Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN KASUS

“LELAKI 69 TAHUN DATANG DENGAN KELUHAN TIDAK BISA BUANG


AIR KECIL”

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


Komprehensif

Diajukan Kepada :
Pembimbing : dr. Septina Esti Ayu P

Disusun Oleh :
Durotul Farida (H2A012036)

KEPANITERAAN KLINIK KOMPREHENSIF


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
RS PKU MUHAMMADIYAH MAYONG
2018

1
LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN

KOMPREHENSIF

Laporan Kasus

“Laki-laki usia 69 tahun datang dengan keluhan tidak bisa buang air kecil”

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

Komprehensif

RS PKU MUHAMMADIYAH MAYONG

Disusun Oleh:

Durotul Farida
H2A012036

Telah disetujui oleh Pembimbing:


Tanggal : ...........................................

Pembimbing Klinik

Komprehensif

dr. Septina Esti Ayu P

2
BAB I

PENDAHULUAN

Benign Prostat Hiperplasia (BPH) atau dalam bahasa umumnya dinyatakan


sebagai pembesaran prostat jinak (PPJ), merupakan suatu penyakit yang biasa terjadi.
Ini dilihat dari frekuensi terjadinya BPH di dunia, di Amerika secara umum dan di
Indonesia secara khususnya. Di dunia, diperkirakan bilangan penderita BPH adalah
sebanyak 30 juta, bilangan ini hanya pada kaum pria karena wanita tidak
mempunyai kalenjar prostat, maka oleh sebab itu, BPH terjadi hanya pada kaum pria
(emedicine, 2009). Jika dilihat secara epidemiologinya, di dunia, dan kita jaraskan
menurut usia, maka dapat dilihat kadar insidensi BPH, pada usia 40-an, kemungkinan
seseorang itu menderita penyakit ini adalah sebesar 40%, dan setelah meningkatnya
usia, yakni dalam rentang usia 60 hingga 70 tahun, persentasenya meningkat menjadi
50% dan diatas 70 tahun, persentasenya mencapai hingga 90% (A.K. Abbas, 2005).
Di indonesia, penyakit pembesaran prostat jinak menjadi urutan kedua setelah
penyakit batu saluran kemih, dan jika dilihat secara umumnya, diperkirakan hampir 50
persen pria Indonesia yang berusia di atas 50 tahun, dengan kini usia harapan hidup
mencapai 65 tahun ditemukan menderita penyakit PPJ atau BPH ini. Kanker prostat,
juga merupakan salah satu penyakit prostat yang lazim berlaku dan lebih ganas
berbanding BPH yang hanya melibatkan pembesaran jinak daripada prostat. Seperti
juga BPH, kanker prostat juga menyerang pria berusia lebih dari 50 dan pada usia di
bawah itu bukan merupakan suatu yang abnormal. Secara khususnya di Indonesia,
menurut (WHO,2008), untuk tahun 2005, insidensi terjadinya kanker prostat adalah
sebesar 12 orang setiap 100,000 orang, yakni yang keempat setelah kanker saluran
napas atas, saluran pencernaan dan hati. Istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat oleh
karena sebenarnya yang terjadi ialah hiperplasia dari kelenjar periuretral yang
kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer.1 Berdasarkan data yang ada,
sedikitnya gejala yang timbul pada BPH berhubungan dengan umur, pada umur 55

3
tahun 25% gejala berkaitan dengan obtruksi yaitu susah untuk buang air kecil. Pada
umur 75 tahun, 50% laki- laki mengeluh kekuatan dan pancaran urine berkurang.

4
BAB II

STATUS PASIEN

Identitas Pasien
Nama : Tn. T
Umur : 69 tahun
Jenis Kelamin : Laki Laki
Alamat : Rejosari 1 / 4 mijen Demak
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Tanggal Masuk : 20 Juni 2018

Anamnesis
Dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 21 Juni 2018
a. Keluhan Utama : tidak bisa buang air kecil
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
± 1 tahun SMRS pasien mengeluh susah buang air kecil (BAK), pasien
mengatakan saat BAK ada rasa tidak tuntas. Terkadang pasien harus mengejan
terlebih dahulu agar bisa buang air kecil. Pasien mengatakan pancaran urin masih
normal, tidak ada urin yang menetes diakhir BAK.
± 1 bulan SMRS keluhan yang dirasakan pasien semakin dirasakan. pasien juga
mengeluh terkadang terbangun pada malam hari untuk BAK, BAK campur darah
1x, Tiap kali ingin BAK harus mengejan terlebih dahulu, pancaran urin tidak kuat,
ada perasaan tidak puas saat BAK, volume urin yang keluar sedikit-sedikit namun
sering. Pasien juga mengeluh adanya tetesan tetesan urin diakhir BAK.
± 1 minggu SMRS keluhan yang dirasakan pasien semakin dirasakan. Pasien
merasa tidak dapat BAK sama sekali, dan perut terasa tidak nyaman, kemudian

5
pasien memutuskan untuk periksa ke puskesmas terdekat, oleh puskesmas pasien
disarankan untuk memasang selang urin.
Saat ini, pasien masih terpasang selang urin, pasien datang ke IGD dengan
maksut memeriksakan diri dan mengganti selang urin, urin berwarna kemerahan,
demam (-), nyeri saat BAK (-),Pasien mengatakan tidak pernah merasakan adanya
sensasi pasir yang keluar saat BAK, nyeri pada perut bawah (-), nyeri pada
pinggang (-)
c. Riwayat Penyakit dahulu
- Riwayat sakit serupa : disangkal
- Riwayat penyakit batu : disangkal
- Riwayat keganasan : disangkal
- Riwayat operasi : disangkal
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat darah tinggi : disangkal
- Riwayat alergi obat : disangkal
d. Riwayat penyakit keluarga
- Riwayat sakit serupa : disangkal
- Riwayat penyakit batu : disangkal
- Riwayat keganasan : disangkal
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat darah tinggi : disangkal
e. Riwayat sosioekonomi
Pasien adalah seorang petani. Pasien jarang berolahraga. Dalam sehari psaien
dapat menghabiskan setengahn bungkus rokok. Pasien tidak meminum minum
alkohol dan minum kopi. Pasien berobat menggunakan BPJS.
Kesan : sosial ekonomi cukup.

6
Pemeriksaan Fisik
(di bangsal tanggal 21 Juni 2018)
 Keadaan Umum : baik
 Kesadaran : compos mentis
 Tekanan Darah : 120/80 mmHg
 Nadi : 84x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
 Temperatur : 36,9 0C
 Pernapasan : 20x/menit, teratur

Status Generalis
 Kulit : ikterik (-), sianosis (-),
 Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-
 Mulut : Bibir sianosis (-), Bibir kering (-), Lidah kotor (-)
 Hidung : Nafas cuping hidung (-/-), Sekret (-/-)
 Telinga : Serumen (-/-), Nyeri tarik aurikula (-/-),Nyeri tekan tragus
(-/-) Nyeri tekan mastoid (-/-)
 Leher : Deviasi trakhea (-), Pembesaran kelenjar limfe (-/-),
Retraksi otot bantu nafas (-), Pembesaran kelenjar tiroid (-)
 Thorax
Paru
Dextra Sinistra
Depan
1. Inspeksi
Bentuk dada dalam batas normal dalam batas normal
Hemitorak Simetris Simetris

2. Palpasi Dextra = sinistra Dextra = sinistra


Stem fremitus (-) (-)

7
Nyeritekan (-) (-)
Pelebaran ICS Sonor diseluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru
3. Perkusi

4. Auskultasi Vesikuler Vesikuler


Suara dasar Wheezing (-), rhonki (-) Wheezing (-), rhonki (-)
Suara tambahan
Belakang
1. Inspeksi
Bentuk dada Dalam batas normal Dalam batas normal
Hemitorak Simetris Simetris
2. Palpasi
Stem fremitus Dextra = sinistra Dextra = sinistra
Nyeritekan (-) (-)
Pelebaran ICS (-) (-)
3. Perkusi Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru
4. Auskultasi
Suara dasar Vesikuler Vesikuler
Suara tambahan Wheezing (-), rhonki (-) Wheezing (-), rhonki (-)

