Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya untuk
memenuhi kebutuhan dan meningkatkan taraf hidupnya. Dengan adanya manusia sebagai
makhluk sosial inilah maka manusia harus selalu menjalin hubungan baik dengan manusia
lainnya, salah satunya dengan cara bersilaturrahim. Silaturrahim berasal dari bahasa Arab yang
artinya menyambung tali kasih sayang.
Menyambung tali kasih sayang sangat penting dilakukan oleh umat manusia. Karena,
dengan menyambung tali kasih sayang akan mempererat hubungan persaudarn antar umat
manusia.
Dalam makalah ini, penulis akan berusaha membahas tentang hal-hal yang berkaitan
dengan persaudaraan atau yang biasa disebut Ukhuwah.

1
A. Pengertian Ukhuwah
Ukhuwah secara bahasa berasal dari kata ‫( أخ‬akhun) yang artinya saudara. Ukhuwah
berarti persaudaraan. Maksudnya adanya perasaan simpati dan empati antara dua orang
atau lebih. Masing-masing memiliki satu kondisi atau perasaan yang sama, baik suka maupun
duka, baik senang maupun sedih. Jalinan perasaan ini menimbulkan sikap timbal balik untuk
saling membantu bila pihak lain mengalami kesulitan, dan sikap saling membagi kesenangan
kepada pihak lain mengalami kesulitan. Ukhuwah yang perlu kita jalani bukan hanya inter
seagama saja. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah antar umat beragama.

B. Macam-Macam Ukhuwah
Manusia yang baik adalah manusia yang dapat menjalin dan mempererat ukhuwah
antar sesama manusia. Ada tiga macam ukhuwah yang seharusnya dijalin di kehidupan
manusia, yaitu:

1. Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allaah
kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih
sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah.

Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa setiap mukmin adalah saudara yang


diperintahkan Allah untuk saling mengikrarkan perdamaian dan berbuat kebajikan di
antara satu dengan yang lainnya, dalam rangka taat kepada-Nya. Sebagaimana dijelaskan
Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat ayat 10 :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara. Oleh karena itu pereratlah
simpul persaudaraan diantaramu, dan bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu
mendapatkan rahmat”.

2. Ukhuwah Insaniyah / Basyariyah

Ukhuwah Insaniyah adalah persaudaraan yang berlaku pada semua manusia


secara universal tanpa membedakan agama, suku, ras, dan aspek-aspek kekhususan
lainnya. Persaudaraan yang diikat oleh jiwa kemanusiaan. Maksudnya, kita sebagai
manusia harus dapat memanusiakan manusia dan memposisikan atau memandang orang

2
lain dengan penuh rasa kasih sayang, selalu melihat kebaikannya bukan kejelekannya.
Ukhuwah Insaniyah ini harus dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manusia adalah
makhluk Allah. Sekalipun, Allah memberikan petunjuk kebenaran melalui ajaran Islam,
tetapi Allah juga memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih jalan
hidup berdasarkan atas pertimbangan rasionya.

3. Ukhuwah Wathoniyah

Ukhuwah Wathoniyah adalah persaudaraan yang diikat oleh jiwa


nasionalisme/jiwa kebangsaan tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat
istiadat, budaya, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Semuanya itu adalah saudara yang
perlu untuk dijalin, karena kita sama-sama satu bangsa yaitu Indonesia. Mengingat
pentingnya menjalin hubungan kebangsaan ini Rasulullah bersabda “hubbul wathon
minal iman” artinya: Cinta sesama saudara setanah air termasuk sebagian dari iman.

Sebagai seorang Muslim, harus berupaya semaksimal mungkin untuk


mengaktualiksasikan ketiga macam ukhuwah tersebut dalam kehidupan sehari-hari, apabila
ketiganya terjadi secara bersamaan, maka yang harus kita prioritaskan adalah Ukhuwah
Islamiyah, karena ukhuwah ini menyangkut kehidupan dunia dan akhirat

C. Hakikat Ukhuwah Islamiyah


Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai perbedaan seperti warna kulit,
suku, ras, golongan, bangsa dan lain sebagainya. Namun hal tersebut bukanlah menjadi
pemicu yang dapat digunakan untuk memecah belah persatuan yang ada. Dengan adanya
Ukhuwah Islamiyah maka akan tercipta kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah
SWT kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa sehingga menumbuhkan perasaan kasih
sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah.
Adapun Hakikat Ukhuwah Islamiyah antara lain:

 Ukhuwah Islamiyah merupakan nikmat Allah

Sebagaimana dalam Al-qur’an Surat Ali Imron ayat 103, Allah SWT berfirman :

3
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa
Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu
karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

 Perumpamaan tali tasbih

Di dalam Al-qur’an Surat Az-Zukhruf ayat 67, Allah SWT berfirman:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain
kecuali orang-orang yang bertakwa.”

