Anda di halaman 1dari 10

PENERAPAN SMK3 DI LINGKUNGAN KERJA MANUFAKTUR

PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN


Lala Marlina1dan Reda Rizal2
Program Studi Kesehatan Masyarakat, UPN “Veteran” Jakarta, Jakarta Selatan, Indonesia1
Program Studi Teknik Industri, UPN “Veteran” Jakarta, Jakarta Selatan, Indonesia 2
email : lalamarlina15@gmail.com
email : reda_rizal59@yahoo.co.id

Abstract

To ensure the safety and health of workers or others who are in the workplace, including
the source of production, production processes, and working in safe environment, that showing
the application of Occupational Safety and Health Management System (SMK3). The main
purpose of application of SMK3 is to giving protection for the workers. Because, workers are
assets to be maintained and guarded their safety. The purpose of this study is to determine the
extent to which description of the application Government of Regulation Number 50 in 2012
about SMK3 at Food-Beverage Manufacture in 2015. This research use qualitative method and
case study design. The object of this study about SMK3 in Food-Beverage Manufacture. The
result of study showed that Food-Beverage Manufacture 89% has completed SMK3 Government
of Regulation in which consists: (i) the company has not had a person in charge K3 Certificate
valid for every worker who was given the responsibility, (ii) don’t yet have procedures
regarding the purchase of equipment or materials production, (iii) not create a new certificate
upon expiration crane certificate, (iv) yet have a tagging system for the equipment that is no
longer safe to use or are not used, (v) has not tested the emergency alarm system (e.g.
sprinkler), (vi) have not done the work environment measurement (ergonomics and psychology),
(vii) have not had the procedure inspection and assessment of occupational diseases.

Keywords: SMK3, Safety, Health, Manufacture, Production.

PENDAHULUAN kondisi tersebut dapat menimbulkan efek


Penggunaan teknologi canggih pada samping yang tidak dapat dielakkan seperti
kegiatan manufaktur sangat diperlukan guna bertambahnya jumlah sumber bahaya bagi
memudahkan proses produksi dan mempercepat pengguna teknologi itu sendiri. Di samping itu,
pemenuhan kebutuhan hidup konsumen atau syarat keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
masyarakat luas. Penggunaan teknologi canggih yang tidak dipenuhi oleh faktor lingkungan
yang tidak disertai tindakan pengendalian yang kerja, proses kerja tidak aman, dan sistem kerja
tepat akan berdampak negative terhadap yang semakin komplek dapat menjadi ancaman
masyarakat pengguna produk, pekerja maupun tersendiri bagi keselamatan dan kesehatan
masyarakat sekitar lokasi manufaktur. pekerja.
Penggunaan teknologi canggih kadangkala tidak Laporan organisasi pekerja internasional
dapat dihindari karena adanya proses-proses atau International Labour Organization (ILO)
manufaktur yang menggunakan sistem tahun 2006 menyebutkan, kerugian akibat
elektronik, modern, dan adanya proses kecelakaan kerja mencapai 4% dari hasil produk
transformasi berbagai aspek secara global. dalam negeri atau Gross Domestic Product
Kondisi tersebut di atas akan mendorong (GDP) suatu negara. Artinya, dalam skala
penggunaan mesin, peralatan, pesawat, dan industri-manufaktur, kecelakaan kerja dan
berbagai instalasi, serta penggunaan bahan- timbulnya penyakit akibat kerja akan
bahan berbahaya yang jumlahnya cenderung menimbulkan kerugian sebesar 4% dari total
meningkat sesuai kebutuhan dan kemajuan biaya produksi. Kerugian yang terjadi berupa
teknologi manufaktur. Proses produksi pemborosan terselubung (hidden cost) dalam
menggunakan teknologi canggih akan bentuk berkurangnya produktivitas kerja yang
memberikan kemudahan-kemudahan dalam akhirnya dapat berpengaruh pada daya saing
proses produksi, sehingga dengan adanya manufaktur. Hasil survei forum ekonomi dunia

