Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

STASE KARDIOVASKULER DI RSKP RESPIRA


FISIOTERAPI PADA KASUS BEDAH THORAX

Disusun Oleh :

Rizka Aulia 1710306001

PROGRAM STUDI PROFESI FISIOTERAPI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2018
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN

Makalah ini yang berjudul “Fisioterapi Pada Kasus Infark Bedah Thorax”ini di
susun dan di ajukan oleh:
Nama Mahasiswa : Rizka Aulia
NIM : 1710306001
Dan telah mendapatkan persetujuan dan disahkan, sebagai salah satu
persyaratan untuk kelulusan dalam Stase Kardiovaskuler pada pendidikan Profesi
Fisioterapi di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, di RSKP Respira.

Yogyakarta, 2018
Clinical Educator

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini tepat
pada waktunya. Makalah ini membahas tentang “Fisioterapi Pada Kasus Bedah
Thorax”.
Dalam penyusunan makalah ini, kami merasa banyak mendapat tantangan
dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa
teratasi. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat
balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami
harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
semua.

Penulis

iii
DAFTAR ISI

JUDUL .................................................................................................................. i
PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN .............................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
C. Tujuan........................................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi ...................................................................................................... 3
B. Etiologi ...................................................................................................... 3
C. Tanda dan Gejala ....................................................................................... 3
D. Jenis-jenis .................................................................................................. 4
E. patofisiologi ............................................................................................... 5
F. Komplikasi ................................................................................................ 6
G. Pemeriksaan Penunjang............................................................................. 8
BAB III PROBLEMATIKA FISIOTERAPI
A. Problematik Fisioterapi ............................................................................. 9
B. Pemeriksaan Fisioterapi ............................................................................ 10
C. Intervensi Fisioterapi ................................................................................. 10
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ................................................................................................ 13
B. Saran ................................................................................................ 13

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Trauma merupakan luka atau cedera fisik lainnya atau cedera
fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat(Booker,2007). Trauma thorax
adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau
ruda paksa tajam atau tumpul. Di dalam terdapat thoraxs terdapat dua organ
yang sangat vital bagi manusia, yaitu paru-paru dan jantung. Paru-paru sebagi
alat pernapasan dan jantung sebagai alat penompa darah, jika terjadi benturan
atau trauma pada dada kedua organ tersebut bisa mengalami gangguan bahkan
kerusakan.
Trauma dada merupakan trauma tajam atau tembus thorxs yang dapat
menyebabkan tamponade jantung, pendarahan, pneumothoraks, hematothoraks,
hematompneumothoraks.
Rongga thoraks merupakan struktur tubuh yang sangat penting berkaitan
dengan fungsi pernafasan serta melindungi struktur organ-organ yang
didalamnya, selain itu banyak tindakan bedah yang berkaitan dengan dengan
dinding toraks ini, Ttrauma toraks semakin meningkat sesuai dengan kemajuan
transportasi.dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Di Amerika serikat
didapatkan 180.000 kematian/ tahun 25% karena trauma toraks langsung,
sedangkan 5 % merupakan trauma toraks tidak langsung atau penyerta.
Hematothoraks adalah kumpulan udara di dalam ruang antara dinding dada dan
paru-paru (rongga pleura). Penyebab paling umum dari hematothoraks akibat
dari trauma dada misalnya luka tembus paru-paru, jantung, pembuluh darah
besar, atau dinding dada.
Kerusakan pada pleura parietal dan tau pleura viseral dapat menyebabkan
udara keluar masuk kedalam rongga pleura, sehingga paru akan kolaps. Paling
sering terjadi karena spontan tanpa ada riwayat trauma, dapat pula sebagai
akibat taruma thoraks dan karena berbagai prosedur diagnostik maupun
terapeutik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi trauma thoraks ?
2. Apa penyebab terjadinya trauma thoraks ?

