Anda di halaman 1dari 46

1

TEORI DASAR

GAS LIFT

Pada saat suatu sumur sudah mencapai tahap penyelesaian dan akan mulai

berproduksi, awalnya tenaga yang digunakan untuk mengangkat fluida dari dasar

sumur ke permukaan adalah dengan menggunakan sembur alam (natural flowing).

Sembur alam yaitu memanfaatkan energi yang terkandung didalam reservoir untuk

mengangkat fluida ke permukaan. Tekanan reservoir dan gas formasi yang tersedia

harus memiliki energi yang cukup untuk mengangkat fluida dari dasar sumur ke

permukaan dan dapat mengatasi kehilangan tekanan selama proses aliran sampai

ke permukaan. Semakin lama tekanan atau energi tersebut akan semakin berkurang

dan suatu saat energi tersebut tidak mampu lagi mengangkat fluida. Kondisi tersebut

akan berakibat terhadap penurunan laju produksi dan bahkan akan mengakibatkan

sumur tersebut berhenti berproduksi atau mati. Apabila tekanan reservoir terlalu

rendah atau laju produksi yang dikehendaki lebih besar dari energi reservoir

tersebut, maka harus digunakan metode pengangkatan buatan (artificial lift system).

Terdapat dua metode dasar pengangkatan buatan (artificial lift ) yang sering

digunakan yaitu pengangkatan buatan dengan menggunakan sistem pompa dan

sistem gas lift. Dalam penggunaan artificial lift dengan sistem gas lift maka harus

tersedia gas dengan jumlah yang cukup dan mempunyai tekanan yang tinggi untuk

dapat mengangkat fluida dari dasar sumur sampai ke permukaan.


2

2.1. Pemilihan Metode Artificial Lift

Pemilihan metode artificial lift dilakukan dengan membandingkan kelebihan

dan kekurangan masing-masing metode pengangkatan buatan yang sesuai dengan

kondisi sumur dan reservoir. Diharapkan dengan memilih metode yang sesuai

dengan kondisi lapangan ini proses produksi dapat berjalan dengan efektif dan

mencapai laju produksi yang optimum.

Pemilihan sistem pengangkatan buatan tergantung pada banyak faktor, selain

pemasangan dan operasi. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah :

1. Produktivitas Sumur

Jenis pengangkatan buatan yang sesuai dengan besarnya laju produksi adalah :

 Produktivitas sumur yang lebih besar dari 10.000 STB / hari dapat

menggunakan pompa ESP dan gas lift.

 Produktivitas sumur antara 2.000 – 10.000 STB / hari dapat menggunakan

pompa ESP, gas lift dan pompa hidrolik.

 Untuk sumur yang mempunyai produksi antara 100 – 2.000 STB / hari dapat

menggunakan semua jenis metode artificial lift .

 Untuk sumur yang berproduksi lebih kecil dari 100 STB / hari dapat

menggunakan semua jenis metode kecuali pompa ESP.

2. Tekanan Reservoir

Tekanan reservoir sebanding dengan tinggi kolom cairan dalam tubing. Jenis

metode yang sesuai untuk tinggi kolom cairan yang lebih besar dari 1/3

kedalaman adalah gas lift (kontinyu), pompa angguk, pompa hidrolik dan ESP.
3

Sedangkan untuk tinggi kolom cairan yang lebih kecil dari 1/3 kedalaman dapat

menggunakan pompa angguk, pompa hidrolik, ESP, dan gas lift (intermittent ).

3. Kedalaman

Kedalaman sumur menunjukkan temperatur dasar sumur serta energi yang

diperlukan untuk pengangkatan buatan. Adapun penggunaan jenis

pengangkatan buatan berdasarkan kedalaman sumur adalah :

 Kedalaman sumur yang lebih dari 12.000 ft hanya dapat menggunakan

pompa hidrolik.

 Kedalaman sumur antara 10.000 – 12.000 ft dapat menggunakan pompa

angguk, pompa hidrolik, dan gas lift.

 Kedalaman sumur dibawah 8.000 ft dapat menggunakan semua jenis

pengangkatan buatan.

4. Kemiringan Sumur

Untuk sumur dengan kemiringan yang besar, pompa angguk tidak dapat

digunakan. Penggunaan gas lift sangat sesuai karena tidak banyak peralatan

yang dipakai di dalam sumur.

5. Viskositas Cairan

Untuk cairan yang berviskositas tinggi jenis metode gas lift atau pompa hidrolik

sangat sesuai digunakan.

6. Problema Sumur

Problema sumur seperti pasir, parafin, GOR tinggi, korosi, scale dan sebagainya

mempengaruhi pemilihan jenis metode artificial lift. Penggunaan metode yang

sesuai dengan problema suatu sumur adalah :


4

 Pompa angguk baik digunakan pada sumur yang mempunyai problema

korosi dan scale , sedangkan sumur dengan problema parafin tidak dapat

menggunakan pompa angguk.

