Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN ANALISIS MATERIAL

FTIR (FOURIER TRANSFORM INFRA RED)

Oleh:
Nama : Fian Rifqi Irsalina
NIM : 165090301111016
Kelompok : 4
Tanggal : 16 November 2018
Asisten : Tyas Nurul Zafirah

LABORATIORIUM FISIKA MATERIAL


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujauan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk diketahuinya prinsip kerja FTIR dan
dapat ditentukannya puncak-puncak absorpsi material gelas, polistirena, dan ZnPc.

1.2 Tinjauan Pustaka


Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu
sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan
spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan
spektrofotometri (Basset, 1994).
Prinsip kerja spektrofotometer inframerah adalah sama dengan
spektrofotometer yang lainnya, yaitu interaksi energi dengan suatu materi.
Spektroskopi inframerah berfokus pada radiasi elektromagnetik pada rentang
frekuensi 400-4000 cm - 1 wavelength), yang merupakan ukuran unit untuk
frekuensi. Untuk menghasilkan spektrum inframerah, radiasi yang mengandung
semua frekuensi di wilayah IR dilewatkan melalui sampel. Mereka frekuensi yang
diserap muncul sebagai penurunan sinyal yang terdeteksi. Informasi ini ditampilkan
sebagai spektrum radiasi dari% ditransmisikan bersekongkol melawan
wavenumber. Spektroskopi inframerah sangat berguna untuk analisis kualitatif
(identifikasi) dari senyawa organik karena spektrum yang unik yang dihasilkan oleh
setiap organik zat dengan puncak struktural yang sesuai dengan fitur yang berbeda.
Selain itu, masing-masing kelompok fungsional menyerap sinar inframerah pada
frekuensi yang unik. Sebagai contoh, sebuah gugus karbonil, C = O, selalu
menyerap sinar inframerah pada 1670-1780 cm-1 meregangkan (Silverstein, 2002).
Atom-atom di dalam suatu molekul tidak diam melainkan bervibrasi
(bergetar). Ikatan kimia yang menghubungkan dua atom dapat dimisalkan sebagai
dua bola yang dihubungkan oleh suatu pegas. Bila radiasi inframerah dilewatkan
melalui suatu cuplikan maka molekul-molekulnya dapat menyerap (mengabsorpsi)
energi dan terjadilah transisi di antara tingkat vibrasi dasar dan tingkat tereksitasi.
Contoh suatu ikatan C-H yang bervibrasi 90 triliun kali dalam satu detik harus
menyerap radiasi inframerah pada frekuensi tersebut untuk pindah ketingkat vibrasi
tereksitasi pertama. Pengabsorpsian energi pada frekuensi dapat dideteksi oleh
spektrofotometer infra merah yang memplot jumlah radiasi infra merah yang akan
memberikan informasi enting tentang tentang gugus fungsional suatu molekul
(Blanchard, 1986).
Tidak ada pelarut yang sama sekali transparan terhadap sinar IR, maka
cuplikan dapat diukur sebagai padatan atau cairan murninya. Cuplikan padat digerus
pada muortar kecil bersama Kristal KBr kering Dalam jumlah sedikit (0,5-2 mg
cuplikan sampai 100 mg KBr kering) campuran tersebut dipres diantara 2 sekrup
memakai kunci kemudian kedua sekrupnya dan baut berisi tablet cuplikan tipis
diletakkan di tempat sel spektrofotometer infrared dengan lubang mengarah ke
sumber radiasi (Hendayana, 1994).
Teknik spektroskopi IR digunakan untuk mengetahui gugus fungsional
mengidentifikasi senyawa , menentukan struktur molekul, mengetahui kemurnian
dan mempelajari reaksi yang sedang berjalan. Senyawa yang dianalisa berupa
senyawa organik maupun anorganik. Hampir semua senyawa dapat menyerap
radiasi inframerah (Mudzakir, 2008).
BAB II

METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah 1 set spektofotometer
FTIR, senyawa A1 (Polistirena yang sudah ditreatment dengan plasma), dan senyawa A2
(Polistirena).

