Anda di halaman 1dari 3

KASUS FARMAKOTERAPI BREAST CANCER

Stadium Awal

1. Ny.Nn 37 tahun merasa nyeri di payudara sehingga melakukan mamografi dan ditemukan massa
2,2 cm di bagian luar kanan payudara. Seluruh data laboratorium normal, chest x-ray negatif.
Ibunya meninggal umur 42 tahun karena kanker payudara, dan kakak perempuannya yang
berumur 44 tahun memiliki tumor payudara dan telah diangkat 4 tahun lalu.
Hasil biopsi di temukan sel kanker invasive ductal carcinoma. CT scan pada dinding dada,
abdomen, pelvis dan scan tulang negatif. Hasil pemeriksaan fisik ditemukan sel sudah ada di 2
dari 15 bagian dikelenjar limfe bagian ipsilateral.
Hasil tes patologi menunjukan estrogen dan progesterone positif (ER/PR (+)), HER2 (-).
Tentukan permasalahan pasien.
Bagaimana tatalaksana terapi pada Ny. Nn, KIE dan Monitoring?

Stadium Lanjut

2. Ny. Mn umur 65 tahun telah menopause didiagnosis kanker payudara saat belum menopause di
umur 48 tahun. Terapi yang telah didapat adalah bedah radikal mastektomi yang telah
dimodifikasi untuk massa sel 1,5 cm ductus carcinoma in situ bagian kanan payudara. Sel positif
telah mencapai kelenjar limfe 2 dari 10 bagian. Hasil tes patologi menunjukan ER/PR (+) dengan
HER2 (-).
Ny Mn telah menyelesaikan terapi dengan regimen kemoterapi AC 4 siklus ditambah paklitaksel
tiap minggu selama 12 minggu. Setelah kemoterapi komplit, dilanjtkan tamoksifen selama 5
tahun. 10 tahun kemudian setelah komplit seluruh terapi, Ny. Mn mengalami nyeri di lengan
bagian kanan dan tulang rusuk. Hasil scan tulang sel kanker telah metastase (mencapai tulang).
Bagiamana tatalaksana terapi pada Ny. Mn? Jika Ny, Mn mendapat terapi hormon, apa yang
harus diberikan?
Apa yang harus di monitoring?
Jika Ny. Mn menerima golongan Aromatase Inhibitor/AI , apa terapi suportif yang harus
diberikan?
KASUS FARMAKOTERAPI LUNG CANCER
Stadium Awal (IA, IB, IIA, IIB, IIIA)

1. Seorang bapak umur 69 tahun melakukan x-ray pada dada dan ditemukan benjolan 3 cm saat
operasi bedah katarak. Si bapak adalah perokok sejak umur 20 tahun dengan 1 bungkus/hari,
namun berhenti 9 tahun lalu.
Hasil CT scan terdapat benjolan pada lobus kanan bawah paru namun belum ke bagian
mediastinal dan belum adenopati. Benjolan juga belum terkalsifikasi.
Hasil biopsi menunjukkan tipe Adenocarsinoma NSCLC.
Hasil tes patologi ditemukan massa 3,2 x 4 cm tipe histologi adenokarsinoma dengan terdapat
pada 3 kelenjar limfe bagian peribronkial dengan tidak terdapat pada bagian mediastinum.

Apakah yang menjadi faktor risiko dari si Bapak (disertai ulasan)..?


Apa permasalahan pasien..?
Bagaimana tatalaksana terapi pada pasien tersebut..?

