Anda di halaman 1dari 48

ASUHAN KEPERAWATAN

KISTA OVARIUM PADA Ny. S

DI SUSUN

KELOMPOK 6

ARIJAYA MOKODOMPIT

HILDAWATI MAMONTO

SESMIATI HASAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)

GRAHA MEDIKA KOTA KOTAMOBAGU

T.P 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat

kemurahan dan kasihNya kita masih diberikan kesempatan untuk menikmati nafas

kehidupan sampai saat ini dan juga bisa meyelesaikan Asuhan Keperawatan ini

degan judul Kista Ovarium Pada Ny. S

Tak lupa juga ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu saya dalam penulisan Asuhan Keperawatan ini ini. Asuhan

Keperawatan ini masih jauh dari kata sempurna atau masih ada kesalahan dalam

penyusunan baik itu terhadap kalimatnya maupun terhadap isinya. Hal itu

dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan. Untuk itu, kami sangat

mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca,

demi perbaikan dan kesempurnaan di masa yang akan datang. Akhir kata semoga

makalah ini dapat bermanfaat bagi kita, dan atas perhatiannya diucapkan banyak

terima kasih.

Kotamobagu, 10 Mei 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

LATAR BELAKANG ..................................................................................

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................................................................................

B. Tujuan Penulisan ...............................................................................

BAB II LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi .............................................................................................

B. Etiologi .............................................................................................

C. Patofisiologi .....................................................................................

D. Pathway ............................................................................................

E. Macam-macam Kista Ovarium .........................................................

F. Tanda dan Gejala ..............................................................................

G. Penatalaksanaan ...............................................................................

BAB III TEORI ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian ........................................................................................

B. Kebutuhan Dasar Manusia (Gordon) ................................................

C. Pemeriksaan Fisik .............................................................................

D. Klasifikasi Data/ Analisa Data/ perumusan Diagnosa ......................

E. Intervensi ..........................................................................................

BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN

A. Stimulasi Kasus .................................................................................

B. Pengkajian ........................................................................................

C. Analisa Data ......................................................................................


D. Diagnose Keperawatan ....................................................................

E. Nursing Care Planning (NCP) ............................................................

F. Catatan Perkembangan ......................................................................

G. Discharge Planning ...........................................................................

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ......................................................................................

B. Saran ................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit reproduksi yang banyak

menyerang wanita. Kista atau tumor merupakan bentuk gangguan yang bisa

dikatakan adanya pertumbuhan sel-sel otot polos pada ovarium yang jinak.

Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi tumor ganas atau

kanker. Perjalanan penyakit ini sering disebut silent killer atau secara diam-diam

menyebabkan banyak wanita tidak menyadari bahwa dirinya sudah terserang kista

ovarium dan hanya mengetahui pada saat kista sudah dapat teraba dari luar atau

membesar.

The American Cancer Society memperkirakan bahwa pada tahun 2014,sekitar

21.980 kasus baru kanker ovarium akan di diagnosis dan 14.270 wanita akan

meninggal karena kanker ovarium di Amerika Serikat. Angka kejadian kista

ovarium tertinngi ditemukan pada Negara maju, rata-rata 10 per 100.000, kecuali

di Jepang (6,5 per 100.000). insiden di Amerika Selatan (7,7 per 100.000) relative

tinggi bila dibandingkan dengan angka kejadian di Asia dan Afrika (WHO, 2010)

Angka kejadian kista ovarium di Indonesia belum diketahui pasti karena

pencatatan dan pelaporan yang kurang baik. Sebagai gambaran di RSU Dharmis ,

ditemukan kira-kira 30 pasien setiap tahun. Menurut data hasil penelitian di

Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo terdata pada tahun 2008 ada 428

kasus pasien kista endometriosis, 20% diantaranya meninggal dunia dan 65%

diantaranya adalah wanita karir yang telah berumah tangga, sedangkan pada tahun

2009 terdata 768 kasus pasien kista endometriosis, dan 25% diantaranya
meninggal dunia, dan 70% diantaranya adalah wanita karir yang telah berumah

tangga.

B. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui bagaiman proses penyakit dari kista ovarium.

2. Untuk mengetahui bagimana proses pengkajian penyakit kista ovarium

3. Untuk mengetahui bagaimana proses diagnosa keperawatan pada kista

ovarium

4. Untuk mengetahui bagaimana proses intervensi dan implementasi pada

kista ovarium

5. Untuk mengetahui bagaimana proses evaluasi dan persiapan pulang bagi

pasien kista ovarium


BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi

Cistoma Ovarii adalah suatu kantong tertutupberisi cairan/setengah padat

berlapis jaringan epitel yang terletak di dalam ovarium.

B. Etiologi

1. Pertumbuhan abnormal dari folikel ovarium, korpus luteum maupun sel

telur.

2. Faktor genetic

3. Faktor diet dengan nilai gizi rendah

4. Abses

C. Patofisiologi

Ovarium sebagai tempat berkembangnya kista yang paling sering terjadi. Hal

ini terjadi karena adanya pembesaran secara patologis yang sederhana dari unsur-

unsur pokok ovarium yang normal, folikel degraaf/corpus luteum, yang berasal

dari pertumbuhan yang tidak normal pada efitel ovarium.

Secara klinis, kista dimanifestasikan oleh sesuatu yang jelas seperti massa

pada ovarium, mungkin ada nyeri pada abdominal bagian bawah yang akut/kronis.

