Anda di halaman 1dari 8

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dedak Aromatik

Dedak aromatik dapat dimanfaatkan sebagai aditif sumber karbohidrat

dalam pembuatan silase. Dedak aromatik merupakan feed aditif yang diperoleh dari

hasil pengolahan biologis yang menggunakan metode fermentasi dedak

menggunakan probiotik Heryaki yang mengandung mikroba proteolitik, amilolotik,

dan selulolitik sehingga mikrona tersebut diharapkan dapat merombak bahan

menjadi produk lain yang memiliki karakteristik dan manfaat yang lebih baik

(Supratman, 2016).

2.2 Fermentasi Bahan Pakan

Teknologi biofermentasi dengan menggunakan kapang merupakan suatu

alternatif karena selain dengan melonggarkan ikatan atom hidrogen selulosa dan

melonggarkan ikatan lignosellulosa dengan bantuan enzim sellulotik yang

dihasilkan kapang sehingga pakan berserat juga mampu menghilangkan senyawa

beracun dalam bahan (Jamatun dkk., 2000). Fermentasi dapat didefinisikan sebagai

perubahan gradual oleh enzim beberapa bakteri, khamir dan jamur (Hidayat dkk.

2006). Proses fermentasi terjadi melalui serangkaian reaksi biokimiawi yang

mengubah bahan kering bahan menjadi energi (panas), molekul air (H2O) dan CO2.

Perubahan bahan kering dapat terjadi karena pertumbuhan mikroorganisme (bakteri

asam laktat), proses dekomposisi substrat dan perubahan kadar air. Perubahan kadar

air terjadi akibat evaporasi, hidrolisis substrat atau produksi air metabolik (Gervais,

2008). Kadar air mempengaruhi pertumbuhan bakteri dan dinamika yang terjadi
selama proses ensilase karena air dibutuhkan untuk sintesis protoplasma

mikroorganisme dan melarutkan senyawa organik.

Media fermentasi dengan kandungan nutrient yang seimbang diperlukan

untuk menunjang kapang lebih maksimal dalam memproduksi enzim. Perlu adanya

penambahan bahan-bahan lain yang mampu mencukupi kebutuhan nutrient pada

substrat (media) untuk tumbuh. Penambahan mineral salah satunya untuk

menunjang pertumbuhan kapang dengan memberikan mineral tambahan agar

ketersediaan mineral kapang, dapat terjamin sehingga dapat melakukan

metabolismenya dengan baik dan dapat memproduksi enzim dengan aktivitas

terbaik (Thenawidjaja, 1986).

Selama fermentasi, terjadi perubahan terhadap komposisi kimia substrat

(media fermentasi) daiantaranya kandungan asam amino, lemak, karbohidrat,

vitamin dan mineral, selain itu juga terjadi perubahan terhadap pH, kelembaban,

aroma dan beberapa gizi lainnya (Paderson, 1971). Oleh karena itu, feremntasi

dapat meningkatkan palatabilitas pada ternak. Proses fermentasi tidak hanya

menimbulkan efek pengawetan tetapi juga menyebabkan perubahan tekstur, cita

rasa dan aroma bahan pangan yang membuat produk fermentasi lebih menarik,

mudah dicerna dan bergizi (Robert dan Endel, 1989). Surisdiarto (2003) yang

menyatakan adanya penurunan kadar abu setelah fermentasi disebabkan oleh

pemakaian mineral oleh ragi untuk kelangsungan hidupnya.

2.3 Aspergillus niger

Aspergillus niger merupakan salah satu spesies yang paling umum dan

mudah diidentifikasi dari marga Aspergillus. Aspergillus niger dapat tumbuh pada

suhu 35ºC-37ºC (optimum), 6ºC-8ºC (minimum), 45ºC-47ºC (maksimum)


memiliki bulu dasar berwarna putih atau kuning dengan lapisan konidiospora tebal

berwarna coklat gelap sampai hitam. Kepala konidia berwarna hitam, bulat,

cenderung memisah menjadi bagian-bagian yang lebih longgar dengan

bertambahnya umur. Konidiospora memiliki dinding yang halus dan berwarna

coklat (Hidayat, 2010).

