Anda di halaman 1dari 17

PETA KONSEP

Pengertian
Enzim

Komponen
Enzim

Sistem Enzim Cara Kerja


Pencernaan Enzim

Sifat- sifat
Enzim

Faktor- faktor yang


Mempengaruhi
Aktivitas Enzim
Makhluk
Hidup

Kelenjar
Hipofisis

Kelenjar
Tiroid

Kelenjar
Paratiroid
Sistem
Hormon
Koordinasi
Kelenjar
Adrenal

Kelenjar
Pankreas

Kelenjar
Gonad
MATERI

A. ENZIM

Pada awalnya, enzim dikenal sebagai protein oleh Sumner (1926) yang telah
berhasil mengisolasi urease dari tumbuhan kara pedang. Urease adalah enzim yang
dapat menguraikan urea menjadi CO2 dan NH3. Beberapa tahun kemudian Northrop dan
Kimits dapat mengisolasi pepsin, tripsin, dan kinotripsin. Kemudian makin banyak
enzim yang telah dapat diisolasi dan telah dibuktikan bahwa enzim tersebut ialah
protein.
Dari hasil penelitian para ahli biokimia ternyata banyak enzim mempunyai gugus
bukan protein, jadi termasuk golongan protein majemuk. Gugus bukan protein. Ini
disebut dengan kofaktor ada yang terikat kuat pada protein dan ada pula yang tidak
terikat kuat oleh protein. Gugus terikat kuat pada bagian protein artinya sukar terurai
dalam larutan yang disebut dengan Prostetik, sedang yang tidak begitu terikat kuat
(mudah dipisahkan secara dialisis) disebut dengan Koenzim. Keduanya ini dapat
memungkinkan enzim bekerja terhadap substrat.

1. Pengertian Enzim
Enzim adalah senyawa organik atau katalis protein yang dihasilkan sel dalam suatu
reaksi. Enzim bekerja sebagai katalis dalam tubuh makhluk hidup, oleh karena itu
disebut biokatalisator. Enzim bertindak sebagai katalis, artinya enzim dapat
meningkatkan laju reaksi kimia tanpa ikut bereaksi atau dipengaruhi oleh reaksi kimia
tersebut. Enzim ini memiliki sifat yang khas, artinya hanya mempengaruhi zat tertentu
yang disebut substrat. Substrat adalah molekul yang bereaksi dalam suatu reaksi kimia
dan molekul yang dihasilkan disebut produk. Misalnya, enzim protease, substratnya
adalah protein dan bentuk reaksinya mengubah protein menjadi asam amino. Jadi, asam
amino disebut produk. Berikut untuk lebih memahami cara kerja enzim.
Substrat + enzim → kompleks enzim dengan substrat → enzim + produk

Enzim disintesis di dalam sel-sel hidup. Sebagian besar enzim bekerja di dalam sel
sehingga disebut enzim intraseluler. Contoh enzim intraseluler adalah katalase yang
memecah senyawa-senyawa berbahaya, seperti hidrogen peroksida pada sel-sel hati.
Sedangkan, enzim yang dibuat di dalam sel dan melakukan fungsinya di luar sel disebut
enzim ekstraseluler. Contoh enzim ekstraseluler adalah enzim-enzim pencernaan,
seperti amilase yang memecah amilum menjadi maltosa. Reaksi biokimia yang
dikendalikan oleh enzim, antara lain respirasi, pertumbuhan, perkecambahan, kontraksi
otot, fotosintesis, fiksasi nitrogen, proses pencernaan, dan lain-lain.

