Anda di halaman 1dari 15

STUDI KEKUATAN GESER HUBUNGAN PELAT DAN KOLOM (SLAB-

COLUMN JOINT) PADA BANGUNAN TINGGI AKIBAT BEBAN


SEISMIK

Rama Alpha Yuri Margareta dan Sjahril A. Rahim


1
Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia

Email: rama.margareta@yahoo.com

ABSTRAK
Salah satu sistem struktur yang mulai banyak digunakan pada bangunan tinggi adalah sistem flat slab.
Penggunaan sistem flat slab pada bangunan semakin meningkat karena memiliki keuntungan terhadap kinerja
struktur dan kemudahan dalam proses konstruksinya. Akan tetapi, sistem flat slab sangat rentan terhadap
keruntuhan geser pons karena adanya konsentrasi tegangan geser yang tinggi di sekitar kolom. Oleh karena itu,
dalam penelitian ini akan dilakukan peninjauan terhadap kekuatan geser pada hubungan pelat dan kolom akibat
beban gempa dengan pemberian gaya prategang pada pelat yang akan dianalisis secara 3 dimensi. Studi
dilakukan dengan variasi bangunan tingkat rendah dan variasi bangunan tingkat tinggi. Hasil dan analisis
penelitian menunjukkan bahwa kekuatan geser pada hubungan pelat dan kolom akibat pembebanan gempa dapat
terpenuhi tanpa penulangan geser apabila simpangan antar lantainya dapat dibatasi. Pemberian gaya prategang
sangat berpengaruh dalam meningkatkan kekuatan geser pada hubungan pelat dan kolom. Selain itu, sistem flat
slab ini hanya mampu memberikan kekakuan pada bangunan tingkat rendah saja sedangkan pada bangunan
tingkat tinggi dibutuhkan shearwall untuk membatasi simpangan antar lantai.

Kata kunci : Flat Slab, keruntuhan geser pons, hubungan pelat dan kolom, gaya prategang, simpangan antar
lantai, shearwall

ABSTRACT
One of the structural system widely used on high rise building is flat slab system. The use of flat slab system in
buildings is increasing because the advantages of structure performance and ease in the construction process.
However, flat slab system is very susceptible to punching shear failure due to high concentration of shear stress
around the column. Therefore, in this research will be conducted a review of the shear strength of slab column
joint due to earthquake load by giving prestressing force on the slab that will be analyzed in 3 dimensions. This
studies are conducted with variation of low rise building and high rise building. The results and analysis show
that the shear strength of slab-column joint due to earthquake load can be fulfilled without shear reinforcement
if drift ratio of the building can be limited. Provision of prestressing force is very influential in increasing the
shear strength of slab-column joint. In addition, flat slab system is only able to provide adequate stiffness in low
rise building while on high rise building needed shearwall to limit the drift.

Key words : Flat slab, punching shear failure, slab-column joint, prestressing force, drift, shearwall

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


PENDAHULUAN

Pada umumnya, sistem slab-column tidak cukup memenuhi sebagai suatu sistem
penahan gaya gempa dari suatu bangunan yang dirancang terhadap gaya gempa berskala
tinggi karena adanya permasalahan yang berhubungan dengan simpangan lateral yang
berlebihan serta kapasitas transfer momen dan geser yang tidak cukup. Pada daerah gempa
berskala tinggi, portal slab-column umum digunakan sebagai sistem penahan gaya gravitasi
sedangkan pada daerah gempa berskala rendah, portal slab-column umum digunakan sebagai
sistem penahan gaya lateral.
Flat slab memiliki kemungkinan memunculkan masalah dalam transfer geser
disekeliling kolom. Keruntuhan pada struktur flat slab dimulai dari adanya keruntuhan geser
pons. Seluruh gaya reaksi pada kolom harus didistribusikan dalam bentuk gaya geser ke
daerah pelat di sekitar pertemuan pelat dan kolom. Keruntuhan geser pons ini merupakan hal
yang sangat penting untuk diperhatikan terutama pada struktur flat slab.
Oleh karena itu, studi ini dilakukan untuk meninjau dan menganalisa kekuatan geser
pada hubungan antara pelat dan kolom (slab-column joint) apabila terjadi gempa serta melihat
pengaruh prestressed terhadap kekuatan geser hubungan pelat dan kolom tersebut pada suatu
struktur flat slab sehingga diharapkan nantinya dapat dirancang sebuah bangunan yang aman,
kuat, dan stabil dalam menahan beban gempa.