1
3. Apa tanda dan gejala trauma thoraks ?
4. Apa saja macam-macam dari trauma thoraks ?
5. Bagaimana patofisiologi dari trauma thoraks ?
6. Komplikasi yang terjadi pada trauma thoraks ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi trauma thoraks.
2. Untuk mengetahui penyebab trauma thoraks.
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala trauma thoraks.
4. Untuk mengetahui macam-macam dari trauma thoraks.
5. Untuk mengetahui patofisiologi dari trauma thoraks.
6. Untuk mengetahui kompilkasi yang terjadi pada bedah thoraks.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Bedah Toraks


Trauma dada merupakan trauma tajam atau tembus thorxs yang dapat
menyebabkan tamponade jantung, pendarahan, pneumothoraks, hematothoraks,
hematompneumothoraks.
Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang
dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi
faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja
atau tidak disengaja (Smetltzer,2006).
Rongga thoraks merupakan struktur tubuh yang sangat penting
berkaitan dengan fungsi pernafasan serta melindungi struktur organ-organ yang
didalamnya, selain itu banyak tindakan bedah yang berkaitan dengan dengan
dinding toraks ini, Ttrauma toraks semakin meningkat sesuai dengan kemajuan
transportasi.dan kondisi sosial ekonomi masyarakat

B. Etiologi Bedah Thoraks.


Adapun penyebab dari trauma thorax yang dapat terjadi akibat trauma
langsung atau tidak sebagai berikut:
1. Tamponade, jantung yang disebabkan luka tusuk dada yang tembus ke
mediastinum atau daerah jantung.
2. Hematothoraks luka tembus thoraks oleh benda tajam, traumatik atau
spontan.
3. Pneumothoraks, spontan (pula yang pecah), trauma (penyedotan luka
rongga dada), iatrogenik( plural tap, biopsi paru-paru, insersi CVP, ventilasi
dengan tekanan positi).

C. Tanda dan gejala trauma thoraks


Tanda dan gejala pada pasien trauma thoraks, yaitu :
1. Temponade jantung
a) Trauma tajam didaerah perikardium atau yang diperkirakan menembus
jantung.
b) Gelisah

3
c) Pucat, keringat dingin.
d) Pekak jantung melebar
e) peninggian TVJ ( tekanan Vena Jugularis)
f) Bunyi jantung melemah
g) Terdapat tanda-tanda paradoxical pulse pressure
h) EGC terdapat Low Voltage seluruh lead.
2. Hematothoraks
a) Pada pemasangan WSD darah yang keluar cukup banyak dari WSD.
b) Gangguan pernpsan (FKUI, 2005)
3. Pneumothoraks
a) Nyeri dada mendadak dan sesak napas
b) Gagal pernapasan dengan sianosis
c) Kolpas sirkulasi
d) WSD ( hematothorks)
e) Dada atau sisi yang terkena lebih resonan pada perkusi dan suara napas
yang terdapat jauh atau tidak terdengar tidak terdengar sama sekali.
f) Chest Tube/drainase udara (pneumothoraks)
g) Toraktomi
h) Pemberian oksigen.

D. Jenis – jenis Bedah Thorak


1. Pneumonektomi ( pengangkatan keseluruhan paru ) :
Dilakukan terutama untuk kanker ketika lesi tidak dapat diangkat
dengan prosedur yang lebih rendah. Pneumoktomi mungkin juga dilakukan
untuk abses paru, bronkleaktasi, atau tuberkulosis unilateral luas.
pengangkatan paru kanan lebih berbahaya dibanding pengangkatan paru
kiri, karena paru kanan mempunyai jaring – jaring vaskuler yang lebih
besar dan pengangkatanya menyebabkan masalah fisiologis yang lebih
besar.
2. Lobektomi ( pengangkatan lobus paru ):
Dapat dilakukan untuk karsinoma bronkogenik, bulla atau bleb
emfisema raksa, tumor jinak tumor maligna yang bermetasase,
bronkolektasis, infeksi jamur . Operasi ini merupakan operasi yang lebih
umum dibanding pneumoektomia.

