Anda di halaman 1dari 20

Buta Warna

I. Tujuan
Mengetahui cara melakukan pengujian test buta warna.

II. Latar Belakang dan Tinjauan Pustaka


Salah satu gangguan yang terjadi pada mata adalah buta warna. Buta
warna adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat membedakan warna
tertentu yang bisa dibedakan oleh orang dengan mata normal. Seseorang yang
menderita buta warna dapat disebabkan oleh kelainan sejak lahir atau akibat
penggunaan obat-obatan yang berlebihan. Buta warna umumnya diderita oleh
laki-laki, sedangakan wanita hanyalah sebagai gen pembawa/resesif. Kemajuan
Teknologi pada umumnya memunculkan peralatan yang semakin canggih
dalam upaya memerangi penyakit atau melakukan deteksi lebih dini pada
kondisi-kondisi tertentu.
Salah satu perkembangan dari kemajuan Ilmu Kedokteran adalah
pengetesan buta warna menggunakan buku Ishihara. Tes buta warna saat ini
sangat dibutuhkan bagi dunia industri, pendidikan, maupun pemerintah. Hal ini
di sebabkan oleh ketergantungan manusia dalam pekerjaan atau pendidikan
yang erat sekali berhubungan dengan warna. Tes Ishihara adalah sebuah
metode pengetesan buta warna yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara.
Tes ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1917 di Jepang. Sejak saat itu,
tes ini terus digunakan di seluruh dunia, sampai sekarang. Titik berwarna
tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran. Warna titik itu dibuat
sedemikan rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan
warna seperti yang dilihat orang normal.
Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan
sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu yang
disebabkan oleh faktor genetis. Buta warna merupakan kelainangenetika yang
diturunkan dari orang tua kepadaanaknya, kelainan ini sering juga disebut sex
linked. karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y
tidak membawa faktor buta warna. Halinilah yang membedakan antara
penderita buta warnapada laki-laki dan perempuan. Seorang
perempuanterdapat istilah 'pembawa sifat', hal ini menunjukkanada satu
kromosom X yang membawa sifat buta warna. Perempuan dengan pembawa
sifat, secara fisik tidakmengalami kelainan buta warna sebagaimana
wanitanormal pada umumnya, tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi
menurunkan faktor buta warna kepadaanaknya kelak. Apabila pada kedua
kromosom Xmengandung faktor buta warna maka seorang wanitatersebut
menderita buta warna.
Pada manusia, contoh dari gen pautan –X adalah buta warna dan
hemofili. Kedua sifat ini disebabkan oleh gen resesif dan cara pewarisannya
sama dengan warna mata pada lalat buah. Buta warna merupakan kelainan
genetik atau bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kebutaan
warna juga dapat disebabkan seseorang mengkonsumsi obat dalam periode
waktu tertentu karena penyakit yang dideritanya. Buta warna umumnya
diderita oleh laki-laki, sedangkan wanita hanyalah sebagai gen
pembawa/resesif. Untuk mengetahui apakah seseorang menderita buta warna
atau tidak, maka dapat dilakukan test dengan menggunakan suatu buku test
untuk melakukan test buta warna. Buku tersebut dikenal dengan ISHIHARA
TEST yang terdiri dari plat atau lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik
dengan berbagai warna dan ukuran. Titik tersebut membentuk lingkaran, warna
titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat
perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal.(Jurnal Teknologi
Informasi DINAMIK Volume 16, No.2, Juli 2011 : 160170)
Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan
sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu yang
disebabkan oleh faktor genetis. Buta warna merupakan kelainan genetika yang
diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebut sex
linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y
tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara
penderita buta warna pada laki-laki dan perempuan.(Agusta Sofiar, Tony Mulia
dan M. Sidik. JURNAL ILMIAH ELITE ELEKTRO, VOL. 3, NO. 1, MARET
2012: 15-22.)
Pendapat lain menyatakan bahwa buta warna, ialah orang yang tidak
bisa melihat sejenis cahaya dan dibedakan atas buta warna merah dan buta
warna hijau. Penyakit ini jarang dijumpai pada perempuan. Perempuan normal
memiliki dua macam genotip, yaitu XCb XCb dan XCb Xcb. Yang pertama
homozigot dominan dan yang kedua heterozigot atau pembawa(carier).
Perempuan buta warna hanya satu macam genotip Xcb Xcb. Laki-laki normal
hanya satu macam genotip XCb Y, sedangkan laki-laki buta warna Xcb
Y.(Rondonuwu, Suleman. 1989.Dasar-dasar genetika)