Kista yang lebih besar bisa mengakibatkan pembengkakan pada daerah abdominal

dan menekan organ-organ lain yang berdekatan dengan kista.


D. Pathway

Degenerasi
Infeksi ovarium
ovarium

Kistoma ovarii Histerektomi

Kurang informasi Pembesaran Coverektomi,

ovarium kistektomi
Kurang
Rupture ovarium
pengetahuan
Resiko perdarahan
Ansietas

Gangguan perfusi
Komplikasi
jaringan
peritonis

Peritonitis Luka operasi

Dekontunuitas
Metabolisme
Resiko Perdarahan
jaringan
menurun

Hipolisis – asam

laktat - kelebihan

Gangguan

metabolisme

Deficit perawatan

diri
Nyeri Port d’entri

Resiko infeksi
Resiko cidera

Reflek menelan dan Nervus Anastesi

muntah
Peristaltic usus

Resiko aspirasi menurun

Konstipasi Absorbsi air di

kolon
E. Macam-Macam Kista Ovarii

1. Cistoma Ovarii Non Neoplastik

Kista ini berasal dari folikel yang menjadi besar semasa proses afresia

folliculi. Setiap bulan, sejumlah besar folikel manjadi mati disertai kematian

ovum, disusul dengan degenerasi dan epitel folikel, pada masa ini tampak sebagai

kista-kista kecil. Tidak jarang ruangan folikel diisi dengan cairan yang banyak,

sehingga terbentuklahkista yang besar. Pada pemeriksaan klinis, biasanya

besarnya tidak melebihi sebuah jeruk.

 Gejala-gejala

Kista ini tidak memberikan yang karakteristik, bahkan kadang-kadang terjadi

ruptur secara spontan.

 Diagnosa Medis

Diagnosa hanya dapat ditentukan palpasi, tetapi dapat ditentukan dengan

hanya sekali pemeriksaan. Kecuali bila ukurannya sangat besar. Sebaiknya

dilakukan observasi beberapa minggu lagi dan tidak jarang kista tersebut mengecil

lagi.

 Tatalaksana Therapi

Bila kista kecil bisa dilakukan dengan punksi/eksisi dan bila besar sebaiknya

dioperasi dengan meninggalkan jaringan ovarium yang normal.

2. Cistoma Ovarii Neoplastik

Jenis ini dapat mencapai ukuran besar

 Gejala-gejala

Tidak ada yang bersifat khas, terhadap siklus haid tidak ada pengaruh yang

jelas. Kadang terjadi hypomenorhoe bila kedua ovarium itu membesar. Hal ini
disebabkan rusaknya kedua jaringan ovarium. Bila tumor agak besar terasa

perasaan berat dan sakit.

 Diagnosa Medis

Walaupun pada umumnya diagnosa tumor ovarii mudah, tetapi ada kasus-

kasus yang sukar dibedakan dengan keadaan atau penyakit lain, misalnya :

 Kehamilan

Dapat dibedakan dengan reaksi biologis, rontgen, auskultasi.

 Ascites

Pada tumor ovarium akan ditemukan daerah pekak didepan dan tympani

disamping, sedang pada ascites sebaliknya.

 Myoma Uteri

Bila tumor masih kecil, kadang-kadang sukar dibedakan antara keduanya.

Perbedaannya jika pada tumor ovarium dapat dirasakan bahwa tumor tersebut

dapat dipisahkan dari uterus.

 Perut Gemuk

Dapat dibedakan dengan perkusi dan pemeriksaan dalam.

 Tatalaksana Therapi

Penanganan terdiri atas pengangkatan tumor. Jika pada operasi tumor sudah

cukup besar, sehingga tidak tampak banyak sisa ovarium yang normal. Biasanya

dilakukan pengangkatan ovarium bersama tuba.

F. Tanda dan Gejala

1. Akibat pertumbuhan

 Menimbulkan rasa berat di abdomen

 Mengganggu miksi dan defekasi


 Gangguan sirkulasi → oedema tungkai

 Bila kista besar, sesak dan anoreksia

2. Akibat perubahan hormonal

 Aminorea

 Oligominorea

 Infertilities

3. Akibat komplikasi pada tumor

 Perdarahan intrakista

 Hipertermi, dolor, fungsiolesa

 Ascites

G. Penatalaksanaan

1. Operasi

Pengangkatan kista dengan reaksi pada bagian ovarium yang mengandung

kista. Bila kista terlalu besar dilakukan salpingooforektomi. Operasi konservatif

bagi wanita yang masih ingin mempunyai keturunan dapat dilakukan dengan

syarat :

 Kapsul utuh tidak ada perlekatan

 Sistologi perineum negatif, biopsy ovarium sisi lain negative

 Pelvis normal

 Kemoterapi

 Radiasi
BAB III

TEORI ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Identitas klien : nama, umur, alamat, pekerjaan, ttl, dll

2. Keluhan Utama

Keluhan pada pasien ulkus peptikum adalah seperti nyeri ulu hati, rasa tidak

nyaman (discomfort) disertai muntah, biasanya rasa sakit, anoreksia, konstipasi

dan pendarahan.

