Anda di halaman 1dari 78

Lampiran I

Keputusan Direktur RSUD dr Achmad


Diponegoro
Nomor : / RSUD.ADP/ I / 2018
Tanggal : 15 Oktober 2018

PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RADIOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan rumah sakit yang berkualitas
menjadi pilihan utama untuk mendapat pelayanan terbaiknya.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan dan mewujudkan harapan masyarakat akan


pelayanan kesehatan yang terbaik, maka Rumah Sakit Umum Daerah dr Achmad
Diponegoro berusaha memberikan pelayanan terbaik dalam jasa pelayanan kesehatan,
yaitu adanya peningkatan pada fasilitas kesehatan seiring dengan perkembangan ilmu
kedokteran yang semakin pesat.

Salah satu bagian pelayanan rumah sakit dari penunjang medis adalah Instalasi
Radiologi. Instalasi Radiologi adalah bagian dari penunjang medis yang memiliki
peranan sangat penting dalam menegakkan diagnosa suatu penyakit. Peranan
radiologi sangat besar tatkala pasien memerlukan pemeriksaan lanjutan dari hasil
pemeriksaan radiologi, karena dari hasil pemeriksaan radiologi akan dilanjutkan
apakah perlu pembedahan untuk dilakukan operasi ataukah pasien dalam kondisi
normal untuk dapat beraktfitas kembali.

Perkembangan pasien yang dilakukan pemeriksaan radiologi pada tiap bulannya


meningkat tajam, hal ini berarti adanya tingkat kepercayaan dari pasien dan
keluarganya semakin meningkat pada layanan radiologi di Instalasi Radiologi Rumah
Sakit Umum Daerah dr Achmad Diponegoro.

B. Tujuan Pedoman
Untuk meningkat pelayanan radiologi di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum
Daerah dr Achmad Diponegoro. Dengan selalu mengacu pada protap-protap yang telah
ditetapkan dan selalu menjaga komunikasi baik internal maupun external.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelayanan Instalasi Radiologi meliputi :
1. Pelayanan Radiodiagnostk
Adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis dengan menggunakan radiasi
sinar-x, seperti pelayanan pemeriksaan rontgen.

PELAYANAN PEMERIKSAAN RONTGEN

NO JENIS PEMERIKSAAN
1 Cranium AP / Lat
2 Os Nasal

3 SPN 1 Posisi (Water's)


4 Vert. Cervical AP - Lat – Oblique
5 Vert. Thoracolumbal AP – Lat

6 Vert. Lumbosacral AP – Lat

7 Vert. Sacrococcygeus AP – Lat

8 Thorax AP / PA + Lateral + RLD + Top Lordotic


9 Abdomen AP + ½ Duduk + LLD

10 Pelvis AP

11 Babygram

12 Knee Chest Position

13 Manus Dx / Sin

14 Wrist Joint Dx / Sin

15 Antebrachi Dx / Sin
16 Elbow/Cubiti Dx / Sin

17 Humerus Dx / Sin

18 Shoulder Dx / Sin

19 Clavicula Dx / Sin

20 Scapula

21 Hip Joint Dx / Sin

22 Femur Dx / Sin

23 Genu Dx / Sin

24 Cruris Dx / Sin

25 Ankle Dx / Sin

26 Pedis Dx / Sin

27 Calcaneus Dx / Sin

2. Pelayanan Imejing Diagnostik


Adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis dengan tidak menggunakan radiasi
sinar-x, seperti pelayanan pemeriksaan USG.
PELAYANAN PEMERIKSAAN USG
28 USG Whole Abdomen

29 USG Upper Abdomen


30 USG Lower Abdomen

31 USG Thyroid / Leher


32 USG Doppler

33 USG Testis

34 USG Appendix

35 USG Urologi
36 USG Mammae

37 USG Extremitas
38 USG Thorax Marker
39 USG Gaster
40 USG Kepala

41 USG Small Part

42 USG Soft Tissue

43 USG Guiding

44 USG Kandungan

D. Batasan Operasional
Instalasi Radiologi menyelenggarakan pelayanan radiodiagnostik dan imaging selama
24 jam sehari dan 7 hari seminggu, yang melayani :
1. Pasien Rawat Jalan
2. Pasien Rawat Inap
3. Pasien IGD
4. Pasien dari Luar Rumah Sakit Umum Daerah dr Achmad Diponegoro.

E. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
3. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 436/Menkes/SK/VI/1993
tentang berlakunya Standar Pelayanan di Rumah Sakit.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1045/Menkes/Per/XI/
2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen
Kesehatan.
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 159B/Menkes/Per/II/
1998 tentang Rumah Sakit Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996
tentang Tenaga Kesehatan.
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1087/Menkes/SK/VIII/2008 tentang
Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit.
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar
Pelayanan Minimal Rumah Sakit.
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1014/MENKES/SK/XI/2008 tentang
Standar Pelayanan Radiologi Diagnostk di Sarana Pelayanan Kesehatan.
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 780/MENKES/Per/VIII/2008 tentang
Penyelenggaraan Pelayanan Radiologi.
10. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan
kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion.
11. Undang -Undang No 29 Tahun 2004 tentang praktek Kedokteran.
12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 375/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar

Profesi Radiografer.

13. Permenkes Nomor 357/ MENKES/PER/V/2006 tentang Registrasi dan izin

Kerja Radiografer.
14. Keputusan Kepala Bapeten Nomor 01/Ka–Bapeten/V/99 tentang Ketentuan
Keselamatan Kerja terhadap Radiasi.
15. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 1995 tentang Tunjangan
Bahaya Radiasi.

16. Undang – undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.


17. Perhimpunan Radiografer Indonesia ( PARI ) tentang Standar Profesi Radiografer.
18. Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia ( PDSRI ) tentang Standar
Operasional dan Prosedur Pemeriksaan Radiodiagnostk.
19. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 8 Tahun 2011
tentang Keselamatan Radiasi Dalam Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiologi
Diagnostk dan Intervensional.
20. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 8 Tahun 2011
tentang Keselamatan Radiasi Dalam Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiologi
Diagnostik dan Intervensional.
21. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 8 Tahun 2011
tentang Keselamatan Radiasi Dalam Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiologi
Diagnostik dan Intervensional.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Sumber Daya Manusia di Instalasi Radiologi sebagai berikut :

No Nama Jabatan Kualifikasi Formal Jumlah


1 Kepala Instalasi Radiologi Dokter Sp.Radiologi 1 orang
2 Kepala Ruangan Radiologi D III Radiologi 1 orang
3 PPR (Petugas Proteksi Radiasi) D III Radiologi/SIB 1 orang
4 Radiografer (Pelaksana Radiologi) D III dan D IV Radiologi 5 orang

B. Distribusi Ketenagaan
Distribusi ketenagaan di Instalasi Radiologi diatur sebagai berikut :
1. Untuk Dinas Pagi
Yang bertugas berjumlah 4 (empat) orang, dengan kategori

1 orang Kepala Instalasi Radiologi / Dokter Spesialis Radiologi

1 orang Kepala ruangan Radiologi

2 orang Radiografer (Pelaksana Radiologi)

2. Untuk Dinas Siang


Yang bertugas berjumlah 1 (satu) orang, dengan kategori

1 orang Radiografer (Pelaksana Radiologi)

3. Untuk Dinas Malam


Yang bertugas berjumlah 1 (satu) orang, dengan kategori
1 orang Radiografer (Pelaksana Radiologi)

C. Pengaturan Jaga
1. Penyelenggaraan pelayanan Instalasi Radiologi dilaksanakan 24 jam dalam
sehari dan tujuh hari dalam seminggu dengan pengaturan petugas radiologi
dibuat 3 shif (dinas pagi, dinas siang dan dinas malam).
2. Untuk Dokter Spesialis Radiologi dalam melakukan tindakan pemeriksaan
radiologi dan expertise. Dokter Spesialis Radiologi sebagai kepala Instalasi
Radiologi melakukan pelayanan pada jam kerja dinas pagi.
3. Tindakan pemeriksaan radiologi yang memerlukan Dokter Spesialis Radiologi di
luar jam kerja yang ditentukan berdasarkan kebijakan Rumah Sakit Umum
Daerah dr Achmad Diponegoro diberlakukan oncall.
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang

1. Ruangan Pemeriksaan Rontgen dan USG


B. STANDAR FASILITAS
B.1. Sarana dan Prasarana
Rumah Sakit Umum Daerah dr Achmad Diponegoro dalam menyelenggarakan
pelayanan radiologi harus terorganisir dan terintegrasi dan dilayani oleh SDM
yang berkompetensi serta didukung fasilitas sarana dan prasarana yang memadai.
1. Persyaratan ruangan :
a. Letak lokasi bangunan mudah dijangkau dari ruangan gawat darurat,
ruangan intensive, kamar bedah dan ruangan rawat inap atau pun
rawat jalan serta memperhatikan kemudahan aksebilitas pasien
dengan menggunakan kursi roda atau penggunaan brankar untuk
mencapai lokasi.
b. Alat pemadam kebakaran tersedia yang letaknya tidak jauh dengan
ruangan radiologi.
c. Suhu ruang pemeriksaan 18 – 23 °C dan kelembaban 40 – 60%.

2. Kelengkapan ruangan yang dibutuhkan :


a. Ketebalan Dinding
Bata merah dengan ketebalan 25 cm dan kerapatan jenis 2,2 g/cm³ atau
beton dengan ketebalan 20 cm atau setara dengan 2 mm Pb.
b. Pintu ruangan pesawat sinar-x dilapisi dengan ketebalan 2 mm Pb.
c. Di atas pintu masuk ruang pemeriksaan dipasang lampu merah, yang
menyala pada saat pesawat rontgen sedang dioperasikan.
d. Ruang Pemeriksaan
Ruangan ini sebaiknya cukup luas untuk memungkinkan mobilitas
pasien dengan kursi roda dan penggunaan tempat tidur/brankar
yang mendapat pencahayaan yang cukup dilengkapi dengan AC
sesuai dengan kebutuhan. Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum
Daerah dr Achmad Diponegoro memiliki beberapa ruangan, yaitu :
1) Ruang pemeriksaan Rontgen
Ruangan ini memiliki 1 unit pesawat rontgen merk Toshiba
dengan kondisi maximum 150 kV – 500 mA yang dapat
melayani pemeriksaan radiologi non kontras.
2) Ruang Pemeriksaan USG
Di ruangan USG Radiologi memiliki 1 unit alat USG yang dapat
digunakan untuk pemeriksaan USG yang dilakukan oleh Dokter
Spesialis Radiologi dengan merk Ultrasonix.
Di ruangan Poli Kandungan di tempatkan alat USG merk Toshiba
yang dapat digunakan oleh Dokter Spesialis Obgyn.
Di ruangan tindakan rawat inap Vk terdapat alat USG merk
Elitech, model PRA ONE yang digunakan oleh Dokter Spesialis
Obgyn.

3) Ruang Baca dan Konsultasi Dokter


Ruangan ini menjadi 1 (satu) dengan ruangan pemeriksaan
USG.
4) Ruang Ganti Pakaian
Ruangan untuk mengganti baju sama dengan ruangan
operator yang telah disediakan untuk melepas bahan-bahan
yang mengandung metal dari tubuhnya, seperti kalung,
anting, dan seterusnya.

5) Toilet/WC
Ruangan toilet untuk keperluan petugas, sedangkan untuk
pasien ada toilet umum disamping ruangan radiologi.

6) Listrik dan Penyediaan Air


Listrik harus cukup dengan cadangan daya (genset) yang
memadai dan penyediaan air harus mencukupi untuk
kebutuhan prosesing flm, cuci tangan, toilet.
B.2. Peralatan
Pelayanan radiologi meliputi pelayanan dengan alat radiologi konvensional dan
USG ditempatkan di radiologi dan unit fungsional lainnya. Peralatan radiologi
meliputi :

NO NAMA ALAT MERK TYPE NO.SERI LOKASI TAHUN

1 Rontgen Toshiba DRX 5L172 Ruang 2006


3724HD rontgen
Toshiba
2 USG Ultrasonix Sonix - Ruang 2011
SP Radiologi
3 USG Toshiba - - Poli 2005
Kandungan
4 USG Elitech PRA - Ruang 2017
Tindakan
ONE VK
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Pendaftaran dan Pembayaran Pemeriksaan Radiologi


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Petugas Pendafaran
2. Perawat
3. Radiografer
2. Perangkat Kerja
1. Surat Pengantar Pemeriksaan Radiologi
2. Status Medis
3. Unit Komputer
3. Tata Laksana Pendafaran dan Pembayaran Pemeriksaan Radiologi
Pasien/keluarga datang ke loket pendaftaran IGD / rawat jalan dan diberikan
kartu berobat, bila dokter IGD / rawat jalan menginstruksikan untuk
pemeriksaan penunjang radiologi. Pasien menuju ruang radiologi.

B. Pelayanan Radiologi Pasien Rawat Jalan / IGD


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Perawat Rawat Jalan/Poliklinik
2. Radiografer
3. Spesiailis Radiologi
2. Perangkat Kerja
1. Surat Pengantar Pemeriksaan Radiologi
2. Modalitas pemeriksaan radiologi (Rontgen dan USG)
3. Pengolahan imaging (proses manual/digital)
4. Unit Komputer
5. Hasil Radiologi

3. Tata Laksana Pelayanan Radiologi Pasien Rawat Jalan / IGD


1. Pasien datang ke instalasi radiologi dengan membawa surat pengantar
pemeriksaan.

2. Periksa Surat pengantar pemeriksaan radiologi. Bila pasien umum dilampiri


nota pembayaran lunas yang dibawa pasien / keluarga pasien. Bila pasien
BPJS dilampiri SEP BPJS dan petugas mengecek : Kelengkapan identitas
pasien, Dokter pengirim, Jenis pemeriksaan yang diminta, Diagnosa klinis dan
kelas pasien.

3. Petugas radiologi mempersilahkan pasien untuk menunggu di ruang


tunggu radiologi.
4. Petugas radiologi mencatat identitas pasien dan jenis pemeriksaan yang
diminta dokter ke dalam buku register radiologi.
5. Panggil pasien untuk masuk ke ruangan pemeriksaan radiologi.
6. Sebelum melakukan pemeriksaan radiologi, Radiografer memperkenalkan diri
dan berkomunikasi kepada pasien tentang kesesuaian data pasien
dengan surat pengantar pemeriksaan radiologi dan kondisi pasien serta
menjelaskan secara singkat tindakan yang akan dilakukan.
7. Radiografer melakukan cuci tangan (hand hygiene) sebelum dan
sesudah pemeriksaan.
8. Radiografer yang akan melakukan pemeriksaan radiologi mempersiapkan diri
dengan menggunakan APD sesuai standar.
9. Pemeriksaan radiologi tanpa kontras dilakukan oleh Radiografer.
10. Radiografer mengolah hasil pemeriksaan radiologi dengan proses manual,
sedangkan USG berbentuk kertas foto.
11. Selesai pemeriksaan, pasien diberitahukan untuk kembali ke ruang tunggu
dan diberikan informasi tentang waktu pengambilan hasil pemeriksaan.
12. Bersihkan dan rapihkan kembali peralatan, baju ganti pasien atau linen yang
sudah digunakan.
13. Dokter Spesialis Radiologi melakukan expertise terhadap flm rontgen
/kertas USG yang dicetak pada Form Expertise.
14. Radiografer membuat Laporan Harian Kegiatan Instalasi Radiologi.

