Anda di halaman 1dari 11

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Kimia Instrumen yang berjudul “Metode


Hamburan Cahaya” dibuat oleh:
Nama :Yulianti
Nim : 1513141010
Kelompok : III (Tiga)
Kelas : Kimia sains
setelah diperiksa dan dikonsultasikan oleh Asisten dan Koordinator
Asisten maka laporan ini diterima.

Makassar, November 2017


Koordinator Asisten Asisten

Reski Ramadani, S.Pd Hastuti Agussalim, S.Pd

Mengetahui,
Dosen penanggungjawab

Maryono, S.Si., Apt., MM., M.Si


NIP: 19760307 200501 2 002
A. JUDUL PERCOBAAN
Metode hamburan cahaya
B. TUJUAN PERCOBAAN
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan konduktan
dari berbagai macam air berdasarkan metode hamburan cahaya (turbidimetri).
C. LANDASAN TEORI
Turbidimeter merupakan perbandingan cahaya yang dipantulkan terhadap
cahaya yang tiba atau sifat optik akibat dispersi sinar dan dapat dinyatakan
sebagai perbandingan cahaya yang dipantulkan terhadap cahaya yang tiba.
Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi adalah fungsi konsentrasi
jika kondisi-kondisi lainnya konstan. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan
bahwa turbidimeter merupakan alat yang menggunakan prinsip perbandingan
cahaya yang datang terhadap cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi yang
dinyatakan dalam kosentrasi (Tim Dosen Kimia Instrumen, 2017:24).
Pengukuran dengan turbidimeter dikelompokkan menjadi tiga golongan
yaitu pengukuran perbandingan intensitas cahaya yang datang, pengukuran efek
ekstingsi, yaitu kedalaman dimana cahaya cahaya mulai tidak tampak didalam
lapisan medium yang keruh. Instrument pengukur perbandingan Tyndall disebut
sebagai Tyndall meter. Dalam instrumen ini intensitas diukur secara langsung.
Sedangkan pada nefelometer intensitas cahaya diukur dengan larutan standar.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang mendasar alat
instumen turbidimeter dan nefelometer terletak pada intensitas cahaya yang diukur
(Khopkar, 2007: 245).
Turbidimeter dan nefelometer dapat menggunakan prinsip spektroskopi
absorpsi. Untuk turbidimeter, absorpsi akibat partikel yang tersuspensi diukur
sedangkan pada nefelometer hamburan cahaya pada suspensi yang diukur.
Meskipun presisi metode ini tidak tinggi tetapi mempunyai kegunaan praktis,
sedangkan akurasi pengukuran tergantung pada ukuran dan bentuk partikel. Setiap
instrument spketroskopi absorpsi dapat digunakan untuk turbidimeter, sedangkan
nefelometer memerlukan reseptor pada sudut 90o terhadap lintasan cahaya.
Metode nefelometer kurang sering digunakan pada analisis anorganik. Pada
konsentrasi lebih tinggi, absorpsi bervariasi secara linear terhadap konsentrasi.
Sedangkan pada konsentrasi lebih rendah untuk sistem koloid tidak demikian
halnya. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara
turbidieter dengan nefelometer terletak dari cara kerja pengukurannya dimana
pada turbidimeter absorpsi akibat partikelnya yang diukur sedangkan pada
nefelometer hamburan cahaya pada suspensinya yang diukur (Tim Dosen Kimia
