Anda di halaman 1dari 24

KARYA ILMIAH

EKONOMI PEMBANGUNAN
TERHADAP PENGANGGURAN DI
INDONESIA

Disusun Oleh:
Abd. Hakim Afiaha
(C1A018136)

Dosen Pengampu:
Prof. Drs. H. Yundi Fitrah M.Hum., Ph.D

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah memberikan rahmat taufik dan hidayah-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah ini

dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Penulisan makalah yang berjudul “Ekonomi Pembangunan terhadap

Pengangguran di Indonesia” ini, bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan

dampak dari pengangguran terhadap masyarakat Indonesia pada umumnya.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, itu

dikarenakan kemampuan penulis yang terbatas. Namun berkat bantuan dan

dorongan serta bimbingan dari guru pembimbing, serta berbagai bantuan dari

berbagai pihak, akhirnya pembuatan karya tulis ini dapat terselesaikan tepat pada

waktunya.

Penulis berharap dengan penulisan karya tulis ini dapat bermanfaat

khususnya bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca umumnya serta semoga

dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengembangkan dan meningkatkan

prestasi di masa yang akan datang.

Jambi, 25 November 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................ 3

C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian pengangguran ..................................................................... 4

B. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi ....................................................... 5

C. Jenis Pengangguran .............................................................................. 6

D. Penyebab Pengangguran ...................................................................... 8

E. Dampak Pengangguran ........................................................................ 9

F. Pertumbuhan Kesempatan Kerja Dan Pengangguran .......................... 9

G. Pemerataan Pembangunan dan Kesempatan Kerja .............................. 12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan .......................................................................................... 14

B. Saran ..................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Setiap orang tentu tidak ingin menjadi seorang pegangguran.

pengangguran berdampak buruk pada laju pembangunan ekonomi.

banyaknnya pengangguran akan menjadi beban keluarga dan masyarakat,

sumber utama kemiskinan, meningkatnya kriminal dan keresahan sosial serta

menghambat pembangunan. Menurut buku Rusdarti, Kusmuriyanto (2010:13)

Pengangguran yang besar menunjukkan tingkat produktivitas masyarakatnya

rendah. rendahnya produktivitas mengakibatkan pendapatan yang mereka

terima juga rendah dan juga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

Menurut buku Amri Amir (2007) Pertumbuhan ekonomi merupakan

salah satu indikator yang amat penting dalam menilai kinerja suatu

perekonomian, terutama untuk melakukan analisis tentang hasil pembangunan

ekonomi yang telah dilaksanakan suatu negara atau suatu daerah. Ekonomi

dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi barang dan jasa

meningkat dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan

sejauh mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan tambahan

pendapatan atau kesejahteraan masyarakat pada periode tertentu. Pertumbuhan

ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunjukkan

peningkatan menggambarkan bahwa perekonomian negara atau wilayah

tersebut berkembang dengan baik.

1
Menurut buku Todaro (1988) Pembangunan ekonomi adalah sebuah

proses multidimensi yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam

struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti halnya

percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan dan

pemberantasan kemiskinan mutlak. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan

berkelanjutan merupakan kondisi utama suatu keharusan bagi kelangsungan

pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah

penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan

konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan

penambahan pendapatan tahun 1997, tingkat pengangguran di Indonesia pada

umumnya di bawah 5 persen dan pada tahun 1997 sebesar 4,68 persen.

Tingkat pengangguran sebesar 4,68 persen masih merupakan pengangguran

dalam skala yang wajar. Dalam negara maju, tingkat penganggurannya

biasanya berkisar antara 2-3 persen, hal ini disebut Tingkat pengangguran

alamiah. Menurut buku Sadono Sukirno (2008) Tingkat pengangguran

alamiah adalah suatu tingkat pengangguran yang alamiah dan tak mungkin

dihilangkan. Artinya jika tingkat pengangguran paling tinggi 2 - 3 persen itu

berarti bahwa perekonomian dalam kondisi penggunaan tenaga kerja penuh

(full employment). Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar

dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang

(gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut semakin membesar setelah krisis

ekonomi. Dengan adanya krisis ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan

angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus

2
makin dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini

menyebabkan tingkat pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun terus

