Anda di halaman 1dari 38

PANDUAN

KESEHATAN DAN
KESELAMATAN KERJA
RSUD LAMANDAU

RSUD LAMANDAU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang unik dan kompleks yang difungsikan
untuk menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum. Semakin luas
pelayanan kesehatan dan fungsi rumah sakit tersebut, maka akan semakin kompleks
peralatan dan fasilitas yang dibutuhkan. Kerumitan tersebut menyebabkan rumah sakit
mempunyai potensi bahaya yang sangat besar, tidak hanya bagi pasien, tenaga medis dan
tenaga non medis, tetapi juga pengunjung rumah sakit.
Disadari ataupun tidak, potensi bahaya di rumah sakit sangat luas, selain penyakit –
penyakit infeksi juga ada potensi bahaya – bahaya lain yang mempengaruhi kesehatan
dan keselamatan manusia di rumah sakit. Yaitu potensi bahaya fisik, kimia, biologi,
ergonomi dan psikososial.
Perkembangan rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di
Indonesia akhir – akhir ini sangat pesat, baik dari jumlah maupun pemanfaatan teknologi
kedokteran. Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tetap harus
mengedepankan peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat dengan tanpa
mengabaikan upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di rumah sakit.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja di rumah sakit perlu mendapat perhatian serius
dalam upaya melindungki kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh proses
pelayanan kesehatan, maupun keberadaan sarana, prasarana, obat – obatan dan logistik
lainnya yang ada di lingkungan rumah sakit sehingga tidak menimbulkan kecelakaan
kerja, penyakit akibat kerja dan kedaruratan termasuk kebakaran dan bencana yang
berdampak pada pekerja rumah sakit, pasien, pengunjung dan masyarakat disekitarnya.
Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di RSUD Lamandau tahun 2018 (K3 RS
Tahun 2018) ini merupakan pedoman yang dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan
pengelolaan K3 RSUD Lamandau dan dapat mengantikan peran standar K3 RS terdahulu
yang dikenal dengan Kebakaran, Keselamatan Kerja dan Kewaspadaan Bencana.
Pedoman K3 RSUD Lamandau Tahun 2018 ini sebagai acuan lebih komprehensif karena
di dalamnya terdapat Standard Kesehatan Kerja yang mencakup standar penanggulangan
kebakaran dan kewaspadaan terhadap bencana.
Menyadari kompleksitas permasalahan K3 ini, untuk mengatur masalah terkait
keselamatan dan kesehatan kerja, pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan
perundangan di indonesia telah menetapkan berbagai macam peraturan maupun
perundangan terkait dengan permasalahan K3 ini, diantaranya dalam undang-undang
Nomor 23 tahun1992 tentang Kesehatan, pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan
dan Keselamatan kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya
tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau
mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Disamping itu pemerintah juga terus
memperhatikan dan mengatur masalah K3 ini melalui beberapa dokumen negara lainnya
seperti : Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang tertuang dalam
SK MENKES nomor 432/Menkes/SK/IV/2007 dan juga Standart Kesehatan dan
Keselamatan Kerja di Rumah Sakit yang tertuang dalam Kepmenkes RI nomor
1087/Menkes/VIII/2010 yang diharapkan dapat menjadi dasar hukum pelaksanaan K3.
Oleh karena itu, pihak pengelola RSUD Lamandau diharapkan dapat menerapkan
upaya – upaya yang mendukung terciptanya K3 di RS. Selain itu, agar penyelenggaraan
K3 RS lebih efisien, efektif dan terpadu, maka direktur RS memandang perlu di buatnya
suatu pedoman manajemen K3 di RSUD Lamandau yang di dalam nya melibatkan
pengelola dan seluruh pegawai RSUD Lamandau untuk mendukung tercapainya kondisi
kerja yang sehat dan selamat.
Standart K3 RSUD Lamandau tahun 2018 ini dibuat dengan mengacu pada berbagai
macam sumber baik itu Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1087/Menkes/VIII/2010,
standart K3 RS tahun 2009 yang diterbitkan oleh Depkes RI, Pedoman Manajemen K3
RS No. 432/Menkes/SK/IV/2007, dan juga sumber – sumber lain yang diharapkan dapat
diterapkan di seluruh Rumah Sakit sebagai bagian dalam pengelolaan Rumah Sakit dan
sebagai salah satu parameter penilaian Akreditasi Rumah Sakit yang diamanatkan oleh
Undang – Undang no 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

B. PENGERTIAN
a. Kesehatan Kerja Menurut WHO / ILO (1995)
Kesehatan Kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan
fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan,
pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi
pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor
yang merugikan kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu
lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara
ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada
pekerjaan atau jabatannya.
b. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat
kesehatan para pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat
kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan
rehabilitasi.
c. Manajemen K3 RSUD Lamandau
Suatu proses kegiatan yang dimulai dengan tahap perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan dan pengendalian yang bertujuan untuk membudayakan K3 di RS RSUD
Lamandau.

UPAYA K3 DI RSUD LAMANDAU


Upaya K3 di RS menyangkut tenaga kerja, cara/metode kerja, alat kerja, proses kerja
dan lingkungan kerja. Upaya ini meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan dan
pemulihan. Kinerja setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante
dari tiga komponen K3 yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja.
Adapun yang dimaksud dengan istilah tersebut diatas adalah:
a. Kapasitas kerja adalah kemampuan seorang pekerja untuk menyelesaikan
pekerjaannya dengan baik pada suatu tempat kerja dalam waktu tertentu.
b. Beban Kerja adalah suatu kondisi yang membebani pekerja baik secara fisik maupun
non fisik dalam menyelesaikan pekerjaannya, kondisi tersebut dapat diperberat oleh
kondisi lingkungan yang tidak mendukung secara fisik atau non fisik.
c. Lingkungan Kerja adalah kondisi lingkungan tempat kerja yang meliputi faktor fisik,
kimia, biologi, ergonomi dan psikososial yang mempengaruhi pekerja dalam
melaksanakan pekerjaannya.

KATEGORI (B3) BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN


Limbah medis dari suatu rumah sakit termasuk dalam kategori limbah bahan
berbahaya dan beracun (LB3) sesuai dengan PP 18 Tahun 1999 lampiran I daftar limbah
spesifik dengan kode limbah D 227. Dalam kode limbah D 227 tersebut disebutkan
bahwa limbah rumah sakit dan limbah klinis yang termasuk limbah B3 adalah limbah
klinik produk farmasi kadaluarsa, peralatan laboratorium terkontaminasi, kemasan
produk farmasi, limbah laboratorium, dan residu dari proses insenerasi. Adapaun kriteria
limbah B3 adalah sebagai berikut:
a. Memancarakan radiasi
Bahan yang memancarkan gelombang elektromagnetik atau partikel radioaktif
yang mampu mengionkan secara langsung atau tidak langsung materi bahan yang
dilaluinya, misalnya : Ir192, I131, Tc99, Sa153, sinar X, sinar alfa, sinar beta, sinar
gamma, dan lain-lain.
b. Mudah meledak
Bahan yang mudah membebaskan panas dengan cepat tanpa disertai
pengimbangan kehilangan panas, sehingga kecepatan reaksi, peningkatan suhu dan
tekanan meningkat pesat dan dapat menimbulkan peledakan. Bahan mudah meledak
apabila terkena panas, gesekan atau bantingan dapat menimbulkan ledakan.
c. Mudah menyala dan terbakar
Bahan yang mudah membebaskan panas dengan cepat tanpa disertai dengan
pengimbangan kehilangan panas, sehingga kecepatan reaksi yang menimbulkan nyala.
Bahan yang mudah menyala atau terbakar mempunyai titik nyala (flash point) rendah
(210C).
d. Oksidator
Bahan yang mempunyai sifat aktif mengoksidasi sehingga terjadi reaksi oksidasi,
menyebabkan reaksi keluar panas (eksothermis).
e. Racun
Bahan yang mempunyai sifat beracun bagi manusia atau lingkungan yang dapat
menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui
pernafasan kulit atau mulut.
f. Korosif
Bahan yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit, menyebabkan proses
pengkaratan pada lempeng baja (SAE 1020) dengan laju koordinasi lebih besar dari
6,35mm/tahun dengan temperatur uji 550C, mempunyai pH sama atau kurang dari 2
(asam) dan sama atu lebih dari 12,5 (basa).
g. Karsinogenik
Sifat bahan penyebab sel kanker, yakni sel luar yang dapat merusak jaringan
tubuh.
h. Iritasi
Bahan yang dapat menyebabkan peradangan pada kulit dan selaput lendir.
i. Teratogenik
Sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan embrio.
j. Mutagenik
Sifat bahan yang dapat mengakibatkan perubahan kromosom yang berarti dapat
merubah genetika.
k. Arus listrik

