Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Demokrasi merupakan suatu terminologi yang sarat dengan makna
hal ini disebabkan oleh pengertiannya yang berkaitan erat dengan sistem
sosial yang mendukungnya. Terlebih pada saat ini hampir semua negara
yang ada di dunia menyatakan bahwa sistem pemerintahannya adalah
demokrasi sebagaimana yang dinyatakan oleh Sri Soemantri bahwa
sekarang ini tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak berasakan
demokrasi. Meskipun arti yang diberikan kepada demokrasi tersebut tidak
sama, namun setiap negara akan selalu mengatakan bahwa negaranya
berdasarkan pada azas-azas demokrasi (Sri Soemantri 1992).
Dapat pula kita ketahui bahwa demokrasi merujuk kepada konsep
kehidupan negara dan masyarakat. Pada suatu negara yang sistem
pemerintahannya demokrasi maka warga negaranya turut berpartisipasi
dalam pemerintahan melalui para wakil-wakilnya yang berada di DPR
yang telah dipilih melalui proses pemilihan umum. Pemerintahan dalam
negara demokrasi pada umumnya menjamin terciptanya keadilan,
penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah makna demokrasi itu?
2. Apa itu demokratisasi?
3. Bagaimana pelaksanaan demokrasi di Indonesia?
4. Bagaimana landasan sistem politik demokrasi di Indonesia?
5. Apa pendidikan demokrasi dan hal-hal yang berkaitan dengan hal
tersebut?
1.3 Tujuan Makalah
Penulisan dari makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan
dan pengetahuan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan
demokrasi.
BAB II
ISI

2.1 Makna Demokrasi

Gambar 2.1.1. Demokrasi di Masa Yunani


Demokrasi merupakan suatu terminologi yang sarat dengan makna hal ini
disebabkan oleh pengertiannya yang berkaitan erat dengan sistem sosial yang
mendukungnya. Sejarah demokrasi sendiri lahir pada abad ke 4 SM – 6 SM
demokrasi dipraktikkan pada saat itu adalah demokrasi langsung (direct
democracy), artinya hak rakyat untuk membuat keputusan-keputusan politik
dijalankan secara langsung oleh seluruh rakyat atau warga negara. Hal ini dapat
dilakukan karena di Yunani pada waktu itu merupakan negara kota (polis) yang
penduduknya terbatas pada sebuah kota dan daerah sekitarnya. Namun masih ada
pembatasan, misalnya para anak, wanita, dan para budak tidak berhak
berpartisipasi dalam pemerintahan.
Kemudian karena adanya perkembangan jumlah penduduk, demokrasi
langsung tidak dapat diterapkan lagi atau sulit untuk dilaksanakan dengan alasan:
a. Tidak ada tempat yang menampung seluruh warga yang jumlahnya
cukup banyak.
b. Untuk melaksanakan musyawarah dengan baik dengan jumlah yang
cukup banyak sulit untuk dilaksanakan.
c. Hasil persetujuan secara bulat mufakat sulit untuk dicapai, karena sulit
memungut suara dari peserta yang hadir.
d. Masalah yang dihadapi negara semakin kompleks.
Demokrasi atas dasar penyaluran kehendak rakyat ada 2 (dua) mecam
yaitu:
a. Demokrasi langsung
Adalah paham demokrasi yang mengikutsertakan setiap warga
negaranya dalam permusyarawatan untuk menentukan kebijaksaan
umum dan undang-undang.
b. Demokrasi tidak langsung
Adalah paham demokrasi yang dilaksanakan melalui sistem
perwakilan dan biasanya dilakukan melalui pemilihan umum.
Makna demokrasi-pun sendiri ada bermacam-macam pengertian.
1. Pengertian Demokrasi secara bahasa atau etimologis (Etimologis
Demokrasi)
Jika ditinjau dari sudut bahasa (etimologis), demokrasi berasal dari
bahasa yunani yaitu demos yang berarti rakyat dan cratos atau cratein
yang berarti pemerintahan atau kekuasaan. Jadi secara bahasa, demos-
cratein atau demos-cratos berarti pemerintahan rakyat atau kekuasaan
rakyat.
2. Pengertian secara istilah atau terminologis (Terminologis Demokrasi)
Jika ditinjau dari sudut terminologis. Beberapa definisi tentang
demokrasi telah dikemukakan oleh para ahli yaitu:
a. Henry B. Mayo:
Yang menyatakan bahwa sistem politik demokrasi adalah sistem yang
menunjukkan bahwa kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas
oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-
pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan
diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik.
b. C.F. Strong:
Yang menyatakan bahwa demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan di
mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikut serta atas
dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintahan akhirnya
mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan kepada mayoritas itu.
c. Samuel Huntington:
Yang menyatakan bahwa sistem politik sebagai demokrasi sejauh para
pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih
melalui pemilihan umum yang adil, jujur, dan berkala dan di dalam sistem
itu para calon bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir semua
penduduk dewasa berhak memberikan suara.
Pengertian demokrasi yang paling populer telah dikemukakan pada tahun
1863 oleh Abraham Lincoln yang mengatakan bahwa demokrasi adalah
pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (government of the
people, by the people, and for the people).
Dalam negara demokrasi kekuasaan pemerintahan berada di tangan rakyat,
rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi atau kedaulatan di negara tersebut
berada di tangan rakyat. Jadi pemerintahan yang menempatkan rakyat sebagai
pemegang kekuasaan tertinggi sehingga disebut pemerintahan demokrasi.
Kebebasan dan persamaan adalah fondasi demokrasi, kebebasan dianggap
sebagai sarana mencapai kemajuan dengan memberikan hasil maksimal dari usaha
orang tanpa adanya pembatasan dari penguasa. Jadi bagian yang tak terpisahkan
dari ide kebebasan adalah pembatasan kekuasaan penguasa politik.

Gambar 2.1.2. Makna Demokrasi


Demokrasi adalah sistem politik yang melindungi kebebasan warganya sekaligus
memberi tugas pemerintah untuk menjamin kebebasan tersebut. Demokrasi pada
dasarnya merupakan pelembagaan dari kebebasan.
3. Konsep Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan
Pada masa lalu menurut filusuf Yunani demokrasi dipahami sebagai
bentuk pemerintahan dan sistem pemerintahan atau politik.
Sedangkan mengenai bentuk-bentuk pemerintahan secara klasik menurut
Plato, yaitu:
a. Monarki adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipegang seseorang
sebagai pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan rakyat yang
banyak.
b. Tirani adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang
sebagai pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan pribadi.
c. Aristrokasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh
sekelompok orang yang memimpin dan dijalankan untuk kepentingan
orang yang banyak.
d. Oligarki adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh
sekelompok dan dijalankan untuk kepentingan kelompok itu sendiri.
e. Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat
dan dijalankan untuk kepentingan rakyat.
f. Mobokrasi/ Okhlokarsi adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipegang
oleh rakyat tetapi rakyat yang tidak tahu apa-apa, rakyat yang tidak
berkependidikan, tidak paham tentang pemerintahan yang akhirnya
pemerintahan yang dijalankan tidak berhasil untuk kepentingan orang
banyak.
Bentuk pemerintahan yang baik adalah monarki, aristokasi, demokrasi.
Sedangkan bentuk pemerintahan yang buruk adalah tirani, oligarki, mobokrasi.
Bentuk-bentuk pemerintahan seperti itu sudah tidak dianut lagi oleh banyak
negara saat ini.
Adapun bentuk pemerintahan yang dianut oleh banyak negara saat ini
seperti yang dinyatakan oleh Machiavelli, yaitu:
a. Monarki, bentuk pemerintahan yang besifat kerajaan dengan pemimpin
negara yang bergelar raja, ratu, kaisar, atau sultan. Penunjukkan pemimpin
negara didasarkan pada keturunan atau warisan. Contoh: di negara Inggris,
Malaysia, Jepang, Arab Saudi.
b. Republik merupakan bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang
presiden atau perdana menteri. Penunjukkan pemimpin Negara
berdasarkan pemilihan. Contoh: di negara Amerika Serikat dan Indonesia.
4. Demokrasi sebagai Sistem Politik
Sistem politik dikatakan sebagai demokratis apabila para pembuat
keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih melalui pemilihan
umum yang bebas, adil, dan jujur dan semua penduduk dewasa berhak
memberikan suara.
Menurut Samuel Huntington (2001), sistem politik dibedakan menjadi:
a) Sistem politik demokrasi, yaitu sistem pemerintahan dalam suatu negara
yang menjalankan prinsip-prinsip demokrasi.
b) Sistem politik nondemokrasi, yaitu sistem pemerintahan dalam suatu
negara yang tidak menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Sistem ini
terdiri dari: otoriter, totaliter, sistem diktaktor, rezim militer, rezim satu
partai, monarki absolut, dan sistem komunis.
Adapun prinsip-prinsip pokok sistem politik demokras adalah sebagai
berikut:
1) Pembagian kekuasaan; kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif
berada pada bagian yang berbeda.
2) Pemerintahan konstitusional; pemerintahan yang berdasar pada undang-
undang dasar;
3) Pemerintahan berdasarkan hukum; Rechtsstaat (Bahasa Belanda) atau
RuleofLaw (Bahasa Inggris);
4) Pemerintahan mayoritas.
5) Pemerintahan dengan diskusi.
6) Pemilihan umum yang bebas.
7) Partai politik lebih dari satu (multi partai) dan mampu menjalankan
fungsinya.
8) Manajemen yang terbuka.
9) Pers yang bebas.
10) Pengakuan terhadap hak-hak minoritas.
Kebalikan dari prinsip-prinsip sistem politik demokrasi adalah
kediktaktoran yang berlaku pada sistem politik otoriter atau totaliter. Prinsip-
prinsip ini bisa juga disebut sebagai prinsip sistem politik nondemokrasi, yaitu
sebagai berikut:
1) Pemusatan kekuasaan, yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif
menjadi satu, yang artinya ketiganya dipegang oleh satu badan.
2) Pemerintahan berdasarkan kekuasaan tidak berdasarkan konstitusi.
3) Terciptanya prinsip negara kekuasaan (Rule of Power) bukan negara
hukum (Rule of Law).
4) Pembentukkan pemerintahan melalui dekrit bukan melalui pemilihan.
5) Pemilihan umum tidak demokratis.
6) Terdapat satu partai politik.
7) Tidak adanya kebebasan pers, kebebasan pers sangat dibatasi.
8) Tidak ada perlindungan terhadap hak asasi manusia.
9) Badan peradilan yang tidak bebas dan dapat diintervensi oleh penguasa.
10) Mekanisme dalam kehidupan politik yang tidak pernah berubah.

