Anda di halaman 1dari 155

UNTUK MAHAS15WA KEDOKTERAN

D. Surya Yudhantara Ratri Istiqomah

Bahan dengan cipta


SINOPSISSKIZOFRKNIA UNTUK MAHASISWA KEDOKTFRAN

Penulis;
O. SiLj^'a Ykidtudian
Ratri (suqomab

rSBN:
97^-602-452-477-3

Pcrancan g SampuJ:
Tim UB Prt5«

Penala Lelak:
lim L'B Press

Praceuk dan Froduksi:


Tim UB Press

Penerbii:
I) B Press

LB Pcess
|1. Vcieran Bl-l 1 MaJaiig&5145 Indonesia
Gwin ng INBIS Lt. 3
I'clp: (0341) 5e81255,wa:08222B238W

e- mai 1 r ubpress^rwaJJ. exxn/u bprcs8@ub. acud

b ftp: /w **'. ubpress. uh-acad

Cetakan Pennma, Pebruan 2(H8

i«svi +176 him, 15.5 cm x 23,5 cm

Dilarang keras memfotokopi alau memperbanyaksebagian


atau seluruh buku ini tanpa seizin tertulis dari penerbit
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 first-n2/ik symptoms menurut Schneider
Tabel 1.2. Perbedaan dl^nosLs skizofrenia pada
DSM-IV-TRdan ICD-10 ........................................ - ........ - ....
Tabel 2.1 Gen klasikyangdiduga berperan pada
skizofrenia.... 10
Tabel 2.2 Faktor Risiko Pre-, Peri-,dan Post-natal
Skizofrenia ........................................................................... 13
Tabel 2.3 Penyakit Autoimun yangberhubungan dengan
skizofrenia ........................................................................... 14
Tabel 3.1. Pola perjalanan penyakit skizofrenia menurut
ICD-IO/PPDGI-III ............................................................... 30
Tabel 3.2. Subtipe skizofrenia menurut ICD-10/
............................................................................
Tabel 3.3. Kekhasan subtipe skizofrenia menurut
ICD-10/PPDG|-ni ............................................





Tabel 3.4. Halusinasi dalam skizofrenia -

fN
Tabel 3.5. Gcjala-gcjaia ncgatif datam skizofrenia 44
Tabel 3.6. Gejala-gejaJa kognitif dalam
skizofrenia • ••At

*>
s

1
Tabel 3.7. Diagnosis Banding Skizofrenia H Hl M<
Tabel 4.1. Item pada PANSS

l.Lr.b'
o kO
(T!
Tabel 4.2.
•••
Item pada PANSS-EC
Tabel 4.3.
Tabel 4.4.
Tabel 4.5. Pengukurankognisi paddi Schizophrenia
Consensus Cognitive Battery ......................................
Tabel 5.1. Obat-obatan antipsikosis .............................................
Tabel 5.2. Pemilihan obat antipsikosis untuk skizofrenia
rekomendasi American Psychiatric
Association (2010) ....................................... ..............
Tabel 5.3. .............................................................................
Rekomendasi penggunaan antipsikosis untuk
pasien skizofrenia episode
Tabel 5.4. Kriteria pada Creotmencresistant
schizophirenia. 91
Tabel 5.5. Efek samping pemakaian antipsikosis .................. - ........... 93
Tabel 5.6. Pengobatan untuk mengatasi efek
samping ekstrapiramidal ................... 94

XV

Bahan dengan hak ciptB


Tabel S.7. Kategori risiko penggunaan antipsikosis pa da
kehamilandan inenyusui .................................... ................95
Tabel 6.1. Faktor-faktoryang berpengaruh terhadap
prognosis dari skizofrenia ...................................................124
Tabel 7.1. Subtipelain dan skizofrenia ................ . ..... ........ ....... - .....131
Komorbiditas skizofrenia dengan
Tabel 7.2 penyak it lain 141

Bahan dengan hak ciptB


BAB1
Definisi, Sejaran, & Epiclemiologi

Tujuan Instruksionol Khusus

Dari pembelajaran pada bab ini, diharapkan siswadapat:

1. Merna ha mi definisi skizofrenia.

2. Memahami sejarah dan perkembangan proses diagnosis


skizofrenia.

3. Memahami epidemiologi skizofrenia.

1.1 Definisi
Skizofrenia [sdr/zophrenro; dibaca "skit-se-fn-nia") adaiah salah
satu gangguan jivva berat yang dapat mempengaruhi pikiran,
perasaan. dan perilaku individu. Skizofrenia adaiah bagian dari
gangguan psikosis yang terutama ditandai dengan kehilangan
pemahaman lerhadap reatilas dan hilangnya daya Ulik diri
[fnsfghtj [Sadock ec al., 2014J. Menurut Pedoman Penggolongan
dan Diagnosis Gangguan Jiwa-Ill (PPDGJ-III], skizofrenia adaiah
suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab (banyak belum
diketahui) dan perjaianan penyakit (tak selalu bersifac kronis atau
yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung
pada perimbaiigan pengaruh genet! k, fisik, dan so sial budaya
(Departemen Kesehatan Rl, 1998). Pada gangguan psikosis,
termasuk juga sizofrenia, dapat ditemukan gejala gangguan jiwa
berat sepertl halusinasi waham. perilaku yang kacau, dan
pembicaraan yangltacau, serta gejala negatif (Stahl, 2013).

Bahan dengan hak ciptB


Waham Perilaku kacau Alogaa
Halusiriasi Pembicaraan kacau Afekturnpul
Perlfaku kalatonik AgitasI Asosial
Anhedonia
Avolisi

Sumber dari: StaW’5 P^thop/iamwco/o^ edisi ke4 (2013)

Gambar 1.1. Tanda dan gejala gangguan psikosis

Istilah skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yaitu


(sp/it/perpecahan) dan phren (jiwa). Istilah tersebut digunakan
unruk menjelaskan terpecahnya atau terfragmentasinya pikiran
individu dengan gangguan ini. Istilah skizofrenia tidak
menunjukkan beragamnya kepribadian pada individu (mwto'p/e
personfl/dy) (Sadock eLal., 2014).

Definisi skizofrenia terus mengalami perubahan seiring


dengan diteinukan banyak gejala klinis yang berbeda-beda.
DeFinisi skizofrenia telah mengalami pergantian melalui tiap edisi
dan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM)
dari DSM-I hingga DSM-S. tetapi definisi tersebut memiliki tiga
akar utama yaitu a) pandangan Kraepelinian yang menekankan
adanya avolisi (penurunan motivasi untuk melakukan atau
mengerjakan aktivitas yang berguna bagi dirinya sendiri sebagai
contoh: aktivitas rutin, hobi, pergi bekerja dan/atau sekolah, serta
aktivitas sosial). kronisitas, dan hasil yang kurang memuaskan; b)
pandangan Bleurian menekankan perubahan disosiatif bersifat
primer atau fundamental yang terdapat pada gejala negatlf; c)
pandangan Schneiderian menekankan pada distorsi realita atau
gejala posilif. Secara umum disepakati bahwa skizofrenia ad a I ah
gangguan jiwa berat (psikosis) yang ditandai dengan distorsi pada
pikiran. persepsi. emosi, pembicaraan, Ulikan diri, dan perilaku
(TandonetflA, 2013).