3. Riwayat penyakit dahulu

Kaji apakah klien mempunyai riwayat gastritis kronis, kaji pula frekwensi

stress pada pasien

4. Riwayat penyakit sekarang

5. Riwayat penyakit keluarga

Kaji apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit keturunan

6. Kebiasaan sehari – hari

a. Nutrisi

Makanan : kebiasaan makanan yang tidak teratur (suka makan pedas dan asam),

anoreksia

Minum : kebiasaan minum air jeruk, coca cola, bir, kopi dan minuman beralkohol

yang lain

b. Istirahat

c. Aktifitas

d. Psikososial
Hubungan dalam keluarga yang kurang harmonis (konflik) maupun dengan

lingkungan sekitarnya / sesuatu yang tidak disukai , sehingga menyebabkan stress.

Beberapa ahli mengatakan bahwa marah atau stress yang tidak diekspresikan

adalah faktor predis posisi.

B. Kebutuhan Dasar Manusia (Gordon)

1. Resepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan

Pandangan pasien tentang penyakitnya dan cara yang dilakukan pasien

menangani penyakitnya.

2. Aktifitas dan latihan

Biasanya pasien mengalami penurunan aktifitas berhubungan dengan

kelemahan tubuh yang dialami.

3. Istirahat dan tidur

Istirahat dan tidur sering mengalami gangguan karena batuk yang dialami

pada malam hari

4. Nutrisi metabolic

Kemampuan pasien dalam mengkonsumsi makanan dmengalami penurunan

akibat nafsu makan yang kurang / malaise.

5. Eliminasi

Pasien ditemui mengalami gangguan eliminasi BAB dan BAK.

6. Kognitif Perseptual.

Daya ingat pasien TB Paru kebanyakan dijumpai tidak mengalami gangguan.

7. Konsep Diri

Perasaan menerima dari pasien dengan keadaannya, kebanyakan pasien tidak

mengalami gangguan konsep diri.


8. Pola Koping

Mekanisme pertahanan diri yang biasa digunakan oleh pasien adalah dengan

meminta pertolongan orang lain.

9. Pola seksual reproduksi

Kemampuan pasien untuk melaksanakan peran sesuai dengan jenis kemalin.

Kebanyakan pasien tidak melakukan hubungan seksual karena kelemahan tubuh

10. Pola peran Hubungan

Perubahan pola peran hubungan dalam tanggung jawab atau perubahan

kapasitas fisik untuk melakukan peran.

11. Nilai dan kepercayaan

Agama yang dianut oleh pasien dan ketaatan pasien dalam melaksanakan

ajaran agama biasanya pasien tidak mengalami gangguan dalam sisitem nilai dan

kepercayaan.

C. Pemeriksaan fisik

1. Keadaan Umum

GCS : Ciri tubuh : kulit, rambut, postur tubuh.

Tanda vital : nadi, suhu tubuh, tekanan darah, dan pernafasan.

2. Head to toe

a. Kepala

Inspeksi : bentuk kepala, distribusi, warna, kulit kepala.

Palpasi : nyeri tekan dikepala.

b. Wajah

Inspeksi : bentuk wajah, kulit wajah.

Palpasi : nyeri tekan di wajah.


c. Mata

Inspeksi : bentuk mata, sclera, konjungtiva, pupil.

Palpasi : nyeri tekan pada bola mata, warna mukosa konjungtiva, warna

mukosasclera.

d. Hidung

Inspeksi : bentuk hidung, pernapasan cuping hidung, secret.

Palpasi : nyeri tekan pada hidung.

e. Mulut

Inspeksi : bentuk mulut, bentuk mulut, bentuk gigi.

Palpasi : nyeri tekan pada lidah, gusi, gigi.

f. Leher

Inspksi : bentuk leher, warna kulit pada leher.

Palpasi : nyeri tekan pada leher.

g. Dada

Inspeksi : bentuk dada, pengembangan dada, frekuensi pernapasan.

Palpasi : pengembangan paru pada inspirasi dan ekspirasi, fokal fremitus,

nyeritekan.

Perkusi : batas jantung, batas paru, ada / tidak penumpukan secret.

Auskultasi : bunyi paru dan suara napas.

h. Payudara dan ketiak

Inspeksi : bentuk, benjolan.

Palpasi : ada/ tidak ada nyeri tekan , benjolan.

i. Abdomen

Inspeksi : bentuk abdomen, warna kulit abdomen.


Auskultasi : bising usus, bising vena, pergesekan hepar dan lien.

Perkusi : batas hepar,batas ginjal,batas lien,ada/tidaknya pnimbunan cairan

diperut.

j. Genitalia

Inspeksi : bentuk alat kelamin, distribusi rambut kelamin, warna rambut kelamin,

benjolan

Palpasi : nyeri tekan pada alat kelamin.

k. Integumen

Inspeksi : warna kulit,benjolan.

Palpasi : nyeri tekan pada kulit.

l. Ekstremitas Atas

Inspeksi : warna kulit,bentuk tangan.

Palpasi : nyeri tekan.

m. Ekstrimitas Bawah

Inspeksi : warna kulit, bentuk kaki.

Palpasi : nyeri tekan,kekuatan otot.

D. Klasifikasi data /Analisa data /Perumusan diagnose

Klasifikasi data adalah pengelompokan data yang diambil dari klien dan

keluarga biasanya bersifat data subjektif dan objektif

Analisa data adalah pengelompokan data yang di ambil dari klasifikasi data

yaitu terdiri atas data focus, etiologi, dan masalah .

