Anda di halaman 1dari 23

TEKNIK PENGOLAHAN PRODUK DERIVAT

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER

LAPORAN PRAKTIKUM
“HAND SANITIZER”

Disusun oleh :

Nama : Aji Gesang Prayogi


NIM : 161710101078
Kelas/Kelompok : THP-C/ 6
Acara : Pembuatan Hand Sanitizer
Tanggal Praktikum : 27 November 2018

Asisten :
1. Rina Kartika Wati 082340144468
2. Lutfi Putri Yusviani 082346057858
3. Dwi Cahya Putra 081217280695
4. Seno Dwi Pratama P 082233842560
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berbagai penyakit sering kali berasal dari mikroorganisme yang tidak dapat
dilihat oleh mata secara langsung. Mikroorganisme tersebut dapat dijumpai di
mana saja, terutama tempat-tempat umum dan fasilitas umum lain yang
memungkinkan menjadi tempat berkembang biaknya mikroorganisme. Salah satu
bentuk penyebaran mikroorganisme pada manusia adalah melalui tangan. Tangan
merupakan alat transmisi dari mikroorganisme pada saluran pernafasan dan mulut
yang utama (Arya, 2012).

Salah satu cara menjaga kesehatan tubuh yang mudah ialah dengan mencuci
tangan. Sehat juga menjadi salah satu investasi untuk meningkatkan produktivitas
kerja guna meningkatkan kesejahteraan keluarga. Menjaga kesehatan tubuh dan
memelihara kebersihan tangan adalah hal yang sangat penting. Dalam melakukan
aktivitas sehari-hari tangan seringkali terkontaminasi dengan mikroba, sehingga
tangan menjadi perantara masuknya mikroba ke dalam tubuh yang dapat
mengakibatkan diare. Menurut data Kesehatan Riset Dasar (Kementrian
Kesehatan RI, 2001), berdasarkan pola penyebab kematian semua umur, diare
menduduki peringkat ke -13 dengan proporsi kematian sebesar 3,5%. Sementara
dengan mencuci tangan dapat menurunkan potensi diare sebesar 47%.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi penyakit gangguan pencernaan


yang disebabkan oleh mikroba mulai dari pencegahan hingga penggobatan. Salah
satu upaya pencegahan yang dilakukan yaitu dengan penggunaan hand sanitizer
(Miller, 2006; Myers, 2008). Hand sanitizer umumnya mengandung Ethyl Alkohol
62 %, pelembut, dan pelembab. Selain alkohol dan pelembut, hand sanitizer juga
mengandung anti bakteri lain seperti tryclosan, gliserol, tannin, saponin dan agen
antimikroba lainnya. Kandungan bahan aktif yang ada dalam hand sanitizer adalah
alkohol yang memiliki efektivitas paling tinggi terhadap virus, bakteri, dan jamur
juga tidak menimbulkan resistensi pada bakteri. Alkohol sendiri dapat membuat
tangan menjadi kering, sehingga hand sanitizer harus dilengkapi dengan
moisturizer dan emolient, yang menjaga tangan tetap lembut dan tidak menjadi
kering, tidak seperti larutan alkohol murni yang dapat menyebabkan dehidrasi
pada kulit. Hand sanitizer pada umumnya akan menguap sehingga tidak
meninggalkan residu atau membuat tangan lengket (Aiello, 2010; Larson, 2005).

Cairan pembersih tangan berbasis alkohol tidak bisa menggantikan cuci


tangan dengan sabun dan air mengalir. Penelitian terbaru membuktikan,
handsanitizer justru meningkatkan risiko infeksi virus pemicu radang saluran
pencernaan. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan handsanitizer dari bahan
kimia ternyata memiliki dampak yang cukup besar terhadap kesehatan. Selain
mudah terbakar hand sanitizer berbasis alkohol juga dapat meningkatkan risiko
infeksi virus pemicu radang saluran pencernaan. Oleh karena itu dilakukan
praktikum untuk mengetahui pembuatan hand sanitizer.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini ialah:

1. Mengetahui proses pembuatan hand sanitizer.


2. Mengetahui pengaruh perbedaan penambahan ekstrak daun teh pada hand
sanitizer.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hand Sanitizer

Gel pembersih tangan merupakan gel yang memiliki sebagai antibakteri


dalam menghambat hingga membunuh bakteri (Retnosari dan Isadiartuti 2006).
Gel pembersih tangan atau Hand sanitizer ini juga dikenal dengan detergen
sintetik cair pembersih tangan yang merupakan sediaan pembersih yang dibuat
dari bahan aktif detergen sintetik dengan atau tanpa penambahan zat lain yang
tidak menimbulkan iritasi pada kulit (SNI, 1992). Banyak dari gel ini berasal dari
bahan beralkohol atau etanol yang dicampurkan bersama dengan bahan pengental,
misal karbomer, gliserin, dan menjadikannya serupa jelly, gel, atau busa untuk
memudahkan penggunaan dan menghindari perasaan kering karena penggunaan
alkohol. Di Negara berkembang, detergen sintetik telah menggantikan sabun
sebagai bahan kebersihan.

Hand Sanitizer merupakan cairan pembersih tangan berbahan


dasar alkohol yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme dengan
cara pemakaian tanpa di bilas dengan air. Cairan dengan berbagai
kandungan yang sangat cepat membunuh mikroorganisme yang ada di kulit
tangan. ( Benjamin, 2010) Hand sanitizer banyak digunakan karena alasan
kepraktisan. Hand sanitizer m u d a h dibawa dan bisa cepat digunakan
tanpa perlu menggunakan air. Hand sanitizer sering digunakan ketika dalam
keadaan darurat dimana kita tidak bisa menemukan air. Kelebihan ini diutarakan
menurut US FDA (Foodand Drug Administration) dapat membunuh kuman
dalam waktu kurang lebih 30 detik. ( Benjamin, 2010).
Secara umum hand sanitizer mengandung: alkohol 60-95%,
benzalkonium chloride, benzethonium chloride, chlorhexidine, gluconatee,
chloroxylenolf, clofucarbang, hexachloropheneh, hexylresocarcinol, iodine
(Benjamin, 2010). Menurut CDC (Center for Disease Control) hand
sanitizer terbagi menjadi dua yaitu mengandung alkohol dan tidak mengandung
alkohol. Hand sanitizer dengan kandungan alcohol antara 60- 95 % memiliki
efek anti mikroba yang baik dibandingkan dengan tanpa kandungan alcohol
(CDC, 2009).
Kandungan aktif yang sering ditemukan pada hand santizer dipasaran
adalah 62% etil alcohol. (Liu, 2010) Kandungan t ersebut bermanfaat dalam
membunuh bakteri. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Liu et al, menyatakan
bahwa efektivitas dari suatu hand sanitizer ditentukan oleh berbagai faktor
seperti, jenis antiseptic yang kita gunakan dan banyaknya, metode penelitian
dan target organisme.
Hand sanitizer memiliki efektivitas pada virus yang kurang
baik dibandingkan dengan cuci tangan menggunakan sabun. Kandungan
sodium hipoklorite dalam sabun dapat menghancurkan integritas dari capsid
protein dan RNA dari virus, sedangkan hand sanitizer dengan alkohol hanya
berefek pada kapsid protein virus (fukusaki, 2006; McDonnell 1999).
Bahan kimia yang mematikan bakteri disebut bakterisidal, sedangkan
bahan kimia yang menghambat pertumbuhan disebut bakteriostatik. Bahan
antimicrobial dapat bersifat bakteriostatik pada konsentrasi rendah, namun
bersifat bakterisidal pada konsentrasi tinggi. Dalam menghambat aktivitas
mikroba, alkohol 50-70% berperan sebagai pendenaturasi dan pengkoagulasi
protein, denaturasi dan koagulasi protein akan merusak enzim sehingga
mikroba tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan akhirnya aktivitasnya
terhenti. ( CDC, 2009)