2 I SIHOPSlSSiflZOfeCNIAUHnjt MAUASISWA tEDOnEBXH

k.,:
1.2 Sejarah

Deskripsi tanda dan gejala yang mirip skizofrenia sebenarnya


sudah diketahui dan tercatat di masyarakat Yunani Kuno. Namun
dalam perkembangannya, gangguan jiwa berat ini baru benar-
benar dikenali dan mulai banyak studi tentang gangguan tersebut
pada abad 19. Perkembangan skizofrenia dapat dilihat pada
bagan berikuL

MM
dn (»ii i
Blewle< (JM7
Mm a 1K7)
W.^HnBh ^nt t«h
l HK MaeivM
lV vW'lA
ar4U
[...I ■*l
c
K» U^b
Mnt
IliSe.
.1W6):
L#cnKw
d
(ivu.m4:
MM
iMsin pi«.v<
nx

Sumber dan: en.wikipedia.org


Gambar 1.2. Tokoh-tokohyangberperan dalam pengenalan dan
perkembangan skizofrenia

Tiga tokoh utama yang berperan pada hal tersebut adalah


Benedict Morel (1809-1873), Emil Kraepelin (1856-1926) dan
Eugene Bleuler (1857-1939) (Kyziridis, 2005). Benedict Morel
adalah seorang psikiater Perancis yang pertema kali
menggambarkan gambaran klinis gangguan jiwa tersebut sebagai
demeace pr^coce. Morel menggunakan istilah tersebut karena
secara klinis muncul deteriorasi yang mulai pada usia remaja
{Sadock etaL, 2014).

&AB I DUINISl StjABAIIglPIDNIOtOCI I 3

Bahan dengan C^JIB


Sumben Kaplan & Saaock s Synopsis of Psychiatry edisi 11 (2015)
Gambar 1.3 Benedict Morel

Istilah ini kemudian diadopsi oleh Kraepelin seb^ai


dementia precox, yang menunjukkan suatu perubahan dan
penurunan kognisi mirip demensia yang memiliki onset dini
(precox). Dementia precox digambarkan memiliki deteriorasi
jangka panjang gejala klinis berupa waham dan halusinast Seiain
itu, Kraepelin juga menggambarkan gangguan lain yaitu manik*
depresif psikosls yaitu suatu gangguan jiwa yang memiliki episode
sera ng an dan terdapat periode normal diantara dua serangan atau
episode. Kondisi klinis lain yang dijelaskan oleh Kraepelin adalah
paranoia yaitu suatu keadaan klinis yang ditandai dengan waham
persekutorik (Moskovits dan Heim, 2011).

Sumber: Kaplan & Sadoclcs Synopsis of Psychiatry edisi 11 (2015)


Gambar 1.4 Emil Kraepelin

4I MAIIASISWA UDWIDAH

Bahan derigan
Eugene Bleuler adalah orang yang pertama kali
memperkenalkan istilah skizofrenia. Menu rut Bleuler, skizofrenia
raenggambarkan gangguan ini sebagai perpecahan pikiran, emosi,
dan peril aku pasien. Deteriorasi pada konsep dementia precox
yang diungkapkan oleh Kraepelin tidak harus ada pada konsep
skizofrenia menurut Bleuler. Eugene Bleuler Juga merumuskan 4A
(Four A's) untuk menggambarkan gejala utama skizofrenia yaitu
asosiast afek, autisme, dan ambivalensi. Asosiasi menunjukkan
gangguan asosiasi piklran terutama asosiasi longgar. Afek
menggambarkan gangguan pada afek. Gejala tambahan
(sekunderj skizofrenia menu rut Bleuler adalah halusinasi dan
waham (McNally, 2009J.

Sumber; Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry edisi 11 (2015)


Gambar 1.5 Eugene Bleuler

Beberapa ahli merumuskan kriteria diagnosis untuk


gangguan tersebut Salah seorang diantaranya adalah Kurt
Schneider. Schneider mengemukakan adanya gejala tlngkat
pertama (first-rank symptoms') pada skizofrenia. Schneider
menekankan bahwa gejala ini tidak khas untuk skizofrenia saja
(Lewis et aL, 2009). Dalam perkembangannya, gejala tersebut
menjadi salah satu gejala utama skizofrenia tenitama pada
International Classification of Disease-K (ICD-X) dan turunannya di
Indonesia yaitu Pedoman Penggolongan dan Di^osis Gangguan
Jiwa di Indonesia III (PPDG|-II1).

ueimiiNisbijAmupimm i s

hjhn . jC'ixifii haK cip*a


Sumber: Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry edisi 11 (2015)

Gambar 1.6 Kurt Schneider

Tab el 1.1 Firs t-ra nk sy mpto ms menu rut Schnei de r

Gejala Peniebsan
Pikiran yangterdengar Halusinasiauditorik dart suaraseseorangyang
(/Auc/rh^e disampaikan dengansuara keras

Suarayangberdebatauu HalusInasI auditorik dari dua atau lebih suara


berdiskusi (Vo/cescr^um^ yang herd ebat atau herd iskusi, biasa nya wtang
or drj cussing) pasicn yangiiicngalaiiii halusinasi

Suarayangmengomentari Halusinasi auditorik yang mengomentari peribku


perilaku pasten pasien
oo per cwt's
octfons)
PasMtas somattk (Soznoffc Halusinasi takcil atauviseral yangdipaksakanoleh
pass rvrfy) penyebab di luar diri pasien, dapat merupakan
koinbinasi beberapa halusinasi somatik
Penarikan pikiran Sensasi pikiran yang secaraaktif dianibil atau
H'Zt/jtfroivfl/) dipindahkan daribenakpasien
Sisip pikir (Thought Pikiian dimasukkan dabm benakseseorangoleb
roserCZon) agen di luardirinya
Siar pikir (T/ioop/)C Individu merasapildrannya dapat didengar oleh
broadcosCina'i orans bin, dapatdirasakanseDcrtitelepat]
Perasaan yang dibuat Perasaan yang dirasakan individu yang
foiade fee/Zna) dipaksakan oleh acen di luar dihnva
linpulsatau dorongan yang Impulsatau doronganyangdirasakan Individu
dibuat [made impulses or yang dipaksakan oleh agendi luardirinya
drives}
Perilaku sehari-hariyang Perilaku individu yang berasal dan dikontrol dari
dibuat [Made validonol luar dirinya, individu p as if dalam perilaku
octsl tersebut
Persepsiwaham Persepsi yang unikdan bermakna idiosinkratik,
(De/tzsZonaf nienvebabkanmunculnva wahain
usreeotion]
Sumben Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry, 11^*' (2015)

6I HAUASIWA UDOnSAH

:: Ni.ai h.3K CiplS


irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
BAB 2
Etiologi dan Psikodinamika

Tujuan Instrukaonal Khusus


Dari pembelajaran pada bab ini, diharapkan siswa dapat
mengetahui dan memahami mengenai hal-hal berikuL

1. Faktor biologis, genetik, dan kerentanan munculnya


skizofrenia.