4
3. Segmentektomi ( reseksi segmental ) :
Satu segmen dapat diangkat dari setiap lobus, kecuali lobus tengah
kanan, yang hanya mempunyai dua segmen kecil, tanpa kecuali diangkat
seluruhnya, Proses penyakit dapat dibatasi pada suatu segmen. Kehati –
hatian harus diterapkan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin jaringan
paru yang sehat dan berfungsi, terutama pada pasien yang sebelumnya
sudah mempunyai cadangan kardiopulmonal terbatas.
4. Reseksi Baji
Prosedur ini dilakukan unrtuk biopsi paru diagnostik dan untuk eksisi
non- lobus perifer kecil. Reaksi Baji dari lesi kecil yang terbatas sangat
tegas dapat dilakukan tanpa memperhatikan lokasi bidang intersegmental.
5. Reseksi Bronkoplastik atau Sleeve
Prosedur dimana hanya satu lobaris bronkus dengan bagian kanan
atau kiri bronkus yang dieksisi. Bronkus distal direa-nastomosis ke Bronkus
proksimal / trakea.
6. Toraskopi video
Toraskopi video adalah prosedur endoskopi yang memungkinkan ahli
bedah, tanpa melakukan insisi terbuka untuk melihat kedalam keadaan
toraks, mengambil spesimen jaringan untuk biopsi, mengatasi pneumotoraks
rekuren spontan, dan mendiagnosis baik efusi pleural maupun massa
pleural. (Brunner & Suddarth, 2001).

E. Patofisioloagi bedah thoraks


Trauma dada merupakan trauma tajam atau tembus thorxs yang dapat
menyebabkan tamponade jantung, pendarahan, pneumothoraks, hematothoraks,
hematompneumothoraks.
Hipoksia, hiperkarbia, dan asidosis sering disebabkan oleh trauma
thorax. Hipoksia jaringan merupakan akibat dari tidak adekuatnya pengangkutan
oksigen kejaringan oleh karena hipivolemia ( kehilangan darah ), pulmonary
ventilation( contoh kontusio, hematoma, kolaps alveolus ) dan perubahan dalam
tekanan intra tthorax ( contoh : tension pneumothorax, pneumothorax terbuka ).
Hiperkarbia lebih sering disebabkan oleh tidak adekuatnya ventilasi akibat
perubahan tekanan intra thorax atau penurunan tingkat kesadaran. Asidosis
metabolik disebabkan oleh hipoperfusi dari jaringan ( syok ).

5
Fraktur iga, merupakan komponen dari dinding thorax yang paling
sering mengalami trauma, perlukaan pada iga sering bermakna, nyeri pada
pergerakan akibat terbidainya iga terhadap dinding thorax secara keseluruhan
menyebabkan gangguan ventilasi.Batuk yang tidak efektif intuk mengeluarkan
sekret dapat mengakibatkan insiden atelaktasis dan pneumonia meningkat secara
bermakna dan disertai timbulnya penyakit paru – paru.Pneumotoraks
diakibatkan masuknya udara pada ruang potensial antara pleura viseral dan
parietal.Dislokasi fraktur vertebra torakal juga dapat ditemukan bersama dengan
pneumotoraks.Laserasi paru merupakan penyebab tersering dari pneumotoraks
akibat trauma tumpul.Dalam keadaan normal rongga toraks dipenuhi oleh paru-
paru yang pengembangannya sampai dinding dada oleh karena adanya tegangan
permukaan antara kedua permukaan pleura. Adanya udara di dalam rongga
pleura akan menyebabkan kolapsnya jaringan paru. Gangguan ventilasi perfusi
terjadi karena darah menuju paru yang kolaps tidak mengalami ventilasi
sehingga tidak ada oksigenasi.Ketika pneumotoraks terjadi, suara nafas menurun
pada sisi yang terkena dan pada perkusi hipesonor.Foto toraks pada saat
ekspirasi membantu menegakkan diagnosis.Terapi terbaik pada pneumotoraks
adalah dengan pemasangan chest tube pada sela iga ke 4 atau ke 5, anterior dari
garis mid-aksilaris. Bila pneumotoraks hanya dilakukan observasi atau aspirasi
saja, maka akan mengandung resiko. Sebuah selang dada dipasang dan
dihubungkan dengan WSD dengan atau tanpa penghisap, dan foto toraks
dilakukan untuk mengkonfirmasi pengembangan kembali paru-paru.
F. Kompilkasi bedah thoraks.
1. Masalah kolaborasi
a. Ateletaksis
b. Pneumonia
c. Insufiensi pemutusan
d. Pneumotoraks, hematoraks
e. Hematologi
f. Embolisme pulmonal
g. Emsisema subcutan
h. Pergeseran mediastinal
i. Edema pulmonal akut
j. Trombflebitio ( Capernito ,2000 )