C. LATAR BELAKANG
Rumah sakit sebagai industri jasa padat karya, padat pakar, padat modal, padat
teknologi dituntut untuk snenatiasa mampu berkembang dalam memberikan pelayanan
kesehatan. Menimbang hal ini maka perlu disadari dengan baik dan diantisipasi agar
resiko timbulnya Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakaan Akibat Kerja baik dalam jangka
waktu yang lama maupun relatif singkat dapat dikurangi. Salah satu usaha awal yang
dapat diakukan untuk mengurangi terjadinya PAK dan KAK adalah mengenali potensi
bahaya yang ada di suatu rumah sakit. Potensi bahaya di rumah sakit selain pnyakit juga
terdapat berbagai hal lai yang secara umum adalah meliputi: potensi bahaya fisik, kimia,
biologic, ergoonomic, mekanik, listrik, kecelakaan, limbah rumah sakit maupun
psikososial.
Mengingat pentingnya permasalahan K3 di atas, maka pedoman, program dan
panduan terkait dengan pelaksanaan K3 di rumah sakit sangat diperlukan untuk
menciptakan keadaan sehat dan selamat di RS baik bagi pasien, keluarganya, pegawai
maupun pengelola rumah sakit.

D. TUJUAN DAN SASARAN PEDOMAN


Tujuan dari pedoman K3 RSUD Lamandau tahun 2018 ini terdiri dari tujuan umum
dan tujuan khusus yang penjabarannya ditunjukkan sebagai berikut:
a. Tujuan umum
Terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat dan produktif untuk SDM
RSUD Lamandau, aman dan sehat bagi pasien, pengunjung / pengantar pasien,
masyarakat dan lingkungan sekitar rumah sakit sehingga proses pelayanan rumah
sakit berjalan baik dan lancar.
b. Tujuan khusus
1. Terwujudnya organisasi kerja yang menunjang tercapainya K3RS
2. Meningkatkan kesadaran dalam K3 bagi manajemen, pelaksana dan pendukung
program.
3. Terpenuhinya syarat – syarat K3 di setiap unit kerja
4. Terlindunginya pekerja dan mencegah terjadinya PAK dan KAK.
5. Terselenggaranya program K3RS secara optimal dan menyeluruh.
6. Peningkatan mutu, citra dan produktivitas RSUD Lamandau.
c. Sasaran K3RSUD Lamandau Tahun 2018 adalah:
1. Pengelola rumah sakit (seluruh pegawai di semua unit kerja)
2. SDM yang ada di rumah sakit (pasien dan pengunjung pasien)

E. MANFAAT
a. Manfaat bagi rumah sakit
1. Meningkatkan mutu pelayanan dan citra rumah sakit
2. Mempertahankan kelangsungan operasional rumah sakit
b. Manfaat bagi pegawai
1. Melindungi pegawai dari Penyakit Akibat Kerja (PAK)
2. Melindungi terjadinya Kecelakaan Akibat Kerja (KAK)
c. Manfaat bagi pasien dan pengunjung
Meningkatkan tingkat kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan di RSUD
Lamandau yang meningkatkan kesadaran serta keselamatan dan kesehatan di RSUD
Lamandau.

F. RUANG LINGKUP CAKUPAN PEDOMAN


Pedoman standard K3RS mencakup program dan kebijakan pelaksanaan K3RS,
standar pelayanan K3RS, standar sarana, prasarana dan peralatan K3RS, pengelola
barang berbahaya, standar sumber daya manusia K3RS, pembinaan, pengawasan,
pencatatan dan pelaporan yang di dalamnya tercakup:
a. Semua tata cara dan laksana kegiatan/ tindakan baik medis maupun non medis.
b. Seluruh fasilitas yang ada di RSUD Lamandau
c. Seluruh lingkungan kerja, seluruh area rumah sakit.
G. BATASAN OPERASIONAL
Batasan operasional penyelenggaraan kegiatan K3 di RSUD Lamandau ini adalah:
a. Batasan pelaksanaan K3 tidak hanya pada pegawai RSUD Lamandau tetapi juga
pada pasien dan pengunjung pasien.
b. Alokasi anggaran keuangan pelaksanaan program dan kegiatan K3 ada di bawah
anggaran bidang umum dengan skala prioritas

H. LANDASAN HUKUM
a. SK Direktur No: tentang Pembentukan Tim K3
b. SK Direktur No: tentang Petunjuk Keselamatan Kerja, Kebakaran dan
Kewaspadaan Bencana.
c. SK Direktur No: tentang Peraturan Umum Keselamatan Kerja,
Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana.
d. Undang – undang No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
e. Undang – undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
f. Keputusan MENKES No 876/ MENKES/ SK/ VIII/ 2001 tentang Pedoman Teknis
Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan.
g. Keputusan MENKES No 1405/ MENKES/ SK/ XI/ 2002 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.
h. Kepmen KLH 58/ 1995, mengatur tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan
Rumah Sakit.
i. PP 18 tahun 1990 jo PP 85 tahun 1999, mengatur tentang Pengelolaan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun.
j. Kepdal 01 – 05 tahun 1995 tentang Pengelolaan Limbah B3. Limbah medis dari
suatu rumah sakit termasuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun
(LB3) sesuai dengan PP 18 Tahun 1999 lampiran I daftar limbah spesifik dengan
kode limbah D 227.
k. Keputusan MENKES No 1204/ MENKES/ SK/ X/ 2004 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
l. Pedoman manajemen K3 RS No 432/ MENKES/ SK/ IV/ 2007.
m. Keputusan MENKES No 1087/ MENKES/ SK/ VIII/ 2010 tentang Standar K3 RS
n. Peraturan MENKES No 1691/ MENKES/ PER/ VIII/ 2011 tentang Keselamatan
Pasien Rumah Sakit.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Untuk menunjang pelaksanaan program K3 RSUD Lamandau di tahun 2018, maka
pada buku Pedoman K3 RSUD Lamandau ini, berdasarkan pada keputusan Mentri
Kesehatan RI Nomor 432 tahun 2007 di atur bahwa Organisasi K3 RSUD Lamandau
berada di 1 tingkat dibawah direktur, bukan kerja rangkap dan erupakan unit organisasi
yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur RS. Hal ini dikarenakan organisasi
K3 RS berkaitan langsung dengan regulasi, kebijakan strategis, biaya, logistik dan SDM
di rumah sakit. Adaun naa organsasi K3 di RSUD Lamandau adalah Tim Pembina K3RS
yang beranggotakan seluruh unit kerja di RS.
Keanggotaan tim diatur sebagai berikut:
a. Unit pelaksana K3 RSUD Lamandau beranggotakan unsur – usur dari pegawai dan
jajaran direksi RS, dan untuk menunjang efektivitas, maka karena di RSUD
Lamandau belum ada pegawai yang berlatar belakang pendidikan K3 akan
dikoordinasikan secara langsung oleh seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat
b. Unit pelaksana K3 RSUD Lamandau terdiri dari ketua, sekertaris dan anggota.
Pelaksana tugas ketua dibantu oleh sekertaris dan anggota.
c. Ketua unit pelaksana K3 RSUD Lamandau adalah salah satu manajemen tertinggi di
RS atau sekurang – kurangnya manajemen di bawah langsung direktur RS
d. Sedang sekertaris unit pelaksana K3 RS adalah seorang tenaga profesional K3RS
yaitu menejer K3RS atau ahli K3 (berlatar belakang pendidikan K3) atau setidaknya
adalah Sarjana Teknik
e. Anggota tim K3 RSUD Lamandau adalah perwakilan dari semua unit yang ada di
RSUD Lamandau (baik yang pekerjaannya terkait medis maupun non medis)

