Anda di halaman 1dari 23

EVALUASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

A. Evaluasi dan Pengukuran


1. Makna Evaluasi dan Pengukuran
Apa yang dimaksud dengan evaluasi? Apakah evaluasi sama dengan pengukuran?
Apa yang ingin dicapai oleh suatu proses evaluasi?
Ada beberapa pengertian evaluasi. Wand dan Brown (1957) mendefinisikan evaluasi sebagai
“...refer to the act or process to determining the value of something” Evaluasi mengacu
kepada suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu yang dievaluasi.
Sejalan dengan pendapat tersebut Guba dan Lincoln mendefinisikan evaluasi itu
merupakan suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang
dipertimbangkan (evaluand). Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda,
kegiatan, keadaan atau sesuatu kesatuan tententu (Hamid Hasan 1988).
Dari kedua konsep di atas, ada dua hal yang menjadi karakteristik evaluasi. Pertama,
evaluasi merupakan suatu proses. Artinya, dalam suatu pelaksanaan evaluasi mestinya terdiri
dari berbagai macam tindakan yang harus dilakukan. Dengan demikian evaluasi bukanlah
hasil atau produk, akan tetapi rangkaian kegiatan. Untuk apa tindakan itu dilakukan?
Tindakan dilakukan untuk memberi makna atau nilai sesuatu yang dievaluasi. Dengan kata
lain evaluasi dilakukan untuk menentukan judgement terhadap sesuatu. “Evaluation is
concerned with making judgement about thing” (Print, 1993).
Kedua, evaluasi berhubungan dengan pemberian nilai atau arti. Artinya, berdasarkan
hasil pertimbangan evaluasi apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak. Dengan kata lain
evaluasi dapat menunjukkan kualitas yang dinilai.
Evaluasi memiliki makna yang berbeda dengan pengukuran. Pengukuran
(measurement) pada umumnya berkenaan dengan masalah kuantitatif untuk mendapatkan
informasi yang diukur. Oleh sebab itu, dalam proses pengukuran diperlukan alat bantu
tententu. Misalnya, untuk mengukur kemampuan atau prestasi seseorang dalam memahami
bahan pelajaran diperlukan tes prestasi belajar; untuk meningkatkan IQ, digunakan tes IQ;
untuk mengukur berat badan digunakan alat timbangan dan lain sebagainya.
Dari penjelasan di atas, maka antara evaluasi dan pengukuran tidak bisa disamakan
walaupun keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Evaluasi akan lebih tepat
makanala didahului oleh proses pengukuran; sebaliknya hasil pengukuran tidak akan
memiliki arti apa-apa manakala tidak dikaitkan dengan proses evaluasi. Misalkan
berdasarkan pengukuran diperoleh informasi bahwa anak-anak SMA dapat menyerap 60%
bahan pelajaran yang terkandung dalam kurikulum; lalu apa artinya itu? Dapatkah dikatakan
bahwa proses pembelajaran yang dibangun oleh guru SMU berhasil? Dapatkah dikatakan
bahwa anak-anak SMA cukup bagus menguasai bahan pelajaran? Tentu saja untuk sampai
pada kesimpulan di atas, diperlukan suatu proses pengambilan kesimpulan atau proses
pemberian makna yang disebut dengan evaluasi. Jadi dengan demikian pengukuran itu hanya
bagian dari evaluasi dan tes bagian dari pengukuran. Apabila digambarkan bagaimana
kedudukan evaluasi, pengukuran dan tes dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 14.1
Evaluasi, pengukuran dan tes
Dari gambar 14.1 di atas, maka jelas bahwa tes adalah bagian dari pengukuran dan
pengukuran adalah bagian dari evaluasi. Ini berarti sebelum dilakukan evaluasi atau
judgment, didahului oleh pengukuran dan pengukuran adalah hasil dari suatu tes.
Dari penjelasan di atas, maka pengukuran adalah proses pengumpulan data yang
diperlukan dalam rangka memberikan judgment yakni berupa keputusan terhadap sesuatu.
Islilah lain yang erat hubungannya dengan evaluasi dan pengukuran adalah penilaian
(assessment). Assessment pada dasarnya adalah bagian dari evaluasi yang lebih luas dari
sekedar pengukuran. Assessment is broader in scope than measurement in thet is involves the
interpretation and representation of measurement data (Print, 1993). Dengan demikian,
antara evaluasi, assessment dan measurement memiliki keterkaitan yang tidak bisa
dipisahkan. Bahkan dapat dikatakan, ketiganya merupakan suatu proses pengambilan
keputusan. Print (1993) menggambarkannya sebagai berikut.
Gambar 14.2
Proses Evaluasi

Dari gambar di atas, maka pengambilan keputusan berupa evaluasi, harus dimulai dari
pengumpulan data (measurement), manakala data sudah terkumpul kemudian dilakukan
interpretasi data (assessment) berdasarkan interpretasi itulah selanjutnya dilakukan evaluasi.
Misalnya, seorang guru hendak mengevaluasi tentang keberhasilan siswa dalam
menyerap informasi yang diberikannya selama satu catur wulan. Pertama kali ia kumpulkan
data tentang kemampuan anak-anak di dalam kelas melalui tes prestasi hasil belajar, melalui
refleksi pembuatan tugas dan lain sebagainya (measurement). Dari pengumpulan data
diperoleh hasil sebagai berikut.
No. NAMA SKOR HASIL TES HASIL TUGAS
1. Antoyo 60 65
2. Agustinus 80 75
3. Rodatun 75 75
4. Anwar Sadat 80 80
5. Benazir 95 90
6. Gandhi 70 70

Apa artinya data di atas? Data di atas belum memiliki arti apa-apa bukan? Data
tersebut baru akan memiliki arti manakala telah dilakukan interpretasi (assessment). Misalnya
rata-rata skor tes adalah 76,67 sedangkan rata-rata tugas adalah 76,25. Dengan demikian, data
dapat diinterpretasikan bahwa Antoyo dan Rodatun berada di bawah rata-rata kelas dan yang
lainnya ada di atas rata-rata. Setelah kita lakukan interpretasi, selanjutnya kita lakukan
judgment (evaluasi), misalnya bagaimana keberhasilan siswa dalam belajar? Siapa saja yang
harus melakukan remedial dan lain sebagainya.

