Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

GIZI BURUK

Pembimbing :

dr. Neni Sumarni Sp.A

Disusun oleh:

Tiara Larasati Widyaswara,S.Ked

030.13.190

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


RUMAH SAKIT RSUD KRMT WONGSONEGORO
PERIODE 1 OKTOBER – 7 DESEMBER 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan YME, karena atas rahmat dan
izinnya penyusun dapat menyelesaikan referat dengan judul “Gizi Buruk” ini tepat
pada waktunya. Referat ini disusun guna memenuhi tugas kepanitraan klinik Ilmu
Anak RSUD KRMT Wongsonegoro.

Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-


besarnya kepada dr. yang telah membimbing penyusun dalam mengerjakan referat ini
serta semua pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan kepada penyusun.

Penyusun menyadari bahwa dalam dalam penyusunan referat ini masih


terdapat banyak kekurangan, baik isi maupun format penyusunan. Oleh karena itu,
penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa
mendatang.

Akhir kata, saya selaku penyusun berharap referat mengenai “Gizi Buruk” ini
dapat berguna dan memberikan manfaat bagi kita semua.

Jakarta,17 Oktober 2018

Tiara Larasati Widyaswara


03.013.190

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 2
2.1 Definisi .................................................................................................................... 2
2.2 Etiologi ..................................................................................................................... 2
2.3 Patofisiologi ............................................................................................................. 4
2.4 Klasifikasi ............................................................................................................... 4
2.5 Gejala Klinis ............................................................................................................ 7
2.6 Diagnosis.................................................................................................................. 9
2.7 Penatalaksanaan ..................................................................................................... 10
2.8 Komplikasi ............................................................................................................ 17
BAB III KESIMPULAN............................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 21

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumber daya manusia.
Peran gizi dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia telah dibuktikan dari
berbagai penelitian. Gangguan gizi pada awal kehidupan akan mempengaruhi kehidupan
berikutnya. Gizi kurang pada balita tidak hanya menimbulkan gangguan pertumbuhan
fisik, tetapi juga mempengaruhi kecerdasan dan produktivitas di masa dewasa.
Menurut WHO salah satu masalah gizi buruk terjadi akibat konsumsi makanan
yang tidak cukup mengandung energi dan protein serta karena adanya gangguan
kesehatan. Anak disebut gizi buruk apabila berat badannya kurang dari berat badan
normal. Sedangkan menurut Depkes RI (2005), gizi buruk adalah status gizi menurut
berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) dengan Z-score <-3 dan atau dengan tanda-tanda
klinis (marasmus, kwasiorkor dan marasmus-kwasiorkor). Gizi buruk juga diartikan
seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein
dalam makanan sehari-hari dan atau gangguan penyakit tertentu.
Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Usia 0-24 bulan
merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, yang sering
diistilahkan sebagai periode emas.Tahapan periode emas dimulai sejak di dalam
kandungan ketika kehamilan memasuki trimester ke-3 hingga usia 2 tahun. Pada usia
6 bulan, perkembangan otak anak mencapai 50% melonjak hingga 80% saat berumur
2 tahun. Pada umur 5 tahun perkembangan otak mencapai 90% dan ketika umur 10
tahun mencapai 100%. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi
dan anak memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal.
Tumbuh kembang optimal dapat dicapai dengan melakukan beberapa hal, di dalam
Global Strategy for Infant and Young Child Feeding, WHO/UNICEF
merekomendasikan 4 hal penting yang harus dilakukan yaitu; memberikan air susu
ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, memberikan hanya
air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi
berusia 6 bulan, memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi
berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan meneruskan pemberian ASI sampai anak
berusia 24 bulan atau lebih.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI

Yang dimaksud dengan gizi buruk adalah terdapatnya edema pada kedua kaki atau
adanya severe wasting (BB/TB < 70% atau < -3SD*), atau ada gejala klinis gizi buruk
(kwashiorkor, marasmus atau marasmik-kwashiorkor).Walaupun kondisi klinis pada
kwashiorkor, marasmus, dan marasmus kwashiorkor berbeda tetapi tatalaksananya
sama.

