Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KECURANGAN E-COMMERCE

2.1.1 Sejarah Singkat E Commerce

Electronic Commerce, yang umum dikenal sebagai e-commerce atau e-comm,


mengacu pada pembelian dan penjualan produk atau jasa melalui sistem elektronik
seperti internet dan jaringan komputer. Electronic commerce mengacu pada teknologi seperti
tranfer data electronik, manajemen rantai suplai,pemasaran Internet, prosestransaksi online,
pertukaran data electronic (EDI), manajemen persediaan sistem, dan sistem pengumpulan
data otomatis.
Perdagangan elektronik modern biasanya menggunakan www (World Wide
Web) setidaknya pada satu titik dalam siklus hidup transaksi itu, meskipun mungkin
mencakup lebih luas teknologi seperti e-mail, perangkat mobile dan telepon juga. Awalnya,
perdagangan elektronik diidentifikasi sebagai fasilitasi transaksi komersial secara elektronik,
menggunakan teknologi seperti Electronic Data Interchange (EDI) dan Transfer Dana
Elektronik (TDE). Ini adalah kedua diperkenalkan pada akhir tahun 1970, yang
memungkinkan perusahaan untuk mengirim dokumen komersial seperti pesanan pembelian
atau invoice secara elektronik. Pertumbuhan dan penerimaan kartu kredit, anjungan tunai
mandiri (ATM) dan telepon perbankan di tahun 1980-an juga bentuk perdagangan
elektronik. Bentuk lain dari e-commerce adalah sistem reservasi maskapai ditandai oleh
Sabre di Amerika Serikat dan Travicom di Inggris.
Mulai tahun 1990-an, perdagangan elektronik akan mencakup perencanaan sumber
daya perusahaan sistem (ERP), data mining dan data warehousing
Pada tahun 1990, Tim Berners-Lee menemukan world wide web, web browser dan
mengubah jaringan telekomunikasi akademik ke dalam sistem komunikasi orang umum di
seluruh dunia sehari-hari disebut internet / www. Perusahaan komersial di internet sangat
dilarang oleh NSF sampai 1995. Meskipun Internet menjadi populer di seluruh dunia sekitar
tahun 1994, butuh waktu sekitar lima tahun untuk memperkenalkan protokol keamanan
(enkripsi SSL yaitu diaktifkan pada browser Netscape 1.0 pada akhir 1994) dan DSL terus
memungkinkan koneksi ke Internet. Pada akhir 2000, banyak perusahaan bisnis Eropa dan
Amerika menawarkan jasa mereka melalui World Wide Web. Sejak itu orang mulai
mengaitkan kata "e-commerce "dengan kemampuan membeli berbagai barang melalui
Internet menggunakan protokol aman dan layanan pembayaran elektronik.

2.1.2 Pengertian E-Commerce

E-Commerce sebagai “suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronis yang
memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet
sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah institusi maupun antar
institusi dan konsumen langsung”. Beberapa kalangan akademisi pun sepakat mendefinisikan
E-Commerce sebagai “salah satu cara memperbaiki kinerja dan mekanisme pertukaran
barang, jasa, informasi, dan pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi berbasis jaringan
peralatan digital.

Dengan menggunakan sistem komputer yang saling terhubung melalui jaringan


telekomunikasi, transaksi bisnis dapat dilakukan secara otomatis dan dalam waktu yang
singkat. Akibatnya informasi yang dibutuhkan untuk keperluan transaksi bisnis tersedia pada
saat diperlukan. Dengan melakukan bisnis secara elektronik, perusahaan dapat menekan
biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan pengiriman informasi. Proses transaksi yang
berlangsung secara cepat juga mengakibatkan meningkatnya produktifitas perusahaan.

2.1.2 Risiko Kecurangan dalam E-Commerce

Walaupun kecurangan dapat terjadi dalam lingkungan manapun, beberapa aspek dari
lingkunagn ebusiness memperlihatkan resiko yang unik. Karakteristik ini merupakan aspek
pendorong perekonomian berbasis internet yang menciptakan tekanan dan memberikan ruang
kesempatan secara khusus untuk kecurangan e-commerce. Kecurangan ini dilakukan ketika
tekanan, kesempatan dan rasionalisasi muncul bersamaan.