1  BINA TEKNIKA, Volume 12 Nomor 1, Edisi Juni 2016, 1-10


atau World Economic Forum (WEF) tahun kualitas hasil produksi manufaktur adalah
2006, angka kematian akibat kecelakaan kerja di bidang kesehatan dan keselamatan pekerja
Indonesia mencapai 17-18 untuk setiap 100.000 manufaktur.
pekerja. Penelitian tersebut berkaitan antara Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
daya saing dengan tingkat kecelakaan. Daya harus dikelola sesuai peraturan keselamatan dan
saing suatu negara ternyata berhubungan dengan kesehatan kerja yang berlaku terkait aktivitas
tingkat keselamatan kerja, karena tingkat kegiatan manufaktur seperti kegiatan operasi,
keselamatan kerja yang rendah dimiliki oleh proses-proses produksi, kegiatan logistik,
negara-negara yang memiliki daya saing yang aktivitas kegiatan sumber daya manusia (pekerja
rendah. Indeks daya saing Indonesia berada dan manajemen), kegiatan pengelolaan
pada peringkat ketiga dan berada di atas keuangan, serta kegiatan distribusi produk dan
peringkat Zimbabwe dan Rusia dengan nilai pemasaran. Aspek K3 tidak akan berlangsung
indeks kurang dari 3,5 dengan nilai indeks dan berjalan seperti apa adanya tanpa adanya
kematian akibat kecelakaan sebesar 17-18 per intervensi dari manajemen manufaktur dalam
100.000 pekerja. Indeks daya saing urutan bentuk tindakan upaya terencana dan sistematik
pertama adalah Finlandia dengan indeks daya untuk dikelola sesuai peraturan yang berlaku.
saing 6 dan indeks kematian akibat kecelakaan Para ahli K3 sejak awal tahun 1980, khususnya
di bawah 1 per 100.000 pekerja. Malaysia manajemen organisasi perusahaan manufaktur
dengan indeks daya saing 5 dan indeks kematian untuk bidang K3 telah memposisikan manajer
sekitar 11 per 100.000 pekerja. Berdasarkan K3 setara dengan unsur-unsur manajer lain yang
data hasil survei WEF dapat disimpulkan bahwa terkait dalam organisasi perusahaan manufaktur.
setiap tahun ribuan kecelakaan terjadi di tempat Kegiatan manajer bidang K3 di lingkungan
kerja, menimbulkan korban jiwa, terjadi perusahaan manufaktur berpengaruh besar
kerusakan material dan infrastruktur terhadap pelaksanaan konsep Sistem
manufaktur, serta gangguan kelancaran proses Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
produksi. (safety management) sebagaimana diamanatkan
Data pada PT. Jamsostek memperlihatkan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
angka kecelakaan kerja selalu bertambah tahun Nomor 50 tahun 2012 tentang Sistem
demi tahun. Tercatat pada tahun 2009 dari Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
96.314 kasus kecelakaan kerja dengan kematian (SMK3). Seluruh sub-sistem dalam SMK3 di
sebanyak 2.144. Pada tahun 2010 terjadi 98.711 lingkungan perusahaan manufaktur bertujuan
kasus kecelakaan kerja dengan jumlah kematian untuk melaksanakan perencanaan, penanganan
sebanyak 1.965 jiwa, 3.662 cacat fungsi tubuh, dan identifikasi risiko K3 yang terdapat di
2.713 cacat sebagian tubuh, dan 31 orang cacat lingkungan perusahaan manufaktur agar setiap
tubuh secara total, serta pada tahun 2011 tercatat kejadian yang tidak diinginkan atau kegiatan
jumlah kasus kecelakaan kerja bertambah hingga yang dapat menimbulkan kerugian dapat
mencapai 99.419 kasus. dicegah.
Agar keuntungan ekonomi dapat diperoleh Dalam rangka perlindungan tenaga kerja
secara optimum oleh kegiatan industri- dari ancaman keselamatan dan penyakit di
manufaktur, maka persyaratan penting yang tempat kerja, maka pemerintah telah
harus terpenuhi adalah kegiatan proses produksi menetapkan dan memberlakukan aturan tentang
manufaktur berlangsung produktif dan efisien. penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Disamping itu produk yang dihasilkan harus Kesehatan Kerja disingkat dengan SMK3.
memiliki daya saing tinggi dan produk Dalam Peraturan Pemerintah Republik
manufaktur diterima oleh lingkungan Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang SMK3
masyarakat konsumen global. Dalam penerapan dijelaskan bahwa setiap perusahaan manufaktur
konsep manajemen modern, setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100
industri atau manufaktur senantiasa berupaya orang atau lebih, dan potensi bahaya yang
untuk meminimumkan kerugian yang mungkin ditimbulkan oleh karakteristik proses bahan
timbul dalam kegiatan industri manufaktur, produksi yang dapat berakibat kecelakaan kerja
serta meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan
produksinya. Salah satu faktor yang perlu SMK3.
diperhatikan dan sangat berpengaruh pada