 Penggunaan pompa hidrolik baik digunakan pada sumur dengan

problema parafin dan korosi.

 Pompa ESP baik digunakan pada sumur dengan problema parafin dan

tidak dapat digunakan pada sumur yang mempunyai permasalahan scale.

 Gas lift sangat cocok digunakan pada sumur dengan problema pasir dan

GOR yang tinggi. Gas lift tidak dapat digunakan pada sumur dengan

problema parafin.

7. Biaya yang meliputi :

 Modal awal.

 Biaya operasional bulanan.

 Daya tahan peralatan.

 Jumlah sumur yang akan diproduksi dengan artificial lift.

 Perkiraan waktu sumur berproduksi.

8. Fleksibilitas Mengubah Laju Produksi.

Pada gas lift dan pompa angguk mengubah laju produksi dapat dengan mudah

dilakukan. Pompa hidrolik dan pompa jet sangat sulit untuk mengubah laju

produksi, sedangkan ESP tidak dapat mengubah laju produksi.

Perubahan laju produksi disebabkan oleh :

 Penurunan produktivitas sumur sebagai akibat turunnya tekanan statik.

 Peningkatan produksi sumur sebagai akibat metode secondary recovery.


5

 Kesalahan data uji produksi atau korelasi aliran multi fasa.

 Perubahan laju produksi sebagai akibat produksi pasir, water coning.

2.2. Hal-hal yang Mempengaruhi Perencanaan Artificial Lift

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode artificial

lift antara lain :

1. Completion Type : Conventional atau Multiple

Tipe seperti ini akan menyebabkan ruang diantara tubing dan casing produksi

tidak tersedia cukup luas, sehingga pemilihan metode pengangkatan buatan

tidak ditentukan lagi oleh optimum desain atau dengan kriteria secara ekonomis,

tetapi oleh physical limitation, kondisi sumur yang vertikal atau directional juga

akan mempengaruhi metode pengangkatan buatan.

2. Lokasi Sumur, Onshore atau Offshore

Pemilihan pengangkatan buatan yang baik untuk onshore belum tentu baik jika

digunakan pada offshore karena keterbatasan ruang yang tersedia di platform

(anjungan).

3. Faktor Reservoir

- Water drive reservoir kenaikan kadar air dengan waktu produksi

perlu diantisipasi.

- Gas cap drive , kadar air tidak ada, namun GOR yang meningkat perlu

diantisipasi.

- Depletion drive reservoir adanya produksi awal yang tinggi perlu diantisipasi.
6

4. Sumber Tenaga

Sumber tenaga yang paling ekonomis adalah gas alam yang terdapat didalam

reservoir itu sendiri, tetapi dalam kurun waktu tertentu, tenaga dorong alamiah ini

akan menurun sehingga tidak mampu mengangkat minyak ke permukaan, maka

diperlukan tenaga buatan.

5. Kondisi Lingkungan

Kondisi cuaca di lapangan, misalnya cuaca dingin atau panas digurun pasir akan

membatasi ruang gerak dalam pemilihan metode artificial lift yang akan

digunakan.

2.3. Prinsip Dasar Gas Lift

Proses gas lift dilakukan dengan menginjeksikan gas yang mempunyai

tekanan yang relatif tinggi kedalam kolom fluida untuk meringankan dan

menurunkan gradien tekanan dari fluida sehingga fluida tersebut dapat terangkat ke

permukaan dengan ekspansi dari gas. Secara umum mekanisme pengangkatan

fluida reservoir ke permukaan oleh gas yang diinjeksikan ke dalam sumur melalui

proses sebagai berikut :

a. Menurunkan densitas fluida sehingga akan menaikkan perbedaan tekanan

antara reservoir dengan lubang sumur.

b. Ekspansi dari gas yang diinjeksikan akan mendorong fluida ke atas.

c. Displacement fluida oleh gelembung-gelembung gas akan mengakibatkan aksi

atau gerakan seperti piston pada sebuah pompa.


7

Gambar 2.14)

Mekanisme Pengangkatan Fluida


8

Pemilihan artificial lift jenis gas lift ini harus disesuaikan dengan kondisi

reservoir-nya, antara lain :

a. Laju produksi yang relatif tinggi.

b. Produktivitas sumur tinggi.

c. Tekanan alir dasar sumur relatif tinggi.

d. Solution gas dalam cairan tinggi.

Pemahaman mengenai prinsip-prinsip dasar mengenai sistem gas lift harus

terlebih dahulu diketahui sebelum dilakukan evaluasi pada sumur gas lift. Penurunan

tekanan yang terjadi pada semua bagian sistem produksi harus dianalisa untuk

menentukan efeknya pada laju produksi dan volume gas injeksi yang diinginkan

pada sumur gas lift. Secara garis besar terjadinya aliran pada suatu sumur terdiri

dari tiga sistem dasar yaitu reservoir system, vertical system, dan horizontal system.