2. Komponen Enzim
Penyusun utama suatu enzim adalah molekul protein yang disebut Apoenzim. Agar
berfungsi sebagaimana mestinya, enzim memerlukan komponen lain yang disebut
kofaktor. Kofaktor adalah komponen nonprotein berupa ion atau molekul.
Berdasarkan ikatannya, kofaktor dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu gugus
prostetik, ko-enzim, dan ion-ion anorganik.
a. Gugus prostetik merupakan tipe kofaktor yang biasanya terikat kuat pada
enzim, berperan memberi kekuatan tambahan terhadap kerja enzim. Contohnya
adalah heme, yaitu molekul berbentuk cincin pipih yang mengandung besi.
Heme merupakan gugus prostetik sejumlah enzim, antara lain katalase,
peroksidase, dan sitokrom oksidase.
b. Ko-enzim merupakan kofaktor yang terdiri atas molekul organik nonprotein
yang terikat renggang dengan enzim. Ko-enzim berfungsi untuk memindahkan
gugus kimia, atom, atau elektron dari satu enzim ke enzim yang lain.
Contohnya, tiamin pirofosfat, NAD, NADP+, dan asam tetrahidrofolat.
c. Ion-ion anorganik merupakan kofaktor yang terikat dengan enzim atau substrat
kompleks sehingga fungsi enzim lebih efektif. Contohnya, amilase dalam ludah
akan bekerja lebih baik dengan adanya ion klorida dan kalsium.
Beberapa kofaktor tidak berubah di akhir reaksi, tetapi kadang-kadang berubah
dan terlibat dalam reaksi yang lain. Enzim yang terikat dengan kofaktornya
disebut haloenzim.

3. Cara Kerja Enzim


Enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi. Enzim
meningkatkan laju reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi (energi yang
diperlukan untuk reaksi) dari EA1 menjadi EA2 . (Lihat Gambar 3.1). Penurunan energi
aktivasi dilakukan dengan membentuk kompleks dengan substrat. Setelah produk
dihasilkan, kemudian enzim dilepaskan. Enzim bebas untuk membentuk kompleks baru
dengan substrat yang lain.

