Anda di halaman 1dari 20

AUDIT KEUANGAN NEGARA

“STANDAR AUDIT SEKTOR PUBLIK”

Dosen Pengampu:

MUHAMMAD AHYARUDDIN SE.,M.Sc.,AK

Oleh Kelompok :

ENI ARNITA (150301137)

NUR FAUZIAH BUSRA (150301231)

YOLA OKTALIZA (150301187)

YOSNIDAR (150301136)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN AKUNTANSI

T.A 2017/2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada awal tahun 2007, BPK berhasil menyelesaikan penyusunan standar pemeriksaan yang
diberi nama “Standar Pemeriksaan Keuangan Negara” atau disingkat dengan SPKN yang
dipayungi dengan peraturan BPK-RI No. 1 Tahun 2007 sebagai pengganti standar pemeriksaan
sebelumnya yaitu standar audit pemerintah (SAP) 1995.
Audit sektor public merupakan landasan tata kelola sektor publik yang baik. Dengan
menyediakan tujuan, penilaian tujuan apakah sumber daya public secara bertanggung jawab
dan efektif untuk mencapai hasil yang diharapkan, auditor membantu organisasi pemerintah
mencapai akuntabilitas dan intergritas, meningkatkan operasi, dan menanamkan kepercayaan
antara warga dan pemangku kepentingan. Peran auditor public mendukung tanggung jawab tata
kelola pengawasan, wawasan, dan pandangan kedepan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu Standar Auditt Sektor Publik ?

C. TUJUAN
1. Untuk memahami Standar Audit Sektor Publik.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. PERKEMBANGAN STANDAR AUDIT SEKTOR PUBLIK

Pada ICA (International Congress cof Accounting) ke 10 di Sidney, Australia pada tahun 1972
untuk membentuk organisasi profesi akuntan internasional guna mengembngkan standar-
standar akuntansi yang patut diterima secara universal. Kemudian, dibentuklah International
Cordinator Committee Accounting Profession (ICCAP) dan International Accounting S’andars
Communitee (IASC) Pada tahun 1973. Pada bulan Agustus 1972, Badan Pembina Pasar Uang dan
Modal membentuk panitia penghimpunan Bahan-bahan dan struktur Generally Accepted
Accounting Principles and Generally Accepted Auditing Standard.
Pada awal tahun 2007, BPK berhasil menyelesaikan penyusunan standar pemeriksaan yang
diberi nama “Standar Pemeriksaan Keuangan Negara” atau disingkat dengan SPKN yang
dipayungi dengan peraturan BPK-RI No. 1 Tahun 2007 sebagai pengganti standar pemeriksaan
sebelumnya yaitu standar audit pemerintah (SAP) 1995.

B. STANDAR AUDIT SEKTOR PUBLIK


Audit sektor public merupakan landasan tata kelola sektor publik yang baik. Dengan
menyediakan tujuan, penilaian tujuan apakah sumber daya public secara bertanggung jawab
dan efektif untuk mencapai hasil yang diharapkan, auditor membantu organisasi pemerintah
mencapai akuntabilitas dan intergritas, meningkatkan operasi, dan menanamkan kepercayaan
antara warga dan pemangku kepentingan. Peran auditor public mendukung tanggung jawab tata
kelola pengawasan, wawasan, dan pandangan kedepan.
Dalam praktik di Indonesia, standard audit public yang dikenal adalah standard pemeriksaan
keuangan Negara. Standard keuagan pemeriksaan Negara adalah sebuah standard pemeriksaan
memuat persyaratan professional pemeriksa, butuh pelaksanaan pemeriksa dan persyaratan
pelaporan pemeriksa propesional.
Standard pemeriksaan keuangan Negara disusun untuk memenuhi pasal 5 UU NO 15 Tahun
2004 tentang pemriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara dan pasal 9 ayat 1
3
hurup e UU No 15 tahun 2006 tentang badap pemeriksa keuangan. Tujuan pembuatan standard
keuangan adalah untuk menjadi ukuran mutu bagi para pemeriksa dan organisasi pemeriksa
dalam melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara.
Berikut disajikan standard yang ada dalam standard pemeriksaan keuangan Negara:
1. Standar Umum
Standar umum ini berkaitan dengan ketentuan dasar untuk menjamin kredibilitas hasil
pemeriksaan. Standard umum ini memberikan kerangka dasar untuk dapat menerapkan
standard pelaksanaan dan standard pelaporan secara efektif. Dengan demikian sandar umum
harus diikuti oleh semua pemeriksaan dan organisasi yang melakukan pemeriksaan berdasarkan
standar pemeriksaan.
 Pernyataan standar umum yang pertama adalah tentang persaratan kemampuan atau
keahlian yaitu pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan propesional yang
memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan
 Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan organisasi pemeriksaan
dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dan gangguan pribadi,
eksternal, dan organisasi yang dapat memenuhi indepedensi.
 Dalam pelaksanaan pemeriksaan serta penyusunan laporan hasil pemeriksaan, pemerika
wajib menggunakan professional kemahirannya, secara cermat dan seksama.
 Setiap organisasi pemeriksaan yang melaksanakan pemeriksaan berdasarkan standard
pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai, dan sistem mutu
tersebut harus direviuw harus pihak lain yang kompeten (pengendalian mutu eksternal).