5. Demokrasi sebagai Standar Perilaku


Dewasa ini demokrasi tidak hanya sekedar dipahami sebagai sistem politik
saja, namun demokrasi telah dapat dipahami sebagai standar perilaku dan
pandangan hidup (way of life). Sehingga tentunya membutuhkan usaha nyata dari
setiap warga masyarakat ataupun penyelenggara negara untuk senantiasa
berperilaku demokratis, yang maksudnya adalah dalam melakukan berbagai
perbuatan senantiasa berdasarkan pada nilai-nilai demokrasi yang ada terlebih
bagi kita yang hidup di negara Indonesia yang menganut sistem demokrasi
Pnacasila.
Penerapan nilai-nilai demokrasi dapat menciptakan perilaku warga
masyarakat yang demokratis di mana perilaku itu akan membentuk budaya atau
kultur demokrasi.
2.2 Demokratisasi
Demokratisasi adalah proses mengimplementasikan demokrasi sebagai
sistem politik dalam kehidupan bernegara. Miriam Budiarjo menyatakan bahwa
dalam sistem politik demokrasi perlu dibentuk lembaga-lembaga demokrasi untuk
melaksanakan nilai-nilai demokrasi. Contoh lembaga demokrasi adalah
pemerintah, partai politik, pers, dewan perwakilan rakyat, dan lembaga peradilan.
Demokratisasi adalah proses pendemokrasian segenap rakyat untuk turut
serta dalam pemerintahan melalui wakil-wakilnya atau turut serta dalam berbagai
bidang kegaitan (masyarakat/negara) baik langsung atau tidak langsung, dengan
mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi
warga negara. Pengertian demokrasi juga dapat dikatakan sebagai proses menuju
demokrasi yang disebut sebagai demokratisasi. Dalam menuju ke demokrasi yang
kita dambakan merupakan proses yang tidaklah mudah.
Demokratisasi merupakan jalan keluar dari otoritarianisme, disebabkan,
demokratisasi adalah proses yang mengembalikan hak-hak rakyat, sehingga
mengapa banyak rakyat yang menyukai demokrasi, sedangkan dibawah
pemerintahan yang sifatnya atau bentuknya otoriter dengan meniadakan
demokrasi, menyebabkan hak-hak rakyat untuk berpartisipasi dalam kegiatan
politik, kebudayaan, atau ekonomi dibatasi. Karena itu dukungan terhadap
demokratisasi akan sangat menentukan keberhasilan proses tersebut.
Demokratisasi adalah suatu perubahan baik itu perlahan maupaun secara
cepat kearah demokrasi. Demokratisasi ini menjadi tuntutan global yang tidak
bisa dihentikan. Jika demokratisasi tidak dilakukan, maka bayaran yang harus
diterima adalah balkanisasi, perang saudara yang menumpahkan darah, dan
kemunduran ekonomi dengan sangat parah (BJ Habibie 2005).
Demokratisasi di suatu sistem pemerintahan memerlukan proses yang
tidaklah mudah. Pada saat perubahan terjadi, selalu ada orang yang tidak ingin
melakukan perubahan terus menerus, atau ada manusia yang tidak mampu
menyesuaikan diri. Dalam kontes demokratisasi, peran individu yang mampu
menerima perubahan itu sangat penting. Untuk itulah, individu harus punya
tanggung jawab. Apalagi globalisasi yang terus mendorong perubahan yang tidak
bisa ditahan oleh Negara manapun.
Demokratisasi biasanya terjadi ketika ekspektasi terhadap demokrasi
muncul dari dalam Negara sendiri, karena warga negaranya melihat system politik
yang lebih baik, seperti yang berjalan dinegara demokrasi lain yang telah mapan,
akan bisa juga dicapai oleh Negara tersebut. Dengan kata lain, pengaruh
internasional datang sebagai sebuah inpirasi yang kuat bagi warga Negara di
dalam Negara itu.
Sebuah negara yang sedang menjalani demokratisasi sangat mudah
dipengaruhi oleh faktor – faktor eksternal. Pengaruh internasional dari sebuah
proses demokratisasi bisa terjadi dalam beberapa bentuk, seperti : contagion,
control dan conditionality.
i. Contagion terjadi ketika demokratisasi di sebuah Negara mendorong
gelombang demokratisasi di negara lain. Proses demokratisasi di Negara –
Negara Eropa Timur setelah perang dingin usai dan juga gelombang
demokratisasi di Negara – Negara Amerika Latin pada tahun 1970-an
menjadi contoh signifikan.
ii. Mekanisme control terjadi ketika sebuah pihak di luar Negara berusaha
menerapkan demokrasi di negara tersebut. Misalnya, Doktrin Truman
1947 mengharuskan Yunani untuk memenuhi beberapa kondisi untuk
mendapatkan status sebagai “Negara demokrasi” dan karenanya berhak
menerima bantuan anti komunisme dari Amerika Serikat.
iii. Conditionality yaitu tindakan yang dilakukan organisasi internasional yang
memberi kondisi – kondisi tertentu yang harus dipenuhi negara penerima
bantuan.

A. Prinsip-prinsip Demokrasi
1) Keterlibatan warga negara dalam pembuatankeputusan politik.
2) Tingkat persamaan (kesetaraan) tertentu antara warga negara.
3) Tingkat kebebasan atau kemerdekaan tertentu yang diakui dan dipakai
oleh para warga negara.
4) Penghormatan terhadap supremasi hukum.
5) Pemilu berkala.
6) Bentuk pemerintahan harus didukung olehpersetujuan umum.
7) Hukum yang berlaku dibuat oleh wakil-wakil rakyat. (melalui pemilu)
8) Kepala Negara dipilih langsung melalui pemilihan umum.
9) Hak-hak pilih aktif diberikan kepada sejumlah besar rakyat. (sederajat)
10) Jabatan-jabatan pemerintahan harus dapat dipangku oleh masyarakat.

B. Proses Demokratisasi di Indonesia


1) Demokratisasi Indonesia hadir setelah orde baru berakhir.
2) Muncul tuntutan reformasi terhadap pemerintahan.
3) Pasca jatuhnya rezim ordebaru, proses pemerintahan secara perlahan
menuju ke demokratis.
4) Perubahan pola pemerintahan sentralistis -> desentralitis memberi
kesempatan awal.
5) Didukung dengan perubahan tata cara kepemiluan dan sistem kepartaian.

C. Persyaratan Demokrasi
 Konsensus di antara komunitas warga negara.
 Kesadaran untuk mengadopsi aturan-aturan demokrasi.
 Toleransi terhadap adanya perbedaan.
Secara singkat, kriteria untuk proses demokrasi (demokratisasi) menurut
Robert A. Dahl sebagai berikut:

Keterangan:
1. Partisipasi efektif adalah sebelum sebuah kebijakan digunakan oleh asosiasi
(negara), seluruh anggota harus mempunyai kesempatan yang sama dan
berpartisipasi efektif, agar pandangan mereka diketahui oleh anggota-anggota
lainnya sebagaimana seharusnya kebijakan itu dibuat.
2. Persamaan suara adalah bila sebuah keputusan tentang kebijakan dibuat, maka
setiap anggota harus mempunyai kesempatan yang sama dan efektif untuk
memberikan suara dan seluruh suara harus dihitung sama.
3. Pemahaman yang jelas adalah dalam batas waktu yang rasional, setiap anggota
harus mempunyai kesempatan yang sama dan efektif untuk mempelajari
kebijakan-kebijakan alternatif yang relevan dan konsekuensi-konsekuensi yang
mungkin.
4. Pengawasan agenda adalah setiap anggota harus mempunyai kesempatan
eksklusif untuk memutuskan bagaimana dana permasalahan yang dibahas dalam
agenda.
5. Pencakupan orang dewasa adalah semua, atau paling tidak sebagian besar orang
dewasa yang menjadi penduduk tetap seharusnya memiliki hak kewarganegaraan
penuh yang ditunjukkan oleh empat kriteria sebelumnya.