A. Resiko Kecurangan E-Commerce dalam Organisasi


Hampir sebagian besar risiko kecurangan e-commerce yang serius ditemukan dalam
organisasi. Setelah pelaku mendapat firewall dan pemeriksaan keamanan, jauh lebi
mudah untuk masuk ke dalam sistem, mencuri uang dan informasi, dan meyebabkan
kerusakan. Pelaku yang memiliki akses dari dan ke dalam perusahaan, mengetahui
lingkungan pengendalian, memahami mekanisme jaminan keamanan, dan
menemukan cara untuk melewati prosedur keamanan. Beberapa resiko kecurangan e-
commerce yang terjadi di dalam organisasi, yaitu :
a. Pencurian Data
b. Kata Sandi (untuk mendapatkan akses)
c. Perekayasaan Sosial
d. Sniffing (mencatat, menyaring, dan melihat informasi yang ada melalui lini jaringan)
e. Wartrapping (mengetahui lokasi via internet)

B. Resiko Kecurangan E-Commerce Di luar Organisasi


Internet memberikan cukup kekayaan bagi peretas eksternal untuk mendapatkan akses
pada sistem secara pribadi. Peretas secara relatif terlindung karena mereka melintasi
perbatasan internasional dan sebagian besar anonim-membuat penelusuran dan
pembuatan tuntutan terasa sulit. Beberapa resiko kecurangan e-commerce yang terjadi
di luar organisasi, yaitu :
a. Spyware, yaitu menginstall perangkat lunak untuk pengawasan sebagai tambahan
untuk perangkat lunak yang biasa diunduh oleh pengguna.
b. Phising, adalah metode umum yang digunakaan peretas untuk menggali informasi
perusahaan dari pegawai.
c. Spoofing, yaitu mengubah informasi dalam header surel atau alamat IP.
d. Pemalsuan Identitas.

2.1.3 Elemen-Elemen Risiko Kecurangan dalam E-Commerce

A. Tekanan

 Pertumbuhan dramatis, yang membuat besarnya kebutuhan akan arus kas


 Aktivitas merger atau akuisisi, yang menciptakan tekanan untuk ‘meningkatkan hasil
kecurangan yang dilaporkan’.
 Meminjam atau mengeluarkan saham; tekanan tambahan untuk “mengolah
pembukuan (cook the books)”.
 Produk baru, yang membutuhkan sistem pemasaran yang lebih intensif dan mahal saat
pasar yang ada tidak lagi ada.
 Model bisnis yang cacat atau tidak terbukti, dengan tekanan arus kas yang besar.

B. Kesempatan
 Teknologi yang baru dan inovatif, dengan perkembangan keamanan sering tertinggal
daripada pengembangan transaksi.
 Kompleksnya sistem informasi yang menciptakan kesulitan dalam aplikasi
pengendalian.
 Transfer informasi dalam jumlah besar, sebuah faktor yang menciptakan risiko atas
pencurian dan risiko identitas seperti pengawasan ilegal dan akses yang tidak
terotorisasi.
 Pemindahan kontak pribadi, yang memudahkan pemalsuan identitas atau penyamaran.
Tidak adanya “toko secara fisik yang minim aktivitas online (brick and mortar)”. Dan
fasilitas fisik lainnya yang memfasilitasi pemalsuan situs dan bisnis transaksi bisnis.
 Ketidakmampuan untuk membedakan perusahaan besar dan/atau perusahaan yang
dibentuk dari perusahaan baru atau perusahaan yang lebih kecil, sehingga mudah
untuk melakukan penipuan terhadap konsumen dengan memalsukan identitas dan/atau
pemaparan kegiatan bisnis.
 Transfer elektronik atas ketersediaan dana, memungkinkan kecurangan dalam skala
besar lebih mudah untuk dilakukan.
 Luasnya keterbatasan yang disepakati, yang mengakibatkan kecurangan dalam skala
besar lebih mudah dilakukan dengan menggunakan informasi yang dicuri atau
dipalsukan.

C. Peningkatan kecenderungan terhadap rasionalisasi


 Jarak yang dirasakan mengurangi kontak pribadi antara pelanggan dan pemasok
 Transaksi antara pembeli dan penjual anonim yang tidak diketahui-Anda tidak dapat
melihat siapa yang Anda sakiti.