6
2. Komplikasi trauma thorak
a. Yang terkait dengan tidak stabilnya dinding dada :
1) Nyeri berkepanjangan , meskipun luka sudah sembuh. Mungkin karena
cellus atau jaringan parut yang menekan saraf intercosta. Terapi
konservatif dengan analgesik atau pelunak jaringan parut .
2) Oeteomylitis , dilakukan squesterisasi dan fiksasi
3) Retensi sputum , karena batuk tidak adequat dan dapat menimbulkan
pneumoni. Diperlukan pemberian mukolitik.
b. Yang tertkait dengan perlukaan dan memar paru :
1) Infiltrat paru dan efusi pleura , yang memerlukan pemasangan WSD
untuk waktu yang lama .
2) Emphysema , yang terjadi lambat dan memerlukan WSD dan
antibiotik.
3) Pneomoni, merupakan komplikasi yang berbahaya daan perlu diberi
pengobatan yang optimal. Bila distress pernafasan berkelanjutan maka
diperlukan pemasangan respirator.
4) Fistel bronkopleural , ditandai dengan gejala kolaps paru yang tidak
membaik. Memerlukan tidak bedah lanjut berupa torakomi eksploratif
dan fistelnya.
c. Komplikasi lain di luar paru dan pleura .
1) Mediastinitis, merupakan komplikasi yang sering fatal Bila terjadi
pernanahan maka harus dilakukan drainase mediastinum .
2) Fistel esofagus, dapat ke mediastinum dan menyebabkan mediastinitis
atau ke pleura dan menimbulakan epiema atau egusi pleura.
Diperlukan tindakan bedah untuk menutup fistel .
3) Hernia diagfragmatika lambat, memerlukan koreksi bedah
4) Kelainan jantung, terutama pada luka tembus dan trauma pada
jantung. Memerlukan tindakan bedah dan pembedahan jantung
terbuka ( Alam , 2007 ).

7
G. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan gas darah arteri( GDA)
a. Pemeriksaan PH darah
b. Tekanan O2 dan CO2 .
2. Pemeriksaan Radiografi dada
a. Pengukuran Rontgen dada
b. Tomografi ( planigrafi )
c. Computed Tomografi ( CT Scan )
d. Positorn Emission Tomografi ( PET )
e. Flouroskopi
f. Telan Barium
g. Bronkografi
h. Angiografi
3. Pada dasarnya diagnostik trauma thorak harus ditegakkan secepat mungkin,
tanpa memakai cara yang lama ( CT Scan dan Angiografi).

8
BAB II
PROBLEMATIKA FISIOTERAPI
A. Problematik fisioterapi bedah thorak
1. Sesak nafas
Pada kasus bedah thorax, impairment yang muncul yaitu berupa
sesak nafas. Sesak ini muncul dikarekan karena hubungan fungsi jantung
dan paru-paru yang saling berkaitan. Saat melakukan pembedahan pada
jantung maka detak jantung akan dihentikan selama proses operasi
berlangsung. Sehingga pada saat post bedah thorak efek dari anastesi mulai
menghilang saat itulah sesak akan dirasakan oleh pasien. Selain itu sesak
dapat terjadi pada kasus bedah paru, sebagian paru harus diangkat
dikarenakan tidak berfungsinya paru. Ketika paru diangkat maka proses
fisiologi paru juga akan terganggu, mekanisme kerja paru dalam proses
respirasi terganggu, sehingga kekuatan yang dibutuhkan semakin besar
kondisi inchisi juga dapat berpengaruh dalam timbulnya sesak dikarekan
pengembangan sangkar thoraks menjadi terbatas.
2. Keterbatasan sangkar thoraks
Pada kasus bedah thorax keterbatasan sangkat thorak dapat terjadi
dikarenakan luka inchisi, selain itu keterbatasan juga terjadi karena efek dari
otot yang mengalami perubahan elastisatas karena inchisi.
3. Nyeri
Pada kasus bedah thorax ketika anastesi mulai habis dapat maka rasa
nyeri karena luka inchisi akan terasa.
4. Kekakuan Otot
Pada kasus post op bedah thorax biasanya akan menimbulkan
kekakuan pada otot yang disebabkan karena adanya tirah baring. Saat tirah
baring maka otot yang seharusnya berkontraksi untuk menjaga fungsi dari
fisiologis dari otot akan dihentikan darekan tidak ada pergerakan, ketika
tidak terjadi pergerakan maka tidak akan terjadi kontraksi otot, otot sisi
distal akan mengalami ticknes karena proses inilah kakuan otot dapat
terjadi.
5. Sangkar thoraks
Pada kasus bedah thorax mengakibatkan paru kolaps, sehingga
menyebabka ekspansi thoraks terbatas. Akibat ekspansi thorak terbatas akan