2. Fungsi Evaluasi
Evaluasi merupakan proses yang sangat penting dalam kegiatan pendidikan formal.
Mengapa demikian? Bagi guru evaluasi dapat menentukan efektivitas kinerjanya selama ini;
sedangkan bagi pengembang kurikulum evaluasi dapat memberikan informasi untuk
perbaikan kurikulum yang sedang berjalan. Evaluasi sering dianggap sebagai salah satu hal
yang menakutkan bagi siswa. Oleh karena itu, memang melalui kegiatan evaluasi dapat
ditentukan nasib siswa dalam proses pembelajaran selanjutnya. Anggapan semacam ini
memang harus diluruskan. Evaluasi mestinya dipandang sebagai sesuatu yang wajar yakni
sebagai suatu bagian integral dari suatu proses kegiatan pembelajaran. Dengan demikian,
mestinya evaluasi dijadikan kebutuhan oleh siswa, sebab dengan evaluasi siswa akan tahu
tentang keberhasilan pembelajaran yang dilakukannya. Ada beberapa fungsi evaluasi, yakni:
a. Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi siswa. Melalui evaluasi
siswa akan mendapatkan informasi tentang efektivitas pembelajaran yang dilakukannya.
Dari hasil evaluasi siswa akan dapat menentukan harus bagaimana proses pembelajaran
yang perlu dilakukannya.
b. Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahui bagaimana ketercapaian siswa
dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan. Siswa akan tahu bagian mana yang perlu
dipelajari lagi dan bagian mana yang tidak perlu.
c. Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program kurikulum.
Informasi ini sangat dibutuhkan baik untuk guru maupun untuk para pengembang
kurikulum khususnya untuk perbaikan program selanjutnya.
d. Informasi dari hasil evaluasi dapat digunakan oleh siswa secara individual dalam
mengambil keputusan, khususnya untuk menentukan masa depan sehubungan dengan
pemilihan bidang pekerjaan serta pengembangan karier.
e. Evaluasi berguna untuk para pengembang kurikulum khususnya dalam menentukan
kejelasan tujuan khusus yang ingin dicapai. Misalnya, apakah tujuan itu perlu diubah atau
ditambah.
f. Evaluasi berfungsi sebagai umpan balik untuk semua pihak yang berkepentingan dengan
pendidikan di sekolah, misalnya untuk orang tua, untuk guru dan pengembang kurikulum,
untuk perguruan tinggi, pemakai lulusan, untuk orang yang mengambil kebijakan
pendidikan termasuk juga untuk masyarakat. Melalui evaluasi dapat dijadikan bahan
informasi tentang efektivitas program sekolah.

3. Tipe Evaluasi
Evaluasi sering dianggap sebagai kegiatan akhir dari suatu proses kegiatan.
Evaluation is often considered to be the final step in overall process, demikian diungkapkan
Miller (1985). Siswa dievaluasi setelah ia selesai melakukan suatu pelajaran, apakah ia
berhasil atau tidak; setelah mengalami masa percobaan, seorang guru dievaluasi, apakah ia
akan diangkat menjadi guru tetap atau tidak; Kurikulum dievaluasi setelah
diimplementasikan, apakah kurikulum tersebut telah mencapai tujuan yang diharapkan atau
belum, bagian-bagian mana yang perlu dievaluasi.
Dari contoh-contoh di atas, maka evaluasi selalu berhubungan dengan dua fungsi.
Kedua fungsi tersebut menurut Scriven (1967) adalah evaluasi sebagai fungsi sumatif dan
evaluasi sebagai fungsi formatif. Fungsi sumatif adalah apabila evaluasi itu digunakan untuk
melihat keberhasilan suatu program yang direncanakan. Oleh karena itu, evaluasi sumatif
berhubungan dengan pencapaian suatu hasil yang dicapai suatu program. Scriven (1967)
menyatakan : summative evaluation focuses on the outcomes o a completed program.
Sedangkan, Print (1993) menjelaskan : “Summative evaluation is directed toward a
general assessment of the degree to which the larger outcome have been attained over the
entire course or some substantial part of it; that is, evaluation employed at the end of a
learning experience to indicate student achiement”. Oleh karena evaluasi sumatif dilakukan
untuk menilai keberhasilan siswa setelah berakhir suatu program pembelajaran, maka
evaluasi summative biasanya dilakukan pada akhir semester.
Evaluasi formative dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk melihat
kemajuan belajar siswa. Print (1993) menjelaskan Formative evaluation is directed towards
providing information on learner performance at one or more points during the learning
process. Oleh karena, evaluasi formative dilakukan selama program pembelajaran
berlangsung, maka sebenarnya evaluasi ini dapat pula berfungsi untuk memperbaiki proses
pembelajaran. Artinya, hasil dari evaluasi formative dapat dijadikan sebagai umpan balik bagi
guru dalam upaya memperbaiki kinerjanya.

B. EVALUASI KURIKULUM
1. Makna Evaluasi Kurikulum
Dari konsep evaluasi seperti yang telah dijelaskan di muka, maka evaluasi kurikulum
dimaksudkan sebagai suatu proses mempertimbangkan untuk memberi nilai dan arti terhadap
suatu kurikulum tententu. Hal yang di maksud dengan kurikulum di sini adalah rencana yang
mengatur tentang isi dan tujuan pendidikan serta cara yang digunakan untuk mencapai tujuan
pendidikan tententu. Dengan kata lain dalam konteks ini adalah kurikulum sebagai sebuah
dokumen atau kurikulum tertulis.
Konsep nilai dan arti, dalam konteks penilaian terhadap suatu kurikulum memiliki
makna yang berbeda. Pertimbangan nilai adalah pertimbangan yang ada dalam kurikulum itu
sendiri. Contohnya berdasarkan proses pertimbangan tertentu, evaluator memberikan nilai:
apakah kurikulum yang dinilai itu dapat dimengerti oleh guru sebagai pelaksana kurikulum;
apakah setiap komponen yang terdapat dalam kurikulum itu memiliki hubungan yang serasi;
apakah kurikulum yang dinilai itu dianggap sederhana dan mudah dilaksanakan oleh guru;
dan lain sebagainya.
Berbeda dengan nilai, arti berhubungan dengan kebermaknaan suatu kurikulum.
Misalkan, apakah kurikulum yang dinilai memberikan arti untuk meningkatkan kemampuan
berpikir siswa; apakah kurikulum itu dapat mengubah cara belajar siswa kepada yang lebih
baik; apakah kurikulum itu dapat lebih meningkatkan pemahaman siswa terhadap lingkungan
sekitar; dan lain sebagainya.
Dari hasil evaluasi kurikulum, dan hubungannya dengan konsep nilai dan arti itu
mungkin evaluator menyimpulkan bahwa kurikulum yang dievaluasi itu cukup sederhana dan
dimengerti guru akan tetapi tidak memiliki arti untuk menigkatkan kualitas pembelajaran
siswa. Sebaliknya, kurikulum yang dievaluasi itu memang sedikit rumit untuk diterapkan
oleh guru akan tetapi memiliki nilai yang berarti untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pengembangan kurikulum merupakan proses yang tidak pernah berakhir (Olivia,
1988). Proses tersebut meliputi orientasi, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Merujuk
pada pendapat tersebut maka, dalam konteks pengembangan kurikulum, evaluasi merupakan
bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pengembangan kurikulum itu sendiri. Melalui
evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti suatu kurikulum, sehingga dapat dijadikan bahan
pertimbangan apakah suatu kurikulum perlu dipertahankan atau tidak; bagian-bagian mana
yang harus disempurnakan.
Sejalan dengan pendapat itu Cronbach memandang bahwa evaluasi kurikulum
merupakan komponen dalam proses membuat keputusan. ... curriculum evaluation as
component in the decision making process ... Evaluation broadly as the collection and use
information to make decisions about an educational program (Dalam Miller dan Seller
1985:302). Bagi Cronbach, evaluasi kurikulum pada dasarnya sebagai suatu proses
mengumpulkan berbagai informasi dalam rangka membuat suatu keputusan tentang program
pendidikan. Artinya, melalui evaluasi apakah suatu program pendidikan perlu ditambahkan,
dikurangi atau mungkin diganti.