Tampak anterior paru Tampak posterior paru

Kesan : Paru dalam batas normal

8
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis kuat angkat (+), thrill (-), pulsus epigastrium (-),
pulsus parasternal (-), sternal lift (-)
Perkusi :
 Batas atas : ICS II lin.parasternal sinistra
 Pinggang jantung : ICS III parasternal sinsitra
 Batas kanan bawah : ICS V lin.sternalis dextra
 Kiri bawah : ICS V 1-2 cm kearah medial midclavikulasinistra
Konfigurasi jantung (dalam batas normal)
Auskultasi : reguler
Suara jantung murni: SI,SII (normal) reguler.
Suara jantung tambahan gallop (-), murmur (-) SIII (-), SIV (-
)
Kesan : Jantung dalam batas normal
 Abdomen
Inspeksi : Permukaan datar, warna sama seperti kulit di sekitar,
ikterik (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : timpani seluruh regio abdomen
Tidak terdapat nyeri ketok ginjal dextra/sinistra
Palpasi : nyeri tekan epigastrum (-),
Nyeri tekan suprapubis (-)
Hepar,lien dan ginjal tidak teraba
Kesan : Abdomen dalam batas normal

9
 Ekstremitas :
Superior Inferior
Akraldingin -/- -/-
Oedem -/- -/-
Sianosis -/- -/-
Capilary refill <2’ <2’

Status Lokalis (Pemeriksaan Colok Dubur)


Inspeksi :Anoperianal : Benjolan (-)
Jaringan parut(-)
Warna sesuai kulit sekitar
Fistel (-)
Anus hiperemis (-)
Perdarahan (-)
Palpasi : nyeri tekan (-)
Benjolan (-)
Tonus sfingter ani (cukup)
Mukosa dinding rectum (licin), nyeri tekan (-), benjolan pada jam 7 dan
11 (-)
Prostat : permukaan (rata, licin), konsistensi (kenyal), diameter latero-
lateral (±4 cm), sulcus medianus (mendatar), nodul (-), nyeri tekan (-),
polus anterior (tidak teraba)
BCR (+)
Handscoon : feses (-), darah (-), lendir (-)

10
SKOR IPSS : jumlah skor 19 (sedang)

Gejala Tidak Kurang Kurang dari Kira kira Lebih dari 1/2 Hampir selalu
pernah dari ½ 1/2
1 x setiap 5
x

Selama satu bulan


yang lalu

1. Merasa ada sisa 0 1 2 3 4 5

2. Sering kencing 0 1 2 3 4 5

3. Kencing selesai 0 1 2 3 4 5
 keluar lagi

4. Sukar kencing 0 1 2 3 4 5

5. Pancaran lemah 0 1 2 3 4 5

6. Mengejan utk 0 1 2 3 4 5
mulai kencing

7. Kencing malam 0 1 2 3 4 5
hari

Kualitas hidup Senang Puas Umumnya Campuran Umumnya tak Sangat terganggu
puas puas

Hidup no kondisi 0 1 2 3 4 5
ini, bagaimana
perasaan anda
Diagnosis Sementara
Benign Prostat Hyperplasi
Hasil pemeriksaan
Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
Darah rutin :
Leukosit 12.500 103/ul 4,5-13
Eritrosit 39,20 106/ul 3,8-5,2

11
Hemoglobin 12,90 g/dl 11,2-15,5
Hematokrit 37,90 % 35-47
MCV 80,50 Fl 80-100
MCH 25,9 Pg 26-34
MCHC 36,00 g/dl 32-36
Trombosit 229 103/ul 150-440
Diff count :
Eosinofil 0,10 103/ul 0,045-0,44
Basofil 0,02 103/ul 0-0,2
Netrofil 5,19 103/ul 1,8-8
Limfosit 2,37 103/ul 0,9-5,2
Monosit 0,72 103/ul 0,16-1
Kimia klinik :
Glukosa sewaktu 93 Mg/dl < 125
Ureum 25,76 Mg/dL 10,0-50,0
Creatinin 1.1 Mg/dL 0,60-1,10
Kalium 3,8 Mmol/L 3,5-5,0
Natrium 137 Mmol/L 135-145
Chlorida 102 Mmol/L

12
Radiologi (USG)

Kesan : pembesaran kelenjar prostat

Resume
± 1 tahun SMRS pasien mengeluh susah buang air kecil (BAK), pasien
mengatakan saat BAK ada rasa tidak tuntas. Terkadang pasien harus mengejan
terlebih dahulu agar bisa buang air kecil. Pasien mengatakan pancaran urin masih
normal, tidak ada urin yang menetes diakhir BAK.
± 1 bulan SMRS keluhan yang dirasakan pasien semakin dirasakan. pasien juga
mengeluh terkadang terbangun pada malam hari untuk BAK, BAK campur darah
1x, Tiap kali ingin BAK harus mengejan terlebih dahulu, pancaran urin tidak kuat,

13
ada perasaan tidak puas saat BAK, volume urin yang keluar sedikit-sedikit namun
sering. Pasien juga mengeluh adanya tetesan tetesan urin diakhir BAK.
± 1 minggu SMRS keluhan yang dirasakan pasien semakin dirasakan. Pasien
merasa tidak dapat BAK sama sekali, dan perut terasa tidak nyaman, kemudian
pasien memutuskan untuk periksa ke puskesmas terdekat, oleh puskesmas pasien
disarankan untuk memasang selang urin.
Saat ini, pasien masih terpasang selang urin, pasien datang ke IGD dengan
maksut memeriksakan diri dan mengganti selang urin, urin berwarna kemerahan,
demam (-), nyeri saat BAK (-),Pasien mengatakan tidak pernah merasakan adanya
sensasi pasir yang keluar saat BAK, nyeri pada perut bawah (-), nyeri pada
pinggang (-)
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, tekanan darah 120/80
mmHg, RR 20 x/ menit, HR 84 x/ menit regular, tegangan dan isi cukup dan
temperature badan 36,90C (aksiler). Pada pemeriksaan tidak didapatkan nyeri
ketok ginjal dan simpisis. Pada pemeriksaan colok dubur didapatkan pembesaran
asimetris prostat, permukaan licin, konsistensi kenyal diameter latero-lateral (±4
cm), sulcus medianus (mendatar), nodul (-), nyeri tekan (-), polus anterior (tidak
teraba) BCR (+)

Assesment Dan Initial Plan


BPH (Benign Prostat Hyperplasi)

Masalah aktif Masalah pasif


 Tidak bisa buang air kecil

14
Assesment
Diagnosis banding :
 Karsinoma prostat
Diagnosis kerja: BPH

Initial plan
1. Inisial Plan Diagnostik : BPH
Pemeriksaan Penunjang : pemeriksaan darah lengkap dan USG transabdomen
 Usulan : pemeriksaan sedimen urin, pemeriksaan PSA (Prostat Spesific
Agent), pemeriksaan uroflowmetry
2. Inisial Plan Terapi :
a. Terapi cairan : infus RL 20 tpm
b. Pemasangan kateter
c. Injeksi asam tranexamat 2 x 1 ampul
d. Injeksi Ceftriaxon 2 x 1 ampul
e. Injeksi Ranitidin 2 x 1 ampul
f. Operasi
3. Inisial Plan Monitoring
a. Monitoring jumlah dan warna urin
b. Komplikasi

VIII. PROGNOSIS
 Quo ad vitam : dubia ad bonam
 Quo ad sanam : dubia ad bonam
 Quo ad Fungsionam : dubia ad malam

15
- Pasien di operasi pada tanggal 23-6-2018

16
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Benigna prostat hiperplasia adalah pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat
yang tidak ganas. Pembesaran prostat jinak akibat sel-sel prostat memperbanyak
diri melebihi kondisi normal, yang biasanya dialami laki-laki berusia diatas 50
tahun (Lee, 2006). Istilah Benigna Prostat Hipertropi sebenarnya tidaklah tepat
karena kelenjar prostat tidaklah membesar atau hipertropi prostat, tetapi kelenjar-
kelenjar periuretralah yang mengalami hyperplasia (sel-selnya bertambah banyak.
Kelenjar-kelenjar prostat sendiri akan terdesak menjadi gepeng dan disebut kapsul
surgical. Maka dalam literatur di benigna hiperplasia of prostat gland atau adenoma
prostat, tetapi hipertropi prostat sudah umum dipakai.

