Anda di halaman 1dari 5

KASUS

Nn M berusai 16 tahun dibawa oleh sahabatnya ke poliklinik rumah sakit jiwa untuk
konsultasi mengenai masalahnya. Nn. M mengatakan bahwa dia sudah sering melakukan
seks bebas sejak kelas dua sekolah menengah pertama seksual.a.Nn M sudah dua kali
melakukan aborsi, yang pertama ketika dia berusia 14 tahun an yang terakhir kira – kira 6
bulan yang lalu. Nn M menyatakan tidak berani me gungkapkan kejadian yang ia alanmi
kepada kedua orang tuanya. Ia khawatir nantinya orang tuanya syok dan jatuh sakit bahkan
ia mengusir ia dari rumah. Nn M menyatakan sanagt menyesal telah melakukan tindakan
aborsi, tetapi ia sangat menyukai seks bebas, Dan ia melakukan semuai ini hanya unutk
mancari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari – harinya. Ia mengungkapakan “ saya
berasal dari keluarga yang sederhana akan tetapi saya menginginkan kekayaan”. Nn M
meminta kepada perawat untuk emmberikan alat kontrasepsi yang tepat bagi dia dan
memohon penjelasana tentang pencegahan penyakit menular.

BAB IV

PEMBAHASAN DENGAN TEKNIK ANALISIS, SINTESIS KERANGKA KONSEP MODEL


DARI TOWSEND DAN MURPHY AND MURPY SERTA YOSEP

Kasus diatas menjadi suatu dilema etik bagi perawat dimana dilema etik itu didefinisikan
sebagai suatu masalah yang melibatkan dua (atau lebih) landasan moral suatu tindakan
tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu kondisi dimana setiap alternatif
tindakan memiliki landasan moral atau prinsip. Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan
yang benar atau salah dan dapat menimbulkan kebingungan pada tim medis yang dalam
konteks kasus ini khususnya pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan,
tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Menurut Thompson & Thompson (1981)
dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang
memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan
sebanding. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang perawat harus bisa berpikir
rasional dan bukan emosional
Perawat tersebut berusaha untuk memberikan pelayanan keperawatan yang sesuai dengan
etika dan legal yaitu dia menghargai keputusan yang dibuat oleh pasien. Selain itu dia juga
harus melaksanakan kewajibannya sebagai perawat dalam melakukan yang terbaik bagi
keselamatan jiwa dan kesehatan klien. Keputusan pasien yang berlawanan dengan tujuan
penyelamatan jiwa pasien tersebut maka perawat harus memikirkan alternatif-alternatif atau
solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan berbagai konsekuensi dari masing-
masing alternatif tindakan.

Dalam pandangan etika penting sekali memahami tugas perawat agar mampu memahami
tanggung jawabnya. Perawat perlu memahami konsep kebutuhan dasar manusia dan
bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan dasar tersebut tidak hanya berfokus pada
pemenuhan kebutuhan fisiknya atau psikologisnya saja, tetapi semua aspek menjadi
tanggung jawab perawat. Etika perawat melandasi perawat dalam melaksanakan tugas-
tugas tersebut. Dalam pandangan etika keperawatan, perawat memilki tanggung jawab
(responsibility) terhadap tugas-tugasnya.

Penyelesaian kasus dilema etik seperti ini diperlukan strategi untuk mengatasinya karena
tidak menutup kemungkinan akan terjadi perbedaan pendapat antar tim medis yang terlibat
termasuk perawat dengan pihak pasien sendiri. Jika perbedaan pendapat ini terus berlanjut
maka akan timbul masalah komunikasi dan kerjasama tim medis dengan pasien menjadi
tidak optimal. Hal ini jelas akan membawa dampak ketidaknyamanan pasien dalam
mendapatkan pelayanan keperawatan. Berbagai model pendekatan bisa digunakan untuk
menyelesaikan masalah dilema etik ini antara lain model dari Megan, Kozier dan Erb,
model Murphy dan Murphy, model Levine-ariff dan Gron, model Curtin, model Purtilo dan
Cassel, dan model Thompson dan thompson.Tahapan tindakan yang dilakukan adalah
sebagai berikut:

1. Pengkajian
Nn M berusai 16 tahun dibawa oleh sahabatnya untuk konsultasi mengenai masalahnya.
Yang suka melakukan seks bebas, sudah dua kali melakukan aborsi, menyatakan tidak
berani me gungkapkan kejadian yang ia alanmi kepada kedua orang tuanya. Nn M meminta
kepada perawat untuk memberikan alat kontrasepsi yang tepat bagi dia dan memohon
penjelasana tentang pencegahan penyakit menular

1. Identifikasi masalah
Masalah muncul karena pasien memerlukan informasi, perawat ingin memberikan informasi
tetap kebijakan rumah sakit tidak memperbolehkan anak dibawah umur untuk mendapatkan
informasi tentang alat kontrasepsi. Dan larangan ini juga brelaku bagi pasangan yang
belum menikah. Dan jika dikaitkan dengan tindakantermasuk area yang etis dilakukan akan
tetapi tidak legal

1. Identifikasi masalah etik


A. Autonomi ( Sebenarnya Nn M berhak mendapatkan seutuhnya informasi yang
sesbenarnya dari pihak perawat sehingga perawat juga berkewajiban memberikannya
untuk memnuhi standart pelayanan yang berkualitas, Akan tetapi disisi lain dari segi
undang – undang dan peraturan disebutkan bahwa informasi yang berkenaan dengan
penggunaan alat kontrasepsi hanya boleh diberikan kepada seseorang yang sudah
memiliki status pernikahan. Selain itu juga ketika perawat mengatakan atau memberikan
informasi yang sebenarnya nantinya akan salah dgunakan oelh Nn M sehingga nantinya
akan mengurangi kualitas pelayanan keperawatan yang ia berikan )
B. Beneficience ( Ketika perawat memberikan informasi terkait dengan penggnaan
kontrasepsi maka ia akan meminimalkan tindakan aborsi yang dilakukan oleh Nn M
sehingga selain menyelamatkan Nn M dari tindakan kriminal juga menghindari tindakan
pengahiran hidup pada janin yang dikandung, begitu juga tekat dengan informasi
penyakit menular seksualnya. akan tetapi ii tidak dibenarkan dalam kode etik
keperawatan dan undang – undang yang berlaku )
C. Veracity ( Nn M sebenarnya berhak tau tentang jenis kontrasepsi yang tepat untuk
dirinya akan tetapi ketika informasi ini diberikan maka akan membuat perilaku Nn M
menjadi lebih tidak baik secara sosial dan moral
D. Fidelity ( Secara sebagi seorang perawat harus lebih peduli terhadap damapk yang
ditimbulkan dengan seks bebas yang dilakukan oleh Nn M salah satunya resko PMS
yang mungkin akan dideritanya, sehingga seyogyanya perawat memberikan informasi
terkait dengan cara pencegahannya. Akan tetapi untuk memberikan informasi tersebut
perawat juga tidak mau ketika pasiennya menjadi lebih amoral dan juga tidak sesuai
dengan undang – undang )
E. Justice ( Sebenarnya seorang perawat tidak boleh memedakan jenis pelayana yang ia
berikan temasuk memnberikan informasi terkait dengan penggunaan kontrasepsi dan
cara pencegahan penyakit menular seksual, akan tatapi dalam hal ini Nn M masih dalam
keadaan belum menikah dan ini bertentangan dengan undang undang yang ada )
F. Identifikasi pihak yang terlibat
i. Perawat
ii. Nn M
iii. Sahabat yang mengantar sebagi sumber motivasi untuk Nn M
iv. Identifikasi peran perawat
Peran perawat dalam menghadapi masalah tersebut adalah sebagai edukator, advokat,
serta konselor dan pemberi asuhan keperawatan. Sebagai edukator, perawat berkewajiban
memberikan penjelasan atau pendidikan kesehatan kepada Nn. M tentang perilaku seks
bebas terutama tentang dampak buruk dari seks bebas. Selain itu perawat perlu
memberikan pendidikan spiritual tentang pandangan agama menanggapi kasus seks
bebas. Jika Nn. M tetap pada pendirinya untuk tetap melakukan seks bebas, perawat
sebagai edukator memberikan pendidikan kesehatan mengenai pencegahan penyakit
menular. Disini perawat juga harus memberikan saran agar Nn. M rutin melakukan
pemeriksaan berkaitan penyakit menular seksual dan penyakit HIV/ AIDS yang mungkin
timbul pada pelaku seks bebas.

Ketika Nn. M tetap berkeinginan melakukan pemasangan alat kontrasepsi, perawat


berperan melakukan asuhan keperawatan dari pengkajian hingga evaluasi. Dan sebagai
advokat, perawat berkewajiban untuk melakasanakan, membela, memperjuangkan hak
pasien (otonomi). Dalam hal ini, perawat dapat memberikan pelayanan kesehatan dan
informasi kesehatan yang tepat bagi pasien.

1. Beberapa pilihan keuntungan dan konsekuensi


2. Tidak memberikan informasi kepada pasien dan kompromi nilai – nilai yang terdapat pada
keperawatan holistik Dengan alasan Nn. M masih dibawah umur 17 tahun dan belum menikah
3. Merujuk pasien ke rumah sakit yang lain dan resiko mendapat teguran dari supervisor rumah
sakit
4. Memberikan informasi kepada pasien Perawat menghargai hak otonomi pasien dan menuruti
keinginan Nn. M untuk memasang alat kontrasepsi dan memberikan informasi tentang
penyakit menular seksual namun dengan persetujuan orangtua. Hal ini bertujuan supaya Nn. M
terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan dan berakhir pada aborsi. Selain itu agar
terhindar dari penyakit menular seksual dengan sebelumnya dilakukan pendekatan–pendekatan
oleh perawat. Pendekatan ini berupa pendidikan kesehatan mengenai pandangan agama yang
melarang seks bebas dan dampak bila tetap melanjutkan perilaku seks bebasnya. Namun
ketika, pendekatan yang dilakukan perawat tidak berhasil dan Nn. B tetap berkeinginan untuk
memasang alat kontrasepsi dan mendapatkan informasi tentang pencegahan penyakit menular
seksual, maka perawat tersebut bisa melakukan pemasangan alat kontrasepsi dan memberikan
pendidikan kesehatan mengenai pencegahan penyakit menular seksual dengan seblumnya
mengisi informed consent.
5. Perawat menolak melakukan pemasangan alat kontrasepsi dan menolak memberikan informasi
tentang pencegahan penyakit menular seksual

1. Mempertimbangkan prinsip etik dalam teori etik


2. Memberikan informasi yang berfokus pada penghargaan terhadap otonomi pasien dan akan
memberikan keuntungan kepada pasien untuk mengurangi kesempatan pasien hamil lagi.
Pilihan tidak memberikan keuntungan bagi perawat jika karena dapat mengakibatkan perawat
kehilangan pekerjaan. Dan terkait dengan agama hal ini sanagt bertentangan sekali denagn
ajaran setiap agama di dunia ini
3. Membatasi otononomi pasien dengantidak memberikan informasi yang sebenarnya. Hal ini
akan merugikan pasien, bila tidak menggunkana alat kontrasepsi, kemungkinan besar pasien
akan hamil ( dan kondisi ini tidak diinginkan oleh pasien )
4. Menghargai otonomi pasien, memberikan yang tebaik bagi pasien, tidak merugikan bagi
pasien dan keputusan ini sesuai dengan ajaran agama
A. Menyeleksi pilihan
Pilihan ketiga yang paling tepat karen atidak bertentangan dengan teori etik dan ajaran
agama. Kesuksesan keputusam yang diambil bergantung pada apakah pasien menuruti
segala peraturan dan kebijakan tentang penggunaan a;at kontrasepsi

1. Aplikasi prinsip model keperawatan


Aplikasi dalam prinsip model keperawatan yang digunakan adalah teori konsep model
king. Konsep model yang dikemukakan olem Imogenen king pada tahun 1971 dengan
berfokus pada 3 hal yaitu personal, sistem interpersonal dan sisitem sosial. Sehingga
dengan menggunakan pendekatan model ini perawat harus mampu untuk menggali sejauh
mana mekanisme koping yang dipunyai oleh pasien terkait pemasungan yang telah
dijalankan, beserta bagaiaman seorang pasien tesebut mampu untuk melakukan
komunikasi dengan orang lain, termasuk perawat dan keluarganya. Termasuk juga
kemapuan keluarga untuk dapat memberikan motivasi internal atau eksternal kepada
pasien.