2.3 Pelaksanaan Demokrasi Di Indonesia


1. Demokrasi di Desa
Sesungguhnya bangsa Indonesia sudah lama melaksanakan nilai-nilai
demokrasi meskipun masih sederhana. Menurut Mohammad Hatta, dalam Padmo
Wahyono (1990), desa-desa di Indonesia sudah menjalankan demokrasi, misalnya
dengan pemilihan kepala desa dan adanya rembug desa. (hal ini merupakan
pelaksanaan demokrasi asli di Indonesia)
Demokrasi desa memiliki 5 (lima) unsur, yaitu:
1. Rapat;
2. Mufakat;
3. Gotong royong;
4. Hak mengadakan protes bersama;
5. Hak menyingkir dari kekuasaan raja absolut.
2. Demokrasi Parlementer (1945-1959)
a. Lahirnya Demokrasi Parlementer
Parlementer adalah suatu demokrasi yang menempatkan kedudukan badan
legislatif lebih tinggi daripada eksekutif. Pada tanggal 14 November 1945,
pemerintah RI mengeluarkan maklumat yang berisi perubahan sistem
pemerintahan presidensial menjadi sistem parlementer dengan sistem
demokrasi liberal, kekuasaan ditujukan untuk kepentingan individu atau
golongan. Dengan sistem kabinet parlementer, menteri-menteri bertanggung
jawab kepada DPR.
Keluarnya Maklumat Pemerintah 3 November 1945 memberi peluang
yang seluas-luasnya terhadap warga negara untuk berserikat dan berkumpul,
sehingga dalam waktu singkat bermunculanlah partai- partai politik bagai
jamur di musim penghujan. Dampak negatif diberlakukannya Dekrit Presiden
5 Juli 1959, adalah sebagai berikut. Ternyata UUD 1945 tidak dilaksanakan
secara murni dan konsekuen. UUD 45 yang harusnya menjadi dasar hukum
konstitusional penyelenggaraan pemerintahan pelaksanaannya hanya menjadi
slogan-slogan kosong belaka.
Demokrasi parlementer, berlangsung ketika berlakunya konstitusi RIS
1949 dan UUDS 1950 dinyatakan sebagai demokrasi parlementer karena
pemegang kekuasaan terhadap jalannya pemerintahan secara luas berada di
tangan parlemen, dimana parlemen dapat membubarkan kabinet pemerintahan
yang berkuasa. Dalam periode demokrasi parlementer dikenal pula sebagai
demokrasi liberal.
b. Ciri-ciri Demokrasi Parlementer
1. Sistem multi partai,
2. Pengambilan keputusan berdasarkan suara mayoritas (voting),
3. Seringnya jatuh bangun kabinet karena mosi tidak percaya dari
parlemen; serta
4. Maraknya demonstrasi untuk mendukung atau menjatuhkan
pemerintahan.
c. Penyimpangan Demokrasi Parlementer
Pada masa demokrasi parlementer, kekuasaan presiden hanya terbatas
sebagai kepala negara. Sedangkan kekuasaan pemerintah dilaksanakan oleh
partai. Perbedaan ideologi dari partai-partai yang berkembang masa demokrasi
parlementer menimbulkan perbedaan pemahaman mengenai kehidupan
berbangsa dan bernegara yang berdampak pada terancamnya persatuan di
Indonesia.
3. Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
a. Lahirnya Demokrasi Terpimpin
Demokrasi terpimpin (Demokrasi terkelola), berlangsung setelah
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 oleh Soekarno. Paham demokrasi ini
muncul disebabkan ketidakstabilan politik dan pemerintahan sebelumnya
sehingga demokrasi dianggap telah berjalan kebablasan. Demokrasi harus
dijalankan berintikan musyawarah mufakat secara gotong-royong dan secara
idiologis yang berkembang adalah paham sosialis. Dalam masa demokrasi
terpimpin pemegang kekuasaan terhadap jalannya pemerintahan secara luas
berada di tangan presiden dan bahkan presiden dapat membubarkan parlemen.
Dinyatakan sebagai demokrasi terpimpin karena adanya anggapan bahwa
keterbatasan pendidikan dan pengetahuan rakyat menyebabkan demokrasi harus
dilaksanakan secara terpimpin.
Dalam suasana yang mengancam keutuhan teritorial sebagaimana kata
Feith, dan ancaman perpecahan sebagai mana kata Soepomo, itulah muncul
gagasan “Demokrasi Terpimpin” yang di lontarkan Presiden Soekarno pada bulan
februari 1957. mula mula pandangan ini dicetuskan oleh partai Murba, serta
Chaerul Saleh dan Ahmadi. Namun gagasan tanpa perbuatan tidak terlalu berarti
dibanding gagasan dan perbuatan langsung dalam usaha mewujudkan gagasan itu
dan inilah yang di lakukan Soekarno.
b. Ciri-ciri Demokrasi Terpimpin
1. Adanya partai penguasa/partai mayoritas,
2. Keputusan politik mutlak ditangan presiden,
3. Pembatasan hak politik rakyat (kooptasi dan pembubaran partai politik dan
organisasi kemasyarakatan)
c. Tugas dan Pelaksanaan Demokrasi Terpimpin
Demokrasi Terpimpin harus mengembalikan keadaan politik negara yang
tidak stabil sebagai warisan masa Demokrasi Parlementer/Liberal menjadi lebih
mantap/stabil. Demokrasi Terpimpin merupakan reaksi terhadap Demokrasi
Parlementer/Liberal. Pemerintah berusaha menata kehidupan politik sesuai
dengan UUD 1945. Dibentuk lembaga-lembaga negara antara lain MPRS, DPAS,
DPRGR, dan Front Nasional.
d. Penyimpangan-penyimpangan Pelaksanaan Demokrasi Terpimpin
UUD 1945 Penataan kehidupan politik menyimpang dari tujuan awal,
yaitu demokratisasi (menciptakan stabilitas politik yang demokratis) menjadi
sentralisasi (pemusatan kekuasaan di tangan presiden). Kebebasan partai dibatasi
Presiden cenderung berkuasa mutlak sebagai kepala negara sekaligus kepala
pemerintahan.
1. Kedudukan Presiden. Berdasarkan UUD 1945, kedudukan Presiden berada di
bawah MPR. Akan tetapi, kenyataannya bertentangan dengan UUD 1945, sebab
MPRS tunduk kepada Presiden. Presiden menentukan apa yang harus diputuskan
oleh MPRS.
2. Pembentukan MPRS. Tindakan tersebut bertentangan dengan UUD 1945
karena Berdasarkan UUD 1945 pengangkatan anggota MPRS sebagai lembaga
tertinggi negara harus melalui pemilihan umum sehingga partai-partai yang
terpilih oleh rakyat memiliki anggota-anggota yang duduk di MPR.
3. Pembubaran DPR dan Pembentukan DPR-GR. Tindakan presiden tersebut
bertentangan dengan UUD 1945 sebab berdasarkan UUD 1945 presiden tidak
dapat membubarkan DPR.
4. Pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara.
5. Pembentukan Front Nasional
6. Pembentukan Kabinet Kerja
7. Keterlibatan PKI dalam Ajaran Nasakom. Keterlibatan PKI tersebut
menyebabkan ajaran Nasakom menyimpang dari ajaran kehidupan berbangsa dan
bernegara serta mengeser kedudukan Pancasila dan UUD 1945 menjadi komunis.
Selain itu PKI mengambil alih kedudukan dan kekuasaan pemerintahan yang sah.
PKI berhasil meyakinkan presiden bahwa Presiden Sukarno tanpa PKI akan
menjadi lemah terhadap TNI.
8. Adanya ajaran RESOPIM. Dampak dari sosialisasi Resopim ini maka
kedudukan lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara ditetapkan dibawah
presiden. Hal ini terlihat dengan adanya pemberian pangkat menteri kepada
pimpinan lembaga tersebut, padahal kedudukan menteri seharusnya sebagai
pembantu presiden.
4. Demokrasi Pancasila pada Masa Orde Baru (1966-1998)
a. Lahirnya Demokrasi Pancasila
Menurut Prof. Dardji Darmodihardjo,S.H. Demokrasi pancasila adalah
paham demokrasi yang bersumber pada kepribadian dan falsafah hidup bangsa
Indonesia yang perwujudannya seperti dalam ketentuan-ketentuan seperti dalam
pembukaan UUD 1945. Demokrasi pancasila dimulai dari orde baru yang dicikal
bakali oleh salah satu kejadian sejarah penting yaitu Supersemar yang merupakan
surat dari Soekarno kepada Soeharto untuk mengambil tindakan kepemerintahan
Negara Republik Indonesia, dengan salah satu tugasnya mengbubarkan PKI
dengan ormas-ormasnya pada tanggal 12 Maret 1966. Yang akhirnya memberi
gelar kepada Soeharto sebagai pahlawan revolusi dan mempermudah jalannya
menjadi Presiden Indonesia setelah ditunjuk oleh A. H. Nasution tanggal 12 Maret
1967 pada sidang istemewa MPRS, setahun kemudian.
Demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang berjalan didasarkan
pada nilai-nilai Pancasila sebagaimana termuat dalam pembukaan UUD’45. Pada
masa orde baru pemegang kekuasaan terhadap jalannya pemerintahan secara luas
berada di tangan presiden.Pelaksanaan demokrasi orde baru ditandai dengan
keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966, Orde Baru bertekad akan melaksanakan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen.