B. Tugas Pokok dan Fungsi


Pelaksanaan K3 di RS sangat tergantung dari rasa tanggung jawab manajemen dan
petugas, terhadap tugas dan kewajiban masing-masing serta kerja sama dalam
pelaksanaan K3. Tanggung jawab ini harus ditanamkan melalui adanya aturan yang jelas.
Pola pembagian tanggung jawab, penyuluhan kepada semua petugas, bimbingan dan
latihan serta penegakkan disiplin. Ketua timpembina K3 RSUD Lamandau Tahun 2018
secara spesifik harus mempersiapkan data dan informasi pelaksanaan K3 di semua
tempat kerja, merumuskan permasalahan serta menganalisis penyebab timbulnya
masalah bersama unit-unit kerja, kemudian mencari jalan pemecahannya dan
mengkomunikasikannya kepada unit-unit kerja, sehingga dapat dilaksanakan dengan
baik. Selanjutnya memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program, untuk menilai
sejauh mana program yang dilaksanakan telah berhasil. Kalau masih terdapat
kekurangan, maka perlu diidentifikasi penyimpangannya serta dicari pemecahannya.
Tugas dan fungsi organisasi/unit pelaksana K3 RS
a. Tugas pokok :
a) Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada direktur RS mengenai masalah-
masalah yang berkaitan dengan K3.
b) Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan prosedur.
c) Membuat program K3RS
b. Fungsi
a) Mengumpulkan dan mengolah seluruh data dan informasi serta permasalahan
yang berhubungan dengan K3
b) Membantu direktur RS mengadakan dan meningkatkan upaya promosi K3,
pelatihan dan penelitian K3 di RS.
c) Pengawasan terhadap pelaksanaan program K-3.
d) Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif.
e) Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota K3RS.
f) Memberi nasehat tentang manajemen k3 di tempat kerja, kontrol bahaya,
mengeluarkan peraturan dan inisiatif pencegahan.
g) Investigasi dan melaporkan kecelakaan, dan merekomendasikan sesuai
kegiatannya.
h) Berpartisipasi dalam perencanaan pembelian peralatan baru,pembangunan
gedung dan proses.

C. Distribusi Tenaga
Tenaga K3 atau SDM RSUD Lamandau yang tergabung dalam tim Pembina K3 RS
terdiri dari perwakilan semua unit yang ada di RSUD Lamandau, baik yang terkait medis
maupun non medis, baik pegawai yang masuk dalam sift rotasi kerja maupun non sift
rotasi kerja. Adapun pertimbangan yang diambil adalah agar tidak terjadi dalam suatu
sift kerja tidak ada seorang anggota tim pembina K3RSUD Lamandau yang sedang
bertugas.
D. Pengaturan Jaga
Pengaturan jaga dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam suatu sift kerja selalu
terdapat anggota tim Pembina K3RS.

E. Struktur Organisasi Tim K3 Rumah Sakit Era Medka


Mengacu pada SK Direktur RSUD Lamandau tentang : tim Pembina K3 RSUD
Lamandau maka dapat ditunjukkan bahwa struktur organisasi tim K3 RSUD Lamandau
adalah dikepalai oleh seorang wakil direktur umum yang berada langsung dibawah
Direktur sehingga dapat membuat keputusan yang bersifat strategis terhadap pelasanaan
program kegiatan K3 di RSUD Lamandau dan dibantu oleh sarjana teknik dengan
sekertaris sarjana kesehatan masyarakat.
Adapun struktur organisasi dari tim pembina K3 RSUD Lamandau seperti tertera
pada SK Direktur RSUD Lamandau dapat ditunjukkan sebagai berikut :
BAB III
STANDAR FASILITAS

Untuk menunjang pelaksanaan program K3 di RSUD Lamandau tahun 2018, maka


diperlukan sarana dan prasarana yang dapat mennjang aktifitas pencapaian tujuan program.
Adapun beberapa sarana dan prasarana serta standarnya dapat diuraikan sebagai berikut :

A. Standar Teknis Sarana


a. Lokasi dan Bangunan
Secara umum lokasi rumah sakit hendaknya mudah dijangkau oleh masyarakat,
bebas dari pencermaran, banjir, dan tidak berdekatan dengan rel kereta api, tempat
bogkar muat barang, tempat bongkar muat barang, tempat bermain anak, pabrik
industri, dan limbah pabrik. Dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit
khususnya pasal 8 disebutkan bahwa persyaratan lokasi Rumah Sakit harus memenuhi
ketentuan mengenai kesehatan, keselamatan lingkungan, dan tata ruang, serta sesuai
dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit.
Sedangkan untuk persyaratan bangunan diatur pada pasal 9 yakni bangunan Rumah
Sakit harus memenuhi; persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan
gedung pada umumnya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Untuk persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit, harus sesuai dengan fungsi,
kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dan
keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak dan orang usia
lanjut.
Luas lahan untuk bangunan tidak bertingkat minimal 1,5 kali luas bangunan.
Luas lahan untuk bangunan bertingkat minimal 2 kali luas bangunan lantai dasar. Luas
bangunan disesuaikan dengan jumlah tempat tidur (TT) dan klasifikasi rumah sakit
yaitu kelas D. Bangunan minimal adalah 50m2 per tempat tidur. Perbandingan jumlah
tempat tidur dengan luas lantai untuk ruang perawatan dan ruang perawatan dan isolasi
adalah :
a) Ruang bayi :
- Ruang perawatan minimal 2 m2/ TT
- Ruang isolasi minimal 3,5 m2/ TT
b) Ruang dewasa anak :
- Ruang perawatan minimal 4,5 m2/ TT
- Ruang isolasi minimal 6m2/ TT
c) Persyaratan luas ruangan sebaiknya berukuran minimal :
- Ruang periksa 3 x 3 m2
- Ruang tindakan 3 x 4 m2
- Ruang tunggu 4 x 4 m2
- Ruang utility 3 x 3 m2
d) Ruang bangunan yang digunakan untuk ruang perawatan mempunyai :
- Rasio tempat tidur dengan kamar mandi 10 TT :1
- Bebas serangga dan tikus
- Kadar debu maksimal 150 µg/ m3 udara dalam pengukuran rata-rata 24 jam
- Pencahayaan 100 – 200 lux
- Suhu 26 – 27 Derajat Celsius (dengan AC) atau suhu kamar (tanpa AC)
dengan sirkulasi udara yang baik
- Kelembaban 40 – 50% (dengan AC) kelembaban udara ambient (tanpa AC)
- Kebisingan <45 dBA

b. Lantai :
a) Lantai ruangan dari bahan yang kuat, kedap air, rata, tidak licin dan mudah
dibersihkan dan berwarna terang.
b) Lantai KM/ WC dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan
mempunyai kemiringan yang cukup dan tidak ada genangan air.
c) Khusus ruang operasi lantai rata, tidak mempunyai pori dan lubang untuk
berkembang biaknya bakteri, menggunakan bahan vinyl anti elektrostatik dan tidak
mudah terbakar.

c. Dinding (Kepmenkes No. 1204 tahun 2004 tentang persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit) :
a) Dinding berwarna terang, rata, cat tidak luntur dan tidak mengandung logam berat.
b) Sudut dinding dengan dinding, dinding dengan lantai, dinding dengan langit-langit,
membentuk konus (tidak membentuk siku) khususnya pada bagian kamar operasi
(OK) untuk menjamin sterilitas ruangan.
c) Dinding KM/WC dari bahan kuat dan kedap air
d) Permukaan dinding keramik rata, rapih, sisa permukaan kramik dibagi sama ke
kanan dan ke kiri
e) Khusus ruang radiologi dilapis PB yang tebalnya minimal 2 mm atau setara
dinding bata ketebalan 30cm serta dilengkapi jendela kaca anti radiasi
f) Dinding rang laboratorium dibuat dari porselin atau keramik setinggi 1,5 m dari
lantai

d. Pintu/ Jendela :
a) Pintu harus cukup tinggi minimal 270 cm dan lebar minimal 120 cm.
b) Pintu dapat dibuka dari luar.
c) Ambang bawah jendela minimal 1 m dari lantai
d) Khusus jendela yang berhubungan langsung keluar memakai jeruji.
e) Khusus ruang operasi, pintu terdiri dari dua daum, mudah dibuka tetapi harus dapat
menutup sendiri (dipasang penutup pintu (door close)).
f) Khusus ruang radiologi, pintu terdiri dari dua daun pintu dan dilapisi PB minimal 2
mm atau sertara dinding bata ketebalan 30 cm dilengkapi dengan lampu merah
tanda bahaya radiasi serta dilengkapi jendela kaca anti radiasi.