Kelaianan neurotransmisi yang mendasarl munculnya gejala


psikosLS pada skizofrenla.

Psikodinamika munculnya skizofrenia.

2.1 Etiologi

Beberapa penelitian mengemukakan hubungan beberapa etiologi


sehingga menyebabkan perubahan neurobiologis pada
skizofrenia. Hubungan ilu anlara lain adalah infeksi prenatal (/Inst
Zj/t] dimana dengan gen "rentan" tertentu akan menyebabkan
intlamasl dan terjadi perubahan neurobiologis dan proses
tersebut akan berlanjut apabila pada masa dewasa seseorang
terpapar faktor-faktor seperti trauma, stressor sosial, dan
aktivitas inflamasi [secondozy hit} sehingga akan menginduksl
perubahan neurobiologis lebih lanjut oleh karena proses
neuroimunologis seperti penurunan neurogenesis, peningkatan
sinyal glutaminergU< penurunan aktivitas GABA, penurunan
lYiyclinisast dan banyak aktivitas reseptor lainnya yang akan
berujung pada fase psikosis dari skizofrenia (Anderson dan Maes,
2013).
Skizofrenia merupakan sebuah sindroma yang terdiri dari
beragam penyebab dan peqalanan penyakit (Fischer dan
Carpenter, 2009}. Interaksi an Cara genetik dan lingkungan sangat
berperan dalam munculnya skizofrenia (Taylor et al., 2009).
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
Tabel 2.2 Faktor Risiko Pre-, Peri-,dan Post-natal Skizofrenia

F
Pre- dan Perinatal aktor Risiko
Malnutrisi
InfeksiVirus
pada influenza,
kehamilan:berhubungan dengan
akhir musim dingin hingga awal semi
(Brown dan Derkits, 2010)
Toxoplasma gondii (Brown et o/., 2005;
Mortensen ei of., 2007)
Herpes simplex virus tipe 2 (HSV-2) (Buka
el al., 2008)
Measles (Dickerson et al., 2010)
Sires pada ibu (Koenig etai, 2005)
Komplikasi obstetrik:
Percarahan
Kelahiran prematur
Inkompatibilitas da rah
Hipoksiapada fetus [Clarke etai..2006)
Postnatal Infeksi bakterial pada masakanak (Blomstrom
etaZ.2ai4: Nielsen et of.
2014)
Infeksi diperkirakan berperan pada munculnya respon
imun dan ibu yang disalurkan ke Janin melalui plasenta sehingga
meinpengaruhi perkembangan otak dalam kandungan. Transfer
respon imun dari ibu ke Janin menyebabkan gangguan padasawar
darah otak dan masuknya antibodi yang memiliki reaksi silang
dengan protein sistem sarat pusat Proses tersebut menyebabkan
gangguan pada perkembangan sistem saraf pusat Janin, infeksi
pada awal mass kanak juga menyebabkan terjadinya proses
inflamasi yang mempengaruhi perkembangan otak bayi dan
kanak untuk menimbulkan kerentanan munculnya skizofrenia
dan gangguan jiwalain dlkemudian hari (BenrosetaZ, 2011).

Inflamasi diperkirakan Juga berperan pada pasien


skizofrenia. Pada pasien skizofrenia ditemukan adanya
peningkatan relatif kadar sitokin proinflamasi (Miller etal., 2011).
Sitokin proinflamasi diperkirakan berperan dalam perubahan
pada sawar darah otak yang menyebabkan gangguan struktural
pada otak sehingga memunculkan gejala gangguan Jiwatermasuk
skizofrenia (Monii et al., 2009). Salah satu bukb yang mendukung

BAB HUOLOGI DAMPSirOOINAMirA ] 13


irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
2.1.42. Glutamat
Glutamat juga diperkirakan mempunyai hubungan dengan
munculnya skizofrenia. Diperkirakan hipofungsi reseptor
glutamat yaitu N* methyl* D -aspartate (NMD A) berperan
skizofrenia (Buchanan etal., 2007; Geddes et of. 2011).

Sumber S'Mftfs edisi ke 4 (2013).

Gambar 2,5. Jaras glutamat yang diperkirakan berperan dalam


skizofrenia: fa) proyeksi glutamat kortiko-batang
otak; fb) jaras glutamat kortiko-striatal; [c^ ventral
hippocampus ke nucleus accambens; fd) jaras
glutamat thalamo^kortikal; fe] jaras glutamat
kortiko-thalamik; (f) jaras glutamatergik kortiko-
kortikal; fg) neuron piramidal intrakorLikal melalui
transmisi GABAergik.

Ter da pat hubungan antara pelepasan dopaniin dengan


aktlvitas sistem glutamat. Proyeksi glutamat kortiko-batang otak
berkomunikasi dengan jaras dopamin mesolimbik untuk regulasi
pelepasan dopamin di nucleus accumbens. Hipofungsi reseptor
NMD A pa da interneuron GABA kortikal menyebabkan terjadinya
overaktivitas komunikasi antar jaras ini sehingga terjadi
pelepasan berlebihan dopamin berlebihan pada jaras dopamin
mesolimbik (Stahl, 2013).

BAB HUOLOLI DAHPSiMOIHAMirA | 17


irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
Pengasuhan yang salah menyebabkan munculnya anxiety-laden
self pada kanak dan hal ini mencegah anak untuk mendapatkan
kebutuhannya. Pengala man ini akan menyebabkan terjadinya
gangguan menonjol pada hai^a diri menetap dan munculnya
dissociaced seif yang seiring berjalannya waktu akan berkurang.
Menurut Sullivan, munculnya kembali dissociated self ini akan
menyebabkan gejala akut pada skizol’renia yang ditandai dengan
kondisi panik dan disorganisasi psikosis. Sullivan dan muridnya,
Fromm-Reichmann menyatakan bahwa pasien skizofrenia
dasarnya adalah orang yang kesepian dan lidak mampu mengatasi
ketakutan dan ketidakpercayaan pada orang lain akibat
pengalaman tidak menyenangkan di masa awal kehidupan. Teori
psikodinamika lain oleh Federn mengungkapkan adanya
withdrawal of ego boundary cathexis yang tarnpak dari tidak
adanya batasan antara sesuatu yang berada di dalain dan di luar
dari individu. Semua teori itu. salah satunya bermuara pada
schrzophrenogenic mother, yang cenderung menempatkan ibu
dalam posisi bersalah karena munculnya skizofrenia pada
anaknya (Gabbard. 2014].

