Anda di halaman 1dari 8

SHEILA WAHYU KAMILA

NIM. 18728251019 - Pendidikan Kimia A

TUGAS 1
Referensi tentang paduan material katalis

Referensi yang menunjukan bahwa katalis paduan material (logam/non logam) terner lebih
baik dari katalis paduan material biner, dan katalis paduan material biner lebih baik dari katalis
material tunggal (terner>biner>tunggal), terdapat dalam jurnal:

 Bogdan Gurau, Rameshkrishnan Viswanathan, Renxuan Liu, dkk., 1998, Structural and
Electrochemical Characterization of Binary, Ternary, and Quaternary Platinum Alloy
Catalysts for Methanol Electro-oxidation, American Chemical Society Journal Phys.
Chem. B, Vol. 102, No. 49 ,DOI: 10.1021/jp982887f

 Isana, S.Y.L., Wega Trisunaryanti, Agus Kuncaka, dan Triyono, 2012, Studies on The
Hydrogen Evolution Reaction on Fe-CoNi/Stainless Steel Electrode, IOSR Journal of
Applied Chemistry (IOSR-JAC), ISSN: 2278- 5736. Volume 3, Issue 1 (Nov. – Dec.
2012), PP 06-1.

 Isana SYL, Dewi Yuanita dan Heru Pratomo, 2015, Pemecahan Molekul Air Dengan
Menggunakan Media Tepung Umbi Dahlia (Dahlia Pinnata), J. Sains Dasar 2015 4
(2) 173 – 178.

 Prasanna Mani, Ratndeep Srivastava, dan Peter Strasser, 2011, Dealloyed Binary PtM3 (M =
Cu, Co, Ni) and Ternary PtNi3M (M = Cu, Co, Fe, Cr) Electrocatalysts for The
Oxygen Reduction Reaction: Performance in Polymer Electrolyte Membrane fuel
Cells, Journal of Power Sources Vol.196 (2011) hal.666–673,
DOI:10.1016/j.jpowsour.2010.07.047

 Tomokazu Sakamoto, Koichiro Asazawa, Jean Sanabria-Chinchilla, dkk., 2014, Combinatorial


discovery of Ni-based binary and ternary catalysts for hydrazine electrooxidation for
use in anion exchange membrane fuel cells, Journal of Power Sources Vol.247 (2014)
hal.605-611, DOI:10.1016/j.jpowsour.2013.08.107

 V. Gombac, T. Montini, A. Falqui, dkk., 2016, From trash to resource: recovered-Pd from
spent three-way catalysts as a precursor of an effective photo-catalyst for H2
production, The Royal Society of Chemistry Green Chemistry, 2016 Vol.18 hal.2745–
2752, DOI: 10.1039/c5gc02908b

Fakta bahwa urutan elemen paduan terbaik adalah terner>biner>tunggal menunjukkan bahwa
komposisi menarik mungkin ditemukan oleh pertimbangan rasional kekuatan ikatan, stabilitas
elektrokimia, dan kesetimbangan fase, dalam kombinasi material.
TUGAS 2
Aplikasi elektrokimia dalam sintesis senyawa organic

Contoh aplikasi elektrokimia dalam sintesis senyawa organik, terdapat dalam jurnal:
 Suting Yan, Qingshi Wu, Aiping Chang, dkk., 2015, Electrochemical Synthesis Of Polymer
Microgels, The Royal Society of Chemistry Polymer Chemistry 2015, 6, 3979–3987,
DOI: 10.1039/c5py00365b
 Wenting Xu,a Fan Lu,a Shoumin Chen, dkk., 2017, Synthesis of polymer macrogels with rapid
and significant response to glucose concentration changes, The Royal Society of
Chemistry RSC Adv. 2017, 7, 55945–55956, DOI: 10.1039/c7ra11920h
TUGAS 3
Aplikasi elektrokimia dalam sintesis senyawa anorganic

