Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses secra perlahan–lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang diderita. Proses menua merupakan proses yang terus menerus
berlanjut secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua
makhluk hidup.

Usia lanjut adalah tahap akhir dari siklus hidup manusia, merupakan bagian
dari proses alamiah kehidupan yang tidak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh
setiap individu. Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku
yang dapat diramalkan terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia
tahap perkembangan kronologis tertentu. Ini merupakan suatu fenomena yang
kompleks dan multi dimensional yang dapat diobservasi di dalam satu sel dan
berkembang pada keseluruhan sistem. Walaupun hal itu terjadi pada tingkat
kecepatan yang berbeda, di dalam parameter yang cukup sempit, proses tersebut
tidak tertandingi.

Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya


tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh.
Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering
menghinggapi kaum lanjut usia. Proses menua sudah mulai berlangsung sejak
seseorang mencapai usia dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan
pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit,
dan terjadi juga pada sistem pencernaan.
Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan, baik secara fisik
maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan
yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagai bagian dari proses
penuaan yang normal, seperti berkurangnya ketajaman panca indera, menurunnya
daya tahan tubuh , lebih mudah terkena konstipasi merupakan ancaman bagi
integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka masih harus berhadapan dengan
kehilangan peran diri, kedudukan sosial serta perpisahan dengan orang-orang yang
dicintai.

Proses menua (aging) merupakan suatu perubahan progresif pada organisme


yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta
menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai
dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling
berinteraksi satu sama lain . Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier
dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan (impairment), keterbatasan
fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability), dan keterhambatan
(handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran.

Pada lansia mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun mental,
khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah
dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagai bagian dari proses penuaan yang
normal, seperti berkurangnya ketajaman panca indera, menurunnya daya tahan
tubuh, dan adanya inkontinensia baik urine maupun tinja merupakan ancaman bagi
integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka masih harus berhadapan dengan
kehilangan peran diri, kedudukan sosial serta perpisahan dengan orang-orang yang
dicintai.

Inkontinensia urin merupakan salah satu manifestasi penyakit yang sering


ditemukan pada pasien geriatri. Diperkirakan prevalensi inkontinensia urin berkisar
antara 15–30% usia lanjut di masyarakat dan 20-30% pasien geriatri yang dirawat di
rumah sakit mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan bertambah berat
inkontinensia urinnya 25-30% saat berumur 65-74 tahun.
Ketidakmampuan mengontrol pengeluaran urin atau inkontinensia jarang
dikeluhkan oleh pasien atau keluarga karena dianggap sesuatu yang biasa, malu
atau tabu untuk diceritakan pada orang lain maupun pada dokter, dianggap sesuatu
yang wajar tidak perlu diobati. Inkontinensia urine bukan penyakit, tetapi merupakan
gejala yang menimbulkan gangguan kesehatan, sosial, psikologi serta dapat
menurunkan kualitas hidup (Rochani, 2002).

Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak yang
merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah terus,
risiko terjadi dekubitus (luka pada daerah yang tertekan), dan dapat menimbulkan
rasa rendah diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga
akan mempersulit rehabilitasi pengontrolan keluarnya urin (Hariyati, 2000).

B. Tujuan
A. Mengetahui dan memahami mengenai definisi inkontinensia urin pada
lanjut usia.
B. Mengetahui dan memahami mengenai etiologi inkontinensia urin pada
lanjut usia.
C. Mengetahui dan memahami mengenai faktor predisposisi atau faktor
pencetus inkontinensia urin pada lanjut usia.
D. Mengetahui dan memahami mengenai patofisiologi inkontinensia urin
pada lanjut usia.
E. Mengetahui dan memahami mengenai tanda dan gejala inkontinensia
urin pada lanjut usia.
F. Mengetahui dan memahami mengenai pemeriksaan penunjang pada
lanjut usia.
G. Mengetahui dan memahami mengenai pathway inkontinensia urin pada
lanjut usia.
H. Mengetahui dan memahami mengenai asuhan keperawatan
inkontinensia urin pada lanjut usia.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Inkontinensia urin merupakan kehilangan kontrol berkemih yang bersifat
sementara atau menetap. Klien tidak dapat mengontrol sfingter uretra eksterna.
Merembesnya urine dapat berlangsung terus menerus atau sedikit sedikit (Potter dan
Perry, 2005). Menurut Hidayat (2006), inkontinensia urin merupakan
ketidakmampuan otot sfingter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol
ekskresi urin. Secara umum penyebab inkontinensia dapat berupa proses penuaan,
pembesaran kelenjar prostat, penurunan kesadaran, dan penggunaan obat narkotik
atau sedatif.

Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak yang
merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah terus,
risiko terjadi dekubitus (luka pada daerah yang tertekan), dan dapat menimbulkan
rasa rendah diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga
akan mempersulit rehabilitasi pengontrolan keluarnya urin (Hariyati, 2000).

B. Etiologi
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi
dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat
kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini
mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi
(gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih
baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia
Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek
obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan
ke toilet.
Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi
saluran kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau
uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku
harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi
feses, maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas,
asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine
juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya
gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain
adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan
cairan yang bersifat diuretika seperti kafein.

Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin
meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke
toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk
mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau
menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis,
maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik
yang tepat.

Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang


dideritanya. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat
jika memungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian obat.
Golongan obat yang berkontribusi pada IU, yaitu diuretika, antikolinergik, analgesik,
narkotik, antagonis adrenergic alfa, agonic adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan
kalsium antagonik. Golongan psikotropika seperti antidepresi, antipsikotik, dan
sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam IU. Kafein dan alcohol juga berperan dalam
terjadinya mengompol. Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia urine juga
terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan,
kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina.
Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan
melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses
persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot
dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan
risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen
pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus
otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya
inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat
operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin
tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena
terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul (Darmojo, 2009).

C. Faktor Predisposisi atau Faktor Pencetus


1. Usia
Usia bukan hanya berpengaruh pada eliminasi feses dan urine saja, tetapi
juga berpengaruh terhadap kontrol eliminasi itu sendiri. Anak-anak masih belum
mampu untuk mengontrol buang air besar maupun buang air kecil karena sistem
neuromuskulernya belum berkembang dengan baik. Manusia usia lanjut juga akan
mengalami perubahan dalam eliminasi tersebut. Biasanya terjadi penurunan tonus
otot, sehingga peristaltik menjadi lambat. Hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam
pengontrolan eliminasi feses, sehingga pada manusia usia lanjut berisiko mengalami
konstipasi. Begitu pula pada eliminasi urine, terjadi penurunan kontrol otot sfingter
sehingga terjadi inkontinensia (Asmadi, 2008).

2. Diet
Pemilihan makanan yang kurang memerhatikan unsur manfaatnya, misalnya
jengkol, dapat menghambat proses miksi. Jengkol dapat menghambat miksi karena
kandungan pada jengkol yaitu asam jengkolat, dalam jumlah yang banyak dapat
menyebabkan terbentuknya kristal asam jengkolat yang akan menyumbat saluran
kemih sehingga pengeluaran utine menjadi terganggu. Selain itu, urine juga dapat
menjadi bau jengkol. Malnutrisi menjadi dasar terjadinya penurunan tonus otot,
sehingga mengurangi kemampuan seseorang untuk mengeluarkan feses maupun
urine. Selain itu malnutrisi menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap
infeksi yang menyerang pada organ pencernaan maupun organ perkemihan(Asmadi,
2008).

3. Cairan
Kurangnya intake cairan menyebabkan volume darah yang masuk ke ginjal
untuk difiltrasi menjadi berkurang sehingga urine menjadi berkurang dan lebih
pekat(Asmadi, 2008).

4. Latihan fisik
Latihan fisik membantu seseorang untuk mempertahankan tonus otot. Tonus
otot yang baik dati otot-otot abdominal, otol pelvis, dan diagfragma sangat penting
bagi miksi (Asmadi, 2008).

5. Stres psikologi
Ketika seseorang mengalami kecemasan atau ketakutan, terkadang ia akan
mengalami diare ataupun beser (Asmadi, 2008).

6. Temperatur
Seseorang yang demam akan mengalami peningkatan penguapan cairan
tubuh karena meningkatnya aktivitas metabolik. Hal tersebut menyebabkan tubuh
akan kekurangan cairan sehingga dampaknya berpotensi terjadi konstipasi dan
pengeluaran urine menjadi sedikit. Selain itu, demam juga dapat memegaruhi nafsu
makan yaitu terjadi anoreksia, kelemahan otot, dan penurunan intake cairan
(Asmadi, 2008).

