Anda di halaman 1dari 10

1

RINGKASAN

Latar Belakang : Perilaku remaja yang ingin mencoba segala sesuatu yang
berhubungan dengan seks merupakan hal yang sangat rawan. Jika dibiarkan,
akibatnya akan sangat buruk dan dapat merugikan masa depan remaja, khususnya
perempuan. Untuk menyelamatkan masa depan generasi penerus, maka remaja harus
mendapatkan pengetahuan seksual pranikah. Yang dimaksud pengetahuan seksual
pranikah remaja, yaitu pemahaman tentang seksualitas yang dilakukan sebelum
menikah yang terdiri dari pengetahuan tentang fungsi hubungan seks, akibat seks
pranikah, dan faktor yang mendorong seks pranikah. Sebagai langkah awal
pencegahan hubungan seks pranikah, dapat dilakukan peningkatan pengetahuan
remaja mengenai kesehatan seksual yang ditunjang dengan materi komunikasi,
informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang segala hal yang berkaitan dengan
kesehatan reproduksi dan seksual remaja secara proaktif baik secara formal maupun
non formal.
Tujuan : Menciptakan media KIE seksual pranikah yang menarik dan
dapat digunakan langsung oleh remaja sekaligus media negosiasi hubungan seksual
dengan pasangan
Metode : Karsa Cipta yang tercipta dari program ini adalah tas berdesain
pengetahuan seksual yang dibuat menggunakan teknik penyablonan dengan
memanfaatkan teknologi desain gambar.

Kata kunci : Remaja, seks pranikah, pencegahan seks pranikah, komunikasi


edukasi dan informasi seksual pranikah
2

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH


Masa remaja adalah masa peralihan antara tahap anak dan dewasa. Masa
remaja ditandai dengan kematangan fisik, sosial, dan psikologis yang berhubungan
langsung dengan kepribadian, seksual, dan peran sosial remaja. Masa remaja juga
dapat dimulai sejak seseorang menunjukkan tanda-tanda pubertas dan berlanjut
hingga kematangan seksual. Perubahan hormon seksual di dalam tubuhnya ditandai
dengan kematangan seksual sehingga dorongan seksual yang timbul semakin meluap
(Ahmadi, 1999).
Menurut Fagan R (2006) dalam jurnalnya yang berjudul Counseling and
Treating Adolescents With Alcohol and Other Substance Use Problems and Their
Families, masa remaja berlangsung melalui 3 tahapan yaitu masa remaja awal (10-13
tahun), menengah (14-16 tahun), dan akhir (17-21 tahun). Masa remaja awal ditandai
dengan peningkatan cepat pertumbuhan pematangan fisik, lebih memilih hubungan
dengan teman dan kognisi konkret. Masa remaja tengah ditandai dengan munculnya
dorongan seksual, perubahan perilaku, kebebasan, dan kognisi abstrak. Sedangkan
masa remaja akhir ditandai dengan kematanga fisik, saling berbagi ras, idealis dan
emandipasi mantap.
Posisi remaja yang merupakan masa peralihan antara tahap anak dan dewasa
membuat remaja menjadi kelompok yang rentan terhadap berbagai godaan dalam
lingkungan pergaulannya. Meskipun remaja sudah matang secara organ seksual,
tetapi emosi dan kepribadiannya masih labil karena masih mencari jati dirinya, Salah
satu godaan terbesar di kalangan remaja adalah hubungan seksual pranikah yang
rentan terjadi pada remaja masa menengah. Karena pada tahap tersebut remaja
menuntut kebebasan dan memiliki dorongan seksual yang tinggi.
Penelitian yang bertajuk Synovote Research pada tahun 2004 tentang perilaku
seksual remaja di empat kota (Surabaya, Jakarta, Bandung, Medan) yang melibatkan
450 remaja menunjukkan 44 % responden mengaku punya pengalaman seksual
ketika berusia 16-18 tahun dan 16 % lainnya punya pengalaman seksual ketika
berusia 13-15 tahun. Rata-rata responden juga mengaku pernah melakukan deep
kissing, pelukan, perabaan, dan hubungan intim saat berpacaran. Berdasarkan
3

