Anda di halaman 1dari 4

1.

Analisis Penyebab Krisis Keuangan AS 2008/2009


Krisis keuangan ini terjadi diakibatkan oleh perbankan “Lehman Brother”
yang mengalami kebangkrutan akibat keserakahan bank tersebut dalam
memberikan kredit perumahan terhadap nasabahnya. Hal tersebut bermula pada
tahun 2001, Bank sentral AS menurunkan suku bunga acuannnya menjadi 1
persen. Kebijakan tersebut bermaksud untuk menjalankan perekonomian AS yang
lesuh pada tahun tersebut. Penurunan suku bunga ini diikuti oleh suku bunga
kredit perbankan di harapkan menjadi stimulus bagi masyarakat AS.
Bank “Lehman Brother” memanfaatkan rendahnya suku bunga yang
diterapkan Bank Sentral, dan mulai memperkirakan keuntungan yang akan
diperoleh oleh perbankan tersebut dengan investasi di pasar real estate. Seperti
perkiraab dalam jangka 5 tahun berikutnyam pinjaman mencapai milliaran dollar
mengalir ke pasar real estate. Dengan pinjaman tersebut mengubah Lehman
Brother dari perusahaan kecil menjadi bank investari terbesar keempat di
Amerika. Pasar perumahan di Amerika Serikat memang sedang berkembang sejak
tahun 2001.
Dengan meningkatnya keuntungan, Lehman Brother ingin meningkatkan
pendapatannya dengan menyalurkan KPR kepada masyarakat berpenghasilan
rendah maupun tidak tetap yang di sebut dengan subprime mortage. Meskipun
kemunkinan kredit macet juga tinggi, dikarenankan ketidakmapuan membayar
masyarakat berpenghasilan rendah. Lehman Brother terus menyalurkan KPRnya
dengan alasan bahwa jika masyarakat tidak mampu membayar maka Rumahnya
akan disita dan menjadi aset Lehman Brother. Sehingga rumah tersebut dapat
dijuak kembal kepada perseroaan.
Perkiraannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. The Fed menaikkan
suku bunga acuannya pada tahun 2004 dengan tujuan mengendalikan inflasi.
Naiknya suku bunga acuan mempengaruhi kenaikan bunga dan cicilan KPR.
Dampaknya, Masyarajat kategori subprime mortgage adalah golongan yang
pertama menyatakan ketidaksanggupan membayar.
Bank yang sudah terlanjut membangun properti dalam jumlah besar maka
harus mengalami penurunan permintaan, karena bunga KPR tak lagi murah.
Dikarenakan jumlah properti yang disita bank banyak dan belum terjual maka
harga properti AS pun turun.
Nyatanya, penurunan harga ini menyebabkan efek yang mengerikan.
Masyarakat yang masih terikat KPR memiliki beban cicilan utang yang besar
kepada bank dikarenakan kenaikan bunga tersebut. Di sisi lain, nilai rumah
semakin turun. Akibatnya, banyak timbul kasus utang KPR di bank lebih besar
dibanding nilai rumah. Sehingga menyebabkan masyarakat AS mulai enggan
membayar cicilan rumah yang tinggi tetapi harga rumah sesungguhnya yang
murah. Sehingga menyebabkan Bank Lehman Brother Bangkrut
Dengan bangkutnya Lehman Brother membuat pasar saham mengalami
tekanan. Sehingga menyebabkan The Fed memangkas suku bunganya dalam 3
bulan sebanyak 200 bps menjadi 2,25 %.
Indonesia terkena imbasnya dikarenakan krisis tersebut sehingga IHSG
turun sebesar 58,25% dari awal tahun 2008 hingga november 2008 (detik.com).
Untuk mengatasi krisis yang telah menimpa perekonomian AS. Pemerintah AS
harus campur tangan dalam mengatasi permasalahan krisis keuangan ini dengan
menggolontorkan uang sebesar dana sebesar trilliun rupiah untuk membeli
obligasi baik surat utang maupun obligasi kredit perumahan, yang mana dikenal
sebagai Quantitive Easing. Quantitive Easing merupakan kebijakan moneter
dengan meningkatkan jumlah uang beredar denga membeli surat-surat berharga
pemerintah. Al hasil dollar Amerika melemah, tetapi ini adalah langkah yang
perlu di ambil oleh the Fed guna membuat mereka memutar ulang perekonomian
mereka. Dampak selanjutnya jumlah uang dollar tersebar ke negara-negara
berkembang dikarenakan di investasikan oleh investor, seperti di Indonesia.
Kemudian setelah perekonomian Amerika membaik, Amerika
mengeluarkan kebijakan Tappering Off, yang pendeknya memotong dana
stimulus tersebut dengan mengurangi pembelian obligasi. Tak hanya di AS tetapi
juga di pasar seluruh dunia, dimana ingin memperbaiki perekonomian seperti
semula yang mana tidak ada lagi pembelian obligasi/menyuntik dollar ke sistem
keuangan mereka. Dampak tersebut menyebabkan banyak Dollar yang di
investasikan ke negara berkembang kembali lagi ke Amerika dikarenakan jumlah
Dollar yang sedikit menyebabkan Nilai uang Dollar semakin meningkat. Sehingga
dampak dari Dollar menguat menyebabkan perekonomian dunia menjadi lesu,
selain itu, pada waktu itu perekonomian China sedang melambat dan masih
banyak faktor lainnya. menyebabkan komoditas ekspor andalan indonesia seperti
batu bara (-38%) , kelapa sawit(-22%) , dan karet(-71%) menjadi sepi peminat.
Sehingga neraca perdagangan indonesia menjadi anjlok (Katadata.com)

Berdasarkan tabel diatas pada tahun 2008-2010 kurs nilai Amerika


melemah dikarenakan penerapan Quantitive Easing, tapi tahun 2013 menguat
tajam dikarenakan kebijakan Tapering Off.

2. Analisis Akselerasi Keuangan US


Prosiklisitas merupakan suatu kejadian dimana siklus keuangan dan siklus
bisnis memiliki interaksi satu sama lainya. Seperti penjelasan diatas ketika
peminjam dana membutuhkan dana untuk proyek saat perekonomian sedang lesu
maka pemberi dana pemberi dana mengasumsikan bahwa pemimjam tidak mampu
mengembalikan di karenakan kondisi perekonomiannya, begitu juga sebaliknya.
Hal tersebut sejalan dengan krisis keuangan yang terjadi di Amerika, pada
tahun 2007, yang mana pada tahun tersebut The Fed selaku bank sentral Amerika,
membuat kebijakan untuk menurunkan suku bunga pinjamannnya, namun hal
tersebut dijadikan kesempatan bagi perusahaan pembiayaan perumahan untuk
menggolontorkan kredit untuk masyarakat yang tidak memiliki jaminan keuangan
yang memadai. Pada saat perekonomian semakin memburuk, maka perusahaan
pembiayaan perumahan gagal dalam melakukan pembayaran kredit tersebut,
sehingga semakin memperburuk perekonomian Amerika.