2. Standar Pemeriksa Keuangan


Untuk memeriksa standard keuangan memberlakukan 3 pernyataan standard pekerja lapangan
yang ditetapkan IAI yaitu:
 Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan tenaga asisten harus di
supervise terlebih dahulu
 Pemahaman yang memadai atas pengendalian internal harus diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan
dilakukan.

4
 Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan
pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasr memadai untuk menyatakan pedapat atas laporan
keuangan yang diaudit.
Standar pemeriksaan menetapkan standar pelaksanaan tambahan berikut:
 Komunikasi pemeriksa
 Pertimbangan terhadap hasil pemeriksa sebelumnya
 Merancang pemeriksaan untuk medeteksi terjadinya penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan, kecurangan (fraund), serta ketidakpatuhan (abouse)
 Pengembangan temuan pemeriksaan
 Dokumentasi pemeriksaan
Standar pelaporan pemeriksaan keuangan
 Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan disajikan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum diindonesia, atau prinsip akuntansi yang ain yang
berlaku secara komprehensif
 Laporan auditor harus menunjukan, jika ada ketidak konsistenan penerapan prinsip
akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingka dengan
penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
 Pengungkapan informative dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan audit
 Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan
secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan.
Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan maka alasnnya harus dinyatakan.
Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan keuangan auditor
harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sfat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika
ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipiul auditor.
Standar pemeriksaan menetapkan standar pelaporan tambahan berikut :

a. Pernyataan Kepatuhan terhadap Standar Pemeriksaan.

Pernyataan standar pelaporan tambahan pertama adalah : "Laporan hasil pemeriksaan harus
menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan Standar Pemeriksaan".

b. Pelaporan tentang Kepatuhan terhadap Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan.

5
Pernyataan standar pelaporan tambahan kedua adalah : "Laporan hasil pemeriksaan atas
laporan keuangan harus mengungkapkan bahwa pemeriksa telah melakukan pengujian atas
kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berpengaruh langsung
dan material terhadap penjanjian laporan keuangan".

c. Pelaporan tentang Pengendalian Intern.

Pernyataan standar pelaporan tambahan ketiga, adalah : Laporan atas pengendalian internal
harus mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian internal atas pelaporan keuangan yang
dianggap sebagai "kondisi yang dapat dilaporkan".

d. Pelaporan Tanggapan dari Pejabat yang Bertanggung Jawab.

Pernyataan standar pelaporan tambahan keempat adalah : "Laporan hasil pemeriksaan yang
memuat adanya kelemahan dalam pengendalian intern kecurangan, penyimpangan dari
ketentuan peraturan perundang-undangan, dan ketidakpatutan harus dilengkapi tanggapan dari
pimpinan atau pejabat yang bertanggung Jawab pada entitas yang diperiksa mengenai temuan
dan rekomendasi serta tindakan koreksi yang direncanakan".

e. Pelaporan Informasi Rahasia.

Pernyataan standar pelaporan tambahan kelima adalah : "Informasi rahasia yang dilarang oleh
ketentuan peraturan perundang-undangan untuk diungkapkan kepada umum tidak
diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan. Namun laporan hasil pemeriksaan perundang-
undangan yang menyebabkan tidak dilaporkan nya informasi tersebut".

f. Penerbitan dan Pendistribusian Laporan Hasil Pemeriksaan.