Teori terkini lebih menitlkberatkan pada hubungan fa kt or


biologis, psikologis, dan soslal dalam psikodinamika skizofrenia.
Beberapa petunjuk neurobiologis memberikan gambaran alas
hubungan faktor biologis dan pslkologis pada skizofrenia.
Petunjuk tersebut antara lain tarnpak pada pasien skizofrenia
biasanya mempunyai riwayat masa kecil yang hipersensitif
terhadap stimulasi dan gangguan pada konsentrasi dan perhatian.
Diduga hal ini muncul akibat korelasi antara rasa kchilangan d if us
gerbang sensoris normal, atrofi kortikal. dan penurunan aktivitas
korteks frontal. Gangguan signflkan pada neuromotor, bahasa
reseptif dan perkembangan kognitif merupakan prediktor pada
gangguan skizofreniform. Predisposisi genetik pada skizofrenia
yang sangat menonjol memberikan suatu gambaran adanya
hubungan faktor genetik dengan timbulnya gejala skizofrenia.
Sekelompok gen diduga mengontrol tingkat kesensitifan individu
terhadap lingkungan, kerentanan terhadap stres dan
ketidakseimbangan antara faktor protektif dan faktor risiko
(Gabbard, 2014).

BAB HUOLOGI ] 21
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
deteriorasi pada tungsi sosial dan okupasional sedai^an
menurut PPDG|-1I] dan ICD*10 tidak memerlukan adanya
deteriorasi untuk mendi^nosis skizofrenia [WHO, 1990; Depkes
Rl, 1993; dan APA, 2013].
Pada kriteria diagnosis skizofrenia menu rut DSM-5, salah
satu hal yang menarik dan nampak berbeda dari kriteria pada
DSM-IV adalah salah satu kriteria utama dari skizofrenia yaitu
waham. Pada DSM-5, tidak lagi disebutkan waham-waham jenis
tertentu yang khas untuk skizofrenia namun hanya disebut
dengan waham. Serta, kriteria utama yai^ dipenuhi minimal dua
dari lima, yang sebelumnya pada DSM-IV hanya diperlukan satu
kriteria utama [Lewis et o!., 2017). Kriteria diagnosis untuk
skizofrenia menurut DSM-5 adalah sesuai dengan kriteria berikut
[APA, 2013):
A. Dua [atau lebih) gejala berikut, yang masing-masing muncul
secara signifikan dalam periode 1 bulan (atau kurang jika
berhasil diterapi). Salah satunya harus [1], [2). atau (3):
1. Waham.

Halusinasi.

Pembicaraan kacau (contohnya derailment yang sering


Aft

atau inkoherensij.

Perilaku kacau atau katatonik yang nyata.


A*

Gejala negatif [contohnya menurunnya ekspresi


A

emosional atau avolisil.

B, Dalam kurun waktu yang signiflkan sejak onset gangguan,


tingkat fungsi pada satu atau lebih area, seperti pekerjaan.
relasi interpersonal, atau perawatan diri, secara nyata di
bawah tingkat yang dilakukan sebelum onset [atau jika onset
pada masa kanak atau remaja. terdapat kegagalan untuk
mencapai tingkat fungsi interpersonal, akademik, dan
pekerjaan yangseharusnya].

Tanda yang muncul berkelanjutan dan menetap setidaknya 6


bulan. Dal am peri ode 6 bulan tersebut terma suk setidaknya 1
bulan (atau kurang jika berhasil diterapi) dengan gejalayang
memenuhi kriteria A fyaitu geiala fase aktif] dan dapat

fiAB 5 DIAQHOSI^iPSJKOPAlOtOLI | 25
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
H. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan
respons emosional yang menumpul tidak wajar. biasanya
yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosia!
dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jefas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neuroleptika.

4 gelaU >e»> |leWh uri 1 |iks kurvt| >«•>}:


lA.
A D
a c 'iVitMffl
Ortitfiaw
rcM ' UnfOffwnMd
WWf 1WWOBC***

4 niiirtfJ I
WWW
kmtunito^
atau 4» h«m*an.

Gambar 3.2. Alur diagnosis skizofrenia menurut ICD-IO/PPDGJ-


ill

Adapun gejala*gejala khas tersebut diatas telah berlangsung


selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk
setiap fase nonpsikosis prodromal). Harus ada suatu perubahan
yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall
quality] dari beberapa aspek perilaku pribadi (perscno/be/aav/or),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan,
tidak berbuat sesuatu, sikap la rut dalam diri sendiri [selfabsorbed
attitute]. dan penarikan diri secara sosial [WHO, 1990; Depkes RJ.
1993). Alur diagnosis dapat dilihat pada gambar 3.2.

BAB 3 DIAGHOSI^ £ PSIKOPAIOLOCI | 29


irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
skizofrenia disorganized sehingga kau hebetrenik hanya dikenal
di ICD-10 atau PPDG|. Fitur utama adalah gangguan pikiranj Tneski
pada DSM-IV-TR adanya penlaku disorganisasi dan afek datar
atau inapropriate juga diperlukan untuk pemenuhan diagnosis.
Waham dan halusinasi, jika ada hanya sedikit atau tidak
tersistematis (WHO, 1990; Depkes RI, 1993; APA, 2000; Lewis eC
aL, 2009). Dapat pula terjadi eksitasi, yaitu inengungkapkan
perasaan tanpa batasan, "berpidato” dengan lancar dan bergegas,
serta mood yang etevasi (Stahl, 2013)

Tipe skizofrenia ini disebut juga sebagai skizofrenia yang


memiliki tanda-tanda regresi. Yaitu, adanya perilaku dan plkiran
yang regresi ke fase perkembangan primilif, disinhibisi, dan kacau
(Sadock et al., 2015). Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk
skizofrenia dengan perubahan afektif yang tampak jelas, dan
secara umum juga dijumpai waham dan halusinasi yang bersifat
mengainbang serla terpulus-pulus. Suasana perasaan seringkali
dangkal dan inappropriate, seringkali disertai cekikikan
atau perasaan puas diri (sey-soc/s/led), senyum sendiri (se//-
absorbed smiling'}, atau oleh sikap yang angkuh/agung {lofty
manner}; terlawa menyeringai tgrifnaces). mannerismus,
mengibuli secara bersenda gurau (pronto), keluhan yang
hipokondrik, dan uiigkapan kata yang diulang-ulang {reiterated
phrases} (WHO 1990; Depkes RJ. 1993).