Gambar 3.1 Grafik Kerja Enzim


Enzim memiliki sisi aktif, yaitu bagian enzim yang berfungsi sebagai katalis. Pada
sisi ini, terdapat gugus prostetik yang diduga berfungsi sebagai zat elektrofilik sehingga
dapat mengkatalis reaksi yang diinginkan.
Bentuk sisi aktif sangat spesifik sehingga diperlukan enzim yang spesifik pula.
Hanya molekul dengan bentuk tertentu yang dapat menjadi substrat bagi enzim. Agar
dapat bereaksi, enzim dan substrat harus saling komplementer.
Cara kerja enzim dapat dijelaskan dengan dua teori, yaitu teori gembok dan anak
kunci, dan teori kecocokan yang terinduksi.
a. Teori gembok dan anak kunci (Lock and key theory)
Enzim dan substrat bergabung bersama membentuk kompleks, seperti kunci
yang masuk dalam gembok. Di dalam kompleks, substrat dapat bereaksi dengan
energi aktivasi yang rendah. Setelah bereaksi, kompleks lepas dan melepaskan
produk serta membebaskan enzim.
b. Teori kecocokan yang terinduksi (Induced fit theory)
Menurut teori kecocokan yang terinduksi, sisi aktif enzim merupakan bentuk
yang fleksibel. Ketika substrat memasuki sisi aktif enzim, bentuk sisi aktif
termodifikasi melingkupi substrat membentuk kompleks. Ketika produk sudah
terlepas dari kompleks, enzim tidak aktif menjadi bentuk yang lepas. Sehingga,
substrat yang lain kembali bereaksi dengan enzim tersebut.
4. Sifat- Sifat Enzim
Sebagai biokatalisator, enzim memiliki beberapa sifat antara lain:
 Enzim hanya mengubah kecepatan reaksi, artinya enzim tidak mengubah
produk akhir yang dibentuk atau mempengaruhi keseimbangan reaksi, hanya
meningkatkan laju suatu reaksi.
 Enzim bekerja secara spesifik, artinya enzim hanya mempengaruhi substrat
tertentu saja.
 Enzim merupakan protein. Oleh karena itu, enzim memiliki sifat seperti protein.
Antara lain bekerja pada suhu optimum, umumnya pada suhu kamar. Enzim
akan kehilangan aktivitasnya karena pH yang terlalu asam atau basa kuat, dan
pelarut organik. Selain itu, panas yang terlalu tinggi akan membuat enzim
terdenaturasi sehingga tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya.
 Enzim diperlukan dalam jumlah sedikit. Sesuai dengan fungsinya sebagai
katalisator, enzim diperlukan dalam jumlah yang sedikit.
 Enzim bekerja secara bolak-balik. Reaksi-reaksi yang dikendalikan enzim dapat
berbalik, artinya enzim tidak menentukan arah reaksi tetapi hanya mempercepat
laju reaksi sehingga tercapai keseimbangan. Enzim dapat menguraikan suatu
senyawa menjadi senyawa-senyawa lain. Atau sebaliknya, menyusun senyawa-
senyawa menjadi senyawa tertentu. Reaksinya dapat digambarkan sebagai
berikut. E + S ↔ ES ↔ E + P (E = enzim, S = substrat, dan P = produk)
 Enzim dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kerja enzim adalah suhu, pH, aktivator (pengaktif), dan inhibitor (penghambat)
serta konsentrasi substrat.
5. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Enzim
Aktivitas enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Suhu
Tiap kenaikan suhu 10º C, kecepatan reaksi enzim menjadi dua kali lipat. Hal ini
berlaku dalam batas suhu yang wajar. Kenaikan suhu berhubungan dengan
meningkatnya energi kinetik pada molekul substrat dan enzim. Pada suhu yang
lebih tinggi, kecepatan molekul substrat meningkat. Sehingga, pada saat
