Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Instalasi Rawat Inap (IRNA) RSUD Ungaran di Kabupaten Semarang
merupakan ruang rawat yang terdiri dari berbagai kelas baik kelas 1,2 dan
kelas 3 yang terdiri dari 187 tempat tidur termasuk ICU dan one day care
(ODC). Tindakan yang sering dilakukan di ruang rawat inap adalah dengan
perawatan luka baik perawatan luka steril post operasi maupun perawatan
luka kronik seperti luka diabetik.
Abses adalah penimbunan nanah yang terjadi akibat infeksi bakteri.
Abses dapat terjadi di mana saja pada bagian tubuh kita. Abses dapat terlihat
karena berada di bagian luar tubuh (pada lapisan kulit) atau terjadi pada organ
dalam tubuh, yang tidak terlihat.
Penanganan untuk abses yaitu dengan perawatan luka (wond care)
dilakukan dengan berbagai tahapan; membersihkan yang terdiri dari cleansing
(swabing, bathing, irigasi), debridement (mekanik, enzym, autolitik), topikal
terapi (menciptakan suatu kondisi fisiologis pada luka) dan dressing.
Prosedur perawatan luka (wond care) dapat menyembuhkan luka dan dapat
menumbuhkan jaringan baru (granulasi).
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di IRNA, beberapa perawat
di ruang rawat inap dalam melakukan teknik perawatan luka pada pasien
ulkus sudah sesuai SOP Rumah Sakit, sudah ada inovasi dengan
menambahkan Metronidazole untuk mempercepat dalam penyembuhan luka.
Namun alangkah baiknya untuk mempercepat penyembuhan, teknik
perawatan luka menggunakan teknik modern dan terbaru, yaitu modern
dressing menggunakan hidrogel sebagai mempercepat penyembuhan luka
pada pasien ulkus.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui tentang pelaksanaan prosedur perawatan luka yang dilakukan
di Ruang Rawat Inap RSUD Ungaran.

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui standar operasional prosedur (SOP) yang sudah ada di
rumah sakit
b. Membandingkan SOP perawatan luka yang ada di rumah sakit dengan
SOP terbaru yang dibahas oleh mahasiswa
c. Memberikan masukan terkait inovasi terbaru terkait perawatan luka
modern

C. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
a. Memenuhi tugas pada mata kuliah Kebutuhan Dasar Profesi.
b. Membandingkan dan menambah wawasan mengenai prosedur
perawatan luka (wound care) yang dilakukan di rumah sakit dan yang
didapatkan mahasiswa.

2. Bagi rumah sakit


Kegiatan panel expert ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk pihak
rumah sakit agar dapat segera menetapkan SOP perawatan luka yang
terbaru dan menjadi acuan bersama petugas kesehatan di rumah sakit
dalam meningkatkan pelayanan kepada pasien.
BAB II
Konsep Dasar Medis

A. Definisi
Abses adalah penimbunan nanah yang terjadi akibat infeksi bakteri.
Abses dapat terjadi di mana saja pada bagian tubuh kita. Abses dapat terlihat
karena berada di bagian luar tubuh (pada lapisan kulit) atau terjadi pada organ
dalam tubuh, yang tidak terlihat.
Abses merupakan kumpula nanah (netrofil yang telah mati) yang
terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi oleh
bakteri, karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau
jarum suntik). Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai
akibat dari infeksi yang melibatkan organisme progenik, nanah merupakan
suatu campuran dari jaringan nekrokti, bakteri, dan sel darah putih yang
sudah mati yang dicairkan oleh enzim autolitik (Morison, 2008).
Abses merupakan suatu infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri atau
parasit karena adanya benda asing dan mengandung nanah yang merupakan
campuran dari jaringan nefrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati
(Siregar, 2007).

B. Etiologi
Menurut Siregar (2007), suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses
ketika bakteri masuk ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi.
sebagian sel mati jaringan yang sehat itu mati, dan hancur meninggalkan
rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Suatu infeksi bakteri
bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara: bakteri masuk ke bawah kulit
akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak steril dan bakteri dapat
menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain. Kondisi ini memicu
sel-sel darah putih yang berfungsi melawan infeksi masuk ke dalam rongga
tersebut, memerangi bakteri, dan kemudian mati. Sel darah putih yang mati
itulah yang membentuk cairan nanah, yang mengisi rongga tersebut. Peluang
terbentuknya suatu abses akan meningkat jika terdapat kotoran atau benda
asing di daerah tempat terjadinya infeksi daerah yang terinfeksi mendapatkan
aliran darah yang kurang terdapat gangguan sistem kekebalan.