Perilaku pasien dengan skizofrenia hebefrenik biasanya


tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta
umumnya terdapat mannerismus (WHO 1990; Depkes RI, 1993).
Pasien kadang kala juga menunjukkan sikap superior,
mendramatisir dirinya atau gejala yang dialami, pembicaraan
yang keras dan dibesar-besarkan, peningkatan aktivitas motorik,
dan pembicaraan yang amat banyak. Selain gejala perilaku,
skizofrenia hebefrenik juga ditandai dengan adanya disorganisasi
konscptual, yaitu misalnya mcnjawab yang tidak scsuai dengan
pertanyaan yang diberikan, irelevan atau inkoheren, menjauh dari
topik bahasan yang didiskusikan, mengguiiakan neologisme, atau
mengulang-ulang beberapa kata atau frase. Juga terjadi
ciisorientasi, yaitu gangguan pengenaian temp at, waktu, usia, atau
seseorang (Stahl, 2013).

fiAB 1 DIAQHOSI^iPSJKOPOtOGI | 33
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
merupakan suatu reaksi psikologis terhadap skizofrenia. Gejala
jarang cukup parah atau cukup luas untuk Tnemenuhi kriteria
sebagai suatu episode depresi yang berat. Seringkali sulit untuk
memutuskan gejala-gejala pasien yang mana yang disebabkan
oleh depresi dan mana yang disebabkan oleh oleh medikasi
neuroleptika atau karena gangguan dorongan kehendak dan
mendatarnya afek dari skizofrenia itu sendiri. Gangguan depresi
ini di-sertai oleh suatu peningJcatan risiko bunuh diri (WHO, 1990;
Depkes RI. 1993).
Pedoman diagnosis untuk gangguan ini adalah jika hanya
ditemukan hal«hal berikut ini: 1) pasien telah menderifa
skizofrenia yang meinenuhi kriteria umutn skizofrenia selama 12
bulan terakhir; 2) beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada;
dan 3] gejala-gejala depresi menonjo! dan mengganggu,
memenuhi sedikitnya kriteria untuk suatu episode depresi dan
telah ada untuk waktu sedikitnya dua pekan. Apabila pasien tidak
lagi mempunyai gejala skizofrenia, diagnosis harus menjadi suatu
episode depresi f. Bl la gejala skizofrenia masih jelas dan me no nJ ol,
diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang
sesuai (WHO, 1990; Depkes RI, 1993).
F. S ki zo fr en ia r esi dual
Diagnosis ini dipakai untuk pasien yang memiliki setidaknya
satu episode psikosis sebelumnya dan meinenuhi kriteria
skizofrenia, namun sudah tidak memiliki gejala psikosis. Pasien
masih mengalami gangguan dengan gambaran gejala-gejala
negatif. gejala residual, atau keduanya. Kondisi dapat kronis atau
merupakan transisi menuju remisi sempurna (Lewiseto/., 2009).
Dalam penjelasan yang dituliskan di ICD-10, subtipe ini
merupakan gambaran dari suatu stadium kronis dari perjalanan
skizofrenia. Gambaran ini ditunjukkan oleh gejala-gejala negatif
jangka panjang, walaupun belum tentu gejala ini bersifal
ireversibel (WHO, 1990; Depkes Rl. 1993).
Pedoman diagnosis skizofrenia residual inenurut PPDGI-III
adalah memenuhi 1) gejala negatif yang menonjol, misalnya
perlambatan psikomotor, akti vitas menurun, afek yang
menumpul. sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam
kuantitas atau isi pembicaraan, koraunikasi nonverbal yang buruk

fiAB 5 DIAQHOSI^iPSJKOPAlOtOtl | 37
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
jika menghilang ketika pasien diberikan obat-obaun antlpsikosis.
Meskipun gejala positif atau gejala psikosis yang paling nampak
ini mudah dlketahut pengobatan skizofrenia tidak kemudian
hanya ditujukan untuk gejala jxjsitif saja karena skizofrenia
sendiri adaiah gangguan yang kompleks dan memiliki beberapa
aspek gejala. Meskipun demikian, gejala positif tetap menjadi inti
dari konsep mengenai skizofrenia (Lewis eto/., 2017}.

Gejala positif seringkali menggainbarkan adanya


peningkatan fungsi di atas ambang normal dan memunculkan
berbagai gejala yang mudah dikenaJi, misalnya dari pembicaraan
yang kacau, perilaku yang kacau, yang dapat disebabkan adanya
waham atau halusinasi (Stahl, 2013}. Halusinasi adalah bentuk
dari gejala positif yang dapat terjadi pada semua modal itas
sensori, yaitu auditori, visual, olfaktori. gustatori, dan taldil.
Halusinasi auditorik merupakan jenis halusinasi yang terbanyak
pada skizofrenia. Yaitu, diala mi lebih dari 70% pasien skizofrenia
di seluruh dunia. Isi halusinasi seringkali merupakan hinaan dan
cemoohan yang kemudian menyebabkan pasien seringkali
menjadi takuL marah, sedih, merasa bersalah karena hal ini.
Adanya stressor sosial, penyakit fisik, dan nyeri kronis dapat
meningkatkan frekuensi dari halusinasi yang dialami oleh pasien.
Halusinasi auditorik dapat berlangsung sejak bangun tidur hingga
tidur lagi, atau muntin muncul Iregular dan tidak terduga.
Halusinasi ini biasa meningkat pada petang dan malam hari saat
akan tidur. Banyak ditemukan halusinasi auditorik berupa
perkataan yang jelas, meskipun bunyi-bunyi lain yang tidak jelas
juga ditemukan pada pasien skizofrenia. Pasien kemudian biasa
mengurangi dengan bernyanyi, mendengarkan musik, membentak
pada halusinasi, atau berusaha berbincang dengan orang lain.
Meskipun demikian, pada beberapa pasien, halusinasi auditorik
ini malah merupakan "teman berbincang" dan kadang
memberitahu apa-apa yangharus dilakukan oleh pasien (Lewis et
a/., 2017).

Halusinasi visual terjadi lebih jarang dari halusinasi


auditorik, tidak lebih dialami oleh 33% pasien skizofrenia pada
suatu waktu dalam sakitnya. Setengah dari pasien skizofrenia
yang mengalami halusinasi auditorik juga akan mengalami
halusinasi visual, dan amat jarang pasien skizofrenia hanya
fiAB 5 DIAQHOSI^iPSlKOPAlOtOtl | 41
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
negatif muncul bersamaan dengan meningkatnya gejala positif,
dan dapat membaik dengan pemberian antipsikosis (Lewis et ol.,
2009).
Gejala negatif primer adalah gejala negatif yang muncul dari
dalam proses penyakit pada seorang pasien. Gejala ini merupakan
variabel lerakhir dari gejala skizofrenia. Pasien skizofrenia
dengan gejala defisit memiliki prognosis yang buruk untuk
perbaikan fungsinya. Sebesar 10-30% pasien dengan skizofrenia
mengalami hal ini (Lewis eta/,, 2009).

