Anda di halaman 1dari 1

Kentang (Solanum tuberosum L.

) merupakan salah satu tanaman pangan utama dunia yang


berdasarkan produksinya merupakan komoditas pangan terbesar nomor empat setelah
gandum, padi, dan jagung. Produktivitas kentang di Indonesia mencapai 17.67 ton/ha pada
tahun 2014. Nilai produkvitas ini masih lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat dan India
yang merupakan negara utama penghasil kentang yang memiliki nilai produktivitas masing-
masing sebesar 47.15 ton/ha dan 22.92 ton/ha pada tahun 2014. Produksi kentang Indonesia
belum mampu memenuhi kebutuhan kentang dalam negeri sehingga impor kentang harus
dilakukan, impor dalam bentuk benih tanaman kentang kultivar Atlantik. Menurut Berg (2013),
kultivar atlantik memiliki kadar pati yang tinggi dan kadar gula rendah, sehingga bila digoreng
umbi menjadi kering dan tidak berwarna coklat, tahan terhadap nematoda.

Perlu adanya pengembangan kultivar kentang untuk skala industri, berdasarkan Pusat Penelitian
Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB (2014), adanya kentang yang memiliki karakteristik
yang sesuai dengan industri yaitu kultivar jala ipam yang cocok untuk diolah menjadi french fries
karena memiliki daging umbi putih, umbi berbentuk lonjong kandungan pati tinggi dan
kandungan gula rendah.

beberapa kendala terutama disebabkan oleh kualitas bibit yang rendah dan kejadian penyakit
yang tinggi. Penyakit pada tanaman kentang dapat disebabkan oleh nematoda, virus, cendawan
ataupun bakteri. Penggunaan bahan kimia dalam penanganan penyakit bakteri sangat terbatas
sehingga penanganan utama terhadap penyakit bakteri dapat dilakukan dengan merakit kultivar
yang tahan terhadap serangan bakteri patogen

Secara konvensional perakitan kultivar tahan terhadap penyakit bakteri dilakukan dengan
persilangan dengan kerabat liar yang tahan terhadap penyakit bakteri, akan tetapi metode ini
hanya berhasil pada beberapa kultivar dan kultivar hasil persilangan tidak mampu bertahan
pada kondisi lingkungan yang bervariasi

Modifikasi genetik melalui rekayasa genetika memiliki potensi yang besar dalam mendapatkan
tanaman kentang yang tahan terhadap serangan bakteri.

Introduksi beberapa gen dengan tujuan mendapatkan tanaman kentang yang tahan penyakit
bakteri telah dilakukan dengan mengintroduksikan gen cecropin B dan SB-37 dari Hyalophora ,
gen penyandi cecropin–melittin cationic peptide chimera , gen magainin , gen c-lisozim dari
ayam, dan gen T4 lisozim dari bakteriofage

resistensi menyeluruh terhadap bakteri patogen didapatkan pada tanaman kentang yang
mengandung gen c-lisozim

Lisozim merupakan enzim yang mampu menghidrolisis dinding sel bakteri gram positif dan gram
negatif karena kemampuannya dalam memutus ikatan β(1,4)-glikosida antara N-asetil-D-
muramat (NAM) dengan N-asetil-D-glukosamin (NAG) pada peptidoglikan dari dinding sel
bakteri.