2. Ruang Lingkup Evaluasi Kurikulum


Kurikulum dapat dipandang dari dua sisi. Sisi pertama kurikulum sebagai suatu
program pendidikan atau kurikulum sebagai suatu dokumen; dan sisi kedua kurikulum
sebagai suatu proses atau kegiatan. Dalam proses pendidikan kedua sisi ini sama pentingnya,
seperti dua sisi dari satu mata uang logam. Apa artinya sebuah program tanpa
diimplementasikan; dan apa artinya implementasi tanpa program yang menjadi acuan.
Evaluasi kurikulum haruslah mencakup kedua sisi tersebut, baik kurikulum sebagai suatu
dokumen yang dijadikan pedoman, maupun kurikulum sebagai suatu proses, yakni
implementasi dokumen rencana tersebut.

a. Evaluasi Kurikulum sebagai Suatu Program atau Dokumen


Suatu program atau dokumen kurikulum memiliki beberapa komponen pokok, yaitu
tujuan yang ingin dicapai, isi atau materi kurikulum itu sendiri, strategi pembelajaran yang
direncanakan, serta rencana evaluasi keberhasilan.
1) Evaluasi Tujuan Pendidikan
Rumusan tujuan merupakan salah satu komponen yang ada dalam dokumen
kurikulum. Evaluasi kurikulum sebagai dokumen adalah evaluasi terhadap tujuan, setiap mata
pelajaran terdapat sejumlah kriteria untuk menilai tujuan ini.
a) Apakah tujuan setiap mata pelajaran itu berhubingan dan diarahkan untuk mencapai tujuan
lembaga sekolah yang bersangkutan?
Setiap sekolah memiliki visi dan misi yang berbeda. Sekolah menengah umum berbeda
dengan sekolah kejuruan, walaupun sama merupakan sekolah lanjutan. Demiian juga,
antara sekolah kejuruan rumpun yang satu berbeda dengan rumpun yang lain. Oleh karena
perbedaan itulah, maka setiap pelajaran atau bidang studi yang diberikan di setiap sekolah
harus dapat mendukung pencapaian tujuan sekolah. Misalkan, walaupun mata pelajaran
matematika dipelajari oleh setiap siswa SMU dan Kejuruan, akan tetapi tujuan mata
pelajaran di kedua sekolah itu mestilah berbeda.
b) Apakah tujuan itu mudah dipahami oleh setiap guru?
Sebagai suatu dokumen, kurikulum tidak akan memiliki makna apa-apa tanpa
diimplementasikan oleh guru. Oleh karena itulah, guru perlu memahami setiap tujuan mata
pelajaran yang dibinanya. Debngan demikian, maka sebaiknya tujuan dirumuskan dalam
bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
c) Apakah tujuan yang dirumuskan dalam dokumen itu sesuai dengan tingkat perkembangan
siswa?
Kurikulum disusun pada dasarnya untuk mengembangkan setiap potensi yang dimiliki
siswa. Siswa bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini, namun mereka adalah organisme
yang sedang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Dengan
demikian, tujuan dalam kurikulum harus sesuai dengan taraf perkembangan siswa itu
sendiri.
2) Evaluasi terhadap Isi/Materi Kurikulum
Bahwa yang dimaksud dengan isi atau materi kurikulum adalah seluruh pokok
bahasan yang diberikan dalam setiap mata pelajaran. Sejumlah pertanyaan yang dapat
dijadikan kriteria untuk menguji isi atau materi kurikulum di antaranya:
a) Apakah isi kurikulum sesuai atau dapat mendukung pencapaian tujuan seperti yang telah
ditetapkan?
Isi pelajaran bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, akan tetapi materi atau isi pelajaran
disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, isi pelajaran harus memiliki
keterkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai.
b) Apakah isi atau materi kurikulum sesuai dengan pandangan-pandangan atau penemuan-
penemuan yang mutakhir?
Muatan kurikulum pada dasranya berisikan tentang berbagai disiplin ilmu. Setiap ilmu itu
tidaklah bersifat statis, akan tetapi bersifat dinamis, artinya ilmu itu sendiri terus-menerus
berkembang. Suatu teori dalam disiplin ilmu bisa terjadi tidak berlaku lagi manakala
ditemukan teori baru. Oleh karena itulah, setiap materi pelajaran harus sesuai dengan
pandangan-pandangan baru.
c) Apakah isi kurikulum sesuai dengan pengalaman dan karakteristik lingkungan di mana
anak tinggal?
Pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar mereka dapat “hidup” di
masyarakatnya sendiri. Oleh karena itu, kurikulum sebagai alat pendidikan harus berisikan
dan memberi pengalaman kepada peserta didik sesuai dengan karakteristik lingkungan di
mana mereka tinggal. Apalagi dalam masyarakat yang majemuk, pendidikan harus sesuai
dengan kemajemukan masyarakat. Isi kurikulum yang tidak sesuai dengan karakteristik
masyarakat di mana siswa berasal dan tempat mereka kembali, akan tidak bermakna.
d) Apakah urutan isi kurikulum sesuai karakteristik isi atau materi kurikulum?
Setiap mata pelajaran memiliki sistem berpikir yang berbeda, yang ditunjukkan oleh
urutan isi (sequence). Ada mata pelajaran yang memiliki urutan yang sistematis dan logis
artinya, urutan bahan pelajaran tersusun sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik
bahan itu sendiri. Misalnya, materi pelajaran matematika, fisika dan kimia. Dalam
menyusun materi pelajaran tersebut, harus sesuai dengan urutan yang teratur dan
terstruktur. Misalnya, tidak mungkin pengembang kurikulum menyajikan materi tentang
penjumlahan tanpa terlebih dahulu disajikan tentang lambang-lambang bilangan. Berbeda
dengan pelajaran sejarah, pengembang kurikulum bisa memulai dari mana saja apakah
dari pendekatan geografis, atau dari urutan peristiwa atau dari mana saja. Penyajian bahan
pelajaran bisa dari mana saja sesuai dengan tujuan dan kebutuhan.
3) Evaluasi terhadap Strategi pembelajaran
Sebagai suatu pedoman bagi guru, kurikulum juga seharusnya memuat petunjuk-
petunjuk bagaimana cara pelaksanaan pembelajaran atau cara mengimplementasikan
kurikulum di dalam kelas. Salah satu aspek yang berhubungan dengan implementasi
kurikulum adalah aspek pedoman perumusan strategi pembelajaran. Sejumlah kriteria yang
dapat diajukan untuk penilai pedoman strategi belajar mengajar di antaranya:
a) Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan sesuai dan dapat mendukung untuk
keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan?
Bagaimanapun idealnya suatu dokumen kurikulum yang memuat tujuan-tujuan yang ingin
dicapai, maka efektivitas pencapaiannya sangat ditentukan oleh strategi yang diterapkan.
Strategi pencapaian tujuan bidang kognitif akan berbeda dengan strategi pencapaian tujuan
bidang afektif dan psikomotor. Masing-masing tujuan berdampak pada strategi yang harus
digunakan.
b) Apakah strategi pembelajaran yang diusulkan dapat mendorong aktivitas dan minat siswa
untuk belajar?
Suatu strategi yang digunakan harus dapat mendorong siswa untuk beraktivitas. Belajar
tidak sama dengan duduk, mencatat dan menghafal materi pelajaran. Belajar adalah suatu
proses perubahan perilaku berkat adanya pengalaman. Dengan demikian, proses
pembelajaran pada dasarnya adalah memberikan pengalaman kepada siswa. Oleh sebab
itu, strategi pembelajaran harus dirancang untuk memberi pengalaman belajar yakni
mendorong siswa untuk melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan tujuan yang harus
dicapai.
c) Bagaimana keterbacaan guru terhadap pedoman pelaksanaan strategi pembelajaran yang
direncanakan?
Rancangan strategi pembelajaran bukan berisi tentang uraian-uraian teoritis, akan tetapi
berisi tentang uraian praktis, sehingga dapat dicerna dengan mudan oleh guru.
Keterbacaan rancangan strategi ini sangat perlu, sebab pada praktiknya gurulah yang akan
menjabarkan kurikulum menjadi praktik pembelajaran secara langsung di lapangan.
Berkaitan dengan keterbacaan juga menyangkut pemahaman guru tentang strategi yang
direncanakan baik mengenai hakikat strategi maupun mengenai langkah-langkah
perkembangan strategi. Strategi yang tidak dipahami, hanya akan menjadikan pedoman
kurikulum ebagai sesuatu yang ideal tanpa dapat diaplikasikan.
d) Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan dapat mendorong kreativitas guru?
Salah satu prinsip pengembangan kurikulum sebagai suatu pedoman adalah prinsip
fleksibilitas, artinya bahwa kurikulum itu bersifat lentur yakni dapat digunakan dalam
berbagai kondisi dan situasi. Dengan demikian, kurikulum harus dapat diterjemahkan oleh
setiap guru sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulum harus dapat mendorong guru agar
berimprovisasi secara kreatif dalam pengimplementasiannya.
e) Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan siswa?
Siswa adalah organisme yang sedang berkembang. Yang dalam setiap tahap
perkembangannya memiliki karakteristik dan sifat-sifat tertentu. Strategi pembelajaran
yang di rancang haruslah sesuai dengan tahap perkembangan tersebut. Misalnya, untuk
merancang strategi pembelajaran di SD mestilah berbeda dengan strategi pembelajaran
yang dikembangkan di SMP atau SMA.
f) Apakah startegi pembelajaran yang dirumuskan sesuai dengan alokasi waktu yang
tersedia?
Alokasi waktu merupakan asepek yang cukup penting dalam membuat keputusan tentang
strategi yang diusulkan. Mengapa demikian? Sebab bagaimanapun idealnya suatu strategi,
tanpa kesesuaian dengan waktu yang dialokasikan, maka tidak mungkin strategi itu dapat
diterapkan. Dengan demikain, sebelum merancang suatu strategi mestinya guru
menganalisis terlebih dahulu tentang alokasi waktu yang tersedia.