Gambar 1. Normal Prostat dan Prostat yang membesar

2. Anatomi Prostat
Prostat merupakan organ kelenjar dari sistem reproduksi pria. Merupakan
kelenjar yang terdiri atas jaringan kelenjar dinding uretra yang mulai menonjol
pada amsa pubertas. Secara anatomi, prostat berhubungan erat dengan vesica

17
urinaria, uretra, ureter, vas deferens dan vesica seminalis. Prostat terletak di atas
diafragma panggul dan dapat diraba pada pemeriksaan colok dubur.

Ukuran prostat normal adalah tinggi 3 cm yang merupakan diameter


vertikal, lebar 4 cm pada dasar transversal dan lebar anteroposterior 2,5 cm, dan
dilewati oleh urethra pars prostatica.

STRUKTUR DAN ZONA ANATOMI

Prostat terdiri atas kelenjar (50%) dan jaringan ikat fibromuscular (25%
myofibril otot polos dan 25% jaringan ikat). Jaringan fibromuscular ini tertanam
mengelilingi prostat dan berkontrasi selama proses ejakulasi untuk mengeluarkan
sekresi prostat ke dalam urethra. Kelenjar prostat adalah modifikasi bagian
dinding urethra.

18
Ujung urethra terproyeksi ke bagian dalam garis tengah posterior,
berjalan sepanjang urethra prostatika dan berakhir spinkter striata. Pada bagian
ujung yang lain, sebuah celah terbentuk (sinus prostaticus), dimana seluruh
kelenjar mengalir kesitu (Mc. Neal, 1972). Pada bagian pertengahan, urethra
melengkung kira-kira 35o kearah anterior (lengkungan ini dapat bervariasi antara
0 – 90o). Sudut yang terbentuk dari lengkungan ini membagi urethra prostatika
secara anatomi dan fungsional menjadi bagian proksimal (preprostat) dan distal
(prostat) (Mc. Neal 1977, 1988). Pada bagian proximal, otot polos sirkuler
menebal untuk membentuk spinkter urethra internum.

Pada lengkungan urethra, seluruh bagian utama kelenjar prostat terbuka


sampai ke urethra prostatika. Ujung urethra melebar dan menonjol dari dinding
posterior disebut verumontanum. Celah orificium kecil dari utrikulum prostat
ditemukan pada bagian apex dari verumontanum dan terlihat melelui sistoskopi.
Utrikulum panjangnya 6 mm sisa mullerian terbentuk dari kantong kecil yang
terproyeksi ke atas dan bawah prostat.

Pada pria dengan kelamin ganda, bisa terbentuk suatu divertikulum


panjang yang menonjol pada bagian posterior prostat. Pada bagian lain dari
orificium utrikula, 2 pembukaan kecil pada duktus ejakulatorius bisa terlihat.
Duktus ejakulatorius terbentuk dari persambungan vas deferens dengan vesikula
seminalis dan masuk ke basis prostat yang bergabung dengan vesica urinaria.
Secara umum kelenjar prostat berbentuk tubuloalveolar dengan sedikit
percabangan dan sejajar dengan epitel kuboid atau kolumner. Penyebaran sel
neuroendokrin, yang fungsinya tidak diketahui, ditemukan diantara sel
sekretorius.
Dibawah sel epitel, sel basal terletak sejajar setiap asinus dan akan
menjadi stem sel untuk epitel sekretorius. Setiap asinus terlindungi oleh otot polos
yang tipis dan jaringan ikat.

19
Jaringan kelenjar membentuk tiga buah gugusan konsentris, dibedakan
oleh lokasi duktus masing-masing ke dalam urethra, perbedaan lesi patologinya
dan pada beberapa kasus berdasarkan embryologinya, yaitu :
a. Zona Anterior atau Ventral
Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma
fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.

b. Zona Perifer (Glandula prostatica propria)


sentral jarang terkena penyakit, hanya 1 – 5% adenokarsinoma yang timbul
pada lokasi ini sekalipun terinfiltrasi oleh sel kanker dari zone yang
berdekatan.

c. Zona Transisional.

Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra disebut juga sebagai


kelenjar preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang
lebih 5% tetapi dapat melebar bersama jaringan stroma fibromuskular
anterior menjadi benign prostatic hyperpiasia (BPH). Benign Prostat
Hypertrophy (BPH) umumnya muncul dari zone ini. BPH awalnya
merupakan mikronodul kemudian berkembang membentuk makronodul
disekitar tepi inferior dari urethra preprostatik tepat diatas verumontanum.
Makronodul ini selanjutnya menekan jaringan normal sekitarnya pada
posteroinferior zone perifer dengan membentuk kapsul palsu disekitar
jaringan hyperplasia. Perkembangan zone transisi ini menghasilkan
gambaran lobus pada sisi atas urethra, Lobus ini pada saatnya akan menekan
urethra pars prostatic dan preprostatik untuk menimbulkan gejala. Sekitar
20% dari adenocarsinoma terjadi pada zone ini.

20
d. Kelenjar-Kelenjar Periuretra

Bagian ini terdiri dan duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar abortif
tersebar sepanjang segmen uretra proksimal.Sesuai dengan lobus lateral dan
posterior, meliputi 70% massa kelenjar prostat. Sekitar 70% kanker prostat
timbul pada zone ini dan umumnya disebabkan oleh prostatitis kronik.

e. Zona Sentralis
Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulatorius, sesuai dengan lobus
tengah meliputi 25% massa glandular prostat. Zone ini mengandung 25%
dari volume prostat dan membentuk kerucut disekeliling duktus
ejakulatorius pada bagian dasar vesica urinaria. Zone ini memiliki
karakteristik secara struktural dan imunohistokimia yang berbeda dari
bagian prostat yang lain, dan diduga berasal dari sistem duktus Wolffian
(umumnya mirip dengan epididimis, vas deferens dan vesica seminalis)
dimana bagian prostat yang lain berasal dari sinus urogenital. Berdasarkan
hal tersebut zone

21
3. Fisiologi Prostat
Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur, sedangkan pada
orang dewasa sedikit teraba dan pada orang tua biasanya mudah teraba. Sedangkan
pada penampang tonjolan pada proses hiperplasi prostat, jaringan prostat masih
baik. Pertambahan unsur kelenjar menghasilkan warna kuning kemerahan,
konsisitensi lunak dan berbatas jelas dengan jaringan prostat yang terdesak
berwarna putih ke abu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan, keluar cairan
seperti susu. Apabila jaringan fibromuskuler yang bertambah tonjolan berwarna
abu-abu padat dan tidak mengeluarkan cairan sehingga batas tidak jelas. Tonjolan
ini dapat menekan uretra dari lateral sehingga lumen uretra menyerupai celah.
Terkadang juga penonjolan ini dapat menutupi lumen uretra, tetapi fibrosis
jaringan kelenjar yang berangsur-angsur mendesak prostat dan kontraksi dari
vesika yang dapat mengakibatkan peradangan(Brunner & Suddarth, 2001).

