Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Albumin merupakan protein plasma yang paling banyak dalam tubuh manusia,

yaitu sekitar 55-60%.1 Fungsi utama albumin adalah mempertahakan tekanan osmotik

koloid (onkotik) plasma untuk mencegah hilangnya plasma dari kapiler. Albumin

memiliki fungsi lain yaitu sebagai sumber asam amino untuk jaringan, sebagai sumber

energi, sebagai pengikat dan pengangkut, sebagai antikoagulan, sebagai buffer, sebagai

antioksida, dan lain-lain.2 Nilai normal albumin ialah 3,5 – 5,0 g/dL, dikatakan

hipoalbumin jika kadarnya kurang dari 3,5g/dL. Hal ini dapat terjadi pada keadaan

malnutrisi, hipertiroid, gangguan fungsi hati, infeksi kronik, luka bakar, edema, asites,

sirosis hepatik, sindroma nefrotik dan perdarahan.4 Keadaan hipoalbuminemia dapat

meningkatkan risiko terjadinya keadaan-keadaan seperti pneumonia, efusi pleura,

asites, atrofi otot, hingga ancaman kematian.6

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Albumin

Albumin terdiri dari rantai tunggal polipeptida dengan berat molekul 69 kDa dan terdiri

dari 585 asam amino. Pada molekul albumin terdapat 17 ikatan disulfida yang menghubungkan

asam-asam amino yang mengandung sulfur. Molekul albumin berbentuk elips sehingga dengan

bentuk molekul seperti itu tidak akan meningkatkan viskositas plasma dan larut sempurna.1

Kadar albumin serum ditentukan oleh fungsi laju sintesis, laju degradasi, dan distribusi

antara kompartemen intravaskular dan ekstravaskular. Cadangan total albumin 3,5-5,0 g/kg BB

atau 250-300 g pada orang dewasa sehat dengan berat 70 kg, dari jumlah ini 42% berada di

kompartemen plasma dan sisanya di dalam kompartemen ektravaskular.1

Secara umum, fungsi utama albumin di dalam tubuh adalah mempertahankan tekanan

onkotik plasma untuk mencegah hilangnya plasma dari kapiler. Peranan albumin terhadap

tekanan onkotik plasma rnencapai 80% yaitu 25 mmHg, disusul 20% dari globulin.1

Albumin mempunyai konsentrasi yang tinggi dibandingkan dengan protein plasma

lainnya, dengan berat molekul 69 kDa lebih rendah dari globulin serum yaitu 140 kDa, tetapi

masih mempunyai tekanan osmotik yang bermakna. Efek osmotik ini memberikan 60%

tekanan onkotik albumin. Sisanya 40% berperan dalam usaha untuk mempertahankan

intravaskular dan partikel terlarut yang bermuatan positif.2

2
Albumin dibatasi dari penyaringan, karena muatan negatif yang dimilikinya dan tolakan

elektrostatik yang diberikan oleh muatan negatif dari dinding kapiler proteoglikan glomerulus.

Pada kasus nefropati telah ditemukan terkait hilangnya muatan negatif yang biasanya secara

normal ada di membran basal kapiler glomerulus. Studi imunologi juga menunjukkan reaksi

imunologis abnormal dalam beberapa kasus menyebabkan hilangnya muatan negatif pada

membran. Hilangnya muatan negatif normal di membran basal kapiler glomerulus

memungkinkan protein, terutama albumin, untuk melewati membran glomerulus dengan

mudah karena muatan negatif dalam membran basal biasanya menolak muatan negatif.2 Secara

detil fungsi dan peran albumin dalam tubuh adalah seperti yang akan dipaparkan berikut:

a. Albumin sebagai sumber asam amino untuk jaringan

Ketika jaringan menjadi kekurangan protein, maka protein plasma dapat bertindak

sebagai sumber pengganti yang cepat. Protein plasma utuh dapat diserap secara in toto oleh

jaringan makrofag melalui proses pinositosis, namun untuk sel-sel ini mereka dipecah menjadi

asam amino yang diangkut embali ke darah dan digunakan di seluruh tubuh untuk membangun