 Merupakan arahan Rabbani

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al – Anfaal ayat 63:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu
membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”

 Merupakan cerminan iman

Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 10, Allah SWT berfirman:

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah


hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat”

4
D. Penyakit Ukhuwah
Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini, menjalin ukhuwah memang tidaklah
semudah membalikkan kedua telapak tangan, mengingat banyak ranjau-ranjau menghadang,
dan itulah penyakit-penyakit kronis yang seharusnya kita basmi, dan tentunya membutuhkan
perjuangan dan proses yang panjang.
Menurut Dr. KH Didin Hafidhuddin (2003), diantara penyakit-penyakit Ukhuwah yang
seharusnya kita basmi dan kita jauhi adalah sebagai berikut.
1) Pemahaman Islam yang tidak komprehensif dan kaffah
Berbagai pertentangan atau permusuhan diantara sesama yang terjadi adalah
pemahaman umat Islam sendiri yang masih dangkal. Umat Islam masih belum parsial
dalam mengkaji Islam, belum integral, belum kaffah, sehingga mereka cenderung untuk
mencari perbedaan-perbedaan yang tidak prinsip dari pada kesamaannya. Karena
pemahaman Islam yang masih sempit inilah yang menjadi suatu embrio atau bibit
munculnya permusuhan terhadap sesamanya.
2) Ta’asub atau fanatisme yang berlebihan
Sikap fanatik yang berlebih-lebihan dengan mengagung-agungkan kelompoknya,
menganggap kelompoknya paling benar, paling baik dan meremehkan kelompok lain,
padahal masih satu agama, itu merupakan perbuatan yang tidak terpuji dan tidak
dibenarkan dalam Islam, karena dapat merusak tali ukhuwah. Oleh karenanya hal
tersebut harus kita hindari.
3) Kurang toleransi atau tasamuh
Kurangnya sikap toleransi atau sikap saling menghargai dan menghormati
terhadap perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi, sehingga menutup pintu dialog
secara terbuka dan kreatif, juga menjadi penghalang dalam merajut kembali ukhuwah.
Oleh karenanya, perlu kita optimalkan secara terus-menerus untuk mengembangkan
sikap toleransi tersebut dalam kehiduapn sehari-hari.
4) Suka bermusuhan
Ini adalah merupakan penyakit ukhuwah yang sangat berbahaya, jika dalam hati
manusia sudah dirasuki sifat hasut, dengki, iri hati, yang ada dalam hatinya hanyalah
dendam dan permusuhan. Jika hal tersebut tidak kita akhiri akan dapat memporak
porandakan ukhuwah.
5) Kurang bersedia untuk saling bertausiyah (menasehati)
Kurangnya bersedia untuk saling bertausiyah atau saling menasehati dan saling
mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran juga turut memberi aset memperburuk
merajut ukhuwah, karena masing-masing senang melihat mereka jatuh dalam kelemahan
dan kebodohannya. Lebih parah lagi diantara mereka sudah tidak mau atau enggan untuk
dikritik karena sudah merasa pintar dan benar.

5
E. Upaya Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan Ukhuwah Islamiyah, yaitu:

 Ta’aruf (saling mengenal)


Dengan adanya interaksi satu dengan yang lain akan dapat lebih mengenal
karakter individu. Perkenalan meliputi penampilan fisik (Jasadiyyan) pengenalan
pemikiran (Fikriyyan), mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya
memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia tentunya punya
keunikan dan kekhasan sendiri yang mempengaruhi kejiwaannya. Proses Ukhuwah
Islamiyah akan terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.
 Tafahum (saling memahami)
Maksudnya saling memahami kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan
kelemahan masing-masing. Sehingga segala macam kesalahpahaman dapat dihindari.
 At-Ta’awun (saling tolong menolong)
Dalam hal ini, dimana yang kuat menolong yang lemah dan yang mempunyai
kelebihan menolong yang kekurangan. Sehingga dengan adanya konsep ini maka
kerjasama akan tercipta dengan baik dan saling menguntungkan sesuai fungsi dan
kemampuan masing-masing.
 Takaful (saling menanggung/senasib sepenanggungan/saling memberi jaminan)
Dengan adanya tafakul akan menumbuhkan rasa aman, tidak ada rasa khawatir
dan kecemasan untuk menghadapi kehidupan, karena merasa bahwa saudara sesama
muslim tentu tidak akan tinggal diam ketika saudara muslim lainya sedang dalam
kesusahan.