penelitian tersebut diperoleh gambaran bahwa sebagian besar remaja mulai


melakukan hubungan seksual pada usia 16 tahun. Pada usia tersebut, rata-rata remaja
berada di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sehingga perilaku
seksual pranikah di kalangan tersebut cukup tinggi.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ika Nur Chaerani
(2009) tentang “Pengaruh Faktor Personal dan Lingkungan terhadap Perilaku
Seksual Pranikah pada Remaja” terhadap 500 responden, 125 responden dari SMA
Negeri 1 Purwokerto dan 125 lainnya dari SMA Negeri 1 Baturraden. Hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa 32,3% responden dari SMA Negeri 1 Purwokerto
pernah melakukan hubungan seksual pranikah sedangkan dari SMA Negeri 1
Baturraden diperoleh hasil 66,7%. Yang termasuk ke dalam kategori “melakukan
perilaku seksual pranikah” adalah responden yang melakukan aktivitas seksual
dengan pasangan/orang lain (tidak dilakukan secara sendiri), yang meliputi kissing
(cium bibir), necking (cium leher), petting, seks oral, hubungan seks, dan seks anal
walaupun responden juga melakukan masturbasi.
Perilaku remaja yang ingin mencoba segala sesuatu yang berhubungan
dengan seks merupakan hal yang sangat rawan. Jika dibiarkan, akibatnya akan sangat
buruk dan dapat merugikan masa depan remaja, khususnya perempuan. Untuk
menyelamatkan masa depan generasi penerus, maka remaja harus mendapatkan
pengetahuan seksual pranikah sesuai dengan hasil Konferensi Internasional
Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo tahun 1994. Sarwono (2006)
menjelaskan lebih rinci tentang pengetahuan seksual pranikah remaja, yaitu
pemahaman tentang seksualitas yang dilakukan sebelum menikah yang terdiri dari
pengetahuan tentang fungsi hubungan seks, akibat seks pranikah, dan faktor yang
mendorong seks pranikah.
Sebagai langkah awal pencegahan hubungan seks pranikah, dapat dilakukan
peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan seksual yang ditunjang dengan
materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang segala hal yang
berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksual remaja secara proaktif baik
secara formal maupun non formal. Penyampaian materi KIE yang proaktif dapat
dilakukan dengan media yang dapat diterima dikalangan remaja. Mengingat selama
ini proses KIE terbilang kaku, maka diperlukan sebuah media yang menarik yang
4

dapat digunakan langsung oleh remaja sekaligus media negosiasi hubungan seksual
dengan pasangan. Karena menurut Winanti Siwi Respati dalam artikelnya yang
berjudul “Problematika Remaja Akibat Kurangnya Informasi Kesehatan Reproduksi”
menyebutkan kebanyakan remaja juga kekurangan informasi dasar mengenai
keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya.

1.2 PERUMUSAN MASALAH


Kondisi remaja yang memiliki dorongan seksual tinggi serta emosinya yang
masih labil membuat remaja rentan terhadap berbagai godaan di lingkungan
pergaulannya, salah satunya godaan melakukan hubungan seks pranikah.
Ketidaktahuan remaja mengenai seksual pranikah akan menghancurkan masa depan
mereka yang berarti menghancurkan masa depan Indonesia juga. Peningkatan
pengetahuan remaja mengenai kesehatan seksual dapat ditunjang oleh materi
komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang segala hal yang
berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksual remaja. Namun pennyampaian
materi tersebut lebih baik menggunakan media yang menarik agar dapat menjangkau
kehidupan remaja. Contohnya pemanfaatan tas yang biasa mereka pakai dalam
kehidupan sehari-hari. Memanfaatkan teknologi desain gambar, Tas SENSATION
dirancang sebagai salah satu media komunikasi informasi dan edukasi untuk
meningkatkan pengetahuan seksual pranikah di kalangan remaja agar masa depan
mereka terselamatkan.