4) Evaluasi terhadap Program Penilaian


Komponen yang keempat, yang harus dijadikan sasaran penilai terhadap kurikulum
sebagai suatu program adalah evaluasi terhadap program penilaian. Beberapa kriteria yang
dapat dijadikan acuan adalah:
a) Apakah program evaluasi relevan dengan tujuan yang ingin dicapai?
Tujuan merupakan inti dari suatu program kurikulum. Keberhasilan kurikulum pada
dasarnya adalah keberhasilan mencapai tujuan kurikulum itu sendiri. Oleh sebab itu, maka
program evaluasi perlu diuji kerelevannya dengan tujuan yang ingin dicapai.
b) Apakah evaluasi diprogramkan untuk mencapai fungsi evaluasi baik sebagai formatif
maupun fungsi sumatif?
Evaluasi yang dirumuskan bukanlah evaluasi yang hanya sekadar untuk melihat
keberhasilan siswa saja yang kemudian dinamakan evaluasi hasil belajar, akan tetapi juga
perlu diuji evaluasi yang dapat menguji keberhasilan guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Kedua fungsi evaluasi ini sangat penting. Evaluasi hasil belajar dapat
mengukur sejauh mana siswa dapat mencapai target kurikulum yang kemudian memiliki
arti untuk melihat kedudukan siswa dalam kelompoknya; sedangkan melalui evaluasi
proses dapat dijadikan umpan balik bagi guru dalam menentukan keberhasilan kinerjanya
sehingga guru dapat memperbaiki kelemahan dalam mengajar.
c) Apakah program evaluasi yang direncanakan mudah dibaca dan dipahami oleh guru?
Alat evaluasi beserta program pengolahannya harus dapat dibaca oleh guru, sehingga
memungkinkan guru menjadikannya sebagai pedoman. Pedoman evaluasi dapat
meberikan petunjuk bagi guru untuk menentukan tingkat penguasaan dan pencapaian
kompetensi yang pada akhirnya dapat menentukan kriteria kelulusan untuk setiap siswa.
d) Apakah program evaluasi mencakup semua aspek perubahan perilaku?
Evaluasi yang baik bukan hanya mengukur kemampuan siswa dalam aspek tertentu saja,
akan tetapi harus mengukur semua aspek baik kognitif, afektif maupun psikomotorik.
Program evaluasi yang hanya mengukur salah satu aspek dapat menyebabkan keberhasilan
pencapaian tujuan pendidikan tidak optimal.

b. Evaluasi Pembelajaran sebagai Implementasi Kurikulum


Telah dijelaskan di muka, behwa kurikulum sebagai suatu dokumen memiliki
keterkaitan yang tidak terpisahkan dengan implementasi kurikulum tersebut dalam kegiatan
pembelajaran. Kurikulum dan pembelajaran bagai dua sisi dari satu mata uang logam yang
masing-masing sama pentingnya. Alexander menyebutnya sebagai Romeo dan Juliet, artinya
Romeo tidak akan berarti tanpa Juliet dan sebaliknya Juliet tak akan ada artinya tanpa
Romeo. Walaupun keduanya memiliki posisi yang berbeda, akan tetapi sama pentingnya.
Dengan demikian, sisi kedua dari kurikulum adalah pelaksanaan atau implementasi
kurikulum itu sendiri. Beberapa kriteria yang dapat diajukan untuk menilai implementasi
tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Apakah implementasi kurikulum yang dilaksanakan oleh guru sesuai dengan program
yang direncanakan?
Kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Kurikulum disusun dan dikembangkan bukan hanya berfungsi sebagai alat administrasi
saja. Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran guru harus sesuai dengan program
perencanaan yang telah disusun.
2) Sejauh mana siswa dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai?
Kurikulum disusun pada hakikatnya untuk proses pembalajaran siswa dalam upaya
pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian, implementasi kurikulum harus
melibatkan siswa secara penuh. Siswa memiliki gaya belajar serta kemampuan yang
berbeda, oleh sebab itu guru harus menempatkan siswa sebagai subjek belajar, bukan
sebagai objek yang dapat diatur dan ditentukan oleh kehendak guru. Pembelajaran yang
baik adalah pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa.
3) Apakah secara keseluruhan implementasi kurikulum dianggap efektif dan efisisen?
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat mencapai tujuan secara
optimal sesuai dengan program perencanaan yang telah disusun. Dengan demikian, maka
efektivitas implementasi kurikulum dapat diukur dari pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan.

