seragam dan harus mengikuti kemiringan yang sudah
dibentuk sebelumnya pada lapisan base.

5. Penggelaran abu batu/pasir alas tidak melebihi jarak 1 meter didepan


paving terpasang dengan tebal screeding

6. Pemasangan paving harus kita mulai dari satu titik/garis (starting point)
diatas lapisan abu batu/pasir alas (laying course).

7. Tentukan kemiringan dengan menggunakan benang yang kita tarik tegang


dan kita arahkan melintang sebagai pedoman garis A dan memanjang
sebagai garis B, kemudian kita buat pasangan kepala masing-masing diujung
benang tersebut.

8. Pemasangaan paving harus segera kita lakukan setelah penggelaran abu


batu/pasir alas. Hindari terjadinya kontak langsung antar block dengan
membuat jarak celah/naat dengaan spasi 2-3 mm untuk pengisian joint
filler.

9. Memasang paving harus maju, dengan posisi sipekerja diatas block yang
sudah terpasang.

10. Apabila tidak disebutkan dalam spesifikasi teknis, maka profil melintang
permukaan paving minimal mencapai 2 % dan maksimal 4 % denga
toleransi cross fall 10 mm untuk setiap jarak 3 meter dan 20 mm utnuk
jarak 10 meter garis lurus. Pembedaan maksimum kerataaan antaar block
tidak boleh melebihi 3 mm.

11. Pengisian joint filler harus segera kita lakukan setelah pamasangan paving
dan seera dilanjutkan dengan pemadatan paving.

12. Pemadatan paving dilakukan dengan menggunakan peralatan manual


berupa palu dengan kepala karet. Pemadatan hendaknya dilakukan secara
simultan bersamaan dengan pemasangan paving dengan minimal akhir
pemadatan meter dibelakang akhir pasangan. Jangan meninggalkan
pasangan paving tanpa adanya pemadatan, karena hal tersebut dapat

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 220


Spesifikasi Teknis

memudahkan terjadinya deformasi dan pergeseran garis joint akibat


adanya sesuatu yang melintas melewati pasangan paving tersebut.

13. Pemadatan sebaiknya kita lakukan dua putaran, putaran yang pertama
ditujukan untuk memadatkan abu batu/pasir alas (tergantung abu
batu/pasir yang dipakai).

14. Pemadatan putaran kedua, disertai dengan menyapu abu batu/pasir pengisi
celah/naat block, dan masing-masing putaran dilakukan paling sedikit 2
lintasan.

Pasal 11 : Kanstin/Kerb

1. Spesifisikasi kanstin yaitu dengan ukuran 40 x 25 x 30 cm.

2. Cleaning (Pembersihan) lapangan area untuk pekerjaan kanstin, pastikan


permukaan tanah sudah rata dan padat.

3. Pemasangan secara berurutan yang dimulai dari satu sisi dan hindarkan
pemasangan secara acak.

4. Agar pemasangan bisa dilaksankan secara baik dan cermat, maka perlu ada
alat pembantu yaitu benang pembantu. Benang pembantu dapat dipasang
setiap jarak 4 m sampai 5 m. Bilamana pada lokasi pemasangan terdapat
lubang saluran, bak bunga atau konstruksi lain, maka harus ada benang
pembantu tambahan agar pola tetap dapat dipertahankan.

5. Pada pemasangan kanstin berikan jarak 1 – 2 CM untuk spasi antar kanstin.

6. Pemasangan baris pertama harus dijaga dengan hati-hati. Untuk


membentuk pola yang baik pemasangan kanstin harus mengikuti alur
pemasangan kanstin.

7. Lubang-lubang pinggir kemudian diisi dengan pemadatan.

8. Pola Pemasangan kanstin harus sesuai urutan secara teratur agar


pemasangan dapat tersusun rapi dan baik

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 221


Spesifikasi Teknis

Pasal 12 : Lampu Jalan.


1. Pembuatan Lampu Jalan secara pabrikasi sesuai dengan gambar rencana
yaitu Type A dan Type B.

2. Kontraktor Pelaksana harus menunjukkan gambar rencana pada penyedia


lampu jalan agar dibuat sesuai dengan gambar rencana.

3. Pola Tiang lampu, penyangga tiang dan kepala tiang sesuai dengan gambar
rencana.

4. Untuk spesifikasi bahan yang digunakan harus sesuai dengan gambar


rencana

5. Lampu yang dipakai yaitu lampu merkuri merk setara Philips type opera 250
watt

6. Untuk Penempatan Lampu jalan type A dan type B sesuai dengan gambar
rencana.

7. Pemasangan kabel harus rapi dan ditanam didalam tanah agar aman dari
jangkauan.

8. Lampu jalan harus diperiksa dan kemudian diuji oleh Konsultan pengawas,
apabila terjadi kesalahan harus diperbaiki kembali oleh kontraktor
pelaksana.

Pasal 13 : Lampu Taman.

1. Pembuatan Lampu taman harus sesuai dengan gambar rencana.

2. Lampu taman yang digunakan yaitu lampu taman minimalis type TBT 9.

3. Lampu taman dipasang pada tempat-tempat yang telah disesuaikan oleh


gambar rencana.

4. Lampu taman harus diperiksa dan kemudian diuji oleh Konsultan pengawas,
apabila terjadi kesalahan harus diperbaiki kembali oleh kontraktor
pelaksana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 222


Spesifikasi Teknis

Pasal 14 : Relief Tiang Bendera


1. Relief Tiang Bendera dan ukiran beton harus sesuai dengan bentuk dan
ukuran yang ada dalam Gambar rencana.

2. Relief Tiang Bendera dan ukiran beton dibuat dari campuran semen dan air
dengan penjangkaran sederhana kepasangan dinding bata serta beton.