Sekret kelenjar prostat adalah cairan seperti susu yang bersama-sama


sekret dari vesikula seminalis merupakan komponen utama dari cairan semen.
Semen berisi sejumlah asam sitrat sehingga pH nya agak asam (6,5). Selain itu
dapat ditemukan enzim yang bekerja sebagai fibrinolisin yang kuat, fosfatase
asam, enzim-enzim lain dan lipid. Sekret prostat dikeluarkan selama ejakulasi
melalui kontraksi otot polos. kelenjar prostat juga menghasilkan cairan dan plasma
seminalis, dengan perbandingan cairan prostat 13-32% dan cairan vesikula
seminalis 46-80% pada waktu ejakulasi. Kelenjar prostat dibawah pengaruh
Androgen Bodies dan dapat dihentikan dengan pemberian Stilbestrol.3

4. Etiologi
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya
hiperplasia prostat; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia
prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT), proses
fisiologi, hormon dan proses aging (menjadi tua). Beberapa hipotesis yang diduga

22
sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat jinak adalah : (1) Teori
Dihidrotestosteron, (2) Adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron,
(3) Interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat, (4) Berkurangnya kematian
sel prostat/ apoptosis, (5) Teori Stem sel dan, (6) Teori Reawakening.5

Teori Dihidrotestosteron
Dihidrotestosteron atau DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting
pada pertumbuhan sel- sel kelenjar prostat. Dibentuk dari testosteron di dalam sel
prostat oleh enzim 5α-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. DHT yang
telah terbentuk berikatan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks
DHT-RA pada inti dan sel selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang
menstimulasi pertumbuhan sel prostat. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa
kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal,
hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5α-reduktase dan jumlah reseptor androgen
lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan pada BPH lebih sensitif terhadap
DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat
normal.5

Ketidakseimbangan antara Estrogen - Testosterone


Pada usia yang semakin tua, kadar testosterone menurun, sedangkan kadar
estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen : testosterone relatif
meningkat. Telah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam
terjadinya proliferasi sel- sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan
sensitifitas sel- sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen, meningkatkan
jumlah reseptor androgen, dan menurunkan jumlah kematian sel- sel prostat
(apoptosis). Hasil akhir dari semua keadaan ini adalah, meskipun rangsangan
terbentuknya sel- sel baru akibat rangsangan testosterone menurun, tetapi sel – sel
prostat yang telah ada mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa
prostat jadi lebih besar.5

23
Interaksi Stroma – Epitel (Teori Growth Factors)

Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel


prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator
(growth factor) tertentu. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di
bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth
factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya penurunan
ekspresi transforming growth factor-α (TGF-α), akan menyebabkan
terjadinyaketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan menghasilkan pembesaran
prostat.

Teori stem cell hypotesis


Isaac dan Coffey mengajukan teori ini berdasarkan asumsi bahwa pada kelenjar
prostat, selain ada hubungannya dengan stroma dan epitel, juga ada hubungan
antara jenis-jenis sel epitel yang ada di dalam jaringan prostat. Stem sel akan
berkembang menjadi sel aplifying, yang keduanya tidak tergantung pada
androgen. Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung
secara mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan
berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.

Teori Reawakening
Mc Neal tahun 1978 menulis bahwa lesi pertama bukan pembesaran stroma
pada kelenjar periuretral (zone transisi) melainkan suatu mekanisme “glandular
budding” kemudian bercabang yang menyebabkan timbulnya alveoli pada zona
preprostatik. Persamaan epiteleal budding dan “glandular morphogenesis” yang
terjadi pada embrio dengan perkembangan prostat ini, menimbulkan perkiraan
adanya “reawakening” yaitu jaringan kembali seperti perkembangan pada masa

24
tingkat embriologik, sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari
jaringan sekitarnya.

Berkurangnya kematian sel prostat (Apoptosis)


Apoptosis sel pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik homeostatis
kelenjar prostat. Pada jaringan nomal, terdapat keseimbangan antara laju
proliferasi sel dengan kematian sel. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang
apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan makin
meningkat sehingga mengakibatkan pertambahan massa prostat. Diduga hormon
androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel karena setelah
dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat.1

5. Faktor Presdiposisi
a. Kadar Hormon
Kadar hormon testosteron yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko
BPH. Testosteron akan diubah menjadi androgen yang lebih poten yaitu
dihydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5α-reductase, yang memegang peran
penting dalam proses pertumbuhan sel-sel prostat.10

b. Usia
Pada usia tua terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan pada buli (otot
detrusor) dan penurunan fungsi persarafan. Perubahan karena pengaruh usia tua
menurunkan kemampuan buli-buli dalam mempertahankan aliran urin pada
proses adaptasi oleh adanya obstruksi karena pembesaran prostat, sehingga
menimbulkan gejala.17 Testis menghasilkan beberapa hormon seks pria, yang
secara keseluruhan dinamakan androgen. Hormon tersebut mencakup
testosteron, dihidrotestosteron dan androstenesdion. Testosteron sebagian besar
dikonversikan oleh enzim 5-alfa-reduktase menjadi dihidrotestosteron yang
lebih aktif secara fisiologis di jaringan sasaran sebagai pengatur fungsi ereksi.

25
Tugas lain testosteron adalah pemacu libido, pertumbuhan otot dan mengatur
deposit kalsium di tulang. Sesuai dengan pertambahan usia, kadar testosteron
mulai menurun secara perlahan pada usia 30 tahun dan turun lebih cepat pada
usia 60 tahun keatas.18

c. Ras

Orang dari ras kulit hitam memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk terjadi BPH
dibanding ras lain. Orang-orang Asia memiliki insidensi BPH paling rendah.5
d. Riwayat keluarga

Riwayat keluarga pada penderita BPH dapat meningkatkan risiko terjadinya


kondisi yang sama pada anggota keluarga yang lain. Semakin banyak anggota
keluarga yang mengidap penyakit ini, semakin besar risiko anggota keluarga
yang lain untuk dapat terkena BPH. Bila satu anggota keluarga mengidap
penyakit ini, maka risiko meningkat 2 kali bagi yang lain. Bila 2 anggota
keluarga, maka risiko meningkat menjadi 2-5 kali. Dari penelitian terdahulu
didapatkan OR sebesar 4,2 (95%, CI 1,7-10,2).5
e. Obesitas

Obesitas akan membuat gangguan pada prostat dan kemampuan seksual, tipe
bentuk tubuh yang mengganggu prostat adalah tipe bentuk tubuh yang
membesar di bagian pinggang dengan perut buncit, seperti buah apel. Beban di
perut itulah yang menekan otot organ seksual, sehingga lama-lama organ
seksual kehilangan kelenturannya, selain itu deposit lemak berlebihan juga
akan mengganggu kinerja testis.6 Pada obesitas terjadi peningkatan kadar
estrogen yang berpengaruh terhadap pembentukan BPH melalui peningkatan
sensitisasi prostat terhadap androgen dan menghambat proses kematian sel-sel
kelenjar prostat. Pola obesitas pada laki-laki biasanya berupa penimbunan
lemak pada abdomen.