2.2 Tatalaksana Percobaan


Pertama-pertama adalah disiapkan sampel (Polistirena yang sudah ditreatment
dengan plasma dan polistirena), kemudian sumber arus listrik dihidupkan, alat komputer
di ‘ON’-kan, alat FTIR di ‘ON’-kan, dan ditunggu. Pada komputer keluar administrator,
lalu di klik, kemudian muncul spectrum setelah diklik 2x pada komputer. Diletakkan
sampel A1 kemudian A2 ke sampel holder dan menempatkannya pada lintasan sinar alat
FTIR. Kemudian diisi dialog box dengan identitas sampel, diklik “sampel start”, dan
ditunggu. Spektra yang diperoleh akan muncul di layar komputer, jika picture (citranya)
jelek maka dapat dirapikan.
BAB III

ANALISA DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Hasil Percobaan

3.1.1 Sampel A1 (Polistirena yang sudah ditreatment dengan plasma)

A1
1.20E+00

1.00E+00

8.00E-01
Transmitance

6.00E-01

4.00E-01

2.00E-01

0.00E+00
0.00E+00 5.00E+02 1.00E+03 1.50E+03 2.00E+03 2.50E+03 3.00E+03 3.50E+03 4.00E+03 4.50E+03
Wave number

Grafik 3.1 Sampel A1

3.1.2 Sampel A2 (Polistirena)

A2
9.00E-01
8.00E-01
7.00E-01
6.00E-01
Transmitance

5.00E-01
4.00E-01
3.00E-01
2.00E-01
1.00E-01
0.00E+00
0.00E+00 5.00E+02 1.00E+03 1.50E+03 2.00E+03 2.50E+03 3.00E+03 3.50E+03 4.00E+03 4.50E+03
Wave number

Grafik 3.2 Sampel A2


3.2 Analisa Hasil

FTIR digunakan untuk melakukan analisa kualitatif yaitu untuk mengetahui ikatan
kimia (gugus fungsi) yang dapat ditentukan dari spektra vibrasi yang dihasilkan oleh suatu
senyawa pada panjang gelombang tertentu. Selain itu digunakan juga untuk analisa
kuantitatif yaitu melakukan perhitungan tertentu dengan menggunakan intensitas.
Prinsip kerja spektroskopi FTIR adalah adanya interaksi energi dengan materi.
Vibrasi dapat terjadi karena energi yang berasal dari sinar infrared tidak cukup kuat untuk
menyebabkan terjadinya atomisasi ataupun eksitasi elektron pada molekul senyawa yang
ditembak dimana besarnya energi vibrasi tiap atom atau molekul berbeda tergantung pada
atom-atom dan kekuatan ikatan yang menghubungkannya sehingga dihasilkan frekuaensi
yang berbeda pula.
Grafik di atas (3.1) dan (3.2) merupakan grafik yang didapat setelah melakukan
pengujian FTIR terhadap sampel polistirena yang sudah ditreatment dengan plasma dan
polistirena. Dapat dibaca bahwa pada grafik ada gambar yang diplot dalam koordinat
cartesian dengan sumbu x menunjukkan wave length dan sumbu y berupa transmitance.
gambar tersebut yang selanjutnya akan digunakan untuk menganalisis hasil uji. Seharusnya
terdapat data-data pendukung yang ada dibawahnya, data tersebut merupakan data
pendukung dari komputer yang muncul saat uji FTIR telah dilakukan dan berisi tentang
hasil yang didapat setelah pengamatan pada sampel uji. Berhubung kita mem-plot grafik
tersebut dengan menggunakan excel, maka data-data pendukung tersebut tidak ada dalam
grafik di atas.
Pada grafik 3.1 sampel polistirena yang sudah ditreatment dengan menggunakan
plasma, Semua spektrum inframerah mengandung banyak puncak, dapat dilihat terdapat 2
puncak tertinggi yang memiliki intensitas yang tinggi juga. Spektrum infrared dapat
dipisahkan menjadi empat wilayah. Rentang wilayah pertama dari 4.000 - 2.500. Rentang
wilayah kedua dari 2.500 - 2.000. Ketiga wilayah berkisar dari 2.000 - 1.500. Rentang
wilayah keempat dari 1.500 – 400. Kemudian dari grafik tersebut dapat dikelompokkan
fungsional yang diserap di wilayah ketiga. Jika spektrum memiliki karakteristik puncak
kisaran 2.000 hingga 1.500, puncak sesuai dengan penyerapan yang disebabkan oleh ikatan
rangkap seperti C=N dan C=C.
Tabel 3.1 Daerah Gugus Fungsi Pada Infrared