semakin tinggi. Dalam meningkatkan ekonomi pembangunan pemerintah

harus meningkatkan pendapatan perkapita, tetapi saat ini pendapatan

perkapital negara kita masih bisa dibilang rendah. Rendahnya pendapatan

perkapital tersebut dikarenakan banyaknya pengangguran yang terjadi. Untuk

itu pemeritah harus melakukan perbaikan. Yang dimaksud dengan perbaikan

itu sendiri adalah Peningkatan jumlah ketenagakerjaan yang bekerja dan

menurunnya jumlah pengangguran. Seperti contoh pada tahun 2010 jumlah

angkatan kerja yang semula 116 juta naik menjadi 118,26 juta dibandingkan

dengan tahun sebelumnya tahun 2009. Sebenarnya jumlah pengangguran

dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan

jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen.

Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi

pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat

kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga

dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan

keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat

menyebabkan kekacauan keamanan politik dan sosial sehingga mengganggu

pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah

menurunnya pendapatan nasional dan pendapatan perkapita Negara.

Di negara-negara berkembang seperti Negara kita, dikenal istilah

"pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa

3
dilakukan dengan tenagakerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.

(id.wikipedia.org).

B. Rumusan Masalah

Adapaun rumusan masalah pada karya ilmiah ini penulis ingin mengatui lebih

dalam hubungan antara ekonomi pembangunan terhadap pengangguran di

Indonesia

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan karya ilmiah tentang ini yaitu untuk memenuhi tugas

dari dosen kami Prof. Drs. H. Yundi Fitrah M. Hum., Ph. D khususnya dan

untuk memperluas wawasan tentang ekonomi pembangunan terhadap

Pengangguran di Indonesia tujuan umumnya.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian pengangguran

Pengertian penganguran adalah sebutan untuk suatu keadaan di mana

masyarakat tidak bekerja.Menganggur adalah mereka yang tidak mempunyai

pekerjaan dalam kurun waktu seminggu sebelum pencacahan dan sedang

berusaha mencari pekerjaan dan ini mencangkup mereka yang sedang

menunggu panggilan terhadap lamaran kerja yang di ajukan atau sedang tidak

mencari kerja karena beranggapan tidak ada kesempatan kerja yang tersedia

untuk dirinya walaupun dia sanggup.

keadaan yang ideal, diharapkan besarnya kesempatan kerjasama

dengan besarnya angkatan kerja, sehingga semua angkatan kerja akan

mendapatkan pekerjaan. Pada kenyataannya keadaan tersebut sulit untuk

dicapai. Umumnya kesempatan kerja lebih kecil dari pada angkatan kerja,

sehingga tidak semua angkatan kerja akan mendapatkan pekerjaan, maka

timbullah penggangguran.

Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja yang belum

bekerja atau bekerjasecara tidak optimal. Berdasarkan pengertian tersebut,

maka pengangguran dapatdibedakan menjadi tiga macam.

1. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment)

Pengangguran terbuka adalah tenaga kerja yang betul-betul tidak

mempunyai pekerjaan. Pengangguran ini terjadi ada yang karena belum

5
mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal dan ada juga

yang karena malas mencari pekerjaan atau malas bekerja.

2. Pengangguran Terselubung (Disguessed Unemployment)

Pengangguran terselubung yaitu pengangguran yang terjadi karena

terlalu banyaknya tenaga kerja untuk satu unit pekerjaan padahal dengan

mengurangi tenaga kerja tersebut sampai jumlah tertentu tetap tidak

mengurangi jumlah produksi. Pengangguran terselubung bisa juga terjadi

karena seseorang yang bekerja tidak sesuai dengan bakat dan

kemampuannya, akhirnya bekerja tidak optimal.

Contoh:

Pada sebuah kantor terdapat 10 tenaga administrasi yang menangani

pekerjaan yang ada. Padahal dengan jumlah tenaga 6 orang saja semua

pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik. Akibatnya para pegawai

tersebut bekerja tidak optimal dan bagi kantor tentu merupakan suatu

pemborosan.

