Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN ANALISIS STARTUP

(STUDI KASUS: AUCTIONATA)

Disusun Oleh:
I Gst Ngurah Indra Mahathanaya 1504505030
Ida Bagus Ananda Paramartha 1504505050
Made Bandem Yosita Rahayu Widasari 1504505064

Mata Kuliah:
Inovasi dan Manajemen Produk

Kelas:
TIB036306

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INFORMASI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
DAFTAR ISI

1. Pendahuluan ............................................................................................................ 3
1.1 Pengertian Startup ........................................................................................... 3

1.2 Penyebab Booming-nya Startup ..................................................................... 3

1.3 Startup Auctionata .......................................................................................... 5

2. Pembahasan ............................................................................................................. 6
2.1 Memulai Bisnis Startup ................................................................................... 6

2.2 Analisis penyebab gagalnya Startup Auctionata ........................................ 11

2.3 Analisis kesuksesan Startup sejenis bernama Paddle8 .............................. 15

3. Saran Perbaikan .................................................................................................... 20


Referensi ........................................................................................................................ 21

2
1. Pendahuluan
1.1 Pengertian Startup
Start-up adalah sebuah perusahaan/institusi rintisan yang dapat dikatakan baru
dalam proses pengembangan, untuk menemukan pasar yang tepat. Menurut beberapa
pendapat para ahli:
a. Ries (2011), Pengembangan startup ini dirancang untuk menciptakan sebuah
layanan produk maupun jasa ditengah ketidakpastian yang ekstrem.
b. Neil Blumenthal, Cofounder dan sekaligus co-CEO dari Warby Parket,
mengemukakan bahwa startup adalah usaha bisnis rintisan yang dibuat untuk
memecahkan permasalahan yang ada, namun solusi dari startup tersebut tidak
terjamin sukses.

1.2 Penyebab Booming-nya Startup


Perkembangan start-up di Indonesia terbilang sangat signifikan, hal ini
disebabkan dengan tumbuhnya perusahaan-perusahaan baru yang bergerak di bidang
teknologi atau digital. Dikutip dari situs Startup Ranking, Indonesia masuk dalam enam
besar jumlah startup terbanyak di Dunia dengan total mencapai 1.816 startup, dibawah
Jerman (1.908), Kanada (2.314), Inggris (4.714), India (5.275) dan posisi teratas
ditempati oleh Amerika Serikat dengan total 45.171 startup.
Penyebab pertumbuhan startup digital di Indonesia yang terus mengalami
peningkatan diakibatkan oleh beberapa faktor. Menurut Kompasiana.com, ada beberapa
faktor-faktor mengenai boomingnya startup di Indonesia diantaranya sebagai berikut.
1. Funding Besar
Semenjak pada tahun 2014, Ranah starup di Indonesia sempat dikagetkan dengan
kabar pada salah satu situs marketplace mendapatkan investasi dana sebesar 100 juta
dollar USD. Pendanaan berupa investasi sudah sering dilakukan, namun investasi pada
situs marketplace ini merupakan pendanaan yang terbesar di Indonesia pada kala itu.
Kemudian, setelah kabar berita tersebut banyak startup Indonesia mendapatkan
pendanaan dari sebuah lembaga venture capital. Dilihat adanya peluang tersebut, banyak
orang berbondong-bondong untuk membangun sebuah startup untuk mendapatkan
investasi dana dari venture capital.

3
2. Permasalahan = Solusi
Startup dibangun dengan tujuan untuk menjadi solusi dari sebuah permasalahan
yang terjadi. Solusi itu bisa sampai hal yang bersifat umum sampai unik. Salah satu
Startup di Indonesia, yang paling booming semenjak awal tahun 2015, yaitu GO-JEK.
GO-JEK merupakan salah satu startup yang bergerak di bidang transportasi, yang di mana
sebelum berdirinya GO-JEK. Startup ini melihat permasalahan pada kala itu, kesulitan
orang-orang dalam mencari transportasi umum di kota besar. Melihat peluang itu, GO-
JEK hadir untuk menjadi solusi dari permasalahan tersebut.