e. Plafon
a) Rangka plafon kuat dan anti rayap.
b) Permukaan plafon berwana terang, mudah dibersihkan tidak berbahan dasar asbes.
c) Langit-langit dengan ketinggian 3 m dari lantai
d) Langit-langit menggunakan cat anti jamur.

f. Ventilasi
a) Pemasangan ventilasi alamiah dapat memberikan sirkulasi udara yang cukup, luas
minimum 15% dari luas lantai.
b) Ventilasi mekanik disesuaikan dengan peruntukan ruangan, untuk operasi
kombinasi antara fan, exhauster dan AC dapat memberikan sirkulasi udara dengan
tekanan positif.
c) Ventilasi AC dilengkapi dengan filter bakteri.
g. Atap
a) Atap kuat , tidak bocor, tidak menjadi perindukan serangga, tikus dan binatang
pengganggu lain.
b) Atap dengan ketinggian lebih dari 10 meter harus menggunakan penangkal petir.

h. Sanitasi
a) Closet, urinoir, wastafel dan bak mandi dari bahan kualitas baik, utuh dan tidak
cacat, serta mudah dibersihkan.
b) Urinoir dipasang/ ditempel pada dinding, kuat, berfungsi dengan baik.
c) Wastafel dipasang rata, tegak lurus dinding, kuat, tidak menimbulkan bau,
dilengkapi desinfektan dan dilengkapi tisu yang dapat dibuang (disposable tissues).
d) Bak mandi tidak berujung lancip, tidak menjadi sarang nyamuk dan mudah
dibersihkan.
e) Indek perbandingan jumlah tempat tidur pasien dengan jumlah toilet dan kamar
mandi 10 : 1
f) Indek perbandingan jumlah pekerja dengan jumlah toiletnya dan kamar mandi 20 :
1
g) Air untuk keperluan sanitair seperti mandi, cuci, urinoir, wastafel, closet, keluar
dengan lancar dan jumlahnya cukup.

i. Air bersih
a) Kapasitas resevoir sesuai denan kebutuhan rumah sakit (250 – 500 liter/ tempat
tidur)
b) Sistem penyedian air bersih menggunakan jaringan PAM atau sumur dalam
(artesis)
c) Air bersih dilakukan pemeriksaan fisik, kimia dan biologi setiap 6 bulan sekali.
d) Sumber air bersih dimungkinkan dapat digunakan sebagai sumber air dalam
penanggulangan kebakaran.

j. Pemipaan (plumbing)
a) Sistem pemipaan di RSUD Lamandau adalah pemipaan air bersih sedangkan untuk
pemipaan kebakaran sejauh ini belum dapat dilakukan karena belum
terintegrasinya kawasan RSUD Lamandau dengan Hydrant.
b) Pipa air bersih tidak boleh bersilangan denan pipa air kotor.
c) Instalasi pemipaan tidak berdekatan atau berdampingan dengan insalasi listrik

k. Saluran (drainase)
a) Saluran keliling bangunan drainase dari bahan yang kuat, kedapa air dan berkualitas
baik dengan dasar mempunyai kemiringan yang cukup ke arah aliran pembuangan.
b) Saluran air hujan tertutup telah dilengkapi bak kontrol dalam jarak tertentu dan
ditiap sudut pertemuan, bak kontrol dilengkapi penutup yang mudah dibuka/ ditutup
memenuhi syarat teknis, serta berfungsi dengan baik.

l. Jalur yang melandai/ lereng (ramp)


a) Kemiringan rata-rata 10-25 derajat.
b) Ramp untuk evakuasi satu arah dengan lebar rata-rata 140 cm, khusus ramp koridor
dapat dibuat dua arah dengan lebar minimal 240 cm, kedua ramp tersebut dilengkapi
pegangan rambatan, kuat, ketinggian 80 cm.
c) Area awal dan akhir ramp bebas dan daftar, mudah untuk berputar , tidak licin.
d) Setiap ramp dilengkapi lampu penerangan darurat.

m. Tangga
a) Lebar tangga minimum 120 cm jalan searah dan 160 cm jalan dua arah.
b) Lebar injakan minimum 28 cm
c) Tinggi injakan maksimum 21 cm
d) Tidak berbentuk bulat/ spiral.
e) Memiliki kemiringan injakan < 90 derajat.
f) Dilengkapi pegangan, minimum pada salah satu sisinya. Peganan rambat mudah
dipegang, ketinggian 60-80 cm dari lantai, bebas dari segala instalasi. Tangga diluar
bangunan dirancang ada penutup tidak kena air hujan secara langsung.

n. Jalur pejalan kaki (pedestrian track)


a) Tersedia jalur kursi roda dengan permukaan keras/ stabil, kuat dan tidak licin.
b) Tidak terdapat sambungan atau gundukan permukaan
c) Kemiringan 15 derajat
d) Drainase searah jalur
e) Ukuran minimum 120 cm (jalur searah), 160 (jalur 2 arah) terdapat tepi jalur
pengaman
o. Area Parkir
a) Area parkir tertata dengan baik
b) Mempunyai ruangan bebas disekitarnya
c) Untuk penyandang cacat berkursi roda disediakan ramp trotoar untuk akses di lantai
1 sedangkan untuk akses ke lantai dua sementara belum difasilitasi.
d) RSUD Lamandau belum meberikan rambu penyandang cacat yang bisa
membedakan untuk mempermudah dan membedakan dengan fasilias parkir bagi
umum
e) Parkir dasar (basement) dilengkapi dengan exhauster yang memadai untuk
menghilangkan udara tercemar di dalam ruang dasar (basement), dilengkapi
petunjuk arah dan disediakan tempat sampah yang memadai serta pemadam
kebakaran.

p. Pemandangan ( Landscape) : Jalan, Taman


a) Akses Jalan lancar dengan rambu-rambu yang jelas
b) Saluran pembuangan yang melewati jalan tertutup dengan baik dan tidak
menimbulkan bau
c) Tanam-tanaman tertata dengan baik dan tidak menutupi rambu-rambu yang ada
d) Jalan dalam area rumah sakit dirawat
e) Di RSUD Lamandau telah tersedia area untuk tempat berkumpul (public corner).
f) Pintu gerbang untuk masuk dan keluar sementara melalui pintu yang sama karena
keterbatasan lahan yang ada tetapi walaupun begitu, untuk menunjang keamanan
dilengkapi dengan gerdu jaga.
g) Papan nama Rumah Sakit dibuat rapi, kuat, jelas atau mudah dibaca untuk umum,
terpampang di bagian depan Rumah Sakit
h) Taman tertata rapi, terpelihara, dan berfungsi memberikan keindahan, kesejukan ,
kenyamanan bagi pengunjung maupun pekerja dan pasien Rumah Sakit.
B. Standar Teknis Prasarana
a. Penyediaan listrik :
a) RSUD Lamandau memiliki Gardu Listrik/ Trafo Listrik Tersendiri untuk menjamin
suplai kebutuhan rumah sakit dengan daya sebesar 180 KVA.
b) Kapasitas dan instalasi listrik terpasang memenuhi standar PUIL
c) Untuk kamar beda, HCU, menggunakan catu daya khusus dengan sistem catu daya
cadangan otomatis dua lapis (generator dan UPS/ Uninteruptable Power Supply).
d) Tersedia ruang UPS minimal 2 x 3 m2 (sesuai kebutuhan) terletak di gedung HCU
dan diberi pendingin ruangan.
e) Kapasitas UPS disesuaikan dengan kebutuhan.
f) Kapasitas generator (Gen set) disediakan adalah 40 (KVA) dengan satu Gen Set
pendukung yang berdaya 18, 6 KVA dan setara dengan 75% dari daya terpasang dan
dilengkapi AMF dan ATS system
g) Grounding system harus terpisah antar grounding panel gedung dan panel alat. Nilai
grounding peralatan rata-rata terukur adalah 0,5 Ohm.

b. Instalasi penangkal petir :