C. Patofisiologis
Kuman yang masuk kedalam tubuh akan menyebabkan kerusakan
jaringan dengan cara mengeluarkan toksin. Bakteri melepaskan eksotoksin
yang spesifik (sintesis), kimiawi yang secara spesifik mengawali proses
peradangan atau melepaskan endotoksin yang ada hubunganya dengan
dinding sel. Reaksi hipersensitivitas terjadi bila ada perubahan kondisi respon
imunologi mengakibatkan perubahan reaksi imun yang merusak jaringan.
Agent fisik dan bahan kimia oksidan dan korosif menyebabkan kerusakan
jaringan,kematian jaringan menstimulus untuk terjadi infeksi.
Infeksi merupakan salah penyebab dari peradangan, kemerahan
merupakan tanda awal yang terlihat akibat dilatasi arteriol akan meningkatkan
aliran darah ke mikro sirkulasi kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan
bersifat lokal. Peningkatan suhu dapat terjadi secara sistemik. Akibat endogen
pirogen yang dihasilkan makrofaq mempengaruhi termoregulasi pada suhu
lebih tinggi sehingga produksi panas meningkat dan terjadi hipertermi.
Peradangan terjadi perubahan diameter pembuluh darah mengalir keseluruh
kapiler, kemudian aliran darah kembali pelan. Sel-sel darah mendekati
dinding pembuluh darah didaerah zona plasmatik.
Leukosit menempel pada epitel sehingga langkah awal terjadi emigrasi
kedalam ruang ekstravaskuler lambatnya aliran darah yang mengikuti Fase
hyperemia meningkatkan permiabilitas vaskuler mengakibatkan keluarya
plasma kedalam jaringan, sedang sel darah tertinggal dalam pembuluh darah
akibat tekanan hidrostatik meningkat dan tekanan osmotik menurun sehingga
terjadi akumulasi cairan didalam rongga ekstravaskuler yang merupakan
bagian dari cairan eksudat yaitu edema. Regangan dan distorsi jaringan akibat
edema dan tekanan pus dalam rongga abses menyebabkan rasa nyeri.
Mediator kimiawi, termasuk bradikinin, prostaglandin, dan serotonin merusak
ujung saraf sehingga menurunkan ambang stimulus terhadap reseptor
mekanosensitif dan termosensitif yang menimbulkan nyeri. Adanya edema
akan mengganggu gerak jaringan sehingga mengalami penurunan fungsi
tubuh yang menyebabkan terganggunya mobilitas litas. Inflamasi terus terjadi
selama, masih ada pengrusakan jaringan bila penyebab kerusakan bisa diatasi,
maka debris akan difagosit dan dibuang oleh tubuh sampai terjadi resolusi
dan kesembuhan. Reaksi sel fagosit yang berlebihan menyebabkan febris
terkumpul dalam suatu rongga membentuk abses di sel jaringan lain
membentuk flegmon.
Trauma yang hebat menimbulkan reaksi tubuh yang berlebihan berupa
fagositosis debris yang diikuti dengan pembentukan jaringan granulasi
vaskuler untuk mengganti jaringan yang rusak (fase organisasi), bila fase
destruksi jaringan berhenti akan terjadi fase penyembuhan melalui jaringan
granulasi fibrosa. Tapi bila destruksi jaringan berlangsung terus akan terjadi
fase inflamasi kronik yang akan sembuh bila rangsang yang merusak hilang.
Abses yang tidak diobati akan pecah dan mengeluarkan pus kekuningan
sehingga terjadi kerusakan Integritas kulit. Sedangkan abses yang diinsisi
dapat mengakibatkan resiko penyebaran infeksi.

D. Manifestasi Klinis
Tidak dapat dirasakan gejala saat kuman menyerang suatu bagian
tubuh tertentu. Tetapi setelah abses terbentuk, biasanya kita merasa tidak
nyaman, terjadi pembengkakan, demam dan jika abses terjadi di organ luar
tubuh, akan terlihat kumpulan nanah. Sedangkan jika abses terjadi di bagian
dalam tubuh, maka yang dapat dirasakan adalah organ tubuh yang membesar
(akibat pembengkakan). abses merupakan salah satu manifestasi peradangan,
maka manifestasi lain yang mengikuti abses dapat merupakan tanda dan
gejala dari proses inflamasi, yakni: kemerahan (rubor), panas (calor),
pembengkakan (tumor), rasa nyeri (dolor), dan hilangnya fungsi. Menurut
Smatzer (2013), gejala dari abses tergantung lokasi dan pengaruhnya terhadap
fungsi atau organ syaraf yaitu bisa berupa:
1. Nyeri tekan
2. Akral teraba hangat
3. Pembengkakan
4. Kemerahan
5. Demam
Suatu abses yang terbentuk tepat bawah kulit biasanya tampak sebagai
benjolan.Adapun lokasi abses antara lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah.
Jika abses akan pecah maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena
kulit diatasnya menipis. Suatu abses didalam tubuh sebelumnya menimbulkan
gejala seringkali terlrbih tumbuh lebih besar. Paling sering abses akan
menimbulkan nyeri trkan dengan massa yang berwarna merah, hangat pada
permukaan abses.

E. Pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan diagnostik


Pada penderita abses biasanya pemeriksaan darah menunjukan peningkatan
jumlah sel darah putih. Untuk menentukan ukuran dan lokasi abses dalam,
biasanya dilakukan pemeriksaan:
1. Rontgen
2. USG
3. Ct-Scan

F. Pemeriksaan Medis
Abses luka biasanya tidak membutuhkan penanggan menggunakan
antibiotik. Namun demikian kondisi tersebut butuh ditangani dengan
intervensi bedah, debridment, dan kreatase. Hal ini sangan penting untuk
diperhatikan bahwa penanggan hanya dengan menggunakan antibiotik tanpa
drainase pembedahan tindakan yang efektif. Hal tersebut terjadi karena
antibiotik sering tidak mampu masuk kedalam abses dan selain antibiotik
tersebut sering kali dapat bekerja dalam pH yang rendah.
BAB III
PEMBAHASAN

1. SOP Perawatan Luka ( Bersih dan Kotor)


a. Persiapan alat
Alat steril
1) Bak instrument steril yang berisi : 1 buah pinset cirurgis, 2 buah pinset
anatomi, gunting angkat jahitan, kassa atau kapas, kapas lidi, kassa
deppers, dan gunting nekrotomi.
2) Sarung tangan steril pada tempatnya dan sarung tangan bersih
3) Cucing
4) Masker
5) Korentang dan tempatnya
Alat tidak steril
1) Bengkok (nirbeken)
2) Perlak
3) Gunting
4) Plester
5) Kantong sampah atau plastik
Bahan
1) Alkohol 70%
2) Betadin
3) Cairan : NaCl 0,9% /betadine/alcohol/air steril
4) Obat topical
b. Persiapan pasien dan lingkungan
c. Prosedur pelaksanaan
1) Cuci tangan
2) Pakai sarung tangan bersih
3) Letakkan peralatan pada posisi yang ergonomis (bak instrument
dibuka, cairan dituangkan ke dalam cucing)
4) Kenakan masker muka
5) Pasang perlak dan pengalas
6) Buka balutan lama (balutan atas) menggunakan pinset (teknik
menggulung) dan buang ke tempat sampah medis
7) Lepas sarung tangan dan pakai sarung tangan steril
 Pada luka kering (teknik balutan kering)
1) Bersihkan luka dengan cairan (NaCl/betadine/alcohol/air steril)
2) Gunakan swab yang terpisah untuk setiap ruangan
3) Bersihkan area luka secara sirkular dari area yang kurang
terkontaminasi ke area yang terkontaminasi ( dari dalam keluar)
4) Akhiri dengan mengusap dengan menggunakan kassa kering (satu
arah)
5) Memasang balutan kering steril pada area luka
6) Pasang kassa lapisan kedua atau sesuai kebutuhan
7) Fiksasi dengan plester
 Pada luka basah (teknik balutan basah)
1) Bersihkan luka dengan cairan (NaCl/betadine/alcohol/air steril), bila
perlu gunakan cairan perhidrol (H2O2) untuk luka yang sangat kotor
kemudian bilas dengan larutan NaCl
2) Bila ada jaringan nekrosis lakukan nekrotomi
3) Bersihkan area luka secara sirkular dari area yang kurang
terkontaminasi ke area yang terkontaminasi ( dari dalam keluar)
4) Memasang balutan basah steril pada area luka
5) Pasang kassa kassa berserat halus dan lembab pada area luka
mengunakan NaCl
6) Jika luka cukup dalam masukan kassa lembab dengan hati-hati
kedalam luka menggunakan pinset sampai semua permukaan luka
dapat kontak dengan kassa yang lembab
7) Pasang kassa steril kering diatas kassa basah sesuai kebutuhan
8) Fiksasi dengan plester atau balutan sesuai kondisi luka
9) Setelah selesai rapikan peralatan yang telah dipakai letakan dibengkok
dan buang kekantong sampah medis
10) Lepas sarung tangan dan buang kesampah medis
11) Atur posisi pasien senyaman mungkin
12) Cuci tangan
d. Evaluasi
1) Kaji respon pasien setelah dilakukan perawatan luka dan pembalutan
2) Kondisi luka selama perawatan luka (adanya tanda-tanda infeksi,
timbulnya granulasi, adanya nekrosis, dan lain-lain)
e. Dokumentasi
1) Catat karakteristik luka, jenis drainase yang muncul, jenis balutan yang
digunakan, dan toleransi pasien.
2) Catat jadwal penggantian balutan dan obat topical pada status pasien
(Hidayati, 2014)

