Anda di halaman 1dari 4

Kelompok 8

1. Asep Surya Lesmana


2. Japi Muhammad
3. Ropi Kuswandani

Kelas 2A

I. PENDAHULUAN
Pada tanggal 28 Oktober 1928 terjadi Kongres Pemuda yang melahirkan “Sumpah
Pemuda”. Kongres ini menyepakati “Sumpah Pemuda” yang mengubah nama bahasa
Melayu menjadi bahasa Indonesia dan mencetuskan sebagai bahasa persatuan. Seiring
berjalannya waktu, bahasa Indonesia ditegaskan kembali dalam UU RI No. 24 Tahun 2009
tentang bendera, bahasa, dan lambang negara. Hal ini membuktikan bahwa bahasa
Indonesia merupakan bahasa nasional yang perlu dijaga dan digunakan dengan baik dan
benar oleh semua lapisan masyarakat.
Eksistensi bahasa Indonesia pun menunjukkan bahwa banyak siswa yang tidak lulus
Ujian Nasional karena nilai bahasa Indonesia sangat buruk dan lulusan perguruan tinggi
kurang dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kondisi ini memperihatinkan,
sebab mencintai bahasa sesungguhnya tidak akan menurunkan martabat bangsa. Kita
banyak menemui penggunaan bahasa Indonesia yang kurang baik dan benar dalam
kehidupan sehari-hari. Entah dalam kondisi formal maupun nonformal atau lisan maupun
tulisan. Makalah ini akan menganalisa pidato resmi Presiden sesuai dengan UU No. 8
Tahun 2009 Pasal 28 tentang Pidato Presiden.

II. ANALISIS
UU No. 24 Tahun 2009 pasal 28 tentang Pidato Presiden
Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi Presiden, Wakil Presiden, dan
pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri.

1. Kutipan pidato Presiden Joko Widodo dalam KTT OKI di Jakarta pada tanggal 7 Maret
2016 :
“Pada tahun 1962, Bapak Bangsa Indonesia pertama Ir. Soekarno menegaskan selama
kemerdekaan Palestina belum diserahkan kepada orang – orang Palestina maka selama
itulah Indonesia berdiri menantang Israel. Kami bangsa Indonesia konsisten dengan
janji tersebut.”
Analisa : Pidato diatas telah sesuai dengan UU No, 24 tahun 2009 tentang Pidato
Presiden.

2. Kutipan pidato Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Desember 2016 :


“Perlu saya sampaikan urusan bensin untuk menyelesaikan itu harus memakai
tambahan transportasi 800 milyar, ada yang menyampaikan ke saya 800 milyar itu duit
gede loh. Saya sampaikan saya bertanggungjawab.”
Analisa : Dalam forum yang penting tentunya penggunaan diksi yang tepat sangatlah
dibutuhkan. Seperti kata bensin yang seharusnya diganti dengan BBM (Bahan Bakar
Minyak).

3. Kutipan pidato Presiden Joko Widodo di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 2016 dalam
memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-72 :
“Saudara-saudaraku di Miangas, Tabea, Sansiote Sang Patepate Salam, Kebersamaan
dalam Persatuan.”
Analisa : Pada pidato tersebut, Presiden Joko Widodo menyebutkan beberapa kali
bahasa daerah. Bahasa daerah yang disebutkan pun beragam serta mengandung arti
yang menunjukan identitas bangsa. Penyebutan bahasa daerah ini dimaksudkan untuk
menunjukan keberagaman suku bangsa di Indonesia, begitupun dengan keberagaman
bahasa daerahnya.

4. Pidato Presiden Joko Widodo dalam forum chief executive officer (CEO) pada
Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation di Beijing, Cina
menggunakan bahasa Inggris. Tentunya hal ini melanggar UU No. 24 Tahun 2009 pasal
28 tentang pidato Presiden. Dalam UU tersebut disebutkan jelas bahwa Presiden harus
menggunakan Bahasa Indonesia dalam pidato resminya baik di dalam ataupun di luar
negeri. Pada kesempatan ini Presiden Joko Widodo mengatakan "Kami menunggu
Anda datang ke Indonesia. Kami menunggu Anda untuk berinvestasi di Indonesia,"
dalam bahasa Inggris.

5. Pidato Presiden Joko Widodo dalam ajang puncak Konferensi Asia Afrika (KAA) di
JCC Senayan pada 22 April 2015 dinilai cukup bagus, baik dari konten juga dari bahasa.
Pidato yang cukup singkat tersebut sudah sesuai dengan UU No. 24 tahun 2009 pasal
28 tentang pidato Presiden.

6. Presiden ke-6 Republik Indonesia yaitu Susilo Bambang Yudhoyono beberapa kali
menggunakan bahasa Inggris dalam pidato resminya. Seperti pada acara workshop
"Tropical Forest Alliance 2020: Promoting Sustainability and Productivity in the Palm
Oil and Pulp And Paper Sector di Jakarta pada tanggal 27 Juni 2013 yang lalu. Tentunya
hal ini melanggar UU No. 24 tahun 2009 pasal 28 tentang pidato Presiden. Apalagi
pidato tersebut disampaikannya didalam negeri. Seharusnya Presiden SBY berpidato
dalam bahasa Indonesia walaupun para hadirin merupakan orang asing asalkan
langsung diikuti dengan penerjemahan dalam bahasa Inggris.

III. KESIMPULAN

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang


Negara, serta Lagu Kebangsaan menentukan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa negara
dan bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah NKRI. Dalam UU 24/2009,
penggunaan bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggan nasional,
sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antardaerah dan
antarbudaya daerah. UU ini memuat berbagai ketentuan yang mewajibkan penggunaan
bahasa Indonesia, salah satunya sebagaimana dimuat dalam Pasal 28 yang menyatakan,
”Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi Presiden, Wakil Presiden, dan
pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri”.
Referensi :

1. Tempo.co, 10 November 2014 (https://nasional.tempo.co/read/620983/pidato-


berbahasa-inggris-jokowi-bisa-langgar-sumpah)
2. Tirto.id, 16 Agustus 2017 (https://tirto.id/teks-lengkap-pidato-kenegaraan-presiden-
jokowi-cuFy)
3. Garuda Militer, 26 April 2015 (https://garudamiliter.blogspot.co.id/2015/04/pidato-
presiden-ri-di-kaa.html)
4. Belajar bahasa Inggris, 14 Juli 2013
(http://bahasainggris4us.blogspot.co.id/2013/07/pidato-bahasa-inggris-pak-sby.html)