Penurunan tekanan yang terjadi pada masing-masing sistem tersebut dianalisa

untuk menentukan laju produksi secara optimum pada sumur yang menggunakan

gas lift. Besarnya penurunan tekanan alir dasar sumur tergantung pada dua

parameter yaitu banyaknya gas yang diinjeksikan dan kedalaman titik injeksi.
9

Gambar 2.28)

Gas Lift Well System


10

Secara umum gerakan fluida dari suatu reservoir menuju dasar sumur

dipengaruhi oleh :

 Sifat fisik dari lapisan yang meliputi permeabilitas, jenis batuan, porositas,

kandungan lempung, atau kandungan semen di dalam batuan.

 Geometri dari pada sumur yaitu letak atau posisi dari sumur terhadap reservoir.

 Keadaan reservoir itu sendiri.

 Sifat-sifat fisik dari fluida yang mengalir. Semakin tinggi viskositas suatu fluida

maka akan semakin besar kehilangan tekanan yang akan mempengaruhi

terhadap mobilitasnya.

 Perbedaan antara tekanan reservoir dan tekanan alir dasar sumur pada saat

terjadi aliran.

 Besarnya tekanan reservoir atau tekanan alir dasar sumur terhadap tekanan

gelembung yang cenderung akan membentuk sifat aliran yaitu merupakan aliran

satu fasa atau lebih.

 Tingkat kerusakan lubang bor.

Beberapa hal pokok tentang gerakan fluida di dalam lapisan menuju dasar

lubang antara lain adalah productivity index (PI), potensial sumur, inflow

performance relationship, dan flow efficiency.

Tekanan Kolom Gas

Untuk kesempurnaan dalam desain atau evaluasi sumur gas lift, maka harus

diketahui besarnya tekanan gas di dasar lubang. Tekanan gas akan semakin

bertambah dari permukaan karena berat dari gas itu sendiri. Bertambahnya tekanan
11

dapat dihitung dengan menggunakan tabel faktor gas yang sesuai dengan nilai

specific gravity (SG) gas tersebut. SG dinyatakan sebagai perbedaan antara berat

gas dan berat udara. Berat gas pada suatu kedalaman dapat dihitung dengan

persamaan :

Pcf @ D = Pcf @ S X (1+ F) ..................................................... (2.16)

Dimana : - Pcf @ D = tekanan gas pada kedalaman.

- Pcf @ S = tekanan gas di permukaan.

- F = faktor berat gas (dari tabel).

2.4.3. Perhitungan Volume Gas

Volume gas biasanya dinyatakan dalam standard cubic feet (SCF). Standard

cubic feet berarti volume gas yang ditempati pada kondisi standar dalam tekanan

atmosfer dan suhu 600F. Pada sistem gas lift, besarnya GLR dan GOR sangat

penting. Beberapa persamaan yang digunakan dalam perhitungan volume gas

adalah :

Qg  GORXQo ......................................................................... (2.17)

Qg
GOR  .............................................................................. (2.18)
Qo

Qg
GLR  ............................................................................... (2.19)
Ql

Keterangan : Qg = Laju produksi gas (MCFD).

Qo = Laju produksi minyak (BPD).

GOR = Perbandingan laju produksi gas terhadap minyak

(Scf/STB).
12

GLR = Perbandingan laju produksi gas terhadap laju

produksi cairan (liquid) (Scf/Stb).

2.4.4. Perhitungan Temperatur

Dalam menghitung setting tekanan gas lift valve yang berisi nitrogen, harus

diketahui terlebih dahulu pada temperatur berapa katup tersebut akan dioperasikan.

Besarnya temperatur sumur tergantung pada ukuran tubing dan laju produksi fluida,

temperatur statik permukaan dan temperatur dasar sumur. Dari temperatur statik

permukaan dan temperatur dasar sumur, gradien geothermal dapat dihitung dengan

persamaan di bawah. Gradien geothermal adalah peningkatan rata-rata temperatur

tanah untuk setiap kedalaman 100 ft.

Gradien geothermal ( 0F/ 100 ft) = BHT – SST X 100 ............. (2.20)
D

Keterangan : - BHT = temperatur dasar sumur.

- SST = temperatur statik permukaan.

- D = kedalaman.

2.4. Metode Injeksi Gas Lift

Gas lift merupakan sebuah metode pengangkatan fluida dimana gas yang

bertekanan relatif tinggi (minimal 250 psi) yang digunakan sebagai media

pengangkat melalui proses mekanis. Terdapat dua macam metode penginjeksian

pada instalasi gas lift yaitu : continuous flow dan intermittent flow.
13

2.5.1. ....................................................................................Continuous

Flow Gas Lift

Pada metode ini volume gas yang bertekanan tinggi dinjeksikan

secara kontinyu ke dalam annulus untuk meringankan kolom fluida sampai tekanan

alir dasar sumur berkurang dan menyebabkan sumur dapat berproduksi sesuai

dengan laju alir yang diinginkan. Metode ini digunakan pada sumur yang mempunyai

productivity index yang tinggi dan tekanan alir dasar sumur yang relatif tinggi.

