Anda di halaman 1dari 8

Berikut ini beberapa keterangan ulama tentang makna siwak

Berkata Az-Zubaidi:

ُ‫ و ِم ْنهُ أ ُ ِخذَ ال ِمسواك‬، ‫ َدلَكَه‬: ‫س ْو ًك ا‬


َ ‫شي َء يَسُو ُكه‬
َّ ‫ساكَ ال‬

“Saaka asy-syai`a yasuukuhu saukan maknanya yaitu mengosok sesuatu. Darinya


diambil kata “miswak” (alat untuk gosok gigi)” (Taajul Aruus: 27/215).

Ibnu Daqiq Al-‘Id menyatakan bahwa, siwak adalah suatu istilah yang disebutkan
untuk menunjukkan makna perbuatan, bentuk katanya (dalam bahasa Arab) adalah
isim mashdar. Di antara dalilnya adalah hadits:

‫ب‬
ِ ‫لر‬ َ ‫ َم ْر‬، ‫ط َه َرة ٌ ِللْفَ ِم‬
َّ ‫ضاة ٌ ِل‬ ْ ‫الس َو اكُ َم‬
ِ

“Siwak itu membersihkan mulut dan menyebabkan (didapatkannya) keridhoan Ar-


Rabb (Allah)” 1.

Para ulama ahli fikih pun mengatakan bahwa siwak hukumnya sunnah dan tidak
wajib, serta pernyataan-pernyataan selain itu yang tidak mungkin disifati dengannya
kecuali sebuah perbuatan. Di samping itu kata “siwak” (juga bisa) dimaksudkan untuk
makna alat yang digunakan untuk menggosok gigi (Syarhul Ilmam:1/10).

Berkata Ibnul Atsir:

ِ ‫ إِذَا َدلَكه‬: ُ ‫س اكَ فَاه يَسُو ُكه‬


“‫بالس واك‬ ِ ‫ َما ت ُ ْد لَكُ بِ ِه األسْنا َن ِمنَ ال ِع‬: ُ‫”والْ ِمس َْو اك‬
َ ‫ يُقَا ُل‬، ‫يدان‬

Al-Miswak adalah alat yang digunakan untuk menggosok gigi berupa ranting
(misalnya, pent.). Seseorang itu dikatakan saaka faahu yasuukuhu jika ia menggosok
giginya dengan siwak (An-Nihayah fi gharibil Hadits wal Atsar: 2/425).

Berkata Imam An-Nawawi:

‫ َوه َُو التمايل‬،‫ َو قيل من التساوك‬،‫ إِذا دلك‬،‫ َوه َُو من ساك‬،‫سنَان ِإل زَ الَة ْال َو سخ‬
ْ َ ‫ فِي ْاأل‬،‫ أَو نَحوه‬،‫ ه َُو ا ْستِعْ َم ال عود‬:‫الس َو اك‬
ِ

Siwak adalah penggunaan sebuah ranting pohon atau semisalnya pada gigi untuk
menghilangkan kotoran. Kata ini berasal dari kata“ saaka” jika dia menggosok (gigi).
Ada pula yang mengatakan “Diambil dari kata “At-Tasaawuk” yaitu At-
Tamaayul.” (Tahriru Alfaazhit Tanbih, hal. 33).

Maka (kesimpulannya):

Siwak (gosok gigi) itu bukan terbatas pada (menggunakan) ranting pohon arok (kayu
siwak) sebagaimana dipahami oleh sebagian orang, bahkan (sebenarnya) siwak
adalah sebuah istilah bagi aktifitas gosok gigi dan membersihkannya dengan alat
apapun juga, mencakup ranting apapun juga yang bisa digunakan untuk
membersihkan gigi. Ahli bahasapun tidak membatasi siwak dengan ranting
pohon arok (kayu siwak).

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menggunakan ranting


pohon Al-Arok (kayu siwak) saja

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi diri dalam menggosok gigi
dengan menggunakan ranting pohon Al–Arok (kayu siwak) saja. Selain menggunakan
ranting pohon Al–Arok beliau juga menggunakan ranting pohon yang lainnya. Di
antara dalil yang menyebutkan bahwa beliau menggosok gigi dengan ranting
pohon Al–Arok (kayu siwak) adalah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata:

ِ ‫س لَّ َم ِس َو ا ًكا ِمنَ ْاأل َ َر‬


‫اك‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫…كُ ْنتُ أ َ ْجتَنِي ِل َرسُو ِل هللا‬

“Saya dulu pernah mengambilkan kayu siwak dari pohon Al-Arok untuk Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam…” (HR. Ahmad (3991), Abu Ya’la Al-Mushili dalam
musnadnya (9/209) dan ini adalah lafadz beliau. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh
Al-Albani).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga menggosok gigi dengan ranting dari
pohon kurma (Adapun dalilnya adalah riwayat) dari Aisyah radhiyallahu
‘anha, berkata

” ‫ع ا ٍء إِذَا‬ َ ‫َت إِحْ َد انَا تُعَ ِو ذُهُ بِ ُد‬ ْ ‫ َوكَان‬،‫س ْح ِري َونَحْ ِر ي‬ َ َ‫ َوبَيْن‬، ‫ َو فِي يَ ْو ِمي‬، ‫سلَّ َم فِي بَيْتِي‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ُ ‫ص لَّى هللا‬ َ ‫ي‬ ُّ ِ‫ي النَّب‬ َ ِ ‫ت ُ ُوف‬
‫ع ْب ُد‬ ‫ر‬ ‫م‬
َ َّ َ َ ‫و‬ .(‫ى‬ َ ‫ل‬ ‫ع‬
ْ َ ‫أل‬ ‫ا‬ ‫ق‬ ‫ي‬
ِ ِ َّ ‫ف‬ ‫الر‬ ‫ي‬ ِ ‫ف‬ ، ‫ى‬ َ ‫ل‬ ‫ع‬ ْ َ ‫أل‬ ‫ا‬ ‫ق‬ ‫ي‬ ‫ف‬
ِ ِ َّ ‫الر‬ ‫ي‬ ِ ‫ف‬ ) : ‫ل‬
َ ‫ا‬ َ ‫ق‬ ‫و‬َ ِ َ ، ‫ء‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫س‬
َّ ‫ال‬ ‫ى‬ َ ‫ل‬ ‫إ‬ ُ ‫ه‬ ‫س‬
ِ َ َ َ َ ْ ‫أ‬ ‫ر‬ ‫ع‬ َ ‫ف‬ ‫ر‬ َ ‫ف‬ ، ‫ه‬ُ ‫ذ‬
ُ ِ َ ‫و‬ ‫ع‬ ُ ‫أ‬ ُ‫ْت‬ ‫ب‬ ‫ه‬
َ َ ‫ذ‬ َ ‫ف‬ ، ‫ض‬
َ ‫َم ِر‬
ً َ َ
، ‫ فَظنَنْتُ أ َّن له ُ بِ َها َحا َجة‬، ‫سل َم‬ َ َّ َ ‫ع ل ْي ِه َو‬َ َ ُ‫صلى هللا‬ َّ َ ‫ي‬ َ َ ٌ ْ
ُّ ِ‫ فَنَظ َر إِل ْي ِه النَّب‬، ‫الر ْح َم ِن ْب ُن أبِي بَك ٍر َوفِي يَ ِد ِه َج ِري َدة ٌ َرطبَة‬ ْ َ َّ
:‫ أ َ ْو‬،ُ‫ت يَدُه‬ ْ ‫ط‬َ َ‫س ق‬َ َ ‫ف‬ ،‫ا‬ ‫ه‬ ‫ي‬
َ َ َّ ِ ‫ن‬ َ ‫ل‬ ‫َاو‬ ‫ن‬ ‫م‬ ُ ‫ث‬ ، ‫ا‬ ًّ ‫ن‬َ ‫ت‬ ‫س‬ ْ ‫م‬
ُ َ‫ان‬ َ
‫ك‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ن‬
َ ِ َ‫س‬ ‫ح‬ ْ َ ‫أ‬ َ
‫ك‬ ‫ا‬ ‫ه‬َِ ‫ب‬ َّ
‫َن‬ ‫ت‬ ‫س‬
ْ ‫ا‬ َ ‫ف‬ ، ‫ه‬ ِ ‫ي‬
ْ َ ‫ل‬ ‫إ‬
ِ َ ‫ا‬ ‫ه‬ ُ ‫ت‬ ‫ع‬
ْ َ ‫ف‬ ‫د‬
َ َ ‫ف‬ ،‫ا‬ ‫ه‬
َ ُ ‫ت‬ ‫ض‬
ْ َ ‫ف‬ َ ‫ن‬ ‫و‬َ ََ َ،‫ا‬ ‫ه‬ ‫س‬ ْ ‫أ‬ ‫ر‬ ُ‫ت‬ ْ
‫غ‬ ‫ض‬
َ َ ‫م‬ َ ‫ف‬ ،‫ا‬ َ َ ‫فَأ‬
‫ه‬ ُ ‫ت‬ ْ ‫ذ‬ َ
‫خ‬
ِ‫اآلخ َرة‬
ِ َ ْ
َ‫ َوأ َّو ِل يَ ْو ٍم ِمن‬،‫آخ ِر يَ ْو ٍم ِمنَ ال ُّدنيَا‬ ِ ‫َّللا ُ بَيْنَ ِري ِقي َو ِري ِق ِه فِي‬ َّ ‫ فَ َج َم َع‬، ‫ت ِم ْن يَ ِد ِه‬ ْ ‫ط‬ َ َ‫سق‬ َ “

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di rumahku, pada hari giliran yang menjadi
jatahku dan (kepala beliau bersandar) di antara dada dan leherku.”

Salah seorang dari kami dahulu terbiasa membacakan do’a kepada beliau ketika
beliau sakit. Lalu aku pun mendoakannya. Kemudian beliau mengangkat kepala
(pandangan)nya ke atas dan mengucapkan,

‫ق األ َ ْعلَى‬ َّ ‫ فِي‬، ‫ق األ َ ْعلَى‬


ِ ‫الر فِي‬ ِ ‫الرفِي‬
َّ ‫فِي‬

“Ya Allah, jadikanlah aku bersama dengan golongan teman-teman yang terbaik di
Surga yang tertinggi, Ya Allah, jadikanlah aku bersama dengan golongan teman-
teman yang terbaik di Surga yang tertinggi“.

Lalu Abdurrahman bin Abu Bakr masuk sedangkan di tangannya ada ranting kayu
siwak dari pohon kurma yang masih basah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallampun
menatapnya, saya menyangka beliau membutuhkan siwak tersebut.
Maka aku mengambilnya, mengunyah ujungnya dan mengibas-ngibaskannya,
kemudian akupun menyerahkannya kepada beliau. Kemudian beliau menggosok gigi
menggunakan ranting tersebut, dengan sebaik-baik cara bersiwak yang pernah
beliau lakukan.

Setelah itu beliau memberikannya kepadaku, namun tangannya terjatuh atau ranting
kayu siwak dari pohon kurma tersebut jatuh dari tangannya.

Maka Allah mengumpulkan antara air liurku dengan air liur beliau pada hari-hari
terakhir beliau di Dunia dan pada hari-hari pertama di Akhirat kelak” (HR. Al-Bukhari
no. 4451).

“Jaridah adalah ranting pohon kurma“. (Thalabuth Thalabah, hal. 161).

Berkata Al-Fayumi: “Jarid adalah ranting pohon kurma. Kata tunggalnya adalah
jaridah. Dinamakan dengan jaridah (artinya: sesuatu yang dihilangkan, pent.) jika
dihilangkan darinya daun yang melekat padanya (Al-Mishbah Al-Munir: 1/96).

3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membatasi bersiwak dengan


ranting kayu tertentu kepada para Sahabat radhiyallahu ‘anhum

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memerintahkan siwak (gosok gigi), tidaklah
pernah membatasi dengan ranting kayu tertentu kepada para Sahabat radhiyallahu
‘anhum untuk diambil (sebagai sikat gigi) darinya. Dahulu bangsa Arab menggosok
gigi dengan berbagai macam ranting (untuk sikat gigi).

Disebutkan dalam Al-Bayan wat Tabayyun karya Syaikh Al-Jahizh (3/77) :

‫ واإلسحل )وكلها أسماء أشجار معروفة عند‬،‫ والجريد‬،‫ والعرجون‬،‫ والعُتم واألراك‬،‫ والضرو‬،‫ البشام‬: ‫قضبان المساويك‬
‫)العرب‬.

“Ranting-ranting kayu untuk gosok gigi (contohnya) Al-Basyam, Adh-dhorwu, Al-


Utumu, Al-Arok, Al-‘Urjun, Al-Jarid, dan Al-Ishal” (Semuanya adalah nama-nama
pohon yang dikenal oleh bangsa Arab) (Lihat pula: Musykilat Muwaththa` Malik bin
Anas karya Al-Bathliyusi, hal. 72).

Ibnu Abdil Barr menyatakan:

‫ فجائز اَلستنان به‬:‫طي ِبُ نَ ْك َهةَ الفم‬


َ ُ ‫سنَانَ َو ََل يُؤْ ذِي َه ا َوي‬ َ ‫ َوالْبَش‬، َ‫ ْاأل َ َر اك‬:‫َو َكانَ ِس َو اكُ الْقَ ْو ِم‬
ْ َ ‫ َو ُك َّل َما يَ ْجلُو ْاأل‬، ‫َام‬

Dahulu ranting kayu untuk gosok gigi bagi kaum (bangsa Arab) adalah Al-Arok, Al-
Basyam dan segala sesuatu yang bisa membersihkan gigi, tidak menyakitinya,
bahkan mengharumkan bau mulut, maka semua itu boleh dipakai untuk menggosok
gigi. (Al-Istidzkar: 1/365).
4. Para Ahli Fikih tidak pernah membatasi bersiwak dengan ranting kayu
tertentu dalam membahas fikih tentang siwak di kitab-kitab mereka

Para Ahli Fikih tidak pernah membatasi hukum bersiwak dengan ranting kayu al-
arok, bahkan mereka menyebutkan bahwa bersiwak bisa terwujud dengan segala
sesuatu yang bisa digunakan untuk membersihkan mulut (gigi), baik berupa ranting
yang kaku (bukan lembek) dan yang semisalnya. Ibnu Abdil Barr menuturkan:

، ‫ َو َكذَلِكَ ْاأل َ َر اكُ َو ْالبَشَا ُم‬، ‫سلَّ َم‬


َ ‫ع لَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ ‫َّللا‬ َ ِ ‫ص ِر النَّبِي‬
ْ ‫ع‬ ِ ‫وف ِع ْن َد ْالعَ َر‬
َ ‫ َوفِي‬، ‫ب‬ ُ ‫ ه َُو الْ َم ْع ُر‬: ‫الس َواكُ الْ َم ْن ُدوبُ إِلَ ْي ِه‬
ِ ‫َو‬
َ‫و ُك ُّل َما يَ ْج لُو ْاأل َ ْسنَان‬.
َ

(Ranting kayu) siwak yang disunnahkan adalah (ranting kayu) yang dikenal di
kalangan bangsa Arab dan dikenal di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian pula (ranting kayu) Al-Arok, Al-Basyam dan segala sesuatu yang bisa
membersihkan gigi (At-Tamhid (7/201)).

Beliau juga berkata:

َ ِ‫ َو ََل َك انَ ِم ْن ِز ينَ ِة الن‬، ‫ َولَ ْم ي ُؤْ ِذ هَا‬، َ‫َو ُك ُّل َما َج ََل ْاأل َ ْسنَان‬
‫ فَ َج ائِ ٌز ِاَل ْستِنَانُ بِ ِه‬: ‫س ا ِء‬

Segala sesuatu yang bisa membersihkan gigi dan tidak menyakitinya, maka boleh
dipakai untuk menggosok gigi (At-Tamhid 11:213).

An-Nawawi mengatakan:

” ،‫ كَالْ ِخ ْرقَ ِة الْ َخ ِشنَ ِة‬، ُ‫الس َواك‬ َ ‫ َح‬:‫ ِم َّما ي ُِزي ُل التَّغَي َُّر‬، َ‫ستَاك‬
ِ ‫ص َل‬ ْ ‫ وبأي شئ ا‬،‫ستَاكَ بِعُو ٍد من أراك‬ْ َ‫َوي ُ ْست َ َحبُّ أ َ ْن ي‬
‫َان‬
ِ ‫شن‬ْ ُ ‫ َو ْاأل‬،ِ‫س ْعد‬
َّ ‫“ َوال‬

Disunnahkan bersiwak dengan ranting dari pohon Al-Arok dan dengan segala
sesuatu yang bisa digunakan untuk bersiwak berupa sesuatu yang bisa
menghilangkan perubahan (bau mulut), maka (hakekatnya dengan itu) sudah
diperoleh sunnah bersiwak. (Alat yang bisa digunakan bersiwak tersebut) misalnya
secarik kain yang kasar, ranting tumbuhan As-Sa’du dan Al-Asynan (Syarhu Shahih
Muslim (3/143)).

Al-‘Iraqi menyatakan:

]‫صلُ ُح ِ ِإل زَ الَ ِة الْقَلَحِ [أي صفرة األسنان‬


ْ َ‫سنَّ ِة تَت َأَدَّى بِ ُك ِل َخ ِش ٍن ي‬ ْ َ ‫ َوأ‬.
ُّ ‫ص ُل ال‬

Pada asalnya Sunnah (dalam masalah bersiwak) adalah bisa terlaksana dengan
segala benda kaku yang cocok untuk membersihkan kotoran gigi (yaitu kotoran gigi
yang biasanya berwarna kuning) (Tharhu At-Tatsrib (2/67)).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bertutur:

ِ ‫ون َوالْعُ ْر ُج‬


” ‫ون‬ ِ ُ ‫الزيْت‬
َّ ‫اك َو‬ ْ ‫ ك‬، ‫ َو ََل يَتَفَتَّتُ فِي ِه‬، ُ ‫طي ِبُ الْفَ َم َو ََل يَض ُُّره‬
ِ ‫َاأل َ َر‬ ِ َ‫“ َوي ُ ْست َ َحبُّ أ َ ْن يَكُون‬
َ ُ ‫الس َو اكُ عُودًا لَي ِنًا ي‬
Disunnahkan alat untuk bersiwak (gosok gigi) berupa ranting lembut yang
mengharumkan bau mulut (membersihkannya) dan tidak membahayakannya serta
tidak mudah terlepas (serabutnya), seperti kayu Al-Arok, Az-Zaitun dan Al-
‘Urjun (Syarhu Umdatul Fiqhi: 1/221).

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin:

‫ أو بغيره من كل عود يشابهه‬،‫ويحصل الفضل بعود األراك‬

Keutamaan bersiwak bisa didapatkan dengan menggunakan ranting kayu Al-Arok


(kaya siwak) atau dengan selainnya dari setiap ranting yang semisalnya (Syarhu
Riyadhish Shalihin: 5/226).

Dan tidak ada seorangpun dari ulama -sebatas yang kami ketahui- yang mengatakan
bahwa bersiwak itu hanya dengan ranting kayu Al-Arok (kayu siwak) saja, bahkan
pernyataan-pernyataan mereka itu cukup banyak yang menunjukkan bahwa bersiwak
itu bisa dilakukan dengan menggunakan selain ranting kayu selain Al-Arok (kayu
siwak) juga, yang dengannya bisa tercapai maksud (kebersihan gigi).

5. Bersiwak adalah ibadah yang terkait dengan alasan (tujuan), sehingga bisa
terlaksana dengan setiap alat yang mubah dan cocok untuk mencapai tujuan
tersebut

Bahwa bersiwak bukanlah tergolong kedalam jenis ibadah yang murni, akan tetapi
bersiwak adalah jenis ibadah yang bisa dipahami maknanya (alasan
disyari’atkannya).

Maksud disyari’atkannya bersiwak adalah untuk membersihkan gigi dan


mengharumkan bau mulut, sedangkan ini terealisasi dengan setiap alat (mubah)
yang bisa digunakan untuk mencapai maksud tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bertutur:

” ‫ير ِه َوت َ ْن ِظ ي ِف ِه‬ ْ ‫ب الْفَ ِم َوت‬


ِ ‫َط ِه‬ ْ ‫ع ِلت‬
ِ ‫َطيِي‬ ِ ‫“ َو ِأل َ َّن‬
َ ‫الس َواكَ إِنَّ َما شُ ِر‬

Karena siwak disyari’atkan untuk mengharumkan (bau)mulut, membersihkan dan


mengeluarkan kotorannya. [Syarhu Umdatul Fiqhi :1/218].

Dengan penjelasan di atas, nampak jelas bahwa:

Keutamaan yang dijanjikan dalam dalil-dalil Syari’at tentang bersiwak (pada asalnya)
adalah terkait dengan aktifitas bersiwaknya (membersihkan gigi) dan bukanlah terkait
dengan alat untuk bersiwaknya. Maka keutamaan tersebut (pada asalnya) bukan
terkait dengan ranting pohon Al-Arok (kayu siwak)nya, namun keutamaan itu terkait
dengan aktifitas membersihkan mulut dan gigi.
Disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bud (1/46):

” ‫ واألول هو المراد ها هنا‬، ‫ الفعل واآللة‬: ‫علَى‬ ْ ‫“ َو ه َُو ي‬


َ ‫ُطلَ ُق‬

Kata tersebut (Siwak) diperuntukkan untuk menunjukkan makna perbuatan dan alat
sekaligus, sedangkan untuk makna yang pertama (perbuatan) itulah yang dimaksud
di sini.

(Maksud dari perkataan “di sini”) yaitu: di dalam hadits-hadits tentang keutamaan
bersiwak dan dorongannya.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya: “Apakah menggunakan pasta gigi (dan sikat gigi,
pent.) bisa mewakili kayu siwak (ranting pohon Al-Arok)?

Dan apakah orang yang menggunakannya (sikat & pasta gigi) dengan niat
membersihkan mulut akan diberi pahala? Maksud (saya): Apakah sepadan dengan
pahala kayu siwak, yang dengan pahala tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyemangati orang yang membersihkan giginya? ”

Beliau Rahimahullah Ta’ala menjawab,

” ‫ فإذا فعله اإلنسان حصلت به‬، ً ‫ بل وأشد منه تنظيفا ً وتطهيرا‬، ‫نعم ؛ استعمال الفرشاة والمعجون يغني عن السواك‬
‫ والفرشاة والمعجون يحصل بها نتيجة أكبر من السواك المجرد‬، ‫ العبرة بالفعل والنتي جة‬، ‫السنة ؛ ألنه ليس العبرة باألداة‬
.
‫ أو نقول إن هذا من باب اإلسراف‬، ‫لكن هل نقول إنه ينبغي استعمال المعجون والفرشاة كلما استحب استعمال السواك‬
‫ ولعله يؤثر على الفم برائحة أو جرح أو ما أشبه ذلك ؟ هذا ينظر فيه‬، ‫” والتعمق‬

Ya benar, menggunakan sikat dan pasta gigi bisa mewakili kayu siwak, bahkan lebih
mampu membersihkan dan mengeluarkan kotoran gigi, maka jika seseorang gosok
gigi dengan sikat gigi (itu berarti) sudah terlaksana Sunnah (bersiwak) dengannya,
karena yang dijadikan patokan bukanlah alat untuk bersiwaknya, namun yang
dijadikan patokan adalah perbuatan dan hasilnya. Sedangkan sikat dan pasta gigi
bisa menghasilkan hasil (kebersihan gigi & keharuman bau mulut, pent.) yang lebih
maksimal dibandingkan dengan kayu siwak saja.

Akan tetapi apakah bisa kita katakan bahwa penggunaan sikat dan pasta gigi itu
sebaiknya ketika setiap kali disunnahkan penggunaan kayu siwak? Atau justru hal ini
tergolong melampaui batas dan berlebih-lebihan? (karena) barangkali
berdampak pada mulut, baik berupa bau, luka atau semisalnya? Ini perlu
pembahasan (lebih lanjut).

[Fatawa Nur ‘alad-Darb lil ‘Utsaimin :2/7, penomoran maktabah Syamilah].

Permasalahan Kedua: Kayu siwak memiliki keistimewaan tersendiri!


(Meskipun) telah disebutkan bahwa menggosok gigi dengan menggunakan sikat gigi
itu sudah termasuk melakukan Sunnah siwak dan mendapatkan pahala jika diiringi
dengan niat ibadah, hanya saja, bersiwak dengan menggunakan ranting pohon Al-
Arak (kayu siwak) tetap memiliki keistimewaan (tersendiri), berupa mengikuti Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

(Keistimewaan tersebut yaitu) bahwa kayu siwak dahulu paling banyak digunakan
oleh mereka, ditambah lagi mudah dibawa dan dipindah-pindah di segala tempat dan
kondisi. Dan hal itu telah menjadi kebiasaan tanpa ada yang mengingkarinya serta
tidaklah hal itu terhitung ‘nyeleneh’.

Lain halnya dengan sikat gigi yang sulit jika digunakan pada setiap saat, karena sikat
gigi tersebut membutuhkan tempat tersendiri.

Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (4/140):

ُ ‫ير يُ ْخ ِر‬
” ‫ج َويُن َِق ي َم ا‬ ٍ ‫ ِل َم ا فِي ِه ِم ْن ِطي‬، ُ‫ األ ْ َراك‬: ‫ض لَه ُ َج ِميعًا‬
ْ َ ‫ َوت‬، ٍ‫ َو ِريح‬، ‫ب‬
ٍ ‫ش ِع‬ َ ‫ب األ ْ ْربَعَ ِة‬
َ ‫علَى أ َ َّن أ َ ْف‬ ِ ‫اتَّفَقَ فُقَ َه ا ُء الْ َمذَا ِه‬
‫َان‬
ِ ‫سن‬ ْ ْ ‫” بَيْنَ األ‬

Ulama Ahli Fikih dari keempat madzhab sepakat bahwa alat siwak yang paling utama
dari seluruh alat siwak yang ada yaitu: ranting pohon Al-Arok, karena didalamnya
terdapat kebaikan, keharuman bau dan berserabut yang bisa mengeluarkan dan
membersihkan kotoran yang terdapat di sela-sela gigi.

Ibnu Allan menyatakan:

” ‫ ثم بعده النخل ؛ ألنه‬، ‫ وشعيرة لطيفة تنقي ما بين األسنان‬، ‫ مع ما فيه من طيب طعم وريح‬، ‫ األراك ؛ لَلتباع‬: ‫وأوَله‬
‫”آخر سواك استاك به صلى هللا عليه وسلم‬

Yang paling baik adalah ranting pohon Al-Arok (kayu siwak) karena mengikuti
(Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), diiringi dengan kesegaran rasa dan
keharuman bau serta serabut yang lembut membersihkan kotoran yang terdapat di
sela-sela gigi, kemudian (urutan yang berikutnya adalah) ranting pohon kurma, sebab
ranting pohon kurma tersebut adalah ranting siwak yang terakhir kali dipakai
bersiwak oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Dalilul Falihin (6/658)].

Berkata Syaikh Athiyyah Muhammad Salim:

” ‫ ) مطهرة للفم مرضاة للرب ( فأي شيء ط َّهر الفم‬: ‫ وهو كما في الحديث‬، ‫إذا نظرنا إلى الغرض من استعمال السواك‬
ً ‫ ولكن ما كان عليه السلف فهو أولى وأصح طبيا‬، ‫” فإنه يؤدي المهمة‬

“Jika kita perhatikan tujuan penggunaan kayu siwak, yaitu sebagaimana disebutkan
dalam hadits :

َ ‫ َم ْر‬، ‫ط َه َرة ٌ ِللْفَ ِم‬


َّ ‫ضاة ٌ ِل‬
ِ‫لرب‬ ْ ‫الس َو اكُ َم‬
ِ
“Siwak adalah membersihkan mulut dan menyebabkan (didapatkannya) keridhoan
Ar-Rabb (Allah)” , maka dengan alat (mubah) apapun yang bisa membersihkan
mulut, itu berarti telah memenuhi tujuan tersebut, namun perkara yang menjadi
Sunnah Salafush Sholeh itu lebih utama dan lebih bagus secara medis”.

[Syarhu Bulughil Maram (5/13), dengan penomoran maktabah Syamilah].

Untuk penjelasan tambahan, silahkan baca jawaban pertanyaan no. 115282, di


dalamnya terdapat beberapa faedah yang bermanfa’at tentang ranting pohon Al-
Arok (kayu siwak). Wallahu a’lam.