C. Pelayanan Radiologi Pada Pasien Ranap


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Perawat Rawat Inap
2. Radiografer
3. Dokter Spesialis Radiolog
2. Perangkat Kerja
1. Surat permintaan pemeriksaan radiologi
2. Informed consent
3. Modalitas pemeriksaan radiologi (Rontgen dan USG)
4. Pengolahan imaging (proses manual/digital)
5. Unit Komputer
6. Hasil Radiologi
3. Tata Laksana Pelayanan Radiologi Pasien Ranap
1. Surat Pengantar Pemeriksaan Radiologi diserahkan ke Instalasi Radiologi
diantar oleh Perawat Rawat Inap.
2. Formulir edukasi tentang dosis paparan radiasi dan assesmen kebutuhan
pasien diberikan untuk pasien yang akan dilakukan pemeriksaan khusus
seperti pemeriksaan radiologi bagi pasien dalam keadaan hamil.
3. Petugas radiologi menginstruksikan Perawat Ranap untuk mengantarkan
pasien ke ruangan radiologi/ruang pemeriksaan.
4. Periksa Surat pengantar pemeriksaan radiologi yang meliputi : Kelengkapan
identitas pasien, Dokter pengirim, Jenis pemeriksaan yang diminta, Diagnosa
klinis dan kelas rawat inap pasien.

5. Sebelum melakukan pemeriksaan radiologi, Radiografer memperkenalkan diri


dan berkomunikasi kepada pasien tentang kesesuaian data pasien
dengan surat pengantar pemeriksaan radiologi dan kondisi pasien serta
menjelaskan secara singkat tindakan yang akan dilakukan.
6. Radiografer melakukan cuci tangan (hand hygiene) sebelum dan
sesudah pemeriksaan.
7. Radiografer yang akan melakukan pemeriksaan radiologi
mempersiapkan diri dengan menggunakan APD sesuai standar.
8. Pemeriksaan radiologi tanpa kontras dilakukan oleh Radiografer.
9. Radiografer mengolah hasil pemeriksaan radiologi yang berbentuk flm
imaging/kertas USG.
10. Selesai pemeriksaan, pasien kembali ke ruang ranap dijemput oleh
Perawat Ranap dan diberikan informasi tentang waktu pengambilan
hasil pemeriksaan.
11. Bersihkan dan rapihkan kembali peralatan, baju ganti pasien atau linen yang
sudah digunakan.
12. Dokter Spesialis Radiologi melakukan expertie terhadap flm imaging/kertas
USG yang dicetak pada Form Expertse.
13. Hasil radiologi diserahkan ke Perawat Rawat Inap sesuai dengan jadwal
distribusi hasil radiologi pasien ranap dengan telah menandatangani pada
buku expedisi hasil radiologi.
14. Radiografer membuat Laporan Harian Radiologi.

D. Pelayanan Radiologi Pasien Luar


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Radiografer
2. Dokter Spesialis Radiologi
2. Perangkat Kerja
1. Informed consent
2. Formulir Edukasi
3. Assesmen kebutuhan keamanan pasien
4. Modalitas pemeriksaan radiologi (Rontgen dan USG)
5. Pengolahan imaging (proses manual/digital)
6. Unit Komputer
7. Hasil Radiologi
3. Tata Laksana Pelayanan Radiologi Pasien Luar RSUD dr Achmad Diponegoro

1. Pelayanan Radiologi dengan Surat rujukan dari luar RSUD dr Achmad


Diponegoro

1) Pasien datang ke Instalasi Radiologi dengan membawa surat


pengantar pemeriksaan radiologi berupa surat rujukan dari : dokter
praktek swasta yang dilampiri struk pendafaran.
2) Petugas radiologi memberikan penjelasan kepada pasien/
keluarganya mengenai jenis pemeriksaan dan biayanya.
3) Setelah pasien/keluarganya menyetujui jenis pemeriksaan dan
biayanya, pasien diarahkan untuk melakukan pembayaran ke loket kasir.
Langkah selanjutnya :
1. Pasien/keluarganya kembali ke Instalasi radiologi memperlihatkan nota
pembayaran lunas.
2. Petugas mencatat identitas pasien dan jenis pemeriksaan yang diminta perujuk
ke dalam buku register radiologi.
3. Panggil pasien untuk masuk ke ruangan pemeriksaan radiologi.
4. Sebelum melakukan pemeriksaan radiologi, Radiografer memperkenalkan diri
dan berkomunikasi kepada pasien tentang kesesuaian data pasien
dengan surat pengantar pemeriksaan radiologi dan kondisi pasien serta
menjelaskan secara singkat tindakan yang akan dilakukan.

5. Radiografer melakukan cuci tangan (hand hygiene) sebelum dan


sesudah pemeriksaan.

6. Radiografer yang akan melakukan pemeriksaan radiologi mempersiapkan


diri dengan menggunakan APD sesuai standar.

7. Saat dilakukan pemeriksaan radiologi, radiographer melakukan


assessment kebutuhan keamanan pasien dan melakukan proteksi radiasi.
8. Radiografer mengolah hasil pemeriksaan radiologi yang berbentuk film
imaging / kertas USG.
9. Selesai pemeriksaan, pasien diberitahukan untuk kembali ke ruang tunggu
dan diberikan informasi tentang waktu pengambilan hasil pemeriksaan.
10. Bersihkan dan rapihkan kembali peralatan, baju ganti pasien atau linen yang

sudah digunakan.
11. Dokter Spesialis Radiologi melakukan expertise terhadap film imaging /
kertas USG yang dicetak pada Form Expertise.
12. Hasil radiologi diserahkan ke pasien/keluarganya dengan terlebih dahulu
memperlihatkan nota pembayaran di cap lunas dan telah menandatangani
pada Buku expedisi hasil radiologi.
13. Radiografer membuat Laporan Harian.

E. Oncall Petugas Radiologi


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Radiografer
2. Dokter Spesialis Radiologi
2. Perangkat Kerja
1. Surat Pengantar Pemeriksaan Radiologi
2. Modalitas pemeriksaan radiologi (Rontgen dan USG)
3. Tata Laksana Petugas Radiologi
1. On Call Radiografer
1) Radiografer yang berdinas pada saat itu melakukan komunikasi /
telpon ke Koordinator Instalasi Radiologi / Atasan untuk meminta
bantuan tenaga, jika menghadapi kejadian luar biasa.
2) Koordinator Instalasi Radiologi / Atasan menghubungi dan menunjuk
kepada Radiografer yang tdak berdinas atau yang berdinas pada shif
berikutnya untuk datang lebih awal agar dapat bekerjasama dan
membantu menyelesaikan pelayanan radiologi yang belum tuntas.
2. On Call Dokter Spesialis Radiologi
Radiografer yang berdinas saat itu telpon ke Dokter Spesialis Radiologi sesuai
jadwal oncall untuk meminta datang melakukan tindakan pemeriksaan radiologi
cito, karena kondisi pasien kritis akibat kecelakaan atau penyakit yang
dideritanya.

F. Pengambilan Hasil Radiologi


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Perawat
2. Radiografer
2. Perangkat Kerja
1. Unit Komputer
2. Hasil Radiologi
3. Nota Pembayaran
4. Buku Expedisi
3. Tata Laksana Pengambilan Hasil Radiologi
1. Pasien/keluarga pasien, Perawat diberikan penjelasan mengenai
pengambilan hasil radiologi oleh petugas radiologi setelah pemeriksaan
selesai dilakukan.
2. Hasil radiologi pasien rawat jalan, rawat inap dan IGD yang diserahkan
melalui Perawat dengan mencatatnya ke dalam buku expedisi hasil radiologi.
3. Hasil radiologi pasien rawat jalan dan pasien dari luar RSUD dr Achmad diponegoro
yang diambil oleh pasien/keluarganya dengan memperlihatkan nota
pembayaran di cap lunas oleh kasir yang selanjutnya di paraf oleh petugas
radiologi dan di catat dalam buku expedisi radiologi.
4. Untuk hasil yang belum di expertise oleh Dokter Spesialis Radiologi,
maka Perawat yang meminjam dan yang mengembalikan film radiograf
agar mencatat datanya pada buku expedisi radiologi, dengan ketentuan.
1) Setiap film radiograf yang belum diexpertse harus dilabel belum di
expertise.
2) Apabila film radiograf yang menggunakan amplop bertanda belum di

expertise di pinjam oleh Perawat, harus di kembalikan lagi ke


Instalasi Radiologi agar di expertise.
3) Apabila film radiograf yang dipinjam sudah di expertise, maka label belum
di expertise dibuang.
5. Hasil radiologi akan disimpan di gudang untuk dimusnahkan setelah
disimpan lebih dari 5 (lima) tahun.

G. Pendistribusian Hasil Radiologi Pasien Rawat Inap


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Perawat Rawat Inap
2. Radiografer
3. Dokter Spesialis Radiologi
2. Perangkat Kerja
1. Hasil Radiologi
2. Unit Komputer
3. Tata Laksana Pendistribusian Hasil Radiologi Pasien Rawat Inap
1. Cek kesesuaian label stiker data pasien (isi data nomor RM, nama, umur,
dokter pengirim, tanggal dan jenis pemeriksaan) dengan data pada
film/imaging dan data form expertise di dalam amplopnya.

2. Simpan form expertise yang asli di dalam amplop dan salinan di staples
diluar amplop (yang oleh Perawat Ranap akan disimpan di status pasien).

3. Untuk hasil radiologi dilakukan dengan cara

1) Diambil oleh Perawat karena DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien)


ingin melihat flm imaging yang belum diexpertise, maka gunakan
amplop diberi tanda belum expertise dan harus dikembalikan lagi ke
Instalasi Radiologi agar di expertise.

2) Diambil oleh Perawat ke Instalasi Radiologi dengan menulis di buku


expedisi hasil radiologi sudah expertise radiologi telah lengkap
dengan expertisenya.

3) Hasil radiologi yang belum diambil oleh perawat, maka


didistribusikan ke rawat inap oleh petugas radiologi setiap harinya
dengan menulis di buku ekspedisi hasil radiologi yang sudah expertise.

H. Kirim Expertise dengan whatsapp.


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Radiografer
2. Perangkat Kerja
1. Unit telpon genggam
2. Form Expertise
3. Tata Laksana Kirim Expertise dengan whatsapp
KIRIM EXPERTISE DENGAN WHATSAPP(WA).
1) Petugas radiologi mengirim gambar melalui WA.

2) Dokter spesialis radiologi mengirim hasil exspertise melalui WA.

3) Periksa dan koreksi form expertise yang akan di WA dengan kesesuaian data
nama pasien, pemeriksaan radiologi dan nama dokter spesialis radiologi yang
melakukan expertise.

4) Petugas Radiologi mencetak hasil radiologi pada form expertise dengan


dilengkapi tanda tangan Dokter Spesialis Radiologi.

I. Batas Waktu Hasil Radiologi


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Radiografer
2. Dokter Spesialis Radiologi
2. Perangkat Kerja
1. Hasil Radiologi
2. Unit Komputer
3. Tata Laksana Batas Waktu Hasil Radiologi
1. Selesai pemeriksaan, petugas radiologi menyampaikan informasi tentang
waktu pengambilan hasil radiologi.
2. Pasien menunggu di ruang tunggu radiologi untuk pasien rajal dan pasien
dari luar RSUD, sedangkan pasien IGD dan pasien ranap kembali ke
ruangannya.
3. Jika waktu tunggu lebih dari 3 jam terutama rujukan dari luar RSUD dr
Achmad Diponegoro pasien bisa pulang terlebih dahulu dan kembali untuk
mengambil hasil radiologi sesuai dengan waktu yang dijanjikan petugas
radiologi.
4. Batas waktu hasil radiologi pada hari kerja Dokter Spesialis Radiologi,
Senin s/d Sabtu jam dinas jam 08.00 – 13.00.
No Jenis Tindakan Radiologi Lama Waktu
1 Foto rontgen tanpa kontras ≤ 3 Jam
2 USG Whole Abdomen ≤ 6 Jam

5. Batas waktu hasil radiologi pada hari kerja dan hari libur Dokter Spesialis
Radiologi setelah jam 13.00 WIB, diambil maksimal keesokan harinya pada
jadwal dinas pagi.
6. Diluar waktu yang telah ditentukan, Dokter Spesialis Radiologi berlaku on
call atau dikirim melalui WA.
7. Ketentuan batasan waktu hasil radiologi dimungkinkan adanya
penambahan waktu, jika ditemukan klinis penyulit sehingga perlu analisa
lebih lanjut.

J. Pelaporan Hasil Radiologi Kritis


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Perawat
2. Radiografer
3. Dokter Penangggung Jawab Pasien
4. Dokter Spesialis Radiologi
2. Perangkat Kerja
1. Surat Permintaan Pemeriksaan Radiologi
3. Tata Laksana Hasil Radiologi Kritis
1. Dokter radiologi menetapkan hasil expertise, bahwa pasien dalam
kondisi kritis sehingga perlu penanganan segera.
2. Informasikan hasil expertise selesai kepada Dokter / perawat ruangan.
3. Setelah mendapatkan informasi hasil radiologi kritis, maka kondisi
pasien harus ditindaklanjut.
4. Untuk permintaan radiologi yang termasuk kriteria kritis, hasil dapat
diterima oleh DPJP dalam waktu ≤ 1 jam setelah waktu pendafaran /
terima formulir baik secara lisan maupun tulisan dokumen hasil
radiologi kritis.
5. Kategori Hasil Radiologi Kritis
No Anatomi Hasil pemeriksaan radiologi
pemeriksaan
1 Kepala  Perdarahan luas Intra cerebral / intra
cranial akibat stroke atau trauma
 Fraktur impresi yang menekan otak
 Akut infark cerebri
2 Thorax  Fraktur costa > 3 ( Flail Chest ) yang
menimbulkan hematothorax maupun
penumothorax
 Hematothorax yang luas
 Tension Pneumothorax (konstusio pulmonum)
 Hidropneumothorax berat
 Efussi pleura masif
 Edema paru
 Malposisi selang ETT

3 Abdomen  Perdarahan intra abdomen


 Laserasi / ruptur organ abdomen
 Perforasi
 Ileus Obstruksi / paralitk
 Appendicits akut

4 Vertebra  Fraktur kompressi yang menekan medulla


dan spinalis dengan TLICS ( Thoraco Lumbal
Muskuloskel Injury Classifcaton Score ) > 3 Points
 Fraktur ekstremitas dengan kecurigaan
etal robekan pada pembuluh darah besar

5 Obstetrik dan  Kehamilan Ektopik Terganggu


Ginekologi

K. Keamanan dan Keselamatan Pasien Radiologi


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Radiografer
2. Perawat
2. Perangkat Kerja
1. Surat Pengantar Pemeriksaan Radiologi
2. Lembar LKS
3. Tata Laksana Keamanan dan Keselamatan Pasien Radiologi
Lakukan pemeriksaan radiologi sesuai IK pemeriksaan radiologi yang terkait
dengan mendahulukan persiapan penanganan keamanan dan keselamatan pasien
(pasien safety), yaitu setap Radiografer akan melakukan tndakan
1. Siapkan alat pemeriksaan radiologi sesuai kebutuhan pemeriksaan.
2. Siapkan kondisi pemotretan pada pesawat rontgen.
3. Lakukan dan ikut protap Proteksi Radiasi.
4. Siapkan dan gunakan APD sesuai kebutuhan, contohnya penggunaan Apron,
Thyroid protector, Kacamata Pb, Masker, Sarung Tangan. Lakukan cuci tangan
(hand hygiene) sebelum dan sesudah pemeriksaan radiologi.