7. Nyeri
Seseorang yang berasa dalam keadaan nyeri sulit untuk makan, diet yang
seimbang, maupun nyaman. Oleh karena itu berpangaruh pada eliminasi urine
(Asmadi, 2008).

8. Sosiokultural
Adat istiadat tentang privasi berkemih berbeda-beda. Contoh saja di
masyarakat Amerika Utara mengharapkan agar fasilitas toilet merupaka sesuatu
yang pribadi , sementara budaya Eropa menerima fasilitas toilet yang digunakan
secara bersama-sama (Potter & Perry,2006).

9. Status volume
Apabila cairan dan konsentrasi eletrolit serta solut berada dalam
keseimbangan, peningkatakan asupan cairan dapat menyebabkan peningkatan
produksi urine. Cairan yang diminum akan meningkatakan volume filtrat glomerulus
dan eksresi urina (Potter & Perry,2006).

10. Penyakit
Adanya luka pada saraf perifer yang menuju kandung kemih menyebabkan
hilangnya tonus kandung kemih, berkurangnya sensasi penuh kandung kemih, dan
individu mengalami kesulitan untuk mengontrol urinasi. Misalnya diabetes melitus
dan sklerosis multiple menyebabkan kondusi neuropatik yang mengubah
fungsikandung kemih. Artritis reumatoid, penyakit sendi degeneratif dan parkinson,
penyakit ginjal kronis atau penyakit ginjal tahap akhir (Potter & Perry,2006).

11. Prosedur bedah


Klien bedah sering memiliki perubahan keseimbangan cairan sebelum menjali
pembedahan yang diakibatkan oleh proses penyakit atau puasa praoperasi, yang
memperburuk berkurangnya keluaran urine. Respons stres juga meningkatkan kadar
aldosteron menyebabkan berkurangnya keluaran urine dalam upaya
mempertahankan volume sirkulasi cairan (Potter & Perry,2006).

12. Obat-obatan
Retensi urine dapat disebabkan oleh penggunaan obat antikolinergik (atropin),
antihistamin (sudafed), antihipertensi (aldomet), dan obat penyekat beta adrenergik
(inderal) (Potter & Perry,2006).
D. Patofisiologi
Pada lanjut usia inkontinensia urin berkaitan erat dengan anatomi dan
fisiologis juga dipengaruhi oleh faktor fungsional, psikologis dan lingkungan. Pada
tingkat yang paling dasar, proses berkemih diatur oleh reflek yang berpusat di pusat
berkemih disacrum. Jalur aferen membawa informasi mengenai volume kandung
kemih di medulla spinalis (Darmojo, 2000).

Pengisian kandung kemih dilakukan dengan cara relaksasi kandung kemih


melalui penghambatan kerja syaraf parasimpatis dan kontraksi leher kandung kemih
yang dipersarafi oleh saraf simpatis serta saraf somatic yang mempersyarafi otot
dasar panggul (Guyton, 1995).

Pengosongan kandung kemih melalui persarafan kolinergik parasimpatis yang


menyebabkan kontraksi kandung kemih sedangkan efek simpatis kandung kemih
berkurang. Jika kortek serebri menekan pusat penghambatan, akan merangsang
timbulnya berkemih. Hilangnya penghambatan pusat kortikal ini dapat disebabkan
karena usia sehingga lansia sering mengalami inkontinensia urin. Karena dengan
kerusakan dapat mengganggu kondisi antara kontraksi kandung kemih dan
relaksasi uretra yang mana gangguan kontraksi kandung kemih akan menimbulkan
inkontinensia (Setiati, 2001).

E. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala yag ditemukan pada pasien dengan retensi urin menurut
Uliyah (2008) yaitu:

1. Ketidaknyamanan daerah pubis


2. Distensi vesika urinaria
3. Ketidak sanggupan untuk berkemih
4. Sering berkemih, saat vesika urinaria berisi sedikit urine. ( 25-50 ml)
A. Ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan asupannya
B. Meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih
C. Adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih.
F. Pemeriksaan penunjang
a. Urinalisis
Digunakan untuk melihat apakah ada bakteri, darah dan glukosa dalam urine.

b. Uroflowmeter
Digunakan untuk mengevaluasi pola berkemih dan menunjukkan obstruksi pintu
bawah kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika pasien berkemih.

c. Cysometry
digunakan untuk mengkaji fungsi neuromuskular kandung kemih dengan
mengukur efisiensi refleks otot destrusor, tekana dan kapasitas intravesikal, dan
reaksi kandung kemih terhadap rangsangan panas.Urografi ekskretori bawah
kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika pasien berkemih.

d. Urografi ekskretorik
Disebut juga pielografi intravena, digunakan untuk mengevaluasi struktur dan
fungsi ginjal, ureter dan kandung kemih.

e. Kateterisasi residu pascakemih


Digunakan untuk menentukan luasnya pengosongan kandung kemih dan jumlah
urine yang tersisa dalam kandung kemih setelah pasien berkemih.
BAB III
Tinjawan kasus
a. Pengkajian
1. Identitas klien
Inkontinensia pada umumnya biasanya sering atau cenderung terjadi pada lansia
(usia ke atas 65 tahun), dengan jenis kelamin perempuan, tetapi tidak menutup
kemungkinan lansia laki-laki juga beresiko mengalaminya.

2. Riwayat kesehatan
– Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini.
Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului
inkonteninsia (stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi
fisik,kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi. Apakah
ada penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih sebelum terjadi inkontenin, apakah
terjadi ketidakmampuan.

– Riwayat kesehatan masa lalu


Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya,
riwayat urinasi dan catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera
genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran kemih dan apakah dirawat
dirumah sakit.

– Riwayat kesehatan keluarga


Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa
dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit
ginjal bawaan/bukan bawaan.

4. Data penunjang
a Urinalisis

b Hematuria.

c Poliuria

d Bakteriuria.

5. Pemeriksaan Radiografi
a IVP (intravenous pyelographi), memprediksi lokasi ginjal dan ureter.

b VCUG (Voiding Cystoufetherogram), mengkaji ukuran, bentuk, dan fungsi VU,


melihat adanya obstruksi (terutama obstruksi prostat), mengkaji PVR (Post Voiding
Residual).

6. Kultur Urine
a Steril.

b Pertumbuhan tak bermakna ( 100.000 koloni / ml).

c Organisme.

b. Diagnosa
Diagnosa yang mungkin muncul pada klien inkontinensia adalah sebagai berikut:

1. Inkonteninsia stress berhubungan dengan kelemahan otot pelvis dan struktur


dasar penyokongnya.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan inkontinensia, imobilitas dalam waktu
yang lama.
3. Resiko Kerusakan Integitas kulit berhubungan dengan irigasi konstan oleh
urine
4. Resiko Isolasi Sosial berhubungan dengan keadaan yang memalukan akibat
mengompol di depan orang lain atau takut bau urine
5. Resiko ketidakefektifan penatalaksaan program terapeutik berhubungan
dengan deficit pengetahuan tentang penyebab inkontinen, penatalaksaan, progam
latihan pemulihan kandung kemih, tanda dan gejala komplikasi, serta sumbe
komonitas.

c. Rencana Asuhan keperawatan


1. Diagnosa I: Inkonteninsia berhubungan dengan kelemahan otot pelvis
Tujuan :
Klien akan melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkonteninsia, klien dapat
menjelaskan penyebab.
Intervensi :
1. Kaji kebiasaan pola berkemih dan dan gunakan catatan berkemih sehari.
2. Pertahankan catatan harian untuk mengkaji efektifitas program yang
direncanakan.
3. Observasi meatus perkemihan untuk memeriksa kebocoran saat kandung
kemih.
4. Intruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran, ulangi
dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien berdiri jika tidak
ada kebocoranyang lebih dulu.
5. Pantau masukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan cairan
2000 ml, kecuali harus dibatasi.
6. Ajarkan klien untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya
dengan latihan
7. Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan
kemungkinan perubahan obat, dosis / jadwal pemberian obat untuk menurunkan
frekuensi inkonteninsia.
2. Diagnosa 2
Resiko infeksi berhubungan dengan inkontinensia, imobilitas dalam waktu
yang lama.
Tujuan :
Berkemih dengan urine jernih tanpa ketidaknyamanan, urinalisis dalam batas normal,
kultur urine menunjukkan tidak adanya bakteri.
Intervensi :
A. Berikan perawatan perineal dengan air sabun setiap shift. Jika pasien
inkontinensia, cuci daerah perineal sesegera mungkin.
R: Untuk mencegah kontaminasi uretra.
B. Jika di pasang kateter indwelling, berikan perawatan kateter 2x sehari
(merupakan bagian dari waktu mandi pagi dan pada waktu akan tidur) dan setelah
buang air besar.
R: Kateter memberikan jalan pada bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik
ke saluran perkemihan.