26
f. Pola Diet

Suatu studi menemukan adanya hubungan antara penurunan risiko BPH den
gan mengkonsumsi buah dan makanan mengandung kedelai yang kaya akan
isoflavon. Kedelai sebagai estrogen lemah mampu untuk memblokir reseptor
estrogen dalam prostat terhadap estrogen. Jika estrogen yang kuat ini sampai
menstimulasi reseptor dalam prostat, dapat menyebabkan BPH. Studi
demografik menunjukkan adanya insidensi yang lebih sedikit timbulnya
penyakit prostat ini pada laki-laki Jepang atau Asia yang banyak
mengkonsumsi makanan dari kedelai. Isoflavon kedelai yaitu genistein dan
daidzein, secara langsung mempengaruhi metabolisme testosteron. Risiko lebih
besar terjadinya BPH adalah mengkonsumsi margarin dan mentega, yang
termasuk makanan yang mengandung lemak jenuh. Konsumsi makanan yang
mengandung lemak jenuh yang tinggi (terutama lemak hewani), lemak
berlebihan dapat merusak keseimbangan hormon yang berujung pada berbagai
penyakit.
g. Aktivitas Seksual

Kelenjar prostat adalah organ yang bertanggung jawab untuk pembentukan


hormon laki-laki. BPH dihubungkan dengan kegiatan seks berlebihan dan
alasan kebersihan. Saat kegiatan seksual, kelenjar prostat mengalami
peningkatan tekanan darah sebelum terjadi ejakulasi. Jika suplai darah ke
prostat selalu tinggi, akan terjadi hambatan prostat yang mengakibatkan
kalenjar tersebut bengkak permanen. Seks yang tidak bersih akan
mengakibatkan infeksi prostat yang mengakibatkan BPH. Aktivitas seksual
yang tinggi juga berhubungan dengan meningkatnya kadar hormon
testosteron.18
h. Kebiasaan merokok

27
Nikotin dan konitin (produk pemecahan nikotin) pada rokok meningkatkan
aktifitas enzim perusak androgen, sehingga menyebabkan penurunan kadar
testosteron.6

i. Kebiasaan minum-minuman beralkohol

Konsumsi alkohol akan menghilangkan kandungan zink dan vitamin B6 yang


penting untuk prostat yang sehat. Zinc sangat penting untuk kelenjar prostat.
Prostat menggunakan zinc 10 kali lipat dibandingkan dengan organ yang lain.
Zinc membantu mengurangi kandungan prolaktin di dalam darah. Prolaktin
meningkatkan penukaran hormon testosteron kepada DHT.15
j. Olah raga

Para pria yang tetap aktif berolahraga secara teratur, berpeluang lebih sedikit
mengalami gangguan prostat, termasuk BPH. Dengan aktif olahraga, kadar
dihidrotestosteron dapat diturunkan sehingga dapat memperkecil risiko
gangguan prostat. Selain itu, olahraga akan mengontrol berat badan agar otot
lunak yang melingkari prostat tetap stabil. Olahraga yang dianjurkan adalah
jenis yang berdampak ringan dan dapat memperkuat otot sekitar pinggul dan
organ seksual.13
k. Penyakit Diabetes Mellitus

Laki-laki yang mempunyai kadar glukosa dalam darah > 110 mg/dL
mempunyai risiko tiga kali terjadinya BPH, sedangkan untuk laki-laki dengan
penyakit Diabetes Mellitus mempunyai risiko dua kali terjadinya BPH
dibandingkan dengan laki-laki dengan kondisi normal.13

28
6. Patofisiologi
Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk terjadinya
gejala yaitu komponen mekanik dan komponen dinamik. Komponen mekanik ini
berhubungan dengan adanya pembesaran kelenjar periuretra yang akan mendesak
uretra pars prostatika sehingga terjadi gangguan aliran urine (obstruksi infra
vesikal) sedangkan komponen dinamik meliputi tonus otot polos prostat dan
kapsulnya, yang merupakan alpha adrenergik reseptor. Stimulasi pada alpha
adrenergik reseptor akan menghasilkan kontraksi otot polos prostat ataupun
kenaikan tonus. Komponen dinamik ini tergantung dari stimulasi syaraf simpatis,
yang juga tergantung dari beratnya obstruksi oleh komponen mekanik.1

Berbagai keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan dan resistensi uretra.


Selanjutnya hal ini akan menyebabkan sumbatan aliran kemih. Untuk mengatasi
resistensi uretra yang meningkat, otot-otot detrusor akan berkontraksi untuk
mengeluarkan urine. Kontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan
anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya
selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase
kompensasi.1

Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada
saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang
dahulu dikenal dengan gejala-gejala prostatismus.1

Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam


fase dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga
terjadi retensi urin. Tekanan intravesikal yang semakin tinggi akan diteruskan ke
seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada
kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter
atau terjadi refluks vesico-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan

29
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam
gagal ginjal.1

Hiperplasia Prostat

Penyempitan lumen uretra posterior

Tekanan intravesika meningkat
↓ ↓

Buli-buli : Ginjal dan ureter :

 Hipertrofi otot detrusor Refluks VU


 Trabekulasi Hidroureter
 Selula Hidronefrosis
 Divertikel buli-buli Gagal ginjal

Dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos
keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila
kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan
detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi
lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk
kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan
disfungsi saluran kemih atas.

30
Gambar. Prostat yang mengalami pembesaran (nampak pada sistoskopi)

Gambar. Penyulit hyperplasia prostat pada saluran kemih

7. Manifestasi Klinis
a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah (LUTS)5

Terdiri atas gejala obstruksi dan iritasi :

Obstruksi Iritasi

 Hesistansi  Frekuensi

 Pancaran miksi lemah  Nokturi

 Intermitensi  Urgensi

 Miksi tidak puas  Disuria

 Distensi abdomen Urgensi dan disuria jarang terjadi,


jika ada disebabkan oleh
 Terminal dribbling (menetes) ketidakstabilan detrusor sehingga
terjadi kontraksi involunter.
 Volume urine menurun

 Mengejan saat berkemih

31
Tabel 1. Gejala Obstruksi dan Iritasi Benigna Prostat Hiperplasia

Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih


tergantung tiga faktor, yaitu:

 Volume kelenjar periuretral

 Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat

 Kekuatan kontraksi otot detrusor

Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot buli-buli


untuk mengeluarkan urine. Pada suatu saat, otot buli-buli mengalami kepayahan
(fatigue) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam
bentuk retensi urin akut. Timbulnya dekompensasi buli-buli ini didahului oleh
factor pencetus antara lain :

1) Volume buli-buli tiba-tiba penuh (cuaca dingin, konsumsi obat-obatan


yang mengandung diuretikum, minum tertalu banyak)

2) Massa prostat tiba-tiba membesar (setelah melakukan aktivitas seksual/


infeksi prostat)

3) Setelah mengkonsumsi obat-obat yang dapat menurunkan kontraksi otot


detrusor (golongan antikolinergik atau adrenergic-α)

Untuk menentukan derajat beratnya penyakit yang berhubungan dengan


penentuan jenis pengobatan BPH dan untuk menilai keberhasilan pengobatan
BPH, dibuatlah suatu skoring yang valid dan reliable. Terdapat beberapa sistem
skoring, di antaranya skor International Prostate Skoring System (IPSS) yang
diambil berdasarkan skor American Urological Association (AUA).

32
b. Gejala pada saluran kemih bagian atas5

Merupakan penyulit dari hiperplasi prostat, berupa gejala obstruksi antara lain
nyeri pinggang, benjolan di pinggang (hidronefrosis), demam (infeksi/
urosepsis).

c. Gejala di luar saluran kemih

Keluhan pada penyakit hernia/ hemoroid sering mengikuti penyakit hipertropi


prostat. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat
miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal
(Sjamsuhidayat, 2004).

33
Gejala generalisata juga mungkin tampak, termasuk keletihan, anoreksia, mual
dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik (Brunner & Suddarth,
2001).

Secara klinik derajat berat, dibagi menjadi 4 gradiasi, yaitu:

 Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada DRE (colok


dubur) ditemukan penonjolan prostat dan sisa urine kurang dari 50 ml.

 Derajat 2 : Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih
menonjol, batas atas masih teraba dan sisa urine lebih dari 50 ml tetapi
kurang dari 100 ml.

 Derajat 3 : Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan
sisa urin lebih dari 100 ml.

 Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi total.