Pengawasan instalasi penangkal petir sesuai dengan ketentuan Permenaker No. 2
tahun 1989. Dan telah dilakukan dan pengawasan oleh pihak berwenang yang dalam
hal ini adalah Dinsosnakertrans Kabupaten Tulungagung.

c. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran :


a) Tersedia APAR sesuai dengan Norma Standar Pedoman dan Manual (NSPM)
kebakaran seperti yang diatur oleh Permenaker No. 4 tahun 1980.
b) Alat pemadam Api dengan Air bertekanan dengan menggunakan Genset terpasang
dan berfungsi dengan baik dan tersedia air yang cukup dengan adanya kolam
penampungan air, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
c) Tersedia dan tercukupi air untuk pemadaman kebakaran.
d) Walaupun begitu, tetapi di RSUD Lamandau belum tersedia instalasi alarm
kebakaran automatik sesuai dengan Permenaker No. 2 Tahun 1983.
d. Sistem Komunikasi
a) Tersedia saluran telepon intenal dan eksternal dan berfungsi dengan baik.
b) Tersedia saluran telepon khusus untuk keadan darurat (untuk IGD, sentral telepon
dan posko tanggap darurat).
c) Instalasi kabel telah terpasang rapi, aman dan berfungsi dengan baik
d) Tersedia komunikasi lain (HT, paging sistem dan alarm) untuk mendukung
komunikasi tanggap darurat.
e) Tersedia sistem panggilan perawat (nurse call ) yang terpasangan berfungsi dengan
baik.
f) Tersedia sistem tata suara pusat (central sound system)
g) Tersedia peralatan pemantau keamanan/ CCTV (Close circuit television) yang
tepsang tersebar di seluruh area rumah sakit (terdapat setidaknya 24 titik pantau
kamera CCTV di seluruh area rumah sakit.

e. Gas Medis :
a) Tersedianya gas medis dengan sistem sentral dan tabung.
b) Sentral gas medis dengan sistem jaringan dan outlet terpasang, berfungsi dengan
baik dilengkapi dengan ALARM untuk menunjukkan kondisi sentral gas medis
dalam keadaan rusak/ ketersediaan gas tidak cukup.
c) Tersedia pengisap (suction pump) pada jaringan sentral gas medik
d) Kapasitas central gas medis telah sesuai dengan kebutuhan
e) Kelengkapan sentral gas berupa gas oxigen (O2), gas nitrous oxida (NO2), gas tekan
dan vacum.

f. Limbah cair :
Tersedianya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan perizinannya

g. Pengolahan Limbah Padat :


a) Tersedianya tempat/ ontainer penampungan limbah sesuai dengan kriterian limbah
b) Tersedia pembakaran sampah/ limbah padat atau sejenisnya, terpelihara dan
berfungsi dengan baik
c) Tersedia tempat pembuangan limbah padat sementara, tetutup dan berfungsi dengan
baik
C. Standar Peralatan RSUD Lamandau
a. Memiliki perizinan
b. Diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan/ atau
institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang
c. Tersertifikasi badan atau lembaga terkait
d. Peralatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi ketentuan dan harus
diawasi oleh lembaga yang berwenang
e. Penggunaan peralatan medis dan non medis di Rumah Sakit harus dilakukan sesuai
dengan indikasi medis pasien
f. Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan Rumah Sakit harus dilakukan oleh petugas
yang mempunyai kompetensi di bidangnya
g. Pemeliharaan peralatan didokumentasikan dan dievakuasi secara berkala dan
berkesinambungan

D. Denah Ruang
Adapun denah ruangan di RSUD Lamandau dapat ditunjukkan pada Lampiran
Gambar Denah RSUD Lamandau.
BAB IV
TATA LAKSANA

TATA LAKSANA K3 RUMAH SAKIT


Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan K3 di RSUD Lamandau, selanjutnya perlu
dibuat Tata Laksana Sistem Manajemen K3 RSUD Lamandau tahun 2018. Adapun
perincian dari tata laksana tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
A. Komitmen dan Kebijakan
Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis, jelas dan mudah
dimengerti serta diketahui oleh seluruh pegawai RSUD Lamandau. Manajemen RSUD
Lamandau mengidentifikasikan dan menyediakan semua sumber daya esensial seperti
pendanaan, tenaga K3 dan sarana untuk terlaksananya program K3 di RSUD Lamandau.
Kebijakan K3 di RS diwujudkan dalam bentuk wadah K3RS dalam struktur organisasi
RS.
Untuk melaksanakan komitmen dan kebijakan K3 RSUD Lamandau, perlu disusun
beberapa strategi yang antara lain meliputi :
1. Sosialisasi program K3 RS
2. Menetapkan tujuan yang jelas
3. Organisasi dan penugasan yang jelas
4. Meningkatkan kualitas SDM di bidang K3 RS pada setiap unit kerja di lingkungan
RS
5. Sumberdaya yang harus didukung oleh manajemen puncak
6. Kajian risiko secara kualitatif dan kuantitatif
7. Membuat program kerja K3RS yang mengutamakan upaya peningkatan dan
pencegahan kejadian terkait K3
8. Monitoring dan evaluasi secara internal maupun eksternal dengan melibatkan Dinas
Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Tulungagung secara berkala
B. Perencanaan
RS harus membuat perencanaan yang efektif agar tercapai keberhasilan penerapan
sistem manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur. Perencanaan K3 di
RS dapat mengacu pada sistem standar Sistem Manajemen K3RS diantaranya self
assesment akreditasi K3RS dan SMK 3
Perencanaan meliputi :
1. Identifikasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian faktor risiko. RS harus
melakukan kajian dan identifikasi sumber bahaya, penilaian seta pengedalian faktor
risiko.
a. Identifikasi sumber bahaya
Dapat dilakukan dengan mempertimbangkan :
a) Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya
b) Jenis kecelakaan dan PAK yang mungkin dapat terjadi
Sumber bahaya yang ada di RSUD Lamandau harus diidentifikasi dan
dinilai untuk menentukan tingkat risiko yang merupakan tolok ukur
kemungkinan terjadinya kecelakaan dalam PAK.
Bahaya potensial berdasarkan lokasi dan pekerjaan RS meliputi :
No Bahaya Potensial Lokasi Pekerja yang berisiko
1 FISIK :
Bising UPS-RS, laundry, dapur, Pegawai yang bekerja di
gedung genset, IPAL lokasi tsb.
Getaran Ruang mesin-mesin dan Pegawai yang bekerja di
menghasilkan getaran (ruang lokasi tsb.
gigi dll.)
Debu Genset, bengkel kerja, perawat gigi/ petugas UPS
laboratorium, gudang rekam dan rekam medis
medis, tempat pembakaran
sampah
Panas Dapur, laundry, tempat Pekerja dapur, pekerja
sampah laundry, cleaning service,
dan petugas, UPS-RS
Radiasi X-ray, OK, ruang fisioterapi, Ahli radiologi,radioterapist
unit gigi dan radiografer, ahli
fisiotherapi dan petugas
rontgen

No Bahaya Potensial Lokasi Pekerja yang berisiko


2 KIMIA :
disinfektan Semua area Cleaning service, perawat

Cytotoxics Farmasi, tempat pembuangan Pegawai farmasi, perawat,


limbah, bangsal petugas pengumpul sampah
Ethylene oxide Kamar operasi Dokter, perawat
Formaldehyde Laboratorium, kamar mayat, Petugas kamar mayat,
gudang farmasi petugas laboratorium dan
farmasi
Methyl : Ruang pemeriksaan gigi Petugas/ doktergigi,
Methacrylate, Hg perawat
(amalgam)
Solvents Laboratorium, bengkel kerja, Teknisi, petugas
semua area di RS laboratorium, petugas
pembersih
Gas-gas anaestesi OK, ruang pemulihan (RR) Dokter gigi, perawat,
dokter bedah, dokter/
perawat anaestesi
3 BIOLOGIK :
AIDS, Hepatitis B IGD, kamar Operasi, ruang Dokter, dokter gigi,
dan Non A-non B pemeriksaan gigi, perawat, petugas
laboratorium, laundry laboratorium, dan laundry
Cytomegalovirus Ruang kebidanan, ruang anak Perawat, dokter yang
bekerja di bagian ibu dan
anak
Rubella Ruang ibu dan anak Dokter dan perawat
Tuberculosis Bangsal, laboratorium, ruang Perawat, petugas
isolasi laboratorium, fisioterapis
4 ERNONOMIK
Pekerjaan yang Area pasien dan tempat Petugas yang menangani
dilakukan secara penyimpanan barang pasien dan barang
manual (gudang)
No Bahaya Potensial Lokasi Pekerja yang berisiko
Pekerjaan yang Semua area Dokter gigi, cleaning
berulang service, fisioterapis, sopir,
operator komputer, yang
berhubungan dengan
pekerjaan sekretaris
Postur yang salah Semua area Semua pegawai
dalam melakukan
pekerjaan
5 PSIKOSOSIAL
Sering kontak Semua area Semua pegawai
dengan pasien,
kerja bergilir,
kerja berlebih,
ancaman secara
fisik