5. Baca kesesuaian data pasien Surat Pengantar Pemeriksaan Radiologi atau


struk pendafaran dengan berkomunikasi menanyakan nama pasien, umur
serta menjelaskan tindakan pemeriksaan radiologi yang akan dilakukan
sesuai dengan Surat Pengantar Pemeriksaan Radiologi dari dokter pengirim.
6. Jika pasien dengan kondisi yang tdak memungkinkan diajak bicara, ajak
keluarga pasien (satu atau dua orang) untuk memastikan kesesuain data
pasien yang akan dilakukan pemeriksaan.
7. Jika keluarga pasien akan membantu dan memegangi pasien, pakailah apron
terlebih dahulu.
8. Gunakan brangkar yang ada pembatasnya agar pasien tidak jatuh.
9. Berikan apron jika ada pasien anak-anak dan pasien ibu hamil.
10. Pada proses kegawatdarutan, siapkan emergency kit dengan
pendampingan Supervisor (untuk pasien luar RSUD dr Achmad
Diponegoro) dan pasien internal (perawat ranap) sampai pemeriksaan
selesai.
L. Penerapan Optmisasi Proteksi Dan Keselamatan Radiasi
1. Penerapan optmisasi proteksi dan keselamatan radiasi harus diupayakan agar
pekerja radiasi di Instalasi Radiologi dan anggota masyarakat di sekitar Instalasi
Radiologi menerima paparan radiasi serendah mungkin yang dapat dicapai.
2. Penerapan optmisasi proteksi dan keselamatan radiasi harus diupayakan agar
pasien menerima dosis radiasi serendah mungkin sesuai dengan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan diagnostk.
3. Penerapan optmisasi dilaksanakan melalui prinsip optmisasi proteksi dan
keselamatan radiasi yang meliput
1. Pembatas dosis untuk pekerja radiasi, anggota masyarakat dan pendamping
pasien. Menetapkan nilai pembatas dosis radiasi
- Untuk pekerja radiasi sebesar ½ ( satu per dua ) dari Nilai Batas Dosis per Tahun

untuk pekerja radiasi yaitu 10 mSv ( sepuluh mili sievert ) per tahun atau 0,2
mSv ( nol koma dua mili Sievert ) per minggu
- Untuk anggota masyarakat sebesar ½ ( satu per dua ) dari nilai batas dosis per
tahun yaitu 0,5 mSv ( nol koma lima mili Sievert ) per tahun atau 0,01 mSv ( nol
koma nol satu mili Sievert ) per minggu.
- Untuk pendamping pasien dosis radiasi yang diterima diupayakan tidak melebihi
2 mSv ( dua mili Sievert ) selama masa pemeriksaan pasien dan dalam
melaksanakannya harus menerapkan optmisasi tndakan proteksi untuk
pendamping pasien selama pemeriksaan radiologi.

2. Tingkat panduanDosis Paparan Radiograf Diagnostik medik untuk pasien

No Jenis Posisi Dosis Permukaan per


Pemeriksaan Pemeriksaan Radiograf ( mGy )
1 Lumbal ( Lumbal Spine ) AP 10
LAT 30
2 Abdomen dan Intravenous AP 10
Urography
3 Pelvis AP 10
4 Sendi Panggul ( Hip Joint ) AP 10
5 Paru ( Chest ) PA 0,4
LAT 1,5
6 Thorakal ( Thoracic Spine ) AP 7
LAT 20
7 Kepala ( Skull ) PA 5
LAT 3

M. Kontrol Mutu Hasil Imaging Radiologi


2. Petugas Penanggung Jawab.
a. Radiografer
b. Dokter Spesialis Radiologi
3. Perangkat Kerja
a. Hasil Radiologi
4. Tata Laksana Kontrol Mutu Hasil Imaging Radiologi
1. Lakukan pemeriksaan radiologi sesuai permintaan
2. Cetak hasil pemeriksaan radiologi
3. Lakukan kontrol mutu hasil pemeriksaan radiologi, berupa hasil imaging meliput
1) IdentItas pasien
2) Tanggal pemeriksaan
3) Kualitas gambar
4) Posisi obyek simetris atau tIdak
5) Ketepatan posisi marker
5. Ulang pemeriksaan bila ada ketidaksesuaian hasil kontrol mutu
6. Expertise hasil pemeriksaan radiologi.

7. Hasil expertise yang dikembalikan oleh DPJP karena ketdaksesuaian dengan kondisi
klinik merupakan indikator kualitas layanan radiologi
8. Buat pelaporan ketdaksesuaian bila ditemukan ketdaksesuaian kualitas
9. Lakukan evaluasi untuk peningkatan mutu hasil imaging 3 bulan sekali.
10. Jika ada pasien ranap yang dirujuk ke luar RSUD dr Achmad Diponegoro, maka
hasil radiologinya sebaiknya diserahkan terlebih dahulu ke Instalasi Radiologi untuk
dapat dievaluasi apakah hasil imagingnya sudah sesuai dengan mutu imaging yang
diharapkan.
N. Komplen Atas Pelayanan Radiologi
1. Petugas Penanggung Jawab
1. Petugas Radiologi s/d Kabid Penunjang Medis
2. Pelaksana di luar Instalasi Radiologi s/d ke atasannya
3. Subag Mutu
2. Perangkat Kerja
1. Form Kuesioner
2. Lembar LKS
3. Tata Laksana Penanganan Komplen Pelayanan Radiologi
1. Penanganan Komplen External :
1) Pasien/keluarganya datang ke Instalasi Radiologi mengadukan
permasalahan pelayanan radiologi yang dialami kepada petugas radiologi
saat itu.
2) Petugas radiologi menenangkan perasaan pasien/keluarganya
dengan menghampiri dan mempersilahkan duduk di ruangan Administrasi
radiologi
3) Petugas radiologi melakukan komunikasi dan menanyakan apa yang
menjadi keluhan pasien/keluarganya.
4) Petugas radiologi mendengarkan keluhan pasien/keluarganya dengan
penuh perasaan dan menjaga sikap dengan baik.
5) Jika keluhannya diperkirakan mampu diatasi oleh petugas radiologi
yang berdinas pada saat itu, maka lakukan komunikasi dan berilah
solusi yang terbaik.
6) Jika petugas radiologi yang berdinas saat itu “tdak mampu
mengatasinya” sampaikan kepada pasien/keluarganya bahwa
komplen akan diteruskan ke atasan (berdasarkan struktural) dan berikan
informasi agar dapat menunggu di ruang tunggu untuk menunggu hasil
solusi yang tepat dari atasan.
7) Jika langkah diatas belum diperoleh solusi yang tepat dan cepat,
minta kepada pasien/keluarganya nomor telpon yang dapat dihubungi.
Dan petugas radiologi yang menerima komplen tersebut membuat
kronologis atas kejadian yang menimbulkan komplen lalu serahkan ke
atasannya.
8) Instalasi Radiologi akan menerima lembar LKS dari Bagian Mutu
RSUD dr Achmad Diponegoro untuk ditindaklanjut atas komplen pasien
tersebut.
9) Jika dapat menyelesaikan komplen, maka petugas radiologi
menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dalam
pelayanan radiologi kepada pasien/keluarganya.

2. Penanganan Komplen Internal :


1) Pegawai RSUD dr Achmad Diponegoro dari luar instalasi radiologi/instalasi
/bagian lain baik melalui telpon maupun datang langsung ke instalasi
radiologi mengadukan permasalahan pelayanan radiologi yang dialami
kepada petugas radiologi saat itu.
2) Petugas radiologi menenangkan perasaan pegawai yang bersangkutan
dengan mendengarkan pengaduannya di telpon atau jika datang
langsung dengan menghampiri dan mempersilahkan duduk di ruangan
Administrasi radiologi
3) Petugas radiologi melakukan komunikasi dan menanyakan apa yang
menjadi keluhan karyawan yang bersangkutan.
4) Petugas radiologi mendengarkan keluhan karyawan yang bersangkutan
dengan penuh perasaan dan menjaga sikap dengan baik.
5) Jika keluhannya diperkirakan mampu diatasi oleh petugas radiologi
yang berdinas pada saat itu, maka lakukan komunikasi dan berilah
solusi yang terbaik.
6) Jika petugas radiologi yang berdinas saat itu “tidak mampu
mengatasinya” sampaikan kepada pegawai yang bersangkutan
bahwa komplen akan diteruskan ke atasan (berdasarkan struktural) dan
berikan informasi agar dapat kembali ke ruangan kerjanya untuk
menunggu hasil solusi yang tepat dari atasan.
7) Jika langkah diatas belum diperoleh solusi yang tepat dan cepat,
beri kesempatan kepada pegawai yang bersangkutan untuk menulis
komplennya pada lembar LKS untuk diteruskan ke atasannya. Dan
petugas radiologi yang menerima komplen tersebut membuat
kronologis atas kejadian yang menimbulkan komplen untuk diserahkan
ke atasannya.
8) Jika dapat menyelesaikan komplen, maka petugas radiologi
menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dalam
pelayanan radiologi kepada pegawai yang bersangkutan.

O. Penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) Radiologi


1. Petugas Penanggung Jawab.
1. Radiografer
2. Dokter Spesialis Radiologi
2. Perangkat Kerja
1. Surat Pengantar Pemerikssaan radiologi
2. Form informed consent
3. Tata Laksana Penggunan APD Radiologi
1. Kenakan TLD badge setiap berdinas.
2. Gunakan apron dan pelindung thyroid berlapis Pb, jika membantu dan
memegangi pasien.
3. Gunakan APD setiap melakukan tindakan pemeriksaan, seperti contoh
pemeriksaan radiologi dibawah ini

No Jenis Pemeriksaan APD yang digunakan

1 - Rontgen Thorax TB paru - Masker


- Rontgen Thorax - Apron, shielding Pb, pelindung thyroid
di tempat Pb, masker, sarung tangan.
3 Rontgen - Sarung tangan
extremitas
perdarahan

P. Pengamanan dan Penanganan Bahan B3


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Radiografer
2. Perangkat Kerja
1. Berita Acara Serah Terima Limbah Cair
3. Tata Laksana Pengelolaan Limbah Radiologi.
1. Siapkan 2 (dua) buah dirigen kosong isi 20 liter.
2. Masukkan limbah cairan developer ke dalam dirigen dari tangki berisi
cairan developer.
3. Masukkan juga limbah cairan fixer ke dalam dirigen dari tangki berisi cairan fixer.
4. Simpan dirigen yang telah diisi tersebut pada tempat penyimpanan yang
telah disediakan.

5. Hubungi pihak luar RSUD dr Achmad Diponegoro yang menampung dan


menerima limbah cair dari Instalasi Radiologi.

6. Pihak luar RSUD dr Achmad Diponegoro datang sesuai yang dijanjikan dengan
membawa 2 (dua) buah dirigen kosong.
7. Pihak luar RSUD dr Achmad Diponegoro menyerahkan 2 (dua) buah dirigen
kosong dan menukarnya dengan 2 (dua) buah dirigen yang berisi limbah
cairan developer dan fixer.
8. Dibuatkan berita acara penyerahan limbah radiologi.

Q. Evakuasi Kebakaran di Ruangan Radiologi


1. Petugas Penanggung Jawab
1. Radiografer
2. Dokter Spesialis Radiologi
2. Perangkat Kerja
1. APAR
2. Telpon
3. Tata Laksana Evakuasi Kebakaran di Ruangan Radiologi
Di dalam ruangan radiologi, petugas radiologi menemukan api yang dapat
mengancam keselamatan RSUD dr Achmad Diponegoro maka :
1. Penemu mengupayakan pemadaman api menggunakan APAR dari lokasi terdekat.
2. Koordinasikan dengan orang disekitar untuk melaporkan ke security pos jaga I
dengan menyebutkan nama pelapor, lokasi kejadian, besar kecilnya api dan
jumlah korban bila ada.
3. Security pos Jaga I segera menelpon ke Pemadam Kebakaran.
4. Pemadam Kebakaran memberikan bantuan ke lokasi kejadian
5. Api tertanggulangi, maka amankan area dan buat pelaporannya.
6. Kepala Instalasi dan atau Koordinator Instalasi Radiologi bersiap siaga di tempat
dan mempersiapkan hal-hal yang perlu dipersiapkan atau diamankan.
- Petugas radiologi yang sedang melayani pasien, maka jelaskan ke
pasien/keluarganya kalau ada kebakaran, pasien agar jangan panik dan
arahkan ke pintu luar ruangan radiologi.
- Mengintruksikan kepada petugas radiologi yang berdinas saat itu untuk
menghentkan kegiatan pemeriksaan radiologi dengan mematkan semua
alat-alat radiologi termasuk mematkan komputer.
- Amankan dokumen penting dan siapkan untuk dibawa keluar.
BAB V
LOGISTIK

Pelayanan radiologi akan berjalan baik dan lancar, jika didukung oleh penyediaan BHP, ATK
dan ART yang selalu tersedia.
1. Penyediaan Bahan Habis Pakai (BHP) Instalasi Radiologi, yaitu

No NAMA BARANG MERK LOKASI PENYIMPANAN KETERANGAN

1 FILM UKURAN 18 X24 CM FUJI LEMARI KAYU RADIOLOGI

2 FILM UKURAN 24 X 30 CM FUJI LEMARI KAYU RADIOLOGI

3 FILM UKURAN 35 X 35 CM FUJI LEMARI KAYU RADIOLOGI

4 FILM UKURAN 30 X 40 CM FUJI LEMARI KAYU RADIOLOGI

5 FILM USG (KERTAS FOTO) SPECTRA LEMARI KAYU RADIOLOGI

6 ULTRASONIC GELL ULTRASOUND LEMARI KAYU RADIOLOGI


LOTUS

7 HAND SCOEN SURGI - CARE LEMARI KAYU RADIOLOGI

8 MASKER SURGI - CARE LEMARI KAYU RADIOLOGI

8 KAPAS DELUXE LEMARI KAYU RADIOLOGI

9 LEUKOPLAST BESAR BSN MEDICAL LEMARI KAYU RADIOLOGI

2. BHP Pendukung hasil radiologi


a. Form Hasil Expertise
b. Amplop ukuran 35 X 24 cm
c. Amplop ukuran 40 X 28 cm
d. Amplop ukuran 43 X 33 cm
e. Amplop ukuran 45 X 39 cm
f. Amplop USG 26 x 14 cm.
3. BHP Alat Pelindung Diri (APD)
a. Masker
b. Sarung tangan (Hand scoen)

A. Pengajuan Peralatan dan Film Radiologi


1. Petugas Penanggung Jawab
a. Kepala Instalasi Radiologi
b. Kepala Ruangan Radiologi
2. Perangkat kerja
a. Formulir Permintaan Barang/Jasa
3. Tata Laksana Pengajuan Peralatan Radiologi
a. Instalasi Radiologi membuat perencanaan kebutuhan pengembangan
pelayanan termasuk kebutuhan peralatan radiologi
b. Kepala Instalasi Radiologi membuat analisa kebutuhan pengembangan/
pengadaan peralatan pada form analisa pengajuan sarana dan prasarana.
c. Hasil analisa di sampaikan kepada Kepala Bidang Penunjang Medis dan
dilaporkan kepada Direktur untuk kepastian anggaran pengadaan.