bertubrukan dengan enzim, energi molekul substrat berkurang. Hal ini
memudahkan molekul substrat terikat pada sisi aktif enzim. Peningkatan suhu
yang ekstrim dapat menyebabkan atom-atom penyusun enzim bergetar sehingga
ikatan hidrogen terputus dan enzim terdenaturasi. Denaturasi adalah rusaknya
bentuk tiga dimensi enzim dan menyebabkan enzim terlepas dari substratnya.
Hal ini, menyebabkan aktivitas enzim menurun, denaturasi bersifat irreversible
(tidak dapat balik). Setiap enzim mempunyai suhu optimum, sebagian besar
enzim manusia mempunyai suhu optimum 37º C. Sebagian besar enzim
tumbuhan mempunyai suhu optimum 25º C.
b. Derajat Keasaman
Enzim sangat peka terhadap perubahan derajat keasaman dan kebasaan (pH)
lingkungannya. Enzim dapat nonaktif bila berada dalam asam kuat atau basa
kuat. Pada umumnya, enzim intrasel bekerja efektif pada kisaran pH 7,0. Jika
pH dinaikkan atau diturunkan di luar pH optimumnya, maka aktivitas enzim
akan menurun dengan cepat. Tetapi, ada enzim yang memiliki pH optimum
sangat asam, seperti pepsin, dan agak basa, seperti amilase. Pepsin memiliki pH
optimum sekitar 2 (sangat asam). Sedangkan, amilase memiliki pH optimum
sekitar 7,5 (agak basa).
c. Inhibitor
Kerja enzim dapat terhalang oleh zat lain. Zat yang dapat menghambat kerja
enzim disebut inhibitor. Zat penghambat atau inhibitor dapat menghambat kerja
enzim untuk sementara atau secara tetap. Inhibitor enzim dibagi menjadi dua,
yaitu inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif.
1) Inhibitor kompetitif
Inhibitor kompetitif adalah molekul penghambat yang bersaing dengan
substrat untuk mendapatkan sisi aktif enzim. Contohnya, sianida bersaing
dengan oksigen untuk mendapatkan hemoglobin dalam rantai respirasi
terakhir. Penghambatan inhibitor kompetitif bersifat sementara dan dapat
diatasi dengan cara menambah konsentrasi substrat.
2) Inhibitor nonkompetitif
Inhibitor nonkompetitif adalah molekul penghambat enzim yang bekerja
dengan cara melekatkan diri pada luar sisi aktif enzim. Sehingga, bentuk
enzim berubah dan sisi aktif enzim tidak dapat berfungsi. Hal ini
menyebabkan substrat tidak dapat masuk ke sisi aktif enzim. Penghambatan
inhibitor nonkompetitif bersifat tetap dan tidak dapat dipengaruhi oleh
konsentrasi substrat.
Selain inhibitor, terdapat juga aktivator yang mempengaruhi kerja enzim.
Aktivator merupakan molekul yang mempermudah enzim berikatan dengan
substratnya. Contohnya, ion klorida yang berperan dalam aktivitas amilase
dalam ludah.
B. HORMON
Sistem koordinasi pada tubuh manusia diatur oleh dua sistem, yaitu sistem saraf
dan sistem endokrin (sistem hormonal). Umumnya, sistem hormon mempengaruhi
pengaturan fungsi metabolisme tubuh, memgatur kecepatan reaksi kimia dalam sel atau
transpor zat-zat melalui membran sel atau juga mempengaruhi aspek biologis lain,
seperti tumbuh, perkembangan, reproduksi, dan respons tingkah laku.
Sistem hormonal atau sistem endokrin terdiri atas sejumlah kelenjar buntu yang
terletaknya tersebar pada tubuh. Sebagai suatu sistem maka tiap fungsi satu unit
mempunyai hubungan langsung atau timbal balik dengan unit lainnya. kelenjar ini tidak
mempunyai saluran pelepasan untuk mengalirkan hasil getah (sekret) sehingga disebut
kelenjar buntu. Sekret yang diproduksi masuk ke peredaran darah secara langsung dan