Pernyataan standar pelaporan tambahan keenam adalah : "Laporan hasil pemeriksaan


diserrahkan kepada lembaga perwakilan, entitas yang diperiksa, pihak yang mempunyai
kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa, pihak yang bertanggung jawab untuk
melakukan tindak lanjud hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain yang diberi wewenang untuk
6
menerima laporan hasil pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku”.

3. tandar Pemeriksaan Kinerja


Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja
a. Perencanaan
Pernyataan standar pelaksanaan pertama adalah : “Pekerjaan harus direncanakan secara
memadai”.
Dalam merencanakan pemeriksaan, pemeriksa (auditor) terlebih dahulu harus
mendefinisikan ujuan pemeriksaan, dan lingkup serta metodologi pemeriksaan untuk mencapai
tujuan pemeriksaan tersebut. Tujuan pemeriksaan adalah mengungkapkan apa yang ingin
dicapai dari pemeriksaan tersebut. Lingkup pemeriksaan adalah batas pemeriksaan dan harus
terkaitt langsung dengan tujuan pemeriksaan. Metodologi pemeriksaan mencakup jenis dan
perluasan prosedur pemeriksaan yang diggunakan untuk mencapai tujuan pemeriksaan.
Prosedur pemerriksaan adalah langkah-langkah pemeiksaan dan cara-cara pengujian yang akan
dilaksanakan oleh pemeriksaan untuk mencapai tujuan pemeriksaan.
Dalam merencanakan sesuatu pemeriksaan kineja, pemeriksa (audior) harus :
 Mempertimbangkan signifikansi masalah dan kebutuhan pottecial pengguna laporan hasil
pemeriksaan.
 Memperoleh suatu pemahaman menenai pogram yang diperiksa.
 Mempertimbangkan pengendalian internal.
 Merancang pemeriksaan untuk mendeteksi terjadinya penyimpanggan dari ketentuan
peraturan perundang-udangan, kecuranga, dan ketidakpatutan.
 Mengidentifikasi kriteria yan diperlukan untuk mengevaluasi hal-hal yang harus diperiksa.
 Mengidentifikasi temuan pemeiksaan dan rekomendasi yang signifikan terlebih dahulu
yang dapat memengaruhi tujuan pemeriksaan.
 Mempertimbangkan apakah pekerjaan pemeriksaan lain dan ahli lainnya dapat digunakan
untuk mencapai beberapa tujuan pemeriksaan yang telah ditetapkan.
 Menyediakan pegawai atau staf yang cukup dan sumber daya lain untuk melaksanakan
pemeriksaan.
7
 Mengomunikasikan informasi mengenai tujuan pemeriksaan serta informasi umum
lainnya yang berkaitan dengan rencana dan pelaksanaan pemeriksaan tersebut kepada
manajemen dan pihak-pihak lain yang terkait.
 Mempersiapkan suatu rencana pemeriksaan tertulis.

b. Supervisi
Pernyataan standar pelaksanaan kedua adalah : “Staf harus disupervisi dengan baik”.
Supervisi mencakup pengarahan kegiatan pemeriksa dan pihak lain (seperti tenaga ahli
yang terlibat dalam pemeriksaan) agar tujuan pemeriksaan dapat dicapai.

c. Bukt
Pernyataan standar pelaksanaan ketiga adalah : “Bukti yang cukup, kompeten, dan relevan
harus diperoleh untuk menjadi dasar yang memadai bagi temuan dan rekomendasi peeriksa.”
Dalam mengidentifikasikan sumber-sumber data potensial yang dapat digunakan
sebagai bukti pemeriksaan, pemeriksa harus mempertimbangkan validitas dan keandalan data
tersebut, termasuk data yang dikumpulkan oleh entitas yang diperiksa, data yang disusun oleh
pemeriksa, atau data yang diberikan oleh pihak-pihak tersebut.

d. Dokumentasi pemeriksaan
Pernyataan standar pelaksanaan keempat adalah : “Pemeriksa harus mempersiapkandan
memelihara dokumen pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja pemeriksaan. Dokumen
pemeriksaan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pemeriksaan
harus berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman tetapi
tidak mempunyai hubungan dengan pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa dokumen
pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung temuan, simpulan, dan
rekomendasi pemeriksa”.
Dokumen pemeriksaan memberikan tiga manfaat, yaitu :
 Memberikan dukungan utama terhadap laporan hasil pemeriksaan.

