Anda di halaman 1dari 125

BAB II

“ KARBON TETRAKLORIDA”
CCl4
2.1 Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran dari materi karbon tetraklorida
adalah sebagai berikut :
1. Mampu memahami tentang senyawa Karbon
Tetraklorida ( CCl4 )
2. Mampu menjelaskan tentang senyawa Karbon
Tetraklorida ( CCl4 )

2.2 Deskripsi Materi

1. Pengertian Senyawa Karbon Tetraklorida


Karbon tetraklorida adalah cairan yang biasa
digunakan dalam alat pemadam kebakaran untuk
memerangi kebakaran kecil. Tidak ada titik nyala, tidak
mudah terbakar. Namun, ketika dipanaskan sampai

1
penguraian, ia akan memancarkan asap dari phosgene
yang sangat beracun dan hidrogen klorida. Membentuk
campuran eksplosif dengan klorin trifluorida, kalsium
hipoklorit, dekaboran, dinitrogen tetraoksida, fluorin.
Membentuk campuran bahan peledak dampak-sensitif
dengan partikel-partikel banyak logam: lithium, natrium,
kalium, berilium, seng, aluminium, barium. Reaksi
eksotermik yang kuat dengan alkohol alil, boron
trifluorida, diborane, disilan, aluminium klorida,
dibenzoil peroksida, kalium tert-butoksida, oksigen cair,
zirkonium.
Karbon tetraklorida ialah suatu senyawa organik
dengan rumus CCl4. Senyawa ini juga dikenal dalam
beberapa nama lain, khususnya, karbon tet dalam
industri pembersih, dan sebagai Halon atau Freon dalam
HVAC. Senyawa ini tadinya digunakan secara luas
sebagai racun api, sebagai prekursor untuk refrigeran,
zat pendingin, dan sebagai zat pembersih. Karbon

2
tetraklorida adalah cairan tidak berwarna dengan bau
“manis” yang dapat dilacak pada kadar rendah.

2. Sifat Fisika Kimia


a. Nama bahan

3
Karbon tetraklorida

Deskripsi
Bentuk cair, tidak berwarna, berbau khas, tidak dapat
menyala. Berat molekul 153,82; Rumus molekul CCl4 ;
Titik didih 77oC (171 F); Titik beku -23oC (-9 F); Gravitasi
spesifik (air=1): 1,5940; Kelarutan dalam air 0,08% @
20oC; Dapat larut dalam alkohol, benzen, kloroform,
eter, karbon disulfida, petroleum eter, naphtha, aseton,
fixed & volatile oils.

b. Frasa Risiko, Frasa Keamanan dan Tingkat


Bahaya

Peringkat NFPA = Tingkat keparahan sangat


(Skala 0-4): rendah
Kesehatan 0

4
Kebakaran 0 = Tidak dapat
terbakar
Reaktivitas0 = Tidak reaktif

Karbon tetraklorida dan tetraklorometana adalah nama-


nama yang dapat diterima dalam tata nama IUPAC.

Nama IUPAC-nya Karbon tetraklorida. Nama lainnya ada


11, yaitu:

 TetraklorometanaBenziform,
 Benzinoform
 Karbon klorida
 Karbon tet
 Freon 10
 Halon 104
 Metana tetraklorida
 Perklorometana
 Tetraform, dan

5
 Tetrasol.

Adapun sifat-sifatnya adalah:

 Rumus molekul: CCl4


 Berat molekul: 153,82 gr/mol
 Penampilan: Cairan tidak berwarna, baunya
seperti eter
 Densitas: 1,5867 gr/cm3 (cairan); 1,831 gr/cm3
pada -186 oC (padat); 1,809 gr/cm3 pada -80
oC (padat)
 Titik lebur: -22,92 °C (250 K)
 Titik didih: 76,72 °C (350 K)
 Kelarutan dalam air: 785–800 mg/L pada 25 °C
 Kelarutan dalam pelarut lain: Larut dalam
alkohol, eter, kloroform, benzena.
 Log P: 2,64
 Tekanan uap: 94 kPa pada 20 °C

6
 Indeks refraksi (nD): 1,4601
 Struktur molekul: Monoklin
 Bentuk molekul: Tetrahedral
 Indeks Uni Eropa: 602-008-00-5
 Klasifikasi Uni Eropa: Karsinogenik Cat.3, Toksik
(T), Berbahaya bagi lingkungan (N)
 Titik nyala: Tidak menyala
 Suhu menyala sendiri: 982 °C
 LD50: 2350 mg/kg

3. Sejarah dan Sintesis

Produksi karbon tetraklorida memiliki kemerosotan


sejak 1980-an karena kecemasan terhadap lingkungan
dan permintaan untuk CFC berkurang, yang berasal dari
karbon tetraklorida. Pada 1992, produksi di Amerika
Serikat-Eropa-Jepang diperkirakan pada 720.000 ton.