2.2 ETIOLOGI

gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara garis besar
penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang dan
anak yang sering atau terkena infeksi. Selain itu gizi buruk dipengaruhi oleh faktor
lain seperti sosial ekonomi , kepadatan penduduk, kemiskinan, dan lain-lain.

Faktor-Faktor Penyebab Gizi Buruk


Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi yaitu :
a. Faktor Langsung

1. Kurangnya asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah
makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang
dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan.

2. Penyakit infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh
sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.

b. Faktor tidak Langsung

1. Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat

2. Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan asuh anak

2
3. Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.

Faktor lain yang dikemukan oleh Adriani & Wirjatmadi ( 2012) dalam buku mereka
pengantar gizi masyarakat bahwa status gizi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai
berikut :
1. Faktor langsung dipengaruhi oleh :

a. Asupan berbagai makanan

b. Penyakit

2. Faktor tidak langsung


a. Ekonomi keluarga, penghasilan keluarga merupakan faktor yang memengaruhi
kedua faktor yang berperan langsung terhadap status gizi
b. Produksi pangan, peranan pertanian dianggap penting karena kemampuan
menghasilkan produk pangan
c. Pola Asuh, salah satu kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang
d. Budaya, masih ada kepercayaan untuk memantang makanan tertentu yang
dipandang dari segi sebenarnya mengandung zat gizi yang baik.
e. Kebersihan lingkungan, kebersihan lingkungan yang jelek akan memudahkan anak
menderita penyakit tertentu seperti ISPA, infeksi saluran pencernaan.
f. Fasilitas kesehatan sangat penting untuk menyokong status kesehatan dan gizi anak

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab gizi buruk
pada balita, yaitu:
1. Keluarga miskin

2. Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak

3. Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran
pernapasan dan diare

3
2.3 PATOFISIOLOGI

Malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor –
faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host) , agent
( kuman penyebab ) , environment (lingkungan) . Memang faktor diet (makanan)
memengang peran penting terapi faktor lain ikut menentukan. Marasmus adalah
compensated malnutrition atau sebuah mekanisme adaptasi tubuh terhadap
kekurangan energy dalam waktu yang lama. Dalam keadaan kekurangan makanan,
tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan
pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein
dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan,
karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar,
tetapi kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit. Akibatnya ,
katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino
yang segera diubah jadi karbohidrat dihepar dan diginjal. Selama kurangnya intake
makanan, jaringan lemak akan dipecah jadi asam lemak , gliserol dan keton bodies.
Setelah lemak tidak dapat mencukupi kebutuhan energi, maka otot dapat
mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energy kalau
kekurangan makanan. Pada akhirnya setelah semua tidak dapat memenuhi kebutuhan
akan energi lagi, protein akan dipecah untuk memenuhi kebutuhan metabolism basal
tubuh. Proses ini berjalan menahun, dan merupakan respon adaptasi terhadap ketidak
cukupan asupan energi dan protein.

2.4 KLASIFIKASI
Status Gizi Berdasarkan Antropometri WHO 2005
Klasifikasi status gizi dengan pengukuran antropometri dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.

4
Status Gizi Berdasarkan Antropometri WHO 2005 dengan Gejala Klinis
Status Gizi dengan pengukuran antropomerti WHO 2005 dengan gejala-gejala klinis
yaitu :
1. Marasmus
Marasmus memiliki ciri-ciri:Badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya
terbungkus kulit, otot lemah, lunak, wajah tampak tua (monkey face), sering pada bayi
< 12 bulan, mudah menangis/cengeng dan rewel, kulit menjadi keriput, jaringan
lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar),
perut cekung, dan iga gambang, sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis
berulang), diare kronik atau konstipasi (susah buang air), tidak ada edema, warna
rambut tidak berubah.

2. Kwashiorkhor
Kwasiorkor memiliki ciri-ciri: wajah bulat (moon face), biasa terjadi pada anak usia
1-3 bulan, edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki
dan wajah) membulat dan lembab, pandangan mata sayu, rambut tipis kemerahan
seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok,
terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel, terjadi pembesaran hati, otot
mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk,
terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna

5
menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis), sering disertai
penyakit infeksi yang umumnya akut, anemia dan diare.
3. Marasmic-Kwashiorkor
Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis
kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.