2.1.4 Mencegah Kecurangan dalam E-Commerce

Mencegah kecurangan dalam setiap kegiata pengelolaan bisnis menyertakan


pengurangan atau penghilangan faktor-faktor yang memotivasi terjadinya kecurangan:
tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Dalam pengelolaan e-bisoness, mengurangi tekanan
dan menghilangkan rasionalisasi sulit untuk dibuktikan.

Salah satu kegagalan besar dalam jaminan keamanan e-commerce adalah langkah-
langkah pencegahan yang diketahui sebagai jaminan keamanan melalui ketidakjelasan.
Jaminan keamanan melalui ketidakjelasan adalah strategi menjaga celah kelemahan dari
keamanan, bahasa algoritma enkripsi, dan kerahasiaan proses dalam upaya untuk
membingungkan pihak lawan.

Sebagai kebalikan dari ketidakjelasan, keamanan yang sebenarnya ditemukan ketika


bahasan dan proses algoritma menjadi subjek untuk tinjauan yang lebih mendalam dan
bertahan terhadap pengujian waktu.

Didalam bisnis, pengendalian internal menyertakan 5 unsur yang berbeda, yaitu (1)
Lingkungan pengendalian, (2) penilaian resiko, (3) aktivitas atau prosedur pengendalian, (4)
informasi dan komunikasi, (5) pengawasan. Dalam ebusiness, tiga unsur yang pertama
menjadi yang paling penting.

Lingkungan Pengendalian

Esensi organisasi yang dikendalikan secara efektif terletak pada perilaku pihak manajemen
mereka. Jika manajemen puncak percaya bahwa pengendalian penting. Pihak lain dalam
organisasi akan merespons dengan benar-benar memperhatikan pengendalian yang ada.
Karena pengendalian menjadi sangat penting, perusahaan berusaha keras untuk mencegah
kecurangan e-business dengan berupaya melakukan segala kemungkinan untuk membuat dan
melakukan pengamatan pengendalian yang baik. Strategi kunci lainnya adalah memahami
pengendalian di tempat di mana organisasi perusahaan melakukan bisnis elektroniknya.

Hal yang penting dalam lingkungan pengendalian adalah:

a. Integritas dan Nilai Etika


b. Partisipasi Dewan Direksi dan Komite Audit
c. Filosofi dan Gaya Operasional Manajemen
d. Kebijakan dan Praktik Sumber Daya Manusia

Penilaian Resiko
Penilaian resiko mengidentifikasi resiko melakukan bisnis dengan mitra e-business. Bagian
utama dari penilaian ini yaitu fokus pada lingkungan pengendalian organisasi. Bagian lainnya
mengidentifikasi resiko utama dalam pertukaran informasi dan uang secara elektronik,
sehingga penempatan prosedur pengendalian disesuaikan dengan tantangan khusus yang
mengubah kondisi saat ini. Cabang yang dikhususkan adalah pendeteksian terjadinya
kekacauan. Perusahaan yang fokus utamanya pada pendeteksian kekacauan mencoba untuk
memperoleh akses ke jaringan dan mendapakan informasi, dan mereka melaporkan temuan
mereka secara langsung pada pihak manajemaen. Umumnya, sebuah audit jaminan keamanan
disertai dengan adanya investigasi ke dalam teknologi, proses, pengendalian dan faktor lain
pada klien.

Aktivitas Pengendalian

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang memastikan bahwa tindakan
yang diperlukan telah diambil terhadap adanya resiko dan terjadinya kecurangan. Aktivitas
pengendalian umumnya gagal pada:

a. Pemisahan tugas yang memadai,


Pengendalian ini berguna untuk memastikan bahwa individu yang mengototorisasi
transaksi berbeda dengan individu yang secata aktua mengeksekusi transaksi tersebut.
b. Otorisasi yang sesuai atas transaksi dan aktivitas.
Otorisasi yang sesuai adalah pengendalian lain yang memiliki peranan dalam e-
business. Pengendalian otorisasi yang paling umum adalah kata sandi firewall, akta,
dan tanda tangan digitan dan biometrika.