3. Penetrasi penggunaan Smartphone


Kehadiran startup digital yang booming dipengaruhi oleh kemudahan akses
internet melalui media smartphone atau sering disebut dengan ponsel pintar. Berdasarkan
data Databoks.katadata.co.id, pada awal Januari tahun 2017 jumlah pengguna telepon
seluler di Indonesia mencapai 371, 4 juta atau 142% dari total populasi di Indonesia pada
kala itu yang mencapai 262 juta jiwa. Hal ini dapat diartikan, rata-rata setiap penduduk
menggunakan 1,4 telepon seluler, karena satu orang dapat memiliki 2-3 telepon seluler.
Disamping banyaknya pengguna telepon seluler dan juga diikuti dengan penggunaan
internet. Berdasarkan data dari situs We Are Social, pengguna aktif internet di Indonesia
mencapai 132.7 juta, yang berarti sekitar 51% dari jumlah populasi. Dilihat dari jumlah
pengguna internet & telepon seluler yang besar, tentunya menjadi pangsa psar yang
menarik untuk diincar. Tidak heran, mengapa banyak startup yang bermunculan. Startup
secara umum di Indonesia dapat diakses melalui situs website serta dalam aplikasi
mobile, dengan tujuan agar memudahkan pengguna dalam mengakses layanan startup
tersebut.

4. Imitators Everywhere
Banyak juga pengembangan startup yang hanya sekadar ikut-ikutan. Hal yang
dimaksud ikut-ikutan adalah meniru model bisnis yang dikembangkan. Seperti halnya
GO-JEK, banyak yang meniru model bisnisnya, dalam meniru model bisnis tersebut ada
yang masih tetap dapat bersaing dan ada juga yang gagal. Sama halnya dengan startup
yang lainnya.

4
1.3 Startup Auctionata

Gambar 1 Logo Startup Auctionata

Auctionata adalah salah satu startup yang bergerak di bidang pelelangan online.
Produk yang di lelang pada platform ini seperti barang-barang yang bersifat seni, antik,
mewah serta merupakan koleksi para kolektor. Salah satu fitur yang membuat booming
platform ini pada tahun 2012 adalah Live Stream Pelelangan. Hal ini membuat banyak
penikmat seni, kolektor menarik perhatian ke startup tersebut.
Penerapan Fitur live stream lelang ini telah lama menjadi impian bagi para
kalangan pencinta seni. Melihat potensi yang besar, fokus startup ini membuka pintu bagi
mereka yang ingin melelang produk koleksinya, proses tawar menawar dilakukan ke
audiens yang banyak tentu dapat menaikkan harga barang yang dilelang. Dikutip dari
makruvdigital.com, startup ini mendapat pendanaan investasi sebesar 1,3 triliun dari
beberapa investor. Namun, setelah mendapatkan investasi yang besar, startup ini tidak
mampu melakukan pengembangan sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal yang
membuat startup ini tidak mampu berkembang, selain kecepatan internet yang tidak stabil
membuat laman web yang diakses mengalami buffering dan load yang lambat. Hal ini
membuat fitur seperti live stream ini banyak mengalami masalah dan memperumit
keadaan.

5
2. Pembahasan
2.1 Memulai Bisnis Startup
Dalam memulai dan membangun sebuah bisnis startup, setiap pelaku usaha wajib
melakukan beberapa hal yang penting untuk memetakan bisnis yang ingin atau sedang
dibangun tersebut. Kegiatan bisnis yang ingin dilakukan harus bersifat terstruktur dengan
memiliki arah dan tujuan yang jelas, terutama bagi seseorang yang ingin masuk atau
memulai sebuah bisnis perlu mengetahui beberapa faktor-faktor apa saja yang digunakan
untuk mempengaruhi bisnisnya tersebut, seperti: faktor internal maupun eksternal.
Banyak paramater-parameter yang saat ini digunakan untuk mengukur seberapa sukses
bisnis usaha yang sedang dikembangkan tersebut. Sesuai dengan mentoring yang kami
dapat di Inkubasi Bisnis BDI (Balai Diklat Industri) di Tohpati, Denpasar.
Ada sebuah tools yang dikembangkan oleh Gerakan Wirausaha
Onein20Movement (OIM) pro Indonesia untuk memudahkan para calon pengusaha bisnis
maupun yang sedang mengembangkan bisnis agar tetap konsisten, model itu diberi nama
Smart Business Map (SBM). SBM ini adalah sebuah tools yang digunakan untuk dapat
mengukur kondisi bisnis yang sedang dijalankan. Terutama bagi pemula bisnis startup,
SBM ini digunakan sebagai parameter untuk dapat mengurangi resiko gagal dalam
merancang dan membangun bisnisnya tersebut.
Smart Business Map (SBM) ini dapat dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu Playing
Field, Market Landscape dan Operational Profitability. Playing field adalah tahapan yang
digunakan bagi pemula bisnis dalam menentukan permasalahan (problem), segmen pasar,
produk yang ingin dikembangkan, validasi pasar, dll. Market landscape adalah tahapan
yang digunakan bagi pengusaha bisnis yang ingin mengembangkan bisnisnya sesuai
dengan permasalahan yang telah di dapatkan. Operational profitability adalah tahapan
dihadapi perusahaan yang telah lama terjun di bisnisnya tersebut. Ketiga tahapan tersebut
akan digabung dan dijadikan menjadi 12 pertanyaan dasar yang sering dihadapi para
pengusaha startup, berikut adalah pembahasan dari setiap pertanyaan-pertanyaan
tersebut.
Smart Business Map - Playing Field
1. What is the problem?
Pertanyaan paling dasar yang sering muncul yaitu permasalahan apa yang di
dapatkan setiap pelaku bisnis. Konsep sederhananya di mulai dari “Problem = Needs”