8. Pemeriksaan Fisik
Buli-buli yang terisi penuh dan teraba massa kistus di daerah supra simfisis akibat
retensi urine. Kadang-kadang didapatkan urine yang selalu menetes yang
merupakan pertanda dari inkontinensia paradoksa.

1) Pemeriksaan colok dubur / digital rectal examination ( DRE )


Merupakan pemeriksaan yang sangat penting, DRE dapat
memberikangambaran tonus sfingter ani, mukosa rektum, adanya kelainan lain
sepertibenjolan di dalam rektum dan tentu saja meraba prostat. Pada perabaan
prostat harus diperhatikan :
 Konsistensi pada pembesaran prostat kenyal Adakah asimetri

 Adakah nodul pada prostat

34
 Apakah batas atas dapat diraba dan apabila batas atas masih dapat diraba
biasanya besar prostat diperkirakan <60 gr.

Gambar. Pemeriksaan Colok Dubur

Pada BPH akan ditemukan prostat yang lebih besar dari normal atau normal (
ingat tidak ada korelasi antara besar prostat dengan obstruksi yang
ditimbulkannya), permukaan licin dan konsistensi kenyal.12
Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian
atas kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pnielonefritis akan
disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba
apabila sudah terjadi retensi total, buli-buli penuh (ditemukan massa supra pubis)
yang nyeri dan pekak pada perkusi. Daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk
mengetahui adanya hernia. Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat
adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi
seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis,
condiloma di daerah meatus1

35
2) Derajat berat obstruksi
Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan jumlah sisa urin
setelah miksi spontan. Sisa urin ditentukan dengan mengukur urin yang masih
dapat keluar dengan kateterisasi. Sisa urin dapat pula diketahui dengan melakukan
ultrasonografi kandung kemih setelah miksi. Sisa urin lebih dari 100cc biasanya
dianggap sebagai batas untuk indikasi melakukan intervensi pada hipertrofi
prostat.Derajat berat obstruksi dapat pula diukur dengan mengukur pancaran urin
pada waktu miksi, yang disebut uroflowmetri. Angka normal pancaran kemih rata-
rata 10-12 ml/detik dan pancaran maksimal sampai sekitar 20 ml/detik. Pada
obstruksi ringan, pancaran menurun antara 6 – 8 ml/detik, sedangkan maksimal
pancaran menjadi 15 ml/detik atau kurang.

9. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
 Sedimen urin

Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi, hematuri atau inflamasi


pada saluran kemih. Mengevaluasi adanya eritrosit, leukosit, bakteri, protein
atau glukosa.

 Kultur urin

36
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan
sensifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan
 Faal ginjal
Mencari kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian
atas. Pengukuran kadar elektrolit, BUN, dan kreatinin berguna untuk menilai
fungsi ginjal dari pasien. Insufisiensi ginjal dapat ditemukan pada 10%
pasien dengan prostatism dan memerlukan pemeriksaan radiologi saluran
kemih bagian atas. Pasien dengan insufisiensi ginjal mempunyai risiko yang
tinggi mengalami komplikasi post-operasi setelah pembedahan BPH.
 Gula darah
Mencari kemungkinan adanya penyekit diabetes mellitus yang dapat
menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli neurogenik)
 Penanda tumor PSA (prostat spesifik antigen)
Jika curiga adanya keganasan prostat. Serum PSA dapat dipakai untuk
meramalkan perjalanan penyakit dari BPH; dalam hal ini jika kadar PSA
tinggi berarti: (a) pertumbuhan volume prostat lebihcepat, (b) keluhan akibat
BPH/laju pancaran urine lebih buruk, dan (c) lebih mudahterjadinya retensi
urine akut. Kadar PSA di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada
keradangan, setelah manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP),
pada retensi urine akut, kateterisasi, keganasan prostat, dan usia yang makin
tua.10

b. Patologi Anatomi
BPH dicirikan oleh berbagai kombinasi dari hiperplasia epitel dan
stroma di prostat. Beberapa kasus menunjukkan proliferasi halus-otot hampir
murni, meskipun kebanyakan menunjukkan pola fibroadenomyomatous
hyperplasia.

37
Gambar. Gambaran Makroskopis dan Mikroskopis Benigna Prostat Hiperplasia

c. Radiologi
 Foto polos abdomen (BNO)

Dari foto polos dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius,
pembesaran ginjal atau buli-buli. Dapat juga dilihat lesi osteoblastik sebagai
tanda metastasis dari keganasan prostat serta osteoporosis akibat kegagalan
ginjal. Dari sini dapat diperoleh keterangan mengenai penyakit ikutan
misalnya batu saluran kemih, hidronefrosis, atau divertikel kandung kemih
juga dapat untuk menghetahui adanya metastasis ke tulang dari carsinoma
prostat.

 Pielografi Intravena (IVP)

Pembesaran prostat dapat dilihat sebagai filling defect/indentasi prostat


pada dasar kandung kemih atau ujung distal ureter membelok keatas
berbentuk seperti mata kail (hooked fish). Dapat pula mengetahui adanya
kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter ataupun
hidronefrosis serta penyulit (trabekulasi, divertikel atau sakulasi buli –
buli). Foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin.

38
 Sistoskopi

Dalam pemeriksaan ini, disisipkan sebuah tabung kecil melalui


pembukaan urethra di dalam penis. Prosedur ini dilakukan setelah solusi
numbs bagian dalam penis sehingga sensasi semua hilang. Tabung, disebut
sebuah “cystoscope”, berisi lensa dan sistem cahaya yang membantu dokter
melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih. Tes ini memungkinkan
dokter untuk menentukan ukuran kelenjar dan mengidentifikasi lokasi dan
derajat obstruksi.

Gambar. Gambaran sistoskopi benigna prostat hiperplasi

 Transrektal Ultrasonografi (TRUS)

Adalah tes USG melalui rectum. Dalam prosedur ini, probe dimasukkan
ke dalam rektum mengarahkan gelombang suara di prostat. Gema pola
gelombang suara merupakan gambar dari kelenjar prostat pada layar
tampilan. Untuk menentukan apakah suatu daerah yang abnormal tampak
memang tumor, digunakan probe dan gambar USG untuk memandu jarum
biopsi untuk tumor yang dicurigai. Jarum mengumpulkan beberapa potong
jaringan prostat untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Biopsy terutama
dilakukan untuk pasien yang dicurigai memiliki keganasan prostat.
Transrektal ultrasonografi (TRUS) sekarang juga digunakan untuk
pengukur volume prostat, caranya antara lain :

39
 Metode “step planimetry”. Yang menghitung volume rata-rata area
horizontal diukur dari dasar sampai puncak.

 Metode diameter. Yang menggabungkan pengukuran tinggi (H/height)


,lebar (W/width) dan panjang (L/length) dengan rumus : ½ (H x W x L).

Gambar. TransRectal Ultrasound

 USG Transabdominal

 Gambaran sonografi benigna hyperplasia prostat menunjukan


pembesaran bagian dalam glandula, yang relatif hipoechoic dibanding
zona perifer. Zona transisi hipoekoik cenderung menekan zona central
dan perifer. Batas yang memisahkan hyperplasia dengan zona perifer
adalah “surgical capsule”.
 USG transabdominal mampu pula mendeteksi adanya hidronefrosis
ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama.

40
Gambar. Gambaran USG Prostat normal

Gambar. Gambaran Sonografi Benigna Prostat Hiperplasia

 Sistografi Buli

Gambar. Gambaran Elevasi Dasar Buli yang Mengindikasikan Benigna Prostat


Hiperplasia

41
d. Pemeriksaan Lain
Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan cara
mengukur:
 Residual urin :
Jumlah sisa urin setelah miksi, dengan cara melakukan kateterisasi/USG
setelah miksi
 Pancaran urin/flow rate :
Dengan menghitung jumlah urine dibagi dengan lamanya miksi
berlangsung (ml/detik) atau dengan alat uroflometri yang menyajikan
gambaran grafik pancaran urin. Aliran yang berkurang sering pada BPH.
Pada aliran urin yang lemah, aliran urinnya kurang dari 15mL/s dan terdapat
peningkatan residu urin. Post-void residual mengukur jumlah air seni yang
tertinggal di dalam kandung kemih setelah buang air kecil. PRV kurang dari
50 mL umum menunjukkan pengosongan kandung kemih yang memadai
dan pengukuran 100 sampai 200 ml atau lebih sering menunjukkan
sumbatan. Pasien diminta untuk buang air kecil segera sebelum tes dan sisa
urin ditentukan oleh USG atau kateterisasi.