MELAKUKAN PENILAIAN STATUS GIZI ANAK

Penilaian status gizi anak di fasilitas kesehatan (Puskesmas, Rumah Sakit dll),
tidak didasarkan pada Berat Badan anak menurut Umur (BB/U). Pemeriksaan BB/U
dilakukan untuk memantau berat badan anak, sekaligus untuk melakukan deteksi dini
anak yang kurang gizi (gizi kurang dan gizi buruk). Pemantauan berat badan anak
dapat dilakukan di masyarakat (misalnya posyandu) atau di sarana pelayanan
kesehatan (misalnya puskesmas dan Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit), dalam
bentuk kegiatan pemantauan Tumbuh Kembang Anak dengan menggunakan KMS
(Kartu Menuju Sehat), yang dibedakan antara anak laki-laki dan perempuan.
Status gizi anak < 2 tahun ditentukan dengan menggunakan tabel Berat Badan
menurut Panjang Badan (BB/PB); sedangkan anak umur ≥ 2 tahun ditentukan dengan
menggunakan tabel Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Anak didiagnosis
gizi buruk apabila secara klinis “Tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua
punggung kaki sampai seluruh tubuh” dan atau jika BB/PB atau BB/TB < - 3 SD atau
70% median. Sedangkan anak didiagnosis gizi kurang jika “BB/PB atau BB/TB < - 2
SD atau 80% median”
Menghitung Berat Badan anak Menurut Panjang/Tinggi Badan

Menentukan prosentase berat badan anak menurut Panjang/Tinggi Badan atau Standar
Deviasi (SD) Berat Badan menurut Panjang/Tinggi Badan.

 Cari lajur yang berisi Panjang/Tinggi Badan anak yang terletak di tengah
kolom pada Tabel 42.
 Lihat ke bagian sebelah kiri lajur untuk panjang/tinggi badan anak laki-laki
dan sebelah kanan untuk panjang/tinggi badan anak perempuan.
 Catat dimana letak panjang/tinggi badan anak sesuai dengan Berat Badan
(BB) yang tercatat dalam lajur ini

6
 Lihat kolom sebelahnya untuk membaca BB menurut Panjang badan anak

Contoh 1 : anak laki-laki: Panjang Badan (PB) 61 cm, Berat Badan (BB) 5.3 kg;
Anak ini berada diantara > - 2 SD dan <- 1 SD (> 80% - < 90% median) → gizi baik
Contoh 2: anak perempuan: Panjang Badan (PB) 67 cm, Berat Badan (BB) 4.3 kg;
Anak ini berada < - 3 SD BB menurut Panjang Badan (PB) (< 70% Median) → gizi
buruk

SD = Skor Standar Deviasi atau Z-score; Meskipun interpretasi prosentase tetap nilai
median berbeda-beda sesuai umur dan tinggi badan dan umumnya dua skala ini tidak
dapat diperbandingkan; prosentase rata-rata nilai median untuk SD 1 dan 2 adalah
masing-masing 90% dan 80% median .
Panjang Badan (PB) diukur di bawah angka 85 cm; Tinggi Badan (TB) diukur pada
angka 85 cm dan diatasnya. Panjang Badan dalam keadaan berbaring (Recumbent
length) berada pada ukuran rata-rata 0.7 cm lebih panjang dari tinggi.

2.5 GEJALA KLINIS

Pada kasus malnutrisi yang berat, gejala klinis terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu
kwashiokor dan marasmus. Pada kenyataannya jarang sekali ditemukan suatu kasus
yang hanya menggambarkan salah satu dari bagian tertentu saja. Sering kali pada
kebanyakan anak-anak penderita gizi buruk, yang ditemukan merupakan perpaduan
gejala dan tanda dari kedua bentuk malnutrisi berat tersebut. Marasmus lebih sering
ditemukan pada anak-anak dibawah usia satu tahun, sedangkan insiden pada anak-
anak dengan kwashiokor terjadi pada usia satu hingga enam tahun.