1.3 TUJUAN
1. Tujuan Umum:
Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk mencegah hubungan seksual
pranikah di kalangan remaja.
2. Tujuan khusus:
a. Meningkatkan pengetahuan seksual pranikah dikalangan pelajar SMA
b. Menggugah kesadaran para remaja akan bahaya seks pranikah
c. Mencegah terjadinya seks pranikah di kalangan remaja
5

1.4 LUARAN YANG DIHARAPKAN


Luaran yang diharapkan adalah:
1. Remaja yang memiliki pengetahuan seksual pranikah
2. Remaja yang sadar bahaya seksual pranikah
3. Menurunnya angka seks pranikah pada remaja

1.5 KEGUNAAN
Program ini memiliki berbagai kegunaan bagi berbagai aspek kehidupan.
Program ini secara sosial dapat menggambarkan perilaku seks pranikah dan
meningkatkan kesadaran akan bahaya seks pranikah di kalangan remaja menengah.
Dilihat dari segi budaya, program ini dapat membangun sebuah tatanan baru, yaitu
remaja yang sehat bebas dari seks pranikah. Sedangkan secara ilmu pengetahuan dan
teknologi, program ini menjadi sebuah terobosan baru dari pemanfaatan teknologi
dan desain gambar sehingga kedepannya akan menggali ide-ide kreatif lain dalam
pemanfaatan teknologi yang ada.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Masalah yang terjadi di kalangan remaja adalah masalah yang kompleks.
Hasil sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menunjukkan
proporsi remaja yang cukup banyak, yaitu 26,67 % dari 237,6 juta jiwa. Berarti
sekitar 63,4 juta jiwa penduduk Indonesia adalah remaja. Ada tiga masalah remaja
yang sangat penting yang dikenal dengan istilah Triad Kesehatan Reproduksi
Remaja, yaitu seksualitas, NAPZA, HIV/AIDS. Diantara ketiga masalah tersebut,
seksualitas sedang menjadi sorotan utama, karena dari hasil survey terbaru terjadi
peningkatan angka remaja yang melakukan hubungan seks bebas, khususnya remaja
menengah yang rata-rata sedang menempuh pendidikan di jenjang Sekolah
Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.
Hasil survei dari 33 provinsi di Indonesia pada tahun 2010 menunjukkan
bahwa 63% remaja SMP dan SMA pernah melakukan hubungan seks. Angka ini naik
dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu penelitian tahun 2005-2006 di
kota-kota besar, ditemukan sekitar 47% hingga 54% remaja mengaku melakukan
6

hubungan seks sebelum nikah. Masih di tahun yang sama, survei Komnas Anak
bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada tahun
2010 menunjukkan bahwa sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU yang disurvei
mengaku pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks. Sebanyak 62,7% anak
SMP yang diteliti mengaku sudah tidak perawan, 21,2% remaja SMA yang disurvei
mengaku pernah melakukan aborsi dan 97% pelajar SMP dan SMA yang disurvei
mengaku suka menonton film porno.
Film porno merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan dorongan
seksual remaja. Selengkapnya Departemen Kesehatan RI (2008) menjelaskan faktor
yang meningkatkan dorongan seksual remaja antara lain melihat film porno, melihat
gambar porno, mendengar cerita porno, berduaan di tempat sepi, berkhayal tentang
seksual dan menggunakan obat perangsang (NARKOBA).
Dorongan seksual yang kuat sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual
remaja. Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat
seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku
ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku
berkencan, berciuman, bercumbu dan bersenggama. Objek seksual dapat berupa
orang, baik sesama jenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri
Penyaluran dengan orang lain terkadang dilakukan karena banyak dari remaja yang
tidak dapat menahan dorongan seksualnya sehingga mereka melakukan hubungan
seksual pranikah (Behrman, Kliegman & Jenson 2004).
Menurut Sarwono (2003) hubungan seksual pranikah adalah segala tingkah
laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun sesama
jenis, yang dilakukan diluar hubungan pernikahan. Hubungan seks pranikah inilah
yang kemudian menjadi masalah utama di kalangan remaja. Terpilihnya hubungan
seks pranikah menjadi masalah utama bukannya tanpa alasan. Bagi remaja, seks
pranikah merupakan hal yang sangat beresiko dan berdampak pada kesehatan
reproduksi dan seksual remaja.
Akibat perilaku seks pranikah bagi remaja menurut Departemen Kesehatan
(2008) antara lain:
a. Menambah risiko tertular penyakit menular seksual (PMS)
7