Instrumen, 2017: 24).
“Kekeruhan dinyatakan dalam satuan unit turbiditas, yang setara dengan
1mg/liter SiO2. Peralatan yang pertama kali digunakan untuk mengukur turbiditas
atau kekeruhan adalah Jackson Chandler Turbidimeter, yang diklibrasi
menggunakan silica. Kemudian Jackson Chandler Turbidimeter dijadikan sebagai
alat baku atau standar bagi pengukuran kekeruhan. Satuan unit turbiditas, Jackson
Chandler Turbidimeter dinyatakan dengan satuan 1 JTU”. Berdasarkan hal
tersebut dapat disimpulkan bahwa turbidimeter merupakan peralatan standar
untuk mengukur kekeruhan suatu larutan yang pada awalnya dinyatakan dengan
satuan JTU. (Effendi, 2003: 59).
“Hukum-hukum yang mengendalikan penentuan secara turbidimeter juga
berlaku untuk pengukuran nefelometer. Hanya satu perbedaannya yaitu pada
nefelometer sumber cahaya dan reseptor berada pada posisi saling tegak lurus.
Baik pada nefelometer maupun turbidimeter, suspensinya harus seragam. Untuk
mendapatkan keseragaman sifat fisik suatu partikel-partikel, konsentrasi kedua
larutan yang akan menghasilkan endapan harus dikendalikan. Cara dan urutan-
urutan pencampuran harus diperhatikan dan waktu pengukuran harus
distandarisasikan. Jumlah koloid pelindung harus secara tepat terkendali serta
temperatur harus secara teliti dicatat”. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan
bahwa hukum yang berlaku ada alat turbiimeter juga berlaku pada alat
nefelometer. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendapatkan
kesamaan fisik yaitu konsentrasi, cara dan urutan pencampuran serta waktu
pengukuran (Khopkar, 2017: 246).
“Pengukuran kekeruhan dengan menggunakan Jackson Chandler
Turbidimeter bekerja secara visual yaitu dengan membandingkan air sampel
dengan air standar. Selain menggunakan Jackson Chandler Turbidimeter,
kekeruhan sering diukur dengan metode nephelometric. Pada metode ini, sumber
cahaya dilewatkan pada sampel dan intensitas cahaya yang dipantulkan oleh
bahan-bahan penyebab kekeruhan diukur dengan menggunakan suspensi polimer
formazin sebagai larutan standar. Satuan kekeruhan yang diukur dengan metode
nephelometric adalah NTU (Nephelometric Turbidity Unit). Satuan JTU dan NTU
sebenarnya tidak dapat saling mengonversi akan tetapi 40 NTU setara dengan 40
JTU. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa nefelometer merupakan
salah satu alat yang dapat mengukur tingkat kekeruha air denga menggunakan
prinsip pengukuran cahaya yang dipantulkan oleh bahan-bahan penyebab
kekeruhan dengan satuan NTU (Effendi, 2003: 59).
“Zat terlarut menyebarkan sinar menjauh dari arah kedalam maka
intensitas yang ditransmisikan berkurang. Intensitas dalam arah depan dinyatakan
oleh sejenis hukum Beer-Lambert bahwa intensitas datang I0. Maka intensitas
yang yang bertahan setelah melewati lintasan sepanjang l adalah:
It = I0 e−τ
Dengan τ merupakan turbiditas. Untuk makromolekul dengan ukuran sedang,
turbiditas berhubungan dengan konsentrasi dengan:
Hc 1 dn
= (1+ 2 Bc + …) H ∝
τ M dc