TINJAUAN TEORITIS

Flat Slab
Flat slab merupakan suatu sistem dimana kolom secara langsung menyokong pelat
tanpa adanya balok. Flat slab diperkuat dalam dua arah (two-way slab) sehingga dapat
meneruskan bebannya langsung ke kolom-kolom yang mendukungnya. Pada sistem flat slab
biasanya terdapat penebalan (drop panel) yang berfungsi untuk menahan gaya geser dan
momen bending negatif serta memperkaku pelat dan mengurangi lendutan.

Gambar 1. Flat Slab


Sumber: McGraw-Hill, Steel, Concrete & Composite Design of Tall Buildings (2nd ed)

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Beton Prategang (Prestressed Concrete)
Pemberian gaya pratekan (prestressed force) bertujuan agar timbul tegangan-
tegangan awal yang berlawanan dengan tegangan-tegangan yang ditimbulkan oleh beban-
beban kerja sehingga dapat memikul beban yang lebih besar tanpa mengubah mutu betonnya.
Perbedaan utama antara beton prategang dengan beton bertulang adalah penulangan baja pada
beton prategang aktif sedangkan pada beton bertulang penulangannya pasif.
Tidak seperti beton bertulang, beton prategang mengalami beberapa tahap
pembebanan yaitu tahap transfer dimana hanya beban mati struktur yang bekerja dan tahap
service dimana beban mati dan beban hidup sudah bekerja pada struktur serta setelah semua
kehilangan gaya prategang (losses) dipertimbangkan.

Prestressed Flat Slab


Konsep dari beban ekivalen sangat penting dalam merancang flat slab yang mana
kombinasi momen primer dan sekunder ditentukan berdasarkan beban-beban ekivalen dari
tendon. Pendekatan load-balancing sangat penting untuk perancangan yang mana beban
ekivalen ke atas dari gaya prestressing dilawan dengan beban ke bawah yang dikenakan ke
pelat.

Gambar 2. Konsep Load Balancing dengan Tendon Parabolic


Sumber: T.Y.Lin, Desain of Prestressed Concrete Structure

Pengaruh dari tendon sangat penting terhadap perilaku flat slab karena tendon akan
memberikan beban serta menyediakan penguatan. Tendon memberikan beban vertikal
ekivalen pada pelat yang dikenal sebagai beban ekivalen (equivalent loads). Partial
prestressing merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan dan konstruksi pada flat
slab yang menggabungkan penulangan prestressed (tendon) dengan penulangan non-
prestressed yang mana tegangan tarik dan keretakan pada beton akibat lentur diperbolehkan
pada saat beban hidup dan beban mati layan namun kemampuan layan dan persyaratan
kekuatan tetap terpenuhi.

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Kekuatan Hubungan Pelat dan Kolom
Menurut ACI 352.1R-11, hubungan pelat dan kolom harus proporsional untuk
kemampuan layan dan kondisi batas ultimate untuk menahan aksi dan perubahan bentuk
(deformasi) yang terjadi. Untuk sambungan post-tensioning tanpa penulangan geser,
ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
( √ )
Dimana lebih kecil diantara 3,5 dan dan kuat tekan beton dibatasi
yaitu 42 MPa untuk perhitungan kekuatan serta nilai sebaiknya tidak diambil lebih besar
dari 3,4 MPa pada sambungan post-tensioning tanpa penulangan geser.
Hubungan pelat dan kolom juga harus mampu menahan simpangan lateral yang
terjadi akibat pembebanan gempa. Nilai maksimum dari perbandingan simpangan (Drift
Ratio) yang diizinkan untuk hubungan pelat dan kolom post-tensioning adalah
DR = 0,045 – 0,05 VR (untuk 0 )
DR = 0,015 (untuk 0,6 )
Dimana VR adalah perbandingan geser gravitasi yang didefinisikan sebagai
berikut

Nilai dihitung dengan persamaan yang telah dijelaskan sebelumnya dengan Ø =


0,75. Gaya geser gravitasi terfaktor ditentukan menggunakan kombinasi beban 1,2D +
1,0L + 0,2S. Jika perbandingan simpangan (DR) melebihi batas kapasitas simpangan lateral,
penulangan geser harus disediakan.