3. Relief Tiang Bendera dan ukiran beton adalah motif timbul dari
permukaaan bata dan beton dengan ketebalan sesuai gambar rencana.

Pasal 15 : Pasangan Dinding Batu Bata Campuran 1 Pc : 2 Ps


1. Pasangan batu bata campuran 1 Pc : 2 Ps dikerjakan hanya pada dinding-
dinding yang langsung berhubungan dengan air seperti dinding Toilet dan
Kamar Mandi serta bak air.

2. Perekat atau spesi yang dipakai adalah dari campuran 1 Pc : 2 Ps dengan


ketebalan maksimal 1,5 cm dan minimal 1 cm.

3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Batu bata harus disiram terlebih dahulu dengan air sebelum dipasang.

5. Batu bata harus dipasang dengan posisi lapis demi lapis saling bersilangan
dan tidak satu garis sambungan.

Pasal 16 : Plesteran Campuran 1 Pc : 2 Ps


1. Sebelum dilakukan plesteran terlebih dahulu permukaan hasil pemasangan
bata harus disiram dengan air dengan merata.

2. Plesteran dari campuran 1 Pc : 2 Ps .

3. Pasir yang dipakai adalah pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Tebal plesteran dinding minimal 1,5 cm.

5. Plesteran campuran 1 Pc : 2 Ps dilakukan pada pasangan Hollow block atau


dinding bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 223


Spesifikasi Teknis

6. Plesteran harus menghasilkan permukaan yang rata untuk semua bidang


dinding yang diplester.

7. Plesteran tidak boleh meninggalkan sambungan-sambungan antara


plesteran lama dengan plesteran baru yang tidak rata.

8. Lama antara plesteran lama dengan plesteran baru tidak boleh lebih dari
satu hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas .

9. Hasil pekerjaan plesteran harus benar-benar halus permukaannya sehingga


ketika dilakukan pekerjaan cat dinding tidak menimbulkan bekas.

10. Hasil pekerjaan plesteran harus disetujui oleh Konsultan Pengawas

Pasal 17 : Pasangan keramik

1. Ukuran keramik Lantai adalah sesuai dengan Gambar Rencana dan Bill of
Quantity.
Jenis : Keramik
 Ukuran :60 x 60 cm, atau ukuran sesuai petunjuk dalam gambar
 Produksi : Keramik untuk lantai, yang digunakan adalah setara
Roman,Platinum
 Ketebalan : Minimum 10 mm atau sesuai dlm gambar.
 Warna : akan ditentukan kemudian

2. Lantai beton tumbuk dipasang dengan ketebalan 7 cm dan diplester setebal


1 cm. adukan perekat lantai dipakai 1 Pc : 3 Ps : 5 Kr dengan plesteran 1 Pc :
3 Ps.

3. Lantai keramik dipasang diatas dasar lantai beton tumbuk tebal 5 cm


dengan campuran tersebut diatas. Diatas dasar lantai beton tersebut
diletakkan perekat untuk keramik dengan campuran seperti tersebut pada
analisa untuk lantai keramik. Kemudian keramik diletakkan diatas bahan
diatas dan diratakan dengan mengetuk keramik dengan kayu hingga merata
dengan sekelilingnya. Setelah pemasangan selesai keramik harus
dibersihkan dengan kain lap basah.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 224


Spesifikasi Teknis

4. Adukan perekat untuk lantai harus betul – betul padat/penuh agar tidak
terdapat rongga – rongga dibawah ubin yang dapat melemahkan
konstruksi. Sambungan antara ubin dengan ubin harus sama lebarnya, lurus
dan harus diisi dengan air semen yang warnanya sesuai dengan warna ubin.
Hasil pasangan akhir harus rata tidak bergelombang dan waterpass.

5. Permukaan pasangan keramik/ubin harus datar dan waterpass.

Pasal 18 : Pasangan Batu Kacang

1. Pola batu kacang dipasang sesuai dengan gambar rencana

2. Warna batu kacang sesuai dengan gambar rencana yaitu warna hitam, abu-
abu dan coklat muda.

3. Dibawah batu kacang dipasang lantai kerja sesuai gambar kerja.

4. Batu kacang dipasang dengan rapi dan rapat hingga membentuk pola yang
diinginkan sesuai dengan gambar rencana.

5. Selesai pemasangan batu kacang harus dibersihkan dan dipoles agar


tampak rapih.

6. Kontraktor pelaksana agar meminta persetujuan konsultan pengawas,


apabila terjadi kesalahan, kontraktor wajib memperbaiki dengan segera.

Pasal 19 : Penanaman Tanaman.

1. Timbunan tanah diletakkan sesuai gambar rencana dibawah tanaman


rumput.

2. Rumput yang digunakan sesuai gambar rencana atau sesuai instruksi owner
pekerjaan.

3. Rumput dihamparkan pada permukaan tanah sesuai gambar rencana.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 225


Spesifikasi Teknis

4. Tanaman yang dipakai pada taman yaitu Pohon Palem Ekor Tupai T ± 1
Meter, Pohon Ketapang Kencana T ± 1 Meter dan Bunga Asoka.

5. Penempatan tanaman pohon palem, pohon keutapang dan bunga asoka


harus sesuai dengan gambar rencana.

6. Tanaman ditanam langsung diatas tanah kemudian tanah ditutup dengan


rapi kembali

7. Tanaman kemudian disiram dan diberi pupuk agar terawat.

8. Kontraktor pelaksana harus meminta persetujuan dari konsultan pengawas,


apabila terjadi kesalahan harap diperbaiki kembali.