Ada tiga jenis gangguan penglihatan terhadap warna, yaitu:

a. Monochromacy
Merupakan keadaan dimana seseorang hanya memiliki sebuah sel
pigmen cones atau tidak berfungsinya semua sel cones. Monochromacy
ada dua jenis, yaitu rodmonochromacy (typical) adalah jenis buta warna
yang sangat jarang terjadi, yaitu ketidakmampuan dalam membedakan
warna sebagai akibat dari tidak berfungsinya semua cones retina. Penderita
rod monochromacy tidak dapat membedakan warna sehingga yang terlihat
hanya hitam, putih dan abu-abu; Cone monochromacy (atypical) adalah
tipemonochromacy yang sangat jarang terjadi yang disebabkan oleh tidak
berfungsinya dua sel cones. Penderita cone monochromacy masih dapat
melihat warna tertentu, karena masih memiliki satu sel conesyang
berfungsi.
b. Dichromacy
Adalah jenis buta warna dimana salah satu dari tiga sel cone tidak
ada atau tidak berfungsi. Akibat dari disfungsi salah satu sel pigmen pada
cone, seseorang yang menderita dikromatis akan mengalami gangguan
penglihatan terhadap warna-warna tertentu. Dichromacy dibagi menjadi
tiga bagian berdasarkan sel pigmen yang rusak.
(1) Protanopia adalah salah satu tipe dichromacy yang disebabkan
oleh tidak adanya photoreseptor retina merah. Pada penderita
protanopia, penglihatan terhadap warna merah tidak ada. Dichromacy
tipe ini terjadi pada 1% dari seluruh pria. Protanopia juga dikenal
dengan buta warna merah-hijau.
(2) Deutanopia adalah gangguan penglihatan terhadap warna yang
disebabkan tidak adanya photoreseptor retina hijau.
(3) Tritanopia adalah keadaan dimana seseorang tidak memiliki short-
wavelength cone. Seseorang yang menderita tritanopia akan
mengalami kesulitan dalam membedakan warna biru dan kuning dari
spektrum cahaya tampak. Tritanopia disebut juga buta warna biru-
kuning dan merupakan tipe dichromacy yang sangat jarang dijumpai
(Betsy, 2003).
c. Anomalous trichromacy
Adalah gangguan penglihatan warna yang dapat disebabkan oleh
faktor keturunan atau kerusakan pada mata setelah dewasa.(Agusta Sofiar,
Tony Mulia dan M. Sidik. JURNAL ILMIAH ELITE ELEKTRO, VOL. 3,
NO. 1, MARET 2012: 15-22.)

III. Metode
Alat yang digunakan pda praktikum ini adalah alat tulis, buku tes
buta warna (Ishihara`s tests) dan mahasiswa kelas Biologi B 2016. Langkah
yang pertama yaitu masing-masing praktikan diuji untuk melihat
kemampuannya membedakan warna dengan menulis apa yang terlihat pada
buku test buta warna. Hasil angka maupun gambar dicocokkan dengan
angka/gambar yang sebenarnya. Kemudian dihitung kesalahan yang dibuat
dalam test tersebut.
IV. Hasil dan Pembahasan