3. Setengah Menganggur (Under Unemployment)

Setengah menganggur ialah tenaga kerja yang tidak bekerja secara

optimal karena tidak ada pekerjaan untuk sementara waktu. Ada yang

mengatakan bahwa tenaga kerja setengah menganggur ini adalah tenaga

kerja yang bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu atau kurang dari 7

jam sehari. Misalnya seorang buruh bangunan yang telah menyelesaikan

pekerjaan di suatu proyek, untuk sementara menganggur sambil menunggu

proyek berikutnya.

6
B. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

Menurut buku Suparmoko (1997) Pembangunan ekonomi merupakan

salah satu sasaran pembangunan. Pembangunan dalam arti luas mencakup

aspek kehidupan baik ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan

keamanan dan lain sebagainya. Pembangunan ekonomi adalah usaha-usaha

untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang sering kali dengan

pendapatan riil perkapita. Selanjutnya, Menurut buku Asyard (1997)

pembangunan ekonomi perlu dipandang sebagai kenaikan dalam pendapatan

perkapita, karena kenaikan merupakan penerimaan dan timbulnya dalam

kesejahteraan ekonomi masyarakat. Laju pembangunan ekonomi suatu negara

diukur dengan menggunakan tingkat pertumbuhan GDP/GNP.

Menurut buku Todaro (1988) ia menjelaskan lima pendekatan teori

klasik pembangunan ekonomi, yaitu : Teori tahapan linier dan pembangunan

sebagai pertumbuhan; model perubahan struktural; revolusi ketergantungan

internasional; kontrarevolusi neoklasik dan teori pertumbuhan baru. Model

Pertumbuhan Harold-Domar atau Harold Domar, Neoklasikal dari Solow, dan

teori pertumbuhan baru atau teori Endogen oleh Romer maka dapat diambil

kesimpulan bahwa terdapat tiga faktor utama.

Menurut buku Sadono Sukirno (2008) pertumbuhan ekonomi berarti

perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan

jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran

masyarakat meningkat. Dengan demikian untuk menentukan tingkat

pertumbuhan ekonomi yang dicapai perlu dihitung pendapatan nasional riil

7
menurut harga tetap yaitu pada harga-harga yang berlaku ditahun dasar yang

dipilih. Jadi pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan

suatu perekonomian.

C. Jenis Pengangguran

Adapun jenis pengangguran yaitu sebagai berikut:

1. Pengangguran Friksional (Transisional).

Pengangguran ini timbul karena perpindahan orang-orang dari satu

daerah ke daerah lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain dan

karena tahapan siklus hidup yang berbeda.

Contoh:

 Perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri, untuk

sementara menganggur.

 Berhenti dari pekerjaan yang lama, mencari pekerjaan yang baru yang

lebih baik

2. Pengangguran Struktural

Pengangguran struktural adalah pengangguran akibat keadaan

ekonomi. Perubahan struktur ekonomi akhirnya mengalami perubaahana

dalam kebutuhan tenaga kerja. Struktur ekonomi agraris berubah menjadi

sistem struktur Industri, yang menuntut perubahan keterampilan yang

dapat menunjang industri.

Beberapa kasus pengangguran struktural terjadi pada 1998, pada

saat bangsa Indonesia mengalami krisis moneter. Banyak pekerja pabrik,

8
pegawai bank dan perusahaan-perusahaan serta lembaga-lembaga lainnya

yang mengalami kerugian, sehingga dilakukan pemutusan hubungan kerja

(PHK). Pada tahun tersebut, tingkat pengangguran di Indonesia begitu

tinggi.

Pengangguran struktural dapat diatasi jika pemerintah melakukan

dan mengeluarkan peraturan serta kebijakan yang memihak rakyat. Di

samping itu, pengganggur pun harus memperdalam keahlian dan

kemampuannya Pengangguran ini terjadi karena adanya perubahan dalam

struktur perekonomian yangmenyebabkan kelemahan di bidang keahlian

lain. Contoh: Suatu daerah yang tadinya agraris (pertanian) menjadi daerah

industri, maka tenaga bidang pertanian akan menganggur.

3. Pengangguran Siklikal atau Siklus atau Konjungtural

Pengangguran ini terjadi karena adanya gelombang konjungtur,

yaitu adanya resesi atau kemunduran dalam kegiatan ekonomi. Contoh: Di

suatu perusahaan ketika sedang maju butuh tenaga kerja baru untuk

perluasan usaha. Sebaliknya ketika usahanya merugi terus maka akan

terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) atau pemecatan.