Pasal 20 : Pemasangan Ubin Pemandu (Guiding Block)

1. Guiding Block yaitu Jalur yang memandu penyandang cacat untuk berjalan
dengan memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan ubin peringatan.

2. Kontraktor Pelaksana harus memberikan brosur-brosur material kepada


pihak owner dan Konsultan pengawas sebelum melakukan pekerjaan.

3. Tekstur ubin pengarah bermotif garis-garis menunjukkan arah perjalanan.

4. Tekstur ubin peringatan (bulat) memberi peringatan terhadap adanya


perubahan situasi di sekitarnya/warning.

5. Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding


blocks):

 Di depan jalur lalu-lintas kendaraan;

 Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas


persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai;

 Pada pedestrian yang menghubungkan antara jalan dan bangunan;

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 226


Spesifikasi Teknis

6. Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah
ada perlu memperhatikan tekstur dari ubin eksisting, sedemikian sehingga
tidak terjadi kebingungan dalam membedakan tekstur ubin pengarah
dan tekstur ubin peringatan.

7. Untuk memberikan perbedaan warna antara ubin pemandu dengan ubin


lainnya, maka pada ubin pemandu dapat diberi warna kuning atau jingga.

PRINSIP PERENCANAAN JALUR PEMANDU

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 227


Spesifikasi Teknis

TIPE TEKSTUR UBIN PEMANDU (GUIDING BLOCKS)

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 228


Spesifikasi Teknis

SUSUNAN UBIN PEMANDU PADA BELOKAN

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 229


Spesifikasi Teknis

SUSUNAN UBIN PEMANDU PADA PINTU MASUK

PENEMPATAN UBIN PEMANDU PADA ANAK TANGGA

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 230


Spesifikasi Teknis

BAB XXIX

PEKERJAAN SARANA OLAHRAGA

Pasal 1 : Ruang Lingkup


1. Lingkup pekerjaan ini terdiri dari penyediaan semua peralatan, tenaga
kerja, alat-alat perlengkapan dan pelaksanaan semua pekerjaan
penyediaan sarana olahraga yaitu :
a. Lapangan Bola Kaki
b. Lapangan Voli
c. Lapangan Badminton
d. Lapangan Basket

2. Pesyaratan yang disebutkan berikut ini akan berlaku secara umum dan
meliputi semua pekerjaan aspal kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan yang
disyaratkan secara khusus.

Pasal 2 : Timbunan Tanah


 Timbunan biasa atau timbunan pilihan dipadatkan berdasarkan
STA pada gambar rencana dengan ketebalan variasi sesuai
ketebalan timbunan pada gambar rencana.
 Timbunan harus dipadatkan dengan mesin gilas hingga mencapai
ketebalan sesuai gambar rencana.

Pasal 3 : Pasir Urug Bawah Lantai.


1. Sebelum pekerjaan lantai dilakukan pekerjaan timbunan tanah dalam
ruangan harus sudah selesai 100%.

2. Diatas timbunan tanah dilakukan pekerjaan lapisan pasir urug setebal


minimal 10 cm kecuali ditentukan lain dalam Gambar Rencana.

3. Pasir urug yang dipakai harus benar-benar mempunyai susunan butiran


yang seragam.

4. Lapisan pasir urug harus dipadatkan sampai mencapai kepadatan yang


diinginkan dengan alat Stemper atau alat pemadat mekanik lain. Tidak
dibenarkan melakukan pemadatan secara manual.

5. Hasil pekerjaan lapisan pasir urug harus benar-benar rata dan elevasi hal ini
harus dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.
KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 231
Spesifikasi Teknis

Pasal 4 : Pasir Pasang / Pasir Halus


1. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir dengan ukuran butiran halus
dan tidak lagi memerlukan proses penyaringan/ayakan jika hendak
digunakan.

2. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang dipakai untuk keperluan


Pasangan Batu Gunung, Pasangan Batu Bata, Pasangan Keramik, dan
Plasteran Dinding.

3. Pasir Pasang tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat
kering, apabila pasir pasang tersebut mengandung Lumpur lebih dari 5%
maka pasir tersebut harus dicuci sebelum dipergunakan.

4. Pasir Pasang/Pasir Halus harus mempunyai butiran yang tajam dan keras.

5. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas matahari

6. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang berasal dari Sungai dan bukan
Pasir yang berasal dari laut.

Pasal 5 : Beton Cor Bawah Lantai


1. Beton cor bawah lantai dibuat dari campuran beton mutu K-250 dengan
ketebalan minimal 10 cm atau sesuai dengan Gambar Rencana.

2. Beton cor bawah lantai dikerjakan pada posisi lantai 1 atau pada posisi
dimana dibawah lantai tidak terdapat komponen plat beton.

3. Hasil pekerjaan beton cor bawah lantai harus benar-benar elevasi dan hal
ini harus dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.

4. Hasil pekerjaan pengecoran beton bawah lantai harus disetujui oleh


Konsultan Pengawas
Pasal 6 : Plesteran Aci
1. Sebelum dilakukan plesteran terlebih dahulu permukaan hasil pemasangan
bata harus disiram dengan air dengan merata.

2. Plester yang digunakan Plesteran ACI

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 232


Spesifikasi Teknis

3. Pasir yang dipakai adalah pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Tebal plesteran dinding minimal 1,5 cm.

6. Setelah diplester kasar, kemudian permukaan diplester dengan plester Aci


(halus) yang terdiri campuran semen dan air.