7
 Gejala pertama dari malnutrisi tipe marasmus adalah kegagalan tumbuh
kembang. Pada kasus yang lebih berat, pertumbuhan bahkan dapat terhenti
sama sekali. Selain itu didapatkan penurunan aktifias fisik dan keterlambatan
perkembangan psikomotorik.
Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik, akan ditemukan
 suara tangisan anak yang monoton, lemah, dan tanpa air mata, lemak
subkutan menghilang dan lemak pada telapak kaki juga menghilang sehingga
memberikan kesan tapak kaki seperti orang dewasa.
 Kulit anak menjadi tipis dan halus, mudah terjadi luka tergantung adanya
defisiensi nutrisi lain yang ikut menyertai keadaan marasmus.
 Kaki dan tangan menjadi kurus karena otot-otot lengan serta tungkai
mengalami atrofi disertai lemak subkutan yang turut menghilang.
 Pada pemeriksaan protein serum, ditemukan hasil yang normal atau sedikit
meningkat.
 Selain itu keadaan yang terlihat mencolok adalah hilangnya lemak subkutan
pada wajah. Akibatnya ialah wajah anak menjadi lonjong, berkeriput dan
tampak lebih tua (old man face).
 Tulang rusuk tampak lebih jelas. Dinding perut hipotonus dan kulitnya
longgar.
 Berat badan turun menjadi kurang dari 60% berat badan menurut usianya.
 Suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang.
 Cengeng dan rewel serta lebih sering disertai diare kronik atau konstipasi,
serta penyakit kronik.
 Tekanan darah, detak jantung dan pernafasan menjadi berkurang.

Pada kasus malnutrisi kwashiokor marasmik ditemukan perpaduan gejala antara


kwashiokor dan marasmus. Keadaan ini ditemukan pada anak-anak yang makanan
sehariharinya tidak mendapatkan cukup protein dan energi untuk pertumbuhan yang
normal. Pada anak-anak penderita kasus ini disamping terjadi penurunan berat badan
dibawah 60% berat badan normal seusianya, juga memperlihatkan tanda-tanda
kwashiorkor :
 seperti edema,
 kelainan rambut,

8
 kelainan kulit,
 dan kelainan biokimiawi.
Kelainan rambut pada kwashiorkor adalah
 rambut menjadi lebih mudah dicabut tanpa reaksi sakit dari penderita,
 warna rambut menjadi lebih merah, ataupun kelabu hingga putih.
 Kelainan kulit yang khas pada penyakit ini ialah crazy pavement dermatosis,
yaitu kulit menjadi tampak bercak menyerupai petechiae yang lambat laun
menjadi hitam dan mengelupas di tengahnya, menjadikan daerah sekitarnya
kemerahan dan dikelilingi batas-batas yang masih hitam.
 Adanya pembesaran hati dan juga
 anemia ringan dikarenakan kekurangan berbagai faktor yang turut mengiringi
kekurangan protein, seperti zat besi, asam folat, vitamin B12, vitamin C, dan
tembaga.
 Selain itu juga ditemukan kelainan biokimiawi seperti albumin serum yang
menurun
 globulin serum yang menurun, dan kadar kolesterol yang rendah

2.6 DIAGNOSIS

Ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta pengukuran antropometri. Anak
didiagnosis gizi buruk apabila:

 BB/TB < -3 SD atau <70% dari median (marasmus)


 Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor: BB/TB
>-3SD atau marasmik-kwashiorkor: BB/TB <-3SD

Jika BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur, gunakan tanda klinis berupa anak tampak
sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak mempunyai jaringan lemak bawah
kulit terutama pada kedua bahu, lengan, pantat dan paha; tulang iga terlihat
jelas, dengan atau tanpa adanya edema (lihat gambar).
Anak-anak dengan BB/U < 60% belum tentu gizi buruk, karena mungkin anak
tersebut pendek, sehingga tidak terlihat sangat kurus.

9
Anak seperti itu tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit, kecuali jika ditemukan
penyakit lain yang berat.

2.7 PENATALAKSANAAN

ada setiap anak gizi buruk lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Anamnesis
terdiri dari anamnesis awal dan anamnesis lanjutan.
Anamnesis awal (untuk kedaruratan):

 Kejadian mata cekung yang baru saja muncul


 Lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari bahan muntah dan
diare (encer/darah/lendir)
 Kapan terakhir berkemih
 Sejak kapan tangan dan kaki teraba dingin.