Tabel 1. Presentase benar pada pengujian buta warna mahasiswa


No. Nama Presentase No. Nama Presentase
Benar (%) Benar

1 Agsa 92, 85 21 Dina 100

2 Deanita 100 22 Linda 78,57

3 Afrian 78,57 23 Sumiyati 100

4 Viola 85,71 24 Anisa 78,57

5 Novita 92, 85 25 Fanani 57,14

6 Yustichia 85,71 26 Vicky 92, 85

7 Dhisa 100 27 Adinda 92, 85

8 Septi 92, 85 28 Fitri 100

9 Retno 100 29 Fita 92, 85

10 Amin 92, 85 30 Herlinda 92, 85

11 Ayu 100 31 Salma 85,71

12 Choirul 100 32 Diah 92, 85

13 Nurwati 92, 85 33 Anggita 92, 85

14 Yuliana 100 34 Rinda 100

15 Imam 85,71 35 Nastititanya 92, 85

16 Taqwaa - 36 Alviati 78,57

17 Diana 92, 85 37 Noor 85,71

18 Sekar 92, 85 38 Farid 92, 85

19 Riska 100 39 Syarah 92, 85

20 Krisna 92, 85
Praktikum genetika yang dilaksanakan pada hari Rabu, 19 September
2018 dengan judul “Butawarna” bertujuan untuk mengetahui cara melakukan
pengujian test buta warna. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan buku
Test Buta warna (Ishihara’s Tests). Buku ini dikembangkan oleh Dr. Shinobu
Ishihara dan dipublikasikan sejak tahun 1917 di Jepang. Buku Ishihara Test
terdiri dari plate atau lembaran yang di dalamnya terdapat titik-titik dengan
berbagai warna dan ukuran. Titik tersebut membentuk lingkaran, warna titik
tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat
perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal (Murti, 2011: 160).

Tes Ishihara merupakan uji untuk mengetahui adanya efek penglihatan


warna, didasarkan pada menentukan angka atau pola yang ada pada kartu
dengan berbagai ragam warna (Ilyas, 2008). Menurut Guyton (1997) Metode
Ishihara yaitu metode yang dapat dipakai untuk menentukan dengan cepat
suatu kelainan buta warna didasarkan pada pengunaan kartu bertitik-titik. Kartu
ini disusun dengan menyatukan titik-titik yang mempunyai bermacam-macam
warna (Ilyas, 2008).
Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan
sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu akibat
faktor genetis sehingga penderita buta warna tidak mampu membedakan
warna-warna dasar tertentu. Buta warna merupakan kelainan genetik yang
diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Kelainan ini sering juga disebut sex
linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y
tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara
penderita buta warna pada laki-laki dan wanita. Hal ini menujukkan ada satu
kromosom X yang membawa sifat buta warna. Wanita dengan pembawa sifat,
secara fisik tidak mengalami kelainan buta warna sebagaimana wanita normal
pada umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan
faktor buta warna kepada anaknya kelak. Apabila pada kedua kromosom X
mengandung faktor buta warna maka seorang wanita tersebut menderita buta
warna (Suryo, 2008: 191-193).
Ada tiga jenis sel kerucut pada retina. Mereka masing-masing berisi
pigmen visual (opsin) yang berbeda sehingga bereaksi terhadap panjang
gelombang cahaya yang berbeda yaitu merah, hijau dan biru. Sel kerucut
menangkap gelombang cahaya sesuai dengan pigmen masing-masing dan
meneruskannya dalam bentuk sinyal transmisi listrik ke otak. Otak kemudian
mengolah dan menggabungkan sinyal warna merah, hijau dan biru dari retina
ke tayangan warna tertentu. Karena perbedaan intensitas dari masing-masing
warna pokok tersebut, kita dapat membedakan jutaan warna. Gangguan
penerimaan cahaya pada satu jenis atau lebih sel kerucut di retina berdampak
langsung pada persepsi warna di otak. Seseorang yang buta warna memiliki
cacat atau kekurangan satu atau lebih jenis sel kerucut (Cummings, 2011:81).
Pada praktikum ini, digunakan 14 plate untuk menguji test buta warna.
Berikut penjelasan dari masing-masing plate tersebut:
Nomor 1.