6. Plesteran harus menghasilkan permukaan yang rata untuk semua bidang


dinding yang diplester.

7. Plesteran tidak boleh meninggalkan sambungan-sambungan antara


plesteran lama dengan plesteran baru yang tidak rata.

8. Lama antara plesteran lama dengan plesteran baru tidak boleh lebih dari
satu hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas .

9. Hasil pekerjaan plesteran harus benar-benar halus permukaannya sehingga


ketika dilakukan pekerjaan cat dinding tidak menimbulkan bekas.

10. Hasil pekerjaan plesteran harus disetujui oleh Konsultan Pengawas


.
Pasal 7 : Cat Lapangan
1. Cat dasar dan cat akhir yang akan dipakai adalah buatan pabrik dari kualitas
terbaik.

2. Cat harus dalam bungkus dan kemasan asli dimana tercantum merk dagang,
spesifikasi, dan aturan pakai.

3. Cat yang dipakai adalah dari Merk DULUX Standar ICI atau merk lain yang
setara dengannya baik dari segi harga dan kualitas.

4. Penyedia Jasa harus memperlihatkan contoh material cat minimal dari dua
merk yang berbeda untuk disetujui oleh Konsultan Perencana.

5. Jenis, Warna dan Type Cat dapat diganti oleh Konsultan Perencana dengan
persetujuan Pengguna Jasa dalam masa pelaksanaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 233


Spesifikasi Teknis

Pasal 8 : Pekerjaan Lainnya


1. Untuk lapangan bola disediakan Rumput lapangan yang sesuai dengan
gambar rencana, sebelum rumput dihampar dilakukan penimbunan tanah
humus kemudian dipadatkan dengan ketebalan sesuai gambar.
2. Rumput dihampar perlembarnya dengan kerapatan yang sesuai sehingga
tidak ada celah pada tiap-tiap lembarnya.
3. Tiang gawang dipasang pada setiap sisi yang sesuai dengan gambar, panjang
lebar dan ukuran tiang lapangan sesuai dengan gambar rencana
4. Apabila tiang produksi secara pabrikasi, barang harus diperiksa dan disetujui
oleh konsultan pengawas.
5. Penyediaan pipa tiang net beserta dengan net pada Lapngang Volley dan
badminton sesuai dengan spesifikasi.
6. Tiang Dicor pada lantai beton cor sebelum permukaan lantai mengering.
7. Tiang basket dicor pada setiap sisi yang sesuai dengan gambar rencana,
kemudian dipasangi net basket yang sesuai dengan gambar.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 234


Spesifikasi Teknis

BAB XXX

RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK (RK3K)

Pasal 1 : Ketentuan Umum

1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi yang selanjutnya disingkat K3


Konstruksi adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi
keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja pada pekerjaan konstruksi.

2. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bidang


Pekerjaan Umum yang selanjutnya disingkat SMK3 Konstruksi Bidang PU
adalah bagian dari sistem manajemen organisasi pelaksanaan pekerjaan
konstruksi dalam rangka pengendalian risiko K3 pada setiap pekerjaan
konstruksi bidang Pekerjaan Umum.

3. Pekerjaan Konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian


kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang
mencakup bangunan gedung, bangunan sipil, instalasi mekanikal dan
elektrikal serta jasa pelaksanaan lainnya untuk mewujudkan suatu
bangunan atau bentuk fisik lain dalam jangka waktu tertentu.

4. Ahli K3 Konstruksi adalah tenaga teknis yang mempunyai kompetensi


khusus di bidang K3 Konstruksi dalam merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi SMK3 Konstruksi yang dibuktikan dengan sertifikat
pelatihan dan kompetensi yang diterbitkan oleh lembaga atau instansi
yang berwenang sesuai dengan Undang-Undang.

5. Petugas K3 Konstruksi adalah petugas di dalam organisasi Pengguna Jasa


dan/atau organisasi Penyedia Jasa yang telah mengikuti
pelatihan/bimbingan teknis SMK3 Konstruksi Bidang PU, dibuktikan dengan
surat keterangan mengikuti pelatihan/bimbingan teknis SMK3 Konstruksi
Bidang PU.

6. Potensi bahaya adalah kondisi atau keadaan baik pada orang, peralatan,
mesin, pesawat, instalasi, bahan, cara kerja, sifat kerja, proses produksi dan
lingkungan yang berpotensi menimbulkan gangguan, kerusakan, kerugian,
kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran dan penyakit akibat kerja.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 235


Spesifikasi Teknis

7. Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan,


alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja.

8. Risiko K3 Konstruksi adalah ukuran kemungkinan kerugian terhadap


keselamatan umum, harta benda, jiwa manusia dan lingkungan yang
dapat timbul dari sumber bahaya tertentu yang terjadi pada pekerjaan
konstruksi.

9. Manajemen Risiko adalah proses manajemen terhadap risiko yang dimulai


dari kegiatan mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko dan
mengendalikan risiko.

10. Biaya SMK3 Konstruksi Bidang PU adalah biaya yang diperlukan untuk
menerapkan SMK3 dalam setiap pekerjaan konstruksi yang harus
diperhitungkan dan dialokasikan oleh Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa.

11. Rencana K3 Kontrak yang selanjutnya disingkat RK3K adalah dokumen


lengkap rencana penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang PU dan
merupakan satu kesatuan dengan dokumen kontrak suatu pekerjaan
konstruksi, yang dibuat oleh Penyedia Jasa dan disetujui oleh Pengguna
Jasa, untuk selanjutnya dijadikan sebagai sarana interaksi antara
Penyedia Jasa dengan Pengguna Jasa dalam penyelenggaraan SMK3
Konstruksi Bidang PU.