B. Pemeliharaan Alat-alat Radiologi


1. Petugas Penanggung Jawab
a. Kepala Instalasi Radiologi
b. Kepala Ruangan Radiologi
c. Radiografer
2. Perangkat kerja
a. Alat pembersih, kain atau lap bersih.
b. Laporan Kerusakan Fasilitas & Peralatan
c. Kartu Perawatan Alat
d. Laporan Harian Kegiatan Instalasi Radiologi
3. Tata Laksana Pemeliharaan Alat-alat Radiologi
a. Setiap petugas radiologi yang berdinas agar memperhatikan dan
melakukan kebersihan secara teratur (harian, mingguan) terutama pada
alat yang telah digunakan dengan membersihkan body alat-alat radiologi
dengan kain atau lap bersih.
b. Catat dan tandatangani setap melakukan kegiatan kebersihan alat pada Buku
Jadwal Pemeliharaan Peralatan/Fasilitas.
c. Jika terdapat kerusakan alat radiologi, petugas radiologi segera
melaporkan ke Kepala Ruangan / Kepala Instalasi Radiologi dan diteruskan ke
Bagian Logistik serta Teknisi Internal dengan mengisi form Laporan Kerusakan
Fasilitas & Peralatan.
d. Apabila Teknisi Internal mengalami kesulitan dalam perbaikannya, laporan
diteruskan ke Teknisi External dengan persetujuan Kepala Bagian Logistk.
e. Ingatkan Bagian Logistik untuk dilakukan maintenance alat jika telah memiliki
service kontrak.
f. Jika belum ada service kontrak usulkan service kontraknya agar dapat
dilakukan maintenance secara berkala.

g. Laporkan pada petugas radiologi shif berikutnya (saat operan), baik laporan
lisan maupun tertulis pada buku laporan harian kegiatan instalasi
radiologi akan keberadaan dan kondisi alat.
h. Pastkan alat-alat radiologi selalu dalam kondisi siap pakai, sehingga
pelayanan radiologi berjalan baik dan lancar
BAB VI
PENINGKATAN MUTU
PELAYANAN INSTALASI RADIOLOGI RSUD dr. ACHMAD
DIPONEGORO

Upaya peningkatan mutu di RSUD dr. Achmad Diponegoro, khususnya di Instalasi


Radiologi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka diperlukan adanya kesatuan
bahasa tentang konsep dasar upaya peningkatan mutu pelayanan.
A. Mutu Pelayanan Instalasi Radiologi

1. Definisi Mutu Pelayanan Rumah Sakit


Adalah derajat kesempurnaan pelayanan RSUD dr. Achmad Diponegoro untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen akan pelayanan kesehatan yang
sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan dengan menggunakan potensi
sumber daya yang tersedia di RSUD dr. Achmad Diponegoro secara wajar,
efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai dengan
norma, etika, hukum dan sosio budaya dengan memperhatikan keterbatasan
dan kemampuan Rumah Sakit dan masyarakat konsumen.

2. Pihak yang berkepentingan dengan mutu


Pihak yang banyak berkepentingan dengan mutu, yaitu
a. Konsumen
b. Asuransi/ BPJS
c. Manajemen RSUD dr. Achmad Diponegoro
d. Pegawai RSUD dr. Achmad Diponegoro
e. Masyarakat
f. Pemerintahdaerah
g. Ikatan profesi
Setiap kepentingan yang disebut di atas berbeda sudut pandang dan
kepentingannya terhadap mutu. Karena itu mutu adalah mult idimensional.

3. Dimensi Mutu
Dimensi atau aspeknya adalah
a. Keprofesian
b. Efsiensi
c. Keamanan Pasien
d. Kepuasan Pasien
e. Aspek Sosial Budaya

4. Mutu terkait dengan Input, Proses, Output


Pengukuran mutu pelayanan kesehatan dapat diukur dengan menggunakan 3
variabel, yaitu
a. Input
Adalah segala sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pelayanan
kesehatan, seperti tenaga, dana, obat, fasilitas, peralatan, bahan, teknologi,
organisasi, informasi, dan lain-lain. Pelayanan kesehatan yang bermutu
memerlukan dukungan input yang bermutu pula. Hubungan struktur dengan
mutu pelayanan kesehatan adalah dalam perencanaan dan penggerakan
pelaksanaan pelayanan kesehatan.

Proses Merupakan aktvitas dalam bekerja, adalah merupakan interaksi


profesional antara pemberi pelayanan dengan konsumen
(pasien/masyarakat). Proses ini merupakan variabel penilaian mutu yang
penting.
b. Output
Adalah hasil pelayanan kesehatan, merupakan perubahan yang terjadi pada
konsumen (pasien/masyarakat), termasuk kepuasan dari konsumen tersebut.

B. Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Instalasi Radiologi


1. Definisi Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan
Adalah keseluruhan upaya dan kegiatan yang komprehensif dan integratif
yang menyangkut input, proses dan output secara objektif, sistematik dan
berlanjut memantau dan menilai mutu dan kewajaran pelayanan terhadap pasien,
dan memecahkan masalah-masalah yang terungkapkan sehingga pelayanan
yang diberikan di RSUD dr. Achmad Diponegoro berdaya guna dan berhasil guna.
2. Tujuan Upaya Peningkatan Mutu
a. Umum
Meningkatkan pelayanan kesehatan melalui upaya peningkatan mutu
pelayanan RSUD dr. Achmad Diponegoro secara efektif dan efisien agar
tercapai derajat kesehatan yang optimal.
b. Khusus
Tercapainya peningkatan mutu pelayanan Instalasi Radiologi RSUD dr.
Achmad Diponegoro melalui :
1) Optimasi tenaga, sarana, dan prasarana.
2) Pemberian pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan
yang dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu sesuai dengan
kebutuhan pasien.
3) Pemanfaatan teknologi tepat guna, hasil penelitan dan
pengembangan pelayanan kesehatan.

3. Indikator Mutu
Indikator mutu Instalasi Radiologi RSUD dr. Achmad Diponegoro meliputi
indikator klinik, indikator yang berorientasi pada waktu dan indikator rato
yang berdasarkan pada efektiftas (effectvenes), efsiensi (efciency),
keselamatan (safety) dan kelayakan (appropriateness). Indikator yang dipilih
a. Indikator lebih diutamakan untuk menilai output dari pada input dan proses
b. Bersifat umum, yaitu lebih baik indikator untuk situasi dan kelompok dari pada
untuk perorangan.

c. Dapat digunakan untuk membandingkan dengan Rumah Sakit lain, baik di


dalam maupun luar negeri.
d. Dapat mendorong intervensi sejak tahap awal pada aspek yang dipilih
untuk dimonitor
e. Didasarkan pada data yang ada.

4. Strategi

Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan Instalasi Radologi RSUD dr.


Achmad Diponegoro maka disusunlah strategi sebagai berikut :
a. Setiap petugas harus memahami dan menghayati konsep dasar dan prinsip
mutu pelayanan RSUD dr. Achmad Diponegoro sehingga dapat menerapkan
langkah-langkah upaya peningkatan mutu di Instalasi Radiologi.
b. Memberi prioritas kepada peningkatan kompetensi sumber daya manusia di
RSUD dr. Achmad Diponegoro, serta upaya meningkatkan kesejahteraan
pegawai.
c. Menciptakan budaya mutu di RSUD dr. Achmad Diponegoro termasuk di
dalamnya menyusun program mutu RSUD dr. Achmad Diponegoro.

5. Pendekatan Pemecahan Masalah


Pendekatan pemecahan masalah merupakan suatu proses siklus (daur) yang
berkesinambungan. Langkah pertama dalam proses siklus ini adalah identifkasi
masalah. Identifkasi masalah merupakan bagian sangat penting dari seluruh
proses siklus (daur), karena akan menentukan kegiatan-kegiatan selanjutnya
dari pendekatan pemecahan masalah ini. Masalah akan timbul apabila :
a. Hasil yang dicapai dibandingkan dengan standar yang ada terdapat penyimpangan
b. Merasa tidak puas akan penyimpangan tersebut.
c. Merasa bertanggung jawab atas penyimpangan tersebut.
Dengan telah jelasnya cara memecahkan masalah maka bisa dilakukan
tindakan perbaikan. Namun agar pemecahan masalah bisa tuntas, setelah
diadakan tindakan perbaikan perlu dinilai kembali apakah masih ada yang
tertinggal. Dari penilaian kembali maka akan didapatkan masalah yang telah
terpecahkan dan masalah yang masih tetap merupakan masalah sehingga proses
siklus akan berulang mulai tahap pertama.

6. Kegiatan dalam pengendalian Mutu


a. Pengendalian atas dokumen meliput
1) Penerbitan dan persetujuan dokumen.
2) Perubahan dokumen.
3) Distbusi dokumen.
4) Penomoran/ pengkodean dokumen.
b. Pengendalian catatan mutu meliput kegiatan
1) Identifkasi
2) Penyimpanan
3) Perlindungan
4) Penarikan
5) Lama simpan
6) Pemusnahan
c. Setiap pemasalahan yang terjadi harus dilakukan upaya penyelesaian
dan pencegahannya serta didokumentasikan.
d. Penyelenggaraan kegiatan komunikasi
1) Kegiatan rapat internal Instalasi Radiologi.
2) Mekanisme perencanaan kerja, sasaran dan indikator mutu atau rencana
kerja tahunan Instalasi Radiologi.
3) Survey kepuasan pelanggan adalah suatu kegiatan pengukuran
untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan eksternal terhadap
pelayanan yang telah diberikan.
BAB VII

PENINGKATAN KESELAMATAN PASIEN

Dalam rangka upaya peningkatan keselamatan pasien di RSUD dr. Achmad


Diponegoro pada umumnya dan di Instalasi Radiologi pada khususnya yang lebih efektf
dan efsien maka diperlukan adanya konsep dasar upaya peningkatan keselamatan pasien.
A. Keselamatan Pasien Instalasi Radiologi
1. Pengertian Keselamatan Pasien
Keselamatan pasien (patent safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah
sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliput
assessmen risiko, identfkasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan
risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan
tndak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko,
Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan
oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan
tindakan yang seharusnya dilakukan.
2. Tujuan Keselamatan Pasien
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
c. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit
d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak diharapkan.
3. Sasaran Keselamatan Pasien
Terdapat enam sasaran keselamatan pasien RS, yaitu
a. Sasaran I Ketepatan identifkasi pasien
b. Sasaran II Peningkatan Komunikasi yang efektf
c. Sasaran III Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-
t)
d. Sasaran IV Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien
operasi
e. Sasaran V Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
f. Sasaran VI Pengurangan risiko pasien jatuh
4. Standar Keselamatan Pasien Instalasi Radiologi
Program keselamatan pasien di rumah sakit Mitra Plumbon sesuai dengan 7
standar keselamatan pasien yang mengacu pada “Hospital Patent Safety
Standards” yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditaton of Health
Organizaton, Illinois, USA, tahun 2002, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi
perumahsakitan di Indonesia.
Tujuh Standar Keselamatan Pasien tersebut, meliputi :

a. Standar I. Hak pasien


Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya
Kejadian Tidak Diharapkan.
b. Standar II. Mendidik pasien dan keluarga
Petugas radiologi harus mendidik pasien dan keluarganya tentang
kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
c. Standar III. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar
tenaga dan antar unit pelayanan.
d. Standar IV. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien.
Rumah sakit mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada,
memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,
menganalisa secara intensif Kejadian Tidak Diharapkan, dan melakukan
perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
e. Standar V. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
1) Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan
pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan, “Tujuh
Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit”.
2) Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi
risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi
Kejadian Tidak Diharapkan.
3) Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar
unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
keselamatan pasien.

4) Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk


mengukur, mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta
meningkatkan keselamatan pasien.
5) Pimpinan mengukur dan mengkaji efektftas kontribusinya dalam
meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.
f. Standar VI. Mendidik Staf tentang Keselamatan Pasien
Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelathan dan orientasi untuk setap
jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas.
Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelathan berkelanjutan
untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung
pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.
g. Standar VII. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai
keselamatan pasien
Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi
keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.
Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.
5. Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien
Uraian Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah sebagai berikut
1. Bangun Kesadaran Akan Nilai Keselamatan Pasien.

Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.


2. Pimpin dan Dukung Staf dibawah
Bangunlah komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang Keselamatan
Pasien di seluruh jajaran RSUD dr Achmad Diponegoro.
3. Integrasikan Aktivitas Pengelolaan Risiko
Kembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko, serta lakukan
identifikasi dan asesmen hal yang potensial bermasalah.
4. Kembangkan Sistem Pelaporan
Pastikan staf anda agar dengan mudah dapat melaporkan kejadian/insiden,
serta rumah sakit mengatur pelaporan kepada Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit (KPRS).
5. Libatkan dan Berkomunikasi Dengan Pasien
Kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien
6. Belajar dan Berbagi Pengalaman Tentang Keselamatan Pasien
Seluruh staf harus mampu untuk melakukan analisis akar masalah untuk
belajar bagaimana dan mengapa KTD itu timbul.
7. Cegah Cedera Melalui Implementasi Sistem Keselamatan Pasien
Gunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk melakukan
perubahan pada sistem pelayanan.

6. Peran Instalasi Radiologi


Instalasi Radiologi mengupayakan beberapa kegiatan untuk mengendalikan
keselamatan pasien, yaitu meliputi :
a. Perhatikan Nama Obat, rupa dan ucapan mirip
b. Pastkan identifikasi pasien
c. Komunikasi secara benar saat serah terima surat rujukan pasien
d. Pastikan diagnosa atau permasalahan radiologi
e. Pastikan modalitas pemeriksaan yang akan diberikan tepat
f. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
g. Pastikan dosis toleransi pada pemberian obat kontras radiologi
h. Evaluasi selalu proses intervensi terapi yang dilakukan
i. Tingkatkan kebersihan tangan (hand hygiene) untuk pencegahan infeksi
nosokomial.

j. Pakai alat pelindung diri jika perlu


B. Sistem Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Instalasi Radiologi
1. Definisi Insiden Keselamatan Pasien / Patent Safety
Adalah setap kejadian yang tidak disengaja atau tidak diharapkan (KTD), kejadian
nyaris cidera (Near miss), kejadian sentinel, maupun keadaan yang dapat
mengakibatkan atau berpotensi menimbulkan cedera pada pasien.
a. Tidak Diharapkan (KTD)/Adverse Event
Adalah suatu kejadian yang tdak diharapkan yang mengakibatkan cedera
akibat melaksanakan suatu tndakan atau tdak mengambil tndakan yang
seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi
pasien. Cedera dapat disebabkan oleh kesalahan medis atau bukan
kesalahan medis karena tdak dapat dicegah.
b. Kejadian Nyaris Cedera (KNC)/Near Miss
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tndakan (comiiiion)
atau tdak mengambil tndakan yang seharusnya diambil (omiiiion), yang
dapat mencederai pasien tetapi cedera serius tdak terjadi karena
1) faktor “keberuntungan”, misal pasien menerima suatu obat kontra indikasi
tetapi tdak Tim bul reaksi obat, atau
2) pencegahan, misal suatu obat dengan lethal doie akan diberikan tetapi
staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan, atau
3) peringanan, misal suatu obat dengan lethal doie telah diberikan kepada
pasien namun segera diketahui lalu diberikan antdote-nya.
c. Kejadian Sentnel/Sentnel Event
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematan atau cedera yang serius.
Biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tdak diharapkan atau tdak
dapat diterima, sepert operasi pada bagian tubuh yang salah.

d. Kesalahan Medis/Medical Error


Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan
atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien. Kesalahan termasuk
gagal melaksanakan sepenuhnya suatu rencana atau menggunakan rencana
yang salah untuk mencapai tujuannya. Dapat sebagai akibat
melaksanakan suatu tindakan (comission) atau tdak mengambil tindakan
yang seharusnya diambil (omission).
e. Analisis Akar Masalah/Root Cause Analysis
Adalah suatu proses investgasi terstruktur untuk mengidentifkasi faktor
penyebab atau faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyimpangan
kinerja, termasuk KTD, serta untuk menentukan tindakan agar kejadian
yang sama tidak terulang kembali.
f. Manajemen Risiko/Risk Management,
Dalam hubungannya dengan operasional rumah sakit, manajemen risiko
dikaitkan dengan aktvitas perlindungan diri yang berart mencegah ancaman
yang nyata atau berpotensi nyata terhadap kerugian keuangan akibat
kecelakaan, cedera atau malpraktk medis. Manajemen risiko dimaksudkan
agar pelayanan kesehatan yang diberikan aman (health care iafer) dan hasil
pelayanan memuaskan (good outcome).
2. Alur Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien

a. Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD) di RSUD dr. Achmad Diponegoro


wajib segera ditndak lanjut (dicegah/ditangani) untuk mengurangi
ampak/akibat yang tdak diharapkan.
b. Setelah ditindaklanjuti, segera buat laporan insidennya dengan mengisi
Formulir Laporan Insiden pada akhir jam kerja/shif kepada Atasan langsung
(paling lambat 2 x 24 jam); jangan menunda laporan.
c. Setelah selesai mengisi pelaporan, segera serahkan kepada atasan langsung
pelapor (Atasan langsung disepakat sesuai keputusan manajemen
supevisor/kepala bagian/instalasi/ departemen/unit, ketua komite medis/ketua
SMF)
d. Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading riiiko
terhadap insiden yang dilaporkan.
e. Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisa yang akan
dilakukan sebagai berikut :
 Grade biru
Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu maksimal 1 minggu.
 Grade hijau
Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu maksimal 2 minggu.
 Grade Kuning

Investigasi komprehensif/analisis akar masalah/RCA oleh Tim KPRS Rumah Sakit


Umum Daerah dr. Achmad Diponegoro waktu maksimal 45 hari.
 Grade merah

Investigasi komprehensif/analisis akar masalah/RCA oleh Tim KPRS RSUD dr.