b. Ciri-ciri Demokrasi Pancasila


1. Adanya partai penguasa/golongan mayoritas,
2. Keputusan politik mutlak ditangan presiden,
3. Pembatasan hak politik rakyat (kooptasi terhadap partai politik dan organisasi
kemasyarakatan serta pembatasan jumlah partai politik),
4. Diberlakukannya asas tunggal pancasila dan
5. Dominasi militer dalam pemerintahan (dwi fungsi ABRI).

c. Adapun Prinsip-prinsip Demokrasi Pancasila:


1. Persamaan bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Keseimbangan antara hak dan kewajiban.
3. Pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan
Yang Maha Esa, diri sendiri, dan orang lain.
4. Mewujudkan rasa keadilan social.
5. Pengambilan keputusan dengan musyawarah mufakat.
6. Mengutamakan persatuan nasional dan kekeluargaan.
7. Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional

d. Pelaksanaan Demokrasi Pancasila


Awal pelaksanaan sistem demokrasi pancasila dilakukan sebuah
penyederhanaan sistem kepartaian. Kemudian muncul lah kekuatan yang dominan
yaitu golongan karya (Golkar) dan ABRI. Pemilu berjalan secara periodik sesuai
dengan mekanisme, meskipun di sana-sini masih banyak kekurangan dan masih
diwarnai adanya intrik-intrik politik tertentu.
Soeharto dilantik secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993,
dan 1998. Pelantikannya secara berturut-turut tidak lepas dari kebijakan
represifnya yang menekan rakyat agar memilih Partai Golongan Karya yang
berkuasa ketika itu, ketimbang memilih partai oposisi seperti Partai Demokrasi
Indonesia atau Partai Persatuan Pembangunan. Fakta membuktikan bahwa paling
kurang 80% rakyat Indonesia dalam tiap pemilu selalu mencoblos Partai
Golongan Karya.

e. Penyimpangan Demokrasi Pancasila Masa Orba


Awal Orde baru memberi harapan baru pada rakyat pembangunan di
segala bidang melalui Pelita I, II, III, IV, V dan pada masa orde baru berhasil
menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan
1997. Selama orde baru, pilar-pilar demokrasi seperti partai politik, lembaga
perwakilan rakyat, dan media massa berada pada kondisi lemah dan selalu
dibayangi oleh mekanisme reccal, sementara partai politik tidak mempunyai
otonomi internal. Media massa selalu dibayang-bayangi pencabutan surat izin
usaha penerbitan pers (SIUPP). Sedangkan rakyat tidak diperkenankan
menyelenggarakan aktivitas sosial politik tanpa izin dari pemerintah.
Praktek demokrasi pancasila pada masa ini tidak berjalan sesuai dengan
yang dicita-citakan, bahkan cenderung ke arah otoriatianisme atau kediktatoran.
Pembagunan tidak merata tampak dengan adanya kemiskinan di sejumlah
wilayah. Namun demikian perjalanan demokrasi pada masa orde baru ini
dianggap gagal, sebab:
1. Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada.
2. Rekrutmen politik yang tertutup.
3. Pemilu yang jauh dari semangat demokratis.
4. Pengakuan HAM yang terbatas.
5. Tumbuhnya KKN yang merajalela.

5. Demokrasi Pancasila pada Masa Reformasi (1998 - sekarang)


a. Lahirnya Demokrasi Pancasila Masa Reformasi
Pada masa reformasi kehidupan demokrasi berlangsung lebih mendekati
konsepsi ideal sesuai dengan keinginan rakyat. Pada masa reformasi kekuasaan
pemerintahan terdistribusi sehingga adanya keseimbangan kekuasaan dan kontrol
dari setiap lembaga kekuasaan (cake and balance power), walaupun sistem
pemerintahan masih menganut sistem pemerintahan presidensial.

b. Ciri-ciri Demokrasi Pancasila Masa Reformasi


1. Multi partai,
2. Pemilihan langsung kepala pemerintahan,
3. Supremasi hukum,
4. Pembagian kekuasan yang lebih tegas,
5. Kebebasan hak politik rakyat (kebebasan berpendapat dan informasi
public & pers)

c. Perkembangan Demokrasi Pancasila Saat Ini


Perkembangan demokrasi di Indonesia dewasa ini lebih menekankan pada
nilai-nilai demokrasi yang berlaku universal di dunia yaitu 1) penghargaan atas
kebebasan; 2) penghargaan atas kesamaan; 3) penghargaan akan partisipasi dalam
kehidupan bersama rakyat; dan 4) penghargaan atas perbedaan.
Demokrasi yang dikembangkan pada masa reformasi pada dasarnya adalah
demokrasi dengan mendasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, dengan
penyempurnaan pelaksanaannya dan perbaikan peraturan-peraturan yang tidak
demokratis, dengan meningkatkan peran lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi
negara dengan menegaskan fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang mengacu
pada prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan yang jelas antara lembaga-
lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Demokrasi Indonesia saat ini telah dimulai dengan terbentuknya DPR –
MPR hasil Pemilu 1999 yang telah memilih presiden dan wakil presiden serta
terbentuknya lembaga-lembaga tinggi yang lain.

2.4 Landasan Sistem Politik Demokrasi di Indonesia


1. Landasan Sistem Politik Demokrasi di Indonesia
Mengenai landasan sistem politik demokrasi di negara Indonesia tercermin
dalam ketentuan:
a. Pembukaan UUD 1945 aline ke-4 yaitu “...
Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
UUD Negara RI yang terbentuk dalam susunan Negara RI yang
berkedaulatan rakyat ...”
b. Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa kedaulatan di tangan
rakyat dan dilakukan menurut ketentuan UUD.
Selanjutnya tentang isi dan mekanisme dari sistem politik demokrasi
Indonesia dirumuskan lebih lanjut pada bagian pasal-pasal UUD 1945.
Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1 ayat (2) UUD 1945 bahwa kedaulatan
di tangan rakyat dan dilakukan menurut ketentuan UUD.
2. Sendi-sendi Pokok Sistem Politik Demokrasi Indonesia
Mengenai sendi-sendi pokok dari sistem politik demokrasi di Indonesia
sebagai berikut:
1. Ide kedaulatan rakyat.
2. Negara berdasarkan hukum.
3. Bentuk republik.
4. Pemerintah berdasarkan konstitusi.
5. Pemerintah yang bertanggung jawab.
6. Sistem perwakilan.
7. Sistem pemerintahan presidensil.
3. Mekanisme dalam Sistem Politik Demokrasi Indonesia
Pokok-pokok dalam sistem politik Indonesia sebagai berikut:
a. Merupakan bentuk negara kesatuan dengan prinsip otonomi yang luas.
b. Bentuk pemerintahan republik, sedangkan sistem pemerintahan
presidensil.
c. Presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.
d. Kabinet atau menteri diangkat oleh presiden dan bertanggung jawab
kepada presiden.
e. Parlemen terdiri dari dua badan perwakilan (bikameral), yaitu Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
f. Pemilu dilaksanakan untuk pemilihan presiden dan wakil presiden,
anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan kepala
daerah.
g. Sistem multipartai. Banyak sekali partai politik yang bermunculan di
Indonesia terlebih setelah berakhir Orde Baru.
h. Kekuasaan Yudikatif dijalankan oleh Mahkamah Agung dan badan
peradilan di bawahnya yaitu pengadilan tinggi dan pengadilan negeri serta
sebuah Mahkamah Konstitusi.
i. Lembaga negara lainnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan dan Komisi
Yudisial.

