Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Evaluasi merupakan salah satu komponen dari sistem pendidikan yang
harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur
keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pendidikan dan
pembelajaran. Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga
atau nilai berdasarkan kriteria tertentu.1
Evaluasi perlu dilakukan karena manusia adalah makhluk yang lemah,
makhluk yang suka membantah dan ingkar kepada Allah, mudah lupa dan banyak
melakukan kesalahan namun mempunyai batas untuk sadar kembali. Tetapi di sisi
lain manusia juga merupakan makhluk terbaik dan termulia, yang dipercaya Allah
untuk mengemban amanat istimewa diangkat sebagai khalifah di bumi.
Bertolak dari pandangan tersebut, ditemukan hal-hal prinsipil bahwa
manusia ternyata memiliki kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan
tertentu, sehingga perlu diperbaiki baik oleh dirinya sendiri maupun pihak lain.
Namun demikian, manusia juga memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang perlu
dikembangkan sehingga mempunyai kemampuan untuk mencapai posisi tertentu
yang dapat melebihi makhluk lain seperti malaikat. Oleh karena itu, evaluasi sangat
diperlukan untuk mengukur dan menjaga agar posisi yang mulia serta terbaik itu
tetap bisa dipertahankan sampai akhir hayat.
Evaluasi yang dilakukan Allah terhadap umat manusia mengandung
pengertian bahwa manusia senantiasa dalam pengawasan Allah yang apabila hal ini
disadari oleh manusia berarti ia akan hati-hati dalam bertingkah laku. Al quran
sebagai sumber utama pendidikan Islam, banyak mengungkap konsep evaluasi di
dalam ayat-ayatnya sebagai acuan bagi manusia untuk hati-hati dalam melakukan
sesuatu.
Evaluasi merupakan kajian yang sangat mendasar. Oleh karena itu,
permasalahan seputar pembahasan ini adalah: Bagaimana pengertian evaluasi
pendidikan?, Apa Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pendidikan Islam?, Bagaimana

1
Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru 2002), hlm. 111.
1
prinsip-prinsip evaluasi pendidikan islam? serta bagaimana teknik evaluasi dalam
pendidikan islam?.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian evaluasi pendidikan islam?
2. Apa tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan islam?
3. Bagaimana prinsip-prinsip evaluasi pendidikan islam?
4. Bagaimana teknik-teknik evaluasi dalam pendidikan islam?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian evaluasi pendidikan islam !
2. Untuk mengetahui tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan islam!
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip evaluasi pendidikan islam!
4. Untuk mengetahui teknik-teknik evaluasi dalam pendidikan islam!

BAB II
PEMBAHASAN

2
A. Pengertian Evaluasi Pendidikan
Secara harfiah evaluasi berasal dari bahasa inggris, evaluation, yang berarti
penilaian dan penaksiran. Dalam bahasa Arab, dijumpai istilah imtihan yang berarti
ujian, dan khataman yang berarti cara menilai hasil akhir dari proses kegiatan.
Selanjutnya evaluasi dapat diartikan sebagai proses membandingkan stuasi yang
ada dengan kriteria tertentu dalam rangka mendapatkan informasi dan
menggunakannya untuk menyusun penilaian dalam rangka membuat keputusan.2
Sedangkan dari segi istilah sebagaimana yang dikemukakan oleh Edwind
Want dan Gralt W. Brown bahwa evaluasi adalah menunjukkan kepada atau
mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai
dari sesuatu.3
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 ayat (1), evaluasi dilakukan dalam
rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas
penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, di antaranya
terhadap pesera didik, lembaga, dan program pendidikan.4
Sedangkan evaluasi dalam pendidikan Islam menurut Arifin adalah
merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku manusia didik
berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-
aspek kehidupan mental psikologis dan spiritual religius karena manusia hasil
pendidikan bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius, melainkan
juga berilmu dan berketerampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada
Tuhan dan masyarakatnya.5
Selain istilah evaluasi, terdapat pula istilah lain yang hampir sama, yaitu
pengukuran dan penilaian. Sementara orang lebih cenderung mengartikan ketiga
kata tersebut sebagai suatu pengertian yang sama. Dan untuk memahami apa
perbedaan, persamaan, ataupun hubungan antara ketiganya, menurut Arikunto,6
dapat dipahami melalui contoh-contoh di bawah ini:

2
Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm, 307.
3
Anas sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidika, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006),
Hlm, 1.
4
Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip & Operasionalnya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm, 1.