Setiap manusia yang normal ataupun tidak, akan melihat dengan jelas bahwa
itu adalah angka 12. Plate ini digunakan untuk penjelasan awal proses test.
Nomor 2.

Manusia yang normal akan membaca dengan jelas dan benar bahwa tersebut
adalah angka 8. Namun, manusia yang mengalami gangguan penglihatan
merah-hijau akan membaca angka 3.
Nomor 3.
Manusia yang normal akan dengan jelas dan benar membaca angka 5. Namun,
manusia yang memiliki gangguan penglihatan merah-hijau akan membaca
angka 2.
Nomor 4.

Manusia yang normal akan dengan jelas dan benar membaca angka 29.
Namun, manusia yang memiliki gangguan penglihatan merah-hijau akan
membaca angka 70.
Nomor 5.

Manusia yang normal akan dengan jelas dan benar membaca angka 74.
Namun, manusia yang memiliki gangguan penglihatan merah-hijau akan
membaca angka 21.
Nomor 6.

Manusia normal akan membacanya 7 dan sebagian besar orang dengan


gangguan penglihatan warna tidak bisa membaca satu nomor pun dan
walaupun bisa dibaca, jawabannya salah.
Nomor 7.
Manusia normal akan membacanya 45 dan sebagian besar orang dengan
gangguan penglihatan warna tidak bisa membaca satu nomor pun dan
walaupun bisa dibaca, jawabannya salah.
Nomor 8.

Manusia normal akan melihat dengan jelas angka 2. Sedangkan pada penderita
buta warna merah-hijau akan sangat membingungkan dan tidak jelas. Dan
seringkali jawabannya salah.
Nomor 9.

Manusia yang normal tidak menemukan angka pada plate. Begitu juga pada
penderita buta warna total, tidak dapat menemukan apapun. Sedangkan pada
buta warna merah-hijau akan membaca angka 2.
Nomor 10.
Manusia normal biasanya dapat membaca angka 16 , tetapi kebanyakan dari
mereka yang mengalami gangguan penglihatan merah-hijau tidak dapat
membacanya.
Nomor 11.

Dalam menemukan lilitan garis antara dua x, orang normal menemukan garis
hijau kebiru biruan, tapi sebagian besar orang dengan gangguan penglihatan
warna tidak bisa mengikuti garis atau mengikuti garis tapi berbeda garis
dengan yang normal.
Nomor 12.

Manusia yang normal akan membacanya 35. Untuk kasus protanopia dan
protanomalia yang parah hanya 5 yang terbaca. Dan untuk kasus protanomalia
yang ringan, kedua nomor-nomor di tiap plate terbaca tapi hanya 5 yang paling
jelas dari nomor lain. Untuk kasus deuteranomalia hanya nomor 3 yang
terbaca. Dan untuk kasus deuteranomalia yang ringan, kedua nomor di tiap
plate terbaca tapi hanya nomor 3 yang terlihat paling jelas dari nomor lainnya.
Nomor 13.
Manusia yang normal akan membacanya 96. Untuk kasus protanopia dan
protanomalia yang parah hanya 6 yang terbaca. Dan untuk kasus protanomalia
yang ringan, kedua nomor-nomor di tiap plate terbaca tapi hanya nomor 6 yang
paling jelas dari nomor lain. Untuk kasus deuteranomalia hanya nomor 9 yang
terbaca. Dan untuk kasus deuteranomalia yang ringan, kedua nomor di tiap
plate terbaca tapi hanya nomor 9 yang terlihat paling jelas dari nomor lainnya.
Nomor 14.