1. Ikuti kewaspadaan umum (cuci tangan sebelum dan sesudah kontak


langsung, pemakaian sarung tangan), bila kontak dengan cairan tubuh atau darah
yang terjadi (memberikan perawatan perianal, pengososngan kantung drainse urine,
penampungan spesimen urine). Pertahankan teknik asepsis bila melakukan
kateterisasi, bila mengambil contoh urine dari kateter indwelling.
R: Untuk mencegah kontaminasi silang.
2. Kecuali dikontraindikasikan, ubah posisi pasien setiap 2jam dan anjurkan
masukan sekurang-kurangnya 2400 ml / hari. Bantu melakukan ambulasi sesuai
dengan kebutuhan.
R: Untuk mencegah stasis urine.
3. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine.
1. Tingkatkan masukan sari buah berri.
2. Berikan obat-obat, untuk meningkatkan asam urine.
R: Asam urine menghalangi tumbuhnya kuman. Karena jumlah sari buah berri
diperlukan untuk mencapai dan memelihara keasaman urine. Peningkatan masukan
cairan sari buah dapat berpengaruh dalam pengobatan infeksi saluran kemih.
3. Diagnosa 3 : Resiko Kerusakan Integitas kulit yang berhubungan dengan
irigasi konstan oleh urine
Tujuan :
A. Jumlah bakteri < 100.000 / ml.
B. Kulit periostomal tetap utuh.
C. Suhu 37° C.
D. Urine jernih dengan sedimen minimal.
Intervensi :
1. Pantau penampilan kulit periostomal setiap 8jam.
R: Untuk mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

1. Ganti wafer stomehesif setiap minggu atau bila bocor terdeteksi. Yakinkan
kulit bersih dan kering sebelum memasang wafer yang baru. Potong lubang wafer
kira-kira setengah inci lebih besar dar diameter stoma untuk menjamin ketepatan
ukuran kantung yang benar-benar menutupi kulit periostomal. Kosongkan kantung
urostomi bila telah seperempat sampai setengah penuh.
R: Peningkatan berat urine dapat merusak segel periostomal, memungkinkan
kebocoran urine. Pemajanan menetap pada kulit periostomal terhadap asam urine
dapat menyebabkan kerusakan kulit dan peningkatan resiko infeksi.
4. Diagnosa 4 : Resiko Isolasi Sosial berhubungan dengan keadaan yang
memalukan akibat mengompol di depan orang lain atau takut bau urine
Intervensi :
A. Yakinkan apakah konseling dilakukan dan atau perlu diversi urinaria,
diskusikan pada saat pertama.
R: Memberikan informasi tentang tingkat pengetahuan pasien / orang terdekat
tentang situasi individu dan Pasien menerimanya(contoh; inkontinensia tak sembuh,
infeksi)

 Dorong pasien / orang terdekat untuk mengatakan perasaan. Akui kenormalan


perasaan marah, depresi, dan kedudukan karena kehilangan. Diskusikan
“peningkatan dan penurunan” tiap hari yang dapat terjadi setelah pulang.
R: Memberikan kesempatan menerima isu / salah konsep. Membantu pasien / orang
terdekat menyadari bahwa perasaan yang dialami tidak biasa dan bahwa perasaan
bersalah pada mereka tidak perlu / membantu. Pasien perlu mengenali perasaan
sebelum mereka dapat menerimanya secara efektif.

 Perhatikan perilaku menarik diri, peningkatan ketergantungan, manipulasi


atau tidak terlibat pada asuhan.
R: Dugaan masalah pada penyesuaian yang memerlukan evaluasi lanjut dan terapi
lebih efektif. Dapat menunjukkan respon kedukaan terhadap kehilangan bagian /
fungsi tubuh dan kawatir terhadap penerimaan orang lain, juga rasa takut akan
ketidakmampuan yang akan datang / kehilangan selanjutnya pada hidup karena
kanker.