Perumusan diagnose adalah suatu proses perumusan masalah yang diambil

berdasarkan klasifikasi data dan analisa data sehinggu muncul diagnose


keperawatan/yang berarti masalah yang akan ditangani perawat berhubungan

dengan pemenuhan kebutuhan dasar klien

E. Intervensi

Intervensi adalah rencana tindakan keperawatan yang dilakukan perawat

kepada pasien untuk memenuhi kebutuhan dasar klien sesuai dengan standar

profesi keperawatan yang penyusunannya meliputi : Diagnosa keperawatan

,tujuan dan criteria hasil dari rencana asuhan keperawatan tersebut, dan rasional

yaitu alas an diberikannya rencana asuhan keperawatan atau tujuan dan maksud

pemberian tindakan keperawatan tersebut kepada klien .

F. Implementasi

Adalah suatu proses asuhan keperawatan yang merupakan tahap ke 4 dalam

memenuhi kebutuhan dasar dan dalam rangka menegakan intervensi untuk

langsung dilakukannya pemebrian tindakan langsung secara mandiri maupun

kolaborasi dengan dokter/medic. Implementasi dilakukan secara sadar oleh

perawat dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur tindakan

keperawatan yang memang dibenarkan oleh UUD dan diakui oleh pemerintahan

yang terkait .

G. Evaluasi

Adalah suatu proses akhir dari rangkaian ASUHAN KEPERAWATAN

terhadap klien dari berbagai macam kasus . Tahap ini memiliki tujuan untuk

melakukan pencatatan pada setiap kegiatan yangdilakukan kepada pasien ,dari

awal pasien dirawat /masuk dir s sampai dengan pasien keluar dari rumah sakit .

Evaluasi bertujuan untuk proses dokumentasi tindakan yang dilakukan berguna

untuk melihat hasil perkembangan dari pada status kesehatan klien itu sendiri
apakah tindakan yang dilakukan berhasil atau tidak ,proses evaluasi terdiri dari 4

tahap : yaitu :

S : DATA SUBJEKTIF : Data yang diperoleh dari klien

O : DATA OBJEKTIF : Data yang diperoleh dari perawat

A : ASSESMENT : Adalah simpulan akhir dari pada masalah yang dihadapi

klien

P :PLANNING : Adalah tahap akhir dari pada simpulan yang telah di

dapat serta penentuan rencana tindakan apakah dilanjutkan atau dihentikan sesuai

dengan Asessmen yang di peroleh melalui data Subjektif maupun Objektif .


BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN

Ny. S DENGAN POST CISTOMA OVARII

A. Stimulasi Kasus

Ny.S mengeluh masih merasa nyeri pada luka operasi, bergerak sedikit terasa

sakit. Klien mengatakan tidak nafsu makan.

P : nyeri dikarenakan luka operasi

Q : nyeri seperti di iris-iris

R : di perut

S : skala nyeri 7 (1-10)

T : nyeri terus menerus

B. Pengkajian

1. Identitas Klien

Nama : Ny. S

Usia : 34 th

Alamat : Pobundayan

Pendidikan : Tamat SD

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Status perkawinan : Kawin

No RM : 545877

Tgl MRS : 3 Agustus 2017

Tgl pengkajian : 7-9 Agustus 2017

Diagnosa medis : Post operasi kistoma ovari IIIC

2. Keluhan utama
Ny.S mengeluh masih merasa nyeri pada luka operasi, bergerak sedikit terasa

sakit. Klien mengatakan tidak nafsu makan.

P : nyeri dikarenakan luka operasi

Q : nyeri seperti di iris-iris

R : di perut

S : skala nyeri 7 (1-10)

T : nyeri terus menerus

3. Riwayat Keluarga

Klien tidak memiliki penyakit keturunan

4. Genogram :

Keterangan :

: perempuan

: laki-laki

: klien

: garis keturunan

5. Pemeriksaan fisik

 Keadaan umum : baik

BB : 64 kg TB : 160 cm

Tanda vital : Nadi : 84 x/menit Suhu badan : 36,5 0C


RR : 24 x/menit TD : 110/70 mmHg

 Kepala : Bentuk normal, kebersihan baik, rambut hitam, lurus, panjang

 Leher : Tidak ditemui adanya pembesaran kelenjar tiroid

 Mata : Konjungtiva tidak anemis, pupil reaksi baik

 Telinga : Bentuk normal, pendengaran baik

 Thorak : Tidak ditemui bunyi nafas tambahan, simetris

 Abdomen :