Gejala negatif dapat dim lai dari pengamatan yang dilakukan


oleh dokter dan juga dinilai dari jawaban yang diberikan oleh
pasien. Dari pengamatan yang dilakukan oleh dokter, gejala
negatif misalnya terlihat dari kontak mata yang nampak dibatasi
oleh pasien terhadap pemeriksa. Kemudian, pasien nampak
kurang rapi, kurang terawaL atau higiene yang kurang, bahkan
dapat menimbulkan bau. Pasien juga nampak membatasi
pembicaraan, menggunakan kata-kata yang sedikit, atau
menggunakan bahasa nonverbal. Makin parah gangguan yang
dialami oleh pasien, hal-hal ini akan makin nampak (Stahl, 2013).
Pemeriksaan lain mengenai gejala negatif, misalnya dari
jawaban pasien yang diberikan atas pertanyaan-pertanyaan
pendek pemeriksa. Pasien tidak lagi merasa senang akan hobi dan
kesenangan yang bia.sanya menyenangkan, respon terhadap
stimulus yang minimal, dan tujuan hidup yang terbatas atau tidak
jelas. Pasien juga memiliki minat yang kurang untuk memulai
aktivitas sosial, bahkan mungkin tidak memiliki teman atau hanya
sedikiL, Lerutama hubungan yangdekaL Pasien juga akan kurang
mampu mcrcspon secara cmosional stimulus yang diberikan, atau
bahkan respon terhadap masalah lampau yang emosional bagi
pasien. Sebagaimana pemeriksaan sebelumnya, makin parah
gangguan yang dialami oleh pasien, haf-hal ini al;an makin
nampak (Stahl, 2013).

3.2.3 Gejala Disorgonisasi


Batasan gejala disorganisasi skizofrenia kurang jelas jika
dibandingkan gejala psikosis dan gejala negatif. Gangguan ini

8AB J DIAQHOSI^iPSlKOPOtOGI | 45
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
stimulus di lingkungan biasanya akan memudahkan gejala ini
terlecut dari pasien. Gejala agresif ini tidak hanya khas untuk
skizofrenia karena )uga dapat ditemukan pada gangguan psikiatri
lainnya. Yang paling sering, adalah adanya gangguan pengendalian
impuJs (Stahl 2013J.

12.6 Gejala Afektir


Skizofrenia disebut memiliki domain gejala afektif. Namun, bukan
berarti afektif yang dimaksud adalah memenuhi kriteria diagnosis
dari gangguan-gangguan afektif ataupun juga kelompok gangguan
kecemasan, Pasien skizofrenia kadang-kadang mengalami mood
yang deprest merasa cemas, mudah marah, adanya rasa bersalah.
juga kekhawaliran (Lewis et al., 2009).
Sebagian besar pasien dengan skizofrenia akan mengalami
depresi selama perjalanan penyakitnya. Sedangkan mengenai
kecemasan, belum terlalu banyak diketahui kejadiannya dalam
skizofrenia, meskipun disebutkan cukup sering muncul. Diduga
terdapat patologi yang tumpang tindih antara skizofrenia dan
gangglia n obsesif^kompulsif. Sebanyak sepertiga pasien dengan
skizofrenia komorbid dengan gan^an ini. Sebanyak 25% pasien
komorbid dengan agorafobia dan gangguan cemas menyeluruh.
Sebanyak 15-40% pasien komorbid dengan fobia sosial. Cemas
yang dialami oleh pasien skizofrenia dapat memunculkan
kekerasan dan idebunuh diri (Lewis etoL, 2009).
Sebanyak 20-40% dari pasien skizofrenia akan melakukan
percobaan bunuh diri dalam suatu saat pada perjalanan
penyakitnya. Risiko bunuh diri menlngkat pada awal-awal
terjadinya gangguan, dengan adanya kekambuhan yang sering,
sekitar waktu masuk atau keluar rumah sakit, atau ketika gejala
psikosis muncul yaitu adanya halusinasi atau waham. Sedangkan.
untuk pasien skizofrenia dengan gejala negatif memiliki risiko
yang rendah untuk melakukan bunuh diri (Lewis etal., 2009).

fiAB 5 DIAQHOSI^iPSJKOPAlOtOGI | 49
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
auditorik sering benipa suara yang mengancam, menjijikkan,
menuduK atau menghina. Juga dapat berupa dua atau lebih suara
yang berbicara di antara mereka sendin membicarakan tentang
kehidupan atau perilaku pasien (Sadock etal., 2015).
Halusinasi jenis lain seperti visual, taktil, olfaktori, dan
gustatori inungkin munciil meskipun lebih jarang dibandingkan
jenis auditorik. Disebutkan bahwa halusinasi bentuk lain juga
dapat muncul pada penyak it-penyak it lain seperti penyakit
neurologis atau kondisi medis uinum lainnya, sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk tnemascikan tidak ada
kondisi medis umum lain yang mendasari terjadinya halusinasi
tersebut (Lewis etal., 2017).

Terdapat juga halusinasi yang dirasakan oleh pasien


skizofrenia yang berasal dari organ-organ di dalam tubuhnya.
Halusinasi ini disebut dengan halusinasi kinestetik atau visceral.
Misalnya, adanya rasa terbakar di dalam otak. adanya rasa
tertekan di pembuluh darah, adanya rasa berputar dari organ-
organ pencernaan, dan rasa seperti dipotong-polong di dalam
tulang. Distorsi-distorsi dari organ lain juga dapat terjadi pada
pasien [Sadock etal.. 2015).
Gangguan dari persepsi selain halusinasi adalah ilusi. Ilusi
merupakan kesalahan pencerapan dari stimulus yang ada,
berbeda dengan halusinasi yang merupakan pencerapan tanpa
adanya stimulus. Halusinasi sering terjadi pada fase aktif [periode
psikosis) dari skizofrenia. Ilusi dapat terjadi pada fase prodromal,
fase aktif. dan fase remisi dari skizofrenia. Pada terjadinya ilusi
ini, juga harus disingkirkan adanya kemungkinan penyebah dari
gangguan medis umum lainnya. termasuk gangguan pcnyalah-
gunaan zat (Sadock etal., 2015).

3.3.6 Proses Berpikir


Gan^uan pada proses berpikir sering ditemukan pada pasien
skizofrenia dan merupakan salah satu gejala kunci untuk
dic^osis. Disebutkan pula, gangguan pada proses berpikir ini
merupakan gan^an inti pada skizofrenia meskipun seringkali
sulit dimengerti oleh pemeriksa. Untuk lebih memudahkan,

8AB J DIAGHOSI^iPSlKOPOtOGI | 53
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
pasien skizofrenia pada salah satu waktu dalam hidupnya.
Rahkan, pasien skizofrenia yang memiliki prognosis baik misalnya
gejala negatif yang minimal, kapasltas afektif yang baik,
kemampuan herpikir abstrak yang masih cukup baik, juga
berisiko imtuk melakukan bunuh dirt Risiko tertinggi adalah pada
pasien skizofrenia laki-laki, berusla muda, memiliki ekspektasi
tinggi dalam hidup, penurunan fungsi yang jelas, telah menyadari
bahwa “mimpi-mimpi’’-nya tidak aJ<an tercapai, dan keyakinan
terha dap terap i yang kurang. Hal lain yang menyebabkan bunuh
diri pada pasien skizofrenia adalah adanya hat u si nasi audilorik
tipe commanding dan penyalahgunaan zat [Sadock ecai, 2015J.

