Anda di halaman 1dari 13

I.

Pengantar

Batas wilayah memiliki peran penting dalam tata kelola pemerintahan


daerah di Indonesia yaitu: menciptakan tertib administrasi pemerintahan,
memberikan kejelasan dan kepastian hukum terhadap batas wilayah suatu
daerah yang memenuhi aspek teknis dan yuridis, serta menjamin kejelasan
batasan hak atas tanah, hak ulayat, dan hak adat pada masyarakat
(Permendagri 76/2012). Urgensi penegasan batas wilayah melekat pada
seluruh level pemerintahan, dari level desa/kelurahan, kecamatan,
kota/kabupaten dan provinsi.Secara metodologi, batas wilayah yang
diterapkan pada seluruh level seharusnya saling berimpitan ketika
dipersandingkan (Overlay) satu sama lain. Misalnya, batas pada suatu desa
adalah batas yang juga digunakan menentukan kecamatan, demikian
seterusnya hingga pada penegasan batas kabupaten dan provinsi. Garis
batas yang membatasi dua wilayah harus satu, atau tidak boleh ganda
sehingga terdapat celah (gap). Karena itu pengutamaan kaidah pemetaan
menjadi syarat mutlak dalam penegasan batas wilayah.

Batas wilayah memisahkan dua atau lebih wilayah administrasi atau


yurisdiksi seperti: provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa yang
dibuktikan dengan titik koordinat pada peta dasar. Titik koordinat tersebut
menjadi acuan dalam penarikan garis batas di lapangan. Euforia
pemekaran daerah sejak diberlakukannya desentralisasi pemerintahan di

Indonesia sejak tahun 1999 yang ditandai dengan ditetapkannya Undang-


Undang Pemerintahan Daerah (UU 22 Tahun 1999, UU 32 Tahun 2004),
telah berkontribusi pada konflik batas wilayah. Dikatakan demikian karena
hampir seluruh UU pembentukan daerah otonom di Indonesia, khususnya
peta lampiran, belum ditetapkan titik koordinat. Konsekuensinya, luas
daerah-daerah otonom tersebut juga belum definitif. Oleh karena itu,
biasanya pada UU pembentukan daerah, terdapat pasal yang
memerintahkan kepada Menteri Dalam Negeri untuk menegaskan batas
daerah secara akurat.

Oleh karena itu, Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri telah


menetapkan payung hukum penegasan batas wilayah, yaitu Permendagri
Nomor 76 Tahun 2012, sebagai revisi dari Permendagri Nomor 1 tahun 2006
Tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah. Namun demikian, pada
beberapa kasus dalam implementasi pedoman tersebut, terdapat berbagai
kendala dengan multi motif (politik, sosial budaya, ekonomi (perebutan
sumber daya alam), yang sering dikemukakan seolah-olah sebagai masalah
batas wilayah. Oleh karena itu, untuk mendukung tata kelola pemerintahan
yang baik dan benar, dibutuhkan proses penyelesaian batas wilayah
berbasis pada kaidah pemetaan, dengan pendekatan metodologisyang
seoptimal mungkin didukung oleh konsensus bersama (border by
agreement). Permendagri diatas juga mengenal adanya upaya penegasan

1
batas wilayah secara berjenjang sesuai peran dan kewenangan pada setiap
level pemerintahan, mulai kabupaten/kota, provinsi hingga pusat.

II. Landasan Konseptual

The Bondary Making oleh Stephen B. Jones (1945) merupakan salah satu
pendekatan yang hingga saat ini dipandang relevan diaplikasikan dalam
penegasan dan penetapan batas wilayah di Indonesia. Teori ini
menetapkan4 (empat) tahapanyang saling terkait dalam penegasan batas
wilayah,yaitu:
1. Alokasi (allocation),yaitu area atau wilayah yang termasuk cakupan
wilayah suatu negara atau daerah, termasuk dimana negara/daerah
tersebut yang berbatasan dengan negara/daerahtetangganya, sesuai
penjuru angin;
2. Delimitasi(delimitation),proses menentukan garis batas mana suatu
negara/daerah berbatasan, yang ditandai dengan pemberian titik
koordinat sebagai acuan penarikan garis batas;
3. Demarkasi(demarcation),penegasan batas suatu negara/daerah dengan
negara/daerah tetangganya dengan pemasangan pilar batas;
4. Administrasi/managemen batas wilayah (Administration& management),
kegiatan pengelolaan kawasan perbatasan, termasuk pembangunan dan
pemeliharaan asset (pilar, tanda peringatan batas/border sign post),
monitoring, serta evaluasi dinamika kawasan perbatasan.