beredar bersama darah ke seluruh tubuh serta mempengaruhi organ sasarannya. Susunan
kimia hormon bervariasi yaitu polipeptida, steroid dan asam amino.
Berdasarkan aktivitasnya, kelenjar endokrin dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu:
 kelenjar yang bekerja sepanjang hayat
 kelenjar yang bekerjanya mulai saat tertentu
 kelenjar yang bekerja hanya sampai saat tertentu saja.
1. Kelenjar Hipofisis
Kelenjar hipofisis yang terletak di otak besar disebut juga master of gland, karena
menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya.
Kelenjar hipofisis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian anterior, bagian tengah,
dan bagian posterior. Kelenjar hipofisis bekerja sama dengan hipotalamus
mengendalikan organ-organ tubuh.
a. Hipofisis bagian anterior
Hipofisis bagian anterior menghasilkan hormon somatotrof (hormon
pertumbuhan). Hormon ini berpengaruh pada pertumbuhan tulang manusia.
Kelebihan hormon ini pada waktu anak-anak mengakibatkan pertumbuhan
raksasa yang disebut gigantisme. Apabila kelebihan ini terjadi pada orang
dewasa menyebabkan pertumbuhan memanjang pada ujung-ujung tulang
tertentu seperti ujung-ujung tulang muka, yang disebut akromegali. Kekurangan
hormon pertumbuhan akan mengakibatkan pertumbuhan kecil disebut
kretinisme.
Hormon tirotrof adalah hormon yang mengatur pertumbuhan dan fungsi
kelenjar gondok atau kelenjar tiroid. Hormon ini mempengaruhi pengambilan
unsur iodium dan sintesis hormon tiroksin. Hormon Adrenokortikotrof (ACTH)
merupakan hormon yang merangsang kelenjar adrenal untuk mensekresi
glukokortikoid. Hormon Laktogenik atau hormon Prolaktin merupakan hormon
yang merangsang kelenjar susu untuk menghasilkan kelenjar air susu.
Hormon gonadotrof pada wanita, terdiri atas Follicle Stimulating
Hormone (FSH) yang berfungsi merangsang pertumbuhan folikel ovarium,
menghasilkan estrogen, dan Luteinezing Hormone (LH) yang berfungsi
mempengaruhi pertumbuhan folikel ovarium menjadi korpus luteum, korpus
luteum akan menghasilkan progesteron.
Hormon gonadotrof pada pria terdiri atas Follicle Stimulating Hormone
(FSH) yang berfungsi merangsang terjadinya spermatogenesis dan hormon
perangsang sel-sel intertisiil (ICTH) atau hormon luteinisasi yang berfungsi
merangsang sel-sel intertisiil untuk menghasilkan testoteron.
b. Hipofisis bagian tengah
Hipofisis bagian tengah menghasilkan hormon perangsang melanosit
atau Melanosit Stimulating Hormon (MSH). Apabila hormon ini terlalu banyak
dihasilkan, maka akan menyebabkan kulit menjadi hitam.
c. Hipofisis bagian posterior
Hipofisis bagian posterior menghasilkan oksitosin yang berfungsi
mempengaruhi otot uterus berkontraksi sehingga memper-mudah proses
persalinan, dan hormon vasopresin, yang berfungsi sebagai anti diuretik,
mencegah pengeluaran urin yag terlalu banyak. Hal ini berhubungan dengan
fungsinya yang menyebabkan kontraksi otot-otot usus halus, kantung air seni,
dan kantung empedu serta menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
2. Kelenjar Tiroid (Kelenjar Gondok)
Hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid adalah tiroksin dan tridotironin
yang berperan mempengaruhi proses metabolisme, memproduksi energi dan
oksidasi sel, pertumbuhan fisik, kematangan seksual, distribusi garam dan