Sebagian besar pasien skizofrenia melakukan kejadian


homicide dengan tidak terduga sebelumnya. Ada beberapa alasan
yang sering menjadi dasar mendadak bag! pasien untuk
melakukan homicide, misalnya akibat halusinasi atau waham.
Halusinasi dan waham yang muncul ini seringkali merupakan
waham bizarre yang aneh dan tidak masuk akal. Ada beberapa
faktor risiko untuk homicide pada pasien skizofrenia yang dapat
menjadi perhatian. Misalnya, adanya riwayat homicide
sebelumnya, perilaku membahayakan selama di raw at di rumah
sakit, dan halusinasi atau waham yang memiliki isi mengenai
kekerasait S elain ilu, ternyata ke mungkin an pasien skizofrenia
melakukan hom/dde tidak lebih besar dibandingkan populasi
umum [SadockeCo/., 2015).

3.3.8 Sensorium dan Kognisi


1. Orientasi

Pasien dengan skizofrenia seringkali tidak mengalami


gangguan orientasi waktu, tempat, dan orang. Jika terjadi
gangguan orientasi pada pasien skizofrenia. harus
dilakiikan pemeriksaan untuk gangguan medis umum
lainnya, penyalah-gunaan zat. atau gangguan neurologis
pada otak. M eskipun, pada beberapa pasien skizofrenia
akan menjawab asal-asalan pada pertanyaan yang
diberikaa Misalnya, "Saya Nabi Isa; ini di surga; dan ini
adalah tahun 45sebelum masehi" (Sadock etaL, 2015).

BAB 5 DIAGH0SI5 £PS3KCPAWtOGI | 57


irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
skizofreniform. Gangguan ini memiliki gambaran gejala psikosis,
namun dibedakan dengan skizofrenia karena Tnemiliki durasi
yang lebih singkaL Yaitu, sedikitnya bertangsung selama 1 biilan
namun kurang dari 6 bulan. Hal ini herbeda dengan kriteria durasi
skizofrenia dalam DSM-5 yang membutuhkan waktu sedikitnya 6
bulan dengan minimal 1 bulan fase aktif gejala psikosis (APA,
2013).
5. Gangguan kepribadian
Gangguan kepribadian dapat diartikan sebagai gambaran pervasif
atau menetap pada kepribadian seseorang yang tidak berfungsi
baik pada hubungan dengan dirinya {self) dan ]uga dengan orang
lain atau hubungan interpersonal [APA. 2013). Gangguan
kepribadian skizotipal memiliki gambaran berupa ide-ide aneh
atau merasakan adanya persepsi yang tidak biasa dan nampak
eksentrik. Namun, gejala ini hanya ringan dan tidak dapat
dikategorikan ke dalam gejala psikosis (Freudenreich, 2016).
Gangguan kepribadian lain yang dapat didiagnosis banding
dengan skizofrenia adalah gangguan kepribadian skizoid dan
gangguan kepribadian ambang. Gangguan kepribadian
sebenarnya memiliki gambaran yang ringan atau di bawah
ambang dari gangguan skizofrenia. Karena kepribadian bersifat
menetap dalam perkembangan pasien, seringkali menjadi sulit
untuk menentukan onset gejala seperti halnya skizofrenia (Sadock
etal., 2015).
6. Gangguan mood
Skizofrenia dapat didiagnosis banding dengan berbagai macam
gangguan mood. Misalnya, gangguan afektif bipolar, depresi yang
disertai dengan gejala psikosis, dan manik yang disertai dengan
gejala psikosis (Sadock et al., 2015). Pada gangguan afektif
bipolar, didapatkan episode afektif yang menonjol dibandingkan
gejala psikosis itu sendiri. Atau, gangguan psikosis terse but
muncul pada saal puncak dari gejala afektif. Misalnya, jika
munculnya waham atau halusinasl terjadi pada saat episode
manik atau episode depresi yang parah, maka diagnosis lebih
mengarah pada gangguan afektif bipolar episode manik atau
depresi dengan gejala psikosis (APA, 2013).

fiAB 5 DIAQHOSI^iPSJKOPAlOtOGI | 61
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
BI2 dan folat, adanya infeksi human immunodeficiency virus (HIVJ,
gangguan pada sistem iinun misalnya lupus eritematosus
sistemik, dan gangguan pada mineral darah (Freudenreich, 2016).
Penyakit medis lainnya yang juga dapat menyebabkan gejala
psikosis misalnya acute intermittent porphyria, intoksikasi kabon
monoksida» lipoidosis serebral, penyakit Creufzfeldt-Jakob,
penyakit Fabry's, penyakit Fahr's, penyakit Hallervorden-Spatz,
homosisteinuria, penyakit Huntington’s, leukodistrofi
metakromasis, si nd ro ma Wernicke-Korsakoff, dan penyakit
Wilson’s. Gangguan neurologis yang dapat menunjukkan
gambaran psikosis misalnya epilepsi [terutama epllepsi lobus
temporal), ensefalitis, neurosifilis, normopressure hydrocephalus,
dan trauma atau neoplasma pada otak (terutama pada lobus
frontal atau pada area limbik) (Sadock et al., 2015).
Tabel 3.7. Diagnosis Banding Skizofrenia
Diagnosis banding
Gar^uan psikosis akut dan sementara
Gangguan waham
Gangguan skizoafektif
Gangguan skizofreniform
Gar^uan kepribadian
Gangguan mood
Gar^guan obsesifkompulslf
Body dysmorphic disorder
Mahnge/ing dan factitious disorder
Gai^guan stres pasca-trauma
Gangguan spektrum autisme
Psikosis akihat penggunaan NAPZA
Gangguan medis lain dengan gambaran gejala psikosis

Evalua^
1. Sebutkan kriteria diagnosis skizofrenia menurut P P DGJ-111J
2. Sebutkan kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM-5!
3. Sebutkan dan jelaskan masing-masing subtipe dari
skizofrenia!

fiAB J DIAGHOSISiPMKCPAlOtOGI | 65
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
Fasten dianggap sakit ringan jika mencapai angka 58, sakit sedang
75, terlihat nyata sakit 95, dan sakit berat 116. Perubahan skor
PANSS digunakan untuk melihat perbaikan klinls atau respon
terhadap terapi (Leuchteto/., 2005).