Tahapan dalam teori Jones diatas dapat dilihat sebagaimana pada gambar
berikut.

Gambar 1. Bondary Making Theory


(Stephen B. Jones, 1945)

Sedangkan dalam penegasan batas wilayah, implementasi konsep Jones


tersebut dapat dilihat sebagaimana Gambar 2 berikut.

2
Gambar 2. Aplikasi konsep Stephen B. Jones’ Boundary Making Theory dalam penegasan
batas wilayah di Indonesia.
(Diolah oleh Direktur Toponimi & Batas Daerah, Ditjen Bina Administrasi
Kewilayahan,Kementerian Dalam Negeri).

Landasan konstitusional dan operasionalkonsep Alokasi, Delimitasi dan


Demarkasi dalam penataan daerah di Indonesia mengacu pada UUD tahun
1945 dan berbagai perundang-undangan lainnya, yang secara singkat dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Pasal 18 UUD 1945 ayat(1), Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi
atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas
kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu
mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang;
b. Pasal 18 ayat (2) UUD 1945,pemerintahan daerah provinsi, daerah
kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
c. Landasan operasional konsep alokasi dandelimitasi dapat dilihat pada
UU 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, khususnya yang
terkait dengan penataan daerah. Pada pasl 33 ayat (3), dimana diatur
bahwa pembentukan daerah persiapan harus memnuhi persyaratan
dasar kapasitas daerah dan persyaratan dasar kewilayahan. Pada pasal
34 ayat (2) persyaratan dasar kewilayahan antara lain meliputi: luas
wilayah, cakupan wilayah, batas wilayah dan usia minimal wilayah.
d. Permendagri 76 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah
mengatur teknis administratif penegasan batas, baik di daratmaupun di
laut. Dalam proses penegasan dan penetapan batas, beberapa kegiatan
harus dilakukan, yaitu:penyiapan dokumen, pelacakan batas,pengukuran
dan penentuan posisi pilar batas, dan pembuatan peta batas, yang
hasilnya kemudian ditetapkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri.
Proses penetapan dan penegasan batas dilaksanakan oleh Tim Penegasan
Batas Daerah (PBD) baik Tim PBD Pusat, PBD Provinsi, dan PBD
Kabupaten/Kota.
e. DalamAdministrasi / Pengelolaan batas wilayah, peta batas wilayah
menjadi acuan didalam pelaksanaan berbagai urusan pemerintahan
lainnya, seperti: penataan ruang, pembuatan peta tematik, penentuan
batas kewenangan pengelolaan dan pelayanan pemerintahan, perizinan
dan pelayanan publik lainnya.

III. Azas-Azas Penegasan Batas Wilayah di Indonesia

Bila dilihat proses penegasan batas wilayah di Indonesia sebagimana


diatur dalam Permendagri 76 tahun 2012, penegasan batas wilayah di
Indonesia mengacu pada azas sebagai berikut :
1. Partisipatif dan Transparan:
Seluruh tahapan penegasan batas dilakukan bersama dan dituangkan
dalam berita acara kesepakatan yang ditandatangani oleh para pihak.
Pengecualian terhadap azas ini juga diatur, dimana mekanisme
penyelesaian batas wilayah khusus pada segmen-segmen batas yang
tidak disepakati sesuai tenggang waktu yang ditetapkan, dilakukan
sesuai kewenangan antara level pemerintahan (provinsi dan pusat).