2.2 SNI Hand Sanitizer


Di Negara berkembang, detergen sintetik telah menggantikan sabun
sebagai bahan kebersihan. Di Indonesia, syarat mutu detergen sintetik cair
pembersih tangan diatur berdasarkan SNI-06-2588-1992 yang dapat dilihat dalam
Tabel 1. berikut ini.
Efektivitas hand sanitizer ini dipengaruhi oleh faktor fisik kimia seperti
waktu kontak, suhu, konsentrasi, pH, kebersihan peralatan, kesadahan air, dan
serangan bakteri (Marriot, 1999). Sanitizer yang ideal menurut Marriot (1999),
harus memiliki beberapa hal seperti dibawah ini :
1. Memiliki sifat menghancurkan mikroba, aktivitas spektrum melawan fase
vegetatif bakteri, kapang, dan khamir.
2. Tahan terhadap lingkungan (efektif pada lingkungan yang mengandung bahan
organik, deterjen, sisa sabun, kesadahan air, dan perbedaan pH).
3. Mampu membersihkan dengan baik.
4. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
5. Larut dalam air dalam berbagai konsentrasi.
6. Bau dapat diterima.
7. Konsentrasi stabil.
8. Mudah digunakan.
9. Tidak mahal.
10. Mudah pengukurannya jika digunakan dalam larutan

2.3 Bahan yang Digunakan


2.3.1 Ekstrak Teh
Vakuola dalam sel daun teh mengandung zat-zat yang larut dalam air.
Seperti katekin, kafein, aneka asam amino dan berbagai gula. Enzim pengoksida
terdapat dalam sitoplasma yaitu polifenol oksidasi, klorofil, dan karoten. Daun teh
mengandung 30-40% polifenol yang sebagian besar dikenal sebagai katekin.
Komposisi daun teh terkenal sangatlah kompleks. Lebih dari 400 komponen
kimiawi telah diidentifikasi terkandung dalam daun teh. Jumlah komponen
kimiawi ini berbeda-beda tergantung pada tanah, iklim, dan usia daun teh ketika
dipetik. Komposisi aktif utama yang terkandung dalam daun teh adalah kafein,
tanin, teophillin, teobromin, lemak, saponin, minyak esensialm katekin, karotin,
vitamin C, A, B1, B2, B12 dan P, fluorite, zat besi, magnesium, kalsium,
strontium, tembaga, nikel, seng, dan fosfor. Semkin tua daun teh maka semakin
banyak kandungan tanin (Hidayati, 2009).
2.3.2 Karbopol
Karbopol 940 sebagai basis karena karbopol 940 bersifat stabil dan
higroskopik serta dapat larut di dalam air. Karbopol berwarna putih, asam, bubuk
hidroskopis dengan bau yang khas. Selain itu karbopol 940 berfungsi sebagai
gelling agent dan thickening agent (Rowe, et. al., 2009).
Karbopol tipe 940 dengan rumus molekul (C3H4O2)n untuk jenis 940
mempunyai berat molekul monomer sekitar 72 gram/mol dan karbpol tipe 940
terdiri dari 1450 monomer (Avinash, 2006). Karbopol 940 merupakan cross-
linked antara poliakrilat dengan divinil glikol, merupakan sebuah hidrogel anionik
yang digunakan untuk meningkatkan kekentalan (Lee, Ji-seok., and Ki-Wong
Song, 2011). Keuntungan menggunakan karbopol ialah viskositasnya tinggi pada
konsentrasi rendah, interval viskositas beragam dan karakteristik alir yang baik,
ketercampuran dengan banyak zat aktif, sifat biodhesif, dan suhu stabil
(Mohammad T, dkk., 2004).
2.3.3 Aquades
Aquades adalah air hasil destilasi atau penyulingan, sama dengan air murni
dan tidak ada mineral-mineral lain Aquades merupakan cairan atau air yang
biasanya digunakan di dalam laboratorium sebagai pelarut atau bahan yang
ditambahkan saat titrasi. Nama lain aquades adalah air suling, berat molekunya
sekitar 18,20 gr/mol dan rumus molekulnya adalah H2O. Karakteristik aquades
yaitu cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mempunyai rasa.
Dalam penyimpaan sebaiknya di tempat tertutup (Craines, 2013). Aquades dalam
pembuatan hand sanitizer berfungsi sebagai pelarut yang digunakan untuk
menyeimbangkan viskositas dan ph.
2.3.4 Metil Paraben
Metil paraben dipasaran dikenal dengan nama nipagin. Metil paraben
berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, larut dalam etanol, glisrtol,
propilenglikol, dan air. Untuk pengawet sediaan topikal, metil paraben yang biasa
ditambahkan sebesar 0,02-0,3%. Efikasinya akan meningkat jika ditambah dengan
propilen glikol sebesar 2-5% atau dikombinasikan dengan golongan paraben lain
(Rowe, dkk., 2009).
2.3.5 Propil Paraben
Propil paraben digunakan dalam produk-produk berbasis air karena
mudah larut. Propil paraben berfungsi sebagai sebagai pengawet antimikroba
dalam kosmetik, produk makanan, dan formulasi sediaan farmasi. Propil Paraben
memiliki fungsi yang mirip dengan metil paraben (Rowe et al, 2009). Propil
paraben, n-propil ester asam p-hidroksibenzoat, terjadi sebagai zat alami yang
ditemukan di banyak tumbuhan dan beberapa serangga, walaupun diproduksi
secara sintetis untuk penggunaan kosmetik, obat-obatan dan makanan. Ini adalah
pengawet yang biasanya ditemukan di banyak kosmetik berbasis air, seperti krim,
lotion, shampo dan produk mandi
2.3.6 Propilenglikol
Propilen Glikol (C3H8O2) merupakan cairan bening, tidak berwarna,
kental, tidak berbau, manis dan memiliki rasa yang sedikit tajam menyerupai
gliserin. Larut dalam pelarut aseton, kloroform, etanol, gliserin dan air dan dapat
melarutkan beberapa minyak esensial. Propilen glikol umumnya digunakan
sebagai pengawet antimikroba, disinfektan, humektan, plasticizer, pelarut, dan zat
penstabil. Sebagai humektan, konsentrasi propilen glikol yang biasa digunakan
adalah 15% (Rowe et al, 2009).
2.3.7 TEA