b. Penilaian faktor risiko


Adalah proses untuk menentukan ada tidaknya risiko dengan jalan melakukan
penilaian bahaya potensial yang menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan.
c. Pengendalian faktor risiko
Dilaksanakan melalui 4 tingkatan pengendalian risiko yakni menghilangkan
bahaya mengantkan sumber risiko dengan sarana/ peralatan lain yang tingkat
risikonya lebih rendah/ tidak ada (engineering/ rekayasa), administrasi dan alat
pelindung pribadi (APP)
2. Membuat peraturan
RS harus membuat, menetapkan dan melaksanakan standar operasional prosedur
(SOP) sesuai dengan peraturan, perundangan dan ketentuan mengenai K3 lainnya
yang berlaku. SOP ini harus dievakuasi, diperbaharui dan harus dikomunikasikan
serta disosialisasikan pada karyawan dan pihak yang terkait.
3. Tujuan dan sasaran
RS harus mempertimbangkan peraturan perundang-undangan, bahaya potensial dan
risiko K3 yang bisa diukur, sautuan/ indikator pengukuran, sasaran pencapaian dan
jangka waktu pencapaian (SMART)
4. Indikator kinerja
Indikator harus dapat diukur sebagai dasar penilaian kinerja K3 yang sekaligus
merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian SMK3 RS.
5. Program K3
RS harus menetapkan dan melaksanakan program K3RS, untuk mencapai sasaran
haru ada monitoring, evaluasi dan dicatata serta dilaporkan.

C. Mekanisme Kerja
Ketua organisasi/ unit pelaksana K3 RS memimpin dan mengkoordinasikan
kegiatan organisasi/ unit pelaksana K3 RS
Sekretaris organisasi/ unit pelaksana K3 RS memimpin dan mengkoordinasikan
tugas-tugas-tugas kesekretariatan dan melaksanakan keputusan organisasi/ unit
pelaksana K3 RS.
Anggota organisasi/ unit pelaksana K3 RS mengikuti rapat organisasi/ unit
pelaksana K3 RS dan melakukan pembahasan atas persoalan yang diajukan dalam rapat,
serta melaksanakan tugas-tugas yang diberikan organisasi/ unit pelaksana K3 RS.
Untuk dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, organisasi/ unit pelaksana
K3 RS mengumpulan data dan informasi mengenai pelaksanaan K3 di RS. Sumber data
antara lain dari bagian personalia meliputi angka sakit, tidak hadir tampa keterangan,
angka kecelakaan, catatan lama sakit dan perawatan RS, khususnya yang berkaitan
dengan akibat kecelakaan. Dan sumber yang lain bisa dari tempat pengobatan RS
sendiri antara lain jumlah kunjungan, P3K dan tindakan medik karena kecelakaan,
rujukan ke RS bila perlu pengobatan lanjutan dan lama perawatan dan lama berobat.
Dari bagian teknik bisa didapat data kerusakanakibat kecelakaan dan biaya perbaikan.
Informasi juga dikumpulkan dari hasil monitoring tempat kerja dan lingkungan
kerja RS, terutama yang berkaitan dengan sumber bahaya potensial baik yang berasa
dari kondisi barbahaya maupun tindakan berbahaya serta data dari bagian K3 berupa
laporan pelaksanaan K3 dan analisisnya.
Data dan informasi dibahas dalam organisasi/ unit pelaksana K3 RS, untuk
menemukan penyebab masalah dan merumuskan tindakn korektif maupun tindakan
preventif. Hasil rumusan disampaikan dalam bentuk rekomendasi kepada direktur
RSUD Lamandau. Rekomendasi berisi saran tindak lanjut dari organisasi/ satuan
pelaksana K3 RS serta alternatif-alternatif pilihan serta pemikiran hasil/konsekuensi
setiap pilihan.
Organisasi/ unit pelaksana K3 RS membantu melakukan upaya promosi di
lingkungan RS baik pada petugas, pasien meupun pengunjung yaitu mengenai segala
upaya pencegahan KAK dan PAK di RS. Untuk memacu semangat pegawai RSUD
Lamandau agar dapat mengikuti dengan baik dan pro aktrif kegiatan K3 ini, kemudian
diadakan lomba pelaksanaan K3 antar bagian atau unit kerja yang ada di lingkungan
kerja RS dan yang terbaik atau terbagus pelaksanaannya dan penerapannya K3 nya
mendapat reward dari direktur RS.

D. Pengelolaan Barang Berbahaya dan Beracun


Limbah medis rumah sakit kedalam kategori limbah berbahaya dan beracun yang
sangat penting untuk dikelola secara benar. Sebagian limbah medis termasuk kedalam
kategori limbah berbahaya dan sebagian lagi termasuk kategori infesius.
Oleh sebab itu RSUD Lamandau memberikan perhatian lebih pada limbah medis
berbahaya yang berupa limbah kimiawi, limbah farmasi, logam berat, limbah genotoxic
dan wadah bertekanan masih banyak yang belum dikelola dengan baik. Sedangkan
limbah infesius merupakan limbah yang bisa menjadi sumber penyebaran penyakit baik
kepada SDM rumah sakit, pasien, pengunjung, pengantar pasien ataupun masyarakat
disekitar lingkungan rumah sakit. Limbah infeksius biasanya berupa jaringan tubuh
pasien, jarum suntik, darah, perban, biakan kultur, bahan atau perlengkapan ang
bersentuhan dengan penyakit menular atau media lainnya yang diperkirakan tercemari
oleh penyakit pasien. Pengelolaan lingkungan yang tidak tepat akan beresiko terhadap
penularan penyakit. Beberapa resiko kesehatan yang mungkin ditimbuakan akibat
keberadaan rumah sakit antara lain : penyakit menular (hepatitis, diare, campak, AIDS,
influenza), bahaya radiasi (kanker, kelainan organ genetik) dan resiko bahaya kimia.
Dalam penanganan (menyimpan, memindahkan, menangani tumpahan, menggunakan,
dll) B3, setiap pegawai wajib mengetahui betul jenis bahan dan cara penanganannya
dengan melihat SOP yang telah ditetapkan.
a. Penanganan untuk personil
a) Kenali dengan seksama jenis bahan yang akan digunakan atau disimpan
b) Baca petunjuk yang tertera pada kemasan
c) Letakkan bahan sesuai dengan ketentuan
d) Tempat bahan pada ruang penyimpanan yang sesuai dengan petunjuk
e) Perhatikan batas waktu pemakaian bahan yang disimpan
f) Jangan menyimpan bahan yang mudah beraksi di lokasi yang sama
g) Jangan menyimpan bahan yang melebihi pandangan mata
h) Pastikan kerja aman sesuai prosedur dalam pengambilan dan penempatan
bahan, hindari terjadi tumpahan/ kebocoran
i) Laporkan segera bila terjadi kebocoran bahan kimia atau gas
j) Laporkan setiap kejadian atau emungkinan kejadian yang menimbulakn
bahaya/ kecelakaan atau nyaris celaka melalui formulr yang telah disediakan
dan alur yang telah ditetapkan.
b. Penaganan berdasaran lokasi
Daerah – daerah yang beresiko (laboratorium, radiologi, farmasi dan tempat
penyimpanan, penggunaan dan penggolahan B3 yang ada di RS harus ditetapkan
sebagai daerah berbahaya dengan menggunakan kode warna di area bersangkutan,
serta dibuat dalam denah RS yang disebarluaskan/ disosialisasikan kepada seluruh
penghuni RS.
c. Penaganan Administratif
Di setiap tempat penyimpanan, penggunaan dan penggolahan B3 harus diberi
tanda sesuai potensi bahaya yang ada, dan di lokasi tersebut SOP untuk menangani B3
antara lain:
a) Cara penanganan bila terjadi kontaminasi
b) Cara penanggulangan apabila terjadi kedaruratan
c) Cara penanganan B3 dll.
BAB V
LOGISTIK

