Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRATIKUM

FARAMAKOLOGI II
SISTEM KARDIOVASKULER II
(ANTIHIPERLIPIDEMIA)

OLEH :
KELOMPOK III
BATCH B

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2018
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Hiperlipidemia merupakan suatu keadaan meningkatnya kadar lipid darah
yang ditandai dengan meningkatnya kadar kolesterol total,Low Density
Lipoprotein (LDL), dan trigliserida dalam darah yang melebihi batas normal.
Hiperlipidemia dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis, yaitu proses
penebalan lapisan dinding pembuluh darah yang akibatnya akan menghambat
aliran darah dan mengurangi elastisitas pembuluh darah serta merangsang
pembekuan darah. Aterosklerosis merupakan salah satu faktor penyebab
terjadinyapenyakit jantung koroner (PJK) (Adams, 2005).
Lipid merupakan senyawa yang memiliki peranan penting dalam struktur
dan fungsi sel. Lipid plasma yang utama terdiri atas kolesterol, trigliserida,
fosfolipid dan asam lemak bebas. Lipid yang bersifat hidrofobik ini dalam
sirkulasi berada dalam bentuk kompleks lipid – protein atau lipoprotein.
Lipoprotein plasma terdiri atas : Kilomikron,Very Low Density Lipoprotein
(VLDL), LDL, dan High Density Lipoprotein (HDL). Komposisi dan fungsi
dari tiap lipoprotein ini berbeda-beda (Guyton & Hall, 2006).
LDL berasal dari lipoprotein yang berdensitas sedang dengan
mengeluarkan hampir semua trigliseridanya, dan menyebabkan konsentrasi
kolesterol menjadi sangat tinggi dan konsentrasi fosfolipid menjadi cukup
tinggi. Faktor penting yang menyebabkan aterosklerosis adalah konsentrasi
kolesterol yang tinggi dalam plasma darah dalam bentuk lipoprotein
berdensitas rendah. Konsentrasi plasma dari lipoprotein berdensitas rendah
yang tinggi kolesterol ini ditingkatkan oleh beberapa faktor meliputi : tingginya
lemak jenuh dalam diet sehari-hari, obesitas dan kurangnya aktivitas fisik
(Guyton & Hall, 2006)
Penyakit yang diakibatkan hiperlipidemia merupakan masalah yang serius
pada negara maju bahkan saat ini muncul sebagai penyebab kematian dini dan
ketidakmampuan fisik di negara berkembang. Penyakit jantung merupakan
penyebab kematian nomor satu di dunia. Menurut Badan Kesehatan Dunia,
60% 2 dari seluruh penyebab kematian akibat penyakit jantung adalah penyakit
jantung koroner (PJK) (Delima et al, 2009).
Pada penelitian Multinational Monitoring of Trends Determinants in
Cardiovascular Disease(MONICA) I di Indonesia menunjukkan angka kejadian
hiperlipidemia sebesar 13,4% untuk wanita dan 11,4% untuk pria. Pada
MONICA II (1994) meningkat menjadi 16,2% untuk wanita dan 14% untuk
pria (Anwar, 2004).
II. Tujuan
Mengetahui dan memahami efek obat antihiperlipidemia terhadap tikus
(Rattus norvegicus)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Dasar Teori
Hiperlipidemia adalah keadaan meningkatnya kadar lipid darah dalam
lipoprotein (kolesterol dan trigliserida). Hal ini berkaitan dengan intake lemak
dan karbohidrat dalam jumlah yang berlebihan dalam tubuh. Keadaan
tersebut akan menimbulkan resiko terjadinya artherosclerosis dan hipertensi.
Lipoprotein merupakan kompleks antara lipid dengan protein yang
dapat larut di dalam plasma darah, sehingga lipoprotein bertugas mengangkut
lipid yang berasal dari sumber endogen maupun eksogen menuju ke jaringan
untuk dioksidasi dan disimpan. Lipoprotein mengangkut lipid dari usus
sebagai kilomikron dan dari hati sebagai lipoprotein berdensitas sangat
rendah atau VLDL (very low density lipoprotein). Partikel lipoprotein terdiri
dari bagian inti yang mengandung trigliserida dan ester kolesterol serta
dikelilingi oleh fosfolipid, kolesterol bebas, dan apolipoprotein.