2. SOP Perawatan Luka di RSUD Ungaran


Pengertian Pedoman untuk melakukan tindakan mengganti
balutan pada luka operasi atau bukan di ruang
bedah maupun ruang lain yang dilakukan balutan
Tujuan Untuk mengetahui kondisi luka baik luka jahit atau
tidak dan untuk mencegah terjadinya infeksi
Prsedur Kerja Perawat mencuci tangan terlebih dahulu
Posisi pasien diatur sesuai kebutuhan
Luka dibersihkan dengan menggunakan pinset dan
kapas didesinfektan dari arah dalam ke luar
Kapas kotor dibuang pada tempat bengkok
Pinset yang sudah tidak steril diletakkan didalam
tempat bengkok
Observasi keadaan luka
Luka diberi obat selanjutnya ditutup dengan kain
kassa steril dengan menggunakan pinset steril jaga
agar serat kassa tidak menempel pada luka
Setelah diobati luka dibalut dengan plaster
Catat hasil observasi dan respon pasien
Sesudah selesai pasien dirapikan
Alat alat dibersihkan dan perawat mencuci tangan
Unit terkait IRI IGD ICU IBS

3. Perawatan Luka dengan Modern Dressing


Metode perawatan luka yang berkembang saat ini adalah menggunakan
prinsip moisture balance, yang disebutkan lebih efektif dibandingkan metode
konvensional. Perawatan luka menggunakan prinsip moisture balance ini
dikenal sebagai metode modern dressing.
4. Pembahasan
Berdasarkan data hasil observasi yang dilakukan di ruang Cempaka, di
RSUD Ungaran didapatkan bahwa perawat di ruangan dalam melakukan
pelayanan tindakan perawatan luka menggunakan metronidazole, menurut
penelitian yang dilakukan oleh Supriyatin, Saryono, & Latifah (2007)
metronidazole lebih baik dibandingkan dengan NaCl 0,9%, terutama untuk
perawatan luka diabetic pada indicator bau dan sekresi, karena metronidazol
adalah senyawa nitroimidazol yang mempunyai kandungan anti protozoa dan
anti bakterial. Metronidazol juga akan mengurangi perkembangan bakteri
pengganggu proses penyembuhan luka. Sedangkan NaCl berfungsi untuk
regulasi tekan osmosis dan pembentukan potensial listrik yang diperlukan
dalam kontraksi otot serta penyampaian impuls saraf (Supriyatin, Saryono, &
Latifah, 2007).
Perlu diadakannya pelatihan pada perawat tentang perawatan luka terkini
yang dikemas dalam bentuk seminar dan workshop di rumah sakit. Karena
dengan diadakannya pelatihan tentang perawatan luka terkini dapat
meningkatkan pengetahuan bagi perawat dan kemudian diaplikasikan
langsung ke klien selama satu bulan lebih. Berdasarkan jurnal Rohmayanti
(2015) terdapat hubungan yang bermakna bahwa pelatihan dalam bentuk
seminar dan workshop akan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
perawat.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perawatan luka merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
merawat luka dengan tujuan meningkatkan repitelisasi jaringan baru dan
mengembalikan fungsi fisiologis kulit yang rusak. Moist wound healing
merupakan metode perawatan luka terkini yang efektif menyembuhkan luka.
Perawat dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang
adekuat terkait dengan proses perawatan luka agar klien segera memperoleh
kembali kesehatan dan kehidupan mandiri secara optimal mengingat jika
perawatan luka yang dilakukan tidak benar dan tidak sesuai prosedur, dapat
memperlambat bahkan memperburuk kondisi luka pasien, memperpanjang
waktu rawat, dan menambah beban biaya yang harus dikeluarkan pasien.
Dengan inovasi terbaru perawatan luka menggunakan metronidazole dan
hidrogel dapat mempercepat penyembuhan dalam perawatan luka ulkus pada
pasien, sehingga tidak perlu memperlama pasien dalam rawat inap dirumah
sakit.

B. Saran
Mengingat teknik perawatan luka harus dilakukan dengan benar, maka sangat
diperlukan standar opersional prosedur (SOP) terkait perawatan luka terbaru
yang ditetapkan oleh pihak rumah sakit untuk diterapkan disetiap ruang
perawatan khususnya ruang rawat inap serta pelatihan kepada perawat ruangan
dalam melakukan teknik perawatan luka modern untuk meningkatkan mutu
pelayanan kepada pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoes, A (2007). Kapita Selekta Kedokteraan. Jakarta. EGC


Smeltzer (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol.3. Jakarta : EGC
Nanda Internasional. (2012). Nursing Diagnoses Definition and Clasification
2012. Wiley-
Blacwell.United Kingdom
Prise & Wilkinson. (2008). Patofisiologis Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 4.
Jakarta.EGC
Soeparman & Waspadji. (2012). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta. EGC