7
Karbon tetraklorida aslinya disintesis oleh ahli kimia
Perancis Henri Victor Regnault pada tahun 1839

melalui reaksi kloroform dengan klor, tetapi kini


terutama diproduksi dari metana:

CH4 + 4 Cl2 → CCl4 + 4 HCl

8
Produksi ini sering menggunakan hasil-samping dari
reaksi klorinasi lain, seperti dari sintesis diklorometana
dan kloroform. Klorokarbon lebih tinggi juga diarahkan
pada “klorinolisis:”

C2Cl6 + Cl2 → 2 CCl4

Sebelum tahun 1950-an, karbon tetraklorida diproduksi


melalui klorinasi karbon disulfide pada suhu 105 – 130
°C:

CS2 + 3Cl2 → CCl4 + S2Cl2

4.SIFAT SIFAT

Dalam molekul karbon tetraklorida, empat atom


klor diposisikan secara simetri karena sudut dalam
9
konfigurasi tetrahedral bergabung dengan atom karbon
pusat dengan ikatan kovalen tunggal. Disebabkan
geometri simetri ini, CCl4 adalah non-polar. Gas metana
memiliki struktur yang sama, membuat karbon
tetraklorida suatu halometana. Sebagai pelarut, sesuai
untuk melarutkan senyawa-senyawa non-polar lain,
lemak dan minyak. Karbon tetraklorida juga dapat
melarutkan iod. Ia agak volatil, melepaskan uap yang
memiliki bau karakteristik dari pelarut-pelarut
berklorinasi lainnya, agak mirip bau tetrakloroetilena
yang mengingatkan kita pada toko pencuci kering.
Tetraklorometana padat memiliki dua polimorf: Kristal II
di bawah suhu -47,5 °C (225,6 K) dan Kristal I di atas -
47.5 °C.

Pada suhu -47,3 °C karbon tetraklorida memiliki


struktur Kristal monoklin dengan gugus ruang C2/c dan
konstanta kisi a = 20,3, b = 11,6, c = 19,9 (.10−1 nm), β =
111°. Dengan specific gravity > 1, maka karbon

10
tetraklorida akan terdapat sebagai fase cair non air yang
kental bila kuantitas cukup tumpah di lingkungan.

5.Kegunaan

Pada abad ke-20, karbon tetraklorida digunakan


secara luas sebagai pelarut pembersih kering, sebagai
refrigerant, dan sebagai lampu lava.

Pada tahun 1910, Pyrene Manufacturing Company of


Delaware mengajukan paten untuk karbon tetraklorida
yang digunakan untuk memadamkan api. Cairan
menguap dan memadamkan api dengan menghambat
reaksi rantai kimia dari proses pembakaran (itu adalah
persangkaan abad ke-20 awal yang kemampuan
pemadaman kebakaran karbon tetraklorida
mengandalkan penghapusan oksigen.) Pada tahun 1911,
mereka mematenkan pemadam portabel kecil yang
menggunakan bahan kimia.
11
Ini terdiri dari botol kuningan dengan pompa tangan
terintegrasi yang digunakan untuk untuk mengusir jet
cairan terhadap api. Sebagai wadah itu tanpa tekanan,
itu bisa dengan mudah diisi ulang setelah digunakan.
Karbon tetraklorida cocok untuk cairan kebakaran dan
listrik dan pemadam ini sering dipasang untuk
kendaraan bermotor.

( botol kuningan dengan pompa tangan terintegrasi yang digunakan untuk untuk

mengusir jet cairan terhadap api )

12
Salah satu penggunaan khusus dari karbon
tetraklorida adalah dengan kolektor perangko untuk
mengungkapkan watermark di bagian belakang
perangko tanpa merusak cap. Sejumlah kecil cairan
ditempatkan di bagian belakang duduk cap dalam gelas
hitam atau baki obsidian. Surat-surat atau desain
watermark kemudian bisa dideteksi dengan jelas.

Namun, sekali menjadi jelas bahwa paparan karbon


tetraklorida memiliki efek samping yang parah terhadap
kesehatan, alternatif yang lebih aman seperti
tetrakloroetilena ditemukan untuk aplikasi ini, dan
penggunaannya dalam peran ini menurun dari sekitar
1940 dan seterusnya. Fakta bahwa suhu tinggi
menyebabkan ia bereaksi untuk menghasilkan fosgen
membuatnya sangat berbahaya bila digunakan terhadap
kebakaran.

Reaksi ini juga menyebabkan menipisnya oksigen.


Karbon tetraklorida bertahan sebagai pestisida untuk
13
membunuh serangga pada biji yang disimpan, tetapi
pada tahun 1970, itu dilarang dalam produk konsumen
di Amerika Serikat.

Sebelum Protokol Montreal, sejumlah besar karbon


tetraklorida digunakan untuk produksi Freon refrigerant
R-11 (triklorofluorometana) dan R-12
(diklorodifluorometana). Namun, zat pendingin ini kini
dipercaya memainkan peranan dalam penipisan ozon
dan telah dilarang pula. Karbon tetraklorida masih
digunakan untuk produksi refrigerant yang tidak
destruktif. Karbon tetraklorida juga telah digunakan
dalam pelacakan neutrino
Karbon tetraklorida merupakan salah satu dari
hepatotoksin yang paling potensial (beracun terhadap
hati), dan luas digunakan dalam riset ilmiah untuk
mengevaluasi zat-zat hepatoprotektif (zat pelindung
hati).

14
Dalam kimia organic, karbon tetraklorida berfungsi
sebagai sumber klor dalam reaksi Appel.

c. Reaksi Apple

Reaksi Appel adalah reaksi organik yang mengubah


alkohol menjadi alkil klorida menggunakan trifenilfosfin
dan karbon tetraklorida. Penggunaan karbon
tetrabromida atau bromin sebagai sumber halida akan
menghasilkan alkil bromida, sedangkan penggunaan
karbon tetraiodida, metil iodida atau iodin
menghasilkan alkil iodida. Reaksi dikreditkan ke dan
dinamai setelah Rolf Appel, itu telah dijelaskan
sebelumnya. Penggunaan reaksi ini menjadi kurang
umum, karena karbon tetraklorida yang dibatasi di
bawah protokol Montreal

Kelemahan pada reaksi adalah penggunaan agen


halogenasi beracun dan produksi produk organofosfat
15
yang harus dipisahkan dari produk organik. Pereaksi
fosfor dapat digunakan dalam jumlah katalitik.Alkil
bromida yang sesuai juga dapat disintesis dengan
penambahan lithium bromide sebagai sumber ion
bromida.

d. Minuman keras

Seperti banyak zat volatil lainnya, karbon tetraklorida


rentan disalahgunakan jika terhirup, karena
kemungkinan depresan dan / atau efek disosiatif
terhadap sistem saraf pusat. Penggunaan karbon
tetraklorida dengan cara ini menimbulkan risiko
kesehatan yang serius, dan dapat mengakibatkan efek
toksik yang dijelaskan di bawah ini.