10
 Bila didapatkan hal tersebut di atas, sangat mungkin anak mengalami
dehidrasi dan/atau syok, serta harus diatasi segera.

Anamnesis lanjutan (untuk mencari penyebab dan rencana tatalaksana selanjutnya,


dilakukan setelah kedaruratan ditangani):

 Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit


 Riwayat pemberian ASI
 Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari terakhir
 Hilangnya nafsu makan
 Kontak dengan pasien campak atau tuberkulosis paru
 Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
 Batuk kronik

 Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung


 Berat badan lahir
 Riwayat tumbuh kembang: duduk, berdiri, bicara dan lain-lain
 Riwayat imunisasi
 Apakah ditimbang setiap bulan
 Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak)
 Diketahui atau tersangka infeksi HIV

11
Pemeriksaan fisis

 Apakah anak tampak sangat kurus, adakah edema pada kedua punggung kaki.
Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB .
 Tanda dehidrasi: tampak haus, mata cekung, turgor buruk (hati-hati
menentukan status dehidrasi pada gizi buruk).
 Adakah tanda syok (tangan dingin, capillary refill time yang lambat, nadi
lemah dan cepat), kesadaran menurun.
 Demam (suhu aksilar ≥ 37.5° C) atau hipotermi (suhu aksilar < 35.5° C).
 Frekuensi dan tipe pernapasan: pneumonia atau gagal jantung
 Sangat pucat
 Pembesaran hati dan ikterus
 Adakah perut kembung, bising usus melemah/meninggi, tanda asites, atau
adanya suara seperti pukulan pada permukaan air (abdominal splash)

Tatalaksana perawatan

Pada saat masuk rumah sakit:

 anak dipisahkan dari pasien infeksi


 ditempatkan di ruangan yang hangat (25–30°C, bebas dari angin)
 dipantau secara rutin
 memandikan anak dilakukan seminimal mungkin dan harus segera keringkan.

Demi keberhasilan tatalaksana diperlukan:

 Fasilitas dan staf yang profesional (Tim Asuhan Gizi)


 Timbangan badan yang akurat
 Penyediaan dan pemberian makan yang tepat dan benar
 Pencatatan asupan makanan dan berat badan anak, sehingga kemajuan selama
perawatan dapat dievaluasi
 Keterlibatan orang tua.

12
Tatalaksana umum

 fase dalam penatalaksanaan gizi buruk


terdiri dari empat fase :
1. fase stabilisasi ( 1-2 )
pada stase stabilisasi , diberikan makanan formula 75 ( F- 75 ) dengan asupan gizi 80
– 100 kkal/ hari dan protein 1 -1,5g/ KgBB/hari . ASI tetap diberikan pada anak yang
masih mendapatkan asi .
2. fase transisi (hari 3- 7 )
pada fase transisi ada perubahan pemberian makanan dari F-75 menjadi F-100.
Diberikan makanan formula 100 ( F-100) dengan asupan gizi 100-150 kkal/kgBB/hari
dan protein 2-3 g/KgBB/hari.
3. fase reahbilitas (minggu ke 2-6 )

13
diberikan makan seperti fase transisi yaitu F-100, dengan penambahan makanan untuk
anak dengan BB < 8 kg diberikan makanan anak . asupan gizi 150-220
kkal/kgBB/harridan protein 4-6 g/kgBB/hari.
4. fase tindak lanjut (minggu 7-26)
merupakan fase yang dilakukan dirumah. Setelah anak pulang dari pusat pemulihan
gizi (PPG) , anak tetap dikontrol secara berkala . anak tetap melakukan control (rawat
jalan)pada bulan 1 satu kali seminggu, bulan II satu kali/ 2 minggu, selanjutnya
sebulan sekali sampai dengan bulan ke 6.

Penilaian triase anak dengan gizi buruk dengan tatalaksana syok pada anak
dengan gizi buruk. Jika ditemukan ulkus kornea, beri vitamin A dan obat tetes mata
kloramfenikol/ tetrasiklin dan atropin; tutup mata dengan kasa yang telah dibasahi
dengan larutan garam normal, dan balutlah. Jangan beri obat mata yang mengandung
steroid. Jika terdapat anemia berat, diperlukan penanganan segera .
Penanganan umum meliputi 10 langkah dan terbagi dalam 2 fase yaitu: fase stabilisasi
dan fase rehabilitasi.