Dalam menemukan lilitan garis-garis antara dua x, orang normal akan


mengikuti garis ungu dan merah. Penderita protanopia dan protanomalia yang
parah hanya garis ungu yang ditemukan, dan untuk kasus protanomalia yang
ringan, kedua garis dapat ditemukan, namun garis ungu lebih mudah untuk
diikuti. Untuk kasus deuteranopia dan deuteranomalia yang parah hanya garis
merah yang ditemukan, dan untuk deuteranomalia yang ringan kedua garis
dapat ditemukan, namun garis merah lebih mudah diikuti (Ishihara: 2009).
Adapun analisisnya adalah berdasarkan hasil pembacaan pada soal tes
Ishihara plate nomor 1 - 11 menunjukkan penglihatan normal (tidak buta
warna) atau menderita buta warna. Jika ada 10 atau lebih plate yang terbaca
normal, maka penglihatan normal. Jika hanya 7 atau kurang plate yang terbaca
normal, maka terdapat masalah penglihatan warna. Namun, pada plate ke-9
mereka yang melihat angka 2 dan membacanya lebih mudah daripada plate ke-
8 diasumsikan memiliki penglihatan yang tidak normal.
Hasil pengujian test buta warna pada praktikan (saya) menunjukkan
tidak adanya kesalahan pembacaan pada plate Tes Ishihara. Dengan demikian,
persentase kesalahan pada pembacaan tes Ishihara adalah 0% dan presentase
benar adalah 100%, sehingga, dapat disimpulkan bahwa praktikan tidak
menderita buta warna.
Dari hasil pengujian tersebut, dapat diperkirakan bahwa genotip dan
fenotip dari orang tua praktikan yang tidak terkena penyakit buta warna.
Menurut Suryo (2008:191), buta warna merupakan kelainan genetik yang
diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebut sex
linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Terdapat dua
kemungkinan, yaitu kedua orang tua normal atau ibu carrier buta warna dan
ayah normal.
Kemungkinan pertama, kedua orang tua normal :
P ♀ XX >< ♂ XY
G X X, Y

F XX (wanita normal)

XY (laki-laki normal)

Kemungkinan kedua, salah satu orang tua adalah carier :

P ♀XcbX >< ♂XY

G Xcb, X X, Y

F XcbX (wanita carier)

XcbY (laki-laki buta warna)

XX (wanita normal)

XY (laki-laki normal)