2.5.2. Intermittent Flow Gas Lift

Pada intermittent flow, gas diinjeksikan secara berkala selama selang waktu

tertentu, ekspansi dari gas yang bertekanan tinggi akan mengangkat fluida dalam

bentuk slug ke permukaan dan dihentikan selama waktu tertentu untuk memberikan

kesempatan fluida yang berada dibawah titik injeksi dapat naik ke atas titik injeksi.

Setelah fluida terkumpul diatas titik injeksi maka gas diinjeksikan kembali, demikian

seterusnya. Gas yang diinjeksikan dikontrol dengan menggunakan time cycle

controller (intermitter).

Metode intermittent flow gas lift digunakan pada sumur dengan volume fluida

yang relatif kecil atau sumur tersebut mempunyai karakteristik seperti productivity

index yang tinggi dengan tekanan dasar sumur yang rendah atau harga PI rendah

dengan tekanan dasar sumur yang rendah.


14

Gambar 2.6 2)

Skema Continuous Flow Gas Lift


15

2.6. Instalasi Gas Lift

Secara umum tipe instalasi gas lift dan pemilihannya dipengaruhi oleh metode

yang digunakan, apakah continuous flow atau intermittent flow. Penentuan awal tipe

instalasi berdasarkan pertimbangan pada kinerja dari sumur tersebut, seperti

penurunan tekanan dasar sumur dan PI. Adapun tipe instalasi gas lift antara lain

adalah open installation, semi closed installation, dan closed installation.

2.6.1. Open Installation

Pada instalasi jenis ini tubing string digantungkan kedalam sumur dengan tidak

dilengkapi dengan packer dan standing valve. Gas diinjeksikan ke dalam anulus

casing - tubing dan fluida akan bergerak keluar dari tubing. Biasanya instalasi jenis

ini cocok dipakai untuk continuous flow gas lift. Namun demikian instalasi ini juga

dapat dipakai untuk intermittent flow. Instalasi ini digunakan hanya apabila tekanan

alir dasar sumur melebihi tekanan gas injeksi.

2.6.2. Semi Closed Installation

Instalasi jenis ini sebenarnya hampir sama dengan open installation, tetapi

instalasi ini dilengkapi dengan packer yang berfungsi untuk menyumbat antara

tubing dengan casing. Tipe instalasi ini umumnya digunakan pada continuous flow

dan intermittent flow. Penggunaan semi closed installation continuous flow biasanya

digunakan pada sumur dengan harga PI dan tekanan dasar sumur yang tinggi.

Sedangkan pada sumur yang mempunyai harga PI rendah dan tekanan dasar sumur

yang tinggi biasanya menggunakan semi closed installation intermittent flow.


16

2.6.3. Closed Installation

Instalasi ini hampir sama dengan semi closed installation, tetapi telah

dilengkapi dengan standing valve yang dipasang di tubing string. Umumnya

standing valve ditempatkan di bawah sumur, tetapi dapat juga dipasang di bawah

operating gas lift valve . Standing valve digunakan untuk menjaga formasi dari

tekanan gas (apabila diinjeksikan ke dalam tubing) dan sebagai penahan tekanan

balik dari kolom fluida di dalam tubing apabila tekanan tersebut lebih besar dari

tekanan dasar sumur. Closed installation digunakan pada sumur gas lift dengan

intermittent flow.
17

Gambar 2.72)
18

Tipe Instalasi Gas Lift

Gas Lift Valve

Alat yang paling utama dan merupakan jantung dari sebuah sistem gas lift

adalah gas lift valve (GLV). Gas lift valve pada dasarnya sama dengan pressure

regulator. Fungsi komponen dari sebuah pressure regulator mirip sama dengan gas

lift valve. Pegas pada regulator juga pada gas lift valve menekan stem tip ke arah

port. Diaphragm / bellows menyediakan ruangan bila terjadi tekanan yang lebih

besar dari tekanan pada port. Bila tekanan lebih besar dari tekanan port, maka stem

tip akan menjauh dari port, sehingga valve akan terbuka.

Komponen dasar dari sebuah gas lift valve adalah meliputi :

a. Bellows / diaphragm.

b. Chamber (dome), yang dibatasi oleh ujung bellows, dinding valve dan ujung

valve.

c. Port, yang dibuka atau ditutup oleh stem tip.

d. Stem dan stem tip.

2.7.1. Gas Lift Valve Berdasarkan Fungsinya

Berdasarkan fungsinya gas lift valve dapat dibagi menjadi :

1.Katup Unloading

Katup unloading berfungsi sebagai jalan masuk gas dari anulus ke tubing, untuk

mendorong cairan yang semula digunakan untuk mematikan sumur.