pengubahan glukosa menjadi glikogen. Selain itu, menghasilkan hormon
kalsitonin yang berfungsi menjaga keseimbangan kalsium darah. Kelebihan
hormon ini menyebabkan penyakit yang disebut Morbus Basedow. Sedangkan,
kekurangan hormon ini pada masa pertumbuhan akan mengakibatkan penyakit
yang disebut kretinisme. Apabila terjadi pada masa dewasa disebut mixoedem
(kegemukan) dan kebodohan.
3. Kelenjar Paratiroid (Kelenjar Anak Gondok)
Kelenjar ini menghasilkan hormon parathormon yang berperan menjaga
keseimbangan kalsium dalam darah. Kelebihan hormon ini menyebabkan
kalsium dalam tulang terambil sehingga terjadi pengendapan kalsium dan
menyebabkan batu ginjal. Pada beberapa orang dapat menyebabkan tulang
mudah sekali patah. Kekurangan hormon ini akan menyebabkan gejala kadar
kapur dalam darah menurun, kejang tangan dan kaki, jari-jari tangan
membengkok ke arah pangkal, kesemutan dan sukar tidur.
4. Kelenjar Adrenal (Anak Ginjal)
Kelenjar ini menempel pada bagian atas ginjal. Pada satu ginjal terdapat
satu kelenjar adrenal yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian luar
(korteks) dan bagian tengah (medula).
Hormon yang dihasilkan kortikoid mineral yang berfungsi menyerap
natrium dari darah dan reabsorpsi air pada ginjal. Hormon glukosa kortikoid
berfungsi menaikkan kadar glukosa darah, dan berperan dalam pengubahan
protein menjadi glikogen dan selanjutnya menjadi glukosa.
Kerusakan pada bagian korteks kelenjar adrenal mengakibatkan penyakit
Addison dengan gejala kelelahan, nafsu makan berkurang, mual, muntah-
muntah, dan terasa sakit di dalam tubuh.
Kelenjar ini juga menghasilkan hormon androgen yang berpengaruh
menentukan sifat kelamin sekunder pria. Kelebihan hormon ini menyebabkan
penyakit yang disebut virilisme, yaitu ciri seksual pria yang ada pada wanita.
5. Kelenjar Pankreas
Sel pada pankreas dikenal sebagai pulau langerhans. Pulau langerhans
ini menghasilkan hormon insulin. Insulin berfungsi mengatur konsentrasi
glukosa dalam darah. Kelebihan glukosa akan disimpan dalam sel hati dan
selanjutnya akan dirombak menjadi glikogen untuk disimpan. Kekurangan
insulin dapat menyebabkan diabetes melitus dan gangguan jantung serta ginjal.
6. Kelenjar Gonad
Ovarium merupakan alat reproduksi wanita, hormon yang dihasilkan
oleh ovarium adalah hormon estrogen dan hormon progesteron. Hormon
estrogen dihasilkan oleh Folikel Graaf. Pembentukan hormon ini dirangsang
oleh FSH. Fungsi estrogen adalah menimbulkan dan mempertahankan tanda-
tanda kelamin sekunder pada wanita. Tanda-tanda kelamin sekunder adalah
tanda yang membedakan antara wanita dengan pria tanpa melihat kelaminnya.
Misalnya, perkembangan payudara wanita.
Hormon progesteron dihasilkan oleh korpus luteum. Pembentukan
progesteron dirangsang oleh LH dan berfungsi menyiapkan dinding uterus agar
dapat menerima telur yang sudah dibuahi, atau menyebabkan penebalan dinding
uterus. Selama kehamilan, estrogen dan progesteron terus dihasilkan oleh
plasenta sehingga kehamilan dapat terus dipertahankan.
Testis merupakan organ reproduksi khusus pria. Testis menghasilkan
hormon androgen, yaitu testosteron. Testosteron berfungsi menimbulkan ciri-ciri
seksual pada pria. Misalnya, dada menjadi bidang, tumbuh kumis, dan suara
menjadi lebih berat.
UJI DIRI