4. Pengangguran Musiman (Seasonal)

Pengangguran musiman terjadi karena adanya perubahan musim.

Contoh: pada musim panen, para petani bekerja dengan giat, sementara

sebelumnya banyak menganggur.

9
5. Pengangguran Teknologi

Pengangguran ini terjadi karena adanya penggunaan alat–alat

teknologi yang semakin modern. Contoh, sebelum ada penggilingan padi,

orang yang berprofesi sebagai penumbuk padi bekerja, setelah ada mesin

penggilingan padi maka mereka tidak bekerja lagi.

6. Pengangguran Politis

Pengangguran ini terjadi karena adanya peraturan pemerintah yang

secara langsung atau tidak, mengakibatkan pengangguran. Misalnya

penutupan Bank-bank bermasalah sehingga menimbulkan PHK.

7. Pengangguran Deflatoir

Pengangguran deflatoir ini disebabkan tidak cukup tersedianya

lapangan pekerjaan dalam perekonomian secara keseluruhan, atau karena

jumlah tenaga kerja melebihi kesempatan kerja, maka timbullah

pengangguran. Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang

yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari

dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha

mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan

karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak

sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu

menyerapnya.

8. Penganggur Voluntary

Penganggur voluntary adalah penganggur yang sebenarnya mampu

bekerja, namun memilih tidak bekerja karena mempunyai usaha. Misalnya,

10
membuka rental mobil, membuka kos-kosan, dan lain-lain. Penganggur

voluntary bisa membuka lapangan pekerjaan untuk penganggur lainnya.

D. Penyebab Pengangguran

Beberapa hal yang menyebabkan pengangguran antara lain:

1. Penduduk yang relatif banyak

2. Pendidikan dan keterampilan yang rendah

3. Angkatan kerja tidak dapat memenuhi persyaratan yang diminta dunia

kerja

4. Teknologi yang semakin modern

5. Pengusaha yang selalu mengejar keuntungan dengan cara melakukan

E. Dampak Pengangguran

Pengangguran bisa menimbulkan dampak negatif, yang bukan hanya

bagi sang penganggur, namun juga bagi masyarakat di sekitarnya.

Pengangguran membawa permasalahan ekonomi suatu keluarga, yang bisa

menyebabkan terganggunya kondisi psikis seseorang. Misalnya, terjadi

pembunuhan akibat masalah ekonomi, terjadi pencurian dan perampokan

akibat masalah ekonomi, rendahnya tingkat kesehatan dan gizi masyarakat,

kasus anak-anak terkena busung lapar, juga terjadinya kekacauan sosial dan

politik seperti terjadinya demonstrasi dan perebutan kekuasaan.

11
F. Pertumbuhan Kesempatan Kerja Dan Pengangguran

Menurut buku Zainab Bakir (1984:7-15) Pertumbuhan kesempatan

kerja pada tahun 1970-an melebihi pertumuhan angkatan kerja dan

pengangguran terbuka Nampak telah menurun. Pengangguran terbuka

terhitung rendah menurut standar internasional selama tahun 1970-an,

sedangkan hasil sensus menunjukkan bahwa ia telah menurun lagi pada tahun

1980, terutama di wilayah perkotaan. Walaupun demikian, sebelum

membicarakan isu-isu itu, secara ringkas kita perlu meninjau kelompok

penganggur terbuka yang relatif kecil dan kelompok setengah penganggur

yang jauh lebih besar.

Orang-orang miskin yang tidak menerima bantuan dari pemerintah

tidak akan menjadi penganggur dan banyak terpaksa mencari nafkah melalui

usaha sendiri dengan modal kecil atau tanpa modal sama sekali. Lebih dari itu,

bahkan di wilayah perkotaan, saluran resmi untuk mencari pekerjaan sangat

terbatas dan usaha pemerintah kearah itu dengan dibagikan “kartu kuning”

kiranya akan tetap memenuhi kesulitan selama jumlah pencari kerja di sektor

modern jauh melebihi jumlah pekerjaan baru yang tersedia. Biro Pusat

Statistik sejak tahun 1976 telah mencoba menyediakan data yang

memungkinkan analisa tentang pengangguran dalam kerangka pemanfaatan

tenaga kerja tidak penuh (labour under utilization) yang lebih luas.