12. Monitoring dan Evaluasi K3 Konstruksi yang selanjutnya disingkat Monev K3


Konstruksi adalah kegiatan pemantauan dan evaluasi terhadap
kinerja Penyelenggaraan K3 Konstruksi yang meliputi pengumpulan data,
analisa, kesimpulan dan rekomendasi perbaikan penerapan K3
Konstruksi.

Pasal 2 : Maksud,Tujuan dan Ruang Lingkup.

1. Maksud dari RK3K ini sebagai acuan bagi Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa
dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi Konstruksi Bidang
PU.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 236


Spesifikasi Teknis

2. Tujuan dari RK3K adalah sebagai berikut :


a. Meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan dan kesehatan
kerja yang terencana, terukur, terstruktur dan terintegrasi;
b. Dapat mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja;
c. Menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman dan efisien, untuk
mendorong produktifitas.

3. Ruang Lingkup dari RK3K adalah sebagai berikut :


a. Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bidang PU;
b. Tugas, Tanggung Jawab dan Wewenang;
c. Biaya Penyelenggaraan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi
Bidang PU.

Pasal 3 : Penerapan Kesalamatan dan Kesehatan Kerja Kontruksi Bidang PU

1. Setiap penyelenggaraan pekerjaan konstruksi bidang Pekerjaan Umum


wajib menerapkan Kesalamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bidang PU.

2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bidang PU meliputi:


a. Kebijakan K3;
b. Perencanaan K3;
c. Pengendalian Operasional;
d. Pemeriksaan dan Evaluasi Kinerja K3;
e. Tinjauan Ulang Kinerja K3.

3. Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi pada Tahapan


sebagai berikut :
a. Penerapan Tahap Pra Konstruksi :
- Rancangan Konseptual, meliputi Studi Kelayakan/Feasibility
Study, Survei dan Investigasi wajib memuat telaahan aspek K3.

- Penyusunan Detailed Engineering Design (DED) wajib :


 mengidentifikasi bahaya, menilai Risiko K3 serta
pengendaliannya pada penetapan kriteria perancangan dan
pemilihan material, pelaksanaan konstruksi, serta Operasi
dan Pemeliharaan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 237


Spesifikasi Teknis

 mengidentifikasi dan menganalisis Tingkat Risiko K3


dari kegiatan/proyek yang akan dilaksanakan, sesuai
dengan Tata Cara Penetapan Tingkat Risiko K3 Konstruksi
pada Lampiran 1.

- Penyusunan Dokumen Pemilihan Penyedia Barang/Jasa wajib


memuat :
 potensi bahaya, jenis bahaya dan identifikasi bahaya K3
Konstruksi yang ditetapkan oleh PPK berdasarkan
Dokumen Perencanaan atau dari sumber lainnya
 kriteria evaluasi untuk menilai pemenuhan persyaratan K3
Konstruksi termasuk kriteria penilaian dokumen RK3K.

b. Penerapan Tahap Pemilihan Penyedia Barang/Jasa wajib :


- Dokumen Pemilihan Penyedia Barang/Jasa harus memuat
persyaratanK3 Konstruksi yang merupakan bagian dari ketentuan
persyaratan teknis.
- Dokumen Pemilihan Penyedia Barang/Jasa harus memuat
ketentuan tentang kriteria evaluasi RK3K.
- Untuk pekerjaan dengan potensi bahaya tinggi, wajib
dipersyaratkan rekrutmen Ahli K3 Konstruksi dan dapat
dipersyaratkan sertifikat SMK3 perusahaan.
- Pada saat aanwijzing, potensi, jenis, identifikasi bahaya K3
dan persyaratan K3 Konstruksi wajib dijelaskan.
- Evaluasi teknis RK3K Penawaran dilakukan terhadap
sasaran dan program K3 dalam rangka pengendalian jenis
bahaya K3.
- Dalam evaluasi penawaran, Pokja dapat melibatkan
Ahli K3
- Konstruksi/Petugas K3 Konstruksi apabila diantara anggotanya
tidak ada yang memiliki sertifikat Ahli K3 Konstruksi/Petugas K3
Konstruksi.
- Apabila berdasarkan hasil evaluasi diketahui bahwa RK3K
Penawaran tidak memenuhi kriteria evaluasi teknis K3 dalam
dokumen pemilihan penyedia barang/jasa, maka penawaran
dapat dinyatakan gugur

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 238


Spesifikasi Teknis

- RK3K Penawaran yang disusun oleh Penyedia Jasa untuk


usulan
- penawaran dalam pemilihan penyedia barang/jasa, merupakan
bagian dari usulan teknis dalam dokumen penawaran,
sebagaimana diatur dalam pedoman terkait pemilihan penyedia
barang/jasa yang berlaku di lingkungan Kementerian Pekerjaan
Umum.
- Rencana Biaya K3 harus dihitung berdasarkan kebutuhan seluruh
pengendalian risiko K3 Konstruksi sesuai dengan RK3K
Penawaran.
- Apabila Penyedia Jasa tidak memperhitungkan biaya K3
Konstruksi atau rencana biaya K3 Konstruksi yang diperhitungkan
ternyata tidak mencukupi untuk pelaksanaan program K3 maka
Penyedia Jasa tetap wajib melaksanakan program K3 Konstruksi
sesuai dengan RK3K yang telah disetujui oleh PPK.
- Penyedia Jasa yang telah ditetapkan sebagai pemenang, wajib
melengkapi RK3K dengan rencana penerapan K3 Konstruksi untuk
seluruh tahapan pekerjaan.