Tatalaksana 10 langkah gizi buruk

14
Pemantauan dan evaluasi kualitas perawatan

Audit mortalitas
Catatan medik pada saat masuk, pulang dan kematian harus disimpan, berisi informasi
tentang berat badan, umur, jenis kelamin, tanggal masuk, tanggal pulang, atau tanggal
dan penyebab kematian.
Untuk mengidentifikasi faktor yang dapat diperbaiki selama perawatan, tentukan
apakah sebagian besar kematian terjadi:

 dalam waktu 24 jam: dianggap lambat atau tidak tertanganinya hipoglikemia,


hipotermia, septisemia, anemia berat, atau pemberian cairan rehidrasi/ infus
yang kurang tepat (jumlah kurang atau kelebihan)
 dalam waktu 72 jam: periksa apakah volume pemberian makan terlalu banyak
pada setiap kali makan, atau formulanya salah (terlalu tinggi kalori dan
protein), sudah diberi kalium dan antibiotik?
 pada malam hari: mungkin terjadi hipotermia karena anak tidak terselimuti
dengan baik atau hipoglikemia karena tidak diberi makan pada malam hari
 saat mulai pemberian F-100: mungkin peralihan dilakukan terlalu cepat pada
fase transisi dari formula awal ke formula tumbuh kejar.

Kenaikan berat badan pada fase rehabilitasi


Lakukan kalibrasi alat dan cara penimbangan di bangsal. Sebelum menimbang jarum
harus pada angka 0. Timbang anak pada waktu dan kondisi yang sama (misalnya pagi
hari, dengan pakaian minimal, sebelum makan pagi, dst).
Penilaian kenaikan berat badan:

 Kurang: < 5 g/kgBB/hari


 Cukup: 5–10 g/kgBB/hari
 Baik: > 10 g/kgBB/hari.

Jika kenaikan berat badan < 5 g/kgBB/hari, tentukan:

 apakah hal ini terjadi pada semua kasus yang ditangani (jika ya, perlu
dilakukan kaji ulang yang menyeluruh tentang tatalaksana kasus)
 apakah hal ini terjadi pada kasus tertentu (lakukan penilaian ulang pada anak
ini seperti pada kunjungan baru).

15
Masalah umum yang harus dicek jika kenaikan berat badan kurang:
Pemberian makanan yang tidak adekuat
Periksa:

 Apakah makan pada malam hari diberikan?


 Apakah asupan kalori dan protein yang ditentukan terpenuhi? Asupan yang
sebenarnya dicatat dengan benar (misalnya berapa yang diberikan dan berapa
sisanya)? Jumlah makanan dihitung ulang sesuai dengan kenaikan berat badan
anak? Anak muntah atau makanan hanya dikulum lama tanpa ditelan
(ruminating)?
 teknik pemberian makan: apakah frekuensi makan sering, jumlah tak terbatas?
 kualitas pelayanan: apakah petugas cukup termotivasi/ramah/sabar dan penuh
kasih sayang?
 semua aspek penyiapan makan: penimbangan, pengukuran jumlah bahan, cara
mencampur, rasa, penyimpanan yang higienis, diaduk dengan baik jika
minyak pada formula tampak terpisah?
 makanan pendamping ASI yang diberikan cukup padat energi?
 kecukupan komposisi multivitamin dan tidak kadaluarsa?
 penyiapan larutan mineral-mix dibuat dan diberikan dengan benar?
 di daerah endemik gondok, periksa apakah kalium yodida ditambahkan pada
larutanmineral-mix (5 mg/l), atau semua anak diberi Lugol’s iodine (5–10
tetes/hari)
 jika diberi makanan pendamping ASI, periksa apakah sudah mengandung
larutan mineral-mix.

Infeksi yang tidak terdeteksi atau tidak tertangani secara adekuat


Jika makanan sudah adekuat dan tidak terdapat malabsorpsi tetapi kenaikan berat
badan masih kurang, perlu diduga adanya infeksi tersembunyi. Beberapa infeksi
seringkali terabaikan, misalnya: infeksi saluran kemih, otitis media, tuberkulosis,
giardiasis dan HIV/AIDS. Pada keadaan tersebut:

 lakukan pemeriksaan ulang dengan lebih teliti


 ulangi pemeriksaan mikroskopis pada urin dan feses
 jika mungkin, lakukan foto toraks.

16
2. 8 KOMPLIKASI
1. Noma
Noma merupakan penyakit yang kadang-kadang menyertai malnutrisi tipe
marasmuskwashiokor. Noma atau stomatitis gangraenosa merupakan pembusukan
mukosa mulut yang bersifat progresif sehingga dapat menembus pipi. Noma terjadi
pada malnutrisi berat karena adanya penurunan daya tahan tubuh. Penyakit ini
mempunyai bau yang khas dan tercium dari jarak beberapa meter. Noma dapat
sembuh tetapi menimbulkan bekas luka yang tidak dapat hilang seperti lenyapnya
hidung atau tidak dapat menutupnya mata karena proses fibrosis.
2. Xeroftalmia
Penyakit ini sering ditemukan pada malnutrisi yang berat terutama pada tipe
marasmus-kwashiokor. Pada kasus malnutrisi ini vitamin A serum sangat rendah
sehingga dapat menyebabkan kebutaan. Oleh sebab itu setiap anak dengan malnutrisi
sebaiknya diberikan vitamin A baik secara parenteral maupun oral, ditambah dengan
diet yang cukup mengandung vitamin A.

3. Tuberkulosis

Pada anak dengan keadaan malnutrisi berat, akan terjadi penurunan kekebalan tubuh
yang akan berdampak mudahnya terinfeksi kuman. Salah satunya adalah mudahnya
anak dengan malnutrisi berat terinfeksi kuman mycobacterium tuberculosis yang
menyebabkan penyakit tuberkulosis.

4. Sirosis hepatis
Sirosis hepatis terjadi karena timbulnya perlemakan dan penimbunan lemak pada
saluran portal hingga seluruh parenkim hepar tertimbun lemak. Penimbunan lemak ini
juga disertai adanya infeksi pada hepar seperti hepatitis yang menimbulkan penyakit
sirosis hepatis pada anak dengan malnutrisi berat.
5. Hipotermia
Hipotermia merupakan komplikasi serius pada malnutrisi berat tipe marasmus.
Hipotermia terjadi karena tubuh tidak menghasilkan energi yang akan diubah menjadi
energi panas sesuai yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu lemak subkutan yang tipis
bahkan menghilang akan menyebabkan suhu lingkungan sangat mempengaruhi suhu
tubuh penderita

17
6. Hipoglikemia
Hipoglikemia dapat terjadi pada hari-hari pertama perawatan anak dengan malnutrisi
berat. Kadar gula darah yang sangat rendah ini sangat mempengaruhi tingkat
kesadaran anak dengan malnutrisi berat sehingga dapat membahayakan penderitanya.
7. Infeksi traktus urinarius
Infeksi traktus urinarius merupakan infeksi yang sering terjadi pada anak bergantung
kepada tingkat kekebalan tubuh anak. Anak dengan malnutrisi berat mempunyai daya
tahan tubuh yang sangat menurun sehingga dapat mempermudah terjadinya infeksi
tersebut.
8. Penurunan kecerdasan
Pada anak dengan malnutrisi berat, akan terjadi penurunan perkembangan organ
tubuhnya. Organ penting yang paling terkena pengaruh salah satunya ialah otak. Otak
akan terhambat perkembangannya yang diakibatkan karena kurangnya asupan nutrisi
untuk pembentukan sel-sel neuron otak. Keadaan ini akan berpengaruh pada
kecerdasan seorang anak yang membuat fungsi afektif dan kognitif menurun,
terutama dalam hal daya tangkap, analisa, dan memori.

18
BAB III

KESIMPULAN

Penyakit KEP atau Protein Energy Malnutrition (kekurangan energi dan


protein) merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting bagi negara-
negara tertinggal maupun negara berkembang seperti Indonesia dan lainnya.
Prevalensi tertinggi terdapat pada anak-anak dibawah umur lima tahun (balita), dan
ibu yang sedang mengandung atau menyusui. Pada kondisi ini ditemukan berbagai
macam keadaan patologis disebabkan oleh kekurangan energi maupun protein dalam
tingkat yang bermacam-macam. Akibat dari kondisi tersebut, ditemukan malnutrisi
dari derajat yang ringan hingga berat. Pada keadaan yang sangat ringan tidak
ditemukan kelainan dan hanya terdapat pertumbuhan yang kurang sedangkan kelainan
biokimiawi dan gejala klinis tidak terlihat. Pada keadaan yang berat ditemukan dua
tipe malnutrisi, yaitu marasmus dan kwashiokor, serta diantara keduanya terdapat
suatu keadaan dimana ditemukan percampuran ciri-ciri kedua tipe malnutrisi tersebut
yang dinamakan marasmus-kwashiokor. Masing-masing dari tipe itu mempunyai
gejala gejala klinis yang khas.
Pada semua derajat maupun tipe malnutrisi ini mempunyai persamaan bahwa
adanya gangguan pertumbuhan pada penderitanya. Banyak faktor yang
mempengaruhi terjadinya malnutrisi pada anak, terutama adalah peranan diet sehari-
hari yang kurang mencukupi kebutuhan gizi seimbang anak pada masa usia
pertumbuhan, adanya penyakit penyerta yang memperburuk keadaan gizi serta
peranan sosial ekonomi yang mempunyai peranan tinggi terutama kemiskinan dalam
hal mempengaruhi status gizi seseorang. Gejala klinis yang timbul pada kekurangan
gizi tipe marasmus mempunyai gambaran yang khas dalam hal membedakannya
dengan kekurangan gizi tipe kwashiokor. Pada tipe marasmus, gejala klinis yang lebih
menonjol bahwa penderita terlihat wajahnya seperti orang tua dan anak sangat kurus
karena hilangnya sebagian besar lemak dan atrofi dari otot-ototnya. Sedangkan pada
tipe kwashiokor, gejala klinis yang lebih terlihat adalah penampilannya yang gemuk
disertai adanya edema ringan maupun berat dan adanya ascites dikarenakan
kekurangan protein, disamping itu juga terlihat perubahan warna rambut menjadi
merah seperti rambut pada jagung serta mudah dicabut. Pengobatan marasmus adalah
dengan pemberian diet tinggi protein, sedangkan pada malnutrisi tipe kwashiokor
terutama dengan pemberian diet tinggi protein disertai pemberian cairan untuk

19
menanggulangi dehidrasi jika ada. Penatalaksanaannya dilakukan secara bersama-
sama dengan memperbaiki keadaan gizinya. Walaupun prognosisnya terlihat buruk
tetapi dengan penganganan yang cepat dan tepat dapat menghindarkan penderitanya
dari kematian.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman RE, RM Kliegman, HB Jenson. Food Insecurity, Hunger, and


Undernutrition in Nelson Textbook of Pediatric 18th edition, 2004 : 225-232.
2. Nurhayati, soetjiningsih, Suandi IKG. Relationship Between Protein Energy
Malnutrition and Social Maturity in Children Aged 1-2 Years in Paediatrica
Indonesiana, 42th volume,December, 2002 : 261-266.
3. Rosli AW, Rauf S, Lisal JS, Albar H. Relationship Between Protein Energy
Malnutrition and Urinary Tract Infectiont in Children in Paediatrica
Indonesiana, 48th volume, May, 2008 : 166-169.
4. Departement of Child and Adolescent Health and Development. Severe
Malnutrition in Management of The Child With a Serious Infection or Severe
Malnutrition, World Health Organization, 2004 : 80-91
5. Bernal, C.,Velasquez, C., Alcaraz &G., Botero, J. 2007. Treatment of Severe
Malnutrition in Children: Experience in Implementing the World Health
Organization Guidelines in Turbo, Colombia.http://journals.lww.com. Diakses
tanggal 9 Juni 2013.
6. Departemen Kesehatan Indonesia. Petunjuk teknis tatalaksana anak gizi buruk:
buku II. Jakarta : Departemen Kesehatan ;2003

21