 Berikan kesempatan untuk pasien / orang terdekat untuk memandang dan


menyentuh stoma, gunakan kesempatan untuk memberikan tanda positif
penyembuhan, penampilan, normal, dsb.
R: Meskipun integrasi stoma ke dalam citra tubuh memerlukan waktu berbulan-bulan
/ tahunan, melihat stoma dan mendengar komentar (dibuat dengan cara normal,
nyata) dapat membantu pasien dalam penerimaan ini. Menyentuh stoma meyakinkan
klien / orang terdekat bahwa stoma tidak rapuh dan sedikit gerakan stoma secara
nyata menunjukkan peristaltic normal.

 Berikan kesempatan pada klien untuk menerima keadaannya melalui


partisipasi dalam perawatan diri.
R: Kemandirian dalam perawatan memperbaiki harga diri.

 Pertahankan pendekatan positif, selama aktivitas perawatan, menghindari


ekspresi menghina atau reaksi mendadak. Jangan menerima ekspresi kemarahan
pasien secara pribadi.
R: Membantu pasien / orang terdekat menerima perubahan tubuh dan menerima
akan diri sendiri. Marah paling sering ditunjukkan pada situasi dan kurang kontrol
terhadap apa yang terjadi (tidak terduga), bukan pada pemberi asuhan.

 Rencanakan / jadwalkan aktivitas asuhan dengan orang lain.


R: Meningkatkan rasa kontrol dan memberikan pesan bahwa pasien dapat
mengatasinya, meningkatkan harga diri.

 Diskusikan fungsi seksual dan implan penis, bila ada dan alternatif cara
pemuasan seksual.
R: Pasien mengalami ansietas diantisipasi, takut gagal dalam hubungan seksual
setelah pembedahan, biasanya karena pengabaian, kurang pengetahuan.
Pembedahan yang mengangkat kandung kemih dan prostat (diangkat dengan
kandung kemih) dapat mengganggu syaraf parasimpatis yang mengontrol ereksi
pria, meskipun teknik terbaru ada yang digunakan pada kasus individu untuk
mempertahankan syaraf ini.

5. Diagnosa 5 : Resiko ketidakefektifan penatalaksaan program terapeutik


yang berhubungan dengan defisit pengetahuan tentang penyebab inkontinen,
penatalaksaan, progam latihan pemulihan kandung kemih, tanda dan gejala
komplikasi, serta sumbe komonitas
Tujuan :
1. Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, dan
macam terapeutik.
2. Keluhan berkurang tentang cemas atau gugup.
3. Ekspresi wajah rileks.
Intervensi :
1. Berikan kesempatan kepada klien dan orang terdekat untuk mengekspresikan
perasaan dan harapannya. Perbaiki konsep yang salah.
R: Kemapuan pemecahan masalah pasien ditingkatkan bila lingkungan nyaman dan
mendukung diberikan.
2. Berikan informasi tentang:
– Sifat penyakit.

– Deskripsi singkat tentang tidur.

– Pemeriksaan setelah perawatan.

Bila informasi harus diberikan selama episode nyeri, pertahankan intruksi dan
penjelasan singkat dan sederhana. Berikan informasi lebih detail bila nyeri terkontrol.

R: Pengetahuan apa yang akan dirasakan membantu mengurangi ansietas, nyeri


mempengaruhi prose belajar.
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi. Jakarta :


Salemba Medika.

Darmojo B. 2009. Geriatri ilmu kesehatan usia lanjut. Edisi keempat. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.

Hariyati, Tutik S. (2000). Hubungan antara bladder retraining dengan proses


pemulihan inkontinensia urin pada pasien stoke. Diakses
dari http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=76387&lokasi=lokal pa
da tanggal 15 Mei 2021
Hidayat, A. Alimul. (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia: aplikasi konsep dan
proses keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Potter, Patricia A. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan: Proses dan praktik.
Ed. 4. Jakarta: EGC
Rochani. (2002). Penduduk indonesia idap inkontinensia urin. Diakses
dari http://www.pdpersi.co.id pada tanggal 14 Mei 2012
Uliyah, Musfiratul. 2008. Ketrampilan Dasar praktik Klinik. Jakarta : Salemba Medika