Karbon tetraklorida adalah salah satu hepatotoxin


paling kuat (beracun bagi hati), sangat banyak sehingga
banyak digunakan dalam penelitian ilmiah untuk
16
mengevaluasi agen hepatoprotektif. Paparan
konsentrasi tinggi karbon tetraklorida (termasuk uap)
dapat mempengaruhi sistem saraf pusat, merosot hati
dan ginjal, dan kontak yang terlalu lama dapat
menyebabkan koma atau kematian. Paparan kronis
terhadap karbon tetraklorida dapat menyebabkan
kerusakan hati dan ginjal dan bisa mengakibatkan
kanker.

e. Solvent

Ini pernah menjadi pelarut populer dalam kimia


organik, tetapi, karena efek kesehatan yang merugikan,
jarang digunakan saat ini. Kadang-kadang berguna
sebagai pelarut untuk spektroskopi inframerah, karena
tidak ada pita absorpsi signifikan> 1600 cm − 1. Karena
karbon tetraklorida tidak memiliki atom hidrogen,
secara historis digunakan dalam spektroskopi NMR

17
proton. Selain beracun, daya larutnya rendah.
Penggunaannya sebagian besar telah digantikan oleh
pelarut terdeuterasi. Penggunaan karbon tetraklorida
dalam penentuan minyak telah digantikan oleh berbagai
pelarut lain, seperti tetrakloretilen. Karena tidak
memiliki ikatan C-H, karbon tetraklorida tidak mudah
mengalami reaksi radikal bebas. Ini adalah pelarut yang
berguna untuk halogenasi baik oleh halogen unsur atau
oleh reagen halogenasi seperti N-bromosuccinimide
(kondisi ini dikenal sebagai Bromin-Wohl-Ziegler).

f. Penindasan api

Pada tahun 1910, Perusahaan Manufaktur Pyrene


dari Delaware mengajukan paten untuk menggunakan
karbon tetraklorida untuk memadamkan api. Cairan itu
diuapkan oleh panas pembakaran dan api yang padam,
bentuk awal pencegah kebakaran gas. Pada saat itu

18
diyakini gas hanya menggantikan oksigen di daerah
dekat api, tetapi kemudian penelitian menemukan
bahwa gas sebenarnya menghambat reaksi rantai kimia
dari proses pembakaran.

Pada tahun 1911, Pyrene mematenkan pemindai


portabel kecil yang menggunakan bahan kimia tersebut.
Alat pemadam itu terdiri dari botol kuningan dengan
handpump terintegrasi yang digunakan untuk
mengeluarkan pancaran cairan ke arah api. Karena
kontainer tidak ditekan, dapat diisi ulang dengan mudah
setelah digunakan. Karbon tetraklorida cocok untuk
kebakaran cair dan listrik dan alat pemadam sering
dilakukan pada pesawat terbang atau kendaraan
bermotor.

19
Lampu Lava

Pada paruh pertama abad ke-20, pemadam api


umum lainnya adalah sebuah dunia kaca yang
digunakan tunggal dan tertutup yang dikenal sebagai
"granat api," yang diisi dengan karbon tetraklorida atau
air asin. Bola lampu bisa dilempar ke dasar api untuk
memadamkan api. Jenis karbon tetraklorida juga dapat
dipasang di fixture dinding pegas dengan pengekangan
berbasis solder Ketika solder meleleh karena panas
tinggi, pegas akan memecahkan bola bumi atau
meluncurkannya keluar dari braket, memungkinkan
agen pemadam secara otomatis terdispersi ke dalam
api. Sebuah merek terkenal adalah "Red Comet," yang
dibuat dengan berbagai peralatan pemadam kebakaran
lain di daerah Denver, Colorado oleh Red Comet
Manufacturing Company sejak didirikan pada tahun
1919 hingga operasi manufaktur ditutup pada awal
1980-an.

20
g. Pelarut

Karbon tetraklorida digunakan sebagai pelarut dalam


riset kimia sintetik, tetapi disebabkan efeknya yang
merugikan kesehatan, tidak lagi digunakan secara
umum, dan ahli kimia umumnya mencoba
menggantinya dengan pelarut yang lain. Karbon tetra
klorida terkadang berguna sebagai pelarut untuk

21
spektroskopi infra merah, karena tidak ada pita serapan
yang signifikan > 1600 cm−1.

Karena karbon tetraklorida tidak memiliki atom


hidrogen sama sekali, maka secara historis digunakan
dalam spektroskopi NMR proton. Namun, karbon
tetraklorida beracun, dan daya pelarutannya yang
rendah. Kegunaannya sebagian besar telah digantikan
oleh pelarut deuterasi. Penggunaan karbon tetraklorida
dalam penentuan minyak telah digantikan oleh berbagai
pelarut lain, seperti tetrakloroetilena.

Dalam penentuan bilangan iodium dalam analisis


lemak dan minyak, karbon tetraklorida sebagai pelarut
juga telah digantikan dengan pelarut campuran asam
asetat glasial dan sikloheksana, dengan alasan yang
sama.