C. Evaluasi Berbasis Kelas


Perubahan kurikulum dari kurikulum yang berorientasi pada isi pelajaran (content
based curriculum) menjadi kurikulum yang berorientasi pada kompetensi (competency based
curriculum) konsekuensi terhadap berbagai aspek pembelajaran di sekolah. Konsekuensi itu
bukan hanya pada implementasi atau proses pembelajaran, akan tetapi juga pada penetapan
kriteria keberhasilan. Pada tataran implementasi, misalnya perubahan terjadi pada proses
pembelajaran, dari proses pembelajaran yang menekankan pada selesainya penyampaian
pokok bahasan (isi pelajaran) pada satu catur wulan atau semester pada penguasaan materi
paelajaran oleh siswa. Dengan demikian, dalam implementasi kurikulum guru dituntut untuk
dapat menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang bervariasi.
Dalam penetapan kriteria keberhasilan, kalau kurikulum sebelumnya kriteria
ditetapkan oleh sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, sekarang dalam
KBK keberhasilan ditentukan lebih dari itu, yaitu bagaimana materi pelajaran yang telah
dikuasai itu berdampak pada perubahan perilaku atau performance siswa sehari-hari.
Perubahan paradigma kurikulum tersebut, membawa implementasi terhadap
paradigma evaluasi atau penilaian, dari penilaian dengan pendekatan normatif ke penilaian
dengan menggunakan acuan standar. Oleh sebab itu, guru dituntuk untuk memiliki
pemahaman dan kemampuan yang memadai baik secara konseptual maupun secara praktikal
dalam bidang evaluasi pembelajaran untuk menentukan apakah penguasaan kompetensi
sebagai tujuan pembelajaran telah berhasil dikuasai siswa atau belum.
Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan, ada dua hal penting yang harus dipahami
tentang evaluasi. Pertama, evaluasi merupakan kegiatan integral dalam suatu proses
pembelajaran. Artinya, kegiatan evaluasi ditempatkan sebagai kegiatan yang tidak
terpisahkan dalam proses pembelajaran. Mengapa demikian? Sebab evaluasi bukan hanya
berorientasi pada hasil (product oriented) akan tetapi juga pada proses pembelajaran (process
oriented), sebagai upaya memantau perkembangan siswa baik perkembangan kemampuan
maupun perkembangan mental dan kejiwaan.
Kedua, evaluasi bukan hanya tanggung jawab guru, akan tetapi juga menjadi
tanggung jawab siswa. Artinya, dalam proses evaluasi siswa dilibatkan oleh guru, sehingga
mereka memiliki kesadaran pentingnya evaluasi untuk memantau keberhasilannya sendiri
dalam proses pembelajaran (self evaluation). Dengan demikian, siswa tidak lagi menganggap
bahwa evaluasi merupakan suatu beban yang kadang-kadang mengganggu sikap mentalnya.
Melalui self evaluation siswa akan menganggap bahwa evaluasi adalah sesuatu yang wajar
yang harus dilakukan.

1. Pengertian
Penilaian berbasis kelas merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran yang
dilakukan sebagai proses pengumpulan dan pemanfaatan informasi yang menyeluruh tentang
hasil belajar yang diperoleh siswa untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan
kompetensi seperti yang ditentukan dalam kurikulum dan sebagai umpan balik untuk
perbaikan proses pembelajaran.
Dari pengertian di atas, penilaian berbasis kelas memiliki beberapa karekteristik
penting. Pertama, penilaian berbasis kelas merupakan bagian integral dalam proses
pembelajaran, artinya bahwa penilaian ini dilakukan secara terus-menerus dalam setiap
kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa baik di dalam maupun di luar kelas, seperti
laboratorium atau di lapangan ketika siswa sedang melakukan proses pembelajaran. Dengan
demikian, kegiatan evaluasi bukan merupakan kegiatan yang terpisah dari proses
pembelajaran.
Kedua, penilaian berbasis kelas, merupakan proses pengumpulan informasi yang
menyeluruh, artinya dalam penilaian berbasis kelas, guru dapat mengembangkan berbagai
jenis evaluasi, baik evaluasi yang berkaitan dengan oengujian dan pengukuran tingkat
kognitif siswa seperti menggunakan tes, maupun evaluasi terhadap perkembangan proses
mental melalui penilaian tentang sikap, dan evaluasi terhadap produk atau karya siswa.
Ketiga, hasil pengumpulan informasi dimanfaatkan untuk menetapkan tingkat
penguasaan kompetensi baik standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator hasil
belajar seperti yang terdapat dalam kurikulum.
Keempat, hasil pengumpulan informasi, digunakan untuk meningkatkan hasil belajar
siswa melalui proses perbaikan kualitas pembelajaran. Atinya, melalui penilaian berbasis
kelas guru secara terus-menerus dapat meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih efektif
dan efisisen.
Berdasarkan uraian di atas, minimal ada tiga manfaat yang ingin di capai oleh
penilaian berbasis kelas:
a. Menjamin agar proses pembelajaran yang dilakukan siswa diarahakan untuk mencapai
kompetensi sesuai dengan rambu-rambu yang terdapat dalam kurikulum.
b. Menentukan berbagai kelemahan dan kelebihan baik yang dilakukan siswa maupun guru
selama proses pembelajaran berlangsung. Analisis kelemahan ini sangat berguna untuk
perbaikan proses pembelajaran, sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisisen.
c. Menentukan pencapaian kompetensi oleh siswa, apakah siswa telah mencapai seluruh
kompetensi yang diharapkan atau belum; bagian kompetensi mana yang sudah berhasil
dikuasai siswa, dan bagian mana yang belum berhasil dikuasai. Kesimpulan semacam ini
sangat penting untuk diketahui sebagai bahan pelaporan baik kepada siswa itu sendiri,
kepada orang tua, maupun kepada pihak lain yang dianggap perlu dan terkait dengan
sistem penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

2. Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Sekolah


Sebagai suatu proses, pelaksanaan penilaian berbasis kelas harus terencana dan
terarah sesuai dengan tujuan pencapaian kompetensi. Hakikat penilaian berbasis kelas adalah
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bahkan semata-mata sebagai alat untuk
mengetahui penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu, dalam proses pelaksanaannya,
guru perlu memerhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a. Motivasi
Penilaian berbasis kelas diarahkan untuk meningkatakan motivasi belajar siswa melalui
upaya pemahaman akan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki baik oleh guru maupun
siswa. Dengan demikian, penilaian ini tidak semata-mata untuk memberikan angka
sebagai hasil dari proses pengukuran, akan tetapi apa arti angka yang telah dicapai itu.
Siswa perlu memahami makna dari hasil penilaian. Dengan pemahaman itu diharapkan
mereka dapat lebih termotivasi dalam melaksanakan proses pembelajaran.
b. Validitas
Penilaian diarahkan bukan semata-mata untuk melengkapi syarat administratif saja, akan
tetapi diarahkan untuk memperoleh informasi tentang ketercapaian kompetensi seperti
yang terumuskan dalam kurikulum. Oleh sebab itu, penilaian tidak menyimpang dari
kompetensi yang ingin di capai. Dengan kata lain penilaian harus menjamin validitas.
c. Adil
Setiap siswa memiliki kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran tanpa
memandang perbedaan sosial ekonomi, latar belakang budaya dan kemampuan. Oleh
karena itulah, mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk dievaluasi. Penilaian
berbasis kelas menempatkan posisi siswa dalam kesejajaran, dengan demikian setiap siswa
akan memperoleh perlakuan yang sama.
d. Terbuka
Alat penilaian yang baik adalah alat penilaian yang dipahami baik oleh penilai maupun
oleh yang dinilai. Siswa perlu memahami jenis atau prosedur penilaian yang akan
dilakukan beserta kriteria penilaian. Keterbukaan ini bukan hanya akan mendorong siswa
untuk memperoleh hasil yang baik sehingga motivasi belajar mereka akan bertambah juga,
akan tetapi sekaligus mereka akan memahami posisi mereka sendiri dalam pencapaian
kompetensi.
e. Berkesinambungan
Penilaian berbasis kelas pada hakikatnya merupakan bagian integral dari proses
pembelajaran. Oleh karena itu penilaian dilakukan secara terus-menerus dan
berkesinambungan. Penilaian berbasis kelas, tidak pernah mengenal waktu kapan
seharusnya penilaian dilakukan. Mengapa demikian? Oleh karena penilaian dilakukan
untuk memperoleh informasi tentang perkembangan dan kemajuan siswa dalam
pencapaian kompetensi. Dengan demikian, manakala berdasarkan evaluasi seorang siswa
diketahui belum mencapai kompetensi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, maka guru
harus mengulang kembali hingga benar-benar kompetensi itu telah tercapai secara master.
f. Bermakna
Penilaian berbasis kelas harus tersusun dan terarah, sehingga hasilnya benar-benar
memberikan makna kepada semua pihak khususnya kepada siswa itu sendiri. Melalui
penilaian berbasis kelas, siswa akan mengetahui posisi mereka dalam perolehan
kompetensi. Di samping itu, mereka juga akan memahami kesulitan-kesulitan yang
dirasakan dalam mencapai kompetensi. Di samping itu, mereka juga akan memahami
kesulitan0kesuliatn yang dirasakan dalam mencapai kompetensi. Dengan demikian, hasil
penilaian itu juga bermakna bagi guru termasuk bagi orang tua dalam memberikan
bimbingan kepada setiap siswa dalam upaya memperoleh kompetensi sesuai dengan target
kurikulum.
g. Menyeluruh
Kurikulum berbasis kompetensi diarahkan untuk perkembangan siswa secara utuh, baik
perkembangan kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Oleh sebab itu, guru dalam
melaksanakan penilaian berbasis kelas perlu menggunakan ragam penilaian, misalnya tes,
penilaian produk, skala sikap, penampilan (performance) dan lain sebagainya. Hal ini
sangat penting, oleh sebab hasil penilaian harus memberikan informasi secara utuh tentang
perkembangan setiap aspek.
h. Edukatif
Hasil penilaian berbasis kelas tidak semata-mata diarahkan untuk memperoleh gambaran
kemampuan siswa dalam pencapaian kompetensi melalui angka yang diperoleh, akan
tetapi hasil penilaian harus memberikan umpan balik untuk memperbaiki proses
pembelajaran baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa, sehingga hasil belajar akan
lebih optimal. Dengan demikian, proses penilaian tidak semata-mata tanggung jawab guru
akan tetapi juga merupakan tanggung jawab siswa. Artinya siswa harus ikut terlibat dalam
proses penilaian, sehingga mereka menyadari bahwa penilaian adalah bagian dari proses
pembelajaran.