Penerapan SMK3 di Lingkungan Kerja Manufaktur ……….. (Lala Marlina dan Reda Rizal) 2
Manufaktur produk makanan dan adalah suatu kondisi kesehatan yang bertujuan
minuman PT. XYZ yang melibatkan pekerja agar masyarakat pekerja memperoleh derajat
sebanyak kurang lebih 200 pekerja merupakan kesehatan setinggi-tingginya, baik jasmani,
salah satu produsen produk minuman susu dan rohani, maupun sosial, dengan usaha
produk olahan susu yang menguasai pangsa pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit
pasar di kelas yang sama dengan produk atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
manufaktur lainnya. Data laporan pelayanan pekerjaan dan lingkungan kerja maupun
keselamatan kerja pada bagian Safety Officer penyakit umum. Keselamatan dan Kesehatan
PT. XYZ tercatat selama tahun 2014 ditemukan Kerja (K3) merupakan instrumen untuk
5 (lima) kasus kejadian kecelakaan kerja yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan
terjadi pada lingkungan kerja manufaktur susu hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya
kental manis (SKM), susu bubuk (powder), akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut
SCM dan Engineering: 4 kejadian akibat merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh
tindakan tidak aman (unsafe action) berupa setiap perusahaan. K3 bertujuan untuk
belum menguasai atau belum terampil dengan mencegah, mengurangi, bahkan meniadakan
peralatan atau mesin baru (lack of skill), sikap risiko kecelakaan kerja (zero accident).
dan tingkah laku yang tidak aman (unsafe Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap
altitude and habbits) dan 1 kejadian pada bagian sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan
GA akibat kondisi tidak aman (unsafe penyakit akibat kerja yang menghabiskan
condition) berupa kondisi tidak aman dari banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan
lingkungan dan tempat kerja. Selanjutnya pada harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka
bulan Mei sampai bulan Agustus ada 6 kejadian panjang yang memberi keuntungan di masa
kecelakaan kerja yang terjadi pada bagian SCI yang akan datang.
dan SKM kejadian karena tindakan tidak aman Berdasarkan Undang-Undang No. 1
(unsafe action) karena belum menguasai atau Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja,
belum terampil dengan peralatan atau mesin penerapan K3 bertujuan untuk: i) melindungi
baru (lack of skil), sikap dan tingkah laku yang dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja
tidak aman (unsafe altitude and habbits). Dan dan orang lain di tempat kerja, ii) menjamin
pada bulan September sampai bulan Desember setiap sumber produksi dapat digunakan secara
2014 ada 2 kejadian kecelakaan kerja yang aman dan efisien, dan iii) meningkatkan
terjadi pada bagian SCI: 1 kejadian karena kesejahteraan dan produktivitas nasional.
kondisi tidak aman (unsafe condition) berupa Manfaat dilaksanakannya K3 tidak hanya bagi
kondisi tidak aman dari lingkungan dan tempat pekerja akan tetapi juga berdampak pada
kerja dan 1 kejadian pada bagian SKM karena perusahaan manufaktur itu sendiri. Manfaat
tindakan tidak aman (unsafe action) berupa perusahaan manufaktur menerapkan K3 yaitu
belum menguasai atau belum terampil dengan pekerja merasa aman melakukan pekerjaaannya,
peralatan atau mesin baru (lack of skill), sikap perusahaan diuntungkan karena tidak harus
dan tingkah laku yang tidak aman (unsafe mengeluarkan biaya pengobatan/penyembuhan
altitude and habbits). Berdasarkan latar terhadap pekerja yang celaka akibat kerja
belakang di atas maka penelitian dilakukan sehingga produktivitas perusahaan dapat
untuk mengetahui bagaimana gambaran tentang meningkat.
penerapan PP Nomor 50 Tahun 2012 tentang
SMK3 di perusahaan manufaktur PT. XYZ. Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3)
TINJAUAN PUSTAKA Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun
Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2012 mendefinisikan Sistem Manajemen
Suma’mur (2001) menyatakan, bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK 3)
keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha sebagai bagian dari sistem manajemen secara
untuk menciptakan suasana kerja yang aman keseluruhan yaitu struktur organisasi,
dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan,
perusahaan yang bersangkutan. Menurut prosedur, proses, dan sumber daya yang
Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan,
Tahun 1960 Bab 1 Pasal 2, Kesehatan Kerja pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan

3  BINA TEKNIKA, Volume 12 Nomor 1, Edisi Juni 2016, 1-10


kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan. Mekanisme pelaksanaan audit
dalam pengendalian risiko yang berkaitan SMK3 antara lain: (i) Untuk pembuktian
dengan kegiatan kerja guna terciptanya penerapan SMK3 , perusahaan dapat
tempat kerja yang aman, efisien, dan dilakukan audit lewat badan audit yang
produktif. Tujuan penerapan SMK 3 yaitu: i) ditunjuk Menteri, (ii) Audit SMK3 terdapat
meningkatkan efektivitas perlindungan K 3 12 unsur, (iii) Perubahan atau penambahan
yang terencana, terukur dan teintegrasi, ii) unsur sesuai perkembangan diatur Menteri,
mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja (iv) Direktur berwenang penetapan
dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan perusahaan yang dinilai wajib untuk diaudit
unsur manajemen dan pekerja atau buruh, dan berdasarkan pertimbangan tingkat risiko
iii) menciptakan tempat kerja yang aman, bahaya, (v) Audit SMK3 dilaksanakan
nyaman dan efisien untuk mendorong minimal 3 tahun sekali, (vi) Audit SMK3
produktivitas. Manfaat penerapan SMK 3 dilakukan badan audit, (vii) Perusahaan wajib
yaitu: i) pihak manajemen dapat informasi penyediaan dokumen yang diperlukan untuk
kelemahan unsur sistem operasional sebelum pelaksanaan audit. Badan audit wajib
terjadi gangguan operasional, kecelakaan, penyampaian laporan audit lengkap kepada
insiden dan kerugian material, ii) dapat Direktur dengan tembusan kepada pengurus
diketahui gambaran secara jelas dan lengkap perusahaan, (viii) Setelah diterima laporan
tentang kinerja K 3 di perusahaan, iii) dapat audit, dilakukan evaluasi dan penilaian,
berpengaruh terhadap peraturan bidang K 3, berdasarkan hasil evaluasi dan penilaian,
iv) dapat diperoleh pengetahuan, yaitu: (1) Pemberian sertifikat dan bendera
ketrampilan, dan kesadaran tentang K 3, penghargaan sesuai tingkat pencapaian (2)
khususnya bagi karyawan yang terlibat dalam Pemberian instruksi kepada pegawai
pelaksanaan audit, dan v) dapat berpengaruh pengawas untuk pengambilan tindakan
positif pada peningkatan produktivitas kerja. berdasarkan hasil temuan audit atas
Dasar hukum SMK 3 adalah: i) Undang- pelanggaran peraturan perundangan (3)
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Sertifikat ditanda tangani Menteri dan
Tahun 1945 tentang Pembukaan Pasal 5 Ayat berlaku untuk waktu 3 tahun (4) Pembinaan
(2); “Presiden menetapkan Peraturan dan pengawasan terhadap penerapan SMK3
Pemerintah untuk menjalankan Undang- dilakukan oleh Menteri atau pejabat yang
Undang sebagaimana mestinya”, ii) Undang- ditunjuk.
Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja, iii) Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 87 Ayat (2)
tentang Ketenagakerjaan; “Setiap perusahaan
wajib menerapkan Sistem Menejemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang
terintegrasi dengan sistem menejemen
perusahaan”, dan iv) Peraturan Pemerintah
Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan
Sistem Menejemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.