8
 Membantu pemeriksaan dalam melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan
pemeriksaan.
 Memungkinkan orang lain untuk me-review kualitas pemeriksaan.
Didalam dokumen pemeriksaan harus berisi :
 Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan, termasuk kriteria pengambilan uji-petik
yang digunakan.
 Dukumentasi pekerjaan yang dilakukan digunakan untuk memdukung pertimbangan
profesional dan temuan pemeriksaan.
 Bukti tentang supervisi terhadap pekerjaan yang dilakukan.

4. Standar Pelaporan Pemeriksaan Kinerja


a. Bentuk
Pernyataan standar pelaporan pertama adalah : “Pemeriksa harus membuat laporan hasil
pemeriksaan untuk mengomunikasikan setiap hasil pemeriksaan”.
Laporan pemeriksaan berfungsi untuk :
 Mengomunikasikan hasil pemeriksaan kepada pihak yang berwenang berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
 Membuat hasil pemeriksaan terhindar dari kesalahpahaman.
 Membuat hasil pemeriksaan sebagai bahan untuk melakukan tindakan perbaikan oleh
instansi terkait.
 Memudahkan pemantauan tidak lanjut untuk menentukan pengaruh tindakan perbaikan
yang semestinya telah dilakukan.

b. Isi Laporan
Pernyataan standar pelaporan kedua adalah :
Laporan hasil pemeriksaan harus mencakup :
(a) Pernyataan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan Standar Pemeriksaan.
(b) Tujuan, lingkup dan metodologi pemeriksaan.
(c) Hasil pemeriksaan berupa pemeriksaan, simpulan, dan rekomendasi.

9
(d) Tanggapan pejabat yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan.
(e) Pelaporan informasi rahasia apabila ada.

c. Unsur-Unsur Kualitas Laporan


Pernyataan standar pelaporan ketiga adalah : “Laporan hasil pemeriksaan harus tepat waktu,
lengkap, akurat, objektif, meyakinkan, serta jelas, dan seringkas mungkin”.
(1) Tepat Waktu. Agar suatu informasi bermanfaat secara maksimal, maka laporan hasil
pemeriksaan harus tepat waktu.
(2) Lengkap. Agar menjadi lengkap, laporan hasil pemeriksaan harus memuat semua
informasi dari buktti yang dibutuhkan.
(3) Akurat. Akurat berarti bukti yang disajikan benar dan ttemuan itu disajikan dengan tepat.
(4) Objekttif. Objekttivitas berarti penyajian seluruh laporan harus seimbang dalam isi dan
nada.
(5) Menyakinkan. Agar meyakinkan, maka laporan harus dapat menjawab tujuan
pemeriksaan, menyajikan temuan, simpulan, dan rekomendai yang logis.
(6) Jelas. Laporan harus mudah dibaca dan dipahami.
(7) Ringkas. Laporan yang ringkas adalah laporan yang tidak lebih panjang dari yang
diperlukan untuk menyampaikan dan mendukung pesan.

d. Penerbitan dan Pendistribusian Laporan Hasil Pemeriksaan


Pernyataan standar pelaporan keempat, adalah : “Laporan hasil pemeriksaan diserahkan
kepada lembaga perwakilan, entitas yang diperiksa, pihak yang mempunyai kewenangan untuk
mengatur entitas yang diperiksa, pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan tidak lanjut
hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain yang diberi wewenagn untuk menerima laporan hasil
pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

5. Standar Pemeriksaan Untuk Tujuan Terentu


(a) Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Untuk Tujuan Tertentu
Hubungan dengan Standar Prefesional Akuntan Publik Yang Ditetapkan oleh IAI

10
Untuk pemeriksaan dengan tujuan tertentu, Standar Pemeriksaan memberlakukan dua
pernyataan standar pekerjaan lapangan perikatan/penugasan atestasi SPAP yang ditetapkan IAI
berikut :
 Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan sistem harus disupervisi
dengan semestinya.
 Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar rasional bagi simpulan yang
dinyatakan dalam laporan.