Bising usus (+), tampak ada luka post op panjang ±15 cm vertical, terpasang

draine

 Ekstremitas : Tidak ditemui adanya oedema

 Genetalia : Terpasang kateter

6. Kesehatan reproduksi

 Gangguan hubungan seksual : tidak ada

 Pemahaman terhadap fungsi seksual : bagus

 Masalah kebiasaan seksual yang dialami : tidak ada masalah, frekuensi 4

x/mgg

 Pemeriksaan dan masalah payudara : -

 Pemeriksaan dan keluhan genitalia : -

 Menarche : umur 12 th

 Menstruasi : siklus 30 hari, lama 7 hari

 Pembedahan ginekologi : -

 Pengaruh pembedahan pada kehidupan seksual : -

 Pemeriksaan papsmear terakhir (kapan,hasil) : -

 Keputihan : -
7. Pemeriksaan Penunjang

Hari/tgl/jam Jenis pemeriksaan Hasil Interpretasi

Selasa, 31-7- Radiologi Pulmo dan besar

2017 cor dalam batas

normal

USG Tampak cistoma

Selasa, 31-7- ovarii kiri curiga

2007 perlengketan

Kimia Bun : 7,6 mg/dl Normal

Crea : 0,76 mg/dl Normal

Jum’at, 3-8-2017 AST : 22,2 ҹL Normal

10.30 ALT : 10,4 ҹL Normal

Glbu : 78,2 mg/dl Rendah

Ureum:10,26 Rendah

mg/dl

Laboratorium Rendah

HGB : 10,6 gr/dl Normal

Jum’at, 3-8-2017 RBC : 4,15 juta/ҹ Rendah

09.54 HCT : 33,4 % Normal

WBC: 7,7 ribu/ ҹ Normal

PLT : 311 ribu/ ҹ

Laboratorium Rendah
HGB : 10,4 gr/dl Normal

Selasa, 7-8-2017 RBC : 3,94 juta/ҹ Rendah

17.20 HCT : 32,1 % Tinggi

WBC: 12,0 ribu/ ҹ Normal

PLT : 262.000/ ҹ

8. Tindakan Medis

Tanggal 6-8-2017 dilakukan operasi laparatomi debulking

Perdarahan ± 500 ml

9. Terapi yang diperoleh

Hari/tgl Jenis terapi Rute pemberian Dosis

Senin, Cefotaxim Injeksi 2x1gr

6-8-2017 Alinamin Injeksi 3x25mg

Tramal Injeksi 3x50mg

Kalnek Injeksi 3x250mg

Vit C Injeksi 2x1

Metronidazole Infus 3x500mg

Jalur I NaCl + petidin IA Infus 500 cc

+ ketorolac

Darah kolf I Infus 250 cc

Jalur II NaCl Infus 500 cc

Jalur II RL Infus 500 cc

Alinamin Injeksi 3x25mg

Tramal Injeksi 3x50mg


Kalnek Injeksi 3x250mg

Metronidazole Infus 3x500mg

Jalur I NaCl Infus 500 cc

Jalur II RL Infus 500 cc

Darah kolf II Infus 250 cc

Cefotaxim Injeksi 2x1 gr

Selasa , Viliron Oral 3x500mg

7-8-2017 Fe Oral 3x1

Metronidazole

RL Oral 2x500mg

Cefotaxim Oral 3x500mg

Oral 3x1

Cefadroxyl Oral 3x1

Asam Mefenamat Infus 3x500mg

Rabu Viliron Infus 500cc

8-8-2007 Fe Injeksi 2x1gr

Oral 2x500mg

Oral 3x500mg

Oral 3x1

Oral 3x1
C. Analisa data

Data Fokus Etiologi Problem

Ds : Ibu mengeluh masih merasa nyeri

pada luka operasi

Do : Pada abdomen tampak luka post

operasi dengan panjang kurang lebih 15

cm vertical Agen injuri fisik

Skala nyeri : (insisi


Nyeri akut
P : nyeri dikarenakan luka operasi pembedahan)

Q : nyeri seperti di iris-iris

R : di perut

S : skala nyeri 7 (1-10)

T : nyeri terus menerus

Ds : Klien mengatakan tidak nafsu makan Kehilangan Resiko defisit

Do : Tangan kanan dan kiri terpasang darah yang volume cairan

infus, terpasang transfusi darah, terpasang berlebihan

kateter, dan terpasang draine selama tindakan

pembedahan

Ds : Klien mengatakan kalau bergerak Kelemahan fisik Kerusakan

terasa sakit mobilitas di

Do : Klien masih berbaring di tempat tidur tempat tidur

Ds : - Kelemahan fisik Defisit


Do : Klien masih berbaring di tempat perawatan diri

tidur, tangan kanan dan kiri terpasang

infus, terpasang transfusi darah, terpasang

kateter, dan terpasang draine

Ds : Ibu mengatakan ada luka operasi Tindakan Resiko infeksi

diperutnya infasive, insisi

Do : Pada abdomen tampak luka post post pembedahan

operasi dengan panjang kurang lebih 15

cm vertical

Ds : - PK

Do : Perdarahan ± 500 ml Perdarahan

D. Diagnose Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (insisi pembedahan).

2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah yang

berlebihan selama tindakan pembedahan.

3. Kerusakan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan kelemahan fisik.

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.

5. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif, insisi post

pembedahan.

6. PK Perdarahan
E. Nursing Care Planning (NCP)

No Diagnosa Tujuan dan KH Intervensi Implementasi Evaluasi

Keperawatan NOC NIC

1 Nyeri akut Setelah dilakukan Kaji nyeri secara Mengkaji nyeri secara S : Klien

berhubungan perawatan selama komprehensif termasuk komprehensif termasuk mengatakan masih

dengan agen injuri 3x24 jam, nyeri lokasi, karakteristik, durasi, lokasi, karakteristik, durasi, merasa nyeri, skala