Soal Kelompok
 Diskusikan dengan teman sebangkumu. Bagaimana dengan kerja enzim apabila
suhu diturunkan sampai 0° C atau di bawahnya?
 Hormon apakah yang dihasilkan oleh kelenjar paratiroid atau anak gondok?
Kelainan apa sajakah yang terjadi bila kekurangan hormon ini?
Ringkasan Singkat
Enzim adalah senyawa organik atau katalis protein yang dihasilkan sel dalam suatu
reaksi. Enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi. Enzim
meningkatkan laju reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi. Cara kerja enzim
dapat dijelaskan dengan dua teori, yaitu teori gembok dan anak kunci, dan teori
kecocokan yang terinduksi.
Sebagai biokatalisator, enzim memiliki beberapa sifat antara lain:
 Enzim hanya mengubah kecepatan reaksi
 Enzim bekerja secara spesifik
 Enzim merupakan protein
Aktivitas enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
 Suhu
 Derajat Keasaman
 Inhibitor
Sistem hormonal atau sistem endokrin terdiri atas sejumlah kelenjar buntu yang
terletaknya tersebar pada tubuh.
Berdasarkan aktivitasnya, kelenjar endokrin dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
 Kelenjar yang bekerja sepanjang hayat
 Kelenjar yang bekerjanya mulai saat tertentu
 Kelenjar yang bekerja hanya sampai saat tertentu saja.
LATIHAN SOAL
A. Pilihan Ganda
1. Apa fungsi enzim...
a. Sebagai katalisator
b. Sebagai anabolisme
c. Sebagai katabolisme
d. Sebagai koenzim
e. Sebagai metabolisme
2. Suatu enzim hanya bereaksi dengan berapa substrat...
a. 5 substrat
b. 4 substrat
c. 3 substrat
d. 2 substrat
e. 1 substrat
3. Protein yang dapat mengalami modifikasi selama reaksi tetapi kembali kebentuk
asal pada akhir reaksi disebut ...
a. Koloenzim
b. Substrat
c. Enzim
d. Produk
e. Kofaktor
4. Penyatuan molekul O2 ke substrat adalah
a. Monooksigenasi
b. Oksigenasi
c. Tetraoksigenasi
d. Dioksigenasi
e. Trioksigenasi
5. Koenzim yang biasanya berikatan secara kovalen dengan enzim sering disebut
dengan ....
a. Gugus prostetik
b. Gugus linoleat
c. Gugus metalloenzim
d. Flavin mononukleutida
e. Riboflavin
6. Dibawah ini merupakan sifat-sifat enzim, kecuali ...
a. Enzim merupakan biokatalisator yang mempercepat jalannya reaksi tanpa
ikut bereaksi
b. Thermolabil/mudah rusak bila dipanaskan lebih dari 60 C
c. Merupakan senyawa protein, sehingga sifat protein masih melekat pada
enzim
d. Dibutuhkan dalam jumlah banyak
e. Bekerja didalam sel (endoenzim) dan diluar sel (ektoenzim)
7. Enzim tidak dapat bekerja tanpa adanya suatu zat non protein tambahan yang
disebut ...
a. Koenzim
b. Endoenzim
c. Ektoenzim
d. Koloid
e. Kofaktor
8. Karena sisi aktif enzim setangkup dengan permukaan substrat tertentu maka
enzim bekerja secara ....
a. Aktif
b. Non aktif
c. Spesifik
d. Reaktif
e. Non spesifik
9. Berikut ini yang tidak termasuk dalam ciri-ciri koenzim, yaitu ...
a. Bersifat termolabil
b. Tahan panas
c. Senyawa organik
d. Dapat terdisosiasi
e. Dapat dipisahkan dengan enzimnya dengan dialisis
10. Enzim mempercepat jalannya reaksi tanpa ikut bereaksi karena bersifat ...
a. Termolabil
b. Biokatalisator
c. Kofaktor
d. Hidrofil
e. Substrat
11. Hormon berfungsi untuk ...
a. Mengatur alat-alat tubuh
b. Mengatur sistem sekresi
c. Mengatur sistem pencernaan
d. Mengatur sistem pengeluaran
e. Mengatur sistem ekresi
12. Di bawah ini merupakan kelenjar endokrin, kecuali ...
a. Gondok
b. Kelamin
c. Anak ginjal
d. Keringat
e. Jantung
13. Hormon merupakan zat kimia yang penting bagi tubuh, hormon dihasilkan oleh
kelenjar ...
a. Gondok
b. Buntu
c. Endokrin
d. Pankreas
e. Ginjal
14. Nama lain kelenjar hipofisis yaitu ...
a. Kelenjar gondok
b. Kelenjar usus
c. Kelenjar tiroid
d. Kepala kelenjar
e. Kelenjar saraf
15. Nama lain kelenjar endokrin adalah ...
a. Kelenjar buntu
b. Kelenjar usus
c. Kelenjar tiroid
d. Kelenjar gondok
e. Kelenjar saraf
16. Kelenjar gondok menghasilkan ...
a. Hormon insulin
b. Hormon tiroksin
c. Hormon hipofisis
d. Hormon deoksikortison
e. Hormon endokrin
17. Fungsi hormon tiroksib adalah untuk ...
a. Mengatur pertumbuhan ciri kelamin sekunder wanita
b. Mengatur hormon tiroksin dalam darah
c. Meningkatkan metabolisme energi
d. Merangsang pengubahan glikogen menjadi glukosa
e. Menurunkan metabolisme energi
18. Bila kelebihan hormon tiroksin maka akan mengalami ...
a. Kretinisme
b. Gigantisme
c. Penyakit hipermetabolisme
d. Pertumbuhan raksasa
e. Diabetes
19. Insulin dihasilkan oleh kelenjar endokrin ..
a. anak gondok
b. Anak ginjal
c. Kacangan
d. Pulau-pulau langerhans
e. Pankreas
20. Kelenjar hipofisis disebut juga mastergland karena ...
a. Menghasilkan hormon pertumbuhan
b. Terletak di kepala
c. Mempengaruhi produksi kelenjar endokrin lainnya
d. Menghasilkan dua macam hormon
e. Menghasilkan tiga macam hormon
B. Uraian
1. Sebutkan 4 sifat enzim !
2. Jelaskan cara kerja enzim dengan dua teori !
3. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim !
4. Berdasarkan aktivitasnya, kelenjar endokrin dibedakan menjadi tiga macam,
sebutkan !
5. Kelenjar hipofisis dibagi menjadi tiga bagian, sebutkan !