Standar Pemeriksaan menetapkan standar pelaksanaan tambahan Pemeriksaan dengan


Tujuan Tertentu berikut :
 Komunikasi Pemeriksaan
Pernyataan standar pelaksanaan tambahan pertama adalah : “Pemeriksaan harus
mengomunikasikan informasi yang berkaitan dengan sifat, saat, dan lingkup pengujian serta
laporan yang direncanakan atas hal yang akan dilakukan pemeriksaan, kepada manajemen
enitas yang diperiksa dan atau pihak yang meminta pemeriksaan”.
 Pertimbangan terhadap hasil pemeriksaan sebelumnya
Pernyataan standar pelaksanaan tambahan kedua adalah : “Pemeriksaan harus
mempertimbangkan hasl pemeriksaan sebelumnya serta tindak lanjut atas rekomendasi yang
signifikan dan berkaitan dengan hal yang diperiksa”.
 Pengendalian Internal
Pernyataan standar pelaksanaan tambahan ketiga adalah : “Dalam merecanakan Pemeriksaan
Dengan Tujuan Tertentu dalam bentuk eksaminasi dan merancang prosedur untuk mencapai
tujuan pemeriksaan, pemeriksa harus memperoleh pemahaman yang memadai tentang
pengendalian internal yang bersifat material terhadap hal yang diperiksa”.
 Merancang pemeriksaan untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan dar ketentuan
peraturan perundang-undangan; kecurangan (Fraud), serta ketidakpatutan (abuse).
 Dukumentasi Pemeriksaan
Pernyataan standar pelaksanaan tambahan kelima adalah : “Pemeriksa harus mempersiapkan
dan memelihara dokumentasi pemeriksaan dlam bentuk kertas kerja pemeriksaan.

11
Dokumentasi pemeriksaan yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan
pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan pemeriksaan yang
berpengalaman tetapi tidak mempunyai hubungan dengan pemeriksaan tersebut dapat
memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan tersebut saat menjadi bukti yang mmendukung
pertimbangan dan simpulan pemeriksaan”.

(b) Standar Pelaporan Pemeriksaan Untuk Tujuan Tertentu


Hubungan dengan Standar Profesional Akuntan Publik yangg Ditetapkan oleh IAI
Untuk pemeriksaan dengan tujuan tertentu, Standar Pemeriksaan memberikan empat
pernyataan standar pelaporan perikatan/penugasan atestasi dalam SPAP yang ditetapkan IAI
sebagai berikut :
o Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan menyatakan sifat perikatan atestasi
yang bersangkutan.
o Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai apakah asersi disajikan sesuai
dengan standar yang telah sitetapkan atau kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat
pengukur.
o Laporan harus menyatakan semua keberatan praktisi yang signifikan tentang perikatan dan
penyajian asersi.
o Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi yang disusun berdasarkan kriteria
yang disepakati atau berdasarkan sutu perikatan untuk melaksanakan prosedur yang
disepakati harus berisi suatu pernyataan tentang keterbatasan pemakaian laporan hanya
oleh pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau prosedur tersebut.

Standar pemeriksaan menetapkan standar pelaporan tambahan pemeriksaan dengan


tujuan tertentu sebagai berikut :
 Pernyataan kepatuhan terhadap standar pemeriksaan
Pernyataan kepatuhan pelaporan tambahan pertama adalah : “Laporan hasil pemeriksaan
harus menyatakan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan Standar Pemeriksaan”.