5
M Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara. 1991), Hlm, 238.
6
Suharismi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), Hlm, 1.

3
1. Apabila ada orang yang akan memberi sebatang pensil kepada kita dan kita
disuruh memilih antara dua pensil yang tidak sama panjang, maka tentu kita
akan memilih yang panjang. Kita tidak memilih yang pendek kecuali ada alasan
yang sangat khusus.
2. Pasar merupakan suatu tempat bertemunya orang-orang yang akan menjual dan
membeli. Sebelum menentukan barang yang akan dibelinya, seorang pembeli
akan memilih dahulu mana barang yang lebih baik menurut ukurannya. Apabila
ia ingin membeli jeruk, dipilihnya jeruk yang besar, kuning, halus kulitnya.
Semuanya itu dipertimbangkan karena menurut pengalaman sebelumnya, jenis
jeruk-jeruk yang demikian ini rasanya akan manis. Sedangkan jeruk yang masih
kecil, hijau, dan kulitnya agak kasar, biasanya rasanya masam.
Dari contoh-contoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa sebelum
menentukan pilihan, kita mengadakan penilaian terhadap benda-benda yang akan
kita pilih. Dalam contoh pertama, kita memilih mana pensil yang lebih panjang,
sedangkan pada contoh kedua kita menentukan dengan perkiraan kita atas jeruk
yang baik, yaitu yang rasanya manis. Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum
mengambil barang untuk kita, itulah yang disebut mengadakan evaluasi, yakni
mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan penilaian sebelum kita
mengadakan pengukuran.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa evaluasi pendidikan
adalah suatu kegiatan yang berisi mengadakan pengukuran dan penilaian terhadap
keberhasilan pendidikan dari berbagai aspek yang berkaitan dengannya.
Adapun objek Evaluasi pendidikan dalam arti yang umum adalah peserta
didik. Sementara dalam arti yang khusus adalah aspek-aspek tertentu yang terdapat
dalam peserta didik. Peserta didik disini sebenarnya bukan hanya objek evaluasi
semata, melainkan juga sebagai subjek evaluasi. Oleh karena itu, evaluasi
pendidikan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu evaluasi diri sendiri, dan
evaluasi terhadap orang lain.
1. Evaluasi diri Sendiri (self evaluation/introspeksi)
Evaluasi terhadap diri sendiri adalah dengan mengadakan intropeksi atau
perhitungan terhadap diri sendiri. Evaluasi ini tentunya berdasarkan kesadaran
internal yang bertujuan meningkatkan kreativitas dan produktivitas pribadi.
Apabila dalam evaluasi tersebut ditemukan beberapa keberhasilan, keberhasilan
itu hendaknya dipertahankan atau ditingkatkakan. Akan tetapi, bila ditemukan

4
beberapa kelemahan dan kegagalan, hendaknya hal tersebut segera diperbaiki
dengan cara meningktakan ilmu, iman, dan amal. 7
2. Evaluasi terhadap oranng lain (peserta didik)
Evaluasi terhadap orang lain, dalam hal ini peserta didik, merupakan bagian
dari kegiatan pendidikan. Kegiatan ini merupakan sebuah keharusan. Keharusan
ini tentunya berdasarkan niat amar ma’ruf nahi munkar yang bertujuan ishlah
(perbuatan sesama umat). Syarat evaluasi harus objektif, segera, tidak dibiarkan
berlarut-larut, dan menyeluruh sehingga peserta didik tidak tenggelam kedalam
kebimbangan, kebodohan, kezaliman, dan dapat melakukan perubahan secara
cepat dan tepat ke arah yang lebih baik dari prilaku sebelumnya.8

B. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pendidikan Islam


Dilihat dari fungsinya yaitu dapat memperbaiki program pengajaran, maka
evaluasi pembelajaran dikategorikan ke dalam penilaian formatif atau evaluasi
formatif, yaitu evaluasi yang dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar
untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri.9 Menurut
Anas Sudijono, evaluasi formatif ialah evaluasi yang dilaksanakan di tengah-tengah
atau pada saat berlangsungnya proses pembelajaran, yaitu dilaksanakan pada setiap
kali satuan program pelajaran atau sub pokok bahasan dapat diselesaikan, dengan
tujuan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah terbentuk. sesuai dengan
tujuan pengajaran yang telah ditentukan.10
Secara umum, dalam bidang pendidikan, evaluasi bertujuan untuk:
a. Memperoleh data pembuktian yang akan menjadi petunjuk sampai di mana
tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam
pencapaian tujuan-tujuan kurikuler setelah menempuh proses pembelajaran
dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
b. Mengukur dan menilai sampai di manakah efektifitas mengajar dan
metode-metode mengajar yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh
pendidik, serta kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta.
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang
pendidikan adalah untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh

7
Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012),
hlm, 232.
8
Ibid, hlm, 233.
9
Nana Sudjana, Penilaian....................hlm, 5.
10
Anas Sudijono, Pengantar................hlm, 23.
5
program pendidikan dan untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab
keberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat
dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.11
Evaluasi dalam pembelajaran dilakukan untuk kepentingan pengambilan
keputusan, misalnya tentang akan digunakan atau tidaknya suatu pendekatan,
metode, atau teknik. Dalam keadaan pengambilan keputusan proses pembelajaran,
evaluasi sangat penting karena telah memberikan informasi mengenai
keterlaksanaan proses belajar mengajar, sehingga dapat berfungsi sebagai pembantu
dan pengontrol pelaksanaan proses belajar mengajar. Dengan demikian, betapa
penting fungsi evaluasi itu dalamp roses belajar mengajar.
Secara garis besar evaluasi berfungsi untuk:12
a. Mengetahui kemajuan kemampuan belajar murid. Dalam evaluasi
formatif, hasil dari evaluasi selanjutnya digunakan untuk memperbaiki
cara belajar siswa.
b. Mengetahui status akademis seseorang siswa dalam kelasnya.
c. Mengetahui penguasaan, kekuatan dalam kelemahan seseorang siswa
atas suatu unit pelajaran.
d. Mengetahui efisiensi metode mengajar yang digunakan guru.
e. Menunjang pelaksanaan BK di sekolah.
f. Memberi laporan kepada siswa dan orang tua.
g. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk keperluan promosi siswa.
h. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk keperluan pengurusan
(streaming).
i. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk keperluan perencanaan
pendidikan.
j. Memberi informasi kepada masyarakat yang memerlukan.
k. Merupakan feedback bagi siswa, guru dan program pengajaran.
l. Sebagai alat motivasi belajar mengajar.
m. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang
bersangkutan.
Fungsi evaluasi bagi guru perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar
evaluasi yang diberikan benar-benar mengenai sasaran. Hal ini didasarkan karena
hampir setiap saat guru melaksanakan kegiatan evaluasi untuk menilai keberhasilan
belajar siswa serta program pengajaran.

C. Prinsip-Prinsip Evaluasi Pendidikan Islam


11
Ibid, hlm, 17.
12
Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 2004), hlm, 7.
6
Evaluasi hasil belajar dapat terlaksana dengan baik apabila dalam
pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar berikut ini yaitu: (1).
Prinsip keseluruhan, (2). Prinsip kesinambungan, (3). Prinsip obyektivitas.
1. Prinsip keseluruhan
Prinsip keseluruhan atau prinsip menyeluruh juga dikenal dengan istilah
prinsip kemprehensif. Dengan prinsip komprehensif dimaksudkan bahwa
evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi
tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh dan menyeluruh.
Perlu diketahui bahwa evaluasi hasil belajar itu tidak boleh dilakukan secara
terpisah-pisah atau sepotong demi sepotong, melainkan harus dilaksanakan
secara utuh dan menyeluruh. Dengan kata lain, evaluasi hasil belajar harus
dapat mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan
atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri peserta didik sebagai
makhluk hidup dan bukan benda mati. Dalam hubungan ini, evaluasi hasil
belajar disamping dapat mengungkap aspek proses berpikir (cognitive domain)
juga dapat mengungkap aspek kejiwaan lainnya yaitu aspek nilai atau sikap
(psychomotor domain) yang melekat pada diri masing-masing individu peserta
didik. Jika dikaitkan dengan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
maka evaluasi hasil belajar dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam itu
hendaknya bukan hanya mengungkap pemahaman peserta didik terhadap
ajaran-ajaran agama Islam, melainkan juga harus dapat mengungkap: sudah
sejauh mana peserta didik dapat menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran
Islam tersebut. dalam kehidupan mereka sehari-hari.13
Sedangkan menurut Suharsini Arikunto bahwa prinsip umum dan penting
dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga
komponen yaitu antara tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran atau KBM,
dan evaluasi.14 Dengan demikian bahwa dalam evaluasi hasil belajar mesti
memperhatikan prinsip keseluruhan (comprehensive). Baik itu domain kognitif,
afektif, psikomotor, serta tujuan kegiatan pembelajaran atau KBM.
2. Prinsip Kesinambungan
Prinsip kesinambungan juga dikenal dengan istilah prinsip kontinitas
(continuity). Dengan prinsip kesinambungan dimaksudkan disini bahwa
evaluasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan

13
Anas sudijono, Pengantar Evaluasi..............hlm. 31-32.
14
Suharsini Arikunto, Dasar-Dasar Evauasi.............hlm, 24.
7
secara teratur dan berkesinambungan dari waktu ke waktu. Dengan evaluasi
hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur, terencana dan terjadwal itu maka
dimungkinkan bagi evaluator untuk memperoleh informasi yang dapat
memberikan gambaran mengenal kemajuan atau perkembangan peserta didik,
sejak dari awal mula mengikuti program pendidikan sampai pada saat-saat
mereka mengakhiri program pendidikan yang mereka tempuh itu.
Evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara berkesinambungan itu juga
dimaksudkan agar pihak evaluator (guru, dosen dan lain-lain) dapat
memperoleh kepastian dan kemantapan dalam menentukan langkah-langkah
atau merumuskan kebijakan-kebijakan yang perlu diambil untuk masa-masa
selanjutnya, agar tujuan pengajaran sebagaimana telah dirumuskan pada Tujaun
Instruksional Khusus (TIK) dapat dicapai dengan sebaik-baiknya.15 Penilaian
hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari proses belajar-mengajar.
Artinya, penilaian mengisyaratkan pentingnya penilaian formatif sehingga
dapat bermanfaat baik bagi siswa maupun bagi guru yang senantiasa
dilaksanakan pada setiap saat proses belajar-mengajar sehingga pelaksanaannya
berkesinambungan. “Tiada proses belajar-mengajar tanpa penilaian” hendaknya
dijadikan sebagai semboyan bagi setiap guru. Prinsip ini mengisyaratkan
pentingnya penilaian formatif sehingga dapat bermanfaat baik bagi siswa
maupun bagi guru.16
3. Prinsip Obyektivitas
Prinsip obyektivitas (objektivity) mengandung makna, bahwa evaluasi hasil
belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari
faktor-faktor yang sifatnya subyektif.
Sehubungan dengan itu, dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar, seorang
evaluator harus senantiasa berpikir dan bertindak wajar, menurut keadaan yang
senyatanya, tidak dicampuri oleh kepentingan-kepentingan yang bersifat
subyektif. Prinsip ketiga ini sangat penting, sebab apabila dalam melakukan
evaluasi unsur-unsur subyektif menyelinap masuk ke dalamnya, dan akan dapat
menodai kemurnian pekerjaan evaluasi itu sendiri.17 Agar diperoleh hasil belajar
yang objektif dalam pengertian menggambarkan prestasi dan kemampuan siswa,

15
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi..., hlm. 32-33.
16
Nana Sudjana, Penilaian Hasil,........ hlm, 9.
17
Anas sudijono, Pengantar...............,hlm, 33.
8
maka penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatanya
komprehensif.18
Sedangkan menurut Sukardi, bahwa dalam pendidikan ada beberapa prinsip
evaluasi dapat dilihat sebagai berikut: a) Evaluasi harus masih dalam kisi-kisi
kerja tujuan yang telah ditentukan; b) Evaluasi sebaiknya dilaksanakan secara
komprehensif; c) Evaluasi diselenggarakan dalam proses yang kooperatif antara
guru dan peserta didik; d) Evaluasi dilaksanakan dalam proses kontinu; dan e)
Evaluasi harus peduli dan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku.19
Sehubungan dengan itu untuk mmenerapkan prinsip-prinsip evaluasi
pendidikan maka seharunya kita mengetahui dulu beberapa jenis-jenis evaluasi
pendidikan. Ada banyak jenis evaluasi yang pada dasarnya jenis-jenis evaluasi
tersebut juga telah tersirat di dalam Al quran melalui firmannya berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah


setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS Al Hasyr (59): 1820

Ayat di atas diawali dengan seruan terhadap umat beriman. Biasanya, ketika
suatu ayat diawali dengan seruan terhadap orang yang beriman, akan terdapat
beberapa perintah atau larangan. Dalam konteks ayat ini, perintah yang pertama
dikemukakakan adalah perintah untuk bertakwa kepada Allah, bahkan dalam
ayat tersebut perintah bertaqwa dikatakan secara berulang-ulang. Dalam hal ini,
bertaqwa kepada Allah pada redaksi pertama dikaitkan dengan suatu sikap yang
harus dimiliki oleh setiap manusia beriman agar senantiasa melakukan evaluasi
terhadap perbuatannya yang telah lalu yang akan menjadi dasar dalam
melakukan perbuatan selanjutnya. Sementara perintah takwa yang kedua
dikaitkan dengan satu kenyataan bahwa Allah senantiasa Maha Mengetahui apa
yang dikerjakan setiap manusia. 21
18
Nana Sudjana, Penilaian...........hlm, 9.
19
Sukardi, Evaluasi...........hlm, 4-5.
20
Al quran dan Terjemanahannya, Mushaf Fatimah, (Jakarta: PT Insan Media Pustaka, 2013), hlm,
548.
21
Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu...........hlm., 236-237.
9
Berkaitan dengan evaluasi apa yang telah dikerjakan berdasarkan Al quran
dan sunnah maka terdapat beberapa waktu evaluasi sebagai berikut:
1. Evalusi harian
Pada surah Al-hasyr (59) ayat 18 disebutkan bahwa kita diperintah
untuk mengevaluasi diri setiap hari sebagai acuan atau pertimbangan apa
yang akan kita perbuat untuk hari esok. Tanpa mencoba melakukan
evaluasi terhadap apa yang telah kita kerjakan. Kemungkinan besar tidak
akan ada perubahan yang signifikan di hari esok.
2. Evaluasi mingguan
Evaluasi ini dilaksanakan setiap hari jumat. Dalam beberapa sumber
disebutkan bahwa pada hari tersebut para sahabat selalu ke mesjid jauh
sebelum shalat jumat dilaksanakan. Tentu kedatangannya ke mesjid bukan
sekedar untuk menggugrkan kewajiban, melainkan untuk melakukan
perenungan terhadap perbuatan yang telah dilakukan selama satu minggu
sehingga ia bisa mengukur apa saja kekurangannya dan dengan cara apa
pula ia harus memperbaikinya. Kita biasanya menyebut istilah perenungan
di Mesjid tersebut dengan istilah i’tikaf.22
3. Evaluasi tahunan
Evaluasi ini dilakukan setiap bulan Ramadhan. Evaluasi tersebut
dilakukan dengan berpuasa.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka


(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah
mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. QS Al Baqarah
(2): 18.23

Secara tersirat, ayat di atas menuntut orang yang berpuasa agar


senantiasa melakukakan pengkajian terhadap Al quran dan terhadap dirinya
sendiri yang akan menjadikannya tersadar kembali bahwa ia hanyalah
seorang hamba yang fakir dihadapannya. Ia menyadari bahwa dirinya itu
adalah sebatang ilalang ditengah bentangan alam semesta. Eksistensi
hidupnya sangat bergantung pada curahan kasih sang pencipta. Kesadaran

22
Ibid, hlm, 238.
23
Al quran dan Terjemanahannya, Mushaf Fatimah..................hlm, 4.
10
ini akan menjadikan dirinya terus menerus mencoba mendekatan diri
kepada Allah dengan berdoa. Dalam hal ini, berdoa merupakan indikator ke
tawadhuan manusia kepada Tuhan., yang menunjukkan bahwa dirinya
menyadari betul kalau ia hanyalah manusia fakir yang tidak mempunyai
apa-apa dihadapannya.24

D. Teknik-Teknik Evaluasi Dalam Pendidikan Islam


Istilah teknik dapat diartikan sebagai alat. Jadi teknik evaluasi berarti alat yang
digunakan dalam rangka melakukan kegiatan evaluasi. Berbagai macam teknik
penilaian dapat dilakukan secara komplementer (saling melengkapi sesuai dengan
kompetensi yang dinilai. Dalam konteks evaluasi hasil proses pembelajaran di
sekolah dikenal adanya 2 macam teknik, yaitu teknik tes dan non test.
Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu
tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh sekelompok peserta didik,
sehingga menghasilkan suatu nilai tentang prestasi belajarnya, yang dapat
dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh peserta didik lainnya atau dengan nilai
standar yang ditetapkan. Di samping evaluasi dalam bentuk test, pendidik perlu
mengadakan evaluasi pendidikan dalam bentuk lain, yaitu non test. Misalnya:
dalam bentuk laporan pribadi (self-report) atau catatan-catatan hasil sikap peserta
didik, atau hasil observasi yang dilakukan secara sengaja.25
1. Teknik tes
Tujuan penilaian dengan teknik tes, yaitu untuk mengetahui:
a. Tingkat kemampuan awal peserta didik
b. Hasil belajar peserta didik
c. Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik
d. Keberhasilan guru dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran

Tes dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu sebagai berikut:


a. Tes lisan
Tes lisan dilakukan secara verbal, ini terutama untuk:
a) Kemampuan memcahkan masalah
b) Proses berpikir terutama melihat hubungan sebab akibat
c) Menggunakan bahasa lisana
d) Kemampuan mempertanggungjawabkakan pendapat atau konsep yang
dikemukakan.26

24
Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu...........hlm., 238-239.
25
Syahril, Konsep Evaluasi Pendidikan Dalam Perspektif Alquran, Jurnal Hunafa, Vol 4, No.4:
2007, Hlm 311-312.
26
Novan Ardy Wiyani dan Barnawi, Ilmu...........hlm, 245.
11
b. Tes perbuatan
Tes perbuatan atau tes unjuk kerja adalah tes yang dilaksanakan dengan
menjawab menggunakan perbuatan, tindakan atau unjuk kerja, hal ini
berfungsi sebagai penilaian terhadap kemampuan melakukan sesuatu
perbuatan (berhubngan dengan domain psikomotor). Bentuk tes ini cocok
untuk mengukur kemampuan seseorang dalam melakukan tugas tertentu,
seperti praktik di laboratorium. Peserta didik diminta untuk
mendemosntrasikan kemampuan dalam bidang tertentu.
c. Tes tertulis
Tes tertulis adalah tes yang dilakukan secara tertulis baik pertanyaan
maupun jawabannya. Tes ini mempunyai kegunaan yang cukup luas karena
tes ini dapat dilakukan secara perorangan ataupun kelompok. Itu sebabnya
tes ini populer karena alasan efektif dan efisien.27
2. Teknik bukan tes
Teknik bukan tes umumnya menggunakan alat-alat seperti berikut:
a. Wawancara dan interview
Taknik wawancara ini dilakukan dengan menggunakan tanya jawab,
baik secara langsung maupun tidak langsung seperti menggunkan media.
Alat yang digunakan adalah pedoman wawancara yang mengacu pada
tujuan yang ditetapkan.
b. Angket
Angket adalah wawancara yang dilakukan secara tertulis. Prinsip
penggunaan dan alat sama dengan wawancara.
c. Pengamatan dan observasi
Dilakukan dengan cara melakukan pengamatan terhadap kegiatan, baik
sacara langsung maupun tak langsung. Alat yang digunakan berupa panduan
observasi yang disusun dalam bentuk check atau skala penilaian.28
Adapun langkah-langkah evaluasi pendidikan merupakan bagian integral
dari pendidikan atau pengajaran sehingga perencanaan atau penyusunan,
pelaksanaan dan pendayagunaannya pun tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan
program pendidikan atau pengajaran. Hasil dari evaluasi yang diperoleh selanjutnya
dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi formatif). Agar
evaluasi dapat dilaksanakan tepat pada waktu yang diharapkan dan hasilnya tepat
guna dan tepat arah, perlu mengikuti langkah-langkah berikut ini:29
27
Ibid, hlm, 246.
28
Ibid, hlm, 247.
29
Anas Sudijono, Pengantar..............hlm, 93-97.
12
a. Menyusun rencana evaluasi hasil belajar. Perencanaan evaluasi hasil belajar itu
umumnya mencakup: 1) Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi. Hal ini
disebabkan evaluasi tanpa tujuan maka akan berjalan tanpa arah dan
mengakibat-kan evaluasi menjadi kehilangan arti dan fungsinya. 2) Menetapkan
aspek-aspek yang akan dievaluasi, misalnya aspek kognitif, afektif atau
psikomotorik. 3) Memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di
dalam pelaksanaan evaluasi misalnya apakah menggunakan teknik tes atau non
tes. 4) Menyusun alat-alat pengukur yang dipergunakan dalam pengukuran dan
penilaian hasil belajar peserta didik, seperti butir-butir soal tes. 5) Menentukan
tolok ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan
dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi. 6) Menentukan
frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri.
b. Menghimpun data dalam evaluasi pembelajaran, wujud nyata dari kegiatan
menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya dengan
menyelenggarakan tes pembelajaran.
c. Melakukan verifikasi data dimaksudkan untuk memisahkan data yang baik
(yang dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu
atau sekelompok individu yang sedang dievaluasi dari data yang kurang baik
(yang akan mengaburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut
serta diolah).
d. Mengolah dan menganalisis data hasil evaluasi dilakukan dengan memberikan
makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi.
e. Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan, interpretasi terhadap data
hasil evaluasi belajar pada hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna
yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan
penganalisisan.
f. Tindak lanjut hasil evaluasi Bertitik tolak dari data hasil evaluasi yang telah
disusun, diatur, diolah, dianalisis dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa
makna yang terkandung di dalamnya, maka pada akhirnya evaluasi akan dapat
mengambil keputusan atau merumuskan kebijakankebijakan yang akan
dipandang perlu sebagai tindak lanjut dari kegiatan evaluasi tersebut.
Dalam Al quran, terdapat beberapa ayat yang dapat dikaitkan dalam pengertian
pendidikan dan teknik evaluasi yang tersebar dibeberapa surah, seperti al-inba’, al-
hisab, al-bala’ .