TabeH.t Item pads PANSS


Kode Item Kode (teoi
Pl Waham G4 Tegang
Disorganisasi Mannerismus &
P2 G5
konseptual posturing
P3 Perilaku halusinatorik G6 Depresi
P4 Eksitasi G7 Retardasi motorik
P5 Kebes a ra n/^ ra ndiosl G8 Keti d ak 'ko o perati fa n
(si pikiran yang tidak
P6 Kecungaan G9 biasa
P7 Hostilitas GIO Disorientasi
N1 Afek turn pul Gil Atensi buruk
Gangguan daya nilai
N2 Emo on a/ ivrdidroivo/ Gi2 tilikan dirt
[judgment} 8t

N3 yang biiruk
Rapport G13 Gangguan kemauan
Penarikan din secara
N4 G14 Cangguan kontrol impuls
sosial/pasif/apads
Kes Lili tan dalam
N5 CIS Preokupasi
pi k I ran abstrak
Pembicaraon yar^
N6 kurai^ spontan & G16 Penghi nd aran s os i al akti f
mcngaiir
N7 Pikiran stereotipi SI Amarah
Kesulitan dalam
G1 Fokus pad a somatik S2 menunda pemuasan
kepuasan
G2 Kecemasan S3 Afek (abil
G3 Perasaan bersalah

Butir-butir yang dihitung dalam PANSS ini begttu banyak


sehingga tidak mengakomodasi situasi yang membutubkan
penilaian secara cepat Sebab itu, terdapat versi pendek dan
PANSS yailu PANSS-EC [excitement component) yang cukup
singkat unLuk digunakan. Terdapat lima butir penilaian yaitu
gaduh gelisah, permusuhan atau hostilitas, ketegangan, ketidak-
knoperatifan, dan gangguan pengendaiian impuls. Maslng-masing
diberi penilaian 1 sampai 1. Sehingga. rentang skor adalah 5
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
berbagai macam tes yang menandakan adanya masalah pada
korteks frontotemporal (Sadock et al, 2015). Continuous
Performance Test (CPT) adalah salah satu standar pemeriksaan
gangguan atensi pada pasien skizofrenia. Terdapat empat hal yang
dinilai pada pengxikuran menggunakan CPT. Yaitu, stimuius’
response mapping, target probability, delay intervals, dan response
readiness. Pada pasien dengan skizofrenia, pasien akan inei^lami
masalah pada keempat aspek tersebut {Elvevag et al, 2000).
Gangguan pada vigilansi atau atensi akan tergambar pada
kesulilan mengikuli percakapan dalani akliviLas sosial dan
kesulitan mengikuti instruksi, misalnya terkait dengan
pengobatan, atau di lempat kerja (Keefe & Eesley, 2009).
Untuk inenilai kemampuan belajar dan memori verbal,
biasanya menggunakan California Verbal Learning Test yang juga
melibatkan kemampuan untuk mempelajari daftar kata-kata yang
tersedia kemudian pasien diminta untuk mengingal kemhali
sebanyak-banyaknya. Pasien skizofrenia biasanya akan memiliki
kemampuan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata populasi
umum (Keefe & Eesley, 2009). Hopkins Verbal Learning Test-P
adalah tes lain yang juga dapat dilakukan untuk menilai
kemampuan belajar dan memori verbal pada pasien dengan
skizofrenia (Keefe, 2013).
Untuk pertimbangan dan kemampuan pengambilan
keputusan dapat dilakukan dengan tV)'scons/n Card Sorting Test
(WCST), Pemeriksaan ini mei^unakan kartu-kartu untuk
pemeriksaan. Pada pasien skizofrenia dan pasien dengan
gangguan pada lobus frontalis lainnya, biasanya akan didapatkan
hasil yang buruk (Keefe & Hesley, 2009). Selain men^inakan
WCST, pemeriksaan untuk pertimbangan dan kemampuan
pengambilan keputusan pada pasien skizofrenia dapat diukur
dengan Neuropsychological Assessment Battery (NAB) (Keefe,
2013).
Kecepatan proses berpikir dapat diukur dengan Wechsler
Adult Intelligence Scale Digit Symbol Test Tes ini disebutkan
sensitif terhadap keadaan kesadaran (misalnya somnolen} dan
gejala-gejala ekstrapiramidal (Keefe & Eesley, 2009). Tes lain yang
dapat dilakukan untuk mengukur kecepatan berpikir adalah Brief

I 73
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
hipoaktit. Namun, hiperaktit yang terjadi adalah tidak etisien dan
tidak sesuai dengan yang diperlukan. Hal ini menggambarkan
proses kognisi yang tergan^u pada skizofrenia (Stahl, 2013).

Stimulus
kogratff

normal

Stimulus
kognitif

6 skizofrenia

Sumber: Stahl’s PsychopJiarniacology edisi ke4 (2013)


Gambar 4.1. Stimulus kognitif dan aktivasi DLPFCpada pasien
skizofrenia. Gam bar A menunjukkan aktivasi DLPFC
normal setelah diberikan stimulus kognitif. Gambar
B menunjukkan aktivasi DLPFCpada pasien
skizofrenia setelah diberikaii stimulus kognitif yang
lebih rendah dibandingican normal. Hal ini
menunjukkan penurunan aktivitas kognisi pada otak
pasien dengan skizofrenia.

Arvid Carlsson menjelaskan hipotesis dopamin pada


skizofrenia. Disebutkan bahwa patofisiologi skizofrenia
berhubungan dengan hiperaktivitas sistem dopamin subkoitikal.
Hipotesis ini telah dikenal sejak lebih dari lima puluh lahun yang
lalu, berawal dari ditemukannya obat neuroleptik seperti
promazin dan klorpromazin yang merupakan antagonis dopamin
dan bekerja mem bl ok reseptor dopamin (Dz) di post-sinap.
Molecular brain imaging adalah salah satu cara untuk menguji
hipotesis ini secara langsung pada pasien skizofrenia (Wong etal.,
2017).

BXfi 4 PlHtfilK^AHPENUHlAMt | 77

K 111.*! i hak
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
irriaQ®
not
availabl
e
meningkat akibat agonis dopamin dan menurun akibat ancagonis
dopamin (Thaker, 2009).

Evaluaa
1. Sebutkan tujuan dilakukannya pemeriksaan penunjang pada
skizofrenia!

2. Sebutkan pemeriksaan penunjar^ untuk gejala positif dan


negatlfskizofrenia!

3. Sebutkan pemeriksaan penunjang untuk gejala kognitif


skizofrenia!
4. Sebutkan pemeriksaan penunjang neuroimaging untuk
skizofrenia!

5. Sebutkan pemeriksaan penunjang lain-la in untuk skizofrenia!

BAfi 4 PE^LINMHC | 81

bdhan dengan cipta


You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis
You have either reached a pagethatis jravailable for viewing or reached yoir viewing limit for
tfriis