Penggolongan Lipoprotein
Ada beberapa jenis lipoprotein yang sesuai kandungan lipidanya
umumnya dibagi dalam beberapa komponen sebagai berikut.
a. Chylomicron, dibentuk di dinding usus dari trigliserida dan kolesterol
berasal dari makanan. Kemudian trigliserida ini dihidrolisa oleh
lipoproteinlipase dan sisanya diekskresi oleh hati (Tjay dan Rahardja,
2013). Kilomikron merupakan lipoprotein dengan berat molekul
terbesar, dibentuk di dalam usus halus, mengandung lebih dari 80%
trigliserida dan kurang dari 5% kolesterol ester. Kilomikron membawa
trigliserida dari makanan ke jaringan lemak dan otot rangka, juga
membawa kolesterol dari makanan ke hati. Trigliserida dari kilomikron
akan mengalami hidrolisis oleh lipoprotein lipase (LPL) membentuk
asam lemak bebas, yang akan digunakan oleh digunakan oleh jaringan.
Hasil hidrolisis tersebut adalah kilomikron remnant, yang akan
dimetabolisme oleh hati dan dimediasi oleh apolipoprotein Euntuk
dikeluarkan dari sirkulasi sistemik. Pada individu yang normal,
kilomikron terdapat di dalam plasma setelah 3-6 jam mengkonsumsi
daging berlemak, namun setelah 10-12 jam kilomikron tidak terdapat
lagi di dalam plasma.
b. VLDL (Very Low Density Lipoprotein) dari hati, yang bersama
chylomicron mengangkut sebagaian trigliserida dan asam lemak bebas
ke jaringan otot dan lemak. Berat jenis VLDL rendah sekali (Tjay dan
Rahardja, 2013). VLDL (very low density lipoprotein) merupakan
lipoprotein yang terdiri dari 90% trigliserida dan 10-15% kolesterol.
VLDL disekresi oleh hati untuk mengangkut trigliserida yang disintesis
oleh hati ke jaringan perifer. Setelah meninggalkan hati, trigliserida yang
terdapat dalam VLDL dihidrolisis pleh lipoprotein lipase sehingga
membentuk asam lemak bebas dan VLDL remnan. Asam lemak bebas
disimpan di dalam jaringan lemak dan digunakan oleh jaringan, seperti
jantung dan otot rangka. Sedangkan VLDL remnant membentuk IDL,
dan dengan adanya LPL dan HL (hepatic lipase) terbentuk LDL. Karena
asam lemak bebas dan gliserol dapat disintesis dari karbohidrat maka
makanan tinggi karbohidrat dapat meningkatkan kadar VLDL.
c. IDL (Intermediate Density Lipoprotein)
IDL (intermediate density lipoprotein) merupakan zat perantara yang
terjadi sewaktu VLDL dikatabolisme menjadi LDL. IDL kurang
mengandung trigliserida, lebih banyak mengandung kolesterol dan
relative lebih banyak mengandung apoprotein B dan E. IDL jumlahnya
sedikit di dalam plasma, akan terjadi peningkatan ketika terjadi proses
penghambatan VLDL menjadi LDL.
d. LDL (Low Density Lipoprotein) mengangkut sebagian besar kolesterol
darah dari hati dan memiliki reseptor-reseptor LDL ke jaringan. Proses
penarikan LDL dari plasma melalui reseptor-reseptor ini merupakan
mekanisme utama dalam pengendalian level LDL (Tjay dan Rahardja,
2013). LDL (low density lipoprotein) merupakan lipoprotein pengangkut
kolesterol terbesar pada manusia, sebesar 70%. Sisa VLDL atau IDL
akan membentuk LDL dan satu partikel LDL berasal dari satu partikel
VLDL. Sebagian dari kolesterol di LDL akan dibawa ke hati dan
beberapa jaringan yang mempunyai reseptor LDL yaitu Apo B-100E.
sebagian lagi dari kolesterol LDL akan mengalami oksidasi dan
ditangkap oleh reseptor scavenger-A (SR-A) di makrofag dan akan
menjadi sel busa.
e. HDL (High Density Lipoprotein) mengangkut kelebihan kolesterol (dan
asam lemak) – yang tidak dapat digunakan oleh jaringan perifer-kembali
ke hati untuk diubah menjadi asam empedu (Tjay dan Rahardja, 2013).