Dengan empat sendi persaudaraan tesebut umat islam akan saling mencintai dan
bahu membahu serta tolong menolong dalam menjalani dan menghadapi tantangan
kehidupan, bahkan mereka sudah seperti satu batang tubuh yang masing-masing bagian
tubuh akan ikut merasakan penderitaan bagian tubuh lainnya.

F. Kewajiban Terhadap Sesama Muslim

ْ ‫ق ا ْل ُم‬
‫س ِل ِم‬ ُّ ‫ “ َح‬:‫َّللاِ صلى هللا عليه وسلم‬ ‫سو ُل ه‬ ُ ‫ قَا َل َر‬:‫ع َْن أَبِي ُه َر ْي َرةَ رضي هللا عنه قَا َل‬
‫ َوإِذَا‬،ُ‫ َوإِذَا َدعَاك فَأ َ ِج ْبه‬،‫علَ ْي ِه‬ َ َ‫ إذَا َل ِق ْيتــَهُ ف‬: ٌّ‫ست‬
َ ‫س ِل ْم‬ ْ ‫علَى ا ْل ُم‬
ِ ‫س ِل ِم‬ َ
َ‫ َو ِإذا َ ماَت‬،ُ‫ض فَعُ ْده‬ َ َ‫َّللاَ ف‬
َ ‫ َو ِإذا َ َم ِر‬،ُ‫س ِمتْه‬ ‫س فَ َح ِم َد ه‬ َ ‫ َو ِإذَا‬،ُ‫ص َحك فَا ْنصَحْ ه‬
َ ‫ع‬
َ ‫ط‬ َ ‫ست َ ْن‬
ْ ‫ا‬
(‫ ( َرواهُ ُمسلم‬.”ُ‫فاتـْ َب ْعه‬

6
“Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda kewajiban seorang muslim
kepada sesama muslim lainnya ada enam. Lalu berkata, apa saja wahai Rasulullah. Rasulullah
berkata: jika bertemu berilah salam kepadanya, jika dia mengundang maka datangilah, jika
dia minta nasihat maka nasihatilah, jika dia bersin kemudian memuji kepada Allah maka
doakanlah “Yarhamukallah”, jika dia sakit maka tengoklah, dan jika dia mati maka antarlah
jenazahnya.”(H.R. Muslim dalam kitab salam)

Dari hadis tersebut, dapat diketahui bahwa kewajiban muslim terhadap muslim lain
antara lain:
1) Mengucapkan dan menjawab salam
Menurut Imam ibnu Abdul Bari mengawali salam itu sunah dan menjawab salam
hukumnya wajib. Menebarkan salam kepada orang yang dikenal atau tidak, akan
menumbuhkan rasa cinta atau sayang sesama muslim. Kata ‫ السالم‬itu merupakan bagian
dari asma Allah SWT, ketika kita mengucapkan ‫ السالم عليكم‬itu berarti “semoga engkau
dalam bimbingan Allah”. Adapun ucapan salam yang sempurna adalah ‫السالم عليكم ورحمة‬
‫هللا وبركاته‬.
2) Memenuhi undangan
Memenuhi undangan itu wajib pada setiap undangan, namun ulama merinci atau
menkhususkan pada undangan walimah dan sejenisnya saja. Apabila mendapat dua
undangan dalam waktu yang sama, undangan yang pertama diterima wajib untuk
dipenuhi sedangkan yang kedua sunah untuk dipenuhi.
3) Memberi nasihat ketika diminta
Memberi nasihat diperbolehkan selama masih dalam batas amar ma’ruf nahi
mungkar dan nasihat itu tidak boleh menjerumuskan kepada hal-hal yang negatif.
4) Mendoakan apabila bersin
Etika orang yang bersin adalah menutup hidung dan memelankan suaranya. Ketika
ada muslim laki-laki yang bersin dan mengucap hamdalah maka orang yang
mendengarnya sunah menjawab ‫للا‬ َ َ‫ َي ْر َح ُمك‬. Jika perempuan, ‫للا‬
ّ ‫ َي ْر َح ُم ِك‬. Kemudian orang
yang bersin tadi mengucapkan yahdikumullah. Kemudian malaikat juga ikut mendoakan
dengan mengucap ‫للا‬ ّ ُ‫ َر ِح َمك‬atau ‫للا‬ ّ ‫ر ِح َم ِك‬.
َ Apabila orang yang bersin tidak mengucapkan
hamdalah maka makruh untuk menjawabnya.
5) Menengoknya apabila sakit
Menjenguk orang sakit hukumnya sunah. Maka jika seorang muslim mendengar
salah satu dari mereka sakit maka jenguklah untuk mengetahui bagaimana keadaannya
dan untuk menghiburnya serta mendoakan untuk kesembuhannya.
6) Berta’ziyah ketika ada yang meninggal dunia
Dalam ajaran agama Islam ketika ada seorang muslim meninggal dunia hendaknya
mengucapkan ‫ أِنَّا ّّللِ َوأِنَّا أِلَ ْي ِه َرا ِجعُ ْو ن‬dan berkunjung (ta’ziyah) untuk menyatakan duka cita

