Anda di halaman 1dari 10

Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256

Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

TERAPI MUSIK KLASIK (ALUNAN PIANO) MENURUNKAN INTENSITAS


NYERI PADA PASIEN POST OPERASI

Vera Sesrianty1, Sri Wulandari2


Dosen STIKes Perintis Padang1
Mahasiswa PSIK STIKes Perintis Padang2
verasesrianty@gmail.com

Abstract

Surgery is an act of opening or removing body tissues that can change the structure andfunction of
the body so as to cause pain as the main problem due to incision of surgery, This study aims to
determine the effect of classical music therapy (strains of piano) to decrease the intensity of pain in
patients Post Operation at Surgical Ward of Achmad Mochtar Hospital in Bukittinggi. This research
type is Quasy Experiment with approach of one group pre test post test,, sampling in this study using
Accidental Sampling technique to get 17 respondents. Data collection in this study used an
observation sheet of pain. The results showed that there was an effect of giving classical music
therapy (piano strain) to pain level (p = 0,000) postoperative patients. It can be concluded that giving
classical music therapy (strains of piano) is effective in reducing pain intensity in postoperative
patients. For it is expected to all parties, especially nurses and families of patients to always provide
nursing care support to patients in reducing the intensity of post surgery pain, one of them with the
provision of classical music therapy (strains of piano) that proved effective against the decrease in
pain intensity

Keywords : Classical Music Therapy, Pain, Post Operation.

1. PENDAHULUAN tahun 2004. Di Indonesia rata-rata angka


operasi adalah sebesar 1.839 per 100.000
Pembedahan adalah suatu tindakan membuka
populasi per tahun nya. (WHO,2015).
atau membuang jaringan tubuh dan dapat
mengubah struktur dan fungsi tubuh (Heriana,
Pascaoperatif adalah masa yang dimulai ketika
2014). Pembedahan baik elektif maupun
masuknya pasien keruang pemulihan dan
kedaruratan adalah peristiwa komplek yang
berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada
menegangkan (Smeltzer & Bare, 2002).
tatanan klinik atau dirumah (Smeltzer & Bare,
2002). Pada saat klien kembali ke area
Tindakan pembedahan secara global
penerimaan rawat jalan atau unit keperawatan,
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
klien biasanya terjaga dan menyadari sejumlah
World Health Organization dalam suatu studi
ketidaknyamanan seperti nyeri, haus, distensi
memperkirakan 266,2 juta hingga 359,5 juta
abdomen, mual, retensi urine, konstipasi,
operasi dilakukan pada tahun 2012. Estimasi
gelisah dan nyeri (Rosdach, 2012).
ini mengalami peningkatan 38% selama
delapan tahun sebelumnya. Dimana
Nyeri merupakan salah satu elemen pada post
diperkirakan 38% selama delapan tahun
operasi yang bisa meningkatkan level hormon
sebelumnya. Dimana diperkirakan 234,2 juta
stres seperti adrenokortikotropin, kortisol,
operasi yang dilakukan di seluruh dunia pada
katekolamin dan interleukin dan secara

1
Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256
Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

simultan menurunkan pelepasan insulin dan menggunakan NRS (Numeric Rating


fibrinolis yang akan memperlambat proses Scale) sebelum dan sesudah diberikan
penyembuhan luka pembedahan (Chelly etal, terapi musik klasik selama 10 menit pada
2003). Nyeri pasca operasi muncul disebabkan
kelompok eksperimen. Berdasarkan Uji
oleh rangsangan mekanik luka yang
Mann-Whitney didapatkan bahwa hasil
menyebabkan tubuh menghasilkan mediator
nilai P= 0,007 hal ini menunjukkan nilai
kimia nyeri (Smeltzer & Bare, 2002).
P<0,05 yang berarti ada perbedaan

