Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

Analisis Isi Revisi UU MD3 Oleh DPR Dalam Prespektif Pemikiran Filsafat

John Lock

DISUSUN OLEH :

MUHAMMAD ROISUL BASYAR


071724353003

MAGISTER KEBIJAKAN PUBLIK


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara yang besar dengan beragam suku bangsa dan

wilayahnya. Kebesaran ini juga di ikuti dengan adanya penduduk dengan jumlah

besar yang bermukim, serta sumber daya alam yang berlimpah. Besarnya aset

sumber daya ini juga merupakan tantangan tersendiri bagi Indonesia sebagai

Negara. Tantangan ini mengharuskan Indonesia sebagai Negara harus mampu

mengelola seluruh aset yang ada dengan baik. Pengelolaan yang baik ini

diwujudkan dengan cita cita Negara Indonesia yang tertulis dalam pembukaan

Undang Undang Dasar 1945 alinea keempat yaitu “Kemudian daripada itu untuk

membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan

umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia

yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial …”.

Sebagaimana yang di jelaskan di atas, salah satu tujuan Negara adalah

mencerdaskan kehidupan bangsa yang fungsinya mengawal pergerakan Indonesia

untuk mensejajarkan diri dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat,

Rusia, Jepang, Cina dan India, maka mencerdaskan kehidupan bangsa yang

diformulasi dalam bentuk pendidikan formal, merupakan prasyarat utama. Dimensi


mencerdaskan kehidupan bangsa memiliki pengaruh resonansi yang ekskalaktif

untuk berbagai sendi kehidupan. Baik ekonomi, sosial, maupun politik. Secara

derivatif, amanat "mencerdaskan kehidupan bangsa" telah dibreakdown ke dalam

Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang

secara gamblang menjelaskan rumusan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.

Disebutkan bahwa "pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan

dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi

warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab."

Kalimat tersebut setidaknya memuat fungsi dan sekaligus tujuan pendidikan

nasional. Pertama, rumusan tentang fungsi pendidikan yaitu untuk mengembangkan

kemampuan dalam rangka membentuk watak serta peradaban bangsa yang

bermartabat sebagai manifestasi dari kecerdasan kolektif kita sebagai suatu bangsa.

Pada poin ini, jelas bahwa pendidikan nasional kita mengedepankan adab yang

dalam bahasa Prof. Mulyadhi Kartanegara (2009) disebut sebagai bagian

terintergaris dari karakter masyarakat madani. Masyarakat madani di dalam

beberapa referensi didefinisikan sebagai masyarakat yang berkarakter khas dengan

nilai-nilai yang tinggi. Di dalam kamus bahasa Inggris misalnya, masyarakat

madani disebutkan dengan istilah civilized yang berarti memiliki peradaban


(civilization). Kamus bahasa Arab menyebut masyarakat madani dengan tamaddun

yang juga berarti peradaban atau kebudayaan tinggi.

Dengan demikian,'watak peradaban bangsa yang bermartabat' sebagaimana

disebutkan di dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tersebut lebih pada praksis cita-cita

untuk mengonstruksi karakter kolektif manusia Indonesia sebagai suatu bangsa.

Inilah alasan mengapa di dalam dunia pendidikan termutakhir, pendidikan karakter

menjadi perbincangan menarik dalam pengayaan model pendidikan nasional

Indonesia.

Kedua, rumusan tentang tujuan pendidikan nasional yakni mengembangkan

potensi manusia agar mengejewantah di dalam dirinya nilai-nilia spiritual yang

diimplementasikan dalam bentuk output akhlak mulia, sehingga menjadi manusia

yang demokratis dan memiliki tanggungjawab. Di dalam poin ini, fatsun moral

dengan landasan nilai-nilai keagamaan disandingkan dengan karakter demokratis,

kemudian dipertegas dengan sikap tanggungjawab yang merupakan

pengejewantahan dari karakter seorang demokrat (pelaku demokrasi).