2. Katup Operasi
19

Katup operasi berfungsi sebagai jalan masuk gas dari anulus ke tubing, untuk

mendorong fluida reservoir ke permukaan.

3. Katup Tambahan

Katup tambahan berfungsi sebagai katup operasi apabila tekanan statik

menurun.

Pada tahap pertama, injeksi gas akan mengaktifkan katup-katup unloading

sehingga cairan untuk mematikan sumur terangkat ke permukaan, dan permukaan

cairan dalam anulus akan menurun.

Pada tahap berikutnya, setelah semua katup unloading secara bergantian

bekerja, permukaan cairan dalam anulus akan mencapai katup operasi. Katup

operasi ini akan terbuka selama injeksi, dan gas injeksi akan masuk ke dalam tubing

secara kontinyu. Hal ini dapat terjadi, apabila tekanan injeksi gas (dalam anulus)

lebih besar dari tekanan aliran dalam tubing. Oleh karena itu, letak katup operasi

ditempatkan pada suatu kedalaman, sehingga tekanan aliran dalam tubing lebih

kecil dari tekanan injeksi gas di anulus. Penempatan katup operasi ini ditentukan

dari titik keseimbangan (yaitu titik dimana tekanan aliran dalam tubing sama dengan

tekanan injeksi gas di anulus), setelah dikurangi dengan tekanan differential sebesar

100 psi. Dengan masuknya gas injeksi melalui katup operasi, maka perbandingan

gas cairan diatas titik injeksi akan lebih besar dari pada perbandingan gas cairan

dibawah titik injeksi. Perbandingan gas minyak yang besar memberikan gradien

aliran yang lebih kecil, sehingga kurva gradien alirannya menjadi lebih curam

dibandingkan dengan kurva gradien aliran dibawah titik injeksi.


20

Apabila productivity index dan tekanan statik terbaru diketahui, maka tekanan

alir dasar sumur yang sesuai dengan laju produksi yang diinjeksikan dapat dihitung.

Apabila perbandingan gas cairan dari formasi diketahui, maka kurva gradien

aliran mulai dari dasar sumur dapat digambarkan. Berdasarkan tekanan gas injeksi

yang tersedia, garis gradien gas dalam anulus dapat digambarkan dan titik

keseimbangan antara tekanan gas dalam anulus dengan tekanan alir dalam tubing

dapat ditentukan. Kemudian letak kedalaman katup operasi dapat pula ditentukan

pada kedalaman yang mempunyai tekanan alir dalam tubing 100 psi lebih kecil dari

tekanan injeksi gas. Apabila tekanan alir di kepala sumur tertentu, maka perlu

dinjeksikan sejumlah tertentu gas sehingga memberikan perbandingan gas cairan

titik injeksi yang tepat dan menghasilkan gradien aliran diatas titik injeksi yang

diinginkan. Gradien aliran ini harus menghasilkan penurunan tekanan sedemikian

rupa sehingga tekanan aliran di permukaan sama dengan tekanan kepala sumur.

Berdasarkan perbandingan gas cairan yang diperoleh tersebut serta GLRf,

maka jumlah gas yang diinjeksikan dapat dihitung.

2.7.2. Klasifikasi Gas Lift Valve

Pada suatu sumur, sebuah valve diarahkan kepada dua sumber tekanan yang

mengontrol pengoperasiannya. Yang satu diletakkan di dalam tubing dan yang lain

di dalam casing. Valve tersebut secara fisik berada pada posisi diantara dua sumber

tekanan. Kedua tekanan tersebut mencoba untuk membuka valve tersebut.


21

Adapun jenis gas lift valve yang sering dipakai dalam dunia industri adalah

casing operated valve (CO) dan fluid operated valve (FO). Pada casing operated

valve, valve akan terbuka berdasarkan tekanan gas didalam casing. Sedangkan

pada fluid operated valve bekerja berdasarkan tekanan fluida di dalam tubing.

Secara fisik konstruksi dari kedua valve tersebut hampir sama.


22

Gambar 2.82)

Skema Casing Operated Valve

Dalam aplikasi / pemakaian gas lift valve, dapat dilakukan dengan dua metode,

yaitu :

1. Injection Pressure Operated Valve

Ciri dari metode ini adalah bila gas yang diinjeksikan ke dalam sumur

berhubungan atau kontak langsung dengan bellows dari gas lift valve.

2. Production Pressure Operated Valve

Ciri dari metode ini adalah bila fluida yang diproduksikan berhubungan atau

kontak langsung dengan bellows dari gas lift valve.

Pemasangan dari gas lift valve dalam suatu operasi produksi terbagi menjadi

dua metode, yaitu :

a. Production Up The Tubing

b. Production Up The Annulus


23

Gambar 2.92)
24

Skema Fluid Operated Valve

2.8. Tipe Peralatan Kontrol Gas injeksi

Terdapat beberapa cara yang digunakan untuk mengontrol gas injeksi ke

dalam sumur. Tipe peralatan kontrol yang digunakan tergantung dari tipe instalasi

gas lift yang dipakai. Beberapa tipe peralatan kontrol permukaan antara lain adalah

choke control, regulator control dan time cycle controller.