4. Masa Depan Pelaksanaan Demokrasi


Di jaman sekarang ini demokrasi telah menjadi tolak ukur bagi semua
bangsa di dunia dalam hidup bernegara. Bahkan hampir sebagian besar negara
di dunia mengaku bahwa negaranya adalah negara demokrasi dengan sedapat
mungkin menunjukkan atribut-atribut demokrasi yang dipakai. Demokratisasi
telah menjadi isu global bebarengan dengan isu hak asasi manusia (HAM) dan
persoalan lingkungan hidup. Semua pihak optimis dan berharap akan masa
depan demokrasi yang baik.
Diperlukan adanya 5 (lima) kondisi yang dianggap mendukung
pembangunan demokrasi yang stabil (Soerensen, 2003), yaitu sebagai berikut:
a. Para pemimpin tidak menggunakan instrumen kekerasan.
b. Terdapatnya organisasi masyarakat pluralis yang modern dan dinamis.
c. Potensi konflik dalam pluralisme subkultural dipertahankan pada level
yang masih dapat ditoleransi.
d. Di antara penduduk negeri, khususnya lapisan politik aktif, terdapat
budaya politik dan sistem keyakinan yang mendukung ide dan
lembaga demokrasi.
e. Dampak dari pengaruh dan kontrol oleh negara asing dapat
menghambat atau mendukung secara positif.

2.5 Pendidikan Demokrasi


Sistem politik demokrasi di suatu negara berkaitan dengan dua hal, yaitu:
1. Institusi (struktur) demokrasi.
2. Perilaku (kultur) demokrasi.
Institusi atau struktur demokrasi menunjuk pada tersedianya lembaga-
lembaga politik demokrasi bila di dalamnya terdapat lembaga-lembaga politik
demokrasi. Lembaga itu antara lain:
a. Pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab.
b. Parlemen.
c. Lembaga pemilu.
d. Organisasi politik.
e. Lembaga swadaya masyarakat.
f. Media massa.
Perilaku atau kultur demokrasi menunjuk pada berlakunya nilai-nilai
demokrasi di masyarakat. Masyarakat yang demokratis adalah masyarakat yang
perilaku hidup baik keseharian dan kenegaraannya dilandasi oleh nilai-nilai
demokrasi.
Mengutip pendapat Hendry B. Mayo yang menyatakan bahwa nilai
demokrasi tersebut meliputi damai dan sukarela, adil, menghargai perbedaan,
menghormati kebebasan, memahami keanekaragaman, teratur, paksaan yang
minimal dan memajukan ilmu.
Contoh Demokrasi di Lingkungan Masyarakat Keluarga
Seperti telah disebutkan bahwa keluarga adalah bagian atau unit terkecil dari
masyarakat. Semua pendidikan dan pembiasaan berawal dari keluarga. Karena
keluargalah yang pertama kali dikenal manusia ketika dia lahir. Maka contoh
demokrasi juga dimulai dari keluarga. Contoh demokrasi yang dapat dilakukan
dalam keluarga, yaitu :
1. Berlaku adil terhadap semua anggota keluarga tanpa pilih kasih
2. Setiap anggota keluarga bebas mengeluarkan pendapat
3. Mengerjakan tugas sesuai perannya masing-masing
4. Saling menghormati dan menyayangi
5. Menghormati dan menghargai semua anggota keluarga sesuai
kedudukannya, misalnya menghargai dan menghormati ayah sebagai
kepala keluarga
6. Melakukan rapat keluarga jika diperlukan, misalnya menentukan liburan
keluarga dan tugas masing-masing di rumah.
7. Memahami tugas dan kewajiban masing-masing anggota keluarga
8. Mengatasi dan menyelesaikan semua masalah keluarga dengan cara
musyawarah mufakat.
9. Saling menghargai berbagai perbedaan yanga da antara anggota keluarga
10. Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi
11. Mendengarkan nasihat orang tua atau kakak yang lebih tua umurnya
12. Saling mengakui kelebihan dan keunggulan kakak atau adik secara jujur,
misalnya memberikan selamat jika meraih suatu prestasi.
Semua contoh demokrasi yang dijalankan di keluarga akan menginspirasi seluruh
anggota keluarga untuk menjalankannya di lingkungan masing-masing di luar
lingkungan keluarga. Akibat kurang menerapkan demokrasi di lingkungan
keluarga akan membuat suasana tidak nyaman bagi seluruh anggotanya.
Contoh Demokrasi di Lingkungan Masyarakat Sekolah
Lingkungan keluarga adalah pendidikan pertama yang diperoleh individu.
Pertama dan paling berkesan. Karena meskipun, seorang individu telah mengenal
lingkungan yang lebih besar, semuanya akan tetap kembali pada keluarga.
Lingkungan yang dikenal selanjutnya setelah keluarga adalah lingkungan sekolah.
Di sini tempat individu bersosialisasi dengan lebih banyak orang dengan lebih
banyak perbedaan. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang
mengajarkan segala hal termasuk tentang demokrasi. Secara teori di pendidikan
tingkat dasar dan lanjutan, siswa mendapatkan pengertian pendidikan
kewarganegaraan menurut para ahli. Sedangkan secara praktek, dalam banyak hal
contoh demokrasi di lingkungan masyarakat sekolah di antara adalah sebagai
berikut.
1. Penyelenggaraan pemilihan pengurus kelas dan organisasi sekolah dengan
musyawarah.
2. Pembagian tugas piket kebersihan dan pembagian kelompok kerja lain
secara merata
3. Interaksi antara guru, siswa, orang tua siswa, dan semua warga sekolah
lain yang berjalan dengan baik
4. Petugas pelaksanaan upacara yang dilakukan secara bergantian

5. Ikut berpartisipasi dalam kegiatan Osis atau kegiatan sekolah lainnya


6. Ikut serta dalam kegiatan politik di sekolah, misalnya dalam pemilihan
keua kelas, ketua Osis, ketua Pramuka, dan sebagainya.
7. Di sekolah berani bertanya jika ada pelajaran yang belum dipahami
8. Melaksanakan semua kewajiban sekolah, misalnya datang tepat waktu,
memakai seragam, dan membayar SPP tepat waktu.
9. Saling menghargai pendapat orang lain
10. Tidak membeda-bedakan teman sekolah berdasarkan suku, ras, agama,
harta, dan kedudukan orang tuanya
11. Mengeluarkan pendapat dengan cara yang baik, misalnya sebagai siswa
dapat menulis di majalah dinding
Contoh Demokrasi di Lingkungan Masyarakat Tempat Tinggal
Semakin bertambah usia seorang individu, maka interaksinya dengan dunia luar
semakin besar. Ketika memasuki usia produktif, di mana seseorang sudah
menyelesaikan pendidikannya maka perannya berubah dari masyarakat sekolah
menjadi masyarakat tempat tinggal. Baik itu tempat tinggal dalam arti rumah
tinggal maupun lingkungan tempat bekerja. Contoh demokrasi di lingkungan ini
antara lain :
1. Ikut serta bersama menjaga keamanan dan perdamaian masyarakat
2. Ikut serta dalam pemilihan pengurus organisasi masyarakat, baik secara
aktif maupun pasif.
3. Mengatasi segala masalah yang ada dengan jalan musyawarah dan pikiran
jernih
4. Mengikuti kegiatan yang diadakan di RT,RW, dan desa atau kelurahan,
misalnya kegiatan kerja bakti.
5. Ikut serta memberikan usulan dan saran bagi kemajuan masyarakat dengan
cara yang benar.
6. Saling tenggang rasa sesaae warga yang beragam
7. Menghargai pendapat orang lain
8. Melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat, misalnya
dengan membayar iuran warga dengan teratur.
9. Jika seseorang menjadi bagian dari perangkat RT hingga desa atau
kelurahan, maka wajib menyalurkan dana untuk masyarakat dengan benar.

10. Jika menjadi perangkat RT hingga desa atau kelurahan, maka wajib
dengan terbuka menerima dengan lapang dada segala aspirasi masyarakat
dan menjalankan semua program kemasyarakatan yang ada
Contoh Demokrasi di Lingkungan Masyarakat Bernegara
Hasil dari bentuk penerapan demokrasi mulai dari keluarga hingga masyarakat
tempat tinggal adalah terciptanya demokrasi yang lebih besar, yaitu demokrasi
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi yang mengakar dan
menjadi sistem pemerintahan negara. Demokrasi yang menjadi nilai-nilai luhur
bangsa. Contoh demokrasi di lingkungan masyarakat bernegara antara lain :
1. Lapang dada terhadap semua hasil musyawarah dan mufakat atau hasil
pemilihan umum kepala daerah dan Presiden.
2. Pemimpin yang selalu mendengar dan menghargai pendapat rakyat dan
masyarakatnya.
3. Pemimpin yang memiliki kejujuran dan integritas
4. Pemimpin yang mempunyai rasa malu dan tanggung jawab terhadap
manat penderitaan rakyat
5. Individu yang saling menghargai hak sesama warga negara
6. Individu yang menghargai perbedaan yang banyak sekali ada di
masyarakat Indonesia
7. Mengutamakan musyawarah untuk setiap masalah yang ada. Musyawarah
mufakat sesuai ciri-ciri demokrasi Pancasila
8. Mengeluarkan pendapat dengan cara yang baik dan sesuai aturan yang
berlaku, misalnya tidak mengganggu ketertiban umum dan merusak
fasilitas umum.
9. Ikut serta dalam sistem pemilihan umum di Indonesia baik secara pasif
(menjadi pemilih) maupun secara aktif (menjadi pemilih dan dipilih)
10. Mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan
golongan.