6. Keamanan
22
Pajanan terhadap karbon tetraklorida konsentrasi
tinggi (termasuk uapnya) dapat mempengaruhi system
saraf pusat, degenerasi hati dan ginjal dan dapat
menimbulkan koma dan bahkan kematian (setelah
pajanan diperpanjang). Pajanan kronis terhadap karbon
tetraklorida dapat menyebabkan kerusakan hati dan
ginjal dan dapat menimbulkan kanker. Informasi
selengkapnya dapat dijumpai dalam lembaran data
keamanan bahan.

Pada 2008, sebuah penelitian dari produk pembersih


umum dijumpai adanya karbon tetraklorida dalam
“konsentrasi sangat tinggi”—mencapai 101 mg/m3
sebagai hasil dari fabrikan mencampur surfaktan atau
sabun dengan natrium hipoklorit (pemutih).

Karbon tetraklorida juga menipiskan ozon dan gas


rumah kaca. Namun, sejak 1992 konsentrasi atmosfer
telah menurun atas alasan yang dijelaskan di atas. Dan,

23
yang paling berbahaya… CCl4 memiliki masa hidup
sangat lama, 85 tahun di atmosfer

7. Penggunaan

Untuk pendingin; fumigasi atau pengasapan di


pertanian; pemadam kebakaran; cairan pembersih;
penghilang noda; bahan pelarut untuk lemak, minyak,
lilin, karet, dll; bahan awal untuk pembuatan senyawa
organik.

8. Identifikasi Bahaya
a. Risiko utama dan sasaran organ
Bahaya utama terhadap kesehatan: Depresi
sistem saraf pusat, dicurigai sebagai penyebab
kanker (pada hewan)
Organ sasaran: Sistem saraf pusat, hati, ginjal.
Pada tahun 2008, sebuah penelitian
tentang produk pembersih umum
menemukan keberadaan karbon tetraklorida

24
dalam "konsentrasi sangat tinggi" (hingga
101 mg / m3) sebagai akibat dari
pencampuran surfaktan atau sabun dengan
natrium hipoklorit (pemutih).

 Bahaya kesehatan

Pusing, inkoordinasi, anestesi; mungkin disertai dengan


mual dan kerusakan hati. Kerusakan ginjal juga terjadi,
sering menghasilkan penurunan atau penghentian
output urin. (USCG, 1999)

 Bahaya kebakaran

Bahaya Khusus Produk Pembakaran: Membentuk gas


phosgene beracun saat terkena api terbuka. Perilaku
dalam Api: Terdekomposisi membentuk klorin dan
fosgen (USCG, 1999)

25
Karbon tetraklorida juga baik ozone-depleting dan gas
rumah kaca. Namun, sejak 1992 konsentrasi
atmosfirnya telah menurun karena alasan yang
tetrtentu. CCl4 memiliki masa hidup atmosfer 85 tahun.
Di bawah suhu tinggi di udara, itu membentuk
phosgene yang beracun.

9. Rute paparan
a. Paparan jangka pendek
 Terhirup
Iritasi, gangguan pencernaan, sakit
kepala, gejala mirip mabuk, kongesti
paru, efek pada otak, kejang, koma.

 Kontak dengan kulit


Efek sama seperti pada paparan jangka
pendek terhirup, ruam, gejala mirip
mabuk.

26
 Tertelan
Efek sama seperti pada paparan jangka
pendek terhirup, gejala mirip mabuk,
kongesti paru.

b. Paparan jangka panjang


 Terhirup
Efek sama seperti pada paparan jangka pendek
terhirup, gangguan penglihatan, kerusakan
ginjal, kerusakan hati, efek reproduktif, kanker.
 Kontak dengan kulit
Efek sama seperti pada paparan jangka
pendek terhirup, kerusakan ginjal, kerusakan
hati.

 Tertelan
Kerusakan ginjal, kerusakan hati, kanker

10. Stabilitas dan reaktivitas

27
a. Reaktivitas

Karbon tetraklorida secara praktis tidak terbakar


pada suhu rendah. Pada suhu tinggi di udara
membentuk racun fosgen.

Karena karbon tetraklorida tidak memiliki ikatan C-


H, maka karbon tetraklorida tidak mudah mengalami
reaksi radikal bebas. Karena itu, merupakan pelarut
yang berguna untuk halogenasi baik melalui melalui
unsur halogen, atau melalui reagen halogenasi seperti
N-bromosuksinimida (kondisi tersebut dikenal sebagai
Brominasi Wohl-Ziegler).