6
artinya ketika konsumen mendapatkan sebuah permasalahan, pihak pelaku bisnis harus
jeli melihat peluang agar peluang itu bisa dijadikan sebuah solusi dari bisnis yang dibuat.
Contohnya ada persoalan sederhana “Haus” dari konsumen, maka akan timbul bisnis
“minuman”.

2. Who has the problem?


Pertanyaan kedua adalah setiap pelaku bisnis harus mengetahui “Siapa” yang
mengalami permasalahan tersebut. Secara bisnis, hal ini berkaitan dengan market
segment atau target market. Market segments memiliki pengertian siapa yang akan
menjadi pelanggan dari bisnis ini. Adapun hal yang harus diperhatikan seperti: Geografic
(daerah atau wilayah), Demografic (karakteristik, jenis kelamin, pekerjaan, umur dan
tingkat ekonomi), Psycographic (minat) dan behavior (perilaku dan kebiasaan).
Contohnya seperti persoalan sebelumnya yaitu “Haus”, persoalan ini lingkupnya cukup
luas yang di mana pelaku bisnis tidak mengetahui siapa saja yang haus. Disini perlu di
tekankan target market, misalnya target marketnya anak-anak berusia 5-10 tahun.

3. What is the solution?


Pertanyaan ketiga yaitu setelah mendapatkan permasalahannya apa dan segmen
pasar nya bagaimana. Pelaku bisnis harus dapat memberikan sebuah solusi, makna dari
kata solusi dalam dunia startup ini adalah peluang bisnis yang akan dibuat sehingga dapat
menjadi jawaban perrmasalahan dari target market.

4. How Big is the Market?


Setelah pelaku bisnis melewati pertanyaan 1-3, maka selanjutnya adalah
mengetahui seberapa besar pasar yang bisa di dapatkan pelaku bisnis tersebut. Untuk
mencari “How Big is the Market”, pelaku bisnis harus memperhatikan beberapa aspek
penting yaitu actual data dan extrapolasi.
Actual data dapat di bagi menjadi tiga yaitu consumption per capita, market size
dan market share. Consumption per kapita yaitu menganalisa jumlah konsumsi per
orangnya atas produk itu dalam setiap tahunnya. Setelah itu menganalisa market size
seberapa banyak penjualan yang telah terjadi untuk produk sejenis untuk pertahunnya.

7
Market share adalah menganalisa brand-brand yang bersaing (kompetitor) dalam kategori
yang sejenis.
Extrapolation adalah mengalisa besar jumlah penduduk dari sebuah wilayah yang
akan di jadikan target market, setelah itu memperkirakan peluang potensial pasar yang
diperkirakan mau untuk membeli produk di bisnis tersebut.

5. What Factors will impact the business?


Pertanyaan kelima adalah faktor yang mempengaruhi bisnis. Hal ini paling sering
diabaikan oleh para pelaku bisnis terutama bagi bisnis pemula. Mengapa demikian?
Karena setiap bisnis harus memiliki faktor-faktor agar dapat membuat bisnis tersebut
berjalan baik dan benar. Adapun beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam
bisnis, yaitu: pemerintah (terkait dengan pajak, regulasi dan kebijakan), kompetitor,
teknologi, supplier, tokoh-tokoh masyarakat/lsm, dan lain-lainnya.

Smart Business Map - Market Landscape


6. Why do people choose you?
Pelaku bisnis harus memperhatikan kembali mengapa konsumen membeli produk
atau jasanya tersebut. Hal ini mengacu pada nilai apa yang dapat di tekankan dan
diberikan ke konsumen sehingga membuat konsumen tertarik untuk membeli produk
tersebut, nilai tersebut sering disebut dengan USP. USP (unique selling product) adalah
sebuah attributes yang dapat ditekankan dalam produk atau jasa dari bisnis seperti: fungsi
produk, service/ pelayanan yang diberikan, quality produk, daerah, harga yang
ditawarkan, proses yang cepat dan sederhana, bahan, dsb.