2.8.1. ....................................................................................Choke Control

Choke control merupakan sebuah peralatan yang berfungsi untuk mengatur

tekanan alir gas injeksi. Pada instalasi gas lift aliran kontinyu, penggunaan choke

control sangat memungkinkan dan merupakan metode yang paling baik untuk

digunakan. Choke tersebut ditempatkan pada saluran gas injeksi dan ukurannya

disesuaikan dengan volume gas yang masuk kedalam tubing. Pemilihan ukuran

choke dapat langsung di permukaan untuk memudahkan memperoleh ukuran choke

yang tepat. Permasalahan yang timbul pada choke control adalah terjadinya

freezing (pembekuan) karena pengaruh dari suhu gas yang rendah. Fluida sumur

yang hangat biasanya dapat menghilangkan permasalahan tersebut.

Choke control sering disebut juga dengan adjustable choke valve, karena

dilihat dari fungsinya yaitu untuk mengatur rate dari gas injeksi pada suatu instalasi

gas lift . adapun pemasangan dari choke dapat dilihat pada gambar berikut ini :
25

Gambar 2.102)
26

Choke Control

2.8.2. Regulator Control

Pada intermittent flow, regulator digunakan secara seri dengan choke di

permukaan. Apabila tekanan casing naik diatas tekanan yang diinginkan sebelum

akhir dari periode untuk naiknya tekanan fluida dalam tubing, maka regulator akan

menutup saluran gas injeksi.


27

Gambar 2.112)

Regulator Control pada Intermittent Flow

Pada continuous flow gas lift, regulator dapat digunakan secara seri dengan

choke dan menggunakan sebuah control line yang dihubungkan dengan wellhead.

Peralatan ini juga akan menutup saluran gas injeksi pada tekanan tubing yang tinggi.

Regulator control juga dapat digunakan secara paralel dengan choke untuk menjaga

dari fluktuasi tekanan gas injeksi.

Gambar 2.122)
28

Regulator Control pada Continuous Flow

2.8.3. Time Cycle Controller

Time cycle controller digunakan pada instalasi intermittent flow gas lift yang

berfungsi untuk mengontrol dan mengatur frekuensi serta selang waktu yang

diperlukan untuk melakukan injeksi gas ke dalam sumur. Peralatan ini dapat

dikontrol di permukaan sesuai dengan interval waktu yang diinginkan.

Gambar 2.132)
29

Time Cycle Controller

2.9. Keuntungan dan Kerugian Gas Lift System

Adapun keuntungan relatif dari penggunaan instalasi gas lift antara lain :

1. Biaya peralatan dan pengoperasian gas lift system relatif lebih rendah

dibandingkan dengan artificial lift system lain.

2. Laju produksi yang diinginkan dapat diatur dipermukaan.

3. Pasir yang biasanya ikut terproduksi bersamaan dengan fluida tidak akan

mempengaruhi atau merusak peralatan dari sistem gas lift.

4. Karena sedikitnya elemen yang bergerak pada sistem ini akan memberikan

jangka waktu perawatan yang lebih lama dibandingkan dengan sistem yang lain.

5. Peralatan paling utama dari sistem ini, yaitu compressor gas, terletak di

permukaan sehingga mudah untuk perawatannya dan pengecekannya.

6. Mampu mengangkat cairan dalam jumlah besar.

7. Dapat digunakan pada sumur lepas pantai.

8. Sumber tenaga dapat ditempatkan jauh dari sumur.

9. Sistem ini sangat ideal dipakai pada daerah dengan formasi gas.

Kerugian dari penggunaan sistem instalasi gas lift adalah sebagai berikut :

1. Harus tersedianya gas, pernah digantikan gas dengan udara, gas buangan atau

nitrogen, tetapi hasilnya adalah biaya yang lebih mahal dan lebih sulit dikerjakan

dibandingkan dengan pemakaian gas lokal (berasal dari reservoir itu sendiri).

2. Sifat korosif dari gas dapat menaikkan biaya operasi dari gas lift, sehingga gas

yang akan dipakai perlu diolah atau dikeringkan terlebih dahulu.