Mekanisme Pelaksanaan Audit SMK 3


Audit SMK3 menurut Peraturan
Pemerintah RI Nomor 50 tahun 2012 tentang
penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (SMK 3 ) adalah
pemeriksaan secara sistematis dan Sumber: PP No.50 Tahun 2012
independen terhadap pemenuhan kriteria
yang telah ditetapkan untuk mengukur suatu Gambar 1. Mekanisme Audit SMK3
hasil kegiatan yang telah direncanakan dan
dilaksanakan dalam penerapan SMK 3 di

Penerapan SMK3 di Lingkungan Kerja Manufaktur ……….. (Lala Marlina dan Reda Rizal) 4
Sertifikasi Tingkat Pencapaian Audit SMK 3 Pengukuran tingkat keberhasilan
Sesuai yang tertuang di dalam Peraturan pencapaian sistem manajemen K 3 di
Pemerintah RI Nomor 50 tahun 2012 tentang perusahaan manufaktur diukur dengan tingkat
penerapan Sistem Manajemen Keselamatan nilai capaian audit dan perolehan penghargaan
dan Kesehatan Kerja (SMK 3) dinyatakan (PP No.50 Tahun 2012):
bahwa untuk pembuktian penerapan sistem
manajemen K3 perusahaan dapat di lakukan Tabel 1: Tingkat Penilaian Pencapaian Audit dan
audit oleh badan audit yang ditunjuk oleh Penghargaan
Prosentase Jenis Audit
menteri tenaga kerja. Demikian untuk Tingkat Tingkat Tingkat
Tingkat Awal
efektivitas pencapaian audit sistem Pencapaian Transisi Lanjutan
Tingkat Tingkat Tingkat
manajemen K3 di suatu perusahaan, audit Penilaian Penilaian Penilaian
harus dilakukan oleh badan audit independen 0-59%
Penerapan Penerapan Penerapan
Kurang  Kurang  Kurang 
atau eksternal audit. Pada pasal 5 (2) Audit Tindakan Tindakan Tindakan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Hukum Hukum Hukum
Tingkat
Kesehatan Kerja (SMK3) yaitu 12 unsur atau Tingkat Tingkat Penilaian
elemen audit yaitu: (i) Pembangunan dan Penilaian Penilaian Penerapan
60-84% Penerapan Baik Penerapan Baik Baik
pemeliharaan komitmen (26 kriteria), (ii)  Sertifikat dan Sertifikat dan Sertifikat
Pembuatan dan pendokumentasian rencana K 3 Bendera Perak Bendera Perak dan Bendera
Perak
(14 kriteria), (iii) Pengendalian, perancangan Tingkat
Tingkat Tingkat
dan peninjauan kontrak (8 kriteria), (iv) Penilaian Penilaian
Penilaian
Penerapan
Pengendalian dokumen (7 kriteria), (v) 85-100%
Penerapan Penerapan
Memuaskan
Memuaskan Memuaskan
Pembelian dan pengendalian produk (9 Sertifikat
Sertifikat dan Sertifikat dan
dan Bendera
kriteria), (vi) Keamanan bekerja berdasarkan Bendera Emas Bendera Emas
Emas
SMK3 (40 kriteria), (vii) Standar pemantauan Sumber: PP No.50 Tahun 2012
(17 kriteria), (viii) Pelaporan dan perbaikan
kekurangan (9 krieteria), (ix) Pengelolaan Kecelakan Kerja
material dan perpindahannya (12 kriteria), (x) Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian
Pengumpulan dan penggunaan data (6 atau peristiwa yang tidak diinginkan dan
kriteria), (xi) Pemeriksaan sistem manajemen dapat merugikan manusia, merusak harta
K3 (3 kriteria), (xii) Pengembangan benda atau kerugian terhadap proses-proses
ketrampilan dan kemampuan (13 kriteria). aktivitas perusahaan manufaktur. Secara
Sertifikasi pencapaian audit SMK 3 umum penyebab kecelakaan kerja yaitu:
sebagaimana Peraturan Pemerintah RI Nomor a. Unsafe Action
50 Tahun 2012 tentang penerapan SMK 3 Berikut ini yang termasuk dalam
dibagi 3 kategori, yaitu: tindakan membahayakan (unsafe action)
1. Tingkat Awal (Initial Level) antara lain: (i) menjalankan pekerjaan tanpa
Perusahaan kecil atau dengan tingkat risiko mempunyai kewenangan (bekerja bukan pada
rendah. Pada tingkat awal, perusahaan kewenangan), (ii) gagal menciptakan keadaan
harus dapat diterapkan 64 kriteria audit. yang baik sehingga menjadi tidak aman atau
2. Tingkat Transisi (Transition Level) memanas, (iii) menjalankan pekerjaan yang
Perusahaan besar atau perusahaan dengan tidak sesuai dengan kecepatan geraknya, (iv)
tingkat risiko tingggi. Pada tingkat memakai alat pelindung diri (APD) hanya
lanjutan, perusahaan harus dapat diterapkan jika di ingatkan, (v) menggunakan peralatan
keseluruhan 64 kriteria tingkat awal + 58 yang tidak layak, (vi) pengrusakan alat
kriteria = 122 kriteria audit. pengaman peralatan yang digunakan untuk
3. Tingkat Lanjutan (Advanced Level) melindungi manusia, (vii) bekerja melebihi
Perusahaan besar atau perusahaan dengan jam kerja di tempat kerja, (viii) mengangkat
tingkat risiko tinggi. Pada tingkat lanjutan, beban yang berlebihan, (ix) menggunakan
perusahaan harus dapat diterapkan tenaga berlebihan hanya untuk bermain, (x)
keseluruhan 64 kriteria tingkat awal + 58 peminum, pemabuk, mengkonsumsi narkoba
kriteria tingkat transisi + 44 kriteria = 166 ataupun (NAPZA).
kriteria audit.