Dokumentasi dan Kegiatan Pencatatan yang Memadai

Dokumentasi dan pencatatan biasanya merupakan pengendalian investigatifm bukan


pengendalian preventif. Dokumentasi dan pencatatan merupakan jejak penelusuran audit dan
memungkinkan auditor dan pemeriksa kecurangan untuk melakukan investigasi atas dugaan
adanya kesalahan yang dilakukan.

a. Pengendalian Fisik atas Aset dan Pencatatan


Ketika pencatatan tidak cukup mendapatkan jaminan,, perusahaan memerlukan
sesuatu yang khusus untuk melindungi peralatanm program dan arsip data yang ada di
komputer.
b. Pengecekan yang Independen atas Kinerja
Kebutuhan untuk pengecekan independen muncur karena adanya perubahan sistem
pengendalian internal dari waktu ke waktu. Personel lupa atau gagal untuk mengikuti
prosedur, atau menjadi kurang berhati-hati. Kemungkinan transaksi yang mengandung
kecurangan muncul ketika pengendalian tidak berfungsi.

2.1.5 Mendeteksi Kecurangan E-Bussiness

Metode pendeteksian kecurangannya adalah pemeriksa kecurangan,

1. Berusaha untuk memahami bisnis atau kegiatan operasional organisasi


2. Mengidentifikasi kecurangan apa yang dapat terjadi dalam kegiatan operasional
3. Menentukan gejala-gejala yang paling mungkin muncul saat terjadinya kecurangan.
4. Menggunakan basis data dan sistem nformasi untuk mencari gejala tersebut
5. Melakukan analisis terhadap hasil
6. Melakukan investigasi terhadap gejala-gejala untuk menentukan apakah hal tersebut
disebabkan oleh kecurangan secara aktual atau faktor lainnya.

Metode ini memiliki kemampuan sangat baik dalam mendeteksi kecurangan e-busness. Salah
satu teknk terbaik untuk mengimplentasikan jenis pendeksian kecurangan ini adalah
penggunaan teknologi dalam menangkap kecurangan berbasis teknologi. Sebafai tambahan
untuk langkah-langkah secara teknis, melakukan pencegahan dan pendeteksian secara sosial
adalah hal yang penting.