Achmad Diponegoro, waktu maksimal 45 hari.
f. Setelah selesai melakukan investgasi sederhana, laporan hasil investgasi dan
laporan insiden dilaporkan ke Tim KPRS RSUD dr. Achmad Diponegoro.
g. Tim KPRS RSUD dr. Achmad Diponegoro akan menganilisis kembali hasil
investgasi dan laporan insiden untuk menentukan apakah perlu dilakukan
investgasi lanjutan (RCA) dengan melakukan Regrading
h. Untuk grade kuning/merah, Tim KPRS RSUD dr. Achmad Diponegoro akan
melakukan analisis akar masalah/Root Cause Analysis (RCA).
i. Setelah melakukan RCA, Tim KPRS RSUD dr. Achmad Diponegoro akan
membuat laporan dan rekomendasi untuk perbaikan serta pembelajaran
berupa petunjuk/”safety alert” untuk mencegah kejadian yang sama terulang
kembali.
j. Hasil RCA, rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada direktur.
k. Rekomendasi untuk ”Perbaikan & Pembelajaran” diberikan umpan balik kepada
unit kerja terkait.
l. Instalasi Radiologi membuat analisa dan trend kejadian di satuan kerjanya
masing-masing.
m. Monitoring dan evaluasi perbaikan oleh Tim KPRS RSUD dr. Achmad Diponegoro.
BAB VIII
KESEHATAN KESELAMATAN KERJA DAN LINGKUNGAN
INSTALASI RADIOLOGI RSUD dr. ACHMAD DIPONEGORO

A. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


Rumah Sakit merupakan salah satu tempat kerja, yang wajib melaksanakan Program K3
yang bermanfaat baik bagi pekerja, pasien, pengunjung, maupun bagi masyarakat di
Iingkungan sekitar Rumah Sakit.

Pelayanan K3 harus dilaksanakan secara terpadu melibatkan berbagai komponen yang


ada di Rumah Sakit. Pelayanan K3 di Rumah Sakit sampai saat ini dirasakan belum
maksimal. Hal ini dikarenakan masih banyak Rumah Sakit yang belum
menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Dalam undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 23 mengenai


kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan
pada setap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya
kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh
produktvitas kerja yang optmal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.
1. Pengertian
a. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah upaya untuk memberikan
jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan dengan cara
pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya
ditempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi.
b. Kapasitas kerja adalah status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik
serta kemampuan fisik yang prima setiap pekerja agar dapat melakukan
pekerjaannya dengan baik. Contoh ; bila seorang pekerja kekurangan zat besi
yang menyebabkan anemia, maka kapasitas kerja akan menurun karena
pengaruh kondisi Iemah dan lesu.

c. Beban kerja adalah beban fisik dan mental yang harus di tanggung oleh pekerja
dalam melaksanakan tugasnya. Contoh ; pekerja yang bekerja melebihi
waktu kerja maksimum dll.
d. Lingkungan kerja adalah lingkungan terdekat dari seorang pekerja. Contoh ;
seorang yang bekerja di instalasi radiologi maka lingkungan kerjanya adalah
ruangan-ruangan yang berkaitan dengan proses pekerjaannya di instalasi
radiologi.
2. Bahaya Potensial (Potental Hazards)
Bahaya – bahaya potensial di rumah sakit yang disebabkan oleh faktor biologis
(Virus, bakteri, jamur, dll), faktor ergonomi (cara kerja yang salah), faktor
psikososial (kerja shif, hubungan sesama pekerja/atasan) dapat mengakibatkan
penyakit dan kecelakaan akibat kerja.

Penyakit akibat kerja (PAK) umumnya berkaitan dengan faktor biologi (kuman
patogen yang berasal umumnya dari pasien), kulit, faktor ergonomi (cara duduk
yang salah, cara mengangkat pasien salah), faktor fsik (panas pada kulit,
tegangan tinggi pada sistem reproduksi, radiasi pada sistm produksi sel darah),
faktor psikologis.
Sumber bahaya yang ada dirumah sakit harus diidentifkasi dan dinilai untuk
menentukan tingkat resiko, yang merupakan tolak ukur kemungkinan
tejadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
a. Identifikasi sumber bahaya
Dapat dilakukan dengan mempertimbangkan
1) Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya.
2) Jenis kecelakaan dan PAK yang mungkin dapat terjadi
b. Penilaian faktor risiko
Adalah proses untuk menentukan ada tidaknya risiko dengan jalan
melakukan penilaian bahaya potensial yang menimbulkan risiko kesehatan dan
keselamatan
c. Pengendalian faktor risiko
Dilaksanakan melalui 4 tingkatan pengendalian risiko yakni menghilangkan
bahaya, menggantikan sumber risiko dengan sarana/peralatan lain yang tingkat
risikonya lebih rendah / tidak ada (engineering / rekayasa), administrasi
dan alat pelindung pribadi (APP).
Bahaya –bahaya potensial di rumah sakit berdasarkan lokasi dan
pekerjaan diantaranya
Pekerja yang paling
No Bahaya Potensial Lokasi
berisiko
1 FISIK : Bising IPS-RS, laundri, dapur, CSSD, Karyawan yang bekerja lokasi
gedung genset-boiler, IPAL tsb

ruang mesin-mesin dan


perawat, cleaning service
Getaran peralatan yang
dll
menghasilkan getaran
genset, bengkel kerja, Petugas sanitasi, teknisi
(ruang gigi dll)
Debu laboratorium gigi, gigi, petugas IPS dan
gudang rekam rekam medis
pekerja dapur, pekerja
medis, incinerator
CSSD, dapur,
Panas laundry, petugas sanitasi
laundri,
dan IP-RS
Radiasi incinerator,
X-Ray, ruang fsioterapi, unit Ahli radiologi,
boiler
gigi. radioterapist dan
radiografer, ahli
fisioterapi .

2 KIMIA : Disinfektan Semua area Petugas kebersihan,


perawat.
Pekerja farmasi, perawat,
Farmasi, tempat
Cytotoxic petugas pengumpul
pembuangan limbah,
sampah
Ethylene oxide bangsal
Kamar operasi Dokter,perawat
Petugas kamar mayat,
Laboratorium, kamar
Formaldehyde petugas laboratorium dan
mayat, gudang farmasi
farmasi
Methyl
Petugas / dokter gigi,
Methacrylate, Hg Ruang pemeriksaan gigi
dokter bedah, perawat
(amalgam)
Teknisi, petugas
Laboratorium, bengkel
Solvents laboratorium, petugas
kerja, semua area di RS
pembersih
Dokter gigi, perawat,
Ruang OK, ruang
Gas-gas anaestesi dokter bedah, dokter /
pemulihan (RR)
perawat anaestesi
3 BIOLOGIK :
Dokter , dokter gigi,
IGD, kamar Operasi, ruang
AIDS, Hepatts B perawat, petugas
pemeriksaan gigi,
dan Non A-Non B laboratorium, petugas
laboratorium, laundry
sanitasi dan laundry
Cytomegalovirus Ruang kebidanan, ruang Perawat, dokter yang
anak
bekerja di bagian Ibu dan
anak
Rubella Ruang ibu dan anak Dokter dan perawat

Tuberculosis Bangsal, laboratorium, ruang


isolasi Perawat, petugas
laboratorium, fisioterapis
4 ERGONOMIK Area pasien dan tempat
Petugas yang menangani
Pekerjaan yang penyimpanan barang
pasien dan barang
dilakukan secara (gudang)
manual

Postur yang salah Semua area


dalam melakukan Semua karyawan
pekerjaan
Pekerjaan yang Semua area Dokter gigi, petugas
berulang
pembersih, fisioterapis,
sopir, operator komputer,
yang berhubungan dengan
pekerjaan juru

tulis.
5 Semua area Semua karyawan
PSIKOSOSIAL
Sering kontak
dengan pasien, kerja
bergilir, kerja
berlebih, ancaman
secara fisik.

A. Kesehatan Kerja
Pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilaksanakan setap rumah sakit seperti
tercantum pada pasal 23 dalam UU kesehatan No. 23 tahun 1992 dan Peraturan
Mentri Tenaga kerja & transmigrasi RI No. 03 / men /989 tentang pelayanan
kesehatan kerja meliputi :
1. Pemeriksaan kesehatan.
a. Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja
b. Pemeriksaan kesehatan secara berkala
c. Pemeriksaan kesehatan khusus.

2. Memberikan pengobatan serta rehabilitasi bagi pekerja yang


mengalami Kecekalakaan.
Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Kerja.
Segala ketentuan kesehatan kerja di RSUD dr. Achmad Diponegoro
ditetapkan oleh Keputusan Direktur No. 4913/B/RS.MP/II/2011 tentang
Ketentuan Kesehatan Kerja, Kecelakaan Akibat Kerja, dan Penyakit Akibat kerja di
RSUD dr. Achmad Diponegoro.
B. Keselamatan Kerja
Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan sarana, prasarana
dan peralatan kerja. Upaya pelayanan keselamatan kerja yang dilakukan meliputi :
1. Penetapan tempat beresiko dan Penggunaaan Alat Pelindung Diri
Agar seluruh pegawai, pasien, keluarga pasien, pengunjung dapat mengetahui
tempat tempat berbahaya di lingkungan rumah sakit maka diberikan tanda
– tanda atau petunjuk yang ditempatkan di tempat yang telah ditentukan.
Tempat yang dianggap beresiko diantaranya
a. Instalasi Radiologi
b. Instalasi Labolatorium
c. Instalasi Farmasi
d. Kamar Operasi
e. Genset
f. Kamar isolasi penyakit menular
g. Tempat dengan ketinggian lebih dari 1 Meter
Selain penetapan tempat beresiko salah satu pemberian rasa aman kepada
pekerja juga diberlakukan kewajiban untuk menggunakan alat pelindung diri
dalam melakukan setiap kegiatan yang beresiko tinggi menimbulkan penyakit
akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja.
Penetapan tempat beresiko dan penggunaan alat pelindung diri ini ditetapkan
oleh keputusan direktur no. 4914/B/RS.MP/II/2011 tentang penetapan tempat
beresiko dan penggunaan alat pelindung diri di RSUD dr. Achmad Diponegoro.
2. Pegawasan Keselamatan/Keamanan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan
Pengawasan ini bertujuan untuk menjamin berfungsinya peralatan medik dan
non medik sebagaimana mestnya sehingga tdak merugikan pengguanaan alat
tersebut.
Pengawasan/pemantauan kelayakan alat medik dan non medik dengan cara :
a. Melengkapi perizinan dan sertfkasi sarana, prasarana dan peralatan kesehatan
b. Melakukan pengujian kalibrasi alat
c. Pemeliharaan alat dilakukan secara berkala

Kegiatan pemeliharaan dan/atau perawatan sarana dan/atau prasarana dan kalibrasi


1. Pemeliharaan dan/atau perawatan sarana dan/atau prasarana
a. Program pemeliharaan dan/atau perawatan sarana dan/atau prasarana
masing- masing unit yang dilakukan oleh seitap unit pengguna/IPSRS/Pihak
Ekstern
b. Adanya pelaporan pelaksanaan pemeliharaan dan/atau perawatan
Sarana dan/atau prasarana kepada Kabid Penunjang.
2. Kalibrasi.

a. Kalibrasi dilakukan secara periodik 1 (satu) tahun sekali pada atau sesuai
dengan kebutuhan yang ada.
b. Pelaksanaan kalibrasi dilakukan oleh pihak luar yang ditunjuk.
c. Pelaksanaan kalibrasi oleh pihak luar dilakukan mengikut prosedur
Pembelian yang ada yaitu Bagian Logistk mendata alat ukur & monitor yang
harus dilakukan kalibrasi alat ukur & monitor dan mengajukannya ke Ka. Si.
Perencanaan & Pengembangan untuk dilanjutkan ke Ka. Bag. ADM Umum
& Keuangan dalam Form permohonan kalibrasi alat ukur & monitor
untuk disetujui. Bagian logistic menjadwalkan pelaksanaan kalibrasi dan
mengundang pihak luar yang ditunjuk.
d. Pada saat kalibrasi berlangsung Koordinator / Ka. Unit / Bidang unit
pengguna dan petugas PSRS mendampingi pihak luar yang melakukan
kalibrasi
e. Setiap Kepala Ruangan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa alat
tersebut telah dikalibrasi dengan memeriksa tanda status hasil kalibrasi (bila
ada)
f. Bagian Logistk mencatat waktu dan hasil pelaksanaan kalibrasi dari alat
tersebut pada Daftar Alat Ukur & Monitor sesuai dengan Laporan Hasil
Kalibrasi yang ada.
g. Alat yang tidak dapat dikalibrasi atau rusak akan diberi label yang sesuai
dan / atau dipisahkan.