Contoh aplikasi elektrokimia dalam sintesis senyawa anorganic, terdapat dalam jurnal:
 Baochen Cui, Jianhua Zhang, Shuzhi Liu, dll., 2017, Electrochemical Synthesis Of Ammonia
Directly From N2 And Water Over Iron-Based Catalysts Supported On Activated
Carbon. The Royal Society of Chemistry Green Chemistry 2017, 19, 298–304, DOI:
10.1039/c6gc02386j
 A. Wouter Maijenburg,a Janneke Veerbeek,a Roy de Putter, dkk., 2014, Electrochemical
Synthesis Of Coaxial Tio2–Ag Nanowires And Their Application In Photocatalytic
Water Splitting, The Royal Society of Chemistry J. Mater. Chem. A 2014, 2, 2648–
2656, DOI: 10.1039/c3ta14551d
 Da Li,a Jingquan Liu, Hongbin Wang,d Colin J. Barrowc, and Wenrong Yang, 2016,
Electrochemical Synthesis Of Fractal Bimetallic Cu/Ag Nanodendrites For Efficient
Surface Enhanced Raman Spectroscopy, The Royal Society of Chemistry Chem.
Commun. 2016, 52, 10968—1097, DOI: 10.1039/c6cc05215k
 Pandian Ganesan, Arumugam Sivanantham and Sangaraju Shanmugam, 2016, Inexpensive
Electrochemical Synthesis Of Nickel Iron Sulphides On Nickel Foam: Super Active
And Ultra-Durable Electrocatalysts For Alkaline Electrolyte Membrane Water
Electrolysis, The Royal Society of Chemistry J. Mater. Chem. A 2016, 4, 16394–16402,
DOI: 10.1039/c6ta04499a
 Xiaomei Zhang, Aming Wang, Rui Ke, Shengyi Zhang, dkk., 2015, Electrochemical synthesis
and photoelectrochemical properties of a novel RGO/ AgNDs composite, The Royal
Society of Chemistry SC Adv 2015, 5, 32994–33000, DOI: 10.1039/c5ra02656c
 Li-Long Jiang, Xiangzhou Zeng, Mengkai Li, Man-Qing Wang, dkk, 2017, Rapid
Electrochemical Synthesis Of HKUST-1 On Indium Tin Oxide, The Royal Society of
Chemistry RSC Adv 2017, 7, 9316–9320, DOI: 10.1039/c6ra26646k
 Ulfa Wiwit Chasanah, Didik Setiyo Widodo, dan Nies Suci Mulyani, 2015, Sintesis
Elektrokimia Kompleks Cu(II)-Basa Schiff N-Benziliden Anilin dan Uji Aktivitas
sebagai Antibakteri terhadap Escherichia Coli dan Staphylococcus Aureus. Jurnal
Kimia Sains dan Aplikasi, 18 (1) (2015): 34 – 38
TUGAS 4
Transfer massa dan transfer muatan yang terjadi pada voltametri siklik

Elektrokimia adalah salah satu cabang ilmu kimia yang mempelajari reaksi kimia yang terjadi
pada permukaan suatu konduktor (elektroda) yang berhubungan dengan transfer elektron antara
suatu konduktor (elektroda) dengan suatu analit tertentu.Pengukuran secara elektrokimia dilakukan
dengan menggunakan sel elektrokimia. Terdiri dari dua atau lebih elektroda dan elektronik untuk
mengontrol serta menentukan arus dan potensial . Laju alir optimum didapat saat terjadi proses
transfer massa dan muatan yang baik.
Voltametri Siklik (Cyclic Voltammetry) memiliki prinsip kerja sebagai berikut:
 Digunakan untuk mempelajari reaksi khusunya reaksi elektrokimia seperti reaksi redoks,
reaksi kompleksasi dll.
 Prinsip dasarnya adalah melihat hubungan antara potensial yang diberikan dan arus yang
terukur.
 Karena sistem ini melibatkan reaksi redoks di anoda dan katoda maka peristiwa reaksi di
kedua elektroda tersebut dimonitor besarnya arus yang timbul. Pengukuran arus listrik
dilakukan dengan rentang potensial awal dan akhir yang sama
 Potensial awal diberikan pada awal tidak terjadi reaksi elektrokimia pada permukaan
elektroda.
 Potensial kemudian dialurkan secara linier dengan laju tertentu menuju suatu nilai potensial
ketika senyawa aktif mengalami reaksi reduksi.
Pada proses elektrolisis terjadi dua macam transfer yaitu transfer massa dan transfer muatan.
Proses yang terjadi pada transfer massa adalah peristiwa perpindahan spesies elektroaktif. Secara
umum, perpindahan materi yang berlangsung di dalam larutan dapat terjadi dengan 3 cara :
1. Perpindahan secara migrasi (transfer muatan)
Merupakan pergerakan ion dalam larutan menuju elektrode karena adanya interaksi
anatara ion dengan muatan elektrode. Materi yang bermuatan, karena adanya gaya tarik
menarik elektrostatik, maka materi bermuatan bergerak menuju kutub dengan muatan yang
berlawanan, yakni kation-kation menuju katoda dan anion-anion menuju anoda.
2. Perpindahan secara difusi (transfer massa)
Merupakan perpindahan massa ion karena adanya perbedaan konsentrasi atau gradien
konsentrasi. Arus ini disebabkan migrasi spontan suatu zat/ion dari konsentrasi tinggi ke
rendah. Partikel-partikel mengalir dari daerah yang lebih rapat (pekat) menuju daerah yang
lebih renggang.
3. Perpindahan secara konveksi (transfer massa)
Merupakan perpindahan massa ion menuju elektrode karena pergerakan mekanik yang
dapat disebabkan oleh pengadukan, aliran larutan, perbedaan temperatur atau densitas.
Pengaruh temperatur dan goyangan atau pengadukan menyebabkan partikel berpindah dari
tempat ke tempat lain.
Dari ketiga jenis perpindahan tersebut menyebabkan laju perpindahan massa yang
berimplikasi pada besarnya arus total (it) yang terjadi :
it = im + id + ik
im = arus migrasi; id = arus difusi; ik = arus konveksi
TUGAS 5
Menemukan teori absorbansi isotherm (Langmuir, Freundlich, dan BET)