Dengan n0 dan n adalah indeks refraksi pelarut dan larutan. Oleh karena itu,
dengan mengeluarkan Hc/ τ perpotongannya menghasilkan massa molar.
Indeks khas τ adalah τ = 10-15 cm-1 untuk cairan transisi murni, 10-3 cm-1
untuk polimer dengan konsentrasi 1 persen dan untuk susu”. Berdasarkan hal
tersebut dapat disimpulkan bahwa intensitas cahaya yang diserap oleh suatu bahan
dapat dinyatakan dalam hukum Beer-Lambert. Berdasarkan hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa pada metode hamburan cahaya dengan menggunakan alat
turbidimeter juga menggunakan persamaan Beer-Lambert dengan turbiditas
disimbolkan dengan τ (Atkins, 1993: 246).

“Turbiditas yang diakibatkan oleh suatu suspensi adalah :

Po Kbcd 3
S= log =
P δ 4 αλ 4
Dimana S adalah turbidansi, Po adalah intensitas cahaya yang datang, 𝜆 adalah
panjang gelombang, P adalah intensitas cahaya yang dilewatkan, c adalah
konsentrasi, b adalah ketebalan lapisan sampel, d adalah diameter rata-rata
partikel dan δ , K adalah tetapan. Persamaan persamaan tersebut berlaku untuk
larutan encer. Untuk radiasi monokromatis, α , K, d, 𝜆 adalah tetapan sehingga
persamaan diatas dapat diringkas menjadi:

S ∝ bc atau S= Kbc

Persamaan ini sepadan dengan hukum Beer”. Berdasarkan hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa persamaan turbiditas yang diakibatkan oleh suspensi setara
dengan persamaan Lambert-Beer (Khopkar, 2007: 246).

Menurut Widjajanti (2004: 108) dalam penelitiannya yang berjudul


Penentuan Konsentrasi Misel Kritis Lesitin secara Turbidimetri menyatakan
bahwa “monomer-monomer lesitin akan menghamburkan sinar yang datang.
Bila konsentrasi lesitin bertambah, monomer-monomer yang menghamburkan
sinar datang akan bertambah juga, hal ini yang mengakibatkan peningkatan
turbiditas. Setelah konsentrasi misel kritis tercapai, terjadi kenaikan turbiditas
yang cukup tegas, hal ini terjadi karena misel yang mulai terbentuk mampu
menghamburkan sinar datang lebih banyak dibandingkan pada saat berada
pada keadaan monomer”. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa
penghamburan sinar yang datang pada alat turbidimetri dipengaruhi oleh
konsentrasi suatu larutan yang diukur, semakin tinggi konsentrasi larutannya maka
semakin banyak sinar yang dipantulkan dan akan meningkatkan pula turbiditas
larutan tersebut.

Salah satu aplikasi dari turbisimeter adalah untuk mengukur kekeruhan air
hasil pengolahan air lumut dengan kombinasi proses koagulasi dan ultrafiltasi
yang dalam penelitian tersebut dihasilkan bahwa “tingkat kekeruhan (turbiditas)
umpan dan permeat yang diukur setiap 30 menit selama operasi empat jam.
Dimana tingkat kekeruhan yang diukur dari membran relatif sama karena prinsip
pemisahan dengan membran adalah berdasarkan ukuran partikel yang mampu
melewati pori membran. Permeat yang dihasilkan tidak dipengaruhi oleh tingkat
kekeruhan umpan. Umpan dengan tingkat kekeruhan yang berbeda akan
mempengaruhi fluks permeat yang dihasilkan. Permeat yang dihasilakn
memenuhi standar tingkat kekeruhan berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan
RI No.907./MENKES/SK/VII/2002 yaitu menyatakan bahwa tingkat kekeruhan
maksimum yang diperbolehkan untuk air minum adalah 5 NTU”. Berdasarkan hal
tersebut dapat disimpulkan bahwa standar dari air minum yang layak konsumsi
adalah 5 NTU (Arinaldi, 2013: 12).

D. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Turbidimeter Lovibond 1 buah
b. Gelas kimia 250 mL 1 buah
c. Botol semprot 1 buah
d. Pipet tetes 1 buah
e. Lap kasar dan lap halus @1 buah
2. Bahan
a. Larutan standar seri 0,1 ntu
b. Larutan standar seri 20 ntu
c. Larutan standar seri 200 ntu
d. Larutan standar ser 800 ntu

e. Air minum kemasan 5 merek berbeda


f. Air galon 4 macam
g. Air sumur
h. Air PAM
i. Air kran dari laboratorium kimia
j. Aquades
k. Tissue