protein seluler dimanapun diperlukan. Dengan cara ini, protein plasma berfungsi sebagai media

penyimpanan protein labil dan mewakili sumber asam amino yang tersedia kapanpun jaringan

tertentu membutuhkannya.2

b. Albumin sebagai sumber energi

Setelah sel diisi hingga batas mereka dengan protein yang tersimpan,

asam amino tambahan dalam cairan tubuh akan terdegradasi dan digunakan untuk energi atau

disimpan terutama sebagai lemak atau secara sekunder sebagai glikogen. Degradasi ini terjadi

hampir seluruhnya terjadi di liver dan dimulai dengan proses deaminasi.2

3
c. Albumin sebagai pengikat dan pengangkut

Albumin akan mengikat secara lemah dan reversibel partikel yang bermuatan negatif

dan positif, dan berfungsi sebagai pembawa dan pengangkut molekul metabolit dan obat,

seperti mengikat bilirubin tak terkonjugasi, progesteron,dan esterogen.2

d. Albumin sebagai antikoagulan

Albumin mempunyai efek terhadap pembekuan darah. Albumin dapat mengerahkan aksi

antikoagulan karena kemampuannya untuk mengikat antitrombin, terkait dengan peningkatan

netralisasi faktor koagulasi Xa, dan efek penghambatannya pada agregasi trombosit . Selain

itu, infus albumin telah terbukti menurunkan kompetensi koagulasi pasien selama operasi besar

dengan menggunakan pengukuran thrombelastometry.3

c. Albumin sebagai pendapar

Albumin berperan sebagai buffer dengan adanya muatan sisa dan molekul albumin dan

jumlahnya relatif banyak dalam plasma. Pada keadaan pH normal albumin bermuatan negatif

dan berperan dalam pembentukan gugus anion yang dapat mempengaruhi status asam basa.

Penurunan kadar albumin akan menyebabkan alkalosis metabolik, karena penurunan albumin

1 g/dl akan meningkatkan kadar bikarbonat 3,4 mmol/L dan produksi basa >3,7 mmol/L serta

penurunan anion 3 mmol/L.2

d. Efek antioksidan albumin

Albumin dalam serum bertindak memblok suatu keadaan neurotoxic oxidant stress yang

diinduksi oleh hidrogen peroksida atau copper, asam askorbat yang apabila teroksidasi akan

menghasilkan radikal bebas.2

Selain yang disebut di atas albumin juga berperan mempertahankan integritas

mikrovaskuler sehingga mencegah masuknya kuman-kuman usus ke dalam pembuluh darah,

sehingga terhindar dari peritonitis bakterialis spontan.2

4
2.2 Hipoalbumin

2.2.1 Definisi

Albumin merupakan protein yang disintesa di hati dan memiliki fungsi untuk

mempertahankan keseimbangan distribusi air dalam tubuh (tekanan onkotik koloid).

Albumin membantu transport beberapa komponen darah, seperto: ion, bilirubin,

hormon, enzim dan obat. Nilai normal albumin ialah 3,5 – 5,0 g/dL, dikatakan

hipoalbumin jika kadarnya kurang dari 3,5g/dL. Hal ini dapat terjadi pada keadaan

malnutrisi, hipertiroid, gangguan fungsi hati, infeksi kronik, luka bakar, edema, asites,

sirosis hepatik, sindroma nefrotik dan perdarahan.4

2.2.2 Etiologi

Hipoalbumin dapat terjadi karena adanya produksi albumin yang berkurang,

gangguan pada sintesa karna ada kerusakan pada sel hepatosit, defisiensi dari ambilan

asam amino, banyaknya kelihangan albumin dari proses renal maupun gastrointestinal

serta inflamasi akut maupun kronis.5

2.2.2.1 Malnutrisi Protein

Kurangnya ambilan protein berujung pada kehilangan dan asam ribonukleat dan

disagregasi dari ikatan retikulum endoplasma-polisome, yang nantinya akan membuat

penurunan sintesa albumin. sintesa albumin dapat distimulasi melalui produksi asam

amino dari siklus urea, seperti ornithine.5

2.2.2.2 Gangguan pada Sintesa

Pada pasien dengan sirosis hepatik, sintesa berkurang karena adanya kehilangan

dari sel hepar. Juga aliran darah portal sering berkurang dan terdsitribusi secara buruk

karena adanya maldistribusi dari oksigen dan nutrisi. Sintesa albumin dapat meningkat

pada pasien sirosis dengan asites, kemungkinan dikarenakan adanya perubahan pada

5
tingkatan koloid intersisil, yang dapat bertindak sebagai pencetus produksi albumin.