Dalam konteks dinamika demokrasi Indonesia kontemporer, maka parameter

keberhasilan pendidikan nasional salah satunya bisa kita lihat dari kualitas

demokrasi kita dengan adanya partisipasi masyarakat. Sebagaimana disinyalir

beberapa ahli politik seperti Joseph Schumpeter (1974), salah satu upaya

mewujudkan partisipasi publik sebagai pelaku demokrasi (politik partisipatif) hanya


dapat dicapai melalui kontruksi pendidikan yang berkualitas. Pendidikan menjadi

titik tolak untuk melahirkan awarness (kesadaran) dan kemauan untuk

berpartisipasi. Demokrasi partisipatif , lanjut Scumpeter, berarti kedaulatan

tertinggi yang berada di tangan rakyat dapat dilaksanaan melalui kegiatan bersama

untuk menetapkan tujuan-tujuan, serta masa depan bersama. Pandangan ini lahir

dari nalar bahwa tiada demokrasi tanpa partisipasi politik warga, sebab partisipasi

merupakan esensi dari demokrasi. Sebagaimana kita lihat dari pengertian demokrasi

tersebut secara normatif, yakni pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk

rakyat.

Negara dalam konteks demokrasi harus menghargai dan menjunjung tinggi

hak-hak individual. Kepentingan negara, atas dasar alasan apapun, tidak bisa

menghilangkan hak-hak individual ini. Jhon Locke seorang filsuf inggris percaya

bahwa setiap manusia atau individu mempunyai hak-hak dasar yang tidak bisa

diganggu gugat dan keberadaan hak-hak itu mendahului penetapan oleh masyarakat

atau negara (Suhelmi, 2001: 198). Hak-hak tersebut telah ada dengan sendirinya

sebelum masyarakat politik atau negara terbentuk. Itulah yang dinamakan dengan

Hak Asasi Manusia (HAM). HAM tidak bisa dirampas dan harus dihormati, karena

menjadi bagain tak terpisahkan dan melekat dalam martabat sebagai manusia. Hak-

hak tersebut, antara lain: hak hidup, hak memiliki kekayaan, hak bebas beragama,

dan berkeyakinan, serta hak “berontak” terhadap kekuasaan negara tirani (Suhelmi,

2001: 198).
Dalam proses demokratisasi, Indonesia juga melakukan pembenahan dalam

sistem pembagian kekuasaannya. Dalam membagi kekuasaanya Indonesia

menganut sistem Pemisahan atau pembagian Kekuasaan Menurut Montesquieu.

Menurut Montesquieu dengan teorinya trias politica yang tercantum dalam bukunya

“L’esprit des Lois” selaras dengan pikiran John Locke, membagi kekuasaan dalam

tiga cabang : Pertama Kekuasaan Legislatif sebagai pembuat undang-undang.

Kedua kekuasaan Eksekutif sebagai pelaksana UU. Ketiga Kekuasaan Yudikatif

yang bertugas menghakimi. Dari klasifikasi Montesquieu inilah dikenal pembagian

kekuasaan Negara modern dalam tiga fungsi, yaitu legislatif (the legislative

function), eksekutif (the executive function), dan yudisial (the judicial function).

Kekuasaan Legislatif sebagai pembuat undang-undang di Indonesia di

wujudkan dengan adanya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). DPR terdiri atas

anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan

umum. DPR memiliki tiga fungsi yakni fungsi legislasi, fungsi anggran dan fungsi

pengawasan. Karena dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum,

harusnya DPR dalam mebuat keputusan atau Undang – undang harusnya bisa

merepresentasikan pemilihnya yakni Rakyat.

Namun Dalam survei nasional Poltracking Indonesia yang dilakukan pada

tahun 2017 memperlihatkan bahwa lembaga yang paling tidak dipercaya oleh

publik adalah Partai Politik, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan

Perwakilan Daerah (DPD). Masing-masing mendapat persentase sebesar 48 persen


untuk partai, 50 persen untuk DPR dan 52 persen untuk DPD. Khusus bagi DPR,

survei Poltracking mencatat bahwa semua fungsi yang dilakukan tidak mendapat

penilaian baik dari responden. Rata-rata tingkat kepuasan terhadap kinerja DPR

seperti fungsi pengawasan, penyusunan undang-undang, perumusan anggaran dan

penyerapan aspirasi hanya mendapat persentase 30-36 persen. Temuan ini

setidaknya memberikan gambaran dilematis yakni tidak dipercayanya DPR oleh

yang memilihnya.