Analisa SAKERNAS 1976, SUPAS 1976 dan Sensus 1980

menunjukkan bahwa jumlah minggu kerja penuh yang hilang, karena orang-

orang bekerja dengan jam kerja yang pendek di wilayah pedesaan,

12
menyebabkan penghamburan sumber daya manusiawi paling tidak sepuluh

kali lipat lebih besar daripada kehilangan waktu kerja karena pengangguran

terbuka. Di wilayah perkotaan, tingkat pengangguran yang ekivalen dengan

setengah pengangguran sekitar dua sampai tiga kali lebih besar daripada

pengangguran terbuka. Penyediaan lowongan pekerjaan bagi setengah

penganggur di wilayah pedesaan jelas merupakan masalah utama pemanfaatan

tenaga kerja tidak penuh.

Rendahnya tingkat pengangguran terbuka yang menyeluruh semestinya

tidak menjadi alasan untuk menolak semua pembicaraan tentang data

pengangguran. Tingkat pengangguran di kota yang sedikit di bawah 3 persen

pada tahun 1980 dan mendekati 6 persen menurut berbagai survei angkatan

kerja nasional 1976-1979 cukup besar untuk diperhatikan. Pola dasar

pengangguran di kota pada umumnya tetap tidak berubah sejak tahun 1971; ia

terutama berpengaruh terhadap penduduk muda, pemuda yang mencari

pekerjaan untuk pertama kalinya dan yang berpendidikan tamat sekolah dasar

atau sekolah menengah. Dengan demikian, pada tahun 1980 hampir dua

pertiga penganggur di kota berusia 15-24 tahun, 84 persen dari mereka

mencari pekerjaan untuk pertama kalinya dan sekitar 90 persen belum kawin.

Tingkat pengangguran yang paling tinggi di alami oleh lulusan SLTA,

meskipun separuh dari semua penganggur di kota (dan 46 persen dari yang

berusia 15-24 tahun) berpendidikan sekolah dasar atau kurang. Berbeda

dengan penemuan-penemuan Sensus 1971 dan SAKERNAS 1976-1978, pada

tahun 1980 pengangguran wanita dilaporkan lebih tinggi daripada tingkat

13
pengangguran laki-laki, ini mungkin berarti bahwa kesempatan kerja bagi

wanita terutama di kota akhir-akhir ini relatif lebih sulit dibandingkan dengan

pria; namun agaknya terlalu awal untuk menarik kesimpulan mangenai hasil

ini bagi kesempatan kerja wanita di masa mendatang.

Menurut survei angkatan kerja nasional dan sensus, selama periode

1976-1980 persentase penduduk yang berkerja kurang dari 35 jam rata-rata

mencapai 12 persen untuk pria dan 24 persen untuk wanita di kota, sedangkan

di desa ini mencapai 30 persen dan 49 persen bagi masing-masing jenis

kelamin. Angka setengah pengangguran ini sangat stabil dari tahun ke tahun

dan hampir tidak berbeda antara Jawa dan luar Jawa misalnya khusus untuk

laki-laki desa yang berkisar antara 27 dan 31 persen di Jawa dan sedikit lebih

banyak bervariasi, yaitu 27-37 persen di luar Jawa menurut SAKERNAS

1976, 1977 (angka rata-rata) 1978 (angka rata-rata) dan Sensus 1980. Namun,

sebagaimana dengan data pengangguran terbuka, kita perlu berhati-hati dalam

menafsirkan arti penting data makro mengenai setengah pengangguran.

Pertama, walaupun sejumlah besar tenaga bekerja sedikit jam dalam satu

minggu, tenaga ini tidak tentu semuanya bersedia atau sanggup menambah

jam kerja; bagi sebagian (terutama wanita, mereka yang masih sekolah atau

tua) pekerjaan merupakan kegiatan sambilan, yaitu mereka bekerja part-time.