5  BINA TEKNIKA, Volume 12 Nomor 1, Edisi Juni 2016, 1-10


b. Unsafe Condition Kerugian dapat dilihat dari dua aspek
Berikut ini yang termasuk dalam ekonomis, yaitu: i) biaya langsung (direct
kondisi lingkungan yang membahayakan costs), dan ii) biaya tak langsung (indirect
(unsafe condition) antara lain: (i) dalam costs). Kerugian berupa biaya yang
keadaan pengamanan yang berlebihan, (ii) dikeluarkan dan meliputi suatu yang tidak
alat dan peralatan yang sudah tidak layak, terlihat pada waktu atau beberapa waktu
(iii) terjadi kemacetan (congestion), (iv) setelah terjadinya kecelakaan, biaya tidak
sistem peringatan yang berlebihan (in langsung ini antara lain mencakup: (i)
adequate warning system), (v) ada api hilangnya waktu kerja dari tenaga kerja yang
ditempat yang berbahaya, (vi) alat pengaman mendapat kecelakaan, (ii) hilangnya waktu
gedung belum sesuai standar, (vii) kondisi kerja dari tenaga kerja lain, seperti rasa ingin
suhu (atmosfer) yang membahayakan, (viii) tahu dan rasa simpati serta setia kawan untuk
terpapar bising dan radiasi, (ix) pencahayaan membantu dan memberikan pertolongan pada
dan ventilasi yang kurang atau berlebihan. korban, mengantar ke rumah sakit, (iii)
terhentinya proses produksi sementara,
Klasifikasi Kecelakaan Kerja kegagalan pencapaian target, kehilangan
Jenis-jenis kecelakaan akibat kerja bonus, (iv) kerugian akibat kerusakan mesin,
menurut International Labour Organization perkakas atau peralatan kerja lainnya dan (v)
(ILO) tahun 1952 adalah sebagai berikut: biaya penyelidikan dan sosial.
1. Klasifikasi kecelakaan dalam industri
berdasarkan jenis kecelakaan; (i) terjatuh, METODOLOGI
(ii) tertimpa atau kejatuhan, (iii) Kerangka konsep yang digunakan
tersandung benda atau obyek, terbentur dalam melakukan penelitian tentang
antara dua benda, (iv) gerakan paksa atau penerapan SMK3 di lingkungan kerja
peregangan otot berlebihan, (v) terkena manufaktur produk makanan dan minuman
arus listrik dan lain sebagainya. dijelaskan pada bagan berikut di bawah ini.
2. Klasifikasi kecelakaan dalam industri
berdasarkan perantarannya sebagai INPUT: PROSES: OUTPUT:
berikut; (i) mesin, (ii) alat-alat angkut dan PP. No. 50 Pelaksanaan Persentase
peralatan terkelompokkan, (iii) material, Tahun 2012 Penerapan PP. Pemenuhan/
tentang Sistem No. 50 Tahun Kesesuaian PP
(iv) bahan-bahan dan radiasi, (v) peralatan Manajemen 2012 tentang No. 50 Tahun
lain (vi) Lingkungan kerja. Keselamatan SMK3 di 2012 tentang
dan Kesehatan Lingkungan SMK3 dengan
3. Klasifikasi kecelakaan dalam industri- Kerja (SMK3) Kerja Kondisi
manufaktur berdasarkan sifat yang Manufaktur Lingkungan Kerja
Produk Manufaktur
diakibatkan; (i) patah tulang, (ii) gagar Makanan dan Produk Makanan
otak, (iii) luka tergores, (iv) luka bakar, Minuman dan Minuman
(v) efek terkena sinar radiasi.
4. Klasifikasi kecelakaan dalam industri Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian
berdasarkan lokasi tempat luka-luka pada
tubuh. Penerapan SMK3 yang diatur
pelaksanaannya dalam Peraturan Pemerintah
Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja Nomor 50 Tahun 2012 tentang SMK 3. Pada
Akibat dari kecelakaan adalah kerugian, penelitian ini digunakan 5 (lima) komponen
sebagaimana termasuk dalam definisi penerapan SMK3 dalam upaya pengendalian
kecelakaan bahwa kerugian dapat berwujud risiko kerja dan pencegahan timbulnya
penderitaan pada manusia, kerusakan pada masalah kesehatan dan keselamatan kerja,
harta benda, dan lingkungan serta kerugian yaitu: (i) komitmen dan kebijakan K 3, (ii)
pada proses produksi atau kerugian materi. perencanaan K 3, (iii) penerapan K 3 , (iv)
Kerugian-kerugian yang penting dan tidak pengukuran dan evaluasi K 3, (v) tinjauan
langsung adalah terganggunya proses ulang dan peningkatan SMK3 .
produksi dan menurunnya keuntungan.
Kerugian tersebut dapat diukur dengan biaya
yang dikeluarkan bagi terjadinya kecelakaan.