Trietilamina adalah cairan kental berwarna kuning jernih, tidak berwarana


pucat, dan memiliki sedikit bau amonia. Trietilamina banyak digunakan dalam
formulasi topikal, terutama dalam pembentukan emulsi. Ketika dicampur deangan
proporsi molar yang sama dengan asam lemak, seperti asam stearat atau asam
oleat, trietilamina membentuk sabun anionik dengan pH sekitar 8, yang dapat
digunakan sebagai agen pengemulsi dan stabil dalam emulsi minyak dalam air.
Konsentrasi yang biasanya digunakan untuk emulsifikasi adalah 2-4% v/v
trietilamina. Sediaan yang berisi trietilamina cenderung berwarna gelap pada
penyimpanan. Namun. Perubahan warna dapat dikurangi dengan menghindari
paparan cahaya dan kontak dengan logam dan ion logam. Trietilamina juga
digunakan dalam pembentukan garam untuk solusi injeksi dan segiaan analgesik
topikal. Penggunaan umum lainnya adalah sebagai buffer, pelarut, dan plasticizer
polimer, dan sebagai humektan (Rowe dan Sheskey, 2009).

2.4 Reaksi yang Terjadi Selama Pembuatan Hand Sanitizer

Menurut Martin (1993), reaksi yang terjadi selama pembuatan hand sanitizer
yaitu terjadinya pembentukan gel sehingga dapat meningkatkan viskositas dari
hand sanitizer. Pembentukan gel ini disebabkan karena adanya penambahan
karbopol. Mekanisme pembentukan gel terjadi saat struktur polimer dari karbopol
terikat dengan pelarut dan terjadi ikatan silang pada polimer-polimer sehingga
molekul pelarut terjebak didalamnya. Kemudian terjadi immobilasi molekul
pelarut dan terbentuk struktur yang kaku dan tegar yang tahan terhadap gaya
maupun tekanan tertentu. Peningkatan viskositas pada hand sanitizer disebabkan
karena adanya penambahan TEA, penambahan TEA pada karbopol akan
membentuk garam yang larut. Penambahan TEA akan menggeser kesetimbangan
ionic membentuk garam yang larut dan menghasilkan ion yang tolak menolak dari
gugus karboksilat dan polimer menjadi kaku dan rigid sehingga meningkatkan
viskositasnya (Osborne, 1990).