Berdasarkan pengujian menggunakan buku Ishihara Test, pada kelas


Biologi B 2016 terdapat 11 mahasiswa menjawab benar dari 14 soal pada buku
Ishihara Test. Sembilan belas mahasiswa tersebut memiliki presentasi benar
100%, sehingga dapat dipastikan bahwa mahasiswa tersebut memiliki
penglihatan warna yang normal. Selain itu, terdapat 17 mahasiswa yang
menjawab salah pada satu soal, dengan persentase benar 92,8% dan terdapat 5
mahasiswa yang menjawab salah pada 2 nomor soal, dengan persentase benar
85,7%.
Tujuhbelas mahasiswa yang menjawab 1 nomor soal salah, maupun
pada lima mahasiswa dengan jawaban 2 nomor soal salah, masing-masing
memiliki persepsi yang berbeda sehingga menunjukkan hasil pembacaan yang
berbeda pada plate tersebut. Sembilan mahasiswa tersebut yaitu Agsa, Novita,
Septi, Amin, Nurwati, Diana, Sekar, Krisna, Vicky, Adinda, Fita, Herlinda,
Diah, Anggita, Nastiti, Farid dan Syarah.. Sedangkan mahasiswa yang
menjawab 2 nomor soal salah yaitu Viola, Yustichia, Imam, Sama dan Noor.
Menurut buku Ishihara Test, manusia yang memiliki gangguan
penglihatan merah-hijau akan membaca angka 70, bukan 20. Namun, antara
angka 70 dan 20 memang mirip, jadi kemungkinan kecil mahasiswa tersebut
memiliki gangguan penglihatan merah-hijau. Menurut buku Ishihara Test,
manusia yang normal akan melihat dengan jelas bahwa itu adalah angka 74,
namun bagi yang memiliki gangguan penglihatan merah-hijau akan membaca
angka 21. Antara angka 21 dengan angka 71 memang sedikit mirip, jadi
kemungkinan mereka mengalami gangguan penglihatan merah-hijau.
Kebanyakan mahasiswa juga salah pada plate nomor 9. Menurut buku
Ishihara Test, manusia yang normal tidak menemukan angka pada plate. Begitu
juga pada penderita buta warna total, tidak dapat menemukan apapun.
Sedangkan pada buta warna merah-hijau akan membaca angka 2. Jadi,
kemungkinan besar mahasiswa tersebut mengalami gangguan penglihatan
merah-hijau. Beberapa diantaranya juga masih ragu untuk menentukan apakah
ada angka atau pola ataupun tidak ada angka maupun pola pada plate tersebut.
Mahasiswa yang salah pada plate nomor 10. Mereka membaca angka
18 pada plate tersebut. Menurut buku Ishihara Test, manusia normal biasanya
dapat membaca angka 16, tetapi kebanyakan dari mereka yang mengalami
gangguan penglihatan merah-hijau tidak dapat membacanya. Hal ini
menunjukkan bahwa mereka tidak mengalami gangguan penglihatan merah
hijau. Kemungkinan mereka hanya salah melihat karena terlalu terburu-terburu.
Berdasarkan hasil analisis data kelas tersebut, diketahui bahwa terdapat
17 mahasiswa yang menjawab salah pada 1 nomor dan 5 mahasiswa menjawab
salah pada 2 nomor. Menurut teori, diketahui bahwa apabila seseorang
menjawab secara tepat 11 atau lebih pada plate Ishihara Test, maka orang
tersebut memiliki penglihatan warna yang normal. Menurut teori, jika terdapat
10 atau lebih pembacaan plate yang benar, maka seseorang tidak mengalami
buta warna. Jika terdapat 7 atau kurang, pembacaan plate yang benar, maka
seseorang terkena gangguan penglihatan warna (buta warna). Sehingga dapat
diketahui bahwa seluruh mahasiswa Biologi B 2016, memiliki penglihatan
warna yang normal. Namun kesalahan dalam pembacaan buku tersebut juga
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti fokus tidaknya dalam hal
pembacaan angka dan keseriusan praktikan.

V. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
cara pengujian tes buta warna menggunakan Ishihara tes dilakukan dengan
menuliskan apa yang dilihat pada plate Ishihara dalam waktu singkat.
Selanjutnya, mencocokkan hasil yang diperoleh dengan angka atau gambar
yang sebenarnya pada Ishihara Test.
Pada orang normal, akan melihat plate no 1 – 14 dengan jawaban 12, 8,
5, 29, 74, 7, 45, 2, (tidak ada angka), 16, menelusur garis, 35, 96, menelusur 2
garis. Sedangkan pada penderita buta warna merah hijau, akan melihat plate no
1 – 11 dengan jawaban 12, 3,2, 70, 21, dan tidak di temukan apapun.
Berdasarkan analisis jumlah jawaban benar, jika terdapat 10 atau lebih
pembacaan plate yang benar, maka seseorang tidak mengalami buta warna.
Jika terdapat 7 atau kurang, pembacaan plate yang benar, maka seseorang
terkena gangguan penglihatan warna (buta warna). Dari hasil analisis data
kelas tersebut, diketahui bahwa seluruh mahasiswa biologi B 2016 (1
mahasiswa tidak masuk) tidak memiliki gangguan buta warna.
VI. Diskusi
1. Mungkinkah seorang wanita menderita buta warna? Apapun jawaban anda,
bagaimana keturunannya kalau wanita tersebut kawin dengan laki-laki yang
buta warna?
Jawab :
Seorang wanita tetap memiliki kemungkinan menderita buta warna. Apabila
wanita tersebut buta warna dan kawin dengan laki-laki buta warna, maka
dapat dipastikan bahwa anak-anak mereka akan mengalami buta warna, baik
laki-laki maupun perempuan.
Parental (P) ♀ XcbXcb >< XcbY
Gamet Xcb >< Xcb, Y

Filial 1 (F1) XcbXcb (wanita buta warna)