3
Segmen batas antar kabupaten/kota dalam satu provinsi yang melebihi
tenggang waktu difasilitasi oleh gubernur. Sedangkan segmen batas antar
provinsi yang tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah provinsi
difasilitasi oleh Mendagri.
2. Kepastian Hukum:
a. Proses dan produk penegasan batas wilayah
berpedoman/mempertimbangkan berbagai produk perundang-
undangan, seperti: Undang-Undang Pembentukan Daerah, UU sektoral,
Peraturan Daerah, dokumen kesepakatan para pihak yang relevan dan
mempunyai kekuatan hukum.
b. Hasil penegasan ditetapkan dengan Permendagri.
3. Berbasis Metodologi atau Kaidah:
Penegasan batas wilayah dilakukan sesuai dengan kaidah pemetaan,
dengan instrumen dan pendekatan keilmuan.
4. Akomodatif:
Peta hasil penegasan dapat digunakan untuk mendukung pembuatan
peta lainnya.
5. Partisipatif:
Penegasan batas wilayah dilakukan dengan melibatkan para pihak (Tim
PBD daerah yang berbatasan, Tim PBD Provinsi, Tim PBD Pusat, serta
tokoh masyarakat (bila dipandang perlu).
6. Akuntabel:
Hasil penegasan batas dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis,
teknis, administratif dan secara legal.

IV. Tahapan Penegasan Batas Wilayah

Tahapan penegasan batas wilayah di Indonesia mencakup batas wilayah


di darat dan di laut.

4.1.Penegasan Batas Daerah di Darat


Penegasan batas daerah di darat dilakukan melalui tahapan :
1. Penyiapan Dokumen:
Meliputi peraturan perundang-undangan tentang pembentukan daerah,
peta dasar; dan/atau, dokumen lain yang berkaitan dengan batas wilayah
administrasi yang disepakati para pihak. Dokumen dapat dipertukarkan
agar satu sama lain mengetahui keabsahannya.
2. Pelacakan Batas
Pasca penyiapan dokumen, pelacakan dapat dilakukan dengan metoda
kartometrik dan survey bersama, dan hasilnya adalah titik koordinat,
yang dituangkan dalam kesepakatan bersama (berita acara).
3. Pengukuran dan Penentuan posisi batas
Pengambilan/ekstraksi titik-titik koordinat batas dengan interval tertentu
pada peta kerja dan/atau hasil survei lapangan.
4. Pembuatan Peta Batas
a. Pembuatan kerangka peta batas dengan skala dan interval tertentu
yang memuat minimal 1 (satu) segmen batas;
b. Melakukan kompilasi dan generalisasi dari peta RBI dan/atau hasil
survei lapangan, dan/atau data citra dalam format digital; dan

4
c. Penambahan informasi isi dan tepi peta batas.

4.2.Penegasan Batas Daerah di Laut


Penegasan batas daerah di laut merupakan penentuan titik-titik batas
kewenangan pengelolaan sumber daya di laut untuk daerah provinsi dan
kabupaten/kota sesuai dengan perundang-undangan, dengan tahapan
sebagai berikut :
1. Penyiapan Dokumen
Peraturan perundang-undangan tentang pembentukan daerah, peta
dasar; dan/atau, dokumen lain yang berkaitan dengan batas wilayah
administrasi yang disepakati para pihak.
2. Penentuan Garis Pantai
Dilakukan dengan cara mengidentifikasi peta dasar dan/atau peta lain
skala terbesar yang tersedia secara kartometrik.
3. Pengukuran dan dan Penentuan Posisi Batas
Diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan
kepulauan paling jauh 12 (dua belas) mil laut untuk provinsi dan 1/3
(sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota.
4. Pembuatan Peta Batas Daerah di Laut
Prinsip yang digunakan sama halnya dengan pembuatan peta batas
daerah di darat.
5. Pengecekan Lapangan Dengan Prinsip Geodesi dan Hidogafi
Pada tahapan ini adalah kegiatan secara fisik dilapangan untuk
menyiapkan rencana penentuan lokasi Titik Acuan(Reference Point). Hasil
kegiatan pelacakan ini dapat ditandai denganpemasangan Titik Acuan
sementara berupa bangunan Pilar Sementarayang belum diukur
posisinya. Kegiatan pelacakan batas dapatdilakukan secara simultan
dengan tidak memasang Pilar Sementaranamun dapat langsung didirikan
Pilar Permanen yang diukur langsungposisinya dengan alat penentu
posisi satelit GPS dalam koordinatgeografi (lintang, bujur) dalam ellipsoid
World Geodetic System 1984(WGS-84).
Hasil dari kegiatan di atas dituangkan dalam Berita Acara (BA) yang
ditandatangani oleh para pihak yang berwenang.