Gel mempunyai kekakuan yang disebabkan oleh jaringan yang saling


menganyam dari fase terdispersi yang mengurung dan saling memegang medium
pendispersi. Perubahan temperature dapat menyebabkan gel tertentu mendapatkan
kembali bentuk sol atau bentuk cairnya. Juga beberapa gel menjadi encer setelah
pengocokan dan segera menjadi setengah padat atau padat kembali setelah
dibiarkan tidak terganggu untuk beberapa waktu, peristiwa ini dikenal sebagai
tiksotropi (Ansel, 1989).
BAB 3. METODOLOGI

3.1 Alat Dan Bahan

3.1.1 Alat

a. Beaker Glass
b. Gelas Ukur
c. Neraca Analitik
d. Pipet
e. Pi-pump
f. Spatula
g. Wadah
h. Watherbath

3.1.2 Bahan

a. Aquades
b. Ekstrak Teh
c. Karbopol 940
d. Metil Paraben
e. Propil Paraben
f. Propilenglikol
g. TEA

3.2 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan

Daun teh yang


telah dihaluskan

Aquadest Ekstraksi
1:20

Pemanasan dengan waterbath


T= 1000C selama 1 jam

Ekstrak teh
Karbopol
10 g

Penambahan
aquades panas Pengadukan selama 5 menit
10 mL

Ekstrak Metil Propil Propilenglik


teh paraben paraben ol

Pencampuran

B Pengadukan

Penambahan Pengadukan
aquades hingga
100 mL
Penambahan TEA Pengadukan
sedikit demi
sedikit

Hand-Sanitizer
Pada praktikum ini dilakukan formulasi hand sanitizer dengan perbedaan
ektrak teh sebagai antiseptik, karbopol sebagai pembentuk gel, TEA sebagai
pembasa, propilenglikol sebagai humektan, metil dan propil paraben sebagai
pengawet. Pada pembuatan ekstrak daun teh, langkah pertama yaitu menyiapkan
alat dan bahan yang digunakan terlebih dahulu. Alat yang digunakan yaitu beaker
glass, spatula, kertas saring, dan waterbath. Bahan yang digunakan yaitu daun teh
dan aquades. Tahap selanjutnya yaitu dilakukan pencucian daun teh, hal ini
dilakukan supaya daun teh bersih dari kotoran/debu yang melekat. Kemudian,
daun teh dilakukan penghalusan supaya mudah dalam proses pengekstrakan.
Setelah tahap penghalusan, daun teh yang telah halus dilakukan penambahan
aquades dengan perbandingan ekstrak daun teh dan aquades 1:20. Kemudian
dilakukan pengekstrakan di waterbath dengan suhu 100o C selama 1 jam.
Selanjutnya, dilakukan penyaringan dengan menggunakan kertas saring dan
diperoleh hasil ekstrak daun teh.

