Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TIMNJAUAN KEPERTUSKAAN

A. Asuhan Keperawatan Pada Lansia dengan Hipertensi

1. Konsep Hipertensi

a. Definisi

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten

dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan darah diastolik

di atas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai

tekanan sistolik > 160 mmHg dan tekanan diastolic >90 mmHg (Brunner

& Suddarth, 2001 dalam Aspiani,2014).

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan

tekanan darah secara abnormal dan terus menerus pada beberapa kali

pemeriksaan tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa factor

risiko yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan

tekanan darah secara normal (Tagor, 2003 dalam Wijaya & Putri, 2013).

Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan

tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan tekanan

diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg ( Kodim Nasrin, 2003 dalam

Padila,2013).

Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh

darah meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung

bekerja lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen


dan nutrisi tubuh. Jika dibiarkan, penyakit ini dapat mengganggu fungsi

organ-organ lain, terutama organ-organ vital seperti jantung dan ginjal

(Rikesdas, 2013).

b. Etiologi

Aspiani (2014) mengatakan bahwa etiologi hipertensi tidak

mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon

peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan kapiler. Namun ada

beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi, yaitu:

1) Genetik: respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau

transport natrium.

2) Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan

tekanan darah meningkat.

3) Stress karena lingkungan.

4) Hilangnya elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta

pelebaran pembuluh darah.

Penyebab hipertensi pada lansia adalah terjadinya perubahan-perubahan

pada:

1) Elastisitas dinding aorta menurun.

2) Katub jantung menebal dan menjadi kaku.

3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun,

sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah

menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.


c. Tanda dan Gejala

Menurut Corwin, (2000) dalam Wijaya dan Putri (2013), tanda dan

gejala hipertensi,adalah:

1) Nyeri kepala saat terjaga, kkadang-kadang disertai mualdan muntah ,

akibat pningkatan tekanan darah intrakranial .

2) Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi.

3) Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf

pusat.

4) Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus

5) Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan

kapiler.

Dengan keterlibatan vaskuler

1) Perdarahan hidung

2) Urine berdarah

3) Kelemahan

4) Penglihatan kabur

5) Nyeri dada dan dyspnea, yang dapat menandakan jantung

6) Tremor lambat

7) Mual

8) Muntah

9) Peningkatan darah diastolik ketika orang tersebut mengubah posisi

dari duduk menjadi berdiri ( yang menandakan hipertensi esensial)


10) Penurunan tekanan darah dengan perubahan dari posisi duduk ke

berdiri ( menandakan hipertensi sekunder)

11) Edema perifer, pada tahap lanjut ketika terjadi gagal jantung

12) Hemoragi, eksudat, dan edema papil menunjakkan evaluasi

oftalmostopik pada tahaplanjut (jika retinopati hipertensif terjadi)

13) Stenosis atau oklusi, yang dideteksi selama auskultasi arteri katoris

untuk bising arteri

14) Bising abdomen, terdngar cpat di garis rengah umbilikus kanan atau

kiri, atau pada pinggang jika terdapat stenosis arteri ginjal; juga

terdengar bising di atas aorta abdomen san artero femoralis

15) Massa yang berdenyut dan teraba di abdomen,menunjukkan

aneurisma abdomen

16) Pembesaran ginjal,yang mengarah pada penyakit polikistik, salah satu

penyebab hipertensi sekunder.

d. Kategori Hipertensi pada Lansia