10. Diagnosis Banding


Proses miksi bergantung pada kekuatan kontraksi detrusor, elastisitas leher
kandung kemih dengan tonus ototnya dan resistensi uretra. Setiap kesulitan miksi
disebabkan oleh salah satu dari ketiga faktor tersebut. Kelemahan detrusor dapat
disebabkan oleh kelainan saraf (kandung kemih neurologik), misalnya pada lesi
medula spinalis, neuropatia diabetes, bedah radikal yang mengorbankan persarafan
di daerah pelvis, penggunaan obat penenang, obat penghambat reseptor ganglion
da parasimpatolitik. Kekakuan leher vesika disebabkan oleh proses fibrosis,
sedangkan resistensi uretra disebabkan oleh pembesaran prostat jinak atau ganas,

42
tumor di leher kandungkemih, batu di uretra atau striktur uretra. Kelainan tersebut
dapat dilihat dengan sistokopi.

11. Penatalaksanaan

Tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalami tindakan medik.


Kadang-kadang mereka yang mengeluh LUTS ringan dapat sembuh sendiri tanpa
mendapatkan terapi apapun atau hanya dengan nasehat saja. Namun adapula yang
membutuhkan terapi medikamentosa atau tindakan medik yang lain karena
keluhannya semakin parah.

Tujuan terapi hyperplasia prostat adalah (1) memperbaiki keluhan miksi,


(2) meningkatkan kualitas hidup, (3) mengurangi obstruksi intravesika, (4)
mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal, (5) mengurangi volume
residu urine setelah miksi dan (6) mencegah progrefitas penyakit. Hal ini dapat

43
dicegah dengan medikamentosa, pembedahan atau tindakan endourologi yang
kurang invasif.

Terapi BPH dapat berkisar dari watchful waiting di mana tidak diperlukan
teknologi yang canggih dan dapat dilakukan oleh dokter umum, hingga terapi
bedah minimal invasif yang memerlukan teknologi canggih serta tingkat
keterampilan yang tinggi.

Watchful Waiting

Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah
7, yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak
mendapat etrapi namun hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang
mungkin dapat memperburuk keluhannya, misalnya (1) jangan mengkonsumsi
kopi atau alcohol setelah makan malam, (2) kurangi konsumsi makanan atau
minuman yang mengiritasi buli-buli (kopi/cokelat), (3) batasi penggunaan obat-
obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin, (4) kurangi makanan
pedasadan asin, dan (5) jangan menahan kencing terlalu lama.
Secara periodik pasien diminta untuk datang control dengan ditanya
keluhannya apakah menjadi lebih baik (sebaiknya memakai skor yang baku),
disamping itu dilakukan pemeriksaan laboratorium, residu urin, atau uroflometri.

44
Jika keluhan miksi bertambah jelek daripada sebelumnya, mungkin perlu
dipikirkan terapi yang lain

Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk : (1) mengurangi resistansi
otot polos prostat sebagai komponen dinamik penyebab obstruksi infravesika
dengan obat-obatan penghambat adrenergic alfa (adrenergic alfa blocker dan (2)
mengurangi volume prostat sebagai komponen static dengan cara menurunkan
kadar hormone testosterone/dihidrotestosteron (DHT) melalui penghambat 5α-
reduktase.
1. Penghambat reseptor adrenergik α.5,11
Mengendurkan otot polos prostat dan leher kandung kemih, yang membantu
untuk meringankan obstruksi kemih disebabkan oleh pembesaran prostat di
BPH.
Efek samping dapat termasuk sakit kepala, kelelahan, atau ringan. Umumnya
digunakan alpha blocker BPH termasuk tamsulosin (Flomax), alfuzosin
(Uroxatral), dan obat-obatan yang lebih tua seperti terazosin (Hytrin) atau
doxazosin (Cardura). Obat-obatan ini akan meningkatkan pancaran urin dan
mengakibatkan perbaikan gejala dalam beberapa minggu dan tidak
berpengaruh pada ukuran prostat
2. Penghambat 5 α reduktase 5,13
Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan
dihidrotestosteron (DHT) dari testosterone yang dikatalisis oleh enzim 5 α
reduktase di dalam sel prostat. Menurunnya kadar DHT menyebabkan sintesis
protein dan replikasi sel-sel prostat menurun. Pembesaran prostat di BPH secara
langsung tergantung pada DHT, sehingga obat ini menyebabkan pengurangan
25% perkiraan ukuran prostat lebih dari 6 sampai 12 bulan. Contoh obat
Avodart (dutasteride) , Proscar (finasteride)

45
Terapi Invasif Minimal
Diperuntukan untuk pasien yang mempunyai risiko tinggi terhadap pembedahan.
Microwave transurethral
Pada tahun 1996, FDA menyetujui perangkat yang menggunakan gelombang
mikro untuk memanaskan dan menghancurkan jaringan prostat yang berlebih.
Dalam prosedur yang disebut microwave thermotherapy transurethral (TUMT),
perangkat mengirim gelombang mikro melalui kateter untuk memanaskan bagian
prostat dipilih untuk setidaknya 111 derajat Fahrenheit. Sebuah sistem pendingin
melindungi saluran kemih selama prosedur. Prosedur ini memakan waktu sekitar
1 jam dan dapat dilakukan secara rawat jalan tanpa anestesi umum. TUMT belum
dilaporkan menyebabkan disfungsi ereksi atau inkontinensia. Meskipun terapi
microwave tidak menyembuhkan BPH, tapi mengurangi gejala frekuensi kencing,
urgensi, tegang, dan intermitensi.

Gambar. Microwave Transurethral

Transurethral jarum ablasi

Juga pada tahun 1996, FDA menyetujui transurethral jarum ablasi invasif
minimal (TUNA) sistem untuk pengobatan BPH. Sistem TUNA memberikan
energy radiofrekuensi tingkat rendah melalui jarum kembar untuk region prostat

46
yang membesar. Shields melindungi uretra dari kerusakan akibat panas. Sistem
TUNA meningkatkan aliran urin dan mengurangi gejala dengan efek samping
yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan reseksi transurethral dari prostat
(TURP).