E. PROSEDUR KERJA
1. Kalibrasi alat

a. Tekan tombol mode dan on/off secara bersamaan


b. Setelah muncul tanda panah di layar, rubah tanda panah ke posisi
dengan ditekan tombol !
c. Kemudian ditekan tombol MODE sampai dilayar muncul 0,10.
Tempatkan larutan standar 0,1 NTU, kemudian STAN, ditekan tombol
READ.
d. Setelah 1 menit dilayar dan muncul 20, ditempatkan larutan standar 20
NTU kemudian STAN, ditekan tombol READ.
e. Setelah 1 menit dilayar akan muncul 200, ditempatkan larutan 200
NTU, kemudian STAN dan ditekan tombol READ.
f. Setelah 1 menit dilayar akan muncul 800, ditempatkan larutan standar
800 NTU, kemudian STAN, ditekan tombol READ.
g. Setelah 1 menit dilayar akan muncul user untuk menyimpan hasil
kalibrasi stor, ditekan tombol !
h. Dilayar akan muncul stng, setelah itu unit akan off tanda bahwa sted
kalibrasi berhasil.
2. Pengukuran sampel
a. Tekan tombol ON/OFF, sehingga dilayar muncul NTU.
b. Tempatkan sampel yang akan diukur, kemudian tekan tombol READ.
c. Maka dilayar akan muncul hasil pengukuran dalam NTU.

F. HASIL PENGAMATAN

No Nama Air Hasil (ntu)


.
1. Air minum Cleo 2,63 ntu
2. Air minum DIVA 0,18 ntu
3. Air minum MJR 0,12 ntu
4. Air minum 3-V 0,08 ntu
5. Air minum alfamidi 0,41 ntu
7. Air galon Ida 0,41 ntu
7. Air galon Risqo 0,35 ntu
8. Air galon Dian 0,39 ntu
9. Air galon Yuli 0,45 ntu
10. Air sumur 0,54 ntu
11. Air PAM 0,62 ntu
12. Air kran lab. kimia 10,7 ntu
13. Aquades 1,99 ntu
G. GRAFIK

H. PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan konduktan dari berbagai
macam air berdasarkan metode hamburan cahaya (turbidimetri). Turbidimeter
merupakan sifat optik akibat dispersi sinar dan dapat dinyatakan sebagai
perbandingan cahaya yang dipantulkan terhadap cahaya yang tiba (Tim Dosen
Kimia Instrumen, 2017: 24). Satuan kekeruhan disebut Nephelometric Turbidity
Unit (NTU). Prinsip dasar dari alat turbidimeter adalah pengukuran intensitas
cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi adalah fungsi konsentrasi jika
kondisi-kondisi lainnya konstan, dimana absorpsi akibat partikel yang tersuspensi
itu diukur dan meliputi pengukuran cahaya yang diteruskan (Khopkar, 2010 :
257). Adapun prinsip kerja dari alat tirbidimeter adalah untuk menguji kekeruhan
jika suatu berkas sinar melewati suatu medium homogen, sebagian dari cahaya
datang, sebagian diabsorbsi, sebagian dapat diabaikan atau dipantulkan,
sedangkan sisanya ditransmisikan (Khopkar, 2010 : 205).
Pada percobaan ini, sebelum dilakukan pengukuran sampel terlebih dahulu
dilakukan kalibrasi alat yang bertujuan untuk mengetahui apakah alat dapat
berfungsi dengan baik. Kalibrasi dilalukan dengan mengukur larutan standar yang
sudah ada dengan variasi 0,1 NTU, 20 NTU, 200 NTU dan 800 NTU. Larutan 20
NTU, @200 NTU dan larutan 800 NTU sebelum dimasukkan dalam alat terlebih
dahulu harus dikocok yang bertujuan agar kekeruhan pada larutan tersebut tidak
mengendap, karena jika terjadi endapan maka hasil kalibrasi tidak akan berhasil.
Sedangkan pada larutan 0,1 NTU tidak perlu dikocok sebelum dimasukkan dalam
alat karena larutan 0,1 NTU mengandung partikel-partikel yang sangat sedikit
didalamnya sehingga tidak akan terjadi endapan.
Setelah kalibrasi selesai maka barulah dilakukan pengukuran sampel air.
Adapun sampel air yang digunakan dalam percobaan ini adalah yaitu air minum
Cleo, air minum DIVA, air minum MJR, air minum 3-V, air minum Alfamidi, air
galon Idha, air galon Risqo, air galon Dian, air galon Yuli, air sumur, air PAM,air
kran laboratorium kimia serta aquades. Masing-masing sampel dimasukkan
kedalam alat turbidimeter menggunakan kuvet yang telah disediakan. Kuvet
tersebut tidak boleh basah dan harus selalu bersih karena jika basah maka alat
turbidimeter tidak akan bekerja dengan baik. Hasil pengukuran sampel akan
muncul pada layar. Adapun hasil pengukuran sampel yang memenuhi standar
yaitu Cleo, air minum, minum MJR, air minum 3-V, air minum Alfamidi, air
galon Idha, air galon Risqo, air galon Dian, air galon Yuli, air sumur, air PAM,
serta aquades. Sedangkan air yang tidak memenuhi standar adalah air kran
laboratorium kimia. Air kran laboratorium kimia tidak memenuhi standar karena
pada hasil pengukuran diperoleh tingkat kekeruhan sebesar 10,7 NTU sedangkan
berdasarkan standar yang telah ditetapkan Menteri Kesehatan RI
No.907./MENKES/SK/VII/2002 yaitu menyatakan bahwa tingkat kekeruhan
maksimum yang diperbolehkan untuk air adalah 5 NTU. Berdasarkan hasil
tersebut. Tingkat kekeruhan setiap sampel berbeda-beda, dimana tingkat
kekeruhan terendah ada pada sampel air minum 3-V dengan tingkat kekeruhan
0,008 NTU dan tingkat kekeruhan tertinggi terletak pada sampel air kran
laboratorium kimia denga tingkat kekeruhan 10,7 NTU.
Tingkat kekeruhan air dipengaruhi oleh jumlah suspensi yang ada dalam
larutan tersebut, baik suspensi yang berasal dari senyawa organik maupun
suspensi yang berasal dari senyawa anorganik serta karena adanya
mikroorganisme dalam air tersebut. Suspensi yang berasal dari organik seperti
dari lapukan tanaman dan hewan, sedangkan suspensi dari anorganik berasal dari
lapukan batuan dan logam. Berdasarkan hal tersebut maka keputusan Menteri
Kesehatan RI No.907./MENKES/SK/VII/2002 yaitu menyatakan bahwa tingkat
kekeruhan maksimum yang diperbolehkan untuk air minum adalah 5 NTU
(Arinaldi, 2013: 12).
Menurut Depertemen Kesehaan Indonesia air minum yang baik untuk
dikonsumsi adalah air minum yang memiliki syarat-syarat antara lain tidak berasa,
tidak berbau, tidak berwarna dan tidak mengandung logam berat, serta kekeruhan
air minum tidak boleh lebih dari 5 NTU.

I. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulan
bahwa:
1. Cara penggunakaan alat turbidimeter yaitu terlebih dahulu dikalibrasi
sebelum pengukuran sampel.
2. Sampel yang memiliki tingkat kekeruhan terendah yaitu sampel air minum
3-V dengan 0,08 NTU dan sampel dengan tingkat kekeruhan tertinggi
yaitu sampel air keran laboratorium kimia dengan 10,7 NTU.
DAFTAR PUSTAKA

Arinaldi dan Ferdian. 2013. Pengolahan Air Lumut dengan


Kombinasi Proses Koagulasi dan Ultrafiltrasi. Jurnal
Teknologi Kimia dan Industri. Vol. 2. No. 2.

Atkins, P.W. 1993: Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.

Khopkar, S.M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press.

Widjajanti, Endang dan Regina Tutik. 2014. Penentuan Konsentrasi Krisis Lesitin
secara Turbidimetri. Jurnal Kimia. Vol. 1. No. 2.