Misalnya, menurut data SAKERNAS 1976 hanya 39 persen laki-laki dan 31

persen perempuan yang bekerja kurang dari 35 jam di pedesaan di Indonesia

mengatakan bahwa mereka bersedia menerima pekerjaan lagi. Ini berarti

hanya sekitar 10 persen laki-laki dan 15 persen perempuan pada hakekatnya

14
termasuk setengah penganggur, dalam arti dapat terserap kesempatan kerja

baru. Masalah kedua dengan data setengah pengangguran ialah kecenderungan

dalam survei makro untuk underestimatimate jam kerja seseorang terutama di

pedesaan; hampir semua survei mikro melaporkan jam kerja yang lebih

panjang seminggu daripada survei makro, bahkan beberapa studi intensif

menemukan bahwa pria cenderung bekerja 42-56 jam rata-rata seminggu dan

wanita 35-40 jam, dengan sedikit sekali penduduk tercatat sebagai setengah

penganggur (White, 1976:275) Mengingat masalah-masalah ini, dapat

disimpulkan bahwa sangat sulit merumuskan kebijakan atas dasar data makro

mengenai jam kerja seminggu. Barangkali dari semua data angkatan kerja,

data inilah paling sulit di interpretasi.

G. Pemerataan Pembangunan dan Kesempatan Kerja

Menurut buku Soeroto (1986:40-41) Perluasan kesempatan kerja mulai

memperoleh pertahian dalam pembanguan sejak Pembangunan Lima Tahun

(PELITA) Kedua. Dalam Repelita II yang berlaku dari 1 April 1974 sampai

dengan 31 Maret 1979 disebutkan bahwa tujuan pembangunan adalah :

1. Pertumbuhan pendapatan yang setinggi-tingginya

2. Perluasan kesempatan kerja

3. Pembagian pendapatan yang adil dan merata

Dalam persiapan pembuatan Repelita III yang berlaku antara 1 April

1979 s/d 31 Maret 1984 kita mulai menyadari bahwa demi sukses jangka

panjang penggunaan sumber-sumber pembangunan secara optimal, baik itu

15
sumber alam atau sumber daya manusia mutlak diperlukan. Semangat

membangun dikalangan rakyat perlu didorong. Oleh karenanya usaha untuk

menjabarkan asas pemerataan yang menuju kepada terciptanya keadilan sosial

dalam setiap kebijaksanaan pembangunan di tuangkan dalam 8 jalur

pemerataan sebagai berikut :

1. Pemerataan kebutuhan pokok rakyat banyak, khususnya pangan, sandang

dan perumahan

2. Pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan dan pelayanan kesehatan

3. Pemerataan pembagian pendapatan

4. Pemerataan kesempatan kerja

5. Pemerataan kesempatan berusaha

6. Pemerataan berpartisispasi dalam pembangunan, khususnya bagi generasi

muda dan kaum wanita

7. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air

8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan

Dalam usaha pemerataan pembangunan serta pembagian hasil-hasilnya

diharapkan semua sumber pembangunan dapat dikembangkan, dimobilisir dan

digerakkan secara maksimal. Dengan pemerataan pemenuhan kebutuhan

pokok rakyat banyak, kesempatan pendidikan dan pelayanan kesehatan,

pembagian pendapatan serta pemerataan memperoleh keadilan, dimaksudkan

agar kemampuan sumber daya manusia dapat dikembangan; serta ketenangan,

ketentraman dan semangat masyarakat dipelihara dan ditingkatkan. Dengan

cara ini diharapkan seluruh rakyat dapat dihimpun menjadi satu kekuatan

16
membangun yang dahsyat. Disamping itu dengan pemerataan kesempatan

kerja, kesempatan berusaha, kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan

dan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air, diharapkan segala sumber

daya alam, sumber pembiayaan, serta seluruh sumber daya manusia yang

sudah terhimpun tersebut dapat digunakan dalam pembangunan secara nyata

dan produktif.

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak

bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari

selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan

pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah

angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah

lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya.

2. Pengangguran dapat di golongkan menjadi beberapa jenis seperti :

a. Pengangguran Ketidakcakapan adalah pengangguran yang terjadi

karena seseorang mempunyai cacat fisik atau jasmani, sehingga dalam

dunia perusahaan mereka sulit untuk diterima menjadi

pekerja/karyawan.

b. Pengangguran tak kentara atau pengangguran terselubung (disguised

unemployment or invisible unemployment) adalah pengangguran yang

terjadi apabila para pekerja telah menggunakan waktu kerjanya secara

penuh dalam suatu pekerjaan, tetapi dapat ditarik ke sektor lain tanpa

mengurangi outputnya.

c. Pengangguran kentara atau pengangguran terbuka

(visible unemployment) adalah pengangguran yang timbul karena

kurangnya kesempatan kerja atau tidak adanya lapangan pekerjaan.