Penerapan SMK3 di Lingkungan Kerja Manufaktur ……….. (Lala Marlina dan Reda Rizal) 6
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tingkat Kepatuhan Berdasarkan Hasil Audit
SMK3 Kategori Tingkat Awal
Berdasarkan hasil pengambilan data dapat
diketahui PT. XYZ tingkat kepatuhan berdasarkan
hasil audit SMK3 kategori tingkat awal.

Tabel 2. Tingkat Kepatuhan Berdasarkan Hasil Audit SMK3


Kategori Tingkat Awal

Perusahaan
No. Elemen Total Memenuhi Tidak Memenuhi
Jumlah % Jumlah %
1. Pembangunan dan pemeliharaan
15 14 93,3 1 6,7
komitmen
2. Pembuatan dan dokumentasi rencana K3 2 2 100 - -
3. Pengendalian, perancangan dan
2 2 100 - -
peninjauan kontrak
4. Pengendalian dokumen 1 1 100 - -
5. Pembelian dan pengendalian dokumen 3 2 66,7 1 33,3
6. Keamanan bekerja berdasarkan SMK3 21 18 85,7 3 14,3
7. Standar pemantauan 8 7 87,5 1 12,5
8. Pelaporan dan perbaikan 1 - - 1 100
9. Pengelolaan material dan perpindahannya 7 7 100 - -
10. Pengembangan keterampilan dan
4 4 100 - -
kemampuan
64 57 Kriteria 7 Kriteria
Total
Kriteria (Memenuhi) (Tidak Memenuhi)

Sumber: Hasil Penelitian, 2015

Penerapan SMK3 Peraturan Pemerintah Tabel 3: Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria


Nomor 50 Tahun 2012 yang terdiri atas 10 Elemen 1
(sepuluh) elemen, yaitu: (i) pembangunan dan
Kriteria Elemen 1: Perusahaan
pemeliharaan komitmen ada 15 elemen, (ii) Pembangunan dan Tidak
pembuatan dan dokumentasi rencana K3 ada 2 No. Memenuhi
Pemeliharaan Memenuhi
elemen, (iii) pengendalian, perancangan dan Komitmen Jumlah % Jumlah %
1. Kebijakan K3 2 100 - -
peninjauan kontrak ada 2 elemen, (iv) 2. Tanggung jawab dan 3 75 1 25
pengendalian dokumen ada 1 elemen, (v) wewenang untuk
pembelian dan pengendalian dokumen ada 3 bertindak
elemen, (vi) keamanan bekerja berdasarkan 3. Tinjauan dan evaluasi 1 100 - -
4. Keterlibatan dan konsultasi 8 100 - -
SMK3 ada 21 elemen, (vii) standar pemantauan dengan tenaga kerja
ada 8 elemen, (viii) pelaporan dan perbaikan Sumber: Hasil Penelitian, 2015
kekurangan ada 1 elemen, (ix) pengelolaan
Pada elemen 1 kriteria yang belum
material dan perpindahannya ada 7 elemen, (x)
dilaksanakan adalah kriteria 1.2.2. Pada kriteria
pengembangan keterampilan dan kemampuan
1.2.2 penunjukkan penanggungjawab K3 harus
ada 4 elemen.
sesuai peraturan perundangan. Pada butir ini perlu
Berdasarkan hasil penelitian dapat
dilakukan perbaikan dengan adanya pembagian
diketahui bahwa beberapa pelanggaran terhadap
tanggungjawab (responisbility) dan tanggung
kriteria elemen yang belum tercapai dalam
gugat (acountability) pada seluruh jajaran
penerapan SMK3 oleh PT. XYZ yang dapat
managemen secara jelas akan sangat membantu
diuraikan sebagai berikut:
upaya pencegahan kerugian yang diakibatkan oleh
a. Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria
kecelakaan dan penyakit akibat kerja di tempat
Elemen 1
kerja. Manajer serta seluruh penyelia bagian
Terdapat satu tingkat pelanggaran
produksi, pemeliharaan, trasnportasi, serta
terhadap kriteria elemen 1 yang belum
manajemen lini lainnya harus mempunyai rasa
tercapai atau belum terpenuhi dalam
tanggungjawab yang lebih besar dalam
penerapan SMK3 oleh pihak manajemen
pelaksanaan K3 ke dalam produksi. Ini merupakan
PT. XYZ.
konsep pengintegrasian K3 ke dalam system
manajemen produksi, sehingga melalui konsep ini