V. Kelembagaan & Pendanaan


5.1 Kelembagaan:
Untuk menangani tugas penegsan batas wilayah, Permendagri 76 tahun
2012 menetapkan susunan keanggotaan Tim PBD yang terdiri atas Tim PBD
Pusat, Tim PBD Provinsi, dan Tim PBD Kabupaten/Kota, dengan susunan
sebagai berikut:
1. Susunan keanggotaan Tim PBD Pusat:
- Ketua: Menteri Dalam Negeri;
- Wakil Ketua; Direktur Jenderal Pemerintahan Umum (sekarang Bina
Administrasi Kewilayahan);
- Anggota:Kepala Biro Hukum kemendagri, Kepala Pusat Pemetaan Batas
Wilayah Badan Informasi Geospasial, Direktur Topografi Tentara
Nasional Indonesia Angkatan Darat, Kepala Pusat Hidro-Oseanografi
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, Kepala Pusat Pemanfaatan
Teknologi Digantara Lembaga Antaiksa dan Penerbangan Nasional,

5
serta pejabat dari kementerian atau lembaga pemerintah non
kementerian tekrait lainnya.

2. Susunan keanggotaan Tim PBD Provinsi terdiri dari:


- Ketua: Gubernur;
- Wakil Ketua: Sekretaris Daerah;
- Anggota:Asisten yang membidangi urusan pemerintahan, Kepala Biro
yang membidangi pemerintahan, Kepala Biro Hukum, Kepala SKPD
yang membidangi urusan perencanaanpembangunan daerah, Kepala
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional, Kepala Topografi Daerah
Militer, Pejabat dari Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait lainnya.

3. Susunan keanggotaan Tim PBD Kabupaten / Kota:


- Ketua Bupati/Walikota;
- Wakil Ketua: Sekda Kab/Kota;
- Anggota:
Kepala Bagian yang membidangi pemerintahan, Kepala Bagian Hukum,
Kepala SKPD yang membidangi urusan perencanaanpembangunan
daerah, Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional, Pejabat dari
Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait lainnya.

Kewenagan Tim PBD Pusat adalah memfasilitasi penegasan batas antar


Provinsi, dan Tim PBD provinsi memfasilitasi penegasan batas
kabupaten/kota. Sedangkan mekanisme fasilitasi dalam penyelesaian
masalah batas wilayah berjenjang / hierarkis sehingga tercipta tata kerja
yang besifat kolektif, adanya koordinat dalam garis batas dan veifikatif.
Dalam menyelesaikan masalah tedapat limitasi waktu dalam fasilitasi
(Gambar 3.).

Gambar 3. Fasilitasi Penyelesaian Masalah Batas Wilayah


(Sumber : Permendagri 76/2012)

Tim PBD Kabupaten/Kota (Bupati/Walikota) memaparkan kondisi riil


wilayah yang dipermasalahkan dan melakukan pertukaran dokumen dalam
rapat pertama. Gubernur mengundang bupati/walikota yang berselisih
dalam rapat keduapaling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah rapat
pertama dalam hal tidaktercapai penyelesaian. Gubernur mengundang
bupati/walikota dan Tim PBD Pusat dalam rapat ketigauntuk memfasilitasi
penyelesaian perselisihan dalam hal tidak tercapaipenyelesaian perselisihan
dalam rapat kedua. Apabila Gubernur tidak dapat mengambil keputusan
pada pertemuan ketiga maka Gubernur menyerahkan proses selanjutnya

6
kepada MenteriDalam Negeri. Hasil penyelesaian perselisihan pada tingkat
Pusat bersifat final dan hasil penyelesaian perselisihan dituangkan dalam
bentuk Surat Gubernur yang merupakan bagian dari penyusunan
Peraturan Menteri tentang Batas Daerah.
Gubernur melaporkan hasil penyelesaian perselisihan kepada Menteri
dilampiri dengan berita acaraselesainya perselisihan yang ditandatangani
oleh bupati/walikota yang berselisih. Penyelesaian perselisihan batas
daerah antar kabupaten/kota dalam satu provinsidilakukan paling lama
enam bulan setelahrapat pertama penyelesaian perselisihan dilaksanakan.

5.2. Pendanaan

Pendanaan pelaksanaan kegiatan penegasan batas daerah bersumber


dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah Provinsi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Kabupaten/Kota dan lain-lain sumber pendapatan yang sah dan tidak
mengikat.