Gambar 3. Grafik Drift Ratio vs Gravity Shear Ratio


Sumber: ACI 352.1R-11, Guide For Design of Slab Column Connections in Monolithic Concrete Structures

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


METODE PENELITIAN

Permodelan Struktur
Permodelan dilakukan dalam analisa 3 dimensi dengan menggunakan program
SAP2000. Struktur yang akan ditinjau pada penelitian ini adalah sebuah gedung bertingkat
dengan sistem flat slab yang berlokasi di DKI Jakarta menurut ketentuan SNI 03-2847-2002
dengan pembebanan gempa berdasarkan SNI 03-1726-2010. Berikut ini adalah preliminary
design dari struktur bangunan yang akan ditinjau.
 Tipe bangunan : Gedung Perkantoran
 Perletakan : Jepit
 Ukuran kolom : 600 mm x 600 mm
 Tebal pelat : 250 mm
 Panjang bentang : 10 m
 Panjang bangunan : 30 m
 Lebar bangunan : 20 m
 Luas lantai : 600 m2
 Tinggi lantai :4m

Selain itu, pada permodelan struktur tersebut digunakan material berupa beton K350
sebagai beton bertulang untuk kolom, balok tepi, dan shearwall serta beton K500 sebagai
beton prategang (prestressed concrete) untuk flat slab. Berikut ini adalah spesifikasi dari
material beton tersebut:
Tabel 1. Spesifikasi Mutu Beton K350

Sumber: T.Y.Lin, Desain of Prestressed Concrete Structure

Jenis tendon baja yang digunakan merupakan gabungan dari 8seven-wire strands
dengan diameter 12,7 mm Grade 270 yang memiliki kekuatan ultimate yaitu 1860 MPa.

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Tabel 2. Properti dari Uncoated Seven-Wire Stress-Relieved Strand

Sumber: T.Y.Lin, Desain of Prestressed Concrete Structure

Variasi Permodelan
A. Variasi Bangunan Tingkat Rendah
Pada variasi ini, sistem struktur dari bangunan merupakan sistem penahan gaya
gravitasi. Pada variasi bangunan tingkat rendah ini, digunakan balok tepi (frame luar) dengan
dimensi 350 mm x 700 mm. Terdapat 3 buah variasi dari bangunan tingkat rendah yaitu
sebagai berikut bangunan 4 lantai, bangunan 8 lantai, dan bangunan 12 lantai. Berikut ini
adalah denah dari variasi bangunan tingkat rendah:

Gambar 4. Denah Bangunan Tingkat Rendah


Sumber: Hasil Olahan Penulis

Gambar 5. Banguan 4 Lantai


Sumber: 3D View Model Dari Program SAP2000

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Gambar 6. Banguan 8 Lantai
Sumber: 3D View Model Dari Program SAP2000

Gambar 7. Banguan 12 Lantai


Sumber: 3D View Model Dari Program SAP2000

B. Variasi Bangunan Tingkat Tinggi


Pada variasi ini, sistem struktur dari bangunan merupakan sistem penahan gaya
lateral. Pada variasi bangunan tingkat tinggi ini digunakan shear wall sebagai elemen
pendukung beban lateral dengan tebal 40 cm yang diletakkan di kedua sisi luar bangunan
Terdapat 3 buah variasi juga dari bangunan tingkat tinggi yaitu bangunan 15 lantai, bangunan
20 lantai, dan bangunan 25 lantai. Berikut ini adalah denah dari variasi bangunan tingkat
tinggi:

Gambar 8. Denah Bangunan Tingkat Tinggi


Sumber: Hasil Olahan Penulis

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Gambar 9. Banguan 15 Lantai
Sumber: 3D View Model Dari Program SAP2000

Gambar 10. Banguan 20 Lantai


Sumber: 3D View Model Dari Program SAP2000

Gambar 11. Banguan 25 Lantai


Sumber: 3D View Model Dari Program SAP2000

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Pembebanan Struktur
Pembebanan yang digunakan dalam penelitian ini akan dianalisis dengan 2 cara yaitu
pembebanan gravitasi, yang terdiri dari pembebanan hidup (Live Load) dan pembebanan mati
(Dead Load), serta pembebanan gempa.
A. Pembebanan Gravitasi
Dead Load : Berat sendiri bangunan
Live Load : 1 kN/m2 untuk area dak atap, 2,5 kN/m2 untuk area pelat lantai
SDL : 1,8 kN/m2 untuk area dak atap, 2,5 kN/m2 untuk area pelat lantai,
2,5 kN/m2 untuk beban dinding

B. Pembebanan Gempa
Bangunan yang akan diteliti diasumsikan berada di DKI Jakarta, dengan kondisi
wilayah dan bangunan sebagai berikut:
 Jenis Tanah : Tanah Lunak (Kelas situs: SE)
 Analisis Gempa : Response Spektrum (CQC)
 Kategori Risiko : II
 Faktor Keutamaan Gempa (Ie) :1
 Koef. Respons (R) : 5 (Rangka Beton Bertulang Pemikul Momen
Menengah) dan 5(Dinding Geser Beton Bertulang Biasa)
Grafik respon spektrum desain yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai
berikut:

Respon Spektrum Desain


Percepatan Respon

0,8
Spectra, Sa (g)

0,6
0,4
Respon Spektrum
0,2 Desain
0
00,511,522,533,544,555,566,577,5
Periode, T (detik)

Gambar 12. Desain Respon Spektrum Wilayah Jakarta Tanah Lunak


Sumber: Hasil Olahan Penulis

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Berikut ini adalah kombinasi pembebanan ultimate yang akan digunakan:
a. 1,4 DL + 1,0 MS
b. 1,2 DL + 1,0 LL + 1,0 MS
c. 1,2 DL + 1,6LL + 1,0 MS
d. 1,2 DL + 0,151675 DL + 0,5 LL ± 1,3E + 1,0 MS
e. 0,9 DL - 0,151675 DL ± 1,3E + 1,0 MS

Tahapan Permodelan
Struktur yang akan dimodelkan dalam penelitian ini adalah prestressed flat slab
dimana sistem flat slab dimodelkan sebagai shell karena pelat diasumsikan dapat menahan
geser dan bending akibat pembebanan struktur dengan tebal 0,25 m sedangkan kolom
dimodelkan sebagai frame element dengan dimensi 0,6 x 0,6 m dan faktor reduksi momen
inersianya sebesar 0,7. Dalam penelitian ini, tendon dimodelkan sebagai beban yaitu beban
prestress dengan post-tensioning system. Selain itu, kehilangan prategang (loss of
prestressing) yang terdiri dari dari elastic shortening, creep (rangkak), shrinkage (susut), dan
steel Relaxation (RE) juga diperhitungkan secara manual sebagi input dalam permodelan
tendon di SAP2000

Gambar 13. Permodelan distribusi Tendon


Sumber: Program SAP2000

HASIL PENELITIAN

A. Variasi Bangunan Tingkat Rendah


Kekuatan hubungan pelat dan kolom pada variasi bangunan tingkat rendah sudah
cukup baik dalam menahan beban gempa tanpa penulangan geser. Akan tetapi, masih perlu
dilakukan modifikasi terhadap rancangan awal spesifikasi struktur (preliminary design) untuk
mengantisipasi simpangan antar lantai yang berlebihan dengan memperbesar dimensi dari
penampang kolom dan menggunakan shearwall. Berikut ini adalah hasil modifikasi yang
dilakukan terhadap ketiga jenis bangunan tingkat rendah.