Hal ini di perburuk lagi setelah pada 12 Februari 2018 disahkannya UU

MD3 dalam rapat paripurna DPR. UU MD3 sendiri merupakan Undang-undang

tentang MPR, DPR, DPRD dan DPD. Undang-undang ini berisi aturan mengenai

wewenang, tugas, dan keanggotaan MPR, DPR, DPRD dan DPD. Hak, kewajiban,

kode etik serta detil dari pelaksanaan tugas juga diatur. Aturan ini menggantikan

Undang-Undang Nomor 27 tahun 2009 mengenai MD3 yang dinilai sudah tidak

sesuai lagi dengan perkembangan hukum. UU ini terdiri atas 428 pasal, dan

disahkan pada 5 Agustus 2014 oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Revisi

terakhirnya disahkan oleh DPR pada 12 Februari 2018. Revisi Pasal 122 k terkait

tugas MKD dalam revisi UU MD3 menuai kontroversi karena DPR dianggap

menjadi antikritik dan kebal hukum. Pengamat menganggapnya sebagai upaya

kriminalisasi terhadap praktik demokrasi, khususnya rakyat yang kritis terhadap

DPR. Pasal yang memuat perihal penghinaan terhadap parlemen berisi tambahan

peraturan yang memerintahkan Mahkamah Kehormatan Dewan untuk: "mengambil


langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang perseorangan, kelompok

orang, atau badan hukum yang merendahkan kehormatan DPR dan anggota DPR"

Menurut John Locke Negara hanya dibenarkan bertindak dan berbuat sejauh

untuk melaksanakan tujuan yang dikehendaki rakyat (Suhelmi, 2001: 198). Jadi

menurut Locke tugas negara tidak boleh melebihi apa yang menjadi tujuan rakyat.

Negara tidak dibenarkan mencampuri segala hal yang menyangkut kepentingan

rakyat. Peran negara dalam mengatur kehidupan harus dibatasi dan seminimal

mungkin. Di mana dominasi jika terdapat negara yang dominan dalam mengatur

rakyat menurut Locke hanya akan menyebabkan hilangnya hak-hak rakyat dan

ketidakberdayaan rakyat menghadapi kekuasaan negara (Suhelmi, 2001: 198).

Dalam fenomena yang terjadi dalam revis UU MD3 ini menunjukkan dominasi

Negara dalam hll ini DPR yang membuat hilangnya hak-hak rakyat khusunya dalam

memberikan berpendapat. Ini menunjukan gejala yang di sebut oleh John Locke

menjuju tirani. Dan rakyat mempunyai hak untuk berontak terhadap kekuasan

Negara yang tirani.

Sehingga menarik bagi penulis untuk menganalisis lebih dalam tentang

revisi UU MD3 ini dengan pemikiran filsafat dari John Locke mengingat

pemikirannya menjadi pondasi dalam perjalanan proses demokratisasi di seluruh

Dunia.
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana analisis isi Revisi UU MD3 oleh DPR dalam prespektif Pemikiran

Filsafat John Lock ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk Mengetahui analisis isi Revisi UU MD3 oleh DPR dalam prespektif

Pemikiran Filsafat John Lock

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Analisis isi Revisi UU MD3 oleh DPR dalam prespektif Pemikiran Filsafat

John Lock

John Locke adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh

utama dari aliran empirisme lawan dari aliran rasionalisme. Dalam aliran empirisme

Locke menekankan pentingnya pendekatan empiris atau berdasarkan pengalaman

dan juga pentingnya eksperimen-eksperimen di dalam mengembangkan ilmu

pengetahuan. Bersama dengan rekannya, Isaac Newton, Locke dipandang sebagai

salah satu figur terpenting di era Pencerahan. Locke menandai lahirnya era Modern

dan juga era pasca-Descartes (post-Cartesian), karena pendekatan Descartes tidak

lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan di dalam pendekatan filsafat

waktu itu. Locke juga dikenal sebagai filsuf negara liberal. Gagasan-gagasannya

mengenai kemerdekaan dan kebebasan individu serta HAM yang ditulis dalam

karyanya, yakni Two Treatises of Government, telah menjadi bagian tak

terpisahkan dari wacana politik demokrasi Amerika sejak kelahirannya (Mason &

Leach, 1959 dalam Suhelmi, 2001: 181).