7
kepada keluarga yang ditinggalkan serta mengurangi beban yang ditinggalkan dengan
menghiburnya bahwa segala sesuatu akan kembali kepada sang pencipta, Allah SWT.

G. Silaturahmi
Dalam usaha memupuk persaudaraan dan persahabatan sesama muslim ialah saling
kunjung-mengunjungi. Adapun manfaat dari kunjung-mengunjung (silaturahmi), yaitu:

 Memperoleh keridhaan Allah SWT


 Menggembirakan sanak kerabatnya, karena diriwayatkan dalam salah satu hadits bahwa
“perbuatan yang paling utama adalah menggembirakan orang yang beriman”.
 Para malaikat merasa gembira, karena mereka bergembira bila ada orang yang
bersilaturahmi.

ِ ْ‫ ِع ْن َد َرأ‬,‫ست َ َجا َبة‬


‫ ُكله َما‬.‫س ِه َملَك ُم َوكهل‬ ِ ‫ظه ِْر ا ْلغَ ْي‬
ْ ‫ب ُم‬ ْ ‫َدعَا ِأل َ ِخ ْي ِه ِب َخ ْي ٍرقَا َل َدع َْوةُ ا ْل َم ْر ِء ا ْل ُم‬
َ ‫س ِل ِم ِب‬
.‫آم ْي َن َولَكَ ِمثْل‬ ِ :‫اْل َملَكُ ا ْل ُم َو هك ُل بِ ِه‬
"Doa seorang muslim untuk saudaranya dari belakang dikabulkan. Di sisi kepalanya ada
malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan,
malaikat yang ditugaskan dengannya berkata: Amin, dan untukmu semisalnya."

 Menyenangkan orang-orang yang telah meninggal dunia karena nenek moyangnya


merasa senang dengan adanya silaturahmi yang dilakukan oleh anak cucunya.
 Menambah umur dan menambah berkah dalam rizkinya.
 Menambah pahala setelah ia meninggal dunia, karena mereka akan tetap mendoakannya
walaupun ia telah mati selama mereka ingat kebaikan yang ia lakukan buat mereka.

H. Kerukunan, Kebersamaan, dan Pluralitas Agama


Pada era globalisasi sekarang ini, umat beragama dihadapkan kepada serangkaian
tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan yang pernah dialami sebelumnya. Pluralitas
agama adalah fenomena nyata yang ada dalam kehidupan. Pluralitas merupakan hukum alam
(sunnatullah) yang mesti terjadi dan tidak mungkin terelakkan. Ia sudah merupakan kodrati
dalam kehidupan. Dalam QS. Al Hujurat : 13, Allah menggambarkan adanya indikasi yang cukup
kuat tentang pluralitas tersebut.

Namun pluralitas tidak semata menunjukkan pada kenyataan adanya kemajemukan, tetapi
lebih dari itu adanya keterlibatan aktif terhadap kenyataan adanya pluralitas tersebut. Pluralitas
agama dapat kita jumpai, seperti di dalam masyarakat tertentu, di kantor tempat bekerja, di

8
pasar tempat belanja, di perguruan tinggi tempat belajar. Seorang baru dikatakan memiliki sifat
keterlibatan aktif dalam pluralitas apabila dia dapat berinteraksi secara positif dalam lingkungan
kemajemukan. Dengan kata lain, pemahaman pluralitas agama menuntut sikap pemeluk agama
untuk tidak hanya mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi juga harus terlibat dalam
usaha memahami perbedaan dan persamaan guna mencapai kerukunan dan kebersamaan.