18
3. Pembangunan ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf

hidup suatu bangsa yang sering kali dengan pendapatan riil perkapita

(buku Suparmoko (1997)).

4. Perluasan kesempatan kerja mulai memperoleh pertahian dalam

pembanguan sejak Pembangunan Lima Tahun (PELITA) Kedua. Dalam

Repelita II yang berlaku dari 1 April 1974 sampai dengan 31 Maret 1979

disebutkan bahwa tujuan pembangunan adalah:

a. Pertumbuhan pendapatan yang setinggi-tingginya.

b. Perluasan kesempatan kerja.

c. Pembagian pendapatan yang adil dan merata

5. Usaha untuk menjabarkan asas pemerataan yang menuju kepada

terciptanya keadilan sosial dalam setiap kebijaksanaan pembangunan di

tuangkan dalam 8 jalur pemerataan sebagai berikut :

a. Pemerataan kebutuhan pokok rakyat banyak, khususnya pangan,

sandang dan perumahan.

b. Pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan dan pelayanan

kesehatan.

c. Pemerataan pembagian pendapatan.

d. Pemerataan kesempatan kerja.

e. Pemerataan kesempatan berusaha.

f. Pemerataan berpartisispasi dalam pembangunan, khususnya bagi

generasi muda dan kaum wanita.

g. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air.

19
h. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

B. Saran

Dalam mengatasi pengangguran yang ada di Indonesia ada baiknya

pemerintah menyediakan lapangan kerja untuk masyarakat sesuai

keterampilan masing-masing sehingga masyarakat mempunyai kesempatan

dalam bekerja.Demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan

meningkatnya pertumbuhan ekonomi Negara Indonesia maka Indonesia juga

akan mengalami peningkatan dalam ekonomi pembangunan.

Karena itu setiap orang mempunyai pekerjaan yang berharga dalam

masyarakat memperoleh rasa harga diri, kepercayaan pada kemampuan diri

pribadi dan perasaan kepastian mengenai hidupnya pada hari ini dan di waktu-

waktu mendatang. Semuanya ini akan dapat menimbulkan kesediaan untuk

lebih mengorbankan tenaganya dalam pembangunan di samping memberikan

kepuasan batin kepada diri sendiri.

20
DAFTAR PUSTAKA

Swasono, Edi, Sri. 1985. Sistem Ekonomi Dan Demokrasi Ekonomi, Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Bakir, Zainab, Manning, Chris. 1984. Angkatan Kerja di Indonesia, CV. Rajawali,
Jakarta.
Soeroto. 1986. Strategi Pembangunan dan Perencanaan Tenagakerja, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
Rusdarti, Kusmuriyanto. 2010. Ekonomi Fenomena di sekitar Kita 2, PT Tiga
serangkai Pustaka Mandiri, Platinum, Jawa Tengah.
Todaro, P Michael. 1988. Pembangunan Ekonomi di Dunia ke-3, Erlangga,
Jakarta.
Amri, Amir. 2007. Pengaruh Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap
Pengangguran di Indonesia, Jurnal Inflasi dan Pengangguran Vol. 1 no. 1,
Jambi.
Sadono, Sukirno. 2008. Makroekonomi, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Arsyad, Lincolin. 1997. Ekonomi Pembangunan, Edisi Ketiga, Penerbit BP STIE
YKPN, Yogyakarta.
http://jurnalilmiahtp2013.blogspot.com/2013_12_01_archive.html
https://zain99.wordpress.com/fakultas-ekonomi/ekonomi-pembangunan/62-2/
http://eprints.undip.ac.id/26483/2/Jurnal_Skripsi.pdf
http://jurnalilmiahtp2013.blogspot.com/2013/12/ekonomi-pembangunan-
terhadap.html
http://ssbelajar.blogspot.com/2013/01/jenis-jenis-pengangguran.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Pertumbuhan_ekonomi
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengangguran

Anda mungkin juga menyukai