meskipun sintesis meningkat, konstentrasi albumin berkurang karena dilusi.5

2.2.2.3 Kebocoran Protein Ekstravaskular

Pada sindroma nefrotik dapat menyebabkan keadaan hipoalbumin dengan

proteinuria yang masif, dengan kehilangan protein 3.5 g atau lebih dalam 24 jam.

Albumin disaring oleh glomerulus dan di ubah oleh tubulus renalis menjadi asam

amino. Pada pasien dengan penyakit ginjal yang kronis, dimana terdapat gangguan pada

fungsi glomerulus dan tubulusnya, maka didapatkan juga kehilangan prtein pada proses

filtrasi.5

Kulit merupakan tempat dimana albumin ekstravaskular disimpan dan menjadi

tempat utama untuk bertukarnya albumin ketingkat plasma. Hipoalbumin dihasilkan

jika adanya kerusakan pada jaringan kulit, contohnya pada kasus luka bakar.5

2.2.2.4 Inflamasi Akut dan Kronis

Kadar albumin yang rendah dikarenakan inflamasi akut maupun kronis harus

dinormalkan kembali dalam hitungan minggu. Adanya sitokin (TNF, IL-6) yang

dilepaskan sebagai respon inflamasi dari proses fisiologis stress (infkesi, pembedahan

dan trauma) dapat menurunkan serum albumin dengan mekanisme sebagai berikut:

naiknya permeabilitas vaskular (mengakibatkan albumin berdifusi ke ruang

ekstravaskular), dan menurunkan sintesa.5

2.2.3 Patofisiologi

Jumlah albumin serum tergantung dari sintesa, jumlah yang disekresikan dari

sel hepar, distribusi pada cairan tubuh dan degradasi. Proses sintesa albumin dimulai

dari didalam nukleus, dimana gene di transkripsikan menjadi messenger ribonucleic

acid (mRNA). mRNA disekresikan ke sitoplasma, akan berikantan dengan riboson,

membentuk polisome yang akan mensitesa preproalbumin. Preproalbumin adalah

6
molekul albumin dengan ekstensi 24 asam amino pada cabang N. Sinyal perpanjangan

asam amino akan membuat preproalbumin masuk kedalam membran dari retikulum

endoplasma. Setelah didalam retikum endoplasma, 18 asam amino akan diurai,

menyisakan proalbumin (albumin dengan 6 asam amino yang masih tersisa).

Proalbumin merupakan bentuk intraseluler utama albumin. proalbumin diekspor ke

badan Golgi, dimana ekstensi 6 asam amino dihapus saat adanya sekresi albumin oleh

hepatosit. Setelah disintesa, albumin langsung disekresikan secepatnya, tidak disimpan

di hepar.5

Albumin didistribusikan ke ruang ekstravaskular di semua jaringan, dengan

kulit sebagai tempat utama distribusinya. Sekitar 30-40% (210 g) albumin pada tubuh

didaptkan pada kompartemen tubuh seperti otot, kulit, liver, dan jaringan lainnya.

Albumin memasuki ruang intravaskular dengan 2 cara, yang pertama dengan melewati

sistem limfatik dan bergerak menuju duktus toracicus. Yang kedua, albumin berpindah

langsung dari hepatosit menuju sinusoid setelah melewati Apace of Disse. Setelah 2

jam, 90% dari albumin yang sudah disekresi akan tetap di ruang intravaskular. Waktu

paruh albumin intravaskular adalah 16 jam. Buangan harian albumin dari ruang

intravaskular sekitar 10%. Pada kondisi patologis tertentu, seperti nefrosis, asites,

edema, dapat meningkatkan kerugian harian dari albumin plasma. Albumin

didistribusikan ke volume intersisil hepatik dam konsetrasi dari koloidnya merupaka

regulator dari sintesa albumin. Hal ini merupakan regulator utama sintesa albumin

selama periode normal, tanpa stress.5

Albumin memilliki 4 tempat ikatan, satu untuk kobalt (logam) dan yang lain

adalah untuk mengikat berbagai spesies molekul biologis. Albumin dapat teroksidasi

reversibel melalui jalur glutathione, namun pada sisoris hepatik yang berat, akan