Morfologi jamur Aspergillus niger dapat dilihat pada Gambar 3. Sistematika

Aspergillus niger menurut Raper dan Fennel (1977) adalah sebagai berikut:

Divisi : Eumycophyta

Kelas : Deuteromycetes

Bangsa : Moniliales

Suku : Moniliaceae

Marga : Aspergillus

Jenis : Aspergillus niger

Aspergillus niger dalam pertumbuhannya berhubungan langsung dengan zat

makanan yang terdapat dalam substrat, molekul sederhana yang terdapat di

sekeliling hifa dapat langsung diserap sedangkan molekul yang lebih kompleks

harus dipecah dahulu sebelum diserap ke dalam sel, dengan menghasilkan beberapa

enzim ekstraseluler. Bahan organik dari substrat digunakan oleh Aspergillus niger

untuk aktivitas transport molekul, pemeliharaan struktur sel dan mobilitas sel

(Hidayat, 2010). Carlile dan Watkinson (1994) menyebutkan bahwa Aspergillus

niger bersifat toleran terhadap aktivitas air rendah, mampu tumbuh pada substrat

dengan potensial osmotik cukup tinggi dan sporulasi pada kelembaban relatif

rendah.

Aspergillus niger dapat tumbuh dengan cepat dan digunakan secara

komersial dalam produksi asam sitrat, asam glukonat dan pembuatan beberapa
enzim seperti amilase, pektinase, glukoamilase dan selulase (Hidayat, 2010).

Kombong (2004) mendapatkan bahwa Aspergillus niger yang ditumbuhkan dalam

medium pati kentang dan pati jagung dapat menghasilkan glukoamilase dan

menghasilkan maltosa. Rosita (2008) melaporkan Aspergillus niger menghasilkan

enzim α-amilase sebesar 373,14 U/ml dan glukoamilase sebesar 230,79 U/ml.

Purwantari dkk. (2004) menyatakan pH optimum Aspergillus niger pada

fermentasi tepung ganyong untuk produksi etanol adalah 4,5 dan menghasilkan gula

pereduksi tertinggi sebesar 1,230 g/100 ml pada hari ke-4. Kombong. (2004)

melaporkan konsentrasi substrat tongkol jagung optimum dalam sakarifikasi oleh

Aspergillus niger adalah 6% dengan kadar gula pereduksi tertinggi sebesar 3,1105

mg/ml.

2.4 Saccharomyces cereviceae

Saccharomyces cerevisiae merupakan salah satu spesies khamir yang

memiliki daya konversi gula menjadi etanol sangat tinggi. Mikroba ini biasanya

dikenal dengan baker’s yeast dan metabolismenya telah dipelajari dengan baik.

Produk metabolik utama adalah etanol, CO2 dan air sedangkan beberapa produk

lain dihasilkan dalam jumlah sangat sedikit. Khamir ini bersifat fakultatif

anaerobik. Saccharomyces cerevisiae memerlukan suhu 30oC dan pH 4,0-4,6 agar

dapat tumbuh dengan baik. Selama proses fermentasi akan timbul panas, apabila

tidak dilakukan pendinginan, suhu akan makin meningkat sehingga proses

fermentasi terhambat (Frazier dan Westhoff, 1988).

Saccharomyces cerevisiae tumbuh optimum pada suhu 25-30oC dan

maksimum pada 35-47oC (Frazier dan Westhoff, 1988). pH pertumbuhan khamir

yang baik antara 3-6. Perubahan pH dapat mempengaruhi pembentukan hasil


samping fermentasi. Pada pH tinggi maka lag phase akan berkurang dan aktivitas

fermentasi akan naik (Prescott dan Dunn, 1981).

Saccharomyces cerevisiae mempunyai struktur seperti khamir lainnya, yaitu

terdiri dari sel dan membran sel. Dinding sel terdiri dari senyawa polisakarida

(glukan, mana, protein, kitin, dan lipid). Lapisan membran selnya terdiri dari

lipoprotein, di dalamnya terdapat enzim-enzim yang diperlukan untuk sintesis

berbagai komponen dinding sel. Fungsi dari membran sel adalah untuk transportasi

zat yang dibutuhkan oleh sel dan zat-zat sisa metabolisme (Amaria dkk., 1999).

Menurut Yarow (1984), klasifikasi Saccharomyces cerevisiae dapat digolongkan

menjadi:

Divisi : Eumycota

Kelas : Hemiascomycetes

Bangsa : Endomycetales

Suku : Saccharomycetaceae

Marga : Saccharomyces

Jenis : Saccharomyces cerevisiae

2.5 Proses Fermentasi

Fermentasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kultur terendam (submerged)

dan kultur permukaan. Kultur permukaan merupakan fermentasi dengan substrat

semi padat, padat atau cair yang pertumbuhan mikroorganismenya terjadi pada

permukaan substrat, sedangkan kultur terendam substratnya adalah substrat cair

dengan pertumbuhan mikroorganismenya pada seluruh substrat, tidak hanya pada

bagian permukaan saja. Fermentasi sub-terendam biasanya dilakukan di dalam

erlenmeyer dengan komposisi media biasanya terdiri dari N anorganik (urea dan
atau ammonium sulfat), P anorganik (KH2PO4) dan mineral-mineral lainnya (Mg,