VI. Potret masalah batas wilayah di Indonesia

Ada beberapa sumber masalah yang mengakibatkan timbulnya sengketa


batas wilayah atau yang berkontribusi pada penegasan batas wilayah di
Indonesia antara lain:

1. Undang- Undang Pembentukan Daerah Otonom


Era pra UU 23 tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah pada umnya
peta lampiran UU tidak mencantumkan batas daerah lengkap dengan
titik koordinat (atau belum dilakukan penegasan sesuai kaidah
pemetaan). Karena itu pada umumnya peta batas wilayah yang ada masih
indikatif. Selain itu terdapat kasus Undang-Undang Pembentukan Daerah
yang tidak sinkron antara batang tubuh dengan penjelasan, khususnya
pada peta lampiran.
Salah satu contoh peta batas dalam lampian undang-undang
pembentukan daerah yang belum ditegaskan sesuai kaidah pemetaan
adalah Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 Tentang Pembentukan
Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan,
Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten
Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten
Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi (Gambar 4.).

7
Gambar 4. Lampiran 5 Peta Kabupaten Pegunungan Bintang
(Sumber : Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2002)

2. Motif Ekonomi
Batas wilayah digunakan sebagai alasan dalam perebutan sumber daya di
beberapa daerahyang potensi sumber daya alamnya tinggi, karena batas
wilayah merupakan salah satu komponen dalam formula alokasi
dana.Maka permintaan akan perubahan batas sering digunakan sebagai
alasan dalam memperluas/merubah batas wilayah.

3. Motif Sosial Budaya


Hak ulayat/adat sering digunakan untuk klaim perubahan batas wilayah
meski tidak memenuhi kaidah pemetaan, tetapi batas ulayat/adat
dimungkinkan menjadi batas wilayah sepanjang ada kesepakatan antar
kedua belah pihak.Keberadaan rumpun sosial berpotensi dan sering
digunakan menuntut perubahan batas wilayah yang sudah ditetapkan
sesuai kaidah pemetaan.

4. Motif Politik
Tuntutan untuk merubah batas wilayah (khusus yang belum disepakati)
digunakan untuk perluasan atau penambahan daerah pemilihan
(dapil).Keberadaan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang lebih mudah
diakses oleh pemilih sering digunakan sebagai alasan untuk mengusulkan
perubahan batas wilayahmeskipun batas wilayah sudah disepakati dantelah
terbit Permendagrinya.

5. Motif Pelayanan Publik


Kemudahan akses terhadap pelayanan publik sering digunakan sebagai
motif untuk merubah batas wilayah, dengan alasan bahwa dari sisi
aksessibilitas, lebih dekat memperoleh pelayanan dari daerah tetangga. Hal
tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan Kerja Sama Antar Daerah. Hal lain
yang dijadikan alasan untuk mengusulkan adanya perubahan batas wilayah
adalah keterbatasan sarana dan prasarana pelayanan publik di suatu
daerah.

8
VII. REFORMASI TATA KELOLA BATAS WILAYAH

7.1 Reformasi Kebijakan Penataan Daerah

Bertitik tolak pada berbagai permasalahan yang ada dalam


penyelenggaraan pemerintahan daerah, termasuk masalah batas wilayah,
ditetapkannya UU 23 tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah menjadi
awal penataan kembali kebijakan penataan daerah. Penataan daerah
meliputi: pembentukan dan penyesuaian daerah. Pembentukan daerah
berupa pemekaran dan penggabungan daerah, mencakup pembentukan
daerah provinsi dan pembentukan daerah kabupaten/kota.
Pemekaran daerah berupa pemecahan daerah provinsi atau daerah
kabupaten/kota menjadi dua atau lebih daerah baru. Sedangkan
penggabungan adalah bagian daerah dari daerah yang bersanding dalam 1
(satu) daerah provinsi menjadi satu daerah baru. Pemekaran dilakukan
melalui tahapan Daerah Persiapan provinsi atau daerah persiapan
kabupaten/kota. Pembentukan Daerah Persiapan harus memenuhi
persyaratan dasar dan persyaratan administratif.
Persyaratan dasar pemekaranmeliputipersyaratan dasar kewilayahan dan
persyaratan dasar kapasitas Daerah [3].Persyaratan dasar kewilayahan
meliputi luas wilayah minimal, jumlah penduduk minimal, batas wilayah,
cakupan Wilayah, dan batas usia minimal Daerah provinsi, Daerah
kabupaten, dan Kecamatan. Sedangkan persyaratan dasar kapasitas
Daerah adalah kemampuan Daerah untuk berkembang dalam mewujudkan
kesejahteraan masyarakat.Secara khusus, pemenuhan persyaratan
kapasitas kewilayahan, yaitu batas wilayahyang dibuktikan dengan titik
koordinat pada peta dasar calon Daerah Otonomi Baru(DOB), merupakan
reformasi tata kelola penegasan batas wilayah kedepan.Oleh karena itu, bila
ada penyesuaian daerah, seperti perubahan batas wilayah, harus dilakukan
dengan UU.