XcbY (laki-laki buta warna)
Namun, apabila wanita tersebut heterozigot/carrier, maka akan memiliki
kesempatan mempunyai anak perempuan yang buta warna maupun carier,
dan anak laki-laki yang normal.
2. Mengapa buta warna banyak terdapat pada laki-laki?
Jawaban :
Buta warna merupakan salah satu sifat resesif yang menempel pada
kromosom X. Laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Apabila seorang
laki-laki memiliki kromosom X yang resesif tersebut, maka ia akan
menunjukkan sifat buta warnanya. Sedangkan perempuan mempunyai dua
kromosom X. Apabila salah satunya memiliki sifat resesif, maka akan
ditutupi oleh kromosom X lainnya, sehingga perempuan tersebut hanya
sebagai pembawa sifat (carier buta warna).
3. Dapatkah suami isteri yang normal menghasilkan keturunan yang buta
warna?
Jawab :
Suami istri yang normal masih mungkin menghasilkan keturunan yang buta
warna karena mungkin saja salah satu orang tuanya normal tetapi bersifat
carier (pembawa). Keturunan yang akan mengalami buta warna tersebut
adalah anak laki-laki. Keturunan yang berjenis kelamin perempuan tidak
mungkin menderita buta warna karena memiliki dua buah kromosom X.
4. Apabila dua anak bersaudara kandung, laki-laki dan perempuan semuanya
buta warna. Bagaimanakah fenotip dan genotip kedua orang tuanya?
Jawab :
Kemungkinan kedua orang tuanya menderita buta warna
P (Parental) ♀ XcbXcb >< ♂ XcbY
Buta warna Buta warna
Gamet Xcb, Xcb Xcb, Y

F (Filial) XcbXcb (♀), buta warna


XcbXcb (♀), buta warna
XcbY (♂), buta warna
XcbY (♂), buta warna

Atau

Ayah menderita buta warna sedangkan ibu adalah carier (pembawa) sifat
buta warna.

P (Parental) ♀ XcbX >< ♂ XcbY


Normal, carier Buta warna
Gamet XC, Xc Xc, Y

F (Filial) XcbX (♀), normal carier


XcbXcb (♀), buta warna
XcbY (♂), normal
XcbY (♂), buta warna
5. Ciri khas pewarisan gen terangkai pada kromosom X adalah Criss-cross
inheritance. Apa maksudnya?
Jawab :
Maksud Criss-cross inheritance (perkawinan silang) adalah perkawinan
yang menyilangkan sifat yang dibawa oleh suatu individu jantan atau betina
ke keturunan yang berjenis kelamin berbeda. Misalnya suatu sifat yang
dibawa oleh individu betina akan diturunkan kepada keturunannya yang
berjenis kelamin jantan, dan sebaliknya.
Daftar Pustaka

Cummings, Michael R. 2011. Human Heredity : Principles and Issues, Ninth


Edition. New York : Brooks/Cole Cengage Learning.
Guyton A. C., Hall J. E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta
: EGC. P. 208 – 212, 219 – 223, 277 – 282, 285 – 287.
Ilyas, Sidarta. 2008. Edisi ketiga. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit
FK UI.
Ishihara, Shinobu. 2009. The Series of Plates Designed as a Test for Colour
Deficiency. 14 Plate Edition. Kanehara Trading Inc. Tokyo Japan.
J.Case,Betsy. 2003. Color Blindness. USA : Pearson Educatin
Murti, Hari dkk. Juli 2011, “Aplikasi Pendiagnosa Kebutaan Warna dengan
Menggunakan Pemrograman Borland Delphi”. Jurnal Teknologi
Informasi DINAMIK. Volume. 16, No. 2,
http://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fti1/article/view/363 , 7 April
2016 pukul 14:48 WIB.
Suryo. 2008. Genetika Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
LAPORAN
PRAKTIKUM GENETIKA
“Buta Warna”

Nama : Fitri Andriyaningsih


NIM : 16308144002
Prodi / Kelas : Biologi / B

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2018