Pengadaan barang dan jasa terkait dengan kegiatan K3 secara umum dapat dibagi
menjadi 2 kelompok besar, yaitu:
a. Pengadaan Jasa dan Bahan Umum
Untuk menunjang tujuan kegiatan K3, maka diperlukan sarana dan prasarana umum
yang pengadaannya mengikuti sistem dan prosedur serta SOP pengadaan barang umum
di RSUD Lamandau. Contoh barang umum terkait dengan K3 diantaranya : pengadaan
kran air, dll.
b. Pengadaan Jasa dan Bahan Berbahaya
RS harus melakukan seleksi rekanan berdasarka barang yang diperlukan. Rekanan
yang akan diseleksi diminta memberikan proposal berikut profil perusahaan (company
profile). Informasi yang diperlukan menyangkut spesifikasi lengkap dari material atau
produk, kapabilitas rekanan, harga, pelayanan, persyaratan K3 dan lingkungan serta
informasi lain yang dibutuhkan oleh RS.
Setiap unit kerja/ instalasi/ satker yang menggunakan, menyimpan, mengelola B3
harus menginformasikan kepada Bidang logistik sebagai unit pengadaan barang setiap
kali mengajukan permintaan bahwa barang yang diminta termasuk jenis B3.
Untuk memudahkan melakukan proses seleksi, dibuat formulir seleksi yang memuat
kriteria wajib yang harus dipenuhi oleh rekanan serta sistem penilaian untuk masing –
masing kriteria yang ditentukan. Hal – hal yang menjadi kriteria penilaian:
a) Kapabilitas
Kemampuan dan kompetensi rekanan dalam memenuhi apa yang tertulis dalam
kontak kerjasama.
b) Kualitas dan garansi
Kualitas barang yag diberikan memuaskan dan sudah sesuai dengan spesifikasi
yag sudah disepakati. Jaminan garansi yang disediakan baik waktu maupun jenis
garansi yang diberikan
c) Persyarata K3 dan lingkungan
(a) Menyertakan MSDS
(b) Melaksanakan Sistem Manajemen Lingkungan atau ISO 14001
(c) Kemasan produk memenuhi persyaratan K3 dan lingkungan
(d) Mengikuti ketentuan K3 yang berlaku di RS
d) Sistem mutu
(a) Metodoligi bagus
(b) Dokumen sistem mutu lengkap
(c) Sudah sertifikasi ISO 9000
e) Pelayanan
(a) Kesesuaian waku pelayanan dengan kontrak yang ada
(b) Pendekatan yang dilakukan supplier dalam melaksanakan tugasnya
(c) Penanganan setiap masalah yang timbul pada saat pelaksanaan
(d) Memberikan pelayanan jual yang memadai dan dukungan teknisi disertai
sumber daya manusia yang handal.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien harus diutamakan dalam proses pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Untuk itu keselamatan pasien dalam program K3 diuraikan secara lebih terperinci dengan
beberapa penekanan rioritas.
Patient safety atau keselamatan pasien adalah suatu system yang membuat asuhan pasien
di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan
oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil.
Terkait dengan usaha pencapaian K3 di RS, maka kemudian dilakukan penekanan
dengan terintegrasi pada pedoman keselamatan dan kesehatan kerja di RSUD Lamandau
tahun 2018. Pelaksanaan kegiatannya terkait dengan keselamatan asien selalu mengacu pada
sasaran keselamatan pasien yang antara lain adalah:
a. Ketepatan identifikasi ppasien
b. Peningkatan omunikasi yang efektif
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
d. Kepastian tepat – lokasi, tepat – prosedur, tepat- pasien operasi
e. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
f. Pengurangan resiko pasien jatuh
BAB VII
PELAYANAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

A. Standar Pelayanan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit


Setiap Rumah Sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja seperti
tercantum pada pasal 23 UU kesehatan no.36 tahun 2009 dan peraturan Menteri tenaga
kerja dan Transmigrasi RI No.03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja. Adapun
bentuk pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakukan, sebagai berikut :
a. Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja bagi pekerja :
a) Pemeriksaan fisik lengkap
b) Kesegaran jasmani
c) Pemeriksaan penunjang dasar (foto thorax, laboratorium rutin, EKG)
d) Pemeriksaan khusus sesuai dengan jenis pekerjaannya.
e) Pemeriksaan yang sesuai dengan kebutuhan guna mencegah bahaya yang
diperkirakan timbul khusus untuk pekerjaan tertentu
f) Jika tiga bulan sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter
(pemeriksa berkala), tidak ada keragu – raguan maka tidak perlu dilakukan
pemeriksaan kesehatan sebelumm bekerja.
b. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan/ pelatihan tentang kesehatan kerja dan
memberikan bantuan kepada pekerja di Rumah Sakit dalam penyesuaian diri baik
fisi maupun mental terhadap ekerjaannya. Yang diperlukan antara lain :
a) Informasi umum rumah sakit dan fasilitas atau sarana yang terkait dengan K3
b) Informasi tentang resiko dan bahaya khusus di tepat kerjanya.
c) SPO kerja, SPO peralatan, SPO penggunaan alat pelindung diri dan
kewajibannya.
d) Orientasi K3 di tempat kerja.
e) Melaksanakan pendidikan, pelatihan ataupun promosi/ penyuluhan kesehatan
kerja secara berkala dan berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam rangka
menciptakan budaya K3.
c. Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai dengan pajanan di
Rumah Sakit :
a) Setiap pekerja rumah sakit wajib mendapatkan pemeriksaan berkala minimal
setahun sekali.
b) Sedangkan untuk pemeriksaan khusus disesuaikan dengan jenis dan besar
pajanan serta umur dari pekerja.
c) Adapun jenis pemeriksaan khusus yang perlu dilakukan antara lain sebagai
berikut :
(a) Pemeriksaan audiometri untuk pekerja yang terpajan bising seperti pekerja
unit pemeliharaan sarana rumah sakit, operator telephone, dll.
(b) Pemeriksaan gambaran darah tepi untuk pekerja radiologi.
(c) Melakukan upaya preventiv (vaksinasi hepatitis B pada pekerja yang
terpajan roduk tubuh manusia)
(d) Pemeriksaan kesehatan HbsAG dan HIV untuk pekerja yang berhubungan
dengan darah dan produk tubuh manusia (dokter, dokter gigi, perawat,
laboratorium, petugas kesling, dll)
(e) Pemeriksaan fungsi paru untuk pekerja yang terpajan debu seperti etugas
incenerator.
d. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi SDM Rumah Sakit
yang menderita sakit :
a) Memberikan pengobatan dasar secara gratis kepada seluruh SDM Rumah Sakit;
b) Memberikan pengobatan dan menanggung biaya pengobatan untuk SDM
Rumah Sakit yang terkena Penyakit Akibat Kerja (PAK);
c) Menindak lanjuti hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan pemeriksaan
kesehatan khusus;
d) Melakukan upaya rehabilitasi sesuai penyakit terkait.
e. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja Rumah Sakit yang akan
pensiun atau pindah kerja:
a) Pemeriksaan kesehatan fisik
b) Pemeriksaan laboratorium legkap, EKG, paru (foto torak dan fungsi paru)
f. Melakukan koordinasi dengan tim Panitia Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
mengenai penularan infeksi terhadap SDM Rumah Sakit dan pasien :
a) Pertemuan koordinasi;
b) pembahasan kasus;
c) Penanggulangan kejadian infeksi nosokomial.
g. Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja :
a) Melakukan pemetaan (mapping) tempat kerja untuk mengidentifikasi jenis
bahaya dan besarnya risiko;
b) Melakukan identifikasi pekerja berdasarkan jenis pekerjaannya, lama pajanan dan
dosis pajanan;
c) Melakukan analisa hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus;
d) Melakukan tindak lanjut analisa pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus
(dirujuk ke spesialis terkait, rotasi kerja, merekomendasikan pemberian istirahat
kerja);
e) Melakukan pemantauan perkembangan kesehatan SDM Rumah Sakit.
h. Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan dengan
kesehatan kerja ( Pemantauan/ pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi,
psikososial dan ergonomi).
i. Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan K3RS yang disampaikan
kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di wilayah kerja Rumah Sakit.