7
membentuk oksidasi yang irreversibel, yang kemampuan mengikatnya telah

berkurang.5

Degradasi albumin masih kurang dipahami. Setelah disekresikan di plasma,

molekul albumin melewati ruang pada jaringan dan kembali ke plasma melalui duktus

toracicus. Albumin di gradasikan dalam endotel kapiler, sumsum tulang dan dan sinus

hepatik. Molekul albumin dihancurkan secara acak, tidak ada perbedaan antara molekul

yang lama dan baru.5

2.2.4 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis pada pasien apat ditemukan dalam berbagai sistem organ

tergantung pada penyakit yang mendasarinya. Temuan berikut menunjukkan potensi

proses penyakit yang mendasari terjadinya hipoalbuminemia :

 Kepala, mata, telinga, hidung, dan tenggorokan - Edema wajah, macroglossia,

pembengkakan parotis, konjungtiva ikterus

 Integumentary - Kehilangan lemak subkutan, penyembuhan luka yang lama, kulit

kasar dan kering, dermatosis, edema perifer, rambut tipis, spider angioma, eritema

palmar, perubahan karena pembedahan dan luka bakar, ikterus

 Kardiovaskular - Bradikardia, hipotensi, kardiomegali

 Pernapasan - Penurunan ekspansi pernafasan karena efusi pleura dan otot

interkostal yang melemah

 Gastrointestinal - Hepatosplenomegali, asites

 Musculoskeletal - Pemborosan otot, retardasi pertumbuhan pada anak-anak, atrofi

otot tangan interosseus

 Neurologis - Encephalopathy, asterixis

 Genitourinary - Atrofi testis

 Endokrin - Ginekomastia, hipotermia, tiromegali.5

8
2.2.5 Terapi

Penatalaksanaan pada pasien hipoalbuminemia diutamakan pada penyakit yang

mendasari terjadinya hipoalbuminemia. Meskipun demikian, pemberian nutrisi,

menyesuaikan obat-obatan, dan pemberia koloid dapat memperbaiki keadaan klinis

pasien.

Penatalaksanaan penyakit yang mendasari

Konsep terpenting dalam menangani hipoalbuminemia adalah dengan

menangani penyakit yang mendasari, karena hipoalbuminema bukan suatu penyakit.

Dengan menangani penyakit yang mendasari, kadar albumin akan meningkat dan

kelainan-kelainan yang disebabkan oleh hipoalbuminemia juga akan berkurang.

Namun, kebanyakan penyakit yang mendasari hipalbuminemia (seperti gagal hati,

neforpati, dan enteropati) merupakan penyakit yang sulit untuk di terapi. Maka dari itu,

penting untuk dilakukan terapi suportif.

Dukungan nutrisi

Dukungan nutrisi ini dapat menyediakan protein yang dapat menjadi suplai

dalam sintesis albumin. Pemberian ini bergantung pada kondisi dan penyakit pasien.

Pemberian enteral lebih diutamakan daripada pemberian parenteral pada pasien dengan

fungsi gastrointestinal yang baik.

Menyesuaikan obat-obatan

Dilakukan penyesuaikan dosis pada obat-obatan yang memiliki ikatan kuat

terhadap albumin. Hal ini dilakukan untuk menghindari toksikosis yang diakibatkan

kurangnya jumlah albumin yang dapat mengikat obat-obatan.