30

3. Sulit untuk mengangkat emulsi atau minyak kental.

4. Casing harus mampu menahan tekanan injeksi.

5. Perlu pengaman untuk injeksi bertekanan tinggi.

6. Tidak efisien digunakan pada lapangan kecil.

3.2. Data yang Diperlukan

Adapun data-data yang diperlukan dalam melakukan evaluasi penentuan letak

kedalaman katup sembur buatan kontinyu adalah sebagai berikut :

 Nama Sumur

 Kedalaman Perforasi

 Tekanan Statik Dasar Sumur (Pr)

 Tekanan Alir Dasar Sumur (Pwf)

 Tekanan Kepala Sumur (Pwh)

 Tekanan Kick Off (Pko)

 Tekanan Operasi Permukaan (Pso)

 Temperatur Permukaan

 Temperatur Dasar Sumur

 Laju Produksi yang Diinginkan

 GLR Formasi

 Port Size

 Water Cut

 SG Gas Injeksi
31

 Index Produktivity (PI)

 Unloading Gradient

 Static Fluid Level

 Ukuran Casing

 Ukuran Tubing

 Kedalaman Mandrel

 Laju Gas Injeksi

 Spacing Safety Factor

 Data Produksi Existing

 Data Hasil Desain

3.3. Metode Perhitungan dan Prosedur Analisa Data

Metode perhitungan yang digunakan dalam menentukan letak kedalaman

katup pada instalasi gas lift aliran kontinyu ini adalah dengan menggunakan metode

grafis berdasarkan “pressure travers” dan gradien tekanan gas dalam annulus.

Secara umum, biasanya prosedur dalam menganalisa desain gas lift adalah

dengan menentukan titik injeksi, jumlah gas injeksi, kedalaman katup, ukuran port,

dan setting tekanan dari masing-masing gas lift valve.

Pada sumur x, mandrel-mandrel sudah terpasang pada kedalaman 1013 ft

MD, 2315 ft MD, 3290 ft MD, 4134 ft MD. Oleh sebab itu, tidak perlu lagi dilakukan

penentuan spasi antara kedalaman gas lift valve dan sumur tersebut tidak perlu

dilakukan pemasangan ulang mandrel dikarenakan biaya yang relatif mahal. Desain

yang dilakukan adalah dengan menentukan letak kedalaman katup operasi dan
32

katup unloading yang sesuai dengan kondisi sumur serta setting tekanan pada

masing-masing katup tersebut.

Adapun prosedur dalam menentukan letak kedalaman katup beserta setting

tekanannya adalah sebagai berikut :

1. Siapkan sumbu kartesian yang berkala sesuai dengan pressure travers yang

digunakan. Gambarkan tekanan pada sumbu datar dan kedalaman vertikal

pada sumbu tegak dengan titik asal nol di sudut kiri atas.

2. Plot titik (Pwh,0)

3. Tarik garis mendatar pada masing-masing kedalaman mandrel.

4. Buat garis gradien gas injeksi dari titik Pko sampai pada kedalaman mandrel

yang paling bawah. Misalkan pada kedalaman 3000 ft, dari tabel diperoleh

faktor berat gas sebesar 0,0868. Hitung tekanan gas pada kedalaman 3000 ft

dengan menggunakan rumus : Pcf @ D = Pcf @ S X (1+ F)

5. Tentukan GLR total dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

GLR total = ( Qg injeksi / Ql ) + GLR formasi

6. Berdasarkan ukuran tubing, Ql, water cut, API gravity minyak, SG gas, dan

temperatur alir rata-rata, tentukan pressure travers yang sesuai dan tarik garis

gradien aliran dari Pwh sampai pada kedalaman katup operasi sesuai dengan

besarnya GLR total.

7. Kedalaman katup operasi diperoleh dari perpotongan antara GLR total dengan

kedalaman mandrel yang mempunyai perbedaan antara tekanan casing dan

tubing sebesar 75 psi (spacing safety factor). Apabila pada semua kedalaman
33

mandrel mempunyai perbedaan tekanan yang lebih besar dari 75 psi, maka

kedalaman katup operasi dipilih pada kedalaman mandrel yang paling bawah.

8. Buat garis gradien gas dari titik Pwh dengan menggunakan rumus:

Gradien gas = (0,01875 x SG gas x FTP) / 540

9. Hitung level fluida pada Pwh = 0 dengan menggunakan rumus :

D = Perforasi - (Pr / unloading gradient)

10. Siapkan tabel kolom data.

Tabel 3.15)

Contoh Tabel Kolom Data

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
NO Depth MD Depth TVD Pt grad Pt set Pt min T@L Port size R F

11 12 13 14 15 16 17 18
Pso PO@L PVC@L Psc FT Pb@600F PTRO@600F PTRO@800F

11. Buat garis gradien unloading dengan menghubungkan titik pada langkah 9

dengan Pr sampai memotong pada kedalaman mandrel dibawah static fluid

level dan didapat letak katup pertama.

12. Perpotongan antara langkah 8 dan 11 adalah merupakan static fluid level.

13. Perpotongan antara kedalaman katup pertama dengan garis gradien gas

injeksi diperoleh nilai PO@L valve ke-1. Sedangkan perpotongan antara

kedalaman valve pertama dengan gradien GLR total adalah merupakan Pt

gradien valve 1.
34

14. Tentukan setting tubing pressure (Pt set) pada katup pertama yang lebih besar

dari Pt gradien dan lebih kecil dari Pt min. Dalam hal ini dipilih Pt set valve

pertama sebesar 350 psi.