b. Remaja perempuan terancam kehamilan yang tidak diinginkan, pengguguran


kandungan yang tidak aman, infeksi organ reproduksi, anemia, kemandulan
dan kematian karena perdarahan atau keracunan kehamilan
c. Trauma kejiwaan
d. Kemungkinan hilangnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan
kesempatan bekerja, terutama bagi remaja perempuan
e. Melahirkan bayi yang kurang/tidak sehat
Dampak hubungan seks pranikah tidak saja berpengaruh pada remaja, tetapi
juga orang tua, keluarga, bahkan masyarakat. Selain aspek kesehatan, seks pranikah
juga berpengaruh pada aspek kehidupan lain, diantaranya aspek social, ekonomi, dan
budaya.
Secara sosial, seks bebas yang terjadi pada remaja bisa menimbulkan aib bagi
keluarga yang didalam keluarganya terdapat salah satu anggota keluarga yang
ketahuan berperilaku seks bebas. Remaja yang berperilaku seks bebas rentan dengan
kehamilan. Sehingga secara tidak langsung akan berdampak pada ekonomi keluarga,
yaitu bertambahnya beban ekonomi keluarga. Lebih luas lagi menambah beban
ekonomi masyarakat, sehingga derajat kesejahteraan masyarakat menurun. Secara
budaya, akan bertambah banyak remaja yang putus sekolah karena tekanan dari
masyarakat sekitar atau dikeluarkan dari sekolahnya, sehingga kualitas masyarakat
akan menurun (Departemen Kesehatan RI, 2008).
Hubungan seksual pada dasarnya memiliki 4 fungsi, yaitu fungsi rekreasi,
fungsi prokreasi, fungsi relasi, dan fungsi institusi. Fungsi rekreasi menempatkan
hubungan seksual sebagai sarana untuk meraih kesenangan dan hiburan; fungsi
prokreasi ditujukan untuk meneruskan keturunan; fungsi relasi bertujuan untuk
mempererat hubungan suami istri; dan fungsi institusi untuk memperkukuh ikatan
pernikahan. Remaja melihat hubungan seksual sebagai cerminan fungsi rekreasi.
Akibatnya, hubungan seksual pranikah marak terjadi di kalangan remaja (Januar,
2007).
Menurut Kristanti et al (2010), hubungan seksual pranikah di kalangan
remaja biasanya terjadi karena sedang mabuk, suka sama suka, rasa ingin tahu dan
ingin merasakannya setelah menonton video porno atau melihat perempuan seksi,
pengaruh teman, dan agar terlihat modern.
8