Locke juga dianggap sebagai peletak dasar Negara Konstitusional dan

penganjur konstitusionalisme di zaman modern. Khusus bagi zamannya, pemikiran

Locke dalam Two Treatises of Government berperan penting dalam mendorong

terjadinya Glorius Revolution (1688) dan pembentukan pemerintahan konstitusional

pasca revolusi tersebut di Inggris. Dari adanya pembentukan pemerintahan

konstitusional tersebut maka kemudian akan ditemukan pemikiran Locke mengenai


kekuasaan negara. Di mana pemikiran Locke mengenai kekuasaan negara

menginspirasi bentuk negara-negara demokrasi maupun monarki konstitusional di

dunia hingga sekarang. Sehingga sangat tepat jika dasar pemikiran filsafatnya

dijadikan rujukan untuk menganalsis revisi UU MD3 ini.

Dalam Revisi UU MD3 ini ada beberapa poin yang menjadi kontroversial.

Diantaranya ialah: Revisi Pasal 122 k terkait tugas MKD, Pasal 73 berkeitan dengan

DPR dan Kepolisian, Pasal 84 dan 15 tentang komposisi pimpinan DPR dan MPR,

Pasal 245 tentang pemeriksaan anggota DPR.

Revisi Pasal 122 k terkait tugas MKD dalam revisi UU MD3 menuai

kontroversi karena DPR dianggap menjadi antikritik dan kebal hukum. Pengamat

menganggapnya sebagai upaya kriminalisasi terhadap praktik demokrasi, khususnya

rakyat yang kritis terhadap DPR. Pasal yang memuat perihal penghinaan terhadap

parlemen berisi tambahan peraturan yang memerintahkan Mahkamah Kehormatan

Dewan untuk:

"mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap orang perseorangan,

kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan kehormatan DPR dan

anggota DPR"

Dalam memandang perubahan ini DPR membuat dirinya anti kritik dan

memperbesar kuasanya atas rakyat. Padahal Kekuasan Negara menurut Locke pada

hakikatnya dibentuk untuk menjaga hak-hak pemilikan individual. Dalam istilah


metodologis, hak-hak pemilikan merupakan variabel bebas terhadap kekuasaan

negara. Tidak akan ada negara dan kekuasaan politik apabila tidak terdapat hak-hak

pemilikan individual. Hal pemilikan individual itu merupakan suatu bentuk hak-hak

alamiah yang dimiliki manusia. Yang dimaksud Locke dengan hak-hak milik itu

tidaklah semata-mata mengacu pada harta kekayaan tetapi juga kehidupan,

kebebasan dan harta (Suhelmi, 2001: 194). Maka melihat perubahan pada pasal ini

menciptakan perampasan pada hak- hak yang harusnya di akomodir oleh Negara

yakni kebebasan. Bagaimana mungkin seseorang yang memberikan kritik

terhadapnya dapat dipidanakan. Selain itu perubahan ini memperlihatkan

kemunduran dalam kebebasan berpendapat merupakan salah satu hak dasar rakyat

indonesai yang di atur dalam UUD pasal 28.

Locke mengungkapkan bahwa kekuasaan negara tidak lain merupakan

sebuah kepercayaan rakyat kepada pemerintah, di mana hal itu dinamakan

government by the consent of the people (Suhelmi, 2001: 197). Basis legitimasi

kekuasaan dengan demikian bukanlah Tuhan atau yang lainnya, melainkan rakyat.

Prinsip ini menolak anggapan bahwa penguasa bertanggung jawab kepada Tuhan,

sebab tanggung jawab penguasa hanyalah kepada rakyatnya. Hal ini tentunya tidak

tergambar dalam revisi pasal ini karena ungkapan ketidak percayaan yang di

wujudkan dalam sebuah kritik dapat berakibat hukuman. Padahal kekuasan DPR ini

sebagaimana yang di katakana Locke merupakan kepercayaan rakyat kepada

pemerintah. Maka ketika rakyat sudah tidak percaya dengan yang di berikan
kepercaan seharusnya rakyat boleh mengkritik atau bahkan mencabut kepercayaan

itu. .

Pasal 73 Undang-undang sebelum direvisi menyatakan bahwa polisi

membantu memanggil pihak yang enggan datang saat diperiksa DPR. Kini pasal

tersebut ditambah dengan poin bahwa Polisi wajib memenuhi permintaan DPR

untuk memanggil paksa.