13
1. Al-Inba’ terdapat dalam surat Al-Baqarah (2): 31 sebagaimana Allah
berfirman:

Terjemahnya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-


benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat
lalu berfirman: “sebutkanlah kepadaku nama benda-benda itu jika kamu
memang orang-orang yang benar ”Allah berfirman: “Bukankah sudah ku
katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit
dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan?”30
Evaluasi pertama ditujukan kepada Malaikat dengan firman Allah:
anbiuni bi asmai haulai in kuntum shadiqin, untuk menguji argumentasi
yang dikemukakan oleh malaikat yang meragukan eksistensi Adam sebagai
khalifah dengan membanggakan keutamaan yang dimilikinya yaitu
senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Allah. Al-Maraghi
mengulas ayat ini: Apakah Tuhan hendak menjadikan seseorang yang
sifatnya sedemikian itu sebagai khalifah. Sedangkan kami (para malaikat)
adalah makhluk-Mu yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan). Namun
ternyata pengetahuan tasbih, tahmid dan taqdis yang dimiliki Malaikat tidak
dapat dikembangkan sebagaimana kemampuan Adam, karena mereka tidak
dapat menjabarkan pada keadaan sekitarnya. Sedangkan pada diri manusia
telah disediakan alat untuk bisa meraih kemampuan secara sempurna di
bidang ilmu pengetahuan, lebih jauh jangkauannya dibanding Malaikat.31
Al-Inba’ adalah evaluasi dalam bentuk dialog atau tes lisan yang
membutuhkan pengembangan dalam jawaban. Hal ini dimiliki manusia
(Adam) tetapi tidak dimiliki oleh Malaikat. Kemudian Allah mengarahkan
evaluasi kepada Adam untuk menguji kemampuannya terhadap ilmu yang
telah diajarkan kepadanya dan ternyata Adam dapat menjawab dan
menjelaskan pertanyaan-pertanyaan itu dengan lancar. Karena kemampuan
Adam dalam menyelesaikan seluruh pertanyaan dalam evaluasi tersebut,
30
Al quran dan Terjemanahannya, Mushaf Fatimah..............hlm. 6.
31
Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi. Terjemahan oleh Bahrun Abubakar, (Semarang:
Toha Putra, 1985), hlm, 127.
14
maka Allah memberikan penghargaan kepadanya dengan memerintahkan
kepada Malaikat supaya bersujud (memberikan penghormatan) kepada
Adam. Tes ini sama dengan placement test, atau test untuk menentukan
penempatan peserta didik apakah di kelas A atau di kelas B. Juga dikenal
dengan fit and proper test atau uji kelayakan, yakni tes yang biasa dilakukan
pada pejabat yang akan menduduki posisi penting dalam pemerintahan dan
sebagainya.32

2. Al-Hisab yang diterjemahkan perhitungan, semakna dengan evaluasi. Di


dalam QS. Al-Baqarah (2) : 202 Allah berfirman:

Artinya: Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa


yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungannya.33

Allah menganugerahi hasil yang baik yakni hasil evaluasi yang


diberikan adalah berdasarkan hasil kerja mereka. Bila pekerjaannya baik
maka dia akan memperoleh hasil yang membahagiakan yaitu surga. Namun
bila hasil evaluasinya buruk karena pekerjaannya jelek maka dia akan
memperoleh hasil yang mengecewakan berupa siksa neraka. Al-hisab
adalah prinsip evaluasi yang berlaku umum, mencakup teknik dan prosedur
evaluasi Allah terhadap makhluknya. Al-hisab sering diikuti dengan lafal
sari’ (cepat). Di akhirat kelak perhitungan hasil evaluasi manusia dilakukan
sangat cepat.34
3. Al-Bala’ yang diartikan cobaan dan ujian, ibtala’ atau menguji, mencoba
banyak digunakan oleh Allah dalam mengungkapkan bentuk ujian yang
disebutkan, nama bahan ujiannya atau dengan istilah pendidikan mata
kuliah, bidang studi atau mata pelajaran. Sehingga dalam penggunaan kata
ini dalam Al quran selalu menyebutkan nama-nama yang diujikan,
diantaranya seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah (2): 155