2.1.6 Contoh Kasus dalam Kecurangan E-Bussiness

KASUS 1
Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) menetapkan tiga jenis
pelanggaran hukum yang terjadi dalam memanfaatkan sistem komunikasi teknologi informasi
atau dikenal dengan istilah kejahatan di “dunia maya”. Jenis pelanggaran itu diatur dan
ditentukan sanksi hukumnya dalam RUU Informasi dan transaksi elektronik (ITE) yang akan
disahkan DPR, kata Dirjen Aplikasi Telematika, Departemen Komunikasi dan Informasi
(Depkominfo) RI, Ir Cahyana Ahmadjayadi, dalam penjelasan tertulis di Padang, Rabu. Hal
itu disampaikannya terkait pembahasan RUU ITE yang tengah dilakukan DPR dan kini
dalam tahap sosialisasi kepada publik dengan melibatkan pemerintah (Departemen
Komunikasi dan Informasi RI). Kejahatan itu meliputi pelanggaran isi situs web, pelanggaran
dalam perdagangan secara elektronik dan pelanggaran bentuk lain.
Kejahatan isi situs web terdiri dari pornografi dan pelanggaran hak cipta, ujarnya.
Pornografi merupakan pelanggaran paling banyak terjadi di “dunia maya” dengan
menampilkan foto, cerita atau gambar bergerak yang pemuatannya selalu berlindung di balik
hak kebebasan berpendapat dan berserikat. Alasan ini, sering digunakan di Indonesia oleh
pihak-pihak yang terlibat dalam pornografi itu, sehingga situs-situs porno tumbuh subur
karena mudah diakses melalui internet. Sementara itu, pelanggaran hak cipta sering terjadi
baik pada situs web pribadi, komersial maupun akademisi berupa memberikan fasilitas
download gratis baik foto, lagu, softwere, film dan karya tulis dilindungi hak ciptanya. Selain
itu, menampilkan gambar-gambar yang dilindungi hak cipta untuk latar belakang atau hiasan
“web pages” dan merekayasa gambar atau foto orang lain tanpa izin, seperti banyak terjadi
pada situs-situs porno. Selanjutnya, kejahatan dalam perdagangan secara elektronik (e-
commerce) dalam bentuk penipuan online, penipuan pemasaran berjenjang online dan
penipuan kartu kredit. Menurut Cahyana, penipuan online ciri-cirinya harga produk yang
banyak diminati sangat rendah, penjual tidak menyediakan nomor telepon, tidak ada respon
terhadap pertanyaan melalui e-mail dan menjanjikan produk yang sedang tidak tersedia.
Risiko terburuk bagi korban kejahatan ini adalah telah membayar, namun tidak
mendapat produk, atau produk yang didapat tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Kemudian,
penipuan pemasaran berjenjang online ciri-cirinya mencari keuntungan dari merekrut anggota
dan menjual produk secara fiktif, dengan risiko bagi korban 98 persen investasi ini gagal atau
rugi. Sedangkan penipuan kartu kerdit ciri-cirinya terjadi biaya misterius pada penagihan
kartu untuk produk atau layanan internet yang tidak pernah dipesan, dengan risiko korban
perlu waktu untuk melunasi kreditnya. Sementara itu, pelanggaran dalam bentuk lain terdiri
dari recreational hacker, cracker atau criminal minded hacker, political hacher, denial of
service attack (DoS), Viruses, Piracy (pembajakan), Fraud, Phishing, perjudian dan cyber
stalking. Ia menjelaskan recreational hacker umumnya bertujuan hanya untuk menjebol suatu
sistem dan menunjukkan kegagalan atau kurang andalnya sistem keamanan pada suatu
perusahaan.
Cracker atau criminal minded hacker motivasinya antara lain untuk mendapatkan
keuntungan finansial dengan melakukan sabotase sampai pada penghancuran data. Political
hacher merupakan aktivitas politik melalui suatu situs web untuk menempelkan pesan atau
mendiskreditkan lawan. Denial of service attack (DoS) merupakan penyerangan dengan cara
membanjiri data yang besar dan mengakibatkan akses ke suatu situs web menjadi sangat
lambat atau berubah menjadi macet atau tidak bisa diakses sama sekali. Viruses berupa
penyebaran sedikitnya 200 virus baru melalui internet dan biasanya disembunyikan dalam
file atau e-mail yang akan di download atau melalui jaringan internet dan disket. Piracy
berupa pembajakan perangkat lunak yang menghilangkan potensi pendapatan suatu
perusahaan yang memproduksinya seperti, games, aplikasi bisnis dan hak cipta lainnya.
Fraud merupakan kegiatan manipulasi informasi khususnya tentang keuangan dengan target
mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
Phishing merupakan teknik mencari personal information berupa alamat e-mail dan
nomor account dengan mengirimkan e-mail seolah-olah datang dari bank bersangkutan.
Perjudian bentuk kasino banyak beroperasi di internet yang memberi peluang bagi penjahat
terorganisasi melakukan praktek pencucian uang dimana-mana. Cyber stalking merupakan
segala bentuk kiriman e-mail yang tidak diinginkan penerimaannya dan termasuk tindakan
pemaksaan atau “perkosaan”, demikian Cahyana Ahmadjayadi.