(insisi pasien berkurang frekuensi, kualitas dan faktor frekuensi, kualitas dan faktor nyeri 7 (1-10)

pembedahan) dengan kriteria : presipitasi presipitasi. O : Klien tampak

Mampu Observasi reaksi Hasil : meringis

mengontrol nyeri nonverbal dari Klien tampak meringis Nadi : 80x/mnt

(tahu penyebab nyeri, ketidaknyamanan kesakitan. Skala nyeri Suhu : 36,3 0C

mampu Ajarkan tentang teknik P : nyeri dikarenakan luka RR : 20x/mnt

menggunakan tehnik non farmakologi, tehnik operasi TD : 120/80 mmHg

nonfarmakologi relaksasi Q : nyeri seperti di iris-iris P : nyeri dikarenakan


untuk mengurangi Anjurkan untuk istirahat R : di perut luka operasi

nyeri, mencari Berikan analgetik untuk S : skala nyeri 7 (1-10) Q : nyeri seperti di

bantuan) mengurangi nyeri T : nyeri terus menerus iris-iris

Melaporkan Berikan posisi yang Mengobservasi reaksi R : di perut

bahwa nyeri nyaman nonverbal dari S : skala nyeri 7 (1-

berkurang dengan ketidaknyamanan 10)

menggunakan Hasil : T : nyeri terus

manajemen nyeri Klien belum tampak nyaman menerus

Wajah rileks Mengajarkan tentang A : Masalah belum

Menyatakan rasa teknik non farmakologi, teratasi

nyaman setelah nyeri tehnik relaksasi P : Lanjutkan

berkurang Hasil : intervensi

Klien belum tampak rileks

Menganjurkan untuk
istirahat

Hasil :

Klien kurang istrahat akibat

menahan nyeri

Memberikan analgetik

untuk mengurangi nyeri

Hasil :

Asam Mefenamat oral

3x500mg

Memberikan posisi yang

nyaman

Hasil :

Klien belum menemukan

posisi yang nyaman


2 Resiko defisit Setelah dilakukan Monitor status hidrasi Memonitor status hidrasi S : -

volume cairan perawatan 3x24 jam, (kelembaban membran (kelembaban membran O : Tangan kanan

berhubungan volume cairan dalam mukosa, nadi adekuat, mukosa, nadi adekuat, dan kiri terpasang

dengan tubuh pasien tekanan darah ortostatik), tekanan darah ortostatik), infus, terpasang

kehilangan darah terpenuhi dengan jika diperlukan jika diperlukan kateter dan

yang berlebihan kriteria : Monitor vital sign Hasil draine,balance cairan

selama tindakan Tekanan darah, Monitor infus Mukosa bibir kering =0

pembedahan. nadi, suhu tubuh Pasang transfusi kolf I Memonitor vital sign Nadi : 80x/mnt

dalam batas normal Monitor balance cairan Hasil : Suhu : 36,5 0C

Tidak ada tanda Nadi : 80x/mnt RR : 20x/mnt

tanda dehidrasi, Suhu : 36,3 0C TD : 120/70 mmHg

Elastisitas turgor kulit RR : 20x/mnt A : Masalah belum

baik, membran TD : 120/80 mmHg teratasi

mukosa lembab, tidak Memonitor infuse P : Lanjutkan


ada rasa haus yang Hasil : intervensi

berlebihan Metronidazole 3x500mg

Jalur I NaCl + petidin IA +

ketorolac 500cc

Jalur II NaCl 500cc

Jalur II RL 500cc

Memasang transfusi kolf I

Hasil :

Darah kolf I 250 cc

3 Kerusakan Setelah diberikan Kaji tingkat mobilitas Mengkaji tingkat S : Klien

mobilitas di perawatan 3x24 jam, klien secara terus-menerus mobilitas klien secara terus- mengatakan masih

tempat tidur mobilitas di tempat Kaji kekutan otot dan menerus pusing

berhubungan tidur terpenuhi sendi Hasil : O : Klien sudah bisa


dengan kelemahan dengan kriteria : Latih rentang pergerakan Klien hanya bisa tiduran untuk miring

fisik Melakukan aktif/pasif untuk Mengkaji kekutan otot dan A : Masalah teratasi

rentang pergerakan memperbaiki kekuatan dan sendi sebagian

penuh seluruh sendi daya tahan otot Hasil : P : Lanjutkan

Klien dapat Latih tehnik miring kanan Otot dan sendi klien masih intervensi

miring kanan maupun dan kiri dan memperbaiki lemah

miring kiri kesejajaran tubuh Melatih rentang

Berbalik sendiri pergerakan aktif/pasif untuk

di tempat tidur memperbaiki kekuatan dan

Klien dapat daya tahan otot

duduk Hasil :

Klien belum bisa bergerak

secara aktif

Melatih tehnik miring


kanan dan kiri dan

memperbaiki kesejajaran

tubuh

Hasil :

Klien sudah bisa untuk

miring

4 Defisit perawatan Setelah diberikan Berikan suhi air yang Memberikan suhi air yang S : Klien

diri berhubungan perawatan 3x24 jam , nyaman nyaman mengatakan

dengan kelemahan aktivitas hidup Mandikan klien Hasil : badannya terasa

fisik. sehari-hari terpenuhi Cuci rambut klien Suhu air hangat hangat

dengan kriteria : Monitor kondisi kulit saat Memandikan klien O : Klien tampak

Klien terbebas mandi Klien dimandikan perawat segar

dari bau badan Mencuci rambut klien A : Masalah belum


Menyatakan Hasil : teratasi

kenyamanan terhadap Memakai shampoo P : Lanjutkan

kemampuan untuk Memonitor kondisi kulit intervensi

melakukan aktivitas saat mandi

hidup sehari-hari Hasil :