Alasan lain untuk melakukan hubungan seks adalah karena didorong oleh
kekasih. Remaja perempuan belajar untuk mengaitkan hubungan seks dengan cinta.
Mereka sering merasionalkan tingkah laku seksual mereka dengan mengatakan pada
diri mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta. Sejumlah peneliti menemukan
bahwa remaja perempuan, lebih daripada remaja laki-laki, mengatakan bahwa alasan
utama mereka aktif secara seksual adalah karena jatuh cinta (Santrock, 2003).
Remaja laki-laki mungkin menyadari bahwa remaja perempuan telah
disosialisasikan dengan etika cinta. Mereka juga mungkin tahu bahwa tekanan untuk
memiliki kekasih yang dirasakan oleh banyak perempuan. Dua pernyataan klasik
yang sering dikatakan oleh laki-laki menunjukkan bahwa mereka paham pemikran
perempuan tentang seks dan cinta. “Kamu pasti mau kalau kamu benar-benar
mencintai saya” dan “Kalau kamu benar-benar mencintai saya, kamu pasti mau
berhubungan seks dengan saya” (Santrock, 2003).
Permasalahan yang dihadapi oleh remaja ini tidak lepas dari pengetahuan
mereka tentang seksual pranikah (seks bebas). Bungin (2001) menyatakan bahwa
remaja yang mendapat informasi yang benar tentang seksual pranikah maka mereka
akan cenderung mempunyai sikap negatif. Sebaliknya remaja yang kurang
pengetahuannya tentang seksual pranikah cenderung mempunyai sikap positif/ sikap
menerima adanya perilaku seksual pranikah sebagai kenyataan sosiologis. Oleh
karena itu, peranan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) kesehatan reproduksi
dan seksual remaja sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi agar remaja memiliki sikap dan perilaku yang lebih
bertanggung jawab (Widyastuti et al, 2009).

BAB 3
METODE PELAKSANAAN

4. Tahap persiapan
Pembelian bahan-bahan yang diperlukan, seperti tas kanvas warna putih dan
warna lain, screen, triplek, super X (obat afdruk), tinta quaret, kertas HVS A4,
minyak goreng dan pembuatan desain gambar atau tulisan pengetahuan seksual
pranikah.
9

5. Pelaksanaan
- Sebelum melakukan pembuatan film di screen siapkan dulu desain yang
sudah diprint di kertas kalkir, atau dikertas HVS namun harus diberi minyak
goreng dulu agar kertas bisa transparant.
- Screen bagian luar dan dalam diolesi dengan obat afdruk sampai rata dan tipis
- Screen yang telah rata diolesi obat kemudian dikeringkan menggunakan
hairdryer dengan rata bagian depan dan belakang sampai benar-benar kering.
- Setelah screen kering, kemudian film diletakkan di atas screen bagian luar
dengan posisi terbalik
- Letakkan dan atur screen di atas tas
- Siapkan cat sesuai warna yang diinginkan, menggunakan tinta quaret
- Tuangkan cat di screen
- Ratakan cat yang ada di screen dengan rakel
6. Penyelesaian
Setelah proses penyablonan, kemudian di keringkan memakai hairdryer atau
kipas angin. Maka tas SENSATION selesai dibuat.

BAB 4
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 ANGGARAN BIAYA


HARGA
VOLUME JUMLAH
No Jenis Pengeluaran SATUAN
KEGIATAN (Rp)
(Rp)
1 Peralatan Penunjang
- Screen 50 buah 42.000 2.100.000
- Hairdryer 5 buah 180.000 900.000
- Triplek (alas) 25 lembar 38.000 950.000
2 Bahan Habis Pakai
- Tas kanvas putih 50 buah 50.000 2.500.000
- Tas kanvas warna lain 50 buah 50.000 2.500.000
- Super X (obat afdruk) 15 kg 63.000 945.000
- Tinta Quaret 5 kg 74.000 370.000
- Minyak goring 5 kg 15.000 75.000
10

3 Perjalanan
- Transportasi pemesanan tas 1 keg 250.000 250.000
kanvas
- Distribusi tas ke SMA- 6 keg 15.000 90.000
SMA dan komunitas remaja
lainnya
4 Lain-lain
Administrasi
- Kertas A4 1 rim 40.000 40.000
- Penjilidan 6 buah 5.000 30.000
Komunikasi
- Pulsa 1 lbr voucher 50.000 50.000
Total 10.800.000

4.2 JADWAL KEGIATAN


Bulan ke-I Bulan ke-II Bulan ke-III Bulan ke-IV
No Kegiatan Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan
a. Pembelian alat dan
bahan
b. Pembuatan desain
tas
2. Pelaksanaan
a. Pembuatan tas
SENSATION
b. Distribusi
3. Penyelesaian
a. Monitoring
b. Evaluasi
c. Laporan akhir