"Dalam hal setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak hadir

setelah dipanggil 3 (tiga) kali berturut-turut tanpa alasan yang patut dan sah,

DPR berhak melakukan panggilan paksa dengan menggunakan Kepolisian

Negara Republik Indonesia."

Menganalisa penggunaan paksaan atau kekerasan Locke mengatakan bahwa tujuan

dasar dibentuknya kekuasaan politik adalah untuk melindungi dan menjaga

kebebasan sipil. Demi melindungi kebebasan sipil tersebut, cara apa pun boleh

dilakukan oeh negara. Negara diperkenankan menggunakan kekerasan sejauh demi

tujuan negara (Suhelmi, 2001: 199). Disini locke menegaskan untuk melindungi dan

menjaga kebebasan sipil barulah Negara diperkenankan menggunakan kekerasan.

Kandungan paksaan dalam revisi pasal 73 ini, menunjukan semakin tiraninya DPR

dengan menggunkan kekuatan pemaksa yakni Kepolisian. Wewenang ini

menunjukkan semakin tidak jelasnya tugas kekuasaan politik untuk menjaga dan
melindungi kebebasan sipil. Karena Kepolisian dipergunakan untuk merampas

kebebasan sipil yakni kritik yang dianggap menurunkan kehormatan DPR.

Negara menurut Locke harus menghargai dan menjunjung tinggi hak-hak

individual. Kepentingan negara, atas dasar alasan apapun, tidak bisa menghilangkan

hak-hak individual ini. Locke percaya bahwa setiap manusia atau individu

mempunyai hak-hak dasariah yang tidak bisa diganggu gugat dan keberadaan hak-

hak itu mendahului penetapan oleh masyarakat atau negara (Suhelmi, 2001: 198).

Hak-hak tersebut telah ada dengan sendirinya sebelum masyarakat politik atau

negara terbentuk. Itulah yang dinamakan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). HAM

tidak bisa dirampas dan harus dihormati, karena menjadi bagain tak terpisahkan dan

melekat dalam martabat sebagai manusia. Hak-hak tersebut, antara lain: hak hidup,

hak memiliki kekayaan, hak bebas beragama, dan berkeyakinan, serta hak

“berontak” terhadap kekuasaan negara tirani (Suhelmi, 2001: 198). Pertanyaanya

bagaimana kita akan memperoleh hak berontak pada Negara yang tirani jika hanya

karna kritik DPR dengan wewnangnya menggunakan Kepolisian untuk

menghukumnya. Padahal Kepolisian sebagai institusi dalam negari harusnya tidak

terlibat dalam kepentingan politik semacam ini. Mengapa penulis mengatakan

kepentingan politik, karena jika melihat motif dibalik revisi ini terlihat bagaiaman

DPR ingin menjaga citranya agar tidak buruk akibat banyaknya kritik.

Bagaiamana hubungnnya dengan mencerdasakan kehidupan bangsa. Jika

menoreh kebelakang pada saat masa orde baru tentu kita tahu bahwa orde baru
sangat anti kritik, kondisi ini mengakibatkan terjadi pembodohan demokrasi di

masyarakat. kritik dianggap sakral dan menakutkan bagi masyarakat akibat

mudahnya untuk mempidankan yang tidak pro terhadap pemerintah. Belum lagi

ancaman pembunuhan bagi mereka yang membangkang. Kondisi ini menciptakan

pemerintah yang Tirani. Demokrasi hanya merupakan bungkus bagi sebuah

pemerintahan yang Tirani. Mencerdaskan kehidupan bangsa pada akhirnya akan

sangat susah untuk di capai. Tujuan itu akan menjadi angan diantara aturan aturan

yang mematiak sebuah pemikiran. Hal ini tidak mungkin mewujudkan keadaan

alamiah yang di gambarkan oleh Locke.. Keadaan alamiah menurut Locke merujuk

pada keadaan di mana manusia hidup dalam kedamaian, kebajikan, saling

melindungi, penuh kebebasan, tak ada rasa takut dan penuh kesetaraan (Suhelmi,

2001: 190).

Pasal 84 dan 15 tentang komposisi pimpinan DPR dan MPR. Pasal ini lebih

punya kontroversi politik karena kursi pimpinan DPR yang semula satu ketua dan

empat wakil, menjadi satu ketua dan lima wakil. Satu pimpinan tambahan ini akan

menjadi jatah pemilik kursi terbanyak yang saat ini dipegang oleh PDI-P. Pada

pasal 15, pimpinan MPR tadinya terdiri atas satu ketua dan empat wakil ketua.