Pemberian koloid

Pemberian koloid dapat menjaga kenyamanan pasien, mengoptimalkan

penyembuhan luka dan memperbaiki motilitas dan absorbsi pada gastrointestinal

9
dengan menjada tekanan osmotik koloid (colloid osmotic pressure) dan selanjutnta

mengurangi akumulasi carian pada ekstravaskuler.6

2.2.6 Komplikasi

Keadaan hipoalbuminemia dapat meningkatkan risiko terjadinya keadaan-

keadaan seperti pneumonia, efusi pleura, asites, atrofi otot.6

2.3 Konsep Sehat Sakit

Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang

sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau

kelemahan (WHO, 1947).

Menurut Departemen Keshatan UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa

: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup

produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat

sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur –unsur fisik, mental dan sosial dan di

dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.

Sakit adalah keadaan dimana fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, atau

seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan terjadinya proses penyakit. Oleh

karena itu sakit tidak sama dengan penyakit. Sebagai contoh pasien dengan Leukemia yang

sedang menjalani pengobatan mungkin akan mampu berfungsi seperti biasanya, sedangkan

pasien lain dengan kanker payudara yang sedang mempersiapkan diri untuk menjalanai operasi

mungkin akan merasakan akibatnya pada dimensi lain, selain dimensi fisik.

Perilaku sakit merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara seseorang memantau

tubuhnya; mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang dialami; melakukan upaya

penyembuhan; dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan.

10
BAB III

PETA KONSEP

Hidup
Sehat Sakit Masuk Kritis
RS
Mati

Masuk Keluar
APACHE Score
ICU ICU

Hasil
Laboratorium

Albumin
Terendah

11
BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah retrospektif berdasarkan hasil

laboratorium pasien di ICU RSU Haji Surabaya.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Intensif Care Unit (ICU) RSU Haji Surabaya

bulan Mei sampai Bulan Juli 2018

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian

4.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien Intensif Care Unit (ICU)

RSU Haji Surabaya pada bulan Mei sampai Bulan Juli 2018

Januari 2018.

4.3.2 Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini adalah 25 pasien kematian terakhir dan 25 pasien

hidup terakhir yang ada di Intensif Care Unit (ICU) RSU Haji Surabaya.

4.4 Variabel Penelitian

4.4.1 Variabel Bebas

Variabel bebas yang diamati pada penelitian ini adalah kadar albumin terendah

pada pasien di ICU RSU Haji Surabaya

4.4.2 Variabel Tergantung

Variabel tergantung yang diamati pada penelitian ini adalah korelasi antara

kadar albumin terendah dengan kematian.

4.5 Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

12
a. Albumin: Protein yang disintesa di hati dan memiliki fungsi untuk mempertahankan

keseimbangan distribusi air dalam tubuh (tekanan onkotik koloid). Albumin membantu

transport beberapa komponen darah, seperto: ion, bilirubin, hormon, enzim dan obat.

Nilai normal albumin ialah 3,5 – 5,0 g/dL, dikatakan hipoalbumin jika kadarnya kurang

dari 3,5g/dL. Hal ini dapat terjadi pada keadaan malnutrisi, hipertiroid, gangguan fungsi

hati, infeksi kronik, luka bakar, edema, asites, sirosis hepatik, sindroma nefrotik dan

perdarahan

b. Konsep sehat sakit: Sehat dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik

secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan

(WHO, 1947), sedangkan sakit adalah keadaan dimana fisik, emosional, intelektual,

sosial, perkembangan, atau seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan

terjadinya proses penyakit. Oleh karena itu sakit tidak sama dengan penyakit

4.6 Teknik pengumpulan data

Data diperoleh dengan melihat 25 kasus kematian terakhir dan 25 kasus hidup

terakhir dengan kadar albumin terendah di ICU RSU Haji Surabaya. Data diambil pada

bulan Mei hingga Juli 2018.

13
BAB 5

PEMBAHASAN

Pada penelitian studi retrospektif di RSU Haji Surabaya pada tanggal 19 Juli 2018
dengan jumlah sampel 25 kasus kematian terakhir, didapatkan data kematian pasien ICU RSU
Haji Surabaya yang dihubungkan dengan kadar albumin.