Dapat melakukan Kulit klien tampak bersih

aktivitas hidup

sehari-hari dengan

bantuan

Kebutuhan

eliminasi terpenuhi

5 Resiko infeksi Setelah diberikan Monitor tanda dan gejala Memonitor tanda dan S : -

berhubungan perawatan 3x24 jam, infeksi sistemik dan lokal gejala infeksi sistemik dan O : Jahitan baik,
dengan tindakan klien dapat Inspeksi kondisi luka / lokal tidak ada pus

invasif, insisi post mengontrol resiko insisi bedah Hasil : A : Masalah teratasi

pembedahan. dengan kriteria : Dorong masukkan nutrisi Tidak ada tanda infeksi sebagian

Klien bebas dari yang cukup Menginspeksi kondisi luka P : Lanjutkan

tanda dan gejala / insisi bedah intervensi

infeksi Hasil :

Mendeskripsikan Jahitan baik tidak ada pus

proses penularan Mendorong masukkan

penyakit, factor yang nutrisi yang cukup

mempengaruhi Hasil :

penularan serta Asupan nutrisi belum

penatalaksanaannya, adekuat

Menunjukkan

kemampuan untuk
mencegah timbulnya

infeksi

Menunjukkan

perilaku hidup sehat

6 PK Perdarahan Setelah diberikan Lakukan penilaian Melakukan penilaian S : -

perawatan 3x24 jam, menyuluruh tentang sirkulasi menyuluruh tentang sirkulasi O : Jahitan baik,

perdarahan berhenti Lakukan perawatan luka Melakukan perawatan tidak ada pus

dengan kriteria : dengan hati-hati dengan luka dengan hati-hati dengan A : Masalah teratasi

Luka sembuh menekan daerah luka dengan menekan daerah luka dengan P : Hentikan

kering, bebas pus, kassa steril dan tutup dengan kassa steril dan tutup dengan intervensi

tidak meluas tehnik aseptik tehnik aseptik

HB tidak kurang Kelola terapi sesuai order Mengelola terapi sesuai

dari 10 gr dl order
F. Catatan Perkembangan

Hari ke-2

No Implementasi Evaluasi

1 Mengkaji nyeri secara S : Klien mengatakan masih

komprehensif termasuk lokasi, merasa nyeri, skala nyeri 5 (1-

karakteristik, durasi, frekuensi, 10)

kualitas dan faktor presipitasi. O : Klien tampak meringis

Hasil : Nadi : 80x/mnt

Klien tampak meringis kesakitan. Suhu : 36,3 0C

Skala nyeri RR : 20x/mnt

P : nyeri dikarenakan luka operasi TD : 120/80 mmHg

Q : nyeri seperti di iris-iris P : nyeri dikarenakan

R : di perut luka operasi

S : skala nyeri 5 (1-10) Q : nyeri seperti di iris-iris

T : nyeri terus menerus R : di perut

Mengobservasi reaksi nonverbal S : skala nyeri 5 (1-10)

dari ketidaknyamanan T : nyeri terus menerus

Hasil : A : Masalah teratasi sebagian

Klien belum tampak nyaman P : Lanjutkan intervensi

Mengajarkan tentang teknik non

farmakologi, tehnik relaksasi

Hasil :

Klien sudah tampak sedikit rileks

Menganjurkan untuk istirahat


Hasil :

Klien kurang istrahat akibat menahan

nyeri

Memberikan analgetik untuk

mengurangi nyeri

Hasil :

Asam Mefenamat oral 3x500mg

Memberikan posisi yang nyaman

Hasil :

Klien sudah menemukan posisi yang


nyaman
2 Memonitor status hidrasi S : -

(kelembaban membran mukosa, nadi O : Tangan kanan dan kiri

adekuat, tekanan darah ortostatik), terpasang infus, terpasang

jika diperlukan kateter dan draine,balance

Hasil cairan = 0

Mukosa bibir kering Nadi : 80x/mnt

Memonitor vital sign Suhu : 36,5 0C

Hasil : RR : 20x/mnt

Nadi : 80x/mnt TD : 120/70 mmHg

Suhu : 36,3 0C A : Masalah teratasi sebagian

RR : 20x/mnt P : Lanjutkan intervensi

TD : 120/80 mmHg

Memonitor infuse

Hasil :
Metronidazole 3x500mg

RL500cc

Memasang transfusi kolf I

Hasil :

Klien sudah tidak transfusi


3 Mengkaji tingkat mobilitas klien S : Klien mengatakan masih

secara terus-menerus pusing

Hasil : O : Klien sudah bisa untuk

Klien hanya bisa tiduran miring

Mengkaji kekutan otot dan sendi A : Masalah teratasi sebagian

Hasil : P : Lanjutkan intervensi

Otot dan sendi klien masih lemah

Melatih rentang pergerakan

aktif/pasif untuk memperbaiki

kekuatan dan daya tahan otot

Hasil :

Klien belum bisa bergerak secara

aktif

Melatih tehnik miring kanan dan

kiri dan memperbaiki kesejajaran

tubuh

Hasil :

Klien sudah bisa untuk miring

4 Memberikan suhi air yang nyaman S : Klien mengatakan


Hasil : badannya terasa hangat

Suhu air hangat O : Klien tampak segar

Memandikan klien A : Masalah belum teratasi

Klien dimandikan perawat P : Lanjutkan intervensi

Mencuci rambut klien

Hasil :

Memakai shampoo

Memonitor kondisi kulit saat

mandi

Hasil :