7.2 Reformasi Kebijakan Penataan Desa


Reformasi kebijakan penataan desa dimulai dengan ditetapkannya UU
Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, yang antara lain mengatur bahwa
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota dapat melakukan penataan Desa. Penataandesa tersebut
meliputipembentukan (dengan Peraturan Daerah), penghapusan,
penggabungan, perubahan status, dan penetapan Desa.
Pembentukan Desaharus memenuhi syaratbatas wilayah Desa yang
dinyatakan dalam bentuk peta Desa, lengkap dengan titik koordinat, dan
dituangkan dalam Peraturan Bupati/Walikota.

VIII. Profil penyelesaian segmen batas daerah (provinsi, kabupaten/kota)

Jumlah segmen batas daerah baik provinsi serta kabupaten/kota adalah


977 segmen (Tabel 1.). Segmen batas daerah terbagi menjadi 3 (tiga) status
diantaranya belum penegasan, proses penegasan, dan sudah permendagi.
Status belum penegasan diartikan dengan belum adanya proses
penegasan batas (belum terjadi pertukaran dokumen). Proses penegasan

9
adalah perselisihan batas wilayah sudah difasilitasi oleh Pemerintah
Provinsi maupun Pemerintah Pusat. Sedangkan sudah Permendagi adalah
perselisihan antar dua daerah telah selesai dan ditunjukkan dengan
terbitnya produk hukum berupa Permendagri Tentang Batas Daerah.

Tabel 1. Status Segmen Batas Wilayah di Indonesia


STATUS
SEGMEN BELUM PROSES SUDAH JUMLAH
PENEGASAN PENEGASAN PERMENDAGRI
PROVINSI 27 74 61 162

KABUPATEN/KOTA 188 300 327 815

TOTAL 215 374 388 977

(Sumber : Rekapitulasi Segmen Batas Wilayah Indonesia per September Kemendagri, 2016 )

Persentase status segmen batas baik segmen provinsi maupun


kabupaten/kota yang belum penegasan adalah 17 %atau 215 segmen
(segmen provinsi berjumlah 27 segmen dan segmen kabupaten/kota
berjumlah 188 segmen) dari total 977 segmen. Persentase status segmen
batas baik segmen provinsi maupun kabupaten/kota yang sudah
permendagri adalah 37 % atau 388 segmen (segmen provinsi berjumlah 61
segmen dan segmen kabupaten/kota berjumlah 327 segmen). Sedangkan
Persentase status segmen batas baik segmen provinsi maupun
kabupaten/kota yang sedang proses penegasan adalah 46 % atau 374
segmen (segmen provinsi berjumlah 74 segmen dan segmen kabupaten/kota
berjumlah 300 segmen) (Gambar 5).

Gambar 4. Status Segmen Batas Wilayah di Indonesia


(Sumber : Rekapitulasi Segmen Batas Wilayah Indonesia per September Kemendagri,
2016)