12
 Pelapolar tentang kelemahan pengendalian internal, kecurangan, penyimpangan dari
ketentuan peraturan perundang-undangan.
 Pelaporan tanggapan dari pejabat yang bertanggung jawab
Pernyataan standar pelaporan tambahan ketiga adalah : “Laporan Hasil pemeriksaan yang
memuat adanya kelemahan dalam pengendalian internal, kecurangan, penyimpangan dari
ketentuan peraturan perundangundangan, dan ketidakpatuan, harus dilengkapi tanggapan dari
pimpinan atau pejabat yang bertanggung jawab pada ntitas yang dieriksa mengenai temuan
dan simpulan serta tindakan koreksi yang direncanakan”.
 Pelaporan informasi rahasia
Pernyataan standar pelaporan tambahan keempat adalah : “Informasi rahasia yang dilarang
oleh ketentuan peraturan perundang-undangan untuk diungkapkan kepada umum tidak
diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan. Namun laporan hasil pemeriksaan harus
mengungkapkan sifat informasi yang tidak dilaporkan tersebut dalam ketenttuan peraturan
perundang-undangan yang menyebabkan tidak dilaporkan tersebut dan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang menyebabkan tidak dilaporkannya informasi tersebut”.
 Penerbitan dan pendistribusian laporan hasil pemeriksaan.
Pernyataan standar pelaporan tambahan kelima adalah : “Laporan hasil diserahkan kepada
lembaga perwakilan, entitas yang diperiksa, pihak yang mempunyai kewenangan untuk
mengatur entitas yang diperiksa, ihak yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut
hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain yang diberi wewenang untuk menerima lapoan hasil
pemeriksaan sesuai dengna ketentuan peraturan perundnag-undangan yang berlaku”.

C. FUNGSI STANDAR AUDIT SEKTOR PUBLIK


Jenis pemeriksaan standar audit adalah pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Dalam beberapa pemeriksaan, standar yang digunakan
unttuk mencapai tujuan pemeriksaan sangat jelas. Misalnya, jika tujuan pemeriksaan adalah
unttuk memberikan opii terhadap suatu laporan keuangan, maka sttandar yang berlaku adalah
Standar pemeriksaan keuangan. Namun demikian, untuk beberapa pemeriksaan lainnya,
13
mungkin terjadi tumpah-tindih tujuan pemeriksaan. Misalnya, jika ttujuan pemeriksaan adalah
untuk menentukan keandaklan ukuran-ukuran kinerja, maka pemeriksaan tersebutt bisa
dilakukan melalui pemeriksaan kinerja maupun pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
Apabila terdapat pilihan diantara standar-standar yang berlaku, pemeriksaan harus
mempertimbangkan kebutuhan pengguna dan pengetahuan pemeriksa, keahlian, dan
pengalaman dalam menentukan standar yang diikuti. Pemeiksaan haus mengikuti sttadar yang
berlaku bagi suau jenis pemeriksaan (Standar Pemeriksaan Keuangan, Sttandar Pemeriksaan
Kinerja, atau Standar Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu.
Standar audit berfungsi mengatur semua akttivitas pekerjaaan auditnya akunan publik.
Standar mengatau mulai dari syarat auditor misalnya independensi dan kompetensi auditor
sampai bagaimana memuat laporan audit. Hal ini mengakibatkan akuntan publik dapatt
melakukan pekerjaan audittnya :
a. Sesuai dengan syarat mnimal/kualiikasi auditor.
b. Melakukan perencanaan audit dengan jelas.
c. Melaksanakan audit dimeja ataupun di lapangan dengan baik, karena sudah diatur
dalam standar.
d. Melakukan pelaporan audit yang jelas.
Standar audit juga mengikat seorang auditor dengan etika profesinya karena pekerjaan
auditor dalam standar harus dilandasi dengan moral dan etika. Sehigga, dungsi standar auditt
dalam pekerjaan akuntan publik ini akan melandasi seluruh pekerjaan akuntan publik khisisnya
dalam bidang auditing.
Standar akan menjadi pedoman dan pegangan akuntan publik, shingga kewajiban dan
larangan akuntan publik dpat dipenuhi dengan baik. Standar audit berfungsi sebagai pengendali
secara preventif terhadap kecurangan, ketidakjujuan dan kelalaian. Standar audit juga dapatt
mendorong akunttan publik menggunakan kemahiran jabatannya, menjaga kerahasisaan
informasi/data yang diperoleh, melakukan pengendalian mutu, dan bersikap profesional.
D. KERANGKA PIKIR AUDIT SEKTOR PUBLIK

14
Pengawasan yang efektif oleh legislatif secara komprehensif,audit eksternal yang kompeten
dan didukung oleh standar internasional tentang audit memungkinkan pertanggungjawaban
atas pelaksanaan kebijakan fiskal dan pengeluaran. Kerangka pikir audit sektor publik adalah

1. Kerangka kelembagaan

Pengangkatan dan kekuasaan auditor harus tercakup dalam undang undang audit. Konstitusi
dan undang-undang yang relevan menyediakan bagi presiden untuk menunjuk auditor umum
dengan mandat untuk mengaudit semua badan pemerintah.