7  BINA TEKNIKA, Volume 12 Nomor 1, Edisi Juni 2016, 1-10


barulah dapat dilaksanakan kegiatan produksi Pada elemen 6 kriteria yang belum
yang aman, sehat dan efisien. dilaksanakan adalah kriteria 6.5.3, 6.5.7 dan
b. Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria kriteria 6.7.6. Pada kriteria 6.5.3
Elemen 5 perusahaan harus membuat baru sertifikat
Terdapat satu tingkat pelanggaran crane yang sudah kadaluarsa berdasarkan
terhadap kriteria elemen 5 yang belum permenaker pesawat angkat dan angkut
tercapai atau belum terpenuhi dalam (Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5
penerapan SMK3 oleh pihak manajemen PT. Tahun 1985. Dengan dibuat kembalinya
XYZ. sertifikat tersebut, maka perusahaan secara
langsung telah mencegah terjadinya
Tabel 4: Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria kecelakaan kerja pada pekerja. Pada kriteria
Elemen 5 6.5.7 ini perlu dilakukan perbaikan dengan
Kriteria Elemen Perusahaan
5: Pembelian Tidak cara pengadaan penanda keselamatan kerja
Memenuhi yang berupa pelabelan misal: pada
No. dan Memenuhi
Pengendalian peralatan mesin mixer yang sudah tidak lagi
Jumlah % Jumlah %
Produk
1. Spesifikasi digunakan yang ada di bagian produksi
pembelian 1 50 1 50 harus diberikan pelabelan tanda peringatan
barang dan jasa bahwa peralatan agar tidak digunakan,
2. Sistem verifikasi
barang dan jasa 1 100 - -
misal: bentuk tanda atau label yang
yang telah dibeli digunakan untuk penandaan alat yang rusak
Sumber: Hasil penelitian, 2015 di berikan warna merah yang berarti
Pada elemen 5 kriteria yang belum penanda larangan untuk menggunakan alat
dilaksanakan adalah kriteria 5.1.1. Pada ini. Pada kriteria 6.7.6 ini pula, semua
kriteria 5.1.1 perusahaan harus membuat peralatan dan sistem tanda bahaya keadaan
dan memiliki prosedur pembelian barang darurat disediakan, diperiksa, diuji dan
dan jasa dimana ada spesifik K3 dan dipelihara secara berkala sesuai dengan
informasi lain terkait barang yang dibeli peraturan perundangan, standar dan
oleh perusahaan agar barang yang pedoman teknis yang relevan, termasuk
digunakan dapat dipakai secara aman oleh pula sprinkler yang harus diuji tingkat
pekerja. kelayakannya.
c. Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria
Elemen 6 d. Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria
Terdapat beberapa tingkat pelanggaran Elemen 7
terhadap kriteria elemen 6 yang belum Terdapat satu tingkat pelanggaran
tercapai atau belum terpenuhi dalam terhadap kriteria elemen 7 yang belum
penerapan SMK3 oleh pihak manajemen tercapai atau belum terpenuhi dalam
PT. XYZ. penerapan SMK3 oleh PT. XYZ.

Tabel 5: Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria Tabel 6: Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria
Elemen 6 Elemen 7

Perusahaan Perusahaan
Kriteria Elemen 6: Kriteria Elemen
Tidak Tidak
No Keamanan Bekerja Memenuhi No. 7: Standar Memenuhi
Memenuhi Memenuhi
Berdasarkan SMK3 Pemantauan
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1. Sistem kerja 4 100 - - 1. Pemeriksaan 1 100 - -
2. Pengawasan 1 100 - - bahaya
3. Seleksi dan penempatan 2. Pemantauan atau 2 66,7 1 33,3
2 100 - - pengukuran
personil
lingkungan kerja
4. Area terbatas 4 100 - -
3. Pemantauan 4 100 - -
5. Pemeliharaan, perbaikan
kesehatan tenaga
dan perubahan sarana 4 66,7 2 33,3
kerja
produksi
Sumber: Hasil Penelitian, 2015
6. Kesiapan untuk
menangani keadaan 1 50 1 50
darurat Pada elemen 7 kriteria yang belum
7. Pertolongan pertama pada dilaksanakan adalah kriteria 7.2.2. Pada
2 100 - -
kecelakaan
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 kriteria 7.2.2 perusahaan baru melakukan