Reaktivitas : Stabil pada suhu dan tekanan normal

Kondisi yang harus : Panas, nyala, percikan dan sumber


dihindarkan nyala lain
Tancampurkan : : Bahan yang dapat menyala, garam

28
logam, peroksida, halogen, bahan
pengoksidasi, logam, basa, amina

Karbon tetraklorida dengan

Allil alkohol : Membentuk produk yang eksplosif

Alumunium oksida + : Dengan adanya udara menimbulkan


reaksi

kobalt + molibdenum : eksoterm

Alumunium triklorida : Tancampurkan

Benzoil peroksida : Tancampurkan

Benzoil peroksida dan : Reaksi ledakan kuat


etilen

29
Boran : Berpotensi menimbulkan reaksi ledakan
jika kontak

Bromin trifluorida : Reaksi eksoterm

Kalsium disilida : Kemungkinan meledak jika terbentur

Kalsium hipoklorit : Meledak pada pemanasan

Klorin trifluorida : Membentuk campuran yang eksplosif

Dimetilasetamid : Reaksi eksoterm dengan peningkatan


tekanan atau reaksi kuat dengan ada
nya besi

Dimetilformamid : Reaksi kuat dengan adanya besi atau


pada suhu di bawah 100oC

30
Dinitrogen tetraoksida : Membentuk campuran yang sensitif ter-
hadap guncangan

Etilen : Dapat membentuk campuran yang eksplo

Flourin : Reaksi kuat atau kemungkinan leda-


kan

Heksaklorosikloheksan : Reaksi kuat

Logam : Kemungkinan meledak pada pemana


san atau benturan

Oksigen (cair) : Reaksi ledakan kuat

31
Plastik, karet, dan pelapis : Kemungkinan akan dirusak

Kalium tert-butoksida : Terbakar

Silanes (di-, tri-, tetra-) : Reaksi eksoterm dengan kemungki


nan ledakan

Silver perklorat dan : Menghasilkan campuran yang eksplo


hidrogen klorida sif

Trietildialuminium : Membentuk produk yang sensitif


sesquiklorida terhadap panas

Tetraetilenpentamin : Kemungkinan reaksi ledakan

Lilin (terbakar) : Reaksi eksplosif

32
Bahaya dekomposisi : Fosgen, senyawa terhalogenasi,
oksida karbon

Polimerisasi : Tidak terpolimerisasi

11. Penyimpanan

 Simpan dan tangani sesuai dengan peraturan


perundang-undangan dan standard yang
berlaku.

 Simpan terpisah dari bahan yang tancampurkan.

 Hindarkan dari kerusakan fisik.


33
 Simpan di tempat yang sejuk dan kering.

 Simpan di tempat yang berventilasi baik.

 Hindarkan panas, nyala, percikan api, dan


sumber api lain.

12. Toksikologi

a. Toksisitas
 Data pada manusia
TCL0 inhalasi-manusia 20 ppm; TDL0 oral-
wanita 1800 mg/kg; TDL0 oral-pria 1700 mg/kg;
LDL0 oral-pria 429 mg/kg; LCL0 inhalasi-manusia
1000 ppm; TCL0 inhalasi-human 45 ppm/3 hari;

34
TCL0 inhalasi-manusia 317 ppm/30 menit; LCL0
inhalasi-manusia 5 pph/5 menit; LDL0 rute tidak
dilaporkan-pria 93 mg/kg.

b. Data pada hewan

 Data iritasi:
4 mg kulit-kelinci iritasi sedang; 500
mg/24 jam kulit-kelinci iritasi sedang; 2200
μg/30 detik mata-kelinci iritasi sedang; 500
mg/24 jam mata-kelinci iritasi sedang.

 Data toksisitas:
LD50 oral-tikus (rat) 2350 mg/kg;
LC50 inhalasi-tikus (rat) 8000 ppm/4 jam;
LD50 kulit-tikus (rat) 5070 mg/kg; LD50
intraperitoneal-tikus (rat) 1500 μL/kg; LDL0
intratrakeal-tikus (rat) 90 mg/kg; LD50

35
oral-tikus (mouse) 8263 mg/kg; LC50
inhalasi-tikus (mouse) 9526 ppm/8 jam;
LD50 intraperitoneal-tikus (mouse) 572
mg/kg; LD50 subkutan-tikus (mouse) 31
gm/kg; LDL0 oral-anjing 1 gm/kg; LCL0
inhalasi-anjing 14620 ppm/8 jam; LD50
intraperitoneal-anjing 1500 mg/kg; LDL0
intravena-anjing 125 mg/kg; LCL0 inhalasi-
kucing 38110 ppm/2 jam; LDL0 subkutan-
kucing 300 mg/kg; LD50 oral-kelinci 5760
mg/kg; LD50 kulit-kelinci >20 gm/kg; LDL0
intraperitoneal-kelinci 477 mg/kg; LDL0
subkutan-kelinci 3 gm/kg; LD50 intravena-
kelinci 5840 mg/kg; LD50 oral-marmut
5760 mg/kg; LD50 kulit-marmut >9400
μL/kg; LD50 intraperitoneal-ayam 4497
mg/kg; LCL0 inhalasi-katak 58 gm/m3;
LD50 oral-mammalia 6 gm/kg; LC50

36
inhalasi-mammalia 34500 mg/m3; TDL0
oral-tikus (rat) 1200 mg/kg/12 minggu
intermittent; TDL0 oral-tikus (rat) 4197
μg/kg/28 hari intermittent; TDL0 oral-tikus
(rat) 400 mg/kg/10 hari intermittent; TCL0
inhalasi-tikus (rat) 41 mg/m3/4 jam-8 hari
intermittent; TCL0 inhalasi-tikus (rat) 61
mg/m3/90 hari kontinyu; TCL0 inhalasi-
tikus (rat) 400 ppm/1 jam-46 hari
intermittent; TCL0 inhalasi-tikus (rat) 200
ppm/7 jam-27 jam intermittent; TCL0
inhalasi-tikus (rat) 50 ppm/3 jam-8 minggu
intermittent; TDL0 subkutan-tikus (rat)
31200 μL/kg/12 minggu intermittent; TDL0
oral-tikus (mouse) 8750 mg/kg/14 hari
intermittent; TDL0 oral-tikus (mouse) 1080
mg/kg/90 hari intermittent; TDL0 oral-
anjing 636 gm/kg/16 hari intermittent;

37
TCL0 inhalasi-anjing 515 mg/m3/8 jam-6
minggu intermittent; TCL0 inhalasi-monyet
515 mg/m3/8 jam-6 minggu intermittent;
TCL0 inhalasi-monyet 61 mg/m3/90 hari
kontinyu; TCL0 inhalasi-monyet 200 ppm/8
jam-46 minggu intermittent; TCL0 inhalasi-
kelinci 515 mg/m3/8 jam-6 minggu
intermittent; TCL0 inhalasi-kelinci 61
mg/m3/90 hari kontinyu; TCL0 inhalasi-
kelinci 100 ppm/7 jam-30 minggu
intermittent; TCL0 inhalasi-kelinci 100
ppm/m3/3 jam-35 minggu intermittent;
TCL0 inhalasi-marmut 515 mg/m3/8 jam-6
jam intermittent; TCL0 inhalasi-marmut 61
mg/m3/90 hari kontinyu; TCL0 inhalasi-
marmut 100 ppm/7 jam-33 minggu
intermittent; TCL0 inhalasi-marmut 25
ppm/8 jam-46 minggu intermittent.