2. Pengaturan standar audit

Undang-undang audit memberdayakan auditor umum untuk menetapkan standar audit. Bidang
bidang praktik audit mendasar yaitu sebagai berikut : audit bukti, dokumentasi, audit
materialistis, penipuan, audit kesalahan, audit pendapat, perencanaan audit, mengendalikan
penilaian lingkungan, pengawasan pekerjaan staf audit.

3. Kode etik

Auditor umum harus mengadopsi kode etik INTONSAL. kode etik INTONSAL dianggap pelengkap
penting. Sebuah kode etik adalah pernyataan nilai dan prinsip-prinsip pekerjaan sehari-hari dari
para Auditor.

4. Akuntabilitas badan pemeriksa keuangan

Lembaga rencana pembangunan dalam memperkuat kantor auditor umum dengan membantu
dalam desain laporan keuangan tahunan yang dibutuhkan oleh UU keuangan publik.

5. Kemandirian

Undang-undang audit harus memberikan kemerdekaan yang efektif kepada Auditor umum
sebagaimana prinsip inti dari kemandirian.

6. Kualifikasi dan keterampilan auditor

15
Peningkatan pendidikan diperlukan untuk menetapkan standar yang diperlukan untuk pelatihan
dan pendidikan. Kualitas pendidikan akuntansi dan audit serta pengaturan pelatihan seharusnya
memenuhi kebutuhan akuntansi modern dan manajemen keuangan.

7. Pelatihan

Sebuah analisis keterampilan program berdasarkan standar internasional untuk kompetensi


harus dilakukan

8. Kompetensi audit

9. Jaminan audit

Di Indonesia standar pemeriksaan keuangan negara dan SPKN memiliki peran penting
dalam pelaksanaan tugas BPK yaitu sebagai patokan atau arahan pertahanan pemeriksaan
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara bagi pemeriksa.

SKPN berlaku bagi BPK dan akuntansi publik atau pihak lainnya yang melakukan
pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara untuk dan atas nama
badan pemeriksa keuangan. SKPN berisi tentang persyaratan profesional pemeriksa, mutu
pelaksanaan pemeriksaan dan persyaratan laporan pemeriksaan yang profesional.

E. OBJEK AUDIT SEKTOR PUBLIK

Objek audit pada dasarnya meliputi semua kegiatan organisasi sejak perencanaan, pelaksanaan
kegiatan operasional sampai dengan pelaporan pertanggungjawaban akhir periode dari suatu
organisasi atau lembaga. Terdapat tiga jenis organisasi atau lembaga yaitu .

a. Organisasi atau lembaga sektor komersial, yang bertujuan untuk mencari laba.

b. Organisasi atau lembaga sektor publik yang bertujuan murni nirlaba.

c. Kuasai sektor publik yaitu unit yang tidak semata-mata mencari laba.

Standar Nomenklatur

16
Didefinisikan sebagai daftar atau akun buku besar yang ditetapkan dan disusun secara sistematis
untuk memudahkan perencanaan.

Tujuannya Penyusunan Nomenklatur :

a. Mengindentifikasi data akuntansi secara fisik

b. Meringkas data

c. Mengklarifikasi rekening atau transaksi

d. Menyampaikan makna tertentu

F. PERSIAPAN PELAKSANAAN STANDAR AUDIT SEKTOR PUBLIK

Pada saat merencanakan Audit pada umumnya auditor mempertimbangkan pemahaman


entitas, review pengendalian internal, menilai resiko terjadinya penyimpangan dari hukum dan
peraturan, kecurangan,ketidakpatuhan, mengidentifikasi hasil audit terdahulu yang signifikan
dengan tujuan audit yang berjalan, mengidentifikasikan kriteria audit yang akan dipakai, dan
merencanakan metode audit yang tepat. Selanjutnya auditor melakukan pengumpulan bukti,
mengembangkan temuan, dan membuat kesimpulan dan rekomendasi (jika ada) audit.