b. Jenis-jenis Demokrasi
Terdapat beberapa jenis demokrasi yang disebabkan perkembangan dala
pelaksanaannya diberbagai kondisi dan tempat. Oleh karena itu, pembagian jenis
demokrasi dapat dilihat dari beberapa hal, sebagai berikut:
1) Demokrasi berdasarkan cara menyampaikan pendapat. Termasuk jenis
demokrasi ini terdiri dari:
 Demokrasi langsung. Rakyat secara langsung diikutsertakan dalam
proses pengambilan keputusan untuk menjalankan kebijakan
pemerintahan.
 Demokrasi tidak langsung atau demokrasi perwakilan. Demokrasi
ini dijalankan oleh rakyat melalui wakil rakyat yang dipilihnya
melalui pemilu. Aspirasi rakyat disalurkan melalui wakil-wakil
rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat.
 Demokrasi perwakilan dengan system pengawasan langsung dari
rakyat (referendum) yang dapat diklasifikasi :
o Referendum wajib
o referendum tidak wajib
o refendum fakultatif.
 Demokrasl formal. Demokrasi ini disebut juga demokrasi liberal,
yaitu secara hokum menempatkan semua orang dalam kedudukan
yang sama dalam bidang politik, tanpa mengurangi kesenjangan
ekonomi.
 Demokrasi material. Demokrasi ini memandang manusia
mempunyai kesamaan dalam bidang sosial ekonomi, sehingga
persamaan bidang politik tidak menjadi prioritas. Demokrasi
material dikembangkan di Negara sosialis-komunis.
 Demokrasi campuran. Demokrasi ini merupakan campuran dan
kedua demokrasi tersebut. Demokrasi ini berupaya menciptakan
kesejahteraan seluruh rakyat dengan menempatkan persamaan
derajat dan hak setiap orang.
 Demokrasi liberal, yaitu memberikan kebebasan yang luas pada
individu. Campur tangan pemerintah diminimalkan bahkan ditolak.
emerintah bertindak atas dasar konstitusi (hukum dasar).
 Demokrasi rakyat atau demokrasi proletar. Demokrasi ini
bertujuan menyejahterakan rakyat. Negara dibentuk tidak
mengenal perbedaan kelas. Semua warga Negara mempunyai
persamaan dalam hukum dan politik.
2) Demokrasi berdasarkan titik perhatian atau prioritas. Jenis demokrasi ini
dapat diklasifikasi :
 Demokrasi berdasarkan pninsip ideologi.
 Demokrasi berdasarkan wewenang dan hubungan antar alat
kelengkapan Negara, dapat diklasifi kedala :
o DPR lebih kuat dari pemerintah.
o Kepala pemerintahan/kepala eksekutif disebut perdana
menteri dan memimpin kabinet dengan sejumlah menteri
yang bertanggung jawab kepada DPR.
o Program kebijakan cabinet disesuaikan dengan tujuan
politik anggota parlemen.
o Kedudukan kepala Negara terpisah dengan kepala
pemerintahan, biasanya hanya berfungsi sebagai symbol
Negara. Tugas kepala Negara sebagian besar bersifat
serimonial seperti melantik kabinet dan duta besar sebagai
panglima tertinggi angkatan bersenjata (kehormatan).
o Jika pemerintah dianggap tidak mampu, maka anggota
DPR (parlemen) dapat meminta mosi tidak percaya kepada
parlemen untuk membubarkan pemerinta. Jika mayoritas
anggota parlemen menyetujui, maka pemerintah bubar, dan
kendali pemerintahan dipegang oleh pemerintahan
sementara sampai terbentuk pemerintahan baru hasil
pemilu.
 Berdasarkan kedaulatan yang dipilih dari dan oleh rakyat langsung
atau melalui badan perwakilan.

c. Prinsip-prinsip Demokrasi

Suatu Negara dikatakan demokratis apabila system pemerintahannya


mewujudkan prinsip-pnnsip demokrasi. Robert. Dahi (Sranti, dkk;2008)
menyatakan terdapat beberapa prinsip demokrasi yang harus ada dalam system
pemerintahan Negara demokrasi, yaitu:

1) Adanya control atau kendali atas keputusan pemerintah. Pemerintah dalam


mengambil keputusan dikontrol oleh lembaga legislative (DPR dan
DPRD).
2) Adanya pemilihan yang teliti dan jujur. Demokrasi dapat berjalan dengan
baik apabila adanya partisipasi aktif dan warga Negara dan partisipasi
tersebut dilakukan dengan teliti dan jujur.Warga Negara diberi informasi
pengetahuan yang akurat dan dilakukan dengan jujur.
3) Adanya hak memilih dan dipilih. Hak untuk memilih, yaitu memberikan
hak pengawasan rakyat terhadap pemerintahan, serta memutuskan pilihan
terbaik sesuai tujuan yang ingin dicapai rakyat. Hak dipilih yaitu
memberikan kesempatan kepada setiap warga Negara untuk dipilih dalam
menjalankan amanat dari warga pemilihnya.
4) Adanya kebebasan menyatakan pendapat tanpa ancaman. Demokrasi
membutuhkan kebebasan dalam menyampaikan pendapat, bersenkat
dengan rasa aman.
5) Adanya kebebasan mengakses informasi. Dengan membutuhkan informasi
yang akurat, untuk itu setiap warga Negara harus mendapatkan akses
informasi yang memadai. Setiap keputusan pemerintah harus
disosialisasikan dan mendapatkan persetujuan DPR, serta menjadi
kewajiban pemenntah untuk memberikan inforrnasi yang benar.
6) Adanya kebebasan berserikat yang terbuka. Kebebasan untuk berserikat
ini memberikan dorongan bagi warga Negara yang merasa lemah, dan
untuk memperkuatnya membutuhkan teman atau kelompok dalam bentuk
serikat.

Untuk mengukur pelaksanaan pemerintahan demokrasi, perlu diperhatikan


beberapa parameter demokrasi, yaitu :

1) Pembentukan pemerintahan melalui pemilu. Pembentukan pemerintahan


dilakukan dalam sebuah pemilihan umum yang dilaksanakan dengan teliti
dan jujur.
2) Sistem pertanggungjawaban pemerintah. Pemerintahan yang dihasilkan
dan pemilu harus mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan
dan dalam periode tertentu.
3) Penganturan system dan distribusi kekuasaan Negara. Kekuasaan Negara
dijalankan secara distributive untuk menghindari penumpukan kekuasaan
dalam satu tangan (legislative, eksekutiv, dan yudikatif).
d. Pengawasan oleh rakyat. Demokrasi membutuhkan system pengawasan
oleh rakya terhadap jalannya pemerintahan, sehingga terjadi mekanisme
yang memungkinkan chek and balance terhadap kekuasaan yang
dijalankan eksekutif dan legislative.
e. Nilai-nilai Demokrasi

Untuk menumbuhkan keyakinan akan system demokrasi, maka terdapat pola


perilaku yang menjadi tuntunan atau norma nilai-nilai demokrasi yang diyakini
masyarakat. Nilai dan demokrasi membutuhkan hal-hal sebagai berikut :

1) Kesadaran akan pluralisme. Masyarakat demokratis akan menjaga


keberagaman yang ada di masyarakat. Demokrasi menjamin
keseimbangan hak dan kewajiban setiap warga Negara.
2) Sikap yang jujur dan pikiran yang sehat. Pengambilan keputusan
didasarkan pada prinsip musyawarah prinsip mufakat, dan mementingkan
kepentingan masyarakat pada umumnya. Pengambilan keputusan dalam
demokrasi membutuhkan kejujuran, logis atau berdasar akal sehat dan
sikap tulus setiap orang untuk beritikad baik.
3) Demokrasi membutuhkan kerjasama antarwarga masyarakat dan sikap
serta
itikad baik. Masyarakat yang terkotak-kotak dan penuh curiga kepada
masyarakat lainnya mengakibatkan demokrasi tidak berjalan dengan baik.
Demokrasi membutuhkan sikap kedewasaan. Semangat demokrasi
menuntut kesediaan masyarakat untuk memberikan kritik yang
membangun, disampaikan dengan cara yang sopan dan bertanggung jawab
untuk kemungkinan menerima bentuk-bentuk tertentu.
4) Demokrasi membutuhkan pertimbangan moral. Demokrasi mewajibkan
adanya keyakinan bahwa cara mencapai kemenangan haruslah sejalan
dengan tujuan dan berdasarkan moral serta tidak menghalalkan segala
cara. Demokrasi memerlukan pertimbangan moral atau keluhuran akhlak
menjadi acuan dalam berbuat dan mencapal tujuan.

f. Manfaat Demokrasi
Demokrasi dapat memberi manfaat dalam kehidupan masyarakat yang
demokratis, yaitu :