Pada pembuatan larutan A, langkah pertama yaitu menyiapkan alat dan


bahan yang digunakan terlebih dahulu. Alat yang digunakan yaitu hot plate,
beaker glass, gelas ukur, dan spatula. Bahan yang digunakan yaitu aquades dan
karbopol 10 gram. Tahap selanjutnya yaitu dilakukan pemanasan aquades 10 ml
dengan menggunakan hot plate. Kemudian, aquades yang telah panad dilakukan
penambahan karbopol sebanyak 10 gram secara pelahan dan diaduk supaya tidak
terjadi penggumpalan. Penambahan karbopol berfungsi sebagai gelling agent dan
thickening agent dalam hand sanitizer. Pada pembuatan larutan A, langkah
pertama yaitu menyiapkan alat dan bahan yang digunakan terlebih dahulu. Alat
yang digunakan yaitu hot plate, beaker glass, gelas ukur, dan spatula. Bahan yang
digunakan yaitu aquades dan karbopol 10 gram. Tahap selanjutnya yaitu
dilakukan pemanasan aquades 10 ml dengan menggunakan hot plate. Kemudian,
aquades yang telah panad dilakukan penambahan karbopol sebanyak 10 gram
secara pelahan dan diaduk supaya tidak terjadi penggumpalan. Penambahan
karbopol berfungsi sebagai gelling agent dan thickening agent dalam hand
sanitizer.
Pembuatan larutan B, yang pertama dilakukan yaitu menyiapkan alat dan
bahan yang digunakan terlebih dahulu. Alat yang digunakan yaitu beaker glass
dan bahan yang digunakan yaitu ekstrak teh, metil paraben, propil paraben, dan
propilenglikol. Tahap selanjutnya yaitu dilakukan pencampuran ekstrak teh, metil
paraben, propil paraben, dan propilenglikol dalam beaker glass, kemudian
dilakukan pengadukan. Variasi ekstrak teh yang ditambahkan sebesar 5 mL, 7,5
mL, dan 10 mL. Ekstrak teh berfungsi sebagai antseptik dan antioksidan. Metil
paraben dan propil paraben dalam pembuatan hand sanitizer ini berfungsi sebagai
agen anti mikroba, sedangkan propilen gkolikol berfungsi sebagai humektan.
Pada pembuatan hand sanitiser, langkah pertama yaitu menyiapkan alat dan
bahan yang digunakan terlebih dahulu. Alat yang digunakan yaitu beaker glass,
spatula, dan hot plate. Bahan yang digunakan yaitu larutan A, larutan B, aquades,
dan TEA. Tahap selanjutnya yaitu larutan A ditambahkan dengan larutan B,
kemudian dilakukan pengadukan hingga homogen. Setelah itu, dilakukan
penambahan aquades hingga larutan 100 mL dan dilakukan pengadukan hingga
homogen. Penambahan aquades ini berfungsi sebagai pelarut untuk
menyeimbangkan viskositas dan pH. Kemudian, dilakukan penambahan TEA
(Trietanolamin) sebanyak 0,5 mL. TEA berfungsi sebagai emulsifying agent
dimana penambahan TEA pada karbopol akan membentuk garam yang larut.
Selanjutnya dilakukan pengadukan hingga homogen dan dihasilkan hand
sanitizer.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Ekstrak Daun Teh


No. Parameter
5 ml 7,5 ml 10 ml
1 Viskositas Sangat Kenyal Agak Kenyal Sedikit Kenyal
2 Warna Oranye Cerah Oranye Cokelat
Kecokelatan
3 Aroma (Melati) Agak Harum Sangat Harum Harum
4 Kelengketan Tidak Lengket Agak Tidak Tidak Lengket
Lengket
5 Kelembutan Agak Lembut Lembut Sangat Lenbut

4.2 Hasil Perhitungan


Tidak dilakukan perhitungan dalam praktikum ini.
4.3 Pembahasan
4.3.1 Viskositas
Viskositas merupakan sifat fluida yang mendasari diberikannya tekanan
terhadap tegangan geser oleh fluida tersebut. Fluida yang kental (viskos) akan
mengalir lebih lama dalam suatu pipa dari fluida yang kurang kental
(Prijono,1985). Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh hasil
data viskositas yang berbeda-beda pada setiap sampelnya yang disebabkan oleh
perbedaan konsentrasi ekstrak daun teh yang digunakan dalam pembuatan hand
sanitizer. Viskositas hand sanitizer yang dihasilkan menunjukkan bahwa semakin
tinggi ekstrak daun teh yang ditambahkan, maka viskositas hand sanitizer
semakin menurun. Hal tersebut terjadi karena pada setiap perlakukan dan semakin
banyaknya penambahan ekstrak daun teh maka hand sanitizer bersifat asam.