KASUS 2
Seorang warga negara Indonesia diduga terlibat kasus penipuan terhadap seorang
warga negara Amerika Serikat melalui penjualan online. Kasus ini terungkap setelah Markas
Besar Kepolisian mendapat laporan dari Biro Penyelidik Amerika Serikat."FBI
menginformasikan tentang adanya penipuan terhadap seorang warga negara Amerika yang
berinisial JJ, yang diduga dilakukan oleh seorang yang berasal dari Indonesia," kata Kepala
Biro Penerangan Masyarakat, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Kamis 11
Oktober 2012. Boy mengatakan seorang warga Indonesia itu menggunakan nama HB untuk
membeli sebuah alat elektronik melalui pembelian online. "Jadi ini transaksi melalui online,
tetapi lintas negara. Jadi transaksinya dengan pedagang yang ada di luar negeri, khususnya
Amerika," kata Boy.
Dalam kasus ini, kata Boy, Mabes Polri telah menetapkan satu tersangka berinisial
MWR. Dia memanfaatkan website www.audiogone.com yang memuat iklan penjualan
barang.Kemudian, kata Boy, MWR menghubungi JJ melalui email untuk membeli barang
yang ditawarkan dalam website itu. "Selanjutnya kedua belah pihak sepakat untuk melakukan
transakasi jual beli online. Pembayaran dilakukan dengan cara transfer dana menggunakan
kartu kredit di salah satu bank Amerika," kata dia.Setelah MWR mengirimkan barang bukti
pembayaran melalui kartu kredit, maka barang yang dipesan MWR dikirimkan oleh JJ ke
Indonesia. Kemudian, pada saat JJ melakukan klaim pembayaran di Citibank Amerika, tapi
pihak bank tidak dapat mencairkan pembayaran karena nomor kartu kredit yang digunakan
tersangka bukan milik MWR atau Haryo Brahmastyo."Jadi korban JJ merasa tertipu, dan
dirugikan oleh tersangka MWR," kata Boy. Dari hasil penyelidikan, MWR menggunakan
identitas palsu yaitu menggunakan KTP dan NPWP orang lain. Sementara barang bukti yang
disita adalah laptop, PC, lima handphone, KTP, NPWP, beberapa kartu kredit, paspor, alat
scanner, dan rekening salah satu bank atas nama MWRSD. Atas perbuatannya, tersangka
dikenai Pasal 378 atau Pasal 45 ayat 2, Pasal 28 Undang-Undang nomor 11 tentang Informasi
Transaksi Elektronik. Dengan pidana penjara paling lama 6(enam) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Selain itu, Polri juga menerapkan Pasal 3 Undang-Undang nomor 8 tahun 2010
tentang Pencucian Uang. Selain itu, juga dikenakan pasal pemalsuan yaitu Pasal 378 dan
beberapa pasal tambahan Pasal 4 ayat 5, dan pasal 5 UU no 8 tahun 2010.Saat ini tersangka
tengah menjalani proses hukum yang berlaku dan sudah berstatus tahanan Negara Republik
Indonesia.

2.2 KECURANGAN PELANGGAN

Kecurangan Pelanggan dan Dampaknya

Kecurangan Pelanggan adalah sejumlah kecurangan yang


b e r f o k u s p a d a i n d i v i d u t e r t e n t u s e b a g a i k o r b a n . Kecurangan pelanggan dapat
berupa kecurangan telepon, kecurangan majalah,kecurangan undian berhadiah, penawaran
uang asing (seperti penipuan uang nigeria), obat-obatan palsu, pelelangan di internet,
pencurian identitas, dan skema multi marketing (MLM) fiktif.
Kecurangan pelanggan adalah masalah yang sangat serius di A merika
Serikat dan di semua tempat diseluruh dunia. Pada oktober 2007, Federal Trade
Commisions (FTC) Amerika Seikat mengeluarkan survei keduanya tentang kecurangan
pelanggan di Amerika Serikat. Survei tersebut memperkirakan bahwa lebih dari 30 juta
orang dewasa 13,5 persen dari populasi orang dewasa-adalah korban kecurangan selama
tahun 2005.
Berikut peringkat 10 besar kecurangan yang diidentifikasi dala laporan, antara lain :
1. Kecurangan produk penurunan berat badan (4.8 juta korban)
2. Penipuan undian dari pihak asing (3,2juta korban
3. Tagihan tidak diotorisasi-kelompok pembeli (3,2 juta korban)
4. P r o m o s i b e r h a d i a h ( 2 , 7 j u t a k o r b a n )
5. P r o g r a m b e k e r j a d i r u m a h ( 2 , 4 j u t a k o r b a n )
6. A s u r a n s i k a r t u k r e d i t ( 2 , 1 j u t a k o r b a n )
7. Tagihan tidak diotorisasi-layanan internet (1,8 juta korban)
8. Penipuan pinjaman dengan biaya dibayar dimuka (1,7 juta korban)
9. P e n i p u a n p e r b a i k a n k r e d i t ( 1 , 2 j u t a k o r b a n )
10. Kesempatan bisnis (0,8 juta korban)