15. Tentukan besarnya port size yang digunakan pada setiap gas lift valve. Dalam

hal ini port size yang digunakan pada katup pertama adalah 0,1875 in dengan

nilai R sebesar 0,094 dan pada katup kedua sebesar 0,25 in.

16. Hitung PVC@L pada valve ke-1 dengan menggunakan rumus :

PVC@L = PO@L (1-R) + (Pt set x R)

17. Tarik garis sejajar dengan garis gradien gas injeksi dimulai dari titik PVC@L

valve ke-1 sampai berpotongan dengan kedalaman katup dibawahnya dan

dicatat sebagai nilai PO@L valve kedua.

18. Tarik garis sejajar dengan gradien unloading dari titik PO@L valve kedua

keatas sampai pada kedalaman katup pertama dan diperoleh nilai Pt min valve

pertama.

Adapun penentuan setting tekanan dari masing-masing gas lift valve adalah

sebagai berikut :

1. Pada bagian kanan atas sumbu kartesian buat skala temperatur pada sumbu

tekanan dan buat garis gradien temperatur dengan menghubungkan antara

temperatur di permukaan (TS,0) dan temperatur pada kedalaman perforasi

(TD,D).

2. Tentukan besarnya temperatur pada kedalaman katup dari perpotongan antara

kedalaman katup dengan garis gradien temperatur.


35

3. Dengan menggunakan tabel tentukan besarnya faktor koreksi temperatur pada

masing-masing katup.

4. Tentukan faktor berat gas dengan menggunakan tabel berdasarkan pada

kedalaman masing-masing katup.

Untuk katup pertama, prosedur perhitungan setting tekanan buka adalah

sebagai berikut :

a. Tentukan besarnya Pso (surface opening pressure) sesuai dengan nilai Pko

yaitu sebesar 610 psi.

b. Tentukan nilai Psc (surface closing pressure) dengan menggunakan rumus:

Psc = PVC@L : (1+ F)

c. Hitung tekanan dome pada kedalaman katup pada kondisi temperatur standar

dengan menggunakan persamaan berikut :

Pb@600F = PVC@L x FT

d. Hitung tekanan buka katup pada kondisi standar dengan menggunakan rumus:

PTRO@600F = Pb@600F : (1-R)

e. Hitung tekanan buka katup pada temperatur ruangan (800F) dengan rumus :

PTRO@800F = PTRO@600F : FT@800F

Adapun untuk valve kedua karena menggunakan jenis valve screen orifice,

maka tidak terdapat setting tekanan. Berapapun tekanan gas injeksi yang digunakan

pada valve jenis screen orifice, maka katup akan tetap terbuka selama tekanan

casing lebih besar dari tekanan didalam tubing. Perhitungan yang digunakan pada

katup kedua adalah :

Pso = PO@L : (1+F)


36

DAFTAR PUSTAKA

1. Brown, K.E., “The Technology of Artificial Lift Methods”, Volume 1 A, Penn

Well Books Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1977.

2. Brown, K.E., “The Technology of Artificial Lift Methods”, Volume 2 A, Penn

Well Books Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1980.

3. Mian, M.A., “Petroleum Engineering Hand Book for the Practicing Engineer”,

Volume II, Penn Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1992.

4. ..................... , “Peralatan Produksi”, Laboratorium Konservasi Peralatan,

Universitas Trisakti, Jakarta, 1997.

5. ..................... , Well File BP West Java Ltd., Jakarta, 2005.

6. ..................... , “Continuous Flow Gas Lift Design Manual”, Weatherford

Company.

7. ..................... , “Gas Lift Surveillance and Troubleshooting Manual”,

Weatherford Company.

8. ..................... , Diktat Mata Kuliah Teknik Produksi I, Teknik Perminyakan,

AKAMIGAS BALONGAN, Indramayu, 2003.


37

LAMPIRAN
38

Lampiran 1. Continuous Flow Gas lift installation


39

Lampiran 2. Tabel Faktor Tekanan Kolom Gas


40

Lampiran 3. Tabel Faktor Tekanan Kolom Gas pada SG 0,65


41

Lampiran 4. Tabel Penentuan Faktor Koreksi Temperatur


42

Lampiran 5. Tabel Penentuan R


43

Lampiran 6. Hasil Desain Gas Lift Dengan Software Komputer


44

Lampiran 7. Well Completion Sumur X

2 7/8” Subsurface
Safety Valve
@ 293’
1013’

2315’
Gas Lift Mandrel
3290’
TOL @ 3235’

4134’ 9 5/8” Casing


@ 3356’

7” Packer @ 4150’

2 7/8” SSD @ 4715’

End Of Tubing @ 4764’

Perforation
@ 5810’-5824’
45

7 “ Liner
Lampiran 8. Pipe Line Lay Out Bravo Flow @ 6302’
Station

Lampiran 8. Pipe Line Out Bravo Flow Station


46

Lampiran 9. Grafik Pressure Travers