3. Fasilitas Perlengkapan Keamanan Pasien


Di RSUD dr. Achmad Diponegoro dalam merealisasaikan penyelenggaraan program
K3 yang bertujuan membuat rasa aman terhadap pasein, pekerja, pengunjung di
lingkungan rumah sakit maka r e n c a n a a k a n di lengkapi oleh perlengkapan
diantaranya :
a. Pegangan pada tepi tangga
b. Pegangan pengaman pada samping kloset dan dilengkapi dengan bel pangil
c. Pintu dapat dibuka dari luar
d. Tempat tidur dilengkapi tralis penahan dibagian tepi
e. Sumber listrik mempunyai pengaman
f. Pemasok oksigen cukup pada tempat – tempat penting
g. Tersedia emergency suction pada keadaan gawat darurat
h. Ada tenaga listrik penggant bagi ruangan dan peralatan medik yang vital
B. PENYEHATAN LINGKUNGAN
Lingkungan kerja rumah sakit meliput semua ruangan dan area sekellilingnya yang
merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja yang dikelola
secara komersial, mempunyai resiko bahaya kesehatan, untuk itu diperlukan
panduan untuk memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan sesuai dengan
Kemenkes RI No. 261/Menkes/SK/II/1998 tentang persyaratan kesehatan lingkungan
kerja.
A. Pengertian
Penyehatan lingkungan rumah sakit adalah segala upaya untuk menyehatkan
dan memelihara lingkungan rumah sakit dan pengaruhnya terhadap manusia.
B. Persyaratan Kesehatan Lingkungan RSUD dr. Achmad Diponegoro.
1. Penyehatan Air
a. Tersedianya air bersih dengan kapasitas minimal 40 liter / orang / hari
b. Kualitas air bersih memenuhi syarat kesehatan yang meliput persyaratan
fisika, kimia, mikrobiologi dan radioaktif sesuai Permenkes No 416 tahun
1990 tentang pengawasan dan persyaratan kualitas air
2. Penyehatan Udara Ruangan
Suhu 18 – 28 °C
Kelembaban 40 – 60 %
3. Limbah
a. Limbah padat / sampah
1) Setiap limbah padat dari setiap ruangan satuan kerja dipisahkan
sesuai dengan jenis limbahnya (domestik, medis / klinik, Radiaktif)
dan dimasukkan kedalam bak / tong sampah yang telah dilapisi
kantong plastik yang telah disediakan untuk masing-masing jenis
sampah yang akan dibedakan.
2) Kantong plastik merah untuk limbah medik / infeksius.
3) Tong sampah kuning untuk limbah domestik / umum.
4) Pengangkutan limbah padat dari masing-masing ruang dilakukan
oleh petugas yang telah ditunjuk dari masing-masing ruang,
dengan menggunakan alat pengangkut/gerobak sampah, melalui
jalur yang telah ditentukan.
5) Limbah padat domestik dimasukkan ke tempat penampungan
sementara kontainer yang selanjutnya dibuang ketempat pembuangan
akhir oleh DPU.
6) Bak limbah padat dilakukan pemeliharaan kebersihan secara periodik
dan atau sesuai kondisi dan keperluannya.
b. Limbah Cair
1) Setiap ruang/satuan kerja yang menghasilkan limbah cair
(dilengkapi dengan fasilitas sistem pembuangan limbah cair (perpipaan
khusus).

2) Limbah cair diolah di sentral pengolahan limbah cair sebelum


dibuang ke lingkungan.

3) Pemeriksaan kualitas dilaporkan setiap bulan ke laboratorium


Referensi dengan parameter sesuai Kepmen LH No. 58 tahun 1995
untuk keperluan terbatas intern pemeriksaan kualitas dilakukan oleh
IPSRS.
4. Pencahayaan di ruangan.
Intensitas cahaya diruangna kerja minimal 100 Lux
5. Kebisingan Ruangan.
Tingkat kebisingan diruangna kerja maksimal 85 dBA
6. Getaran
Tingkat getaran tdak mengganggu
7. Ruangan dan Bangunan
a. Bangunan kuat, terpelihara, bersih dan tdak memungkinkan
terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan.
b. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tdak licin
dan bersih.
c. Langit – langit kuat, bersih dan atap kuat dan tdak bocor.
8. Penyehatan Makanan dan Minuman
a. Untuk bahan makanan dan minuman siap saji
Pengadaan makanan maupun bahan makanan perlu memperhatikan
hal-hal berikut ini, yaitu
1) Bahan makan dan makanan jadi dari lnstalasi Gizi harus diperiksa
secara fisik, dari dilakukan pemeriksaan kualitas secara periodik 6
bulan sekali dengan jumlah sampel dari parameter sesuai keperluan
2) Pemeriksaan kualitas dilakukan oleh Kesehatan lingkungan Dinas
Kesehatan Kabupaten dengan Koordinator Instalasi Gizi Rumah Sakit.
b. Penyimpanan
1) Tempat penyimpanan bahan makanan harus selalu terpelihara
kebersihannya, terlindung dari bahan kimia berbahaya, debu, serangga
dan tikus.

2) Bahan makanan dari makanan hasil olahan disimpan pada tempat


yang terpisah.

3) Suhu tempat penyimpanan makanan disesuaikan dengan sifat makanan


dan penyajiannya.
c. Tempat Pengolahan
1) Tempat pengolahan dari peralatannya dipelihara kebersihannya dan
atau dibersihkan / didesinfeksi, selanjutnya dikeringkan dengan
metode yang dianggap efektif dan efsien.
2) Asap dari kegiatan dapur dibuang keluar baik dengan peralatan
konvensional maupun mekanis.
3) Intensitas pencahayaan diupayakan tidak kurang dari 200 Lux.
d. Penjamah Makanan
1) Selama bekerja harus menggunakan perlengkapan pelindung
pengolahan makanan (celemek, penutup rambut).
2) Selama bekerja tidak dibenarkan merokok, makan dan memakai
perhiasan serta selalu menjaga/ memelihara kebersihan pribadi
(personal hygiene).
3) Selama melakukan pengolahan makanan tidak boleh kontak
langsung dengan tubuh (menggunakan alat pembantu sarung tangan
plastk, penjepit makan dll)
4) Penjamah makanan tidak menderita atau menjadi sumber
penularan penyakit.
5) Penjamah makanan harus sehat, diperiksa kesehatannya secara
berkala minimal 2 kali dalam setahun.
e. Penyajian Makanan
1) Penyajian makanan dari dapur pusat ke konsumen menggunakan
kereta dorong khusus untuk menghindarkan terjadinya pencemaran.
2) Transportasi makanan siap hidang diusahakan melalui jalur
tertentu sehingga dapat terhindar terjadinya pencemaran.
3) Makanan yang sudah menginap tidak boleh disajikan kepada pasien.
4) Kereta dorong pengangkut makanan harus selalu dijaga
kebersihannya secara periodik dari atau menurut kebutuhan.
9. Penyehatan Tempat Pencucian
a. Tempat Pencucian dan Peralatan Penunjang Medis.
Setap ruangan pelayanan medis dan penunjang medis yang karena
sifat kegiatannya harus dilengkapi dengan fasilitas pencucian untuk
mencuci peralatan. Fasilitas pencucian harus dilengkapi dengan sarana
pemeliharaan kebersihan Binatu. Lokasi Binatu diupayakan yang
mudah dijangkau oleh Unit Kegiatan yang memerlukan serta tidak
berdekatan dengan ruang Rawat Inap.
b. Konstruksi lantai dari beton atau plesteran yang kuat & tidak licin
dengan kemiringan lantai 2- 3 % kearah saluran pembuangan limbah
cairan.
c. Harus disediakan fasilitas pembuangan limbah cair sistem tertutup
dan menjamin kelancaran aliran limbah cair ke sistem jaringan limbah cair
terdekat.
d. Disediakan sistem penyediaan air bersih & air panas sesuai
dengan keperluannya.
e. Dilengkapi ruangan-ruangan yang terpisah sesuai dengan peruntukannya
1) Ruangan Linen Kotor
2) Ruang Linen Bersih
3) Ruang Penyimpanan Perlengkapan Cuci
4) Ruang Penyimpanan Perlengkapan Kebersihan
f. Disediakan kamar mandi & WC dan tempat cuci tangan untuk petugas
dengan jumlah sesuai keperluan.
g. Pengaturan tata letak ruang harus diperhatkan sehingga dapat
mencegah / menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi silang.
h. Ruangan harus selalu terjaga kebersihannya.
i. Bak-bak penampungan air dibersihkan minimal seminggu sekali untuk
mencegah perindukan serangga vektor penyakit.
j. Tingkat pencahayaan diruang pencucian minimal 200 Lux
k. Secara periodik atau menurut keperluannya ruangan dapat dilakukan
sterilisasi dengan metode yang dianggap efektif dan efisien.

10. Penyuluhan Kesehatan Lingkungan


a. Penyuluhan Kesehatan Lingkungan dilakukan terhadap pegawai Rumah
Sakit, pengunjung RS dan masyarakat sekitar Rumah Sakit.
b. Materi penyuluhan disesuaikan dengan keperluan khususnya yang
terkait dengan masalah kesehatan lingkungan.
c. Materi penyuluhan disiapkan oleh lnstalasi Sanitasi Lingkungan &
Pelaksanaannya dikoordinir oleh pengembangan SDM
d. Metode penyuluhan dapat dipilih sesuai dengan keperluan dengan metode
yang dianggap efektf dan efsien.

C. PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)


Limbah medis berbahaya yang berupa limbah kimiawi, limbah farmasi, logam
berat,limbah genotoksik dan wadah bertekanaan masih banyak yang belum dikelola
dengan baik. Sedangkan limbah infeksius merupakan limbah yang bisa menjadi
sumber penyebaran penyakit baik kepada SDM Rumah Sakit, pasien,
pengunjung/pengantar pasien ataupun masyarakat disekitar lingkungan Rumah
Sakit. Limbah infeksius biasanya berupa jaringan tubuh pasien, jarum suntik, darah,
perban, biakan kultur, bahan atau perlengkapan yang bersentuhan dengan penyakit
menular atau media lainnya yang diperkirakan tercemari oleh penyakit pasien.
Pengelolaan lingkunagn yang tidak tepat akan beresiko terhadap penularan penyakit.
Beberapa resiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan akibat keberadaan Rumah
Sakit antara lain penyakit menular (hepatitis, diare, campak, AIDS, influenza), bahaya
radiasi (kanker, kelainan organ genetik) dan resiko bahaya kimia.
A. Kategori B3
1. Memancarkan radiasi
Bahan yang memancarkan gelombang elektromagnetik atau partikel
radioaktif yang mampu mengionkan secara langsung atau tidak langsung
materi bahan yang dilaluinya. Misalnya sinar x, sinar alfa, sinar beta, sinar
gamma dll.
2. Mudah meledak
Bahan yang mudah membebaskan panas dengan cepat tanpa disertai
pengimbangan kehilangan panas. Sehingga kecepatan reaksi,
peningkatan suhu dan tekanan meningkat pesat dan dapat menimbulkan
peledakan. Bahan mudah meledak apabila terkena panas, gesekan atau
bantingan dapat menimbulkan ledakan.
3. Mudah menyala atau terbakar
Bahan yang mudah membebaskan panas dengan cepat disertai dengan
pengimbangan kehilangan panas, sehingga tercapai kecepatan reaksi
yang menimbulkan nyala. Bahan mudah menyala atau terbakar
mempunyai titik nyala rendah 21°C.
4. Oksidator
Bahan yang mempunyai sifat aktif mengoksidasikan sehingga terjadi
reaksi oksidasi,mengakibatkan reaksi keluar panas (eksotermis).
5. Racun
Bahan yang bersifat beracun bagi manusia atau lingkungan yang dapat
menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk kedalam tubuh
melalui pernapasan kulit atau mulut.

6. Korosif
Bahan yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit, menyebakan proses
pengkaratan pada lempeng baja dengan laju korosi lebih besar dari 6,35
mm/tahun dengan temperatur uji 55°C mempunyai pH sama atau kurang
dari 2 (asam),dan sama atau lebih dari 12,5 (basa).
7. Karsinogenik
Sifat bahan penyebab sel kanker yakni sel luar yang dapat merusak jaringan tubuh.
8. Iritasi
Bahan yang dapat mengakibatkan peradangan pada kulit dan selaput lender.
9. Teratogenik
Sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembantukan dan pertumbuhan embrio.
10. Mutagenik
Sifat bahan yang dapat mengakibatkan perubahan kromosom yang berarti
dapat merubah genetka.
11. Arus listrik

B. Faktor yang mendukung timbulnya situasi berbahaya / tingkat bahaya


dipengaruhi oleh daya racun
a. Cara B3 masuk kedalam tubuh yaitu melalui saluran pernafasan,saluran
pencernaan,dan penyerapan melalui kulit. Diantaranya yang sangat berbahaya
adalah yang melalui saluran pernafasan karena tanpa disadari B3 akan masuk
kedalam tubuh bersama udara yang dihirup yang diperkirakan sekitar 8,3 m2
selama 8 jam kerja dan sulit dikeluarkan kembali dari dalam tubuh.
b. Konsentrasi dan lama paparannya
c. Efek kombinasi bahan kimia, yaitu paparan bermacam-macam B3 dengan
sifat dan daya racun yang berbeda, menyulitkan tindakan-tindakan
pertolongan atau pengobatan.
d. Kerentanan calon korban paparan B3 karena masing-masing individu
mempunyai daya tahan yang berbeda terhadap pengaruh bahan kimia.

C. Prinsip Dasar Pencegahan dan Pengendalian B3


1. Identifikasi semua B3 dan instalasi yang akan ditangani untuk mengenal ciri-
ciri dan karakteristknya. Diperlukan penataan yang rapi dan teratur, dilakukan
oleh petugas yang ditunjuk sebagai penanggung jawab. Hasil identifikasi diberi
label atau kode untuk dapat membedakan satu dengan lainnya. Sumber informasi
didapatkan dari MSDS.
2. Evaluasi untuk menentukan langkah-langkah atau tindakan yang diperlukan
sesuai sifat dan karakteristik dari bahan atau instalasi yang ditangani sekaligus
memprediksi resiko yang mungkin terjadi apabila kecelakaan terjadi.
3. Pengendalian sebagai alternatif berdasarkan identifikasi dan evaluasi yang
dilakukan meliput
a. Pengendalian operasional, seperti eliminasi, substitusi, ventilasi,
penggunaan alat perlindungan diri dan menjaga higiene perorangan.
b. Pengendalian organisasi administrasi, seperti pemasangan label,
penyediaan MSDS, pembuatan prosedur kerja, pengaturan tata ruang,
pemantauan rutin dan pendidikan atau pelathan.
c. Inspeksi dan pemeliharaan sarana, prosedur dan proses kerja yang aman.
d. Pembatasan keberadaan B3 di tempat kerja sesuai jumlah barang.
4. Untuk mengurangi resiko karena penanganan bahan berbahaya, antara lain
a. Upayakan substitusi yaitu mengganti penggunaan bahan berbahaya dengan
yang kurang berbahaya.
b. Upayakan menggunakan atau menyimpan bahan berbahaya sedikit
mungkin dengan cara memilih proses kontinyu yang menggunakan bahan
setiap saat lebih sedikit. Dalam hal ini bahan dapat dipesan sesuai
dengan kebutuhan sehingga resiko dalam penyimpanan kecil
c. Upayakan untuk mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang bahan
berbahaya yang menyangkut sifat berbahaya, cara penanganan, cara
penyimpanan, cara pembuangan dan penanganan sisa atau
bocoran/tumpahan, cara pengobatan bila terjadi kecelakaan dan
sebagainya. Informasi tersebut dapat diminta kepada penyalur atau
produsen bahan berbahaya yang bersangkutan.
d. Upayakan proses dilakukan secara tertutup atau mengendalikan
kontaminan bahan berbahaya dengan sistem ventilasi dan dipantau
secara berkala agar kontaminasi tidak melampaui nilai ambang batas yang
ditetapkan.
e. Upayakan agar pekerja tidak mengalami paparan yang terlalu lama
dengan mengurangi waktu kerja atau sistem shif kerja serta mengikuti
prosedur kerja yang aman.
f. Upayakan agar pekerja memakai alat pelindung diri yang sesuai atau tepat
melalui pengujian, pelaithan dan pengawasan
g. Upayakan agar penyimpanan bahan-bahan berbahaya sesuai dengan
prosedur dan petunjuk teknis yang ada dan memberikan tanda-tanda
peringatan yang sesuai dan jelas.
h. Upayakan agar sistem izin kerja diterapkan dalam penanganan bahan-
bahan berbahaya.
i. Tempat penyimpanan bahan-bahan berbahaya harus dalam keadaan aman,
bersih dan terpelihara dengan baik.
j. Upayakan agar limbah yang dihasilkan sekecil mungkin dengan cara
memelihara instalasi menggunakan teknologi yang tepat dan upaya
pemanfaatan kembali atau daur ulang.