7. How do you sell your products?


Pertanyaan ketujuh adalah bagaimana pelaku bisnis menjualkan produknya. Dari
sisi marketing: bagaimana cara melakukan promosi, sehingga dapat menarik perhatian
dan mendapatkan pelanggan/customer baru. Dari segi penjualan: bagaimana agar proses
distribusi penjualan dapat dilakukan dengan mudah pelanggan tersebut. Saat ini proses
ditribusi ada yang bersifat offline, yang di mana pelanggan mengujungi langsung toko
tersebut dan online, yang di mana customer dapat dengan mudah memesan di mana saja.

8
Bisnis model penjualan akan sangat berdampak cukup besar untuk kelangsungan
kebutuhan bisnis tersebut.

8. How do you keep your customer?


Pertanyaan kedelapan adalah bagaimana cara pelaku bisnis untuk dapat
mempertahankan pelanggan/customernya tersebut. Hal ini merupakan langkah yang
terbilang berat bagi bisnis pemula, adapun beberapa aspek penting yang harus dilakukan
agar pelanggan itu loyal untuk membeli produk di bisnis tersebut yaitu: melakukan
service/pelayanan dengan baik dan sopan, menjaga reputasi produk, mendengarkan opini
maupun saran dari kustomer, menjaga kualitas produk, memberikan penawaran spesial
seperti promo dan diskon menarik.

Smart Business Map - Operational Profitability


9. How do you increase your revenue?
Pertanyaan kesembilan adalah bagaimana cara pelaku bisnis meningkatkan
pendapatan. Adapun cara yang sudah biasa diterapkan di dunia pasar dan bisnis dengan
perhitungan “Profit= Revenue-Cost”. Perhitungan itu artinya mengurangi jumlah
pengeluaran dengan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Secara umum
terdapat dua strategi untuk meningkatkan pendapatan yaitu:
a. Vertical Strategy, adalah strategi dalam memperbesar pemasukkan dari kustomer
yaitu dengan cara menerapkan penjualan secara cross selling dan up selling.
b. Horizontal Strategy, adalah strategi yang fokus dalam menambah jumlah
kustomer. Dimulai dari menawarkan satu produk terlebih dahulu dan jika produk
tersebut diakui oleh pasar, maka dapat memasarkan produk dengan variasi
lainnya.
Disimpulkan bahwa dalam pengembangan sebuah startup sebaiknya fokus dalam
memasarkan satu buah produk terlebih dahulu agar jumlah pengeluaran dapat
diminimalisir dan memperbesar keuntungan yang diperoleh.

10. How do you manage your cost?


Pertanyaan kesepuluh adalah bagaimana pelaku bisnis mengelola keuangan dan
pembiayaan pada bisnis startupnya. Beberapa cara yang sudah banyak diterapkan, yaitu:

9
pembelian bahan baku dengan jumlah yang banyak sehingga mendapatkan harga lebih
murah, melakukan kerjasama dengan pihak supplier/vendor agar mendapatkan harga
produksi yang lebih murah, memperhatikan cash flow agar mengetahui berapa jumlah
uang yang masuk dan keluar, merubah fix cost menjadi variabel cost agar pengeluaran
dapat di minimalisir, memperhatikan laba rugi, cost ratio dan break event point.

11. What is your Core Resources?


Pertanyaan kesebelas adalah apa yang menjadi sumber penting dari bisnis startup
tersebut. Core resources itu sendiri merupakan sebuah assets berhaga yang dimiliki setiap
bisnis, hal ini perlu dikelola dengan baik agar bisnis dapat berjalan dengan semestinya
jika tidak maka dapat membuat bisnis itu sendiri mengalami kegagalan. Core resources
dari setiap perusahaan berbeda-beda tergantung dari bidang startup tersebut, contonya:
produksi produk apa yang dibuat, supplier dan sumber daya manusia.