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Modifikasi Drift Modifikasi Drift Ratio Interior Column
Bangunan 4 Lantai Bangunan 4 Lantai

Drift Ratio at Punching


4 Drift x 0,06
3 Drift Ratio
Lantai

0,04 Limit
2
Drift y
1 0,02 Drift Ratio
0 0 Ultimate x
Batas drift
0 0,1 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
Drift (m) ultimate Drift Ratio
Gravity Shear Ratio Ultimate y

Modifikasi Drift Ratio Edge Column Modifikasi Drift Ratio Corner Column
Bangunan 4 Lantai Bangunan 4 Lantai

Drift Ratio at Punching


Drift Ratio at Punching

0,06 0,06
Drift Ratio Drift Ratio
0,04 Limit 0,04 Limit
0,02 Drift Ratio 0,02 Drift Ratio
0 Ultimate x 0 Ultimate x
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Drift Ratio 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Drift Ratio
Gravity Shear Ratio Ultimate y Gravity Shear Ratio Ultimate y

Gambar 14. Grafik Hasil Modifikasi Drift dan Drift Ratio Bangunan 4 Lantai

Modifikasi Drift Bangunan 8 Modifikasi Drift Ratio Interior Column


Lantai Bangunan 8 Lantai
8
Drift Ratio at Punching

7 Drift x 0,06
6 Drift Ratio
Lantai

5 0,04
4 Limit
3
2 Drift y 0,02
1 Drift Ratio
0
0 Ultimate x
0 0,05 0,1 Batas Drift
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Drift Ratio
Drift (m) Ultimate
Gravity Shear Ratio Ultimate y

Modifikasi Drift Ratio Edge Column Modifiaksi Drift Ratio Corner Column
Bangunan 8 Lantai Bangunan 8 Lantai
Drift Ratio at Punching

0,05
Drift Ratio at Punching

0,05
0,04 Drift Ratio 0,04 Drift Ratio
0,03 Limit 0,03 Limit
0,02 Drift Ratio 0,02 Drift Ratio
0,01 Ultimate x 0,01 Ultimate x
0 0
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Drift Ratio 00,10,20,30,40,50,60,70,80,91 Drift Ratio
Ultimate y Ultimate y
Gravity Shear Ratio Gravity Shear Ratio

Gambar 15. Grafik Hasil Modifikasi Drift dan Drift Ratio Bangunan 8 Lantai

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Modifikasi Drift Modifikasi Drift Ratio Interior Column
Bangunan 12 Lantai Bangunan 12 Lantai
0,05

Drift Ratio at Punching


12 Drift x
11
10 0,04 Drift Ratio
9
8
Lantai

7 0,03 Limit
6 Drift y
5 0,02 Drift Ratio
4
3 0,01
2 Ultimate x
1 Batas Drift
0 0
Ultimate Drift Ratio
0 0,05 0,1 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
Ultimate y
Drift (m) Gravity Shear Ratio

Modifikasi Drift Ratio Edge Column Modifikasi Drift Ratio Corner Column
Bangunan 12 Lantai Bangunan 12 Lantai
0,05 0,05
Drift Ratio at Punching

Drift Ratio at Punching


0,04 Drift Ratio 0,04 Drift Ratio
0,03 Limit 0,03 Limit
0,02 Drift Ratio 0,02 Drift Ratio
0,01 Ultimate x 0,01 Ultimate x
0 0
Drift Ratio Drift Ratio
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
Ultimate y Ultimate y
Gravity Shear Ratio Gravity Shear Ratio

Gambar 16. Grafik Hasil Modifikasi Drift dan Drift Ratio Bangunan 12 Lantai

Berdasarkan grafik-grafik tersebut dapat dilihat bahwa setelah dilakukan modifikasi


pada ketiga jenis bangunan tingkat rendah, simpangan antar lantai (drift) yang terjadi akibat
pembebanan gempa ultimate tidak melebihi batas drift ultimate sesuai dengan SNI 03-1726-

2010 yaitu sebesar 0,0615 m. Selain itu, drift rationya pun berada di bawah drift ratio

limit untuk sambungan post-tensioning sehingga tidak diperlukan penulangan geser pada
hubungan pelat dan kolom.