Kesiapan Kapasitas Auditor

Pelatihan perlu diberikan pada para auditor untuk memenuhi standar umum
pemeriksaan yang pertama yang berbunyi "pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan
profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan" salah satu cara untuk
memenuhi standar tersebut adalah dengan memenuhi persyaratan pendidikan berkelanjutan
(SPKN paragraf 6 standar umum). Pelatihan perlu diberikan kepada para auditor dengan masa
kerja lebih dari lima tahun untuk selalu menyegarkan ingatan para auditor tentang perlunya
menjaga kualitas audit, sementara pelatihan yang diberikan kepada Auditor dengan kedudukan
sebagai pemimpin tim baik junior maupun senior dimaksudkan supaya auditor tidak merasa

17
bahwa bekal pengalaman mereka sudah cukup sehingga melupakan hal-hal penting yang perlu
dipertimbangkan dalam menyusun sebuah program kinerja audit.

Penentuan Format Laporan

Tahap pelaporan merupakan tahapan dalam audit sektor publik yang harus dilaksanakan
karena adanya tuntutan yang tinggi dari masyarakat atas pertanggungjawaban pengelolaan
sumber daya publik.

Florent dalam Hatherly( 1980) menyarankan bahwa pendahuluan laporan audit kinerja
meliputi :

a. Lingkup pekerjaan yang dilakukan

b. Aktivitas yang diuji

c. Maksud pengujian

d. Jenis pengujian

e. Dan kriteria pengukuran atau evaluasi.

Penentuan Aturan Audit

Standar auditing adalah sepuluh standar yang ditetapkan dan disahkan oleh institut Akuntan
Publik Indonesia (IAPI). IAPI berdiri di tahun 1957 yang merupakan perkumpulan akuntan
pertama di Indonesia.

Ikatan Akuntan Indonesia

Diawal masa kemerdekaan Indonesia, warisan dari penjajahan Belanda masih dirasakan
dengan tidak adanya satupun akuntan yang dimiliki dan dipimpin oleh bangsa Indonesia. Situasi
tersebut maka berdirilah perkumpulan akuntan Indonesia pada tanggal 23 Desember 1957 di
aula universitas Indonesia.

Ikatan Akuntan Indonesia - Seksi Akuntan Publik (IAI-SAP)

18
Dimasa pemerintahan orde baru, terjadi banyak perubahan signifikan dalam perekonomian
Indonesia, antara lain seperti terbitnya undang-undang penanaman modal asing(PMA) dan
penanaman modal dalam negeri (PMDN) serta berdirinya pasar modal. Maka pada tanggal 7
April 1977 IAI membentuk seksi akuntan publik sebagai wadah para akuntan publik di Indonesia
untuk melaksanakan program-program pengembangan akuntansi publik.

Ikatan Akuntan Indonesia - Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP)

Anggota IAI sepakat untuk memberikan hak otonomi kepada akuntan publik dengan
mengubah seksi akuntan publik menjadi Kompartemen Akuntan Publik.

Insttut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)

Setelah hampir 50 tahun sejak berdirinya perkumpulan akuntan Indonesia, tepatnya pada
tanggal 24 Mei 2007 berdirilah institut akuntan publik Indonesia (IAPI) sebagai organisasi
akuntan publik yang independen dan mandiri dengan berbadan hukum yang diputuskan melalui
rapat umum anggota luar biasa IAI -Kompartemen Akuntan Publik.

BAB III

PENUTUP
KESIMPULAN
Audit terhadap sektor publik sangat diperlukan karena instansi pemerintaha rentan akan
permasalah korupsi,kolusi serta rendahnya tingkat efisiensi dan efektifitas yang mampu
ditunjukan oleh pemerintah
Audit terhadap sektor publik harus memiliki standar yang jelas dan tegas agar dipatuhi oleh
instansi pemerintah. Pengawasan pelaksanaa terhadap audit sektor publik harus lebih
ditingkatkan untuk memperoleh perbaikan dalam kualitas audit terhadap sektor publik dan
tentu hal ini akan mengakibatkan meningkatnya kualitas laporan keuangan pemerintah yang
lebih bertanggung jawab.

19
DAFTAR PUSTAKA
Bastian, Indra. (2014). Audit Sektor Publik Pemeiksaan Pertanggungjawaban Pemerintah Edisi 3.
Salemba Empat, Jakarta

20