9
mengakibatkan timbulnya sesak nafas. Mobilisasi sangkar thoraks
merupakan latihan yang meliputi gerakan-gerakan pada trunk dan anggota
gerak atas, dapat dilakukan bersamaan dengan breathing exercise. Sehingga
akan membantu dan memudahkan dada untuk mengembang lebih baik saat
inspirasi (Harisma, 2012).
B. Pemerikasaan Fisioterapi Pre dan Post op Bedah Thorax
Jenis pemeriksan yang dilakukan pada pasca operasi sama dengan
sebelum operasi. Jenis umum peralatan yang digunakan adalah:
1. Stethoscope,
2. Sphygmoma nometer
3. Peak flow meter
4. Midline
5. Spirometer
C. Intervensi Fisioterapi Pada Bedah Thorax
1. Deep Breathing
a. Bahu rilex
b. Tarik nafas dengan dalam kemudian di tahan 3 detik.
c. Hembuskan, pada akhir ekspirasi diberikan tekanan hingga volume O2
habis .
d. Deep breathing / thoracic expansion diulang sebanyak 4 kali
e. Dilakukan selama 10 menit.
2. Postural drainage
Postural drainage juga merupakan teknik yang sering digunakan
untuk membersihkan jalan napas dalam survei ini. 70% responden
melaporkan menggunakan tehnik ini pada pasca operasi, namun tidak jelas
posisi mana yang dipergunakan. Diasumsikan bahwa mereka tidak
menggunakan posisi kepala ke-bawah mengingat posisi ini tidak sesuai
untuk beberapa kasus seperti abdominal distention dan gastrooesophageal
reflux (Pryor & Web ber, 1998). Relevansi penggunaan postural drainage
pada kasus pasca pembedaahan perlu dipertanyakan jika tidak ditemukan
mukus yang banyak, mengingat bahwa postural drainage effektif untuk
membantu membersihkan jalan napas jika ditemukan mokus yang banyak
(Lorin & Denning, 1971).

10
3. Batuk efektif adalah suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat
menghemat energi sehingga tidak mudah lelah mengeluarkan dahak secara
maksimal. Batuk merupakan gerakan yang dilakukan tubuh sebagai
mekanisme alamiah terutama untuk melindungi paru paru. Gerakan ini pula
yang kemudian dimanfaatkan kalangan medis sebagai terapi untuk
menghilangkan lendir yang menyumbat saluran pernapasan akibat sejumlah
penyakit. Itulah yang dimaksud pengertian batuk efektif. Batuk efektif
dilakukan melalui gerakan yang terencana atau dilatihkan terlebih dahulu.
atuk efektif untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Batuk
memungkinkan pasien mengeluarkan sekresi darijalan napas bagian atas dan
bagian napas bagian bawah. Rangkaian normal peristiwa dalam mekanisme
batuk adalah inhalasi dalam, penutupan glottis, kontraksi aktif otot-otot
ekspirasi, dan pembukaan glotis. Pasien yang mengalamiinfeksi saluran
napas atas dan infeksi saluran napas bawah harus didorong untuk napas
dalam dan batuk sekurang-kurangnya setiap 2 jam saat terjaga. Klien yang
memiliki jumlah sputum yang besar harus didorong untuk batuk setiap jam
saat terjaga dan setiap 2-3 jam saat tidur. Huff Coughing adalah tehnik
mengontrol batuk yang dapat digunakan pada pasien menderita penyakit
paru-paru seperti pnemonia, bronchitis. Dapat dilakukan dengan langkah
untuk menyiapkan paru-paru dan saluran napas dari Tehnik Batuk huff,
keluarkan semua udara dari dalam paru-paru dan saluran napas. Mulai
dengan bernapas pelan. Ambil napas secara perlahan, akhiri dengan
mengeluarkan napas secara perlahan selama 3 – 4 detik (Parsudi, dkk.,
2006).
4. Duduk diluar bed sebagi tehnik yang paling sering kedua dilakukan oleh
fisioterapis Indonesia untuk meningkatkan volume paru didukung oleh
beberapa literatur. Pada saat duduk tegak, isi abdomen turun kebawah men-
jauhi diafragma karena pengaruh gravitasi dan otot-otot inspirasi seperti
intercostal dan scaleni jadi teregang. Hal ini menyebabkan otot-otot tersebut
akan lebih dipermudah beker-janya untuk meningkatkan inspirasi (Ross &
Dean, 1992). Disamping itu FRC juga lebih besar pada posisi duduk tegak
dari pada tidur terlentang. FRC yang optimum berhubungan erat dengan
penurunan penutupan saluran na-pas dan memaksimalkan oksigenasi di
alveolus. Oleh karena itu tidur terlentang harus dihindari dan duduk tegak