B. Variasi Bangunan Tingkat Tinggi


Kekuatan hubungan pelat dan kolom pada ketiga jenis bangunan tingkat tinggi tidak
perlu menggunakan penulangan geser dalam menahan beban gempa dikarenakan kekuatan
geser, kekuatan lentur, tegangan geser maksimum, serta rasio simpangan antar lantainya tidak
melebihi batasan yang telah ditentukan sehingga pada variasi bangunan tingkat tinggi ini tidak
dilakukan modifikasi. Berikut ini adalah hasil pengolahan data dari ketiga jenis bangunan
tingkat tinggi.

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Drift Bangunan 15 Lantai Drift Ratio Interior Column
Bangunan 15 Lantai
15
14 Drift x

Drift Ratio at Punching


13
12 0,06
11 Drift Ratio
10 Limit
Lantai

9
8 Drift y 0,04
7
6
5 Drift Ratio
4 0,02 Ultimate x
3
2
1 Batas
0 0 Drift Ratio
Drift
0 0,05 0,1 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Ultimate y
Ultimate
Drift (m) Gravity Shear Ratio

Drift Ratio Edge Column Drift Ratio Corner Column


Bangunan 15 Lantai Bangunan 15 Lantai

Drift Ratio at Punching


Drift Ratio at Punching

0,06 Drift Ratio 0,06 Drift Ratio


Limit Limit
0,04 0,04
Drift Ratio Drift Ratio
0,02 Ultimate x 0,02 Ultimate x
0 Drift Ratio 0 Drift Ratio
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Ultimate y 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Ultimate y
Gravity Shear Ratio Gravity Shear Ratio

Gambar 17. Grafik Drift dan Drift Ratio Bangunan 15 Lantai

Drift Bangunan 20 Lantai Drift Ratio Interior Column


Bangunan 20 Lantai
20
19 Drift x
Drift Ratio at Punching

18
17 0,06
16
15 Drift Ratio
14
13 Limit
Lantai

12
11 Drift y 0,04
10
9
8
7 Drift Ratio
6
5 Batas Drift 0,02
4
3 Ultimate x
2
1 Ultimate
0 0 Drift Ratio
0 0,05 0,1 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Ultimate y
Drift (m) Gravity Shear Ratio

Drift Ratio Edge Column Drift Ratio Corner Column


Bangunan 20 Lantai Bangunan 20 Lantai
0,06 0,06
Drift Ratio at Punching

Drift Ratio Drift Ratio


Drift Ratio at Punching

0,04 Limit 0,04 Limit


Drift Ratio Drift Ratio
0,02 0,02 Ultimate x
Ultimate x
0 Drift Ratio 0 Drift Ratio
00,10,20,30,40,50,60,70,80,91 Ultimate y 00,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,91 Ultimate y
Gravity Shear Ratio Gravity Shear Ratio

Gambar 18. Grafik Drift dan Drift Ratio Bangunan 20 Lantai

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


Drift Bangunan 25 Lantai Drift Ratio Interior Column
Bangunan 25 Lantai
25
24 Drift x
23
22 0,06
21
20 Drift Ratio

Drift Ratio at Punching


19
18
17
16 Limit
15
Lantai

14 Drift y 0,04
13
12 Drift Ratio
11
10
9
8 Ultimate x
7
6 0,02
5
4 Batas
3
2 Drift Ratio
1
0 Drift 0 Ultimate y
0 0,05 0,1 Ultimate 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
Drift (m) Gravity Shear Ratio

Drift Ratio Edge Column Drift Ratio Corner Column


Bangunan 25 Lantai Bangunan 25 Lantai
Drift Ratio at Punching

0,06 Drift Ratio 0,06 Drift Ratio


Limit Limit
Axis Title
0,04 0,04
Drift Ratio Drift Ratio
0,02 Ultimate x 0,02 Ultimate x
0 Drift Ratio 0 Drift Ratio
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Ultimate y 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Ultimate y
Gravity Shear Ratio Axis Title