Dengan revisi, pimpinan MPR menjadi satu ketua dan tujuh wakil. MPR terdiri atas

10 fraksi partai politik dan satu fraksi Kelompok DPD.

Dari gambaran revisi ini kita melihat bagaimana DPR malah semakin

meningaktkan kekuasaan mereka dengan menambah pimpinannya. Hal ini


memperlihatkan proses demokrasi yang buruk karena struktur elit makin di

perbanyak sehingga efisiensi dan efektifitas dalam pengambilan keputusan tentunya

makin susah di capai.

Menurut Locke Kekuasaan legislatif merupakan lembaga perumus undang-

undang dan peraturan-peraturan hukum fundamental negara lainnya. kekuasaan

legislatif tidak bisa dialihkan kepada siapa pun atau lembaga mana pun karena pada

hakikatnya kekuasaan legislatif adalah manifestasi pendelegasian kekuasaan rakyat

pada negara. Kekuasaan ini dijalankan oleh parlemen yang merupakan

pengejawantahan atau bentuk representasi semua kelas sosial masyarakat baik kaum

bangsawan, orang-orang kaya maupun rakyat jelata. Di mana kekuatan suara di

parlemen tersebut menurut Locke ditentukan oleh prinsip mayoritas.

Sayangnya bentuk representasi dari semua kelas social yang di inginkan oleh

Locke tidak dapat tercermin di DPR. Kita tau bahwa ongkos untuk menjadi anggota

legislative amatlah mahal. Sehingga hanya bisa di jangkau oleh kelas dengan

kekayaan atas. Bagiamana hasilnya. Karena di dasarkan atas kelas atas tentunya

kepentingan yang di bawa adalah mewakili kalangan atas saja. Kebijakan yang di

buat akan selalu menguntungkan sebagian golongan. Apalagi dalam kekuatan

legislative prinsip mayoritas yang akan memenangkan suara.

Dari gambaran penambahan jumlah wakil MPR ini menegasakan dominasi

DPR atas DPD yang notabennya bukan dari partai politik. Tentu tidak terjadi
keseimbangan di sini. Keputusan yang akan di ambil sudah pasti menjadi milik

DPR. Apalagi DPR dipenuhi oleh anggota partai pemenang yang akan berakibat

pada kurangnya control kepada pemerintah.

Undang-undang yang di ciptakanpun dirasa tidak akan mampu

mengakomodir semua kelas social mengingat mereka sibuk mempertahankan status

quo mereka. Pertahanan ini diwujudkan dengan penguasaan pada otoritas penentu di

MPR.

Dampaknya pada eksekutif tentunya akan saling terkait. Apabila eksekutif

dalam hal ini presiden tidak dapat melaksnaakan tugasnaya dengan baik. Maka

MPR berhak untuk mengganti atau mencabut jabatannya sebagai presiden. Lalu

bagaimana jika kompromi politik terjadi. Tentuya penggulingan jabatan tidak akan

pernah terjadi karena control yang kurang dan lembaga yang mengontrol juga tak

melakukan fungsinya. Padahal Locke menegaskan bahwa manakala eksekutif

menyalahi kedudukannya tersebut maka itu sama artinya dengan pernyataan perang

kepada rakyat. Rakyat diperkenankan untuk melawannya, yang bila perlu dengan

menggunakan kekerasan (Suseno, 1992: 224 dalam Suhelmi, 2001: 202).

Pasal 245 tentang pemeriksaan anggota DPR. Pemeriksaan anggota DPR

yang terlibat tindak pidana harus ada pertimbangan MKD sebelum DPR memberi

izin. Padahal pada tahun 2015 MK sudah memutuskan bahwa pemeriksaan harus

dengan seizin presiden, bukan lagi MKD.


"Pemanggilan dan permintaan keterangan kepada anggota DPR sehubungan

dengan terjadinya tindak pidana yang tidak sehubungan dengan pelaksanaan

tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 harus mendapatkan persetujuan

tertulis dari Presiden setelah mendapat pertimbangan dari Mahkamah

Kehormatan Dewan (MKD)."(Tidak berlaku untuk anggota yang tertangkap

tangan, tindak pidana khusus, dan pidana dengan hukuman mati atau seumur

hidup.)