B. Standar Pelayanan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit


Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan sarana,
prasarana, dan peralatan kerja. Bentuk pelayanan keselamatan kerja yang dilakukan :
a. Pembinaan dan pengawasan keselamatan/keamanan sarana, prasarana, dan peralatan
kesehatan:
Lokasi RS memenuhi ketentuan mengenai kesehatan, keselamatan lingkungan, dan
tata ruang, serta sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan
penyelenggaraan RS.
a) Teknis bangunan RS, sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan kemudahan dalam
pemberian pelayanan serta perlindungan dengan keselamatan bagi semua orang
termasuk penyandang cacat, anak – anak, dan orang usia lanjut.
b) Prasarana harus memeuhi standar pelayanan, keamanan, serta keselamatan dan
kesehatan erja penyelenggara RS
c) Pengoperasian dan pemeliharaan sarana, prasarana dan peralatan RS harus
dilakukan leh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya (sertifikasi
personil petugas/ operator sarana dan prasarana serta peralatan kesehatan RS)
d) Membuat pogram pengoperasian, perbaikan dan pemeliharaan rutin dan berkala
sarana dan prasarana serta peralatan kesehatan dan selanjutnya
didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan.
e) Peralatan kesehatan meliputi peralatan medis dan non medis dan harus
memenuhi standar pelayanan, pesyaratan mutu, keamanan, keselamatan dan laik
pakai.
f) Membuat program pengujian dan kalibrasi peralatan kesehatan, peralatan
kesehatan harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Pengujian Fasilitas
Kesehatan dan / atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang
g) Peralatan kesehatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi
ketentuan dan harus diawasi oleh lembaga yang berwenang.
h) Melengkapi perizinan dan sertifikasi sarana dan prasarana serta peralatan
kesehatan.
b. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap pekerja
a) Melakukan identifikasi dan penilaian resiko ergonomi terhadap peralatan kerja
dan SDM RS.
b) Membuat program pelaksanaan kegiatan, mengevaluasi dan mengendalikan
resiko ergonomi.
c. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja
a) Manajemen harus menyediakan dan menyiapkan lingkungan kerja yang
memenuhi syarat fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial
b) Pemantauan / pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi, ergonomi dan
psikososial secara rutin dan berkala
c) Melakukan evaluasi dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan lingkungan
kerja.
d. Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitasi
Manajemen harus menyediakan, memelihara, mengawasi sarana dan prasarana
sanitair, yang memenuhi syarat, meliputi:
a) Penyehatan makanan dan minuman
b) Penyehatan air
c) Penyehatan tempat pencucian
d) Penanganan sampah dan limbah
e) Pengendalian serangga dan tikus
f) Sterilisasi/ desinfeksi
g) Perlindungan radiasi
h) Upaya penyuluhan kesehatan lingkungan
e. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja
a) Pembuatan rambu – rambu arah dan tanda – tanda keselamatan
b) Penyediaan peralatan keselamatan kerja dan alat pelindung diri (APD)
c) Membuat SOP peralatan keselamatan kerja dan APD
d) Melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap keputusan penggunaan
peralatan keselamatan dan APD
f. Pelatihan/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua pekerja
a) Sosialisasi dan penyuluhan keselamatan kerja bagi seluruh SDM Rumah Sakit
b) Melaksanakan pelatihan dan sertifikasi K3 RS kepada petugas K3 RS
g. Memberi rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, pembuatan tempat kerja dan
pemilihan alat serta pengadaannya terkait keselamatan/ keamanan
a) Melibatkan petugas K3 RS di dalam perencanaan, desain pembuatan tempat
kerja dan pemilihan serta pengadaan sarana, prasaran dan peralatan keselamatan
kerja
b) Mengevaluasi dan mendokumentasikan kondisi sarana, prasarana dan peralatan
keselamatan kerja dan membuat rekomendasi sesuai dengan persyaratan yang
berlaku dan standar keamanan dan keselamatan.
h. Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya
a) Membuat alur pelaporan kejadian nyaris celaka dan celaka
b) Membuat SOP pelaporan, penanganan dan tindak lanjut kejadian nyaris celaka
dan celaka.
i. Pembinaan dan pengawasan Manajemen Sistem Penanggulangan Kebakaran
(MSPK)
a) Manajemen menyediakan sarana dan prasarana pencegahan dan
penanggulangan kebakaran
b) Membentuk tim penanggulangan kebakaran
c) Membuat SOP
d) Melakukan sosialisasi dan pelatihan pencegahan dan penanggulangan kebakaran
e) Melakukan audit internal terhadap sistem pencegahan dan penanggulangan
kebakaran.
j. Membuat evaluasi, pencatatan, dan pelaporan kegiatan pelayanan keselamatan kerja
yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di wilayah
kerja kerja Rumah Sakit
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi K3 di RSUD Lamandau adalah salah satu fungsi
manajemen K3 di RSUD Lamandau yang berupa suatu langkah yang diambil untuk
mengetahui dan menilai sejauh mana proses kegiatn K3 di RSUD Lamandau itu berjalan, dan
mempertanyakan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan dari suatu kegiatan K3 di RSUD
Lamandau dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
Pemantauan dan evaluasi meliputi:
a. Pencatatan dan pelaporan K3 terintegrasi ke dalam sistem pelaporan RS (SPRS) yang
dilaporkan secara triwulan
a) Pencatatan dan pelaporan K3
b) Pencatatan semua kegiatan K3
c) Pencatatan dan pelaporan KAK
d) Pencatatan dan pelaporan PAK
b. Inspeksi dan pengujian
Inspeksi K3 merupakan suatu kegiatan untuk menilai keadaan K3 secara umum dan
tidak terlalu mendalam. Inspeksi K3 di RS dilakukan secara berkala, terutama oleh
petugas K3 RS sehingga kejadian PAK dan KAK dapat dicegah sedini mungkin.
Kegiatan lain adalah pengujian baik terhadap lingkungan maupun pemeriksaan terhadap
pekerja beresiko seperti bilogical monitoring (Pemantauan secara biologis). Selain terkair
dengan pegawai, pengujian berkala juga dilakukan terkait dengan fasilitas, sarana dan
prasarana RSUD Lamandau melalui pengujian baik secara internal maupun secara
eksternal kepada lembaga/ organisasi yang terkait.
c. Melaksanakan audit internal K3
Audit K3 yang meliputi falsafah dan tujuan, administrasi dan pengelolaan, karyawan
dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebiajakan dan prosedur, pengembangan karyawan
dan program pendidikan, evaluasi dan pengendalian.
Tujuan Audit K3:
a) Untuk menilai potensi bahaya, gangguan kesehatan dan keselamatan
b) Memastikan dan menilai pengelolaan K3 telah dilaksanakan sesuai ketentuan
c) Menentukan langkah untuk mengendalikan bahaya potensial serta pengembangan
mutu.
Audit ini dilakukan setiap 6 bulan sekali untuk mengetahui pencapaian pelaksanaan
kegiatan K3 di RSUD Lamandau. Perbaikan dan pencegahan didasarkan atas hasil dari
audit internal, identifikasi, penilaian resiko direkomendasikan kepada manajemen
puncak. Tinjauan ulang dan peningkatan oleh pihak manajemen secara
berkesinambungan untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan dalam pencapaian
kebijakan dan tujuan K3.
BAB IX
PENUTUP

Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Keja di RSUD Lamandau Tahun 2018. Pedoman
ini diharapkan mampu memberikan tuntunan untuk pelaksanaan K3 di RSUD Lamandau dan
menjadi acuan dan dasar bagi perencanaan dan penulisan panduan maupun program K3 yang
akan disusun kemudian.
Tim penyusun menyadari sepenuhnya bahwa walaupun telah berusaha maksimal untuk
menyelesaikan panduan ini, tetapi masih terdapat kekurangan dan untuk itu maka saran,
masukan dan ide yang membangun senantiasa diperlukan untuk memperbaiki Panduan
K3RSUD Lamandau ini.