Zn dan lain-lain). Fermentasi dengan media padat atau disebut juga dengan

fermentasi substrat padat menyangkut pertumbuhan mikroorganisme dalam

lingkungan yang hampir tidak ada air bebas. Produk fermentasi substrat padat

antara lain berupa glukosa, etanol dan protein sel tunggal. Keuntungan fermentasi

substrat padat dibandingkan dengan fermentasi substrat cair adalah penggunaan

substrat alami yang sifatnya tunggal, persiapan inokulum lebih sederhana, dapat

menghasilkan produk dengan kepekatan yang lebih tinggi, kontrol terhadap

kontaminasi lebih mudah, kondisi inkubasi hampir menyerupai kondisi alami

sehingga tidak memerlukan kontrol suhu dan pH yang teliti serta aerasi dapat

berlangsung lebih optimum karena ruang lebih besar. Sekitar 50% bahan/substrat

digunakan kapang dimanfaatkan untuk membentuk tubuhnya (Hidayat dkk. 2006).

DAFTAR PUSTAKA

Amaria, Isnawati, R., dan Tukiran. 1999. Biomasa Saccharomyces cerevisiae dari

Limbah Buah dan Sayur sebagai Sumber Vitamin B. Pusat Kajian Makanan

Tradisional. Lemlit Universitas Negeri Surabaya. Surabaya.

Carlile, M.J. dan S.C. Watkinson.1994.The Fungi. London: Academic Press Ltd

Frazier, W. C. and Westhoff, D. C. 1988. Food Microbiology. Tata McGraw Hill

Publishing, Ltd. New Delhi.

Gervais, P. 2008. Water relations in solid state fermentation. In: A. Pandey, C. R.

Soccol, & C. Larroche (Eds). Current Developments in Solid-state

Fermentation. Asiatech Publisher Inc., New Delhi.


Hidayat, C. 2010. Mendongkrak kecernaan singkong. http://www.trobos.com [7

Desember 2018]

Hidayat, N., Padaga, M.C., dan Suhartini, S. 2006. Mikrobiologi Industri.

Yogyakarta: ANDI

Jamatun, N., Y. S. Nur., & J. Rahman. 2000. Biokonversi serat sawit dengan

Aspergillus niger sebagai pakan ternak ruminansia. Laporan Penelitian

Hibah Bersaing VIII/1 dan 2. Fakultas Peternakan Universitas Andalas.

Padang.

Kombong, H. 2004. Evaluasi Daya Hidrolitik Enzim Glukoamilase dari Filtrat

Kultur Aspergillus niger. J. Ilmu Dasar 5(1): 16-20.

Paderson, C. S., 1971. Microbiology of Food Fermentation. AVI Publishing, USA.

Prescott, S. C. and Dunn, C. G. 1981. Industrial Microbiology. Mcgraw-Hill Book

Company. New York.

Purwantari, E. P, Susilowati, A. dan Setyaningsih, R. 2004. Fermentasi Tepung

Ganyong (Canna edulis) untuk Produksi Etanol oleh Aspergillus niger dan

Zymomonas mobilis. J.Biotek. 1(2): 43-47.

Robert, H. S. & K. Endel. 1989. Evaluasi Pengolahan Bahan Pangan. Terjemahan:

S. Achmadi. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Rosita. 2008. Produksi Etanol Onggok Menggunakan Ekstrak Kasar Enzim Alfa

Amilase, Glukoamilase, dan Saccharomyces cerevisiae. Tesis. SITH-ITB.

Bandung.
Supratman, Hery. 2016. Pembuatan Dedak Aromatik Menggunakan Probiotik
Heryaki. Modul Praktikum Teknologi Pakan. Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran.
Surisdiarto. 2003. Perubahan kimiawi dan daya cerna azolla yang difermentasi

dengan ragi tempe. Buletin Peternakan 27 (1) : 16-22.


Thenawidjaja, M. 1986.Sintesis enzim-enzim pemecah pati pada fermentasi

Aspergillus nigr dengan suplementasi berbagailimbah hasil pertanian.

Penelitian & Pengabdian pada Masyarakat. Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan.

Yarrow, D. 1984. The Yeast. A Taxonomic Studi. 3rd ed. Elsevier Science

Publishers B. V. Amsterdam.