Anda di halaman 1dari 7

PEMERINTAH KABUPATEN KAYONG UTARA

DINAS KESEHATAN DAN KELUARGA BERENCANA


PUSKESMAS TELUK MELANO
Alamat : Jln Merdeka Desa TELUK MELANO Kec. Simpang Hilir, Kode Pos : 78853

KERANGKA ACUAN PROGRAM FRAMBUSIA


PUSKESMAS TELUK MELANO

A. PENDAHULUAN
Frambusia adalah salah satu penyakit menular yang berkaitan
Frambusia (Yaws/Patek/Puru) adalah penyakit treponematosis
menahun, hilang timbul dengan 3 stadium ialah ulkus atau granuloma
pada kulit (mother yaw), lesi non-destruktif yang dini, dan destruktif yang
lanjut pada kulit, tulang dan perios.

Epidemiologi

Frambusia terdapat didaerah tropik dan lembab. Umumnya pada


orang yang kurang mampu dan kebersihan yang buruk.

Etiologi

Treponema pertenue (CASTELLANI, 1905)

Histopatologi

Banyak treponema terdapat di epidermis pada tempat-tempat yang


terserang. Pada stadium I terdapat akantosis dan papilomatosis, epidermis
menunjukkan edema dan eksositosis meutrofil sehingga terjadi mikroabses.
Pada dermis terdapat infiltrat yang padat terdiri atas sel plasma, neutrofil,
eosinofil, limfosit, histiosit, dan fibroblas. Tidak ada kelainan pada
pembuluh darah.

Gejala Klinis

Frambusia tidak menyerang jantung, pembuluh darah, otak dan saraf


; tidak ada frambusia kongenital T. Pertenue akan masuk ke tubuh
penderita melalui lesi kulit. Penderita baru terbanyak pada musim hujan.
Penyakit ini dibagi 3 stadium.

STADIUM 1

Umumnya pada tungkai bawah, tempat yang mudah mendapat


trauma. Masa tunas berkisar antara 3-6 minggu. Kelainan mulai sebagai
papul yang eritematosa, menjadi besar dan terjadi ulkus dengan dasar
papilomatosa. Jaringan granulasi yang banyak mengeluarkan serum
bercampur darah dengan banyak mengandung treponema. Serum
mengering menjadi krusta berwarna kuning-hijau. Terjadi pembesaran
kelenjar limfe regional, berkonsentrasi keras tidak nyeri, dan tidak terjadi
perlunakan. Stadium I ini dapat menetap beberapa bulan kemudian
sembuh sendiri dengan meninggalkan sikatrik yang cekung dan atrofik.

STADIUM II

Dapat timbul setelah stadium I sembuh atau lebih sering tumpang


tindih (overlapping). Erupsi yang generalisata timbul pada 3-12 bulan
setelah penyakit berlangsung. Kelainannya berkelompok, tempat predileksi
di sekeliling lubang badan, muka dan lipatan-lipatan.

Papul-papul yang miliar menjadi lentikular dan dapat tersusun


korimbiform, arsinar, atau numular. Kelainan ini membasah, berkrusta dan
banyak mengandung treponema. Pada telapak kaki dapat terjadi
keratoderma, jalannya seperti kepiting karena nyeri.

Tulang panjang pada ekstremitas atas dan bawah sering terserang.


Polidaktilitis terjadi pada anak-anak, spina ventosa terjadi pada jari. Pada
sinar rontgen tampak rarefaction pada korteks dan destruksi pada perios.

STADIUM LANJUT

Pada stadium ini, sekitar 10% kasus setelah 5-15 tahun akan
kembali kambuh, yang ditandai dengan lesi kulit, tulang dan persendian,
sifatnya destruktif. Terdiri atas nodus, guma, keratodema pada telapak kaki
dan tangan, gangosa, dan goundou.

Nodus : dapat melunak, pecah menjadi ulkus ; dapat sembuh di tengah dan
meluas ke perifer

Guma : umumnya terdapat pada tungkai. Mulai dengan nodus yang tidak
nyeri, keras, dapat digerakkan terhadap dasarnya, kemudian melunak ;
memecah dan meninggalkan ulkus yang curam (punched out), dapat
mendalam sampai ke tulang atau sendi mengakibatkan ankilosis dan
deformitas

Tulang : berupa periostitis dan osteitis pada tibia, ulna, metatarsi, dan
metakarpal. Tiba berbentuk seperti pedang. Fraktur spontan dapat terjadi
bila terbentuk kista pada tulang.

Gangosa : mutilasi pada fosa nasalis, palatum mole hingga membentuk


sebuah lubang, suara khas menjadi sengau.

Goundou : eksositosis tulang hidung dan disekitarnya, pada sebelah


kanan-kiri batang hidung yang membesar.

Cara Penularan

Penularan penyakit frambusia dapat terjadi secara langsung maupun tidak


langsung (Depkes,2005), yaitu :

a. Penularan secara langsung (direct contact)


Penularan penyakit frambusia banyak terjadi secara langsung dari
penderita ke orang lain. Hal ini dapat terjadi jika jejas dengan gejala
menular (mengandung Treponema pertenue) yang terdapat pada kulit
seorang penderita bersentuhan dengan kulit orang lain yang ada lukanya.
Penularan mungkin juga terjadi dalam persentuhan antara jejas dengan
gejala menular dengan selaput lendir.

b. Penularan secara tidak langsung (indirect contact)


Penularan secara tidak langsung mungkin dapat terjadi dengan
perantaraan benda atau serangga, tetapi hal ini sangat jarang. Dalam
persentuhan antara jejas dengan gejala menular dengan kulit (selaput
lendir) yang luka, Treponema pertenue yang terdapat pada jejas itu masuk
ke dalam kulit melalui luka tersebut.