12. How do you develop your team?


Pertanyaan keduabelas adalah bagaiamana seorang pelaku bisnis mengelola tim
dari bisnisnya tersebut. Hal ini sangat berpengaruh penting dalam kelangsungan hidup
bisnis, karena dengan meningkatkan kualitas dari SDM dapat menentukan kesuksesan
perusahaan dalam jangka yang panjang. Adapun beberapa langkah untuk dapat mengelola
sebuah tim, yaitu:
 Melakukan proses penyeleksian pada setiap anggota untuk dapat mengetahui
backroundnya masing-masing;
 Memberikan job description yang sesuai dengan kemampuan karyawan, hal ini
sangat penting agar kelangsungan proses pekerjaan dapat berjalan dengan
sebagaimana mestinya;
 Pemberian hak dan kewajiban agar masing-masing anggota dapat saling
menghormati dan menumbuhkan rasa kekeluargaan.
Di dalam sebuah startup, selain adanya seorang pemimpin perusahaan (CEO) juga
ada beberapa posisi lainnya, seperti: marketing, desainer, finance dsb.

10
2.2 Analisis penyebab gagalnya Startup Auctionata
Auctionata merupakan perusahaan yang berjalan dalam bidang pelelangan yang
berfokus pada pelelangan seni dan barang mewah. Dalam perkembangan awal,
Auctionata berhasil menjadi perusahaaan pertama yang mengembangkan dan
menjalankan pelelangan online secara live streaming. Namun Auctionata terlalu antusias
dalam mengembangkaan market size, dengan menerapkan praaktisi Shill Bidding. Shill
Bidding merupakan tindakan pelanggaran hukum dalam pelelangan, tindakan ini antara
lain adalah menawar dalam sebuah pelelangan yang diciptakan sendiri ataupun menawar
melalui perantara, menawar untuk orang lain yang dilakukan oleh penyelenggara
pelelangan terkait. (Levene, Joseph K. & Grunder, Robert. “Auctionata & Paddle8 Merge
Despite Serious Trade Violations by CEO”. thefineartblog.com. 2016).

KPMG “Klynveld Peat Marwick Goerdeler” pada tahun 2016 melakukaan audit
terhadap perusahaan Auctionata, berdasarkan hasil audit, ditemukan beberapa
kesenjangan dalam berbagai laporan yang dimiliki oleh Auctionata. Laporan KPMG
mencatat serangkaian hampir 600 item yang diserahkan ke Auctionata oleh Zackes antara
2013 dan 2014, dengan nilai agregat lebih dari € 500.000 ($ 569,440). KPMG menyatakan
bahwa Auctionata menghadapi denda, pencabutan izin perdagangan, dan kerusakan
reputasi yang signifikan, dan kemungkinan besar perusahaan mungkin tidak dapat
beroprasi kembali (Neuendorf, Henri. “Auctionata Accused of Serious Trade Violations”.
news.artnet.com. 2016).

CEO Auctionata Merusak Core Resource Perusahaan


Pelelangan secara live streaming dan online merupakan salah satu core resource
Auctionata. Namun dalam penerapannya, banyak terjadi pelelangan palsu yang dilakukan
oleh CEO Auctionata dan istrinya. Salah satu pemalsuan yang dilakukan adalah karya
seni milik Paul Klee yang bernama “Côte de Provence 5”.

11
Gambar 2 Pelelangan Palsu

Dalam melelangkan karya seni milik Paul Klee, pelelangan dilakukan secara
online dalam situs Auctionata dan live streaming. Namun kejanggalan terjadi ketika karya
seni berhasil terjual dengan nilai €200,000, namun tidak disebutkan profil dari pemenang
pelelangan tersebut, ataupun profil peserta pelelangan. Ketika pelelangan berakhir, karya
seni Paul Klee langsung menghilang tanpa adanya publikasi siapa yang memenangkan
pelelangan terhadap karya seni Paul Klee. Laporan ini ditemukan oleh KPMG selaku
auditor yang ditugaskan secara ironis oleh Auctionata pada tahun 2016 (Neuendorf,
Henri. “Auctionata Accused of Serious Trade Violations”. news.artnet.com. 2016).

Auctionata Gagal Menjaga Kepercayaan Investor & Pelanggan


Semenjak KPMG menyelanggarakan press release terhadap masalah yang terjadi
dalam Auctionata, 15 investor Auctionata mulai meninggalkan Auctionata, merging yang
dilakukan Auctionata dengan perusahaan Paddle8 juga kandas, dimana Paddle8 membeli
kembali Paddle8 dari Auctionata.

12
Gambar 3 Gagal Menjaga Kerpecayaan Investor dan Pelanggan

Auctionata menerima tuntutan karena melanggar hukum pelelangan dan


perdagangan setelah laporan KPMG terbit, hal ini mengakibatkan pelanggan secara
perlahan menghilang dan mulai menebarkan kejanggalan yang mereka rasakan selama
menggunakan layanan pelelangan Auctionata melalui sosial media (Lee, Evan. “Why diid
Auctionata Fail?”. collapsed.co. 2017).