HDL (High density lipoprotein) disintesis di hati dan disekresikan ke
dalam usus. GDL yang disintesis miskin akan kolesterol dan
mengandung Apo A, C, dan E disebut dengan HDL nascent yang
menerima kolesterol bebas dari sel termasuk makrofag. Setelah
menerima kolesterol bebas, HDL nascent brrubah menjadi HDL yang
berbentuk bulat. Kolesterol bebas akan terakumulasi pada HDL tersebut
dan mengalami esterifikasi oleh enzim lecithin cholesterol
acyltransferase (LCAT) menjadi kolesterol ester. HDL akan membawa
sebagian kolesterol ester ke hati dan ditangkap oleh scavenger receptor
kelas B tipe 1 (SR-B1). Sebagian lagi akan dipertukarkan dengan
trigliserida dari VLDL dan IDL dengan bantuan cholesteryl ester transfer
protein (CETP).
II.2. Uraian
II.2.1. Uraian Bahan
a. Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AETHANOLUM
Sinonim : Alkohol, etanol, ethyl alkohol
Rumus molekul : C2H6O
Berat molekul : 46,07
Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah
menguap dan mudah bergerak; bau
khas rasa panas, mudah terbakar dan
memberikan nyala biru yang tidak
berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam
kloroform P dan dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terhindar
dari cahaya, ditempat sejuk jauh dari nyala
api.
Kegunaan : Sebagai zat tambahan, juga dapat
membunuh kuman.
b. Aquadest (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILATA
Nama Lain : Aquadest
RM/BM : H2O/18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, tidak berasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut.
c. Albumin telur ( Dirjen POM,1995 )
Nama resmi : Albumin humani selutio
Nama lain : Larutan albumin
Pemerian : Cairan jernih agak kental, tidak berwarna
hingga berwarna kekuningan tergantung
kadar protein.
Kelarutan : Larut dalam 3 bagian air dan dalam 3
bagian gliseral, sangat sukar larut dalam
air, setara 95 % P.
Penyimpanan : Simpan pada suhu 2o – 25o terlindung dari
cahaya
Kegunaan : Sebagai penginduksi
II.2.2. Uraian Hewan Coba
a. Klasifikasi tikus putih menurut Natawidjaya (1983).
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Subordo : Odontoceti
Familia : Muridae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus norvegicus
b. Karateristik mencit
Data biologis tikus menurut Smith & Mangkoewidjojo (1998).
Lama hidup : 2-3 tahun, dapat sampai 4 tahun.
Lama Bunting : 20-22 hari.
Kawin sesudah beranak : 1 sampai 24 jam.
Umur disapih : 21 hari.
Umur dewasa : 40-60 hari.
Umur dikawinkan : 10 minggu (jantan dan betina).
Siklus kelamin : Poliestrus.
Siklus estrus (birahi) : 4-5 hari.
Lama estrus : 9-20 jam.
Perkawinan : Pada waktu estrus.
Ovulasi : 8-11 jam sesudah timbul estrus.
Jumlah anak : Rata-rata 9-20.
Puting susu : 12 puting, 3 pasang didaerah dada
dan 3 pasang di daerah perut.
Susu : Air 73 %, lemak 14-16 %, protein
9-10 %, Gula 2-3 %.
Perkawinan kelompok : 3 betina dengan 1 jantan.
c. Morfologi dan Anatomi
Tikus rumah memiliki panjang 65-95 mm dari ujung
hidung mereka ke ujung tubuh mereka. Bulu mereka berkisar
dalam warna dari coklat muda sampai hitam dan pada umunya
memiliki warna putih. Tikus memiliki ekor panjang yang memiliki
sedikit bulu dan memiliki deretan lingkaran sisik. Tikus rumah
cenderung memiliki panjang bulu ekor lebih gelap ketika hidup erat
dengan manusia, mereka berkisar 12-30 gram berat badanya.
Banyak bentuk-bentuk domestik tikus telah dikembangkan yang
bervariasi dalam warna dari putih menjadi hitam dan dangan
bintik-bintik.
II.2.3. Uraian Obat
a. Simvastatin R (Ditjen POM, 1995)
Nama : Simvastatin
Komposisi : Tiap kapsul mengandung 10 mg simvastatin
Indikasi : Efektif pada semua jenis hiperlipidemia.
Kontraindikasi : Wanita hamil dan menyusui dan anak-anak.
Efek samping : Kelainan fungsi hati, oada otot terjadi
miopati dan rhabdimiolisis, insufiensi ginjal
atau nyeri otot, loyo, lemas yang bermakna
dan sindrom hipersensitivitas.