Diagnosis

Menurut Noordhoek, et al, (1990) diagnosa dapat ditegakkan dengan


pemeriksaan mikroskop lapangan gelap atau pemeriksaan mikroskopik
langsung FA (Flourescent Antibody) dari eksudat yang berasal dari lesi
primer atau sekunder. Test serologis nontrepanomal untuk sifilis misalnya
VDRL (venereal disease research laboratory), RPR (rapid plasma reagin)
reaktif pada stadium awal penyakit menjadi non reaktif setelah beberapa
tahun kemudian, walaupun tanpa terapi yang spesifik, dalam beberapa
kasus penyakit ini memberikan hasil yang terus reaktif pada titer rendah
seumur hidup. Test serologis trepanomal, misalnya FTA-ABS (fluorescent
trepanomal antibody – absorbed), MHA-TP (microhemag-glutination assay
for antibody to t. pallidum) biasanya tetap reaktif seumur hidup.

B. LATAR BELAKANG
Penyakit Frambusia masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat. Saat ini penyakit ini susah diterdeteksi karena suspek
penderita merasa malu untuk memeriksakan diri dan animo masyarakat
yang kurang baik terhadap penderita Frambusia.Masalah yang dihadapi
pada penderita bukan hanya dari medis saja tetapi tetapi masalah sosial
dari masyarakat dilingkungan penderita .

C. TUJUAN

Tujuan Umum
Mencegah terjadinya penyakit Frambusia, menurunkan angka kesakitan
penyakit frambusia dan mencegah terjadinya kecacatan pada penderita
frambusia sehingga penyakit ini tidak lagi merupakan masalah
kesehatan di masyarakat.
Tujuan Khusus
1. Ditemukannya kasus yang ada dimasyarakat.
2. Terlaksananya pengobatan penderita frambusia di Puskesmas
Teluk Melano.

D. KEGIATAN POKOK
1. Penemuan dan diagnosis penderita.
* Melaporkan suspek frambusia
* Konfirmasi diagnosa frambusia
2. Pengobatan penderita frambusia bila ditemukan
* Melakukan pengobatan
* Menentukan dosis pengobatan
* Mengenal komplikasi pengobatan atau reaksi.
* Mengobati komplikasi pengobatan atau reaksi.
3. Melakukan Screning serologi frambusia pada anak usia 1 – 5 tahun
4. Pencatatan dan pelaporan.
5. Penyuluhan tentang frambusia

E. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Pelaksanaan kegiatan penemuan kasus dilaksanakan secara pasif
dalam gedung dimana suspek datang sendiri ke puskesmas dan secara
aktif dengan melakukan pemeriksaan kontak serumah.
2. Melakukan secrening serologi frambusia dengan pemeriksaan RDT
pada anak usia 1- 5 tahun dengan target 50 anak/desa.
JUMLAH YANG
DIPERIKSA
NO NAMA DESA TANGGAL KEGIATAN
(ANAK USIA 1-5
Tahun)
1 DESA PEMANGKAT 30 AGUSTUS 2018 52 ORANG
DESA PULAU
2 29 AGUSTUS 2018 50 ORANG
KUMBANG
3 DESA MEDAN JAYA 27 AGUSTUS 2018 50 ORANG
DESA TELUK
4 18 AGUSTUS 2018 51 ORANG
MELANO
DESA RANTAU
5 5 SEPTEMBER 2018 53 ORANG
PANJANG
6 BATU BARAT 4 SEPTEMBER 2018 54 ORANG
7 DESA PENJALAAN 16 AGUSTUS 2018 60 ORANG
DESA NIPAH
8 30 AGUSTUS 2018 52 ORANG
KUNING
9 DESA MATA-MATA 3 SEPTEMBER 2018 54 ORANG
DESA PADU
10 28 AGUSTUS 2018 52 ORANG
BANJAR

F. SASARAN
Masyarakat yang mengalami gejala-gejala :
1. Melakukan secrening serologi frambusia dengan sasaran anak usia 1-
5 tahun sebanyak
50 orang/desa
2. Adanya kelainan kulit dapat berupa panu, bercak kemerahan,
penebalan kulit dan nodul (benjolan).
3. Ada koreng-koreng bernanah pada sela-sela jari,muka
G. PENCATATAN DAN PELAPORAN
1. Mengisi buku pencatatan harian penemuan penderita puskesmas.
2. Mengisi kartu penderita
3. Membuat laporan bulanan puskesmas
I. MONITORING DAN EVALUASI
Monitoring dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk
menilai keberhasilan pelaksanaan program. Kegiatan monitorng
dilaksanakan secara berkala dan terus menerus untuk dapat mendeteksi
bila ada masalah dalam pelaksanaan kegiatan.
Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana pelaksanaan kegiatan
berjalan.

Teluk Melano : 20 Mei 2018


Kepala Puskesmas Teluk Melano

Evi Norsita,A.Md.Kep
NIP.19841106 200902 2 006

Anda mungkin juga menyukai