1) Kesetaraan sebagai warga Negara. Disini demokrasi memperlakukan


semua orang adalah sama dan sederajat. Prinsip kesetaraan menuntut
perlakuan sama terhadap pandangan-pandangan atau pendapat dan pilihan
setiap warga Negara.
2) Memenuhi kebutuhan-kebutuhan umum. Kebijakan dapat mencerminkan
keinginan rakyatnya. Semakin besar suara rakyat dalam menentukan
semakin besar pula kemungkinan kebijakan itu menceminkan keinginan
dan aspirasi rakyat.
3) Pluralisme dan kompromi. Demokrasi mengisyaratkan kebhinekaan dan
kemajemukan dalam masyarakat maupun kesamaan kedudukan diantara
para warga Negara. Dalam demokrasi untuk mengatasi perbedaan-
perbedaan adalah lewat diskusi, persuasi, kompromi, dan bukan dengan
paksanaan atau pameran kekuasaan.
4) Menjamin hak-hak dasar. Demokrasi menjamin kebebasan- kebebasan
dasar tentang hak-hak sipil dan politis; hak kebebasan berbicara dan
berekspresi, hak berserikat dan berkumpul, hak bergerak, dsb. Hak-hak itu
memungkinkan pengembangan diri setiap individu dan memungkinkan
terwujudnya keputusan- keputusan kolektif yang lebih baik.
5) Pembaruan kehidupan social. Demokrasi memungkinkan terjadinya
pembawan kehidupan social. Penghapusan kebijakan-kebijakan yang telah
using secara rutin dan pergantian para politisi dilakukan dengan cara yang
santun, dan damai. Demokrasi memuluskan proses alih generasi tanpa
pergolakan.

g. Perkembangan Demokrasi Indonesia

Dalam perjalanan sejarah bangsa, ada empat macam demokrasi di bidang


politik yang pernah diterapkan dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia, yaitu:

1) Demokrasi Parlementer (liberal)


Demokrasi ini dipraktikan pada masa berlakunya UUD 1945 periode
pertama (1945-1949) kemudian dilanjutkan pada bertakunya Konstitusi
Republik Indonesia Serikat (UUD RIS) 1949 dan UUDS 1950. Demokrasi
ini secara yuridis resmi berakhir pada tanggal 5 Juti 1959 bersamaan
dengan pemberlakuan kembal UUD 1945. Pada masa berlakunya
demokrasi parlementer (1945-1959), kehidupan politik dan pemerintahan
tidak stabil, sehingga program dari suatu pemerintahan tidak dapat
dijalankan dengan baik dan berkesinambungan. Timbulnya perbedaan
pendapat yang sangat mendasar diantara partai politik yang ada pada saat
itu.
2) Demokrasi Terpimpin
Mengapa lahir demokrasi terpimpin? yaitu lahir dari keinsyafan, kesadaran,
dan keyakinan terhadap keburukan yang diakibatkan oleh praktik
demokrasi parlementer (liberal) yang melahirikan terpecahnya masyarakat,
baik dalam kehidupan politik maupun dalam tatanan kehidupan ekonomi.
Secara konsepsional, demokrasi terpimpin memiliki kelebihan yang dapat
mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Hal itu dapat dilihat
dan ungkapan Presiden Soekarno ketika memberikan amanat kepada
konstituante tanggal 22 April 1959 tentang pokok-pokok demokrasi
terpimpin, antara lain :
 Demokrasi terpimpin bukanlah dictator
 Demokrasi terpimpin adalah demokrasi yang cocok dengan
kepribadian dan dasar hidup bangsa Indonesia.
 Demokrasi terpimpin adalah demokrasi disegala soal kenegaraan
dan kemasyarakatan yang meliputi bidang politik, ekonomi, dan
social
 Inti daripada pimpinan dalam demokrasi terpimpin adalah
permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
 Oposisi dalam arti melahirkan pendapat yang sehat dan yang
membangun diharuskan dalam demokrasi terpimpin. Berdasarkan
pokok pikiran tersebut demokrasi terpimpin tidak bertentangan
dengan Pancasila dan UUD 1945 serta budaya bangsa Indoesia.
Namun dalam praktiknya, konsep-konsep tersebut tidak
direalisasikan sebagaimana mestinya, sehingga seringkali
menyimpang dan nilai-riilai Pancasila, UUD 1945, dan budaya
bangsa. Penyebabnya adalah selain terletak pada presiden, juga
karena kelemahan legislative sebagai patner dan pengontrol
eksekutiI serta situasi social poltik yang tidak menentu saat itu.

1) Demokrasi Pancasila
Orde Baru
Demokrasi Pancasila mengandung arti bahwa dalam menggunakan hak-
hak demokrasi haruslah disertai rasa tanggung jawab kepada Tuhan Yang
Maha Esa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, menjunjung
tinggi nilal-nilai kemanusiaan sesuai dengan martabat dan harkat manusia,
haruslah menjamin persatuan dan kesatuan bangsa, mengutamakan
musyawarah dalam menyelesaian masalah bangsa, dan harus dimanfaatkan
untuk mewujudkan keadilan social. Demokrasi Pancasila berpangkal dari
kekeluargaan dan gotong royong. Semangat kekeluargaan itu sendiri sudah
lama dianut dan berkembang dalam masyarakat Indonesia, khususnya di
masyarakat pedesaan. Mengapa lahir demokrasi Pancasila? Munculnya
demokrsi Pancasila adalah adanya berbagai penyelewengan dan
permasalahan yang di alami oleh bangsa Indonesia pada berlakunya
demokrsi parlementer dan demokrasi terpimpin. Kedua jenis demokrasi
tersebut tidak cocok doterapkan diindonesia yang bernapaskan
kekeluargaan dan gotong royong. Sejak lahirnya orde baru di Indonesia
diberlakukan demokrasi Pancasila sampai saat ini. Meskipun demojrasi ini
tidak bertentangan dengan prinsip demokrasi konstitusional, namun
praktik demokrasi yang dijalankan pada masa orde baru masih terdapat
berbagai peyimpangan yang tidak ejalan dengan ciri dan prinsip demokrasi
pancasila, diantaranya :
 Penyelenggaraan pemilu yang tidak jujur dan adil.
 Penegakkan kebebasan berpolitik bagi Pegawai Negeri Sipil
(PNS)
 Kekuasaan kehakiman (yudikatif) yang tidak mandiri karena para
hakim adalah anggota PNS Departemen Kehakiman.
 Kurangnya jaminan kebebasan mengemukakan pendapat.
 System kepartaian yang tidak otonom dan berat sebelah.
 Maraknya praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme
 Menteri-menteri dan Gubernur di angkat menjadi anggota MPR

Orde Reformasi

Demokrasi yang dijalankan pada masa reformasi ini masih tetap


demokrasi pancasila. Namun perbedaanya terletak pada aturan
pelaksanaan. Berdasarkan peraturan perundang-undangan dan praktik
pelaksanaan demokrasi, terdapat beberapa perubahan pelaksanaan
demokrasi pancasila dari masa orde baru pelaksanaan demokrasi pada
masa orde reformasi sekarang ini yaitu :
 Pemilihan umum lebih demokratis.
 Partai politik lebih mandiri
 Lembaga demokrasi lebih berfungsi
 Konsep trias politika (3 Pilar Kekuasaan Negara) masing-masing
bersifat otonom penuh.

Adanya kehidupan yang demokratis, melalui hukum dan peraturan yang


dibuat be\rdasarkan kehendak rakyat, ketentraman dan ketertiban akan lebih
mudah diwujudkan. Tata cara pelaksanaan demokrasi Pancasila dilandaskan atas
mekanisme konstitusional karena penyelenggaraan pemeritah Negara Republik
Indonesia berdasarkan konstitusi. Demokrasi pancasila hanya akan dapat
dilaksanakandengan baik apabila nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat
dipahami dan dihayati sebagai nilai-nilai budaya politik yang mempengaruhi
sikap hidup politik pendukungnya. Kegagalan Demokrasi Pancasila pada zaman
orde baru, bukan berasal dari konsep dasar demokrasi pancasila melainkan lebih
kepada praktik atau pelaksanaanya yang mengingkari keberadaan Demokrasi
Pancasila
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki
hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka.
ads
Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau
melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.
Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan
adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara. Demokrasi juga
merupakan seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan beserta praktik
dan prosedurnya. Demokrasi mengandung makna penghargaan terhadap harkat
dan martabat manusia.
Kata ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία (dēmokratía) “kekuasaan rakyat”,
yang terbentuk dari δῆμος (dêmos) “rakyat” dan κράτος (kratos) “kekuatan” atau
“kekuasaan” pada abad ke-5 SM untuk menyebut sistem politik negara-kota
Yunani, salah satunya Athena; kata ini merupakan antonim dari ἀριστοκρατία
(aristocratie) “kekuasaan elit”. Secara teoretis, kedua definisi tersebut saling
bertentangan, namun kenyataannya sudah tidak jelas lagi. Sistem politik Athena
Klasik, misalnya, memberikan kewarganegaraan demokratis kepada pria elit yang
bebas dan tidak menyertakan budak dan wanita dalam partisipasi politik.
Suatu pemerintahan demokratis berbeda dengan bentuk pemerintahan yang
kekuasaannya dipegang satu orang, seperti monarki, atau sekelompok kecil,
seperti oligarki. Apapun itu, perbedaan-perbedaan yang berasal dari filosofi
Yunani ini. Seiring dengan berjalannya waktu, sistem demokrasi banya
mengalami pergeseran sehingga menjadikan terjadinya berbagai bentuk
pelanggaran. Sebagimana 6 contoh pelanggaran demokrasi yang pernah terjadi di
Indonesia.
1. Kegagalan Presiden Dalam Menjalankan Kekuasaan
Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Ini membuat posisi presiden presiden kuat
dalam ati sulit untuk digulingkan. Namun, di parlemen tidak terdapat partai yang
dominan, termasuk partai yang mengusung pemerintah. Ditambah lagi peran
lagislatif yang besar pasca reformasi ini dalam menentukan banyak kebijakan
presiden.
Dalam memberhentikan menteri misalnya, presiden sulit untuk memberhentikan
menteri karena partai yang “mengutus” menteri tersebut akan menarik
dukungannya dari pemerintah dan tentunya akan semakin memperlemah
pemerintah. Hal ini membuat presiden sulit mengambil langkah kebijakannya
dan di-“setir” oleh partai sebgaimana juga contoh pelanggaran ham di lingkungan
bangsa dan negara .
Sponsors Link