Rasa nyeri bisa timbul hampir pada setiap intensitas nyeri pada pasien post operasi

insisi post operasi. Bila tidak diatasi dapat fraktur antara kelompok eksperimen dan
menimbulkan efek yang membahayakan yang kelompok kontrol.
akan mengganggu proses penyembuhan, untuk
itu perlu penanganan yang lebih efektif untuk Pada survey awal tanggal 01 maret 2017
meminimalkan nyeri yang dialami oleh pasien. ditemukan pasien rawat inap post operasi
adalah sebanyak 10 orang dengan diagnosa
Pada umumnya pengobatan dirumah sakit appendicitis dan hernia. Dari hasil wawancara
difokuskan pada pemulihan kondisi fisik tanpa yang dilakukan pada pasien, 9 dari 10 orang
memperhatikan kondisi psikologis seperti pasien menyatakan mengalami kesulitan tidur
kecemasan dan depresi. Salah satu tekhnik karena nyeri. Berdasarkan informasi dari
distraksi yang digunakan untuk mengatasi perawat diketahui bahwa sebagian besar
kecemasan pada pasien adalah terapi musik pasien pasca operasi mengalami gangguan
klasik (alunan piano). tidur pada hari pertama setelah operasi.

Menurut Kate and Richard Mucci dalam Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti
bukunya the healing sound of music, pada tanggal 01 maret 2017 dengan perawat
memaparkan bahwa tubuh manusia didapatkan informasi bahwa terapi alternatif
mempunyai ritme tersendiri. Kemampuan seperti musik klasik (alunan piano) belum
seseorang mencapai ritme dan suara-suara pernah digunakan sebagai intervensi
dalam diri mereka membuat penyembuhan keperawatan. Perawat mengemukakan bahwa
musikal menjadi semakin efektif (Hastomi & belum adanya informasi mengenai terapi
Sumaryati, 2012). Maka terapi musik musik dan sarana yang menunjang untuk
merupakan salah satu terapi komplementer pelaksanaan terapi musik seperti perangkat
non invasif yang dapat digunakan dalam audio diruangan.
menurunkan intensitas nyeri.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
Berdasarkan penelitian Yanuar (2015). mengidentifikasi nyeri sebelum dan sesudah

Pengambilan data skala nyeri pemberian terapi musik klasik (alunan piano)

2
Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256
Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

dan rata-rata perbedaan nyeri sebelum dan b. Mengembalikan semaksimal mungkin


sesudah pemberian terapi musik klasik (alunan derajat kesehtan
piano) sehingga teridentifikasi bagaimana c. Mencegah resiko terkait seperti infeksi atau
pengaruh terapi musik klasik (alunan piano) komplikasi pernafasan dan kardiovaskular.
terhadap penurunan intensitas nyeri pada
Menurut (Kozier et al,2010) intervensi
pasien post operasi
keperawatan pascaoperatif yang dilakukan
antara lain:
2. KAJIAN LITERATUR

a. Melakukan manajemen nyeri


Pembedahan
b. Mengatur posisi yang tepat
Pembedahan adalah suatu tindakan membuka c. Mendorong spirometri insentif serta latihan
atau membuang jaringan tubuh dan dapat nafas dalam dan batuk efektif
mengubah struktur dan fungsi tubuh (Heriana, d. Mempertahankan hidrasi dan status nutrisi
2014). Pembedahan merupakan pengalaman yang adekuat
unik perubahan terencana pada tubuh terdiri e. Meningkatkan eliminasi urine
dari tiga fase: praoperatif, intraoperatif dan f. Melanjutkan pengisapan gastrointestinal
pasca operasi. Tiga fase ini secara bersamaan g. Memberikan perawatan luka
disebut periode perioperatif (Kozier etal,
2010).Berdasarkan lokasinya, pembedahan
Terapi Musik Klasik (Alunan Piano)
dapat dibagi menjadi bedah thorak,
kardiovaskuler, bedah neurologi, bedah Menurut Potter & Perry (2006) terapi musik
orthopedi, bedah urologi, bedah kepala leher, yaitu menggunakan musik untuk menunjukkan
bedah digestif, dan lain-lain (Hidayat, 2008). kebutuhan fisik, psikologis, kognitif dan sosial
individu yang menderita cacat dan penyakit.
Peran perawat selama fase post operasi sangat
Terapi memperbaiki gerakan atau komunikasi
penting terutama untuk pemulihan klien.
fisik, mengembangkan ekspresi emosional,
Anestesia menghambat kemampuan klien
memperbaiki ingatan, dan mengalihkan rasa
untuk berespons terhadap stimulus lingkungan
nyeri. Suryana (2012) mendefenisikan terapi
dan untuk membantu mereka sendiri,
musik sebagai suatu proses yang terencana,
meskipun derajat kesadaran klien mungkin
bersifat preventif dalam usaha penyembuhan
akan sangat beragam.(Kozier et al,2010).
terhadap penderita yang mengalami kelainan
Tujuan umum asuhan keperawatan selama atau hambatan dalam pertumbuhannya, baik
periode pascaoperatif adalah sebagai berikut: fisik motorik, sosial emosional maupun mental
intelegency. Musik merupakan seni budaya
a. Meningkatkan rasa nyaman dan
hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang dirasa
penyembuhan
berdasarkan bunyi yang indah, berirama atau
dalam bentuk lagu.