Begitu susahnya untuk sekedar memeriksa anggota DPR. Padahal

seharusnya semua setara di mata hukum. Namun hal ini tidak digambarkan dalam

revisi pasal ini. Padahal harusnaya semaki demokratis sebuah Negara semakin

membatasi kewenangan pemerintahnya yang dapat di gunakan untuk cara cara

totaliter, hal ini dilakukan agar sebuah Negara dapat semakin demokratis. Hal ini

juga sesuai dengan pemikiran locke yakni adanya Minimalisasi peran kekuasaan

negara penting karena tanpa meminimaliasasi itu kecenderungan kekuasaan negara

untuk bersifat totaliter sulit dihindari (Suhelmi, 2001: 199). Negara yang terlalu

banyak mencampuri persoalan individu akan mudah tergoda untuk menguasai

seluruh aspek kehidupan masyarakat sehingga ruang gerak individu untuk

mengekspresikan kebebasannya menjadi sangat terbatas. Seandainya hal tersebut

terjadi, berarti telah terjadi penyimpangan terhadap prinsip dasar tujuan

dibentuknya negara.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Secara keseluruhan analisis revisi isi UU MD3 dalam prespektif pemikiran

filsafat John Locke diperoleh hasil bahwa seluruh revisi yang di lakukan oleh DPR

tidak sesuai dengan gambaran Negara ideal John Locke. Revisi yang dilakukan

malah membuat sebuah kemunduran dalam hidup bernegara. Kemunduran ini di

gambarkan dengan makin banyaknya kekuasaan DPR yang mampu merampas

kebebasan Hak sipil. Kebebasan yang di rampas yakni kebebasan berpendapat yang

seharusnya di berikan keluasan dalam penyampaiannya. Karena bagaimanapun juga

masyarakat memiliki kuasa atas apa yang di mandatkan ke DPR.

Penggunaan kuasa dengan menggunakan Kepolisian juga memperlihatkan

bagiaman DPR mulai mbangun pemerintahan yang Tirani. Hal ini menyebabkan

ketakuatan di masyarakat untuk berpendapat. Kritik yang tujuannya untuk

mengingatkan pengelola Negara malah berakhir dengan hukuman.

Susahnya untuk mengadili anggota DPR juga tercermin dalam Revisi ini

yang tentunya memperlihatkan semakin berbedanya status rakyat dan anggota DPR

di mata hukum.
Kecenderungan Negara dalam hal ini DPR dalam mengatur persoalan

individu membuat DPR mudah tergoda untuk menguasai seluruh aspek kehidupan

masyarakat sehingga ruang gerak individu untuk mengekspresikan kebebasannya

menjadi sangat terbatas.

3.2 Saran

Agar mahkamah konsitusi mengabulkan gugatan uji materi yang dilakukan

dalam revisi undang – undang MD3 ini karena merupakan sebuah kemunduran

dalam proses demokratisasi di Indonesia. Serta mendorong masyarakat untuuk

bersama sama menolak adanya revisi UU ini,

Negara seharusnya tidak membuat aturan yang terlalu mengatur hak-hak

individu. Terutama dalam hal ini hak berpendapat. Apalagi sejalan dengan

pemikiran Locke bahwa adanaya kewenangan yang dimiliki oleh DPR merupakan

amanat dari masyarakat. Dan ketika masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan

yang diberikan mandat, masyarakat boleh untuk mencabutya.


Daftar Pustaka

Hadiwiyono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat II. Yogyakarta: Kanisius.
Suhelmi, Ahmad. 2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia.

Demokrasi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa


https://news.detik.com/opini/1708000/demokrasi-mencerdaskan-kehidupan-
bangsa
Survei Poltracking: TNI Paling Dipercaya, DPR dan Parpol Terendah
https://nasional.tempo.co/read/1037247/survei-poltracking-tni-paling-
dipercaya-dpr-dan-parpol-terendah
Tujuh hal yang harus diketahui soal revisi UU MD3
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43397697
Perspektif John Locke terhadap Kekuasaan Negara
http://sae-elinda-fisip13.web.unair.ac.id/artikel_detail-118124
Pemikiran%20Politik%20BaratTugas%20Makalah%20Individu:%20Perspek
tif%20John%20Locke%20terhadap%20Kekuasaan%20Negara.html