Gambar 19. Grafik Drift dan Drift Ratio Bangunan 25 Lantai

Dari grafik-grafik diatas dapat dilihat bahwa simpangan antar lantai yang terjadi
akibat kombinasi pembebanan gempa ultimate pada ketiga variasi bangunan tingkat tinggi
tidak melebihi batas drift ultimate yang telah ditentukan. Hal ini menunjukkan bahwa
penggunaan shearwall sebagai sistem penahan gaya lateral pada variasi bangunan tingkat
tinggi sangat efektif dalam menambah kekakuan sehingga tidak terjadi simpangan lateral yang
berlebihan pada bangunan.

KESIMPULAN
Dari hasil pengolahan data, pembahasan dan analisa pada penelitian ini,
menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
a. Pada variasi bangunan tingkat rendah perlu dilakukan modifikasi untuk membatasi
simpangan antar lantai yang berlebihan yaitu dengan memperbesar dimensi kolom
dan menggunakan shearwall sedangkan pada variasi bangunan tingkat tinggi,
perancangan sistem dan dimensi dari elemen-elemen strukturnya sudah mencapai
kekuatan hubungan pelat dan kolom yang diharapkan dimana drift ratio-nya tidak
melebihi drift ratio limit

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013


b. Simpangan antar lantai (drift) pada bangunan tingkat rendah 2 kali lebih besar
daripada simpangan antar lantai (drift) pada bangunan tingkat tinggi karena kekakuan
pada bangunan tingkat tinggi jauh lebih besar akibat adanya shearwall
c. Peningkatan beban gravitasi pada pelat menyebabkan perbandingan gaya geser
gravitasi (gravity shear ratio) pada bangunan tingkat tinggi 5 kali lebih besar daripada
perbandingan gaya geser gravitasi (gravity shear ratio) pada bangunan tingkat rendah
sehingga batasan drift rationya menjadi lebih kecil yaitu 0,02-0,045
d. Kekuatan geser hubungan pelat dan kolom tanpa penulangan geser pada bangunan
tingkat rendah dan bangunan tingkat tinggi dapat terpenuhi apabila simpangan antar
lantai akibat pembebanan gempa dibatasi

SARAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan serta kesimpulan yang telah dicapai, maka
dapat disarankan sebagai berikut:
a. Perlu dilakukan modifikasi lebih lanjut terhadap spesifikasi struktur pada bangunan
tingkat tinggi seperti perancangan dimensi kolom dibuat bervariasi setiap berapa
lantai sesuai dengan beban yang bekerja di atasnya agar lebih efisien
b. Pada bangunan yang menggunakan sistem flat slab, drop panel atau column capital
dapat digunakan untuk lebih meningkatkan kekuatan geser pada hubungan pelat dan
kolom

KEPUSTAKAAN

Kang, Thomas H.-K (2006). Interior Post-Tensioned Slab-Column Connections Subjected To Cyclic Lateral
Loading, San Francisco: The 8th U.S. National Conference on Earthquake Engineering
S. Taranath, Bungale (1998). Steel, Concrete & Composite Design of Tall Buildings (2nd ed). New York:
McGraw-Hill
Lin, T.Y. (1981). Design of Prestressed Concrete Structures. United States of America: John Wiley & Sons, Inc
American Concrete Institute (2012). ACI 352.1R-11: Guide For Design of Slab Column Connections in
Monolithic Concrete Structures. United States of America: Joint ACI-ASCE Committee 352
American Concrete Institute (2008). ACI-318-08 Code Requirements For Design Of Concrete Floor System.
U.S.A: ADAPT Corporation
Departemen Pekerjaan Umum (1987). Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SKBI-
1.3.53.1987 UDC : 642.042). Jakarta: Yayasan Badan Penerbit PU
Standar Nasional Indonesia (2010). Tata cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung (SNI
03-1726-2010). Jakarta: Badan Standarisasi Nasional

Studi kekuatan..., Rama Alpha Yuri Margareta, FT UI, 2013