Berdasarkan data didapatkan pada semua kasus kematian (100%) menderita


hipoalbumin dengan derajat yang bervariasi. Penderita hipoalbumin terbanyak adalah derajat
sedang didapatkan 18 kasus yakni sebesar 72%, diikuti dengan hipoalbumin derajat ringan
sejumlah 4 kasus yakni sebesar 14%, dan penderita hipoalbumin berat sebanyak 3 kasus yakni
12%. Hal ini disampaikan pada tabel 5.1.

Tabel 5.1 Data 25 kasus kematian terakhir ICU RSU Haji Surabaya

Jenis Lama
No Nama Kelamin Umur Diagnosis perawatan Albumin Derajat Ventilator
Ny. 52
1 MST Perempuan tahun Ca. Ovarium 1 hari 3 Sedang Ventilator
Ny. 74
2 SMM Perempuan tahun DM + ALO 2 hari 2.8 Sedang Ventilator
Tn. 68 IMA +
3 MH Laki-Laki tahun CVA Infark 1 hari 3.6 Ringan Ventilator
Ny. 19 Post SC et causa
4 SUS Perempuan tahun PEB + KPP 16 hari 2.8 Sedang Ventilator
DM +
Ny. 65 Asidosis Metabolik
5 NGT Perempuan tahun berat 4 hari 3.1 Sedang Ventilator
Ny. 62 SDH + SAH post
6 SUM Perempuan tahun trepanasi 4 hari 3.6 Ringan Ventilator
Tn. 61 ALO + DM + Gagal Tidak
7 SLS Laki-Laki tahun Nafas 3 hari 3.8 Ringan Ventilator
An. 31 Sepsis + Kejang Tidak
8 RFN Perempuan tahun Demam + Dehidrasi 2 hari 2.8 Sedang Ventilator
Ny. 76 Tidak
9 SYU Perempuan tahun Vertigo + SAH 1 hari 3.8 Ringan Ventilator
Ny. 53 Penurunan Tidak
10 KRM Perempuan tahun Kesadaran + CKD 4 hari 3.1 Sedang Ventilator
Tn. 50 CKD+post cardiac Tidak
11 EKS Laki-laki tahun arrest 3 hari 3 Sedang Ventilator
Tn. 60 Tidak
12 AGP Laki-laki tahun CKD+anemia 3 hari 2.3 Berat Ventilator
Ny. 51
13 JIT Perempuan tahun ICH+IVH 3 hari 3.5 Sedang Ventilator
Ny. 62 Tidak
14 SBY Perempuan tahun DM+Sepsis 24 hari 2.2 Berat Ventilator
Tn. 29
15 OB Laki-laki tahun Hipokalemia 10 hari 3 Sedang Ventilator

14
Ny. 64 sepsis+ALO+Gagal
16 NSL Perempuan tahun nafas 8 hari 2.6 Sedang Ventilator
Tn. 60
17 DRO Laki-laki tahun KLL+COB 21 hari 3.4 Sedang Ventilator
Tn. 59 Tidak
18 TMW Laki-laki tahun Shock septic 5 hari 3 Sedang Ventilator
Tn. 53
19 MTT Laki-laki tahun Peritonitis 2 hari 2.7 Sedang Ventilator
Ny. 67 Tidak
20 TSN Perempuan tahun Sirosis hepatis 5 hari 3 Sedang Ventilator
47 Tidak
21 Tn. DT Laki-laki tahun Intoksikasi alcohol 8 hari 3.5 Sedang Ventilator
Tn. 57 Tidak
22 MSL Laki-laki tahun CKD+CVA infark 12 hari 3.1 Sedang Ventilator
Tn. 82
23 MTH Laki-laki tahun Post laparotomy 24 hari 2.3 Berat Ventilator
Tn. 77 Tidak
24 MMU Laki-laki tahun Shock septic 4 hari 3.2 Sedang Ventilator
Ny. 21
25 SEK Perempuan tahun Shock Septic 7 hari 2.8 Sedang Ventilator

Berdasarkan data didapatkan pada semua kasus pasien ICU RSU Haji Surabaya yang
mampu bertahan dan melwati masa kritis menderita hipoalbumin dengan derajat yang
bervariasi pula. Penderita hipoalbumin terbanyak adalah derajat sedang didapatkan 17 kasus
yakni sebesar 68%, diikuti dengan hipoalbumin derajat ringan sejumlah 8 kasus yakni sebesar
32%, dan tidak terdapat penderita hipoalbumin berat. Hal ini disampaikan pada tabel 5.2.