Adsobsi isoterm adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fase
teradsorbsi pada permukaan adsorben dengan fase ruah kesetimbangan pada temperatur tertentu.
Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm. Isoterm
ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul
mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang
dikemukakan oleh Freundlich. Persamaannya adalah :
x/m = k C 1/n
dimana:
x = banyaknya zat terlarut yng teradsorpsi (mg)
m = massa adsorben (mg)
C = konsentrasi adsorben yang sama
k,n = konstanta adsorben
Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan
digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan
efisisensi dari suatu adsorben.
Ada tiga jenis hubungan metematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isotherm
adsorpsi, yaitu :
1. Isoterm Langmuir
2. Isoterm Freundlich
3. Isoterm Brunauer, Emmet dan Teller (BET)

Isoterm Langmuir
Isoterm Langmuir. Isoterm paling sederhana, didasarkan pada asumsi bahwa:
a. setiap tempat adsorpsi adalah ekivalen, dan kemampuan partikel untuk terikat di tempat itu
tidak bergantung pada di tempati atau tidaknya tempat yang berdekatan.
b. Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanya dapat mengadsorpsi satu molekul
adsorbat untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak ada interaksi antara molekul-molekul yang
terserap
c. Semua proses adsorpsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.
d. Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorpsi maksimum.
Teori ini menjelaskan bahwa semua tempat adalah sama dan energinya adalah ekuivalen,
termodinamika ini menjelaskan bahwa kedudukan dapat memuat salah satu molekul adsorban,
proses adsorpsi tidak dapat terjadi pada ruang satu lapis, molekul dapat diadsorpsi tergantung pada
letaknya, artinya, adsorban tidak akan berinteraksi diantara batasan molekul pada permukaan dan
adsorpsi tidak bergerak, permindahan adsorbat di permukaan.
Pengaruh dari bentuk isotherm menunjukkan perkiraan sistem adsorpsi
yaitu favourable atau unfavourable menentukan faktor dimensi RL sebagai bentuk esensial dari
isotherm Langmuir dengan Cref adalah konsentrasi adsorban fasa fluida (mg/l) dan αL adalah
konstanta Langmuir. Nilai RL dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1. Tipe isotherm dan nilai RLnya
Nilai RL Tipe Isoterm
0<RL<1RL>1 FavourableUnfavourable
RL = 1 Linier
RL = 0 Irreversible
Namun, biasanya asumsi-asumsi tersebut sulit diterapkan karena: selalu ada ketidaksempurnaan
pada permukaan, molekul teradsorpsi tidak inert dan mekanisme adsorpsi pada molekul pertama
sangat berbeda dengan mekanisme pada molekul terakhir yang teradsorpsi.

Isoterm Freundlich
Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm adsorpsi dapat
digambarkan dengan persamaan empirik yang dikemukakan oleh Freundlich. Isoterm ini
berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul
mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang
paling banyak digunakan saat ini. Persamaannya adalah
x/m = kC1/n
Dengan x = banyaknya zat terlarut yang teradsorpsi (mg),
m = massa dari adsorben (mg),
C = konsentrasi dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan, dan
k,n, = konstanta adsorben
Dari persamaan tersebut, jika konstentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot sebagai ordinat
dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada koordinat logaritmik, akan diperoleh
gradien n dan intersep k. Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air.
Isoterm ini akan digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat
ditentukan efisiensi dari suatu adsorben.

Isoterm Brunauer, Emmet, and Teller (BET).


Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang homogen.
Perbedaan isoterm ini dengan Langmuir adalah BET berasumsi bahwa molekul-molekul adsorbat
bisa membentuk lebih dari satu lapisan adsorbat di permukaannya. Pada isoterm ini, mekanisme
adsorpsi untuk setiap proses adsorpsi berbeda-beda. Mekanisme yang diajukan dalam isoterm ini
adalah: Isoterm Langmuir biasanya lebih baik apabila diterapkan untuk adsorpsi kimia, sedangkan
isoterm BET akan lebih baik daripada isotherm Langmuir bila diterapkan untuk adsoprsi fisik.