Kulit klien tampak bersih

5 Memonitor tanda dan gejala infeksi S : -

sistemik dan lokal O : Jahitan baik, tidak ada pus

Hasil : A : Masalah teratasi sebagian

Tidak ada tanda infeksi P : Lanjutkan intervensi

Menginspeksi kondisi luka / insisi

bedah

Hasil :

Jahitan baik tidak ada pus

Mendorong masukkan nutrisi yang

cukup

Hasil :

Asupan nutrisi belum adekuat


Catatan Perkembangan

Hari ke-3

No Implementasi Evaluasi

1 Mengkaji nyeri secara S : Klien mengatakan tidak

komprehensif termasuk lokasi, merasakan nyeri

karakteristik, durasi, frekuensi, O : Nadi : 80x/mnt

kualitas dan faktor presipitasi. Suhu : 36,3 0C

Hasil : RR : 20x/mnt

Klien tidak merasakan nyeri. TD : 120/80 mmHg

Mengobservasi reaksi nonverbal A : Masalah teratasi

dari ketidaknyamanan P : hentikan intervensi

Hasil :

Klien tampak nyaman

Mengajarkan tentang teknik non

farmakologi, tehnik relaksasi

Hasil :

Klien tampak rileks

Menganjurkan untuk istirahat

Hasil :

Klien sudah bisah istrahat cukup

Memberikan analgetik untuk

mengurangi nyeri

Hasil :

-
Memberikan posisi yang nyaman

Hasil :

Klien sudah menemukan posisi yang


nyaman
2 Memonitor status hidrasi S : -

(kelembaban membran mukosa, nadi O : Nadi : 80x/mnt

adekuat, tekanan darah ortostatik), Suhu : 36,5 0C

jika diperlukan RR : 20x/mnt

Hasil TD : 120/70 mmHg

Mukosa bibir lembap A : Masalah teratasi

Memonitor vital sign P : hentikan intervensi

Hasil :

Nadi : 80x/mnt

Suhu : 36,3 0C

RR : 20x/mnt

TD : 120/80 mmHg

Memonitor infuse

Hasil :

Klien tidak terpasang infuse

Memasang transfusi kolf I

Hasil :

Klien sudah tidak transfusi


3 Mengkaji tingkat mobilitas klien S : Klien mengatakan tidak

secara terus-menerus pusing

Hasil : O : Klien sudah bisa untuk


Mobilitas klien baik miring

Mengkaji kekutan otot dan sendi A : Masalah teratasi

Hasil : P : hentikan intervensi

Klien sudah kuat

Melatih rentang pergerakan

aktif/pasif untuk memperbaiki

kekuatan dan daya tahan otot

Hasil :

Klien sudah bisa bergerak secara aktif

Melatih tehnik miring kanan dan

kiri dan memperbaiki kesejajaran

tubuh

Hasil :

Klien sudah bisa untuk miring

4 Memberikan suhi air yang nyaman S : Klien mengatakan

Hasil : badannya terasa hangat

Suhu air hangat O : Klien tampak segar

Memandikan klien A : Masalah teratasi

Klien dimandikan perawat P : hentikan intervensi

Mencuci rambut klien

Hasil :

Memakai shampoo

Memonitor kondisi kulit saat


mandi

Hasil :

Kulit klien tampak bersih

5 Memonitor tanda dan gejala infeksi S : -

sistemik dan lokal O : Jahitan baik, tidak ada pus

Hasil : A : Masalah teratasi

Tidak ada tanda infeksi P : hentikan intervensi

Menginspeksi kondisi luka / insisi

bedah

Hasil :

Jahitan baik tidak ada pus

Mendorong masukkan nutrisi yang

cukup

Hasil :

Asupan nutrisi adekuat

G. Discharge Planning

1. Konsultasikan dengan dokter tentang pencegahan

2. Hindari faktor-faktor pencetus penyakit dan istrahat yang cukup

3. Biasakan olahraga teratur dan hidup bersih serta konsumsi makanan yang

banyak mengandung gizi

4. Pakailah alat kontrasepsi jika ingin melakukan senggama

5. Pemakaian kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas

ovarium dan menghilangkan kista


6. Jika sedang hamil segera periksakan ke dokter untuk pemeriksaan USG

untuk mengetahui secara dini adakah kista yang menyertai

7. Konsultasikan ke dokter tentang penanganan selanjutnya karena dapat

mengganggu proses kehamilan


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Cistoma Ovarii adalah suatu kantong tertutupberisi cairan/setengah padat

berlapis jaringan epitel yang terletak di dalam ovarium.

B. Saran

Kepada mahasiswa agar lebih meningkatkan ilmu pengetahuan dibidang

kesehatan untuk menjadikan tenaga kesehatan yang berkualitas dan memberikan

pelayanan kesehatan yang setinggi-tingginya


DAFTAR PUSTAKA

Arif, M (et al.), (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Cet 1, Jakarta : Media

Aesculapius

Johnson [et al.], (2000), Nursing Outcomes Classification, second edition, By

Mosby0Year book. Inc, New York

Manuaba, (1998), Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & KB, Jakarta : EGC

Mc Closkey & Buleheck, (1996), Nursing Interventions Classification, second

edition, By Mosby0Year book. Inc, New York

Mochtar, R. (1998), Sinopsis Obstetri, Jilid 1, Jakarta : EGC

Nanda, 2001-2002, Nursing Diagnosis : Definitions and Classification,

Philadelphia, USA