Tabel 5.2 Data 25 kasus pasien hidup ICU RSU Haji Surabaya

Jenis Diagnosis Lama


No Nama Kelamin Umur perawatan Albmin Derajat Ventilator
Perempua 3 Pneumonia+sepsi
1 An. A n bulan s 3 hari 3.3 Sedang Ventilator
Perempua 93 Tidak
2 Ny. S n tahun DM+KAD+sepsis 3 hari 3.8 Ringan Ventilator
Nn. Perempua 16 Tidak
3 RK n tahun ICH+IVH 12 hari 3.6 Ringan Ventilator
47 Pneumonia+vomi Tidak
4 Tn. S Laki-laki tahun ting 10 hari 3.9 Ringan Ventilator
Ny. Perempua 60 Tidak
5 SF n tahun Hipokalemia 8 hari 3.5 Sedang Ventilator
Perempua 34 ICH+IVH+hipoka Tidak
6 Ny. IE n tahun lemia 8 hari 2.6 Sedang Ventilator
67 CKD+CVA Tidak
7 Tn. M Laki-laki tahun infark 5 hari 2.7 Sedang Ventilator
Perempua 38 Tidak
8 Ny. W n tahun KAD 11 hari 3.1 Sedang Ventilator
Ny. Perempua 38 Tidak
9 SW n tahun Post Trepanasi 11 hari 3.9 Ringan Ventilator

15
Tn. 76 Tidak
10 LS Laki-laki tahun PJK+AV Stabil 8 hari 3.1 Sedang Ventilator
63 Efusi Tidak
11 Tn. M Laki-laki tahun pleura+PPOK 3 hari 2.6 Sedang Ventilator
Tn. 62 Ensefalopati Tidak
12 HB Laki-laki tahun hepatikum 10 hari 2.9 Sedang Ventilator
Perempua 25 Hiponatremia+hip Tidak
13 Nn. M n tahun okalemia 3 hari 3.8 Ringan Ventilator
Perempua 84 OMI+dyspepsia+ Tidak
14 Ny. A n tahun sepsis 4 hari 3.4 Sedang Ventilator
Ny. Perempua 49 Pneumonia+sepsi Tidak
15 ST n tahun s 15 hari 3.6 Sedang Ventilator
Ny. Perempua 56 Tidak
16 NT n tahun DM+KAD+sepsis 11 hari 3.6 Sedang Ventilator
63 Tidak
17 Tn. M Laki-Laki tahun ICH+IVH 14 hari 2.8 Sedang Ventilator
Ny.R Perempua 38 Pneumonia+vomi Tidak
18 Y n tahun ting 8 hari 3.3 Sedang Ventilator
Perempua 54 Tidak
19 Ny.Sy n tahun Hipokalemia 8 hari 3.3 Sedang Ventilator
57 ICH+IVH+hipoka Tidak
20 Tn. Sn Laki-Laki tahun lemia 14 hari 3.6 Ringan Ventilator
Ny. Perempua 32 CKD+CVA Tidak
21 Sutri n tahun infark 5 hari 3.1 Sedang Ventilator
Ny. Perempua 35 Tidak
22 FA n tahun KAD 3 hari 2.9 Sedang Ventilator
Tn. 24 Tidak
23 MR Laki-Laki tahun Post Trepanasi 4 hari 3.7 Ringan Ventilator
Tn. 59 Tidak
24 MTC Laki-laki tahun PJK+AV Stabil 6 hari 3.8 Ringan Ventilator
Ny. Perempua 49 Tidak
25 GH n tahun Efusi pleura 8 hari 3.1 Sedang Ventilator

Berdasarkan kedua data tersebut, yakni 25 kematian terakhir dan 25 pasien yang
berhasil melewati masa kritis didapatkan keduanya mengalami hipoalbuminemia dengan
derajat yang bervariasi. Hal ini berkaitan dengan pengaruh albumin terhadap fungsi vital tubuh.