2. Kesejahteraan Masyarakat yang Semakin Rendah


Tingkat kesejahteraan menurun setelah reformasi, yang justru saat itulah
dimulainya kebebasan berekspresi, berpendapat, dll. Ini aneh mengingat
sebenarnya tujuan dari politik adalah kesejahteraan. Demokrasi atau sistem politik
lainnya hanyalah sebuah alat. Begitu pula dengan kebebasan dalam alam
demokrasi, hanyalah alat untuk mencapai kesejahteraan sebagi contoh
pelanggaran hk warga negara .
3. Partai Politik Tidak Menjalankan Fungsinya
Fungsi partai politik paling tidak ada tiga: penyalur aspirasi rakyat, pemusatan
kepentingan-kepentingan yang sama, dan sarana pendidikan politik masyarakat.
Selama ini dapat dikatakan ketiganya tidak berjalan. Partai politik lebih
mementingkan kekuasaan daripada aspirasi rakyat.Fungsi partai politik sebagai
pemusatan kepentingan-kepentingan yang sama pun tidak berjalan mengingat
tidak adanya partai politik.
Partai politik sebagai sarana pendidikan politik masyarakat lebih parah. Kita
melihat partai mengambil suara dari masyarakat bukan dengan pencerdasan
terhadap visi, program partai, atau kaderisasi. Melainkan dengan uang, artis, kaos,
yang sama sekali tidak mencerdaskan malah membodohi masyarakat sebagimana
contoh pelanggaran ham di masyarakat .
4. Ketidakstabilan Pemimpin Nasional
Jika kita cermati, semua pemimpin bangsa ini mualai dari Soekarno sampai Gus
Dur, tidak ada yang kepemimpinannya berakhir dengan bahagia. Semua berakhir
tragis alias diturunkan. Ini sebenarnya merupakan dampak dari tidak adanya
pendidikan politik bagi masyarakat. Budaya masyarakat Indonesia tentang
pemimpinnya adalah mengharapkan hadirnya “Ratu Adil” yang akan
menyelesaikan semua masalah mereka. Ini bodoh. Masyarakat tidak diajari
bagaimana merasionalisasikan harapan-harapan mereka. Mereka tidak diajarkan
tentang proses dalam merealisasikan harapan dan tujuan nasional.
Hal ini diperburuk dengan sistem pemilihan pemimpin yang ada sekarang (setelah
otonomi), termasuk pemilihan kepala daerah yang menghabiskan biaya yang
mahal. Calon pemimpin yang berkualitas namun tidak berduit akan kalah populer
dengan calon yang tidak berkualitas namun memiliki uang yang cukup untuk
kampanye besar-besaran, memasang foto wajah mereka besar-besar di setiap
perempatan. Masyarakat yang tidak terdidik tidak dapat memilih pemimpin
berdasarkan value seperti pada perbedaan pelanggaran hak dan pengingkaran
kewajiban .
5. Separatisme
Misalnya Aceh, Papua, RMS, dll. Ini merupakan dampak dari dianaktirikannya
daerah-daerah tersebut semasa orde baru, yang tentunya adalah kesalahan
pemerintah dalam “mengurus anak”. Tentunya ini membuat ketahanan nasional
Indonesia menjadi lemah, mudah diadu domba, terkurasnya energi bangsa ini, dan
mudah dipengaruhi kepentingan asing seperti pada ciri ciri masyarakat hukum
adat .
Sponsors Link

6. KKN dan Birokrasi yang Berbelit Belit


Birokrasi semasa orde baru sangat politis. Setiap PNS itu Korpri dan wadah
Korpri adalah Golkar. Jadi sama saja dengan PNS itu Golkar. Ini berbahaya
karena birokrasi merupakan wilayah eksekusi kebijakan. Jika birokrasi tidak
netral, maka jika suatu saat partai lain yang memegang pucuk kebijakan, maka dia
akan sulit dalam menjalankan kebijakannya karena birokrasi yang seharusnya
menjalankan kebijakan tersebut memihak pada partai lain. Aknibatnya kebijakan
tinggal kebijakan dan tidak terlaksana.
Leibih parahnya, ini dapat memicu reformasi birokrasi besar-besaran setiap kali
ada pergantian kepemimpinan dan tentunya ini bukanlah hal yang baik untuk
stabilitas pemerintahan. Maka seharusnya birokrasi itu netral. Banyak sekali kasus
KKN dalam birokrasi. Contoh kecil adalah pungli, suap, dll. Ini menjadi bahaya
laten karena menimbulkan ketidakpercayaan yang akut dari masyarakat kepada
pemerintah. Selain itu berdampak pula pada iklim investasi. Investor tidak
berminat untuk berinvestasi karena adanya kapitalisasi birokrasi dalam ciri ciri
hukum anglo saxon .
KKN adalah suatu tindakan yang sangat merugikan bagi setiap kalangan
masyarakat dan negara , dikarenakan KKN hanya menguntungkun suatu pihak
tertentu yang memiliki kekuasaan berlebih sehingga orang-orang kecil dan jujur
akan dirugikan. Oleh karena setiap hal yang berhubungan dengan KKN harus
cepat di hilangkan dan dihapuskan dari kebiasaan masyarakat , khususnya negara
Indonesia . KKN sendiri adalah gabungan dari kata Korupsi , Kolusi , dan
Nepotisme.
Korupsi adalah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang
sogok dan lain sebagainya untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau
korporasi, yang mengakibatkan kerugian keuangan pada negara. Korupsi
merupakan suatu tindakan yang sangat tidak terpuji yang dapat merugikan suatu
bangsa dan negara. Korupsi di Indonesia bukanlah hal yang baru, Indonesia
merupakan salah satu negara dengan jumlah kasus korupsi yang terbilang cukup
banyak. Akan tetapi banyak juga kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat
atau pemegang kekuasaan yang telah dibungkar oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK).
BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini adalah:


1. Demokrasi adalah sistem politik yang melindungi kebebasan warganya
sekaligus memberi tugas pemerintah untuk menjamin kebebasan tersebut.
Demokrasi pada dasarnya merupakan pelembagaan dari kebebasan.
2. Bentuk pemerintahan yang baik adalah monarki, aristokasi, demokrasi.
Sedangkan bentuk pemerintahan yang buruk adalah tirani, oligarki,
mobokrasi. Bentuk-bentuk pemerintahan seperti itu sudah tidak dianut lagi
oleh banyak negara saat ini.
3. Sistem politik dikatakan sebagai demokratis apabila para pembuat
keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih melalui
pemilihan umum yang bebas, adil, dan jujur dan semua penduduk dewasa
berhak memberikan suara.
4. Perilaku atau kultur demokrasi menunjuk pada berlakunya nilai-nilai
demokrasi di masyarakat. Masyarakat yang demokratis adalah masyarakat
yang perilaku hidup baik keseharian dan kenegaraannya dilandasi oleh
nilai-nilai demokrasi.
PENUTUP

Demikianlah makalah yang kami tulis ini, semoga bermanfaat dan


menambah pengetahuan para pembaca mengenai sejarah singkat demokrasi,
makna demokrasi, macam-macam demokrasi, sistem politik demokrasi beserta
landasan sistem politik demokrasi Indonesia, dan pendidikan demokrasi.
Kami mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan
kalimat yang kurang jelas, dimengerti, dan lugas. Karena kami hanyalah manusia
biasa yang tak luput dari kesalahan dan kami juga sangat mengharapkan saran dan
kritik dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Sekian penutup dari
kami semoga dapat diterima di hati dan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya.