Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

ASBAB AN NUZUL AL QUR’AN

Disusun Oleh :
Muhammad Jayus

Prodi Ilmu Syari’ah

Dosen Pembimbing :
1. Dr. Alamsyah, M.Ag.
2. Dr. H. M. Zaki, M.Ag.

PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
2011

1
ASBABUN NUZUL AL QUR’AN

A. Pendahuluan
Al-quran diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah tujuan
yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang di dasarkan
pada keimanan kepada Allah dan risalahnya. Juga memberitahukan hal yang telah lalu,
kejadian-kejadian yang sekarang serta berita-berita yang akan datang.
Al quran adalah mukjizat bagi umat islam yang diturunkan kepada nabi
Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umat manusia. Al Quran sendiri dalam
proses penurunannya mengalami banyak proses yang mana dalam penurunannya itu
berangsur-angsur dan bermacam-macam nabi menerimanya. Sebagaimana dalam
perjalanan pembukuan al Quran yang banyak mengalami hambatan sampai banyaknya
para penghafal al quran yang meninggal, maka dalam proses aplikasi nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya juga sangat banyak kendalanya. Kita mengenal turunnya al
quran sebagai tanggal 17 Ramadhan. Maka setiap bulan 17 Ramadhan kita mengenal
yang namanya Nuzulul Quran yaitu hari turunnya al Quran. Dalam penurunan al Quran
terjadi di dua kota yaitu Madinah dan Mekkah. Surat yang turun di Mekkah disebut
dengan Makkiyah sedangkan surat yang turun di Madinah disebut dengan surat
Madaniyah. Dan juga dalam pembedaan itu terjadi banyak perbedaan antara para ahli
Quran apakah ini surat Makkiyah atau surat Madaniyah. Maka dari permasalahan
diatas tercetus dalam benak kita sehingga ingin mengulas tentang asbabun nuzul al
Quran.

B. Pengertian
Dalam fakta sejarah, al qur’an dinuzulkan dalam dua macam, yaitu dinuzulkan
tanpa didahului oleh suatu sebab dan dinuzulkan denga didahulusi sebab (khusus).
Ayat yang dinuzulkan tanpa ada hal-hal atau kejadian yang mendahuluinya sebagai
sesuatu yang menyebabkan turunnya. Sedangkan ayat-ayat yang dinuzulkan dengan
didahului oleh sebab tertentu adalah ayat-ayat al qur’an yang dinuzulkan berkaitan

2
dengan suatu kejadian atau peristiwa dan sebagainya, yang seakan-akan semua itu
menjadi sebab dinuzulkannya ayat al qur’an. Sebab-sebab, kejadian-kejadian atau
peristiwa-peristiwa itu, selanjutnya disebut dengan asbab an nuzul (sebab-sebab
dinuzulkan) ayat.
Manna’ al Qathan mendefinisikan : asbabun nuzul adalah sesuatu hal yang
karenanya Qur’an diturunkan untuk menerangkan status (hukum)nya, pada masa hal
itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.1
Dalam membahas asbab an nuzul, penulis di sini membatasi pengertian asbab
an nuzul berdasarkan pendapat dari Subhi Shalih sebagai berikut :

ََ‫مَاَنَزَلَتَ َاَلَيَةَ َاَوَ َاَلَيَاتَ َبَسَبَبَهَ َمَضَمَنةَ َلَهَ َاَوَ َمَجَيَبَةَ َعَنَهَ َاَوَ َمَبَيَنةَ َلَحَكَمَه‬
َ ََ‫زَمَنََوَقَوَعَه‬
Artinya : “yaitu sesuatu yang menyebabkan dinuzulkannya sebuah ayat atau beberapa
ayat al qur’an yang mengandung sebabnya, sebagai jawaban terhadap hal itu, atau
yang menerangkan hukumnya, pada soal terjadinya peristiwa itu”.2

Dari pengertian di atas, maka sebab-sebab turunnya ayat adakalany berbentuk


peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan.
Asbab an nuzul ayat dalam bentuk peristiwa ada tiga macam :3
a. Peristiwa berupa pertengkaran (perselisihan) yang berkecamuk antara dua
federasi; yakni Aus dan Khazraj. Peristiwa ini timbul dari intrik-intrik yang
ditiupkan oleh orang-orang yahudi sehingga berteriak senjata, senjata.
Sehingga peristiwa tersebut menyebabkan turunnya surat ali Imran ayat 100
sampai beberapa ayat sesudahnya :
 
  
   
  
  

1
Manna’ Khalil al Qattan, 1992. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Jakarta : Litera Antarnusa, h. 112
2
Subhi Shalih. 1977. Mabahits fi Ulum al qur’an, Beirut : Dar al Ilm li al Malayyin. H. 132
3
Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, 1992. al Madkhal li Dirasah al Qur’an al Karim.
Kairo : Maktabah al sunnah, h. 122

3
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian
dari orang-orang yang diberi Al kitab, niscaya mereka akan mengembalikan
kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.”
b. Peristiwa berupa kesalahan serius, seperti peristiwa seorang yang mengimami
shalat sedang mabuk sehingga salam dalam membaca surat al kafirun. Peristiwa
ini menyebabkan dinuzulkannya surat an nisa ayat 43 :
   
  
   

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang
kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,

c. Peristiwa berupa cita-cita dan keinginan, seperti relevansi Umar bin Khattab
denga ketentuan ayat-ayat al qur’an. Dalam sejarah, ada beberapa harapan
Umar yang dikemukakannya kepada nabi. Kemudian nuzul ayat yang
kandungannya sesuai dengan harapan Umar tersebut. Misalnya yang
diriwayatkan oleh al Bukhari diriwayatkan dari Anas bahwa Umar berkata :Aku
katakana kepada Rasul sebagaiamna sekiranya kita jadikan makam Ibrahim
sebagai tempat shalat. “maka dinuzulkanlah surat al Baqarah : 125
  
 
Artinya : …. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. …

Adapun sebab-sebab dinuzulkannya ayat dalam bentuk pertanyaan dapat


dikelompokkan kepada tiga macam :4
a. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu di masa lampau, seperti
pertanyaan tentang kisah Dzu al Qarnain maka turunlah surat al Kahfi : 84
  
  

4
Zaid, Nasr hamid Abu, Tekstualitas al-Qur’an, LkiS Yogyakarta, 2005

4
  
 
Artinya : Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain.
Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya".

b. Pertanyaan tentang sesuatu yang berlangsung pada waktu itu, seperti


pertanayan tentang ruh. Maka turunlah ayat :

‫الروحََمنََأمرََربيَوَماَأوتيتمََمنََالعلمََإلَقليال‬
ُّ ََ‫الروحََقل‬
ُّ ََ‫ويسألونكََعن‬
Artinya : “mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : ruh itu
termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali
sedikit saja”.

c. Pertanyaan tentang sesuatu yang berhubungan dengan masa yang akan dating,
seperti masalah kiamat. Maka turunlah ayat :

‫ساعةََأيَّانََمرساهاَقلََإنَّمَاَعلمهاَعندََربي‬
َّ ‫يسأَلونكََعنََال‬
Artinya : “mereka bertanya kepadamu tentang kiamat. Katakanlah :
“sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu di sisin tuhanku…”

C. Faedah mengetahui asbab an nuzul


Ketika seseorang mengalami kesukaran memahami makna sesuatu ayat al-
Quran, ke manakah mereka akan merujuk? Berdasarkan pendapat Ibnu Taimiyah,
beliau “mengetahui sebab turunnya ayat-ayat al-Quran akan membantu seseorang itu
memahami kandungan makna dan kejelasan maksud ayat-ayat tersebut. Mengetahui
asbabun nuzul sangat besar pengaruhnya dalam memahami makna ayat-ayat dalam Al-
Qur’an. Oleh karena itu, para ulama sangat berhati-hati dalam memahami asbabun
nuzul, sehingga banyak ulama yang menulis tentang itu. Diantara kitab termasyhur
yang membahas tentang asbabun nuzul adalah; Asbabun Nuzul, karya Imam Al-

5
Wahidi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul karya Imam Suyuthi. Beberapa faedah
mengetahui asbabun nuzul antara lain:5
1. Dapat mengetahui hikmah disyari’atkannya hokum. Imam Al-Wahidi
mengatakan, ”Tidak mungkin orang bisa mengetahui tafsir suatu ayat tanpa
mengetahui kisah dan penjelasan mengenai turunnya lebih dahulu”.
2. Kekhususan hukum disebabkan oleh sebab tertentu. Ibnu Taimiyyah mengatakan,
”Mengetahui asbabun nuzul sangat membantu untuk memahami ayat.
Sesungguhnya dengan mengetahui sebab akan mendapatkan ilmu musabbab”.
3. Mengetahui nama orang, dimana ayat diturunkan berkaitan dengannya, dan
pemahaman ayat menjadi lebih jelas.
4. Menghindarkan anggapan menyempitkan dalam memandang hukum yang
nampak lahirnya menyempitkan.
Ibnu Jarîr meriwayatkan dalam Jâmi’ul Bayâni Fit Ta’wîlil Qur’âninya(3/94):
“Abu Kuraib telah bercerita kepada kami(Ibnu Jarîr), katanya(Abu Kuraib): “Abû
Dâwud telah bercerita kepada kami((Abu Kuraib) dari Sufyan dari Ja’far bin Iyas dari
Sa’îd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbâs, katanya(Ibnu ‘Abbâs): “dahulu mereka tidak mau
memberi sebagian kecil hartanya kepada kerabat mereka dari kalangan Musyrikin, lalu
turunlah:
   
    
    
    
    
   
   

Artinya : “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi
Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan
apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu
untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena
mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya

5
Supiana, M. Karman. 2002, Ulumul Qur’an, Bandung : Pustaka Islamika. H. 133

6
kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan
dianiaya (dirugikan).

Ketarangan
Kata Ibnu Jarîr: “Hadis di atas para rawinya adalah rawi shahih”. Pendapat
Ibnu Jarîr juga dikuatkan kerajihannya dengan Hadis yang dinisbahkan Ibnu Katsîr
dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzîmnya(1/323) kepada: “an-Nasâ’î”. Imâm Jalâludin
ash-Suyûthî juga menisbahkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya(Bab I,
Surat ke-2: al-Baqarah) kepada: “an-Nasâ’î, al-Hakim, al-Bazzâr, ath-Thabrânî dan
Ibnu Abî Hâtim”, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbâs. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-
Wadi’î juga menisbahkan dalam ash-Shahîh al-Musnad min Asbâb an-Nuzûlnya(Surat
al-Baqarah, ayat: 272) kepada: “at-Tirmidzî, al-Haitsamî, adz-Dzahabî dan al-Hâkim”.

D. Cara mengetahui asbab an nuzul


Mengetahui Asbabun Nuzul adalah upaya untuk membedah antara dua hal yaitu
sebab dan musababnya.6
Allah menjadikan segala sesuatu melalui sebab-musabbab dan menurut suatu
ukuran. Tidak seorang pun manusia lahir dan melihat cahaya kehidupan tanpa melalui
sebab-musabbab dan berbagai tahap perkembangan. Tidak sesautu pun terjadi di dalam
wujud ini kecuali setelah melewati pendahuluan dan perencanaan. Begitu juga
perubahan pada cakrawala pemikiran manusia terjadi setelah melalui persiapan dan
pengarahan. Itulah sunnatullah (hukum Allah) yang berlaku bagi semua ciptaan-Nya,
dan engkau tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah (al-Ahzab, 62).
Tidak ada bukti yang menyingkap kebenaran sunnatullah itu selain sejarah,
demikian pula penerapannya dalam kehidupan. Seorang sejarahwan yang
berpandangan tajam dan cermat mengambil kesimpulan, dia tidak akan sampai kepada
fakta sejarah jika tidak mengetahui sebab-musabbab yang mendorong terjadinya

6
http://moxeeb.wordpress.com/2009/04/12/asbabun-nuzul/ diakses pada : 16 Oktober 2011

7
peristiwa. Tapi tidak hanya sejarah yang menarik kesimpulan dari rentetan peristiwa
yang mendahuluinya, tapi juga ilmu alam, ilmu sosial dan kesusastraan pun dalam
pemahamanya memerlukan sebab-musabbab yang melahirkannya, di samping tentu
saja pengetahuan tentang prinsip-prinsip serta maksud tujuan.
Pedoman dasar para ulama dalam mengetahui asbabun nuzul ialah riwayat
shahih yang berasal dari Rasulullah Saw atau dari sahabat. Itu disebutkan
pemberitahuan seorang sahabat mengenai hal seperti ini, bila jelas, maka hal itu bukan
sekedar pendapat, tetapi ia mempunyai hukum marfu’ (disandarkan pada Rasulullah.
Al-Wahidie mengatakan,Tidak halal berpendapat mengenai asbabun Nuzul kitab
kecuali dengan berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang
yang menyaksikan turunnya, mengetahui sebab-sebabnya dan membahasnya tentang
pengertiannya serta bersungguh-sungguh dalam mencarinya.
Al-Wahidie telah menentang ulama-ulama zamannya atas kecerobohan mereka
terhadap riwayat asbabun nuzul. Bahkan ia menuduh mereka pendusta dan
mengingatkan mereka akan ancaman berat, dengan mengatakan. Sekarang setiap orang
suka mengada-ngada dan berbuat dusta: ia menempatkan kedudukannya dalam
kebodohan, tanpa memikirkan acaman berat bagi orang yang tidak mengetahui sebab
turun.
Pendapat Para Ulama Tentang Beberapa Riwayat Mengenai (Asbabun Nuzul)
Terkadang terdapat banyak riwayat mengenai sebab nuzul suatu ayat. Dalam keadaan
demikian, sikap seorang mufasir kepadanya sebagai berikut: Apabila bentuk-bentuk
redaksi riwayat itu tidak tegas, seperti: Ayat ini turun mengenai urusan ini, atau Aku
mengira ayat ini turun mengenai urusan ini, maka dalam hal ini tidak ada kontradiksi
di antara riwayat-riwayat itu. Sebab maksud riwayat-riwayat tersebut adalah penafsiran
dan penjelasan bahwa hal itu termasuk ke dalam makna ayat dan disimpulkan darinya,
bukan menyebutkan sebab nuzul, kecuali bila ada karinah atau indikasi pada salah satu
riwayat bahwa maksudnya adalah penjelasan sebab nuzulnya. Apabila salah satu
bentuk redaksi riwayat itu tidak tegas, misalnya Ayat ini turun mengenai urusan ini.
Sedang riwayat yang lain menyebutkan sebab nuzul dengan tegas yang berbeda dengan

8
riwayat pertama, maka yang menjadi pegangan adalah riwayat yang menyebutkan
sebab nuzul secara tegas; dan riwayat yang lain dipandang termasuk di dalam hukum
ayat.

E. Redaksi dan riwayat asbab an nuzul


Berbagai riwayat tentang asbab an nuzul dapat diketahui dari redaksinya
sebagai berikut :
a. Sabab an nuzul disebutkan dengan redaksi yang jelas (sharih) yang terdapat
dalam suatu riwayat, seperti : ‫( سبب هذه االية كذا‬seba turunnya demikian).
b. Penggunaan huruf fa’, al fa’ al ta’qibiyyah, bermakna maka atau kemudian
dalam rangkaian suatu riwayat, termasuk redaksi riwayat tentang nuzulnya
suatu ayat tersebut setelah terjadinya suatu peristiwa atau sesudah ada
pertanyaan aygn diajukan kepada nabi.
c. Penggunaan redaksi ‫( نزلت هذه االية فى كذا‬ayat ini dinuzulkan tentang ini) dapat
dikategorikan untuk menerangkan sebab nuzul suatu ayat juga.7

F. Keumuman lafadz dan kekhususan sebab


Keumuman lafadz dan kekhususan sebab maksudnya jawaban lebih umum dari
sebab, dan sebab lebih khusus dari jawaban. Jawaban yang dimaksudkan di sini adalah
ayat-ayat al qur’an yang dijadikan jawaban atas pertanyaan atau peristiwa yang
dihadapi nabi pada masa dinuzulkan al qur’an.
Dalam hal ini, jika terjadi persesuaian antara ayat yang turund an sebab turunya
dalam hal keumumannya, atau terjadi persesuaian antara keduanya, maka yang umum
harus diposisikan menurut keumumannya dan yang khusus menurut kekhususannya.
Untuk contoh hal pertama dapat dilihat QS. Al Baqarah ayat 222 :
   
   
   

7
Supiana, M. Karman. Op. Cit.. h. 144

9
  
   
   
 
Artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah
suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu
haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka
Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah
kepadamu..”

Ayat ini sebagai diriwayatkan dari Anas dinuzulkan sehubungan sahabat


mempertanyakan keadaan orang-orang yahudi ketika isteri-isteri mereka haid, mereka
menjauhkan perempuan itu dari rumahnya, mereka tidak mau makan dan minum
bersamanya, termasuk tidak mempergaulinya di rumah. Ketika nabi ditanya tentang
masalah ini, maka turunlah ayat di atas. Maka Nabi pun bersabda :
8
‫َواصنعواَكلَشيءَإلَالنكاح‬،َ‫جامعوهنَفيَالبيوت‬
“pergaulilah mereka (perempuan-perempuan) olehmu mereka di rumah dan perbuatlah
apa saja, kecuali nikah (jimak).
Lain halnya dengan ayat yang turunnya bersifat umum, sednagkan sebabnya
bersifat khusus. Para ulama berbeda pendapat, apakah yang dijadikan patokan itu
keumuman lafadznya atau kekhususan sebabnya. Mayoritas ulama bersandar kepada
kaidah : “yang harus diperhatikan keumuman lafadz bukan kekhususan sebab”.
Sedangkan ulama minoritas berpegang kepada kaidah : “yang harus diperhatikan,
kekhususan sebab, bukan keumuman lafadz”.
Menurut kaidah pertama, hukum yang dibawa suatu lafadz umum akan
mencakup semua person lafadz tersebut, baik itu semua person sebab itu sendiri
maupun person di luarnya.

G. Daftar Bacaan

8
)‫ (مكتبة الشاملة اصدار الثانى‬.584 .‫ ص‬.1 .‫ ج‬,‫تفسير ابن كثير‬

10
Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’I, 1997, Ulumul Qur’an, Bandung : CV. Pustaka Setia.

http://moxeeb.wordpress.com/2009/04/12/asbabun-nuzul/ diakses pada : 16 Oktober


2011

Manna’ Khalil al Qattan, 1992. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Jakarta : Litera Antarnusa,

Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, 1992. al Madkhal li Dirasah al Qur’an al


Karim. Kairo : Maktabah al sunnah,

Qamaruddin Shaleh, HAA Dahlan, MD. Dahlan. 1995, Asbabun Nuzul, Bandung : CV.
Diponegoro.

Subhi Shalih. 1977. Mabahits fi Ulum al qur’an, Beirut : Dar al Ilm li al Malayyin.

Supiana, M. Karman. 2002, Ulumul Qur’an, Bandung : Pustaka Islamika. H. 133

Zaid, Nasr hamid Abu, Tekstualitas al-Qur’an, LkiS Yogyakarta, 2005

)‫ (مكتبة الشاملة اصدار الثانى‬.584 .‫ ص‬.1 .‫ ج‬,‫تفسير ابن كثير‬

)‫تفسير الطبارى (مكتبة الشاملة اصدار الثانى‬

11