Auctionata Gagal dalam Melakukan Manajemen SDM


Auctionata tidak dapat melakukan manajemen SDM dengan baik sejak kasus yang
dialami Auctionata mencapai jenjang hukum. Akibatnya, tercatat pada bulan desember
2016, Auctionata tidak dapat menggaji pegawainya. Hal ini terjadi karena Auctionata
tidak terbukaa kepaada pegawai terhadap masalah yang dialami, dan Auctionata tidak
mengurangi jumlah pegawai sebelum tidak dapat menggaji pegawainya sendiri.

13
Gambar 4 Reviews Pegawai yang telah Bekerja pada Perusahaan Auctionata

Mantan pegawai Auctionata menjelaskan pengalaman dan bagaimana manajemen


SDM yang dilakukan Auctionata ketika pegawai tersebut masih bekerja di Auctionata.
Dalam komentarnya pada situs Glassdoor, yang merupakaan situs lowongan pekerjaan,
mantan pegawai tersebut mengatakan bahwa CEO Auctionata tidak dapat melakukan
manajemen terhadap pegawainya dengan baik, tidak mau menerima saran dari siapapun
dan berfikir bahwa dia adalah yang paling benar. Manajer dalam perusahaan Auctionata
tidak dapat memberikan pendapat dan hanya mengikuti perintah CEO Auctionata
walaupun dirasa salah (Levene, Joseph K. & Grunder, Robert. “Auctionata & Paddle8
Merge Despite Serious Trade Violations by CEO”. thefineartblog.com. 2016).

14
2.3 Analisis kesuksesan Startup sejenis bernama Paddle8

Gambar 5 Logo Startup Paddle8

Paddle8 adalah rumah lelang online dari New York yang menjual fine art
termasuk seni post-war (pasca perang) dan kontemporer (fotografi, street art, barang
koleksi) yang ditemukan pada tahun 2011 oleh Alexandel Gilkes (sebelumnya adalah
LVMH executive dan chief auctioneer di rumah lelang Philips), Osman Khan (seorang
banker yang memiliki pengalaman di Goldman Sachs dan Perella Weinberg Partners dan
Harvard Business School MBA), dan Aditya Julka (seorang entrepreneur dan Harvard
Business School Baker Scholar). Harga yang ditetapkan berkisar antara $1000 sampai
dengan $100,000, yang semuanya sudah diperiksa oleh ahli untuk keasliannya. Kantor
Paddle8 berada di New York, Los Angeles, London, dan Hongkong.
Awalnya Paddle8 dibuat sebagai platform untuk mempresentasikan pameran seni
kontemporer secara online. Paddle8 kemudian mempertegas business modelnya untuk
hanya berfokus pada lelang. Paddle8 menghubungkan pembeli dan penjual fine art,
barang koleksi, desain, perhiasan, dan jam tangan melalui platform lelang online dan
aplikasi iPhone. Pada tahun 2014, Paddle8 sudah menjual lebih dari $35.8 juta lebih dari
barang-barang seni, dan mendapatkan keuntungan hingga lebih dari 146% di tahun
sebelumnya.
Paddle8 sudah bekerja sama dengan lebih dari 300 organisasi non-profit di seluruh
dunia, dari Museum Seni Los Angeles Country hingga Brooklyn Academy of Music dan
Guggenheim. Pada tahun 2016, Paddle8 bergabung dengan dengan Auctionata. Namun
kemudian pada Februari 2017 Auctionata mengalami kebangkrutan dan Paddle8 menjadi
perusahaan independen kembali.

15
Value Creation – Why do people choose you?
Nilai tambah yang diberikan oleh Paddle8 – penciptaan dan pengawasan pasar
yang terjadi antara buyers dan sellers. Pihak Paddle8 memberi nilai tambah pada buyers
dengan tambahan galeri dan artist di dalam sebuah produk sehingga membuat buyers
lebih percaya untuk melakukan transaksi. Hal ini berlaku terutama dengan banyaknya
permintaan dari pasar sehingga banyak customer yang tidak bisa terjun langsung ke lokasi
untuk melihat kondisi dari seni tersebut, maka dari itu dibuat sebuah teknologi virtual
yang memungkin pembeli dapat melihat produk seni secara close-up untuk dapat
memverifikasi apakah produk itu asli atau sebaliknya.
Nilai tambah ini dibuat untuk menjamin kualitas pada kedua belah pihak baik dari
buyers dan sellers. Untuk kebutuhan galeri dan artist ini berfungsi memberi gambaran
kepada pembeli untuk dapat memastikan produk yang dijual oleh sellers tersebut asli atau
tidak, dengan bertujuan untuk dapat meningkatkan daya tarik pembeli tersebut.