Dosis : 20 mg per oral dan dapat dinaikkan menjadi
20 mg per orak 2 X sehari dan bila perlu
menjadi 40 mg per oral 2 X sehari.
Farmakodinamik : Memperantasi langkah pertama biosintesis
sterol, meningkatkan afinitas reseptor LDL
yang tinggi dan menghambat HMGCoA
reduktase.
Farmakokinetik : Diabsorbsi 30-50% pada pemberian oral.
Mengalami proses biotransformasi dan
eksresi terutama lewat empedu dan faeces
tetapi pengeluaran melalui urine juga
terjadi.
Waktu paruh : 1,5-2 jam
b. Propiltiourasil
Nama : Propiltiourasil tablet
Komposisi : Tiap tablet mengandung 50 mg
propiltiourasil.
Indikasi : Tiroksisitas, hipertiroidisme, dan pada pra
operasi tiroid.
Kontraindikasi : Pada ibu hamil trimaster III dan
hipotiridisme
Efek samping : Demam obat, purpura, rash papular, nyeri,
dan kaku sendi.
Dosis : Sehari 250 mg, 100 mg, setiap 8 jam dan
bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 600
mg sehari
Farmakodinamik : Menghambat sintesis hormon tiroid dengan
jalan menghambat proses peningkatan
iodium pada residu tirosil dari tiroglobulin.
Juga menghambat penggabungan gugus
iodotirosil membentuk iodotironin dengan
cara menghambat enzim peroksid sehingga
oksidasi iodida terganggu begitu pula
dengan guus iodotirosil.
Farmakokinetik : Memiliki masa kerja 2-8 jam dan dieksresi
melalui urine.
Waktu paruh : 2-3 Jam
BAB III
METODE KERJA
III.1. Alat Dan Bahan
III.1.1. Alat
- Alat pegukur kolesterol
- Beker glass 50 ml
- Kandang tikus
- Kanula
- Spoit 5 ml
- Stopwatch
- Timbangan hewan
III.1.2. Bahan
- Propiltiourasil (PTU)
- Kuning telur
- Simvastatin
- Tikus putih ( Rattus norvegicus)
III.2. Prosedur Kerja
- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
- Diukur kolesterol awal pada tikus
- Diinduksikan masing-masing dengan PTU 0,02% 100 ml/kg BB dan
kuning telur 10 ml/BB selam 4 hari, yang sebelumna telah ditimbang
masing-masing tikus
- Tikus dikelompokan menjadi 3 kelompok
 Kelompok 1, normal tanpa perlakuan
 Kelompok 2, diberi penginduksi
 Kelompok 3, diberi penginduksi + simvastatin
- Diberikan zat pada 1 jam setelah pemberian penginduksi
- Diukur kolesterol akhir
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil Pengamatan
Tikus (BB) Perlakuan Kolesterol
Awal akhir
I (167g) Diberi aquadest High (tinggi) 264 mg/dL
II (205g) Penginduksi + High (tinggi) High (tinggi)
kuning telur
III (235g) Penginduksi + 137 Mg/dL 218 Mg/dL
simvastatin

IV.2. Perhitungan
IV.2.1. Perhitungan obat simvastatin
BB tikus = 235g
Dosis obat = 10 mg
Dosis konversi = 10mg x 0,018
= 0,18mg
Konsentrasi = 346,85/83g x 0,8 mg
= 0,75 mg
Dosis pemberian= 235g / 83g x 0,8 mg
= 0,5 mg
Vol. pemberian = 0,5mg / 0,75mg x 5ml
= 3,3 ml
IV.2.2. Perhitungan penginduksi
BB tikus = 205 g
Penginduksi (kuning telur + PTU)
= 2015g / 346,85 x 5ml
= 3ml
IV.2.3. Perhitungan penginduksi
BB tikus = 235g
Penginduksi kuning telur + PTU
= 235g / 346,85 x 5ml
= 4,7 ml

IV.3. Pembahasan
Hiperlipidemia adalah keadaan meningkatnya kadar lipid darah dalam
lipoprotein (kolesterol dan trigliserida). Hal ini berkaitan dengan intake
lemak dan karbohidrat dalam jumlah yang berlebihan dalam tubuh. Keadaan
tersebut akan menimbulkan resiko terjadinya artherosclerosis dan hipertensi.
