Anda di halaman 1dari 7

Konsep Pembagi Tegangan (Voltage Divider) dan Penerapannya pada

Mikrokontroler

Rangkaian Dasar

Pembagi tegangan (Voltage Divider) secara sederhana dibentuk oleh


rangkaian seri dari dua buah hambatan, dengan sebuah suplai tegangan. Diantara
kedua hambatan tersebut, diambil sebuah jalur yang akan digunakan sesuai
keperluan kita, misalnya sebagai inputan ke mikrokontroler. Amatilah Gambar 1
berikut:

Gambar 1. Rangkaian dasar pembagi tegangan


Persamaan Matematis

Asumsi terdapat arus tunggal yang mengalir pada rangkaian tersebut (I1= I2= I),
dan dua buah resistor (R1dan R2) yang terhubung secara seri kita jadikan sebagai
sebuah hambatan pengganti. Maka rangkaiannya dapat disederhanakan seperti pada
Gambar 2.

Gambar 2. Rangkaian penyederhanaan

Seperti yang telah kita ketahui bahwa R = R1+R2, maka arus yang mengalir pada
rangkaian adalah:

Karena I ekuivalen dengan I2, maka Vout dapat dicari sebagai berikut:

Dengan mengubah susunan persamaan di atas, maka rumus pembagi tegangan yang
HARUS diingat dan dipahami adalah sebagai berikut:
Dalam penerapannya, hanya dengan mengatur-atur besar R1 dan R2, kita dapat
memperoleh variasi tegangan output Vout.

Potensiometer

Potensiometer adalah salah satu alat yang memanfaatkan prinsip pembagi tegangan.
Amatilah beberapa contohnya berikut:

Gambar 3. Berbagai variasi jenis potensiometer

Track pada potensiometer bersifat resistif (beberapa jenis dapat bersifat


kapasitif). Pergeseran tangkai wiper akan mengubah-ubah besarnya hambatan pada
dua bagian track yang terbagi oleh wiper tersebut. Potensiometer ini bekerja dengan
prinsip pembagi tegangan (voltage-divider).
Gambar 4. Komponen penyusun potensiometer

Amatilah contoh aplikasi potensiometer yang dirangkai dengan


mikrokontroler, seperti yang terlihat pada Gambar 5. Pada Gambar tersebut,
potensiometer dapat bertindak sebagai pengganti SEMUA sensor berjenis analog.
Sebab, pada dasarnya sistem kerja sensor analog adalah mengirimkan variasi
sinyal-sinyal analog ke mikrokontroler, dan ini dapat diwakilkan oleh
potensiometer. Sebelum masuk ke mikrokontroler, sinyal tersebut harus melewati
pin ADC (analog-to-digital converter) untuk dikonversi menjadi sinyal digital.
Amatilah Gambar berikut:

Gambar 5. Pembagi tegangan dapat menghasilkan variasi sinyal analog yang


masuk ke mikrokontroler
Asumsi jika R1 mendekati nol (R1 - 0), maka:

Sekarang, asumsi jika R2mendekati nol (R2 - 0), maka:

Dengan demikian, kita akan mendapat variasi tegangan dari 0 - Vs. Jika
menggunakan tegangan Vs sebesar 5 Volt, maka kita akan mendapatkan variasi dari
0 - 5V. Tegangan 0 - 5V ini sesuai dengan kebutuhan pada kebanyakan jenis
mikrokontroler.

Penerapan pada Sensor

Beberapa sensor tidak dapat mengubah tegangan listrik secara langsung,


misalnya LDR. LDR (Light Dependent Resistor) akan menghasilkan perubahan
hambatan listrik berdasarkan intensitas cahaya yang mengenainya. Semakin
banyak intensitas cahaya yang mengenai sensor (semakin terang), maka resistansi
akan semakin kecil. Demikian pula sebaliknya, jika intensitas cahaya semakin kecil
(semakin gelap), maka hambatan pada sensor tersebut semakin besar).

Nilai resistansi yang berubah tidak akan berarti apa-apa tanpa dilakukan
suatu perlakuan khusus terhadap sensor tersebut. Mengapa? Sebab, perubahan
resistansi listrik tidak akan berpengaruh apa-apa, sebelum komponen
tersebut dialirkan suatu arus listrik. Ingat, parameter yang kita inginkan dalam
kaitannya dengan mikrokontroler adalah tegangan listrik, bukan resistansi listrik.
Oleh karena itu, kita harus mengolah perubahan resistansi listrik menjadi perubahan
tegangan listrik. Agar dapat terbaca oleh mikrokontroler, kita dapat menggunakan
prinsip pembagi tegangan. Kita dapat menempatkan sensor LDR tersebut untuk
menggantikan R1atau R2pada Gambar 5.
Gambar 6. Konfigurasi sensor LDR berdasarkan prinsip pembagi tegangan

Amatilah Gambar 6. Pada Gambar tersebut, sebuah sensor LDR akan


menggantikan hambatan R1pada Gambar 5. Apakah kita dapat meletakkannya di
R2? Jawabannya adalah bisa. Namun, sifatnya akan terbalik. Amatilah kedua rumus
di atas, yaitu ktika R1 mendekati nol maupun ketika R2mendekati nol. Terlihat jelas
bahwa ketika sensor LDR ditempatkan di R1, maka ketika cahaya makin terang
(R1mendekati nol), input tegangan ke mikrontroler akan makin besar. Namun, jika
ditempatkan di R2, maka ketika cahaya makin terang (R2mendekati nol), input ke
mikrokontroler akan makin kecil.

Perhatian!

Jangan pernah gunakan pembagi tegangan sebagai step-down power supply !


Misalnya, kita ingin membuat power suplai 5Volt dari sumber 12Volt. Pembagi
tegangan jangan digunakan sebagai power supplay untuk menyuplai berbagai
beban.

Amati Gambar 1 (paling atas). Arus yang dibutuhkan oleh beban juga akan
melalui R1. Arus dan tegangan di sepanjang R1 akan mendisipasi daya, yang dapat
menghasilkan panas. Jika daya yang dihasilkan melebihi rating daya yang dimiliki
oleh resistor (umumnya antara 1/8Watt sampai 1Watt), maka akan timbul masalah,
misalnya dapat membakar resistor tersebut! Pembagi tegangan juga tidak efisien
sebagai power supplay. Dengan demikian, jika kita membutuhkan penurun
tegangan, gunakanlah voltage regulator.

Referensi

Wardana, INK., 2016, Teknik Antarmuka MATLAB dan Arduino, VIP Publication
& Miarana DIY.
Jimbo, 2013, Voltage Dividers, https://learn.sparkfun.com/tutorials/voltage-
dividers