Model Bisnis Lean


Menurut direktur Paddle8 – Thomas Galbraith, Paddle8 telah menerapkan model
bisnis lean yang di mana telah menghilangkan beberapa bagian yang sangat merugikan
dalam proses pembelian dan penjualan lelang online tersebut, diantaranya:
merampingkan proses asuransi dan pengiriman barang, menghilang high cost dalam
pameran fisik dan memberikan fees yang rendah. Hal ini berdampak positif bagi buyers
dan sellers untuk dapat menyimpan kembali beberapa dananya tersebut.

Value Capture – How do you increase your revenue?


Menurut Co-founder Paddle8 - Aditya Julka, saat ini Paddle8 telah menjalankan
lebih dari ratusan pelelangan di mana sebagaian besarnya dalah filantropi. Dalam proses
pelelangan Paddle8 mengambil komisi sebesar 5-10% dari setiap penjualan. Jadi tidak
seperti situs rumah pelelangan online yang lain dengan memngambil komisi sekitar 20%,
namun bagi Paddle8 mengambil komisi kecil ini bertujuan membangun niat baik ke
masyarakat dan juga menambah banyak pembeli. Proses lelang di mulai dengan harga
yang telah disarankan oleh Paddle8 berdasarkan pada sisi objektif dari penjual seni
sebelumnya.

16
Funding
Suksesnya Startup Paddle8 tidak luput dari peran pendanaan yang diperoleh dari
beberapa investor. Menurut situs glasdoor.com, jumlah dana yang sudah dikumpulkan
selama enam tahun terakhir yaitu sekitar $83.5 M, untuk penjelasan dan rinciannya dapat
dijelaskan sebagai berikut.

Gambar 6 Funding Paddle8

Dilihat dari gambar diatas, setiap transaksi memiliki nama dan jumlah investor
yang join dengan startup Paddle-8. Dimulai dari tahun 2012 transasksi diberi nama Series
A - mendapatkan bantuan dana dari sebuah organisasi Founder Collective dengan jumlah
dana $4M. Pada tahun 2013 bernama Series B - mendapatkan bantuan dana dari 7
organisasi/perseorangan, yaitu Founder Collective, Semil Shah, Haystack, Mousse
Partners, Damien Hirst, Jay Jopling dan Alexander Furster dari nama-nama tersebut telah
berhasil mengumpul dana sebesar $6M. Pada tahun 2014 yang diberi nama Debt
Financing mendapatkan bantuan dari 3 investor yaitu Winklevoss Capital, Mousse
Partners dan Damien Hirst dengan bantuan dana sebesar $7M.
Pada tahun berikutnya yaitu 2015 dengan transaksi bernama Series C -
mendapatkan bantuan dana dari 9 investor, yaitu Mousse Partners, Lepe Partners, Damien
Hirst, Eric Fellner, Edgar Berger, David Zwimer, Jay Jopling, Stavros Niarchos dan Rolf
Sachs dengan bantuan investasi dana yang cukup besar yaitu $34M. Kemudian di dua

17
tahun berikutnya yaitu tahun 2016 dan 2017 yang bernama Convertible Note dan Funding
Round mendapatkan jumlah dana sekitar $12.5M dan $20M.

Pengelolaan SDM yang baik – How do you develop your team?


Paddle8 menurut situs crunchbase.com, tendapat beberapa reviews yang
dilakukan oleh pegawai yang pernah bekerja di Paddle8, berikut adalah penjelasan dari
beberapa reviews tersebut.

18
Gambar 7 Reviews Pegawai yang telah Bekerja pada Perusahaan Paddle8

Dilihat dari gambar diatas, dari sekian beberapa review dapat disimpulkan bahwa
pengelolaan SDM di Paddle8 cukup positif. Beberapa pegawai tersebut mengatakan
bahwa bekerja di Paddle8 sangat puas dan nyaman, diantaranya: Meningkatkan skill
leadership, adanya peluang untuk berkembang, tim yang selalu support satu sama lain,
pasar dari perusahaan yang sedang berkembang, anggota tim yang saling trusted,
lingkungan yang positif, manajemen yang transparan di mana memberi semua orang
wawasan yang sama dalam dunia model bisnis dan sistem yang sangat flexibel.