D. Penanganan Bahan Berbahaya dan Beracun


Dalam penanganan (menyimpan, memindahkan, menangani tumpahan,
menggunakan, dll) B3, setiap staf wajib mengetahui betul jenis bahan dan cara
penanganannya dengan melihat SPO dan MSDS yang telah ditetapkan.
1. Penanganan untuk personil
a. Kenali dengan seksama jenis bahan yang akan digunakan atau disimpan
b. Baca petunjuk yang tertera pada kemasan
c. Letakkan bahan sesuai ketentuan.
d. Tempatkan bahan pada ruang penyimpanan yang sesuai dengan petunjuk
e. Perhatikan batas waktu pemakaian bahan yang disimpan
f. Jangan menyimpan bahan melebihi pandangan mata
g. Pastkan kerja aman sesuai prosedur dalam pengambilan dan
penempatan bahan, hindari terjadinya tumpahan/kebocoran
h. Laporkan segera bila terjadi kebocoran bahan kimia atau gas
i. Laporkan setiap kejadian atau kemungkinan kejadian yang
menimbulkan bahaya/kecelakaan atau nyaris celaka melalui formulir yang
telah disediakan dan alur yang ditetapkan.
2. Penanganan berdasarkan lokasi
Daerah-daerah yang beresiko (laboratorium, radiologi, farmasi dan tempat
penyimpanan, penggunaan dan pengelolaan B3 yang ada di Rumah Sakit
harus ditetapkan sebagai daerah berbahaya dengan menggunakan kode
warna di area bersangkutan, serta dibuat dalam denah Rumah Sakit
dan disebarluaskan/disosialisasikan kepada seluruh penghuni Rumah Sakit.
3. Penanganan administratif
Di setiap tempat penyimpanan, penggunaan dan pengelolaan B3 harus diberi
tanda sesuai potensi bahaya yang ada, dan di lokasi tersebut tersedia SOP
untuk menangani B3, antara lain :
• Cara penanggulangan bila terjadi kontaminasi
• Cara penanggulangan apabila terjadi kedaruratan
• Cara penanganan B3, dll

D. PENANGGULANGAN BENCANA
1. Definisi
Panduan Perencanaan Penyiagaan Bencana bagi Rumah Sakit (P3B-RS) merupakan
suatu sistem dari system perencanaan penanganan bencana secara nasional.
Perencanaan perlu memperhatikan efektifitas dan efisiensi (organisasi,
anggaran, SDM) berdasarkan pada pengalaman dari institusi lain yang pernah
mengalami bencana.
Dalam keadaan bencana, Rumah Sakit harus tetap menjalankan tugas dan fungsinya
untuk menangani pasien Rumah Sakit dan korban bencana, kecuali Rumah Sakit
mengalami kelumpuhan struktur dan fungsinya. Dalam pelaksanaannya
Rumah Sakit harus memperhatikan aspek medikolegal.
P3B-RS disesuaikan dengan kemampuan/kapasitas Rumah Sakit dengan membuat
prioritas berdasarkan risiko ancaman bencana yang dihadapi dan kondisi daerah
setempat.

2. Bencana
Bencana dapat disebut juga musibah massal adalah suatu keadaan dimana
terjadi kecelakaan atau bencana alam dan atau bencana yang dibuat oleh manusia
yang dalam waktu relatif singkat terdapat korban dalam jumlah banyak, yang
tidak dapat ditanggulangi oleh hanya satu unit kerja/bagian tertentu, sehingga
harus mendapat pertolongan segera. Bencana yang dimaksud diatas bisa berasal
dari dalam/luar bangunan RSUD dr. Achmad Diponegoro.

3. Berbagai Bencana
Berbagai bencana yang menimbulkan ancaman bagi rumah sakit
a. Bencana Internal kebakaran, ledakan.
b. Bencana External Minor bencana yang melibatkan korban dalam jumlah kecil.
c. Bencana External Mayor bencana yang melibatkan korban dalam jumlah besar.
d. Bencana yang mengancam baik rumah sakit maupun lingkungannya kebakaran
yang besar atau dekat, banjir, ancaman bom.
e. Bencana di lingkungan lain.

Pernyataan Tingkat-Tingkat Keadaan


Pernyataan tingkatan keadaan darurat dikeluarkan oleh direktur RSUD dr.
Achmad Diponegoro, yang meliputi :
1. Keadaan Darurat III (Rawan / Kode Sandi Warna Hijau)
Dari keadaan normal (aman), akan dinyatakan dalam keadaan darurat III
apabila disinyalir adanya
a. Gejala Sosial yang mungkin dapat menimbulkan kerawanan/bencana
b. Gejala alam yang mungkin dapat berubah menjadi bencana
c. Gejala lain yang dapat membahayakan, mengancam keselamatan dan
keamanan instalasi (kebakaran).
2. Keadaan Darurat II (Bahaya /Kode Sandi Warna Kuning)
Keadaan Darurat II adalah merupakan peralihan keadaan darurat III yang
kondisinya menunjukkan perkembangan yang lebih rawan, dengan tanda-tanda
sebagai berikut :
a. Terjadinya kerusuhan atau huru-hara ditempat-tempat lain yang bersifat
explosif dan dapat meluas.
b. Terjadi aksi teror ditempat-tempat lain, dan adanya ancaman-ancaman
yang ditujukan kepada instalasi.
c. Gejala alam dan atau gejala lainnya yang menunjukkan tanda-tanda
lebih meningkat. (banjir, kebakaran, ledakan, pencemaran,dll) .
3. Keadaan Darurat I (Bahaya /Kode Sandi Warna Merah)
Keadaan darurat I adalah suatu kondisi dimana bahaya langsung sudah
harus ditanggulangi (terjadi huru-hara, bencana alam, kebakaran, dan bahaya
lain di dalam instalasi).

4. Ruangan dan Area Berkumpul Terbuka


Area tempat berkumpul (titik aman berkumpul) saat terjadinya bencana
internal bagi pasien, petugas dan pengunjung/ keluarga pasien, serta tempat
untuk melaksanakan triage korban.

Area Berkumpul Terbuka (Titik Aman Berkumpul)

Wilayah sekitar RS Area terbuka

Samping Rawat Jalan Halaman sebelah kanan

Didepan Kamar Mayat Halaman depan kamar Mayat

Didepan Kantor dan IGD Halaman Parkir


Alur Pelaporan Bencana

Ketua Tim Medical


Support

Dokter Umum Jaga

Supervisor

Teknisi Security

Alur Evakuasi Bencana

Dokter Umum Ketua Tim Medical


Jaga Support

Security Supervisor Teknisi

Ka Ruangan / Ka
Shif
Upaya Preventf
Agar terhindar dari bencana yang tdak diinaginkan, maka beberapa hal yang
harus dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Bekerja sesuai prosedur


Setiap petugas rehabilitasi medik yang bekerja harus memperhatikan
rambu- rambu tanda bahaya yang ada perlakuan barang yang menjadi
objek kegiatan sesuai dengan prosedur yang ada agar tidak terjadi hal-hal
yang membahayakan dirinya atau orang lain seperti terjadi kebakaran
yang berasal hubungan pendek arus listrik pada kabel yang digunakan
pada alat, maka dari itu setap pemakaian alat harus sesuai dengan
prosedur yang berlaku.
2. Pelatihan
Pelatihan merupakan sarana yang sangat baik dalam upaya
penanggulangan bencana, antara lain :

a. Pelatihan Kebakaran
Seluruh karyawan rehabilitasi medik harus bersedia dan aktif
mengikut pelatihan kebakaran (yang diselenggarakan oleh
RSUD dr. Achmad Diponegoro) yang bekerja sama dengan Dinas
Kebakaran, dengan adanya pelatihan ini diharapkan siap
mengantisipasi dan mencegah terjadinya kebakaran yang besar
agar tidak timbul kerugian atau korban yang lebih besar.
b. Pelatihan Evakuasi
Dalam pelatihan evakuasi yang diselenggarakan oleh RSUD dr.
Achmad Diponegoro, karyawan radiologi akan diberikan
pengetahuan dan praktek mengenai tehnik-tehnik evakuasi dan
prosedur evakuasi yang harus dilakukan.

5. Macam – Macam Bencana


Kemungkinan bencana yang terjadi di Instalasi Radiologi RSUD dr. Achmad
Diponegoro adalah kebakaran, gempa bumi, ancaman bom. Penanganan
tahap-tahap jenis bencana adalah sebagai berikut :
1. Kebakaran
Pada saat kebakaran, kemungkinan jenis korban yang dapat terjadi adalah
luka bakar, trauma, sesak nafas, histeria dan korban meninggal.
Langkah –langkah yang dilakukan ketika terjadi kebakaran :
a. Pindahkah korban ke tempat yang aman (area berkumpul)
b. Hubungi petugas pos Jaga.
c. Jika memungkinkan batasi penyebaran api, dengan menggunakan APAR.
d. Padamkan api jika memungkinkan dan jangan mengambil resiko.

Bila terjadi kebakaran selalu ingat :


a. Kejadian kebakaran harus dilaporkan.
b. Bila bangunan betingkat, gunakan tangga.
c. Biarkan lampu selalu menyala untuk penerangan.
d. Matikan alat – alat modalitas radiologi.
e. Tetap tenang dan jangan panik.
f. Tempat yang rendah memiliki udara yang lebih bersih.

Agar proses penanggulangan bencana kebakaran dapat berjalan dengan


baik kita harus tahu :
a. Tempat menaruh alat pemadam kebakaran dan cara menggunakannya.
b. Nomor pemadam kebakaran
c. Rute evakuasi dan pintu-pintu darurat.
d. Ada satu orang yang bisa mengambil keputusan dan tahu
bagaimana penanggulangan bencana kebakaran.
e. Koordinator yang memegang kendali / mengkoordinir bila terjadi bencana.

2. Gempa Bumi
Jenis korban yang dapat timbul pada saat terjadinya gempa bumi
adalah trauma, luka bakar, sesak nafas dan meninggal.
Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut petunjuk yang
dapat dijadikan pegangan :
a. Di dalam Ruangan
Merunduklah, lindungi kepala anda dan bertahan di tempat
aman. Beranjaklah beberapa langkah menuju tempat aman
terdekat. Tetaplah di dalam ruangan sampai goncangan berhenti
dan yakin telah aman untuk keluar, menjauhlah dari jendela. Pasien
yang tidak bisa mobilisasi lindungi kepala pasien dengan bantal.
b. Di luar Gedung
Cari titik aman yang jauh dari bangunan, pohon dan kabel. Rapatkan
badan ke tanah. Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari
kepanikan. Ikut semua petunjuk dari petugas atau satpam.
3. Ancaman Bom
Ancaman bom bisa tertulis dan bisa juga lisan atau lewat telepon. Ancaman bom
ada dua jenis :
a. Ancaman bom yang tidak spesifik pengancam tidak menyebutkan secara
detail tentang ancaman bom yang disampaikan.
b. Ancaman bom spesifik pengancam menyebutkan tempat ditaruhnya bom,
jenis bom yang digunakan, kapan bom akan meledak dan lain lain.
Semua ancaman bom harus ditanggapi secara serius sampai ditentukan oleh tim
penjinak bom bahwa situasi aman.
Jika anda menerima ancaman bom
a. Tetap tenang dan dengarkan pengancam dengan baik karena informasi
yang diterima dari pengancam sangat membantu tim penjinak bom.
b. Jangan tutup telepon sampai pengancam selesai berbicara.
c. Panggil teman lain untuk ikut mendengarkan telepon ancaman, atau
jika memungkinkan gunakan Hp anda untuk menghubungi orang lain.
d. Hubungi satpam bahwa ada ancaman bom dan tempat/ruangan yang
menerima ancaman.
e. Ancaman bom tertulis simpan kertas yang berisi ancaman dengan baik
dan laporkan kepada satpam.
f. Ancaman bom lewat telepon usahakan tetap bicara dengan penelepon dan
beri kode pada teman yang terdekat dengan anda bahwa ada ancaman bom.
g. Bila ada benda yang mencurigakan sebagai bom
1) Jangan menyentuh atau memperlakukan apapun terhadap benda
tersebut.
2) Sampaikan kepada koordinator, bahwa ada benda yang mencurigakan.
3) Lakukan evakuasi diruangan tersebut dan ruangan sekitarnya segera.
4) Buka pintu dan jendela segera.
5) Lakukan evakuasi sesuai prosedur

4. Kecelakaan Oleh Karena Zat-Zat Berbahaya


Kecelakaan oleh karena zat-zat berbahaya meliput kebocoran atau tumpahan
atau sengaja mengeluarkan cairan dan gas yang mudah terbakar, zat-zat
yang bersifat korosif, beracun, zat-zat radioaktf. Kemungkinan jenis korban
yang terjadi adalah keracunan, luka bakar, trauma dan meninggal.
Pada setiap kecelakaan oleh karena zat-zat berbahaya selalu diperhatikan :
1. Keamanan adalah yang utama.
2. Isolasi area terjadinya tumpahan atau kebocoran
3. Evakuasi korban dilakukan pada area yang berlawanan dengan arah
angin di lokasi kejadian
4. Hubungi operator untuk menyiagakan tim penanggulangan bencana rumah
sakit.

5. Tanggulangi tumpahan atau kebocoran, jika anda pernah mendapat


pelatihan tentang hal tersebut, tapi jangan mengambil resiko jika
anda tidak pernah mendapatkan pelatihan tentang cara menanggulangi
tumpahan atau kebocaran zat-zat berbahaya.
6. Lakukan dekontaminasi sebelum penanganan korban

D. UPAYA PENANGGULANGAN BENCANA YANG SUDAH TERJADI

Bencana yang terjadi didalam RSUD dr. Achmad Diponegoro dapat menjadi 2 hal, yaitu
1. Bencana yang tidak memerlukan evakuasi :

Penanggulangan korban yang terjadi di dalam Rumah Sakit tetap melalui


proses triase dengan sistem penanganan korban yang kadang dari luar RSUD
dr. Achmad Diponegoro.
2. Bencana yang memerlukan evakuasi :
Apabila bencana yang terjadi di dalam dapat menyebabkan kerusakan bangunan
serta mengancam keselamatan orang yang berada di RSUD dr. Achmad
Diponegoro maka harus segera dilakukan evakuasi.
a. Evakuasi.
Evakuasi adalah proses pemindahan korban dari lokasi kejadian ke tempat lain
yang aman atau untuk mendapat pertolongan medis yang lebih baik atau lebih
lengkap. Korban dapat merupakan pasien RSUD dr. Achmad Diponegoro,
tetapi dapat pula merupakan karyawan yang bekerja di RSUD dr. Achmad
Diponegoro.