38
b. Karsinogenik
NTP: Diantisipasi sebagai karsinogen
bagi manusia;
IARC: Bukti pada manusia tidak memadai,
bukti pada hewan memadai, Group 2B –
Kemungkinan karsinogenik untuk
manusia; ACGIH: A2 – Dicurigai sebagai
karsinogen pada manusia; TRGS 905: K 3

Karbon tetraklorida diujikan pada beberapa jenis


hewan uji, yaitu mencit melalui oral dan intratrakeal,
tikus melalui oral, subkutan, inhalasi. Pada beberapa
strain mencit menimbulkan tumor hati, termasuk
karsinoma hepatoseluler. Pada beberapa strain tikus
menimbulkan tumor hati jinak dan ganas; dan pada satu

39
uji injeksi subkutan, teramati peningkatan insiden
adenokarsinoma kelenjar susu.

c. Data Tumorigenik

TDLo subkutan-tikus (rat) 15600


mg/kg-12 minggu intermittent; TDL0
minggu oral-tikus (mouse) 4400 mg/kg-
19 minggu intermittent; TDL0 parenteral-
tikus (mouse) 305 gm/kg-30 minggu
intermittent; TDL0 oral-hamster 9250
mg/kg-30 minggu intermittent; TD oral-
tikus (mouse) 12 gm/kg-88 hari
intermittent; TD subkutan-tikus (rat) 100
gm/kg-25 minggu intermittent; TD
subkutan-tikus (rat) 31 gm/kg-12 minggu
intermittent; TD subkutan-tikus (rat) 182
gm/kg-70 minggu intermittent; TD oral-

40
tikus (mouse) 8580 mg/kg-9 minggu
intermittent; TD oral-tikus (mouse) 57600
mg/kg-12 minggu intermittent.

d. Data Mutagenik

Mutasi pada mikroorganisme –


Salmonella typhimurium 20 μL/L (+S9);
DNA adduct – Escherichia coli 300 ppm;
DNA repair – Escherichia coli 12500
ng/sumur; Phage inhibition capacity –
Escherichia coli 200 μg/sumur; Mutasi
pada mikroorganisme – Aspergillus
nidulans 5000 ppm (-S9); Konversi gen
dan rekombinasi miotik - Aspergillus
nidulans 500 ppm; Hilangnya kromosom
seks dan non-disjungsi - Aspergillus
nidulans 500 ppm; DNA adduct – tikus

41
(rat) intraperitoneal 367 μmol/kg;
Kerusakan DNA – tikus (rat) subkutan 31
gm/kg. selama 12 minggu intermittent;
Kerusakan DNA – hati tikus (rat) 3
mmol/L; Uji mutasi lainnya – tikus (rat)
intraperitoneal 100 mg/kg; Sintesis DNA
tidak terjadwal – tikus (rat) oral 1400
mg/kg; Uji mutasi lainnya – tikus (rat)
oral 50 mg/kg; Analisis sitogenik – tikus
(rat) subkutan 31 gm/kg selama 12
minggu intermittent; DNA adduct – tikus
(mouse) intraperitoneal 367 μmol/kg;
DNA adduct – hati tikus (mouse) 10 μmol;
Kerusakan DNA – tikus (mouse) oral 335
μmol/kg; Kerusakan DNA – limfosit tikus
(mouse) 6550 μmol/L; Sintesis DNA tidak
terjadwal – tikus (mouse) oral 100 mg/kg;
Inhibisi DNA – tikus (mouse) oral 2

42
gm/kg; Transformasi morfologi – embrio
hamster 500 μg/L; Hilangnya kromosom
seks dan non-disjungsi – paru hamster
1600 μmol/L; DNA adduct – limfosit
mammalia 1 mmol/L.

e. Data Reproduksi
TDL0 oral-tikus (rat) betina hamil 3
gm/kg selama 14 hari kontinyu; TCL0
inhalasi-tikus (rat) betina hamil 300
ppm/7 jam selama 6-15 hari kontinyu;
TCL0 inhalasi-tikus (rat) betina hamil 250
ppm/8 jam selama 10-15 hari kontinyu;
TDL0 intraperitoneal-tikus (rat) jantan
71500 mg/kg selama 15 hari; TDL0
intraperitoneal-tikus (rat) jantan 5
gm/kg selama 1 hari; TDL0 parenteral-

43
tikus (rat) betina hamil 2384 mg/kg
selama 18 hari kontinyu.

13. Data Tambahan


Dapat menembus plasenta. Dapat
diekskresikan pada air susu ibu. Alkohol
dapat meningkatkan efek toksik.
Stimulan, seperti epinefrin, dapat
menginduksi fibrilasi ventrikuler.
Salah satu uji yang dilakukan
menunjukkan adanya peningkatan risiko
leukemia pada anak-anak yang ayahnya
bekerja di bidang yang terpapar pelarut
terklorinasi setelah anak tersebut lahir.