Bila dikaji, eksistansi manusia dalam kerukunan dan kebersamaan ini, diperoleh pengertian
bahwa arti sesungguhnya dari manusia bukan terletak pada akunya, tetapi pada kitanya atau
pada kebersamaanya. Kerukunan dan kebersamaan ini bukan hanya harus tercipta intern
seagama tetapi yang lebih penting adalah antar umat yangberbeda agama didunia (pluralitas
agama).

Dalam mewujudkan kerukunan dan kebersamaan dalam pluralitas agama, didalam QS. An
Naml: 125, menganjurkan dialog yang baik. Dialog tersebut dimaksudkan untuk saling mengenal
dan saling membina pengetahuan tentang agama kepada mitra dialog. Dialog tersebut dengan
sendirinya akan memperkaya wawasan kedua belah pihak dalam rangka mencari persamaan-
persamaan yang dapat dijadikan landasan untuk menjalin kerukunan dalam kehidupan
masyarakat.

Kerukunan dan kebersamaan yang didambakan dalam Islam bukanlah yang bersifat semu, tetapi
yang dapat memberikan rasa aman pada jiwa setiap manusia. Oleh karena itu, langkah pertama
yang harus dilakukan adalah mewujudkannya dalam setiap individu, setelah itu, melangkah pada
keluarga, kemudian masyarakat luas dan selanjutnya pada seluruh bangsa di dunia ini. Akhirnya,
dapat tercipta kerukunan, kebersamaan dan perdamaian dunia.

Ada perbedaan yang mendasar anatara kerukunan dengan toleransi, namun antara
keduanya saling berhubungan, kerukunan mempertemukan unsur-unsur yang berbeda,
sedangkan toleransi merupakan sikap atau refleksi dari kerukunan, tanpa kerukunan, toleransi
tidak pernah tercermin bila kerukunan belum terwujud.

Itulah konsep ajaran Islam tentang Pluralitas, kalaupun kenyataannya berbeda dengan
realita, bukan berarti konsep ajarannya yang salah. Akan tetapi, pelaku atau manusianya yang
perlu dipersalahkan dan selanjutnya diingatkan dengan cara-cara yang hasanah dan hikmah.

Kesimpulan

9
Bentuk persaudaraan yang dianjurkan oleh Al-quran tidak hanya persaudaraan satu
aqidah namun juga dengan warga masyarakat lain yang berbeda aqidah. Terhadap saudara kita
yang sesama aqidah, Al-quran bahkan jelas menggaris bawahi akan urgensinya. Beberapa
petunjuk menyangkut persaudaraan dengan sesama muslim dijelaskan secara rinci.
Di antara perincian tentang petunjuk tersebut adalah bahwa penegasan bahwa sesama
orang yang beriman mereka bersaudara. Di antara mereka tidak boleh saling mengolok, karena
boleh jadi yang diolok-olok sebenarnya lebih baik. Di antara mereka juga tidak boleh saling
menggunjing, karena perbuatan tersebut merupakan dosa. Dan antar sesama muslim harus
saling menolong untuk melaksanakan kebaikan dan ketakwaan, juga saling mengingatkan dalam
kebenaran dan kesabaran.
Terhadap warga masyarakat yang non-muslim, persaudaraan harus juga dibina.
Persaudaraan dan kerja sama tersebut tentu saja bukan dalam hal aqidah, karena kalau dalam
bidang aqidah sudah jelas berbeda maka tidak mungkin ada titik temu. Toleransi tersebut sebatas
menyangkut hubungan antar sesama dan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Maka
dalam menjalin toleransi tersebut ada etika yang harus dipatuhi yaitu tidak boleh menghina
keyakinan agama lain serta tidak boleh mencampur adukkan aqidah masing-masing.
Dengan adanya Ukhuwah Islamiyah. Kita akan merasakan kehidupan bermasyarakat yang
lebih harmonis, karena perbedaan yang ada tidak akan menimbulkan pertentangan dan
permasalahan, justru akan menjadikan kehidupan kita semakin indah. Selain itu, tingkat
kesenjangan sosial yang ada di dalam masyarakat juga akan terkikis dengan sendirinya. Hal ini
karena adanya semangat Ukhuwah Islamiyah yang menyatukan segala perbedaan yang ada.

10