3
Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256
Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

Muttaqin (2008) menjabarkan manfaat musik karena musik merangsang hipofisis untuk
sebagai berikut: melepaskan endorphin (optat alami) yang akan
menghasilkan euforia dan sedasi, sehingga
a. Musik sebagai hiburan
pada akhirnya akan mampu menurunkan nyeri,
b. Musik dan Terapi kesehatan
stres, dan kecemasan dengan mengalihkan
c. Musik dan kecerdasan
perhatian seseorang dari nyeri yang
d. Musik dan kepribadian
dirasakannya (Campbell, 2002)
Manfaat terapi musik menurut Djohan (2006)
Musik klasik adalah komposisi musik yang
diantaranya adalah:
lahir dari budaya eropa sekitar tahun 1750-
a. Mampu menutupi bunyi dan perasaan yang 1825. Musik klasik bermanfaat untuk
tidak menyenangkan membuat seseorang menjadi rileks,
b. Mempengaruhi pernafasan menimbulkan rasa aman dan sejahtera,
c. Mempengaruhi denyut jantung, nadi, dan melepaskan rasa gembira dan sedih,
tekanan darah manusia menurunkan tingkat kecemasan akibat operasi,
d. Mempengaruhi suhu tubuh manusia melepaskan rasa sakit, dan menurunkan
e. Menimbulkan rasa aman dan sejahtera tingkat stress (Musbikin, 2009).
f. Mempengaruhi rasa sakit
Widyatuti (2008) mengemukakan terapi musik
idealnya dapat dilakukan selama kurang lebih
Melalui terapi musik, individu juga dapat 30 menit hingga satu jam tiap hari, namun jika
mengalihkan persepsi waktu mereka dari jam tidak memiliki cukup waktu maka terapi ini
waktu jam, menit, dan detik sebenarnya (yang dapat dilakukan 10 menit, karena selama
dipersepsikan di hemisfer kiri otak). Menjadi waktu 10 menit telah membantu pikiran
waktu yang dialami yang dipersepsikan lewat responden beristirahat. Nilssson (2008)
ingatan. Pendengar dapat benar-benar melakukan systematic review pada beberapa
kehilangan urutan waktu selama masa yang studi tentang intervensi musik dan
panjang, yang memungkinkan mereka mengemukakan bahwa waktu mendengarkan
mengurangi rasa cemas, takut, dan nyeri. musik pada sebagian besar studi adalah 15-30
Musik bersifat non verbal sehingga lebih menit.
condong pada hemisfer otak kanan, yang
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
mengatur cara pemrosesan informasi yang
terapi musik menurut Suryana (2012) adalah :
sifatnya pencitraan, intuitif, dan kreatif
(Kozier et al, 2010). a. Hindari interupsi yang diakibatkan cahaya
yang remang-remang dan hindari menutup
Melalui musik Hipothalamus dimanipulasi
gorden atau pintu
agar tidak bereaksi terlalu kuat terhadap
stressor yang diterimanya. Hal ini disebabkan

4
Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256
Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