Stadium Lanjut (IIIB, IV)

2. Ny. Mc umur 85 tahun mengalami batuk sedang yang berdahak tidak disertai darah. Dia juga
mengalami demam dan napas pendek-pendek. Pergi ke dokter dan menerima antibiotic untuk
kemungkinan pneumonianya.
Hasil radiogram ada infiltrat pada lobus kiri atas paru dengan hasil CT scan ditemukan massa 6 x
3 x 3,6 cm dan sudah menyebar bagian superior kiri hilum.
Terlihat adanya adenopati berupa jaringan parut ukuran 14x9 mm bagian mediastinal dan
beberapa nodul/kelenjar limfe .
Hasil biopsi; tipe histologi sel yaitu adenokarsinoma, hasil tes patologi yaitu grade 3 dari 4,
metastase pada bagian kontralateral paru.
Riwayat penyakit hipertensi dan hyperlipidemia. Pernah hemangioma umur 23 tahun, kanker
serviks umur 25 tahun. Tidak pernah merokok
Data laboratorium: Hb = 11,3 g/dl,
WBC = 5.200 cells/ul
Platelet = 245.000/ul
Sodium normal = 14,3 mEq/L
Potasium normal = 4,4 mEq/L
Kreatinin = 1,08 mg/dl dan Clcr = 48 ml/menit
Status Performen = 0 – 1

Tentukan permasalahan utama pasien dan bagaimana tata laksana terapi pasien?
Jika hasil analisis status mutasi gen yaitu positif mutasi dengan wiltype EGFR bagaimana
terapinya?
KASUS LEUKEMIA ANAK (ALL)

Anak RB laki-laki umur 4 tahun sejak 2 minggu mengalami ISPA bawah dan 1 minggu ini mengalami otitis
media. Gejala semakin memburuk dan saat ini mengalami pendarahan di hidung dan lemah.
Pemeriksaan fisik menunjukan pallor dan hepatosplenomegali. Pemeriksaan darah CBC menunjukan
anemia normokromik dan normositik.

Data lab darah; Hct: 15,7%, Hb 5,7 g/dl, WBC count 4.300 cells/uL, Platelet count 13.000 cells/uL
WBC count: Limfositik 82% (normal 30-40%), neutrophil 7% (normal 50-60%), limfoblast 11% (normal
0%).
Biopsi pada bone marrow 95% limfoblast. Diagnosis dokter adalah ALL.
Kelas imunologi adalah early pre-B berdasarkan CD10 dan CD19 yang positif.
Radiografi pada dinding dada tidak terdapat pada mediastinum dan tidak ada leukemia limfoblast pada
cairan serebrospinal.
Anak RB diterapi dengan cairan, alkalinized, dan allopurinol p.o 200 mg/m2/hari dan setelahnya akan
diberi terapi induksi.

Bagaimana tatalakasana terapi? Apa tujuan terapi profilaksis intratecal kemoterapi?

Setelah 2 minggu terapi induksi hasil lab CBC-nya baik menunjukan respon kemoterapi baik. Hasil WBC
count 2.600 cells/uL, neutrophil 69%, limfosit 22%, platelet 229.000 cells/uL, Hct 28,6%, blastosit 0.
Namun pada minggu ke-3 terapi induksi RB mengalami nyeri abdomen yang berat sehingga selama 6
hari belum BAB dan gelisah/perubahan emosi. Faktor apa yang menyebabkan hal ini?

Hasil analisis kromosom pada sumsum tulang belakang/SSTL terdapat translokasi TEL-AML1 dengan DNA
indeks 1,0. Hasil MRD pada darah hari ke-8 < 1% dan pada SSTL hari ke-29 < 0,15%. Berdasarkan temuan
hari terakhir terapi induksi, temuan pada sumsum tulang adalah MDR (+). Sehingga pasien RB akan
menerima terapi post induksi yang lebih agresif (yaitu terapi fase intensif dari post induksi terapi atau
terapi tambahan interim/sementara maintenance) karena adanya translokasi TEL-AML1 sebagai
prediktor yang kuat dibanding hasil sitogenetik. Meski hasil aspirasi sumsum tulang mengindikasikan
remisi komplit dari morfologinya, temuan MRD pada akhir terapi induksi mengharuskan terapi
selanjutnya.