Tabel 3.2 Pita Absorpsi Infrared


Sumber: Handout Spektroskopi Infra Merah (Infrared Spectroscopy, IR) oleh: Susila
Kristianingrum
Pada grafik 3.1 dan 3.2 dapat dilihat jika pada kedua grafik ini menghasilkan puncak
yang berbeda-beda dikarenakan nilai transmitansi dan panjang gelombang yang dihasilkan
juga berbeda pada saat percobaan dilakukan. Polistirena sendiri termasuk senyawa aromtik.
Dimana gugus fungsinya CH dengan frekuensi, lingkungan spektral, dan nama
lingkungannya yang dapat dilihat pada tabel 3.2. Kemudian intensitasnya termasuk
kedalam kategori berubah-ubah (dapat dilihat pada tabel 3.1). Sampel polistirena yang
sudah ditreatment degan plasma tentunya menghasilkan nilai yang berbeda pada saat diuji
dengan alat FTIR (puncaknya berbeda). Contohnya adalah pada grafik 3.1, puncak di
wilayah satunya memiliki nilai transmitansi sebesar 0.6460978% dengan panjang
gelombang sebesar 605.5386 cm-1.
Sedangkan pada sampel kedua, sampel yang digunakan adalah polistirena. Sama
dengan sampel 1, yang membedakan adalah perlakuan yang digunakan (sampel 1
digunakan treatment plasma). Pada grafik 3.2 dapat dilihat (wilayah 1, puncak pertama)
nilai transmitansinya sebesar 501% dengan panjang gelombang 0.812 cm-1.
Inti-inti atom terikat oleh ikatan kovalen, sehingga mengalami vibrasi atau getaran
(osilasi), yaitu:
1. Vibrasi regangan (stretching vibration) adalah vibrasi yang menyebabkan
perubahan terus menerus pada jarak ikatan. Ada 2 jenis vibrasi regangan, yaitu:
vibrasi regangan simetris (symmetrical stretching) dan vibrasi regangan asimetris
(asymmetrical stretching).

Gambar 3.3 Regangan simetri dan regangan asimetri

Gambar 3.4 Regangan simetri dan regangan asimetri ilustrasi


2. Vibrasi tekuk (bending vibrating) adalah vibrasi yang menyebabkan perubahan
sudut ikatan. Ada 4 jenis vibrasi tekuk, yaitu rocking, scissoring, twisting, dan
wagging.

Gambar 3.5 Vibrasi rocking, scissoring, twisting, dan wagging

Gambar 3.6 Vibrasi rocking, scissoring, twisting, dan wagging ilustrasi


BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Prinsip kerja dari alat FTIR adalah interaksi antara materi berupa molekul senyawa
kompleks dengan energi berupa sinar infrared mengakibatkan molekul-molekul bervibrasi
dimana besarnya energi vibrasi tiap komponen molekul berbeda-beda tergantung pada
atom-atom dan kekuatan ikatan yang menghubungkannya sehingga akan dihasilkan
frekuensi yang berbeda. Adanya perbedaan tingkat energi vibrasi komponen molekul,
analisis spektroskopi inframerah dapat mengidentifikasi keberadaan komponen atau gugus
fungsi dalam molekul.

4.2 Saran
Praktikan harus lebih mendengarkan penjelasan dari asisten praktikum dan diberikan
contoh penggunaan alat dengan sampel yang lebih banyak dan berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA

Basset, J. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: EGC.

Blanchard, A Arthur. 1986. Synthetic Inorganic Chemisrty. New York:


John Willey & Sons Ltd.

Hendayana, Sumar, dkk. 1994. Kimia Analitik Instrumen. Semarang : IKIP Press.

Kristianingrum, Susila. 2005. Handout Spektroskopi Infra Merah


(Infrared Spectroscopy, IR).Yogyakarta: UNY.
Mudzakir, A. 2008 . Praktikum Kimia Anorganik. Bandung: Jurusan Pendidikan.

Silverstein. 2002. Identification of Organic Compund, 3rd Edition. New York:


John Wiley & Sons Ltd.
Skoog, Douglas A., F. James Holler, Stanley R. Crouch. 2017. Principles of
Instrumental Analysis. Canada: Cengage Learning.