b. Usahakan klien untuk menganalisa musik, Nyeri


dengan prinsip nikmati musik kemanapun
Nyeri adalah pengalaman sensori dan
musik membawa
emosional yang tidak menyenangkan akibat
c. Gunakan jenis musik sesuai dengan
dari kerusakan jaringan yang aktual atau
kesukaan klien terutama yang berirama
potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang
lembut dan teratur.
untuk mencari bantuan perawatan kesehatan.
Mariah & Ruth, (2006) mengemukakan Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit
pedoman intervensi musik untuk relaksasi atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan
sebagai berikut : diagnostik atau pengobatan. Nyeri sangat
mengganggu dan menyulitkan lebih banyak
a. Pastikan pasien memiliki pendengaran yang
orang dibanding suatu penyakit manapun
baik
(Bruner and Sudarth,2002).
b. Pastikan pasien menyukai untuk
mendengarkan musik Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang
c. Menilai preferensi musik dan riwayat berfungsi untuk menerima rangsang nyeri.
sebelumnya dengan penggunaan musik Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor
untuk relaksasi nyeri adalah ujung saraf bebas dalam kulit
d. Menyediakan pilihan lagu sesuai yang di yang berespon hanya terhadap stimulus kuat
butuhkan yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri
e. Lengkapi semua kebutuhan keperawatan disebut juga nosireceptor, secara anatomis
sebelum intervensi reseptor nyeri ada yang bermielin dan ada juga
f. Mengumpulkan peralatan (CD/kaset- yang tidak bermielin dari saraf perifer.
Player, hp, baterai) dan memastikan semua Berdasarkan letaknya norireseptor dapat
dalam keadaan baik dikelompokkan dalam beberapa bagian tubuh
g. Membantu pasien untuk mengatur posisi yaitu pada kulit, somatik dal, dan pada daerah
yang nyaman sesuai kebutuhan, viseral, karena letaknya yang berbeda-beda,
memastikan pencahayaan dan membantu nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang
pasien dengan peralatan yang diperlukan berbeda (Potter & Perry, 2006).
h. Meningkatkan lingkungan yang diperlukan
i. Pasang tanda tidak mengganggu untuk Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri

meminimalkan gangguan yang tidak perlu


a. Pengalaman Nyeri Masa Lalu
j. Mendorong dan memberikan pasien dengan
b. Kecemasan
kesempatan untuk praktek relaksasi dengan
c. Umur
musik
d. Jenis Kelamin
k. Dokumentasikan intervensi keperawatan
e. Sosial Budaya
f. Nilai Agama

5
Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256
Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

g. Lingkungan dan Dukungan Orang Terdekat pengaruh terapi musik klasik terhadap
penurunan intensitas nyeri, peneliti meminta
persetujuan kepada calon responden dan
3. METODE PENELITIAN menjelaskan prosedur penelitian. Kemudian
Penelitian ini menggunakan studi kuantitatif setelah mendapatkan persetujuan dari
dengan rancangan pendekatan Quasi responden peneliti memberi kuesioner kepada
Experiment one-group pre-postest design, responden untuk menilai intensitas nyeri
Dalam rancangan penelitian ini hanya sebelum dan sesudah intervensi terapi musik
melibatkan kelompok perlakuan tanpa ada dilakukan, setelah responden mengisi
kelompok kontrol. Hasil ukur untuk tingkat kuesioner peneliti memberikan penilaian
nyeri adalah 0 : tidak nyeri, 1-3 : nyeri ringan, tehadap intensitas nyeri sebelum dan sesudah
4-6 : nyeri sedang, 7-9 : nyeri berat, 10 : nyeri intervensi. Peneliti menganjurkan kepada
sangat berat responden dan keluarga untuk
mempertahankan terapi musik jika nyeri tiba-

Penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 5 tiba datang, dan mengajarkan kepada

juni- 10 juni 2017 di Ruang Rawat Inap Bedah responden bagaimana prosedur terapi musik.

di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Penilaian intensitas nyeri, sebelum dan
dengan 17 responden. Teknik sampling yang sesudah intervensi hari kedua pada hari selasa
digunakan dalam penelitian ini adalah tanggal 06 juni 2017, penilaian dilakukan pada
accidental sampling. Alat pengumpulan data 7 orang responden, intervensi dilakukan tiga
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kali secara berulang, setiap kali intervensi
prosedur berkaitan dengan pemberian terapi peneliti selalu menilai intensitas nyeri pada
musik klasik dan perlengkapan terapi musik responden post operasi sebelum dan sesudah
yaitu earphone dan MP3 player jenis premium intervensi. Pada tanggal 07 juni peneliti
mini MP3 player. Sebagai instrumen untuk melakukan penelitian kepada 6 orang
pengumpulan data pada penelitian ini adalah responden sehingga responden mencukupi 17
lembar observasi, kuesioner dan prosedur kerja orang. Selama penelitian ini peneliti tidak
untuk mengukur intensitas nyeri saat Pre-test membedakan responden dan tidak melanggar
Post-test pada responden yang diteliti. kode etik dalam penelitian.