11
harus diupayakan untuk men-cegah penutupan jalan napas dan gangguan
pertukaran gas (Craig, 1981; Dean, 1996).
5. Infra red merupakan salah satu bagian dari spektrum gelombang
elektromagnetik yang menghasilkan panas ketika di absorbsi oleh zat. Efek
infra red bagi tubuh jika diabsorbsi oleh kulit maka panas akan timbul
dimana sinar tadi diabsorbsi. Dengan adanya panas muncul pengaruh yang
terjadi, diantaranya meningkatkan proses metabolisme, vasodilatasi
pembuluh darah, mengaktifkan kerja kelenjar keringat, relaksasi otot
sehingga mengurangi rasa sakit, serta menghilangkan sisa-sisa metabolisme
(Sujatno, 1993).
6. Mobilisasi sangkar thoraksTujuan pemberian mobilisasi sangkar thoraks
pada kondisi bedah thorax dalah untuk meningkatkan volume paru.

12
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Bedah thorak terdiri dari berbagai prosedur yang mencakup
pembedahan membuka rongga dada, bedah toraks meliputi pneumonektomi
(pengangkatan keseluruhan paru), lobektomi (pengakatan lobus paru),
segmentektomi (reseksi segmentasi), reseksi baji, reseksi bronkoplastik atau
sleeve, toraskopi video (pemeriksaan dengan suatu endoskop).
Problematika fisioterapi pada kasus bedah thorax adalah sesak, batuk
tidak efektif, ketegangan otot, nyeri dan keterbatasan sangkar thorax.
B. SARAN
Sebagai salah satu tenaga kesehatanfisioterapi yang ikut bertanggung
jawab terhadap pelayanan kesehatan, hendaknya selalu melakukanpemeriksaan
yang lebih cermat,serta mendapatkan diagnosis yang tepat.Diharapkan kepada
masyarakat apabila menjumpai kasus seperti ini segera diperiksakan dan
mendapatkan penangananyang tepat.

13
DAFTAR PUSTAKA

Brooker, Christine. 2007. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta:EGC.


Smeltzer, Suzanne C. 2006. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and
Suddarth,Edisi.8Vol.3.Jakarta:EGC
Heuvel. 2013. Comparison of modified Borg scale and visual analog scale dyspnea
scores in predicting re-intervention after drainage of malignant pleural
effusion : Verlag Berlin Heidelberg
Ferris, B. & Pollard, D, “Effect of deep and quiet breathing on pulmonary
compliance”, Journal of clinical investigation, 39 (Jan), 1960.
Gallon, A, “The use of percussion”, Physiotherapy, 78 (2), 1992.
Pratama, Harisma. 2012. Fisioterapi Dada. Diakses: 2 Juni
2014.http://harismapratama.wordpress.com/2012/12/04/fisioterapi-dada/

14

Anda mungkin juga menyukai