Alasan evakuasi
1. Untuk memindahkan pasien atau staf dari tempat dimana bahaya mengancam.
2. Untuk mempersiapkan tempat tidur bagi korban kecelakaan yang
memerlukanya.

Pelaksanaan dari penanganan bencana internal


1. Pasien harus segera dipindahkan dari tempat yang aman.
2. Keputusan seberapa luas rencana dilaksanakan sebelum, selama, dan sesudah
evakuasi jika memungkinkan.

b. Anggota Tim Evakuasi


1. Petugas perawat jaga di semua ruang perawatan
2. Staf SDM / Kepegawaian dibantu oleh semua staf administrasi (diluar jam
kerja semua staf administrasi yang tugas jaga).

c. Prosedur Evakuasi pada Penanganan Bencana

1. Perawat jaga ruangan mendengar pemberitahuan adanya bencana dan

perintah evakuasi dari pimpinan siaga.

2. Dalam kondisi kebakaran atau bencana internal lain, semua pasien atau

staf rumah sakit harus segera dipindahkan ke tempat lain yang aman di

rumah sakit, atau di keluarkan dari rumah sakit.


3. Pemindahan pertama dilakukan ke tempat yang aman dalam lantai yang

sama, lalu jika area tersebut dia anggap tidak lagi aman, dilakukan

pemindahan ke lantai bawahnya atau dikeluarkan dari gedung.

4. Pemindahan harus secara sistematis dengan memindahkan pasien dan staf


yang lebih dekat dengan area yang berbahaya terlebih dahulu.
5. Setiap bagian dalam gedung harus diberi tanda. Pastikan pintu yang
menghubungkan dengan area yang terbakar selalu tertutup rapat sewaktu
pindah dari satu bagian ke bagian yang lain.
6. Jangan mencoba untuk evakuasi dari gedung “saat” terjadinya bencana gempa.

d. Tindak Lanjut
Setelah semua pasien dan korban akibat bencana tersebut sudah terkumpul di
tempat yang aman, Ketua Penanggulangan bencana mengatur pengiriman
pasien dan korban ke Rumah Sakit terdekat atau ke Rumah Sakit rujukan.

E. PENANGANAN SETELAH KEADAAN DARURAT


Tujuan penanganan setelah terjadinya keadaan darurat adalah untuk evakuasi,
inventarisasi sampai sejauh mana akibat yang ditimbulkan setelah kebakaran atau
bencana lainnya terjadi. Maka Komandan Bencana dan team yang terdiri dari fungsi-
fungsi terkait guna mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1. Melokalisir/mengamankan bangunan atau gedung yang terbakar.
2. Penyelidikan terhadap sebab-sebab terjadinya kebakaran untuk menentukan usaha-
usaha agar kejadian serupa tdak terjadi lagi.
3. Menghitung kerugian yang diderita. Hal ini untuk kepentingan asuransi
4. Mengadakan penelitian sehubungan dengan usaha pembenahan dan
rehabilitasi gedung/bangunan.
5. Mengambil langkah-langkah dalam usaha memberikan pelayanan perawatan pasien

F. SYARAT-SYARAT KETERAMPILAN DAN TUGAS TIM PENANGANAN BENCANA


Karena kegiatan anggota tim penanganan bencana dalam keadaan darurat itu
bersangkutan langsung dengan jiwa manusia dan harta benda yang berharga, maka
mereka minimal harus memiliki syarat kesehatan yang baik dan keterampilan tertentu
yang dapat diandalkan. Untuk memenuhi syarat tersebut diatas harus mendapatkan
pelatihan dan pendidikan. Pelatihan minimal harus dilakukan setiap 1 (satu) tahun
sekali. Ketrampilan dan tugas dipahami masing- masing anggota tim pemadam
kebakaran itu adalah seperti dibawah ini :

KELOMPOK PEMADAM KEBAKARAN


Tugas utama adalah memadamkan api, termasuk api walaupun kecil yang diduga akan
menjadi besar. Karena itu mempunyai ketrampilan :
1. Mengenali jenis dan sumber api, agar dengan cepat dapat memilih bahan
atau alat pemadam api yang cepat.
2. Mengenali jenis-jenis bahan pemadam untuk jenis api yang cocok.
3. Mengenali jenis dan dapat menggunakan alat pemadam kebakaran, dari yang
ringan sampai yang berat.
4. Pernah dilatih memadamkan api dari yang kecil sampai yang besar.
Karena mereka selalu berada dibarisan terdepan, harus berbadan kuat, dan keberanian
yang tinggi.

KELOMPOK EVAKUASI
Tugas utamanya adalah memimpin dan membantu para penghuni meninggalkan ruang
menuju ketempat yang aman melalui jalan dan tangga yang disediakan untuk evakuasi.
Dalam kelompok pencari dan penyelamat mempunyai anggota yang menjadi pelacak
jalan, meyakinkan bahwa jalan didepan aman dan tdak ada jebakan bahaya ataupun
jebakan pintu tertutup.

Tugas lainnya adalah :


1. Menyelamatkan benda-benda dan berkas berharga
2. Mencari penghuni atau siapa saja pada waktu terjadi kebakaran terutama di ruang-
ruang tertutup dan memberi tahu agar segera menyelamatkan diri.
3. Membantu dan menyelamatkan orang-orang yang tidak dapat berjalan sendiri
(pasien) keluar dari daerah berbahaya.
4. Menyelamatkan orang-orang (korban) yang terjebak dalam daerah dan tidak
dapat mencari jalan keluar.

Agar pelaksanaan dalam pencarian dan penyelamatan, anggota regu harus


mempunyai pengetahuan dan ketrampilan sebagai berikut :
1. Mengenali secara baik ruang-ruang, lorong dan pintu-pintu dilantainya.
2. Mengenali penghuni yang berada dilantainya.
3. Tahu prosedur-prosedur evakuasi, antara lain
a. Melarang penghuni berjalan melawan arah evakuasi
b. Bagi wanita yang bersepatu hak tinggi untuk dilepas.
c. Jangan panik dan jangan lari.
d. Mengenali secara baik semua jalan evakuasi menuju tempat berkumpul, di
dalam gedung, terutama disekitar tempat kerja.

e. Bersikap tenang dan berwibawa, agar yang dipandu tdak mudah panik.

KELOMPOK PENGAMANAN
Tugas kelompok pengaman adalah mengamankan daerah kebakaran dari
kemungkinan tindakan kejahatan oleh seseorang, misalnya mencuri barang-
barang yang sedang diselamatkan, mencopet penghuni yang sedang panik, dan
sebagainya. Dan juga memberikan peluang agar petugas lain dapat bekerja tidak
terganggu oleh pengungsi atau penonton dari luar.

KELOMPOK PENYELAMAT
Tugas utama kelompok penyelamat adalah menyelamatkan dokumen / harta benda RS.
Mitra Plumbon yang sangat pentng. Hal-hal yang harus diperhatkan oleh petugas
penyelamat adalah
Seleksi dokumen-dokumen yamng perlu penting untuk diselamatkan, dokumen tidak
penting tidak perlu dibawa karena akan menyulitkan dalam pelaksanaan penyelamatan.
Membawa dokumen dokumen yang perlu disesuaikan dengan batas kemampuan (tidak
boleh melebihi batas kemampuan).
G. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEBAKARAN
Latihan adalah merupakan suatu hal yang sangat penting, untuk itu setiap
anggota regu penanggulangan kebakaran harus melaksanakan/mengikut latihan
secara kontinyu dan efektif, baik latihan yang bersifat teori maupun yang bersifat
praktek. Mereka harus diberi petunjuk dalam cara penggunaan dari setiap peralatan
pemadam kebakaran dan peralatan penyelamat yang bersedia, serta cara kerja
instalasi pemadam kebakaran yang terpasang di tempat kerjanya. Program latihan
harus disesuaikan dengan tujuan regu tertentu. Program itu harus meliputi
pemadaman kebakaran dengan alat pemadam api ringan, penggunaan selang hos,
ventilasi bangunan, operasi pembongkaran, dan operasi penyelamatan.
Tujuan latihan adalah sebagai kesiap siagaan di dalam menghadapi kebakaran agar
mampu bekerja secara efektif dan efisien.
Latihan praktek adalah latihan yang bersifat praktek harus diberikan dengan tujuan
untuk mengetahui kemampuan/kecakapan anggota dalam melaksanakan tugas yang
diharapkan. Latihan harus dilaksanakan/dilakukan kadangkala seolah-olah dalam
keadaan yang sebenarnya (simulasi) untuk mengetahui prosedur yang khusus dalam
keadaan yang demikian. Dan pada peralatan akhir praktek pemadaman harus
disiapkan kembali sehingga bisa digunakan dengan cepat dan tepat sewaktu terjadi
kebakaran.
Pengendalian latihan adalah latihan praktek harus dilaksanakan di bawah
pengawasan serta pengendalian instansi Kepala Pemadaman Kebakaran Daerah.

Mengoperasikan Peralatan
Di dalam lathan sejauh mungkin harus mengoperasikan peralatan dan instalasi
pemadam kebakaran misalnya alat pemadam api ringan harus benar-benar
disemprotkan, apabila mempunyai alat pelindung pernapasan harus dipakai dan air
harus dialirkan kedalam selang hos dan sebagainya.
Kurikulum latihan, kurikulum latihan sedapat mungkin harus meliputi :
1. Sebab musabab kebakaran
2. Pokok dasar pengetahuan pemadaman
3. Pengetahuan tentang alat pemadam api
4. Tehnik pemadaman kebakaran
5. Tehnik pengamanan area kebakaran
6. Tehnik penyelamatan jiwa yang terancam dalam kebakaran
7. Pertolongan pertama bagi korban kebakaran
8. Praktikum / demonstrasi

Meningkatkan Program Latihan


Program latihan harus selalu ditingkatkan sesuai dengan persoalan yang
ditimbulkan oleh sumber bahaya kebakaran yang baru terdapat dalam tempat kerja
dan jenis alat pemadaman api baru serta metode baru untuk pemberantasan.
Harus diadakan jadwal latihan bagi anggota pengendalian keadaan darurat. Dan
pelajaran latihan sekurang-kurangnya diadakan satu kali dalam 1 (satu) tahun.

H. Sarana Penanggulangan Kebakaran, Sarana Penyelamatan Diri dan Sistem Deteksi


Kebakaran
1. Secara manual
Dengan menggunakan Break Glass yang dipasang pada dinding koridor setiap lantai
dan di tempat-tempat tertentu di lingkungan Rumah Sakit.

2. Secara otomatis
a. Heat Detector (Deteksi panas)
Dipasang pada plafon disetiap ruangan yang bekerja secara otomatis
apabila mendapat rangsangan panas pada titik panas 680 C.
b. Smoke Detector (Deteksi asap)
Dipasang pada plafon di ruangan-ruangan tertentu yang bekerja secara
otomats apabila mendapat rangsangan asap.
3. Control Panel
Bangunan RSUD dr. Achmad Diponegoro terbagi menjadi 3 bagian yaitu Wing
timur, Wing tengah, dan Wing barat panel control. Alarm yang ada di RSUD dr.
Achmad Diponegoro penempatannya di bagian atas gedung.

ALAT PEMADAM KEBAKARAN


1. Jenis Hydrant
a. Hydrant gedung
Hydrant gedung minimal ada untuk setiap lantai gedung.
b. Sprinkler
Sprinkler dipasang pada plafon di ruangan-ruangan tertentu yang bekerja

secara otomatis apabila mendapat rangsangan panas kurang lebih 680 C.

2. Jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR)


Untuk Pemadam Api Ringan, sebaiknya setiap ruangan didapatkan 1 APAR. Untuk
RSUD dr. Achmad Diponegoro sebaiknya disediakan 36 tabung APAR.
BAB IX

PROTEKSI RADIASI

Petugas radiologi dalam menjalankan pelayanan radiologi, agar memperhatikan proteksi


radiasi. Proteksi radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi pengaruh radiasi
yang merusak akibat paparan radiasi. Adapun proteksi radiasi yang dapat dilakukan adalah
sebagai berikut :
1. Pengamanan terhadap bahaya radiasi bagi petugas yang setiap hari menjalankan
peralatan radiologi harus benar-benar aman terhadap bahaya radiasi
a. Ketebalan dari dinding ruangan harus setara dengan 2,5 mm Pb (timah hitam).
b. Jarak antara sumber radiasi dengan petugas minimal 2 m dari sumber sinar
primer setelah diberi shielding.
c. Pintu ruangan pemeriksaan radiologi harus dilapisi dengan Pb (Timah hitam).
d. Tersedia cukup pelindung radiasi apron Pb, thyroid protector dan kacamata Pb.

2. Pengamanan terhadap bahaya radiasi bagi pasien/pengantar pasien.


a. Pengantar pasien harus diberi pelindung (Apron)
b. Membatasi jumlah sinar-x yang keluar sesuai dengan obyek yang akan di rontgen.
c. Melindungi bagian organ tubuh yang sangat peka terhadap radiasi (genitalia),
terutama pada pasien hamil atau pada anak-anak.

3. Pengamanan terhadap bahaya radiasi untuk lingkungan sekitarnya.


a. Ketebalan dinding ruangan minimal harus setara dengan 2,5 mm Pb (Timah hitam).
b. Pintu pintu ruangan yang terdapat peralatan radiologi harus dilapisi dengan
Pb yang tebalnya minimal 2,5 mm.
c. Pada waktu pemeriksaan pintu harus selalu tertutup.
d. Daerah di luar ruangan pemeriksaan harus selalu dimonitor.

4. Pengamanan bahaya radiasi secara umum


Peralatan Radiologi hanya boleh dijalankan oleh petugas khusus, yaitu
a. Radiografer / Pendidikan D III APRO/ATRO.
b. Dokter Spesialis Radiologi.
c. Pengamanan terhadap petugas yang menjalankan peralatan radiologi selalu
dimonitor secara berkesinambungan.
d. Alat monitor (TLD badge) dikirim untuk dievaluasi secara berkala (setap 3
bulan) ke Laboratorium BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional).

Adapun alat pelindung diri di Instalasi Radiologi RSUD dr. Achmad Diponegoro memiliki

Jenis APD
No Ruangan Thyroid Kaca Mata
Ket Hand scoon Pendose
Apron Masker Protector Pb

1 Rontgen Tersedia 1
Jumlah 1 Tersedia 1

Kondisi Baik Baik Baik baik


2 USG Tersedia
Jumlah Tersedia
Kondisi Baik Baik
BAB X
PENUTUP

Pelayanan Radiologi RS RSUD dr. Achmad Diponegoro saat ini sudah ada perbaikan
dan perlu ditingkatkan lagi kualitasnya sesuai dengan standar pelayanan radiologi rumah
sakit, sehingga dapat memberikan kontribusi terwujudnya tujuan dan peningkatan mutu
pelayanan di RSUD dr. Achmad Diponegoro yang berorientasi kepada kepuasan
pelanggan.

Dengan adanya buku pedoman ini diharapkan pelayanan radiologi lebih optimal, tanpa
mengabaikan patient safety yang merupakan prioritas utama dari pelayanan radiologi serta
menjadi acuan bagi petugas radiologi untuk melaksanakan koordinasi dalam rangka
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien secara profesional serta acuan
bagi managemen dalam upaya pengembangan pelayanan rumah sakit agar lebih baik lagi.