Penelitian ini pertama kali dilakukan pada Untuk mengetahui hasil pre-test dan post-test
hari senin tanggal 5 juni 2017 dimana pada terhadap ada dan tidaknya pengaruh terapi
hari itu peneliti melakukan overan, dengan musik klasik terhadap intensitas nyeri post
didampingi oleh perawat ruangan dan operasi dilakukan dengan uji statistik T-Test
mendapatkan pasien 4 orang dengan hernia Independen dengan menggunakan batasan
dan appendicitis dengan kondisi meringis post kemaknaan 0,05 sehingga nilai P < 0,05 maka
operasi, sebelum melakukan penelitian tentang

6
Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256
Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

statistik disebut “bermakna” dan jika P > 0,05


maka statistik disebut “tidak bermakna”.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Rata-rata Intensitas Nyeri Responden Sebelum Intervensi

Tabel 1 Rata-rata Intensitas Nyeri Responden Sebelum Pemberian


Terapi Musik Klasik (Alunan Piano) (n : 17)

Variabel N SD Min Max 95% CI Mean


Nyeri Pre
Test 17 0,6 4,33 6,67 5,18 – 5,80 5,49

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa rata-rata kecemasan, umur, nilai, agama, lingkungan
intensitas nyeri responden sebelum intervensi dan dukungan orang terdekat. Hal ini
adalah 5,49 (nyeri sedang) dengan standar tergambar dari hasil penelitian, dimana
deviasi 0,6. Rata-rata intensitas nyeri terendah respoden yang mengalami nyeri dalam
4,33 dan tertinggi 6,67. Berdasarkan hasil intensitas berat adalah responden yang
estimasi interval diyakini bahwa pada tingkat mengalami nyeri dalam intensitas berat adalah
kepercayaan 95% rata-rata intensitas nyeri responden wanita (30%) dengan usia yang
responden sebelum intervensi berkisar antara lebih cenderung lebih muda (20%) sehingga
5,18 – 5,80. adaptasi nyeri yang ditunujukkan berupa
gejala nyeri berat yaitu menangis, memukul
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
dan meratap, sedangkan pada kelompok
Krendehi, dkk (2015) dengan judul Pengaruh
responden dengan intensitas nyeri sedang
pemberian musik terhadap skala nyeri akibat
cenderung didominasi oleh laki-laki(50%)
perawatan luka bedah pada pasien pasca
serta dengan usia yang lebih dewasa sehingga
operasi di ruang perawatan bedah Flamboyan
mereka mampu menunjukkan adaptasi nyeri
Rumah Sakit Mongisi di Manado didapatkan
yang lebih baik.
hasil bahwa rata-rata tingkat nyeri responden
sebelum pemberian terapi musik adalah 5,07 Menurut asumsi peneliti, sebelum pemberian
berada pada skala nyeri sedang. intervensi terapi musik klasik (alunan piano)
pada umumnya intensitas nyeri responden
Sensasi nyeri yang dirasakan oleh setiap
pasca operasi berada pada skala nyeri sedang,
responden pada penelitian ini berbeda-beda
dimana sebagian besar (88,23%) responden
tergantung adaptasi nyeri dan kondisi
dengan intensitas nyeri sedang dan bahkan
psikologis individu tersebut, dimana sensasi
ditemukan sebanyak 2 orang (11,77%)
nyeri responden dapat dipengaruhi oleh
responden dengan skala nyeri berat. Nyeri
pengalaman nyeri masa lalu, jenis kelamin,
pasca operasi terjadi karena adanya

7
Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256
Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

rangsangan mekanik luka oleh tubuh yang menghasilkan mediator kimia nyeri.