32
Syahril, Jurnal.............Hlm, 312-313.
33
Al quran dan Terjemanahannya, Mushaf Fatimah.............hlm, 31.
34
Syahril, Konsep Evaluasi..................hlm, 314.
15
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit
ketakutan, kelaparan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar.35

Ayat di atas merinci bahan ujian (materi evaluasi) yaitu terdiri dari:
ketakutan, kelaparan kekurangan harta, kematian, kurang bahan makanan
dan sebagainya. Maka hanya orang-orang yang sabar, yang mampu keluar
dari kesulitan dengan tidak menggadaikan imannya tetapi lulus dalam ujian
untuk memantapkan imannya. Ciri-cirinya dapat dilihat yakni, dia tidak
bergembira berlebih-lebihan dengan kesenangan yang diperolehnya tetapi
bersyukur dan mengeluarkan sebagian yang wajib dikeluarkan atau
bersedaqah, dan tidak pula bersedih yang menjadikan putus asa karena
penderitaan yang dialaminya. Bila dikaitkan dengan pendidikan, maka nilai
buruk yang diperolehnya tidak menjadikan dia lengah dari nilai buruk yang
diperolehnya, karena dia sabar atau tabah dalam menghadapi kesulitan.36

BAB III
PENUTUP
35
Al quran dan Terjemanahannya, Mushaf Fatimah.............hlm, 24.
36
Syahril, Konsep Evaluasi..................hlm, 315.
16
A. Kesimpulan
Evaluasi pendidikan adalah suatu kegiatan yang berisi mengadakan
pengukuran dan penilaian terhadap keberhasilan pendidikan dari berbagai aspek
yang berkaitan dengannya. Dengan kata lain, evaluasi pendidikan adalah kegiatan
mengukur dan menilai terhadap sesuatu yang terjadi dalam kegiatan pendidikan.
Term evaluasi dalam Islam tidak dapat ditemukan padanan yang pasti, tapi term-
term yang mengarah kepada evaluasin terdapat kata: Al-Hisab, Al-Bala’, Al-Hukm,
Al-Qadha, Al Nazhar, Al Imtihan (menghitung, cobaan, vonis, putusan,
melihat,ujian).
Tujuan paedagosis sistem evaluasi dalam Islam adalah menguji keimanan
manusia dalam menghadapi persoalan hidup, untuk mengetahui sejauh mana
pendidikan wahyu yang telah dilakukan Rasulullah dan untuk mengetahui tingkat
ke Islaman dan keimanan manusia. Fungi evaluasi dala m Islam adalah: islah,
tazkiyah, tajdid, dan tadkil (perbaikan, penyucian, modernisasi, komponen-
komponen pendidikan, dan laporan hasil pendidikan). Sedangkan prinsip evaluasi
pendidikan Islam adalah berkesinambungan, menyeluruh, objektivitas, validitas,
reabilitas, efesiensi, dan ta’abudiyah.

B. Saran
Demikian makalah yang telah disusun. Penulis menyadari dalam
penyususan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis
membutuhkan sumbangsih kritik maupun saran yang konstruktif demi perbaikan
makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat dan menambah keilmuan dan
pengetahuan kita. Amin

DAFTAR PUSTAKA

Al quran dan Terjemanahannya, Mushaf Fatimah, Jakarta: PT Insan Media Pustaka,


2013.

17
Arifin, M, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara. 1991.

Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara,


1993.

Barnawi, Novan Ardy Wiyani, Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta: Ar-Ruzz


Media, 2012.

Musthafa, Ahmad, Tafsir Al-Maraghi. Terjemahan oleh Bahrun Abubakar,


Semarang: Toha Putra, 1985.

Nata, Abuddin Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2010.

Purwanto, Ngalim, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT.


Remaja, Rosda Karya, 2004.

Sudjana, Nana Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru 2002.

Syahril, Konsep Evaluasi Pendidikan Dalam Perspektif Alquran, Jurnal Hunafa,


Vol 4, No.4: 2007.

Sudijono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada,


2006.

Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, Jakarta: Bumi Aksara,


2008.

18

Anda mungkin juga menyukai