Penerapan SMK3 di Lingkungan Kerja Manufaktur ……….. (Lala Marlina dan Reda Rizal) 8
pengukuran pada fisik, kimia dan biologi menyatakan tujuan-tujuan K3 yang akan
saja. Pada kriteria ini perlu dilakukan dilaksanakan, dan komitmen perusahaan
perbaikan dengan menambahkan aspek manufaktur dalam upaya memperbaiki kinerja
pengukuran ergonomi dan psikologi juga. K3. Kebijakan K3 ditandatangani oleh Direktur
Cara pemantauan untuk faktor ergonomi Perusahaan Manufaktur dan telah
harusnya dilakukan di area kegiatan disebarluaskan kepada seluruh pekerja di
produksi harus melakukan pengukuran perusahaan. Telah dibentuk susunan P2K3 PT.
ergonomi pada kursi dan meja yang di XYZ dan organisasi ini telah disahkan oleh
gunakan pekerja di bagian produksi secara pemerintah cq Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta
berkala, kemudian untuk faktor psikologi Timur.
harusnya perusahaan melakukan Tingkat keberhasilan penerapan SMK3
pengukuran beban kerja ataupun stres kerja Peraturan Pemerintah Nomor 50 tahun 2012 di
di departemen produksi supaya dapat PT. XYZ dengan jumlah kriteria yang tercapai
mengetahui tingkatan stres atau beban kerja adalah sebanyak 57 kriteria dari total 64 kriteria
karyawan dan sebagai tindak lanjut apabila penerapan K3 sehingga tingkat capaian kinerja
sudah tidak mengalami masalah akan dapat sebesar 89% (sangat baik). Sebanyak 7 kriteria
meningkatkan produktivitas kerja. dari 64 kriteria penerapan K3 sehingga terdapat
e. Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria 11% kriteria yang belum dicapai yaitu antara
Elemen 8 lain: (i) perusahaan belum memiliki Surat
Terdapat satu tingkat pelanggaran Keterangan penanggung jawab K3 yang sah bagi
terhadap kriteria elemen 8 yang belum setiap pekerja yang diberi tanggung jawab, (ii)
tercapai atau belum terpenuhi dalam belum memiliki prosedur mengenai pembelian
penerapan SMK3 oleh pihak manajemen peralatan atau bahan produksi, (iii) belum
PT. XYZ. membuat sertifikat baru atas kadaluarsanya
sertifikat crane, (iv) belum memiliki sistem
Tabel 7. Tingkat Pelanggaran terhadap Kriteria penandaan bagi peralatan yang sudah tidak
Elemen 8 aman lagi digunakan atau sudah tidak
Kriteria Elemen 8: Perusahaan digunakan, (v) belum menguji sistem tanda
No
Pelaporan dan
Memenuhi
Tidak bahaya keadaan darurat (sprinkler), (vi) belum
Perbaikan Memenuhi
Kekurangan Jumlah % Jumlah %
melakukan pengukuran lingkungan kerja, yaitu
1. Pemeriksaan dan - - 1 100 ergonomi dan psikologi, (vii) belum memiliki
pengkajian prosedur mengenai pemeriksaan dan pengkajian
kecelakaan
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 penyakit akibat kerja.
Pada elemen 8 kriteria yang belum DAFTAR PUSTAKA
dilaksanakan oleh pihak manajemen Anonim. 1960. Undang-Undang Nomor 9
manufaktur adalah kriteria 8.3.1. Pada Tahun 1960 Tentang Pokok Kesehatan.
kriteria 8.3.1 perusahaan hanya memiliki
prosedur mengenai kecelakaan kerja. Pada Anonim. 1970. Undang-Undang Nomor 1
kriteria ini perlu penambahan, yaitu Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
perusahaan harus membuat prosedur Anonim. 2003. Undang-Undang Nomor 13
tersendiri mengenai penyakit akibat kerja, Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
yang nantinya uraian prosedur tersebut
dapat digunakan sebagai pedomanan untuk Anonim. 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 50
menanganani dan melakukan penceganan tahun 2012 tentang Penerapan Sistem
dari timbulnya penyakit akibat kerja. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.
SIMPULAN Bakti, Zainal. 2014. Sistem Manajemen
PT. XYZ adalah perusahaan manufaktur Keselamatan dan Kesehatan Kerja
yang bergerak di bidang pengolahan material (SMK3) sesuai PP N0. 50 tahun 2012.
susu menjadi produk minuman dan makanan Diunduh dari http://www.a2k4-
dari unsur bahan baku utamanya adalah susu ina.net/informasi/163-sistim-manajemen-
sapi. PT. XYZ telah memiliki Kebijakan K3 keselamatan-dan-kesehatan-kerja-smk3-
yang tertulis, bertanggal dan secara jelas

9  BINA TEKNIKA, Volume 12 Nomor 1, Edisi Juni 2016, 1-10


sesuai-pp-no-50-tahun-2012 akses tanggal
4 Maret 2015.
Bannet N.B Silalahi dan Rumondang B.
Silalahi. 1995. Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja. Jakarta: PT.
Pustaka Binaman Pressindo.
Braga Indrayant, Sonya. 2000. Gambaran
Pelaksanaan SMK3 di PT. (Persero)
Pelabuhan Indonesia II Cabang Tanjung
Priok. Skripsi: UI.
Eko Nugroho, Fajar. 2013. Tinjauan
Implementasi Peraturan Pemerintah
Nomor 50 Tahun 2012 Tentang SMK3 di
PT. Marimas Putera Kencana Semarang.
Skripsi: UNS.
Jumianthyy, Sri. 2014. Makalah Audit dan
Inspeksi Program K3. Diunduh dari
http://www.slideshare.net/SriJumianthyyA
/makalah-audit-dan-inspeksi-program-
k3.html akses tanggal 15 Februari 2015.
Suma’mur, 2001. Keselamatan Kerja dan
Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: CV
Gunung Agung.
Suma’mur, 1998. Higene Perusahaan dan
Kesehatan Kerja. Jakarta: PT. Toko
Gunung Agung.

Penerapan SMK3 di Lingkungan Kerja Manufaktur ……….. (Lala Marlina dan Reda Rizal) 10