19
3. Saran Perbaikan
Auctionata sebaiknya mengikuti aturan yang disesuaikan dengan wilayah operasi
perusahaan, karena apabila sudah terjerat kasus, maka citra perusahaan akan selamanya
diingat dan akan sangat sulit memperbaiki image perusahaan kecuali perusahaan dapat
beralih haluan dengan nama baru dan target pasar yang berbeda.
CEO Auctionata seharusnya dapat menerimaa saran dari bawahannya, sehingga
dapat direncanakan exit strategy yang sesuai dengan permasalahaan yang akan dialami
kedepannyaa, sehingga perusaahaan dapat tetap beroprasi walaupun harus melaksanakan
berbagai penyesuaian dalam perusahaan.
Auctionata seharusnya terbuka terhadap pegawai ketika terjerat kasus pada tahun
2016, sehinggaa pegawai perusahaan dapat dikeluarkan sebelum Auctionata gagal dalam
memberikan gaji kepada pegawai, seperti yang tercatat pada bulan Desember 2016
(Coester, Christine G. “Nightmare in Berlin: What Happens When The Startup You Work
for Goes Broke”. theheureka.com. 2017).

20
Referensi
1. Wikipedia (2018). “Perusahaan Rintisan”. Diakses di website:
https://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan_rintisan pada tanggal 03 juni 2018.
2. Kompasiana (2016). “Bagaimana Startup di Indonesia Bisa Bertumbuh Tiap
Tahunnya?”. Diakses di website:
https://www.kompasiana.com/mulyanugraha/bagaimana-startup-di-
indonesia-bisa-bertumbuh-tiap-tahunnya_584ed7d57493734f63c894df pada
tanggal 03 juni 2018.
3. Makruv Digital (2016). “Belajar dari 8 gagalnya startup”. Diakses di website:
http://makruvadigital.com/blog/belajar-dari-kegagalan-8-start/ pada tanggal
03 juni 2018.
4. Startup Ranking (2018). “Ranking Startup di Dunia”. Diakses di website:
https://www.startupranking.com/countries pada tanggal 03 juni 2018.
5. Hartono Lapan, S (2018). “Merancang Smart Business Map yang Sukses”.
Diakses di website:
https://www.gomarketingstrategic.com/2018/01/merancang-smart-business-
map-sukses.html pada tanggal 22 juni 2018.
6. Budi Isman (2017). “Business and Management”. Diakses di website:
http://www.budiisman.com/blog/membedah-persoalan-sebuah-business-
lebih-baik-secara-holistik pada tanggal 22 juni 2018.
7. ArtNews (2016). “Auctionata Accused of Serious Trade Violations”. Diakses
di website: https://news.artnet.com/market/audit-auctionata-trade-violations-
464057 pada tanggal 23 juni 2018.
8. Joseph K. Levene (2016). “Auctionata & Paddle8 merge despite serious trade
violations by CEO”. Diakses di website:
http://blog.thefineartblog.com/2016/05/auctionata-paddle8-merge-
despite.html#axzz4obZ3rPt4 pada tanggal 23 juni 2018.
9. Christine G. Coester (2017). “Nightmare in Berlin: What happens when the
startup you work for goes broke?”. Diakses di website:
https://theheureka.com/nightmare-in-berlin-what-do-you-do-when-the-
startup-you-work-for-goes-broke pada tanggal 23 juni 2018.

21
10. Collapse.co (2017). “Why did Auctionata Fail?”. Diakses di website:
https://collapsed.co/startups/auctionata pada tanggal 23 juni 2018.
11. Wikipedia (2018). “Paddle8”. Diakses di website:
https://en.wikipedia.org/wiki/Paddle8 pada tanggal 23 juni 2018.
12. Forum Harvard Business School (2015). “Paddle8’s success in the online art
market”. Diakses di website:
http://www.hbs.edu/openforum/openforum.hbs.org/goto/challenge/understan
d-digital-transformation-of-business/paddle8-s-success-in-the-online-art-
market.html pada tanggal 23 juni 2018.
13. Thomas Galbraith (2015). “Paddle8 Sets the Stage for Online Art Auctions
Today”. Diakses di website: https://www.huffingtonpost.com/elizabeth-
baudouin/paddle8-sets-the-stage-fo_b_7861616.html pada tanggal 23 juni
2018.
14. Forbes (2013). “Paddle8 Got A Lift From Charity Auctions -Now It Needs To
Make Real Money”. Diakses di website:
https://www.forbes.com/sites/natalierobehmed/2013/10/23/paddle8-got-a-
lift-from-charity-auctions-now-it-needs-to-make-real-money/#25b702154aed
pada tanggal 23 juni 2018.

22

Anda mungkin juga menyukai