14. Informasi Ekologi

44
Toksik sedang bagi
kehidupan perairan.
Toksisitas pada ikan : LC50 (mortalitas) fathead minnow
(Pimephales promelas) 43100 μg/L
selama 96 jam

Toksisitas pada : EC50 (regenerasi) cacing pipih


invertebrata (Dugesia japonica) 1500 μg/L
selama 7 jam

Toksisitas pada alga : EC10 (pertumbuhan populasi) alga


hijau (Haematococcus pluvialis)
>136000 μg/L NR jam

Toksisitas lain : EC50 (teratogenisitas) katak leopard


(Rana pipiens) 900 μg/L selama 8 jam

45
15. Efek Klinis
a. Keracunan akut

 Terhirup
Dapat menyebabkan iritasi. Terpapar 25-117
ppm bahan dapat menyebabkan mual, sakit
kepala, pusing, depresi, narkosis, dispepsia,
penglihatan terbatas, dan kerusakan hati. Pada
paparan 1000-2000 ppm/60-90 menit dapat
menyebabkan hilangnya kesadaran, koma, dan
kematian. Kematian dapat disebabkan oleh
terganggunya pernafasan atau circulatory
collapse, atau kadang-kadang fibrilasi
ventrikuler. Efek lain yang mungkin timbul
adalah nyeri perut, diare, muntah,
hematemesis, kekacauan mental, hipotensi,
dan konvulsi. Jika kematian tidak terjadi dengan

46
segera, periode simptomatik selama beberapa
hari dapat diikuti nekrosis ginjal dengan
albuminuria, oliguria atau anuria, edema,
edema paru, dan uremia. Nekrosis hepatika
dengan akumulasi lemak dapat terjadi dengan
gejala berupa mual, anoreksia, flatulance,
muntah, sakit perut, kuning, dan perbesaran
serta pelunakan hati. Gagal hati dapat disertai
dengan enselopati. Pada kasus yang tidak fatal,
fungsi hati dan ginjal dapat kembali normal.
Organ lain yang mungkin terpengaruh adalah
pankreas, adrenal, testis, limpa, pituitari, dan
tiroid. Nekrosis hepatika, nefrosis, dan
kematian terjadi pada peminum alkohol yang
terpapar bahan 250 ppm/15 menit; sakit kepala
ringan dilaporkan terjadi pada non peminum
alkohol.

47
 Kontak dengan kulit
Kontak dengan cairan bahan dapat
menimbulkan nyeri yang jelas disertai eritema,
hiperemia, dan weal formation yang diikuti
vesikasi, erupsi kulit. Kemungkinan terserap
melalui kulit untuk menimbulkan efek seperti
pada paparan akut terhirup.

 Kontak dengan mata


Kontak dengan cairan bahan atau uapnya
dapat menyebabkan iritasi ringan dan transien
serta luka konjungtival minor.

 Tertelan
Dapat menimbulkan efek seperti pada
paparan akut terhirup. Aspirasi dapat
menyebabkan edema paru primer. Dosis 40-48

48
mg/kg menimbulkan luka hati pada hewan uji.
Penelanan 1,5 mL bahan dapat menyebabkan
kematian.

b. Keracunan kronik
 Terhirup
Paparan berulang atau panjang dapat
menyebabkan efek seperti pada paparan akut
terhirup. Efek lain antara lain anemia dan
berbagai gangguan penglihatan, seperti blind
spots, spots before eyes, pandangan berkabut,
restriksi bidang warna yang dapat
mengindikasikan neuritis optik atau atrofi. Juga
telah dilaporkan adanya tumor hati yang
berhubungan dengan sirosis hati pada orang
yang terpapar bahan. Studi mortalitas pada
pekerja laundry dan dry cleaning yang terpapar
karbon tertraklorida dan berbagai pelarut

49
menunjukkan adanya kanker pada sistem
pernafasan, tumor hati, kanker serviks, dan
leukemia. Pada tikus, paparan inhalasi kronik
menimbulkan tumor hati jinak dan ganas. Efek
reproduktif pada hewan uji yang dilaporkan
antara lain fertilitas, embriotoksisitas,
fetotoksisitas, dan degenerasi epitel germinal
testikuler sedang hingga kentara.

 Kontak dengan kulit


Paparan berulang atau jangka panjang dapat
menyebabkan iritasi dan dermatitis akibat aksi
defatting pada kulit. Bahan toksik dapat diserap
melalui kulit sehingga menimbulkan efek seperti
pada paparan kronik terhirup.

 Tertelan

50
Paparan berulang pada hewan uji
menimbulkan perubahan hati dan ginjal, yaitu
tumor hati, termasuk karsinoma hepatoseluler
pada beberapa strain mencit; dan tumor hati
jinak dan ganas pada tikus. Menurut hasil
evaluasi RTECS, pemberian bahan pada mencit
melalui oral menimbulkan peningkatan insiden
tumor kulit neoplastik yang signifikan secara
statistik. Pemberian bahan selama dapat
menimbulkan toksisitas maternal, resorpsi pada
fetus, tetapi bukan teratogenisitas atau efek
berat lain.

16. Pertolongan Pertama

 Terhirup

51
Bila aman memasuki area, segera pindahkan
dari area pemaparan. Bila perlu gunakan
kantong masker berkatup atau pernafasan
penyelamatan. Segera bawa ke rumah sakit atau
fasilitas kesehatan terdekat.

 Kontak dengan kulit


Segera tanggalkan pakaian, perhiasan, dan
sepatu yang terkontaminasi. Cuci dengan sabun
atau detergen ringan dan air dalam jumlah yang
banyak sampai dipastikan tidak ada bahan kimia
yang tertinggal (selama 15-20 menit). Bila perlu
segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas
kesehatan terdekat.

 Kontak dengan mata


Segera cuci mata dengan air yang banyak atau
dengan larutan garam normal (NaCl 0,9%),

52
selama 15-20 menit, atau sekurangnya satu liter
untuk setiap mata dan dengan sesekali
membuka kelopak mata atas dan bawah sampai
dipastikan tidak ada lagi bahan kimia yang
tertinggal. Segera bawa ke rumah sakit atau
fasilitas kesehatan terdekat.