D. Jenis-jenis Evaluasi
Telah dijelaskan di muka, bahwa penilaian berbasis kelas, diarahkan untuk
menemukan informasi tentang kemampuan siswa secara utuh yang bukan hanya
perkembangan dilihat dari segi intelektual saja tetapi juga sikap dan keterampilan. Untuk
itulah guru dituntut untuk menggunakan teknik dan alat evaluasi secara beragam agar setiap
aspek perkembangan dapat dilihat. Penilaian dapat dikelompokan ke dalam dua jenis, yaitu
tes dan non tes. Setiap jenis memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda. Di bawah ini
dijelaskan secara singkat.
1. Tes
a. Pengertian
Tes adalah teknik penilaian yang biasa digunakan untuk mengukur kemampua siswa
dalam pencapaian suatu kompetensi tertentu, melalui pengolahan secara kuantitatif yang
hasilnya berbentuk angka. Berdasarkan angka itulah selanjutnya ditafsirkan tingkat
penguasaan kompetensi siswa.
Proses pelaksanaan tes dilakukan setelah berakhir pembahasan satu pokok bahasan,
atau setelah selesai satu catur wulan atau satu semester. Dilihat dari fungsinya, tes yang
dilaksanakan setelah selesai satu catur wulan atau semester, dinamakan tes sumatif. Hal ini
disebabkan hasil dari tes itu digunakan untuk menilai keberhasilan siswa dalam penguasaan
suatu kompetensi untuk mengisi buku kemajuan belajar (nilai rapor). Sedangkan tes yang
dilaksanakan setelah selesai proses belajar mengajar atau mungkin setelah selesai satu pokok
bahasan berfungsi sebagai tes formatif, oleh karena hasilnya bukan hanya untuk melihat
keberhasilan siswa akan tetapi juga digunakan sebagai umpan balik untuk perbaikan proses
belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.
b. Kriteria Tes
Sebagai alat ukur dalam proses evaluasi, tes harus memiliki dua kriteria, yaitu kriteria
validitas dan reliabilitas. Tes sebagai suatu alat ukur dikatakan memiliki tingkat validitas
seandainya dapat mengukur apa yang hendak diukur. Misalnya, seandainya guru ingin
mengukur tingkat keterpahaman siswa tentang materi pelajaran “A”, maka soal-soal tes harus
berisikan item-item tentang “A” bukan soal yang berisi tentang “B”; seandainya guru ingin
mengukur kompetensi siswa dalam mengoperasikan suatu produk teknologi, maka alat yang
digunakan adalah tes keterampilan menggunakan produk teknologi tersebut. Tidak dikatakan
tes memiliki tingkat validitas seandainya yang hendak dukur kompetensi mengoperasikan
sesuatu akan tetapi yang digunakan adalah tes tertulis yang mengukur keterpahaman suatu
konsep.
Tes memiliki tingkat reliabilitas atau keandalan jika tes tersebut dapat menghasilkan
informasi yang konsisten. Misalnya, jika suatu tes diberikan pada sekelompok siswa,
kemudian diberikan lagi pada sekelompok siswa yang sama pada saat yang berbeda, maka
hasilnya akan relatif sama.
Ada beberapa teknik untuk menentukan tingkat reliabilitas tes. Pertama, dengan tes-
tes, yaitu dengan mengkolerasikan hasil testing yang pertama dengan hasil testing yang
kedua. Kedua, dengan mengkolerasikan hasil testing antara item genap dan item ganjil (odd-
even method). Ketiga, dengan memecah hasil testing menjadi dua bagian, kemudian
keduanya dikolerasikan. Tes yang memiliki kriteria-kriteria tersebut biasanya merupakan tes
standar.
c. Jenis-jenis Tes
Jenis tes dapat ditinjau dari beberapa segi.
1) Tes Berdasarkan Jumlah Peserta
Berdasarkan jumlah peserta, tes hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes kelompok dan
tes individual. Tes kelompok adalah tes yang dilakukan terhadap sejumlah siswa secara
bersama-sama; sedangkan tes individual adalah tes yang dialkukan kepada siswa secara
perorangan.
2) Tes Standar dan Tes Buatan Guru
Dilihat dari cara penyusunannya, tes juga dapat dibedakan menjadi tes buatan guru dan tes
standar. Tes buatan guru disusun untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan oleh
guru yang bersangkutan. Misalnya, untuk mengumpulkan informasi tentang tingkat
kompetensi akademis atau tingkat penguasaan materi pelajaran siswa yang diajarnya; atau
untuk melihat efektivitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Tes buatan guru,
biasanya tidak terlalu memerhatikan tingkat validitas dan tingkat reliabilitas. Hal ini
disebabkan, tes buatan guru hanya mencakup materi yang terbatas.
Tes standar adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa sehingga
berdasarkan kemampuan tersebut tes standar dapat memprediksi keberhasilan belajar
siswa pada masa yang akan datang. Tes standar biasanya digunakan untuk kepentingan
seleksi, misalnya seleksi mahasiswa baru seleksi untuk pegawai dan lain sebagainya.
Sebagai tes yang berfungsi untuk mengukur kemampuan, maka suatu tes standar harus
memiliki derajat validitas dan reliabilitas melalui serangkaian uji coba, serta memiliki
tingkat kesulitan dan daya pembeda yang tinggi.
3) Tes Berdasarkan Pelaksanaannya
Dilihat dari cara pelaksanaannya, tes dapat dibedakan menjadi tes tulisan, tes lisan, dan tes
perbuatan. Tes tulisan atau yang sering disebut juga tes tertulis, adalah tes yang dilakukan
dengan cara siswa menjawab sejumlah item soal dengan cara tertulis. Ada dua jenis tes
yang termasuk ke dalam tes tulisan ini, yaitu tes esai dan tes objektif. Tes esai adalah
bentuk tes dengan cara siswa diminta untuk menjawab pertanyaan secara terbuka yaitu
menjelaskan atau menguraikan melalui kalimat yang disusunnya sendiri. Tes esai dapat
menilai proses mental siswa terutama dalam hal kemampuan menyusun jawaban secara
sistematis, kesanggupan mengguanakan bahasa dan lain sebagainya.
Tes objektif adalah bentuk tes yang mengharapkan siswa memilih jawaban yang
sudah ditentukan. Misalkan, bentuk tes benar salah (BS), tes pilihan ganda (multiple
choice), menjodohkan (matching), dan bentuk melengkapi (completion).
Tes lisan adalah bentuk tes yang menggunakan bahasa secara lisan. Tes ini bagus
untuk menilai kemampuan nalar siswa. Melalui bahasa secara verbal, penilai dapat
mengetahui secara mendalam pemahaman siswa tentang sesuatu yang dievaluasi, yang
bukan hanya pemahaman tentang konsep, akan tetapi bagaimana aplikasinya serta
hubungannya dengan konsep yang lain, bahkan penilai juga dapat mengungkap informasi
tentang pendapat dan pandangan mereka tentang sesuatu yang dievaluasi. Tes lisan yang
mungkin dapat dialkukan manakala jumlah siswa yang dievaluasi sedikit, serta menilai
sesuatu yang tidak terlalu luas akan tetapi mendalam.
Tes perbuatan (performance) adalah tes dalam bentuk peragaan. Tes ini cocok
manakala kita ingin mengetahui kemampuan dan keterampilan seseorang mengenai
sesuatu. Contohnya memperagakan gerakan-gerakan, mengoperasikan sesuatu alat dan
lainsebagainya.
2. Non Tes
Non tes adalah alat evaluasi yang biasanya digunakan untuk menilai aspek tingkah laku
termasuk sikap, minat dan motivasi. Ada beberapa jenis non tes sebagai alat evaluasi, di
antaranya wawancara, observasi, studi kasus, skala penilaian.
a. Observasi
Observasi adalah teknik penilaian dengan mengamati tingkah laku pada suatu situasi
tertentu. Ada dua jenis observasi, yaitu observasi partisipatif dan nonpartisipatif. Observasi
partisipatif adalah observasi yang dilakukan dengan menempatkan observer sebagai bagian
kegiatan di mana observasi itu dilakukan. Misalkan, ketika observer ingin mengumpulkan
informasi bagaimana aktivitas siswa dalam kegiatan diskusi, maka sambil melakukan
pengamatan, observer juga merupakan bagian dari peserta diskusi. Observasi semacam ini
memiliki kelebihan, diantaranya yang diobservasi akan bersikap dan berperilaku wajar, sebab
dirinya tidak akan merasa dirinya sedang diobservasi.
Observasi nonpartisipatif adalah observasi yang dilakukuan dengan cara observer
murni sebagai pengamat. Artinya, observer akan melakukan pengamatan, tidak aktif sebagai
bagian dari kegiatan itu, akan tetapi ia berperan semata-mata hanya sebagai pengamat saja.
Oleh sebab itu, salah satu kelemahan dari observasi nonpartisipatif adalah kecenderungan
yang diobservasi untuk berperilaku dibuat-buat sangat tinggi.
Observasi juga dapat dilakukan terhadap kelompok yang kemudian dinamakan
observasi kelompok dan observasi yang dilakukan terhadap siswa secara individual atau
disebut dengan observasi individual. Apakah kita akan melakukan observasi kelompok atau
individu, sangat tergantung kepada tujuan observasi yang akan dilakukan.
Untuk kepentingan observasi, kita perlu membuat pedoman observasi misalnya dalam
ceklist, catatan anekdot, skala penilaian.
1) Ceklist
Ceklist atau daftar cek adalah pedoman observasi yang berisikan daftardari semua aspek
yang akan diobservasi, sehingga observer tinggal memberi tanda ada atau tidak adanya
dengan tanda cek (V) tentang aspek yang diobservasi.
Ceklist merupakan alat observasi yang praktis untuk digunakan, sebab semua aspek
yang akan dievaluasi sudah ditentukan terlebih dahulu. Ada dua bentuk ceklist, yanitu
bentuk individual dan bentuk kelompok. Ceklist individual digunakan untuk mencatat ada
atau tidak adanya aspek yang dievaluasi pada seseorang; sedangkan ceklist kelompok
digunakan untuk mencatat kegiatan individu dalam suatu kelompok.
Contoh format ceklist dapat dilihat di bawah ini.
TABEL 14-1
CONTOH CEKLIST INDIVIDUAL
Nama Observant :
No. Stb :
Tempat Observasi :
Waktu Observasi :
Observer :
Topik Observasi : Aktivitas siswa ketika mengikuti pembelajaran di dalam kelas
No. ASPEK YANG DIOBSERVASI HASIL OBSERVASI
1. Perhatian v
2. Bertanya
3. Mengeluarkan pendapat
4. Kedisiplinan v
5. .........................................................