Gambar. Transurethral Jarum Ablasi Invasif Minimal


Transurethral balloon dilation of the prostate
Pada tehnik ini, dilakukan dilatasi (pelebaran) saluran kemih yang berada di
prostat dengan menggunakan balon yang dimasukkan melalui kateter. Teknik ini
efektif pada pasien dengan prostat kecil, kurang dari 40 cm3. Meskipun dapat
menghasilkan perbaikan gejala sumbatan, namun efek ini hanya sementara
sehingga cara ini sekarang jarang digunakan.17

Terapi Pembedahan Endourologi


Indikasi pembedahan yaitu pada BPH yang sudah menimbulkan komplikasi,
diantaranya adalah:16
 Retensi urine karena BPO
 Infeksi saluran kemih berulang karena obstruksi prostat
 Hematuria makroskopik
 Batu buli-buli karena obstruksi prostat
 Gagal ginjal yang disebabkan obstruksi prostat, dan

47
 Divertikulum buli buli yang cukup besar karena obstruksi

Transurethral resection of the prostate (TURP)


Sembilan puluh lima persen prostatektomi sederhana dapat dilakukan secara
endoskopi. Sebagian besar prosedur ini menggunakan teknik anestesi spinal dan
memerlukan 1-2 hari perawatan di rumah sakit. Skor keluhan dan perbaikan laju
aliran urine lebih baik dibandingkan terapi lain yang bersifat minimal invasive.
Risiko TURP meliputi ejakulasi retrograd (75%), impotensi (5-10%), dan
inkontinensia (<1%).5
TURP lebih sedikit menimbulkan trauma dibandingkan prosedur bedah terbuka
dan memerlukan masa pemulihan yang lebih singkat. Secara umum TURP dapat
memperbaiki gejala BPH hingga 90%, meningkatkan laju pancaran urine hingga
100%.17

Gambar. (a) alat TURP, (b) cara melakukan TURP, (c) uretra prostatika pasca TURP

48
Komplikasi operasi antara lain perdarahan, striktur uretra, atau kontraktur pada
leher kandung kemih, perforasi dari kapsul prostat dengan ekstravasasi, dan pada
kondisi berat terjadi sindroma TUR yang disebabkan oleh keadaan hipervolemik
dan hipernatremia akibat absorbsi cairan irigasi yang bersifat hipotonis.
Manifestasi klinis sindroma TUR antara lain nausea, muntah, hipertensi,
bradikardi, confusing, dan gangguan penglihatan. Risiko terjadinya sindroma
TUR meningkat pada reseksi yang lebih dari 90 menit. Penatalaksanaan meliputi
diuresis dan pada kondisi berat diberikan larutan hipertonis.5

Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)

Pria dengan keluhan sedang sampai berat dan ukuran prostat yang kecil sering
didapatkan adanya hyperplasia komisura posterior (terangkatnya leher kandung
kemih). Pasien tersebut biasanya lebih baik dilakukan insisi prostat.5

Gambar. Prosedur Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)

Prosedur TUIP lebih cepat dan morbiditasnya lebih rendah dibandingkan TURP.
Teknik TUIP meliputi insisi dengan pisau Collin pada posisi jam 5 dan 7. Insisi
dimulai di arah distal menuju orifisium ureter dan meluas ke arah verumontanum.5

49
Terapi Pembedahan Terbuka

Dalam beberapa kasus ketika sebuah prosedur transurethral tidak dapat


digunakan, operasi terbuka, yang memerlukan insisi eksternal, dapat digunakan.
Open surgery sering dilakukan ketika kelenjar sangat membesar (>100 gram),
ketika ada komplikasi, atau ketika kandung kemih telah rusak dan perlu diperbaiki.
Prostateksomi terbuka dilakukan melalui pendekatan suprarubik transvesikal
(Freyer) atau retropubik infravesikal (Millin). Penyulit yang dapat terjadi adalah
inkontinensia uirn (3%), impotensia (5-10%), ejakulasi retrograde (60-80%) dan
kontraktur leher buli-buli (305%). Perbaikan gejala klinis 85-100%.
Prostatektomi Terbuka Sederhana
Ketika ukuran prostat terlalu besar untuk direseksi secara endoskopi, enukleasi
terbuka dapat dilakukan. Kelenjar prostat yang lebih dari 100 g biasanya
merupakan indikasi enukleasi terbuka. Prostatektomi terbuka juga dilakukan pada
pasien dengan disertai divertikulum atau batu buli atau jika posisi litotomi tidak
mungkin dilakukan.5
Operasi Laser
Kelenjar prostat pada suhu 60-65oC akan mengalami koagulasi dan pada suhu
yang lebih dari 100oC mengalami vaporasi. Teknik laser menimbulkan lebih
sedikit komplikasi sayangnya terapi ini membutuhkan terapi ulang 2% setiap
tahun. Kekurangannya adalah : tidak dapat diperoleh jaringan untuk pemeriksaan
patologi (kecuali paad Ho:YAG coagulation), sering banyak menimbulkan disuri
pasca bedah yang dapat berlangsung sampai 2 bulan, tidak langsung dapat miksi
spontan setelah operasi dan peak flow rate lebih rendah daripada pasca TURP.
Serat laser melalui uretra ke dalam prostat menggunakan cystoscope dan
kemudian memberikan beberapa semburan energi yang berlangsung 30 sampai 60
detik. Energi laser menghancurkan jaringan prostat dan menyebabkan penyusutan.

50
Gambar. Operasi laser pada prostat

Interstitial laser coagulation


Tidak seperti prosedur laser lain, koagulasi laser interstisial tempat ujung probe
serat optik langsung ke jaringan prostat untuk menghancurkannya.

Gambar. Interstitial Laser Coagulation


Potoselectif vaporisasi prostat (PVP)
PVT a-energi laser tinggi untuk menghancurkan jaringan prostat. Cara sama
dengan TURP, hanya saja teknik ini memakai roller ball yang spesifik dengan
mesin diatermi yang cukup kuat, sehingga mampu membuat vaporasi kelenjar
prostat. Teknik ini cukup aman tidak menimbulkan perdarahan pada saat operasi.
Namun teknik ini hanya diperuntukan pada prostat yang tidak terlalu besar (<50
gram) dan membutuhkan waktu operasi yang lebih lama.

51
Gambar. Potoselectif vaporisasi prostat (PVP)

12. Komplikasi

Apabila buli – buli menjadi dekompensasi, akan terjadi retensio urin. Karena
produksi urin terus berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu
menampung urin sehingga tekanan intra vesika meningkat, dapat timbul
hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat jika
terjadi infeksi.Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan dalam
buli – buli. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria.
Batu tersebut dapat pula menimbulkan sistitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi
pielonefritis. Pada waktu miksi pasien harus mengedan shingga lama kelamaan
dapatmenyebabkan hernia atau hemoroid.

Jadi, dilihat dari sudut pandang perjalanan penyakitnya, hiperplasia prostat


dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut:1

 Batu Kandung Kemih


 Hematuria
 Sistitis
 Pielonefritis
 Retensi Urin Akut Atau Kronik

52
 Refluks Vesiko-Ureter
 Hidroureter
 Hidronefrosis
 Gagal Ginjal

53
DAFTAR PUSTAKA

1. Kozar Rosemary A, Moore Frederick A. Schwartz’s Principles of Surgery 8th


Edition. Singapore: The McGraw-Hill Companies, Inc; 2005
2. Mansjoer A, Suprahaita, Wardhani. 2000. Pembesaran Prostat Jinak. Dalam:
Kapita selekta Kedokteran. Media Aesculapius, Jakarta ; 329-344.
3. Mulyono, A. 1995. Pengobatan BPH Pada Masa Kini. Dalam :
Pembesaran Prostat Jinak. Yayasan penerbit IDI, Jakarta ; 40-48.5.
4. Purnomo, Basuki B. Dasar – Dasar Urologi. Edisi Kedua. Jakarta : Sagung
Seto.
5. Rahardjo, J. 1996. Prostat Hipertropi. Dalam : Kumpulan Ilmu Bedah. Binarupa
aksara, Jakarta ; 161-703.
6. Ramon P, Setiono, Rona, Buku Ilmu Bedah, Fakultas KedokteranUniversitas
Padjajaran ; 2002: 203-75.
7. Sabiston, David. Sabiston : Buku Ajar Bedah. Alih bahasa : Petrus. Timan.
EGC. 1994.
8. Sjafei, M. 1995. Diagnosis Pembesaran Prostat Jinak. Dalam :
Pembesaran Prostat Jinak. Yayasan Penerbit IDI, Jakarta ; 6-17
9. Sjamsuhidajat R, De Jong W. 1997. Tumor Prostat. Dalam: Buku ajar
Ilmu Bedah, EGC, Jakarta, 1997; 1058-64.
10. Umbas, R. 1995. Patofisiologi dan Patogenesis Pembesaran Prostat Jinak.
Yayasan penerbit IDI, Jakarta ; 1-52.

54