c. Penerapan Tahap Pelaksanaan Konstruksi wajib:


- RK3K dipresentasikan pada rapat persiapan pelaksanaan
pekerjaan konstruksi/Pre Construction Meeting (PCM) oleh
Penyedia Jasa, untuk disahkan dan ditanda tangani oleh PPK
dengan menggunakan Format pada Lampiran 2.
- RK3K yang telah disahkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari dokumen kontrak pekerjaan konstruksi dan menjadi acuan
penerapan SMK3 pada pelaksanaan konstruksi.
- Dalam hal pekerjaan konstruksi dilaksanakan oleh beberapa
Penyedia Jasa dalam bentuk Kerja Sama Operasi (KSO), Pemimpin
KSO harus menetapkan Kebijakan K3 Konstruksi yang
berlaku untuk seluruh Penyedia Jasa.
- Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan terdapat ketidaksesuaian
dalam penerapan RK3K dan/atau perubahan dan/atau pekerjaan
tambah/kurang, maka RK3K harus ditinjau ulang dan disetujui
oleh PPK.
- Dokumentasi hasil pelaksanaan RK3K dibuat oleh penyedia jasa
dan dilaporkan kepada PPK secara berkala (harian, mingguan,

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 239


Spesifikasi Teknis

bulanan dan triwulan), yang menjadi bagian dari laporan


pelaksanaan pekerjaan.
- Apabila terjadi kecelakaan kerja, Penyedia Jasa wajib membuat
laporan kecelakaan kerja kepada PPK, Dinas Tenaga Kerja
setempat, paling lambat 2 x 24 jam.
- Penyedia Jasa wajib melaksanakan perbaikan dan peningkatan
kinerja sesuai hasil evaluasi kinerja RK3K yang dilakukan
triwulanan, dalam rangka menjamin kesesuaian dan efektifitas
penerapan RK3K.

d. Penerapan Tahap Penyerahan Hasil Akhir Pekerjaan wajib :


- Pada saat pelaksanaan uji coba dan laik fungsi sistem (testing
dan commissioning) untuk penyerahan hasil akhir
pekerjaan, Ahli K3 Konstruksi/Petugas K3 Konstruksi harus
memastikan bahwa prosedur K3 telah dilaksanakan.
- Laporan Penyerahan Hasil Akhir Pekerjaan wajib memuat
hasil kinerja SMK3, statistik kecelakaan dan penyakit akibat kerja,
serta usulan perbaikan untuk proyek sejenis yang akan datang.

4. Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi berdasarkan


Potensi Bahaya sebagai berikut:
a. Potensi bahaya tinggi, apabila pekerjaan bersifat berbahaya dan/atau
mempekerjakan tenaga kerja paling sedikit 100 orang dan/atau nilai
kontrak diatas Rp. 100.000.000.000,- (seratus milyar rupiah);
b. Potensi bahaya rendah, apabila pekerjaan bersifat tidak berbahaya
dan/atau mempekerjakan tenaga kerja kurang dari 100 orang
dan/atau nilai kontrak dibawah Rp. 100.000.000.000,- (seratus milyar
rupiah).

5. Pelaksanaan Konstruksi dengan Potensi Bahaya Tinggi wajib melibatkan Ahli


K3 Konstruksi.

6. Pelaksanaan Konstruksi dengan Potensi Bahaya Rendah wajib melibatkan


Petugas K3 Konstruksi.

7. Membuat Struktur Organisasi K3 Konstruksi Bidang PU.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 240


Spesifikasi Teknis

8. Risiko K3 Konstruksi adalah ukuran kemungkinan kerugian terhadap


keselamatan umum, harta benda, jiwa manusia dan lingkungan yang
dapat timbul dari sumber bahaya tertentu yang terjadi pada pekerjaan
konstruksi.

9. Penilaian Tingkat Risiko K3 Konstruksi dapat dilakukan dengan


memadukan nilai kekerapan/frekuensi terjadinya peristiwa bahaya K3
dengan keparahan/kerugian/dampak kerusakan yang ditimbulkannya.

10. Penentuan nilai kekerapan atau frekuensi terjadinya Risiko K3Konstruksi


seperti dinyatakan dengan nilai pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Nilai Kekerapan Terjadinya Risiko K3 Konstruksi


Nilai Kekerapan
1 (satu) Jarang terjadi dalam kegiatan konstruksi
2 (dua) Kadang-kadang terjadi dalam kegiatan konstruksi
3 (tiga) Sering terjadi dalam kegiatan konstruksi

10. Penentuan nilai keparahan atau kerugian atau dampak kerusakan akibat
Risiko K3 Konstruksi seperti dinyatakan dengan nilai pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2. Nilai Keparahan atau Kerugian atau Dampak Kerusakan akibat Risiko K3
Konstruksi.
TINGKAT KEPARAHAN/KERUGIAN/DAMPAK NILAI

ORANG HARTA LINGKUNGAN KESELAMATAN


BENDA UMUM

RINGAN 1

SEDANG 2

BERAT 3

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 241


Spesifikasi Teknis

11. Tingkat Risiko K3 Konstruksi (TR) adalah hasil perkalian antara nilai
kekerapan terjadinya Risiko K3 Konstruksi (P) dengan nilai keparahan yang
ditimbulkan (A).

12. Hasil Perhitungan Tingkat Risiko K3 Konstruksi Tabel 1.3.

Tabel 1.3.Nilai Tingkat Risiko K3 Konstruksi.