Rata-rata Intensitas Nyeri Responden Sesudah Intervensi

Tabel 2 Rata-rata Intensitas Nyeri Responden Sebelum Pemberian


Terapi Musik Klasik (Alunan Piano) (n : 17)

Variabel N SD Min Max 95% CI Mean


Nyeri Post
Test 17 0,67 3,33 5,67 4,24 – 4,93 4,58

Nyeri merupakan kejadian yang tidak


Hasil penelitian pada tabel 2 menunjukkan
menyenangkan, mengubah gaya hidup dan
bahwa rata-rata intensitas nyeri responden
kesejahteraan individu. Potter dan Perry
sesudah 3 kali pemberian terapi musik klasik
(2006) menyatakan nyeri di defenisikan
(alunan piano) adalah 4,58 dengan standar
sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi
deviasi 0,67. Rata-rata intensitas nyeri
seseorang dan ekstensinya diketahui bila
terendah adalah 3,33 dan tertinggi 5,67.
seseorang pernah mengalaminya,
Menurut Potter & Perry (2006) terapi musik
Sesudah 3 kali pemberian terapi musik klasik
yaitu menggunakan musik untuk menunjukkan
(alunan piano) ditemukan 3 orang responden
kebutuhan fisik, psikologis, kognitif dan sosial
dengan rata-rata intensitas nyeri berada pada
individu yang menderita cacat dan
skala nyeri ringan dan 14 orang responden
penyakit.Terapi memperbaiki gerakan atau
dengan rata-rata skala nyeri sedang serta tidak
komunikasi fisik, mengembangkan ekspresi
ditemukan lagi responden dengan rata-rata
emosional, memperbaiki ingatan, dan
skala nyeri pada intensitas berat.
mengalihkan rasa nyeri.

Rata-rata Perbedaan Intensitas Nyeri Responden Sebelum dan Sesudah Intervensi

Tabel 3 Rata-rata Perbedaan Intensitas Nyeri Responden Sebelum dan Sesudah


Pemberian Terapi Musik Klasik (Alunan Piano) (n : 17)

Intensitas Mean
Mean SD T df p value N
Nyeri Different
Pre Test 5,49
0,902 0,155 23,858 15 0,000 17
Post Test 4,58

Hasil penelitian pada tabel 3 menunjukkan terapi musik klasik (alunan piano) dengan
bahwa terdapat perbedaan intensitas nyeri beda rata-rata 0,902 dan p value = 0,000,
responden sebelum dan sesudah pemberian artinya ada perbedaan rata-rata intensitas nyeri

8
Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256
Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

yang signifikan antara sebelum dan sesudah Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
pemberian terapi musik klasik (alunan piano) terdahulu yang telah dilakukan oleh Krendehi,
dimana terjadi penurunan setelah intervensi. dkk (2015) dengan judul Pengaruh pemberian
musik terhadap skala nyeri akibat perawatan
Nyeri merupakan salah satu elemen pada post luka bedah pada pasien pasca operasi di ruang
operasi yang bisa meningkatkan level hormon perawatan bedah Flamboyan Rumah Sakit Tk.
stres seperti adrenokortikotropin, kortisol, III 07.06.01 R.W Mongisi di Manado
katekolamin dan interleukin dan secara didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan
simultan menurunkan pelepasan insulin dan rata-rata tingkat nyeri responden sebelum dan
fibrinolis yang akan memperlambat proses sesudah pemberian terapi musik dengan beda
penyembuhan luka pembedahan (Chelly etal, rata-rata 2,00 dan p = 0,000.
2003). Nyeri pasca operasi muncul disebabkan
oleh rangsangan mekanik luka yang Menurut asumsi peneliti, pemberian terapi
menyebabkan tubuh menghasilkan mediator musik klasik (alunan piano) efektif terhadap
kimia nyeri (Smeltzer & Bare, 2002). penurunan intensitas nyeri pada pasien post
operasi, dimana nyeri post operasi terjadi
Terapi musik merupakan salah satu terapi akibat reaksi tubuh terhadap stress bekas insisi
komplementer non invasif yang dapat operasi sehingga tubuh menghasilkan mediator
digunakan dalam menurunkan intensitas nyeri kimia nyeri. Pemberian terapi musik klasik
dan mengurangi tingkat kecemasan, karena mampu menekan sensasi nyeri dengan
tubuh manusia mempunyai ritme tersendiri. memberikan efek nyaman dan rileksasi tubuh
Kemampuan seseorang mencapai ritme dan dimana musik masuk melalui organ
suara-suara dalam diri mereka membuat pendengaran kemudian menstimulasi
penyembuhan musikal menjadi semakin hipotalamus pada batang otak agar tidak
efektif (Hastomi & Sumaryati, 2012). bereaksi terlalu kuat terhadap stressor yang
diterimanya, dalam hal ini stressor nyeri.Hal
Mendengarkan musik akan mengalihkan ini terjadi karena musik merangsang hipofisis
perhatian terhadap nyeri (distraksi) dan untuk meningkatkan sekresi hormon endorphin
memberikan rasa nyaman dan rilek (relaksasi). yang menghasilkan euforia dan sedasi yang
Sesuai dengan teori menurut Campbell (2001) berfungsi sebagai analgesic alami bagi tubuh,
musik dapat digunakan sebagai terapi musik dengan peningkatan konsentrasi endorphin
untuk meningkatkan kemampuan manusia (euforia dan sedasi) di dalam darah mampu
terhadap berbagai jenis penyakit dan dapat memberikan efek nyaman dan rileksasi tubuh
dimanfaatkan sebagai aktivitas didtraksi. sehingga menurunkan denyut jantung sehingga
Teknik distraksi dengan terapi musik akan sensasi nyeri yang dirasakan responden
membantu melepaskan endorfhin yang ada berkurang.
dalam tubuh.

