Anda di halaman 1dari 4

FERMENTASI KAPANG PADA JAGUNG GILING

Alat dan Bahan:

1. Timbangan

2. Plastik

3. Baki

4. Gelas Ukur

5. Termometer

6. pH meter

7. Pengukus

8. Kapang (Aspergillus niger)

9. Substrat

10. Jagung giling

11. Air

Prosedur Kerja:

1. Siapkan substrat fermentasi sebanyak 100 gram (BK 90%).

2. Masukkan substrat kedalam plastik dan tambahkan air sebanyak 50% dari

BK substrat.

3. Kukus substrat selama 20 menit.

4. Sementara proses pengukusan berlangsung, siapkan mikroorganisme yang

akan dijadikan starter proses fermentasi timbang sesuai dosis (1%, 2%, 3%,

4%, 5%).

5. Setelah proses pengukusan selesai, dinginkan substrat pada baki sampai

suhu optimal pertumbuhan mikroorganisme (kurang lebih 30˚C) dan

timbang berat setelah dikukus.


6. Campurkan mikroorganisme secara merata ke dalam substrat fermentasi.

7. Masukkan kedalam plastik dan ratakan, beri lubang pada plastik untuk

menciptakan kondisi aerob.

8. Ukur suhu (˚C) dan pH awal, inkubasi substrat selama 3 hari sambil amati

suhu dan pH per hari.

Pembahasan:

Pakan ternak sebagai sarana produksi ternak dirasakan petani cukup mahal,

hal ini disebabkan ketersediaan bahan pakan yang berkualitas seperti tepung ikan,

jagung dan bungkil kedelai belum memadai dan sebagian besar masih diimpor.

Menurut Kompiang dkk. (1994) dan Sinurat dkk. (1998a,b), teknologi untuk

meningkatkan mutu bahan pakan adalah dengan fermentasi. Secara umum semua

produk akhir fermentasi biasanya mengandung senyawa yang lebih sederhana dan

mudah dicerna daripada bahan asalnya sehingga dapat meningkatkan nilai gizinya

(Purwadaria et al., 1995; Sinurat dkk., 1996; Supriyati dkk., 1998). Fermentasi juga

berfungsi sebagai salah satu cara pengolahan dalam rangka pengawetan bahan dan

cara untuk mengurangi bahkan menghilangkan zat racun yang dikandung suatu

bahan. Berbagai jenis mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk

mengkonversikan pati menjadi protein dengan penambahan nitrogen anorganik ini

melalui fermentasi.

Kapang yang sering digunakan dalam teknologi fermentasi antara lain

Aspergillus niger. A. niger merupakan salah satu jenis Aspergillus yang tidak

menghasilkan mikotoksin sehingga tidak membahayakan (Gray, 1970). Proses

fermentasi menggunakan kapang, selain pembentukan miselium selalu diikuti oleh

pembentukan spora yang berguna untuk pembuatan inokulum pada proses


fermentasi. Inokulum yang berupa spora merupakan starter yang baik dalam

fermentasi (Purwadaria dkk., 1995). Keberadaan spora dapat membuat turunnya

daya cerna produk fermentasi dibandingkan dengan sel miselium dan merupakan

bahan pencemar bagi kesehatan manusia, sehingga untuk alasan ini mutan yang

hilang kemampuan berspora pada suhu tertentu akan mempunyai keuntungan.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa

fermentasi kapang pada jagung giling yang diamati memiliki pH awal 5,7 dengan

suhu 30oC dengan aroma khas jagung. Berbeda dengan awal pengamatan, di hari

pertama terjadi peningkatan pH menjadi 6,1 dan suhu menjadi 26oC dan aroma

mulai berubah menjadi asam basi. Pada hari kedua, pH dan suhu mengalami

penurunan yakni pH menjadi 5,8 dan suhu menjadi 25oC dengan aroma yang tetap

asam basi. Sedangkan pada hari ketiga, pH dan suhu mengalami peningkatan

kembali. pH menjadi 6,7 dan suhu menjadi 27oC dengan aroma yang tetap asam

basi. Perubahan pH, suhu, dan aroma ini menandakan bahwa telah terjadinya

pertumbuhan miselia kapang Aspergilus sp. Hal ini sesuai dengan pendapat Sukma

dkk (2010), yang menyatakan bahwa miselia kapang Aspergillus sp. mulai tumbuh

pada hari ke dua inkubasi berupa koloni-koloni kecil yang menyebar pada

permukaan media berwarna putih kekuningan. Spora Aspergillus sp. berukuran

kecil dan ringan, tahan terhadap keadaan kering, memiliki sel kaki yang tidak begitu

jelas terlihat, memiliki konidia spora non septa dan membesar menjadi vesikel pada

ujungnya dan membentuk sterigmata tempat tumbuhnya konidia (Sumanti dkk,

2003)
DAFTAR PUSTAKA

Gray, W.D., 1970. The Use of Fungi as Food and in Food Processing. Ohio: CRC
Press
Kompiang, I.P., A.P. Sinurat, S. Kompiang, T. Purwadaria, and J. Darma. 1994.
Nutrition value of protein enriched cassava: Cassapro. Jurnal Ilmu Ternak
dan Veteriner 7 (2): 22-25.
Purwadaria, T., T. Haryati, A.P. Sinurat, J. Darma, and T. Pasaribu. 1995. In vitro
nutrient value of coconut meal fermented with Aspergillus niger NRRL 337
at different enzimatic incubation temperatures. 2nd Conference on
Agricultural Biotechnology Jakarta, 13-15 June 1995.
Sinurat, A.P., T. Purwadaria, A. Habibie, T. Pasaribu, H. Hamid, J. Rosida, T.
Haryati, dan I. Sutikno. 1998. Nilai gizi bungkil kelapa terfermentasi dalam
ransum itik petelur dengan kadar fosfor yang berbeda. Jurnal Ilmu Ternak
dan Veteriner 3 (1): 15-21.
Sukma, L.N., Zackiyah, dan G.G. Gumilar. 2010. Pengkayaan asam lemak tak
jenuh pada bekatul dengan cara fermentasi padat menggunakan Aspergillus
terreus. Jurnal Sains dan Teknologi Kimia. Vol.1, No.1, 66-72.
Sumanti, D. M., C. Tjahjadi, M. Herudiyanto dan T. Sukarti. 2003. Mempelajari
Mekanisme Produksi Minyak Sel Tunggal dengan Sistem Fermentasi Padat
pada Media Onggok-Ampas Tahu dengan Menggunakan Kapang Aspergillus
terreus. Laporan Penelitian Dasar. Fakultas Pertanian Universitas
Padjadjaran. Bandung, Jawa Barat. 116 hal.
Supriyati, T. Pasaribu, H. Hamid, dan A.P. Sinurat. 1998. Fermentasi bungkil inti
sawit secara substrat padat dengan menggunakan Aspergillus niger. Jurnal
Ilmu Ternak dan Veteriner 3 (3): 165-170.