 Tertelan
Segera hubungi Sentra Informasi Keracunan
atau dokter setempat. Jangan sekali-kali
merangsang muntah atau memberi minum bagi
pasien yang tidak sadar/pingsan. Bila terjadi
muntah, jaga agar kepala lebih rendah daripada
panggul untuk mencegah aspirasi. Bila korban
pingsan, miringkan kepala menghadap ke
samping. Segera bawa ke rumah sakit atau
fasilitas kesehatan terdekat.

53
17. Penatalaksanaan
a. Stabilisasi
 Penatalaksanaan jalan nafas, yaitu
membebaskan jalan nafas untuk menjamin
pertukaran udara.
 Penatalaksanaan fungsi pernafasan untuk
memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara
memberikan pernafasan buatan untuk
menjamin cukupnya kebutuhan oksigen dan
pengeluaran karbon dioksida.
 Penatalaksanaan sirkulasi, bertujuan
mengembalikan fungsi sirkulasi darah.
 Jaga tekanan darah dengan memberikan
larutan glukosa 5 % secara intravena
 Obati koma dan aritmia jika terjadi. Perhatian:
Hindari penggunaan epinefrin atau amina
simpatomimetik lainnya karena dapat

54
menginduksi atau memperberat aritmia.
Takiaritmia yang disebabkan oleh peningkatan
sensitivitas miokardial dapat diobati dengan
propanolol, 1-2 mg IV untuk orang dewasa,
atau esmolol, 0,025-0,1 mg/kg/menit IV. Amati
pasien sekurangnya selama 4-6 jam setelah
terpapar dan lebih lama lagi jika simptomatik.
 Jika ada kejang, beri diazepam dengan dosis:
Dewasa: 10-20 mg IV dengan kecepatan 2,5
mg/30 detik atau 0,5 mL/30 menit, jika perlu
dosis ini dapat diulang setelah 30-60 menit.
Mungkin diperlukan infus kontinyu sampai
maksimal 3 mg/kg BB/24 jam. Anak-anak: 200-
300 μg/kg BB

18. Dekontaminasi

a. Dekontaminasi mata

55
Dilakukan sebelum membersihkan kulit:

 Posisi pasien duduk atau berbaring dengan


kepala tengadah dan miring ke sisi mata yang
terkena atau terburuk kondisinya.

 Secara perlahan bukalah kelopak mata yang


terkena dan cuci dengan sejumlah air bersih
dingin atau larutan NaCl 0,9% diguyur perlahan
selama 15-20 menit atau sekurangnya satu liter
untuk setiap mata

 Hindarkan bekas air cucian mengenai wajah atau


mata lainnya.

 Jika masih belum yakin bersih, cuci kembali


selama 10 menit.

56
 Jangan biarkan pasien menggosok matanya.

 Tutuplah mata dengan kain kassa steril dan


segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas
kesehatan terdekat dan konsul ke dokter mata.

b. Dekontaminasi kulit (termasuk rambut dan kuku)


 Bawa segera pasien ke air pancuran terdekat.
 Cuci segera bagian kulit yang terkena dengan air
mengalir yang dingin atau hangat serta sabun
minimal 10 menit.
 Jika tidak ada air, sekalah kulit dan rambut
pasien dengan kain atau kertas secara lembut.
Jangan digosok.
 Lepaskan pakaian, arloji, dan sepatu yang
terkontaminasi atau muntahannya dan buanglah
dalam wadah/plastik tertutup.

57
 Penolong perlu dilindungi dari percikan,
misalnya dengan menggunakan sarung tangan,
masker hidung, dan apron. Hati-hati untuk tidak
menghirupnya.
 Keringkan dengan handuk yang kering dan
lembut.

c. Dekontaminasi saluran cerna


Berikan arang aktif secara oral jika kondisinya
memungkinkan. Pertimbangkan kumbah lambung jika
penelanan bahan terjadi masih dalam jangka waktu 60
menit.
Batas Paparan dan Alat Pelindung Diri

Batas paparan karbon tetraklorida:

58
a. 10 ppm OSHA TWA
b. 25 ppm OSHA batas tertinggi
c. 200 ppm OSHA puncak 5 menit/4 jam
d. 2 ppm (12,6 mg/m3) OSHA TWA
e. 5 ppm (31 mg/m3) ACGIH TWA (kulit)
f. 10 ppm (63 mg/m3) ACGIH STEL
g. 2 ppm (12,6 mg/m3) NIOSH direkomendasikan
STEL 60 menit
h. 65 mg/m3 (10 mL/m3) DFG MAK 4 kali/shift

i. 2 ppm (13 mg/m3) UK OES TWA

19. Manajemen Pemadam Kebakaran


Bahaya ledakan dan kebakaran: Bahaya kebakaran
ringan. Karbon tetraklorida tidak terbakar.

 Media pemadam kebakaran: Bahan kimia


kering, air, busa.

59
 Kebakaran besar: Gunakan busa dan
semprotan air.

Pemadaman: Pindahkan wadah dari daerah yang


terbakar jika bisa Kebakaran dilakukan tanpa adanya
risiko. Jangan menyebarkan ceceran atau tumpahan
bahan dengan aliran air bertekanan tinggi. Buat saluran
untuk pembuangan lebih lanjut. Gunakan bahan
pemadam di sekitar api

20. Manajemen Tumpahan


Evakuasi daerah bahaya. Konsultasikan kepada
ahlinya. Kumpulkan tumpahan semampu mungkin lalu
masukkan ke dalam wadah yang tertutup. Serap sisa
tumpahan dengan pasir atau absorben inert dan
pindahkan ke tempat yang aman. Jangan biarkan bahan
kimia ini memasuki lingkungan

60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125