TABEL 14-2
CONTOH CEKLIST KELOMPOK
Jenis Kegiatan : Diskusi kelompok
Tempat Observasi :
Waktu Observasi :
Nama Observer :
No. ASPEK YANG DINILAI NAMA PESERTA
Budi Oni Susi Oka
1. Mengeluarkan Pendapat v v v V
2. Bertanya V
3. Menjawab Pertanyaan V v
4. Menghargai Pendapat Orang Lain v V
5. ...................................................

2) Catatan Anekdot
Catatan anekdot adalah alat observasi untuk mencatat kejadian-kejadian yang sifatnya luar
biasa, sehingga dianggap penting. Dalam penelitian seperti studi kasus catatan anekdot ini
sangat diperlukan untuk mengumpulkan data-data yang dianggap penting dari kejadian
yang sedang diteliti. Agar data yang diperlukan itu utuh sebaiknya peneliti mencatat
peristiwa itu ketika kejadian berlangsung, jangan ditunda.
3) Skala Penilaian
Skala penilaian pada dasarnya hampir sama dengan daftar cek, hanya aspek yang
dinilai/diobservasi dijabarkan ke dalam bentuk skala atau kriteria-kriteria tertentu. Dengan
demikian, data yang diperoleh akan lebih halus, sebab dengan skala penilaian bukan hanya
mencatat ada atau tidak adanya gejala / tindakan tertentu seperti pada daftar cek, akan
tetapi sampai di manakah gejala itu muncul. Oleh sebab itu, observer perlu memahami
aspek-aspek yang akan diobservasi secara mendalam sehingga tidak ragu-ragu dalam
penilaian.
Skala penilaian dapat dibagi ke dalam tiga bentuk, yaitu bentuk kategori, numarical,
dan bentuk grafis. Skala penilaian bentuk kategori, kriteria penilaian dijabarkan ke dalam
bentuk kualitatif seperti, selalu, kadang-kadang, tidak pernah. Observer tinggal memberi
penilaian pada kriteria tersebut sesuai dengan hasil pengamatan.
Skala penilaian menurut ukuran angka hampir sama dengan bentuk kategori,
perbedaannya dalam alternatif penilaian diganti dengan nomor. Misalkan, untuk kategori
selalu diberi no 2, kategori kadang-kadang diberi nomor 1, dan tidak pernah diberi nomor
0. Dengan demikian, observer tinggal membubuhkan pada angka tersebut sesuai dengan
hasil pengamatannya. Dalam skala penilaian bentuk grafis alternatif gejala dibuat dalam
bentuk grafis baik secara vertikal maupun horizontal. Contoh dari skala penilaian disajikan
di bawah ini.

TABEL 14-3
CONTOH SKALA PENILAIAN KELOMPOK
Nama Observant :
No Stb. :
Tempat Observasi :
Waktu Observasi :
Topik Observasi : Aktivitas siswa dalam kegiatan diskusi
No. ASPEK YANG DIOBSERVASI ALTERNATIF
SR KD TP
1. Menjawab Pertanyaan v
2. Mengajukan Pendapat v
3. Menghargai Pendapat Orang Lain
4. ................................................

b. Wawancara
Wawancara adalah komunikasi langsung antara yang mewawancarai dan yang
diwawancarai. Dilihat dari sifatnya, ada dua jenis wawancara. Yaitu, wawancara secara
langsung dan wawancara tidak langsung. Dikatakan wawancara langsung, manakala
pewawancara melakukan komunikasi dengan subjek yang ingin dievaluasi. Sedangkan
wawancara tidak langsung, dilakukan manakala pewawancara ingin mengumpulkan data
subjek melalui perantara. Misalkan, ketika ingin mengumpulkan informasi tentang kebiasaan
siswa dalam belajar, maka dikatakan wawancara langsung apabila wawancara dilakukan
dengan siswa yang bersangkutan; sedangkan manakala wawancara dilakukan dengan orang
lain misalnya dengan orang tua siswa yang bersangkutan dikatakan wawancara tidak
langsung.
Dilihat dari cara pelaksanaannya wawancara juga dapat dibedakan antara wawancara
insidental dan wawancara berencana. Wawancara insidental adalah wawancara yang
dilakukan sewaktu-waktu bila dianggap perlu; sedangkan wawancara berencana adalah
wawancara yang dilaksanakan secara formal, direncanakan waktu, tempat serta materi
wawancaranya.
1) Penilaian Produk
Penilaian produk adalah bentuk penilaian yang digunakan untuk melihat kemampuan siswa
dalam menghasilkan suatu karya tertentu. Penilaian produk dilakukan pada setiap tahapan.
Mulai tahapan merencanakan ide-ide untuk membuat suatu produk, tahapan pelaksanaan,
misalkan bagaimana siswa memilih dan menggunakan alat yang dibutuhkan untuk
menghasilkan sesuatu dan tahap penilaian hasil, sebagai tahap akhir dengan melihat hasil
karya siswa yang telah selesai diproduksi.
2) Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio adalah penilaian terhadap karya-karya siswa selama proses pembelajaran
yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dikumpulkan selama periode tertentu
dan digunakan untuk memantau perkembangan siswa baik mengenai pengetahuan,
keterampilan maupun sikap siswa terhadap mata pelajaran yang bersangkutan.
Dalam KTSP, penilaian portofolio merupakan jenis penilaian yang diharapkan dapat
diterapkan oleh setiap guru. Mengapa demikian? Sebab penilaian portofolio merupakan
penilaian yang dilakukan secara terus-menerus untuk melihat perkembangan kemampuan
siswa secara utuh.

Anda mungkin juga menyukai