TINGKAT RISIKO K3 Keparahan (Akibat)


KONSTRUKSI 1 2 3

Kekerapan 1 1 2 3

2 2 4 6

3 3 6 9

Keterangan :

: Tingakat Resiko Rendah;

: Tingkat Resiko Sedang; dan

: Tingkat Resiko Tinggi.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 242


Spesifikasi Teknis

Tabel 1.4 Format penetapan Tingkat Risiko K3 Konstruksi.

PEKERJAAN Oran Harta Benda Lingkungan Keselamatan Umum


No. Identifikasi Bahaya
BERISIKO K A g TR=(KxA) K A TR=(KxA) K A TR=(KxA) K A TR=(KxA)
(1) (2
K3 (2 (3) (4) (5 (6) (7) (8 (9) (10) (11) (12) (13) (14
1 ) a) ) ) )
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Nilai Rata-Rata Sub.Total

Nilai Rata-Rata Total KESIMPULAN TINGKAT RISIKO K3


TINGGI/SEDANG/KECIL
K = kekerapan
A = akibat (keparahan)

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 243


Spesifikasi Teknis

TABEL 2.1. IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO, SKALA PRIORITAS, PENGENDALIAN RISIKO K3, DAN PENANGGUNG JAWAB
PENILAIAN RISIKO
PENANGGUNG
URAIAN IDENTIFIKASI KEKERAP KEPARAH TINGKAT SKALA PENGENDALIAN JAWAB
NO
PEKERJAAN BAHAYA AN AN RISIKO PRIORITAS RISIKO K3 (Nama
Petugas)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 8 9
1 Pekerjaan Tertimbun 3 3 9 1 ) turap
1.1. Penggunaan )
galian pada (Tinggi 1.2. Menggunakan Pengawas lapangan/
basement ) metode pemancangan quality engineer
bangunan 1.3. Menyusun
gedung instruksi kerja
dengan pekerjaan
kondisi tanah galian
labil 1.4. Menggunakan
rambu peringatan dan
barikade
1.5. Melakukan
pelatihan
kepada pekerja
1.6 Pengunaan APD
Dst. yang sesuai

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 244


Spesifikasi Teknis

Ketentuan Pengisian Tabel 2.1:


Kolom (1) : Nomor urut uraian pekerjaan.
Kolom (2) : Diisi seluruh item pekerjaan yang mempunyai risiko K3 yang
tertuang di dalam dokumen pelelangan.
Kolom (3) : Diisi dengan identifikasi bahaya yang akan timbul dari seluruh
item pekerjaan yang mempunyai risiko K3.
Kolom (4) : Diisi dengan nilai (angka) kekerapan terjadinya kecelakaan.
Kolom (5) : Diisi dengan nilai (angka) keparahan.
Kolom (6) : Perhitungan tingkat risiko K3 adalah nilai kekerapan x
keparahan.
Kolom (7) : Penetapan skala prioritas ditetapkan berdasarkan item
pekerjaan yang mempunyai tingkat risiko K3 tinggi, sedang dan
kecil, dengan penjelasan: prioritas 1 (risiko tinggi), prioritas 2 (risiko
sedang), dan prioritas 3 (risiko kecil). Apabila tingkat risiko dinyatakan
tinggi, maka item pekerjaan tersebut menjadi prioritas utama
(peringkat 1) dalam upaya pengendalian.
Kolom (8) : Diisi bentuk pengendalian risiko K3. Bentuk pengendalian risiko
menggunakan hirarki pengendalian risiko (Eliminasi, Substitusi,
Rekayasa, Administrasi, APD), diisi oleh Penyedia Jasa pada saat
penawaran (belum memperhitungkan penilaian risiko dan skala
prioritas.
Keterangan :
a. Eliminasi adalah mendesain ulang pekerjaan atau mengganti
material/ bahan sehingga bahaya dapat dihilangkan atau
dieliminasi.
Contoh: seorang pekerja harus menghindari bekerja di ketinggian
namun pekerjaan tetap dilakukan dengan menggunakan alat
bantu.

b. Substitusi adalah mengganti dengan metode yang lebih aman


dan/ atau material yang tingkat bahayanya lebih rendah.
Contoh: penggunaan tangga diganti dengan alat angkat mekanik
kecil untuk bekerja di ketinggian.

c. Rekayasa teknik adalah melakukan modifikasi teknologi


atau peralatan guna menghindari terjadinya kecelakaan.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 245


Spesifikasi Teknis

Contoh: menggunakan perlengkapan kerja atau peralatan lainnya


untuk menghindari terjatuh pada saat bekerja di ketinggian .

d. Administrasi adalah pengendalian melalui pelaksanaan


prosedur untuk bekerja secara aman.
Contoh:pengaturan waktu kerja (rotasi tempat kerja)
untuk mengurangi terpaparnya/ tereksposnya pekerja terhadap
sumber bahaya, larangan menggunakan telepon seluler di
tempat tertentu, pemasangan rambu-rambu keselamatan .

e. APD adalah alat pelindung diri yang memenuhi


standard dan harus dipakai oleh pekerja pada semua pekerjaan
sesuai dengan jenis pekerjaannya.
Contoh: Pemakaian kacamata las dan sarung tangan kulit pada
pekerjaan pengelasan.

Kolom (9) : Diisi penanggung jawab (nama petugas) pengendali risiko K3.