Menurut Retnosari dan Isadiartuti (2006), penambahan antioksidan juga


perlu disesuaikan dengan jumlah ekstrak yang ditambahkan, karena adanya
peruraian senyawa dalam ekstrak akan mempengaruhi sistem gel tersebut.

4.3.2 Warna
Warna berguna untuk menentukan kualitas dan sebagai penentu tingkat
kerusakan biologi atau fisikokimia serta penggunaan warna untuk memproduksi
karakteristik parameter kualitas dalam suatu produk, dalam praktikum hand
sanitizer menggunakan ekstak teh dalam pembuatannya yang dapat
mempengaruhi warna dari produk yang dihasilkan. Dalam pengamatan yang
dilakukan dapat diketahui bahwa pada dari setiap sampel menghasilkan warna
yang berbeda beda. Hal ini disebabkan perbedaan konsentrasi ekstrak daun teh
yang digunakan dalam pembuatan hand sanitizer. Semakin tinggi konsentrasi
ekstrak daun teh yang ditambahkan, maka semakin gelap atau pekat warna hand
sanitizer yang dihasilkan. Berdasarkan data, warna paling pekat dihasilkan oleh
perlakuan hand sanitizer dengan penambahan ekstrak the sebanyak 10ml. Hal
tersebut dikarenakan daun teh memiliki kandungan polifenol seperti tanin yang
memiliki warna mulai dari kuning hingga coklat tua, sehingga jika ditambahkan
pada suatu produk dengan konsentrasi yang tinggi akan membuat warna produk
tersebut semakin pekat (Murhadi, 2007).

4.3.3 Kelembutan
Kelembutan ialah salah satu penentu dan merupakan suatu karakteristik
yang penting dalam suatu hand sanitizer. Kelembutan dalam suatu gel hand
sanitizer dipengaruhi oleh penambahan propilen glikol dimana berfungsi sebagai
humektan (Rowe et al, 2009). Humektan digunakan untuk mengurangi kehilangan
air pada sediaan semisolid. Pemilihan humektan tidak didasarkan hanya pada
pengaruhnya terhadap disposisi air tetapi juga memberikan efek terhadap
viskositas dan konsistensi dari produk akhir. Praktikum hand sanitizer yang
dilakukan, jumlah propilen glikol yang ditambahkan sama sehingga yang
mempengaruhi perbedaan kelembutan pada setiap sampel yaitu konsentrasi
ekstrak daun teh yang digunakan dalam pembuatan hand sanitizer. Penambahan
ekstrak daun teh mempengaruhi kerja dari propilen glikol sebagai humektan
dimana semakin tinggi penambahan ekstrak daun teh, maka semakin lembut hand
sanitizer yang dihasilkan (Voight, 1995).

4.3.4 Aroma
Aroma dalam suatu produk dapat menentukan bau atau tidaknya suatu
produk tersebut (Yusufa, 2008). Pada praktikum ini, hand sanitizer ekstrak daun
teh yang dihasilkan memiliki aroma khas melati, hal ini dikarenakan pewangi
yang ditambahkan yaitu ekstrak melati dengan jumlah yang sama. Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh hasil data aroma yang berbeda-beda
pada setiap sampelnya. Hal ini dikarenakan perbedaan konsentrasi ekstrak daun
teh dan ekstrak melati yang digunakan dalam pembuatan hand sanitizer.
4.3.4 Kelengketan
Dari praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil data kelengketan yang
berbeda dari setiap sampelnya. Perbedaan ini disebabkan penambahan konsentrasi
ekstrak daun teh yang berbeda-beda dalam pembuatan hand sanitizer. Pada sampel
pertama dengan penambahan ekstrak daun teh sebanyak 5% mengalami
penyimpangan karena tidak sesuai dengan literatur yang ada. Penambahan ekstrak
teh yang berbeda akan sangat mempengaruhi viskositas dari hand sanitizer,
sehingga akan mempengaruhi tingkat kelengketannya. Menurut Rowe, et al
(2009) kelengketan suatu sediaan berbanding lurus dengan viskositas. Semakin
tingi viskositas maka kelengketan sediaan juga semakin tinggi.