Penyakit yang diakibatkan hiperlipidemia merupakan masalah yang
serius pada negara maju bahkan saat ini muncul sebagai penyebab kematian
dini dan ketidakmampuan fisik di negara berkembang. Penyakit jantung
merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Menurut Badan
Kesehatan Dunia, 60% 2 dari seluruh penyebab kematian akibat penyakit
jantung adalah penyakit jantung koroner.
Tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui dan memahami
efek obat kolesterol tehadap tikus
Pada praktikum kali ini digunakan 3 tikus sebagai hewan uji, tikus
pertama dikelompokan sebagai kelompok normal dengan diberi aquadest
yang bertujuan sebagai pembanding. Tikus kedua ditujukan sebagai kontrol
negativ dengan diberikan PTU dan kuning telur 10 ml/kgBB sesuai
perhitungan yaitu 3 ml. Pada tikus 3 dikelompokan sebagai uji dosis dengan
diberikan PTU sebanyak 4,7 ml dan kuning telr sesuai perhitungan, dan
kemudian diberi simvastatin sebanyak 3,3 ml, pada pemberian penginduksi
dilakukan selam 4 hari kemdian diberikan obatnya setelah usai 4 hari.
Setelah dilakukan perlakuan, maka diperoleh hasil yaitu pada tikus 1
dengan perlakuan diberi aquadest kolesterol awal yaitu Hgh (tinggi) dan
kolesterol akhir yaitu 264mg/dL. Pada tikus 2 dengan perlakuan diberi
penginduksi + kuing telur kolesterol awal yaitu High (tinggi) dan kolesterol
akhir yaitu High (tinggi). Pada tikus 3 dengan perlakuan diberi penginduksi
+ simvastatin kolesterol awal yaitu 137 mg/dL dan kolesterol akhir yaitu
218 mg/dL.
Pada hasil praktikum diatas pada tikus 1 terjadi penurunan kolesterol, pada
tikus 2 sebagai kontrol negative tidak mengalami perubahan kolesterol
yakni kolesterol awal High dan kolesterol akhir juga tetap High hal ini
dikarenakan pada awal pemeriksaan koesterol tikus tersebut sudah
mengalami ketinggian pada kolesterol, setelah diberi penginduksi maka
hasilnya tetap high dan hal ini telah sesuai. Pada tikus 3 yang diberi
penginduksi + simvastatin terjadi kenaikan kolesterol, hal ini tidak sesuai
dengan literatur karena setelah diberi obat simvastatin seharusnya terjadi
penurunan kolesterol yang arinya obat tersebut tidak bekerja pada tikus.
BAB V
PENUTUP
V.1. Kesimpulan
Dari hasil percobaan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Pada tikus yang pertama dilakukan perlakuan dengan diberikan
aquadest , kolesterol awal pada tikus pertama yaitu high (tinggi) dan
kolesterol akhir yaitu 246 mm/dl (terjadi penuruna kolesterol).
2. Pada tikus yang kedua dilakukan perlakuan dengan diberikan larutan
penginduksi + kuning telur, kadar kolesterol wal pada tikus kedua
yaitu high (tinggi) dan kolesterol akhir high (tinggi) pada tikus kedua
kadar kolesterol tetap.
3. Pada tikus yang ketiga dilakukan perlakuan dengan diberikan
penginduksi + sinvastatin,kadar kolesterol awal pada tikus ketiga
yaitu 137 mm/dl dan kolesterol akhir yaitu 218 mm/dl. (terjadi
kenaikan kolesterol) obat simvastatin tidak bekerja engan baik.

V.2 Saran
Alangkah baiknya setiap perlakuan dilakukan dengan teliti agar
didapatkan hasil yang maksimal. dan pada pengukuran kadar kolesterol
sebaiknya dilakukan sesuai prosedur agar didapatkan hasil yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Adam L.B. 2005, Hyperlipidemia dalam: Guideline for Adolescent Nutrition


Service, hal: 109-124
Anwar, 2004. Pendidikan Kecakapan Hidup (life skilse education), Alfabeta :
Bandung.
Delimartha , S.,2009., 36 Resep Tumbuhan Obat untuk Menurunkan Kadar
Kolesterol. Penebar Swadaya, Surabaya.
Dirjen POM .1979. Farmakope Indonesia edisi IV. Depkes RI. Jakarta.
Dirjen POM .1995. Farmakope Indonesia edisi III. Depkes RI. Jakarta.
Guyton, A.C dan Hall, J.E., 2006, Textbook of Medical Pysiology, W.B.,
Suaders Company, Philadephia, Pennsylvania.

Anda mungkin juga menyukai