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 246


Spesifikasi Teknis

TABEL 2.2. TABEL PENYUSUNAN SASARAN DAN PROGRAM K3


SASARAN KHUSUS PROGRAM
PENGENDA
URAIAN TOLOK SUMBER JANGKA BIAYA (Rp)
NO LIAN RISIKO URAIAN INDIKATOR MONITORING PENANGGUNG
PEKERJAAN UKUR DAYA WAKTU
PENCAPAIAN JAWAB

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10 (11)
1 Pekerjaan 1.1. Seluruh Penggunaa - Bahan Sebelum Turap Checklist )
Pengawas
galian pada Penggunaan pekerjaa n turap (Turap, bekerja terpasan /petugas
basement turap n galian memenuhi peralatan harus g terkait
bangunan dipastik spesifikasi kerja, dll sudah sesuai
gedung an …… yang terkait) lengkap gambar dan
dengan memenu (ditetapkan - SDM spesifikasi
kondisi hi quality sesuai dengan
tanah labil prinsip enginering) kebutuhan
keselam
atan

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 247


Spesifikasi Teknis

1.2. Tersedia Sesuai Dokumen Sesuai Tertib Checklist Quality


Menggunak nya dengan manual jadwal melaksanaka Engineer
an metode metode metode instruction pelaksana n sesuai
pemancang yang telah /petunjuk an metode
an ditetapkan kerja

1.3. Tersedia Sesuai Dokumen Sesua Tertib Checklist Quality


Menyusun nya denga petunjuk i melaksanaka Engineer
instruksi instruks n kerja jadwa n petunjuk
kerja i kerja instruksi l kerja
pekerjaan kerja pelaksana
galian an
1.4. Seluruh Rambu - Rambu Sebelum 100% sesuai Checklist Petugas K3
Menggunak lokasi dan dan bekerja standar
an rambu galian barikade barikade harus
peringatan diberika standar - SDM sesuai sudah
dan n rambu (Dicari dengan lengkap
barikade dan contor dari kebutuhan
1.5. Seluruh
barikade Lulus
jasa tes Instruktur, Sebelum 100% lulus Evaluasi Petugas K3,
Melakukan pekerja
standar dan paham
marga, program, bekerja dan paham hasil unit
pelatiha terkait mengenai
NFPA) materi/mo dul, harus penyuluhan pelatihan/HR
n kepada telah sistem tes pemahama sudah /pelatihan D
pekerja mengiku keselamata n, dan peserta. terlati
ti n galian h
pelatiha
KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN
n dan 248
penyulu
Spesifikasi Teknis

1.6 Seluruh - SNI helm, Masker, sepatu Sebelum 100% sesuai Disediakan Inspektor
Pengunaan pekerja masker & keselamata n, bekerja standar petugas K3/petugas
APD yang menggu sepatu pelindung harus yang pengawas
sesuai nakan (Dicari) kepala sudah melakukan pelaksanaan
APD - Jumlah lengkap pengawasan pekerjaan
standar pekerja selama
pekerjaan
galian
berlangsung

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 249


Spesifikasi Teknis

Ketentuan Pengisian Tabel 2.2:


Kolom (1) : Nomor urut uraian pekerjaan.
Kolom (2) : Diisi seluruh item pekerjaan yang mempunyai risiko K3 yang tertuang
di dalam dokumen pelelangan.
Kolom (3) : Diisi pengendalian risiko
Kolom (4) : Diisi uraian dari sasaran khusus yang ingin dicapai terhadap
pengendalian risiko pada kolom (3).
Kolom (5) : Tolok ukur merupakan ukuran yang bersifat kualitatif
ataupun kuantitatif terhadap pencapaian sasaran pada kolom (4)
Kolom (6) : Diisi sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan
program kerja atas sasaran yang hendak dicapai dari kolom (5)
Kolom (7) : Diisi jangka waktu yang ditetapkan untuk melaksanakan
program kerja atas sasaran khusus yang hendak dicapai.
Kolom (8) : Indikator pencapaian adalah ukuran keberhasilan
pelaksanaan program.
Kolom (9) : Diisi bentuk-bentuk monitoring yang dilaksanakan dalam rangka
memastikan bahwa pencapaian sasaran dipenuhi sepanjang
waktu pelaksanaan
Kolom (10) : Penanggung jawab pelaksana program
Kolom (11) : Diisi biaya kebutuhan pelaksanaan program

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 250


Spesifikasi Teknis

BAB XXXIII
KETENTUAN KHUSUS

Pasal 1 : Semua hal yang tidak ditentukan dalam spesifikasi ini akan ditentukan
kemudian oleh Konsultan Perencana bersama Konsultan Pengawas dalam masa
pelaksanaan konstruksi dengan persetujuan Pengguna Jasa dan menjadi suatu
ketentuan yang mengikat serta harus dilaksanakan oleh Penyedia Jasa. Hal-hal
yang ditentukan kemudian tersebut harus tetap didasarkan pada Kontrak Kerja.

Pasal 2 : Jika ada item-item pekerjaan dimana tidak ada penjelasan dalam Gambar
Rencana, Bill of Quantity dan Spesifikasi Teknis maka penjelasan teknis
terhadap item pekerjaan tersebut adalah berdasarkan keputusan Konsultan
Pengawas dengan persetujuan Konsultan Perencana dan Pengguna Jasa.

Pasal 3 : Maksud dan tujuan setiap aturan dalam Spesifikasi Teknis ini adalah menurut
penjelasan Konsultan Pengawas dengan persetujuan Konsultan Perencana dan
Pengguna Jasa.

Dibuat Oleh:
KONSULTAN PERENCANA
PT.INOCHI KONSULTAN

Issana Meria Burhan, ST. Mup


Team Leader

KONSULTAN PERENCANA : PT. INOCHI KONSULTAN 251