Penambahan
pewangi 2 tetes Pengadukan
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan yaitu
sebagai berikut:
1. Proses pembuatan hand sanitizer terdapat beberapa tahapan yaitu
pembuatan ekstak teh, larutan A (terdiri dari karbopol dan aquades),
larutan B ( terdiri dari Ekstrak teh, Metil paraben, Propil paraben,
Propilenglikol), dan pembuatan Hand Sanitizer
2. Perbedaan penambahan ekstrak daun teh pada hand sanitizer berpengaruh
terhadap viskositas, warna, aroma, kelembutan, dan kelengketan dari hand
sanitizer.

5.2 Saran
Praktikan diharap lebih menjaga kebersihan tangannya sebelum melakukan
praktikum hand sanitizer agar tidak mempengaruhi hasil kahirnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H. C. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi Keempat,


terjemahan Ibrahim dan Farida, Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Benjamin DT. (2010). Introduction To Hand Sanitizers. UI Press. Jakarta

CDC. (2009). Hand Sanitizer Ingredients. Jakarta

Fukuzaki, S. 2006. Mechanisms of actions of sodium hypochlorite in cleaning


anddisinfection processes. Biocontrol Sci. 11:147-157

Hidayati, N. 2009. Uji efektivitas antibakteri ekstrak kasar daun teh


(Camellia sinensis L. v. assamica) tua hasil ekstraksi menggunakan
pelarut etanol dan aquades. Skripsi. Jurusan Kimia. Fakultas Sains dan
Teknologi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Larson, Elaine L. 2005. Hand Hygiene Behavior in a Pediatric Emergency
Department and a Pediatric Intensive Care Unit: Comparison of Use of 2
Dispenser Systems. Am Journal Crit Care. Vol 14(4): 304-311

Liu P, Yuen Y, Hsiao H M, Jaykus L A, Moe C, 2010. Effectiveness of LiquidSoap


and Hand Sanitizer against Norwalk Virus on Contaminated Hands.Appl
Environ Microbiol. January; 76(2): 394–399.

Marriot, N.G., 1999. Pricipal of Food Sanitation. 4th edition. Aspen Publicer Inc.,
Geithersbug, Meryland.

McDonnell, G., and A. D. Russell, 1999. Antiseptics and disinfectants:


activity,action, and resistance. Clin. Microbiol. Rev. 12:147-179.

Miller, Michael A. 2006. Does the clinical use of ethanol-based hand sanitizer
elevate blood alcohol levels? A prospective study. The American Journal of
Emergency Medicine. Vol 24(7): 815–817
Murhadi, AS, S., & Susilawati. (2007). Aktivitas Antibakteri Daun Salam
(Syzygium polyanta) dan Daun Pandan (Pandanus amarylifolius). Jurnal
Teknologi dan Pangan , Vol XVII No 1.

Myers, Ronnie. 2008. Hand Hygiene Among General Practice Dentists A Survey
of Knowledge, Attitudes and Practices. The Journal of the American
Dental Association. Vol 139: 948-957

Osborne, D.W., 1990. Topical Drug Delivery Formulation. New York. Hal 381

Prijono,Arko.1985. Mekanika Fluida.Jakarta:Erlangga.

Rowe, Raymond C., Paul J Sheskey, & Marian E Quinn (Ed). (2009). Handbook
of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. Pharmaceutical Press. London

Sari, Retno., Dewi I. and Noorma R., 2004, Pemanfaatan Sirih sebagai Sediaan
Hand Gel Antiseptic : I. Studi Formulasi, Laporan Penelitian, Fakultas
Farmasi,Universitas Airlangga.
DOKUMENTASI

No Gambar Keterangan
1. Pemanasan aquadest hingga
mendidih

2. Penambahan carbopol

3. Pengadukan selama 5 menit


menjadi larutan A

4. Ekstrak teh ditambah metil


paraben, propil paraben, dan
propilen glikol menjadi larutan
B

5. Penambahan TEA dan minyak


zaitun pada larutan A dan B
yang telah dicampur

6. Handsanitizer

Anda mungkin juga menyukai