Tabel 2. Profil Penyelesaian Segmen Batas Wilayah Kabupaten/Kota di Indonesia

10
JUMLAH PERMENDAGRI SUDAH PBD/ BELUM PBD/
NO. PROVINSI
SEGMEN SELESAI PENEGASAN PENEGASAN

1 ACEH 39 8 19 12
2 SUMATERA UTARA 56 11 22 23
3 RIAU 19 2 15 2
4 SUMATERA BARAT 32 11 19 2
5 BENGKULU 13 10 3 0
6 JAMBI 17 8 8 1
7 SUMATERA SELATAN 34 2 19 13
8 LAMPUNG 31 0 6 25
9 BANGKA BELITUNG 6 4 2 0
10 KEPULAUAN RIAU 1 0 1 0
11 BANTEN 10 10 0 0
12 JAWA BARAT 51 42 9 0
13 JAWA TENGAH 73 70 3 0
14 DIY 7 7 0 0
15 JAWA TIMUR 69 47 20 2
16 KALIMANTAN BARAT 25 5 20 0
17 KALIMANTAN SELATAN 25 14 11 0
18 KALIMANTAN TENGAH 23 5 15 3
19 KALIMANTAN TIMUR 14 3 4 7
20 KALIMANTAN UTARA 5 0 5 0
21 SULAWESI SELATAN 46 0 38 8
22 SULAWESI TENGGARA 23 7 5 11
23 SULAWESI BARAT 7 0 6 1
24 BALI 16 15 1 0
25 NUSA TENGGARA BARAT 10 8 2 0
26 NUSA TENGGARA TIMUR 18 5 13 0
27 SULAWESI TENGAH 18 7 10 1
28 GORONTALO 9 5 4 0
29 SULAWESI UTARA 18 12 6 0
30 MALUKU 4 3 1 0
31 MALUKU UTARA 8 4 2 2
32 PAPUA 65 2 0 63
33 PAPUA BARAT 23 0 11 12
TOTAL 815 327 300 188
(Sumber : Rekapitulasi Segmen Batas Wilayah Indonesia per September Kemendagri, 2016 )
Keteangan, PBD : Penegasan Batas Daerah

IX. STRATEGI PENYELESAIAN PERMASALAHAN DALAM


PENGELOLAAN BATAS WILAYAH

Sesuai dengan perkembangan pengelolaan tugas penegasan batas wilayah


diperlukan strategi dalam penyelesaian batas wilayah sebagai berikut :
1. Revitalisasi kelembagaan Penegasan Batas Daerah (PBD) dengan cara
intensifikasi koordinasi, fasilitas peningkatan kapasitas PBD Daerah
dengan cara pembinaan dan pengawasan umum.
2. Akaselerasi penerbitan Permendagri batas antar daerah pada segmen
yang telah disepakati.
3. Fasilitasi penyelesaian perselisihan batas daerah sesuai skala prioritas
(sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Dalam Negeri 2015 –
2019).
4. Sinkronasi kegiatan dengan kebijakan nasional sesuai dengan Peraturan
Presiden Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Percepatan Kebijakan Satu Peta
dengan Skala 1 : 50.000.
5. Restrkturisasi program atau kegiatan, relokasi fokus dan lokus
penyelesaian sesuai derajat masalah (prioritas).
6. Pengutamaan pendekatan kartometrik untuk daerah-daerah yang secara
geografis sulit diakses, kawasan hutan, dan lembah.

11
X. KESIMPULAN

Permasalahan batas wilayah yang muncul di era reformasi saat ini,


setelah terbitnya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999
tentangPemerintahan Daerah (UU Otonomi Daerah), diantaranya persoalan
politik, sosialbudaya, serta ekonomi dapat diselesaikan dengan beberapa
strategi diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Revitalisasi kelembagaan Penegasan Batas Daerah (PBD) dengan cara
intensifikasi koordinasi dan fasilitas peningkatan kapasitas PBD Daerah
dengan cara pembinaan dan pengawasan umum.
2. Akaselerasi penerbitan Permendagri batas antar daerah pada segmen
yang telah disepakati.
3. Fasilitasi penyelesaian perselisihan batas daerah sesuai skala prioritas
(sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Dalam Negeri 2015 –
2019).
4. Sinkronasi kegiatan dengan kebijakan nasional sesuai dengan Peraturan
Presiden Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Percepatan Kebijakan Satu Peta
dengan Skala 1 : 50.000.
5. Restrkturisasi program atau kegiatan, relokasi fokus dan lokus
penyelesaian sesuai derajat masalah (prioritas).
6. Pengutamaan pendekatan kartometrik untuk daerah-daerah yang secara
geografis sulit diakses, kawasan hutan, dan lembah.

DAFTAR PUSTAKA

(1) Jones, Stephen B. (1945). Boundary Making : A Handbook for


Statesmen, Treaty Editors and Boundary Commissioners. Carnegie
Endowment for International Peace. Washington.
(2) Undang-Undang 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
(3) Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.
(4) Permendagri Nomor 76 Tahun 2012 Tentang Penegasan Batas Daerah,
Departemen Dalam Negeri Repblik Indonesia.

12