9
Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256
Vol. 1 No. 1 Tahun 2018

5. KESIMPULAN Musbikin, Imam (2009). Kehebatan musik


untuk Mengasah Kecerdasan Anak.
Yogyakarta: Power Books
Berdasarkan hasil penelitian dapat Muttaqin, Moh. (2008). Seni Musik Klasik
Jilid 1. Jakarta: Direktorat Jenderal
disimpulkan bahwa intensitas nyeri responden
Manajemen Pendidikan Dasar dan
sebelum pemberian terapi musik klasik Menengah.
Natalina, (2013). Terapi Musik Bidang
(alunan piano) dengan tingkat nyeri responden
Keperawatan. Jakarta: Mitra Wacana
berada pada skala nyeri sedang, intensitas Potter, P.A,. Perry, A.G., (2006). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan: Konsep
nyeri responden sesudah pemberian terapi
Proses dan Praktik, Edisi 4 volume 2.
musik klasik (alunan piano) adalah tingkat Jakarta: EGC.
Rosdalch, Caroline. B., (2012). Buku Ajar
nyeri sedang, ada perbedaan rata-rata
Keperawatan Dasar Edisi 10 Vol. 3.
intensitas nyeri responden sebelum dan Jakarta: EGC.
Smeltzer & Bare. (2002). Buku Ajar
sesudah pemberian terapi musik klasik (alunan
Keperawatan Medikal Bedah Brunner
piano) dengan beda rata-rata 0,90 dan p value & Suddarth Edisi 8 Volume 1. Jakarta:
EGC.
= 0,000, dimana terjadi penurunan nyeri
Suryana, Dayat. (2012) Terapi Musik.
setelah intervensi sehingga dpt disimpulkn https://books.google.co.id/booksdiakse
s pada tanggal 05 Maret 2017
bahwa ada pengaruh pemberian terapi musik
WHO (2015). Size and Distribution of Global
klasik (alunan piano) terhadap intensitas nyeri Volume of Surgery in 2012. Diakses
tanggal 04 maret 2017.
post operasi
Widyatuti. (2008). Terapi Komplementer
dalam Keperawatan.Jurnal
Keperawatan Indonesia Volume 12,
6. REFERENSI no 1. Diakses tanggal 04 maret 2017.
Yanuar, Alan. (2015). Pengaruh Terapi Musik
Bernaidi, I. (2009). Dynamic Interactions Klasik terhadap Penurunan Intensitas
between musical, cardiovascular Nyeri.
and serebral Rythm in Humans.
Circulation. Ireland. Case Western
Reverse University.
Cahyono, S. B. (2011). Meraih Kekuatan
Penyembuhan Diri yang Tak Terbatas.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Campbell, D. (2002). Efek Mozart Bagi Anak.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Chelly, J.E, Ben David, B., Williams, B.A, &
Kentor, M.L (2003). Anesthesia and post
operative analgesia outcomes following
orthopaedic surgery. Orthopaedics.
Djohan. (2006). Terapi Musik Teori dan
Aplikasi. Yogyakarta: Galangpress.
Hastomi, I. & Sumaryati, E., (2012). Terapi
Musik. Yogyakarta:Javalitera
Kozier et al .(2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: Konsep, Proses dan
Praktik, Edisi 7, Volume 1.Jakarta: EGC

10