Menurut Kim (2016), fungsi albumin dalam sirkulasi darah pada pasien kritis belum
sepenuhnya dipahami karena fungsi tersebut secara signifikan berbeda pada orang yang sehat.
Rendahnya serum albumin pada pasien kritis berhubungan dengan outcome yang buruk
terhadap pasien. Penggunaan albumin eksogen sebagai pengganti untuk koreksi albumin tidak
berdampak apapun terhadap outcome pasien.

Sebuah meta-analisis dalam Kim (2016) menemukan bahwa setiap penurunan serum
albumin 1,0g/dl meningkatkan mortalitas sebesar 137% dan morbiditas meningkat 89%. Studi
lain menunjukan konsentrasi albumin serum kurang dari 3,4 gr/dl berhubungan dengan angka

16
kematian 30 hari sebesar 24,6% yang meningkat sampai 62% jika konsentrasi serum albumin
kecil dari 2.0 gr/dl.

Tabel 5.3 Presentasi dan jumlah yang menderita albumin yang meninggal

Ringan Sedang Berat


Presentasi 14% 72% 12%
Jumlah 4 18 3

Tabel 5.4 Presentasi dan jumlah yang menderita albumin yang dapat melewati masa
kritisnya

Ringan Sedang Berat


Presentasi 32% 68% 0%
Jumlah 8 17 0

Kajian pustaka tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini, yakni pada hipoalbuminemia
derajat berat, tidak didapatkan pasien yang bertahan melewati masa kritis. Sedangkan pada
pasien hipoalbumin derajat sedang, yaitu pada rentang kadar albumin 2.5-3.5 didapatkan
presentase kematian tertinggi namun juga menempati presentase tertinggi pada pasien yang
berhasil bertahan melalui masa kritis. Hal ini juga sesuai hasil studi yakni penurunan
konsentrasi albumin serum kurang dari 3,4 gr/dl berhubungan dengan angka kematian 30 hari
sebesar 24,6%. Terdapat peningkatan peningkatan angka kematian pasien yang cukup besar
sebesar 24,6%, dan semakin meningkat menjadi 62% bisa kadarnya kurang dari 2.0.
Menempati posisi dibawah hipoalbuminemia sedang yaitu klasifikasi hipoalbuminemia ringan,
maka semakin rendah pula angka kematiannya.

17
BAB 6

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai

berikut:

1. Terdapat Hubungan antara kadar albumin yang bervariasi dengan kematian 25 pasien di

ICU RSU HAJI.

2. Semakin rendah kadar albumin , maka semakin meningkatkan angka kematian yang

disebabkan oleh hipoalbumin.

6.2 Saran

1. Perawat Pelaksana Lapangan

Sebaiknya perawat pelaksana lapangan waspada dengan pasien beresiko hipoalbumin

(dilihat dari faktor-faktor yang berhubungan) dengan melakukan pemeriksaan

laboratorium kadar albumin pada pasien sebelum dan sesudah operasi

2. Peneliti Selanjutnya

Sebaiknya peneliti dapat meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan Hipoalbumin

sebelum operasi untuk menngurangi angka kematian yang disebabkan oleh redahnya

kadar albumin.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Murray, R. K, Granner, D. K, & Rodwell, V. W, 2014. Biokimia Harper. Edisi 29.

Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

2. Guyton A.C, dan Hall, J.E. 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12.

Penterjemah: Ermita I, Ibrahim I. Singapura: Elsevier Dsvd

3. Paar, Margareth. 2017. Anticoagulant action of low, physiologic, and high albumin

levels in whole blood. PloS ONE, 12(8):e0182997. Diakses 20 Juli 2018.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5553770/pdf/pone.0182997.pdf

4. Sosialine E, 2011. Pedoman Interpretasi Data Klinik, Kementrian Kesehatan Republik

Indonesia. Hal. 58.

5. Peralta E, 2018. Hypoalbunimeia. Drug & Disease : Endocrinology, Medscape.

Diakses 19 Juli 2018. https://emedicine.medscape.com/article/166724-overview#a7

6. Throop, Kerl, Chorn, 2004. Albumin in Health and Disease: Causes and Treatment of

Hypoalbuminemia. Compendium.

19